Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

-Tolong dong, baca warningnya-

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

Catatan : Author bukan seorang mahasiswa keperawatan atau pun kedokteran, jadi tolong tegur jika ada kesalahan dalam penulisan mata kuliah dari salah satu fakultas yang author cantumkan, heheheh.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

.

~ Tomato, cherry dan salad~

[ Chapter 3 ]

.

.

.

Ada apa dengannya? seolah-olah kami tidak saling mengenal, uhk! Dasar aneh, bukannya sikapnya mulai baik padaku? sekarang? Kenapa dia terasa seperti orang asing, tatapan yang seperti biasa, dia memang sengaja atau benar-benar melupakanku? Saat setelah liburan semester kami saling berbicara. Apa ada Uchiha Sasuke yang lain lagi? Atau saat itu aku hanya bertemu seseorang yang mirip dengannya, ah! Pikiranku jadi tambah pusing. Sikap Ino dan sekarang sikap Sasuke.

"Maafkan yaa, Sasuke memang kadang suka seperti itu, dia sungguh terlihat cuek dengan siapa pun, tapi maksudnya tidak buruk kok, dia orang yang baik." Ucap Naruto.

"Iya, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, aku rasa dia jauh lebih cocok menjadi alat peraga tubuh manusia di Lab." Ucap Sakura.

"Eh? Hahahahaha, kenapa kita jadi sepemikiran begini yaa, benar-benar wajahnya itu sungguh tanpa ekspresi, dia bisa menjadi alat peraga di Lab, hahahha" Ucap Naruto, dia jauh lebih heboh setelah mendengar ucapan Sakura.

"Bagaimana kau bisa berteman dengannya?" Ucap Sakura, sedikit penasaran, Naruto terlihat akrab dengan Sasuke, bahkan memanggilnya begitu saja.

"Sasuke? uhm... sebenarnya kami sudah bertemu sejak SMA, tapi hanya satu kelas saat kelas 3." Ucap Naruto.

"Hmm.."

"Kau tahu, dia itu sudah seperti itu saat SMA, mungkin saat SMP juga, mungkin, tapi aku tidak tahu, aku sempat melihatnya bersama seorang murid cewek yang ingin menyatakan perasaannya, tapi ucapannya sungguh menyebalkan." Ucap Naruto.

"Memangnya siapa dirimu, pergi dari sini, aku tidak tertarik padamu."

Naruto kembali mengingat ucapan dan tatapan Sasuke saat itu, dia terlihat sangat membenci siapa pun yang mengutarakan perasaannya, gadis itu pergi sambil menangis dan Sasuke bahkan tidak merasa bersalah.

Sakura terdiam sejenak, sikap Sasuke memang terkesan seperti itu, saat pertemuan pertama mereka juga, hanya ada aura dingin dan menusuk yang di pancarkan pemuda itu, mungkin hatinya terbuat dari batu, makanya dia tidak bisa menerima perasaan siapa pun.

"Baiklah, aku sudah harus pulang, dah." Ucap Sakura, beranjak dari kursi dan berjalan pulang.

"Mau ku antar?" Tawar Naruto. Langkah Sakura terhenti.

"Tidak perlu, kau pulang lah, kerjakan tugasmu." Ucap Sakura.

"Da-dari mana kau tahu kalau aku punya tugas?" Ucap Naruto.

"Setiap mahasiswa pasti punya tugas, sudah yaa." Ucap Sakura. Kembali melangkahkan kakinya.

Setelah Sakura pergi, Naruto juga akan pulang, dia tidak bisa bermalas-malasan, niatnya untuk menjadi seorang dokter sudah di tetapkannya.

Bersyukur dengan rumah kost yang tidak jauh dari kampus, Sakura berjalan santai sambil memikirkan apa yang akan di kerjakannya saat sudah tiba di kost. Jauh di belakang Sakura, seseorang mengikutinya, tidak terkesan seperti orang yang sedang mengikuti, pemuda itu hanya berjalan santai dan menatap gadis di hadapannya. Kenapa hari ini dia merasa cukup kesal, lagi-lagi melihat mereka bersama, hal itu bukan urusannya dan bukan masalah untuknya tapi terasa cukup mengganggu untuk pemuda ini.

Gadis itu masih berjalan santai, kadang menggumamkan sebuah lagu, tangannya bergerak-gerak, mengetuk pada celana jinsnya, Sasuke masih mengikutinya, tiba di sebuah pembelokkan, Sakura berbelok, Sasuke berhenti, mata onyx itu masih tidak lepas pada seseorang di hadapannya. Aneh? Dia merasa sangat aneh sampai-sampai mengikuti gadis itu, sebuah senyum di wajahnya dan berbalik, berjalan pulang, tingkahnya cukup bodoh, untuk apa dia mengikuti gadis itu?

Apa yang sudah ku lakukan?

.

.

.

.

.

.

Sakura terlihat menghela napas lega, dia menyelesaikan tugasnya tepat waktu, sebentar lagi tugas akan di kumpul dan hari ini dia harus diskusi dengan teman satu kelompoknya, gara-gara kepikiran dengan masalah beasiswa, dia lupa jika teman diskusinya adalah Ino.

"Ada apa?" Tanya Ino, saat ini mereka sedang di beri tugas mengejarkan beberapa soal dari dosen yang sudah membagi kelompok, Sakura terdiam cukup lama dan berhenti menulis.

"Tidak ada-apa." Ucap Sakura. Kembali menulis dan sesekali melirik Ino, dia ingin mempertanyakan masalah beasiswa pada Ino, tapi perasaan menjadi sedikit kesal, emosinya mungkin akan meledak-ledak jika berbicara langsung pada Ino. Beasiswa itu cukup penting untuknya.

Sakura menulis dengan tenang, sesekali Ino berbicara dan tidak di tanggapi Sakura, Ino merasa aneh sendiri dengan sikap Sakura, tidak seperti biasanya, Sakura lebih banyak diam dan jarang untuk tersenyum di hadapannya.

Kelas berakhir dengan mengumpulkan tugas yang di beri dosen itu, Sakura bergegas keluar tanpa menunggu Ino, gadis berambut gold pale ini segera berjalan dan mengikuti Sakura.

"Mau makan sekarang?" Tanya Ino.

"Maaf, Ino, saat ini aku sedang sibuk lain kali saja." Ucap Sakura, berjalan cukup cepat, Ino berhenti dan hanya menatap Sakura pergi.

Ada apa dengan Sakura? dia, uhm... seperti menjauh dariku. Batin Ino.

Berjalan berlainan arah dengan Sakura, dia mungkin akan pergi sendirian saja.

.

.

Mengambil beberapa buku di perpustakaan, Sakura akan mengerjakan tugas untuk besok, dia tidak punya banyak buku dan harus menyelesaikan tugasnya sebelum jam mata kuliah berikutnya sebentar lagi. Suasana perpustakaan yang cukup ramai tapi tenang, di sini orang-orang hanya terfokus pada buku dan menulis, tidak ada yang berdiskusi, jika ingin berdiskusi mereka harus keluar.

Pemuda berambut raven dan bermata onyx ini tidak sengaja menemukan gadis itu di perpustakaan, dia juga tengah menyalin sesuatu dari buku di perpustakaan, tangannya berhenti menulis, menopang dan menatap ke depan, mereka cukup jauh, Sakura yang kadang akan fokus tidak pernah memperhatikan sekitar, bahkan seseorang yang menatapnya cukup lama.

Kembali sebuah senyum di wajahnya, Sasuke suka melihat ekspresi bingung Sakura, cukup lucu untuknya, dia menikmati hal ini, menatap gadis itu. Kembali menuliskan salinannya dan akan sesekali melirik Sakura.

Waah, dia sangat tampan,

Fakultas apa?

Jangan-jangan fakultas kedokteran,

Benar-benar, rata-rata di fakultas kedokteran mahasiswanya tampan-tampan.

Sasuke bisa mendengar bisik-bisik di sekitarnya, abaikan, Sasuke tidak memperdulikan semua ucapan-ucapan itu, menyelesaikan salinan dengan segera, melirik ke depan dan Sakura tengah memasukkan buku, sepertinya dia sudah selesai, pemuda ini menghentikan salinannya, mungkin lain kali akan di lanjutnya.

Sakura berjalan keluar, Sasuke mengikutinya, ingin menyapa gadis ini tapi langkahnya terhenti, merasa jika dia menyapa, Sakura akan marah padanya, kemarin lalu Sasuke berpura-pura tidak kenal padanya, bisa di lihat jelas di raut wajah Sakura jika dia merasa bingung dengan perubahan sikap Sasuke.

"Oi, kau dari mana saja, aku mencarimu." Ucap Naruto, merangkul temannya itu dan cukup mengagetkan Sasuke.

"Hanya di perpustakaan aku sedang menyalin pernyataan dari tugasku." Ucap Sasuke.

"Oh, Sebaiknya kita ke yang lain, mereka juga mencarimu." Ucap Naruto.

"Hn."

Beranjak dari depan perpustakaan, Naruto sempat melihat Sakura tadi, tapi mungkin hanya perasaannya saja. ada banyak mahasiswi di sini.

.

.

Berjalan dengan perasaan yang tidak tenang, hari ini Sakura mengabaikannya, bukannya cuma sekali, tapi setiap Ino ingin berbicara, Sakura buru-buru mengubah topik dan seakan-akan dia sangat sibuk, pergi dan meninggalkan Ino begitu saja.

.

.

.

.

.

Hari minggu.

Tringg..~

Sedikit malas, dia ingin tidur lagi, tapi ponselnya terus berdering.

:: Ino

Kau tidak ada kegiatan hari ini?

Sakura hanya membacanya dan menyimpan ponselnya di bawah bantal, kembali menutup mata, dia ingin tidur sejam lagi, tugas semalam dia kerjanya hingga jam 3 pagi, dia akan mendapat bayaran begadangnya semalam dengan tidur nyenyak hari ini.

Tringg..~

Kembali terusik dengan nada dering ponselnya.

:: Naruto.

Sakura, apa kau ada waktu hari ini? aku ingin mengajakmu jalan-jalan, bagaimana? Sudah lama kita tidak pergi bersama.

Aah...~ mau apa dia, aku sedang tidak ingin kemana pun, aku benar-benar malas.

:: Sakura.

Maaf Naruto, aku sedang banyak tugas, lain kali saja.

Naruto membaca pesan balasan Sakura, membuang ponselnya di kasur dan berbaring, Sakura tidak bisa pergi hari ini.

Dreeet...dreeet...

Kembali gadis ini di ganggu ponselnya, dia benar-benar kesal, akan mematikan ponselnya dan tidurnya tidak akan terganggu.

Ibu calling...

Niatnya tidak jadi, ibunya yang sedang menghubunginya.

"Ada apa bu? Oh, uhm.. baiklah. Aku akan kesana." Ucap Sakura.

Meregangkan otot-otot lengannya, ibunya memanggilnya untuk pulang.

.

.

Cukup membosankan di apartmentnya, Sasuke memilih berjalan keluar, mungkin saja bisa menemukan sesuatu yang menarik, berjalan di sekitar jalur dekat kampus, hari minggu cukup ramai, kampus Konoha, berdekatan dengan pusat berbelanja. Berjalan santai dan dia menyadari tatapan beberapa gadis, mereka akan berbisik dan sekali lagi Sasuke tidak akan peduli, matanya menangkap seseorang yang berjalan tidak jauh, kenapa dia harus bertemu dengan gadis itu lagi, Sakura terlihat terburu-buru berjalan, menuju ke arah stasiun.

Apa yang di pikirkan Sasuke, dia mengikuti gadis itu, hingga stasiun, mengambil tiket perjalanan yang sama, dia tidak ada rencana hari ini dan malah iseng mengikuti Sakura.

Perjalanan memakan waktu dua jam, Sasuke duduk cukup jauh dan mengamati Sakura, gadis itu terlihat mengantuk, apa dia begadang? Pemuda ini selalu saja menikmati wajah konyol Sakura, senyum tipis di wajahnya, dia tidak tahu kereta ini akan kemana, tapi dia merasa cukup tertarik untuk mengikuti Sakura.

Kereta berhenti, ini stasiun terakhir, berada di perbatasan antara kota Suna dan Konoha, Sakura tersentak kaget, dia ketiduran dan buru-buru turun, Sasuke bergegas turun juga.

Sakura sudah berjalan menuju jalanan beraspal, di sana tidak begitu ramai, pinggir kota yang tertata rapi meskipun cukup jauh dari ibu kota. Sasuke melihat sekitar, di sini adalah tempat di mana Sakura tumbuh, berjalan-jalan di daerah sekitar, pemuda ini malah menikmati perjalanannya, Sakura sudah berjalan masuk ke dalam sebuah rumah sederhana, mungkin saja itu rumahnya, Sasuke berhenti, mungkin sebaiknya dia pulang, dia tidak ingin membuat gadis itu terkejut melihatnya berada di sini.

.

.

"Apa kau makan dengan cukup?" Tanya Mebuki, di sangat khawatir sekaligus merindukan anak tunggalnya ini.

"Iya bu." Ucap Sakura, saat datang, ibunya langsung memberinya bubur ayam.

"Bagaimana kuliahnya?" Ucap Mebuki. Duduk di hadapan anaknya yang makan dengan santai, sejujurnya Sakura sedikit mengantuk, tapi dia cukup lapar.

"Semuanya baik-baik saja." Ucap Sakura.

"Pekerjaanmu?" Tanya Mebuki.

"Sama, tidak ada yang membuatku sulit." Ucap Sakura.

"Jika pekerjaanmu terlalu membebani kau berhenti saja dan fokus kuliah." Ucap Mebuki, dia tidak ingin Sakura terlalu fokus pada pekerjaan dan mengabaikan kuliahnya.

"Tidak apa-apa bu, aku masih bisa mengatasi semuanya." Ucap Sakura dan tersenyum.

"Menginaplah." Ucap Mebuki, di rumah dia hanya sendirian.

"Tidak bu, besok aku harus bekerja pagi." Ucap Sakura.

"Baiklah, apa waktu liburmu hanya di pakai untuk kerja? Tidak bisakah kau pulang dulu." Ucap Mebuki.

"Iya bu, akan aku usahakan." Ucap Sakura.

"Apa uangmu masih ada? Jika sudah habis, kabari ibu yaa." Ucap Mebuki.

Sakura berhenti makan dan menatap ibunya, memegang tangan yang mulai terlihat keriput itu, ibu Sakura bekerja cukup keras untuk menjadi seorang pegawai di salah satu kantor yang berada di pinggir kota Konoha.

"Ibu... jika aku benar-benar membutuhkan uang, aku akan menghubungi ibu, tenang saja." Ucap Sakura.

"Akhir-akhir ini kau tidak menghubungi ibu, ibu hanya khawatir jika makanmu tidak cukup atau uang keperluanmu tidak cukup." Ucap Mebuki.

"Aku masih punya tabungan kok, lagi pula tahun depan aku akan kembali mengurus beasiswa. Jadi ibu harus menabung uang ibu sendiri, jika ada keperluan mendadak dan kita bisa gunakan." Ucap Sakura.

"Kau putri ibu yang sungguh mandiri, baiklah, setelah ini istirahatlah, kau pulang sore saja yaa temani ibu sebentar lagi."

"Iya."

Sakura menyelesaikan makannya dan bersantai di ruang tv, tugasnya sudah selesai dan dia akan bebas hari ini.

"Ibu." Panggil Sakura.

"Ya?"

"Aku bertemu Naruto disana, apa ibu masih ingat anak pak Minato?" Ucap Sakura.

"Oh, anak yang cukup nakal itu, ibu masih mengingatnya, kalian sangat akrab saat sekolah." Ucap Mebuki.

"Dia sekarang menjadi calon dokter. Aku sendiri tidak percaya, dia sangat berubah bu." Ucap Sakura.

"Wah, itu baguskan, artinya dia punya kemauan untuk berubah, lain kali kau harus mengajaknya juga." Ucap Mebuki.

"Baik bu."

Beristirahat dan bersantai, Sakura menikmati liburan kuliahnya sejenak, sudah sore hari, Sakura harus pulang, dia tidak ingin terlalu malam dalam perjalanan, Mebuki sudah membungkuskan beberapa makanan dan bua agar Sakura membawanya pulang, beberapa pakaian hangat, sebentar lagi akan memasuki musim dingin.

"Hati-hati di jalan." Ucap Mebuki, mengecup pelan kening anaknya.

"Iya bu, ibu juga harus jaga diri, jika ada perlu apa-apa langsung menghubungiku." Ucap Sakura.

Gadis itu pamit dan bergegas berjalan ke arah stasiun, mengambil tiket pulang, tidak menunggu lama, keretanya sudah tiba, berjalan masuk dan di hari minggu cukup ramai tapi tidak padat, menghabiskan hari minggu bersama ibunya jauh lebih baik.

.

.

.

.

.

Kembali ke kehidupan kampus, lagi-lagi dia akan bertemu dengan Ino, jika mereka tidak bicara sekarang, sampai kapan Sakura akan bersikap seperti ini. Meminta Ino untuk menemuinya, dia ingin mendengar ucapan Ino.

"Aku hanya akan bertanya dan kau bisa menjawabnya." Ucap Sakura, menatap dingin ke arah Ino.

"A-ada apa Sakura?" Ucap Ino, dia terlihat bingung.

"Aku ingin mendengar dari ucapanmu langsung."

"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?" Ucap Ino, berusaha tenang, dia pun tidak bisa membaca ekspresi Sakura.

"Apa kau yang mengambil formulir beasiswaku?" Tanya Sakura.

Tersentak kaget, Ino membulatkan matanya, dia tidak percaya jika akhirnya Sakura mengetahui hal ini.

"Fo-formulir? Aku-"

"-Katakan yang sebenarnya Ino, jika kau berbohong, aku akan jauh lebih marah." Ucap Sakura, tatapannya sangat serius, Ino bahkan tidak berani menatap Sakura.

"Sejujurnya, aku tidak berniat melakukannya, aku pikir kau akan sepertiku, menggunakan beasiswa itu sesuka hatimu, sungguh, aku tidak bermaksud apa-apa, saat itu aku hanya salah sangka." Ucap Ino, menundukkan wajahnya

"Jadi?"

"Iya, aku yang mengambilnya, aku sangat menyesal dan minta maaf padamu." Ucap Ino, dia cukup takut dan matanya sudah berkaca-kaca, dia menyesali perbuatannya.

Sakura terlihat menghela napas, saat ini kesalnya memuncak, mengepalkan tangannya, dia harus jauh lebih sabar dan jangan berteriak, ini area kampus, dia tidak suka menarik perhatian dan terlihat mencolok.

"Baiklah, aku harus pergi." Ucap Sakura, saat ini dia tidak ingin bersama Ino dulu, perasaanya sangat tidak enak, mengetahui hal yang sebenarnya, sahabatnya sendiri yang sudah berbuat jahat padanya.

"Sakura, apa kau memaafkanku? Aku tidak ingin kita bertengkar, aku ingin kita menjadi seperti biasa." Ucap Ino, dia tidak ingin kehilangan sahabatnya.

"Akan ku pikirkan nanti, biarkan aku sendirian." Ucap Sakura. berjalan meninggalkan Ino, dia harus menenangkan pikirannya dulu. Setiap orang pun memiliki sisi jahat dan sisi baik, Ino mungkin awalnya jahat padanya, tapi seperti yang sudah di ucapkan Ino, dia hanya salah paham, untuk saat ini Sakura belum bisa kembali seperti semula seperti apa yang di inginkan Ino, dia butuh waktu.

Berjalan ke arah perpustakaan di sana jauh lebih tenang dan Sakura bisa mengalihkan pikirannya sejenak dengan mengerjakan tugasnya. Pintu perpustakaan bergeser secara otomatis, seseorang berjalan keluar, pikiran Sakura entah kemana, dia melewati orang yang menyapanya, seakan dia tidak melihat orang itu. Sakura sudah masuk ke dalam perpustakaan, Sasuke berhenti melangkah dan terdiam, menatap ke arah gadis itu, Sakura mengabaikannya, ada apa? apa ini semacam balas dendam karena dia sudah bersikap seolah-olah tidak kenal saat bersama Naruto? Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, sikap Sakura cukup cepat untuk berubah, apa yang harus dia lakukan agar gadis itu kembali berbicara padanya? Dia sudah salah melangkah dengan mengabaikan Sakura waktu itu.

Ini sungguh mengganggu.

.

.

Sakura mulai membuka beberapa buku, mencari jawaban tugasnya, dia akan menyelesaikan tugasnya dulu sebelum pulang. Tidak terasa sudah waktu sudah malam, gadis ini harus segera pulang, perpustakaan hanya akan buka sampai jam 7 malam, merapikan buku-bukunya dan menyimpannya dalam tas.

Berjalan keluar perpustakaan, memikirkan tinggal tugas diskusi saja, langkahnya terhenti, seorang pemuda yang sudah berpura-pura tidak mengenalnya tempo hari datang dari arah depannya.

"Apa kau sudah selesai? Tanya Sasuke.

"Sudah." Ucap Sakura, menatap sejeka pemuda ini, apa dia sudah mengingat Sakura lagi. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sakura.

"Hanya kebetulan baru pulang juga." Ucap Sasuke santai.

"Oh."

"Apa kau akan langsung pulang?" Ucap Sasuke.

"Uhm, aku ingin segera beristirahat." Ucapan Sakura.

"Akan aku antar." Sasuke menawarkan diri.

"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Tolak Sakura.

"Saat malam hari cukup berbahaya." Ucap Sasuke sebagai alasan.

"Baiklah." Ucap Sakura, pemuda ini terdengar cukup memaksanya.

Sasuke akan mengantar Sakura ke kostnya, berjalan santai melewati beberapa toko.

"Jadi, uhm... kau tidak lupa padaku lagi?" Ucap Sakura, menyinggung sikap Sasuke.

"Maaf, saat itu aku sedikit sibuk dan harus terburu-buru." Ucap Sasuke.

Sakura merasa Sasuke sedang berbohong, saat itu dia terlihat santai, bahkan mendatangi Naruto dengan tenang. Apa yang membuatnya lupa pada Sakura, atau dia memang sengaja.

"Kau juga mengabaikanku tadi." Ucap Sasuke.

"Ha? Kapan?"

"Saat di depan pintu perpustakaan." Ucap sasuke.

Benarkah? Haaa..~ sepertinya aku terlalu sibuk memikirkan sikap Ino dan lupa jika seseorang sudah menyapaku.

"Ta-tadi aku hanya sedang melamun jadi tidak menyadarimu, hehehe, maaf." Ucap Sakura.

Mereka sudah tiba di depan pintu kost rumah Sakura, Sasuke kembali mengingat saat pertama kali datang ke kost Sakura. Gadis itu berterima kasih pada Sasuke, suasana sedikit canggung, belum sempat Sakura masuk, lengannya di tahan Sasuke.

"Sakura."

Gadis itu cukup terkejut, kembali berbalik dan menatap Sasuke.

"A-ada apa?" Ucap Sakura, sedikit gugup dengan suasana ini. Tangan pemuda itu sudah menghilang dari lengannya, Sakura bisa menatap wajah Sasuke yang terlihat tidak biasanya, dia bahkan tidak berani menatap Sakura, memegang punggung lehernya, Sasuke seperti kebingungan.

"Tidak jadi, masuklah." Ucap Sasuke, beranjak dari pintu masuk kost Sakura, melambaikan tangan perlahan ke arah Sakura.

Sakura menghela napas, Apa yang barusan tadi terjadi? pemandangan yang sungguh-sungguh langka, jika pemuda itu akan selalu menampakkan wajah tenangnya, tapi tadi dia terlihat grogi, ingin mengucapkan sesuatu tapi di tahannya. Gadis itu segera masuk ke naik ke lantai dua, memutar kunci kamar kostnya dan berjalan masuk.

Pemuda ini berjalan santai kembali ke arah kampus, dia memarkirkan mobilnya di sana, mengibas-ngibas tangannya pada bagian lehernya, udara tidak begitu panas, tapi rasanya dia sedikit kepanasan, wajahnya merona, baru kali ini dia merasa tidak percaya diri untuk mendekati seorang gadis, gadis yang membuatnya penasaran dan tersenyum saat mengingatnya.

.

.

.

.

.

Kerja pagi sebelum ke kampus, Sakura sudah menyelesaikan tugas dan dia akan santai bekerja. Pintu cafe terbuka dan seorang pemuda berjalan masuk, Sakura segera menghampiri orang yang masuk itu, langkahnya sempat terhenti dan kembali berjalan. Sasuke, ini sungguh kebetulan sekali.

"Ma-mau pesan apa?" Tanya Sakura, gugup, seharusnya dia bisa lebih santai, mengingat kembali kejadian di malam hari saat Sasuke mengantarnya pulang, Sakura pun penasaran dengan sikap Sasuke, tapi pagi ini Sasuke kembali seperti semula, dia terlihat tenang.

"Jus tomat dan roti sandwich." Ucap Sasuke.

"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap sakura, ramah.

"Oh dan parfait stroberi satu." Tambah Sasuke.

"Baik." Ucap Sakura.

Fuka memperhatikan sikap Sakura saat melayani Sasuke dia terlihat salah tingkah tadi, wanita itu hanya mengamati saja, menyelesaikan pesanan Sasuke dan menyuruh Sakura segera membawakannya. Gadis itu kembali berjalan ke arah meja Sasuke. Menaruh perlahan pesanan Sasuke, masih pagi dan pemuda ini sudah memesan jus tomat.

"Yang itu untukmu." Ucap Sasuke, Sakura tidak jadi menaruh parfait storberi di meja Sasuke, pemuda ini menahannya dan membiarkan parfait stroberi itu tetap di atas nampan Sakura. "Te-terima kasih." Ucap sakura. kembali canggung dan bergegas kembali ke arah Fuka. Wanita itu mencoba menggoda Sakura dan benar saja wajahnya merona.

Pekerjaannya sudah berakhir, Sakura bergegas ke kampus, pamit pada Fuka dan berjalan keluar.

"Sakura." Seseorang memanggilnya, gadis ini berbalik dan pemuda berambut raven ini berjalan menghampirinya. "Mau ke kampus?" Ucap Sasuke

"Iya." Ucap Sakura, dia tidak menyangka jika Sasuke masih berada di sekitar cafe. Ini sudah siang, apa Sasuke tidak ada kelas? Pikir Sakura.

"Bareng?"

"Boleh." Ucap Sakura.

Gedung fakultas mereka berdekatan dan bisa pergi bersama, berjalan di samping Sasuke membuat Sakura jadi malu, Sasuke selalu saja tiba-tiba ada di mana-mana.

"Baiklah, dah." Ucap Sasuke, gedung fakultasnya lebih dulu dari pada Sakura. Gadis itu mengangguk pelan dan kembali berjalan ke arah gedung fakultasnya.

Tidak sengaja bertemu Ino, Sakura menundukkan wajahnya, dia masih belum ingin menyapa Ino, gadis berambut gold pale itu terlihat sedih, Sakura menjauh darinya, dia tidak ingin seperti ini dan membuat batas dengan Sakura, dia sungguh sudah meminta maaf pada Sakura dan menyesali perbuatannya.

"Ha-Haruno." Sakura menoleh dan menatap Hinata.

"Ada apa?"

"Apa kalian bertengkar?" Ucap Hinata, dia merasa jadi tidak enak, seharusnya dia tidak perlu mengucapkan hal itu dan membuat seakan-akan Ino adalah orang jahat.

"Tidak apa-apa, kami akan baik dengan sendirinya." Ucap Sakura. Dia hanya perlu waktu untuk menerima sikap Ino yang dulu. "Panggil saja Sakura, aku lebih nyaman mendengarnya." Ucap Sakura.

"Baiklah, Sakura, kau juga boleh memanggilku Hinata." Ucap Hinata dan tersenyum ramah.

"Apa kau ada kelas keperawatan sistem pencernaan?" Ucap Sakura.

"Uhm, ada, hanya aku sering duduk di belakang." Ucap Hinata, dia bisa melihat Sakura yang duduk di kursi depan.

"Baguslah, akhirnya aku punya teman di kelas itu." Ucap Sakura, dia tidak sekelas dengan Ino dan kadang membuat Sakura sendirian.

Berjalan bersama Hinata, mereka akan masuk ke kelas yang sama, Sakura tidak akan kesepian lagi, Hinata akan menemaninya.

.

.

Sakura terlihat menopang dagunya di meja, membolak-balikkan buku yang tengah di bacanya, menguap sesekali, dia ingin cepat istirahat, tapi jika pulang cepat, dia akan terlambat mengerjakan tugasnya.

"Minumlah, kau terlihat lelah." Ucap Sasuke, saat masuk ke perpus, Sasuke sangat mudah menemukan gadis ini, keluar sebentar, membeli minuman kaleng di mesin minuman otomatis, menaruh kaleng minuman itu di hadapan Sakura dan duduk di sebelahnya.

"Terima kasih." Ucap Sakura, iya, dia sangat butuh kopi saat ini, membuka minuman kaleng itu, meneguknya dan sesekali melirik ke arah Sasuke, dia terlihat tengah menulis tugasnya juga.

Apa dia seorang hantu? Selalu saja bertemu denganku tanpa sengaja, bukannya dia teman Naruto, jika kelas mereka sama, bukannya dia akan jarang terlihat seperti Naruto? pemuda yang aneh. Hari ini kami sudah bertemu dua kali.

"Tugas?" Tanya Sakura.

"Hn. Hanya mencari pendapat di buku saja." Ucap Sasuke.

"Oh." Sakura kembali meneguk minumannya. Jauh lebih segar, gadis itu akan mulai mengerjakan tugasnya kembali. "Apa kau tidak ada kelas hari ini?" Tanya Sakura, sungguh aneh jika hanya Sasuke yang terlihat dan Naruto tidak pernah lagi menemuinya, berpikir jika jadwal mereka akan selalu bertabrakan dan tidak bisa sering-sering bertemu.

"Sudah tidak ada." Ucap Sasuke, tetap fokus pada tulisannya.

"Kau tidak bersama Naruto?" Ucap Sakura.

"Dia mungkin sudah pulang." Ucap Sasuke, cuek, sedikit tidak senang jika Sakura membahas Naruto sekarang, moodnya cepat berubah, menyimpan buku-bukunya ke dalam tas, dia akan pulang sekarang.

"Sudah selesai?" Ucap Sakura, padahal dia merasa cukup senang jika Sasuke bisa menemaninya sebentar.

"Hn, dan jangan pulang terlalu malam." Ucap Sasuke, tangan itu memegang puncuk kepala Sakura dan bergegas pergi.

Dasar aneh.

Pemuda itu sudah menghilang dari pintu masuk perpus, Sakura harus segera menyelesaikan tugasnya dan mengingat kembali ucapan Sasuke tadi, dia harus pulang cepat, tersenyum dan memegang puncuk kepalanya, kenapa Sasuke kadang bersikap seperti itu padanya?

.

.

Berjalan ke arah parkiran, Sasuke merasa bodoh sendiri, meninggalkan Sakura sendirian.

"Sasuke!" Suara yang tidak asing. "Ah, untunglah kau belum pulang, ayolah kita ke kedai dekat kampus, anak-anak menunggumu di sana." Ucap Naruto.

"Tidak, sebaiknya kalian saja." Tolak Sasuke.

"Ayolah, kau itu jarang bersama kami." Ucap Naruto merangkul sahabatnya itu dan memaksanya untuk pergi.

"Kau sungguh menyebalkan." Ucap Sasuke.

"Dan kau sungguh keras kepala, selalu saja tiba-tiba menghilang dari kelas." Ucap Naruto.

"Apa minum sake lagi?" Ucap Sasuke, mengikuti langkah Naruto ke kedai.

"Ya, seperti biasa."

"Jangan terlalu berlebihan, kalian itu calon dokter dan minum-minum." Tegur Sasuke.

"Hanya sedikit kok dan tidak sampai mabuk." Ucap Naruto, memperlihatkan cengiran khasnya.

Langkah mereka terhenti, kenapa di saat seperti ini Sakura bertemu Naruto, Sasuke memandangi mereka berdua sejenak, Sakura mengikuti ucapannya, sekarang masih jam 6 sore dan gadis itu sudah berjalan pulang. Sakura menatap ke arah Sasuke dan Naruto, bukannya tadi Sasuke mengatakan jika Naruto sudah pulang.

"Sakura! Beruntung sekali kau berada di sini, ayolah, kau juga harus ikut, aku akan memperkenalkan teman-temanku padamu." Ucap Naruto, menarik lengan Sakura dan memaksa gadis berjalan lebih dulu.

"Ta-tapi-"

"Tenang saja, di kedai dekat kampus, setelahnya aku akan mengantarmu pulang." Ucap Naruto.

Sasuke ingin menahan Naruto mengajak Sakura, memalingkan wajahnya, egonya jauh lebih tinggi, membiarkan gadis itu di bawa Naruto, dia hanya akan berjalan di belakang mereka, Sakura menoleh sekali ke arah belakang, menatap wajah Sasuke yang tetap saja terlihat tenang.

Setibanya di kedai, Naruto mulai memperkenalkan Sakura kepada Neji dan Shikamaru, mereka terlihat ramah dan baik bagi penglihatan Sakura.

"Hyuga Neji? Apa kau ada hubungan keluarga dengan Hinata?" Tanya Sakura saat mendengar nama lengkap Neji.

"Ya, kami saudara kembar." Ucap Neji.

"Heee! Neji, kau punya saudara? Dan dia satu kelas dengan Sakura, kenapa tidak katakan padaku?" Ucap Naruto.

"Itu bukan hal yang penting untukmu." Ucap Neji.

"Iya sih, hehehhe, aku tidak menyangka akan melihat wujudmu dalam bentuk seorang gadis." Ucap Naruto.

"Kami tidak kembar identik. Hinata tetap terlihat seperti ibuku." Ucap Neji.

"Hooo, aku pikir dia sama persis dengan dengan mu, hehehe." Ucap Naruto.

Dasar Naruto, dia selalu saja payah.

"Duduklah, hari ini terasa sedikit berat, tenang saja Sakura, kita akan mentraktirmu." Ucap Naruto.

Sakura mengangguk pasrah, Naruto sungguh keterlaluan mengajaknya untuk minum. Sedikit tidak apa-apa tapi berlebihan tidak baik. beberapa botol sake dan makanan sudah tersedia, Sakura merasa tidak masalah, dengan begini dia bisa hemat, Naruto akan mentraktirnya.

"Ayo Sakura kau juga harus minum." Ucap Naruto.

"Tidak usah, aku sungguh tidak kuat minum." Ucap Sakura.

"Sedikit saja." ucap Naruto.

"Sudah, kau jangan memaksa temanmu itu" Tegur Shikamaru.

"Hanya kali ini saja." Ucap Naruto.

"Baik-baik, dasar tukang memaksa." Ucap Sakura, mengikuti permintaan Naruto, satu gelas kecil sudah di teguknya abis.

Pemuda bermata onyx ini masih senantiasa mengawasi Sakura, dia akan bertindak jika Naruto di luar batas. Satu persatu botol sake sudah habis, Shikamaru dan Neji tahu batasan sampai mana, mereka akan berhenti, Naruto masih meneguk sake terakhirnya, mukanya sudah sangat memerah, Sakura terlihat tenang sejak tadi.

"Kau baik-baik saja?" Ucap Sasuke, Sakura terus menundukkan wajahnya.

"Kepalaku pusing." Ucap Sakura, dia hanya meneguk dua gelas. Sakura sungguh tidak bisa minum banyak.

"Sebaiknya kau yang membawa Sakura pulang, biar Naruto kami yang urus, jika mereka pulang bersama keadaan semakin kacau, mungkin mereka akan tertidur di jalanan." Ucap Shikamaru.

Sasuke hanya mengangguk, memegang kedua lengan atas Sakura dan mengajak pulang.

"Ya ampun Naruto, kita akan kuliah pagi besok, ayo cepat pulang! kau menginap saja di rumahku." Ucap Shikamaru.

"Dasar payah, dia jauh berlebihan minum." Ucap Neji.

Setelah membayar, mereka berdua yang membawa Naruto pulang. Hari ini sudah cukup, lain waktu lagi mereka akan minum di saat hari benar-benar berat.

Sementara itu, Sasuke masih berusaha membawa Sakura, berjalan perlahan, gadis ini sebentar lagi akan hilang kesadaran, tapi dia berusaha untuk menahan diri.

"Sebaiknya kita duduk dulu." Ucap Sasuke. membawa Sakura ke tempat duduk dekat jalanan, berlari ke arah mini market dan membelikannya obat penghilang mabuk. "Minumlah ini." Ucap Sasuke.

"Tidak usah, aku sudah cukup minum." Ucap Sakura.

"Bodoh, ini akan menghilangkan mabukmu." Ucap Sasuke.

"Hooo, baiklah, Sasuke, ada ufo!" teriak Sakura, Sasuke spontan menoleh ke belakang, dia tengah di kerjai, Sakura malah berlari dengan keadaan masih mabuk, larinya pun cukup berantakan hingga tiba di depan kostnya, duduk di tangga, dia sudah tidak kuat berlari lagi, kepalanya semakin sakit.

"Apa kau sudah gila!" Teriak Sasuke. Dia pun ngos-ngosan mengejar Sakura.

"Shtttt...~ pelankan suaramu Sasuke, di sini yang ngekost akan marah jika kau ribut." Ucap Sakura, dia masih mabuk.

"Cih, sudahlah, sekarang kau harus masuk ke kamarmu." Ucap Sasuke.

Membawa Sakura perlahan naik ke kamar kost Sakura, membuka kunci yang di beri Sakura dan menyalakan saklar lampu. Sasuke menggeser meja segi empat ke hingga ke dinding, merebah Sakura di kasurnya, dia cukup kesulitan dengan keadaan Sakura yang seperti ini. melirik ke arah gadis itu, wajahnya masih sangat memerah.

"Tidurlah, aku akan pulang." Ucap Sasuke.

"Tunggu." Ucap Sakura, bangun dan menatap Sasuke dengan mata sayupnya, dia sudah hilang kendali. "Sasuke, kau itu sebenarnya membenciku atau tidak? kau kadang terlihat baik dan kadang terlihat seperti orang asing." Ucap Sakura.

"Terserah apa yang kau pikirkan terhadap sikapku." Ucap Sasuke.

"Kau sungguh menyebalkan." Ucap Sakura.

"Hn? benarkah, jangan bergerak dulu." Ucap Sasuke.

"Ha? Apa?"

Cup..~

Ciuman singkat di bibir Sakura.

"Kau! kenapa menciu-"

Kembali bibir itu menempel pada bibir Sakura, sedikit melumatnya di sana, Sakura terdiam, dia sudah tidak sanggup lagi dan hilang kesadaran. Sasuke melepaskan ciumannya dan membaringkan Sakura, gadis itu sudah tertidur

"Maukah kau jadi pacarku?" Bisik Sasuke di telinga Sakura. ucapan yang sempat di tahannya, tapi dia hanya berani mengucapkannya di saat Sakura tidak sadar. Menjauhkan wajah dari telinga Sakura dan menutup mulutnya sendiri, apa ini? rasanya sungguh malu, untuk pertama kalinya Sasuke mengutarakan perasaannya pada seorang gadis.

.

.

TBC

.

.


update...~

karena hari ini hari spesial semua fic tbc author update. karena libur ngeborong balap ngetik semua fic, oh...~ jariku mati rasa O_O

HAPPY BIRTHDAY SAKURA CHAN...~~~ :* :*

.

.

maaf untuk hari ini tidak ada balas review yaa, next time okey. XD

.

.

see you next chapter...