Liburan.

Setelah hari-hari melelahkan sebagai seorang trainee dan juga sebagai siswi, aku merasa bahwa liburan begitu berharga. Seminggu lalu kami – sebagai seorang siswa merasa diperbudak oleh ujian kenaikan kelas. Sekolah memberikan kami waktu berlibur 3 bulan penuh, tentunya setelah mendengar berita bahwa Colour Bar telah menandatangai kontak dengan label rekaman MSG dan akan segera merilis album perdana, dengan begitu saja mereka memberikan kami waktu berlibur yang cukup panjang.

Selama berlibur tidak ada jadwal lain bagiku, selain menjalani masa trainingku di MSG lalu berlatih sebentar dengan Colour Bar di rumah paman Woong. Ah- paman Woong juga mengajariku bagaimana membuat lirik lagu yang baik, kurasa aku sudah mulai mempercayai paman dan aku sangat nyaman menjadi diriku yang lain jika bersamanya bahkan aku sudah bisa bercerita tentang masa trainingku kepadanya, aku juga berjanji jika aku sudah menjadi seorang penyanyi aku akan tetap mengunjungi paman dan membuatkan pama satu set tuksedo di hari ulang tahunnnya.

"sepertinya kau sudah bisa kusebut sebagai penulis lagu" ujar paman Woong. Entahlah apakah ia sengaja menggodaku atau aku memang sudah bisa menulis lirik lagu dengan baik, tapi dia meyakinkanku bahwa lirik lagu yang kutulis saat ini sangat menyentuh mungkin karena pengalamanku selama ini.

"apakah ini karena Seon Woo? Sepertinya lagu itu memang untuknya" lanjutnya sembari tersenyum menggodaku.

"tidak. Ini adalah apa yang kupikiran, paman" aku menyangkalnya tapi tak bisa menyembunyikan bagaimana merahnya wajahku ketika paman tahu Seon Woo lah inspirasiku dalam menulis lagu untuk album perdana kami ini. Paman Woong terbahak-bahak melihat wajah meronaku.

"paman, bisakah anda diam? Aku tidak ingin yang lain mengira paman sudah gila" ujarku tak kalah meledek paman. Paman tahu jika aku masih belum bisa menjadi diriku yang lain itu dihadapan semua member Colour Bar, aku tetap menjadi diriku – gadis tanpa ekspresi. Sedikit demi sedikit paman menasehatiku, beliau juga mendengarkan curhatku – selain Dong Nam, paman adalah orang kepercayaanku nomor dua, paman seperti bisa membacaku dengan mata tertutup, dia sedikit demi sedikit meyakinkanku untuk menurunkan tembok pertahananku dan menyuruhku tersenyum lebih sering. Dia juga mengerti tentang aku dan Seon Woo, tapi aku memilih bungkam dan hanya menceritakan seperlunya saja.

Dong Nam memanggilku, menyuruhku untuk ke ruang latihan karean Seol Chan sudah datang dan memulai latihannya. Dan dengan santai – tanpa ekspresi aku berjalan menuju tempatku, di depan mikrofon lalu mengalungkan bassku tanpa melirik siapa yang berada disebelahku, tentu aku mengetahui jika Seon Woo berdiri disampingku entah sejak kapan, tetapi setelah music stage pertama kami, dia memang berubah tiba-tiba menjadi seorang yang penuh perhatian terhadapku.

Kami memulai latihan kami degan lagu pertama kami, lagu yang kami bawakan saat music stage pertama kami lalu lagu kedua saat kami bertanding dengan All for One. Se Yi dan Seol Chan memujiku karena semakin lama kemampuan vokalku semakin berkembang, aku tahu apa maksud mereka- Se Yi bertemu denganku secara tidak sengaja di kantor presdir saat Se Yi hendak memperpanjang kontraknya dengan MSG, awalnya dia tidak percaya saat aku berkata aku hanya iseng mendatangi kantor MSG lalu kemudian dia melihatku bersama trainee lain sedang berlatih menari dengan salah seorang instruktur, dari situ lah dia mengetahui jika aku mengikuti training di MSG dan dia juga berjanji untuk tidak memberitahukan ini kepada siapapun. Hubunganku dengan Se Yi bisa ku katakan biasa saja, aku tahu mungkin terdengar sangat aneh mengingat Se Yi adalah cinta pertama Seon Woo dan sampai sekarang pun Seon Woo masih belum mau mengalah kepada Seol Chan, tetapi aku tidak pernah sekali pun membenci Se Yi karena hal itu – aku mempelajari satu hal ketika masih mempunyai kupon kencan bersama Seon Woo, yaitu perasaan tidak pernah dipaksakan meskipun kau sudah berusaha begitu keras dan dari situ lah aku mulai melepaskan Seon Woo sedikit demi sedikit dengan begitu rasa sakit akan memudar dengan perlahan. Tetapi Se Yi bukan temasuk orang kepercayaanku, mungkin juga karena dia dekat dengan Seon Woo maka dia akan dengan mudahnya mengkatakan rahasiaku kepada Seon Woo, bukan berarti dia bukan temanku karena selama ini Se Yi juga mendukungku dan sering mengunjungiku bersama Seol Chan tentunya saat aku menjalani masa berat menjadi trainee, dia juga heran mengapa aku lebih memilih menjadi trainee padahal aku sudah dikenal sebagai basist handal dari Colour Bar, aku hanya menjawab bahwa aku masih belum memiliki basic sebagai seorang idola dan aku ingin memiliki koneksi pertemanan bukan hanya para anggota Colour Bar – menginggat betapa tertutupnya aku dan orang-orang masih menganggapku sebagai gadis yang berbahaya karena latar belakang keluargaku. Ah- aku juga ingat ketika Seol Chan meperkenalkanku kepada Arnold, dia salah satu member M.I.B juga, dia berkata bahwa Arnold pernah melihatku pada babak penyisihan trainee dan kagum padaku, maka dari itulah Arnold ingin berteman denganku. Awalnya aku tidak begitu saja mau menerima Arnold sebagai temanku, lalu sesuatu membuatku menerima Arnold menjadi temanku – saat itu adalah ketika dia mengajakku untuk bermain di Lotte World setelah dia menyelesaikan tur dunianya, awalnya kami sangat menikmati suasana disana tapi kemudia ada seseorang sasaeng fans yang berusaha mengganggu kami tapi Arnold tidak mengetahuinya karena dia terlalu sibuk untuk mengagumi Lottle World, entahlah terkadang Arnold menjadi anak kecil apalagi ketika dia sedang bersamaku. Saat itu aku yang menyelamatkan Arnold dari serbuan sasaeng fansnya, dia kaget ketika tahu aku menguasai taekwondo, dia juga berkata jika ingin mempunyai pacar yang tidak cengeng dan bisa membela dirinya ketika Arnold tidak ada, dengan begitu dia tidak akan khawatir. Arnold juga pernah bertanya tentang orangtuaku, lalu aku hanya menjawab orangtuaku berbeda dengan yang lain, mereka istimewa meskipun orang lain tidak menganggapnya begitu. Arnold menerimaku apa adanya, bahkan dia tidak malu ketika aku mengajaknya ke bar milik ibuku.

"apakah Arnold sudah menemuimu hari ini?" tiba-tiba Seol Chan bertanya kepadaku di depan para member lain, tidak biasanya dia bersikap seperti itu, ataukah dia sengaja menggodaku dan membocorkan rahasiaku yang lain. Awas saja kau Yoon Seol Chan!

"diam kau idol!" aku mengeluarkan jurus jituku – kata Eunha jurus jituku ialah ketika aku melirik atau memandang seseorang tepat di matanya. Aku melihatnya diam dan tidak berani melanjutkan aksinya untuk menggodaku lagi, rasakan itu! Aku tertawa dalam hati. Aku melirik Seon Woo, memperhatikan ekspresi wajahnya ketika Seol Chan bertanya tentang Arnold tadi, ada sedikit rasa sedih dan tidak suka dari raut wajahnya itu, tapi kemudian dia memalingkan wajahnya dan tersenyum kepada Se Yi dan ekspresi yang tadi terlihat olehku sudah hilang.

"ah – aku sangat lapar" ujar Eunha lalu dia meminta Seol Chan untuk menelpon manajer Hong dan memintanya membelikan pizza. Aku jadi ingat ketika kami latihan untuk bertanding melawan All for One, tiba-tiba manajer Hong membawakan kami banyak sekali hidangan enak dan kali ini tebakanku tidak salah, beliau membawakan kami banyak sekali makanan dan meyuruh kami mengadakan pesta kebun dadakan dan akan mengundang member M.I.B yang lain.

Sembari kami menunggu hidangan yang sudah diantar menuju rumah paman Woong, kami membersihkan tempat latihan kami. Dan tanpa aku sadari, Seon Woo berada disekitarku sedari tadi, entah seolah dia ingin membantuku untuk membersihkan ruangan ataukah karena Se Yi sedang bersama dengan Seol Chan maka dia tidak bisa mengganggu, aku tidak memperdulikannya lalu memanggil Dong Nam untuk membantuku membersihkan sarang laba-laba di atap. Tetapi Dong Nam terlalu asyik dengan Gyu Dong dan Eunha di halaman, dia tidak mendengarkan panggilanku.

"biarkan aku membantumu" ujar Seon Woo lalu mengulurkan tangannya padaku. Aku tidak berani menatap matanya dan hanya menundukkan kepalaku lalu mengapai tangannya dan mulai membersihkan sarang laba-laba yang ada diatas atap.

"mengapa tanganmu sangat dingin,kim nana?" tanyanya sambil memegangi tanganku. Aku tidak tahu apa maksud perkataannya itu tapi sepertinya dia menanyakan kepribadianku yang berubah apalagi ketika dia berada disekitarku.

"mind your own bussiness" jawabku ketus. Aku tidak pernah menjawab lebih dari itu jika dia menanyakan tentangku, entahlah mungkin karena aku terlalu mengingat tentang perkataanku sendiri bahwa setelah kupon itu kami akan menjadi invisible. Terlihat raut sedih dan senyum getir ketika aku menjawab pertanyaannya tadi. Apakah dia merasa bersalah kepadaku setelah kupon itu? Dia tidak seharusnya merasa bersalah dan kasihan padaku, karena justru itu yang membuatku akan semakin menghindarinya karena dia hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan kepada orang seperti aku – memberi belas kasih.

Setelah hidangan sudah diantarkan oleh petugas delivery, kami menatanya di halaman. Tidak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi, aku sangat gugup, entahlah aku hanya tidak ingin Arnold tahu tentang Colour Bar dan aku juga tidak ingin para member Colour Bar tahu tentang hubunganku dengannya, apalagi Eunha yang merupakan fans berat Arnold. Seol Chan kemudian menyuruh member MIB masuk ke dalam ruang latihan kami. Betapa kagetnya Arnold ketika mengetahui aku ada disana, dan dia tidak meyangka jika aku juga merupakan anggota band Colour Bar.

"KIM NANA?!" teriak Arnold, dan semua mata pun tertuju padaku termasuk Eunha yang menatapku horror bercampur rasa tidak percaya ketika tahu aku juga mengenal Arnold MIB.

"h-hai arnold" sapaku gugup dengan menundukkan kepala. Apa yang akan terjadi setelah ini? Pikirku, pasti Eunha akan memarahiku karena telah merebut idolanya, lalu apa yang akan aku lakukan ketika melihat reaksi Seon Woo terhadap Arnold, dia terlihat sangat tidak suka dan sedih. Hari ini memang bukan hari yang baik bagiku. Aku menghela napas, bersiap untuk menerima pertanyaan bertubi-tubi dari Eunha.

"aku tidak menyangka kau juga termasuk member colour bar" ujar Arnold lalu menarikku kedalam pelukannya. Aduh! Arnold bisakah kau tidak memelukku didepan semua temanku ini? Sungguh aku ingin berteriak padanya.

"ba-bagaimana kau bisa mengenal kim nana, oppa?" tanya Eunha, aku melihatnya seperti akan menerkamku. Tolong katankan sesuatu Arnold, katakan sebuah kebohongan yang sering aku katakan padaku, aku mohoh! Batinku dalam hati. Kemudian yang kudengar setelah itu adalah cerita Arnold – bagaimana dia bertemu denganku secara tidak sengaja saat aku menyelamatkannya dari serbuan para sasaeng fans di Lotte World. Aku menghela napas, lega rasanya ketika tahu Arnold tidak mengatakan aku seorang trainee di MSG.

"dan sejak itulah kami berteman sangat baik, dia gadis yang sangat pemberani" ujarnya menyelesaikan ceritanya itu dan menatapku sembari tersenyum.

"kim nana memang seorang super hero bahkan kau tidak berhenti berbicara tentangnya ketika di dorm" ledek Seol Chan, aku hanya mendelik ke arah Seol Chan seolah memberi kode agar tidak memperburuk suasana. Aku hanya takut Eunha menangis dan semua menyalahkan padaku.

"baiklah, ayo kita mulai pesta kebunnya" lalu Se Yi membuyarkan semua tekanan antara aku-Eunha dan Arnold. Kudengar Se Yi memarahi Seol Chan karena bersikap kekanakan dengan cara menggodaku, dia juga menyuruh Seol Chan untuk meminta maaf padaku dan menjelasakan pada Eunha, Se Yi tahu bagaimana rasanya ketika sahabatnya membencinya – saat itu Eunha mengetahui jika Seol Chan meyukai Se Yi dan dia sangat kecewa. Menurut Eunha, seorang idol tidak seharusnya memiliki hubungan dengan orang lain karena mereka datang dari langit, bahkan penyakit fangirl Eunha terkadang kambuh ketika melihat idolanya berkencan dengan orang lain walaupun itu hanya rumor tetap saja Eunha memasukkannya dalam hati.

Pesta kebun kali ini aku sangat menyukainya, entah kenapa. Se Yi menyanyikan lagu solonya di pesta kebun ini, kemudian dia juga berduet dengan Seol Chan menyanyikan lagu soundtrack drama itu. Semua terpukau melihat penampilan mereka, lalu pesta kebun dilanjutkan dengan penampilan MIB yang membawakan lagu mereka secara akustik dan terakhir aku – yang menyanyikan lagi Atlantis Girl milik BoA, entah kenapa aku sangat ingin menyanyikan lagu itu sejak lama tapi aku tidak menemukan waktu yang tepat untuk menyanyikannya. Aku tahu itu lagu favorite Seon Woo, aku memang sengaja menyanyikannya karena aku ingin membuktikan padanya bahwa bukan hanya Se Yi yang mampu memberikan sensasi mengelitik itu saat menyanyikannya, aku ingin Seon Woo juga merasakan sensasi yang lain ketika aku menyanyikannya. Juga mengingatkan Seon Woo dengan siapa yang telah melemparkan CD album BoA di depan pintu gerbangnya saat itu.

Awalnya Se Yi kaget ketika tahu aku menyanyikannya, dia juga tidak menyangka aku mengetahui lagu itu lalu aku dengan entengnya berkata bahwa BoA merupakan salah satu penyanyi favoriteku. Yang membuatku kaget adalah bagaimana reaksi Arnold setelah aku menyanyikannya, dia berkata jika dia juga mengidolakan BoA dan Atlantis Girl merupakan salah satu lagu favoritenya karena saat kecil – ketika dia mendengarkan lagu itu maka saat itu lah Arnold termotivasi untuk menjadi seorang penyanyi, berkat lagu Atlantis Girl yang dibawakan BoA, dia juga berkata dia ingin berduet dengan BoA menyanyikan lagu itu. Aku hanya tersenyum, kini aku tahu bukan hanya dia yang mempunyai kisah dibalik lagu Atlantis Girl, tetapi ada aku dan Arnold yang juga memiliki kisah dibalik lagu itu, dan aku merasa tidak sendiri.

Seon Woo – dia sendiri juga kaget mendengarkan aku menyanyikan lagu Atlantis Girl, aku melihat matanya berkaca-kaca. Aku tahu tidak seharusnya aku menyanyikan lagu ini di depannya karena menurutnya lagu itu hanya boleh dinyanyikan oleh Se Yi, mengingat bagaimana cinta pertamanya kepada Se Yi saat dia masih duduk di kelas 5. Aku tidak berani menatapnya setelah itu, aku hanya menundukkan kepalaku tetapi tiba-tiba Arnold merangkul pundakku dan membisikkan sesuatu kepadaku – dia bertanya apakah dia bisa berbicara kepadaku empat mata. Aku hanya mengangguk dan membiarkan Arnold mengandeng tanganku keluar dari tama, dan sekali lagi aku melihat raut tidak suka, sedih dan cemburu di wajah Seon Woo.

Arnold mengajaku untuk berbicara di taman belakang rumah milik paman Woong.

"apa yang ingin kau bicarakan arnold?" tanyaku dengan wajah tanpa ekspresiku. Dia lalu duduk disampingku dan memutar tubuhku sehingga aku kini menatapnya.

"aku minta maaf kim nana, aku tidak seharusnya mengagetkanmu dengan kedatanganku seperti itu" ujarnya. Ya aku melihat sedikit rasa bersalah di matanya, mungkin dia begitu menjaga janji kami untuk tidak mencampuri urusan kami yang terlalu privat. Aku hanya mengelengkan kepalaku, mengatakan bahwa dia tidak bersalah hanya karena datang ke pesta kebun, hari ini benar-benar terjadi diluar dugaanku, begitu aku menjelaskan pada Arnold lalu dia memelukku. Saat itulah – dengan tidak sengaja, mungkin dia baru saja selesai menerima telepon dari ibunya – Seon Woo melihatku sedang dipeluk oleh Arnold, dan dia dengan tergesa-gesa masuk kembali ke dalam ruang latihan dengan mata yang berkaca dan rahang mengeras.

Aku tidak berusaha melepaskan pelukan Arnold saat Seon Woo melihatku, aku juga tidak berusaha mengejar Seon Woo ketika dia tergesa-gesa masuk kedalam ruang latihan lagi. Arnold bertanya kepadaku apakah aku memiliki hubungan yang tidak cukup baik dengan Seon Woo, tapi aku hanya menjelaskan jika dia tidak begitu mengenalku. Selama Arnold mengajakku berbicara empat mata denganku, dia tidak pernah gagal membuatku tertawa dengan guyonan konyolnya itu. Arnold juga bertanya tentang bagaimana masa traineeku, kapan aku debut lalu dia juga menanyakan kapan aku bisa main ke bar lagi karena dia ingin bertemu dengan Ahjussi untuk melanjutkan pelajaran bassnya.

Pesta kebun dadakan telah usai, semua member MIB berpamit pulang begitu juga kami, aku pulang dengan Dong Nam, Eunha dan Gyu Dong. Dan aku baru menyadari jika Dong Nam membawa mobil selama beberapa hari latihan ini, mungkin Dong Nam mendapatkan hadiah saat mengikuti perlombaan taekwondo, mengingat dia pernah mengatakan kepadaku akan mengikuti perlombaan taekwondo selama beberapa hari sebelum ujian, dan itulah kenapa aku tidak melihat Dong Nam berkerja di bar beberapa hari itu.

Liburan kami berlalu dengan cepat, rasanya baru kemarin aku menjalani masa trainingku dan baru kemarin aku merasakan liburan yang benar-benar liburan, kini aku harus kembali ke sekolah – menjalani bangku terakhirku sebelum aku meneruskan mimpi-mimpiku dan mengejarnya di luar sana.

Mengenai album perdana kami, kami telah berhasil meluncurkan album perdana kami bahkan saat 2 bulan terakhir liburan kami, banyak music stage yang harus kami datangi. Pihak manajemen tidak mengadakan acara fansign, setelah membicarakannya dengan kami tentang apa saja baik dan buruk melakukan fansign, lalu kami memutuskan untuk tidak mengadakannya tetapi mengantinya dengan memberikan photocard eksklusif dengan tanda tangan kami di setiap album.

Selama masa promosi album kami, manajer Hong membantu kami untuk memanajemen jadwal. Berkat manajer Hong juga, kami menjalankan sisa liburan kami sebagai ajang promosi dengan tidak menguras banyak energi. Manager Hong juga yang menganjurkan kami untuk mengadakan showcase kecil-kecilan dengan para fans kami, tentu saja manager Hong menyarankan MIB sebagai bintang tamunya – dan untuk pesta itu juga Eunha memintaku untuk mendesain kostum spesial kami, dengan senang hati pun aku melakukannya. Dan selama proses menuju showcase itu pula kami saling bahu-membahu untuk membantu satu sama lain tak terkecuali Seon Woo. Ah – dia juga berkata bahwa kita harus mengundang All for One sebagai bintang tamu juga, meskipun mereka tetap menganggap kami sebagai musuh, tapi tidak dengan kami – kami tetap menghargai mereka dan menghormati mereka. Tak kusangka semuanya menyetujui untuk mengundang All for One, dan mereka pun menerima undangan kami dengan senang hati.

Saat rehearsal pun kami banyak berinteraksi dengan All for One dan member MIB, sepertinya ini juga sebagai tahap baru bagi Eunha, karena dari sanalah dia belajar dan semakin menguatkannya untuk berpikir bahwa semua orang sama tak terkecuali idola mereka. Kurasa Eunha sudah lepas menjadi jati dirinya sebagai fangirl dan menjadi seorang Eunha yang sebenarnya.

Aku tidak gugup sekali pun saat harus menyanyi solo dalam showcase kami. Oh! Tentang lirik lagu yang aku tulis, aku sangat senang dengan reaksi para fans yang sangat menyukai makna dari lagu itu bahkan saat kami bercakap-cakap dengan para fans di showcase, ada seorang fans yang meminta aku menyanyikan lagu itu berduet dengan Seon Woo. Aku hanya bersikap profesional dan menyanggupi permintaannya itu.

Showcase kami berjalan sangat lancar, kami pun berterima kasih kepada teman-teman kami, fans dan kerabat dekat kami karena sudah mau datang ke acara showcase kami. Terakhir kami melakukan banzai bersama-sama sebelum menyalakan kembang api dan berpamitan kepada semuanya.