Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
-Tolong dong, baca warningnya-
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
.
.
.
Don't Like Don't Read !
.
.
~ Tomato, cherry dan salad~
[ Chapter 12 ]
.
.
.
Saat ini hanya amarah yang tengah menyelimutinya, Sasuke berkendara dengan kecepatan yang tidak main-main, sangat cepat, tujuannya adalah kediamannya, Sasuke tidak peduli dengan apapun, dia berusaha untuk segera tiba dan akan menggagalkan apa yang ingin di lakukan ibunya, berusaha menghubungi Sakura namun ponsel milik istrinya itu tidak juga aktif, putus asa dan sangat ketakutan, tidak habis pikir setelah mendengar ucapan Itachi tentang rencana ibunya.
Ponselnya berdering, Sasuke mengerem mendadak di tengah jalan, menatap layar ponselnya dan nama Itachi yang tengah menghubunginya, dia sudah cukup kapok dengan mengabaikan panggilan kakaknya itu.
"Sasuke, Aku menemukan mereka, ibu berada di rumah sakit pusat Konoha bersama Sakura." Ucap Itachi. Sasuke tidak menjawab apapun, memutar mobil dan kembali melajukannya dengan kecepatan yang sangat cepat.
.
.
Membuka pintu rumah sakit dan berlari di sepanjang lorong, akhirnya menemukan Itachi.
"Sakura, ada dimana dia!" Teriak Sasuke.
Itachi bisa melihat wajah panik adiknya itu.
"Sasuke? Kau sudah tiba?" Ucap Mikoto yang baru saja dari toilet.
"I-ibu? Ibu, kenapa ibu melakukan hal ini padaku?" Ucap Sasuke, dia terlihat menahan amarahnya.
"He? Apa yang sedang terjadi?" Ucap Mikoto, dia pun bingung melihat anak bungsunya itu.
"Kenapa ibu tega meminta Sakura untuk menggugurkan kandungannya! Dia adalah anakku bu, aku baru saja akan menjadi seorang ayah." Ucap Sasuke, tangannya mengepal.
Mikoto terdiam, Itachi menikmati hal ini, adiknya yang terlihat sangat-sangat panik.
"Sepertinya kau salah paham, Itachi pun sama, kalian ini apa-apaan." Ucap Mikoto.
"Salah paham?" Ucap Sasuke, dia masih belum mengerti ucapan ibunya.
"Begini..."
.
.
Flashback.
"Anggap saja ini sebuah kecelakaan kecil, gugurkan dan aku bisa membayarmu berapa pun." Ucap Mikoto.
Seperti sebuah petir menyambar, Sakura tidak percaya mendengar ucapan itu dari ibu Sasuke, apa ini hal yang di maksudkan Sasuke jika nanti saja mereka bertemu orang tuanya, mata wanita itu membulat menatap ibu Sasuke.
"Gu-gugurkan?" Ucap Sakura, raut wajahnya menjadi takut.
"Iya, kau harus melakukannya, lagi pula aku tidak tahu jika Sasuke sudah memiliki istri, dia belum mengenalkannya pada kami, aku anggap dia belum sepenuhnya memiliki pasangan." Ucap Mikoto, menatap serius wanita berambut softpink itu.
Sakura terdiam, sejujurnya saat ini dia sangat marah, jika bukan wanita di hadapannya adalah ibu Sasuke, mungkin saat ini Sakura sudah memukulnya atau pun memberinya pelajaran agar tidak mengatakan hal yang tidak mungkin akan di lakukannya.
"Maaf, meskipun di mata anda kami tidak memiliki hubungan apa-apa, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menggugurkan anakku, bahkan jika anda memisahkanku dengan Sasuke, silahkan, anda berhak atas anak anda, tapi aku pun berhak atas anakku." Tegas Sakura, dia bahkan berdiri dan menatap Mikoto dengan tatapan marah yang masih di tahannya, ibunya selalu mengajari untuk sopan dan menghargai orang yang lebih tua, Sakura akan mengingat hal itu.
Hening...~
"Haa..~ aku tidak menyangka akan lebih cepat menjadi seorang nenek, bahkan anak pertamaku sama sekali tidak mencari jodohnya dengan cepat." Ucap Mikoto dan sebuah senyum ramah di wajahnya.
"A-apa maksud anda?" Ucap Sakura, dia di buat bingung.
"Kau terlalu formal, mulai detik ini juga panggil aku ibu, bukankah kalian sudah menikah, aku kan ibu mertuamu." Ucap Mikoto.
"Tapi yang anda eh, maksudku i-ibu ucapkan tadi."
"Hanya bercanda, tenanglah, aku hanya tengah menguji jika kau benar mencintai anakku dan anakmu, wanita lain mungkin akan benar-benar menggugurkan kandungan mereka demi uang atau pun harta, Sasuke sungguh pandai memilih seorang istri, maaf aku tidak bermaksud apa-apa dari yang sudah aku ucapkan." Ucap Mikoto dan tertawa pelan, sedikit menggoda menantunya itu dan dia sangat terhibur, sangat jarang Sasuke tidak pulang ke kediaman, bahkan saat liburan, Mikoto sudah di suguhi dengan hal yang membuatnya terkejut, menantu dan juga cucu.
"Terima kasih sudah menjaga anakku selama ini, dia sampai jarang pulang ke kediaman." Ucap Mikoto, wajahnya cemberut, anaknya tidak mengunjungi ibunya lagi.
"Maaf jika aku berkata kasar, aku pun tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tengah membela diri." Ucap Sakura, saat ini dia sudah sangat malu, ucapan dan tingkahnya tadi sungguh tidak baik di tiru oleh menantu yang baru saja bertemu mertua, kecuali dalam konteks percakapan mereka tadi, Sakura benar-benar perlu melindungi anaknya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti, aku akan menunggu Sasuke saja, jam berapa dia akan pulang?" Ucap Mikoto.
"Biasanya akan pulang sore, a-aku akan menyajikan teh untuk ibu." Ucap Sakura, beranjak dari ruang tamu namun baru beberapa langkah, Sakura terlihat kesakitan.
Mikoto melihat tingkah menantunya itu yang sedikit aneh, dia bahkan merintih, memerintahkan pengawalnya untuk membantu menuntun Sakura, Mikoto pun khawatir dan bergegas membawa Sakura ke rumah sakit, mencoba menghubungi Sasuke dan ponselnya tidak tersambung. Memilih untuk menghubunginya nanti, Sakura menjadi hal utama saat ini.
Ending Flashback.
.
.
"Kata dokter ini hanya gejala alami mendekati proses melahirkan, jadi mungkin tinggal menghitung hari Sakura akan segera melahirkan." Ucap Mikoto, dia sudah menceritakan segalanya yang terjadi.
Sasuke berjalan memasuki kamar Sakura yang di tunjuk Mikoto, melihat istrinya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
"Sasuke? Ada apa?" Ucap Sakura, melihat wajah suaminya yang sangat aneh, dia seperti orang yang mengalami gagal dalam ujian.
Sasuke terdiam, berjalan ke sisi ranjang Sakura, duduk di kursi yang ada di dekat ranjang dan membaringkan kepalanya di sebelah Sakura.
"Aku sedikit lelah." Ucap Sasuke.
Sakura masih menatap bingung dengan sikap Sasuke, kepikiran akan ucapannya, dia lelah saat kuliah, itulah yang terpikirkan oleh Sakura, membiarkan suaminya itu, mengusap lembut rambut Sasuke.
"Istirahatlah." Ucap Sakura.
Itachi dan Mikoto mengintip dari sisi pintu.
"Ibu sungguh keterlaluan, aku pun sampai salah tanggap." Ucap Itachi.
"Apa? kalianlah yang terlalu berlebihan. Ya sudah, ibu mau kembali pulang, kau juga, cepatlah cari pasangan, adikmu sudah melangkahimu, apa kau tidak malu?" Singgung Mikoto.
"Aku belum terlalu memikirkannya, bu." Ucap Itachi, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Mereka beranjak dari pintu kamar Sakura, berjalan di koridor rumah sakit.
"Sampai kapan ibu akan menunggu, kau sudah tidak muda lagi nak, sebentar lagi kau pun akan menjadi paman." Kembali singgungan dari Mikoto.
Itachi kehabisan kata-kata, dia pun bingung akan berucap apa pada ibunya, semuanya benar, dia sangat tertinggal jauh dari adiknya, yaa dalam urusan pasangan.
.
.
.
.
.
.
3 bulan berlalu.
Sasuke menatap bayi perempuan yang tengah di gendongnya, wajah putihnya dan rambut hitamnya, dia terlihat sangat mirip dengan Sasuke, wajah Sasuke merona, untuk pertama kalinya dia menggendong anaknya sendiri.
"Sakura, aku akan ke kampus." Ucap Sasuke, menunggu istrinya untuk selesai mandi.
Hening, tidak ada suara apa-apa dari kamar mandi.
"Sakura." kembali memanggil istrinya namun wanita itu tidak juga mengucapkan apa-apa.
Meletakkan perlahan Sarada di atas kasur, nama bayi perempuan itu, sedikit aneh, Sakura tidak membalas ucapannya, berdiri depan kamar mandi dan mengetuknya beberapa kali, pintu kamar mandi terbuka, Sakura nampaknya baru selesai mandi dengan rambutnya yang masih basah.
"Kau tidak mendengarkanku?" Ucap Sasuke.
"Maaf." Hanya itu yang di ucapkan Sakura.
Akhir-akhir ini Sasuke merasa ada yang aneh dengan sikap Sakura, dia tidak terlihat seperti Sakura yang biasanya, ceria dan begitu bersemangat, wajahnya terlihat meredup dan seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Aku akan ke kampus, hari ini ada ujian." Ucap Sasuke.
"Hmm, baiklah." Ucap Sakura, dia bahkan tidak menatap Sasuke, duduk di sisi ranjang.
Belum beranjak dari kamar, Sasuke harus memastikan semua baik-baik saja sebelum dia pergi, menghampiri Sakura dan berlutut di hadapan istrinya itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke.
"Aku baik saja-saja." Sakura seperti mengalihkan tatapannya.
"Tatapan aku saat aku berbicara." Ucap Sasuke.
Perlahan namun terlihat enggan, Sakura menatap Sasuke.
"Aku baik-baik saja." Kembali mengulang ucapannya.
"Katakan jika sesuatu tengah terjadi." Ucap Sasuke, menggenggam kedua tangan Sakura, sebuah kecupan ringan di jidatnya, Sakura berusaha tersenyum agar Sasuke tidak mencurigai hal yang telah terjadi padanya.
Sebuah pelukan dari Sakura. "Cepatlah pulang jika ujiannya sudah selesai." Ucap Sakura.
"Hn, aku akan segera pulang, sepertinya Naruto ingin ke rumah, dia ngotot ingin bertemu dengan Sarada." Ucap Sasuke, membalas pelukan istrinya, pelukan erat dan akhirnya melepaskannya perlahan.
Beranjak dari sisi ranjang, berjalan ke arah bayi mungilnya, Sarada pun akan mendapat kecupan sayang dari ayahnya. Setelah Sasuke benar-benar sudah pergi, Sakura segera mencari ponselnya dan menghubungi siapapun yang bisa membantunya sekarang.
10 menit berlalu.
Sakura hanya terdiam di sofa seperti orang yang kebingungan. Fakultas keperawatan telah melewati masa ujian, Ino mengajak Hinata dan Rin untuk melihat anak Sakura. Selama ini hanya Ino yang mendatangi Sakura, masalah yang cukup serius tengah melanda Sakura.
"Sepertinya kau harus melakukan terapi Sakura." Saran Rin.
"Aku tak yakin hal itu akan bekerja." Ucap Sakura.
"Dia terlihat sangat imut." Ucap Hinata, menatap bayi mungil itu.
"Benar, bayi ini sangat imut, bagaimana bisa kau mengabaikan anakmu sendiri, apa Sasuke tidak menyadari hal ini? Sebaiknya kau pun harus membicarakannya dengan Sasuke." Ucap Ino, menatap serius ke arah Sakura.
Dua bulan yang lalu, setelah Sakura melahirkan, sikapnya biasa-biasa saja, dia bahkan sangat menyayangi Sarada, beberapa minggu berikutnya hal aneh terjadi, Sakura seperti takut untuk menggendong anaknya, seakan takut akan menjatuhkan anaknya, semua pemikiran negatif itu membuatnya depresi dan tidak berani menyentuh anaknya hingga sekarang, berbohong pada Sasuke jika dia tidak bisa memberi ASI pada Sarada, Sasuke akhirnya mengurus Sarada dengan memberi anak mereka susu formula, selama ini Sasuke masih belum menyadari apapun.
"Sasuke akan marah besar padaku." Ucap Sakura, wajahnya tertunduk, dia benar-benar takut jika mengatakan sebenarnya pada Sasuke.
"Apa kau akan berbuat seperti ini terus pada Sarada? Aku merasa sangat kasihan padanya." Ucap Ino.
"Bagaimana kalau meminta tolong pada ibumu?" Ucap Rin.
"Ibuku? Sejak kami menikah, aku sudah tidak pernah bertemu dengan ibuku, dia sangat marah besar pada kami." Ucap Sakura, kembali mengingat kejadian saat dia dan Sasuke mendatangi rumahnya.
"Ibu mertuamu?" Ucap Rin lagi.
"Aku tidak bisa." Ucap Sakura, lagi-lagi hanya ada rasa takut.
Teman-temannya hanya bisa menghela napas, Sakura mengalami sindrom babyblues, perasaan yang takut berlebihan terhadap anaknya, tidak ada rasa ingin menyayangi anaknya lagi, Sakura ingin bebas dari mengasuh anak dan segera menjalani kehidupan mahasiswa, namun hal itu tidak mungkin di lakukannya, Sarada akan tinggal sendirian di rumah, tetap saja semuanya akan kembali pada tanggapan Sasuke yang merasa Sakura menyia-nyiakan anaknya.
"Kau belum siap memiliki anak, Sakura." Ucap Ino.
"Aku tidak bermaksud seperti itu." Ucap Sakura, mengangkat wajahnya dan menatap teman-temannya, hanya ada tatapan kecewa dari mereka. "Maaf, aku sungguh minta maaf, mungkin aku bisa mendengar saran kalian, akan aku berusaha melakukannya." Lanjut Sakura, namun dia sama sekali tidak memiliki ide apapun.
"Kami juga akan berusaha mendukungmu, Sakura." Ucap Hinata.
Mereka pun tidak bisa berlama-lama, sejam berlalu, kini tinggal Sakura sendirian dia rumah, Sarada di biarkan di dalam kamar, Ino sudah membaringkannya di ranjang, Sakura duduk termenung di ruang tamu, tidak ada yang bisa di lakukannya. Tersentak kaget, Sarada menangis, Sakura menutup telinganya dan tidak berniat menenangkan anaknya itu, tangis Sarada semakin keras.
Bunyi bel, Sakura bergegas ke arah pintu, siapapun yang sedang bertamu, Sakura harap bisa membantunya menenangkan anaknya. Membuka pintu dengan terburu-buru, yang di lihatnya adalah Itachi.
"Tolong aku!" Ucap Sakura dan berlinang air mata.
Itachi kebingungan menatap adik iparnya itu.
Setelah menenangkan Sarada yang kini di gendong Itachi dan sebuah botol susu tengah di berikan, Sarada sudah cukup lapar, Sakura duduk cukup jauh dari Itachi.
"Katakan saja apa yang sudah terjadi, aku tidak akan mengatakan apa-apa Sasuke." Ucap Itachi, dia merasa ada yang tidak beres dari Sakura.
"Aku sudah mencarinya di internet, hanya sebuah sindrom untuk ibu yang sudah melahirkan, aku... aku jadi takut pada Sarada." Ucap Sakura, menjelaskan hal yang terjadi padanya.
"Sasuke mengetahuinya?" Ucap Itachi.
"Tidak, aku tidak berani mengatakannya." Sakura terlihat menghela napas. "Aku harap jika ibu Mikoto tidak keberatan, aku ingin Sarada di asuhnya, aku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi." Ucap Sakura, kembali wajahnya terlihat sedih, dia seakan pasrah, anaknya lebih baik di asuh oleh wanita yang bisa menjaga anak dengan baik, tidak dengan keadaan Sakura yang cukup kacau.
"Sasuke tidak akan mengijinkanmu." Ucap Itachi.
"Aku hanya akan menjadi ibu yang tidak bertanggung jawab, aku mohon, katakan pada ibu Mikoto." Ucap Sakura.
"Kau harus membicarakan hal ini pada Sasuke, aku tidak berani mengambil keputusan sendiri." Ucap Itachi.
Berbicara pada Itachi pun tidak ada gunanya, Itachi hanya sebentar berkunjung, jam sudah menunjukkan jam 3 sore, Sasuke baru saja pulang, Sarada tertidur setelah di beri susu oleh pamannya, Sakura masih tetap pada tempat teramannya, di sofa ruang tamu.
Lagi-lagi Sasuke mendapati keadaan yang sama setiap dia pulang dari kampus, Sakura akan termenung di sofa, jika dia sudah pulang, Sakura akan berlari ke arahnya dan memeluknya erat, seakan lama menunggunya untuk pulang, padahal hanya berselang beberapa jam saja.
"Aku ingin mengatakan sesuatu." Ucap Sakura, mengajak Sasuke untuk di sofa.
"Hn?"
"Aku ingin ibu Mikoto mengurus Sarada." Ucap Sakura.
Alis Sasuke berkerut, hanya ada tanda tanya besar di kepalanya, untuk apa Sakura menyarankan Sarada di asuh ibunya.
"Aku tidak akan menginjikannya, Sarada masih bisa kita asuh, lagi pula kau masih cuti semester." Ucap Sasuke, menolak permintaan istrinya.
"Kenapa? Aku hanya ingin Sarada bisa mendapat kasih sayang yang lebih." Ucap Sakura, sekedar alasan belaka.
"Aku tidak ingin membicarakan apapun masalah asuh mengasuh, Sarada akan tetap kita besarkan bersama." Ucap Sasuke, dia pun tegas akan keputusannya.
"Aku tidak bisa!" Nada suara Sakura meninggi. "Aku tidak bisa, sungguh aku merasa hal ini sangat berat, aku mohon padamu, bawa Sarada ke kediamanmu, terserah kemana saja, asal jangan berada di sini, aku benar-benar takut padanya." Ucap Sakura, air matanya menuruni pipinya, Sakura tidak bisa menahan diri lagi.
"Apa yang sudah terjadi?" Ucap Sasuke, dia belum mendapat penjelasan apa-apa dari Sakura.
"Aku takut pada Sarada, aku sangat takut jika melakukan hal buruk pada Sarada." Ucap Sakura, dia begitu sedih dan merasa sangat depresi.
Memeluk erat Sakura, Sasuke mulai memahami keadaan ini, sikap Sakura selama ini, keputusan memiliki anak dan kesiapan Sakura yang belum matang, dia sama sekali belum bisa mengasuh anaknya sendiri, hal ini akan terjadi pada beberapa ibu.
.
.
Hari yang cukup melelahkan, Sasuke harus mengurus Sarada, belajar untuk ujian dan juga menenangkan Sakura, istrinya sudah tertidur, dia tertidur di sofa, Sakura tidak akan berada di ranjang jika Sasuke tidak menjadi pembatas untuk mereka.
Meregangkan otot-otot tangannya, mencoba mencari ide untuk mengubah keadaan istrinya, seseorang harus bisa membantu Sakura agar terlepas dari masalah yang tengah di hadapinya, siapa lagi yang bisa di andalkan Sasuke, seseorang yang sangat dekat dengan Sakura, muncul sebuah ide.
Beranjak dari meja belajarnya, mengangkat istrinya ala bridal style dan menidurkannya di sisi ranjang, Sarada akan di sisi sebelahnya, Sasuke sudah menaruh bantal besar untuk menjaga Sarada, Sasuke akan tidur di tengah-tengah. Sakura tidak bisa tidur jika dia berada di dekat anaknya.
.
.
.
.
.
Esok harinya, Sakura tidak berani berucap apapun, sofa di hadapannya tengah di duduki oleh seseorang, wajahnya terlihat tenang, Sasuke tengah menggendong Sarada, menunggu ibu mertuanya berbicara, sebelumnya Sasuke ke kediaman Sakura, dia meminta ibu Sakura untuk mengikutinya ke Konoha, awalnya Mebuki tidak ingin mendengar ucapan Sasuke, setelah mendengar apa yang terjadi pada anak semata wayangnya itu, Mebuki akhir mau di ajak Sasuke.
"Ibu sudah katakan, kau bahkan tidak siap untuk anakmu sendiri." Ucap Mebuki.
"Aku benar-benar minta maaf, bu." Ucap Sakura, dia sangat menyesal dengan keputusannya, tapi hal itu pun demi anaknya.
Mebuki bisa melihat wajah anaknya, begitu murung, bahkan tubuhnya tampak semakin kurus, Sakura mengalami depresi seperti yang di katakan Sasuke pada Mebuki.
"Sejujurnya ibu sudah tidak marah padamu lagi atau pun Sasuke, ibu bisa menerima keadaan kalian, namun ibu tidak berpikir jika keputusan kalian tidak berjalan dengan mulus seperti apa yang aku pun harapkan-" Mebuki beranjak dari sofa, menghampiri Sasuke dan menggendong cucunya itu. "Kalian bebas memilih, ibu bisa mengasuh Sarada, tapi kalian tidak akan bertemu dengannya hingga kalian benar-benar menyelesaikan masa pendidikan, haa..~ setidaknya aku sudah membantu kalian, pilihan lainnya, Sarada tetap tinggal pada kalian." Lanjut Mebuki, mencoba membantu anaknya itu.
Sasuke tidak ingin di pisahkan dari anaknya, namun mengingat kondisi Sakura, Sasuke pun harus memutuskan sesuatu yang bijak saat ini, merasa Sarada jauh lebih baik di asuh oleh ibu mertuanya dari pada ibu kandungnya sendiri, Sasuke tidak ingin tiba-tiba ayahnya mempertanyakan siapa anak bayi yang di bawa ibunya, selama ini Sasuke belum mengatakan apa-apa pada ayahnya dan Mikoto tidak membocorkan apa-apa atas permintaan Sasuke, setelah dia memegang gelar dokternya, Sasuke berjanji akan membawa Sakura beserta anaknya untuk di perkenalkan di kediaman Uchiha.
"Mohon bantuannya." Ucap Sasuke, dia berharap banyak pada ibu mertuanya.
"Apapun keputusan ibu, aku tidak akan membantahnya." Ucap Sakura, dia sudah pasrah akan keadaannya, satu-satu jalan terbaik Sakura harus di pisah dengan anaknya.
"Nah, itu lebih baik, kemasi barang-barang Sarada." Ucap Mebuki.
Sasuke mengikuti ucapan ibu mertuanya, mengemasi barang-barang anaknya, hari ini juga Mebuki akan membawa pergi Sarada, Sakura hanya mematung di sofanya, menatap ke arah ibunya yang terlihat senang menggendong-gendong Sarada, putri semata wayangnya pun terlihat ceria, dia sangat mudah akrab dengan siapa saja yang di gendongnya.
Pakaian dan keperluan Sarada sudah siap di dalam tas yang cukup besar, Sasuke akan mengantar kembali Mebuki ke kediamannya, Sakura menatap Sarada sebelum pergi, sedih, dia merasa cukup sedih, mengutuk akan sindrom aneh yang di deritanya, Sakura tidak bisa memeluk bahkan menggendong anaknya sendiri.
"Mungkin aku akan pulang sangat malam." Ucap Sasuke, sebelum beranjak dari pintu apartemennya.
"Uhm, hati-hati di jalan." Ucap Sakura.
Sebuah kecupan dari Sasuke, suaminya akan pergi mengantar, Mebuki tidak ingin banyak bicara pada Sakura, dia sudah merasa cukup puas melihat keadaan anaknya, sedikit ibah namun Mebuki tidak bisa berbuat banyak, ini adalah hasil dari keputusan anaknya sendiri, membantunya adalah langkah yang lebih baik.
"Tolong jaga Sakura dengan baik, aku tidak menyangka dia akan seperti itu." Ucap Mebuki pada Sasuke, mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tentu, aku akan menjaganya." Ucap Sasuke.
.
.
.
.
.
.
Beberapa bulan berlalu.
Sasuke menatap istrinya yang sibuk mengenakan seragam perawatnya, seragam itu kini menjadi pas pada tubuhnya, Sakura harus kembali melanjutkan kuliahnya, rasa bersalah sedikit menyelimutinya, Sarada, bayi kecilnya tidak bersama mereka lagi, Sakura sungguh membenci keadaannnya sekarang, mematung cukup lama di depan cermin, dia tidak menatap dirinya yang sesuai dengan seragam itu namun pikirannya melayang entah kemana.
"Memikirkan sesuatu?" Sebuah pelukan dari arah belakang Sakura, pelukan itu mengerat, membuat wanita berambut softpink ini segera menyadarkan dirinya
"Apa kau marah akan keputusanku?" Ucap Sakura, raut wajahnya masih terlihat tenang.
"Kau masih memikirkannya? Hal itu sudah lama berlalu, aku sungguh tidak masalah jika ini bisa membantu keadaanmu lebih membaik." Ucap Sasuke, mengecup perlahan bahu kiri Sakura.
"Aku uhm... takut, aku sungguh takut kau akan marah." Ucap Sakura.
"Aku tidak akan marah, aku janji, sebaiknya kau bergegas, aku pun akan pulang agak terlambat." Ucap Sasuke. Melepaskan pelukannya dan beranjak dari kamar mereka.
.
.
Sakura terlambat satu semester, dia akhirnya bisa mengikuti semester berikutnya, seragam perawat sudah di kenakannya, jadwalnya ada di rumah sakit kampus, Sakura baru akan mengikuti praktek di lab rumah sakit, beberapa mahasiswa dari angkatannya sedang mulai mengikuti KKN dan di tempatkan di beberapa rumah sakit di area Konoha maupun di luar Konoha.
"Jadwalnya tidak sepadat kuliah, tapi, huffff...~ tugas laporannya akan semakin banyak." Ucap Sakura, menatap papan informasi di lab keperawatan.
"Haruno Sakura?" Panggil seseorang.
Sakura berbalik dan mendapati Utakata tidak jauh darinya.
"Ha-halo senpai, apa kabar?" Ucap Sakura, canggung, sekedar menyapa kembali seniornya.
"Baik, kau?"
"Aku juga."
"Kau baru akan praktek?" Tanya Utakata.
"Ah, aku sempat ketinggalan untuk semester lalu." Ucap Sakura.
"Semoga kau betah untuk praktek di lab rumah sakit." Ucap Utakata, sebagai sebuah peringatan untuk juniornya itu.
"A-aku akan berusaha." Ucap Sakura, isu tentang Utakata sebagai senior yang tegas sudah menjadi lagenda tersendiri di fakultas keperawatan, tapi, dia pun memahami dengan pola mengajar senpainya itu.
"Sampai ketemu di lab." Ucap Utakata, berjalan ke arah ruangannya.
.
.
Kantin kampus.
"Akhirnya bisa melihatmu lagi di kampus." Ucap Ino, serasa cukup lama Sakura tidak pernah mendatangi kampus selama masa kehamilannya.
"Jadi, Sarada di bawa oleh ibumu?" Ucap Rin. Sangat di sayangkan, mereka tidak bisa bertemu kembali dengan bayi mungil nan manis itu lagi.
"Sindrom seperti itu cukup berat juga yaa." Ucap Hinata, merasa kasihan akan hal yang di alami Sakura.
Sangat kebetulan Sakura bisa bertemu dengan ketiga temannya itu, mendatangi kantin kampus dan bisa bercerita bersama.
"Aku akan baik-baik saja, ibuku cukup baik untuk mengasuh Sarada, bersyukur beliau sudah tidak marah lagi pada kami, tapi saat itu pun aku sangat takut, ibuku tipe orang yang tegas, aku pikir dia tidak akan pernah memaafkanku." Ucap Sakura, menghela napas sejenak.
"Bagaimana dengan Sasuke?" Ucap Ino.
"Dia hanya mengikuti keputusanku saja, aku rasa dia pun sedikit tidak rela jika Sarada di bawa pergi." Ucap Sakura.
"Kami harap kau segera membaik." Ucap Ino, Rin dan Hinata pun mengangguk pasti sekedar menyemangati temannya itu.
"Terima kasih teman-teman, baiklah, aku harus tepat waktu, Utakata-senpai bisa menghukumku jika terlambat." Ucap Sakura, bergegas ke bangunan rumah sakit.
"Semangat!" Sorakan semangat dari ketiga temannya.
Sakura hanya tersenyum dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi seakan meninju langit, untuk semester ini dia akan berusaha dan cepat menyelesaikan masa perkuliahannya, kadang Sakura melupakan tujuan utamanya selama menjadi mahasiswa di kampus Konoha, tujuan untuk membahagiaan ibunya sedikit meleset dari apa yang di rencanakannya, sekarang Sakura harus memperbaiki keadaan itu dan mencoba kembali menjalin hubungan baik dengan ibunya. Kepikiran akan anaknya yang semoga saja senang bersama neneknya.
.
.
Seperti yang di perkirakan Sakura, dia akan satu kelas dengan para junior, ada beberapa senior hanya Sakura tidak terlalu mengenal mereka, junior mendominasi kelas Sakura. Utakata sedang menerangkan praktek mereka hari ini, Sakura terlihat antusias untuk mengikutinya, sejenak menyibuki diri dengan perkuliahan, hanya meninggalkan satu semester semakin banyak mahasiswa yang baru saja di lihat Sakura, dia seakan menjadi mahasiswa baru yang tak kenal mahasiswa lainnya.
"Satu kelompok terdiri dari dua orang dan tolong bekerja samalah, di kelas ini tidak ada yang namanya perlombaan siapa yang mendapatkan nilai tinggi, tapi hasil dari praktek kalian yang menentukan." Ucap Utakata.
Semua mahasiswa mulai bergerak sesuai kelompok yang di bagikan, Sakura harus satu kelompok dengan junior, Utakata membagi kelompok secara acak.
"Rinji, mohon kerja samanya, senpai." Ucap seorang mahasiswa, menyebutkan namanya dan dia hanya satu tingkat di bawah Sakura.
"Panggil Sakura saja, mohon kerja samanya juga." Ucap Sakura, ramah.
Beberapa kali mereka akan terlihat bersama sekedar untuk membahas tugas kelompok, tugas itu akan terus di lakukan bersama hingga semester ini berakhir.
.
.
Perpustakaan kampus Konoha.
Sakura tengah sibuk mencari jawaban untuk tugas jurnal mereka sebelum masuk ke dalam lab, seseorang di sebelahnya pun ikut sibuk.
"Aku tidak menyangka jika bisa satu kelompok dengan senior terpintar di angkatan senpai." Ucap Rinji. Setelah bertanya-tanya pada beberapa senior dan mereka mengatakan jika Sakura adalah mahasiswi dengan nilai IP yang cukup tinggi dan memegang peringkat pertama.
"Tidak perlu membahasnya, aku pun masih mahasiswi biasa." Ucap Sakura, cukup malu jika di sanjung, dia hanya berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa semata.
"Aku harap tidak menjadi beban untukmu di semester ini, nilai praktek akan berpengaruh pada satu kelompok." Ucap Rinji.
"Tenang saja, kita pasti akan mendapat nilai yang bagus, kau harus rajin juga." Ucap Sakura dan tersenyum, sekedar menyemangati juniornya. "Ah, aku rasa kau tidak perlu memanggilku senpai, kau bisa memanggil namaku saja, sejujurnya aku tidak begitu nyaman." Lanjut Sakura.
"Hee? Apa tidak apa-apa? aku seperti kurang menghormatimu." Ucap Rinji.
"Tidak masalah, aku tidak sungguh tidak suka mendengarnya." Sakura terlihat serius untuk meyakinkan Rinji.
"Ba-baiklah. Sakura, apa boleh seperti itu?"
"Tentu, aku jadi merasa punya teman satu angkatan, hehehe." Ucap Sakura.
Kembali sibuk dengan tugas mereka hingga selesai, beberapa menit lagi akan masuk lab, Sakura dan Rinji bergegas, Utakata tidak akan menunggu mereka dengan senyuman, mereka harus lebih dulu berada di ruangan lab dari pada Utakata. Berjalan keluar perpustakaan, bergegas ke rumah sakit kampus.
Sementara itu, praktek para calon dokter baru saja selesai, mereka cukup terlihat letih dengan laporan dan pemerikasaan.
"Ayolah, aku sudah sangat lapar, aku ingin makan yang banyak saat ini." Ucap Naruto, memegang perutnya, dari pagi hingga siang ini dia belum menyentuh makanan, para dokter yang mengajar mereka meminta mereka untuk datang tepat waktu.
"Jangan makan terlalu banyak, ingat setelah ini kita ada praktek lagi." Tegur Shikamaru, menguap beberapa kali.
"Dan kau jangan terlalu banyak begadang, kau tahu setiap detik kau menguap." Ucap Naruto.
"Aku tidak begadang, hanya saja tugas laporannya belum selesai. Hoaaamm..~" Shikamaru terlihat mengantuk.
"Jangan sebut-sebut laporan saat ini, aku pun masih belum menyelesaikannya." Ucap Neji, dia sangat sibuk untuk membantu Hinata mengejarkan laporan, tidak tega melihat adik kembarnya yang masih menatap laptopnya hingga jam 4 pagi dan dia harus masuk praktek lagi di pagi harinya.
"Apa? Aku tidak yakin kau akan terlambat mengerjakan laporan, bukannya kau yang sangat rajin?" Ucap Naruto.
"Aku membantu Hinata." Ucap Neji, menatap ke arah lain, itu adalah kesalahannya, tugasnya masih menumpuk dan dia jauh lebih memilih membantu Hinata.
"Jangan terlalu memanjakan adikmu sendiri." Singgung Naruto.
"Aku tidak memanjakannya, aku hanya membantunya." Ucap Neji.
"Kalian sungguh berisik." Ucap Shikamaru, saat ini dia butuh tidur.
Hanya mereka bertiga yang sibuk berbicara, Sasuke tetap tenang seperti biasanya, dia menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat, tidak ada masalah yang membuatnya harus menunda tugasnya, Sakura pun bisa mengerjakan sendiri tugasnya, istrinya itu jauh lebih mandiri. Langkah Sasuke terhenti, Sakura tengah berjalan menuju rumah sakit kampus, sibuk berbicara dengan seseorang di sebelahnya, Sakura bahkan tidak sadar jika Sasuke dan teman-temannya tidak begitu jauh darinya.
"Sakura, sepertinya dia akan praktek juga, siapa yang ada di sebelahnya?" Ucap Naruto, menyadari tatapan Sasuke ke arah mana, dia hanya menatap ke arah Sakura.
"Mungkin junior, Sakura terlambat satu semester,kan?" Ucap Neji.
"Ah, kau benar, Sakura harus bersama para juniornya." Ucap Naruto.
"Apa kau akan mematung saja di situ, kita harus bergegas." Ucap Sasuke, dia tidak akan ambil pusing dengan siapa pun yang berada di sekitar Sakura, lagi pula wanita itu adalah istrinya yang sah, tidak ada yang bisa merebut Sakura darinya.
"Ouuhh..~ aku pikir kau akan cemburu." Ucap Naruto, sekedar mengganggu Sasuke.
Tidak ada tanggapan apa-apa dari Sasuke, terus berjalan dan menghiraukan ucapan sahabatnya itu.
.
.
Kegiatan kampus berakhir, merebah diri di kasurnya yang empuk, melirik jam dan menutup matanya, sudah jam 7 malam dan Sakura baru saja tiba di rumahnya, lelah untuk berpikir dan praktek, Utakata sangat tegas, beberapa kali Sakura harus terkejut dengan junior yang di tegur atau di usir dari lab akibat ulah mereka yang tidak fokus pada praktek.
Suasana rumah yang masih sepi, Sasuke belum pulang, dia sudah berpesan jika akan pulang agak terlambat, saat ini Sasuke sibuk dengan membantu para dokter untuk memeriksa beberapa pasien.
Tringggg...~
Ponsel Sakura berdering, satu pesan dari Rinji.
"Wah, cepat sekali dia mendapat jawaban dari jurnal berikutnya." Ucap Sakura, membaca pesan dari Rinji, dia sudah mengirim jawaban jurnal ke email Sakura, merasa sangat terbantu, Sakura bersyukur untuk mendapatkan tim kelompok yang rajin, tidak seperti beberapa waktu lalu, Sakura terus bermasalah gara-gara tugas kelompok.
Beranjak dari kasur untuk sekedar membersihkan diri, tubuhnya cukup gerah. Menyelesaikan kegiatan mandinya dan menyiapkan makan malam, memikirkan Sasuke yang akan pulang telat dan mungkin akan terlambat makan.
Menjadikan ruang tamu sebagai tempatnya untuk sibuk dengan tugas-tugas, tidak ingin mengganggu meja Sasuke yang cukup banyak kertas di sana, bisa saja tugas mereka akan tercampur dan membuat mereka kebingungan sendiri.
"Sakura."
Membuka matanya perlahan, cukup terkejut, memandangi jam dinding, sudah jam 10 malam dan Sakura tertidur cukup lama.
"Berapa lama aku tertidur?" Ucap Sakura.
"sekitar sejam." Ucap Sasuke.
"Apa? Kau bahkan tidak membangunkanku." Ucap Sakura dan menepuk keras lengan Sasuke, menatap ke arah suaminya sudah mengenakan kaos dan celana selututnya.
"Kau terlihat lelah dan aku tidak tega untuk membangunkanmu." Ucap Sasuke, duduk di sofa.
"Aku tidak menyadarinya, tiba-tiba saja tertidur." Ucap Sakura, ikut duduk di sebelah Sasuke. "Aku membuatkanmu makan malam." Lanjut Sakura.
"Hn, aku sudah memakannya." Ucap Sasuke, menyandarkan kepalanya di bahu Sakura, merangkul manja pinggang istrinya. "Aku cukup lelah hari ini." Tambah Sasuke.
"Semester ini benar-benar menguras tenaga." Ucap Sakura, dia pun lelah dengan laporan.
Dreeetttt...~
Sasuke melirik sepintas ke arah layar ponsel Sakura yang menyala, ada 2 pesan dengan nama yang sama, Rinji, tidak memperdulikan pesan itu, mengeratkan rangkulan pada pinggang istrinya. Sakura menatap ponselnya, mungkin Rinji hanya mengirim pesan jika dia sudah menyelesaikan bagiannya dari tugas laporan yang mereka buat, mengabaikannya sejenak, sedikit merindukan sentuhan suaminya, membiarkan Sasuke bermanja-manja pada dirinya.
"Kita tidur sekarang?" Bisik Sasuke, mengecup sesekali leher Sakura.
"Apa? tidak-tidak, aku harus mengerjakan tugasku sekarang." Ucap Sakura, melepaskan rangkulan Sasuke dan kembali menuju laptopnya.
Sasuke menatap Sakura, istrinya membuka pesan itu dan membiarkan layarnya mati begitu saja, membaringkan diri di sofa, dia harus berpikir jernih saat ini, dia hanya lelah dan pikiran jelek mulai mengganggunya.
"Kau tidak mengerjakan laporanmu?" Ucap Sakura, jarinya mulai bergerak untuk mengetik.
"Aku sudah menyelesaikannya." Ucap Sasuke.
"Apa? Kapan kau melakukannya? Aku saja baru akan mengerjakannya saat di rumah." Ucap Sakura.
"Saat istirahat dan di sela-sela waktu kosong." Ucap Sasuke.
"Kau sangat rajin, apa Naruto juga sudah menyelesaikan laporannya?"
"Aku tidak peduli padanya." Ucap Sasuke, cuek, dia tidak ingin mendengar Sakura membahas orang lain saat membahas dirinya.
Hening, memilih untuk mengabaikan sikap Sasuke dan kembali melanjutkan tugasnya, Sakura tidak ingin begadang dan akan tidur lebih awal.
"Aku merindukan Sarada." Ucap Sasuke.
Jari yang sejak tadi sibuk berada di atas keyboar itu berhenti, Sakura terdiam, tidak ada kalimat yang tepat untuk membalas ucapan Sasuke.
Triinggg...~
Rinji calling.
Mengambil ponselnya dan berjalan menjauh dari ruang tamu. Sakura sampai kebingungan, sejujurnya dia mulai nyaman dengan keadaannya tanpa adanya Sarada, namun hal itu salah, Sakura harus berusaha untuk membuat dirinya terbiasa dengan statusnya sebagai seorang ibu.
Melirik ke arah Sakura, dia menjauh untuk mengangkat ponselnya, samar-samar Sasuke bisa mendengar nama Rinji dari percakapan Sakura, menghela napas, mungkin hanya bertanya tentang tugas atau apapun yang berhubungan dengan kuliah.
.
.
.
.
.
.
"Sasuke, hey, Saaasuuuukeeee...!" Teriak Naruto, berkali-kali Naruto harus memanggil Sasuke dan pria itu sama sekali tidak mendengarnya. "Apa kau tuli? Atau kau tengah mengalami radang pembengkakan pada gendang telingamu?" Tambah Naruto. Mereka sibuk mengerjekan tugas di dalam ruangan kelas, Naruto akan menyampaikan pendapatnya dan Sasuke hanya mematung beberapa detik, dia bahkan tidak menuliskan apa yang tengah di ucapkan Naruto.
"Apa?" Sasuke kurang fokus dan sering terlihat mengabaikan siapapun.
"Apa katamu? Aku sudah berbicara sampai mulutku berbusa-busa dan kau tidak mendengarnya." Protes Naruto.
"Ah, maaf, aku tidak mendengarnya, katakan pendapatmu sekali lagi." Ucap Sasuke.
"Aku lelah mengatakannnya. Apa kau sedang ada masalah?" Ucap Naruto. menatap serius ke arah Sasuke, tidak biasanya sahabat cerdas dan rajinnya itu tidak memperhatikan apapun sejak tadi.
"Tidak, sebaiknya kita istirahat." Ucap Sasuke.
"Istirahat? Tidak biasanya kau akan mengucapkan kata itu, yaa aku rasa kau pun sudah pada batasnya, mereka pun begitu." Ucap Naruto, melirik ke arah kursi belakang, di sana ada Neji dan Shikmaru yang memilih tidur sejenak, mereka benar-benar lelah. "Apa kau tidak ingin menemui Sakura?" Lanjut Naruto.
"Sepertinya dia cukup sibuk." Ucap Sasuke, beberapa pesannya tidak di balas, Sakura sungguh sibuk saat di kampus.
"Kau benar, dia harus mengejar ketinggalannya, Sakura itu akan belajar sungguh-sungguh agar mencapai apa yang di inginkannya. Oh iya, bagaimana keadaan Sarada? Kalian bahkan tidak pernah menemuinya lagi." Ucap Naruto.
Sasuke menyadari hal itu, semenjak Sarada di bawah oleh ibu mertuanya, Sasuke tidak pernah bertemu kembali dengan anaknya, mengingat kembali akan ucapannya pada Sakura, bahkan istrinya itu tidak menanggapi apa-apa, Sasuke cukup kecewa, Sakura seakan tidak ingin mengakui Sarada, merindukannya pun tidak, dia hanya giat menjalankan kegiatannya sebagai mahasiswi dan melupakan kewajibannya yang lain sebagai seorang ibu, apa sindrom yang di alami Sakura hanya sebagai alasan atau istrinya itu memang belum bisa merawat seorang anak, memijat pelan pelipisnya, tugas, praktek, Sarada dan sikap Sakura, cukup membuatnya pusing.
"Haa...~ aku ingin semester ini cepat berakhir." Ucap Sasuke, menyandarkan punggung pada kursi yang di dudukinya.
"Kau benar, aku pun ingin segera berakhir." Ucap Naruto.
.
.
Praktek selesai, Naruto ingin cepat-cepat pulang dan segera istirahat, Sasuke tidak terlihat saat praktek berakhir, dia seperti terburu-buru untuk pulang.
"Naruto."
Berbalik dan mendapati Sakura, dia pun seperti akan pulang.
"Apa kau akan pulang?" Ucap Naruto.
"Iya, apa kau juga?"
"Tentu, rasanya aku ingin segera tidur." Ucap Naruto.
"Sangat kebetulan kita selesai bersamaan, uhm... dimana Sasuke?" Ucap Sakura, tidak biasanya Naruto sendirian, dia kadang akan bersama Sasuke.
"Sasuke? Dia sudah pulang tadi, apa kalian tidak pulang bersama?"
"Aku hanya sempat membaca beberapa pesan darinya, tapi tidak ada pesan untuk mengajak pulang." Ucap Sakura.
"Ah dasar, dia bahkan tidak menunggumu."
"Tidak masalah, ya sudah, aku akan pulang naik bus saja, dah."
"Apa mau aku antar?" Tawar Naruto.
"Tidak usah." Tolak Sakura, dia tidak ingin merepotkan Naruto, dia pun tahu jika Naruto terlihat kelelahan.
Sakura bergegas ke halte, dia bisa menemui Sasuke di saat tiba di rumah.
Namun.
Tiba di rumah, Sakura hanya sendirian, mobil Sasuke tidak terparkir di tempat biasanya dia akan parkir atau di tempat manapun, tidak ada tanda-tanda jika Sasuke sudah pulang, menempatkan tasnya di sisi meja dan merebah diri di sofa.
"Apa dia masih berada di rumah sakit?" Ucap Sakura, memikirkan jika Sasuke belum pulang dan masih sibuk bersama para dokter.
Mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sasuke.
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Ponselnya mati?" Melempar ponselnya di sofa, yang bisa di lakukannya hanya menunggu, Sasuke pun tidak mengabarinya jika akan pulang terlambat.
.
.
TBC
.
.
update...~
terima kasih untuk reviewnya, author sampai lupa untuk mengupdate fic ini saking sibuknya.
mungkin segini aja dulu, semakin ke chapter berikutnya semakin author melenceng dari konsep awal, karakternya berkembang ke arah lain, wkwkwkkwkw... semoga tetap enjoy dengan alur fic yang cukup berubah ini, sejujurnya chapter ini sudah memasuki inti dari masalah yang ingin author jelaskan sejak chapter awal. tapi masalahnya agak berubah, bergeser sedikit, ini akibat author kurang konsisten dan suka lupa, berharap tidak ada reader yang kabur atau mulai benci akan alur fic, semoga, dan... sampai kapan fic ini akan tamat! author mulai jenuh dan entah kenapa fic ini belum bisa sampai pada akhir alur...
ya sudah,
tidak bisa membalas review atau rajin balas-balas review seperti biasanya, waktu dan kesibukan membatasi kegiatan author sebagai tukang ngetik fic... =_=" Ini malah curhat.
sudah.
sudah.
see next chapter..
