Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura.
.
-Tolong dong, baca warningnya-
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
-Tolong dong, baca catatanya-
catatan : Author bukan seorang mahasiswa kedokteran atau pun keperawatan, jadi tolong tegur jika ada kesalahan dalam penulisan mata kuliah dari kedua fakultas yang author cantumkan dalam fic ini XD.
ficnya sengaja Rate M bukan berarti akan ada banyak adegan yang berbahaya, mungkin akan ada, tapi tidak selalu muncul dan munculnya pun mungkin akan lama, mereka baru saja bertemu dan konflik akan sering terjadi. author akan mencantumkan tanda bahaya jika sudah berada pada rate M :)
.
.
Don't Like Don't Read !
.
.
~ Tomato, cherry dan salad~
[ Chapter 2 ]
.
.
.
Liburan semester berakhir begitu saja, Sakura sudah harus kembali ke kampus, tapi dia tetap tidak melepaskan pekerjaan sambilannya, dia akan kuliah dan bekerja bersamaan, semua sudah di aturnya dan bisa kuliah tanpa kesulitan. Mengecek jadwal kuliah pada komputer fakultas, dia harus benar-benar menetapkan jadwal, jika tidak pekerjaannya dan kuliah akan bertabrakkan, dia tidak ingin kehilangan pekerjaan dan tidak ingin mendapat nilai buruk, dia akan kesulitan mengajukan beasiswa tahun depan jika nilainya anjlok.
Hmmp...~ aku bisa kerja pagi, hanya senin sampai kamis, itu tidak masalah, uhm.. Kuliah siang hanya ada jumat, praktek hari sabtu siang, minggu aku bisa istirahat full, tapi senin dosennya cukup kejam, kata para senior, ahh~ terserahlah, setidaknya aku punya waktu minggu untuk mengerjakan tugas-tugasnya, yosh... semangat Sakura, tahun ini pun kau harus bekerja keras.
.
.
"Dengarkan baik-baik, untuk mata kuliah ini, ibu ingin kalian membentuk kelompok, satu kelompok terdiri dari dua orang dan akan begitu terus hingga final, mengerti?" Ucap dosen dengan mata kuliah keperawatan sistem respirasi.
"Ya bu..." Ucap seluruh mahasiswa
Dosen itu mulai menyebutkan nama-nama mahasiswa, dia yang akan membagi kelompok, setiap mahasiswa mulai berpindah tempat sesuai dengan siapa orang yang akan satu kelompok dengannya. Sakura mendengar namanya dan mengangkat tangan, nama berikutnya ikut mengangkat tangan, Sakura memilih untuk dia yang berpindah, duduk di sebelah gadis yang akan satu kelompok dengannya, Ino Yamanaka. Sakura merasa tidak asing dengan gadis ini, mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya, Sakura jarang untuk membaur dengan teman seangkatannya. Mungkin dia hanya mengingat gadis ini karena mereka berada di ruangan yang sama saat masa orentasi.
"Oh, namamu Haruno Sakura, mohon kerja samanya." Ucap Ino, tersenyum ramah.
"Uhm, mohon kerja samanya." Ucap Sakura, mengangguk perlahan.
Gadis berambut gold pale ini menatap gadis yang duduk di sebelahnya, dia sangat mengingat nama gadis ini, tentu saja, apa yang telah di perbuatnya akan membuat teman satu kelompoknya ini akan sangat marah jika di mengetahuinya.
.
Flashback.
Semester awal.
Sakura sudah selesai mengisi formulirnya, berjalan ke arah ruangan tata usaha setelah keluar dari kelasnya. Di dalam ruangan tata usaha tidak ada siapapun, sepertinya yang bertugas sedang keluar, Sakura menaruh formulirnya di meja, mungkin akan di simpan jika pegawai tata usaha itu sudah kembali.
Tidak lama setelah gadis ini keluar, Ino berjalan masuk, tidak ada siapa-siapa, dia sudah mengisi formulirnya, jalur mahasiswa berprestasi, dia harus mendapatkan beasiswa itu, sejujurnya dia hanya ingin menghabiskan beasiswa itu untuk berbelanja kebutuhannya, wajahnya terlihat senang sudah merencanakan hal ini, dengan begitu uang sakunya tidak akan tersentuh dan aman, dia bisa menggunakan uang beasiswanya. Menempatkan formulirnya di atas meja, sudah ada dua lembar formulir di sana dengan nama yang sama.
"Ada pesaing? Wah, dia bahkan mengambil dua jalur, jika seperti aku tidak akan mendapatkan apapun." Ucap Ino, melirik ke sana dan kemari, ruangan masih sepi, Ino mengambil dua formulir itu dan berjalan keluar, Ino sudah membaca persyaratannya, jika formulir hilang maka yang akan mendapatkan beasiswa orang yang mendapat peringkat kedua untuk jalur berprestasi, Ino harus berusaha mendapat peringkat pertama, namun dia hanya mendapat peringkat kedua, tidak masalah, uang beasiswa itu tetap ada padanya, gadis yang bernama Haruno Sakura itu tidak akan mendapatkan apa-apa.
Ending flashBack.
.
Dosen sudah selesai membagi kelompok, materi baru akan di berikan minggu depan, dosen itu sudah berjalan keluar, Sakura mulai memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Aku tidak menyangka akan satu kelompok denganmu, katanya kau orang terpintar di angkatan kita." Ucap Ino. Seakan-akan dia beruntung.
"Hahaha, bukan apa-apa kok." Ucap Sakura sedikit tersanjung.
"Oh iya, kau tidak ambil beasiswa untuk jalur berprestasi?" Basa-basi Ino.
"Sudah, hanya saja formuliku hilang." Ucap Sakura, wajahnya terlihat tidak bersemangat, kembali mengingat usahanya yang sia-sia.
"Uhm... sayang sekali yaa." Ucap Ino.
"Iya, padahal aku bisa menabung untuk uang semester berikutnya, gara-gara hal itu, aku harus kerja sambilan untuk mengumpulkan uang." Ucap Sakura. Ino jadi terharu setelah mendengar ucapan Sakura.
"Kau sungguh orang yang hebat Sakura, untuk itu, aku akan mentraktirmu, sebagai tanda awal pertemanan kita." Ucap Ino.
"Ti-"
"-Jangan menolak." Potong Ino.
"Baiklah, tapi lain kali aku yang akan mentraktirmu." Ucap Sakura dan tersenyum.
"Iya-iya, kapan-kapan saja." Ucap Ino.
Apa yang sudah kau perbuat Ino, kau menghilangkan formulir berharga seseorang, aku yakin dia pasti akan sangat marah dan juga aku sudah membuatnya kesusahan sekarang, huff...~ aku pikir dia hanya ingin foya-foya dengan uang beasiswanya. Kau sungguh jahat Ino. Batin Ino.
"Ino, ada apa?" Tegur Sakura, Ino hanya melamun dan kelas hampir kosong.
"Ah, tidak apa-apa." Ucap Ino, sedikit gugup.
Awal untuk menjadi sahabat yang baik, Sakura bahkan tidak menyadari jika orang yang sudah menghilangkan formulirnya berada sangat dekat dengannya.
.
.
.
.
.
Fakultas kedokteran.
"Woi Teme, mau makan bersama?" Ucap Naruto. Naruto Uzumaki, mereka sahabat, Sasuke pun tidak abis pikir dengan sahabatnya itu, dia cukup ceroboh dan bisa lolos di fakultas kedokteran, sungguh ajaib.
"Sampai kapan kau akan memanggil Sasuke dengan ucapan kasar seperti itu, mana tata kramamu." Tegur Neji. Anak tertua dari keluarga Hyuga, Neji Hyuga, dia hanya akan berteman dengan beberapa orang yang pintar, menurutnya, orang bodoh hanya akan menjadi beban.
"Maaf, kebiasaan. Heheheh, Sasuke, bagaimana?" Ucap Naruto, kembali menawarkan ajakan pada Sasuke.
"Tidak, lain kali saja." Tolak Sasuke.
"Kau akan pergi?" Ucap Naruto.
"Hn." Ucap singkat Sasuke.
"Sudahlah Naruto, jangan mengganggunya, kita akan pergi bersama." Ucap Shikamaru, Nara Shikamaru, orang yang juga akrab dengan Sasuke. Mereka mulai akrab di awal semester. Pemuda yang kadang terlihat malas-malasan ini memiliki tingkat kejeniusan yang hampir setara dengan Sasuke.
"Aku hanya mengajaknya." Ucap Naruto, memasang wajah cemberutnya.
"Aku duluan." Ucap Sasuke, beranjak pergi, teman-temannya juga mulai pergi berlainan arah dengannya.
"Eh, tunggu, kalian duluan, aku akan menyusul." Ucap Naruto, dia sudah berlari dengan cepat.
"Ah, dasar anak itu, sudah, kita akan menunggunya di sana saja." Ucap Shikamaru.
"Aku sedikit bingung dengan anak itu, apa dia kelewatan bodoh atau hanya pura-pura bodoh." Ucap Neji.
"Yang mana saja, dia memang seperti itu." Ucap Shikamaru. Mereka kembali berjalan.
Naruto berlari secepat mungkin, melewati jalur yang berbeda dengan Sasuke, matanya menangkap seseorang dari kejauhan berjalan keluar dari fakultas keperawatan.
"SAKURA...!" Teriak Naruto, cukup keras, membuat gadis berambut softpink itu terkejut dan menoleh ke arah yang meneriaki namanya.
"Na-Naruto! Bagaimana bisa kau ada di sini?" Ucap Sakura, Pemuda berambut blonde dan bermata sebiru langit itu sudah berdiri di hadapan Sakura, ngos-ngosan berlari cukup jauh, takut jika dia tidak sempat menyapa teman lamanya ini.
"Pertanyaan macam apa itu? kau pikir aku tidak bisa kuliah?" Ucap Naruto, merasa di remehkan.
"Tentu saja, sebuah keajaiban kau bisa berada di sini." Sindir Sakura.
"Hahaha, jangan seperti itu, kau tahu, saat SMA aku sudah belajar keras untuk bisa mendapat nilai terbaik, bahkan sampai repot-repot ikut les ini itu." Ucap Naruto, sedikit malu menceritakan usahanya dulu, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan seperti biasa, Sakura akan hapal dengan cengiran khas teman SMPnya itu. "Sudah lama kita tidak bertemu, kau akhirnya pindah ke Konoha juga." Tambah Naruto. Dulu mereka tinggal di daerah yang sama, setelah lulus SMP, Naruto dan keluarganya pindah ke Kota Konoha.
"Kau pikir di daerahku ada universitas, tidak mungkin, hanya Konoha yang paling terdekat, aku tidak bisa terlalu jauh dari rumah." Ucap Sakura.
"Oh, aku lupa hehehe, iya...mengerti, ibumu sehat?" Ucap Naruto, dia masih mengingat insiden saat ayah Sakura meninggal.
"Uhm, ibu cukup sehat sampai-sampai dia bekerja keras untuk membuatku kuliah, aku jadi merasa tidak enak padanya." Ucap Sakura. sedikit mengkhawatirkan ibunya.
"Kau selalu saja merasa seperti itu, tandanya ibumu sangat menyayangimu, kuliahlah yang baik, dengan begitu kau bisa membalas apa yang sudah ibumu berikan." Ucap Naruto, melipat kedua tangannya dan mengangkat sedikit dagunya, seakan sudah memberi nasehat terbaik.
"Wah, sejak kapan kau menjadi orang sebijak ini, sejak kapan? Sejak kapan?" Ucap Sakura dan memukul-mukul lengan atas Naruto.
"Hey-hey, sudah, kau ini masih saja kasar, seharusnya ada sebuah pelukan hangat saat kita akhirnya bertemu kembali." Ucap Naruto, merentangkan kedua tangannya di hadapan Sakura.
"Apa kau mau mati? Sini kau." Ucap Sakura, kembali tangan itu memukul bahu Naruto dan tertawa. Naruto tidak berubah sama sekali, selera humor sederhana yang membuat Sakura kadang tidak bisa menahan tawa.
Tidak jauh dari reunian Naruto dan Sakura, Sasuke berhenti dan tidak jadi menyapa Sakura, rencana awalnya, dia akan menemui Sakura, mungkin mengajaknya untuk makan siang bersama, tapi Naruto sudah berada di sana, mereka terlihat sangat akrab, Sakura akan tertawa sesekali dan tangannya itu akan selalu memukul Naruto. Cemburu atau bukan? Sasuke sama sekali tidak bisa menafsirkan perasaannya saat ini, Sakura bukan siapa-siapa untuknya, lagi pula pertemuan awal mereka cukup buruk dengan kesalahpahaman, Sakura selalu ramah padanya, mungkin sikapnya memang seperti itu, Sakura akan terlihat ramah jika sudah mengenal seseorang.
"Kau di fakultas mana?" Tanya Sakura.
"Itu fakultasku." Ucap Naruto, menunjuk gedung fakultas kedokteran dengan bangganya.
"Heee, serius! Ba-bagaimana bisa? Kau bercanda kan? Hahaha itu tidak mungkin." Ucap Sakura, dia sungguh tidak percaya dengan perubahan Naruto.
"Ya ampun, kau ini, apa perlu aku perlihatkan kartu pelajarku dan kau baru percaya?" Ucap Naruto, buru-buru mengambil dompet di saku belakangnya dan mengeluarkan kartu pelajarnya. Sakura melihat kartu pelajar Naruto dengan jurusan kedokteran.
Serius! Ini sungguhan? Bagaimana bisa anak pemalas dan sebodoh ini bisa jadi seorang calon dokter? Aku tidak bisa membayangkan jika dia merawat pasien, mungkin mereka bukan sembuh, tapi malah tambah sakit. Ini bencana. Batin Sakura.
"Hey, kau masih tidak percaya?" Ucap Naruto.
"Aku rasa kau tidak cocok untuk menjadi seorang dokter, apa otakmu tergeser hingga kau berani-berani masuk ke sana?" Ucap Sakura, dan menepuk-nepuk jidat Naruto, merasa jika otak temannya itu benar-benar tergeser.
"Apa yang kau lakukan? Aku sedang tidak bercanda untuk masuk ke sana." Ucap Naruto, menepis pelan tangan Sakura, jidatnya bisa merah nantinya.
"Hehehe, maaf, kau sungguh berubah banyak yaa." Ucap Sakura, dia harus mengakui jika Naruto sungguh-sungguh dengan jurusannya.
"Nah, seperti itu, manusia kan juga akan berubah jika berusaha, bagaimana?" Ucap Naruto. Menaik-naikkan kedua alisnya.
"Ya-ya, aku percaya padamu. Jadi? Kau harus mentraktirku, pokoknya traktir." Ucap Sakura, dia terlihat bersemangat.
"Apa ini semacam perayaan reunian?" Ucap Naruto.
"Anggap saja, ayolah, kau harus mentraktirku, kau ini terlalu hebat sampai melangkahiku cukup jauh, kau membuatku tersanjung." Ucap Sakura, menyikut-nyuikut lengan Naruto. Dulunya Naruto sangat bodoh sampai-sampai membuat Sakura cukup kesal, Naruto tidak ingin belajar dan selalu kabur saat jam pelajaran, merasa sangat sial memiliki teman sebangku seperti itu, jika Naruto tidak ada Sakura yang mendapat teguran, padahal mereka hanya teman sebangku dan Sakura merasa tidak punya urusan apa-apa jika Naruto tiba-tiba menghilang dari bangkunya.
"Tidak juga, aku pikir kau masih hebat seperti dulu." Puji Naruto, Sakura selalu saja belajar keras, Naruto tahu akan hal itu, semenjak ayahnya meninggal, Sakura pernah berucap pada Naruto, jika dia akan menjadi orang yang sukses dan akan membuat ibunya bahagia, bahagia sebanyak mungkin hingga kesedihan atas kehilangan itu larut di dalamnya. "Baiklah, ayo cepat, aku juga sudah lapar, eh tunggu dulu, aku akan mengirim pesan pada teman-temanku." Ucap Naruto, bergegas mengambil ponsel di saku jaketnya dan mengirim pesan untuk Shikamaru jika dia tidak jadi untuk makan bersama mereka.
"He? Jadi kau meninggalkan teman-temanmu?" Ucap Sakura, merasa sedikit tidak enak.
"Tenanglah, kami akan selalu bertemu, tapi denganmu, itu tidak mungkin kan, kita berbeda jurusan dan pasti jadwal kuliah juga berbeda, jadi untuk kali ini saja, mereka tidak akan apa-apa tanpaku kok. Hehehe." Ucap Naruto, kembali cengiran khas itu di perlihatkannya.
"Ya sudah, aku terserah saja." Ucap Sakura, semangatnya sedikit memudar. Seakan Sakura menarik paksa Naruto dari teman-temannya.
"Ah, mukamu jadi jelek, ayo cepat, aku traktir yang enak-enak." Ucap Naruto, menarik lengan Sakura untuk cepat berjalan, dia tidak ingin melihat wajah cemberut Sakura, selalu memikirkan orang lain dan kadang bersikap tidak enakan.
Keduanya mulai berjalan, Sasuke masih di sana, mata onyx itu terus menatap ke arah mereka, sedikit samar-samar mereka bercerita sambil berjalan, hanya pembicaraan biasa, tapi kenapa dia tidak senang jika Sakura jauh lebih ceria bersama orang lain? Menutup matanya sejenak, menghela napas, kembali mata kelam itu terlihat, tatapan datar yang sama sekali tidak bisa terbaca oleh siapapun, Sasuke memilih pergi ke tempat lain. Mungkin lain waktu dia akan mengajak Sakura.
"Hey, kau semakin tinggi saja." Ucap Sakura, dulunya dia jauh lebih tinggi dari Naruto.
"Tentu, aku kan seorang pria, wajar akan cepat tinggi, dan kau, semakin pendek saja." Ucap Naruto, tidak ada ucapan dari Sakura, gadis itu sengaja mendorong Naruto, sedikit tidak terima dengan ucapan temannya itu, tawa lepas dari Naruto, dia sangat mudah membuat Sakura tersinggung.
.
.
:: Naruto.
Maaf, aku ada keperluan mendadak, jadi makanlah tanpaku.
"Dia tidak jadi datang." Ucap Shikamaru, menyimpan ponselnya setelah membaca pesan Naruto.
"Oh. Eh? Sasuke?" Ucap Neji, tatapannya mengekor pada seseorang yang berjalan ke arah mereka.
"Aku pikir kau akan pergi?" Ucap Shikamaru.
"Tidak jadi." Ucap Sasuke. Menarik kursi di sebelah Neji dan duduk, memilih untuk menemui teman-temannya.
"Kalian ini sungguh lucu ya, yang satunya akan pergi malah datang dan yang satunya akan datang malah pergi, ada apa ini?" Ucap Shikamaru.
"Apa?" Ucap Sasuke, pura-pura tidak tahu.
"Naruto tidak jadi makan bersama kami, dia hanya mengirim pesan." Ucap Neji.
"Hn."
"Ya sudah, kita harus mengisi tenaga dulu, aku sudah sangat lapar." Ucap Shikamaru.
Sasuke terdiam, pikirannya masih melayang pada kedua orang tadi, si rambut softpink dan si rambut blonde.
.
.
.
.
.
.
Awal pagi yang cukup bersahabat, Sakura sudah berada di cafe, bekerja sebagai pelayan di salah cafe yang dekat dengan kampusnya, membawakan pesanan beberapa pelanggan, melirik jam tangannya, sudah hampir jam 12, sebentar lagi jam kerjanya akan berakhir.
"Apa tidak ada ujian hari ini?" Ucap Fuka, wanita dengan tahi lalat di dagu sebelah kiri ini adalah manajer Sakura, dia wanita yang cukup baik dan sangat ramah.
"Tenang saja, belum ada kok." Ucap Sakura, menaruh beberapa pesanan di atas nampan.
"Oh, aku pikir sudah masuk ujian, kau bisa pulang kerja lebih awal." Ucap Fuka.
"Terima kasih, tapi aku tidak ingin ada kebijakan seperti itu, tidak apa-apa, aku masih atasi." Ucap Sakura.
"Baik-baik, kau itu pegawai terbaikku." Ucap Fuka. Cukup beruntung menerima Sakura sebagai pegawainya.
Menit-menit berlalu dan pekerjaannya berakhir, pamit pada Fuka dan seorang pegawai yang akan bekerja setelah Sakura, gadis itu mulai berjalan menuju kampusnya, sedikit cepat, dia tidak boleh terlambat.
"Sakura...!" Teriak seseorang. Sakura menoleh dan mendapati Ino berlari ke arahnya.
"Aku pikir kau sudah berada di kelas." Ucap Sakura.
"Tidak, aku juga baru tiba, masih ada 20 menit lagi saat dosen masuk. semester ini sepertinya kita lebih banyak satu kelas yaa." Ucap Ino.
"Ah, aku juga tidak menyangka kita akan sekelas juga di mata kuliah ilmu biomedik II. Sayangnya... dosennya cukup killler, para senior sering mengeluh dengan cara mengajarnya." Ucap Sakura.
"Kita harus lebih banyak bersabar saat berada di kelasnya." Ucap Ino, merangkul sahabatnya itu dan menepuk bahunya perlahan.
'Ya Kau benar, setidaknya kita bisa bersama menyelesaikan semester ini." Ucap Sakura, memeringkan kepalanya ke arah Ino, dia juga harus mempersiapkan mental saat menghadapi dosen seperti itu.
.
.
Jam mata kuliah sore berakhir, Ino pamit untuk pulang lebih dulu, Sakura berjalan keluar kelas, menghela napas berkali-kali, untuk semester ini dia sedikit meleset untuk menetapkan mata kuliah, jadwalnya sudah bagus, hanya saja dosen yang di dapatnya, sungguh membuatnya harus lebih keras berusaha.
"Ha-Haruno." Ucap seseorang, nada suara terdengar lembut dan sedikit malu-malu, Sakura berbalik dan mendapati seorang gadis, rambut indigonya dan wajahnya yang cukup cantik.
"Iya?" Ucap Sakura, berjalan ke arah gadis itu, Sakura menatapnya cukup lama, sejujurnya dia sedikit lupa nama gadis ini.
Dia jarang sekelas denganku, siapa yaa? Uhm,, Hyu, Hyuuga, Hyuuga siapa yaa, aku kurang mengenalnya.
"Namaku Hyuga Hinata, maaf tiba-tiba memanggilmu, kita jarang sekelas jadi kau pasti tidak mengenalku." Ucap Hinata, wajahnya sering terlihat agak malu, dia hanya takut untuk menyapa Sakura, menurut Hinata, Sakura gadis yang sulit untuk di ajak berteman. Namun itu hanya pemikiran luarnya saja.
"Oh, iya, ada apa?" Ucap Sakura.
"Uhm, a-anoo, ada yang ingin aku bicarakan, tapi uhm, aku tidak bermaksud untuk membuatmu berpikir buruk tentang sikapnya, hanya saja aku tidak sengaja melihatnya." Ucap Hinata, Sakura terdiam, dia akan menunggu gadis ini menyelesaikan ucapannya. "Waktu semester lalu, aku sempat melihatmu mengeluh, formulir beasiswamu menghilang, uhm, aku kembali mengingat saat akan ke ruang tata usaha, Yamanaka keluar dari ruang tata usaha membawa kertas formulir, aku pikir itu miliknya, tapi tanpa segaja aku bisa melihat namamu di sana, Ino buru-buru pergi dan aku berjalan masuk ke ruang tata usaha. Bu-bukannya aku ingin menyebar gosip atau apapun, tapi aku sungguh melihatnya, dan hari ini aku melihatmu akrab dengan Yamanaka, apa kau tidak mengetahuinya? Apa kau tidak merasa aneh?" Ucap Hinata, dia sungguh takut untuk mengucapkan hal ini. Sakura masih terdiam, pikirannya sedikit bingung, jika Ino pelakunya, untuk apa dia melakukan ini padanya. Mereka baru akrab di semester ini dan sepertinya Ino tulus untuk berteman dengannya. "M-maaf, aku tidak bermaksud untuk membuat hubungan kalian buruk, aku tidak punya niat seperti itu, aku hanya ingin mengucapkan apa yang sudah aku lihat." Ucap Hinata, dia semakin takut, Sakura tidak berbicara apapun dan hanya terdiam.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Tenanglah, aku tidak akan bertindak sembarangan." Ucap Sakura dan tersenyum, membuat seolah-olah semua baik saja.
"Tolong jangan katakan pada Yamanaka, aku jadi tidak enak." Ucap Hinata, menundukkan wajahnya.
"Rahasiamu akan aman, sudah yaa, aku harus segera pulang, masih ada tugas." Ucap Sakura.
"Uhm, dah." Ucap Hinata. Sakura mengangguk pelan dan pergi.
Hinata menghela napas, serasa dia akan persentasi di depan dosen killer, Sakura ternyata cukup baik dan ramah, kesan awal pembicaraan mereka, Hinata merasa sedikit tenang, dia sudah menceritakannya.
.
.
Sehari berlalu, Sakura masih bingung akan ucapan Hinata, Ino yang mengambil kertas formulirnya dan membuat dirinya tidak mendapat beasiswa, motifnya pun Sakura tidak bisa tebak, Ino cukup baik padanya. bahkan mereka sudah menjadi sahabat.
"Hey, kau melamun? Apa tugasmu sudah selesai?" Ucap Ino, dia baru saja masuk ke kelas dan menemukan Sakura melamun di mejanya.
"Tidak. Sudah, aku sudah menyelesaikannya." Ucap Sakura.
Ino sibuk mengeluarkan buku paketnya dari dalam tas, Sakura menatap ke arah Ino, apa benar Ino yang melakukannya, itu sungguh jahat bukan.
"Oh iya, kau tidak ambil beasiswa untuk jalur berprestasi?"
Sakura kembali mengingat ucapan Ino saat awal-awal pertemanan mereka, pertanyaan yang akan sangat jarang di tanya oleh seseorang.
Untuk apa Ino menanyakan hal itu, haa, aku tidak bisa berpikir, Ino? Formulir beasiswa? Ucapan Hinata? tapi anak itu sungguh tidak berbohong, sorot matanya menandakan kebenaran, kenapa harus Ino? Bagaimana aku memastikannya? Itu hanya ucapan aku harus punya bukti. Batik Sakura.
Sejam berlalu, kelas selesai, mengatakan jika dia ada urusan di perpustakaan pada Ino, gadis itu pergi lebih dulu, berjalan sedikit cepat menuju ruang tata usaha. Dia harus mendapat bukti, menunduh orang tanpa bukti itu tidak baik, bisa saja Sakura yang akan menjadi sasaran amarah Ino jika dia salah menuduh.
"Permisi, pak, boleh aku tahu siapa yang mendapat beasiswa tahun ini?" Ucap Sakura.
"Hm? Kenapa kau ingin mengetahuinya?" Tanya pegawai tata usaha.
"Ha-hanya ingin tahu saja pak, hehehe." Ucap Sakura.
"Jika sudah tahu jangan minta traktir pada mereka yaa." Canda pegawai itu.
"Hahaha, tidak pak, aku tidak akan melakukan itu." Ucap Sakura, pegawai tata usaha ini malah berpikir lain.
"Tunggu." Pegawai itu mulai mengecek data penerimaan mahasiswa.
"Atas nama Ino Yamanaka, dia berada di peringkat kedua, wah sayang sekali, jika mengumpulkan formulirmu, kau yang akan mendapatkan beasiswanya."
Cukup terkejut setelah pegawai tata usaha itu menyebutkan siapa orang yang mendapatkan beasiswa, saksi dan bukti, semua sudah ada, Apalagi yang Sakura perlukan?
"Terima kasih pak, tahun depan akan aku coba lagi." Ucap Sakura dan pamit sopan.
"Ya, kau harus mendaftar yaa."
"Iya."
Melangkahkan kaki yang terasa sedikit berat, Sakura hanya ingin tahu alasan Ino mengambil formulirnya, memilih duduk termenung di taman, hari sudah sore. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi akan terlihat berolahraga di taman kampus.
Memangnya aku salah apa? Kenapa Ino begitu jahat? Jika saja dia tidak mengambil formulir milikku, aku yang akan mendapatkan beasiswa, lalu apa untungnya dia mendapat beasiswa? Aku pikir dia anak dengan kehidupan keluarga yang sangat cukup, bahkan aku sangat jauh darinya, haa..~ kepalaku pusing.
Tersentak kaget dengan seseorang yang sudah menaruh ice coffee dalam kemasan kaleng yang dingin di jidatnya. Memilih duduk di salah satu kursi di taman dan seperti orang tengah mengeluh akan sesuatu.
"Dinginkan kepalamu, apa jurusan keperawatan begitu sulit sampai mukamu menjadi jelek seperti ini, bahkan aku meneriakimu kau tidak mendengarnya." Tegur Naruto.
"Singkirkan minuman itu." Ucap Sakura, dia sedang pusing saat ini dan Naruto datang mengganggunya.
"Tidak, sampai kepalamu benar-benar dingin." Ucap Naruto.
"Dasar." Ucap Sakura, menjauhkan kaleng itu dengan tangannya.
"Aku rasa otakmu itu akan sangat mudah di gunakan di jurusanmu" Ucap Naruto, duduk di sebelah Sakura.
"Ini bukan tentang jurusanku." Ucap Sakura.
"Apa ada masalah?" Tanya Naruto
Masalah? Ya aku rasa ini masalah.
"Ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantumu." Ucap Naruto, lagi.
Membantu? Uhm, yang benar saja, lagi pula, apa aku mau menceritakan masalah ini? dia berada di fakultas lain, di ceritakan pun tidak akan berpengaruh pada Naruto, lagi pula, dia juga tidak mengenal Ino, cerita atau tidak? aku rasa tidak perlu, untuk apa Naruto mengetahui hal yang bukan urusannya? Ini adalah masalahku sendiri.
"Ya sudah jika kau tidak ingin menceritakannya." Ucap Naruto. Sakura hanya terdiam dan tidak merespon ucapannya dari tadi.
"Mungkin sebaiknya kau tidak perlu tahu." Ucap Sakura.
"Kau jadi berubah, padahal dulu kau sering menceritakan setiap masalahmu, sekarang, kau jauh lebih tertutup, apa aku tidak seperti teman untukmu lagi?" Ucap Naruto, sengaja berwajah cemberut di depan Sakura.
"Jangan berbicara konyol, aku tidak menganggapmu seperti itu, masalah ini masih bisa aku atasi, jadi, tenang saja." Ucap Sakura.
"Baguslah, jika terjadi sesuatu yang buruk, kau bisa mengandalkanku." Ucap Naruto.
"Iya," Ucap Sakura dan terseyum.
"Apa di fakultasmu ada mahasiswa (laki-laki)?" Ucap Naruto.
"Tentu saja, kau pikir di keperawatan isinya hanya mahasiswi? Mahasiswa juga ada meskipun hanya beberapa." Ucap Sakura.
"Ya, mereka pikir untuk apa seorang pria menjadi perawat, itu akan memalukkan bukan?" Ucap Naruto.
"Tidak, tidak seperti itu, sebenarnya, perawat prialah yang paling banyak di andalkan, hanya mereka yang bisa mengangkat pasien saat keadaan darurat, seorang perawat wanita kadang tidak bisa melakukan hal itu, tapi dalam kenyataan sebagian pria merasa rendah dengan status sebagai perawat, dasar, mereka tidak bisa berpikir jauh atau melihat seberapa pentingnya menjadi seorang perawat dalam masyarakat." Ucap Sakura,
"Wah, kau jauh lebih super Sakura, bagiamana kalau kita tukeran fakultas." Saran Naruto
Plaak...
"Jangan membuat masalah denganku." Ucap Sakura, tangannya sudah menepuk keras jidat Naruto.
Naruto menggosok-gosok jidatnya, cukup lumayan sakit Sakura menepuknya.
"Aku hanya bercanda." Ucap Naruto, tangannya masih berada di jidatnya, menatap ke depan dan tanpa sengaja mata pemuda sebiru langit ini melihat Sasuke yang tengah berjalan pulang.
"Oiii, Te- eh, Sasuke...! Sasuke...!" Teriak Naruto, mencoba memanggil Sasuke. Mahasiswa kedokteran itu berhenti dan menatap ke arah Naruto, temannya itu terus menggerakkan tangannya, memanggil Sasuke ke arahnya. Pemuda itu berjalan dengan sedikit malas ke arah Naruto, menatap sejenak ke arah gadis di sebelah Naruto, lagi-lagi mereka terlihat bersama.
"Apa?" Ucap Sasuke, dia sedikit malas dalam situasi ini.
"Apa kau sudah mau pulang?" Tanya Naruto.
"Hn." Ucap singkat Sasuke.
"Oh iya, aku akan memperkenalkan seseorang, dulunya kami satu sekolah, bahkan satu kelas, hehehe." Ucap Naruto.
Sasuke terdiam, begitu juga Sakura. suasana jadi canggung. Sakura tidak mengerti apa yang sedang di pikirkan Sasuke, seharusnya dia mengucapkan 'Ya, kami sudah saling mengenal' atau sekedar saling menyapa. Naruto menatap keduanya, dia pun ikut bingung.
"Haruno Sakura, salam kenal." Ucap Sakura pada akhirnya, hanya balasan mengangguk pelan dari Sasuke.
"Aku duluan." Ucap Sasuke pada Naruto, tatapan datar seperti biasanya, dia sudah pergi, menjauh dari Naruto dan Sakura.
Ada apa dengannya? seolah-olah kami tidak saling mengenal, uhk! Dasar aneh, bukannya sikapnya mulai baik padaku? sekarang? Kenapa dia terasa seperti orang asing, tatapan yang seperti biasa, dia memang sengaja atau benar-benar melupakanku? Saat setelah liburan semester kami saling berbicara. Apa ada Uchiha Sasuke yang lain lagi? Atau saat itu aku hanya bertemu seseorang yang mirip dengannya, ah! Pikiranku jadi tambah pusing. Sikap Ino dan sekarang sikap Sasuke.
.
.
TBC
.
.
update, fic ini tidak terlalu banyak so, updatenya mungkin agak sedikit cepat, kalau pun author senggang untuk kerjakan. heheheh.
waah, terima kasih, reader cukup suka fic ini. *senang* rameee..~
Catatan : Fuka itu bukan chara ori yaa. kalian bisa cari sendiri di om google, dia termasuk chara di naruto.
.
.
auhtor balas review yoo, sejujurnya kalau tidak sibuk, author bakalan balas semua review. ^_^
DeShadyLady : fast update.
Hyuugadevit-Cherry : sudah update yaa. :) eh, ternyata di baca juga, hehehehe
mantika mochi : oh okey, makasih, :)
Yukihiro Yumi : yups, kita flashback dulu,
Guest : hehe, semoga suka XD
jey : terima kasih, sudah update yaa
Siswa : update.
Khoerun904 : salah, bukan sasu sih pelakunya. fans sasu? author mungkin tidak akan memasukkan fans-fans Sasu dulu, sedikit bosan kalau fans-fans gila sasu itu muncul. :D
kwon jinei : makasih, update
alif yusanto : update.
sasulovesaku : makasih, Sarada? nanti yaa, ceritain ortunya dulu.
Amamiya Rizumu : haa..~ ada yang sadar kesan baju sasuke yang kusut, hahahaha padahal author sengaja loh, ada yang perhatiin ternyata, penasarannya sudah di jawab di chapter ini. terima kasih atas tegurannya, hehehe, nggak kok, author kerjain semua fic author. *kabur sambil malu*
Guest : kilat...~
kakikuda : sabar yaa, jangan cari dulu anak mereka, hehehe
sitieneng4 : yup, fic baru lagi, (tambah-tambah pekerjaan lagi) hahahaha, semoga tetap suka fic yang ini. The Heir's karena author sudah lupa, sampai author share di google, oh yang itu, ya dulu sempat nonton, dan termasuk film korea yang menurut authtor sangat bagus. wooh, baru sadar, iya mirip saku yaa, author emang suka karakter gadis yang seperti itu, kuat dan mandiri.
.
.
See you next chapter.
