Title : Literature of Love

Genre : Romance

Cast :

Park Jihoon (24 y.o)

Bae Jinyoung (22 y.o)

Other wannaone member

.

.

Summary: setelah pindah ke perusahaan penerbitan besar, tak di sangka Jihoon menjadi editor penulis terkenal yang ia idolakan, akan tetapi mengapa semua ekspektasi nya jadi runtuh begini. Terinpirasi dari manga Junjou Romantica dan Sekaiichi Hatsukoi dengan cerita berbeda. Winkdeep.

.

.

Note: cerita ini udah di ambang batas discontinue jadi di mohon untuk kesediaannya untuk review. Jun masih terharu buat kalian yang komen dan bilang pengen FF ini langjut, Jun akan berusaha lanjut asal kalian komen.

.

.

.

Seminggu setelah rapat penentuan Jumlah cetakan, akhirnya buku itu pun resmi di rilis, dan 5 hari setelah buku itu di rilis adalah waktu yang tepat untuk melihat hasil penjualan.

"Siang semua!" sapa riang manager pemasaran Ong seongwoo yang dengan seenak jidat langsung masuk ruang editing Rose.

"Hyung-nim, sudah di bilang berapa kali jangan menganggap ruangan Rose seperti rumah ibu mu sendiri, kau selalu masuk seenaknya" gerutu Woojin.

"mian mian, kau lagi kalut ya? Kenapa? Ahn Jakka-nim berulah lagi? Semangat ya Woojinie" Seongwoo mengusak ngusak kepala Woojin.

"jangan ganggu aku hyung, Ahn Jakka-nim benar benar mau membunuh ku kali ini, dia memberikan naskahnya 30 menit sebelum deadline penyerahan naskah pada percetakan bagaimana aku bisa mengedit naskah panjang dalam waktu sesingkat itu, dia itu memang orang sinting, bahkan mungkin lebih sinting dari Bae Jakka-nim" Woojin kembali mencoba focus dengan naskah Ahn Jakka-nim yang baru setengah di edit.

"tidak baik berkata kasar pada Jakka-nim, ngomong-ngomong tentang Bae Jakka-nim Jihoon mana? Kemarin dia meminta data penjualan buku Bae Jakka-nim pada ku, maka dari itu aku kemari" Seongwoo mendudukan diri di kursi kosong yang di yakini itu milik Jihoon.

"Jihoon hyung sedang ke rumah Bae Jakka-nim, mau membahas rencana buku selanjutnya katanya. Jihoon hyung bener bener bisa jadi pawangnya Bae Jakka-nim ya" sahut Daehwi yang selalu riang.

"apa Jihoon sering ke rumah Bae Jakka-nim?" Tanya Seongwoo.

"lebih dari sering, hampir setiap hari dia kesana, biarkan saja Jihoon menjinakan Bae Jinyoung, kurasa Jinyoung sudah masuk dalam pesona imut dan menggemaskan Park Jihoon, dia harus membujuk bocah itu untuk membuat buku series yang kita rencanakan" Jisung mengintrupsi Seongwoo. "ada apa kau kemari?"

"aku mengantar data penjualan buku Bae Jakka-nim yang di minta Jihoon, dan pengajuan cetakan kedua untuk buku itu karena semua terjual habis, itu sih tergantung hyung mau terima pengajuan ini atau tidak" Seongwoo menyerahkan proposal pengajuan yang ia bawa pada Jisung.

"kurasa jumlahnya pas, toh cetakan ke dua ini di peruntukan hanya untuk pre order saja, aku setuju tapi lebih baik jika kita bicarakan dengan Jaehwan dan Daniel juga" Jisung membaca dengan teliti proposal pengajuan itu.

"Daniel sudah oke, tinggal Jaehwan saja, aku membuat tafsiran angka itu berdasarkan jumblah pre order untuk cetakan ke dua lho jadi tidak asal mengajukan angka. Tapi hyung… hyung sudah baca buku Bae Jakka-nim ini kan…" wajah Seongwoo berubah serius.

"iya aku sudah membacanya…" Jisung sadar apa yang di maksud Seongwoo.

"aku sudah membaca semua karya Bae Jinyoung dari dulu dan aku sangat hafal bagaimana rasa yang tercurah di setiap bukunya. Dia menulis buku yang jernih dan murni seperti air, tapi kali ini kenapa aku meliat sedikit warna? Aku selalu kagum dengan semua karyanya tapi yang satu ini sangat indah, dia seperti sudah membuka sedikit cela dalam kehidupannya untuk di masuki kebahagiaan" bisik Seongwoo sambil menatap buku Bae Jinyoung yang ada di meja Jihoon.

"aku juga menyadarinya, Jinyoung itu sangat tertutup dan rapuh, dia tak pernah membuka cela untuk siapapun dia tidak pernah membiarkan siapapun masuk dalam dunianya, karena dia sadar jika dia mudah terluka dan lukanya tak akan sembuh dengan cepat. Aku punya firasat bagus pada Jihoon, dia adalah orang pertama yang bisa membuat Jinyoung sedikit menyempurnakan kembali karyanya" Jisung menarik Seongwoo keluar ruangan.

"maksud hyung?" Seongwoo mengikuti Jisung yang berjalan menuju lift.

"kau sudah pernah bertemu Jinyoung kan? Dia itu sombong dan tidak pernah menerima pendapat orang lain yang berusaha mencampuri imajinasinya, walaupun dia menyembunyikannya tapi aku tahu jika bukunya terdahulu tidak pernah di revisi oleh editornya dalam artian bukunya hanya di edit secara fisik tapi kontennya sama sekali tidak tersentuh karena dia tidak mau karyanya di ubah, walaupun begitu bukunya selalu bagus kan, itu membuatnya semakin sombong, dan baru kali ini ada yang bisa membuatnya menerima revisi konten atas karyanya, makanya aku bilang aku punya feeling bagus pada Jihoon, dia bisa membuka potensi lain dari Jinyoung yang masih terpendam"kata Jisung dengan suara pelan.

"apapun itu aku berharap Bae Jakka-nim menemukan kebahagiaannya, dia sudah terlalu lama menutup diri dan hati dari dunia, aku dan Daniel bisa dekat karena kami sama sama menyukai karya Bae Jakka-nim, karyanya sudah membuat orang bahagia sekarang harusnya dia juga bahagia"

"ku harap juga begitu, melihatnya tumbuh tanpa kebahagiaan selama ini membuat ku hati sakit"

.

.

.

Hari ini seperti biasa Jihoon akan ke rumah Bae Jinyoung sebelum dia ke kantor. Hari ini dia akan menunjukan hasil penjualan buku yang ia tangani begitu juga buku garapan Jinyoung untuk C9.

"Berisik Jihoon! Kau datang terlalu pagi!" Jinyoung membukakan pintu dengan wajah kusut baru bangun tidur.

"selamat pagi Jakka-nim, saya sengaja kemari lebih awal karena saja juga harus masuk kantor lebih awal, pekerjaan saya menumpuk di sana. Anda ingin sarapan apa pagi ini?" Jihoon langsung masuk ke condominium itu tanpa sungkan.

"aku ingin omelette dan sup kimchi saja" Jinyoung membaringkan tubuhnya di sofa ruang santai.

"saya membawa hasil penjualan buku anda untuk 101 dan untuk C9, dan hasilnya saya menang" ujar riang Jihoon.

"yah… memang sudah ku duga sih, selamat kalau begitu" jawab malas Jinyoung.

"saya tidak butuh selamat dari anda, yang saya butuhkan anda menempati janji"

"iya iya aku akan ikut cara kerja mu dan aku akan menerima revisi mu. Jihoon…" panggil Jinyoung.

"iya?"

"mulai sekarang tidak usah bicara terlalu formal seperti itu, santai saja"

"tapi anda kan seorang penulis besar, sangat tidak sopan jika saya menggunakan bahasa santai pada anda, bukannya semua editor harus sopan pada penulisnya" Jihoon mulai dengan kegiatan memasaknya.

"tapi kaku sekali rasanya, kalau editor yang lain sih tidak papa pakai bahasa kaku seperti itu tapi kau editor yang paling dekat dengan ku, hampir setiap hari kita bertatap muka, aneh jika bahasa nya terlalu kaku. Lagi pula kau kan lebih tua dari ku, jadi panggil aku Jinyoung saja, tapi aku malas memanggil mu hyung karena wajah mu bahkan terlihat lebih muda dari ku"

"terserah anda saja Jakka-nim" Jihoon menghela nafas. 'kalau kau tau aku lebih tua kenapa sifat mu itu kurang ajar sekali Bae Jinyoung' lanjut Jihoon dalam hati.

'editor yang paling dekat ya… kenapa aku senang mendengarnya…' suara hati Jihoon kembali bicara.

"Jihoon~~~" Jinyoung merengek imut sembari mendudukan badannya.

"iya iya terserah kau saja Jinyoung"

"begitu dong, kan lebih santai" Jinyoung menoleh dan tersenyum kearah Jihoon.

'dia itu memang tampan sekali… apa lagi jika tersenyum… kata kata dalam karya nya sangat indah, wajahnya sangat indah, kenapa sesuatu yang berhubungan dengannya sangat indah?' ujar Jihoon dalam hati sambil membalas senyuman Jinyoung.

.

.

.

Hari berganti hari, tidak ada yang special dari aktivitas sang editor kesayangan kita dan juga sang penulis, mereka hanya semakin dekat dan juga semakin sering bertengkar.

"ayolah Jinyoung, kau bilang pada ku kau menerima rencana buku series itu, kenapa sudah seminggu kau masih belum menulis sebaris kata pun" Jihoon menggoyang goyangkan badan Jinyoung yang tertutup selimuat.

Ceritanya sekarang mereka ada di kamar Jinyoung yang mirip seperti toko mainan karena sang pemilik punya obsesi aneh dengan mainan anak anak.

"berisik, aku baru tidur 3 jam biarkan aku tidur lagi, sana pergi" Jinyoung makin menenggelamkan diri di selimutnya.

"Bae Jakka-nim yang terhormat, kau sudah bilang 'iya' dan setuju masalah buku series itu, dan aku pun sudah bilang di forum rapat kalau kau menyetujuinya, jika buku itu tidak segera kau kerjakan bisa habis aku" Jihoon menarik selimut Jinyoung dengan kasar.

"deadline nya satu bulan Jihoon, masih ada tiga minggu lagi" Jinyoung menarik Jihoon untuk berbaring di sampingnya lalu memeluk Jihoon seakan Jihoon itu guling.

"Jinyoung… lepas, aku tau ini masih tiga minggu lagi, tapi kau bahkan belum memberi ku draft rencana dan kerangaka cerita bukunya, ingat ini buku series berarti cerinyanya akan berkelanjutan sampai beberapa buku. Jingyoung… jangan memeluk ku terlalu erat, sesak…" Jihoon meronta di dalam pelukan Jinyoung.

"aku masih belum ada ide, aku tidak ada inspirasi sama sekali dan aku juga baru menyelesaikan buku pesanan Jisung hyung, bahkan aku mengerjakannya dalam waktu tiga hari saja" bukannya melepaskan pelukannya Jinyoung malah makin memenjarakan Jihoon dalam pelukannya.

"salah mu sendirikan, itu karena kau melupakannya, untung saja itu buku yang temanya ringan jadi bisa selesai dengan cepat. Kalau kau tidak sanggup jangan janji untuk menulis buku" Jihoon menyerah untuk melawan dan memilih diam saja.

"Jisung hyung yang memaksa ku, dia terus menghantui ku, datang setiap hari kerumah ku sambil mengomel, terpaksakan aku menyanggupinya, aku sudah tidak tidur selama dua hari, sekarang biarkan aku tidur dulu"

"kau akan cepat mati jika hidup seperti ini terus, cepat bangun aku akan membuatkan mu sarapan setelah itu aku temani kau mencari inspirasi" Jihoo mencubit cubit lengan Jinyoung agar dia melepaskan pelukannya.

"mencari inspirasi kemana memangnya?" Jinyoung melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah Jihoon.

"kemana saja asal keluar dari rumah, kau sudah terlalu lama berdiam di sini maka dari itu imajinasi mu menyempit, soal kemana kita pikirkan nanti yang penting kau bangun dulu dan mandi, kau bau sekali Bae Jakka-nim, aku yakin kau belum mandi berhari hari" Jihoon mendorong Jinyoung menjauh.

"hehe… memang, aku sudah dua hari tidak mandi"

"jorok! Makanya kau bau sekali sana pergi mandi, aku akan buatkan sarapan untuk kita berdua" Jihoon menendang Jinyoung agar masuk ke kamar mandi.

.

Setelah sarapan dan dan bersiap siap akhirnya Jinyoung dan Jihoon brangkat menuju tempat yang sebenarnya belum mereka tentukan dengan mobil milik Jinyoung.

"sudah ku duga mobil konglomerat seperti mu tidak akan biasa saja, tapi aku juga tidak mengira jika sports car seperti ini" Jihoon masih terkagum dengan kekayaan Bae Jinyoung.

"aku suka modelnya dan ini juga tidak terlalu mahal" jawab enteng jinyoung yang masih focus menyetir.

"tidak terlalu mahal bagi Tuan Bae yang terhormat, bagiku apapun yang kau miliki harganya tidak masuk akal. Ngomong ngomong kita akan kemana?" Tanya Jihoon.

"aku terpikir suatu tempat, tapi tempat ini agak jauh dari Seoul, kau tidak masalah tidak ke kantor hari ini?" Jinyoung balik Tanya.

"kau sudah menculik ku begini masih tanya apa tidak papa"

"kan kau sendiri yang menawarkan menemani mencari inspirasi"

"kemarin aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku, dan tadi pagi juga aku cepat membereskan pekerjaan ku untuk hari ini, jadi Jisung hyung mengijinkan ku pergi. Aku bilang padanya aku merundingkan tema buku series ini dengan mu karena kau mulai kehilangan ide, dan itu yang terjadi kan?" Jihoon membuka cemilan dari rumah Jinyoung yang dia bawa.

"bagus kalau begitu jadi tidak masalah jika kita kembali agak sore, nanti akan ku antar kau ke kantor untuk laporan pada Jisung hyung"

"kalau bisa kau bilang juga pada Jisung hyung kalau kau masih bingung dengan tema buku kali ini, kalau perlu kita adakan rapat setelah itu" Jihoon mulai makan cemilan itu.

"bawel, kau sudah seperti Jisung hyung saja, dapat ide saja belum apa yang mau di rapatkan? Hei Jihoon, kita nanti akan makan siang di tempat tujuan kita, jangan makan cemilan nanti kau tidak nafsu makan"

"tenang saja, aku masih bisa makan kok nanti, kalau cuman cemilan sih kecil"

"tak heran sih kalau kau bulat begitu, makan mu banyak" ejek Jinyoung bercanda.

"bulat bulat begini badan ku ideal dan cukup sehat, berat badan ku tidak berlebihan" Jihoon cemberut nemun masih terus memakan cemilannya. "lagi pula, di rumah mu banyak cemilan tapi kenapa tidak kau makan?"

"untuk makan makanan pokok saja aku lupa dan tidak sempat apa lagi makan cemilan, kau tau kan aku sibuk"

"kau yang membuat diri mu sendiri sibuk, selalu mengulur waktu pengerjaan naskah hanya untuk bermalas malasan membaca buku, setelah hampir jatuh tempo baru kelabakan mengerjakan naskahnya"

"aku tidak bisa menolak buku bagus Jihoon, mereka seperti terus memanggil nama ku untuk di baca. Ngomong ngomong masalah buku, aku ingin mampir ke toko buku bekas setelah ini, ku rasa aku ingin menambah refrensi untuk buku kali ini" Jinyoung sesekali mencuri cemilan di tangan Jihoon.

"memang kau tau toko buku bekas di sekitar tempat yang akan kita tuju?"

"aku sudah mencari informasi tentang itu, tenang saja"

.

.

.

Tempat yang di maksud Jinyoung adah sebuah restoran yang berada di puncak bukit dengan pemandangan yang sangat indah. Sesampainya di sana mereka memesan tempat dengan pemandangan paling indah dan makanan yang paling special untuk makan siang mereka, tak masalah buang uang mengingat perjalanan kemari rumayan jauh, itu lah yang di pikirkan JInyoung.

Jinyoung menunggu pesanan dan menunggu Jihoon yang sedang ke kamar mandi dengan membaca buku yang ia bawa dari rumah sebagai referensi karya Jinyoung selanjutnya. Awalnya dia membaca dengan tenang, sampai beberapa wanita datang menghampirinya dan bertanya macam macam, sungguh ia paling benci situasi seperti ini, 'bisakah mereka bersikap biasa saja' batin Jinyoung.

Setelah dari kamar mandi Jihoon di suguhi pemandangan sang penulis yang kerumuni oleh beberapa wanita. Sebenarnya Jihoon juga sering di kejar kejar wanita hanya saja ia baru melihat ada orang yang bagaikan magnet seperti Jinyoung, daya tariknya sungguh luar biasa. Karena tak tega melihat wajah terganggu Jinyoung, akhirnya Jihoon bergegas menghampiri sang penulis.

"oh untung kau cepat kembali, nona nona seperti kalian lihat aku sedang tidak sendirian, aku sedang berdua dengannya dan sama sekali tidak ingin di ganggu, jika kalian tidak keberatan tolong tinggalkan kami berdua" ujar Jinyoung sesopan mungkin sembari menarik Jihoon duduk di kursi yang ada di hadapannya.

"kalian berdua sama sama tampan, bagaimana kalau kalian berdua bergabung dengan kami, ayolah" salah satu dari kumpulan wanita itu masih bersikukuh.

"mungkin lain kali, sekarang aku benar benar tidak ingin di ganggu" Jinyoung sedikit mulai emosi.

"ayolah, kami hanya ingin makan dan ngobrol bersama kalian" wanita yang lain menyahut.

"jika aku tidak mau bagaimana? Kami berdua sedang kencan dan kalian mengganggu" Jinyoung sepertinya sudah benar benar emosi dia sedikit meninggikan suaranya

"kencan? Jangan bercanda, kalian pasti ingin mengusir kami maka dari itu kalian mengaku pacaran. Ayolah apa salahnya berbaur dengan kami"

"cukup nona, kalian semua benar benar mengganggu, aku tidak segan segan akan memanggil pihak restoran untuk menegur kalian karena kalian mengganggu kenyamanan kami sebagai pengunjung" Jihoon berdiri dari tempat duduknya dan bersiap memanggil pelayan.

"cih, dasar sombong! Wajahnya saja yang tampan tapi mereka berdua benar benar sombong" gumam salah satu wanita itu tidak terima.

"sombong? Berkacalah, kalian juga tidak punya tata karma" Jihoon ikut emosi.

Pelayan mulai mendekat ke meja mereka dan kumpulan wanita itu pun mulai menjauh.

"ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.

"tadi kami di ganggu oleh sekumpulan wanita yang di sebelah sana, bisakah mereka di tegur" ujar Jinyoung pada pelayan itu.

"tentu saja tuan, saya akan mengingatkan mereka, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, sebagai gantinya apa anda ingin pindah ke tempat yang lebih privat, kami tidak akan manarik biaya tambahan"

"tidak perlu, saya suka pemandangan yang ada di sini, cukup anda tegur mereka" kata Jinyoung kalem.

"baik tuan jika ada yang anda butuhkan lagi anda bisa memanggil saya" pelayan itu pun berlalu.

"apa ini sering terjadi pada mu jika kau keluar rumah tanpa penyamaran?" Tanya Jihoon.

"seperti itulah, dengan wajah mu yang tampan itu kau juga sering mengalaminya kan" jawab Jinyoung yang sekarang tengah menulis sesuatu di buku catatan yang dia bawa.

"iya sih, tapi tidak selalu seperti itu, jika aku menolak orang yang menghampiri ku pasti langsung pergi. Apa yang kau tulis itu?" Tanya Jihoon lagi.

"draf cerita, entah bagus atau tidak yang penting ku tulis dulu" jawab singkat Jiyoung.

"syukurlah kau ingat kita kemari untuk kerja, yang penting tulis sesuatu agar kita bisa membicarakannya dengan Jisung hyung nanti"

Tak selang beberapa lama, makanan mereka pun datang dan Jihoon mulai makan.

"Jakka-nim kau tidak makan?" Tanya Jihoon yang sedang mengunyah makanan.

"sebentar, aku sedang ada inspirasi" Jinyoung masih setia menggerakan tangannya untuk menulis.

'bagaimana pun malas dan tidak tepat waktunya dia tapi harus ku akui kalau dia memang berdedikasi tinggi pada pekerjaannya, dia adalah tipe orang yang akan terus maju mengejar impiannya dan bersungguh sungguh dengan apa yang dia kerjakan' batin Jihoon.

"rasanya berbeda ya jika kita berpergian dengan seseorang" kata Jinyoung setelah selesai menulis.

"kau berkata seakan kau tidak pernah berpergian dengan seseorang sebelumnya"

"memang tidak pernah"

"serius? Mana mungkin" Jihoon masih tak percaya.

"orang tua ku sangat sibuk dari dulu dan tak pernah berpergian dengan ku, aku anak tunggal dan tidak punya saudara, oh mungkin ada tapi saudara tiri dan aku sangat tak akur dengannya, jadi aku lebih suka pergi sendirian, tapi kurasa berpergian dengan seseorang tidak buruk apalagi dengan mu" Jinyoung mulai menjamah makanan yang tadi sempat ia abaikan.

"jangan merayu ku tuan Bae Jakka-nim yang terhormat"

"aku serius soal aku senang pergi bersama mu, setiap kali bersama mu memang menyenangkan. Kau adalah orang yang selalu membuatku terkejut dengan semua tingkah mu dan kau juga membuat ku nyaman, baru kali ini aku merasa nyaman di dekat seseorang apalagi di orang pertama yang bisa menyempurnakan karya ku" Jinyoung menghentikan makannya dan menatap Jihoon penuh arti.

"itu baguskan, berarti kita bisa menjadi teman baik" Jihoon sebenarnya sadar arah pembicaraan Jinyoung, dia tau jika Jinyoung makin hari makin ingin dekat dengannya, hanya saja Jihoon merasa ini hubungannya dan Jinyoung hanya sebatas teman dan rekan kerja saja tidak lebih dan tidak akan lebih.

"iya… teman baik…" untuk sedetik Jinyoung memasang raut wajah terluka dan Jihoon bisa melihatnya.

'apa aku salah bicara?' batin Jihoon.

.

.

.

Sesampainya di kantor 101 Jihoon langsung membawa Jinyoung untuk menemui Jisung untuk pertanggungjawaban Jinyoung, karena dia meninggalkan kantor seharian.

"nah Bae Jakka-nim, sekarang saatnya anda melaporkan hasil kerja anda pada kepala editor" Jihoon menarik Jinyoung ke hadapan Jisung.

"iya iya sabar gak usah tarik tarik, hyung aku belum dalam ide yang pasti untuk buku series ini, kau juga belum memberikan detail temanya, jadi aku buat beberapa opsi kerangka cerita untuk di diskusikan dengan mu" Jinyoung menyerahkan beberapa lembar catatan pada Jisung.

"wah… Park Jihoon memang hebat" mata Jisung mulai berbinar membaca kerangka cerita Jinyoung.

"hyung, yang buat kerangkanya aku kenapa Jihoon yang di puji" kesal Jinyoung.

"dia hebat bisa membuat mu kerja sampai seperti ini, dan lagi bukankah sangat langka kau membuat lebih dari satu kerangka cerita dan mau berdiskusi dengan ku, biasanya kau selalu seenak jidat menentukan jalan cerita yang ingin kau tulis" Jawab Jisung riang.

"wah jadi ini Bae Jakka-nim yang misterius itu, perkenalkan saya Lee Daehwi editor magang di sini, tak kusangka Jakka-nim sangat tampan" Daehwi mendekat karena ada yang menyilaukan.

"salam kenal Daehwi-ssi, dan terimakasih atas pujiannya aku tidak setampan itu, lagi pula semua editor Rose juga tampan, apa lagi Minhyun hyung" jawab ramah Jinyoung.

"hyung kenal dengan Bae Jakka-nim sebelumnya?" Daehwi memasang wajah cemberut ke arah Minhyun.

"aku beberapa kali di suruh untuk mengambil naskah di rumah Bae Jakka-nim, lagi pula Bae Jakka nim ini murid dari teman ku, jadi aku sudah rumayan dekat dengannya" Minhyun menjawab dengan santai.

"he… teman? Bukannya Kim Kyosu-nim itu pacar mu hyung" Jinyoung tersenyum jail. #Kyosu=professor#

"Bae Jinyoung, diam" wajah Minhyun sedikit tersipu.

"curang, jangan bilang cuman aku yang gak pernah lihat wajah asli Bae Jakka-nim sebelumnya" Daehwi cemberut imut.

"enggak juga kok, aku dan Guanlin juga tidak pernah melihat wajah asli Bae Jakka-nim sebelumnya" timpal Woojin.

"tak kusangka sosok aslinya seperti boneka, ku kira aku ini sudah sangat tampan ternyata ada pula makhluk tampan yang tampak tidak nyata sepertinya" tambah Guanlin.

"kalian berlebihan, jangan tertipu dengan ketampanannya dan ingat bagaimana dia mengacaukan hidup kita karena dia melanggar deadline nya" sahut sinis Jisung.

"kau benar hyung, sekarang dia memang membuat hidup ku kacau" tambah Jihoon.

"maaf ya aku sudah membuat kalian kerepotan, aku benar benar menyesal" Jinyoung memasang wajah memelas yang membuat semua orang di ruangan itu terpesona kecuali Jisung dan Jihoon.

"sudah sudah jangan mudah terpesona oleh wajahnya, sebenarnya dia ini sangat menyebalkan. Jinyoung dan Jihoon, kita rapat di ruang meeting di bawah" Jisung membawa beberapa berkas lalu beranjak dari tempat duduknya.

"eh tunggu dulu Jisung hyung, teman ku salah satu professor sastra ingin mengajukan permintaan buku yang aku bilang tempo hari" Minhyun mencegah Jisung untuk pergi dulu.

"oh yang itu iya aku ingat, kau Tanya sendiri langsung dengan orang yang bersangkutan mumpung dia ada di sini" Jisung member isyarat dengan menoleh ke arah Jinyoung.

"Jinyoung-ah, Jonghyun ingin kau membuat buku referensi tentang pandangan sastra untuk mata kuliah nya, kau mau kan membuatkannya" pinta Minhyun.

"buku yang ini saja belum jadi hyung, bagaimana aku bisa membuat yang lainnya"

"setelah seri pertama nya selasai kau kan bisa membuatnya, ayolah ini mudah tidak sulit kok" Minhyun mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya.

"butuh usaha yang keras untuk meyakinkan tuan Bae yang terhormat hyung, aku saja harus menyembah nyembah agar dia mau menulis bukunya tepat waktu" ujar jihoon.

"aku tidak minta tolong secara geratis Bae Jinyoung, aku pastikan aku membayar nya dengan sepadan" Minhyun menyodorkan sebuah buku yang ternyata itu buku incaran Jinyoung selama ini.

"hyung, kau dapat dari mana? Aku sudah cari di seluruh Korea tidak ada, bahkan aku titip teman ku di Amerika dan Inggris pun mereka belum menemukannya" mata Jinyoung mulai berbinar.

"Jonghyun menemukannya di sebuah toko buku bekas saat dia study banding ke Inggris, jika kau mau membuat bukunya aku akan memberi mu ini" kata Minhyun.

"aku mau hyung"

"semudah itu?" kaget Jihoon.

"dasar maniak buku, awas saja kalau sampai telat deadline gara gara tidak bisa membagi waktu pengerjaan buku, aku tau kau masih punya proyek buku dengan C9" sindir Jisung.

"berhenti memata matai hidup ku hyung, kau menakutkan. Buku ku dengan C9 sudah hampir selesai, tenang saja semua akan beres" Jinyoung merebut buku yang dia inginkan itu dari tangan Minhyun.

"aku justru punya firasat buruk saat kau bilang semua akan beres" gumam Jihoon.

"sudah ayo rapat, Minhyun-ah masalah buku pesanan mu kau bisa langsung ke rumah Jinyoung setelah kami selesai rapat, nanti aku juga akan ikut" Jisung menarik Jinyoung dan Jihoon ke ruang rapat segera agar pekerjaannya cepat selesai.

"hyung selalu memutuskan sepihak, memang aku setuju tentang kalian yang akan datang kerumah ku untuk mendiskusikan buku referensi sastra itu?" sindir Jinyoung.

"jika aku minta persetujuan mu pasti kau tidak setuju dan akan terus mengulur waktu, lagi pula kau sudah terima sogokannya jadi kau harus sungguh sungguh bekerja" jawab Jisung.

.

.

TBC

.

.

.

Oke oke Chap 3 selesai…

Sebenernya Jun udah punya chap 4 di tangan tinggal upload aja, tapi tunggu respon kalian dulu

Kalau banyak yang baca, Jun bakal lanjut update kalau gak banyak yang baca yaudah gak di terusin.

Jun udah mulai seneng ternyata banyak yang review dan bilang FF ini lanjut, so Jun juga bakal usaha buat lanjut.

Tolong jangan ada Siders di antara kita, alias tolong sempatkan review.

Sampai ketemu di Chapter selanjutnya

XOXO

Junra