Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
-Tolong dong, baca warningnya-
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
Catatan : Author bukan seorang mahasiswa keperawatan atau pun kedokteran, jadi tolong tegur jika ada kesalahan dalam penulisan mata kuliah dari salah satu fakultas yang author cantumkan, heheheh.
.
.
Don't Like Don't Read !
.
.
~ Tomato, cherry dan salad~
[ Chapter 6 ]
.
.
.
Apa ini sudah pagi? Ya aku rasa, mungkin sebentar lagi, cafe baru akan buka jam 9 pagi, memeluk erat bantal gulingku, tunggu, bantal gulingku tidak terasa bantal yang empuk? Dan kenapa ada bau parfum maskulin dari bantalku?
Gadis berambut sofpink ini membuka matanya perlahan, tatapannya cukup terkejut, segera melepas pelukannya pada tubuh pemuda di hadapannya, mundur secara tiba-tiba, sontak kepala dan punggungnya menabrak meja yang berada si samping kasur gadis ini.
Bughhtt.
"A-aduuhh..." Rintih sakura dan meringkuk di sana.
Sasuke membuka matanya perlahan setelah mendengar suara cukup keras di sampingnya, tidur menyamping dan menatap Sakura tengah memegang kepalanya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Sasuke. Hanya bagian bawahnya tertutup selimut dan membuat gadis di hadapannya merona menatap tubuh bagian atas pemuda ini.
"Ti-tidak ." Ucap Sakura dan bergegas bangun, dia lupa jika sudah tidur dan berbagi kasur dengan Sasuke. "Akan aku ambilkan pakaianmu dulu." Lanjut gadis ini dan berjalan cepat ke arah tempatnya menjemur pakaian Sasuke.
Pemuda ini masih berbaring, perasaannya sedikit tidak enak, memegang jidatnya dan dia terserang demam. Sakura sudah kembali dan menatap Sasuke masih berbaring di sana.
"Sebaiknya kau harus pulang, aku akan ke cafe sebentar lagi." Ucap Sakura, menghampiri Sasuke dan memberikan pakaian milik Sasuke yang sudah kering.
"Hn." Gumam Sasuke pelan dan beranjak bangun, memakai kaosnya dan dan celana jinsnya, gadis ini segera memalingkan wajah saat Sasuke akan mengenakan celananya, selimut sudah jatuh di lantai dan jins Sasuke sudah pada tempatnya. "Bisa minta segelas air, tenggorokanku sedikit kering." Ucap Sasuke.
"Oh, iya." Ucap Sakura, berjalan ke arah dapurnya dan mengambil segelas air dari botol, kembali pada Sasuke yang masih duduk di kasur, wajah pemuda itu terlihat sedikit aneh. "Ini minumlah." Ucap Sakura, memberikan gelas itu, tangannya sedikit bersentuh dengan tangan Sasuke, Sakura merasa ada yang tidak beres pada pacarnya ini. Tangannya spontan naik dan memegang jidat Sasuke. "Kau demam? Kenapa tidak katakan sejak awal?" Ucap Sakura, dia terlihat sangat khawatir.
"Tenanglah, aku tidak apa-apa." Ucap Sasuke setelah meneguk habis air minumnya.
"Ini semua salahku, seharusnya kau tidak perlu mengantarku pulang dan membuatmu ikut kehujanan." Ucap Sakura. Pemuda ini tersenyum menarik pelan Sakura dan memeluknya erat.
"Aku baik-baik saja." Ucap Sasuke.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
4 detik.
5 detik.
"Pa-panas!" Ucap Sakura dan mendorong pelan tubuh Sasuke, masih pagi dan dia sudah mendapat sentuhan dari Sasuke, wajahnya merona. Tapi tubuh Sasuke benar-benar panas. "Apa kau bisa menyetir?" Tanya Sakura, memastikan Sasuke akan bisa pulang sendiri.
"Ah, ini bukan apa-apa, aku masih bisa berkendara." Ucap Sasuke.
"Setelah tiba di rumah, kau harus minum obat dan istirahat." Ucap Sakura.
"Iya, aku rasa kau tidak perlu memberi peringatan pada seorang mahasiswa calon dokter." Ucap Sasuke.
"Issh, aku hanya khawatir padamu, calon dokter." Ucap Sakura.
Sasuke sudah pulang, Sakura hanya mengantarnya sampai di depan jalur kostnya, Sasuke tidak ingin di antar sampai dimana mobilnya di parkir, gadis ini akan beres-beres sebentar dan bersiap untuk ke cafe, melipat selimutnya, yang awalnya bau cherry sekarang menjadi bau parfum milik Sasuke.
Apa dia akan baik-baik saja?
Gadis ini masih tetap khawatir, meskipun dia tahu, mereka sama-sama mahasiswa dari bagian kesehatan, hanya saja beberapa orang suka merasa dia akan baik-baik saja, orang kesehatan pun kadang tidak luput dari kecerobohan saat mereka benar-benar sakit.
.
.
Cafe Fuka.
Sesekali Sakura melirik jam dinding yang tergantung pada dinding cafe, membersihkan meja dan melayani setiap pelanggan yang datang. Perasaannya sedikit tidak enak membiarkan Sasuke di rumah dalam keadaan sakit.
"Ada apa Sakura?" Tanya Fuka, saat Sakura tengah membawa piring dan gelas kotor.
"Tidak ada apa-apa." Ucap Sakura. Dia bergegas membawa piring dan gelas itu, kembali ke meja dan melapnya hingga bersih, gara-gara kepikiran Sasuke gadis ini jadi sedikit kurang fokus, Fuka menyadarinya dan sebelum kena teguran, Sakura harus menyelesaikan pekerjaan, dia harus bersikap profesional, sedikit tidak adil jika Fuka menggajinya dengan baik dan Sakura tidak bekerja dengan baik.
Pukul 19:04
"Terima kasih atas kerja samanya hari ini." Ucap Fuka, Sakura, dan satu pegawai lagi.
"Eh? Kau tidak di jemput pemuda itu?" Tegur Fuka, dia melihat pemuda itu terus menemui Sakura setelah selesai bekerja.
"Oh, dia sedang sakit, jadi tidak mungkin dia bisa datang, hehehe." Ucap Sakura, sedikit malu saat mendapat teguran itu.
"Jadi? Apa dia pacarmu? kalian terlihat begitu serasi." Goda Fuka.
"Be-begitulah, heheheh." Ucap Sakura, dia sudah sangat malu dan canggung, Fuka orang pertama yang mengetahui Sakura dan Sasuke sudah menjadi pasangan kekasih.
"Sebaiknya kau menjenguk dia, biasanya jengukan dari pacar itu lebih ampu dari sebuah obat." Ucap Fuka. Sakura semakin di buat malu.
"Iya, nanti aku akan menjenguknya, aku duluan yaa." Ucap Sakura, membungkuk sedikit di depan Fuka dan beranjak pulang.
Berjalan menuju kostnya, cafe hari ini sangat ramai dan membuat Sakura sedikit lelah, meregangkan otot tangannya, melirik ke arah jam, merogok ponselnya dan dia cukup penasaran, seharian ini Sasuke tidak menghubunginya. Langkahnya terhenti, dia jadi semakin khawatir sebelum memastikan Sasuke baik-baik saja, berlari ke arah apotek untuk membeli plester obat peredah panas dalam kemasan tinggal tempel pada jidat, menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi Naruto, jika dia menghubungi Sasuke, pemuda itu pasti akan keras kepala seperti tadi pagi dia selalu mengatakan 'baik-baik saja' dalam keadaan panas tinggi.
"Sakura? ada apa kau menghubungiku?" Ucap Naruto.
"Uhm... apa kau tahu alamat rumah Sasuke?"
"Alamat Sasuke? untuk apa kau ke sana?"
"Itu, uhm... a-anu ada barang milik Sasuke yang sempat aku pinjam dan aku harus mengembalikannya." Bohong Sakura.
"Barang apa?"
"Kau tidak perlu tahu, pokoknya katakan saja dimana rumah Sasuke."
"Iya-iya, jangan marah seperti itu, apa mau aku saja yang mengantarmu."
"Naruto, aku tidak ada waktu untuk menunggumu, cepatlah, di mana alamat Sasuke."
"Kau gadis yang tidak bisa lembut sedikit yaa, baiklah, aku akan mengirimnya lewat pesan, eh, kapan kau akan pulang?"
"Dua minggu sebelum masuk kuliah, ada apa?"
"Oh, nanti aku datang ke rumahmu yaa."
"Baiklah, aku akan menunggumu di rumahku saja, kau tidak lupa jalan ke tempat tinggal lamamu?"
"Tentu saja, aku tidak akan lupa."
"Ya sudah, dah."
Sakura sudah mematikan ponselnya, Naruto menatap sejenak ponsel miliknya, merasa sedikit aneh dengan Sakura yang ingin meminta alamat rumah Sasuke, bukan kah mereka bisa bertemu setelah liburan, merasa ini bukan urusannya, Naruto menganggap hal itu tidak penting, tapi mungkin mengajak Sasuke ke rumah Sakura akan jauh lebih baik.
:: Naruto.
Teme, aku akan ke rumah Sakura sebelum liburan berakhir, kau mau ikut bersamaku?
:: Sasuke.
Ok.
"Dasar, bukan cuma cara bicaranya saja yang irit, tapi pesan balasannya pun sangat-sangat singkat." Ucap Naruto, menyimpan ponselnya setelah mengirim pesan alamat Sasuke pada Sakura dan kembali sibuk bermain game Psnya.
Sementara itu, Sakura sudah menunggu di halte bus, dia sudah membeli beberapa bahan masakan dan obat untuk Sasuke, pesan Naruto sudah masuk, alamat rumah Sasuke tidak terlalu jauh, tapi sebaiknya di tempuh dengan menaiki kendaraan umum, jika di tempuh dengan berjalan akan sangat lama.
Alamat rumah Sasuke cukup strategis dengan tempat pemberhentian bus, tinggal menyeberang dan jalan sedikit, Sakura tidak tahu jika di tempat seperti ini ada apartemen yang terlihat cukup mewah, seperti sebuah gedung hotel. Pintu kaca masuk yang bergeser otomatis, ada satpam yang berjaga 24 jam di samping pintu masuk, gadis ini berjalan dan berhenti sejenak di tempat penjagaan.
"Apartemen nomer 105, nona tinggal naik lif, setelah dari lif lurus saja dan belok kanan, di sana dereten apartemen dari nomer 100." Ucap satpam penjaga itu.
"Terima kasih." Ucap Sakura.
Berjalan ke arah lif, bahkan di apartemen ini ada lif. Sesuai dari penjelasan penjaga di bawah, Sakura berjalan menyusuri apartemen dari angka pintu nomer 100, langkahnya terhenti di depan pintu nomer 105, memencet bel dan menunggu orang di dalamnya untuk membukakan pintu, terdengar suara kunci yang di putar, pintu itu terbuka perlahan dan memperlihatkan Sasuke dengan wajahnya yang sangat memerah, bukan dia sedang malu, tapi panasnya semakin tinggi dan dia tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya semakin nyeri dan Sasuke memilih berbaring sepanjang hari di kasurnya.
"Sakura?"
"Maaf, aku datang tanpa katakan padamu terlebih dahulu, aku yakin kau tidak akan membiarkanku datang." Ucap Sakura.
"Ini sudah malam, aku tidak bisa membiarkanmu berkeliaran di malam hari." Ucap Sasuke, tenggorokannya sedikit gatal dan batuk beberapa kali.
"Aku sudah terlanjur datang, apa kau akan membiarkanku di luar?" Ucap Sakura. Sasuke belum mengajaknya masuk.
"Ah, masuklah." Ucap Sasuke, berjalan perlahan dan duduk di sofa.
"Apa kau sudah minum obat?" Ucap Sakura,
"Sudah." Ucap Sasuke dan lagi dia batuk-batuk.
Sakura berjalan masuk dan memperhatikan apartemen Sasuke, jauh lebih luas, ruang tamu, ruang tv, ruang dapur dan makan, kamar tidur dan kamar mandi, semuanya terlihat rapi di sini. Meskipun seorang laki-laki, Sakura tidak menyangka apartemen Sasuke akan serapi dan sebersih ini, berjalan ke arah dapur dan meletakkan barang belanjannya, setelahnya, menghampiri Sasuke dan duduk di sebelahnya.
"Aku rasa obatmu tidak berefek, gunakan ini." Ucap Sakura, mengambil sesuatu yang sudah di belinya di apotek tadi, membuka bungkusannya dan menempelkan pada jidat Sasuke. "Berbaringlah, aku jadi tidak tenang saat melihat keadaanmu." Ucap Sakura.
"Aku ba-"
"-Tidak ada yang baik-baik saja, kau sakit dan itu tidak baik." Ucap Sakura, memotong ucapan Sasuke. "Haa..~ Maaf, uhm, dimana selimutmu?" Ucap Sakura. Sasuke menunjuk kamar yang pintunya terbuka, Sakura beranjak ke sana dan mengambil selimut Sasuke yang terlihat begitu berantakan di atas kasur Sasuke, mengambil juga sebuah bantal, menyelimuti Sasuke dan memberi bantal pada bawah kepala Sasuke. "Istiratlah, apa kau sudah makan?" Ucap Sakura.
"Aku tidak ingin makan apapun." Ucap Sasuke.
"Aku akan membuatkan sesuatu untukmu, apa kau mau makan bubur?" Tanya Sakura.
"Tidak perlu, aku tidak suka bubur, nasi akan jauh lebih baik." Tolak Sasuke.
"Tidak boleh makan nasi dulu, uhm... bagaimana kalau sup?" Ucap Sakura.
"Sup? Sup tomat saja kalau begitu." Ucap Sasuke.
"Sup tomat? Kau ini aneh juga." Ucap Sakura.
"Nasi saja."
"Iya-iya, aku akan membuatkanmu sup tomat." Ucap Sakura, keputusan akhir, jika tidak Sasuke akan maka nasi.
Sakura mulai berjalan ke arah dapur, mengeluarkan bahan-bahan masakannya dari kantong, bahan yang akan di gunakan untuk membuat bubur jadinya di gunakan untuk membuat sup tomat, tapi Sakura lupa membeli tomat.
"Aku akan pergi membeli tomat dulu." Ucap Sasuke, bersiap pergi.
"Tidak perlu, tomat ada banyak di kulkas." Cegat Sasuke sebelum gadis ini keluar.
Sakura membuka kulkas Sasuke dan membuatnya mengerutkan kedua alisnya, dua rak isinya tomat, hanya tomat, tomat cherry dan tomat buah, terlihat begitu segar dan merah matang.
"Aku tidak tahu kalau kau itu maniak tomat." Ucap Sakura.
"Hanya mereka buah favoritku." Ucap Sasuke.
"Kau sangat aneh, di saat orang menyukai buah apel, anggur, stroberi atau yang lainnya dan kau malah tomat." Ucap Sakura dan tertawa pelan.
"Tomat itu tidak terlalu manis dan rasanya agak masam, aku tidak suka sesuatu yang manis-manis." Ucap Sasuke.
"Baiklah, akhirnya aku mengetahui sesuatu darimu." Ucap Sakura dan tersenyum, selama mereka mulai pacaran, Sakura baru mengetahui keanehan pacarnya itu, dia suka tomat dan benci manis-manis, Sakura mengingat Sasuke saat memesan parfait stroberi dari cafe tempatnya bekerja dan di berikan padanya, Sasuke memang tidak suka semacam itu, dan sengaja memesan untuknya.
Sakura mulai memasak, Sasuke memilih tidur, dia tidak bisa menahan diri lagi untuk tetap sadar, rasa kantuk mendominasi. Detik-detik berlalu Sakura mencicipi sedikit supnya dan sudah pas untuk rasanya, didihkan sedikit lagi dan mematikan kompornya, mengambilnya sedikit ke dalam mangkuk dan membawakannya pada Sasuke beserta segelas air hangat.
"Sasuke, bangunlah, kau harus makan dulu." Ucap Sakura.
Pemuda ini membuka matanya, menatap Sakura yang duduk di sofa tempatnya tengah berbaring, tangan gadis itu memegang sejenak pipi Sasuke, panasnya jauh lebih turun dari pada sebelumnya.
"Merasa lebih baik?" Ucap Sakura.
"Hn."
Sakura membantu Sasuke untuk bangun dan duduk, gadis ini memberikan mangkuk yang di beri alas agar tidak terasa panas, sup panas yang mulai menghangat.
"Apa aku tidak akan mendapatkan pelayanan dari seorang calon perawat? Kau bisa langsung peraktek padaku." Ucap Sasuke.
"Kau hanya pasien demam yang tidak perlu pelayanan khusus." Ucap Sakura.
"Sepertinya aku kurang beruntung, berikutnya aku harus sakit lebih-"
Sakura segera menutup mulut Sasuke dengan tangannya, wajahnya terlihat tidak senang saat Sasuke akan mengucapkan sakit lebih parah.
"Jangan katakan seperti itu, demam pun membuatku tidak bisa tenang, seharian di cafe dan hanya memikirkanmu." Ucap Sakura, menundukkan wajahnya. Pemuda ini tersenyum, melepaskan tangan gadisnya itu dan mencium punggung tangannya, wajah Sakura sedikit merona melihat perlakuan Sasuke.
"Maaf, sudah berucap yang tidak-tidak." Ucap Sasuke.
"Tapi, kau harus tetap makan sendiri, cepatlah, saat sup ini masih hangat, dia akan membantumu mengeluarkan keringat, demammu akan cepat turun." Ucap Sakura, dia tidak akan membuat Sasuke manja padanya.
"Hn."
Sasuke mulai memakan supnya sedikit demi sedikit, Sakura duduk di sebelahnya, menunggu hingga pacarnya ini selesai makan.
"Enak?" Ucap Sakura.
"Uhm, lumayan. Aku tidak tahu kau bisa masak, seharusnya kau sering-sering membuatkanku makanan." Ucap Sasuke.
"Mungkin lain kali aku akan membuatkanmu bekal." Ucap Sakura dan tersenyum.
Sasuke menghabiskan supnya dan kembali berbaring, Sakura masih berada di sisinya, duduk menatap pemuda ini. Sasuke meminta Sakura untuk mengusap puncuk kepalanya perlahan.
"Aku harus pulang." Ucap Sakura, sudah sangat malam, gadis ini harus bergegas.
"Menginaplah di sini, aku akan mengantarmu besok." Ucap Sasuke.
"Tidak perlu, aku akan pulang saja, besok setelah bekerja aku akan datang berkunjung lagi." Ucap Sakura.
Sasuke menarik pelan tubuh Sakura dan membuat gadis ini berbaring di atas dada Sasuke.
"Kau sungguh keras kepala." Ucap Sasuke, mengeratkan pelukkannya.
"Aku pikir kau jauh lebih keras kepala." Ucap Sakura dan tersenyum, dengan posisi seperti ini, dia bisa mendengar suara dekat jantung Sasuke, begitu tenang, menyamankan diri sejenak, sebelum dia benar-benar akan pulang.
Setelahnya, Sakura pamit pada Sasuke, dia akan pulang naik bis dan tidak menginjinkan Sasuke keluar untuk mengantarnya, sebuah kecupan ringan di jidat Sakura sebelum dia pergi. Gadis ini merasa sangat senang, memiliki pacar tidak buruk juga, dia hanya takut jika pacar akan mengganggu kehidupannya, hal itu yang selalu di ucapkan dari ibunya berkali-kali.
.
.
Esok harinya, sepulang kerja, Sakura kembali mendatangi apartemen Sasuke dan mengecek suhu tubuhnya. Demamnya sudah turun dan Sasuke mulai terlihat jauh lebih baik, kemarin wajahnya sedikit pucat dan kadang-kadang akan batuk.
"Syukurlah demammu sudah turun." Ucap Sakura.
"Ya, ini berkat calon perawat yang baik hati." Goda Sasuke dan mendapat cubit di lengannya.
"Sebentar lagi aku akan pulang ke rumahku, apa yang kau akan lakukan untuk menghabiskan liburan? Apa kau tidak pulang ke rumahmu?" Ucap Sakura.
"Aku akan di Konoha saja, pulang ke rumah hanya membuatku kesal, aku sedikit tidak akrab dengan kakakku." Ucap Sasuke.
"Kakak? Kau punya kakak?"
"Hn, dua bersaudara, serasa hanya dia yang bisa andalkan, bahkan itu ayahku, selalu mengharapkan semuanya berjalan baik, aku tidak kesal padanya, hanya iri saja, dia akan akan berbicara seakan-akan dia adalah ayah, aku tidak suka akan sikap kerasnya padaku." Ucap Sasuke, wajahnya terlihat serius.
"Aku rasa kakakmu hanya ingin yang terbaik untukmu, jangan katakan seperti itu, kau tahu, aku hanya anak tunggal dan tidak pernah merasakan bagaimana punya kakak atau adik, kadang selalu merasa iri." Ucap Sakura, Sasuke menatap gadis itu yang bercerita tentang dirinya. Mereka jadi saling terbuka akan keluarga masing-masing. "Ayahku sudah lama meninggal, ibuku jadi bekerja keras, aku jadi tidak tega melihatnya seperti itu." Ucap Sakura.
"Makanya kau selalu berusaha bekerja keras dan mendapat beasiswa. Aku rasa aku sangat beruntung memilikimu." Ucap Sasuke dan merangkul Sakura.
"Apa yang kau lakukan? Sudah sana." Ucap Sakura, mencoba melepaskan Sasuke dan rangkulannya semakin erat.
"Tidak akan, terima kasih sudah merawatku." Ucap Sasuke, menyamankan dirinya di bahu Sakura. lagi-lagi ada aroma cherry di sana, Sasuke mulai menyukai bau familiar itu, meskipun bau itu terkesan manis untuknya, setidaknya itu tidak masuk pada mulutnya tapi pada penciumannya.
"Sebaiknya kau tidak perlu sering-sering menjemputku, aku akan pulang sendiri saja." Ucap Sakura.
"Aku selalu katakan padamu, malam hari itu cukup berbahaya, lagi pula hanya sampai kau libur saja kan, setelah itu, kita akan bertemu beberapa minggu hingga perkuliahan di mulai." Ucap Sasuke.
"Akhir-akhir ini kau jadi berubah yaa."
"Apa?"
"Jadi semakin cerewet, apa kau tertular Naruto?"
"Aku tidak ingin tertular orang seperti dia."
"Tapi dia temanmu kan."
"Bukan."
"Bukan?"
"Hn, dia sahabatku."
"Aku pikir apaan, dasar." Ucap Sakura dan mendorong-dorong bahu Sasuke.
Cup...~
Tingkah Sakura terhenti. Sasuke menciumnya sepintas tanpa aba-aba, menundukkan wajahnya dan dia merasa malu.
"Akhirnya.." Ucap Sasuke.
"Akhirnya? Apa?" Ucap Sakura, bingung.
"Aku tidak akan bisa menciummu jika sedang sakit, kau akan tertular."
"Sasuke!" Ucap Sakura, wajahnya semakin merona dan kembali mendorong keras bahu pemuda itu, berakhir dengan mereka saling berpelukkan seperti tak ingin melepaskan satu sama lain.
.
.
.
.
.
Kereta berhenti di stasiun perbatasan kota Suna dan Konoha, Sakura meregangkan otot-otot tangannya, cukup lelah menunggu lama di dalam kereta, dia sampai ketiduran, Sasuke mengantarnya tadi sebelum berangkat, mendapat pelukkan sejenak dan membuat gadis ini sedikit malu, mereka hanya tidak akan bertemu beberapa hari, bukan beberapa tahun, terlalu romantis untuk di lihat beberapa penumpang di sekitar stasiun
Bergegas berjalan ke arah rumahnya, hari masih siang, ibunya masih bekerja, Sakura sudah menghubungi ibunya jika dia akan pulang hari ini, Sakura sudah membawa kunci cadangan jika sewaktu-waktu dia akan pulang.
Membuka pintu dan gadis ini memilih untuk istirahat di kamarnya, mengambil ponsel miliknya dan mengirim pesan pada Sasuke.
:: Sakura.
Aku sudah sampai.
:: Sasuke.
Hn, selamat berlibur.
:: Sakura.
Sebaiknya kau pulang menengok orang tuamu.
:: Sasuke.
Ah, akan ku lakukan nanti.
:: Sakura.
Itu jauh lebih baik 3
:: Sasuke.
Kiss & hug for you.
Dasar...
Tersenyum menatap ponselnya dan detik berikutnya Sakura sudah tertidur, dia baru mendapatkan waktu istirahatnya yang benar-benar istirahat.
.
.
Berselang beberapa hari Sakura setelah pulang ke rumahnya.
Tok tok tok
Ketukan di depan pintu rumahnya, Mebuki sedang kerja dan Sakura sendirian di rumah tengah beres-beres, membuka pintunya dan mendapati dua orang pemuda di sana.
"Sasuke?" Ucap Sakura, dia sangat terkejut dengan siapa yang datang, nama Sasuke duluan yang keluar dari mulutnya.
"Hey, aku ada di sini, kau tidak melihatku." Ucap Naruto.
"Iya, aku melihatmu, kenapa kau mengajak Sasuke?" Ucap Sakura.
"Tidak enak jika berkendara sendiri, terlalu sepi makanya aku membawa Sasuke, seharus kau senang, aku membawanya." Ucap Naruto.
"Ha? Tu-tunggu dulu, Naruto kau masuk, Sasuke aku ingin bicara padamu." Ucap Sakura, menarik Naruto masuk dan mengajak Sasuke keluar. Pintu sudah tertutup dan membuat Naruto bingung.
"Ada apa dengannya? Ya sudahlah, waah, sudah lama sekali tidak ke rumah Sakura, masih tetap seperti yang dulu." Ucap Naruto, karena rumah kosong, dia bisa seenaknya duduk di sofa dan beristirahat.
Sementara itu, Sakura membawa Sasuke sedikit jauh dari rumah dan berbicara dengannya.
"Kenapa kau bersama Naruto?" Ucap Sakura.
"Dia yang mengajakku." Ucap Sasuke, santai.
"Dasar anak itu." Ucap Sakura, Naruto sama sekali tidak memberitahukannya jika Sasuke akan ikut. Tentu saja kalau di ajak, dia akan langsung pergi.
"Kenapa? Kau hanya berharap dia datang dan aku tidak boleh ke rumahmu?" Ucap Sasuke, tatapannya terlihat tidak senang.
"Bukan seperti itu, aku belum mengatakan pada ibuku, lagi pula dia akan marah besar jika aku punya pacar." Ucap Sakura, sedikit menundukkan wajahnya.
"Kalau begitu tidak perlu katakan kan, cukup diam saja." Ucap Sasuke.
"Sasuke, kau tidak apa-apa seperti itu?" Ucap Sakura.
"Hn, aku tidak senang jika kau pun ikut kena marah." Ucap Sasuke.
Uhuk, aku semakin mencintaimu Sasuke.
"Maaf, mungkin setelah lulus, aku baru bisa memperkenalkanmu pada ibuku." Ucap Sakura dan tersenyum malu.
"Akan aku tunggu saat itu." Ucap Sasuke. "Tidak ada pelukkan selama datang untukku?" Lanjut Sasuke.
"Tidak akan, di deretan sini semua mengenalku, mereka akan lapor pada ibuku jika melihat ku memeluk seorang pemuda di jalan." Ucap Sakura
"Baiklah, aku akan menahannya sampai kembali ke Konoha." Ucap Sasuke dan mendapat cubit di pinggangnya
Kembali ke rumah, mereka mendapati Naruto yang tertidur pulas di sofa.
"Apa dia sangat kelelahan?" Ucap Sakura.
"Dia yang tahu jalan dan dia yang menyetir dari Konoha." Ucap Sasuke.
"Kasihan juga yaa." Ucap Sakura, "Oh kantong apa ini?" Ucap Sakura mendapati kantong besar di dekat sofa.
"Oh, katanya ibu Naruto menitipkan ini untuk ibumu." Ucap Sasuke.
Sakura membuka kantongan besar itu dan beberapa buah dan ada cake juga di sana.
"Ibu Naruto masih seperti dulu, dia selalu memberikan sesuatu seperti ini." Ucap Sakura.
"Uhm, Naruto tinggal di mana saat masih di sini? Ibu kalian sepertinya cukup akrab." Ucap Sasuke.
"Dua deret dari sebelah rumahku, karena sering ke sekolah bersama, ibu Naruto jadi sangat mengenalku." Ucap Sakura, "Eh tunggu dulu, Naruto tidak tahu kalau kita-"
"-Tidak, dia belum tahu." Ucap Sasuke.
"Ah syukurlah, jangan di beri tahu, dia sungguh cerewet jika bercerita." Ucap Sakura.
"Hmm. Apa ini kamarmu?" Ucap Sasuke berjalan masuk ke dalam satu ruangan.
"Iya, masuklah, aku menaruh cake dan buah ini dulu." Ucap Sakura.
Sasuke masuk ke dalam kamar Sakura, di sana di penuhi banyak barang dan cukup ramai, hal yang wajar untuk beberapa gadis, seperti biasa, Sasuke mendapati aroma khas milik Sakura, duduk di ranjang gadisnya dan melihat-lihat sekitar, ranjangnya cukup kecil dan hanya cocok untuk satu orang. Sakura sudah kembali dan melihat Sasuke yang tengah mengamati kamarnya.
"Aku tidak pernah mengubah kamarku sejak SMP, hanya seperti ini terus dan beranjak SMA semakin banyak benda yang ku letakkan di dalam." Ucap Sakura dan duduk di sebelah Sasuke.
"Aku rasa kamar ini mencerminkan dirimu, banyak hal dalam dirimu yang tidak bisa di ketahui oleh siapapun." Ucap Sasuke.
"A-aku seperti itu? hehehehe, aku sendiri tidak bisa memahami diriku sendiri." Ucap Sakura.
"Ibumu dimana?" Ucap Sasuke.
"Ibu bekerja, dia akan pulang jam 4 sore, sekarang masih jam 2 siang, Naruto juga jika tidur seperti itu dia akan lama bangun." Ucap Sakura.
"Kau sungguh memahami Naruto ya?" Ucap Sasuke
"Semua kelakuannya sering aku lihat saat masih satu sekolah." Ucap Sakura.
"Aku sedikit iri padanya, dia jauh lebih dulu mengenal dirimu." Ucap Sasuke.
"Kau cemburu? Cemburu pada Naruto?" Ucap Sakura, dia tengah menahan tawa.
Cup..~
"Hn, aku cemburu padanya." Ucap Sasuke dan menatap Sakura, mata mereka saling bertemu. Wajah Sakura cepat sekali merona.
Sasuke terdiam sejenak, gadisnya ini akan langsung tenang jika di ciumnya, kembali mencium singkat dan pelan bibir Sakura.
"Sasuke, ada Naruto, dia akan melihat kita." Ucap Sakura.
Sasuke beranjak dari kasur dan penutup pintu kamar Sakura, berjalan menghampiri Sakura dan duduk di sebelahnya lagi.
"Bagaimana?" Ucap Sasuke.
Sakura hanya menundukkan wajahnya, semakin malu di buat pemuda ini, tangan kekarnya mengangkat dagu Sakura, menempelkan bibir mereka dan menciumnya pelan, seperti setengah mengecup, berkali-kali, hingga membuat mereka saling memejamkan mata dan hanya ada sentuh pada bibir mereka.
"Sas-" Mulut Sakura segera di tutup oleh tangan Sasuke, dia menarik Sakura untuk duduk di atas pangkuannya dan saling berhadapan.
"Shhtt.~ Naruto akan bangun." Bisik Sasuke, Sakura bisa melihat lebih dekat mata hitam kelam itu, setelah gadisnya mengangguk, Sasuke baru melepaskan tangannya.
"Ja-jangan berlebihan." Bisik Sakura, dia semakin malu dengan posisi mereka.
"Hn, aku hanya sedikit merindukanmu." Ucap Sasuke, memeluk erat gadisnya itu. Sakura juga membalas pelukkannya.
Wajah Sasuke mendekat ke arah leher Sakura dan mengecupnya, mengecup berkali-kali dan Sakura harus menutup mulutnya, ruangan kamarnya harus tenang, kecupan itu menjadi sebuah ciuman hanya ciuman, Sasuke tidak akan memberikan kissmark di sana atau di manapun, dia harus mengingat posisi Sakura yang tidak ingin ketahuan oleh ibunya jika memiliki pacar. Suasananya jadi berubah, tubuh masing-masing merasa sedikit panas, Sakura menghembuskan napas beratnya, dia harus tetap sadar agar bisa menegur Sasuke, kembali menyatuhkan bibir mereka, ciuman yang lebih dalam, hingga Sakura mendorong pelan tubuh Sasuke untuk berhenti sejenak, menatap satu sama lain, kedua tangan Sasuke berada pada pinggang Sakura dan gadisnya ini mengalungkan lengannya pada leher Sasuke.
"Kita baru beberapa hari tidak bertemu Sasuke." Ucap Sakura.
"Sehari pun akan sama." Ucap Sasuke.
"Kau akan bosan jika terus bertemu denganku." Ucap Sakura dan tertawa pelan.
"Tidak akan bosan jika itu kau." Ucap Sasuke, kembali memajukan wajahnya.
Bughht...
Terdengar sesuatu yang jatuh di ruang tamu, Sakura buru-buru turun dari atas Sasuke dan membuka pintu kamarnya, melihat ke luar di ruang tamu, Sasuke mengikutinya dari belakang dan berdiri di sebelah Sakura, melihat apa yang sudah terjadi.
"Aduh..~ Kepalaku jadi sakit." Ucap Naruto, dia terjatuh dari sofa.
Sakura tertawa keras melihat temannya itu, jantungnya hampir copot jika saja mereka akan ketahuan di kamar tadi.
"Seharusnya kalian membangunkanku." Ucap Naruto, menggosok-gosok belakang kepalanya.
"Maaf-maaf, tidurmu sangat nyenyak jadi aku tidak tega membangunkanmu." Ucap Sakura dan kembali tertawa lepas.
.
.
"Terima kasih sudah repot-repot datang berkunjung." Ucap Mebuki pada Naruto.
"Tidak masalah bibi, aku juga sedikit rindu pada daerah ini." Ucap Naruto.
"Kalian satu fakultas?" Ucap Mebuki, menatap ke arah Sasuke dan Naruto.
"Iya, dia juga teman SMAku." Ucap Naruto.
"Wah, jadi enak yaa, kau akan kembali bertemu dengan orang yang akrab denganmu." Ucap Mebuki.
Mereka tengah makan malam bersama, Mebuki merasa sedikit senang, suasana rumah yang cukup ramai dengan adanya Naruto yang cukup heboh untuk bercerita dan temannya yang terlihat sangat tenang, menurut Mebuki mereka sangat cocok menjadi sahabat, si pendiam dan si ribut.
"Kalau Sasuke tinggal dimana?" Ucap Mebuki, di sela-sela makannya.
"Aku tinggal di kawasan Uchiha dan memilih mengambil apartemen di Konoha agar tidak terlalu jauh untuk pulang balik kampus." Jelas Sasuke.
"Uhm, dari kawasan yaa, kawasan Uchiha juga cukup jauh, terima kasih ya kalian sudah mau jadi teman Sakura meskipun beda fakultas." Ucap Mebuki.
"Teman Naruto, temanku juga." Ucap Sasuke.
"Tentu saja bibi, Sakura itu harus lebih banyak berteman agar dia tidak terus-terusan berteman dengan buku-buku." Ucap Naruto dan kakinya di bawah mendapat tendangan Sakura.
"Jangan asal mengoceh." Ucap Sakura dan menatap horror pada Naruto.
"Maaf-maaf." Ucap Naruto.
Mebuki tertawa pelan, mereka masih terlihat seperti masih satu sekolah.
"Menginaplah di sini, masih ada kamar kosong untuk kalian berdua, kalian masih libur kan? Sasuke harus berjalan-jalan di daerah sini, sebelum pulang." Ucap Mebuki.
"Baik bibi, aku akan mengantar Sasuke mengelilingi kota perbatasan ini." Ucap Naruto semangat.
.
.
Sasuke menguap beberapa kali, dia tidak tahu jika tidur Naruto sangat-sangat buruk, berpikir jika bagaimana bisa Shikamaru tahan tidur dengan Naruto yang tidak bisa diam di kasurnya sendiri, saat pemuda periang itu menginap, hari ini masih hari kerja dan Mebuki sibuk di kantor, mereka bertiga akan berjalan-jalan di sekitar daerah perbatasan ini, Sasuke baru kali ini berjalan-jalan, mereka akan singgah di beberapa tempat wisata dan tujuan utamanya adalah kebun binatang yang selalu membawa hewan-hewan baru.
"Apa kau begadang semalam?" Ucap Sakura pada Sasuke.
"Lain kali aku akan mengikatnya di tiang agar tidak perlu banyak gerak." Ucap Sasuke dan memicingkan mata ke arah Naruto.
"Ha? Apa? kau mau ikat apa di tiang Sasuke?" Ucap Naruto.
"Bukan urusanmu." Ucap Sasuke.
"Uhk, aku hanya bertanya, kenapa kau begitu kesal." Ucap Naruto.
"Sudahlah, Sasuke sedang tidak mood karena kurang tidur semalam." Ucap Sakura.
"Oh, benarkah, aku tidak sadar karena terlalu nyenyak. Hehehe." Ucap Naruto
Ya tentu saja dan kau membuat Sasuke kesusahan tidur.
Kebun Binatang Suna.
"Kenapa di sebut kebun binatang Suna yaa, padahal ini masih daerah perbatasan." Ucap Sakura, dia baru saja menyadari hal itu.
"Yang aku dengar saat peresmiannya walikota Suna yang mengambil alih dan itu sudah di anggap sah oleh walikota Konoha." Ucap Naruto.
"Hmm..."
Mereka terus berjalan, memperhatikan beberapa satwa liar yang di lindungi. Sakura baru lagi datang ke kebun binatang ini, terakhir saat dia masih TK untuk wisata, Sasuke sibuk memperhatikan Sakura, Naruto berkeliaran melihat satwa lain.
"Uhm, anoo, apa kakak mahasiswa?" Ucap seorang gadis. Sasuke melirik ke arah mereka dan beberapa gadis-gadis bergerombolan berdiri di samping Sasuke.
"Hn, aku mahasiswa Konoha." Ucap Sasuke.
"Waah, mahasiswa Konoha." seru para gadis-gadis itu.
"Fakultas apa kak?"
"Kedokteran." Ucap Sasuke singkat, dia sendiri bingung kenapa para gadis-gadis ini mengerumuninya. Mereka heboh berada di dekat Sasuke, mengucapkan dia kak mahasiswa yang tampan, Sasuke lebih sibuk memperhatikan Sakura yang tengah mengamati kandang beruang.
Naruto mencari Sasuke dan menemukannya di kerumuni gadis-gadis seperti dia artis yang tengah liburan.
"Selalu saja, mau di mana pun, dia akan tetap di datangi para gadis-gadis." Ucap Naruto, menatap malas ke arah Sasuke, kembali fokus melihat seekor gorilla yang tengah menyantap makanannya.
kembali pada Sasuke.
"Apa kakak sendirian saja? Kenapa sampai jauh-jauh ke daerah sini, apa di Konoha tidak ada kebun binatang?"
"Aku hanya di ajak kemari." Ucap Sasuke.
"Bo-boleh kami mengambil foto?"
"Maaf, tidak bisa." Tolak Sasuke, dia mulai muak dengan keadaan ini, berharap Naruto atau Sakura segera menyelamatkannya sebelum dia mengamuk pada gadis-gadis yang sepertinya masih SMA.
"Wah, aku tidak tahu kalau di sini pun kau memiliki banyak fans." Ucap Sakura.
Para gadis itu terdiam dan memandangi Sakura, gadis yang terlihat biasa, tapi wajahnya cukup cantik.
"Aku lelah, bisakah kita istirahat sejenak?" Ucap Sasuke, beranjak dari kerumunan gadis-gadis itu, menarik tangan Sakura dan menggenggamnya. "Maaf aku harus pergi." Ucap Sasuke pada para gadis-gadis yang mulai membaca situasi, gadis yang memanggil kakak tampan itu mungkin saja pacarnya, mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
"Sasuke, apa yang kau lakukan? Naruto-"
"-Hanya agar mereka cepat kecewa." potong Sasuke. Sakura ingin berbalik dan di tahan Sasuke, mungkin maksud Sasuke para gadis itu membuatnya tidak senang.
"Kau sungguh kejam." Ucap Sakura.
"Hn? Kau belum tahu kejamku seperti apa." Ucap Sasuke dan menatap Sakura, ada sebuah seringai yang terlihat jelas oleh Sakura, membuat gadis ini cukup terkejut. Segera melepaskan tangannya dan berjalan ke arah Naruto, mengelilingi tempat ini dan berakhir pada cafenya untuk istirahat.
Mereka akan menginap semalam lagi dan pulang besok paginya, saat malam hari, Sasuke sudah siap dengan mengikat Naruto ke dalam kasurnya, ini akan membuatnya bisa tidur nyenyak, Naruto tidak akan bergerak dan menendangnya jika di gulung seperti kue gulung dalam kasur lantai.
Sakura menutup mulutnya saat melihat apa yang Sasuke lakukan, meredam tawanya agar tidak ribut, ini sudah tengah malam, Sakura hanya ingin memastikan Sasuke tidur nyenyak, hanya ada kepala Naruto yang terlihat dari ujung kasur, dia pun tertidur tanpa terusik dengan posisinya yang di gulung dalam kasur.
"Selamat malam." Bisik Sakura.
Sasuke berjalan cepat dan mencium sepintas bibir Sakura.
"Selamat malam." Bisik Sasuke.
Sakura pergi dari kamar itu dengan wajah merona, semua sudah tidur dan tidak ada yang melihat tingkah mereka tadi.
.
.
TBC
.
.
update...~
kapan ada saradanya ini woii..., hahahahah, jangan tanya author dulu, ini sudah chapter 6 dan perkembangan mereka sangat-sangat lambat, tak apa, tolong nikmati saja apa yang sedang author buat. XD maaf jika abang Sasu sedikit tidak sabaran, author tahu kalian nunggu lemon kan, hayoo...~ bohong deh kalau nggak ada yang nunggu * digampar rame-rame* sabar...~ semua butuh waktu dan proses, emang Saku gadis apaan langsung main ranjang aja, mereka kuliah baik-baik dulu lah. ahahahahha *Kabur*
author balas review yang bertanya aja yaaa. ada nggak ?
Amamiya Rizumu : Pasangan buat mereka ? uhm,,, author tampung dulu.
nggak ada yang bertanya lagi okey, deh terima kasih banyak untuk...
sukasukasaku
jey
Guest
sasori's babe
Guest
DeShadyLady
VolumeKubus13
Guest
hanazono yuri
suu
Hyuugadevit-Cherry *getok biar mesumnya hilang* XD
Dolphin1099
wowwoh-geegee
mantika mochi
Yume shin
Amamiya Rizumu
Younghee Lee
sitieneng4
A panda-chan
.
.
See you next chapter... ^_^
