.
.
.
.
.
.
.
You're So My Universe
.
Main cast : OH Sehun - Luhan feat ChanBaek
.
Other cast : bermunculan sesuai kebutuhan
.
Genre : Drama
.
Rate : M / NC / Dirty talk
...
Ini sudah hari tujuh hari sejak kejadian itu. Kondisi Sehun sudah bisa dikatakan sehat. Mengingat bagaimana luka yang ia dapatkan saat itu. Satu peluru hampir saja menembus organ vitalnya, tapi sayang Tuhan terlalu menyayangi laki-laki berahang tajam itu hingga nyawanya jauh dari maut.
Namun kendati dengan keadaannya yang terlihat sangat sehat. Sehun tak mau beranjak angkat kaki dari salah satu bilik kamar milik rumah sakit tersebut. Tak lain alasan laki-laki itu mau bertahan disini, siapa lagi kalo bukan karena gadis dengan binar mata rusa yang senantiasa menemaninya selama satu minggu ini. Dengan segala perhatian yang Luhan berikan secara cuma-cuma kepadanya Sehun merasakan sebuah kebahagian yang entah datang dari mana asalnya hingga ia berpikir bahwa tidak salah bahwa dirinya telah menaruh hati pada gadis itu.
Jika Oh Sehun merasakan suatu kebahagian yang datang secara mendadak lain halnya dengan gadis bermarga Xi tersebut. Ingatannya masih begitu segar tentang siapa laki-laki ini, tentang seorang gadis yang beberapa hari bersamanya saat mengunjungi butik Minseok. Dan satu yang lebih membuatnya tidak merasakan tenang laki-laki itu tak mau memutuskan untuk pulang padahal kondisinya sangat-amat sehat. Jelas saja Luhan mencium bau-bau keanehan dari laki-laki bermarga Oh tersebut.
"Sehun ?"
"Hm ?"
Sebenarnya Luhan ragu untuk menyakan hal ini pada Sehun namun dia kembali pada keadaan yang terus memaksanya berpikir jauh. Jadi Luhan memutuskan untuk tetap bertanya hal itu pada Sehun.
"Ehm, bukankah kondisimu sudah baik kenapa tak memutuskan untuk kembali ke rumahmu ?" Luhan menggigit bibir bawahnya, ia takut jika pertanyaan tersebut menyinggung perasaan laki-laki yang tengah menikmati waktu siangnya dengan membaca koran harian tersebut. Mendengar pertanyaan Luhan Sehun menaikkan sebelah alisnya.
"Aku hanya ingin" Sehun menjawab sekenanya. Itu bukanlah jawaban yang diinginkan Luhan hingga gadis itu hanya mengerjap polos. Otaknya masih ia pakai untuk berpikir tentang jawaban yang terlontar dari bibir tipis seorang Oh Sehun si muka datar tersebut.
"Sehun ?"
Mengerti bahwa gadis itu akan melontarkan pertanyaan lagi Sehun dengan segera menutup lembaran koran yang sempat ia baca sedikit. Mata Sehun terpanah untuk beberapa saat pada gadis yang terduduk pada kursi yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk para penjenguk. Dengan pasti Sehun dapat melihat ada banyak keraguan yang tersirat pada mata gadis itu, meskipun dengan menunduknya kepala gadis itu Sehun dapat melihat dengan pasti.
"Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan ?" Sehun menggenggam dengan lembut kedua tangan Luhan, untuk sekedar Luhan tahu bahwa ia tak perlu merasa ragu untuk setiap pertanyaan yang nantinya ia lontarkan.
Luhan mengangkat dengan pelan kepalanya sekedar memastikan benarkah apa yang di lakukan laki-laki itu kepadanya.
"Gadis itu ? benarkah dia Byun Baekhyun ?" setelahnya Luhan hanya ingin segera menenggelamkan dirinya pada dasar laut jika Sehun mengiyakan pertanyaannya. Entah mengapa terselip rasa sakit pada saat melihat gadis itu bersama dengan laki-laki yang beberapa hari ia kenal. Itupun melalui malam panas yang mereka lakukan saat itu.
"Kau mengenalnya ?"
"Diakah putri dari Byun Hyemin ?" Oke untuk yang tadi Sehun bisa mengontrol rasa terkejutnya tapi untuk yang satu ini Sehun tak dapat memendamnya lagi. Untuk kalangan pebisnis macam dirinya memang saat mudah untuk mengetahui siapa Byun Baekhyun. Tapi kali ini yang berbicara adalah Xi Luhan yang tak lain hanyalah seorang gadis panggilan.
Sehun tidak dengan mudah untuk sekedar mengiyakan setiap pertanyaan yang diajukan oleh gadis itu. Dirinya tidak terlalu mengerti atas apa yang pernah menimpa gadis itu hingga menanyakan hal itu. Namun satu yang Sehun ketahui dari sorot mata gadis itu. Dia bisa merasakan ada rasa kerinduan pada binar matanya. Sekilas Sehun menarik sudut bibirnya untuk ia berikan pada gadis yang sedari tadi ia genggam jemarinya.
"Iya kau benar dia Byun Baekhyun putri dari Byun Hyemin" Sehun melontarkan jawaban atas pertanyaan Luhan dengan begitu tenang ditambah sedikit senyuman yang terselip disana. Beda halnya dengan Luhan ia merasa bahwa Tuhan menghentikan waktunya kala itu. Jantungnya berdebar tak beraturan, nafasnya tersenggal, hingga ia merasakan jika matanya mulai memanas saat cairan bening itu mulai menutupi sebagian indera penglihatannya.
Jika Luhan bisa dia ingin sekali menyembunyikan segala kesedihannya dan ia pendam seorang diri. Tapi kini dirinya hanya bisa terdiam saat laki-laki itu menariknya dalam pelukan hangat milik laki-laki bermarga Oh tersebut. Luhan menumpahkan segala apa yang ia tahan sedari tadi, hingga menyisakan sebuah isak tangis. Sehun sendiri tak mengerti mengapa dirinya melakukan hal ini memeluk gadis itu kala melihat mata rusanya itu berair. Mungkin hanya nalurinya sebagai seorang laki-laki. Tapi mengapa terselip rasa tak rela melihat mata yang sorot akan kerinduan tersebut.
Mengapa ada sebuah rasa yang begitu asing yang tiba-tiba muncul saat mereka merasakan hangatnya sebuah pelukan yang secara tak langsung ia berikan secara cuma-cuma tersebut.
"Jika kau ingin berbagi, ceritakan semua padaku. Aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu" kalimat yang tak sengaja terucap itu hanya mampu Sehun cerna seorang diri. Sejak kapan dirinya berperan menjadi tempat curahan hati untuk seseorang. Kau mungkin sudah gila Oh Sehun.
...
Sementara di lain tempat sudah layaknya suasana peperangan, tepatnya di OH Corporation para staff merasakan jika dipagi hari mereka pergi bukan untuk berkerja melainkan sudah seperti pergi untuk menyerahkan nyawa mereka. Pasalnya sudah satu minggu ini Presdir mereka atau lebih tepatnya Oh Minho benar-benar layaknya seorang harimau yang tengah mencari mangsa. Berita tentang tidak pulangannya Tuan muda mereka yang tak lain Oh Sehun sudah masuk kedalam gendang telinga Oh Minho sejak dua hari yang lalu. Padahal sebelumnya laki-laki dengan usia yang hampir memasuki setengah abad ini berpikir bahwa putranya menginap di rumah pribadinya atau sekedar melakukan perjalanan bisnis keluar negeri.
Namun dua hari yang lalu saat salah satu kaki tangannya memberitahukan bahwa Oh Sehun tidak melakukan kedua hal tersebut dan malah berakhir di rumah sakit membuatnya naik pitam seketika. Oh Minho sendiri sebenarnya tidak terlalu menyetujui keputusan sang putra yang lebih memilih mewarisi bisnis dunia gelap sang kakek. Sudah beberapa kali dirinya maupun sang istri membujuk mati-matian agar Oh Sehun berhenti. Namun sebanyak apa mereka melakukannya sebanyak itu pula mereka mendapatkan penolakan.
Keadaan semacam ini tak bisa lagi ia toleransi sudah berapa kali Sehun keluar masuk rumah sakit untuk pengobatan dari luka yang ia dapati saat melakukan pekerjaannya. Kali ini Oh Minho berjanji pada dirinya sendiri untuk menyeret si keras kepala Oh Sehun agar mau mendudukin posisi yang sampai saat ini masih ia duduki.
Taemin yang sedari tadi mengamati bagaimana ekspresi dari Tuan besarnya hanya mampu menelan kasar ludahnya. Ia tahu bahwa Oh Minho memiliki sebuah rencana yang mungkin melibatkan dirinya.
"Taemin-ya" Oh Minho melakukan ekspresi yang mampu membuat siapa saja lari terbirit-birit dengan seringai menyeramkannya tersebut tapi haruskah ia melakukan hal yang sama ? Oh tidak mungkin Taemin rupanya masih menyayangi nyawanya sendiri.
"Iya Tuan"
"Kau bilang kondisi Sehun sudah sehat bukan ?"
"Iya Tuan"
"Kau begitu seret paksa dia untuk keluar dari rumah sakit itu"
Taemin tertegun dengan perintah apa yang diberikan padanya. Taemin mungkin hanyalah seorang kaki tangan dari Oh Minho tapi dirinya tidak bodoh untuk mengetahui apa pekerjaan dari putra Tuan besarnya. Bisa saja saat nanti dirinya melakukan tugasnya untuk menyeret paksa laki-laki itu namun setelahnya bisa dipastikan bahwa satu buah peluru akan bersarang pada kepalanya. Itu terdengar seperti kau mengantarkan nyawamu pada malaikat pencabut nyawa.
"Ba-baik Tuan" setelah memberikan hormatnya dengan segera Taemin pergi meninggalkan bilik ruang yang telah dikuasai aura gelap dari sang pemiliknya tersebut.
Setibanya di rumah sakit Taemin mengerahkan semua bawahan sesuai dengan rencana yang telah mereka susun secara dadakan saat perjalanan menuju rumah sakit tadi.
Sebagian dari mereka ada yang mengikuti kemana langkah laki-laki dengan paut umur tiga tahun di atas Sehun tersebut dan sebagian berjaga diarea rumah sakit.
CLEKK
Terbukanya pintu yang dibuka dari luar, membuat dua manusia berbeda gender yang sedang saling berbicara mengarahkan pandangannya kearah pintu tersebut.
Kedua manusia itu masihlah terkejut dengan pemandangan apa yang ada di sajikan pada kedua onixnya. Terlebih untuk Luhan. Setidaknya ada lima orang laki-laki berwajah datar yang tak kalah dari Oh Sehun, berbadan tegap serta berpakaian serba hitam dengan earphone yang masing-masing bertengger pada daun telinganya. Luhan meyakini dari kelima laki-laki tersebut satu orang dengan setelan jas berwajah tampan yang tersembunyi dibalik kekakuan raut wajahnya bisa Luhan pastikan dialah yang memeiliki sedikit wewenang dari keempat orang lainnya.
Jika Luhan memikirkan banyak hal tentang kelima orang berwajah galak tersebut maka lain halnya dengan Oh Sehun. Dia terlihat begitu santai. Dirinya bahkan sudah menunggu hari dimana Appanya akan menarik paksa dirinya dari sini. Bukan seperti itu kemauan laki-laki dengan dada bidang tersebut. Melainkan dirinya terlalu yakin pada perasaannya untuk membawa Luhan sebagai salah satu alasan bagaimana dirinya akan mengakhiri hubungan perjodohan yang telah disusun oleh orang tuanya.
"Kim Taemin" sapa Sehun pada laki-laki berjas yang tengah berjalan kearahnya. Dan Sehun mengisyaratkan agar Luhan meninggalkan mereka berenam. Mereka memulai sebuah pembicaraan yang Luhan tak mengerti sama sekali, ia hanya beberapa kali menangkap bahwa Sehun menentang perintah dari orang tuanya. Selajutnya Luhan tak mau ambil pusing. Karena yang dilakukannya hanya mengintip dari balik kaca pintu kamar tersebut.
Jika dibandingkan dengan situasinya saat ini Luhan lebih terfokus pada perempuan yang bebeerapa hari lalu bersama dengan Oh Sehun. Mungkin dirinya telah lama tak kembali menemukan sepasang mata puppy itu tapi entah keyakinan dari mana Luhan begitu familiar dengan mata itu, mata yang pernah ia liat saat hari dimana untuk pertama kali dalam hidupnya ia kembali melihat sosok ayahnya.
"Lu.."
Luhan masih bersama dengan dunianya, entah sekali dirinya mengingat kenangan itu rasanya ia tak mau kembali ditampar pada kenyataan yang membuatnya tersadar bahwa dirinya kini tengah berjuang seorang diri untuk kehidupannya selain dengan sang ibu.
"Luhan" dan untuk kedua kalinya Sehun menyuarakan namanya maka seluruh dunianya kembali pada putaran yang sama dengan manusia lainnya.
Luhan memasuki kembali kamar yang pernah ia tempati untuk menjaga orang asing itu, memandang laki-laki yang berdiri disana dengan tatapan penuh tanya.
"Lu, aku akan kembali ke rumah hari ini" Sehun melangkahkan kaki panjangnya menuju gadis yang masih berada diambang kebingungan tersebut.
"huh ?"
"Aku akan pulang hari ini, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan kau-" Sehun menggantung segala ucapannya saat kembali melihat wajah sendu dari gadis yang tempo hari telah menolongnya dari maut.
"-kau bisa beristirahat di rumah, setelah semua selesai aku akan menemuimu. Aku berjanji hm ?"
Seharusnya Luhan bersorak gembira saat Sehun mengutarakan ini hari terakhirnya di rumah sakit, tapi dibanding dengan itu Luhan lebih terlihat menyedihkan, bagaimana rasa aneh itu datang. Dan saat Sehun mengucapkan janjinya untuk menemuinya setelah semua urusannya selesai Luhan benar-benar merasakan bahwa hatinya mulai berdesir.
Sampai sejauh ini Luhan maupun Sehun tidak terlalu meyakini perasaan apa yang ada dalam hati mereka masing-masing daripada mereka salah mengartikan mereka lebih memilih untuk diam dan lebih memupuk rasa itu.
...
Waktu terus berjalan sebagimana takdir menggariskannya, begitupun dengan segala hal yang berkaitan dengan sambung menyambung dalam bertahan hidup haruslah tetap berjalan.
Luhan masih bertahan ditengah bekerjaan gilanya, jika saja ada tangan Tuhan yang bersedia menariknya dari lubang gelap itu maka dengan senang hati Luhan akan menggapai tangan itu. Namun sepertinya Luhan takkan pernah mendapatkan tangan yang dikirimkan oleh Tuhan itu. Harinya tetap berjalan seperti biasa dia tetaplah seorang gadis penggilan di salah satu club milik sahabatnya. Luhan hanya bisa membagi waktunya dengan bekerja paruh waktu disebuah cafe di depan flatnya.
Jika boleh jujur ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya belakangan ini. Luhan tidak mungkin melupakan janji laki-laki itu. Sehun-Oh Sehun.
Janji laki-laki itu Luhan masih menunggu hari dimana ia menepatinya.
Namun hingga hari ini sudah hampir satu bulan setelah janji itu terucapkan dari bibir tipisnya laki-laki itu menghilang entah ditelan bumi atau bagimana. Dibandingkan laki-laki itu menempati janjinya Luhan hanya ingin melihat laki-laki itu berada dihadapannya menampilkan senyum hangat yang biasa ia berikan saat Luhan berada pada titik rendahnya.
Dan berbeda dengan Luhan maka disinilah Sehun yang harus mati-matian untuk terus menghalalkan segala cara agar pertunangan yang seharusnya terjadi dua minggu lalu berakhir dengan ketidak pastian dari keduanya.
Jujur saja Sehun sedikit tak mengerti jalan pikiran gadis yang akan menjadi tunangannya itu. Terhitung setelah kepulangannya dari rumah sakit satu bulan yang lalu, gadis bermarga Byun itu terus berada dalam lingkup hidupnya. Beberapa kali Sehun sudah menghindar namun berakhir dengan gadis itu menemukan dirinya.
Ada rasa dimana terkadang dirinya merasa bersalah telah meninggalkan Luhan bersama dengan janjinya. Namun ada juga rasa yang begitu mengganggu dirinya hingga hanya bisa menyisakan sebuah rasa bersalah tersebut. Sampai sejauh ini tak ada informasi yang begitu akurat dari banyaknya kaki tangan yang ia perintahkan untuk mencari tahu latar belakang keluarga Byun Hyemin beserta Luhan.
Tak ada yang diinginkan Sehun kecuali membuat gadis itu merasa tenang, entahlah beberapa kali pertemuan mereka membuat jantungnya tak normal saat mengingatnya.
Bahwasanya dibandingkan dirinya yang menginginkan sebagaimana latar belakang keluarga Byun. Sehun lebih tertarik pada hubungan apa yang ada diantara Luhan dengan Baekhyun. Dan apa yang membuat gadis itu selalu terlihat sendu untuk sekedar mengucapkan nama anggota keluarga tersebut.
"OH SEHUN !" suara itu jelas tidak seperti biasa. Laki-laki dengan perawakan yang tidak jauh berbeda dengan dirinya tengah berada pada ambang pintu ruang kerjanya saat ini.
"Appa" Sehun tersentak dengan kedatangan tak terduga yang dilakukan oleh ayahnya. Dia baru saja akan menemui laki-laki itu, siapa sangka jika dirinya jauh lebih dulu menampakkan dirinya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan ha ?" habis sudah kesabaran Yunho atas perilaku putra tunggalnya. Sejak minggu lalu seharusnya putra kebanggannya itu sudah resmi menyandang status sebagai tunangan dari putri Byun Hyemin tapi apa yang dilakukannya saat itu Sehun justru memilih menyelesaikan transaksi gelapnya di Jepang. Salah jika itu benar terjadi, pasalnya semua gerak Sehun sekarang sangatlah terbatas, itu hanya alasan klasiknya saja.
"ah, pasti itu yang akan Appa bahas" Sehun hanya kan bersikap santai setiap kali Oh Yunho membahas hal itu. Dirinya hanya terlalu muak dengan rencana gila itu bertambah gila saat sikap Bekhyun berubah drastis jelas itu membuat kepalanya berdenyut sakit.
"Aku sudah mengatakan padamu jika kau menentang lakukan secara cepat bukan memperlambat dengan caramu"
"..." lelaki tampan itu merasa bahwa suaranya hanya mampu tercekat di detik ini juga.
"Berhentilah bersikap kekanakan Oh Sehun, aku sudah berjanji bahwasanya tak akan memaksakan segala keputusanmu atas rencana pertunangan ini"
"..." Sehun masih terdiam saat beberapa kata keluar dari bibir tipis milik ayahnya.
"Bicarakan padaku keputusanmu besok siang. Aku menunggu sikap dewasamu Oh Sehun. Selamat siang"
BLAMM
Tertutupnya daun pintu berwarna putih gading itu menandakan seperti tanda bahwa Sehun harus memantapkan segala keputusannya mulai detik saat ini. Dilihat dari sikap Yunho yang bersikap seolah begitu menghormatinya Sehun sedikit-banyak merasa bersalah atas sikap gilanya. Sehun sendiri sepertinya tidak peduli pada Baekhyun. Hanya saja mengingat persahabatan dari kedua orang tuanya Sehun harus berpikir jauh agar tidak menghancur jalinan itu dengan keputusan yang akan ia berikan besok siang.
"Besok malam Lu,besok malam.. aku akan menepati janjiku"
...
"y-Yak ! Xi Luhan, dimana kau meletakkan aid box mu !"
"Kenapa harus berteriak ? Aku meletakkannya diatas lemari pendingin Soo"
"Aku tidak akan berteriak jika aku menemukannya noona Xi"
Setidaknya itu hanya beberapa keributan yang ada di flat sederhana miliknya, sudah hari ke dua Kyungsoo menemani dirinya ditempat tinggalnya yang terbilang kecil ini. Tentu saja untuk menyeret si mata bulat itu Luhan harus berperang terkebih dulu dengan si hitam Kai.
Disaat gadis dengan mata bulat sempurna itu berteriak sambil berjalan kesana-kesini layaknya setrika berjalan maka Luhan gadis mata rusa itu hanya akan terus terfokus bersama dengan dunianya sendiri, tidak dipedulikan apapun yang ada disekitarnya termasuk saat Kyungsoo telah selesai dengan balutan jarinya yang terkena pisau dapur miliknya.
Setengah ragu Kyungsoo mengenggam jemari Luhan yang belakangan ini terasa dingin, bukan karena pendingin ruangan yang ada di depan-atas mereka. Melainkan dengan pasti Kyungsoo berpikir bahwa sahabatnya ini menyimpan sebuah masalah yang belum ingin dia bagi bersama.
"Lu, kau tak ingin membaginya denganku ?" Kyungsoo, dia terlalu dalam urusan pribadi Luhan tapi dirinya hanya sekedar ingin memastikan bahwa Luhannya baik-baik saja.
Luhan menoleh saat merasakan bahwa jemarinya telah digenggam dengan hangat oleh salah satu sahabat yang selalu ada untuk dirinya selain Xiumin. Luhan memandang dengan nanar pada genggaman itu, ia takut suatu saat ia kehilangan lagi pada seseorang yang telah membuatnya bergantung.
"Soo" jika bukan dengan posisinya yang begitu dekat seperti saat ini maka bisa dipastikan bahwa Kyungsoo tidak akan mendengar cicitan Luhan.
"Soo, aku bertemu dengannya. Lagi.." satu kata belakang yang akan selalu Luhan rendahkan suaranya. Terlebih jika sudah menyangkut pada masalalunya. Dia akan bersikap penuh dengan kehati-hatian. Hingga sejauh ini hanya pada pasangan KaiSoo dan ChenMin dirinya akan berbagi segala dukanya. Bagi Luhan tidak ada orang lain yang akan jauh lebih peduli pada kehidupannya selain pada keempat sahabatnya itu.
"..." Kyungsoo terdiam, bukan berarti dirinya tak pernah peduli dengan keluhan Luhan saat ini, ia hanya memberikan sedikit waktu agar Luhan berbicara lebih agar dirinya mengerti dengan pasti apa yang menjadi beban sahabatnya.
"Baekhyun, adikku Soo aku bertemu dengannya"
Rasa keterkejutan Kyungsoo tak dapat disembunyikan lagi oleh dirinya, genggamannya mengerat pada jemari Luhan. Kyungsoo tahu selama hidup Luhan di Korea gadis itu selalu berharap bisa bertemu dengan keluarga yang telah terpisah di masalalunya. Luhan bahkan sudah menceritakan kejadian saat di pemakaman istri kedua ayahnya. Dan dari situ Kyungsoo bisa menarik kesimpulan bahwa Luhan tak sedikitpun membenci keadaan saat itu, dirinya hanya akan menyakiti hatinya sendiri saat mengatakan dirinya membenci kejadian itu namun segala sikapnya bertolak belakang dengan semua usaha yang ia lakukan untuk menemukan keluarganya.
"Dimana kau bertemu dengan dirinya ?"
"..." Kini giliran Luhan yang bungkam dengan pertanyaan dari Kyungsoo, beberapa menit yang lalu ia sendiri telah meyakinkan diri untuk membagi bebannya pada Kyungsoo namun saat sekelebat bayangan pertemuan mereka Luhan merasakan sebuah keraguan dalam dirinya.
"Lu ?" panggilan dari kekasih Kai itu setidaknya tkelah menarik dirinya dari dunianya sendiri.
"Satu bulan yang lalu di butik Xiumin" maka saat waktu yang ia gunakan terlalu menyita untuk sekedar mengungkapkan keresahannya, maka dengan keyakinan penuh Luhan membaginya, sepenuhnya-segalanya pada sahabat terbaik dalam hidupnya.
"Di butik Xiumin, satu bulan yang lalu ?" Kyungsoo bergumam beserta dengan memori otaknya yang harus ia paksa memutar kembali apa saja kejadian yang ada saat itu.
Dan tepat saat kerja otaknya begitu cepat, entah Kyungsoo yakin atau tidak dengan tebakkannya namun saat mereka ada di butik sahabatnya hanya ada kejadian yang membuat Luhan berubah seketika.
"Lu ?"
"huh ?"
"Entah ini benar atau salah, apa mungkin adikmu adalah gadis yang saat itu bersama dengan Sehun ? Sahabat Kai ?"
Iya Soo kau benar dia adikku
Ingin rasanya Luhan menyuarakan suara hatinya saat ini pada Kyungsoo, namun dibandingkan dengan ketidak percayaan yang akan Kyungsoo berikan maka dengan sedikit ragu Luhan menjawab
"Mungkin iya Soo, aku tidak terlalu yakin, hanya saja mata mereka terlalu sama hingga aku sulit untuk membedakannya"
Dari Luhan maupun Kyungsoo hanya mampu terdiam pasalnya belum ada bukti yang begitu spesifik yang memberikan kepastian pada mereka.
"haaah~"
Luhan menarik nafas dalam setidaknya dia harus mengisi pasokan oksigen dalam parunya sebelum menjalani hari beratnya.
"ah Lu, aku hampir lupa menanyakannya padamu"
"Apa ?"
"Apa kau jadi bekerja di cafe seberang jalan ?"
Sambil merapikan pakaian yang ia pakai sesekali Luhan menyaut jawaban atas pertayaan yang dilontarkan Kyungsoo.
"Iya Soo aku bekerja disana" Luhan mendudukkan dirinya di depan Kyungsoo yang berada di meja makan dengan sandwich sederhana yang sengaja dibuat Kyungsoo beberapa saat yang lalu.
Keduanya hikmat dalam kunyah-mengunyah yang mereka lakukan pada makanan mereka hingga Kyungsoo memberikan sedikit ruang untuk keduanya saling berbicara lagi.
"Lu minggu besok temani aku fitting ne ?"
"Aku ada kerjaan Soo jadi aku tidak bisa mene-"
"MWO !" jangan bayangkan bagaimana ekspresi keterkejutan Luhan, mata rusanya harus ia paksa membesar dengan mulut menganga lebar, jika orang lain akan terlihat aneh dengan ekspresi tersebut maka Kyungsoo harus menahan tawanya serta tangannya yang ingin mencubit gemas pipi tirus Luhan. Dia benar-benar terlihat begitu menggemaskan.
"Aku pasti salah dengar ya kan ?"
"Tidak Lu kau tidak salah dengar aku memang akan melaksanakan pernikahanku dengan Kai satu minggu lagi, maka dari itu kau mau kan menemaniku ke butik Minseok eonni ?" jika Kyungsoo telah melakukan aegyo nya maka Luhan harus dengan lapang dada menerima segala bentuk kekalahannya.
"haah~~ baiklah aku akan menemanimu Eomma" Luhan membelai lembut permukaan wajah sahabat yang selama ini telah ia jadikan tumpuan hidupnya.
"Soo aku berangkat, jangan lupa mengunci jika kau pergi" jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi jadi mau tak mau Luhan harus meninggalkan Kyungsoo seorang diri dalam flatnya.
Jika saja ada seseorang yang mau mengamati dengan benar seorang gadis yang berjalan di area lorong appartemen tersebut lebih teliti lagi mungkin satu-satunya yang mereka temukan hanyalah seorang gadis kecil yang kehilangan arah.
Gadis itu Luhan, Xi Luhan. Gadis mana yang mampu bertahan seorang diri selama lima tahun dalam dunia yang seakan terus mempermainkan dirinya. Tapi yang Luhan lakukan hanya terus berusaha menutupi tempat itu dari semua orang.
Dirinya tak berani memberitahukan pada siapapun, dia mungkin tak bisa bertahana jika tak memiliki Kyungsoo dan Minseok saat itu.
Namun tetap saja dirinya membutuhkan seseorang, hanya seorang saja setidaknya yang bisa menempati tempat itu. Hatinya.
Terkadang ada rasa iri dalam dirinya saat bersama para sahabat seperjuangannya yang nyatanya mereka jauh lebih beruntung dari dirinya. Mereka bahkan telah menemukan sebuah tumpuan hidupnya. Tumpuan dimana mereka bisa berlari kesana untuk membagi segala bebannya dan menyandarkan bagaimana beratnya kehidupan yang pernah mereka lalui sebelum ini. Luhan ingin, sangat ingin ada seseorang yang mau menjadi tumpuannya saat ini.
Langkah kecilnya membawa diri Luhan hingga berada pada tepian sebrang jalan yang memisahkan dirinya dengan tempat kerjanya yang baru.
"Kau bisa Xi Luhan,hwaiting" setidaknya Luhan sudah menyemangati dirinya sendiri.
...
Setidaknya terhitung sudah satu jam laki-laki dengan mata elang itu hanya berada dibalik kemudi mobil mewahnya. Tak ada yang ia lakukan selain mengamati seseorang yang beberapa saat lalu keluar dari bangunan yang sedari tadi ia tunggui.
Hampir satu bulan ini seorang Oh Sehun melakukan hal gila layaknya seorang paparazi. Mengikuti kemanapun Xi Luhan pergi, menunggu di depan appartemen gadis itu, mencari setiap informasi tentang gadis itu. Dan melakukan segala hal apapun yang berkaitan dengan gadis berdarah China-Korea tersebut.
Ada sedikit rasa kecewa dari Sehun dari sekian informasi yang ia dapatkan. Dimana gadis itu, Luhan bekerja sebagai wanita panggilan di club milik Chen. Apapun keistimewaan yang didapatkannya selama bekerja disana Sehun tidak peduli.
Yang Sehun pedulikan saat ini hanya menarik gadis itu dari pekerjaan menjijikkan tersebut dan membawanya pada dunia yang jauh lebih baik lagi.
Sehun bahwa kini sudah melangkah terlalu jauh untuk sekedar memberikan sebuah kehidupan baru untuk gadis itu. Sebuah pekerjaan pada gadis itu. Tidak sia-sia saat dirinya harus berhadapan sendiri dengan gadis yang berstatus calon istri dari Kim Jongin yang memiliki tingkat kegalakan diatas rata-rata tersebut. Jika pada akhirnya Luhan sendiri secara tidak langsung telah menerima uluran tangannya. Maka dirinya harus banyak berterima kasih pada gadis bermata bulat tersebut terlebih pada pemilik cafe disebrang jalan yang tak lain istri dari kaki tangannya Kim Junmyeon.
Mata elangnya masih terfokus pada satu objek didepan sana. Dimana seorang gadis dengan setelan casualnya berada pada trotoar jalan raya , yang Sehun ketahui dengan pasti bahwa gadis itu seperti merampalkan beberapa doa untuk harinya saat ini.
"Tunggu sebentar lagi Lu" hanya beberapa penggal kata namun terselip sebuah harapan. Harapan untuk seseorang yang belum lama ini mulai menghangatkan ruang dalam hatinya.
Pada dasarnya sebuah kata bermakna seperti cinta mampu merubah karakter maupun kehidupan dari seseorang yang merasakannya. Tak terkecuali seseorang itu memiliki karakter yang begitu keras. Anggap saja jika Oh Sehun itu adalah sebuah batu karang dan Luhan air lautnya. Maka sekeras apapun Oh Sehun bertahan dengan segala karakter yang ada dalam dirinya maka disaat Luhan ada disana maka lebur sudah pertahanan yang dibuat oleh seorang Oh Sehun.
Kini mungkin saatnya bagi Oh Sehun untuk segera merasakan sebuah arti dari kata berjuang yang sesungguhnya. Dia tahu gadis itu tak menolak kehadiran dirinya dalam kehidupannya hanya saja untuk memperjuangkan dirinya Sehun rasa Luhan akan sedikit lebih sulit. Ya Sehun terlalu terbiasa dengan kehadiran para wanita yang selalu memuja ketampanan maupun segala sesuatu yang ada pada dirinya.
Namun ketika matanya menatap kedua manik rusa itu, Oh Sehun secara tidak langsung menanggalkan segala sesuatu yang ada pada dirinya. Dan lebih memilih untuk memperjuangkan seseorang yang mampu membuat hatinya berdesir.
Anggap saja ini pengalaman pertama bagi Oh Sehun yang harus berjuang seorang diri dan tak lagi mengandalkan para kaki tangannya untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Hanya kali ini, dan kau harus benar-benar berjuang seorang diri untuk hati seorang Xi Luhan.
"haah~~"
Setelah membuang secara kasar nafasnya, Sehun menyalakan mesin mobilnya agar bisa mendekat pada bangunan dimana Luhan bekerja.
Ia tak yakin dengan apa yang ia lakukan, Sehun hanya menutupi sebagian dari wajahnya menggunakan masker dengan topi sebagai pelengkap penyamarannya.
TRIING...
Bersamaan dengan bunyi lonceng yang berada pada pintu masuk cafe itu berbunyai, maka sosok laki-laki berpakaian layaknya artis papan atas itu melangkahkan kakinya menuju meja pelayan.
"Satu cup ice americano"
"Baik tuan"
Setelah menentukan menu apa yang akan menemani acara mengamati luhan dengan jarak dekat Sehun berjalan pada meja yang terletak dipojok ruang setidaknya tempat ini tidak terlalu jauh saat mengamati gadis China itu. Lagi pula jika dirinya memilih bangku yangterlalu dekat maka bisa dipastikan Luhan akan curiga dengan gerak-geriknya.
Luhan. Gadis itu baru terlihat setelah minuman yang Sehun pesan berakhuir pada meja bundarnya. Sehun rasa dirinya datang lebih cepat jika dilihat dari pakaian yang digunakannya berbeda dari yang ia kenakan saat berangkat tadi.
Mata sipit dengan tatapan elang itu terus mengarah pada setiap gerakan yang dilakukan Luhan, tak sedetikpun Sehun mengalihkan pandangannya. Hingga membuat seseorang yang berada disebelah Luhan merasa aneh.
"Lu sepertinya kau sedang di awasi seseorang" yang merasa lengannya disenggol segera membalikkan badannya. Kemudian matanya ia gunakan sekilas untuk menemukan objek yang dibicarakan.
Hingga mata keduanya bertemu, tak ada yang di lakukan Sehun maupun Luhan keduanya sama-sama terdiam cukup lama. Bahkan Luhan terlah melupakan satu pelanggan yang sejak tadi memanggilnya karena dirinya terlalu fokus pada tatapan itu.
Luhan tak mengenali sungguh laki-laki yang memberinya tatapan berbeda itu, tapi satu hal yang Luhan merasa tak asing dari tatapan itu. Ia pernah mendapatkannya pada satu orang, satu laki-laki yang perlahan menguasai sebagian dari hatinya, Oh Sehun.
Diam-diam Sehun tersenyum dibalik masker hitamnya, ia tahu bahwa saat ini dirinya tenagh tertangkap basah tapi alih-alih pergi dengan keyakinan penuh maka Sehun melanjutkan tatapanya. Sebuah tatapan kerinduan, mungkin.
Bersamaan dengan tatapan yang hampir terputus tersebut maka hati mereka sama-sama mejeritkan satu kalimat manis.
"Aku merindukanmu"
...
Tidak ada yag harus di salahkan dalam keadaan semacam ini. Bukan waktu ataupun sebuah keputusan melainkan hanya bagimana caramu menyikapi takdir yang berjalan bersamamu. Tidak ada satupun diantara manusia yang hidup pada muka bumi ini rela melakukan sebuah kedekatan tanpa berlandaskan cinta.
Gadis dengan setelan casual itu pun tahu bahwa sebuah rasa yang tengah tumbuh pada hatinya kini hanya berlandaskan sebuah paksaan. Tapi dari sekian paksaan yang ia dapatkan dari satu-satunya orang yang begitu ia cintai lalu mengapa hatinya ikut memihak ?
Bagaimana pun Sehun melakukan seribu penolakan terhadap rasa suka tetap saja gadis bermarga Byun itu semakin memupuk rasa pada hatinya.
Entahlah dirinya sendiri tidak terlalu mengerti terhadap cara kerja perasaannya belakangan ini. Bagimana dirinya yang melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap laki-laki sedingin Oh Sehun. Dan didapatnya sebuah keberanian dari mana saat dimana dirinya berani memberikan sebuah perhatian penuh terhadap laki-laki itu sejak kembalinya.
Dan sampai saat ini dirinya hanya mampu menatap miris pada cup kosong bekas red valved latte yang sudah menemaninya selama hampir dua jam ini. Tak ada alasan jelas mengapa dirinya berada pada cafe kecil ini. Saat itu dirinya hanya ingin menghirup udara kota dan saat matanya tidak sengaja menemukan sesuatu yang berbeda pada cafe ini maka tidak ada salahnya jika dia menghabiskan waktunya disini.
Dan saat pandangannya menyapu kembali pada kondisi cafe ini, Baekhyun si gadis itu tersenyum simpul. Suasana cafe ini terlalu nyaman untuk ia tinggalkan.
Ini sudah hampir dua minggu sejak pembatalan pertunangannya dengan Oh Sehun. Namun sampai waktu mendatangkan hari ini laki-laki itu sama sekali belum terlihat. Entah kemana perginya laki-laki yang sedikit-banyak telah membawa sebagian perasaannya yang jelas dia sedikit merindukan sebagimana dinginnya laki-laki itu.
TRRINGG..TRIINGG...
Dengan bunyi lonceng yang tergantung diatas pintu itu membuat sekian orang yang berada cafe kecil itu pun mencari siapa pelakunya atau lebih tepatnya mereka memastikan ituseseorang yang sedang ditunggu atau bukan.
Dan dari sekian ketenangan seorang Byun Baekhyun selama berada di cafe ini harus terusik dengan suara pekikan seorang gadis.
"XI LUHAAANN !" oh benar saja bukan hanya Baekhyun yang merasa terusik dengan kedatangan gadis itu terlihat dari beberapa orang yang melayangkan tatapan mematikan membuat gadis dengan pipi gembul itu menutup rapat bibirnya. Sedikit menoleh kebelakang dan memberikan senyum yang dinilai begitu konyol.
"Hey Min, kau ke sini ?" Luhan menghampiri sahabatnya yang sedang berada di depan showcase kue-kue cantik. Dengan senyuman palsu yang selalu ia tampilkan.
"Iya Lu, bantu aku ne ?" senyum simpul yang diberikan Luhan pada sahabatnya yang mungil itu layaknya mengundang sesuatu pada seseorang yang sedari kedatangannya pada cafe ini terus ia amati. Bagaiman gadis dengan seragam yang diberikan cafe ini menyambut sahabatnya yang ia antar bebepa waktu lalu. Senyum sekilas itu nyatanya membuat hatinya sedikit menghangat secara tiba-tiba.
"aa~ Iya Lu kenal dia Park Chanyeol. Kau mungkin pernah melihatnya saat pesta ulang tahunku" Kim Minseok atau yang sering dipanggil dengan nama Xiumin itu saling mengenalkan sahabatnya satu sama lain dengan begitu antusias menghiraukan bagaimana degub jantung dari laki-laki setinggi tiang yang kini ada dibelakangnya.
"Park Chanyeol dia Xi Luhan yang pernah aku ceritakan padamu. Bagaimana cantik bukan ?"
Lagi-lagi seorang Park Chanyeol harus mati-matian mengendalikan degub jantungnya yang secara otomatis tak beraturan. Ditambahkan lagi-lagi dengan senyuman yang secara terang-terangan diberikan gadis yang baru ia ketahui namanya.
Dan dari sekian pemandang yang tersaji di depan matanya gadis yang sejak tadi mengamati ketiga orang saling menyapa dan saling mengenalkan entah datang dari mana ada sedikit perasaan iri pada si gadis pelayan tersebut. Sampai diumurnya saat ini Baekhyun menyadari sendiri bahwa dirinya tak memiliki sahabat atau pun hanya sekedar teman.
Bukan berarti Baekhyun menyalahkan penuh kepada ayahnya jika saat remaja atau bahkan sampai saat ini dirinya tak memiliki seorang teman. Sifat ayahnya yang terlalu protektif membuatnya sulit untuk mendapatkan seorang teman.
Dan saat dirinya disuguhi pemandangan semacam ini ia merasa begitu kesepian di dunia ini. Baekhyun merasa bahwa mungkin hanya dirinya yang memiliki seorang teman. Hanya seorang tidak lebih. Setidaknya dia ingin memiliki seseorang yang mau mendengarkan segala keluh dan kesahnya selama ini.
Tanpa ia sadari bahwa setetes air matanya berhasil lolos dari mata puppy. Ia begitu kesepian saat ini. Hingga ia mendengar ketukan langkah mendekat padanya.
"Byun~.. Byun Baekhyun" merasa namanya di sebut oleh seseorang yang berada di dekatnya sontak membuat Baekhyun menghapus cepat air mata dan menampilkan senyum manisnya pada orang itu.
"Kau Byun Baekhyun yang beberapa waktu lalu kebutikku kan ? bersama Sehun ? aa~mungkin kau lupa aku Minseok pemilik butik yang kau kunjungi waktu itu" panjang lebar Minseok pada gadis yang mungkin sedikit melupakan siapa dirinya.
"Bagaimana aku lupa pada gadis secantik dirimu" pada dasarnya Baekhyun mudah bergaul namun terbatas dengan sikap ayahnya kini membuat suasana yang awalnya trlihat canggung kini perlahan mencair dengan gurauan yang berasal dari bibir mungilnya.
"Chayeol kenalkan ini Baekhyun calon tunangan Sehun jika aku tidak salah" dan yang merasa diperkenalkan mau tidak mau harus memberikan sebuah salam.
"Hey aku Park Chanyeol senang bertemu denganmu. Sebenarnya aku sahabat Sehun tapi bagaimana bisa manusia gila itu menyembunyikan berita bahagia seperti ini" beberapa celoteh yang Chanyeol berikan kini menambah suasana ini terasa begitu menghangatkan bagi Baekhyun.
Bersamaan dengan menghangatnya relung hatinya satu lagi seseorang yang datang menghampiri ketiganya. Tampak gadis itu membawa beberapa minuman serta beberapa kue kecil di nampannya. Gadis yang membuat dirinya merasa iri terhadapnya hanya karena gadis itu jauh lebih beruntung memiliki sahabat.
"Aku sudah mengemas kue pilihanmu nanti sore kau ambil di flatku jika kau masih sibuk" suaranya begitu lembut menyentuh gendang telinga Baekhyun meskipun suara gadis itu leboh terlihat menggertu tapi itu tak membuatnya seperti seseorang yang jahat justru menurutnya terdengar seperti gadis lima tahun yang sedang merajuk.
"Kau baik sekali Lulu, setelah aku menyelesaikan rancanganku aku akan segera mengambil kuenya"
"Lu apa kau mengingat gadis ini ? dia beberapa waktu lalu mengunjungi butikku ? dia semakin cantik menurutku bagimana menurutmu ?
Dan jika Minseok yang antusias dengan acara jauh berbeda dengan Luhan yang mendapati seorang gadis tengah duduk berada tepat disebelahnya. Kini rasanya Luhan mendapatkan sambaran petir di siang yang begitu terik.
Luhan masih diam tak bergeming mendapati apa yang ada di depannya. Pikirannya hanya sejak kapan dia disini ? kenapa harus tiba-tiba ? namun semua itu hanya mampu ada dalam otaknya. Suaranya tercekat dan ia tak mau memaksakannya.
Baekhyun mengibas-kibaskan tangannya dia depan mata Luhan, sedangkan Luhan belum kembali pada dunia yang sama dengan dirinya. Luhan mematung harusnya ia bahagia bisa sedekat ini dengan adiknya, seharusnya ini kesempatannya untuk menjaga adiknya. Maka di hitungan detik berikutnya Luhan kembali pada dunia yang sama dengan ketika orang lainnya.
"Kau sakit ?" itu suara pertama yang keluar dari Baekhyun yang jelas ditujukan padanya. Matanya yang berkedip lucu dengan raut kecemasan membuat Luhan mau tak mau tersenyum.
"Aku tidak, hanya saja aku lelah. Cafe sedang rame dan ya mereka tidak memberikanku waktu istirahat"
Semua orang hanya membiarkan Luhan menyembunyikan kepalanya diantai kedua tangannya yang bertumpu pada meja. Tanpa mereka tahu bahwa saat ini dirinya tengah berperang denga perasaannya. Ingin rasanya Luhan memeluk gadis itu menyampaikan apapun yang ia pendam sejak dulu. Kerinduaannya, rasa sayang yang tak tersampaikan, serta sakit hatinya.
Jika Luhan harus berperang dengan segala rasa yang tengah membuncah dalam dirinya. Maka Baekhyun merasa bahwa acara menghirup udara nya mendapatkan jackpot. Dari waktu yang mereka gunakan untuk saling mengenal membuat mereka memutuskan untuk menjalin sebuah pertemanan.
Pertemanan yang untuk pertama kalinya ia jalin dengan orang lain, maka tidak ada salahnya jika kini Baekhyun berani menempatkan mereka sebagai bagian dari orang-orang yang ia sayangi setelah ayahnya. Lalu Sehun ? sepertinya dia melupakan laki-laki itu.
.
.
.
.
.
.
TOBECONTINUED
Ngaret ga sih ? banget ya ? Maap ya lagi bentrok sama kegiatan cari kerja jadi ngaret banget *sungkem*
Ga seberapa sih seenggaknya ngobatin kangen kalian lah
Gw yakin kalian lagi nunggu moment HunHan nya ya ? ditahan sebentar ya chap depan puas-puasin dah :v
Btw buat SPECIAL GIFT GW BUAT KALIAN DI HARI BROJOLNYA GW
Gw update juga Like Rain Like Man nya Chapter 1 bisa kalian check di home
.
Last repiuw juseyo *bow*
.
See you next Chap
.
SeLudeer947 - 18/02/2018
