Title : Literature of Love

Genre : Romance

Cast :

Park Jihoon (24 y.o)

Bae Jinyoung (22 y.o)

Other wannaone member

.

.

Summary: setelah pindah ke perusahaan penerbitan besar, tak di sangka Jihoon menjadi editor penulis terkenal yang ia idolakan, akan tetapi mengapa semua ekspektasi nya jadi runtuh begini. Terinpirasi dari manga Junjou Romantica dan Sekaiichi Hatsukoi dengan cerita berbeda. Winkdeep.

.

.

Note: cerita ini agak ngambil setting Junjou Romantica dan Sekaichi hatsukoi, jadi jika ada kesamaan cerita jangan protes, karena Jun emang ambil dikit dikit dari sana. *Jakka = penulis. *jakka-nim = panggilan untuk penulis.

.

Tepat pukul 6 pagi Jihoon sudah berada di depan pintu condominium milik sang penulis besar Tuan Bae Jinyoung yang terhormat. Dia sengaja datang pagi pagi sekali karena takut naskahnya tidak selesai, lagi pula dia juga hawatir Jakka-nim nya itu akan jatuh pingsan lagi.

Setelah tiga kali Jihoon menekan bell rumah barulah pintu itu terbuka, tak menunggu lama Jihoon pun masuk kedalam. Di dalam dia melihat sesosok pria berwajah kecil yang sangat tampan dengan kaca mata bertengger membingkai mata bulatnya sedang membawa buku bersandar santai di dinding dekat pintu. Jika di lihat dengan seksama wajah pria itu sungguh seakan tidak nyata, terlalu sempurna seperti bukan manusia saja.

"ssi..siapa?" Tanya bodoh Jihoon. Jangan salahkan jika Jihoon kaget bukan main, pasalnya yang berdiri dihadapannya sangat menyilaukan, sangat sempurna dan bukan main tampannya.

"pertanyaan bodoh macam apa itu, jelaskan aku Bae Jinyoung" jawab jutek Jinyoung sambil berjalan menuju ruang tengah atau ruang santai yang letaknya di sebelah ruang tamu dan menjadi ruangan paling besar di rumah itu karena bentuknya yang sangat lapang. #kalau bingung liat rumahnya Usami Akihiko di anime Junjou Romantica aja, penggambarannya kurang lebih sama kok sama itu#

"mana saya tahu, kemarin anda sangat kacau dan wajah anda tertutup poni, saya juga tidak lama bertemu anda kemarin karena Jakka-nim sendiri yang mengusir saya dan kepala editor" bela Jihoon.

"lalu untuk apa kau sepagi ini kemari? Deadline nya jam 5 sore nanti kan?" Jinyoung mulai sibuk dengan laptopnya.

"saya ingin memastikan anda mengerjakan naskahnya atau tidak, saya juga memastikan apa anda baik baik saja. Jisung hyung tadi juga berpesan jika saya langsung kemari saja" jawab kalem Jihoon yang secara otomatis membereskan buku buku untuk refrensi yang berserakan di ruang tengah itu.

"kau lihat sendirikan aku sedang mengerjakanya" cetus jinyoung dengan nada datar.

"iya iya saya mengerti. Apa anda sudah sarapan? Perlu saya buatkan sesuatu?" Tanya Jihoon yang telah selesai membereskan buku buku yang berserakan itu.

"terserah mu saja" jawab singkat Jinyoung.

'dasar Tsundere, sifatnya semakin lama semakin menyebalkan, wajah tampannya itu yang sia sia kalau sifatnya seperti itu' batin Jihoon.

Jihoon mulai mengeluarkan bahan makanan dan mulai memasak makanan untuk sarapan, kebetulan dia juga belum sarapan, jadi sekalian saja dia memasak untuk mereka berdua. Saat memasak Jihoon termenung, dia tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat dan rasakan sekarang. Bae Jinyoung yang iya kagumi dulu ternyata orang yang menyedihkan dan payah, tapi melihat wajah aslinya membuat Jihoon terkejut bukan main, Bae Jinyoung yang payah itu ternyata memiliki wajah yang luar biasa tampan, bahkan ketampanannya seakan tidak nyata, hanya saja…. Sifatnya itu…. Menyebalkan bukan main.

Jika di pikir pikir bukannya wajar jika Jihoon shock bukan main melihat Jinyoung, selama ini Jinyoung tidak pernah tampil di public, tidak pernah mengadakan fansign, tigak pernah menampikan foto dirinya di wawancara majalah atau berita, dia itu sungguh sangat misterius jadi wajarkan jika Jihoon terkejut. Satu hal yang mengganjal pikiran Jihoon adalah, mengapa orang setampan itu tidak pernah menunjukan dirinya di publik, bukankah wajahnya bisa menjadi daya jual untuk bukunya, dia yakin jika Jinyoung mau menunjukan wajahnya pada public bukunya pasti lebih laku.

Setelah semua makanan matang Jihoon menatanya di meja makan, kebetulan dapur ruang dan ruang makannya berada di saru area dengan ruang santai jadi Jihoon masih bisa melihat sang penulis masih bekerja di sofa yang ada di seberang dapur, sedangkan meja makannya ada di dekat jendela kaca besar beberapa meter dari sofa yang diduduki Jinyoung. Ruangan yang berisikan set sofa, tv layar jumbo, dapur di sisi kanannya dan meja makan itu bisa di bilang sangat luas, kau bahkan bisa bermain kejar kejaran di sini, walaupun bukan hanya ruangan ini saja yang luas hampir semua ruangan di sini ukurannya sangat mewah, memang rumah orang kaya.

"Jakka-nim sarapan dulu, saya sudah siapkan makanannya" ujar Jihoon yang masih menata makanan di meja makan.

"bawa makanannya kesini tidak bisa" sahut Jinyoung yang masih sibuk mengetik.

"makan yang baik harus di meja makan, tinggalkan dulu pekerjaannya setelah makan baru di lanjutkan" Jihoon selesai menata makanan dan peralatan makan di meja makan itu.

"iya iya aku kesana" Jinyoung melepaskan kacamatanya dan beranjak dari sofa menuju meja makan, di sana dia bisa melihat beberapa hidangan yang sepertinya terlihat lezat. "waw… sepertinya enak"

"maaf hanya menu sederhana, saya tidak tau selera anda tapi saya harap anda suka, silahkan" Jihoon duduk di hadapan Jinyoung.

"makanan mu enak kok, kemarin kau yang memasak sup tofu untuk ku kan? Itu enak, selamat makan" Jinyoung mulai memakan masakan Jihoon. "tuh kan enak"

"baguslah kalau anda suka dengan masakan saja, saya minta ijin untuk sarapan juga ya Jakka-nim, tadi saya berangkat pagi sekali sampai belum makan"

"santai saja, toh tidak enak juga kalau makan sendirian" jawab santai Jinyoung.

'dia tidak sepenuhnya menyebalkan' batin Jihoon sambil memulai acara makannya.

"hanya saja…" ujar Jinyoung menggantung.

"hanya saja apa?" Tanya Jihoon.

"hanya saja lain kali aku ingin request sesuatu untuk ku makan, bisa kan? Kau kan akan jadi editor ku dan kau akan sering bertemu dengan ku karena jadwal yang di rancang Jisung hyung untuk ku sangat padat, jadi sekalian saja kau masak untuk ku, kan rumayan aku tidak perlu beli makanan di luar, sekalian cuci piring dan bereskan dapur ya" kata Jinyoung dengan senyum setan.

'kutarik lagi kata-kata ku, dia mau memanfaatkan ku? Dia mulai menyebalkan lagi rupanya, huh dasar iblis berwajah tampan' batin Jihoon.

"tenang saja, aku akan buatkan kau buku yang bagus dan akan menjadi best seller itu juga akan menguntungkan mu kan? Untuk itu kau juga harus memberi ku sesuatu kan, cukup masakan makanan enak untuk ku saja" tambah Jinyoung.

"saya kurang sependapat dengan pernyataan anda yang mengatakan akan membuat kan saya buku bagus dan best seller, dalam kamus saya sebagai seorang editor, seorang penulis dan editor nya akan bekerja sama berjuang berdua untuk membuat buku yang bagus, cepat selesaikan naskah anda maka anda akan tau cara saya bekerja dengan penulis saya sebelumnya" tantang Jihoon, dia sungguh sangat muak dengan pernyataan sombong Jinyoung.

"hm… menarik sekali editor Park Jihoon, kau tau selama ini buku buku best seller yang ku hasilkan tidak pernah melewati editing konten(editing isi) dari siapa pun dan hanya di edit secara fisik(editing penulisan dan tanda baca), justru buku yang biasa saja dan tidak begitu laku itu lah yang di edit oleh editor editor itu karena mereka terlalu memaksakan ide mereka dan merusak cerita ku, aku sudah lama merahasiakan ini dari Jisung hyung. Kau adalah editor ke 7 untuk lima bulan terakhir, dan mari kita buktikan dengan beradu penjualan buku. Aku sedang mengerjakan dua buku sekarang, buku untuk perusahaan 101 dan satu lagi untuk C9. Buku untuk 101 akan ku berikan pada mu untuk di edit, sedangkan untuk C9 kan ku tangani sendiri. Kita lihat yang mana yang penjualannya lebih bagus" Jinyoung menghentikan acara makannya dan beralih menatap serius Jihoon.

"saya akan mencoba membuka mata anda tentang cara penulis dan editor bekerja sama. Tapi anda juga harus mengikuti cara kerja saya tuan Bae Jakka-nim" Jihoon tak mau kalah.

"oke aku akan menuruti cara kerja mu" Jinyoung kembali melanjutkan melanjutkan.

"saya akan memasakan anda makanan, sayang jika bahan bahan di kulkas anda membusuk dan tidak di gunakan, tadi saya menemukan beberapa bahan makanan yang sudah tidak layak konsumsi dan saya sudah membuangnya" ujar Jihoon.

"oh itu, pelayan dari kediaman orang tua ku yang sering mengisi kulkas ku dengan makanan dia juga yang datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah ini" jawab Jinyoung santai, padahal mereka tadi sempat saling menantang.

"sudah ku duga anda tidak bisa melakukan apapun selain menulis"

"maaf saja kalau aku tidak bisa melakukan apapun, semua manusia punya kelemahan, aku sudah di anugrahi wajah yang tampan, otak yang cerdas dan uang yang banyak, jika aku bisa melakukan segalanya betapa tidak adilnya Tuhan pada yang lainnya" sahut sombong Jinyoung.

"anda benar, sekarang saja saya merasa tuhan tidak adil" Jihon mengumpat dalam hati 'kami berdua sama sama manusia mengapa dia mendapat wajah dan bakat yang sempurna seperti itu'.

"kau juga tampan kok, kau sangat babyface dan imut, dan kau juga editor yang berarti kau punya kemampuan yang bagus di bidang akademik"

"tapi di bandingkan dengan anda saya hanya butiran debu. ngomong ngomong jika saya boleh tahu mengapa anda tidak pernah menampakan diri di depan publik, wajah anda tidak pernah termuat di kolom interview anda, dan anda juga tidak pernah mengadakan fansign. Saya rasa anda bukan tipe orang yang kurang dalam kepercayadirian, anda cukup tampan untuk publik" sambung Jihoon.

"justru karena aku terlalu tampan makanya semua akan menjadi masalah" Jinyoung selesai makan dan beralih meminum teh yang di buat Jihoon untuknya.

"maksudnya?"

"munkin aku di kutuk dengan wajah ini. Dulu Jisung hyung pernah membawa ku ke acara ulang tahun Penerbitan 101, dan acara itu hancur total karena banyak wanita dan pria yang menyerbu ke arah ku dan tidak menggubris acara sambutan dari direktur, saat itu direkturnya bukan direktur yang sekarang, dia sangat keras dan tegas, kekacauan itu membuat Jisung hyung hampir di pecat, maka dari itu aku tidak pernah lagi menghadiri acara perusahaan"

Jihoon hanya diam mendengarkan Jinyoung bercerita, karena sepertinya hal ini serius dan dia perlu mengerti masalah penulis yang dia tangani.

"pernah juga Jisung hyung mengadakan acara Fansign untuku di sebuat toko buku yang cukup besar, sebelum acara itu di mulai semua karyawan wanita di sana berebut ingin berfoto dan mendekat kearah ku sampai mereka merusak beberapa property dan display buku yang ada di sana, toko buku itu pun jadi berantakan dan akhirnya acara fansign di batalkan, hal itu juga membuat Jisung hyung harus membayar kerugian dari acara yang batal, saat itu aku tidak punya uang karena aku baru penulis baru. Dari pada aku terus menyusahkan Jisung hyung, aku memutuskan tidak pernah lagi menunjukan wajah ku"

"apa jika anda keluar rumah seperti biasa anda juga akan di serbu wanita seperti itu?" Tanya Jihoon.

"jika keluar rumah aku selalu menutup wajah ku, dari lahir hingga umur 12 tahun aku tinggal di Inggris dan ku rasa hidup ku tenang di sana karena banyak pria tampan di sana lagi pula orang Inggris sangat menghargai privasi seseorang, umur 12 sampai 16 tahun aku tinggal di kediaman keluarga ku di Korea dan home schooling bersama sepupu sepupu ku, umur 16 sampai 18 aku kembali ke Inggris untuk melanjutkan study S1, umur 18 sampai 20 aku melanjutkan S2 di bawah pengawasan dalam kata lain privat oleh guru besar sastra Uninersitas Korea dan Jisung hyung, jadi bisa di simpulkan aku hampir tidak pernah punya teman orang Korea dan tidak pernah ber interaksi dengan orang Korea selain dosen yang mengajarku, Jisung hyung, Daniel hyung, editor editor yang di kirimkan pada ku dan sepupu sepupu ku yang masih tinggal di korea" setelah selesai bicara Jinyoung beranjak menuju sofa dan mulai melanjutkan pekerjaannya.

"anda meraih gelar S2 di umur 20 tahun? Hebat" kagum Jihoon.

"sudah ku bilang jika aku ini di karuniai otak yang brilliant, aku terlalu sibuk di bidang akademi sampai melupakan hal tentang bersosialisasi" sahut Jinyoung.

"wah… saya tidak menyangka anda terisolasi dari dunia luar seperti ini, sudah seperti idol yang di kejar penggemarnya saja" Jihoon mulai membereskan peralatan makan dan membawanya ke dapur untuk di cuci.

"resiko menjadi orang tampan" sahut narsis Jinyoung.

"sebenarnya ini semua tidak akan terjadi jika anda sering menunjukan diri pada publik, orang akan terbiasa dengan wajah anda sehingga orang orang juga tidak akan mendewakan anda seperti ini. Wajah anda itu seperti boneka, sangat sempurna dan jarang di miliki orang lain hingga membuat orang penasaran, tapi jika mereka sudah terbiasa dengan wajah anda mereka pasti tidak akan mengejar ngejar anda lagi" kata Jihoon sambil mencuci piring.

"mungkin ada benarnya juga, tapi aku tidak ingin menyusahkan Jisung hyung lagi" Jinyoung mulai terlarut dalam pekerjaannya, dia sedang sangat focus sekarang.

'dia itu menyebalkan dan narsis, tapi dia juga punya perjalanan hidup yang sulit, kasihan juga' gumam Jihoon dalam hati.

.

.

.

Sekitar jam 3 sore naskah yang Jiyoung ketik sudah selesai, bertepatan dengan Jihoon yang baru kembali dari kantor. Rencananya Jihoon ingin melihat perkembangan naskah Jinyoung, tapi ternyata sudah selesai.

"wah ternyata naskahnya sudah selesai, terimakasih atas kerja sama nya Bae Jakka-nim. Oh ini saya membawakan anda makanan, saya yakin anda belum makan" Jihoon mulai memeriksa naskah yang telah di selesaikan Jinyoung.

"kau sudah makan Jihoon?" Tanya Jinyoung sambil membuka bungkusan yang di berikan Jihoon.

"saya sudah makan siang di kantor, anda makan saja duluan" Jihoon mulai dengan proses pengeditannya, dia membaca naskah itu dengan hati hati.

Sekitar satu jam Jihoon membaca, tiba tiba Jihoon mengangkat kepala menatap Jinyoung.

"ada apa? Ada yang kau tidak suka?" Tanya Jinyoung.

"wanita di mata lelaki memang seperti mawar merah yang cantik namun berduri, mereka memancarkan keindahan namun keindahan itu juga bisa melukai orang yang akan mendekat kearahnya. Apa jika wanita atau mungkin anak anak akan memandang wanita dengan cara yang sama?" Tanya balik Jihoon.

"maksudmu sudut pandang itu terlalu sempit?"

"tepat sekali, dia sini terlihat jelas penggambaran haya dari sudut pandang mu sebagai pria melihat wanita, sedangkan buku mu berisi tentang wanita yang berjuang dan patut di perjuangkan" jawab Jihoon.

"kau mau aku mengubah bagian mana?"

"anda yang menentukannya, saya tidak akan memaksa anda untuk mengubah naskah anda karena itu juga akan mengubah imajinasi anda tentang buku ini, saya yang mengarahkan anda pada bagian yang kurang sesuai agar anda bisa memikirkan solusinya dengan cara anda sendiri, agar ceritanya juga tidak berubah" jelas Jihoon.

Untuk beberapa detik Jinyoung menampilkan wajah terkejut.

"jadi ini yang kau maksud dengan cara kerja mu, membuat penulis berpikir sendiri dan memutuskan sendiri mana yang harus di rubah, dan dengan kata kata mu yang mirip teka teki itu membuat seakan kesalahan ini terasa bukan kesalahan tapi hanya mengambil opsi lain" kata Jinyoung.

"saya ingin kita saling bertukar pendapat, bukan hanya pemaksaan. Merubah cerita itu bukan tugas seorang editor" sahut Jihoon. "jika anda kurang setuju dengan revisi saya anda juga bisa mengajukan banding"

"hm… not bad, kau orang yang menarik. Kau adalah orang pertama yang tidak memaksakan kehendak pada ku. Aku jadi semakin serius dengan persaingan kita nanti" kata Jinyoung memprovokasi.

"saya juga serius tentang itu, jika saya menang anda harus mengikuti cara saya berkerja" sahut Jihoon tak mau kalah.

"kalau aku yang menang kau yang harus mengikuti cara kerja ku"

.

.

.

keesokan harinya….

Hari ini adalah rapat penentuan jumlah cetakan pertama dari buku Bae Jinyoung yang baru kemarin malam masuk bagian percetakan untuk di tata ulang dan di mulai proses pencetakannya. Rapat kali ini akan di hadiri pihak bagian percetakan, bagian pemasaran, bagian editorial dan direktur perusahaan.

"maaf ya Jihoon, membuat mu harus bekerja ekstra membuat proposal pengajuan dalam waktu semalam, karena deadline yang mundur jadi rapatnya di percepat" kata Jisung sebelum rapat di mulai.

"tidak papa hyung, toh lagi pula kemarin Bae Jakka-nim menyelesaikan naskahnya lebih awal, jadi aku bisa membuat proposalnya" jawab Jihoon.

"kau seperti malaikat Jihoonie, kau bahkan bisa membuat Jinyoung bekerja lebih cepat, selama ini dia tidak pernah tepat waktu menyelesaikan naskah dan terus membuat ku ingin membunuhnya, aku benar benar punya feeling bagus pada mu Jihoonie" Jisung memeluki Jihoon. "oh ya Jihoon, apa kau pernah terlibat dalam rapat penentuan cetakan seperti ini sebelumnya?"

"belum pernah hyung, di perusahaan ku yang dulu hanya kepala editor saja yang ikut rapat, editor bukunya sendiri hanya menyiapkan proposal" jawab Jihoon.

"kau harus membiasakan diri ikut rapat seperti ini, karena di 101 setiap editor ikut menentukan jumlah cetakan buku yang mereka edit, jadi nanti jangan sampai kalah ya" ucapan Jisung agak mencurigakan.

"kalah? Kalah apa memangnya?" Jihoon bingung, bukannya rapat itu tujuannya menyatukan pendapat, untuk apa ada menang kalah?

"ekhem, rapat bisa di mulai, lasung saja pada inti aku ingin dengar dari pihak percetakan, berapa pengajuan kalian" ujar direktur perusahaan yang bernama Kang Daniel.

"kami department percetakan mengajukan 230.000 ekseplar untuk buku ini, mempertimbangkan tema yang di usung buku ini seperti yang jarang di lirik pasaran maka untuk cetakan pertama cukup 230.000 eksemplar saja" ujar manager dari bagian percetakan.

"hm… kurasa kurang kurang, dari bagian Pemasaran memperkirakan 270.000 eksemplar" ujar manajer dari bagian pemasaran yang bisa di lihat wajahnya sangat tampan seperti actor actor drama romance.

"kau itu bercanda ya Ong hyung, itu terlalu banyak, aku tau Bae Jakka-nim itu terkenal tapi ini berlebihan" sanggah manager Percetakan.

"kau yang bercanda Kim Jaehwan, yang mengurus penjualannya itu aku, dan aku sangat paham keadaan dan selera pasar" manager Pemasaran bernama Ong Seongwoo itu mulai terpancing untuk berdiri.

"320.000 Eksemplar" kata santai Jisung.

"kau ngelindur ya hyung, cuci muka dulu sana, buku sebanyak itu siapa yang mau beli" Jaehwan sang manager Percetakan ikut berdiri.

"kau menyuruh ku menjual buku sebanyak itu, kau mau membunuh ku hyung, sepertinya terlalu banyak mengedit buku menjadikan mu semakin gila" tambah Seongwoo.

"kalian sendiri yang gila, buku ini sudah di nanti para penggemar dan antusiasme nya tinggi, aku tidak mau mendengar ocehan dari orang yang tidak punya intuisi seperti kalian" Jisung juga mulai berdiri dari tempat duduknya.

Jujur Jihoon bingung dan takut sekarang, dia tidak tahu jika rapat bisa menjadi brutal seperti ini.

"intuisi? Omongkosong apa itu" sindir Seongwoo.

"jangan pura pura bodoh Seongwoo, buku Bae Jakka-nim sebelumnya terjual habis di hari pertama perilisannya dan kita semua di buat kelimpungan mencetak ulang dan cetakan kedua malah terlalu banyak dan banyak yang tidak terjual, itu semua gara gara siapa? Kau yang ngotot menetapkan jumlahnya tanpa berpikir panjang, itu yang ku maksud tidak punya intuisi" Jisung semakin ngotot dan naik darah.

"itu semua karena hyung tidak cukup kuat meyakinkan kami dengan perkiraan jumblah cetakannya" sahut sengit Seongwoo.

"kurang ngotot apa lagi aku waktu itu Seongwoo, kalau bukan karena si beruang kutup itu lebih menyayangi mu pasti aku tidak akan kalah menafsir jumlah" Jisung makin meradang.

"aku di bilang berung kutup, jahat nya…" canda direktur.

"jangan bertingkah sok imut direktur Kang, cepat putuskan jumlahnya" tegur Seongwoo pada direktur perusahaan yang juga menjabat sebagai kekasihnya itu.

"hm… sebelum itu biarkan dulu editor dari Bae Jakka-nim mengeluarkan pendapatnya, silahkan Park Jihoon-ssi" direktur Kang tersenyum ke arah Jihoon.

"ehm…sebentar" Jihoon membuka beberapa file. "dari hasil vote dan angket yang berasal dari web resmi perusahaan, buku Bae Jakka-nim kali ini mendapat antusiasme yang cukup besar. Saya juga telah melihat web fanbase dan data pre order buku ini, hasilnya cukup mengejutkan, buku ini banyak di tunggu masyarakat, bahkan kita juga menerima pre order dari perpustakaan-perpustakaan yang ada di luar negeri. Jadi dengan ini saya memperkirakan jika kita harus membuat paling sedikit 320.000 eksemplar"

"tapi itukan terlalu banyak, kau tidak tahu sulitnya menjual buku sebanyak itu" Seongwoo masih terlihat teguh pada pendiriannya.

"aku saja tidak dapat membanyangkan mencetak buku sebanyak itu" Jaehwan mulai merasa pening.

"tapi penjelasan Park Jihoon-ssi cukup masuk akal, di proposalnya juga di jabarkan rinci permintaan yang masuk untuk buku ini" kata Direktur Kang sembari sekilas membaca kembali proposal Jihoon.

"pertimbangkan dengan bijak Kang Sajang-nim" sindir Jisung.

"tapi anda juga harus melihat dari segala aspek terutama penjualan, karena itu tujuan utama buku ini di cetak" Seongwoo masih belum mau kalah.

"bagaimana kalau 300.000 saja" tawar direktur Kang.

"jelas terlalu banyak Sajang-nim, 250.000 tidak lebih" keluh Jaehwan.

"270.000 saja sudah lebih dari cukup" nego Seongwoo.

"320.000 tidak bisa kurang, harga mati, pertimbangkan juga kejadian yang lalu, ini buku Bae Jinyoung apapun temanya pasti laku" dedas Jisung.

"saya setuju dengan kepala editor, karena saya sudah pastikan sendiri begitu besar minat masyarakat terhadap buku ini" tambah Jihoon yang walaupun dia sedikit belum terbiasa dengan rapat model bar bar seperti ini, tapi dia ingin menaikan penjualan buku Jinyoung karena taruhan yang mereka buat.

"oke, aku terima 320.000 eksemplar untuk buku ini" keputusan final telas di ambil sang Direktur.

"Akhirnya…. Hah… Aku mencintaimu Kang Daniel" Jisung mulai bersorak gembira.

"iya hyung aku juga mencintai mu" jawab direktur Kang tak kalah santai.

"hyung jangan mengucapkan cinta pada kekasih ku" Seongwoo kesal.

"dasar posesif, kalau bukan karena aku kalian tidak akan jadian" sahut Jisung yang setelah itu menjulurkan lidah.

'memangnya pantas ya jika memngumbar hubungan antara karyawan dan boss nya di forum rapat? Terlebih lagi mereka sama sama pria, hah… perusahaan ini memang aneh' gumam Jihoon dalam hati sembil menghela nafas.

"sudah sudah, oke rapat hari ini di tutup, terimakasih atas kerja samanya" direktur Kang mencoba memecah perdebatan yang tidak bersangkutan dengan isi rapat ini.

"hah… aku benci kalah rapat…" dengan wajah lesu Jaehwan membereskan file file yang dia bawa.

"aku juga benci kalah, tapi mau bagaimana lagi, bukunya Bae Jakka-nim memang banyak yang menanti" Seongwoo menoleh kearah Jihoon. "kau editor baru di Rose ya Park Jihoon-ssi?" Tanya Seongwoo dengan nada ramah.

"ii..iya saya editor baru, mohon bantuannya" Jihoon membungkuk sopan.

"kenalkan aku Ong Seongwoo manager Pemasaran, panggil Seongwoo hyung saja dan yang ini Manager Bagian Percetakan Kim Jaehwan. Di rapat tadi kau hebat, proposal mu juga bagus, aku kalah deh" perkataan ceria Seongwoo membuat Jihoon bingung, tadi dia marah marah dan berdebat seakan bagian editorial itu musuhnya, kenapa sekarang jadi ramah seperti ini.

"di rapat kita semua ini lawan tapi kalau rapat selesai kita teman Jihoonie" tambah Jisung seakan mengerti kebingungan Jihoon, sambil merangkul bawahannya ini.

"terimakasih Seongwoo hyung" Jihoon masih bingung sebenarnya tapi dia tau Seongwoo pasti orang baik.

"kau tampan dan imut sekali Jihoonie, maaf ya tadi aku marah marah, habis Jisung hyung menyebalkan" ujar Seongwoo dengan nada sok imut.

"kau juga tidak kalah menyebalkan Seongwoo, kau dan si direktur bodoh itu selalu membuat ku uring uringan tak karuan" Jisung melirik Direktur Kang.

"bilang saja hyung iri dengan ku dan Seongwoo, makanya cepat cari pacar sana" sindir Kang Daniel sang direktur.

"kau yang memberiku banyak pekerjaan sampai aku tidak punya waktu cari pacar dan dengan entengnya kau bicara seperti itu, akan ku robek mulut mu Kang Daniel, sudahlah aku pergi, ayo Jihoon kita kembali" Jisung membereskan barangnya dan bergegas keluar.

"sajang-nim, Seongwoo hyung dan Kim Jaehwan-ssi saya permisi dulu" Jihoon membungkuk.

"terimakasih juga atas kerjasamanya Jihoon-ssi, kerja mu sangat bagus dan ku harap terus seperti itu" pesan Direktur Kang.

"saya akan berusaha sebaik mungkin sajang-nim"

.

.

TBC

.

.

Well well….

Sepertinya FF ini produk gagal, karena responnya gak terlalu bagus, dan gak ada yang review

Jadi kelanjutan FF ini Jun serahkan kebada kalian semua yang baca, kalau banyak yang review Jun anggap kalian mau FF ini lanjut, tapi kalau gak banyak yang review ya udah gak lanjut

Jun sempet down gara gara kemarin ada yang komen di FF Jun yang Judulnya selebgram, bilang kalau dia pernah baca FF itu di wattpad dan FF Jun lain yang pairingnya Guanho, padahal Jun gak punya akun wattpad, mungkin punya tapi Jun gak pernah nge post FF di sana karena Jun gak ngerti alias gaptek gak bisa upload di sana, dan itu berarti ada yang nge repost FF Jun dong….

Jun gak keberatan ada yang mau repost FF Jun, tapi tgolong bilang dulu ya, Jun gak merasa di mintai ijin repost tiba tiba ada yang repost, jujur ini sempet bikin Jun down, banyak masalah yang dateng ke Jun akhir akhir ini dan salah satunya ini.

Jun cuman gak habis pikir, karya abal abal dari penulis abal abal kayak Jun masih ada juga yang mau ambil(nyolong), prasaan masih banyak cerita yang lebih bagus dari cerita Jun

Oke mungkin itu dulu curhatnya, Jun cuman mau bilang tolong hargai para penulis dengan review dan jangan repost karya mereka, terimakasih.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya, kalau emang lanjut

XOXO

Junra