Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
-Tolong dong, baca warningnya-
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
Catatan : Author bukan seorang mahasiswa keperawatan atau pun kedokteran, jadi tolong tegur jika ada kesalahan dalam penulisan mata kuliah dari salah satu fakultas yang author cantumkan, heheheh.
.
.
Don't Like Don't Read !
.
.
~ Tomato, cherry dan salad~
[ Chapter 5 ]
.
.
.
"Sial, kenapa dia bisa mendapat kebijakan dari dosen? Sial! Sial!" Ucap Karin.
Sasuke menemukan sesuatu yang cukup menarik, gadis yang membuat Sakura kesusahan, makalahnya tiba-tiba hilang dan pelakunya berada tepat di hadapan Sasuke. Pemuda ini berjalan perlahan dan menghampiri gadis berambut merah ini.
"Ehem, permisi." Ucap Sasuke.
"Ada apa?" Ucap kesal Karin, saat ini dia sangat kesal, sikapnya tiba-tiba berubah menjadi tenang dan memperlihatkan wajah bingungnya sedikit tadi. "Eh, ma-maksudku, iya?" Ucap Karin, wajahnya merona, pria di hadapannya ini sangat tampan.
"Aku mencari seorang mahasiswi fakultas keperawatan, apa kau fakultas keperawatan juga?" Ucap Sasuke.
"Iya, aku salah satu mahasiswinya." Ucap Karin, tertawa garing.
"Apa kau melihat Haruno Sakura? Aku tadi menunggunya dan dia tidak kembali." Ucap Sasuke.
Apa? pemuda tampan ini mencari Sakura? Memang apa bagusnya gadis gila belajar itu dan terlihat biasa saja. Batin Karin.
"Halo, apa kau mendengarkanku?" Tegur Sasuke.
"Sa-Sakura, tadi dia sudah pulang, iya, aku hanya melihatnya berlarian di koridor tadi." Ucap Karin, dia tidak melihat saat Sakura bersama Sasuke.
"Oh, ternyata dia sudah pulang, baiklah. Terima kasih." Ucap Sasuke dan beranjak pergi, sebelum dia pergi, lengannya di tahan Karin.
"Tu-tunggu, kalau boleh tahu siapa namamu? Apa kau mahasiswa kampus Konoha?" Ucap Karin, dia cukup tertarik dengan pemuda ini.
"Uchiha Sasuke, iya, aku dari fakultas kedokteran." Ucap Sasuke.
"Namaku Karin, senang berkenalan denganmu." Ucap Karin, dan tidak sopan langsung menjabat tangan Sasuke.
"Ah, salam kenal." Ucap Sasuke.
Setelah berkenalan, Sasuke beranjak pergi, mata gadis berkacamata ini tidak bisa berhenti menatap pemuda itu berjalan ke arah fakultasnya.
"Haa..~ dia begitu tampan, aku harus mendapatkannya. Tapi, memang dia apanya Sakura? aku harap mereka tidak memiliki hubungan apa-apa." Ucap Karin, dia sudah bertekad menjadikan Sasuke target untuk kesekian kalinya. "Karin tidak pernah akan gagal oleh pemuda mana pun." Ucapnya, gadis yang tidak pernah betah oleh satu pria, dia cukup memiliki banyak koleksi pria, setelah bosan, dia campakkan begitu saja.
.
.
.
.
.
Liburan semester, akhirnya Sakura bisa mengurus beasiswa, untuk semester ini Sakura sudah mengajukan diri dan dia akan mendapat beasiswanya, seharusnya ini menjadi pencapaiannya, rajin, tekun dan mendapatkan apa yang di inginkannya, senang, tapi ada rasa mengganjal dalam hatinya.
Berjalan di sepanjang koridor, sebelum liburan semester, gadis ini akan menyelesaikan masalahnya, dia sudah tidak marah dan bahkan melupakan kejadian yang sudah lewat itu, berhenti sejenak dan berlari sedikit cepat, memeluk gadis yang tengah berjalan di depannya.
"Sakura?" Ucap Ino, bingung, kenapa tiba-tiba Sakura memeluknya.
"Aku merasa seperti tengah balas dendam padamu, maafkan aku." Ucap Sakura, melonggarkan pelukkannya dan menatap Ino.
"Bukankah sebaiknya seperti itu, aku sungguh menyesal Sakura." Ucap Ino.
"Ah, aku juga benar-benar orang yang jahat, selama satu semester yang kita lalui ini rasanya seperti tengah makan sayuran tanpa garam." Ucap Sakura.
"Terima kasih, kau mau memaafkanku dan selamat untuk mendapatkan beasiswamu." Ucap Ino.
"Tidak masalah." Ucap Sakura dan tersenyum.
"Tapi, untuk masalah beberapa waktu lalu, kau sungguh tidak mencurigaiku kan?" Ucap Ino, dia masih memikirkan soal tugas Sakura yang hilang.
"Bagaimana yaa mengatakannya, aku mencurigaimu, tapi kau tahu, aku bisa melihat kapan kau berbohong dan kapan tidak." Ucap Sakura.
"Eh? Kau sampai tahu begitu?" Ucap Ino.
"Hehehe, begitulah, aku bisa dengan mudah menebak sikap orang, tapi sungguh, saat itu aku ingin memukul siapapun yang sudah melakukan hal jahat ini padaku, nilaiku benar-benar terancam." Ucap Sakura.
"Syukurlah, aku turut senang saat melihat dosen itu memberimu kebijakan, oh iya, aku butuh penjelasanmu tentang pemuda yang sering sekali berada di sekitarmu?" Ucap Ino.
"Siapa? Pemuda berambur blonde?" Ucap Sakura.
"Aku rasa itu seperti temanmu, bukan, tapi pemuda yang satunya lagi." Ucap Ino dan menyikut-nyikut lengan Sakura.
"Sasuke, dia teman Naruto, dia juga temanku, kami sedikit akrab padahal awal pesta keakraban aku sempat mendapat masalah dengannya." Ucap Sakura, dia mulai bercerita pada Ino pertemuan pertama kalinya dengan Sasuke, berjalan menyusuri koridor, mereka tidak ada kegiatan perkuliahan lagi dan akan segera pulang dan besok menikmati libur semester.
"Sakura, bukannya dia Sasuke?" Ucap Ino, menunjuk ke arah taman kampus, di sana ada Sasuke dan Karin yang tengah bercerita. "Karin? Mau apa lagi dia?" Ucap Ino, ingin melabrak Karin, namun Sakura menahannya.
"Jangan, kita tidak harus cari masalah dengannya lagi." Ucap Sakura.
"Tapi, dia bersama Sasuke."
"Tidak apa-apa, Sasuke bebas berteman dengan siapa saja, lagi pula aku bukan ibunya yang harus melarangnya berteman." Ucap Sakura, mereka terus berjalan keluar fakultas, menganggap tidak melihat Sasuke dan Karin.
"Hahahahaha, dasar kau ini, akhirnya kita bisa bersama lagi, aku sungguh merindukanmu, aku kesepian jika tidak ada teman yang sangat akrab." Ucap Ino.
"Kenapa kau tidak mencari teman lain? Bodoh." Ucap Sakura, dan menjitak kepala Ino.
"Susah untuk mencari teman yang benar-benar teman, mereka rata-rata bermuka dua." Ucap Ino.
"Jangan cepat memutuskan sesuatu seperti itu." Tegur Sakura.
Mereka terus berjalan sambil berbincang, Sasuke melihat mereka, fokus pada Sakura dan seakan gadis itu mengabaikannya, apa dia membuat gadis itu cemburu jika dia bersama gadis lain? atau itu hanya perasaannya saja, lagi-lagi, Naruto merusak suasana hatinya.
"Sasuke? Apa kau mendengarkanku?" Ucap Karin, sejak tadi dia berbicara dan tidak ada satu pun ucapannya yang di dengarnya. Mereka tidak sengaja bertemu dan Karin mulai bercerita tentang dirinya yang kadang di tindas di kelasnya, hanya untuk membuat Sasuke merasa ibah, tapi sejujurnya Sasuke tidak serius mendengarnya.
"Ah, aku mendengarnya." Ucap Sasuke. Karin kembali berbicara dan Sasuke terus mendengar apapun yang tidak ingin di dengarnya.
Naruto berjalan lebih cepat menghampiri Sakura.
"Sakura...~" Panggil Naruto dan segera merangkul teman kecilnya itu.
"Wah, tumben kau bersama temanmu, biasanya bersama Sasuke." Ucap Naruto, dia ikut berjalan bersama Sakura dan Ino.
"Halo, namaku Ino, Ino Yamanaka." Ucap Ino. Mengulurkan tangannya ke arah Naruto.
"Aku Uzumaki Naruto." Ucap Naruto, melepaskan rangkulannya dan menjabat tangan Ino.
"Kalau kau mencari temanmu yang bernama Sasuke itu, dia tengah bersama gadis lain." Ucap Ino dan menunjuk ke arah taman. Naruto melihatnya dan memandang malas ke arah Sasuke.
"Ah, paling-paling gadis itu sebentar lagi akan menangis." Ucap Naruto.
"Kenapa?" Ucap Ino.
"Dia tidak pernah tertarik pada gadis mana pun, ucapannya juga selalu kasar jika menolak." Ucap Naruto.
"Hoo, kau benar-benar memahami temanmu itu iya." Ucap Ino.
"Tapi, aku merasa sedikit curiga, kenapa dia betah berada di sekitar Sakura yaa?" Ucap Naruto, berhenti berjalan dan berdiri di depan Sakura, menatap teman SMPnya itu.
"Benarkah? Aku juga jadi penasaran." Ucap Ino, mengikuti gerakan Naruto.
"Kalian mau ku pukul, ha?" Ucap Sakura, kedua tangannya berada di masing-masing wajah Ino dan Naruto, mendorongnya ke depan agar mereka berhenti berwajah curiga seperti itu.
"Ya ampun Sakura, aku akan jatuh tadi." Protes Ino, kembali ke samping Sakura.
"Hahahhaha, aku hanya sedikit curiga saja." Ucap Naruto.
"Berhenti kataku, tidak ada yang aneh dari kami, hanya sebatas teman saja." Ucap Sakura.
"Baik-baik." Ucap Naruto.
"Sa-Sakura..." Panggil seorang gadis dari arah belakang Sakura, gadis berambut softpink ini menoleh dan mendapati Hinata tengah berlari ke arahnya. "Syukurlah masih sempat, aku ingin kembalikan buku catatanmu." Ucap Hinata, dia terlihat kelelahan, mungkin saja dari jauh dia sudah berlari atau berlari mencari Sakura.
"Terima kasih. Padahal kau bisa mengembalikannya saat masuk kuliah lagi." Ucap Sakura.
"Ti-tidak, seharusnya aku yang berterima kasih, aku hanya takut jika catatanmu hilang." Ucap Hinata dan tersenyum.
Naruto tidak bisa berkedip saat melihat gadis dengan rambut darkblue panjangnya ini, dia terlihat begitu manis dan sangat lemah lembut.
"Hei, Naruto, gadis ini yang ku bilang waktu itu." Ucap Sakura pada Naruto yang masih fokus pada Hinata.
"Ah..~ cantiknya." Ucap Naruto spontan dan mendapat jitakan keras dari Sakura.
"Kau mendengarkanku tidak?" Ucap Sakura. Ino hanya tertawa dan Hinata terlihat kebingungan.
"Maaf, jadi dia saudari Neji yaa. Halo, salam kenal namaku Uzumaki Naruto, panggil Naruto saja yaa." Ucap Naruto dan mengulur tangannya ke depan Hinata.
"Uhm..., jadi temannya Kak Neji, salam kenal, namaku Hyuga Hinata, meskipun kami kembar, kak Neji yang lebih dulu keluar." Ucap Hinata, memilih memundukkan wajahnya, dia sedikit malu untuk berjabat tangan dengan Naruto.
"Sudah yaa, sekarang kau harus pergi." Ucap Sakura, dia yang berjabat tangan dengan Naruto dan mendorong pemuda itu untuk pergi.
"Iya-iya, dasar gadis kasar, kau akan jadi perawan tua jika tetap bersikap seperti itu." Ucap Naruto dan Kabur.
"Apa? Apa-apaan dia? di umur segini dan masih saja mengejek." Ucap Sakura, tidak percaya jika sikap nakal Naruto masih tersisa.
"Hahaha, temanmu itu lucu sekali, Jadi? Sekarang apa?" Ucap Ino.
"Kalian mau mampir ke cafe dulu sebelum pulang?" Ucap Sakura.
"Boleh." Ucap Hinata dan tersenyum senang.
"Haa..~ pantas saja temanmu itu tidak bisa berkedip. Hinata asal kau tahu saja, para pemuda di fakultas kita menganggap kau seperti seorang dewi, cantik dan lemah lembut setiap bertutur kata." Ucap Ino.
"Aku tidak tahu sama sekali, di keluargaku, seorang gadis harus seperti ini, jadinya aku terbiasa." Ucap Hinata dan menunduk malu.
"Aku jadi tersinggung." Ucap Sakura, dia tidak mendapat hal seperti itu di rumahnya, menjadikannya sebagai gadis kuat.
"Tenang-tenang, kau tetap yang terbaik Sakura." Ucap Ino dan merangkul manja sahabatnya itu.
Berbincang ringan dan berjalan menuju cafe dekat kampus.
.
.
Setelah dari cafe, mereka berpisah, jalur pulang Ino dan Sakura berbeda, Hinata masih berada di cafe, Neji memintanya menunggu di sana, mereka akan pulang bersama.
"Sakura."
Langkah gadis ini terhenti dan berbalik, Sasuke berjalan ke arahnya, mereka berjalan bersama di sepanjang jalur trotoar.
"Sasuke? Bukannya tadi kau bersama Karin?" Ucap Sakura.
"Uhm, dia hanya sedang bercerita." Ucap Sasuke.
"Kalian terlihat akrab, aku tidak tahu kau berteman dengannya." Ucap Sakura.
"Kami baru saja berteman. Menurutmu dia orang yang seperti apa?" Ucap Sasuke.
"Karin? Aku tidak mau berbohong padamu, dia gadis yang cukup menyebalkan, aku tidak ingin dekat dan tahu apapun tentangnya." Ucap Sakura.
"Kau membencinya?" Ucap Sasuke.
"Benci? Apa kesal dan benci bisa di samakan?" Ucap Sakura.
"Aku rasa berbeda." Ucap Sasuke.
"Terserahlah, intinya kau harus berhati-hati padanya, kalian sedang membicarakan apa?" Ucap Sakura. Dia sedikit penasaran dengan pembicaraan Sasuke.
"Dia menyatakan perasaannya padaku." Ucap Sasuke.
"Wah, dia benar-benar gadis yang berani, lalu? Apa kalian jadian?" Ucap Sakura.
Sasuke menatap Sakura, gadis ini terlihat santai mendengar ucapannya tadi, sepertinya dia tidak bisa berbuat apa-apa jika respon Sakura biasa saja, gadis ini tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
"Aku menolaknya." Ucap Sasuke.
Sudah ku duga, seperti apa yang di ucapkan Naruto tadi, aku rasa Karin sekarang sedang bersedih.
"Kau jahat sekali." Ucap Sakura.
"Aku tidak menyukainya sama sekali." Ucap Sasuke, santai.
"Setidaknya kau harus mencobanya dulu, yaa, aku hanya tahu sikap menyebalkannya, yang lainnya aku tidak tahu." Ucap Sakura.
"Aku hanya menyukaimu." Ucap Sasuke.
"Apa?" Ucap Sakura. Merasa dia salah dengar tadi.
"Pembelokan rumahmu sudah sampai." Ucap Sasuke.
"Oh, iya. Dah, meskipun kita berbeda fakultas, sampai ketemu di semester baru lagi." Ucap Sakura, melambaikan tangannya ke arah Sasuke, berbalik dan buru-buru berjalan.
"Hn." Gumam Sasuke, masih menatap gadis itu berjalan pergi.
Sakura berbalik dan pemuda itu sudah tidak ada, mungkin saja dia berjalan lurus.
Apa kupingku sedang tuli? Jelas-jelas tadi dia mengucapkan jika menyukaiku, ah tidak-tidak, itu tidak mungkin, hahahah, Sakura kau harus sadar, dia tidak mungkin menyukaimu.
.
.
Liburan semester.
Sakura akan mengambil cuti kerja dua minggu sebelum kembali masuk kuliah, gadis ini sibuk bekerja di cafe, setiap harinya, jadwalnya bisa di tambah dan dia akan bebas selama liburan semester, jadwal bertambah dan gaji pun bertambah.
"Pelayan."
"Baik, tunggu sebentar." Ucap Sakura dan segera melayani para pelanggan.
Pekerjaannya akan berakhir pada jam 7 sore, Sakura bekerja cukup keras, teman yang satu kerja dengannya akan tetap masuk dan Fuka sangat terbantu jika cafe sedang ramai.
"Aku duluan." Ucap Sakura, pamit Fuka.
"Hati-hati di jalan." Ucap Fuka.
Berjalan keluar cafe, gadis ini sedikit terkejut dengan Sasuke yang datang dari arah depannya.
"Sudah selesai?" Ucap Sasuke.
"Sudah, apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Sakura.
"Hanya berjalan-jalan dan tidak sengaja melihatmu keluar dari cafe." Ucap Sasuke.
"Apa kau tidak berlibur?" Ucap Sakura.
"Tidak, di sini lebih menyenangkan, apa kau sudah makan?" Ucap Sasuke.
"Belum sih, aku akan makan setelah sampai kost." Ucap Sakura.
"Baguslah, aku butuh teman saat ini." Ucap Sasuke dan mengajak Sakura.
Mobil Sasuke terparkir tidak jauh dari cafe tempat kerja Sakura, meminta gadis itu naik dan detik berikutnya mereka sudah berada di jalan raya.
"Kita akan kemana?" Ucap Sakura.
"Apa kau suka sejenis steak?" Ucap Sasuke.
"Suka." Ucap Sakura.
"Baiklah, kita akan ke salah satu tempat rekomendasiku." Ucap Sasuke.
Tidak beberapa lama, mobil Sasuke berhenti dan terpakir di sebuah parkiran restoran berkelas. Sakura mematung menatap tempat mereka pergi.
Kenapa dia suka membawaku ke tempat yang mahal-mahal seperti ini? dia terlalu boros jika hanya ingin mengajakku makan, mie instan dan onigiri pun sudah cukup.
"Jangan melamun, jika kita terlalu lama, kita tidak akan mendapat tempat." Ucap Sasuke, menarik pelan lengan Sakura untuk mengajaknya masuk.
"Apa tidak ada tempat lain selain tempat ini?" Ucap Sakura.
"Ini keputusanku, apa kau tidak suka tempat yang ku rekomendasikan?" Ucap Sasuke.
"Kau selalu saja berlebihan, tuan." Ucap Sakura dan tertawa pelan.
"Tidak ada yang berlebihan jika kau orang yang aku ajak, kau suka memesan sesuatu yang mahal kan?" Ucap Sasuke dan menahan tawanya, menyinggung kembali ucapan Sakura saat mereka pernah makan bersama.
"Aku hanya bercanda saat itu." Ucap Sakura, wajahnya sudah merona.
Masih ada beberapa meja kosong, interior seperti sebuah hotel mewah, ini hanya restoran berbintang, sikap pelayan yang profesional, Sakura merasa seperti seorang gembel yang masuk ke restoran ini. Melihat buku menu dan membuatnya cukup terkejut, harga satu steak dengan daging berkualitas di mulai dengan harga 300 ribu ke atas.
Aku bisa makan sebulan dengan satu harga steak di sini.
"Sa-Sasuke." Bisik Sakura.
"Apa?" Sasuke ikut berbisik.
"Kau yakin akan makan di sini?" Bisik Sakura.
"Kau tidak suka?" Bisik Sasuke.
"Bukan begitu sih, tapi-"
"-Dua steak yang terbaik." Ucap Sasuke pada pelayan itu.
Selalu saja mengambil keputusan sendiri, tapi aku benar-benar ingin merasakan daging yang berkualitas, rasanya seperti apa yaa...
"Baik tuan, harap tunggu sebentar, kami menyajikan anggur dengan kualitas terbaik, di simpan dalam jangka waktu yang sangat lama sehingga anggur ini memiliki cita rasa tersendiri, mau mencobanya?" Ucap pelayan itu.
"Ah, tolong sedikit saja." Ucap Sasuke.
Pelayan itu menuangkannya ke dalam gelas Sasuke dan gelas Sakura, warna merah pekat yang sangat menggoda, baunya cukup tajam, Sakura merasa ini sekali dalam seumur hidupnya dia akan mencicipi anggur berkelas dan makanan mewah.
"Enaknya...~" Ucap Sakura pelan, dia tidak ingin terlihat norak di restoran ini.
"Kau suka anggur?" Ucap Sasuke.
"Tidak juga, aku hanya tidak pernah mencoba anggur jenis ini." Ucap Sakura. tentu saja, gadis ini sudah sangat bersyukur bisa mencicipi minuman jenis anggur.
"Jangan terlalu banyak, anggur ini memiliki kadar alkohol lebih tinggi dari pada sake." Tegur Sasuke.
"Iya-iya." Ucap Sakura dan tersenyum, kembali meminum sedikit demi sedikit anggurnya, ada sensasi sedikit rasa pahit saat anggur itu meninggalkan lidah. Sakura tidak boleh tergiur dan terlalu banyak minuman.
Tidak lama kemudian, steak mereka sudah datang, porsi yang cukup untuk mengeyangkan perut. Sekali lagi gadis ini akan berucap 'enak', daging steak yang cukup tebal, pikirnya akan alot, tapi tidak sama sekali, matangnya sempurna dan sausnya itu membuat Sakura tidak bisa menahan diri untuk memakannya terus menerus.
Ini yang namanya makanan mahal, meskipun dengan gajiku, aku kan tidak bisa makan enak di sini, Sasuke, kau itu sekaya apa sih? makan saja harus boros begini.
Sasuke menikmati makan malamnya, bukan karena makannya yang enak, tapi melihat wajah gadis di depannya yang begitu menikmati makanannya hingga dia benar-benar menghabiskannya.
"Tambah?" Ucap Sasuke.
"Cukup, aku sudah sangat kenyang." Ucap Sakura, memegang perutnya, dia sudah sangat kenyang dengan satu porsi daging steak itu.
"Aku pikir kau masih kuat untuk makan seporsi lagi." Canda Sasuke.
"Kau ini ingin mengajakku makan atau ingin membunuhku." Ucap Sakura.
"Mungkin dua-duanya." Ucap Sauske.
"Kau tidak pandai bercanda." Ucap Sakura, gadis itu tertawa pelan, dia harus menjaga sikap.
Makan malan berakhir, Sasuke akan mengantar Sakura ke kostnya. Mereka masih berada di perjalanan.
"Kau tidak pulang ke daerah asalmu? Apa kau hanya akan menghabiskan liburan semestermu dengan bekerja?" Ucap Sasuke.
"Aku sudah rencana akan pulang dua minggu sebelum perkuliahan di mulai." Ucap Sakura.
"Uhm..."
Mobil Sasuke menepih, kendaraan ini cukup besar dan tidak bisa sampai pada jalanan sempit di kost Sakura, mobil Sasuke hanya sampai pada pembelokan yang masih memiliki jalan yang lebar, cukup sepi di saat malam hari.
"Terima kasih untuk hari ini, lagi-lagi kau mentraktirku, aku jadi kembali berutang traktiran padamu." Ucap Sakura.
"Hn, kau belum mentraktirku." Ucap Sasuke.
"Iya, aku akan terus mengingatnya, tapi aku tidak sanggup untuk mentraktirmu di tempat seperti itu, sebentar lagi beasiswaku akan keluar, aku akan mentraktirmu yang enak-enak." Ucap Sakura dan tersenyum.
"Aku tidak masalah dengan tempat yang kau rekomendasikan." Ucap Sasuke.
"Ya, aku ikut saja seperti apa yang kau inginkan hehehe." Ucap Sakura.
Sakura mulai beranjak keluar dari mobil Sasuke, gerakannya terhenti, tangan Sasuke menarik gadis itu kembali masuk.
"A-ada apa?" Ucap Sakura, cukup terkejut dengan tindakan Sasuke.
Tidak ada ucapan dari pemuda ini, dia terus menatap Sakura, memajukan wajahnya dan gadis ini segera menutup mulutnya. Sasuke tersenyum dan menjauhkan wajahnya.
"Aku sudah mengatakan padamu sekali dan kau tidak mendengarnya saat mabuk." Ucap Sasuke.
"Mengatakan apa?" Ucap Sakura, tangannya masih belum menjauh dari mulutnya.
"Aku tidak pandai berkata-kata, tapi, mau kah kau memiliki hubungan khusus denganku?" Ucap Sasuke, tatapannya terlihat serius.
"Ha? Hu-hubungan khusus? Pacaran? Apa seperti itu?" Ucap Sakura dan pemuda ini mengangguk, dia tidak berani menatap Sakura, seakan-akan sangat malu. "Kau serius?" Ucap Sakura, lagi, dan kembali Sasuke mengangguk cepat, kali ini dia menatap Sakura.
"Aku sungguh-sungguh padamu." Ucap Sasuke.
"Bagaimana yaa, ini terlalu terburu-buru bagiku, sejujurnya, aku belum begitu memahamimu, tapi kau sedikit aneh, kenapa hanya tertarik padaku?" Ucap Sakura, dia masih sangat mengingat jelas ucapan Naruto tentang sikap Sasuke.
"Kau sedikit berbeda dari gadis lainnya, mereka terus mengejarku dan membuatku muak, kau sama sekali tidak melakukan hal itu." Ucap Sasuke.
"Hehehe, aku jadi sedikit tersanjung, lagi pula buat apa mengejarmu, kau itu bukan seorang dosen yang tengah menggantungkan nilai mahasiswa kan." Ucap Sakura dan terkekeh.
"Benar, aku bukan dosen seperti itu." Ucap Sasuke, menggenggam kedua tangan Sakura, suasana yang tadinya tenang kembali canggung. "Aku tidak pernah merasakan rasa suka ini pada gadis mana pun, kau satu dari banyak gadis yang ku temui." Ucap Sasuke.
"Ka-kau terlalu pandai menggunakan kata-kata romantis." Ucap Sakura, wajahnya sudah merona.
"Jadi?" Ucap Sasuke, wajahnya terlihat penuh harap.
"Sebelumnya dengarkan dulu, aku bukan menerimanya karena kau baik dan mungkin pandangan gadis-gadis lain, kau pemuda yang memiliki segalanya, aku.. aku uhm... menerimamu karena kau tulus padaku, hanya itu saja, kau tidak perlu melakukan hal berlebihan lagi padaku, cukup yang sederhana saja, apa boleh seperti itu?" Ucap Sakura.
"Hn, apapun itu, asalkan bisa bersamamu." Ucap Sasuke.
"Baiklah, selamat malam, a-aku sudah harus pulang." Ucap Sakura, dia sudah bisa bebas dan pergi cepat mungkin, jantungnya sudah deg-degan setengah mati tadi, Sasuke menyatakan perasaannya langsung, bagaimana rasanya jika dia akan bertemu Sasuke besok atau di tempat kuliah, tingkahnya akan semakin canggung.
.
.
.
.
.
Beberapa hari berlalu.
"Kau ke sini lagi?" Ucap Sakura, saat melihat Sasuke tengah menunggunya di luar cafe.
"Kenapa? Saat malam hari cukup berbahaya jika seorang gadis berjalan sendirian, lagi pula aku ingin menemanimu pulang." Ucap Sasuke.
Haa..~ aku lupa, dia sekarang adalah pacarku, kenapa waktu terasa begitu singkat, perkenalan, pertemanan, dan berakhir dengan hubungan khusus, apa langkahku sudah tepat?
Tangan Sasuke menggenggam tangan Sakura, gadis itu sedikit terkejut, ingin melepaskan tangan Sasuke, tapi tangan pemuda itu menggenggamnya cukup erat.
"Apa bergandengan tangan membuatmu risih?" Ucap Sasuke, mereka tengah berjalan santai menuju kost Sakura.
"Tidak, aku hanya belum terbiasa." Ucap Sakura menunduk malu.
"Biasakanlah, aku akan sering-sering menggenggam tanganmu." Ucap Sasuke.
"Dasar." Ucap Sakura dan menepuk pelan lengan Sasuke.
Rintik-rintik air berjatuhan, awalnya tidak terlalu deras, lama kelamaan.
"Hujannya sangat deras." Ucap Sakura, mereka sudah tiba di kost Sakura dengan berlarian sepanjang jalan, baju Sasuke dan Sakura basah. "Masuklah, sebaiknya bajumu di keringkan dulu." Ucap Sakura.
Sasuke mengikuti Sakura masuk, gadis ini sudah membuka pintu dan menyalakan saklar lampunya, setelah mereka masuk dan bergegas mengunci pintu, hujan turun di sertai angin kencan. Sakura sudah mulai mengeringkan baju Sasuke, sementara itu pemuda ini hanya akan memakai selimut saja, beruntung pakaian dalamnya masih selamat dan tidak basah. Sementara Sakura mengganti baju, pemuda ini menyamankan diri di dekat meja Sakura, dia kembali mendapat aroma cherry pada selimut yang di kenakannya.
"Kau tidak mengeringkan rambutmu?" Ucap Sakura, melihat rambut Sasuke yang masih basah. "Kau ini apa anak kecil? sini biar aku mengeringkannya." Ucap Sakura dan tersenyum, berjalan menghampiri Sasuke dan duduk di dekatnya, mengusap perlahan rambut hitam itu dan menggosoknya sedikit agar air pada rambutnya sedikit mengering.
Kegiatan gadis ini terhenti, mereka saling berharapan dan mata onyx itu terus menatap ke arah Sakura.
"Tu-tunggulah sampai hujannya redah." Ucap Sakura, dia sedikit panik saat ini, beberapa kamar sedang sepi, mereka tengah pulang ke daerah masing-masing, hanya tinggal beberapa orang yang masih menetap di kost dan tidak pergi berlibur.
"Kau takut padaku?" Ucap Sasuke.
"Takut? Tidak, aku tidak takut sama sekali." Ucap Sakura. dia harus terus berpikir positif jika Sasuke benar akan melindunginya dan tidak melakukan hal aneh-aneh padanya, gadis ini mulai beranjak dan menjemur handuk itu. "Jika kau kedinginan naiklah di kasur." Ucap Sakura.
Sasuke mengikuti perintah Sakura, duduk di lantai cukup dingin.
"Apa masih kedinginan? Maaf aku tidak punya baju yang cocok untuk ukuranmu." Ucap Sakura. melirik badan Sasuke, badan pria ini jauh lebih besar dari tubuh Sakura, wajahnya sedikit merona, tubuh Sasuke begitu bagus.
"Hn, tidak apa-apa, mungkin jika kau berada di samping, akan lebih hangat." Ucap Sasuke.
Sakura tersenyum malu, tapi ucapannya tidak di abaikan, gadis itu berjalan ke arah kasur dan kembali duduk di sebelah Sasuke yang tengah menyelimuti dirinya.
"Aneh, tiba-tiba saja hujan deras." Ucap Sakura, mencari topik pembicaraan. Sasuke terdiam, Sakura melirik ke arahnya, pemuda ini seperti sudah menahan kantuk. "Sebaiknya kau menginap, aku tidak ingin terjadi apa-apa saat kau menyetir pulang." Ucap Sakura, dia sedikit khawatir.
"Sakura."
"Hm?"
Gadis ini berbalik dan sebuah ciuman mendarat di bibirnya, hanya ciuman singkat.
"Apa kau masih tidak takut padaku?" Ucap Sasuke, matanya terlihat sayup, antara mengantuk dan ingin mengganggu Sakura.
"Seperti yang aku katakan tadi, aku tida-"
Kembali Sasuke mencium Sakura, sedikit lama dan akhirnya menjauh. Gadis itu terdiam, mereka saling bertatapan. Ada sesuatu yang menggeletik di perut Sakura saat bibir Sasuke berada pada bibirnya.
"Ja-jangan lakukan yang lebih dari ini." Pinta Sakura, wajahnya sudah sangat merona.
"Hn." gumam Sasuke, kembali memajukan wajahnya. Bibir mereka saling menempel, mengecup berkali-kali satu sama lain, mendorong pelan tubuh Sakura, dan menindihnya, tidak ada kegiatan lain, Sasuke bisa menahan dirinya, dia akan melakukan seperti yang Sakura inginkan, tidak lebih dari sebuah ciuman, ciuman biasa dan lama-lama menjadi sebuah ciuman yang menuntut, ini untuk pertama kalinya bagi Sakura, dia pasrah dengan apa yang di lakukan Sasuke pada mulut dan wajahnya, pemuda ini tidak membiarkan nafsu menyelimutinya, memberi kepercayaan pada Sakura dengan menyatuhkan kedua tangan mereka agar tidak ada pergerakan nakal dari kedua tangan pemuda ini. Ciuman panas mereka terhenti sejenak, Sakura butuh oksigen, membiarkan gadisnya itu menghirup udara sebentar dan kembali mencium Sakura hingga dia benar-benar puas.
Setelah kegiatan itu, Sasuke berbaring di sebelah Sakura, membiarkan gadis ini tidur dalam dekapannya. Rasanya sungguh luar biasa, berciuman dengan orang yang kau sukai akan seperti ini, ada sensasi tertentu yang di rasakan Sasuke, bersyukur dengan Sakura yang sudah tertidur, wajahnya sangat merona saat ini, mengingat kembali ciuman keduanya dengan Sakura.
Apa aku sungguh mencintaimu?
.
.
TBC
.
.
update...~
untuk chapter ini segini dulu, semoga perkembangannya alur fic ini tidak terkesan terburu-buru, sejujurnya author ingin segera ada si kecil Sarada... mau ceritain kisah mereka bertiga, tapi tanpa sadar sudah sampai di chapter segini, author terlalu larut menceritakan kisah sasu-saku dulu, =_=" lumayan panjang untuk flasbacknya. berharap tidak bosan untuk tetap di ikuti..
.
.
author sedang senggang jadi balas review dulu, eh yg baca gadis kuil dan para pengikutnya, sudah update yo *promosi lewat*
.
Younghee Lee : Update..~
mantika mochi : makasih, XD
Dolphin1099 : sip sip makasih, okey, sudah lanjut yoo.
alif yusanto : see you next chapter lagi..
arisa kajitani : OwO itu film favorit author, sejujurnya awalnya hanya tahu dari webtoon, dan ternyata ada filmnya, hehehe, yup, author terinspirasi Cheese in trap (webtoon), suka alur ceritanya, pengen buat sifat Sasuke kayak jung, tapi kok susah banget yaa,, nanti lah, coba ambil sedikit sifat jung, doakan author semoga bisa, hahahahha :D
sitieneng4 : heheh, syukurlah tidak flat XD, di chapter ini saku-ino sudah temanan yaa.
DeShadyLady : update lagi XD
wowwoh-geegee : Sasuke bertindaknya santai aja tuh, hahahahha
sasori's babe : mereka udah jadian... :D :D
guest : update, makasih :)
sakuraishite : update. :)
bakayaroo : Sarada, moga dua chapter lagi deh, author kelamaan bikin flashback, terlalu fokus sama sasu-saku, harap bersabar yooo.
Amamiya Rizumu : iya-iya, udah santai kok, hehehehe, tapi kepikiran aja, kalau ada ide alur langsung di ketik, soalnya author tipe pelupa akut, :D :D update.
Renzki : update.
.
.
see you next chapter lagi yaa.
