Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

-Tolong dong, baca warningnya-

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

Catatan : Author bukan seorang mahasiswa keperawatan atau pun kedokteran, jadi tolong tegur jika ada kesalahan dalam penulisan mata kuliah dari salah satu fakultas yang author cantumkan, heheheh.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

.

~ Tomato, cherry dan salad~

[ Chapter 4 ]

.

.

.

Sakura sudah tertidur lelap, Sasuke masih berada di dalam kost Sakura, berpikir jika Sakura sudah bangun, dia akan pulang, cukup berbahaya meninggalkan Sakura dengan kamar kostnya yang tidak terkunci, meja menjadi pembatas antara keduanya, Sasuke hanya duduk, kedua tangannya berada di atas meja, mata onyx itu terus menatap gadis berambut softpink di hadapannya, kembali mengingat apa yang sudah di lakukannya tadi, mencium gadis ini dan mengucapkan pernyataan perasaannya, wajahnya kembali merona, satu tangannya naik dan menutup mulutnya, melirik ke arah lain, mungkin dia hanya terbawa suasana.

"Kapan kau akan bangun?" Ucap Sasuke dengan suara setengah berbisik, sedikit lelah hanya duduk di tempat itu.

Tik tok tik tok tik tok

Suasana kost sangat sunyi, bunyi jarum pada jam dinding cukup terdengar. Sakura membuka matanya, menatap sekeliling ruangan dan ini adalah kamar kostnya, dia sudah pulang, bangun perlahan, sakit kepalanya mulai menghilang, ingatan terakhirnya berada di kedai, minum bersama Naruto dan teman-temannya, cukup terkejut dengan apa yang di lihatnya, Sasuke membaringkan kepalanya di atas meja, dia tidur dalam keadaan seperti itu.

Sasuke? Dia kenapa berada di kostku? Oh ya ampun, sepertinya aku cukup mabuk, syukurlah bukan Naruto yang membawaku pulang, aku bisa melihatnya sudah mabuk lebih dulu, aku benar-benar merepotkan Sasuke.

Berjalan perlahan menghampiri Sasuke, badannya akan sakit jika tidur seperti itu.

"Sasuke. Sasuke." Ucap Sakura, berusaha membangunkan pemuda ini.

"Ngg...~" Sasuke membuka matanya dan menatap Sakura yang sudah bangun.

"Apa yang kau lakukan di kostku?" Ucap Sakura.

"Hanya menunggumu sadar, kostmu tidak akan terkunci jika aku pulang, jam berapa sekarang?" Ucap Sasuke.

Sakura melirik ke arah jam dinding.

"Ini sudah jam 4 pagi." Ucap Sakura.

"Ah, baiklah, aku pulang dulu." Ucap Sasuke, menarik napas perlahan, dia harus segera sadar dan cepat pulang.

Sakura mengikutinya dari belakang, membuka pintu dan pemuda itu berjalan keluar, dia harus kembali ke area kampus, kendaraannya berada di sana. Memegang lehernya yang cukup pegal, hanya menjadikan meja tempat tidurnya dalam posisi duduk.

"Terima kasih." Ucap Sakura.

"Hn."

Sasuke sudah pulang, Sakura bisa mengunci pintunya dan kembali berbaring kasur.

"Dia bahkan menungguku hingga sadar, aah...! kau sungguh merepotkan Sakura, lain kali aku tidak akan menerima ajakan Naruto." Ucap Sakura, dia merasa sangat bersalah, membiarkan Sasuke menunggunya dan tidur tanpa kasur, badannya pasti sudah sangat pegal.

.

.

Pekerjaan di cafe sudah selesai, Sakura akan bergegas ke kampus, sebelumnya mampir ke perpustakaan dulu, dosen hari ini akan telat sejam, dia bisa mengerjakan tugasnya dulu, langkahnya terhenti saat melewati taman kampus, sebuah senyum di wajahnya, merasa jika pemuda yang tengah duduk sambil tertidur di kursi taman ini begadang semalaman dan ketiduran saat pagi hari.

Jam berapa dia menungguku sadar?

Berjalan lebih cepat, mencoba membangunkan Sasuke, lagi.

"Jangan tidur seperti itu, lehermu akan semakin sakit." Tegur Sakura.

"Aku tidak tidur, hanya tengah berpikir." Ucap Sasuke, berbohong demi menjaga sikapnya.

"Dasar, bahkan matamu tertutup, sebaiknya kau ikut aku." Ucap Sakura, menarik lengan pemuda itu untuk beranjak dari kursi taman kampus. Sasuke cukup terkejut dengan tindakan tiba-tiba Sakura, setelah mereka berjalan, tangan Sakura sudah menghilang dari lengannya, pemuda ini masih menatap lengannya yang di tarik Sakura tadi. "Ada apa?" Ucap Sakura, Sasuke terlihat melamun sendiri.

"Tidak." Ucap Sasuke, matanya fokus ke depan, melihat jalan yang tengah di jalani mereka menuju perpustakaan. "Perpustakaan?" Ucap Sasuke.

"Iya, kau akan di tertawakan jika tidur di kursi itu." Ucap Sakura dan menahan tawanya, Sasuke tadi terlihat sangat lucu saat tertidur dan wajahnya menunduk.

Tiba di dalam perpustakaan, Sakura sudah mengambil beberapa buku untuk menuliskan tugasnya, Sasuke berada di sebelahnya.

"Tidurlah di sini, jam berapa kau akan kuliah lagi?" Ucap Sakura, nada suara mereka sengaja di pelankan, di perpustakaan tidak boleh ada suara keras.

"Uhm, sekitar sejam lagi." Ucap Sasuke.

"Wah, sepertinya kita sama jadwal, aku akan membangunkanmu." Ucap Sakura, mulai menulis.

Sasuke membaringkan kepalanya di meja, menjadikan kedua tangannya yang di lipat di atas meja menjadi bantal dan wajahnya menghadap ke Sakura.

"Sakura." Panggil Sasuke.

"Hmm?" gadis itu fokus pada bukunya.

"Apa kau mengingat kejadian semalam?" Tanya Sasuke.

"Kejadian semalam?" Ucap Sakura, sedikit bingung.

"Hn."

"Yang ku ingat hanya berada di kedai, sudah itu aku tidak ingat apa-apa." Ucap Sakura, dia hanya mengucapkan apa yang terjadi sebelum dia mabuk.

"Oh."

Sakura berhenti menulis dan menatap Sasuke, perasaannya jadi tidak enak.

"Tunggu, apa yang sudah terjadi?" Ucap Sakura, dia mulai panik.

"Bukan apa-apa. Tenanglah." Ucap Sasuke, menutup matanya, dia ingin segera tidur. Sakura tidak ingat apa yang sudah Sasuke lakukan padanya.

"Jangan-jangan, apa aku muntah di depanmu? ya ampun, maafkan aku, aku benar-benar tidak sadar." Ucap Sakura, dia sungguh malu, jika mabuk apapun yang di lakukan di luar kendalinya, melirik ke arah Sasuke dan pemuda itu sudah tertidur, menyembunyikan wajahnya di kedua lipatan tangannya.

Mampus kau Sakura, Sasuke sudah memandang jijik padamu, saat itu aku makan cukup banyak dan tidak sadar juga minum banyak, aah, ini gara-gara Naruto.

Kembali fokus pada tugasnya, Sakura merasa jadi tidak enak pada Sasuke, pikiran tentang dia muntah membuatnya terusik.

Fokus.. Sakura... Fokus...!

Sementara itu, Naruto baru saja masuk perpustakaan dan menemukan Sakura di salah satu meja, memicingkan mata dan melihat orang yang berada di sebelah Sakura, itu Sasuke. Bergegas menghampiri Sakura dan menyapanya.

"Tidurmu nyenyak?" Ucap Naruto, dia sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Sakura.

"Diam kau, aku tidak akan menerima ajakkan mu lagi." Ucap Sakura, dia cukup kesal, imejnya menjadi buruk di depan Sasuke.

"Aku tidak tahu jika kau cepat mabuk." Naruto membela diri.

"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi."

"Oh iya, kenapa Sasuke berada di sini?" Ucap Naruto, Sasuke masih tertidur dan tidak merasa jika Naruto berada di dekatnya.

"Eh? Ha-hanya kebetulan, saat aku ke perpus, Sasuke sudah berada di sini, aku pikir bisa membangunkannya saat jam kuliahnya nanti." Bohong Sakura.

"Uhm... sayangnya dosen yang sejam lagi tidak akan masuk, beliau sedang ada pertemuan penting. Kau tidak usah membangunkannya, biarkan saja dia tidur sepanjang hari ini di sini, aku rasa dia terlihat lelah, pagi tadi dia menguap di kelas berkali-kali, seakan-akan begadang padahal sedang tidak ada tugas, aku juga harus berterima kasih padanya, dia sudah repot mau mengantarmu." Ucap Naruto.

Plaakkk.

Jitakan keras mendarat di kepala Naruto, pemuda ini tersentak kaget dan menggosok kepalanya yang habis di jitak tadi. Sakura tidak akan menceritakan jika Sasuke terus berada di kostnya, menunggunya hingga sadar dan malah ketiduran di saat sudah pagi. Sasuke pasti sangat mengantuk.

"Itu semua kesalahanmu, jangan sok minum banyak jika kau juga cepat mabuk, bodoh, Sasuke jadi kerepotan mengantarku." Ucap Sakura.

"Ma-maaf, maaf." Ucap Naruto, merasa sedikit bersalah, wajah Sakura terlihat marah di hadapannya.

Tringg..~


:: Ketua tingkat.

Hari ini dosen mata kuliah Ilmu Biomedik II tidak jadi masuk.


Sakura bernapas lega, dosen yang terlambat akhirnya tidak jadi masuk, dia bisa menyelesaikan tugasnya.

"Ada apa? kau terlihat senang sekali." Ucap Naruto, melihat raut wajah Sakura yang terlihat bahagia.

"Dosenku tidak jadi masuk, aku bisa bebas kerjakan tugas." Ucap Sakura.

"Oh, baguslah, dosenku tidak jadi masuk juga, ayo kita pergi makan, ayo ayo." Ucap Sakura.

"Tidak-tidak, kau pergi sendiri, aku akan menyelesaikan tugasku." Ucap Sakura.

"Kau bisa mengerjakannya kapan-kapan." Ucap Naruto.

"Waktuku tidak banyak, pergi sana, kau menggangguku." Ucap Sakura.

"Kalau begitu aku akan mengajak Sasuke." Ucap Naruto, berjalan mendekati Sasuke.

"Ishh, kau ini sungguh keras kepala, biarkan temanmu ini tidur dulu, cepat sana." Ucap Sakura, menahan Naruto untuk tidak membangunkan Sasuke.

"Tapi-"

"-Sudah, pergi sana." Ucap Sakura dan mendorong Naruto.

"Ya baiklah, kapan-kapan kita makan siang bersama yaa. Eh, jangan lupa sampaikan pada Sasuke. kalau dosen mata kuliah cerebro dan pancaindera I tidak masuk." Ucap Naruto.

"Iya-iya." Ucap Sakura.

Naruto berjalan pergi, berbalik tersenyum pada Sakura dan melambaikan tangan. Dia akan pergi mencari teman-temannya. Sakura menghela napas setelah Naruto pergi, melirik ke arah Sasuke yang sama sekali tidak terusik, tidurnya sangat nyenyak, Sakura kembali fokus mengerjakan tugasnya.

Sejam berlalu.

Sasuke tersentak kaget dan bergegas bangun, melirik ke arah jam dinding di perpus dan sudah jam 3 sore. Melihat ke samping dan Sakura fokus mengerjakan tugasnya.

"Sakura, kau lupa membangunkanku." Ucap Sasuke, dia sudah tidak akan bisa masuk kelas lagi.

"Ya ampun, aku minta maaf Sasuke, aku tidak sadar gara-gara sibuk mengerjakan tugas." Bohong Sakura, dia tengah mengerjai Sasuke.

Sasuke terlihat prustasi, dia tidak ingin bolos mata kuliah mana pun, kedua tangannya menutup wajahnya, sedikit kecolongan, seharusnya dia tidak perlu tidur tadi, dia bisa menemani Sakura hingga jam mata kuliahnya. Sakura menutup mulutnya menahan tawa, ekspresi Sasuke yang terlihat seperti orang putus asa sungguh lucu.

"Aku bohong, dosenmu tidak masuk." Bisik Sakura.

Kedua tangan itu sudah menghilang dari wajah Sasuke, mata onxynya menatap tajam ke arah Sakura, dia tidak sadar jika gadis ini mengerjainya dengan berbohong, Sakura sengaja tidak membangunkan Sasuke. kedua tangan Sasuke sudah berada di kedua pipi Sakura dan mencubitnya.

"Berani-beraninya kau." Ucap Sasuke, dengan tatapan horornya. Sakura menepuk-nepuk tangan Sasuke untuk tidak mencubitnya. Setelah puas tangan itu menghilang dan membuat pipi Sakura jadi sedikit merah, Sasuke sungguh jahat padanya.

"Kau sungguh kejam." Ucap Sakura dan menggosok kedua pipinya.

"Lain kali aku akan membalasmu." Ucap Sasuke.

Sakura segera menutup mulutnya, dia tidak boleh berisik di dalam perpusatakaan, tawa itu harus di redam, Sasuke terkesan seperti anak kecil yang akan balas dendam gara-gara perbuatan iseng Sakura.

"Maaf-maaf." Ucap Sakura dan sesekali akan meredam tawanya.

Sasuke melipat kedua tangannya ke dada dan menghela napas, hari yang cukup melelahkan.

"Apa kau tidak akan kuliah?" Ucap Sasuke, Sakura masih berada di sampingnya.

"Dosenku juga tidak masuk." Ucap Sakura.

"Aku lapar, kita pergi makan." Ucap Sasuke, sengaja membereskan buku-buku Sakura ke dalam tas gadis itu.

"Tu-tunggu dulu." Ucap Sakura, berusaha menahan tangan Sasuke, tapi buku-bukunya itu sudah lengkap berada di dalam tasnya.

"Kalau menunggumu, akan membuatku sakit perut." Ucap Sasuke. beranjak dari kursinya dan menarik lengan gadis itu untuk segera ikut.

Dasar tukang maksa, selalu saja tidak mendengar ucapanku dulu. Tapi wajahnya tadi sungguh lucu, aku pikir dia mahasiswa yang suka bolos, tapi dia sangat peduli untuk setiap mata kuliahnya.

"Kau ingin makan apa?" Tanya Sasuke.

"Apa saja." Ucap Sakura.

"Apa saja? Mau makan batu?" Canda Sasuke.

"Yang benar saja." Ucap Sakura dan memukul lengan Sasuke.

"Kau terlalu kasar untuk jadi seorang perawat." Kembali Sasuke bercanda dengan Sakura.

"Aku hanya akan kasar pada orang seperti mu." Ucap Sakura dan tertawa pelan.

Mereka terus berjalan dan sesekali berbicara ringan, berakhir dengan kesepakatan mendatangi kantin kampus. Jauh dari Sasuke dan Sakura, Ino melihat Sakura yang sibuk bersama seorang pemuda, mungkin fakultas yang berbeda, Ino masih merasa sedih, sampai detik ini pun Sakura belum berbicara dan berbaikkan dengannya.

"Oh, Ino, kau sendirian? Bisanya kau bersama Sakura kan?" Ucap seorang gadis, orang satu fakultas dengan Ino.

"Sakura sedang bersama temannya." Ucap Ino dan berusaha tersenyum.

"Uhm... aku pikir kalian sedang bertengkar, kupingku ini cukup tajam sampai mendengar jika kau penyebab Sakura tidak bisa mendapat beasiswa, kau sungguh teman yang jahat yaa." Ucap Karin, Gadis berambut merah dan berkacamata ini suka ikut campur dengan masalah orang lain.

"Ini bukan urusanmu!" Bentak Ino, dia cukup kesal mendengar ucapan Karin.

"Sabar, kau tidak perlu marah seperti ini, aku hanya mengucapkan fakta kan?" Ucap Karin, dia jauh lebih santai untuk sekedar mengganggu Ino.

"Terserah saja." Ucap Ino dan bergegas pergi, dia tidak ingin menanggapi Karin lagi.

Yaa pergi saja, kalian sungguh membuatku muak.

.

Flasback.

Semester awal.

Mata kuliah antropologi kesehatan, Sakura, Karin dan Hotaru menjadi satu kelompok untuk tugas akhir. Hotaru, gadis yang terlihat ramah dan baik ini anak fakultas keperawatan yang satu angkatan dengan Sakura begitu juga Karin.

"Minggu depan presentasi dan itu akan menjadi nilai final kalian." Ucap dosen itu.

"Baik bu." Ucap serempak para mahasiswa.

Setelah dosen keluar, semuanya mulai berkumpul secara berkelompok dan berbagi tugas.

"Aku sudah membaginya, Hotaru kau cari bagian penjelasannya, cukup banyak, jadi aku pikir kau kerja itu saja." Ucap Sakura.

"Baiklah, bagian yang ini juga?" Ucap Hotaru, menunjuk beberapa point di catatan Sakura.

"Tidak perlu, aku sudah dapat referensinya waktu mencari tugas kemarin." Ucap Sakura.

"Baguslah."

"Karin, tolong bagian defenisi saja dan apa-apa yang berhubungan dengan pengkajian antropologi, tidak perlu ambil secara luas, cukup yang berhubungan saja." Jelas Sakura.

"Iya." Ucap Karin, dia terlihat malas untuk mengerjakan tugas ini.

"Karena waktunya sampai minggu depan, kalian kerjakan saja dulu tugas mata kuliah lain, dua hari sebelum presentasi, kirim semua datanya ke emailku, aku akan menyusun dan menjilidnya." Ucap Sakura, menuliskan emailnya di buku catatan Karin dan Hotaru.

"Syukurlah, aku jauh lebih tertolong jika satu kelompok denganmu." Ucap Hotaru, dia cukup mengenal Sakura sebagai mahasiswa yang rajin.

"Ya sudah, aku ada janji, dah." Ucap Karin dan beranjak pergi.

"Jangan lupa yaa Karin, kita akan sedikit susah bertemu karena hanya dua mata kuliah yang satu kelas." Ucap Sakura.

"Iya, kau bisa menghubungiku nanti." Ucap Karin.

"Wah, dia cepat sekali pulang." Ucap Hotaru.

"Biarkan saja, lagi pula kelas hari ini sudah berakhir kan." Ucap Sakura.

"Iya, sih, aah..~ akhirnya bisa istirahat, eh mau makan di kantin sebelum pulang? Jam segini kantin masih buka loh." Ucap Hotaru.

"Okey." Ucap Sakura.

.

.

Seminggu itu terasa cukup cepat, Sakura sudah menghubungi Karin tapi ponselnya terus teralihkan, besok mereka sudah harus presentasi dan Karin belum mengirimkan bagiannya. Sakura masih sibuk mengetik bagiannya.

Tringgg...~

:: Hotaru

Cek email, bagianku sudah kelar.


:: Sakura.

Apa kau sudah menghubungi Karin?


::Hotaru.

Aku tadi menghubunginya, ponselnya aktif tapi tidak di angkat, aku sudah mengirim pesan padanya, entah dia membaca atau tidak, apa emailku sudah masuk?


:: Sakura.

Oh, saat ku hubungi ponselnya teralihkan, oke, emailmu sudah masuk, jika terus seperti ini kita tidak akan kelar tepat waktu, malah jadwalnya juga pagi.


:: Hotaru.

Kita tunggu kabarnya hingga jam 10 malam, tenang aku akan menemanimu, jika dia tidak ada kabar, bagian Karin kita akan bagi dua.


:: Sakura.

Terima kasih Hotaru, kau sungguh membantuhku. Baiklah aku akan menyusunnya semua dulu.


:: Hotaru.

Semangat..!


Hingga jam 10 malam, Karin tidak ada kabar, Sakura sudah mengirim pesan pada Hotaru, mau bagaimana lagi, mereka akhirnya membagi dua bagian Karin dan bergegas menyelesaikan tugas itu.

Tepat jam 1 malam, Sakura bisa bernapas lega, tugas mereka selesai, besok pagi-pagi sekali dia harus memprint dan menjilidnya, menatap ke arah halaman paling pertama, tugas dan nama-nama yang tertera dalam kelompok, sedikit menimbang-nimbang, mungkin Karin punya kesibukan yang sangat penting, Sakura pun merasa tidak enak jika langsung menyalahkan Karin, nama Karin tetap berada di sana, dia harus segera tidur, kelas di mulai jam 08:30.

.

.

Pagi harinya, 10 menit sebelum dosen masuk.

"Karin, kau dari mana saja? Kau bahkan tidak mengangkat ponselmu." Tegur Hotaru.

"Maaf, kemarin aku sangat sibuk, ayahku sakit keras dan aku harus menemaninya di rumah sakit, ponselku tertinggal di rumah." Alasan Karin, memperlihatkan wajah sedihnya.

"Sudahlah, yang penting tugas kita sudah selesai." Ucap Sakura dan tersenyum, membagi print out tugas yang di selesaikan.

"Terima kasih, lain kali aku tidak akan seperti ini lagi, aku hanya tidak bisa meninggalkan ayahku sendirian di rumah sakit, ibuku sibuk bekerja." Ucap Karin.

Dosen sudah masuk dan masing-masing kelompok mempresentasikan tugas mereka, Karin merasa cukup senang, hasil presentasi kelompoknya cukup bagus dan langsung di beri nilai A oleh dosen. Dia tidak perlu repot-repot mengerjakan tugas dan mendapat nilai bagus.

"Ini sungguh tidak adil." Ucap Hotaru saat berjalan di koridor bersama Sakura, mereka akan pergi ke perpustakaan.

"Hufff...~ aku tidak tahu harus bilang apalagi, tapi syukurlah nilai kita bagus." Ucap Sakura.

"Dia terlalu keenakan, seharusnya dia tidak perlu mendapat nilai bagus, kerja pun tidak." Ucap Hotaru.

"Sudah-sudah, anggap saja ini hanya masalah kecil." Ucap Sakura.

"Ah, aku tidak menyukai sikapnya." Ucap Hotaru.

Hotaru dan Sakura terus berbincang, Sakura sudah memaklumi keadaan kecuali Hotaru yang sama sekali tidak bisa menerima nilai Karin, gadis itu berada tidak jauh dari Sakura dan Hotaru, dia bisa mendengar ucapan mereka, memandang remeh ke arah mereka, dia tidak peduli dengan apapun, semua berjalan dengan lancar, dia bisa pergi jalan-jalan dan berhura-hura bersama temannya yang di luar kampus, nilainya pun tetap bagus. Ayahnya baik-baik saja dan sibuk bekerja, anak yang terlahir dari keluarga kaya yang membuatnya menganggap semua itu mudah, masuk ke fakultas keperawatan hanya sekedar untuk mendapat ijasah dan hal ini permintaan ibunya yang seorang dokter, seharusnya Karin berada di fakultas kedokteran, namun nilainya hanya sanggup mendapat fakultas keperawatan.

.

.

Kelas lainnya, mata kuliah Epidemiologi.

Sakura menatap malas dengan teman satu kelompoknya, di kelas ini dia tidak sekelas dengan Hotaru, tapi sekelas dengan Karin.

"Kali ini, mohon bantuannya yaa." Ucap Karin, sengaja berwajah manis di depan Sakura.

"Rin Nohara, salam kenal, karena kita jarang untuk menyapa jadi aku memperkenalkan diri." Ucap Rin pada Sakura.

"Panggil Sakura saja." Ucap Sakura dan tersenyum ramah.

Seperti biasanya, Sakura sudah membagi tugas dan menjelaskan pada Rin dan Karin, berharap semua berjalan lancar seperti apa yang di harapkan Sakura.

Tapi.

Hari persentasi.

"Apa-apaan ini Sakura! Kau bahkan tidak mencantumkan namaku." Ucap Karin. Melihat print out presentasi mereka. Sakura memilih diam, dia tidak ingin ribut di kelas, seluruh mahasiswa memandangi Sakura, menganggap jika Sakura sungguh keterlaluan dengan tidak mencantumkan nama Karin pada kelompok mereka tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi.

"Berhenti menyalahkan Sakura! Kau tidak mengerjakan bagianmu, bagaimana mungkin namamu di cantumkan!" Rin sudah habis kesabaran, dia tahu jika Sakura bekerja keras menyelesaikan bagian Karin.

"Aku punya alasan untuk kemarin, aku sungguh sibuk." Ucap Karin. Dia masih membela diri.

"Jika kau sungguh sibuk di luar, sebaiknya kau berhenti menjadi mahasiswa." Ucap Sakura, nada suara terdengar santai, tatapan dingin di layangkan ke arah Karin, Sakura sudah benar-benar muak satu kelompok dengan orang yang hanya mau enak sendiri tanpa bersusah payah, saat Sakura berjalan-jalan ke kota untuk membeli buku paket, tanpa sengaja dia melihat Karin keluar dari salah satu butik terkenal di Konoha, dengan beberapa temannya, mereka terlihat sangat glamor dengan pakaian mewah dan tas-tas belanjaan bermerek yang di bawa mereka, akhirnya Sakura sadar jika selama ini Karin bohong padanya.

"A-apa! Apa hakmu untuk mengucapkan hal itu!" Bentak Karin.

"Selamat pagi, ada apa ini? Kelas ini kenapa ribut sekali?" Ucap dosen yang baru masuk, seluruh mahasiswa memilih diam pada tempatnya dan tidak ada yang akan berbicara, Karin merasa putus asa, kali ini dia tidak akan selamat. "Tidak ada jawaban, baiklah, presentasi di mulai saja." Ucap dosen itu, mulai memanggil kelompok satu.

Tiba pada kelompok Sakura. dosen itu melihat hanya dua orang yang naik, padahal dia sudah membagi rata, setiap kelompok akan ada tiga orang.

"Ada apa? hanya kalian saja?" Ucap dosen itu.

"Bu, a-aku bisa jelaskan." Ucap Karin, wajahnya terlihat takut.

"Tidak perlu, aku sudah tahu situasinya, lanjutkan saja Sakura, aku juga dulu pernah kuliah dan tidak akan memberi kelonggaran pada teman yang tidak membantu sama sekali dalam tugas." Ucap dosen itu, dia cukup tegas dalam mengajar dan sudah sangat berpengalaman sebagai mahasiswa dulunya.

Karin terlihat kesal, dia menaruh dendam pada Sakura.

.

.

Semester berikutnya.

Sakura dan Ino yang sudah menjadi akrab, mereka tengah berjalan di koridor, Sakura menatap sejenak kertas jadwal mata kuliahnya.

"Ada apa?" Ucap Ino.

"Ah, aku harap tidak satu kelas lagi dengan Karin, dia sungguh membuatku kesal." Ucap Sakura.

"Ya, aku tahu itu, saat semester awal sebenarnya kita satu kelas loh dan aku ingat sekali kejadian saat kau tidak mencatumkan namanya, hahaha kau sungguh berani Sakura." Ucap Ino.

"Aku sudah kapok untuk mencatumkan namanya kembali." Ucap Sakura.

"Oh, apa dia berulah sebelumnya?" Ucap Ino.

"Ya, saat mata kuliah antropologi kesehatan, Hotaru sampai marah-marah padaku." Ucap Sakura.

"Hotaru? Gadis yang selalu terlihat sabar itu? aku tidak menyangka dia juga akan marah, hahahaha, Karin memang suka begitu, aku sering satu kelas dengannya, dia selalu banyak alasan tentang tugas yang terlambat, bahkan dia sampai meminjam tugas yang sudah selesai, mereka jadi kesal dengan Karin yang mau enak sendiri." Ucap Ino.

"Seharusnya dia tidak perlu jadi mahasiswa jika merasa kesulitan." Ucap Sakura.

Karin mendengar mereka, mengepalkan tangannya dan menatap kesal ke arah Sakura dan Ino, mereka berbicara seolah-olah dia selalu menjadi pusat masalah.

End FlashBack

.

.

.

.

.

Hari ini jadwal yang satu kelompok dengan Ino, suasana semakin canggung, Sakura jadi bingung harus bersikap bagaimana, sejujurnya dia sudah menerima Ino untuk menjadi temannya kembali, tapi Ino terlihat diam Sakura juga tidak bisa memulai pembicaraan, suasana kerja kelompok yang sangat kaku.

"Aku keluar sebentar." Ucap Sakura. Ino hanya mengangguk dan melanjutkan tugasnya untuk mencari jawaban.

Sakura minta ijin ke toilet, dia harus mencuci mukanya sejenak, menghilangkan pikiran negatifnya tentang Ino, berpikir untuk berbaikkan hari ini, Sakura akan menyudahi suasana canggung ini. kembali ke kelas, Sakura menyelesaikan tugas kelompok mereka, tinggal sedikit lagi sebelum jam dosen ini habis.

"Kumpul sekarang." Ucap dosen itu, ketua tingkat yang bertugas mengumpulkan tugas diskusi itu. "Minggu lalu aku meminta kalian untuk mengerjakan tugas makalah, kalian tidak lupa kan?"

"Iya..."

Kembali ketua tingkat mengumpulkan makalah para mahasiswa, Sakura terlihat sibuk di mejanya, membongkar tasnya dan tugas makalahnya tidak ada, mau di cari bagaimana pun makalah itu tidak ada.

"Ketua tingkat, tolong bawa ke mejaku." Ucap dosen itu dan berjalan keluar.

"Tidak ada?" Ucap Sakura, dia sudah menyelesaikan tugas makalahnya kemarin, seharusnya tugas makalah itu berada di dalam tasnya.

"Ada apa Sakura?" Ucap teman sekelas Sakura.

"Makalahku hilang." Ucap Sakura, dia terlihat panik.

"Hilang, bagaimana bisa? Tidak mungkin kan ada yang mengambilnya, lagi pula yang berada satu meja denganmu hanya Ino."

"Tu-tunggu, meskipun kami satu meja, aku tidak pernah membuka tas Sakura." Ucap Ino.

"Benarkah? Bagaimana kita tahu kalau kau tidak membuka tasnya? Semua sibuk mengerjakan tugas diskusi."

"Sakura, aku benar-benar tidak menyentuh tasmu." Ucap Ino, dia terlihat takut, Sakura menatap Ino, menghela napas dan bergegas pergi dari kelas, dia harus menemui dosen itu dan meminta waktu.

"Sudahlah Ino, kau tahu, mana ada maling yang mengaku."

Orang-orang pengadu domba itu sudah pergi dan membuat Ino kesal, dia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada makalah Sakura.

.

.

Ruang dosen.

"Maaf, bu, makalahku hilang, apa ibu tidak bisa memberiku waktu." Ucap Sakura, dia tidak ingin nilainya hancur di semester ini, beasiswa itu tidak akan di dapatnya lagi.

"Makalah hilang, kau itu mahasiswi bukan siswi lagi, alasan itu sangat familiar untuk mahasiswa yang malas mengerjakan tugas."

"Sungguh bu, makalahku hilang, aku sudah mengerjakannya, aku mohon." Ucap Sakura, berusaha untuk meminta kelonggaran pada dosen ini.

"Siapa namamu?"

"Sakura, Haruno Sakura."

"Oh, Haruno Sakura, aku cukup mendengar namamu sebagai mahasiswi yang rajin, baiklah, sampai jam 5 sore, lewat dari itu aku tidak akan menerima alasan apapun lagi, mengerti?"

"Baik bu."

"Kumpul saja di mejaku."

Sakura pamit dan bergegas berlari ke arah perpustakaan, dia harus segera menyelesaikan tugasnya kembali, sekarang sudah jam setengah 4 sore, Sakura harus bisa menyelesaikan tugas itu tepat waktu.

"Sakura."

Sakura menoleh dan kembali bertemu Sasuke.

"Jangan mengganggu dulu, aku sedang buru-buru, jam 5 sore tugas ini harus di kumpul, tiba-tiba saja tugasku menghilang." Ucap Sakura, dia terlihat sedang panik dan buru-buru menulis tugasnya.

"Biar ku bantu." Ucap Sasuke, mencari jawaban dari soal di tugas Sakura, gadis itu akan tinggal menulis lagi dan tidak perlu membuka buku.

Menit-menit berlalu, Sakura harus cepat.

"Akhirnya..." Ucap Sakura, dia sudah merapikan kertasnya itu dan menghekternya.

"Pergilah, buku-buku ini nanti biar aku yang kembalikan." Ucap Sasuke.

Sakura bergegas berlari keluar perpustakaan, berlari di sepanjang koridor hingga mendapati ruang dosen, masuk ke sana, dosen itu sedang berada di ruangannya dan Sakura berhasil mengumpulkan tepat waktu.

"Lain kali tidak ada kelonggaran lagi." Ucap dosen itu.

"Baik bu, terima kasih banyak, sekali lagi terima kasih." Ucap Sakura dan pamit sopan ada dosen itu. Wajah terlihat senang, nilainya masih bisa selamat.

Buru-buru mengumpulkan tugas, dia sampai melupakan tasnya di perpustakaan, kembali berlari dan langkahnya terhenti di depan pintu gedung fakultasnya, Sasuke berdiri dan menunggunya.

"Kau melupakan tasmu." Ucap Sasuke.

"Ah, terima kasih." Ucap Sakura. mengambil tas miliknya dari Sasuke.

"Sudah terkumpul?" Ucap Sasuke.

Sakura mengganggu cepat dan memperlihatkan senyumnya, hari ini dia sedikit sial dan juga beruntung, tugasnya hilang tapi dia cepat mengerjakannya kembali.

"Baru kali ini aku melihat m sangat ceroboh." Ucap Sasuke.

"Aku tidak tahu, sepertinya ada yang sengaja mengambil tugas makalahku." Ucap Sakura.

"Kau tidak mencari pelakunya?" Ucap Sasuke.

"Tidak usahlah, aku tidak punya waktu untuk itu." Ucap Sakura.

"Jangan terlalu bersikap baik." ucap Sasuke dan mengacak-ngacak rambut Sakura.

"Ish, aku tidak bersikap baik, hanya saja aku malas untuk sekedar mencari orang yang sudah jahat padaku." Ucap Sakura, menepis tangan Sasuke dari atas kepalanya, rambutnya jadi berantakan gara-gara ulah Sasuke.

Saat di kelas tadi, memang hanya Ino yang berada satu meja dengannya, tapi bukan berarti Sakura tidak mempercayai Ino, awalnya memang, dia mulai tidak percaya dengan Ino akibat sikap buruknya saat awal semester, Sakura harus berpikir jernih tentang masalah ini, bisa saja pelakunya orang lain dan sangat kebetulan Ino berada di posisi pelaku itu.

"Jangan melamun." Sebuah sentilan mendarat di jidat Sakura.

"Aduh." Sakura memegang jidatnya. "Apa kau tidak ada kelas lagi?" Ucap Sakura.

"Tidak ada, aku akan segera pulang." Ucap Sasuke.

"Baiklah, Dah." Sakura, berjalan meninggalkan Sasuke.

Sakura sudah menjauh, dia cukup lelah hari ini untuk berlari mengumpulkan tugas, Sasuke masih menatap gadis itu hingga keluar dari area kampus. Tatapannya menjadi datar, Naruto terlihat dari arah samping Sakura dan menghampiri gadis itu.

"Sakura...~" Teriak Naruto, berjalan cepat ke arah Sakura. "Mau pulang?"

"Iya." Ucap Sakura.

"Aku tadi melihatmu lari-lari dari perpus ke fakultasmu, hahaha, apa kau sedang lari marthon?" Canda Naruto.

"Diamlah, kau tahu, seseorang mengambil tugasku dan aku harus menulisnya kembali, syukurlah dosen itu mau menerimanya." Curhat Sakura.

"Wah, kau masih tetap rajin." Ucap Naruto.

"Jika bukan karena nilai, aku tidak akan melakukannya, apa yang kau lakukan sekarang? Pulang sana." Ucap Sakura.

"Iya, aku hanya menyapamu dulu sebelum pulang, dah." Ucap Naruto, berjalan berlainan arah dari Sakura.

"Naruto." Panggil Sakura sebelum temannya itu menjauh.

"Apa?" Ucap Naruto, berhenti berjalan.

"Kapan-kapan saat libur kampus, kau mau berkunjung ke rumahku? ibuku ingin bertemu denganmu." Ucap Sakura.

"Bertemu bibi Mebuki? Sudah lama sekali ya. Okey." Ucap Naruto, kembali berjalan dan melambaikan tangannya.

Sasuke mendengar pembicaraan mereka, Sakura dan Naruto akan berlibur bersama, ini membuatnya tidak senang. Dia harus melakukan sesuatu. Melangkah kakinya, berhenti sejenak, pemuda ini mendengar pembicaraan yang tidak jauh darinya.

"Sial, kenapa dia bisa mendapat kebijakan dari dosen? Sial! Sial!" Ucap Karin.

Sasuke menemukan sesuatu yang cukup menarik, gadis yang membuat Sakura kesusahan, makalahnya tiba-tiba hilang dan pelakunya berada tepat di hadapan Sasuke.

.

.

TBC

.

.


akhirnya update...~

sorry, chapter ini flat aja, next chapter semoga ndak flat. chapter ini juga tidak ada balas-balas review yaa, soalnya tidak ada yang bertanya, hahahahah... :D

.

.

see next chapter.