Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
-Tolong dong, baca warningnya-
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
.
.
.
Don't Like Don't Read !
.
.
~ Tomato, cherry dan salad~
[ Chapter 11 ]
.
.
.
Flashback
.
Kampus Konoha.
Ino terdiam sejenak, buku jurnal untuk tugas laboratoriumnya belum di isi apapun, menatap Hinata yang sibuk menulis buku jurnalnya.
"Kenapa aku tidak pernah melihat Sakura?" Ucap Ino.
"Sakura?" Hinata menghentikan kegiatannya dan memikirkan hal yang sama dengan Ino. "Kau benar, selama awal semester praktek, Sakura tidak pernah terlihat." Ucap Hinata.
"Dia bahkan tidak memberi kabar apapun padaku." Ucap Ino.
"Apa dia sedang sakit?"
"Mungkin, sebaiknya kita mengunjungi kostnya."
"Aku akan ikut."
"Hei, apa yang kalian bicara?" Ucap Rin yang baru masuk ke kelas.
"Apa kau pernah melihat Sakura?" Ucap Ino.
"Sakura? Aku rasa dia tidak mengikuti semester ini. Apa sedang terjadi sesuatu?" Ucap Rin.
"Kami akan mengunjungi kostnya setelah jam kuliah selesai." Ucap Ino.
"Baiklah, aku juga akan ikut." Ucap Rin.
Menyelesaikan kegiatan menulis jurnal mereka dan bergegas mengumpulkannya. Ino cukup khawatir, Sakura sudah mulai jarang mengabarinya, sebelumnya, Sakura juga terlihat sedikit aneh, Ino merasa Sakura tengah menyembunyikan sesuatu, dia akan cepat pulang, pola makan yang cukup banyak dan merasa jika Sakura sedikit kegemukan, atau pakaiannya saja yang terlihat besar, semuanya masih membuat Ino penasaran.
Tiba di kost Sakura dan mengetuk beberapa kali, tapi yang membuka kamar kost itu bukan Sakura, melainkan mahasiswi lain.
"Haruno Sakura? ah, orang yang menempati kamar ini sebelum aku, dia sudah lama sekali pindah." Ucap seorang gadis, dia mahasiswa yang seangkatan dengan Ino namun berada pada jurusan Ekonomi.
Pada akhirnya Ino, Rin, dan Hinata mendatangi sebuah kafe, Sakura tidak memberitahu jika dia pindah kost.
"Sakura sudah lama pindah, tapi dia tidak mengatakan apapun." Ucap Rin.
"Kita masih bisa menghubunginya dan mengatakan dia tinggal di mana sekarang." Ucap Ino.
Beberapa menit berlalu, ponsel milik Sakura tidak tersambung.
"Ponselnya sedang tidak aktif." Ucap Ino.
"Mungkin saja sedang di charged" Ucap Rin.
"Uhm. a-anoo... aku punya usul, Naruto sahabat Sakura kan, bagaimana kalau hubungi Naruto saja." Ucap Hinata.
"Kau benar, tapi kenapa wajahmu memerah seperti itu hanya menyebutkan nama Naruto?" Ucap Ino, sedikit menggoda Hinata.
"Ti-tidak, wajahku tidak me-memerah." Ucap Hinata, gadis polos yang sulit menyembunyikan perasaannya.
"Hahaha, dasar Ino, jangan mengganggu Hinata, kau sangat usil." Ucap Rin, melihat tingkah Hinata yang mulai panik.
"Besok saja, kita bisa bertemu dengannya di rumah sakit, lagi pula angkatannya juga tengah praktek." Ucap Ino. "Asiknya bisa bertemu calon dokter Naruto." Tambah Ino dan menyikut-nyikut Hinata.
"I-ino, a-a-a-apa-apaan sih." Ucap Hinata, wajahnya semakin Merona.
.
.
.
.
.
.
"Haaa...~ aku lelah." Naruto mulai mengeluh, membaringkan kepalanya di meja, praktek pagi hingga siang, sorenya mereka harus mengerjakan laporan. "Sasuke kau ini apa sih? Apa kau tidak lelah?" Ucap Naruto.
"Aku juga lelah, jangan menggangguku." Ucap Sasuke, dia sibuk mengetik tugas laporannya pada notebooknya. Mereka tengah berada di kelas yang sedang kosong, sekedar mencari ruangan yang damai untuk mengerjakan laporan.
"Bagaimana kabar Sakura?" Ucap Naruto.
"Dia baik-baik saja." Ucap Sasuke tanpa menghentikan kegiatannya.
"Apa aku bisa mengunjungi setiap hari?"
"Aku akan menghajarmu jika kau melakukannya."
"Dia itu sahabatku!" Tegas Naruto.
"Dia itu istriku." Ucap Sasuke dan memperlihatkan senyum kemenangannya.
"Cih, aku tidak peduli, aku hanya khawatir dengan keadaannya, kau harus sadar jika Sakura itu masih sangat muda."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Jangan menggangguku."
"Arrghh... kau sunggu menyebalkan, Sasuke!" Teriak Naruto, Sasuke tidak peduli dan tetap mengetik.
"Ah, rupanya kalian di sini." Ucap Shikamaru.
"Untung saja suara Naruto terdengar jelas." Ucap Neji.
Berjalan masuk ke kelas dan mulai menduduki kursi yang tidak jauh dari Naruto dan Sasuke.
"Ada apa? kalian bertengkar lagi, seperti pasangan yang sering berantem." Sindir Shikamaru dan terkekeh.
"Aku tidak terima Sasuke tidak membiarkan ku mengunjungi-"
Plaakk..!
Sasuke benar-benar memukul Naruto.
"Apa kau tidak bisa diam?" Ucap kesal Sasuke, hampir saja Naruto membocorkan sesuatu yang akan membuat Sakura marah besar.
"A-aduuh... kenapa kau memukulku!" Protes Naruto.
"Apa kau lupa apa yang sudah di katakan saat kau mendatangi apartemenku?" Ucap Sasuke, dia jadi sulit untuk fokus pada tugasnya.
"Eh? Hahahahahhaha. Aku sungguh melupakannya." Ucap Naruto dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yag sedang kalian bicarakan?" Ucap Shikamaru menatap serius ke arah mereka.
"Ah, bukan apa-apa, maklum kita ini pasangan yang sering berantem." Ucap Naruto, melirik ke arah Sasuke dan mendapati tatapan horror sahabatnya itu.
"Aku akan membunuhmu segera." Ucap Sasuke dengan tatapan super dingin dan datarnya.
"Ha-hanya bercanda, heheheheh." Ucap Naruto, cukup takut dengan wajah Sasuke saat ini, dia sedang tidak bercanda.
Shikamaru tidak bisa menahan diri dan tertawa. Pintu kelas terbuka dan seseorang berjalan masuk.
"Sasuke, aku mencarimu sejak tadi." Ucap Suigetsu.
"Nah, dan sekarang selingkuhan Sasuke sudah datang." Neji ikut larut dalam drama percintaan mereka.
Kembali Shikamaru akan tertawa dan Naruto memasang wajah kesalnya dengan kehadiran Suigetsu.
"Maaf, aku duluan." Ucap Sasuke, menutup layar notebooknya dan berjalan pergi bersama Suigetsu.
Kini kelas hanya tinggal Neji, Shikamaru dan Naruto yang merasa di campakan oleh Sasuke.
"Sudah-sudah, jangan cemburu seperti itu, praktek berikutnya di mulai sejam lagi." Ucap Shikamaru.
"Aku tidak cemburu, sudah, jangan membicarakan hal konyol itu lagi, lagi pulanya apa salahnya mengunjungi sahabat yang tengah hamil." Naruto menutup mulutnya rapat-rapat, dia sudah keceplosan.
"Hamil? Siapa?" Ucap Shikamaru.
"Sahabatmu itu, Sakura?" Tebak Neji.
"Ti-tidak, tidak, hehehe kalian salah dengar." Ucap Naruto.
Namun ucapannya tidak menjadikan Shikamaru dan Neji puas, keduanya menatap Naruto seakan menuntut sesuatu, Naruto masih bertahan hingga dia benar-benar tidak kuat untuk menahan diri, Neji dan Shikamaru memaksanya untuk berbicara.
"Tapi kalian tidak boleh mengatakan hal ini kepada siapa pun, Sasuke dan Sakura bisa membunuhku sekarang juga." Ucap Naruto. Shikamaru dan Neji mengangguk pasti. "Jadi, Sasuke dan Sakura sudah menikah, Sakura pun sedang mengandung anak Sasuke, yaa seperti itu." Ucap Naruto.
"Ah, kecurigakaanku memang benar, aku rasa mereka punya hubungan." Ucap Neji, mengingat saat Sasuke pergi untuk menolong Sakura.
"Dia sudah jauh lebih dewasa untuk bertanggung jawab." Ucap Shikamaru. Merasa keputusan Sasuke cukup berat namun tetap di jalaninya.
"Sudah-sudah, lupakan apa yang sudah aku ucapkan." Ucap Naruto.
Ketiganya tidak menyadari jika seseorang yang berdiri di depan pintu kelas mendengar setiap pembicaraan Naruto.
.
.
Rumah sakit kampus Konoha.
Utakata sedang sibuk menjelaskan materi untuk praktek hari ini, sesekali dia akan melirik ke arah orang-orang yang mungkin akan duduk bersama Sakura, namun junior berambut softpinknya itu sama sekali tidak terlihat.
"Baiklah, apa sudah jelas? Aku tidak ingin ada yang ceroboh, ingat kalian harus bersikap profesional, jangan menganggap ini hanya praktek, tapi anggaplah kalian benar-benar sedang bersama para pasien." Ucap Utakata, tegas. Seluruh mahasiswa menjawabnya dengan tegas juga, mereka cukup takut untuk menyepelehkan ucapan Utakata yang terkenal sangat serius dalam praktek.
Semuanya mulai sibuk untuk praktek, Utakata berjalan menghampiri beberapa orang yang menurutnya selalu bersama Sakura.
"Yamanaka Ino." Panggil Utakata.
"A-ada apa senpai?" Ucap Ino, tidak ada angin maupun hujan, Utakata malah menghampirinya, dia sudah cukup takut jika mendapat sebuah teguran.
"Apa Haruno Sakura tidak masuk?"
Ino terlihat bernapas legah, Utakata tidak membicara masalah prakteknya.
"Aku tidak tahu, dia tidak terlihat pada semester ini, kemungkinan Sakura cuti, tapi dia pun tidak mengabariku." Ucap Ino. Utakata terdiam, merasa jika Sakura tidak perlu melakukan cuti jika dia bisa cepat menyelesaikan perkuliahannya. "Oh iya, apa Utakata-senpai tahu sesuatu? Aku pikir Sakura menjadi asisten dosen di sini." Lanjut Ino.
"Sebenarnya Sakura sudah berhenti, dia mengundurkan diri secara mendadak." Ucap Utakata.
"Apa Sakura tidak mengatakan alasannya?" Ucap Ino, dia pun penasaran.
"Tidak ada, ini sedikit aneh, dia tiba-tiba mengundurkan diri dan cuti, apa ada lain lagi?" Ucap Utakata.
"Dia juga pindah kost." Ucap Ino.
"Baiklah, aku hanya merasa sangat tertolong dengannya, tapi aku pun tidak bisa memaksanya untuk tetap melakukan pekerjaannya. Jika kau bertemu dengannya, katakan untuk mendatangi ruanganku di lab." Ucap Utakata dan pergi.
"Baik senpai." Ucap Ino.
.
.
Dua jam berlalu, praktek fakultas keperawatan sudah selesai untuk bagian kelas Ino. Sesuai rencana, Hinata dan Rin juga bersama Ino, mereka mencoba mencari Naruto di area rumah sakit, biasanya para calon dokter itu akan berkeliaran, tidak ada pada bagian pemeriksaan, berjalan ke arah kantin rumah sakit dan menemukan Naruto bersama teman-temannya di sana. Neji, Shikamaru, dan Sasuke pun ada.
"Untunglah menemukanmu di sini." Ucap Ino.
"Kakak." Ucap Hinata, melihat ke arah Neji
"Ada apa?" Ucap Neji.
"Kami hanya ingin berbicara dengan Naruto." Ucap Hinata.
"Kalian ini membicarakan apa?" Ucap Naruto.
"Kau sahabat Sakura, kau pasti tahu Sakura sekarang berada di mana?" Ucap Ino.
Uhuk-uhuk.
Sasuke tersedak minumannya sendiri. mereka kompak menatap Sasuke.
"Aku rasa ada yang jauh lebih tahu dari Naruto." Ucap Ino menatap tajam ke arah Sasuke.
Sasuke memilih diam dan kembali tenang meminum minumannya.
"Hey, jangan mengabaikanku!" protes Ino.
"Aku tidak tahu." Ucap Sasuke, menatap datar ke arah Ino.
"Issh, dasar, Naruto apa kau tahu Sakura dimana? Dia pindah kost tanpa mengabariku, dia tidak masuk semester ini dan bahkan dia mengundurkan dari sebagai asisten dosen." Ucap Ino.
"S-Sakura, Sakura..." Naruto pun bingung harus mengatakan apa, melirik ke arah Sasuke seperti memberi kode ingin mengatakan yang sebenarnya namun tatapan itu seakan ingin membunuhnya. "A-aku juga tidak tahu, hehehehe, aku belum bertemu dengannya, hehehhe." Ucap Naruto.
"Baiklah, aku rasa tidak ada gunanya bertanya pada kalian." Ucap Ino dan pergi.
"Sampai jumpa lagi kakak." Ucap Hinata.
Naruto menjadi kesal sendiri, dia pun ingin mengatakan sesuatu tapi Sasuke menghalanginya. Shikamaru dan Neji tidak bisa berbuat apa-apa, mereka akan diam seperti permintaan Naruto.
.
.
Hinata dan Rin masih berada di perpustakaan, Ino berjalan sendirian untuk bergegas pulang, langkahnya terhenti sejenak melewati taman kampus, mendengar seseorang yang menyebutkan nama Sakura.
"Apa kau tahu, Uchiha Sasuke sudah menikah."
"Apa! Aku tidak percaya."
"Aku juga, yang aku dengar salah satu mahasiswa dari fakultas keperawatan yang menggodanya."
"Apa Sasuke di jebak?"
"Hahaha, pasti gadis itu menjebaknya, mungkin saja dia sudah merencanakannya agar Sasuke mau menikahinya, dasar wanita jalang."
"Siapa nama gadis itu, aku jadi penasaran."
"Haruno Sakura, dia seangkatan dengan Sasuke."
"Sakura? aku merasa pernah mendengar nama gadis itu."
"Bukannya itu gadis yang pernah mendapat masalah di website kampus?"
"Dia lagi? Apa dia memang suka mencari masalah?"
"Ehem, maaf mengganggu pembicaraan kalian, tapi dengar baik-baik temanku itu, Sakura, adalah gadis baik-baik." Ucap Ino, dia tidak terima mendengar semua ucapan dari keempat mahasiswi itu.
Mereka terdiam dan memilih pergi meninggalkan Ino.
"Hey, tunggu aku belum selesai bicara!" Ucap Ino, namun mereka berlarian untuk bergegas menjauh. "Menyebalkan! Kenapa mereka malah kabur." Ucap Ino, kesal, kembali berjalan pulang, di kepalanya mulai menumpuk berbagai macam pertanyaan dari apa yang sudah di dengarnya, Sakura dan Sasuke sudah menikah, beranggap jika Sakura tengah mengalami hal semacam hamil dan membuat Sasuke harus bertanggung jawab, itulah yang Ino simpulkan, mengingat kembali ekspresi Sasuke saat dia berbicara, bahkan Sasuke terkesan menutupi sesuatu saat itu.
Triiinggg...triiinggg...
Sakura calling...
Akhirnya Sakura menghubunginya.
"Ada apa Ino? Maaf aku mematikan ponselku kemarin." Ucap Sakura.
"Kau sekarang ada dimana? Kenapa tidak mengabariku jika kau sudah pindah kost!"
"Ah, ma-maaf, aku tidak sempat mengatakannya."
"Sekarang kau berada di mana? Apa kau tengah mengambil cuti? Bahkan Utakata-senpai mencarimu."
"A-aku, aku tidak bisa mengatakannya, uhm, iya aku sedang cuti, Utakata-senpai? Tolong sampaikan ucapan maafku padanya, aku benar-benar harus berhenti sejenak untuk menjadi asisten dosen." Ucap Sakura.
"Apa kita bisa bertemu? Aku ingin berbicara sesuatu denganmu." Ucap Ino, merasa ada yang tidak beres pada Sakura.
"Bertemu? A-aku-"
"Sakura." Ucapan Sakura terputus, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Itu, seperti suara Sasuke." Ucap Ino, dia pun terkejut mendengar suara pria itu.
"Ah, bu-bukan, kau salah dengar, sudah yaa, aku akan menghubungimu nanti." Ucap Sakura, nada suaranya terdengar panik dan segara mengakhiri percakapan mereka.
Ino semakin penasaran, dia cukup hapal dengan suara bariton khas pria itu. Mengirimkan pesan pada Sakura jika dia ingin bertemu besok siang.
Sementara itu, Sakura menatap layar ponselnya, Ino ingin bertemu dengannya di sebuah kafe.
"Sakura." Panggil Sasuke lagi, dia baru saja pulang dan mendapati istrinya di dalam kamar. "Ada apa? kau tidak mendengar panggilanku?"
Buru-buru Sakura menyimpan ponselnya dan berpura-pura sibuk merapikan pakaian.
"A-aku tidak mendengarnya, heheheh, maaf." Ucap Sakura, Canggung.
Sasuke menatap Sakura sejenak, mungkin hanya perasaannya saja merasa Sakura terlihat sedikit aneh tadi.
.
.
.
.
.
Esok harinya.
Ino melongo dan bahkan tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi, Sakura memenuhi permintaannya untuk bertemu dan apa yang di lihatnya sekarang, seorang wanita hamil, dan dia adalah sahabat Ino.
"Sungguh, kalian benar-benar menikah?" Ucap Ino, dia masih tidak percaya.
Sakura menanggapinya dengan anggukan pelan dan senyum malu.
"Ini bukan sebuah jebakan atau hal apapun bukan?" Ucap Ino.
"Kau terdengar seperti Naruto, ini tidak seperti yang kau bayangkan, kami benar-benar memutuskannya bersama." Ucap Sakura.
"Akhirnya aku tahu kebenarannya, dan sekarang kau tinggal bersama Sasuke?"
"Uhm, Sasuke tidak ingin kami tinggal terpisah."
"Dan ibu?"
"Aku rasa ibu cukup syok mendengar kabar ini, dia sampai marah besar padaku dan Sasuke." Ucap Sakura, raut wajahnya terlihat sedih.
"Tentu saja, aku pun jika sebagai ibumu akan memukul Sasuke." Ucap Ino dengan semangatnya.
"Itulah yang ibuku lakukan, dia memukul Sasuke." Ucap Sakura.
"Hahahaha, keinginanku terwujud, aku pun ingin memukulnya."
"Hey, dia itu suamiku."
"Baik-baik, aku sudah merasa lega, aku sangat khawatir padamu."
"Terima kasih Ino, tolong jangan sampaikan hal ini pada siapapun, kau tahu, aku ingin Sasuke tidak mendapat hal buruk apa-apa setelah statusnya yang sudah menikah, para senior Sasuke cukup mengerikan, mereka itu seperti preman pasar yang kasar pada siapapun."
"Ya-ya, aku tahu apa maksudmu, baiklah aku tidak mengatakan apapun, tapi asal kau tahu saja, hal ini sudah beredar di fakultas Sasuke, tapi aku tidak tahu dari mana asalnya, beberapa mahasiswa menceritakan Sasuke yang sudah menikah dan yang cukup membuatku marah mereka pikir kau menggoda Sasuke untuk memaksanya menikah." Ucap Ino, dia menceritakan apapun yang di dengarnya.
"Apa? Ba-bagaimana bisa hal ini bocor. Uhm... hanya satu orang yang tahu akan hal ini." Ucap Sakura, memikirkan jika sahabatnya itu yang membocorkan.
"Siapa?" Ucap Ino, penasaran.
"Naruto?" Ucap Sakura.
"Naruto?" Ino mengucapkan kembali nama orang yang pernah dia tanyainya, namun dia hanya berbohong.
"Uhm. Dia sudah mengetahuinya."
"Aku rasa tidak, Kau tahu saat aku mencarimu, dia hanya mengatakan tidak tahu, meskipun terlihat sangat canggung dan dia bingung mau menjawab apa, mungkin saja ada yang mengetahuinya."
Sakura menghela napas sejenak, masalah lain kembali menghampiri dirinya, dia pun harus mengatakannya pada Sasuke, dia tidak ingin Sasuke mengetahui hal ini dari orang lain jika tidak dia ceritakan.
"Sekali lagi terima kasih, Ino."
"Sama-sama, aku harap bayimu akan tumbuh menjadi bayi yang sehat." Ucap Ino.
Keduanya pamitan, Sakura akan bergegas pulang dan Ino harus kembali ke kampus.
.
.
.
.
.
.
"Su-sumpah! Bukan aku yang melakukannya, aku tidak tahu apa-apa." Ucap Naruto, tangan dan kakinya di ikat dan dia hanya bisa meringkuk di lantai, menatap takut pada Sasuke yang tidak segan akan memukulnya sekarang juga.
"Jangan berbohong padaku." Ucap Sasuke, tatapan dingin dan menusuk itu semakin membuat Naruto merinding.
Sakura terdiam dan tengah duduk di sofa, menatap Naruto yang masih memohon, Sasuke tidak melakukan apa-apa pada Naruto, dia hanya mengancamnya untuk berbicara.
"Aku hanya menceritakannya pada Neji dan Shikamaru, aku tidak tahu apa-apa lagi" Ucap Naruto pada akhirnya. "Tolong lepaskan aku, apa seperti ini kau memperlakukan temanmu sendiri." Lanjutnya degan berlinang air mata.
Sakura ingin tertawa melihat tingkah sahabatnya itu, tapi wajah Sasuke terlihat sangat serius, dia harus menyelesaikan masalah ini.
"Sepertinya ada yang mendengar pembicaraan kalian." Ucap Sakura.
"Apa kubur saja dia hidup-hidup?" Ucap Sasuke, tangannya sudah gatal ingin melakukan sesuatu pada Naruto.
"Sa-Sasuke! kau begitu kejam padaku!" Ucap Naruto.
"Kau terlalu banyak bicara." Ucap Sasuke, tatapan yang membuat siapapun takut menatapnya.
"Aku pikir masalah ini di abaikan saja, lagi pula aku tidak berada di kampus." Ucap Sakura, beranggapan untuk tidak memperbesarkan masalah ini.
"Aku akan membantu apapun, jika ada yang berani mengatakan hal buruk padamu aku tidak akan segan menghajarnya." Ucap Naruto, bersemangat.
"Ini semua gara-gara kau tidak berbicara pada tempatnya." Ucap Sasuke, kesal dan menepuk keras punggung Naruto.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Teriak Naruto, mendapat serangan mendadak dari Sasuke.
Setelah kegiatan introgasi yang membuat Naruto cukup malu, dia akhirnya di lepaskan, Sakura akan melupakan masalah ini dan meminta Sasuke untuk tidak perlu bertinda apa-apa lagi.
.
.
.
.
.
Seperti biasanya, Sakura akan cek kesehatan janinnya, Sasuke sedang kosong untuk jadwal kuliah, mengantar istrinya itu ke rumah sakit, tidak biasanya mobil mereka berbelok ke arah yang lain.
"Kita akan kemana? Bukannya arah rumah sakit pusat di sebelah sana?" Ucap Sakura.
"Kita akan ke rumah sakit kampus." Ucap Sasuke.
"He? Ta-tapi di sana banyak mahasiswa, apalagi seniormu." Ucap Sakura.
"Ini akan membuat semuanya jelas dan tidak akan ada yang berani berucap apa-apa lagi." Ucap Sasuke dan memperlihatkan seringainya, tidak seperti ucapan Sakura, Sasuke akan bertindak sesuai keinginannya.
Sakura menghela napas, Sasuke jauh lebih keras kepala, jika apa yang di lakukannya, dia harus melakukannya tanpa ada yang bisa menghalanginya.
Mobil mereka menepih di parkiran kampus, Sasuke menuntun Sakura untuk turun dari mobil, berjalan menuju rumah sakit kampus, beberapa pasang mata menatap mereka, tentu saja mahasiswa-mahasiswi itu cukup mengenal Sasuke sebagai mahasiswa kedokteran yang ramai di perbincangkan mahasiswi. Sakura menundukkan wajahnya, ini tidak membuatnya takut, dia hanya benar-benar malu.
Sampai tiba di dalam bangunan rumah sakit, mahasiswa yang tengah praktek menyapa Sasuke, mereka semuanya adalah senior satu angkatan di atas Sasuke, mereka sangat mengenal Sasuke yang di katakan sebagai junior berbakat.
"Sasuke, kau tidak ada praktek hari ini?" Ucap salah satu mahasiswa senior.
"Tidak senpai, hari ini aku kosong untuk jadwal kuliah dan praktek." Ucap Sasuke.
Mereka terfokus pada seorang wanita hamil yang di bawa Sasuke.
"Dia, siapa?" Ucap yang lainnya, mereka sangat penasaran.
"Dia istriku." Ucap Sasuke, to the point dan cukup membuat para seniornya terkejut, mereka lebih tua dari Sasuke dan saat ini Sasuke terasa lebih jauh melangkah dari mereka, dia sudah memilik istri dan tengah hamil.
"Keberuntunganmu sungguh baik yaa." Ucap senior itu, antara memuji dan merasa iri.
"Ah, apa dia yang ramai di bicara para gadis-gadis di fakultas?" Ucap senior yang lain.
"Yang mereka bicarakan hanya gosip, kami sudah lama pacaran dan akhirnya menikah, tidak ada masalah di antara kami dan aku sangat mencintai Sakura." ucap Sasuke, tegas.
Ucapannya itu membuat Sakura semakin malu, dia tidak banyak bicara dan cukup canggung terhadap para senior Sasuke.
Para senior itu semakin iri, Sasuke menikahi pacarnya dan merupakan orang yang di sukainya, wajah mereka ikutan memerah, mendengar ucapan Sasuke yang mencintai istrinya secara terang-terangan.
"Kami harus menjadikanmu sebagai panutan." Ucap mereka.
"Makanya jangan memutuskan pacarmu secepat itu, hahahahha." Mereka jadi heboh sendiri untuk membahas masalah hubungan yang tidak berakhir dengan baik.
"Hey kalian, sekarang jadwal praktek! Cepat ke ruangan!" Teriak seorang dokter pengawas, melihat mahasiswanya malah asik bercerita.
Pamit pada pasangan suami-istri dan mereka terburu-buru kabur dari dokter pengawas.
Sasuke menatap Sakura yang terdiam.
"Ada apa?" Ucap Sasuke.
"Ka-ka-ka-kau hanya membuatku malu." Ucap Sakura, wajahnya semakin merona dan tidak berani menatap suaminya.
Sebuah senyum di wajah Sasuke, menggoda istrinya cukup membuatnya terhibur.
"Merasa lebih baik? dengan begini mereka tidak mengatakan hal buruk lagi." Ucap Sasuke.
"Terima kasih." Ucap Sakura, merangkul lembut lengan suaminya itu.
Kembali berjalan menuju ruangan dokter anak. Mereka baru pertama kali mendatangi rumah sakit kampus untuk cek kesehatan janin Sakura, Sasuke jadi harus memperkenalkan Sakura pada beberapa dokter yang mengajarinya, beberapa dokter cukup terkejut dengan Sasuke yang sudah memilih membangun rumah tangganya di saat di masih menjalani masa kuliahnya.
"Tunggu di sini, aku akan segera kembali." Ucap Sasuke pada Sakura, meminta istrinya untuk menunggu, Sasuke di minta ke ruangan salah satu dokter yang berada di kelas Sasuke.
Sakura duduk di ruang tunggu, melihat sekeliling rumah sakit, sedikit merindukan kesibukannya di ruang keperawatan, mengingat Utakata, sedikit malu tapi dia pun ingin menyapa senior yang sangat tegas itu, mendatangi ruangan Utakata dan mengetuknya beberapa kali, sebuah suara memintanya masuk. Saat pintu terbuka, Utakata bisa melihat seorang wanita hamil yang sangat di kenalnya.
"Haruno Sakura?"Cukup terkejut dengan orang yang mendatangi ruangannya.
"Selamat siang senpai." Ucap Sakura.
"Akhirnya kau datang juga." Ucap Utakata.
"Maaf, tidak memberitahukan senpai yang sebenarnya." Ucap Sakura.
"Duduklah dulu." Utakata beranjak dari kursi dan mempersilahkan Sakura untuk duduk. "Jadi, apa karena hal ini kau mengundurkan diri?" Ucap Utakata, menunjuk perut Sakura yang sudah tidak bisa di tutupi lagi, Sakura mengangguk malu. "Kau bahkan tidak mengundangku untuk acara besarmu." Tegur Utakata.
"Ka-kami tidak mengadakan acara apapun, hanya meresmikan hubungan." Ucap Sakura.
"Siapa? Apa salah satu mahasiswa dari fakultas kita?"
"Dia dari fakultas kedokteran, seorang mahasiswa yang seangkatan denganku."
"Oh, ternyata fakultas tetangga, aku turut mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ucap Utakata.
"Maaf, aku harus segera kembali, Sasuke, menungguku." Ucap Sakura, pamit sopan pada senpainya.
Berjalan keluar dari ruangan Utakata, beberapa mahasiswi keperawatan menatap ke arah Sakura, merasa tidak asing dengan wanita itu, tapi mereka pun merasa takut jika salah orang. Sakura terus berjalan, tidak bisa untuk berbicara lebih lama dengan Utakata, tiba di area menunggu, beberapa meter dari sana, Sakura bisa melihat Sasuke di kerumuni oleh beberapa mahasiswi kedokteran, mereka jelas terlihat senang saat bertemu Sasuke di rumah sakit, sekedar menyapa Sasuke dan bercerita tentang dosen-dosen yang sedikit galak saat mengajar di rumah sakit, Sasuke akan menanggapi ucapan mereka dengan santai.
"Dia akan selalu populer." Batin Sakura dan tersenyum melihat suaminya itu. Tatapannya sedikit terkejut saat Sasuke menatap ke arahnya dan menunjuknya, spontan para mahasiswi yang mengerumuni Sasuke melihat ke arah yang di tunjuknya. Sakura langsung berpura-pura tidak lihat, tapi dia bisa mendengar jelas jika Sasuke memanggilnya.
"A-apa yang di lakukannya? Ini semakin membuatku malu." Batin Sakura, mau tidak mau dia harus mendatangi Sasuke, tangannya bergerak memanggil Sakura.
Dia sudah berdiri tepat di hadapan Sasuke.
"Maaf, aku harus mengantar pulang istriku." Ucap Sasuke.
Sakura bisa melihat wajah kecewa para gadis itu, seakan dia sudah mengalahkan mereka.
.
.
Kegiatan kampus yang cukup padat, Bersyukur dengan satu hari Sasuke bisa tinggal di rumah untuk bersantai, tidak ada salahnya untuk sedikit bermanja pada istrinya, duduk di sofa panjang bersama Sakura, sekedar menonton acara hiburan yang di tayang di tv, Sasuke duduk pada sisi sofa dan membiarkan istrinya akan bersandar dadanya yang bidang.
"Kau cukup kejam pada Naruto, minta maaflah besok." Ucap Sakura, mengingat kejadian saat Naruto di introgasi seperti seorang penjahat.
"Dia pantas mendapatkannya, dia sangat bodoh untuk membeberkan segalanya." Ucap Sasuke, cuek. "Apa ada sesuatu yang terjadi selama kau uhm... hamil?" Tanya Sasuke, sekedar ingin mengetahui keadaan Sakura selama dia tidak pernah ada di rumah.
"Aku baik-baik saja seperti yang di katakan dokter saat kita cek up, dia pun tidak terlalu menyulitkanku." Ucap Sakura.
Mengecup perlahan jidat istrinya itu, Sakura menyamankan dirinya yang bersandar di dada bidang Sasuke, waktu untuk berdua yang hanya sebentar namun cukup berarti untuk Sakura, dia pun tidak bisa membiarkan Sasuke untuk terus mengurusnya.
.
Ending Flashback
.
.
.
.
.
.
Rumah sakit, kampus konoha.
Kembali pada kesibukan praktek, para mahasiswa kedokteran berjalan menuju ruangan praktek mereka, tak luput dari tatapan beberapa mahasiswa kedokteran lainnya dan juga mahasiswa keperawatan, menatap para calon dokter itu, yang menarik perhatian ada beberapa mahasiswa kedokteran yang menarik perhatian mereka, Neji, Naruto, Shikamaru dan Sasuke, ke empatnya terlihat seperti boyband yang beranggotakan 4 orang.
"Yaa, aku rasa kita ini memang populer yaa." Ucap Naruto, besar kepala, dia bisa mendengar setiap bisik-bisik para mahasiswi itu.
"Hanya perasaanmu saja." Ucap Shikamaru.
"Aku benci di tatapan mereka. lagi pula aku harus mengawasi Hinata." Ucap Neji.
"Dasar kakak yang terlalu overprotectif." Batin Naruto, menatap malas ke arah Neji, lagi pula dia merasa hanya dia yang akan mendekati Hinata, tapi orang yang harus di lewatinya adalah Neji, Naruto bisa di hajar habis-habisan oleh brother-con itu.
Sasuke tidak terlalu memperdulikan mereka, lagi pula dia pun sudah memiliki seseorang yang sangat di sayanginya, ralat, menjadi dua orang, istri dan calon anaknya, merogok ponsel di saku lab dokternya, ponselnya terus-terusan berdering beberapa kali.
Itachi calling.
Sasuke hanya menatap layar ponselnya dan tidak ada niatnya untuk mengangkatnya. Ponsel itu akhirnya berhenti berdering namun kembali lagi berdering hingga beberapa kali, masih nama yang sama, lama-lama hal itu membuatnya kesal, menonaktifkan ponsel hingga prakteknya berakhir, dia tidak ingin di ganggu oleh kakaknya itu.
.
.
Perkuliahan berakhir, Sasuke beranjak pulang, dia ingin segera istirahat, menangani beberapa pasien membuatnya cukup kelelahan, anehnya para pasien lebih memilihnya untuk memeriksa terhenti saat mendapati Itachi berdiri di depan pintu rumahnya.
"Aku sudah mencoba menghubungimu beberapa kali, bahkan mengirimmu pesan tapi aku rasa kau tidak akan membacanya." Ucap Itachi, menatap serius ke arah Sasuke.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Sasuke, dia sudah cukup lelah dan malah harus meladeni kakaknya.
"Berusaha mencegah apa yang akan ibu lakukan." Ucap Itachi.
Mata Sasuke melebar setelah mendengar ucapan Itachi, ibunya datang berkunjung. "Jangan bercanda." Ucap Sasuke, tidak percaya, berjalan ke arah pintu dan membukanya, mencari Sakura namun nihil, di dalam rumahnya kosong, tidak ada siapa pun di sana.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan hal ini? ayah dan ibu harus tahu apa yang sudah kau lakukan." Ucap Itachi.
Graaab...!
Mencengkeram kerah Itachi, Sasuke terlihat sangat marah saat ini. "Katakan apa yang sudah terjadi?" Sasuke menuntut penjelasan dari kakaknya itu.
"Aku hanya tidak sengaja mendengar ucapan ibu jika dia akan berkunjung ke apartemenmu, aku pikir kau ada di sana, mencoba menghubungimu tapi sepertinya kau tidak peduli, kau bahkan mematikan ponselmu, saat aku mendatangi rumahmu, mereka sudah tidak ada, ibu dan Sakura, aku tidak tahu mereka pergi kemana." Jelas Itachi.
Sasuke melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Itachi.
"Dengar, aku tidak ingin membuatmu khawatir, tapi kau harus tahu ini, saat aku menghubungi pengawal ibu, aku bisa mendengar ibu berbicara dengan Sakura, ibu menyuruh Sakura unutk menggugurkan kandungannya." Ucap Itachi.
Kata-kata Itachi cukup membuat Sasuke sangat terkejut, tidak ada ucapan apa-apa lagi, Sasuke bergegas keluar dan mencoba mencari Sakura dan ibunya, jika perlu dia akan segera kembali ke kediamannya untuk mencari Sakura.
"Sasuke! Tunggu! Aku akan membantumu mencari Sakura." Itachi berusaha mengejar Sasuke, mengikuti adiknya itu yang sudah melajukan mobilnya segera, Itachi pun ikut mencari, dia tidak bisa percaya dengan apa yang sudah di ucapkan ibunya.
.
.
TBC
.
.
update..., kebutulan punya waktu, maaf jika kadang ada kalimat yang kurang lengkap atau ada kata yang ngga nongol pada tempatnya. ini mau di baca berapa kali pun tetap ada yang ketinggalan.
ini ceritanya mundur sih, semoga di pahami, next baru di jelasin kenapa mami Mikoto jahat,
uhmm... apa hari ini sedang malam minggu yaaa, author upadate buat temani yang nggak kemana-mana, :D *tabok rame-rame*
terima kasih untuk review di chapter sebelumnya, terutama dukungan, jadi mudah ketebak sepertinya, semoga nggak membosankan deh alurnya, kalau bosan tinggalin aja, XD
so. nggak balas review lagi yaa..., berusaha membuat fic di tengah kesibukan, soalnya author selalu kepikiran ini kapan tamatnya? eh ada ide alur lagi, hahhaha. nggak terasa ini udah terlalu panjang dan dede Sarada masih on going *emang film* pffffff...~
.
.
see you next chapter...
