Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
-Tolong dong, baca warningnya-
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
.
.
.
Don't Like Don't Read !
.
.
~ Tomato, cherry dan salad~
[ Chapter 7 ]
.
.
.
"Akhirnya, aku sangat merindukanmu." Ucap Ino dan memeluk Sakura.
"Kita hanya tidak bertemu sepanjang liburan." Ucap Sakura, menepuk pelan jidat Ino.
"Ya-ya, aku hanya benar-benar merindukanmu. Bagaimana liburanmu?" Ucap Ino, mereka tengah berjalan di koridor bangunan fakultas.
"Biasa saja, aku habiskan dengan bekerja hingga waktu liburan hampir habis, aku pulang ke rumah." Ucap Sakura, dia tidak akan menceritakan saat Sasuke dan Naruto berkunjung ke rumahnya, mereka hanya orang-orang yang sepintas datang di rumah Sakura.
"Kau sungguh pekerja keras dan mandiri." Ucap Ino, dia sungguh salut pada sahabatnya ini.
"Bagaimana dengan liburanmu?" Ucap Sakura.
"Aku hanya berlibur di rumah, kadang jika bosan aku akan jalan-jalan, itu saja." Ucap Ino.
"Hoo, eh, jadwal kuliahmu, coba aku lihat." Ucap Sakura, meminta kertas jadwal mata kuliah Ino, memperlihatkan kertas itu dan hanya beberapa kelas mereka akan bersama. "Ah, ini buruk, kita akan sulit bekerja sama lagi." Lanjut Sakura.
"Tidak apa-apa, mungkin kita bisa saling bantu meskipun beda dosen." Ucap Ino.
"Baiklah, untuk semester ini mohon kerja samanya." Ucap Sakura, berhenti berjalan membungkuk di hadapan Ino, begitu juga Ino dan mengucapkan hal yang sama dengan Sakura, mereka berdua tersenyum, saling merangkul bahu dan kembali berjalan.
Untuk hari ini masih terasa seperti awal semester biasanya, mereka hanya akan membahas kontrak perkuliahan bersama dosen, Sakura tidak sekelas dengan Ino saat ini tapi dia bersyukur jika Hinata ternyata satu kelas dengannya.
"Mo-mohon kerja samanya Sakura." Bisik Hinata.
"Mohon kerja samanya juga." Bisik Sakura, mereka tersenyum bersama, melirik ke arah sekitar dan sialnya gadis ini satu kelas dengan Karin, ini sebuah bencana baru menurut Sakura, berharap tidak akan ada tugas kelompok, kalau pun ada, Sakura tidak ingin satu kelompok dengan Karin.
Kelas berakhir, sebelum keluar Sakura ingin melihat jadwal mata kuliah Hinata, hanya beberapa juga yang satu kelas. Tidak buruk juga, beberapa mata kuliah mereka bertiga akan berkumpul dan ada satu mata kuliah yang Sakura benar-benar sendirian, berharap dia bersama orang yang akrab dengannya.
.
.
Saat ini Ino masih berada di kelasnya, hari pertama dan dosennya sudah mulai mengajar, Ino belum siap mental dan sudah di uji mentalnya, Sakura akan menunggu Ino di taman kampus, sesekali dia akan mengatur jadwal kerjanya dan kuliah agar tidak bertabrakan.
"Yo, Sakura-chan...~" Sapa Naruto dan berjalan ke arah Sakura.
"Ada apa? Apa kau tidak ada kelas sampai harus mendatangiku?" Ucap Sakura, tidak menatap Naruto dan tetap sibuk pada tumpukkan kertasnya.
"Jika teman melihat teman tentu saja akan saling menyapa." Ucap Naruto, duduk di sebelah Sakura. "Apa yang sedang kau lakukan?" Lanjut Naruto.
"Hanya membagi waktu kerjaku dan waktu kuliah." Ucap Sakura.
"Kau sangat rajin, eh, uhm... oh iya, apa kau satu kelas dengan Hinata?" Ucap Naruto, wajahnya sedikit merona dan tidak ingin menatap Sakura, Sakura menghentikan kegiatannya dan menatap Naruto.
"Ada apa dengan Hinata?" Ucap Sakura, menatap curiga ke arah Naruto.
"Bu-bukan begitu, aku hanya tanya saja, jika kau satu kelas, sering-seringlah mengajak Hinata bersamamu, kau cukup mudah aku lihat di area kampus." Ucap Naruto.
"Dengar baik-baik Naruto, aku tidak akan membiarkan gadis polos dan baik hati seperti Hinata dekat-dekat denganmu." Ucap Sakura.
"Kenapa? Aku tidak melakukan apa-apa padanya." Ucap Naruto.
"Kau cukup cereboh, Hinata akan ketularan dirimu." Ucap Sakura.
"Apa kau tidak bisa baik sedikiiiiiit saja pada sahabatmu ini?" Ucap Naruto.
"Tidak."
"Ish, apa aku harus berusaha sendiri?" Ucap Naruto.
"Ya terserah kau saja, tapi jika kau macam-macam pada Hinata, aku akan membuat wajahmu tak terlihat seperti Naruto pada umumnya." Ucap Sakura.
"Iya, aku takut padamu, sudah puas?" Ucap Naruto.
"Hahaha, kau ini ada-ada saja, kau kan akrab dengan kakak Hinata, kenapa tidak mendekati kakaknya dulu." Ucap Sakura.
"Neji itu sangat benci jika ada seseorang yang coba-coba dekati adiknya, aku tidak tahu apa yang akan di lakukannya padaku." Ucap Naruto, mengingat saat dia ingin meminta nomer ponsel Hinata pada Neji dan hanya di jawab 'Mati saja kau', Naruto jadi merinding sendiri, tatapan Neji seakan bisa menguburnya hidup-hidup.
"Wah, aku tidak menyangka jika kakak Hinata tipe orang over protektif pada adiknya." Ucap Sakura.
"Makanya aku memintamu." Ucap Naruto.
"Aku sibuk." Ucap Sakura.
"Yaa... Eh? Sasuke?" Ucap Naruto, topik pembicaraan mereka berubah, Naruto melihat Sasuke yang berjalan dari arah dekat perpustakaan bersama seorang gadis berambut merah. "Bukannya mereka sering terlihat bersama?" Ucap Naruto.
"Siapa?" Ucap Sakura dan menoleh, mereka cukup jauh, tapi Sakura bisa melihat jika itu Sasuke dan Karin.
"Apa kau tahu, aku sering melihat mereka seperti itu, sepengetahuanku gadis itu satu fakultas denganmu kan, yaa bahkan di awal-awal semester baru ini mereka sudah semakin dekat, Sasuke juga tidak risih padanya, padahal dia itu dulunya cukup benci jika ada gadis yang sok-sok akrab padanya." Jelas Naruto.
"Aku tidak peduli pada mereka." Ucap Sakura, kembali fokus dengan apa yang di kerjanya tadi.
"Apa mereka pacaran yaaa? Jangan-jangan mereka pacaran." Ucap Naruto.
Aku tidak akan mendengarkan ucapan Naruto, dia terlalu bodoh untuk sekedar berkesimpulan, lagi pula pacar Sasuke berada di dekatnya, Naruto bodoh.
"Ada apa? Kau tidak cemburu?" Naruto menggoda Sakura dan berakhir dia mendapat jitakkan keras di kepalanya.
"Kembali ke fakultasmu! Kau hanya mengganggu." Kesal Sakura.
"Hoaa... Sakura ngamuk, kalau gitu dah... sampaikan salam ku pada temanmu itu yaa." Ucap Naruto dan pergi.
Dasar Naruto, selalu saja seperti itu, tapi untuk apa Karin selalu berada di dekat Sasuke? Mereka bahkan beda fakultas, apa sih yang di inginkan gadis menyebalkan itu, dia selalu mencari sensasi dan masalah di sekitarku. Ah..~ lupakan Sakura, kau harus fokus pada kesibukanmu sendiri, jangan mengurus orang lain.
"Sakura..." Panggil seseorang, Sakura menoleh dan mendapati Ino menghampirinya.
"Sudah selesai?" Ucap Sakura.
"Sudah, ini benar-benar uji mental dadakan, mana dosennya galak lagi, sepertinya aku salah mendapatkan dosen." Ucap Ino, duduk di sebelah Sakura, menyandarkan punggungnya dan sedikit merosot, dia seperti sudah mendapat musibah duluan, dosen yang tegas dan displin.
"Sudahlah, jalani saja dengan ikhlas, biasanya dosen galak tapi nilainya bagus. Bukankah semester-semester lalu seperti itu, tapi tidak semuanya sih." Ucap Sakura dan terkekeh.
"Ya baiklah, aku harus berusaha, eh, kau tahu dua jadwal mata kuliahku ada Karin, Tidak... musibah berkali lipat." Ucap Ino.
"Kau pikir hanya jadwal mata kuliahmu saja, aku pun begitu." Ucap Sakura.
"Padahal aku sudah berharap tidak sekelas dengan orang seperti itu." Ucap Ino, seakan dia sudah sangat dendam pada Karin.
"Sudah-sudah, anggap saja dia tidak ada, hahahaha." Ucap Sakura.
"Benar, aku setuju. Ayo kita makan sekarang, tenagaku sudah terkuras saat dosen tadi." Ucap Ino, membuat tubuhnya lemas.
"Baiklah." Ucap Sakura, menyimpan rapi kertas-kertasnya di dalam tas dan berjalan dengan Ino ke arah kantin kampus.
Tiba di kantin kampus, di sana cukup ramai, Ino jadi tidak makan di sana dan meminta Sakura untuk makan di kedai dekat kampus, sebelum pergi, keduanya sempat melihat, lagi-lagi Karin bersama Sasuke, tapi mereka tidak hanya berdua, ada seorang pemuda lagi yang berambut putih lurus dan warna pupil ungu, dia terlihat begitu heboh di sana, Sasuke menanggapinya dengan santai.
"Selera makanku jadi tidak enak di sini, kita memang sebaiknya ke kedai." Ucap Ino, menarik Sakura yang melamun untuk bergegas.
Berjalan ke arah kedai yang berada di dekat gerbang keluar kampus, Sakura kembali mengingat ketika Sasuke makan bersama Karin, pikirannya melayang dan seakan-akan ucapan Naruto hampir mendekati kebenaran, mungkin, berpikir jika Sasuke memang memiliki hubungan khusus dengan Karin, seperti yang sudah sering Naruto katakan, Sasuke itu tipe yang risih dekat dengan para gadis, bagaimana dengan Karin? Dia sangat mudah mendekati Sasuke.
"Ada apa sih dengan gadis itu? Seakan-akan seluruh lelaki hanya miliknya, sekarang dia bersama teman Naruto yang anak kedokteran, kau tahu, anak-anak lain sering mengatakan jika Karin itu tipe playgirls, tidak ada satu pemuda yang berlama-lama dengannya, benar-benar gadis yang tidak tahu malu. Kalau tidak ingin berada di fakultas keperawatan, setidaknya dia di fakultas kedokteran saja dan menyebar kebusukkannya di sana." Ucap Ino, Sakura tidak menanggapinya, dia hanya terdiam dan terus-terusan menghela napas. "Ada apa Sakura?" Ucap Ino, Sakura terlihat aneh sejak mereka ke kantin tadi.
"Eh? Ti-tidak, aku hanya sedang memikirkan jadwal pekerjaanku, hehehe, aku harap tidak ada yang bertabrakkan." Bohong Sakura.
"Hoo, begitu yaa, jangan di pikirkan sekarang, kita harus pikirkan makan dulu." Ucap Ino.
Mereka sudah tiba di kedai, tidak terlalu ramai, memesan makanan dan minuman, mereka akan menunggu sambil bercerita. Sakura sedikit merindukan Sasuke, setelah liburan kuliah berakhir, mereka sempat tidak bertemu dari pengurusan mata kuliah hingga masuk kuliah, Sakura tidak tahu apa yang sedang Sasuke lakukan, dia pun masih canggung untuk sekedar mengirim pesan duluan atau menghubungi Sasuke, pemuda itu pun sama, Sakura tidak pernah mendapat pesan atau Sasuke yang menghubunginya duluan.
"Sakura!" Panggil Ino, Sakura terlihat hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Ah, iya?" Ucap Sakura, tangannya tidak sengaja menyenggol gelas minumannya dan menumpahkannya pada celana seseorang yang tengah lewat di sisi meja Sakura. "Oh, maaf-maaf." Ucap Sakura, dia segera mengambli tissu dan mencoba melap, tapi tangan pemilik celana yang sudah basah itu menghentikannya. Sakura memandang ke atas dan melihat seorang pemuda dengan tatapan tenangnya, seperti tatapan milik Sasuke, tapi dia bukan Sasuke.
"U-U-Utakata-senpai , maafkan dia, dia tidak sengaja." Ucap Ino, dia pun ingin membantu Sakura, tetap saja pemuda ini tidak ingin ada yang menyentuh celananya yang sudah basah.
"Tidak apa-apa, biarkan saja, aku tahu kau hanya melamun dan tidak sengaja." Ucap Utakata, hanya ada tatapan datar dan tenang di sana, dia pun tidak terlihat marah.
"Maaf." Ucap Sakura, berdiri dan membungkuk 90 derajat di depan seniornya itu.
Utakata memilih pergi setelah Sakura benar-benar menyesali perbuatannya, dia pun tidak sadar jika itu adalah senior di fakultasnya. Utakata tidak terlalu pusing dengan keadaan tadi, dia bisa mengganti celananya di rumahnya, kebetulan saat itu dia pun akan pulang.
"Kau sungguh beruntung Sakura, asal kau tahu saja, senpai Utakata itu cukup di takuti beberapa mahasiswa, dia selalu terlihat tenang dalam keadaan apapun, makanya tidak ada yang berani-berani mengusik dia, seperti pepatah mengatakan air yang tenang menghanyutkan, jika sudah semester depan nanti, kita akan memakai seragam perawat dan dia akan menjadi ketua tingkat kita untuk setiap praktek." Ucap Ino, mereka mulai menyantap pesanan mereka yang sudah datang dan minuman Sakura yang sudah tumpah tadi segera di gantikan.
"Uhm... memangnya Utakata-senpai itu seperti apa orangnya?" Ucap Sakura, sedikit penasaran.
"Kadang memberi tugas yang banyak, dia tidak ingin ada kesalahan apapun dalam praktek, jika tidak, dia akan marah besar dan menghukum dengan menggunakan tugas menghapal sampai kepalamu rasanya mau pecah, dia sungguh tegas dan displin, dua kali lipat lebih galak dari dosenku yang tadi." Ucap Ino, menceritakan setiap curhat dari beberapa senior yang pernah berhadapan langsung dengan Utakata.
"Kau tahu banyak juga tentang senior yaa." Ucap Sakura.
"Tentu, kau sendiri terlalu akrab dengan buku-buku perpustakaan, makanya kau pasti tidak mengetahui siapa-siapa senior di fakultas kita." Ucap Ino.
"Hehehe, aku lebih senang mengenal buku-buku perpustakaan saja." Ucap Sakura.
"Harusnya tahun lalu dia sudah tidak ada di fakultas lagi, dia sudah lulus, dan semester depan kita tidak perlu bertemu dengannya, tapi mungkin dia tetap mengambil jabatan sebagai ketua tingkat praktek, orangnya cukup jenius dan para dosen sangat mengandalkannya." Ucap Ino.
"Berdoalah dia sudah menjadi baik sekarang, mungkin saat itu, dia tertekan untuk menjadi ketua tingkat dan seorang mahasiswa yang akan lulus, semacam gangguan emosional dan malah melampiaskannya pada mahasiswa yang di awasinya." pikir Sakura.
"Mungkin saja, berharap dia tidak galak lagi." Ucap Ino.
Menghabiskan makan siang mereka, Sakura dan Ino akan berpisah di depan kedai, jalur rumah yang berbeda, Sakura akan segera pulang, dia tidak ada kegiatan lagi di kampus hari ini.
Berjalan menyusuri trotoar jalur rumah kostnya, lagi-lagi menghela napas dan wajahnya cemberut, seharusnya hari ini Sasuke menemuinya, bukan malah menghabiskan waktu berdua bersama Karin, dia sungguh tidak senang dengan gadis itu.
"Merindukanku?" Ucap seseorang yang tiba-tiba merangkul Sakura.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Sakura, mencoba melepaskan rangkulan pemuda itu, tapi dia tetap merangkul Sakura dan tidak ingin melepaskannya meskipun Sakura memaksa.
"Ada apa, hn?" Ucap Sasuke.
"Tidak ada apa-apa." Ucap Sakura, menghentikan aksinya dan menundukkan wajah.
"Oh, apa perlu sebuah pelukkan?" Ucap Sasuke.
"Hentikan itu, ini jalanan dan aku tidak suka di lihat orang-orang." Ucap Sakura, wajahnya sedikit malu, Sasuke terlalu berani mengumbar hubungan mereka di depan umum.
"Hanya bercanda. Dari mana saja? aku tidak melihatmu dari tadi." Ucap Sasuke, pemuda ini hanya berbohong, dia sempat melihat Sakura keluar kanting dan buru-buru menyelesaikan makannya untuk segera bertemu Sakura, tidak memperdulikan Karin dan meninggalkannya bersama Suigetsu.
Sakura memutar bola matanya, malas, jelas-jelas mereka bisa saling melihat di taman, tapi mungkin karena Sasuke yang terlalu sibuk bersama Karin, dia jadi tidak sempat melirik ke arah lain.
"Bukan urusanmu." Ucap Sakura, cuek.
Sasuke terdiam, Sakura terasa aneh hari ini, dia tidak biasanya akan menanggapi cuek ucapan Sasuke, gadis ini terlihat sedikit marah atau sedang memendam kekesalannya.
"Ya sudah, kita akan bertemu lagi." Ucap Sasuke, memilih meninggalkan Sakura, dia tidak bisa menemui Sakura di saat gadis ini sedang tidak mood, Sasuke merasa dia hanya pengganggu dan malah menambah rusak suasana hati Sakura.
Sakura menatap pemuda itu pergi, dia benar-benar pergi hanya dengan ucapan 'Bukan urusanmu', Sakura mengacak rambutnya frustasi, dia pun bingung sikap Sasuke begitu saja, seperti tidak peduli jika dia sedang cemburu atau semacamnya, Sakura segera menutup mulutnya, yang terlintas di pikirannya adalah dia tengah cemburu, wajahnya merona, mengambil langkah yang cepat, dia ingin segera tiba di kamar kostnya, tidak bermaksud berpikiran seperti itu, dia hanya benar-benar tidak senang jika Karin berada di dekat Sasuke.
Sasuke berbalik dan melihat gadis itu berlari secepat mungkin, seakan ingin menghindar darinya, dia pun tidak tahu apa yang sedang di pikirkan Sakura, hanya Sakura yang membuatnya tidak bisa membaca gerak-geriknya, gadis itu seakan di penuhi hal-hal tertutup dan semakin membuat Sasuke penasaran, mungkin lain waktu dia harus menemui Sakura, sesuai permintaan Sakura sebelum mereka kembali ke Konoha, gadis ini tidak ingin ada yang tahu jika mereka pacaran, Sakura hanya ingin suasana tentram di fakultasnya maupun di fakultas Sasuke, gadis ini tahu, Sasuke memiliki banyak fans di fakultasnya, dia bisa menjadi pemicu masalah antar fakultas jika mereka tahu kebenarannya, awalnya Sasuke menolak, dia tidak peduli jika hubungan mereka di tahu seluruh mahasiswa di fakultas atau pun di kampus, tapi sekali lagi, Sakura ingin semuanya aman-aman sebelum dia lulus, Naruto bisa asal ceplos pada ibunya.
Permintaan yang konyol dan membuat Sasuke tidak bisa sering-sering berdekatan dengan Sakura seperti saat liburan, mereka bisa bersama, namun saat ini Sakura hanya akan fokus pada pekerjaannya dan kuliahnya, Sasuke kembali berjalan, tidak ada pilihan lain selain mendengarkan ucapan orang yang di cintainya, dia menghargai ucapan Sakura.
.
.
.
.
.
"Eh, Karin, apa benar kau pacaran dengan anak fakultas kedokteran yang tampan itu yaaa." Ucap beberapa mahasiswa yang sibuk bergosip dengan Karin di kelas, dosen belum masuk dan mereka akan bebas beberapa menit. Sakura hanya terdiam dan tidak akan menanggapi apapun dari sekedar gosip belaka para mahasiswa itu.
Mata kuliah hari ini, Sakura sekelas dengan Karin dan sialnya tidak Hinata atau pun Ino yang sekelas dengannya, memilih membaringkan kepalanya di meja, dia harus kuat untuk semester ini, tidak ada gunanya mendengar gosip yang tidak benar.
"Aku juga tidak begitu yakin, tapi dia cukup baik padaku." Ucap karin, wajahnya tersipu malu.
"Aku rasa dia menyukaimu, kalian sering terlihat bersama."
"Ya begitulah, aku tidak bisa meninggalkan orang setampan itu." Ucap Karin.
Sakura memilih menggunakan headsetnya agar suara gadis gila itu tidak terdengar olehnya. informasi dari ketua tingkat, dosen hari ini tidak masuk dan mereka harus mengerjakan tugas rangkuman dan akan di kumpul minggu depan, Sakura segera beranjak dari kelas itu, suasananya terasa sesak baginya, apalagi mendengar seorang gadis yang seperti ingin merebut pacarnya, tapi dia harus tetap tenang, ini sudah menjadi keputusannya sendiri agar tidak memperlihatkan hubungan khususnya dengan Sasuke.
Memilih perpustakaan sebagai tujuannya, dia akan mengerjakan tugasnya agar tidak mengganggu tugas dan pekerjaannya nantinya, melihat beberapa buku di rak dan tanpa sangaja bertemu kembali dengan senior yang celana sudah di tumpahi minuman, beberapa waktu lalu.
"Ha-halo, senpai." Ucap Sakura, agak canggung dan menundukkan wajahnya pelan.
"Hmm." Gumam Utakata, dia terlihat seperti biasanya, tenang di hadapan Sakura.
"Uhm, anoo, apa bisa aku pinjam duluan buku itu?" Ucap Sakura, buku yang di carinya sedang di pegang Utakata.
"Ah, ambillah." Ucap Utakata.
"Terima kasih, senpai." Ucap Sakura dan bergegas menghilang dari rak itu, dia pun cukup takut dengan Utakata dan malah sudah memberi kesan buruk di pertemuan pertamanya.
Sakura mulai membuka buku itu dan menuliskan beberapa rangkuman di sana, tersentak kaget dengan seseorang yang tiba-tiba duduk di hadapannya.
"Apa aku mengganggumu?" Ucap Utakata, dia duduk sambil menaruh beberapa buku yang di bawa.
"Ti-tidak, silahkan." Ucap Sakura, dia merasa seperti tengah ujian dadakan dan di awasi dosen galak.
"Setelah selesai, kau tidak perlu mengembalikannya ke rak, kau bisa memberiku langsung." Ucap Utakata, mempermudah gadis ini.
"Iya, senpai." Ucap Sakura, dia mulai fokus pada tugasnya, begitu juga Utakata dia sedang mengambil beberapa literatur untuk penjelasan di prakteknya nanti.
"Oh, kau yang bernama Haruno Sakura?" Ucap Utakata, sedikit mengusik kegiatan Sakura.
"Ah, iya, aku Haruno Sakura." Ucap Sakura, menghentikan sejenak kegiatannya.
"Lanjutkan saja menulismu, aku tidak masalah jika kau tetap seperti itu." Ucap Utakata, Sakura hanya mengangguk.
"Jadi semester depan angkatanmu sudah harus mengenakan seragam perawat dan kegiatan kuliah akan lebih banyak di Lab rumah sakit." Ucap Utakata, rumah sakit itu berada di dalam area kampus, seperti rumah sakit untuk penelitian tapi tetap dengan tanggung jawab penuh terhadap setiap pasien.
"Uhm, iya, apa akan sulit?" Ucap Sakura.
"Aku rasa itu tidak akan sulit padamu, kau mahasiswa terpintar di angkatanmu." Ucap Utakata.
"Tidak seperti itu, aku mahasiswa yang biasa saja." Ucap Sakura, menunduk malu, sedikit tersanjung dia di puji oleh seniornya.
"Aku harap teman-temanmu seperti kau dan tidak perlu membuatku repot untuk menjelaskan berkali-kali seperti angkatan senior di atasmu." Ucap Utakata, sedikit menghela napas. "Aku tidak tahu jika mereka sangat kurang minat untuk mempelajari materi sebelum masuk ke Lab." Tambah Utakata.
"Mungkin jika di beri materi dengan bahasa yang lebih mudah atau dengan cara penjelasan yang lebih di pahami mereka tidak akan kesulitan, yaa menurutku seperti itu." Ucap Sakura, dia terlalu banyak berbicara, terdiam saat menatap Utakata yang juga terdiam mendengar setiap ucapan Sakura. "Ma-maaf, aku tidak bermaksud mengubah cara mengajar senpai." Ucap Sakura, dia terlalu blak-blakan.
"Akan ku coba." Ucap Utakata, dia seperti mendengar saran dari Sakura.
"Tidak perlu jika tidak sesuai dengan apa yang senpai ingin lakukan." Ucap Sakura, merasa jika dia seenaknya memberi saran pada seniornya lebih berpengalaman dalam mengajar.
"Tidak apa-apa. Setelah ini apa kau ada kegiatan?" Ucap Utakata.
"Masih ada kuliah tapi sejam lagi." Ucap Sakura, melirik jam tanganya.
"Oh, baguslah, mungkin kau ingin meihat-lihat lab di rumah sakit. Aku butuh seseorang untuk membawa buku paket, jika kau merasa tidak terganggu." Ucap Utakata.
"Tentu, aku bisa membantu senpai." Ucap Sakura.
Gadis itu kembali menulis dan segera menyelesaikan rangkumannya itu, Utakata memberi saran untuk mengambil point-point penting saja, karena dia pun sudah pernah mendapat dosen dengan tugas yang sama seperti Sakura, dosen itu tidak suka rangkuman yang bertele-tele dan tidak memuat hal penting dari buku itu. Sakura mengikuti Saran dan Utakata, dia jadi bisa cepat menyelesaikan rangkumannya itu, Utakata juga sedang menyelesaikan catatan literaturnya.
.
.
Berjalan keluar perpustakaan, Sakura membantu membawa buku paket ke arah lab rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari fakultas kedokteran.
"Apa berat?" Ucap Utakata.
"Ah, tidak-tidak, aku masih bisa membawanya." Ucap Sakura, ini tidak masalah, dia sudah sering membawa barang atau pun pesanan jika sedang bekerja, anggap saja dia tengah membawa pesanan pelanggan.
Berjalan menyusuri jalanan yang melewati bangunan fakultas kedokteran, sesekali Sakura akan bertanya untuk semester berikutnya pada Utakata atau sekedar menanyakan bagaimana dosen-dosen yang mengajar di semesternya sekarang, sedikit tidak adil, Sakura mengorek informasi dari senior yang sudah lulus, Sakura hanya ingin lebih mudah mengetahui sikap masing-masing dosen.
Tidak jauh dari mereka, Sasuke baru saja akan keluar dari fakultasnya, langkahnya terhenti, pintu fakultas yang hanya terbuat dari kaca dan akan menampakkan apapun dari luar, pemuda ini bisa melihat gadisnya berjalan bersama pemuda lain dan dia terlihat senang dan sesekali akan tertawa setelah pemuda di sampingnya berbicara.
"Yo, Sasuke." Sapa Naruto dan langsung merangkul bahu sahabatnya itu. Tidak ada tanggapan dari Sasuke, dia hanya terdiam. "Hmm? Ada apa?" Ucap Naruto, mencoba melihat keluar, mungkin Sasuke sedang melihat sesuatu dan membuatnya seperti ini.
"Tidak." Ucap singkat Sasuke dan melepaskan pelan rangkulan Naruto.
"Hooo, itu Sakura, ah, akhirnya dia bersama seorang pemuda, aku akan mengganggunya sebentar." Ucap Naruto, dia melihat Sakura di luar sana.
"Ikut aku sebentar ke ruang dosen." Ucap Sasuke, menarik Naruto untuk tidak menemui Sakura.
"Heee... tumben kau ingin di temani." Ucap Naruto. Mengikuti Sasuke dan tidak jadi menganggu Sakura.
"Cepatlah." Ucap Sasuke.
"Iya-iya." Ucap Naruto, mengikuti Sasuke ke ruang dosen. "Oh iya, aku sering melihatmu bersama Suigetsu, ada apa ini? kau tiba-tiba akrab dengan anak itu, aku sedikit tidak suka padanya." Ucap Naruto.
"Aku akan berteman dengan orang-orang yang bisa di andalkan, lagi pula dia tidak cereboh sepertimu." Ucap Sasuke.
"Apa! Kau bahkan membandingkan ku dengannya, aku tidak suka sikapnya, dia terlalu sombong dan kasar pada siapapun, seakan-akan dialah yang terhebat, calon dokter macam apa jika sikapnya seperti itu." Ucap Naruto.
"Dan pasien akan mati jika kau tangani dengan cara cerebohmu." Singgung Sasuke.
"Tunggu saja, aku akan lebih profesional saat sudah mendapat gelar dokter." Ucap Naruto.
"Ya, lakukan sesukamu." Ucap Sasuke.
"Satu hal lagi, apa kau pacaran dengan gadis berambut merah dari fakultas yang sama dengan Sakura?" Ucap Naruto.
"Menurutmu?"Ucap Sasuke.
"Hahahaha, tidak mungkin kan, kau itu risih pada gadis-gadis seperti itu." Ucap Naruto dan menepuk-nepuk bahu Sasuke.
"Hn, sesuai pemikiranmu." Ucap Sasuke.
"Nah, kan, apa aku bilang, kau memang tidak bakalan pacaran dengannya, hahahaha." Ucap Naruto dan kembali menepuk bahu Sasuke dengan keras.
"Hentikan itu, dobe!" Ucap Sasuke saking kesalnya, punggungnya jadi sakit.
"Maaf-maaf." Ucap Naruto, ponselnya berdering, melihat ke arah ponselnya dan sebuah pesan dari Shikamaru, mereka sedang menunggunya di ruang kelas. "Setelah ini kita akan ke kelas, yang lainnya sudah berada di sana, yaa syukurlah semester ini kita sekelas lagi." Ucap Naruto.
"Hn." Gumam Sasuke, kembali mengingat Sakura tadi, dia merasa sedikit tidak senang jika gadisnya akan tertawa bersama pemuda lain, mungkin untuk sekarang Naruto menjadi pengecualiannya, Naruto hanya sebatas sahabat Sakura dan tidak akan menjadi masalah untuk Sasuke.
Kembali pada Sakura dan Utakata, mereka sudah berada di area rumah sakit, seperti rumah sakit pada umumnya, beberapa pasien akan terlihat di sana, rumah sakit kampus Konoha ini memiliki tingkat profesional yang tinggi, mereka tidak akan membiarkan dokter atau perawat yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata untuk menangani pasien, kesehatan pasien menjadi target utama, tidak ada kata hanya sebagai percobaan, di dalam rumah sakit ini semuanya di tuntut untuk tidak beranggap seperti tengah praktek.
Luas juga di dalamnya, aku jadi tidak sabar akan berada di dalam rumah sakit ini.
"Taruh saja di situ." Ucap Utakata ketika mereka sudah memasuki ruangan dosen.
Di sana ada ruangan khusus untuk keperawatan dan pelatihan, jika tidak lolos dalam pelatihan jangan ada yang harap bisa seenaknya menangani pasien di rumah sakit ini secara langsung, sungguh ketat dan Utakata tidak mau ada kesalahan sekecil apapun, pikirnya nyawa manusia itu bukan sekedar bahan percobaan, tapi mereka harus berpikir bagaimana nyawa itu dapat terselamatkan, nyawa manusia tidak memiliki candangan, jika hilan, tidak dapat di ganti, maka dari itu Utakata sangat tegas meskipun dalam hal sepeleh, menurutnya ini demi kebaikan para calon perawat itu di kemudian hari.
"Sebaiknya aku kembali ke fakultas." Ucap Sakura, pamit pada Utakata.
"Hn, terima kasih." Ucap Utakata.
"Sama-sama, senpai." Ucap Sakura.
Berjalan keluar dari ruangan penelitian keperawatan, sesekali memandangi perawat dan dokter yang berlalu-lalang, sepertinya ada beberapa perawat dan dokter yang sudah menjadi pekerja tetap di rumah sakit ini. Mengingat Sasuke, Sakura merasa malu sendiri jika nantinya dia dan Sasuke akan segera memakai seragam dan mereka bekerja di rumah sakit yang sama.
.
.
.
.
.
Berjalan menyusuri jalan setapak menuju fakultas, Sakura sudah menyelesaikan jadwal kerjanya dan akan kuliah di siang hari, melirik ke arah fakultas Sasuke, dia lupa menghubunginya, tugas-tugas membuat Sakura sangat sibuk, tanpa sengaja dia melihat Sasuke keluar dari fakultasnya, dia malah buru-buru berlari masuk ke gedung fakultasnya, merasa bodoh sendiri, gadis ini tidak tahu kenapa harus menghindari Sasuke, dia pun belum menanyakan kenapa Sasuke selalu bersama Karin.
Sasuke melihat Sakura, sedikit aneh dengan gadis itu buru-buru masuk ke fakultasnya, pikirnya Sakura mungkin terlambat. Mengambil ponselnya dan akan mengirim pesan, selama ini mereka tidak pernah menghubungi satu sama lain lewat ponsel. Sasuke pun jarang melakukannya, dia jauh lebih suka saat bertemu langsung Sakura dan berbicara tanpa lewat alat komunikasi, kegiatannya terhenti, dia tidak jadi mengirim pesan pada Sakura, mereka mungkin bisa bertemu setelah kegiatan kuliah selesai, hanya saja sikap Sakura beberapa waktu lalu seakan tidak senang padanya, pemuda ini di buat kebingungan, Sasuke pun ingin tahu siapa pemuda yang bersama Sakura tempo hari, mereka terlihat sedikit akrab, Sasuke juga baru tahu kalau ada pemuda lain dekat dengan Sakura selain Naruto.
Kembali ke fakultas keperawatan, masih ada 20 menit sebelum dosen masuk. Sakura duduk di kursinya da mulai mengeluarkan buku-bukunya, mengerjakan sedikit tugas untuk besok, dia tidak ingin begadang dan kerja paginya terganggu.
Tringgg...~
.
:: Naruto.
Ayo makan-makan setelah kegiatan kampus, tapi kau harus mengajak Hinata yaa.
:: Sakura.
Aku ada tugas, kau makan saja sendiri.
:: Naruto.
Kau mengerjakan tugas setiap hari, kapan kau ada waktu?
:: Sakura.
Jangan menggangguku, kalau kau mau, kau bisa menghubungi Hinata langsung, tapi kau harus ijin di Neji dulu. Hahahaha.
:: Naruto.
Kau sungguh kejam, Sakura.
:: Sakura.
Sudahlah, aku sedang ada tugas.
Sakura mengakhiri pesannya dengan Naruto, teman SMPnya itu sungguh tidak menyerah untuk meminta Sakura menjadi penghubungnya dengan Hinata, hanya ada sebuah senyuman, gadis ini ingin tahu sampai mana Naruto akan bertahan dengan cara seperti itu, melirik ke arah ponselnya, Sampai sekarang dia jarang menghubungi Sasuke, Sakura ingin sekali berbicara tapi dia tidak punya waktu, mungkin jika sudah pertengahan masa kuliah Sakura akan sedikit bersantai.
Tringg...~
.
:: 018843xxxxxx
Lab fakultas keperawatan bagian rumah sakit sedang membutuhkan asisten dosen, apa kau ingin bergabung? –Utakata-
Sakura melihat pesan dari nomer yang tidak masuk dalam kontak ponselnya, tapi di akhir pesan tertera nama 'Utakata', Sakura sedikit tertarik dengan tawaran itu, Utakata sampai repot-repot mengirimkan pesan itu.
.
Dari mana Utakata-senpai mendapat nomerku? Oh iya, mungkin dari data mahasiswa, dia sudah sangat akrab dengan para dosen.
:: Sakura.
Akan ku pikirkan.
Kembali menyimpan ponselnya, fokus pada tugasnya, di kelas ini Sakura tidak terlalu akrab dengan siapa pun, dia pun hanya akan berbicara dengan mahasiswa lain yang menemaninya berbicara.
.
.
Kegiatan kampus berakhir di sore hari, Sakura berjalan pulang, Ino menghampirinya dan mereka akan berjalan menuju gerbang kampus. Langkah mereka terhenti, Utakata berada di luar gedung fakultas dan menghampiri mereka.
"Ini formulir untuk menjadi asdos, kau bisa mengisinya kapan saja jika kau ingin bergabung." Ucap Utakata.
"Ah, maaf merepotkan senpai." Ucap Sakura dan mengambilnya.
"Wah, Sakura kau akan menjadi asdos?" Ucap Ino, dia tidak percaya dengan Sakura mulai akrab dengan Utakata, bahkan Utakata mau mengajak Sakura untuk bergabung menjadi asisten dosen.
"Belum tentu, aku masih memikirkannya." Ucap Sakura.
"Benarkah? Sebaiknya kau menerimanya, ini kesempatan bagus." Ucap Ino.
"Ah, akan ku pikir dulu, aku takut jadwalku akan berantakan semua." Ucap Sakura.
"Kau bisa memilih kapan kau bisa membantu." Ucap Utakata.
"Baiklah senpai, uhm, kami duluan." Ucap Sakura, bergegas menarik Ino untuk segera pergi.
"Kalian sudah seakrab ini?" Ucap Ino.
"Tidak juga, kami hanya pernah bertemu dan aku membantu senpai Utakata, menurutku dia orang yang baik, hanya sedikit tegas saja." Ucap Sakura.
"Benar-benar, kita harus bisa profesional saat di dekatnya." Ucap Ino.
"Sakura!" Panggil seseorang, Sakura terlihat malas untuk menatap yang memanggilnya tadi dan langsung merangkulnya.
"Kau akhirnya pulang juga, uhm, mana temanmu yang satunya?" Ucap Naruto.
"Kau sedang mencari siapa?" Singgung Ino.
"Hehehehe, bukan siapa-siapa." Ucap Naruto.
"Dia mencari Hinata." Ucap Sakura.
"Ah, Sakura, kau ini, hahahah tolong jangan membuatku malu di depan Ino, hahahaha." Ucap Naruto, tertawa garing.
"Oh, aku mengerti arah pembicaraan ini, sayang sekali Naruto, hari ini kami tidak ada kelas dengan Hinata." Ucap Ino.
"Dan menjauh dariku." Ucap Sakura mendorong Naruto dan pemuda itu malah semakin merangkul Sakura.
"Aku jadi kecewa padamu Sakura." Ucap Naruto, memiringkan kepalanya ke arah kepala Sakura.
"Kau yang tidak bisa berani menjadi seorang pria." Singgung Sakura dan menjitak kepala Naruto yang sangat dekat dengannya.
"Aduh." Rintih pemuda berambut blonde itu, menjauhkan kepalanya.
"Hahahaha, Kau harus memulainya sendiri." Ucap Ino.
"Ayolah, kalian yang bisa membantuku." Ucap Naruto.
"Tidak." Ucap Ino dan Sakura kompak, setelahnya mereka tertawa bersamaan.
"Kalian memang cocok menjadi dua sahabat yang kejam." Ucap Naruto dan mendapat dua jitakkan dari kedua gadis ini.
Mereka terus berjalan keluar gerbang kampus, Sasuke ingin menyapa Sakura, namun di sana ada gadis berambut gold pale yang selalu bersama Sakura dan lagi Naruto akan cepat menyapa gadisnya, dia bahkan terus berjalan sambil merangkul Sakura, Sasuke tidak senang akan hal ini, Naruto memang kadang suka seenaknya pada Sakura.
"Apa yang sedang kau lihat?" Ucap Suigetsu.
"Bukan apa-apa." Ucap Sasuke.
"Jangan lupa untuk diskusi besok, aku sudah mendapat semua bahan materinya, sebentar akan ku kirimkan lewat email." Ucap Suigetsu.
"Hn."
"Oh ya, mana gadis menyebalkan itu? Aku tahu kau pasti sudah muak akan sikapnya, aku rasa dia itu sangat menyukaimu, hahahaha gadis yang aneh, jika bukan karena keluarga kalian saling mengenal, kalian tidak akan sering-sering bertemu, pada awalnya kalian tidak tahukan akan hal ini, bagaimana kalian bisa bertemu?" Ucap Suigetsu.
"Hanya tidak sengaja saat menemui teman di fakultas keperawatan, aku juga baru-baru ini tahu jika orang tuanya pun bekerja sama dengan orang tuaku." Ucap Sasuke.
"Sebaiknya kau harus tegas pada gadis aneh itu, jika kau tidak menyukainya." Ucap Suigetsu.
"Hn, nanti, belum saatnya." Ucap Sasuke, tatapannya terlihat santai dan membuat Suigetsu bingung.
"Kau juga aneh, apa kau ketularan gadis itu? Buat dia cepat menjauh, aku tidak suka padanya, dia suka sekali marah padaku dan menganggapku pengganggu." Ucap Suigetsu.
"Sebaiknya kita pulang, apa kau masih ada kegiatan lagi?" Ucap Sasuke.
"Tidak ada, aku juga akan segera pulang." Ucap Suigetsu.
.
.
.
.
.
Kelas pagi, hari ini Sakura tidak bisa bekerja dan meminta pada Fuka untuk mengubah jadwalnya menjadi sore, siang pun Sakura harus berada di Lab rumah sakit, gadis ini menerima tawaran Utakata, sekaligus dia ingin cepat belajar di sana, dia sudah menyusun kembali jadwalnya dan tidak ada yang bertabrakan, seperti kata Utakata dia pun bebas mengatur jadwalnya sebagai asdos di lab itu, dia tidak akan turun langsung untuk menjelaskan, mengingat Sakura belum melewati semester untuk berada di lab rumah sakit, dia hanya akan membantu Utakata untuk mencari literatur pada buku, Sakura sangat cepat akan hal itu, dia sudah sering membaca beberapa di perpustakaan.
"Pa-pagi Sakura." Ucap Hinata, Sakura bersyukur dengan kelasnya pagi ini, ada Hinata di sampingnya.
"Kau seperti dewi bagiku Hinata." Ucap Sakura, maksudnya, Sakura merasa tidak akan mendapat suasana canggung dengan adanya orang yang akrab dengannya, Hinata bengong dan tidak mengerti maksud ucapan Sakura.
"De-dewi?" Ucap Hinata dan sebuah tanda tanya besar muncul di atas kepalanya.
"Hahaha, lupakan saja, apa tugas yang minggu lalu akan di kumpul sekarang?" Ucap Sakura.
"Sepertinya tidak, hari ini akan penjelasan materi lagi, katanya dosen yang satu ini suka menumpuk tugas dan akan di kumpul pada akhir semester, apa kau sudah mengerjakannya?" Ucap Hinata.
"Aku tidak punya banyak waktu, makanya aku kerjakan sekarang." Ucap Sakura.
"Sakura memang sangat rajin yaa." Ucap Hinata.
"Apa kau belum menyelesaikannya?" Ucap Sakura.
"Masih ada beberapa nomer yang aku tidak bisa jawab, hehehe, jadi ku tinggalkan dulu." Ucap Hinata.
"Mau pinjam catatanku saja? jawabannya ada di sana." Ucap Sakura.
"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan Sakura menjadikan tugas ini mudah." Ucap Hinata, dia hanya merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, aku senang membantumu Hinata, kemarin lalu kau pun membantuku dengan memberitahukan tugas saat aku telat masuk dan dosen pengganti hanya memberikan tugas." Ucap Sakura.
"Terima kasih, Sakura." Ucap Hinata, dan tersenyum malu, Sakura sangat baik padanya.
.
.
Setelah jam kuliah, Sakura akan ke lab rumah sakit, sebelumnya dia sudah mengirim pesan pada Ino jika dia akan pulang terlambat dan lanjut bekerja setelah selesai dari kegiatannya di kampus, mereka akan tidak bertemu di hari-hari tertentu, gadis ini tengah menunggu di taman kampus, dia merasa sedikit tidak enak jika tiba-tiba berada di lab dan di sana hanya ada para senior, Sakura sudah menghubungi Utakata dan seniornya itu akan menyusulnya setelah dari ruangan dosen.
Pemuda berambut raven ini tersenyum, dia tidak menyangka akan bertemu gadisnya di taman, dia terlihat santai duduk dan menunggu, entah apa yang di tunggunya, Sasuke ingin sekali menyapanya hari ini, sedikit rindu dan ingin berbicara pada Sakura, langkahnya terhenti, seorang pemuda sudah jauh lebih dulu menghampiri Sakura, mereka berbicara sejenak dan Sakura mengikuti pemuda itu pergi, pemuda yang sama saat mereka berdua melewati depan pintu masuk fakultas Sasuke.
.
.
Menjadi asdos sedikit sulit bagi Sakura, dia harus lebih bekerja keras di sana, Utakata sungguh menyulitkannya, akhirnya Sakura tahu, kenapa para senior lain cukup menakuti senior Utakata, dia sangat-sangat tegas, ada yang salah sedikit pada prakteknya dan langsung di beri tugas menghapal, jika tidak mampu nilainya di beri minus, mau nangis sampai air mata darah pun Utakata tidak akan memberikan nilai bagus pada mereka. Sakura tidak menyangka di balik tatapan tenangnya itu ada sebuah bom waktu yang siap-siap meledak kapan saja, dia tidak bisa memprediksikan kapan Utakata akan sangat marah dan kapan dia akan santai, semacam memiliki dua kepribadian.
Menghela napas, bukan waktunya untuk memikirkan senior gila disiplinnya itu, Sakura segera melayani setiap pelanggan, pekerjaannya berakhir pada jam 7 malam, cafe akan tutup pada jam itu.
"Apa tidak apa-apa kau kerja jam segini? Bagaimana dengan tugasmu?" Ucap Fuka.
"Tidak masalah, untuk mata kuliah besok aku jarang ada tugas, dosennya hanya selalu menjelaskan materi dan memberikan beberapa kuis." Ucap Sakura.
"Jangan memaksakan diri, kau ini bukan robot yaa." Tegur Fuka dan menepuk pelan kepala Sakura, menurutnya gadis ini terlalu berusaha keras.
"Baik bos, aku akan berhenti jika sudah batasnya." Ucap Sakura dan tertawa pelan. Fuka terasa seperti kakak baginya.
Pintu cafe terbuka dan seseorang masuk.
"Maaf, cafe sudah tu-tup." Ucapan Sakura sempat terputus, sedikit terkejut dengan siapa yang masuk ke dalam cafe.
"Apa kau sudah selesai?" Ucap Sasuke.
"Aku belu-"
"-Dia sudah selesai, cepat sana pulang." Potong Fuka dan mendorong Sakura untuk segera pulang.
"Tapi, aku belum cuci peralatan." Ucap Sakura.
"Tidak usah, biar aku yang melakukannya." Ucap Fuka.
"Ta-tapi-"
"-Sudah sana." Ucap Fuka, mendorong Sakura lagi untuk segera pulang.
"Baiklah, aku duluan yaa." Ucap Sakura, dia pulang dengan merasa sedikit tidak enak, jika saja Sasuke tidak masuk ke dalam cafe, dia akan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sakura hanya terdiam sepanjang perjalanan, Sasuke meliriknya dan gadis ini terlihat hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Ada apa?" Ucap Sasuke, membuyarkan lamunan Sakura.
"Tidak ada apa-apa." Ucap Sakura. Mereka terus berjalan bersama.
"Kita sudah sangat jarang bertemu." Ucap Sasuke, menggenggam tangan Sakura, gadis itu membalasnya, dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri jika dia sangat merindukan Sasuke.
"Hmm, semakin naik semester semakin sedikit waktu kosong." Ucap Sakura.
"Kita akan menghabiskan waktu bersama saat liburan." Ucap Sasuke.
"Ide yang bagus, meskipun itu masih sedikit lama." Ucap Sakura, dia terlihat menghela napas.
"Bersabarlah." Ucap Sasuke dan mengacak-ngacak rambut Sakura.
"Ja-jangan lakukan itu." Protes Sakura, wajahnya sedikit merona, mereka masih berada di jalanan menuju kost Sakura, Sasuke tertawa pelan, dia jauh lebih rileks bersama Sakura.
"Mungkin kau bisa sering-sering menghubungiku." Ucap Sasuke.
"Aku hanya takut jika mengganggumu." Ucap Sakura.
"Jika sibuk akan aku katakan, meskipun jarang bertemu, aku tidak masalah kau mengirim pesan atau telepon." Ucap Sasuke, dia sendiri pun tidak ingin melakukan hal itu duluan.
"Uhm, baiklah, kau pun begitu, tidak pernah menghubungiku." Singgung Sakura.
"Aku juga takut kau sibuk dan tidak suka di ganggu." Ucap Sasuke.
"Hey, kau tidak boleh mengambil alasanku." Protes Sakura.
"Aku rasa itu beda kalimat." Ucap Sasuke.
"Tetap saja, artinya sama." Ucap Sakura, menyenggol pacarnya itu dan mereka sibuk menyenggol satu sama lain, Sasuke kembali tertawa, dia tidak tahu kenapa merasa hal ini cukup lucu, seakan mereka anak-anak kecil yang sedang protes akan masalah sepeleh.
Hening, suasana kembali tenang, mereka terus berjalan sambil bergandengan tangan, sebuah senyum lebar di wajah Sakura, gadis ini tidak tahu jika Sasuke pun akan bisa terlihat seperti pemuda lain, jarang-jarang dia akan tertawa atau tersenyum, Sasuke kembali tenang, dia tidak sadar sudah melewati sikap biasanya. Jauh dari mereka, ada dua orang yang sedang mengamati mereka.
"Aku sudah katakan padamu jika Sasuke itu tidak menyukaimu, cepatlah kau menjauh darinya." Ucap Suigetsu.
"Sial! Aku tidak akan melakukan hal itu." Ucap Karin, dia tidak menyangka jika Sasuke akan bersama dengan Sakura, padahal selama ini mereka tidak pernah terlihat bersama sekali pun di kampus, terasa sedikit aneh, menurutnya ini merupakan hal kenapa Sasuke tidak pernah tertarik padanya, dia jauh lebih tertarik pada Sakura.
Tunggu saja, aku akan membalasmu, Sakura.
"Aku mau pulang!" Ucap Karin, pergi dengan kesal, Suigetsu tertawa puas, dia hanya ingin mengganggu Karin dan mengusirnya secara tidak langsung, pemuda ini sedikit risih pada gadis berambut merah itu, dia tidak pernah ramah padanya dan membuat Suigetsu kesal.
"Haa..~ dasar gadis aneh, aku tidak ikut campur dalam hal ini." Ucap Suigetsu, berjalan pulang.
.
Kembali pada Sasuke dan Sakura, mereka hampir sampai di kost Sakura, Sasuke sedikit tidak rela jika mereka akan segera berpisah lagi.
"Sasuke." Ucap Sakura.
"Hn?"
"Apa ada yang ingin kau ceritakan? Semacam apa yang sudah kau lakukan di fakultasmu? Ah, maksudnya seperti apa ada hal yang menarik akhir-akhir ini kau sudah lalui?" Ucap Sakura, sedikit ingin mengetes Sasuke, apa dia akan membicarakan seorang gadis dari fakultas keperawatan yang terus bersamanya, Sakura berharap Sasuke mau menceritakan keadaan itu, menurut Sakura, itu bukanlah sesuatu yang perlu di sembunyikan Sasuke, lagi pula Sakura ingin mereka saling terbuka.
"Tidak ada, semua biasa saja." Ucap Sasuke, santai.
Sakura terdiam, pikirannya meleset, Sasuke tidak ingin menceritakan hal yang tengah membuat Sakura bingung, Karin selalu bersamanya.
"Oh, be-begitu yaa, hehehe." Ucap Sakura.
"Kenapa?" Ucap Sasuke.
"Bukan apa-apa, hanya ingin mendengar kau bercerita." Ucap Sakura.
Tiba di depan pintu masuk kost Sakura, mereka hanya terdiam dan saling berhadapan, suasananya jadi sedikit canggung bagi Sakura, dia sudah mengajukan pertanyaan konyol sebagai tes dan hanya di jawab santai Sasuke. Sebuah pelukkan hangat dari Sasuke, merindukan orang di sukai sungguh membuatnya tersiksa.
"Boleh aku tanya satu hal?" Ucap Sasuke.
"Apa?" Ucap Sakura.
"Apa kau ingin menceritakan sesuatu yang menarik yang sudah terjadi padamu akhir-akhir ini?" Ucap Sasuke, dia membalikkan pertanyaan Sakura, gadis ini sedikit terkejut, Sasuke menanyakan hal yang sama, apa ini semacam tes atau bukan, Sakura tidak tahu, dia tidak bisa menangkap maksud dari ucapan Sasuke, berharap itu pun hanya pertanyaan biasa atau Sasuke hanya ikut-ikutan dengannya namun tidak ada maksud tertentu dari pertanyaan itu.
"Aku bergabung menjadi asdos di fakultasku." Ucap Sakura.
Sasuke melonggarkan pelukkannya dan menatap Sakura, ada sebuah senyum tipis pada pemuda berwajah dingin ini, sepertinya dia pun turut senang akan ucapan Sakura itu.
"Kau semakin sibuk." Ucap Sasuke.
"Apa kau tidak suka?" Ucap Sakura, dia tidak mengerti senyum Sasuke itu.
"Tidak, aku turut mendukung apapun yang kau lakukan." Ucap Sasuke dan kembali memeluk erat Sakura. "Aku harap tidak ada yang menggodamu di sana." Singgung Sasuke namun Sakura tidak terpancing akan ucapannya, pemuda ini menyinggung orang yang mulai sering terlihat bersama Sakura, namun gadis ini tidak sadar akan ucapan Sasuke.
"Bo-doh, lagi pula, aku sudah...sudah...me-memilikimu." Ucap Sakura, wajahnya sudah sangat merona, memeluk erat Sasuke menyembunyikan wajahnya di dada bidang pemuda ini. Sasuke tersenyum, gadisnya terlihat sangat manis saat di goda, sebuah kecupan ringan pada puncuk kepala Sakura, setelahnya dia membiarkan gadisnya masuk ke dalam kamar kostnya dan dia pun akan berjalan pulang. sedikit lega dengan mendengar ucapan Sakura, Sasuke tahu jika Sakura akan jujur padanya, tapi dia tidak menceritakan pemuda itu. Senang dan juga merasa sedikit kecewa.
.
.
TBC
.
.
update segini aja, sorry, nggak bisa rajin-rajin update, kadang malas, kadang sibuk, kadang buntu ide, kadang malah buat fic pelarian, kadang jenuh, dan kadang-kadang lainnya.
lama-lama author kesal sendiri, ini fic kok malah menjauh dari summary :D :D maafkan author, ini masih tahap flashback yang puaaaanjang dan sudah kena teguran, sarada lama nongol, setiap mau segera ke inti fic ini malah kepikiran alur lain dan semakin banyak alur-alur baru, pas baca-baca review dan ada ide alur baru lagi, hahahahah dan akhirnya intinya belum tersampaikan, hahahahahhaha, kalau mau cari sarada ada tuh di 'Another cherryBloseem' *malah promosi*
untuk update lagi ini tidak balas review lagi, cuma mau bilang makasih udah di tunggu dan mau di dukung ini nih fic yang summary dan alurnya belum-belum juga ketemu.
catatan : nama UTAKATA itu paling sulit di ketik :D :D kadang UTATAKA, UTAKANA, UTTAKATA, UKTATAKA, UTAKAKA. pokoknya gitulah, nama paling sulit author ketik. :D
oh iya, author sempat baca review yang sejujurnya author sangat-sangat tidak suka review OOT dan juga bahas agama, author tidak akan berani berargumen karena bahas agama cukup sensitif, author tidak akan mencantumkan agama author, kenapa? di sini author hanya akan membaur menjadi seorang author dalam fanfic bersama reader dan para author lainnya untuk menghasilkan ide-ide alur fanfic yang hanya untuk kesenangan semata, namun itu hanya di sini saja, lain halnya di kehidupan nyata author, itu akan berbeda. untuk seseorang yang nge-review tanpa menggunakan akun, terima kasih atas teguran itu, namun kita sedikit berbeda sudut pandang, so, kamu bebas mempertahankan apa yang sudah kamu utarakan dan author akan tetap dengan sudut pandang author, untuk itu, bagaimana pun juga author tidak akan pernah mengubah disclaimer author, itu sudah menjadi ciri khas penulisan author sejak awal pembuatan fic di sini, uhm,, sudah bertahun-tahun lamanya. lain kali nge-review ide aja yaa, biar bantu dikit, :)
yups... itu saja.
.
pokoknya makasih buanyaak untuk yang sudah ngereview. XD
.
See you next chapter. *puyeng kenapa dede Sarada lama nongol*
