Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

-Tolong dong, baca warningnya-

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

.

~ Tomato, cherry dan salad~

[ Chapter 9 ]

.

.

.

Suasana pagi yang begitu tenang, Sakura tidak bisa merasakan adanya sinar cahaya matahari masuk melalui jendela kecil di kamar kostnya seperti biasa, ada aroma familiar pada indra penciumnya, itu seperti Sasuke, membuka matanya, dia tidak sedang di kamar kost, ini kamar milik Sasuke, dia tengah berada di apartemennya, tidak ada suara lain, terasa begitu sunyi, gadis ini bangun dan meregangkan otot tangannya, kemarin adalah hari yang cukup lelah, dia lupa akan hal yang terjadi setelah dari kafe, hanya mengingat kepalanya yang pusing, melihat ke arah pakaiannya, ini baju milik Sasuke, celananya masih utuh, hanya bajunya saja, samar-samar Sakura mengingat kejadian semalam, kembali merebah tubuhnya.

"Apa yang sudah ku lakukan? Aku mengikuti keinginan Sasuke, kami hanya sedang dalam emosi yang meluap-luap, bahkan kami sudah melakukan hal 'itu', kau sungguh bodoh Sakura." Menghela napas, Sakura tidak bisa mengulang waktu itu lagi, dia sudah di jalan yang salah, tapi kembali mengingat ucapan Sasuke semalam, dia akan bertanggung jawab jika hal buruk terjadi pada Sakura, bingung, antara senang dan cukup kecewa, jika ibunya tahu apa yang telah di lakukannya bersama pemuda yang masih berstatus pacar dengannya, ibunya mungkin akan segera membunuhnya.

Bergegas bangun, berusaha mencari Sasuke, apartemennya benar-benar kosong, hanya ada selembar kertas di meja makan, berisi sebuah catatan dari Sasuke.


Aku ada kuliah pagi, sebaiknya kau mandi dan bersiap di rumahku saja, pakaianmu sudah ku buang, mereka sungguh keterlaluan dengan merobek bajumu, aku membelikan baju baru untukmu, pakailah dan habiskan sarapanmu, aku tidak bisa masak dan hanya memesannya dari luar, pintu apartemenku akan terkunci otomatis jika di tutup jadi tidak perlu menguncinya.


Sakura menatap baju baru yang Sasuke belikan, baju kemeja lengan pendek berwarna biru gelap, memikirkan jika pacarnya itu memilih baju sesuai warna kesukaannya sendiri, gadis ini tersenyum, menatap di sebelah baju itu ada sarapan dan juga segelas teh hangat yang mulai dingin. Mengikuti catatan Sasuke, dia akan bersiap, memakai baju pemberian Sasuke, cukup pas, sesuai dengan celana jins yang dia tengah kenakan, menghabiskan sarapan dan membersihkan piring makannya, hari ini Sakura tidak ada kuliah pagi dan akan bekerja. Berjalan ke halte untuk menaiki bus menuju cafe Fuka.

.

.

Fakultas kedokteran.

Sasuke terdiam setelah mendengar ucapan Naruto, hanya dia satu-satunya yang bisa di percayainya, Naruto menceritakan masalah yang telah terjadi pada Sakura, Shikamaru dan Neji pun berada di sana, mereka tengah duduk dan berkumpul di salah satu kelas yang sedang kosong.

"Kami sudah menemukan orangnya dan akan menyerang balik postingan orang itu." Ucap Neji, dia tinggal memberikan aba-aba pada kenalannya yang sudah menyiapkan postingan baru, cukup membuat tersangka utama itu akan kapok.

"Aku sungguh kesal pada mereka!" Ucap Naruto, tangannya mengepal.

"Yo, apa aku terlambat?" Suigetsu berjalan masuk ke dalam kelas.

"Ha? Apa yang lakukan di sini?" Ucap Naruto, dia sudah kesal dan bertambah kesal lagi setelah melihat Suigetsu datang dengan santainya dan duduk di sebelah Sasuke.

"Naruto." Sasuke menegur temannya itu untuk tidak ribut dengan Suigetsu hari ini.

"Kenapa kau harus mengajaknya?" Protes Naruto, Shikamaru dan Neji memilih untuk diam dan tidak terusik dengan adanya Suigetsu, mereka pikir Sasuke punya maksud tertentu untuk memanggil Suigetsu.

"Tenanglah Naruto, kau ini sungguh tidak bersahabat denganku yaa." Ucap Suigetsu.

"Kita lanjutkan saja." Ucap Sasuke.

"Baiklah, kita akan satukan informasi dulu. Siapa dalang dari masalah yang cukup konyol ini." Ucap Suigetsu.

"Seorang gadis dari fakultas yang sama dari Sakura, dia berkacamata dan rambutnya berwarna merah." Ucap Shikamaru.

"Wah, kalian hebat juga, padahal dia sudah membayar mahal orang-orang yang mau melakukan hal konyol itu." Ucap Suigetsu, dia bahkan bertepuk tangan beberapa kali.

"Informan milikku lebih akurat, mereka akan mudah menemukan hal semacam itu." Ucap Neji, dengan latar belakang Hyuuga yang cukup terpandang, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang mudah mendapatkan informasi.

"Kemarin dia berulah lagi, dia bahkan berani membiarkan para pria mengerumi Sakura." Ucap Suigetsu.

Brakk...!

Naruto terlihat marah, dia bahkan memukul meja, membuat teman-temannya cukup terkejut. Sasuke terdiam, dia tidak ingin mengingat hal kemarin yang membuatnya lepas kendali.

"Sialan! Biar aku memberikannya pelajaran, dia sudah sangat berlebihan." Geram Naruto, dia sangat marah, mencoba keluar dari kelas, Shikamaru dan Neji segera menahan Naruto untuk tidak keluar.

"Cukup Naruto, jika kau memukul gadis itu, masalah akan berbalik padamu, sekarang kita harus membersihkan nama Sakura, bukan memperkeruh keadaan." Tegur Shikamaru.

"Ya ampun, Naruto, kau jauh lebih berlebihan, apa kata mereka nanti jika melihatmu memukul seorang gadis." Ucap Suigetsu, dia menikmati Naruto yang sedang meluap-luap.

"Apa katamu-" Kesal Naruto.

"Naruto, tenanglah." Tegur Sasuke, lagi, dia tahu jika sahabat Sakura itu sangat marah, dia pun marah, tapi menyelesaikan masalah ini dengan amarah tidak akan menyelesaikan apa-apa, Sasuke mengingat setiap ucapan Sakura saat mereka bersama kemarin malam, Sakura tidak ingin ada masalah baru lagi, Sasuke pun ingin memukul gadis itu, tapi sekali lagi, itu bukan jalan keluar yang benar.

"Lakukan saja apa yang sudah kalian rencanakan." Ucap Sasuke.

Sebuah senyuman pada wajah Neji, dia akan membalas perbuatan gadis yang membuatnya ikut terlibat, mengirim sebuah pesan singkat pada kenalannya itu, segera saja sebuah postingan baru muncul, beberapa orang mulai melihat berita terbaru yang bahkan tanpa sensor wajah. Menyebutkan jika seorang gadis rela membayar berapa pun untuk menjebak salah satu teman seangkatannya, motifnya cukup pasaran, hanya gara-gara masalah temannya adalah gadis yang pintar, sedikit membubuhi cerita palsu juga, Neji meminta hal itu pada kenalannya, Suigetsu membacanya dan hanya tertawa, dia pun punya versi lain, hanya gara-gara cemburu pada Sasuke, kembali pemuda itu tertawa membuat Naruto risih akan suara tawanya, dia tidak tahu apa yang tengah di pikirkan Suigetsu.

Beberapa foto pada postingan itu dan ada bukti rekaman transaksi gadis yang berkacamata, tanpa sensor sedikit pun, menyebutkan nama 'Karin' berkali-kali, Naruto mengerutkan alisnya, melihat postingan lain yang dimana Sakura sengaja di biarkan mabuk, Naruto menatap kedua temannya itu, Shikamaru dan Neji memilih mengalihkan wajah mereka, itu adalah rencana yang sama sekali tidak di ketahui Naruto, sejak awal Neji meminta salah satu orang terpercayanya untuk mengawasi Sakura kemarin, jika Naruto datang lebih dulu ke tempat itu, maka rencana mereka akan sia-sia, Naruto mungkin akan menghancurkan tempat itu beserta siapapun di dalamnya, yang berada tidak jauh di TKP hanya orang-orang Neji, mereka akan menyelamatkan Sakura setelah mendapat bukti, tapi rencana mereka terhenti, mengabari pada Neji jika Sasuke datang dan membawa Sakura pergi, Neji menatap sejenak ke arah Sasuke, merasa jika temannya itu mungkin memiliki hubungan dengan Sakura, dia lebih dulu bertindak.

Komentar mulai bermunculan, mereka malah balik mencaci Karin, anak manja kaya raya yang tidak berotak dan lainnya, tidak henti-hentinya cacian itu meluncur, baru saja di posting dan beritanya meledak begitu saja. Utakata yang tengah mengawasi para mahasiswi, mereka malah kedapatan sibuk memegang ponsel, Utakata menyitanya hingga mereka selesai lab, dia sempat membaca yang tengah terpampang di layar ponsel mahasiswi itu, kembali postingan yang tidak bermutu, tapi Utakata membacanya hingga habis, postingan itu seakan ingin membersihkan nama Sakura, meminta temannya, asdos lain untuk berjaga, Utakata akan menyampaikan hal ini pada wakil dekannya, ini sudah termasuk pencemaran nama baik salah satu mahasiswi terbaik dan postingan baru itu bisa menjadi sebuah bukti.

Hotaru ikut membaca postingan itu, menutup mulutnya dan menahan tangis, dia sudah sangat bersalah untuk membuat Sakura dalam masalah, dia pun ikut terlibat, melihat foto Sakura yang di buat mabuk dan bahkan banyak pria di sana, Hotaru merasa dia pun tidak jauh beda dengan Karin, sebelumnya yang meminta Hotaru untuk mengajak Sakura adalah teman-teman Karin, mereka berbohong dengan mengatakan akan sedikit memberi teguran pada Sakura, namun itu bukanlah sebuah teguran, melainkan hal yang jauh lebih parah, mereka bahkan tega membuat Sakura seperti gadis jalang, Hotaru berlari sepanjang koridor, berusaha mencari Sakura.

Di salah satu kelas, dosen mereka belum datang, para mahasiswa pun sibuk sendiri, Ino dan Hinata saling bertatapan saat membaca postingan baru, mereka tersenyum bersama.

"Syukurlah.." Ucap Hinata.

"Aku harap gadis itu mendapat ganjarannya." Ucap Ino, akhirnya dia bisa bernapas lega, postingan itu bahkan tanpa sensor dan mereka akan mudah menemukan pelakunya.

.

.

Karin yang tengah berjalan ke arah gedung fakultas, langkahnya terhenti, bahkan melempar ponselnya ke jalan begitu saja, postingan baru yang tengah di membuatnya cukup terkejut, berusaha untuk meredam emosinya, hari ini pun dia bisa membunuh Sakura sekarang juga, melirik ke arah lain, menemukan Sasuke yang seperti biasa akan berjalan bersama Suigetsu, mencoba melupakan postingan itu, berlari cukup cepat hingga menghampiri Sasuke, menampakkan wajahnya cerianya, dia kesal tapi harus tetap berakting.

"Wah, aku tidak menyangka jika kau berani datang pada kami." Ucap Suigetsu.

"Kenapa? Aku sering bersama kalian kan, nah Sasuke." Ucap Karin, berwajah sok manis yang membuat Suigetsu ingin tertawa tapi di tahannya.

Sasuke tidak memperdulikan Karin, kembali berjalan, menganggap gadis itu seperti tidak ada di hadapannya.

"Sasuke!" Teriak Karin. "Ada apa denganmu? Jika kau punya masalah, kau bisa mengatakannya langsung padaku." Bentak Karin.

Sasuke berjalan ke arah Karin, cukup dekat, Karin sangat terkejut tatapan dingin dan menusuk yang sedang di lihatnya, mata onyx pemuda itu benar-benar kelam, Karin sampai merasakan tubuhnya bergetar, takut, dia takut melihat tatapan Sasuke saat ini.

"Jangan ganggu Sakura lagi, jika tidak, kau akan mendapatkan akibatnya." Ancam Sasuke, menahan amarahnya, berlalu begitu saja setelah memberi sebuah peringatan pada Karin.

"Dah, Karin." Ucap Suigetsu, dia terlihat begitu ceria.

Gadis berkacamata itu terduduk di jalanan, jantungnya berdegup kencan, yang di lihatnya tadi tidak seperti Sasuke, dia terlihat sangat berbeda. Karin menahan diri, dia pun tidak akan menangis, berdiri dan berjalan cepat ke arah kampusnya, dia akan mencari Sakura, pikirnya jika Sakura yang membuat postingan baru itu, Karin tidak menemukan Sakura, dia malah di panggil oleh wakil dekan.

"Apa-apaan ini! Kau mahasiswi dari fakultas kami dan mencoba membuat masalah, kau tahu apa akan terjadi pada temanmu itu, dia akan di musuhi bahkan akan mendapat masalah dengan berita palsumu, Haruno Sakua memang mahasiswi berprestasi, jika kau iri padanya, kalahkan nilainya, bukan dengan membuat berita seperti itu." Wakil dekan sangat marah dan menegur keras Karin.

"Bu-bukan aku pelukanya." Bela Karin.

"Jika kau bukan pelakunya, beberapa orang dalam postingan di website kampus itu akan di panggil dan menjadi saksi, apa kau mau ingin mengelak hal ini?"

"Ta-tapi pak, itu berita bohong juga, mereka sengaja menuduhku." Karin masih membela diri.

"Beberapa orang yang terlibat dalam postingan itu sudah kami panggil dan jika kau terbukti bersalah, tolong panggil kedua orang tua agar kami bisa menyelesaikan masalah ini, untung saja Haruno Sakura tidak menuntutmu atas pencemaran nama baik dan perencanaan tindakan asusila, kau bisa di penjara Karin."

Gadis itu terkejut, dia hanya mengikuti keegoisannya sendiri, siapa lagi yang bisa membantunya? Semua teman-temannya menjauh, mereka pun takut di tuntut, orang tua Karin, akan jauh lebih marah jika mengetahui tingkah laku anaknya sendiri.

"Ini sudah melewati batas Karin, jika kami di hadapkan dengan dua pilihan, kami akan mengeluarkanmu dari fakultas ini dan akan melindungi Haruno."

"Ha? Hahahaha, yang benar saja pak! Aku pun membayar uang kuliah, kenapa harus di keluarkan dari fakultas?"

"Nilaimu pun tidak bisa menunjang, kau bahkan harus mengulang beberapa kali mata kuliah."

Karin terdiam, dia tidak punya alasan apa-apa lagi, kesal dan sangat marah, dia ingin kembali membalas Sakura, namun ucapan Sasuke kembali di ingatnya, dia menjadi takut.

.

.

.

.

.

.

Seminggu berlalu tentang kejadian postingan yang cukup membuat heboh website kampus, namun tak lama kemudian, kedua postingan itu di hapus secara tiba-tiba, Karin tak terlihat, orang tuanya sangat malu dan mengeluarkan sendiri anak mereka, membawa Karin ke luar negeri untuk kuliah di sana, mereka ingin meminta maaf pada orang yang sudah menjadi korban anaknya, namun gadis itu cukup sulit di temukan, kata beberapa temannya dia orang yang sibuk, mereka hanya menitipkan dana untuk perkuliah gadis itu hingga selesai, gadis ini tidak tahu hingga sekarang jika kuliahnya gratis hingga semester akhir.

Sakura terlihat menghela napas, duduk di taman kampus dan membaca bukunya sekedar menghapal sesuatu dari buku itu, angin berhembus perlahan, suasananya begitu damai. Sebelumnya gadis ini sempat bingung dengan Hotaru yang tiba-tiba datang padanya dan meminta maaf, Sakura memaafkannya dan menganggap jika Hotaru pun di manfaatkan, suasana fakultas yang kembali tenang, para mahasiswa sudah melupakan postingan itu, mereka hanya kadang kesal jika mengingat perbuatan Karin yang sangat keterlaluan, orang-orang yang bersama Karin memilih membaur dan merasa merasa tidak ikut terlibat, Sakura juga ingin melihat postingan kedua itu namun sudah terhapus, Ino, Hinata bahkan Rin tidak ingin menceritakannya, mereka hanya memperlihatkan wajah senang dan meminta Sakura untuk tidak memikirkannya lagi. Naruto jadi aneh, memintanya untuk menghubunginya jika Sakura tengah dalam masalah.

"Apa ini sudah berakhir?" Ucap Sakura, matanya fokus pada bukunya, dia akan terlihat sedang membaca buku. "Haa..~ semoga, jika ada masalah lagi, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya teman-teman kelasku mulai kembali seperti semula, informasi yang merata, mereka tidak lagi menjauhiku atau sekedar iseng lupa mengabariku." Lanjut Sakura.

Tersentak kaget, seseorang menempelkan minuman dingin dalam kemasan kaleng pada pipi Sakura, menoleh ke samping, pemuda yang berbeda fakultas dengannya.

"Minumlah." Ucap Sasuke, memberikan minuman itu pada Sakura.

"Lagi-lagi kau mentraktirku." Ucap Sakura.

"Anggap saja hadiah." Ucap Sasuke, tidak ingin berdebat masalah traktiran lagi.

"Dasar, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tidak ada jadwal kuliah?" Ucap Sakura.

"Dosennya tidak masuk dan aku bebas sekarang." Ucap Sasuke.

"Hoo, baiklah, jangan mengusikku, aku sedang menghapal." Ucap Sakura.

"Hn." gumam Sasuke dan malah mengusap-ngusap rambut Sakura.

"Hentikan itu, aku tidak ingin di lihat mahasiswa lain." Ucap Sakura.

"Aku tidak keberatan jika mereka melihatnya" Ucap Sasuke.

"Sasuke."

"Ah, kau sungguh menyebalkan, setelah kegiatanmu selesai, kau harus ke rumahku dan membuatkanku makan malam." Perintah Sasuke.

"Eh? Makan malam? Apa tidak terburu-buru?"

"Kau jauh lebih sibuk dari pada seorang presiden, aku sulit untuk menyesuaikan jadwalmu, hanya saat kuliah berakhir dan tidak ada kerja part-time, kita bisa bersama." Ucap Sasuke.

"Bukannya kita sudah berjanji akan hal itu saat liburan." Ucap Sakura.

"Itu terlalu lama." Ucap Sasuke, merasa sangat gemas dengan pacar keras kepalanya ini.

"Ya sudah, setelah kuliah jam 4 sore berakhir." Ucap Sakura, mencubit pipi Sasuke, dia terlihat cemberut. "Maaf." Tambah gadis itu dan tersenyum.

.

.

Sedikit menyempatkan waktu, namun sangat berharga bagi Sasuke, mengajak Sakura ke apartemennya, menunggu gadisnya untuk menyelesaikan beberapa masakan.

"Bantu aku membawanya ke meja makan." Pinta Sakura.

Sasuke memberi sedikit bantuan, membawa beberapa masakan yang sudah jadi, hari ini Sakura akan menepati janjinya. Saat pulang kuliah, Sasuke menemaninya berbelanja, dapurnya yang tidak terpakai kini penuh dengan beberapa cipratan, potongan yang berserakan atau bahan-bahan yang di potong, cukup kotor.

"Sejujurnya aku kadang memasak lebih bersih dari ini." Ucap Sakura dan tertawa garing, dapur Sasuke sudah di buat kotor olehnya.

"Tidak apa-apa, kau bisa membersihkannya setelah ini." Sasuke menahan tawa.

Aku pikir dia akan mengatakan, "tenang saja, aku yang akan membersihkannya." Batin Sakura. Pikirannya itu meleset, Sasuke tidak mengucapkan seperti apa yang di pikirkannya, sibuk menyelesaikan masakan terakhirnya, wajahnya terlihat cemberut.

"Baiklah, aku yang akan membersihkannya." Bisik Sasuke. gadis itu tersentak kaget dan menatap kesal Sasuke

"Sa-Sasuke! Jangan tiba-tiba." Protes Sakura.

Cup.

Sebuah kecupan singkat membuat Sakura terdiam.

"Se-sebaiknya kau menunggu di meja makan." Gugup Sakura.

Ucapan gadis ini tidak di dengar, pemuda di hadapannya malah memajukan wajahnya perlahan. Bunyi bel membuat keduanya terkejut dan menjauh, Sasuke bergegas menuju pintu dan melihat siapa yang sudah merusak suasana hatinya.

"Oii Teme, kau ada di rumah?"

Sasuke mengumpat kesal, itu suara Naruto, kenapa di saat seperti ini Naruto malah datang? Belum membuka pintu, kembali ke dapur, berbisik pada gadis itu jika Naruto yang datang, sontak gadis berambut softpink itu benar-benar panik, dia tidak ingin Naruto mengetahui segalanya, berlari ke sana kemari, segera saja tangan Sasuke menariknya, menahannya untuk tidak panik dan berkeliaran seperti cacing kepanasan.

"Biarkan saja dia tahu." Sasuke sengaja memelankan suaranya.

"Dia tidak bisa di percaya, dia akan lapor pada ibuku." Sakura pun memelankan suara, melepaskan genggaman Sasuke, melirik kamar pemuda itu, tempat bersembunyi yang mungkin aman, bergegas berlari ke dalam kamar Sasuke, menutup dan menguncinya.

Sasuke terlihat menghela napas, berjalan malas membuka pintu apartemennya.

"Apa yang kau lakukan di dalam? Kau lama sekali membuka pintunya." Ucap Naruto. Menatap Sasuke dengan wajah bingung, namun wajah Sasuke yang terlihat kesal lebih membuat Naruto takut, seakan ada aura hitam di sekeliling pemuda berambut raven itu. "A-apa aku mengganggumu?" Tanya Naruto, takut-takut, dia pikir ini waktu yang tepat mendatangi Sasuke, tapi yang terlihat dia seperti ingin menelan Naruto hidup-hidup.

"Untuk apa kau datang sekarang?" Ucap Sasuke.

"Apa kau lupa, bukannya hari ini waktu pembuatan tugas, ingat kita satu kelompok." Ucap Naruto.

Sasuke menepuk jidatnya, tidak biasanya dia lupa akan jadwal tugasnya.

"Jangan-jangan kau melupakannya, apa kau ini benar-benar Sasuke? Kau itu selalu teliti." Ucap Naruto. penciumannya menangkap sesuatu, bau masakan dari dalam apartemen Sasuke. "Apa kau memasak?" Tanya Naruto.

"Kau pikir aku bisa masak?" Ucap Sasuke, memasang wajah datarnya.

"Hahahahah, itu tidak mungkin, tapi bau masakan ini dari dalam apartemenmu." Naruto menerobos masuk, berlari ke arah meja makan, di sana sudah tertata beberapa masakan, dapur Sasuke pun cukup kotor, seperti habis di gunakan. "Aku tidak kau akan belajar masak." Ucap Naruto.

"Jangan mengada-ngada, pertama bukan aku yang masak, kedua jangan seenaknya menerobos masuk ke dalam rumah orang." Kesal Sasuke.

"Lalu siapa yang masak?" Naruto merasa penasaran menatap Sasuke, namun mata onxy kelam itu sulit memperlihatkan apapun, ekspresi Sasuke tidak bisa terbaca.

"Itu bukan urusanmu."

"Kau membawa seorang gadis?"

"..." Pemuda ini memilih diam.

"Ayolah, apa kau membawa seorang gadis? Siapa? Pacarmu?" Naruto masih penasaran.

"Jika kau masih banyak bicara, aku akan mengusirmu keluar." Kesal Sasuke.

"Tapi kita harus menyelesiakan tugas segera atau kita bisa makan dulu, aku pun sudah lapar." Ucap Naruto, terlihat senang dengan masakan yang di lihat. Melihat ke arah Sasuke, wajah pemuda itu menggelap, dia semakin kesal, hari ini adalah rencana makan malamnya bersama Sakura, tapi Naruto merusak segalanya.

"Tidak, sebaiknya kau pulang, biar aku saja yang menyelesaikannya seorang diri." Ucap Sasuke, berusaha mengusir Naruto.

"Jangan seperti itu, kita ini kelompok." Ucap Naruto, memasang wajah berharapnya.

Sasuke ingin menendang keluar temannya itu, mencoba mendiskusikan hal ini dengan Sakura, berjalan ke arah kamarnya, tapi terkunci, dia tidak tahu jika Sakura mengunci pintu kamarnya. Sakura yang berada di dalam kamar Sasuke semakin panik dan berusaha bersembunyi di dalam lemari pakaian Sasuke.

"Sakura, buka pintunya." Bisik Sasuke, tapi gadis itu terlalu jauh dari pintu dan tidak mendengarnya sama sekali.

"Ada apa? Pintu kamarmu macet? Aku bisa bantu mendobraknya." Tawar Naruto.

"Tidak perlu." Tolak Sasuke.

"Tidak apa-apa, ayo lakukan bersama." Naruto sudah bersiap dan mulai mendobraknya, Sasuke terus melarang pemuda bersemangat itu namun akhirnya dobrakan kedua pintu itu terbuka, pintu kamar Sasuke rusak. "Sebaiknya kau mengganti dengan baru, bahaya juga jika ada yang terkunci di kamarmu." Tambah Naruto.

Kau yang merusaknya, bodoh!

"Tunggulah di luar, aku hanya ingin ganti baju." Ucap Sasuke, mendorong cepat Naruto untuk keluar dari kamarnya, pintu kamar Sasuke pun tidak bisa di tutup kembali, pemuda itu harus berdiri bersandar di belakang pintunya. Naruto yang sedang berada di luar, memilih ke meja makan. Sementara di kamar, Sasuke memanggil Sakura untuk keluar, gadis itu mendengarnya, keluar perlahan dari tempat persembunyiannya.

"Bagaimana?" Sakura masih memelankan nada suaranya.

"Dia tidak akan pergi, aku lupa jika ada tugas dengan Naruto hari ini." Ucap Sasuke, dia benar-benar kesal.

"Baiklah, mungkin lain waktu saja, sebaiknya kalian segera makan, aku akan pulang." Ucap Sakura, keputusan terakhir, dia jauh lebih takut jika Naruto melapor.

Sasuke hanya pasrah, memperhatikan Naruto yang duduk manis di meja makan, sementara Sakura bersiap untuk pulang.

"Boleh aku memakannya?" Tanya Naruto.

"Dengan satu syarat." Ucap Sasuke.

"Apa?"

"Bersihkan dapur."

"Kenapa bukan kau saja yang membersihkannya?"

"Tinggalkan makanan itu dan kita kerja tugas hingga selesai."

"Jika selesai kita makan?"

"Tidak, kau harus pulang."

"Baiklah, aku akan membersihkannya." Ucap Naruto, mulai menyantap beberapa makanan, sendoknya berhenti, merasa jika ada bunyi dari pintu depan. "Aku rasa ada seseorang keluar." Naruto bergegas berjalan ke ruang tamu, namun di sana tidak ada siapa-siapa.

"Cepatlah makan dan kita akan mengerjakan tugas." Ucap Sasuke, merebah dirinya di sofa, suasana hatinya memburuk.

"Kau tidak ingin makan?" Tanya Naruto, berjalan kembali ke ruang makan.

"Aku kenyang melihatmu makan." Nada suaranya terdengar kesal.

"Ouh..~ kau begitu manis Sasuke." Naruto sama sekali tidak merasakan jika Sasuke amat sangat kesal padanya sekarang.

"Berisik!" Teriak Sasuke.

"Hahahahaha." Naruto malah sibuk menertawakan temannya itu.

.

.

.

.

.

.

Tanpa terasa, beberapa minggu lagi ujian akhir semester akan di mulai, Sakura sudah berusaha melakukan yang terbaik pada semester di tahun ini, dia bahkan hampir kehilangan beasiswanya, menatap buku catatan kecilnya, dia sudah mengumpulkan tugas, hari ini masih ada kuliah terakhir salah satu mata kuliahnya.

Saat pagi hari perasaannya sedikit tidak enak, sudah dua hari berturut-turut Sakura merasa kelelahan, tidak biasanya, dia biasa bertahan hingga menyelesaikan kerjanya hingga jam malam, wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi Sakura tidak menyadarinya, masih berjalan menuju bangunan fakultasnya, berhenti sejenak, kepalanya terasa pusing, detik berikutnya gadis ini hilang kesadaran.

"Sakura!"

"Sakura."

"Sakura."

Rasanya tubuhku begitu berat, aku sampai tidak bisa bergerak, rasanya suara yang memanggilku begitu familiar, siapa? Kenapa seperti begitu banyak orang mengetahui namaku. Gelap, aku tidak bisa melihat apapun.

Ino dan Hinata yang ingin menyapa Sakura saat mendapati gadis itu berjalan menuju fakultas, namun tidak ada sapaan di pagi hari, kedua gadis itu berlari dan terlihat panik, Sakura tiba-tiba menjatuhkan dirinya di jalanan, Naruto pun melihatnya dan berlari hingga menghampiri Sakura, mengangkat gadis itu dan membawanya ke rumah sakit kampus, saat melewati fakultas, Sasuke berada dekat pintu keluar fakultas melihat mereka, mengikuti Naruto bersama beberapa teman mereka.

Mereka sedang menunggu setelah seorang dokter datang dan melihat keadaan Sakura, tidak lama kemudian, dokter itu keluar, dia meminta siapa yang bertanggung jawab atau bisa menjadi wali dari Sakura, Naruto dan Sasuke kompak mengajukan diri mereka. Sasuke sedikit risih dengan temannya itu, dokter itu tidak keberatan dan meminta mereka masuk ke ruangannya, sementara itu teman-teman Sakura masih menunggu.

"Haruno tidak apa-apa, dia hanya kelelahan dan sebaiknya dia mengkonsumsi obat penambah darah." Saran dokter itu.

Keduanya bernapas lega, tidak ada yang perlu di khawatirkan secara berlebihan.

"Tapi, aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih penting lagi."

Keduanya menatap serius ke arah dokter.

"Siapa di antara kalian yang memiliki hubungan khusus?"

Naruto terlihat bingung. Hubungan khusus? Dia merasa hubungannya dengan Sakura sudah bisa di katakan seperti itu, mereka berteman cukup lama, orang tua mereka mengenal satu sama lain.

"Naruto, keluarlah." Ucap Sasuke tiba-tiba.

"Ha? Apa maksudmu?"

"Keluar." Sasuke menarik Naruto hingga keluar ruangan dan menutup pintu itu rapat-rapat. Pemuda berambut blonde itu kebingungan, dia pun ingin mengetahui sesuatu yang penting yang akan di katakan dokter itu.

"Katakan saja, pak." Ucap Sasuke, dia sengaja mengunci pintu ruangan itu agar Naruto tidak masuk.

"Oh, baiklah, kalau begitu apa Haruno belum cek kondisi tubuhnya?" Sasuke hanya menggelengkan kepalanya. "Dia sedang hamil 3 bulan, syukurlah bayinya tidak apa-apa, kau harus menegurnya untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat dan membuatnya kelelahan." Jelas dokter itu.

Awalnya Sasuke cukup terkejut, tapi dia pun sudah berjanji pada Sakura, jika terjadi sesuatu padanya, Sasuke akan bertanggung jawab sepenuhnya.

"Aku cukup mengenalmu Sasuke, sebentar lagi kau pun akan belajar di gedung rumah sakit, jadi apa ini sebuah kecelakaan? Kau pun belum memiliki hubungan yang resmi dengan gadis itu." Ucap dokter yang juga merupakan dosen di lab rumah sakit dari fakultas kedokteran.

"Maaf, aku tidak menyadari jika hal ini terjadi" Ucap Sasuke, cukup malu dengan dosen yang mengenalnya.

"Dasar anak muda jaman sekarang, aku tidak akan mengatakan apapun pada teman-temannya jika kau akan bertanggung jawab atas perbuatanmu." Ucap dokter itu.

"Hn, aku akan segera meresmikan hubungan kami." Tegas Sasuke.

"Nah, baguslah, haa.. kau ada saja-saja Sasuke." Ucap dokter itu, menepuk keras bahu Sasuke, tidak menyangka jika mahasiswa terbaik memiliki kelakuan seperti ini.

Mereka berjalan keluar ruangan bersamaan, dokter itu sudah menjelaskan yang terjadi pada Sakura kecuali dia hamil, sementara Sakura akan di biarkan di ruang inap sampai kondisinya membaik. Teman-teman Sakura menjenguknya sebentar dan kembali ke fakultas, Naruto masih ada kuliah dan merasa ingin bolos, tapi dokter itu menatap Naruto untuk cepat kembali ke kelasnya. Beruntung sekali Sasuke tidak ada kelas dan dia bisa tetap berada di ruangan Sakura.

"Apa hubungan Naruto dengan gadis ini? Apa dia juga menyukainya, hahaha, kalian seperti sebuah drama saja." Ucap dokter itu.

"Naruto dan Sakura sudah berteman sejak lama, jadi mereka sangat akrab, Naruto akan cepat bertindak jika ada masalah sedikit saja yang menimpah Sakura." Jelas Sasuke.

"Uhm... ya sudah, kau bisa jaga pacarmu, aku masih ada pasien lagi." Ucap dokter itu.

"Terima kasih, dokter." Ucap Sasuke.

Dokter itu melangkah keluar ruangan Sakura, Sasuke menarik sebuah kursi, duduk di sisi ranjang Sakura. sebuah infus terpasang pada lengannya, wajahnya terlihat pucat, gadis itu membuka matanya perlahan dan hanya melihat Sasuke di sebelahnya.

"Ini dimana?" Ucap Sakura, suaranya terdengar serak.

"Rumah sakit kampus, merasa lebih baik?" Ucap Sasuke, dia sedikit khawatir.

"Hanya sedikit pusing." Ucap Sakura.

"Istirahatlah."

"Oh, ya ampun! Aku terlambat masuk." Ucap Sakura, berusaha bangun dan segera kedua bahunya di tahan Sasuke, membuat gadis itu kembali berbaring.

"Ino dan Hinata sudah menyampaikan surat ijin istirahat dari dokter pada dosenmu, kau tidak boleh pergi sebelum infus di botol ini habis." Ucap Sasuke.

"Ah, aku lupa, kau itu akan menjadi seorang dokter." Ucap Sakura dan tersenyum meskipun wajahnya masih tetap pucat.

"Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu." Ucap Sasuke, wajahnya sedikit menunduk, dia takut jika Sakura akan marah dan menjauh darinya.

"Ada apa?" Ucap Sakura, sikap Sasuke tidak biasanya.

"Kau siap mendengar hal ini?" Sasuke memastikan dengan apa yang akan di ucapkannya.

"Katakan saja."

Sebuah hembusan napas perlahan dari Sasuke, menatap serius pupil hijau zambrut itu. "Kau hamil."

Tatapan Sakura melebar, dia pun sampai bingung harus berkata apa, masih memandangi Sasuke dengan perasaan campur aduk, hal yang terlintas pertama adalah wajah ibunya jika mengetahui hal ini.

"Apa yang harus aku katakan pada ibuku?" Ucap Sakura.

"Aku yang akan mengatakannya." Ucap Sasuke.

"Ibu bisa memukulmu, dia akan sangat marah." Ucap Sakura.

"Aku tidak keberatan jika dia memukulku, aku akan menerimanya, yang terpenting adalah kita akan segera menikah."

"A-apa! Menikah! secepat itu!"

"Hn, ini demi kau, kita akan menikah besok."

"Besok?"

"Aku akan mempersiapkan apapun besok, kau masih harus di rumah sakit, aku akan menjemputmu."

"Tapi-"

"-Kita harus cepat sebelum perutmu semakin kelihatan, aku tidak ingin ada yang berpikiran hal buruk terhadapmu, kau gadis yang baik-baik, jika kau sudah mendapat sebuah status yang jelas, tidak akan ada yang berani mengolokmu." Tegas Sasuke.

Sakura kembali kehilangan kata-kata, dia tidak bisa memikirkan apapun lagi, Sasuke sudah memutuskan segalanya, sangat terburu-buru, tapi ini adalah janji Sasuke.

"Pertama kita akan menemui ibumu dan berikutnya aku akan mengenalkan keluargaku padamu." Ucap Sasuke, wajahnya terlihat serius.

"Maaf." Ucap Sakura, mengalihkan tatapannya.

"Tidak perlu ada yang meminta maaf." Ucap Sasuke.

"Aku sudah membuatku kerepotan dan kesulitan."

"Ini adalah masalah yang cukup besar, aku akan menyelesaikannya dengan cepat, aku pun minta maaf dengan mengganggu masa perkuliahanmu." Ucap Sasuke.

Memeluk Sakura perlahan, gadis itu tidak bisa berbohong, tubuhnya sedikit bergetar, sejujurnya dia sangat takut dengan keadaannya sekarang, apalagi ibunya yang akan paling terpukul jika mengetahui anak semata wayangnya tengah mengandung dan belum menyelesaikan masa kuliahnya.

"Semua akan baik-baik saja." Sasuke berusaha menenangkan gadisnya itu,

Membalas pelukan Sasuke erat. Seperti sebuah masa depan telah menjadi tujuan hidup mereka. Sasuke akan terus bersamanya selamanya.

.

.

.

.

.

Sebuah pernikahan yang di akan di laksanakan secara sederhana, hanya ada mereka berdua, Sasuke dan Sakura, tak lupa seorang pendeta yang akan mengesahkan ritual yang sakral ini, tidak ada gaun pengantin yang terlihat, mereka hanya menggunakan kimono, melakukan acara pernikahan secara tradisional, ini permintaan Sakura, dia tidak terlalu menyukai gaun pernikahan, Sasuke tidak mempersalahkan apapun, dia sudah siap akan hal yang akan di lakukannya hari ini, sejujurnya dia pun sedikit gugup tapi wajah tenangnya tidak menampakkan apa-apa, Sasuke sepenuhnya sadar dengan hal ini.

Siang berganti malam, meskipun mereka sudah sah sebagai suami istri, Sakura tetap memilih untuk tinggal di rumah kostnya sampai masa kontraknya habis, awalnya Sasuke menolak dan meminta Sakura tinggal bersamanya, wanita itu jauh lebih keras kepala. Tidak ada yang nama malam pertama, setelah acara pernikahan itu, Sasuke mengantar Sakura kembali ke kostnya, sebuah kecupan lembut di jidat istrinya, langkahnya terlihat berat, dia bahkan ingin menginap tapi Sakura segera menyuruhnya untuk pulang.

.

.

Esok paginya.

Dreeet...dreeettt...

Sakura terkejut dan segera mencari ponselnya.

Ino calling.

"Nnggg..~"

"Apa? Kau belum bangun? Apa kau lupa jika hari ini jadwalnya di ubah jadi jam pagi?"

"Oh ya ampun! Aku lupa!"

"Cepatlah, untung saja dosennya akan terlambat 15 menit."

"Iya-iya, aku akan bersiap."

Sakura segera bangun, tidak peduli dengan kasurnya yang berantakan, bergegas berlari ke kamar mandi dan bersiap secepat kilat, dia tidak ingin ada absen kosong, terburu-buru memasukkan bukunya ke dalam tas, membuka pintu dan tidak sengaja menabrak seseorang yang baru saja tiba dan ingin mengetuk pintu kostnya.

"Sasuke?"

"Kau tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa, aku harus bergegas." Ucapnya, mengunci pintunya, berjalan keluar dan Sasuke mengikutinya.

"Kau terlambat bangun?"

"Tidak, aku hanya lupa dengan jadwal untuk siang hari ini di ubah menjadi pagi." Ucap Sakura, dia sungguh lupa, semalam dia baru akan tidur tepat jam 2 pagi, memikirkan jika dirinya sekarang sudah memiliki suami dan dia adalah orang yang di cintainya. "Maaf aku duluan, kita akan bertemu nanti." Lanjut Sakura dan segera berlari.

Sasuke berhenti berjalan, menatap istrinya yang berlari seperti seorang anak sekolahan yang takut jika pintu gerbang sekolahnya akan di tutup, sebuah senyum menghiasi wajahnya di pagi ini, dia ingin segera tinggal bersama Sakura, terdiam sejenak, dia pun harus menyusun rencana untuk menemui ibu Sakura dan juga membawa Sakura pada keluarganya. Senyumnya menghilang dan Sasuke menepuk jidatnya, dia tidak menyadari dengan apa yang sudah Sakura lakukan tadi, dia berlari tanpa sadar jika dia sedang hamil. Sasuke bahkan melupakan hal itu.

"Wah, aku tidak menyangka jika akan bertemu denganmu di sini." Ucap seseorang, berjalan lebih cepat menghampiri Sasuke.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Sasuke terlihat malas untuk bertemu dengan seseorang yang membuatnya selalu kesal.

"Kebetulan aku sedang meninjau sebuah toko yang di sebelah sana, mereka menjual tokonya dan aku sudah punya rencana untuk perombakan toko itu."

"Oh." Sasuke tidak tertarik dengan pembicaraan pria yang 3 tahun lebih tua darinya. Wajahnya mirip namun pria itu jauh lebih terlihat dewasa.

"Kami merindukanmu di kediaman, kau bahkan tidak pulang saat liburan semester." Ucap Uchiha Itachi. Kakak dari Uchiha Sasuke.

"Aku tidak ada waktu untuk pulang." Ucap Sasuke.

"Apa kau masih marah padaku? Bisa kita hentikan saja permasalahan ini? Aku tidak mengerti bagaimana cara pandanganmu terhadapku, aku sudah menjelaskannya berulang-"

"-Cukup, aku harus ke kampus." Sasuke memotong pembicaraan kakak tertuanya.

"Apa kita bisa bertemu setelah kegiatan kuliahmu selesai? Aku bisa menunggu."

"Mau menunggu sampai kapan pun, aku tidak berniat bertemu denganmu lagi." Ucap Sasuke, dingin, berlalu begitu saja.

Raut wajah Itachi terlihat sedih, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya, apapun yang di lakukannya membuat Sasuke marah padanya, dia tidak pernah berpikiran untuk menyingkirkan adiknya, Itachi tidak bermaksud untuk bersikap seperti orang yang lebih baik darinya, tapi tanggapan Sasuke selalu negatif terhadapnya. Menghela napas dan kembali berjalan, Sasuke sudah terlalu jauh.

.

.

"Akhirnya...~" Sakura mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sekedar meregangkan otot-otot lengannya yang pegal, jadwal kuliahnya sudah berakhir, dia akan bekerja sore harinya, melirik ke arah fakultas Sasuke, pria itu tidak terlihat, Sakura pikir Sasuke belum selesai dengan kelasnya, mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Sasuke jika dia akan bekerja.

"Kau akan pulang?" Tanya Ino.

"Tidak, aku akan bekerja hari ini." Ucap Sakura.

"Apa kau ini sebuah robot? Aku saja sudah lelah, apalagi dosen mata kuliah yang terakhir, membuat bokongku pegal, dia hanya menjelaskan semua yang ada di buku, kenapa tidak menyuruh kita membaca saja." Ucap Ino.

"Setidaknya dia memberikan penjelasan meskipun sedikit." Ucap Sakura.

"Hmm... tapi ingat, kau harus sering istirahat, apa kau lupa yang sudah terjadi padamu saat pingsan di depan fakultas, kata dokter kau tidak boleh terlalu lelah." Tegur Ino.

"Iya-iya." Sakura hanya tersenyum.

Mulai melangkahkan kakinya, melambaikan tangannya pada Ino, ponselnya beberapa kali di hubungi Sasuke namun Sakura tidak menyadarinya, dia belum mengaktifkan nada dering ponselnya yang berada di dalam tas. Sementara itu Sasuke berjalan keluar fakultasnya sedikit terburu-buru, namun tidak menemukan Sakura di area kampus atau pun di luar gerbang, dia harus ke kafe Fuka dan menegur Sakura untuk berhenti bekerja, saat ini Sakura sudah menjadi tanggungannya.

"Sasuke, kau mau kemana?" Ucap Suigetsu .

"Tidak." Ucap Sasuke.

"Ke lab sekarang kata pak Orochimaru." Ucap Suigetsu.

.

.

Kafe Fuka

Sakura sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian kerjanya, Fuka hanya terdiam, dia menatap ke salah satu meja pelanggan.

"Ada apa?" Tanya Sakura.

"Coba kau lihat pria di sana, dia sudah duduk berjam-jam dan tidak juga bosan, sepertinya dia sedang menunggu seseorang." Ucap Fuka.

Sakura tidak bisa melihat pria itu, seorang pelanggan datang dan mulai di layaninya. Sakura menoleh sebentar sambil menunggu pelanggan itu untuk memesan, namun pria itu duduk membelakangi dan dia tidak bisa melihat wajahnya, setelah menuliskan pesanan, Sakura mendatangi Fuka dan menyebutkan pesanan pelanggan itu.

"Apa dia terlihat mencurigakan?" Ucap Sakura.

"Tidak, aku tidak berpikir buruk terhadap pria itu, tapi ada yang aneh, dia sangat mirip dengan pacarmu." Ucap Fuka, di sela-sela menyiapkan menu pesanan.

"Ah, benarkah?"

"Uhm, tapi dia terlihat lebih dewasa dari pada Sasuke."

"Jangan-jangan."

"Apa?"

"Aku akan membawa pesanan dulu." Ucap Sakura.

Setelah mengantar pesanan, Sakura memberanikan diri untuk mendatangi pria yang di sebutkan Fuka itu.

"Ma-maaf." Suara dari Sakura membuat pria itu menoleh dan menatapnya. Wanita ini cukup terkejut, mereka memang terlihat mirip, Sakura menebak jika pria ini adalah kakak Sasuke. "Apa anda Uchiha Itachi?" Tanyanya, sekedar untuk memastikan, Fuka menatap Sakura dari jauh, dia melihat salah satu pegawainya yang cukup berani untuk mendatangi pria asing yang baru saja mendatangi kafe Fuka.

"Benar, aku adalah Uchiha Itachi, anda?"

"Sakura, Uchi eh, ma-maksudku Haruno, Haruno Sakura." Sakura hampir keceplosan menyebutkan jika dia sudah menjadi 'Uchiha Sakura'.

Itachi terdiam sejenak, dia merasa jika Sakura hampir menyebutkan marga keluarganya. "Dari mana kau bisa tahu namaku?" Ucap Itachi, sedikit penasaran dengan wanita yang menghampirinya.

"Dari Sasuke, kami cukup mengenal satu sama lain, dia pernah mengatakan jika memiliki seorang kakak, aku tidak menyangka jika akan bertemu dengan anda." Ucap Sakura.

"Cukup berbicara informal saja." Ucap Itachi, dia terlihat begitu ramah, menatap gadis itu baik-baik, tidak biasanya adiknya akan akrab dengan seorang wanita, apalagi sampai menceritakan jika dia memiliki kakak, Itachi pikir Sasuke sangat membencinya hingga tidak pernah mengungkit jika dia memiliki saudara, Itachi sangat hapal dengan sikap adik bungsunya itu, dia bahkan akan menyuruh para wanita untuk menjauh darinya.

"Ah, ma-maaf, aku harus kembali bekerja, jika ingin menunggu Sasuke, silahkan saja, biasanya dia akan datang ke kafe ini." Ucap Sakura dan pamit sopan pada Itachi.

Itachi menatap wanita berambut softpink itu, dia pikir tidak akan ada yang mengenalinya di area sini, tapi adiknya sudah menceritakan dirinya pada seorang wanita, dia pun baru saja tahu jika Sasuke sering mengunjungi kafe ini, Itachi hanya asal memasuki kafe secara random sekedar menunggu, kafe Fuka menjadi tujuannya, beberapa orang sering merekomendasikan kafe milik seorang wanita yang memiliki nama sama dengan kafenya, menunya pun cukup di sukai banyak pengunjung, Itachi merasa rekomendasi itu sesuai dengan kenyataan yang ada pada kafenya, orang-orang nyaman untuk berlama-lama di dalamnya.

Penglihatan Itachi menangkap seseorang yang di kenalnya berjalan terburu-buru dan masuk ke dalam kafe, dia sedikit terkejut, yang di ucapkan pegawai di kafe ini benar, tidak beberapa lama Sasuke datang, Itachi tidak memanggilnya dan menunggu apa yang Sasuke lakukan di kafe ini, dia berjalan lebih cepat, menghampiri wanita yang berbicara dengannya tadi, mereka terlihat serius, Sasuke sampai memanggil wanita pemilik kafe ini dan membisikkan sesuatu, wanita itu terlihat terkejut dan wanita yang bernama Sakura terlihat gugup dan malu, Itachi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.

"Sayang sekali, aku harus segera memecatmu Sakura." Ucap Fuka, jalan satu-satunya agar Sakura berhenti bekerja.

"Tidak, aku tidak ingin di pecat. Dengar Sasuke, aku tidak masalah jika hanya bekerja seperti ini, kita masih belum memiliki pekerjaan tetap dan masih berstatus mahasiswa, tanggung jawabmu masih belum berlaku selama orang tuamu yang masih memberikanmu nafkah, aku tidak menginginkan hal itu." Ucap Sakura.

"Aku masih memiliki tabungan yang cukup." Ucap Sasuke.

"Simpanlah, kau bisa menggunakannya jika sedang terdesak."

"Jadi? Aku pun merasa setuju dengan Sasuke, kau harus lebih banyak istirahat Sakura, aku takut jika terjadi apa-apa pada anakmu, dan juga, kalian sungguh keterlaluan tidak mengatakan padaku jika kalian sudah menikah."

"Menikah?"

Spontan membuat Sasuke terkejut, itu adalah suara kakaknya, berbalik dan mendapati Itachi menatapnya serius seakan meminta semua penjelasan. Fuka segera menutup mulutnya, dia terlalu keras mengucapkannya, pelanggan lain tidak akan pusing dengan ucapan Fuka tapi pria yang berada di hadapan Sasuke, terasa seperti akan ada masalah, Fuka memilih diam. Sakura tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun terdiam dan merasa takut dengan tatapan Itachi.

.

.

TBC

.

.


update...~

semalam mau update tapi udah nggak sanggup begadang, hahaha jadi pagi baru bisa update...

seperti yang sudah author katakan di fic "Another" tapi bagi yang baca saja, author menikmati liburan sampai benar-benar berlibur untuk tidak membuat fic dalam beberapa minggu, efeknya beberapa konsep fic terlupakan =_= XD okey, sudah update yooo... hari ini nggk balas review dulu... cuma mau katakan pada salah satu reader. aduh... ini khusus buat kamu deh... terima kasih kritikan pedas dan tidak membangunnya. uhm... kesal sih, tapi pas mikir ngapain juga kesal, hahahaha nggak ada guna XD jadi untuk ucapan-ucapannya author jadi masukan deh, sudah ganti summary XD tapi kata untuk "lebih baik hilangkan saja cerita ini" maaf itu tidak bisa author buat fic mainstrum dan mudah ketebak ini buat reader lain yang emang nunggu kelanjutannya, kalau nggak suka ama fic ini tinggalkan, nggak usah baca aja, mudah kan, kok masih di baca, dasar reader tsundere, udah marah-marah ama fic ini tapi masih di baca juga, hehehehhe...~ Hinata cantik kok dan emang karakternya begitu kan, sirik amat sama hinata. hahahha. oh satu hal lagi, author tipe pelupa, jadi suka tidak sadar memasukkan scene yang sama berkali-kali di setiap fic author, jadi bakalan nemu scene yang sama dan begitu terus menerus menerus. ya sudah, semoga nggak ada yang review aneh-aneh seperti ini lagi... sebenernya bingung kenapa beberapa suka meninggalkan review yang kesanya seperti ingin menjatuhkan para author..., author pun tidak sempurna, kadang khilaf dan lain-lain, ini aja udah berusaha buat sebaik mungkin fic tapi tetap ada yang nggak sesuai dengan pemikiran reader, kalau ingin sesuai dengan pemikiran reader, kenapa nggak buat fic sendiri? buat fic yang sesuai keinginan sendiri? kenapa? ini jadi semacam ceramah, XD

ada yang tanya "Lemon" ? apa chapter yang kemarin termasuk lemon? eheheh.. nggk pandai buat. cari aja fic lain, banyak kok fic sasu-saku yang lemon.

.

.

sudah yaa.. see next chapter lagi...,