Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

-Tolong dong, baca warningnya-

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

Catatan : Author bukan seorang mahasiswa keperawatan atau pun kedokteran, jadi tolong tegur jika ada kesalahan dalam penulisan mata kuliah dari salah satu fakultas yang author cantumkan, heheheh.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

.

~ Tomato, cherry dan salad~

[ Chapter 8 ]

.

.

.

Fakultas keperawatan, jadwal hari ini Ino dan Sakura tidak sekelas, dia tengah sibuk di kursinya dan memperhatikan gosip yang tengah beredar di website yang selalu di akses beberapa mahasiswa di kampus Konoha ini, sekedar membagi informasi dan tidak luput dari berita-berita gosip.

"Ada apa, Ino?" Ucap Rin, gadis ini bersyukur mendapatkan teman dekat Sakura, untuk menjadi teman akrabnya di kelas, menurut Rin, Ino juga termasuk orang yang dan bisa di andalkan.

"Apa kau sering membuka web kampus?" Tanya Ino.

"Kadang-kadang, aku malas membukanya, lebih banyak gosip." Ucap Rin.

"Coba kau perhatikan ini baik-baik, mau di lihat bagaimana pun foto-foto ini mirip Sakura." Ucap Ino, memperlihatkan ponselnya pada Rin, dia sedang membuka web kampus dengan gosip yang sedang ramai di bicarakan. Salah seorang mahasiswi keperawatan di kampus Konoha sengaja mendekati banyak mahasiswa, untuk mempermudah mendapat nilai bagus dan pekerjaan sebagai asisten dosen. Berita itu di muat dan ada beberapa foto di cantumkan, meskipun semua foto-foto itu di ambil dari belakang, satu foto memperlihatkan gadis itu di rangkul seorang mahasiswa, foto lainnya dia tengah berkumpul dengan beberapa mahasiswa, foto berikutnya dia berjalan bersama asisten dosen dan foto terakhir, dia tengah berjalan bergandengan dengan mahasiswa yang berbeda lagi.

"Uhm... tapi kita tidak bisa membenarkan jika ini hanya foto-foto dari belakang." Ucap Rin, tidak ingin menyimpulkannya secara langsung, dia pun butuh bukti jika itu adalah Sakura, jika hanya mirip mungkin saja orang lain dengan fakultas yang sama.

"Tapi aku yakin ini Sakura, lihatlah, kalau pemuda yang bersamanya ini mirip Naruto, dia itu teman SMP Sakura, yang ini mirip Utakata-senpai, terus yang ini mirip siapa yaa? Dia terlihat seperti Sasuke, teman Naruto, dan yang lainnya aku tidak tahu, terlalu banyak orang." Jelas Ino.

"Apa ada yang tengah iseng melakukan postingan ini, tapi siapa? Jika benar di dalam foto itu adalah Sakura, orang ini sangat jahat, Sakura gadis yang baik-baik, nilainya pun memang karena dia pintar, bukan karena di bantu pihak lain." Ucap Rin.

"Benar-benar, sebaiknya kita membicarakan hal ini pada Sakura, dia pun harus tahu." Ucap Ino.

Seorang dosen masuk, membuat Ino harus menyimpan ponselnya, mereka akan memulai kuliah mereka.

.

.

Kelas siang, Sakura tengah berjalan santai di koridor fakultas, mengingat kembali untuk jadwal hari ini hanya tugas rangkuman dan sudah di kerjakannya, menguap sesekali, sedikit lelah, dia butuh istirahat sekarang tapi tidak ada kelas yang tengah libur hari ini atau dosennya absen untuk masuk

Triinngg..~

Merogok ponselnya di dalam saku celana, pesan dari Ino.


:: Ino.

Setelah kau selesai kuliah, temui aku di taman kampus, ada yang ingin aku bicarakan dan sangat penting.


Sakura hanya membacanya dan tidak membalas, mengerutkan alisnya, sedikit bingung, ada hal penting apa yang Ino ingin bicarakan, menghela napas, dia akan fokus untuk kuliah dulu. Tiba ruangan kelas dan berjalan masuk, suasana di kelas menjadi tenang saat Sakura masuk, beberapa mahasiswa di dalam memandangi Sakura, tatapan yang tidak begitu di mengerti Sakura, mengacuhkan hal itu, dia tidak merasakan ada yang aneh.

"Eh, kau dengar, salah satu mahasiswa terpintar di angkatan kita ternyata memiliki sikap yang buruk."

"Aku rasa dia hanya pura-pura suci di depan kita."

"Pantas saja dia selalu menjadi yang terbaik, para pemuda itu di beri apa sampai mereka mau membantu gadis itu"

"Memuakkan, dia bahkan berganti-ganti pasangan."

Semua pembicaraan itu bisa Sakura dengar dengan jelas, bisik-bisik yang terlalu mencolok, dia tidak tahu apa sudah terjadi di fakultas, auranya sedikit berbeda, tatapan itu seperti tatapan memandang jijik, entah itu di di tujukan padanya atau siapa, gadis ini tidak mau ambil pusing dengan masalah yang sedang ramai di bahas, selama itu tidak mengganggu perkuliahannya.

.

.

Kelas berakhir, sesuai pesan dari Ino, Sakura berjalan sedikit terburu-buru, melawati beberapa mahasiswa dan selalu saja Sakura mendapat tatapan aneh itu, semua hanya membuatnya bingung.

"Sakura, di sini-di sini." Ucap Ino saat melihat Sakura keluar dari gedung fakultas, bergegas ke arah Ino dan duduk di kursi taman.

"Ada apa? pesanmu sedikit aneh, memangnya apa yang penting?" Ucap Sakura.

"Coba lihat ini." Ucap Ino, memperlihatkan gosip kampus yang sedang heboh, bukan cuma di fakultas keperawatan tapi seluruh fakultas yang berada di kampus Konoha ini mengetahuinya.

Sakura memegang ponsel Ino, alisnya berkerut bingung, setelah membaca judul yang tertera, mengskroll layar ponsel Ino, beberapa kalimat dan di sertai foto-foto yang cukup membuatnya terkejut.

"Tu-tunggu, apa ini?" Ucap Sakura.

"Seseorang tengah memposting gosip ini, aku tidak tahu apa motifnya, aku cuma penasaran kenapa dia melakukan hal ini, jadi menurutmu ini apa?" Ucap Ino.

Sakura terdiam, terlihat tengah menghela napas berat, secara tidak langsung namanya sudah tercoreng dengan gosip palsu itu, merasa sedikit tidak enak, Sakura sangat hapal siapa mahasiswa-mahasiswa yang bersamanya di dalam foto itu, bahkan salah satu foto adalah fotonya bersama Sasuke saat mereka pulang bersama.

"Ini jelas-jelas tidak benar, mau mereka sengaja mengambil foto dari belakang aku sudah itu aku, pakaian yang biasa aku pakai, haa..~ ini sungguh keterlaluan." Ucap Sakura, dia merasa sedikit stres akan hal ini.

"Aku pun sangat marah saat melihat postingan ini, bagaimana? Aku akan membantumu menyelidikinya." Ucap Ino.

"Tidak Ino."

"Eh? Kenapa?"

"Jika kita melawan, sama halnya kita mengikuti arus mereka, atau memang mereka sudah sengaja untuk memancingku dan menambah-nambah masalah, jika kau sudah tahu itu aku dan pemuda-pemuda yang di sana kau pun mengenalnya, kita tidak harus perlu menyulut api lagi, biarkan postingan itu hanya menjadi gosip semata dan perlahan-lahan menghilang, sejujurnya ini juga membuatku marah, mereka menjadikan Naruto, Sasuke dan lainnya sebagai korban." Jelas Sakura, kembali menghela napas berat.

"Baiklah, aku tahu kebenarannya, kau itu memang pintar dan baik, tapi ada satu foto yang membuatku penasaran, ini jelas-jelas Sasuke dan kalian bergandengan tangan." Ucap Ino, memperlihatkan foto yang paling terakhir.

"I-itu, bagaimana menjelaskannya yaa, hehehehe, aku belum bisa cerita padamu." Ucap Sakura, wajah sedikit merona.

"Hoo..~ aku benar-benar curiga akan kalian berdua, jadi kalian itu-"

"-Stop Ino, yaa anggap saja seperti apa yang tengah kau pikirkan, tapi tolong di rahasiakan, ada banyak hal yang membuatku harus menyembunyikan hal ini, dan sekarang kau bisa lihat sendiri, dia pun ikut terseret." Ucap Sakura.

Ino merangkul sahabatnya, menepuk-nepuk perlahan bahunya. "Mungkin jika kau memilliki waktu senggang untuk berbicara, aku akan mendengarkannya." Ucap Ino.

"Terima kasih, Ino." Ucap Sakura, sedikit lega dengan adanya Ino di sampingnya, saat ini perasaannya cukup kacau dengan postingan itu, tapi dia tidak ingin membebani siapapun, berusaha melupakan postingan itu, Sakura harap tidak ada berdampak padanya dengan gosip palsu itu, kepikiran akan sesuatu, Sakura menyimpulkan sikap aneh orang-orang di fakultasnya mungkin karena postingan itu, dia harus lebih bersabar lagi untuk menjalani kegiatan kampus esok harinya. "Ya sudah, kita pulang sekarang?" Lanjut Sakura.

"Ah, tidak-tidak, aku uhm... aku harus mengembalikan buku di perpustakaan, kau saja duluan pulang." Ucap Ino.

"Mau aku temani?" Tawar Sakura.

"Ti-tidak usaha, kau pasti lelah'kan, kerja dan kuliah, sebaiknya kau pulang dan istirahat." Ucap Ino, berusaha menyembunyikan kebohongannya.

"Oh, baiklah, dah." Ucap Sakura, beranjak dari kursi, keluar gerbang kampus.

Ino masih menatap Sakura hingga gadis itu benar-benar sudah keluar gerbang kampus, beranjak dari kursinya dan berlari ke arah fakultas kedokteran, berharap dia bisa menemukan Naruto di sana, seperti sebuah keberuntungan, Naruto sedang bersama teman-temannya dan mereka sedang berjalan keluar fakultas, gadis berambut gold pale ini bergegas menghadang Naruto.

"Aku ingin bicara, tapi sebaiknya tidak di sini." Ucap Ino.

"Bicara? Apa ada yang penting? Eh, mana Sakura?" Ucap Naruto.

"Sangat penting, Sakura sudah pulang, hal ini menyangkut Sakura." Ucap Ino.

"Kami juga harus ikut?" Ucap Shikamaru, menunjuk dirinya dan Neji.

"Tentu." Ucap Ino.

Naruto, Neji, dan Shikamaru saling menatap sejenak, mereka pun tidak ada kegiatan lagi dan mengikuti ucapan Ino, berjalan keluar gerbang kampus dan memilih salah satu kafe yang tidak jauh dari kampus sebagai tempat mereka.

"Jadi, sebelum membicarakannya aku ingin kalian melihat postingan di website kampus." Ucap Ino.

Neji, Shikamaru, dan Naruto mengambil ponsel mereka masing-masing, membuka web kampus dan melihat apa yang di minta Ino. Mereka cukup terkejut dengan salah satu postingan yang tengah ramai di perbincangkan.

"Ini jelas adalah kami." Ucap Neji, memperlihatkan foto seorang gadis dengan beberapa pemuda di sampingnya, foto itu di ambil dari samping dan blur pada bagian wajah.

"Benar, aku masih mengingatnya, tapi itu sudah sangat lama sekali, kalau tidak salah saat semester dua." Ucap Shikamaru.

"Di hari itu kami mengajak Sakura hanya untuk saling mengakrabkan diri." Ucap Naruto.

"Aku tahu, foto-foto ini pun kadang membuat beberapa orang akan salah tanggap, tapi semua rata-rata adalah Sakura yang sangat kebetulan sekali bersama beberapa mahasiswa." Ucap Ino.

"Bukannya foto ini kau pun ada." Ucap Naruto pada Ino, memperlihatkan foto dari belakang, seorang pemuda tengah merangkul seorang gadis, saat itu mereka bertiga tengah bersama.

"Tentu saja, mereka sengaja memotongnya." Ucap Ino, dia sudah sangat kesal tapi masih di tahan.

"Uhm, aku mengerti, seseorang sengaja ingin menjatuhkan Sakura dengan membuat postingan ini, seperti yang kau ceritakan Naruto, Sakura mahasiswi terpintar di fakultasnya, mungkin saja ada yang tidak senang." Ucap Shikamaru.

"Postingan ini secara tidak langsung ikut mencemarkan nama baikku, aku tidak bisa terima ini." Ucap Neji. Dia termasuk dalam foto-foto itu dan melihat dari judulnya saja beranggap jika seluruh foto yang di postingan itu, mencap mereka pemuda bodoh yang mau saja ikuti perintah seorang gadis, Neji ingin tertawa tapi dia bukan tipe seperti itu, mereka membuat postingan sampah dan hanya membuat pemuda ini ikutan kesal.

"Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Aku sudah berbicara pada Sakura, dia tidak ingin mengurusi masalah ini dan membiarkannya, tapi sejak tadi banyak komentar buruk yang terpampang di sana, mereka seperti mencap seseorang tanpa mengetahui fakta sebenarnya." Ucap Ino

"Ah, kami tahu, untuk saat ini, kau cukup tenang saja, biar kami yang melakukan sesuatu untuk orang bodoh ini, betul-betul merepotkan." Ucap Shikamaru.

"Aku pun begitu, orang ini harus mendapat ganjarannya karena sudah menjatuhkan sahabatku." Ucap Naruto, dia terlihat sangat kesal.

"Aku punya kenalan untuk masalah seperti, dia handal untuk menghaker akun." Ucap Neji.

"Kalian, terima kasih banyak, padahal hanya Sakura yang kalian kenal, oh iya, namaku Yamanaka Ino, salam kenal." Ucap Ino meskipun terlambat untuk memperkenalkan diri.

"Hyuuga Neji." Ucap Neji.

"Wah, kau saudara kembar Hinata? pantas saja kalian terlihat mirip." Ucap Ino.

"Panggil saja Shikamaru." Ucap Shikamaru.

"Uhm, baiklah, aku sedikit lega bisa mempercayakan hal ini pada kalian, sekali lagi terima kasih." Ucap Ino.

Pembicaraan mereka berakhir, Ino pamit untuk pulang duluan, Shikamaru, Naruto, dan Neji masih bersantai di kafe, sesekali menatap layar ponsel mereka dan kembali melihat postingan itu, Naruto merasa ada yang tidak biasanya dari semua foto itu, terutama foto terakhir.

"Apa kalian tidak menyadari jika foto terakhir ini mirip Sasuke." Ucap Naruto, penasaran.

"Hanya di lihat dari belakang tidak membuktikan apa-apa." Ucap Neji.

"Aku rasa itu Sasuke, hanya foto itu saja mereka terlihat sedang bergandengan tangan." Ucap Shikamaru.

"Jangan-jangan mereka pacaran." Ucap Naruto.

"Sudah, kau malah ikut bergosip, sangat jarang sekali untuk melihat Sasuke bersama seorang gadis, yaa kecuali gadis berambut merah yang seperti lalat di sekeliling Sasuke, dia terus bersamanya padahal beda fakultas." Ucap Neji.

"Bahkan, akhir-akhir ini Sasuke sering bersama Suigetsu." Ucap Naruto.

"Jangan katakan kalau kau cemburu." Ucap Shikamaru dan terkekeh.

"Ah, aku tidak peduli! Hanya saja sikap Suigetsu cukup buruk, aku tidak ingin dia mempengaruhi Sasuke." Ucap Naruto.

"Sebaiknya kita membuat rencana, komentarnya semakin panjang, sepertinya tidak ada tanda-tanda untuk mereka berhenti." Ucap Neji.

.

.

.

.

.

.

Esoknya, masih hari sibuk, akan banyak mahasiswa-mahasiswi yang terlihat di area kampus, Sakura tengah mengerjakan tugasnya di perpustakaan, hari ini mulai terasa aneh, beberapa teman kelasnya tidak mengabari jika dosennya tidak masuk, Sakura sudah berusaha tiba di kelas tepat waktu dan kelasnya kosong, berpikir jika mereka pindah ruangan tapi jawaban dari ketua tingkatnya hanya 'lupa mengabarinya' untung saja hanya beberapa kelas, selebihnya dia masih punya Ino dan Hinata, mereka akan selalu mengabari hal penting pada Sakura.

Beberapa hari terakhir pun Sakura jarang bertemu Sasuke, sedikit merindukan pacarnya itu, segera menggelengkan kepalanya cepat, dia harus fokus belajar, jika sudah liburan mereka bisa bersama, melirik ponselnya dan kembali teringat akan postingan kemarin, masih terasa damai menurut Sakura, tidak ada dampak aneh dari postingan itu padanya, berkesimpulan jika itu hanya postingan bualan semata yang akan laris kemarin dan besok tidak akan laku lagi, Sakura sangat berharap akan hal itu, kecuali tatapan beberapa teman kelasnya yang masih memandang aneh.

"Sakura." panggil seseorang, Sakura menoleh, Utakata menghampirinya.

"Ada apa senpai?" Ucap Sakura.

"Kelasmu sudah berakhir?" Tanya Utakata.

"Belum, aku masih ada kuliah, kira-kira setengah jam lagi." Ucap Sakura.

"Uhm, baiklah. Setelah itu kau ke lab rumah sakit, aku perlu sedikit bantuan." Ucap Utakata.

"Iya, aku akan ke sana setelah kuliahku selesai." Ucap Sakura.

Utakata hanya mengembalikan buku perpustakaan dan kembali ke lab. Sakura segera menyelesaikan tugasnya, tinggal 15 menit untuk jam kuliah berikutnya, gadis ini bergegas kembali ke fakultas, langkahnya terhenti dan melihat Hotaru yang sepertinya akan ke perustakaan.

"Hotaru." Panggil Sakura.

"Sakura?" Ucap Hotaru, rautnya terlihat sedikit aneh.

"Kita jarang sekali sekelas setelah beberapa semester." Ucap Sakura.

"Uhm, be-begitulah." Ucap Hotaru, mengalihkan tatapannya.

"Kau akan perpustakaan?" Tanya Sakura.

"Iya, aku akan ke sana. Oh iya, Sakura, ada hal yang ingin aku tanyakan." Ucap Hotaru, Sakura bisa melihat perubahan raut wajah Hotaru, ada rasa kesal dan sedih di sana, tangannya mengepal. "Ah, maaf tidak jadi, aku harus buru-buru ke perpustakaan." Ucap Hotaru dan bergegas pergi.

Sakura terdiam, Hotaru tidak seperti biasanya, dia gadis yang tegas dan periang tapi kali ini Sakura merasa Hotaru sangat berbeda saat pertemuan pertamanya, sedikit rasa penasaran, mungkin saja Hotaru sedang ada masalah dan tidak tepat untuk berbicara dengannya saat ini. Gadis berambut softpink ini bergegas ke fakultasnya, dia harus fokus dan merasa tidak perlu mencampuri urusan orang lain, urusannya sendiri pun belum terselesaikan.

Masuk ke ruangan kelas dan lagi-lagi tatapan itu belum menghilang, Sakura menganggap hal ini mulai mengganggu, mengacuhkannya, Sakura tidak akan ambil pusing, mereka hanya mempercayai hal yang di karang-karang seseorang.

Kelas berakhir, Sakura harus ke lab lagi, Utakata masih menunggunya di sana, seseorang tengah memandangi Sakura dari jauh, itu jalur ke lab dan wajahnya tidak terlihat senang, merasa jika Sakura terus-terusan bersama Utakata.

.

.

Beberapa hari berlalu dan hal ini semakin menjadi-jadi, Sakura sudah berusaha menahan diri tapi kali ini tidak lagi, dia selalu mendapat informasi yang salah, jika tidak sekelas dengan Ino atau Hinata, dia sudah terancam mendapat banyak absen, para ketua tingkatnya sudah di luar batas, dan hari ini menjadi puncak kekesalan Sakura, tidak ada yang mengabarinya tentang tugas dan dia mendapat nilai nol untuk tugas itu.

"Kau ketua tingkat kan? Seharusnya informasimu merata, kenapa hanya padaku kau tidak memberikan informasi tugas?" Protes Sakura.

"Ah, maaf Sakura, aku lupa." Ucapnya.

"Lupa? Jadi apa kau akan lupa terus sampai aku mengulang untuk mata kuliah ini!" Ucap Sakura, dia benar-benar kesal.

"Sakura, sudahlah, dia hanya lupa, kenapa marah-marah."

"Benar, kau saja yang tidak rajin bertanya padanya, ketua tingkat manusia biasa juga, mereka kadang akan lupa."

"Tunggu, hanya lupa? Bukan hanya satu dua kali, apa lupa mengabari jika dosen sudah masuk itu juga tidak apa-apa? ini sungguh aneh, kalian mendapat informasi dan aku tidak?" Ucap Sakura.

"Tenang saja, nilaimu tetap akan bagus meskipun tidak mengerjakan satu atau dua tugas."

"Apa! Apa maksud kalian? Tidak mengerjakan tugas, tidak ada nilai, tidak ada nilai sama saja nilai ku akan berkurang. Ada apa dengan kalian?" Ucap Sakura.

"Berhenti Sakura, kau ini selalu ingin terlihat mencolok yaa."

"Kau sudah pintar dalam segala, termasuk pintar membodohi para mahasiswa di kampus ini."

Plaaakk...!

"Jadi kau sudah cukup sombong untuk makan gosip murahan, dasar, untung saja Sakura pintar, dia tidak memperdulikan gosip itu, dan aku rasa hanya orang bodoh saja yang mau termakan hal itu. Untuk kali ini saja aku menahan diri, besoknya jika aku mendengar ada yang mengatakan hal buruk tentang Sakura, aku jamin rumah sakit kampus akan menjadi tempat pulang kalian." Ucap Ino dan ancaman darinya, segera menarik lengan Sakura keluar dari kelas yang mulai tak terkendali itu.

Ino terus menarik Sakura hingga mereka keluar gedung fakultas. Sakura tidak menyangka jika Ino akan masuk ke kelasnya dan malah menampar mahasiswi yang sudah mengucapkan hal buruk tentang.

"Kau tahu, aku sudah menahan diri sejak awal, tapi ucapan mereka tidak ada yang mau berhenti dan malah menjadi-jadi." Ucap Ino, sebelumnya dia sudah berencana untuk mengajak Sakura ke kantin bersama, ruangan kelas Sakura masih tertutup, Ino ingin menunggu, tapi dari luar mulai terdengar suara-suara yang Ino pun tidak senang mendengarnya, seakan-akan mereka menyalahkan Sakura sepenuhnya.

"Terima kasih, Ino, sejujurnya aku ingin pergi saja tadi, tapi rasanya begitu kesal." Ucap Sakura

"Gosip itu masih beredar dan menjadi trend topik, bahkan komentarnya sudah ribuan, aku tidak mengerti, kenapa mereka sangat rajin untuk mengurusi kehidupan orang lain?" Kesal Ino.

"Aku tidak tahu. Haaa...~ jika ini tidak berakhir, beasiswaku akan terancam dan aku harus bekerja ekstra, aku jadi merasa tidak enak pada Fuka, seenaknya menentukan jam kerja." Ucap Sakura.

"Untuk saat ini aku tidak bisa membantu apa-apa, tapi aku harap kau tetap tenang, jangan terpancing oleh mereka, jika seperti tadi lagi, biar aku yang menampar mereka." Ucap Ino dan terkekeh.

"Maaf aku jadi merepotkanmu." Ucap Sakura.

"Ino, Sakura." Suara Hinata, dia berlari ke arah Sakura dan Ino, kelasnya mungkin sudah selesai dan menemukan dua orang yang sudah di anggapnya teman.

"Untunglah." Ucap Hinata, dia ngos-ngosan dan malah terlihat imut dengan wajahnya yang sedikit memerah, dia habis berlari.

Mau bagaimana pun dia terlihat seperti dewi. Batin Ino dan Sakura.

"Ada apa Hinata?" Ucap Sakura.

"A-anoo, kak Neji memintaku untuk mengajak kalian ke kafe, ada yang ingin dia bicarakan, kalau bisa Sakura juga harus ikut." Ucap gadis berambut indigo itu.

"Baiklah, kebetulan aku sudah tidak ada kuliah lagi." Ucap Sakura.

Berjalan keluar area kampus, kafenya cukup jauh dan harus berjalan beberapa meter ke sana, sesekali mereka bertiga akan bercerita, Ino menceritakan masalah Sakura pada Hinata, gadis ini merasa kasihan pada Sakura yang mulai mendapat perlakukan buruk dari teman-teman kelasnya, Hinata pun berusaha membantu Sakura, dia rajin untuk memberikan informasi pada Sakura.

"Yo. Sakura." Ucap Naruto.

Di sana sudah ada Shikamaru, Neji, dan Naruto. Ketiga gadis ini berjalan menghampiri mereka, Naruto berniat memberikan tempat duduk untuk Hinata di sampingnya, tingkahnya itu terbaca oleh Neji, berakhir dengan Hinata duduk di tengah-tengah, antara Sakura dan Ino.

"Maaf, tiba-tiba mengajak kalian ke sini." Ucap Neji.

"Tidak apa-apa." Ucap Ino.

"Kami sudah menemukan orang yang memposting hal itu, dia hanya mengatakan jika itu adalah suruhan, kami akhirnya menemukan orang yang menyuruh itu, tapi ada hal yang aneh, orang itu tidak berada di ruang lingkup kampus, aku rasa dia pun tengah berbohong menjadi pelakunya, motifnya sungguh aneh, hanya ingin menjatuhkan Sakura, masalah yang sangat simpel, saat kami bertanya dia memiliki masalah apa dengan Sakura, tatapannya mudah terbaca, dia terdiam beberapa detik, hal itu bisa menandakan seseorang tengah mencoba membuat cerita bohong." Jelas Shikamaru.

"Wah, Shikamaru, kau memang sangat pintar menganalisis apapun, tapi kenapa kalian tidak mengajakku!" Protes Naruto.

"Kau itu orang yang hanya memikirkan otot, jika kami mengajakmu, sudah pasti orang itu babak belur sebelum kami bisa mendapat informasi yang jelas." Ucap Neji

"Mereka hanya membuatku kesal." Ucap Naruto.

"Untuk masalah ini kau memang tidak perlu ikut, Naruto." Ucap Ino.

"Apa? kalian ini, aku ingin melindungi Sakura." Ucap Naruto.

"Naruto memang baik." Ucap Hinata.

"Hehehe, tentu saja." Ucap Naruto, malu di puji Hinata.

"Jangan coba-coba merasa senang saat Hinata memujimu." Ucap Neji, brotherconnya kumat.

"Hahahaha, Kau bisa mengubur Naruto hidup-hidup Neji." Ucap Ino.

"Kenapa arah pembicaraannya jadi berantakan begini." Ucap Shikamaru.

"Cukup." Ucap Sakura. Semua terdiam dan menatap ke arah Sakura. "Hentikan hal ini sekarang juga, Ino aku sudah katakan padamu untuk tidak bertindak, jika saja mereka kembali membuat hal yang lebih parah dari ini, bagaimana aku bisa menghadapi mereka?" Ucap Sakura. kekecawaan melandanya.

"Tidak Sakura, aku hanya ingin membersihkan namamu, tolong jangan tolak bantuan ini." Ucap Ino.

"Ah benar, aku pun merasa tercoreng saat melihat foto yang mereka katakan sebagai bukti." Ucap Neji.

"Kalian tidak mengerti, aku hanya ingin semuanya menganggap itu bukan masalah dan tidak perlu di permasalahkan lagi, kalian hanya akan menambah masalah, apa kalian pikir orang-orang seperti itu akan sadar setelah mendapat gertakan? Tidak, mereka akan kembali memikirkan hal buruk lainnya." Ucap Sakura. Tidak ada lagi pertahanan, semuanya runtuh, Sakura merasa bagaikan benteng yang tengah di hancurkan. "Maaf. Tapi tolong hentikan, tambahnya dan bergegas pergi, meninggalkan orang-orang yang peduli padanya.

Sakura tidak akan berhenti meskipun Ino atau Naruto meneriaki namanya, Neji menahan pergerakan Naruto, membiarkan Sakura untuk sejenak memikirkannya.

"Hari ini dia cukup kacau." Ucap Ino, dia sudah cukup mendengar ucapan Sakura, seakan teman-temannya mulai memberi hukuman pada Sakura, hal itu tidak pantas, Sakura tidak bersalah.

"Biarkan dia sendiri sejenak." Ucap Shikamaru.

Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bertindak secara diam-diam, Sakura tidak menyetujui hal yang di lakukan mereka.

Gadis berambut softpink ini memilih untuk pulang ke kostnya, hari yang buruk, pikirannya kacau, teman-temannya mulai ikut campur, kuliahnya cukup berantakan dan dia tidak memiliki ide untuk mengatasi semua masalah yang tengah di landanya, tiba di jalur kostnya, seseorang tengah berdiri di depan pintu masuk, Sakura mempercepat langkahnya, semakin cepat dan akhirnya berlari, suara langkahnya terdengar oleh orang yang sejak tadi berdiri sana, berbalik dan sebuah pelukan mendarat ke arah, pelukan erat dan gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada pemuda ini.

"Sakura?" Ucap Sasuke, bingung. Hari ini dia ingin menemui Sakura, dia tidak menemui gadisnya di fakultas, beranggap jika Sakura sudah pulang, tapi kostnya masih terkunci. Pelukan gadis itu mengerat, ada suara isak tangis di sana, Sasuke membalas pelukan itu. "Ada apa?" Tanyanya, gadisnya sangat aneh dan tidak biasanya, tubuh Sakura bergetar, dia tengah menangis. Sasuke ingin tahu apa yang membuat Sakura seperti ini, beberapa lama mereka berpelukan, akhirnya Sasuke mengajaknya pergi.

Sakura tidak ingin kemana-mana, Sasuke membawanya ke apartemennya, di sana jauh lebih baik dari pada harus berdua di kost Sakura yang cukup sempit, memberikan segelas air minum pada Sakura, setelahnya, mengusap wajah gadis itu, matanya mulai memerah, dia menangis cukup lama.

"Apa yang terjadi?" Ucap Sasuke. mereka hanya duduk di sofa.

"Aku tidak tahu." Ucap Sakura, dia pun tidak ingin Sasuke terlibat dalam masalahnya sendiri.

"Katakan saja." Ucap Sasuke.

"Tidak ada yang perlu ku katakan, aku hanya sedikit lelah untuk kegiatan di kampus." Ucap Sakura dan menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Aku pikir kau gadis kuat yang tidak akan mudah menyerah." Ucap Sasuke, dia tidak pandai menghibur.

"Mungkin aku sudah pada batasnya." Ucap Sakura, dia terlihat menghela napas.

"Saat hari minggu kita akan pergi bersama." Ucap Sasuke.

"Eh? Tidak, aku akan bekerja." Tolak Sakura.

"Aku akan minta ijin pada bosmu." Ucap Sasuke.

"Tidak perlu, aku tidak enak pada Fuka, sudah seenaknya mengatur jadwal kerja dan sekarang ingin minta jam kosong." Ucap Sakura.

"Baiklah, kita pergi sekarang." Ucap Sasuke.

"Se-sekarang?"

"Tidak, tahun depan." Ucap Sasuke, menggenggam tangan Sakura dan menariknya untuk pergi.

"Huu, dasar, seenaknya saja tiba-tiba pergi." Ucap Sakura, memasang wajah cemberutnya.

Meminta Sakura untuk naik ke mobilnya, sudah jam 7 malam, suasana di kota akan semakin ramai, cahaya lampu jalan, bangunan-bangunan turut memperindah kota dengan berbagai macam warna cahaya, pejalan kaki akan memenuhi setiap penyeberangan, biasanya di dominasi orang-orang yang tengah pulang kerja atau sekedar mereka akan berjalan-jalan di keramaian kota. Sakura memperhatikan sekitar, berusaha menenangkan pikirannya, beberapa hari ini sudah membuatnya cukup setres, masalah sepeleh dan malah menjadi-jadi, sedikit kesal dengan Ino yang tidak mendengarkan ucapannya, Sakura tahu, hal itu di lakukan Ino karena dia pun tidak suka jika ada yang akan menyakitinya, tapi gadis ini tidak ingin ada hal yang sampai di luar batas lagi, tersentak kaget saat sebuah tangan menggenggam tangannya erat.

"Kau seperti banyak pikiran saat ini." Tegur Sasuke.

Sakura menoleh sejenak dan kembali melihat pemandangan kota lewat kaca jendela mobil, membalas genggaman Sasuke, berharap pemuda di sampingnya itu tidak sadar akan masalah yang tengah di landanya.

"Tidak apa-apa, aku hanya sedang jenuh." Ucap Sakura.

"Sejujurnya aku tidak begitu tahu untuk menghibur seseorang, maka dari itu aku memilih untuk menghindarinya sampai dia bisa kembali menemukan moodnya." Ucap Sasuke.

Sakura mengingat saat dia marah dan Sasuke pergi begitu saja, mulai memahami pacarnya ini, Sakura hanya salah paham. "Pantas saja, kau pergi begitu saja." Ucap Sakura, mengalihkan tatapannya ke arah Sasuke. "Saat itu, aku pikir kau sedang marah, maaf jika kata-kataku sedikit kasar, aku hanya uhm.. ha-hanya cemburu." Ucap Sakura, wajahnya mulai merona.

Mobil Sasuke berhenti secara mendadak, Sakura sampai terkejut dan tubuhnya sedikit terdorong ke depan.

"A-ada apa?" Ucap Sakura, dia pun panik, Sasuke mengerem mendadak.

Mobilnya kembali melaju dan hanya ada suara tawa, Sakura tidak tahu jika Sasuke pun akan bisa tertawa lepas seperti sekarang. Setelah mendengar ucapan Sakura, Sasuke hanya berkesimpulan jika Sakura tidak ingin terlihat bodoh, dia hanya cemburu dan melampiaskan kekesalannya pada Sasuke.

"Apa yang lucu?" Ucap Sakura, bingung.

"Tidak ada, tapi siapa yang membuatmu cemburu seperti itu." Ucap Sasuke, berhenti tertawa, kembali fokus mengendarai mobilnya.

"Se-sebagai pacarmu wajar saja aku cemburu kalau kau lebih rajin bersama gadis lain." Ucap Sakura, wajahnya kembali merona.

"Karin?" Ucap Sasuke, sontak membuat Sakura cukup terkejut.

"Ah, sudahlah, aku tidak peduli." Ucap Sakura, menghindari tatapan Sasuke, memilih kembali menatap ke jendela.

"Kau hanya perlu percaya padaku." Ucap Sasuke, tatapannya fokus pada jalanan.

Kembali menatap Sasuke, Sakura hanya bingung, apa dia harus mempercayai Sasuke atau tidak sama sekali, hubungannya selama ini masih dalam hubungan yang terlihat santai, bahkan pertengkaran pun sangat jarang terjadi pada mereka, kurangnya bertemu atau komunikasi selama masa kuliah membuat hubungan mereka sedikit renggang, Sakura merasa belum benar-benar memahami Sasuke, mempercayai apa yang di lihatnya tanpa bertanya lebih detail pada Sasuke, kecurigaan sepihak.

"Ada apa? Kau tidak percaya padaku?" Ucap Sasuke.

"Ti-tidak, aku percaya, aku percaya." Ucap Sakura, menundukkan wajahnya, keraguannya harus di buang jauh-jauh.

"Kalau kau masih belum percaya, ucapanmu untuk menutupi hubungan ini sebaiknya kau hentikan saja, aku tidak peduli siapapun yang mengetahui hubungan kita." Ucap Sasuke, tatapannya begitu tenang, Sakura sama sekali tidak bisa membaca pikirannya.

"Tidak perlu, aku percaya padamu." Ucap Sakura, nada suaranya terdengar melemah, seakan dia pasrah dengan apapun yang terjadi, jika pada akhirnya hubungan ini akan berakhir, mungkin itu adalah masa depan mereka.

Mobil Sasuke menepih, masuk ke dalam sebuah parkiran dan berhenti, mereka belum turun, Sasuke menggenggam kedua tangan Sakura, memintanya untuk menatapnya, wajah Sakura mulai merona, cukup malu jika harus berhadapan langsung.

"Kau percaya padaku?" Ucap Sasuke, memastikan ucapan Sakura.

"A-aku percaya." Ucap Sakura, gugup, mengalihkan tatapannya, tidak berani untuk menatap wajah Sasuke.

"Benarkah? Kau bahkan mengalihkan tatapanmu." Ucap Sasuke, membuat si gadis berambut softpink ini segera mengangkat wajahnya dan menatap mata onyx itu.

Cup...~

Ciuman sepintas di bibir semakin membuat wajah Sakura merona, tingkahnya mulai panik, menarik tangannya dari genggaman tangan Sasuke, menempatkan kedua tangannya menutupi wajahnya.

"Baiklah, aku pun percaya." Ucap Sasuke, berusaha menahan tawa, sedikit menggoda pacarnya.

"Sudah, sekarang apa yang kita lakukan?" Ucap Sakura, menjauhkan tangannya perlahan dari wajahnya.

"Kita sudah sampai, aku ingin mengajakmu ke sini." Ucap Sasuke.

Berjalan keluar dari mobil, Sakura bisa melihat sebuah bangunan kecil berbahan kayu dan sisi lainnya seperti dermaga, terdengar sesuatu yang sangat familiar, suara ombak kecil, angin bertiup perlahan, suasana malam membuat Sakura tidak sadar jika mereka tengah berada di sebuah kafe dekat pinggir pantai, mungkin jika siang hari, bisa terlihat pemandangan laut, malam hari hanya ada pemandangan lampu-lampu dari kapal yang tengah berlayar atau lampu warna merah yang berkedip beberapa kali di area laut, sesekali akan terdengar suara kapal yang akan bersandar.

Masuk pada area kafe, lantai kayu, tidak ada dinding, tidak ada atap, kafe bertemakan outdoor, mungkin bangunan di dekatnya adalah dapur, hanya ada pilar-pilar di setiap sisi, area berbentuk persegi panjang dan cukup luas, meja-meja kayu begitu juga kursinya, namun terasa nyaman dengan bantalan duduk yang empuk, di bawah lantainya sudah berada pada area laut, pilar-pilar itu yang menyangga lantai kayu ini agar tetap berdiri kokoh, angin yang tidak terlalu kencang, meskipun malam, lampu-lampu pada setiap pilar yang menjulang tinggi membuat area itu menjadi sangat terang.

Sakura mulai duduk dan menikmati suasana malam di pinggir laut yang damai, suara ombak tidak begitu mengganggu, sebuah lilin aroma terapi berada di setiap meja, seorang pelayan datang dan menyambut ramah mereka, memberikan buku menu dan menawarkan beberapa dessert yang cukup ringan untuk di konsumsi, ada pun makanan utama dan lebih pada menu seafood, Sakura tidak begitu lapar dan hanya memesan dessert mereka, parfait menjadi pesanan Sakura, Sasuke memilih secangkir ice coffee, dia hanya ingin menemani Sakura.

"Aku jadi tidak enak padamu, lagi-lagi kau mengajakku ke tempat seperti ini." Ucap Sakura.

"Hn? Apa ini tempat yang berlebihan?" Ucap Sasuke, menyederhanakan ucapan yang biasa akan Sakura katakan, seperti 'mewah'.

"Aku masih berutang traktiran padamu." Ucap Sakura, kembali mengingat jika dia belum mentraktir Sasuke kembali.

"Aku pikir kau lupa untuk membuatkanku masakan buatanmu." Ucap Sasuke.

"Ah, aku benar-benar lupa akan hal itu, mungkin di lain waktu, saat ini tidak ada waktu kosong untukku." Ucap Sakura, menghela napas, waktunya begitu sedikit dan harus melakukan banyak hal dalam sehari.

"Jika setelah kelas berakhir aku bisa menjemputmu, kau bisa menggunakan dapurku lagi." Ucap Sasuke, penuh harap, lebih menyenangkan menghabiskan waktu bersama Sakura.

"Kau ini terlalu memaksa." Ucap Sakura.

"Terakhir kau hanya membuatkanku bubur." Singgung Sasuke, membuat gadisnya kembali mengingat saat dia menjengkuk Sasuke yang tengah sakit.

"Uhm, akan aku usahakan." Ucap Sakura dan tersenyum malu, Sasuke selalu bertindak sesuai keinginannya, gadis ini sampai tidak punya celah untuk sekedar menolak.

Tidak beberapa lama pesanan mereka tiba, Sakura menghabiskan parfaitnya dan Sasuke cukup menatap horror pacarnya yang mampu mengahabiskan makanan mengerikan itu, hanya menurut pandangan Sasuke, dia sungguh tidak suka akan makanan yang manis-manis, tapi makanan yang manis pun sangat baik untuk meningkat mood seseorang asal dengan takaran yang wajar dan tidak berlebihan.

Sakura merasa jauh lebih senang setelah di ajak Sasuke, menghabiskan waktu bersama di kafe dan berakhir Sasuke harus mengantar Sakura ke kostnya, gadis ini tidak ingin merepotkan Sasuke jika harus menginap, lagi pula besok dia harus bekerja.

"Sakura." Sasuke membangunkan Sakura yang tertidur sejak perjalanan pulang, pikirannya yang campur aduk, menjadikannya cukup lelah, hari yang benar-benar lelah.

"Nggg...~ hooaam..~ ah maaf, aku ketiduran." Ucap Sakura, mereka sudah tiba di jalur dekat kost Sakura. "Terima kasih untuk hari ini, rasanya sedikit rileks, maaf sudah membuatku sedikit kebingungan tadi." Ucap Sakura, dia malu akan tingkahnya yang tiba-tiba memeluk Sasuke dan menangis.

"Hn, kapan pun jika kau sedang bermasalah, kau bisa datang padaku." Ucap Sasuke, mengelus perlahan puncuk kepala Sakura, rona memerah menghiasi wajah gadis itu.

"Se-selamat malam." Ucap Sakura.

"Hn."

Cup...~

Ciuman balasan dari Sakura di pipi Sasuke, gadis itu mulai membuka pintu mobil dan pamit untuk bergegas masuk ke kostnya, pemuda bermata onyx itu tersenyum tipis, melambaikan tangan ke arah Sakura hingga gadisnya sudah masuk ke dalam kost, memegang pipinya, tadi bibir Sakura menempel di sana, ada sedikit rasa yang menggelitik perutnya, rona memerah menghiasai wajahnya, menghela napas perlahan.

Ahh..~ aku sungguh mencintai.

.

.

.

.

.

.

hari-hari berlalu, semua tidak sesuai dengan pemikiran Sakura jika mereka akan berhenti, kasus dalam postingan masih tetap menjadi pembahasan, Sakura tetap menganggapnya bukan masalah, dia hanya perlu kuliah dengan baik, jika terjadi lagi kasus seperti ketua tingkatnya tidak memberikan informasi, Sakura tidak akan segan-segan melaporkan hal ini, merasa tidak adanya keadilan, beberapa teman-teman seangkatannya itu sangat keterlaluan, menyandingkan masalah perasaan mereka dengan kuliah, Sakura tidak pernah berpikiran seperti yang terjadi pada postingan palsu itu.

Ino memilih diam, dia tetap ingin membantu Sakura dan tidak perlu memberitahukannya, hal ini sudah mereka bicarakan saat Sakura tiba-tiba pergi dari kafe tempo hari, Shikamaru yang menyarankannya agar tetap tenang, anggap saja mereka benar-benar sudah berhenti melakukan penyelidikan ini.

"Apa mereka masih mengganggumu?" bisik Ino. Mereka tengah di kelas, dosen sedang menjelaskan.

Sakura tidak menjawab dan hanya menuliskan sesuatu pada kertasnya.

Bicaranya nanti saja, aku sedang fokus.

Ino mengambil pulpennya dan menulis di bawa tulisan Sakura.

Baiklah, maaf.

Setengah jam berlalu, kelas berakhir, menyimpan kembali buku-buku mereka di ke dalam tas, Sakura tidak ingin membahas tentang masalah itu lagi, meminta Ino untuk tidak membicarakannya, setelah kuliah yang melelahkan, memilih kantin kampus sebagai tempat istirahat mereka.

"Maaf jika sudah membuatmu marah." Ucap Ino, di sela makannya.

"Sudah, ini terakhir kau membahasnya lagi." Ucap Sakura.

"Iya, bagaimana dengan membahas sesuatu yang sedang membuatku penasaran?" Ucap Ino.

"Apa?"

"Bagaimana hubunganmu dengan Sasuke?" Bisik Ino.

Uhuk uhuk.

Sakura sampai harus tersedak, Ino bergegas memberikannya air.

"Aku tidak tahu jika reaksimu akan sekacau ini." Ucap Ino.

"Pertanyaanmu yang terlalu mendadak." Panik Sakura.

"Hehehe, maaf-maaf." Ucap Ino, menahan tawanya. "Jadi?" Lanjut Ino, dia masih penasaran.

"Yaa, kami baik-baik saja." Ucap Sakura, sedikit malu.

"Uhm, kalian bahkan tidak terlihat sebagai pasangan, apa kalian tidak pernah bertemu?" Ucap Ino.

"Aku terlalu sibuk, kami bisa bertemu kapan saja, tapi tidak di dalam area kampus." Ucap Sakura.

"Aku tahu, agak sulit jika harus bersama mahasiswa yang cukup populer, aku ingat sedikit tentangnya, saat pesta keakraban di kafe, fakultas keperawatan dan fakultas kedokteran bersamaan, dia selalu saja di kerumuni para senior perempuan dan junior perempuan cukup menatap saja, mereka takut untuk ribut dengan para senior mereka, tapi aku cukup terkejut jika tahu dia malah memilihmu, hahaha, bagaimana reaksi para fansnya yaa." Ucap Ino.

"Cukup Ino, aku dan Sasuke sudah sepakat untuk mengumbar hal ini, jika kuliahku sudah berakhir..." Sakura terdiam.

"Jika kuliahmu sudah berakhir... apa?" Ucap Ino penasaran.

"Sudahlah, aku pun tidak tahu takdir kami akan bagaimana." Ucap Sakura dan wajah sedikit merona.

"Ah, aku doakan yang terbaik untuk kalian." Ucap Ino.

"Terima kasih."

Menghabiskan istirahat bersama, jadwal perkuliahan Sakura sudah berakhir hari, Ino masih ada kelas lagi, mereka berpisah di depan gedung fakultas, Sakura harus ke ruang lab di rumah sakit, Utakata sudah menghubunginya jika tidak ada kegiatan perkuliahan lagi.

Mengetuk pintu lab beberapa kali, suara dari dalam meminta Sakura untuk masuk, gadis itu membuka pintu perlahan, Utakata memintanya untuk ke salah satu meja, di sana ada beberapa buku, seperti biasa Sakura akan mencatat beberapa literatur sesuai permintaan Utakata.

"Maaf, hari-hari ini aku jarang ke lab." Ucap Sakura, dia sibuk berada di perkuliahan.

"Tidak apa-apa, lagi pula kita sudah sepakat untuk tidak mengganggu perkuliahanmu." Ucap Utakata.

"Terima kasih, senpai." Merasa sedikit lega, Utakata tidak mempermasalahkan hal itu.

"Uhm, akhir-akhir ada hal yang tengah ramai di perbincangkan beberapa mahasiswa di fakultas kita, aku sampai mendengar mereka bergosip di tengah jam lab, aku sudah melihat hal yang mereka bicarakan, itu tampak sepertimu, Sakura, aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa mereka sampai harus membicarakan hal yang belum pasti benar adanya." Ucap Utakata.

Sakura terdiam, menghentikan kegiatannya, wajahnya tertunduk sedih, bahkan hal ini bisa sampai pada ke seniornya, dia bingung harus membicarakan hal ini bagaimana, Utakata adalah senior yang cukup di hormatinya, ini adalah masalah pribadinya yang tidak bisa begitu saja di ceritakan pada orang lain.

"Aku pun tidak tahu apa yang sudah terjadi." Ucap Sakura, semakin menundukkan wajahnya.

"Maaf jika aku sedikit ikut campur, salah satu foto dengan keterangannya cukup membuatku tidak senang, itu adalah kita saat pergi ke lab, orang-orang ini sudah sengaja mengambil foto itu secara diam-diam dan membuat berita palsu." Ucap Utakata, di sangat marah setelah mendengar semua postingan itu dari angkatan senior.

"Maaf, aku benar-benar minta maaf, gara-gara aku, Utakata-senpai jadi ikut-ikut terlibat masalah ini, mereka pun pasti berpikiran hal buruk tentang senpai." Ucap Sakura. dia sungguh merasa bersalah, orang-orang di sekitarnya menjadi terlibat.

"Tidak perlu, yang harus meminta maaf itu adalah orang yang membuat postingan palsu itu." Ucap Utakata, dia pun tidak bisa menyalahkan Sakura, semua ini adalah kesalahan seseorang yang membuat berita itu. "Jadi apa yang akan kau lakukan?" Lanjut Utakata.

"Aku tidak tahu, selama ini aku hanya mendiamkan mereka saja, aku tidak ingin terlibat masalah lain lagi." Ucap Sakura.

"Langkahmu memang sudah benar, semakin kau mengusik mereka, semakin mereka ingin menambah masalah, hanya saja masalah seperti ini tidak terselesaikan, semakin banyak mahasiswa yang membicarakannya, salah satu komentar sampai mengatakan jika orang dalam foto itu menampar temannya sendiri." Ucap Utakata.

"Apa? itu tidak benar." Ucap Sakura mengangkat wajah, menatap serius ke arah Utakata.

"Dia bahkan memposting wajahnya yang memerah." Ucap Utakata lagi.

Sakura mengingat jika hal itu bukan perbuatannya tapi Ino yang sudah menampar salah satu dari mereka, Sakura tidak tahu jika masalahnya akan di buat serumit ini.

"Ini semakin kacau saja." Ucap Sakura.

"Aku harus membawa masalah ke wakil dekan kita, jika seperti ini, mereka bisa membuat nama baikmu semakin hancur." Ucap Utakata.

"Tidak senpai, jangan lakukan, aku tidak ingin gara-gara masalah ini ada yang kena masalah lagi." Ucap Sakura.

"kau terlalu baik Sakura." Ucap Utakata.

Kembali sibuk mencari literatur, mengabaikan Utakata, meskipun tidak sopan, dia sudah tidak ingin membahasnya lagi, mau di lupakan dan Utakata kembali membahasnya. pemuda itu menatap juniornya, dia terlihat tidak ingin terlibat semakin luas, seperti masa bodoh akan masalahnya, Utakata tidak ingin ikut campur, tapi Sakura adalah murid terpintar dan berprestasi di angkatannya, seseorang bisa mencap buruk dirinya gara-gara postingan palsu yang masih beredar.

.

.

Membantu Utakata sudah selesai, gadis berambut softpink ini berkali-kali menghela napas, berjalan di koridor kampus, sekedar mencari Ino, mungkin dia sudah selesai kuliah atau masih menatap di kelas, langkahnya terasa berat seakan beban tengah menarik salah satu kakinya, postingan itu tidak juga meredah, Sakura hanya membukanya sekali dan tidak ingin melihat postingan itu, ada pro dan kontra, tapi lebih banyak cacian di sana.

"Sa-Sakura." Panggil seseorang.

"Hotaru?" Sakura tidak menyangka jika Hotaru akhirnya mau berbicara dengannya setelah sikap anehnya tempo hari.

"Uhm, teman kelasku sedang mengadakan pesta ulang tahunnya di kafe, cukup jauh dari area kampus, a-aku... aku kurang akrab dengan mereka, tapi tidak enak jika menolak, kau bisa menemaniku ke sana?" Ucap Hotaru, Sakura masih merasakan ada yang tidak beres dengan sikap Hotaru, masih seperti menyembunyikan sesuatu, dia bahkan tidak berani menatap Sakura saat berbicara.

"Kau ingin aku menemanimu?" Ucap Sakura.

"Iya, jika kau tidak keberatan." Ucap Hotaru.

"Kapan?" Ucap Sakura.

"Sebenar, jam 8 malam, ti-tidak masalah jika kau tidak bisa, mungkin aku pun tidak perlu ke sana." Ucap Hotaru.

"Baiklah, kebetulan malamnya aku sedang free dan bebas tugas, sebaiknya kau pergi, aku tidak ingin mereka menganggapmu orang yang pelit untuk bergaul, Hotaru'kan orang yang baik." Ucap Sakura dan tersenyum.

Hotaru tersentak kaget, terasa ada yang aneh pada dirinya, dia tahu jika Sakura tidak mungkin seperti di ceritakan dalam postingan itu, meskipun dia bersama Utakata, Sakura hanya terlihat bersama senpai itu jika dia sedang menjadi asdos, selebihnya Sakura sibuk sendiri, kebingungan sedang melanda pikirannya, antara ingin percaya dan tidak percaya, merasa Sakura sudah merebut seseorang yang cukup di kaguminya sejak menjadi mahasiswa keperawatan, Hotaru menyukai Utakata.

"Y-ya sudah, aku harus bertemu dosen dulu, kita bertemu di sana, ini alamat kafe itu, cukup berjalan lurus saja setelah belok ke kiri dari gerbang kampus." Ucap Hotaru, memberikan secarik kertas bertuliskan nama kafe itu.

"Okey."

Hotaru buru-buru pergi, Sakura menatap nama kafe itu, menghela napas, setidaknya Hotaru mau berbicara dengannya, Sakura pikir Hotaru pun ikut-ikutan seperti teman kelasnya yang mempercayai postingan konyol itu.

.

.

Setelah menyelesaikan urusannya di kampus, Sakura bergegas pulang, sekedar membersihkan diri, cukup gerah dan dia harus ke kafe untuk menemani Hotaru.

Cukup jauh dari area kampus dan kostnya, Sakura berjalan hingga 25 menit dan dia baru tiba, suasana kafe cukup ramai, banyak orang di dalam, beberapa orang yang tidak di kenal Sakura, kafe ini seperti sudah di sewa oleh seseorang, semua saling mengenal.

"Wah, Sakura, mana Hotaru?" Ucap salah satu gadis, Sakura hanya mengenal gadis itu sebatas teman seangkatannya.

"Aku pikir dia sudah berada di sini." Ucap Sakura.

"Hoo, sepertinya Hotaru akan telat, tungguh saja, dia sebentar lagi akan datang."

Sakura mengangguk, merasa suasana asing di area kafe, para gadis itu mengajak Sakura untuk duduk, menawarkan minuman dan memintanya menunggu, hanya para gadis itu yang Sakura tahu, salah satunya yang sudah di tampar Ino, Sakura meminta maaf padanya, tapi gadis itu seakan merasa itu bukan masalah, mereka seperti sudah lupa akan hal itu, semakin ramai dengan suara beberapa orang.

Kembali Sakura di tawarkan minum, entah sudah berapa kali, gadis ini hanya menuruti mereka, agar tidak bosan menunggu, mereka terlihat ramah dan sesekali bercerita tentang dosen yang galak, Sakura mengikuti alur pembicaraan mereka, lama kelamaan kepalanya sedikit pusing, dia tidak sadar sudah minum berapa banyak, dan itu bukanlah sebuah minuman bersoda biasa, gelas-gelas di kafe ini di penuhi minuman beralkohol, Sakura hampir hilang kesadaran, Hotaru pun di lupakannya, gadis itu tidak akan pernah datang. Teman-teman seangkatan Sakura mulai memandang aneh pada gadis berambut softpink itu, tatapan yang merasa jijik pada gadis sok pintar, wajah mereka yang ramah berubah menjadi tatapan licik, ini rencana yang cukup bagus untuk mengakhiri gadis yang sangat mengganggu bagi mereka.

.

.

Di kafe lain, Suigetsu memandang risih pada gadis di sampingnya, gadis berambut merah itu selalu saja mengikuti mereka, Sasuke sedang sibuk mengerjakan tugasnya bersama Suigetsu, sejak pulang kuliah mereka masih berada di sana dan Karin terus-terusan mengekor Sasuke.

"Apa kau tidak punya kegiatan lain selain mengikuti kami?" Ucap Suigetsu.

"Kerjakan saja tugasmu, aku tidak mengganggumu kan, lihatlah, bahkan Sasuke tenang-tenang saja." Ucap Karin, mencoba tenang menanggapi Suigetsu, dia hanya pura-pura agar terlihat baik di depan Sasuke.

"Sasuke hanya menghormati keluargamu karena orang tuanya, bukan peduli padamu." Singgung Suigetsu.

"Kau ini..-"

"-Hentikan Suigetsu, jangan mengganggunya, lagi pula Karin hanya diam saja." Ucap Sasuke, dia tidak senang jika sedang fokus dan malah ada suara ribut-ribut.

"Terima kasih, Sasuke." Ucap Karin, dia merasa sangat senang sudah di bela Sasuke, ponselnya berdering, Karin sibuk menatap ponselnya, pesan yang muncul lebih menarik dari pada sekedar terusik ucapan Suigetsu.

Sugietsu bisa melihat perubahan sikap Karin, dia bahkan tersenyum licik melihat layar ponselnya, sedikit iseng, merampas ponsel Karin dan melihat apa yang sedang membuat gadis berambut merah ini tersenyum aneh.

"Suigetsu kembalikan!" Protes Karin, dia bahkan berteriak marah, merampas kembali ponselnya hingga mejanya terbentur pada lututnya, Karin tidak peduli, yang dia cemaskan jika Sasuke pun ikut melihat apa yang sedang terpampang di layar ponselnya. Berhasil merampas ponselnya, dia kembali duduk tenang, sempat memukul keras bahu Suigetsu, Sasuke menatap mereka berdua, terkesan seperti anak-anak kecil.

"Suigetsu." Tegur Sasuke.

"Maaf-maaf." Ucap Sugetsu.

Karin sudah hampir ingin mencekik Suigetsu jika saja rencananya terbongkar, tangannya gemetaran menatap ke arah Sasuke dan tersenyum kaku.

"Aku mau ke toilet dulu." Ucap Siugetsu.

"Dasar, pergi saja sana, berharap ada yang menguncimu." Ucap Karin, dia masih kesal.

Suigetsu hanya tertawa, sengaja meletakkan secarik kertas ke arah Sasuke, Karin tidak menyadarinya, dia hanya sibuk kembali mengamati ponselnya. Setelah Suigetsu pergi, detik berikutnya Sasuke juga ke toilet. Di sana, Suigetsu sudah menunggu Sasuke, memegang kunci mobil pemuda itu dan memberikan padanya.

"Pergilah, aku tidak ingin membuatmu khawatir, tapi sebaiknya kau menemui Sakura, dia berada di kafe X yang cukup jauh dari area kampus, Karin sepertinya sudah merencanakan hal ini, teman-teman Karin membuat Sakura mabuk, dia bahkan di kerumuni oleh para pria yang bukan dari fakultas kita, aku melihat semua itu dari foto yang di kirim teman-teman Karin." Ucap Suigetsu.

Tanpa membalas ucapan Suigetsu, Sasuke bergegas, dia bahkan berlari meninggalkan kafe, terburu-buru masuk ke dalam mobilnya, menginjak gas cukup dalam hingga mobilnya berjalan lebih cepat. Sugietsu kembali ke meja mereka, dia terlihat cukup santai, melihat hasil kerja Sasuke, masih ada sedikit yang belum di ketiknya, melanjutkan sisa kerja teman sekelasnya itu.

"Sasuke dimana?" Ucap Karin, merasa sedikit aneh, Sasuke sangat lama kembali dari toilet.

"Aku rasa dia sedang sakit perut, hahahaha." Ucap Suigetsu dan tertawa riang.

"Berbicara denganmu cukup membuatku muak." Ucap karin, jauh lebih menyenangkan memperlihatkan sikap aslinya jika hanya bersama Suigetsu.

"Asal kau tahu saja, Sasuke tidak akan pernah mau bersama gadis yang memiliki kelicikan yang busuk sepertimu." Ucap Suigetsu tanpa menghentikan kegiatan mengetiknya.

"Jangan ikut campur urusanku, kau sama sekali tidak ada apa-apa." Ucap Karin.

"Ya, sombongkan saja harta orang tuamu, aku pun tidak peduli." Ucap Suigetsu.

"Dasar, jangan berbicara lagi padaku." Ucap Karin, dia semakin kesal.

"Hahaha, baiklah." Ucap Suigetsu, sedikit menyenangkan untuk mengganggu Karin.

.

.

Mobil Sasuke menepih, dia tidak main-main untuk sekedar membalap kendaraannya, mendorong pintu kafe itu dengan keras, semua yang ada di dalamnya cukup terkejut, pintu kafe yang terbuat dari kaca itu sampai pecah, Sasuke tidak mendorongnya dengan tangan, melainkan menendang pintu itu, beberapa gadis yang sudah mengerjai Sakura terdiam, mereka melihat Sasuke dan segera mengirim pesan pada Karin, Sasuke terlihat sangat marah, tidak ada yang berani melihat ke arah pemuda itu, tatapannya menggelap dan seakan bisa mematahkan rahang siapapun yang berani melawannya. Di sudut ruangan, salah satu sofa, di sana Sakura tengah di biarkan terbaring di atas meja, pakaiannya sedikit berantakan seperti sengaja di biarkan kusut, bergegas ke arah Sakura, wajah gadis itu memerah, dia sangat mabuk, Sasuke mengangkatnya ala bridal style, keheningan melanda tempat itu, mereka terus terdiam dan terpaku hingga Sasuke keluar membawa Sakura.

"Itu Uchiha Sasuke kan?" Ucap seorang pria, salah satu dari mereka.

"Benar, dia Uchiha, ah aku tidak berani melawannya, orang tuanya cukup berpengaruh." Ucap pria lainnya.

"Kalian kenapa tidak menyembunyikan Sakura?" Ucap teman Karin.

"Tidak sempat, kau lihat kan, si uchiha itu sangat marah, kami tidak tahu jika gadis itu akrab dengan Uchiha."

"Aku tidak mau berurusan dengan Uchiha itu."

"Ah sudahlah, pesta ini sudah berakhir kan, kami pulang."

Para pria itu bergegas meninggal pesta ini, mereka tidak berani untuk ikut campur, mereka hanya menikmati pesta dan tidak tahu ada rencana terselubung.

Sasuke sudah membawa Sakura ke dalam mobilnya, berkendara dengan perasaan yang cukup kacau, dia bisa melihat saat masuk tadi, para pria mengerumuni gadisnya, Sakura tidak sadarkan diri, dia tertidur, jika saja Suigetsu tidak mengatakan hal itu padanya, entah apa yang akan mereka lakukan pada Sakura.

Sementara itu, Karin yang masih menunggu Sasuke dan Suigetsu hampir menyelesaikan tugas milik Sasuke, dia cukup terkejut setelah mendapat pesan dari temannya, Sasuke datang dan sangat marah, dia bahkan memecahkan pintu kafe.

"Ada apa Karin, wajahmu terlihat pucat." Ucap Suigetsu, memasang senyum liciknya, dia yakin jika rencana Karin sudah gagal, berharap Sasuke tidak mengamuk di sana.

"Sasuke dimana?" Ucap Karin, dia mulai panik.

"Sasuke? Mana aku tahu, kami hanya berpapasan di toilet." Ucap Suigetsu, masih dalam sikap yang tenang.

"Cih, sial!" Umpat gadis berkacamata itu dan bergegas pergi.

"Sudah mau pulang? Kau tidak ingin menunggu Sasuke?" Ucap Suigetsu.

"Aku ada urusan lain." Ucap gadis itu, melangkahkan kakinya.

"Jika Sasuke tahu kau adalah dalangnya, haa..~ aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, mungkin akan jauh lebih kacau dari keadaan Sakura sekarang. Dah...~ hati-hati di jalan." Ucap Suigetsu dan tersenyum.

Karin menatap kesal ke arahnya dan bergegas pergi, memikirkan setiap ucapan Suigetsu membuatnya ketakutan sendiri, bagaimana nantinya jika Sasuke marah besar padanya.

Kembali pada Sasuke, dia sudah tiba di apartemennya, menidurkan Sakura ke kasurnya, menyadari satu hal jika pakaian Sakura sengaja di robek, mengambil pakaiannya di laci, duduk di sisi ranjang.

"Sakura." Berusaha membangunkan gadis ini.

"Nggg...~ apa aku sedang bermimpi? Aku melihat Sasuke." Ucap Sakura, membuka matanya meskipun kesadarannya belum pulih, dia masih mabuk, Sasuke bisa mencium bau alkohol dari mulut gadis ini, mereka sungguh keterlaluan dengan sengaja membuat Sakura mabuk hingga tidak sadarkan diri.

"Ganti pakaianmu." Ucap Sasuke.

"Tidak perlu." Ucap Sakura, gadis ini malah memeluk Sasuke. "Apa kau benar Sasuke? Bukan para pria yang di kafe? Mereka memaksaku melakukan hal aneh." Ucap Sakura.

Sasuke terkejut, tangannya mengepal. "Tenanglah, kau sekarang aman." Ucap Sasuke, membalas pelukan Sakura, rasanya dia ingin kembali ke kafe itu dan memukul semua pria yang ada di sana.

"Kau sungguh masih ingin bersama gadis yang sudah di sentuh pria lain?" Ucap Sakura, tanpa sadar dia sudah menangis, melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke, wajahnya memerah, tatapan sayup tapi air mata itu sudah tidak bisa tertahan dan mengalir pada pipinya. "Aku sudah tidak tahan lagi! Mereka menyebarkan berita palsu, mereka sengaja berbuat baik padaku dan mereka sengaja memaksaku untuk bersama pria lain! Memangnya mereka siapa! Berani-beraninya mengusik kehidupanku!" Ucap Sakura, dia sangat marah, bahkan nada suaranya meninggi. Sasuke terus menatap gadisnya yang sudah hilang kendali, ada rasa sesak pada dadaknya, seakan dia pun ingin meledak dan melampiaskan rasa kekesalannya ini pada orang-orang yang sudah berbuat jahat pada Sakura, selama ini Sakura terus diam dan tidak menceritakan masalahnya. "Sasuke, apa kau pun sama seperti mereka, sengaja baik padaku?" Ucap Sakura nada suaranya meredah, menatap Sasuke lekat-lekat.

"Tidak, aku tidak akan pernah melakukan hal itu padamu." Ucap Sasuke, menyentuh lembut pipi Sakura, menghapus jejak air mata di pipi gadis itu.

Kembali Sakura menangis, kali ini bukan hanya meneteskan air mata, dia sudah cukup lelah untuk menahan perasaannya, sangat lelah, tubuhnya bergetar, hal ini sudah terlalu berlebihan dari sekedar membuat cerita bohong, mereka bahkan tega membuat Sakura seperti gadis yang gampangan untuk di sentuh, Sasuke di buat bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa, memeluk erat gadisnya, hanya itu yang di lakukannya, mengusap perlahan punggung Sakura dan mengecup keningnya.

"Sakura, tenanglah." Ucap Sasuke, menghela napas, dia akan membalas semua perbuatan mereka yang sudah membuat Sakura seperti ini.

Gadis itu terdiam, melonggarkan pelukannya dan menatap Sasuke, wajahnya penuh dengan air mata, Sasuke harus segera menggantikan pakaian Sakura, dia masih belum sadar dari mabuk, Sasuke tidak tahu mereka memberikan minuman pada Sakura berapa banyak, jika sudah sadar nanti, Sasuke memilih diam, dia tidak ingin menceritakan jika Sakura menangis seperti anak kecil.

"Ganti pakaianmu dan istirahatlah." Ucap Sasuke.

Sakura hanya mengangguk, mengusap wajahnya sendiri dengan bajunya, melepaskan bajunya yang sudah robek pada lengan, bagian dada, bahkan belakangnya pun robek, gadis ini terlihat seperti pengemis dengan baju compang-camping, mereka sungguh kejam melakukan hal ini, Sasuke tahu jika dia belum sadar, bahkan membuka baju dengan santainya di depan Sasuke, pemuda ini bisa melihat jelas pakaian dalam gadisnya.

"Sakura." Panggil Sasuke, tatapannya tidak lepas sekedar menatap wajah memerah Sakura.

"Uhm?" Gadis ini menatap Sasuke, dia terlihat mengantuk.

Sasuke terdiam, tangannya kembali mengepal, dadanya terasa bergejolak, dia ingin segera membalas mereka, membuat perhitungan pada para pria di kafe tadi. Sebuah tangan lembut menyentuh pipi Sasuke, Sakura berusaha tersenyum meskipun dalam dirinya dia sedang berteriak, mengecup perlahan bibir Sasuke.

"Tolong jangan membalas siapapun, aku sudah lelah dengan banyak masalah." Ucap Sakura. memejamkan matanya sejenak dan membukanya, berusaha menarik kesadarannya dari pengaruh alkohol, menatap mata Sasuke yang begitu kelam, pikiran pemuda itu menggelap, emosinya tengah meluap, Sakura menatap tangan Sasuke yang terus mengepal. "Sasuke." Panggilnya, berharap Sasuke jauh lebih tenang.

"Tidak Sakura, mereka pantas mendapatkannya." Ucap Sasuke, emosi sudah menguasainya.

Sakura sudah tidak kuat lagi untuk menahan diri, kepalanya sedikit sakit, menarik pemuda itu untuk berbaring di atasnya, dia harus menenangkan Sasuke, dia tidak ingin pacarnya ini akan mengamuk dan membuat orang lain kena masalah, jika itu terus terjadi, masalahnya akan semakin luas dan tidak ada penyelesainnya, Sakura tidak bisa berpikir jernih lagi, meraih wajah pacarnya dan menciumnya lagi dan lagi, Sasuke melampiaskan rasa kekesalannya pada Sakura, bukan dalam bentuk sebuah kekerasan, emosinya menjadi sebuah rasa obsesi, Sasuke tidak akan membiarkan siapapun menyentuh gadisnya lagi, menjadikan Sakura sebagai miliknya seutuhnya. Keadaan tidak terkendali lagi, perasaan kacau dan pikiran mereka yang saling membutuhkan, malam ini mereka terus bersama hingga Sakura akan menjeritkan nama Sasuke, kesadarannya mulai memudar dan gadis ini tertidur, mereka tidak sadar dengan apa yang sudah mereka lakukan. Sasuke menatap sejenak wajah gadis yang telah di tindihnya, masih memerah dan dia sudah tertidur. Sasuke menghela napas berat, dia harus meminta maaf pada Sakura jika sudah melakukannya, napsu telah menyelimutinya, Sasuke tidak bisa menahan diri lagi.

Berdiri dari ranjanganya, memakaikan pakaiannya pada Sakura, besok dia sudah merencanakan banyak hal, merebah diri di sebelah Sakura, mencium kening gadis itu sejenak dan ikut tertidur.

.

.

TBC

.

.


UPDATE...! sorry kelamaan, pada akhirnya lama ngetik chapter ini, duh jadi baper, chapter ini sedang konflik, author malas buat chapter ini, tapi ini cukup wajib, konfliknya rada ribet dan membuat author kesal sendiri untuk ketik, hahahahaha, aneh, sudah ah. makasih udah mau di tunggu yaa, author kebanyakan khilaf buat oneshoot dan berakhir pada fic TBC yang lama untuk di selesaikan, kalau pun ada yang request fic oneshoot tolong di PM aja, biar author mudah balasnya. hehehe, jika sedang senggang bisalah, buat dikit-dikit oneshoot.

khusus kali ini author panjangin deh, biar puas bacanya plus di bikin penasaran *ketawa jahat*

uhuk, kira-kira ada yang sadar nggak jika Sasu-saku itu udah khilaf, hahahaha.

tolong jika tidak keberatan, tandai typo XD

mau bahas apa nih, nggak ada kayaknya, author balas review aja sekedar menyapa reader.

.

fujiwaraa : Akhirnya update, sorry ini nggak bisa kilat. XD

CEKBIOAURORAN : Mereka perlu di tabok agar sadar jika itu keliru, hahaha,

mikaeMooo : semangat...~ sudah update.

Jeyhwasukasasu23 : apa di chapter ini abang sasu udah posesif ngga?

sitilafifah989 : dekat-dekat buat cari perhatian, eeeaaa..~

wowwoh-geegee : Update, jangan ikutan baper, hehehehe.

polar13 : terima kasih buanyak, author udah usaha update nih.

Guest : makasih udah mau jadi reader yang pengertian, *author terharu*

ChanbaekSaranghaeHeni : ya author cepat jenuh, soalnya idenya sudah jauh di pikiran author, dan pas mau di ketik malah keburu mager. =_= berharap laptop mengetik sendiri dan author hanya perlu berpikir, wow, keren banget kalau punya laptop pintar XD

Dolphin1099 : yaa. sekali-kali nggak mesra dulu lah, bosen mesra mulu, heheh *kabur*

Amamiya Rizumu : Teetottt... sepertinya ucapanmu sedikit meleset, ohohohohho. *ini termasuk kena spoiler untuk chapter depan* hahahahahahahah. sorry nggak fast yoo.

sitieneng4 : sankyuu...~ udah update nih.

DCherryBlue : update.

lacus clyne : terlalu santai kerjakan nih chapter, sarada tenggelam, masih belum muncul, update yaa.

Tri-chan : uhm.. author sudah pernah coba membagi waktu seperti Sakura, kerja sambil kuliah, dan itu sulit, hahahaha jadi intinya bagi waktu Sakura ini hanya bisa terjadi ada fic author. hohohohoh, sudah update... uhm... author ini cowok atau cewek yaa.. menurut kamu? hayoo..

cherry : makasih, update.

.

.

udah, segitu aja,

see next chapter,