Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
-Tolong dong, baca warningnya-
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
.
.
.
Don't Like Don't Read !
.
.
~ Tomato, cherry dan salad~
[ Chapter 13 ]
.
.
.
Sakura bergegas ke halte, dia bisa menemui Sasuke saat tiba di rumah.
Namun.
Tiba di rumah, Sakura hanya sendirian, mobil Sasuke tidak terparkir di tempat parkir yang di sediakan apartemennya, dia akan parkir empat biasanya atau di tempat yang tidak jauh dari tempat biasanya, tidak ada tanda-tanda jika Sasuke sudah pulang, menempatkan tasnya di sisi meja dan merebah diri di sofa.
"Apa dia masih berada di rumah sakit?" Ucap Sakura, memikirkan jika Sasuke belum pulang dan masih sibuk bersama para dokter.
Mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sasuke.
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Ponselnya mati?" Menaruh ponselnya di sofa, yang bisa di lakukannya hanya menunggu, Sasuke pun tidak mengabarinya jika akan pulang terlambat.
.
.
Di kediaman Haruno.
"Kau bahkan rela sampai datang kemari." Ucap Mebuki, menatap menantunya yang sibuk menggendong anaknya, perjalanannya cukup jauh dari Konoha hingga ke kediaman Haruno, namun tidak ada lelah untuknya menengok anaknya.
"Serasa baru saja di tinggal sebentar, dia sudah tumbuh sebesar ini." Ucap Sasuke, Sarada sudah bisa melihat dan menatap pria yang tengah menggendongnya, wajahnya tersenyum seakan dia mengetahui siapa pria yang terlihat senang menggendongnya.
"Kau tidak memberi kabar pada Sakura?" Ucap Mebuki.
"Tidak perlu, lagi pula saat aku selesai dengan kegiatan kuliah aku langsung ke sini, aku rasa Sakura pun tidak akan senang meskipun aku mengunjungi Sarada." Ucap Sasuke.
"Ah, kalian ini sungguh aneh, saat kalian datang dan membuatku marah, terasa begitu terikat, sekarang seakan kalian menjadi acuh tak acuh satu sama lain, ingat Sakura masih anakku dan jangan menghukumnya karena keadaannya tengah buruk." Ucap Mebuki, sedikit menegur Sasuke.
"Aku tidak akan melakukan hal itu, hanya saja aku ingin sekali bertemu Sarada." Ucap Sasuke.
"Ya sudah, aku pun tidak keberatan."
"Terima kasih, ibu sudah menjaganya dengan baik." Sasuke merasa beruntang budi pada Mebuki.
"Tidak perlu, lagi pula dia cucuku, aku pun sedikit bersalah akan sikapku saat itu, tapi aku benar-benar marah pada kalian, bersikap seolah-olah kalian tidak mempunyai orang tua dan memutuskan segala sendirian." Ucap Mebuki, mengingat saat mereka meminta restu.
"Aku akan menjaga mereka." Ucap Sasuke, menatap serius ke arah Mebuki, ini adalah keputusannya.
"Menginaplah, kau bisa pulang besok, kau bisa menempati kamar Sakura." Ucap Mebuki.
"Tidak perlu, aku akan pulang, besok pagi ada praktek di rumah sakit dan cukup sulit untuk tidak hadir." Ucap Sasuke, dan tersenyum tipis.
"Kau sungguh tidak lelah, Konoha sangat jauh dari sini, kalau begitu istirahatlah, setelah Sarada tertidur, bisa menemaniku sebentar." Ucap Mebuki.
Sasuke mengangguk pelan, setelah Sarada tertidur, Mebuki mengajak Sasuke di kedai sederahana, tempatnya menjadi ramai dengan hadirnya Sasuke.
"Aku tidak percaya jika dia ini menantumu." Ucap seorang wanita, dia kenalan Mebuki.
"Pantas saja anaknya begitu cantik, ayahnya begitu tampan." Ucap lainnya.
"Jadi kau merestuinya karena wajahnya yaa... hahahahah."
"Sudah-sudah jangan mengganggunya, ini hanya perayaan kecil dariku untuk meminta maaf, minum saja sepuasmu, apa kau ingin memesan makanan?" Ucap Mebuki, seakan memanjakan anak laki-lakinya sendiri.
"Terima kasih." Ucap Sasuke, kedatangannya kali ini di sambut begitu hangat oleh Mebuki, dia sudah di restui dan di terima keluarga Haruno.
"Apa kau punya suadara setampan dirimu?" Para ibu-ibu ikut menggoda Sasuke.
"Jangan dengarkan mereka, hey, kalian harus ingat umur." Ucap Mebuki dan terkekeh mendengar pertanyaan mereka.
"Kami pun ingin mengetahuinya, hahahahaha, siapa tahu menjadi jodoh."
"jangan sampai suami kalian akan marah setelah ini, hahahah." Ucap pemilik kedai dan di tanggapi dengan tawa lepas oleh para ibu-ibu.
Kedai pun semakin ramai, Sasuke hanya meminum seperlunya dan memakan makanan yang di pesankan Mebuki, dia cukup lapar setelah dari kampus dan berkendara jauh.
Sambutan yang berakhir tengah malam, beristirahat sejenak sebelum dia akan kembali berkendara, menatap anak semata wayangnya yang tertidur lelap di kamar Sakura, kini kamar itu menjadi milik Sarada sekarang.
"Dia anak yang pandai, bahkan tidak pernah rewel, aku jadi tidak kesulitan saat menjaganya." Ucap Mebuki.
"Aku akan pulang sebentar lagi."
"Baiklah, aku sudah sangat lelah, kau bisa pulang jika kau mau, tidak perlu pamit padaku." Ucap Mebuki, memilih untuk segera tidur.
.
.
Terbangun dari tidurnya, menatap jam dinding, tepat jam 5 pagi, Sakura menggeliat pelan, menyadari jika dirinya sudah berada di atas tempat tidur dan bukan tidur di sofa, melirik ke samping namun tidak menemukan Sasuke di sebelahnya, bergegas bangun berusaha menemukan suaminya, di ruang tamu Sasuke fokus menatap layar notebooknya.
"Aku tidak menyadari kau sudah pulang." Ucap Sakura, ingatan terakhirnya dia tertidur di sofa.
"Jam 2 pagi aku baru tiba di rumah." Ucap Sasuke, sedikit sibuk tengah mengetik laporannya.
"Dari mana? Bahkan kau pulang begitu lama." Ucap Sakura, cukup khawatir, berjalan perlahan dan duduk di sebelah Sasuke.
"Aku sibuk tugas kelompok." Ucap Sasuke, tidak ada alasan lain yang lebih cocok, jauh lebih baik mengatakan hal tentang kampus dari pada di harus mengatakan jika dia sudah mengunjungi Sarada.
Sakura merasakan perubahan sikap Sasuke, dia menjadi lebih dingin, seperti awal mereka bertemu tanpa mengenal satu sama lain.
"Apa kau tidak tidur? Kau seharusnya istirahat." Ucap Sakura.
"Kembalilah tidur, aku pikir kau tidak ada kegiatan hari ini." Ucap Sasuke, tetap fokus dengan apa yang di kerjakannya.
Melirik ke samping, Sasuke tidak mendengar ucapannya dan malah memintanya untuk tidur, hari ini Sakura memang tidak ada kegiatan untuk ke kampus, tapi dia perlu mengerjakan laporannya dan harus ke perpustakaan.
"Apa perlu aku membantumu?" Tawar Sakura.
"Tidak perlu, aku masih bisa menyelesaikannya sendiri." Tolak Sasuke.
Akhirnya Sakura memilih kembali untuk tidur, dia lelah, Sasuke tidak ingin di bantu, sia-sia mengucapkan apapun pada Sasuke, seakan dia di abaikan, Sasuke menatap istrinya pergi dengan gerakan tubuh yang malas, menghela napas, sejujurnya dia cukup lelah saat ini, menghentikan kegiatannya, beranjak ke dalam kamar, Sakura sudah berbaring dan menutup matanya.
Sakura merasakan ranjang yang bergerak, ingin menoleh namun pergerakannya terhenti, Sasuke sudah berbaring dan memeluk Sakura dari belakang, menyembunyikan wajahnya di bahu istrinya, dia butuh istirahat.
"Bangunkan saat jam 7 pagi, aku ada praktek." Ucap Sasuke dan mulai menutup matanya.
"Uhm." Jawaban singkat dari Sakura, pelukan suaminya mengerat, Membiarkan posisinya seperti itu, dia harus tetap berpikir positif tentang sikap Sasuke, mungkin dia pun lelah, mengingat Sasuke terus praktek bersama para pasien, keadaan yang sama yang di lakukannya, memaklumi posisi mereka yang akan segera mendapat gelarnya masing-masing.
Memilih untuk tidak tidur, Sakura akan terjaga hingga pagi, dia sudah cukup tidur dan akan membangunkan Sasuke tepat waktu.
.
.
.
.
.
Rumah sakit kampus Konoha.
"Ini bagian untukmu." Ucap Utakata, memberi selembaran tugas cek untuk Sakura.
Sakura hanya menatap kertas itu, sejujurnya dia sedang tidak ingin atau bahkan meresa tidak bisa mendapat bagian pada perawatan anak.
"Ada apa?" Tambah Utakata, merasa jika Sakura hanya menatap kertasnya dan tidak merespon apapun.
"Apa aku bisa di tempatkan di ruangan lain?" Ucap Sakura, berharap senpainya itu berubah pikiran.
"Tidak." Tegas Utakata. "Aku sudah membagi ruangan dengan para mahasiswa lainnya, jika kau ingin mengganti ruangan, semua yang aku susun akan kacau, kau tahu sendiri aku tidak senang ada yang membantah apapun di area rumah sakit ini." Ucap Utakata, tidak biasanya ada yang mengeluh tentang pembagian tugas.
"Baiklah." Ucap pasrah Sakura, mau tidak mau dia harus bisa menangani pasien yang di dominasi balita atau bayi.
Berjalan keluar ruangan Utakata.
"Sakura." Sapa seseorang.
"Rinji, ada apa?" Ucap Sakura.
"Apa kau sudah selesai, aku ingin mengajak makan siang di kantin kampus." Ucap Rinji, wajahnya terlihat senang hari ini, beberapa hari lalu dia menyelesaikan tugasnya bersama Sakura, semuanya sesuai dengan apa yang di minta Utakata dan mereka berhasil mendapat nilai A, Rinji merasa sangat terbantu, lagi pula seperti yang di katakan mahasiswa seangkatan Sakura, Sakura adalah mahasiswi yang pintar dan rajin.
"Uhm." Sakura terlihat tidak bersemangat, masih memikirkan ruangan perawatan yang di berikan padanya.
"Apa ada masalah?" Tanya Rinji, penasaran dengan sikap Sakura yang tak biasanya, dia selalu terlihat bersemangat.
"Bu-bukan masalah kok, ah, aku sudahlah lapar, sebaiknya kita cepat ke kantin." Ucap Sakura.
Berjalan keluar dari gedung rumah sakit, berusaha menenangkan pikirannya dengan berbicara santai bersama Rinji, dia harus bisa menjadi perawat yang profesional, tidak memandang umur dari pasiennya, hanya saja merawat anak-anak mengingatkannya pada Sarada, Sakura pun menjadi sedikit trauma.
.
.
Kantin kampus.
Sakura tengah makan dan mencoba membaca beberapa catatannya, kali ini dia harus membeli beberapa alat untuk praktek selanjutnya.
"Dimana aku bisa mendapatkan beberapa alat yang untuk praktek minggu depan?" Ucap Sakura.
"Apa kau bertugas membawanya?" Ucap Rinji.
"Ah, kau benar, tiba-tiba saja Utakata-senpai menunjukku." Ucap Sakura, pasrah.
"Sama, aku pun di tunjuk dalam kelompokku, kita bisa pergi bersama untuk membeli alat." Ucap Rinji, praktek berikutnya dia tidak sekelompk dengan Sakura, ini bisa menjadi kesempatannya untuk bersama Sakura, akhir-akhir ini, Rinji jadi sering memandangi senpainya itu.
"Benarkah, aku jadi sedikit tertolong."
"Apa perlu aku menjemputmu?"
"Tidak perlu, apartemenku sedikit jauh dari kampus." Ucap Sakura, merasa dia cukup kesulitan dengan jarak kampus dan apartemen Sasuke yang sekarang menjadi tempat tinggalnya, memikirkan jika dia bisa pindah kost di sekitar kampus seperti dulu dan tidak perlu sibuk menaiki bus yang akan sangat ramai di pagi hari.
"Sakura?" Tegur Rinji, Sakura terlihat melamun.
"Ki-kita bertemu di halte dekat kampus saja." Ucap Sakura.
"Jam 10 pagi." Ucap Rinji.
Sakura mengangguk pasti, menyelesaikan jadwal makan siang mereka, Rinji masih ada kuliah di siang hari, mereka berpisah di koridor kampus, Sakura akan mendatangi perpustakaan dan menyelesaikan laporannya, keadaannya kembali seperti semula di mana Sakura hanya mahasiswa biasa yang gila belajar dan sibuk mencari prestasi untuk mendapatkan beasiswa.
"Sebaiknya aku mencari kost saja." Gumamnya perlahan, mengingat kembali apa yang di pikirkannya saat di kantin kampus, menulis-nulis point-point penting untuk bab yang akan di ketiknya.
"Aku pikir kau tidak akan datang ke sini lagi." Ucap seseorang, mengalihkan fokus Sakura dan menatap sahabatnya itu.
"Kau pikir aku sudah akan bebas dengan laporan-laporan, bagaimana denganmu, sebentar lagi kau akan wisuda." Ucap Sakura, menghentikan kegiatannya.
"Masih belum, aku baru saja akan mengajukan proposal, aku rasa Sasukelah yang akan lebih cepat wisuda." Ucap Naruto.
"Oh iya, kenapa kalian tidak bersama?" Ucap Sakura.
"Dia sibuk bersama Suigetsu, aku tidak suka dengannya." Kesal Naruto.
"Kenapa? Kau jadi cemburu Sasuke lebih senang berteman dengan Suigetsu." Goda Sakura.
"Aku tidak cemburu, apa kau tidak cemburu jika su-"
"Shhhttt...! pelankan suaramu." Tegur Sakura dan menepuk keras bahu Naruto agar diam.
"Aku keceplosan." Bisik Naruto.
"Dasar kau ini, kebetulan kau ada disini, bisa menemaniku mencari kost baru?" Ucap Sakura.
"Kost? Kau akan pindah?"
"Tentu saja, apartemen Sasuke cukup jauh, apa kau tahu, aku harus naik bus setiap harinya, jika tinggal di kost dekat kampus akan lebih mudah, aku tidak perlu naik bus dan hanya berjalan kaki." Jelas Sakura.
"Aku yakin Sasuke tidak akan suka dengan hal itu." Ucap Naruto, dia pun tidak setuju jika Sakura tinggal sendirian lagi.
"Dia akan mengijinkanku jika aku mengatakan alasannya." Ucap Sakura.
"Kau cukup keras kepala." Ucap Naruto, beranjak dari kursinya, memberi isyarat pada Sakura jika dia akan menemaninya.
Sakura merapikan buku-buku dan menyimpan buku catatan miliknya ke dalam tas, menyimpan kembali buku-buku tebal itu ke dalam rak dan berjalan bersama Naruto keluar perpustakaan.
Mendatangi kost lama Sakura, namun semuanya penuh, tidak ada kamar lagi, mendatangi area lain yang tetap tidak jauh dari kampus, pada akhirnya menemukan satu kamar kost yang masih kosong, areanya pun masih sama dekatnya dengan kost lama Sakura.
"Setelah ini, katakan pada Sasuke, jangan sampai dia marah dengan keputusanmu seperti ini." Saran Naruto.
"Tenang saja, kenapa kau begitu khawatir? Aku istrinya, dia tidak akan marah padaku.
.
.
Berikutnya,
Sakura hanya terdiam, Sasuke terlihat lelah dan segara tidur saat tiba di apartemen, tidak ada waktu untuk Sakura mengatakan rencananya, dia butuh waktu Sasuke sebentar, tapi apa yang di lihatnya, Sasuke sudah tertidur nyenyak.
"Mungkin lain kali saja." Ucap Sakura, ikut berbaring dan menyamankan diri di dekapan Sasuke, dia pun harus istirahat untuk praktek besok.
.
.
.
.
.
.
Mengintip dari balik pintu rawat inap, wanita berambut softpink ini belum juga masuk dan mengecek pasien di setiap kamar sesuai tugasnya, menghela napas, jika mengabaikan tugas ini, Utakata akan marah besar padanya, tapi, kembali melirik, jantungnya mulai deg-degan, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi anak-anak sebanyak itu.
"Ah, suster, tolong cek anak saya, demamnya belum turun-turun juga." Ucap seorang ibu saat menemui Sakura di depan pintu masuk.
Sakura cukup terkejut, menenangkan diri dan berbicara baik-baik pada ibu itu.
"Ba-baik, akan saya periksa." Ucap Sakura, gugup, mau tidak mau dia harus melakukannya, melihat raut wajah ibu itu, Sakura menjadi tidak tega dengan mengabaikan tugasnya.
Menarik napas dan menghembuskannya perlahan, dia harus mengendalikan setiap situasi, harus menjadi seorang perawat yang profesional, awalnya dia cukup takut untuk menangani pasien anak kecil itu, seorang dokter baru saja masuk dan menemani Sakura untuk cek kondisi setiap pasien anak di sana, dokter pria itu terlihat cukup tua dan sangat ramah, dia bahkan akan bercerita sedikit pada anak-anak untuk memeriksa mereka, tidak ada yang menjadi takut, mereka bahkan senang jika dokter itu memeriksa mereka, apa yang di lihat Sakura sedikit membuka pikirannya tentang anak-anak, traumanya yang fatal harus segera perlahan-lahan di obatinya, salah satu cara dengan merawat dan membiasakan diri dengan pasien anak-anak seperti ini.
"Siapa namamu?" Tanya dokter itu saat mereka selesai memeriksa.
"Sakura, dok." Ucap Sakura.
"Sakura yaa..., aku sampai lupa memperkenalkan diri, aku dokter yang menangani bagian ruangan tadi, di sini aku sering di panggil dokter jenggot, hahahaha, dasar mereka, namaku Tazuna, semoga kita bisa bekerja sama ke depannya." Ucap dokter itu dengan ramah.
"Mohon bimbingannya, dokter." Balas Sakura dengan sopan.
.
.
Menyelesaikan kegiatan prakteknya, semuanya berjalan dengan baik tapi cukup melelahkan, langkahnya terhenti saat akan keluar area rumah sakit, di dekat resepsionis, Sasuke tengah berbicara dengan beberapa dokter, suasana di antara mereka sedikit meregang, kesibukan masing-masing dan jarangnya ada pembicaraan, begitu di kampus, mengurungkan niatnya untuk menyapa Sasuke, dia terlihat sibuk bersama para dokter itu.
"Apa yang sedang kau lihat." Ucap Rinji dan cukup mengagetkan Sakura yang hanya fokus pada suaminya.
"Bu-bukan apa-apa." Ucap Sakura, menenangkan dirinya.
"Besok jangan lupa." Rinji kembali mengingatkan jadwal berbelanja alat mereka.
"Tentu, aku bukan tipe orang yang lupa." Ucap Sakura dan terkekeh.
"Setelah ini kau akan kemana?"
"Ke perpustakaan, aku masih belum menyelesaikan bab ke 3." Ucap Sakura.
"Aku juga akan ke perpustakaan." Ucap Rinji.
Keduanya berjalan bersama keluar rumah sakit, Sasuke bisa melihat istrinya yang tengah berjalan dengan mahasiswa yang akhir-akhir ini terlihat bersama istrinya, apa mungkin itu hanya kebetulan saja atau ada lain, setiap harinya dia hanya melihat Sakura dari jauh, memastikan keadaan istrinya baik-baik, Sakura mulai sibuk dengan prakteknya dan mereka mulai jarang berbicara atau sekedar saling menyapa, padahal mereka berada di dalam bangunan yang sama dan jarak antara ruangan kedokteran dan perawat tidak begitu jauh, khususnya untuk mahasiswa, Sakura bahkan tidak menyapa saat bertemu di rumah sakit, Sasuke menjawab sopan setelah para dokter itu beranjak pergi.
"Ternyata kau ada di sini, aku mencarimu kemana-mana, kenapa kau tidak bersama si anak hiu itu." Ucap Naruto, sedikit menyindir Suigetsu.
"Dia manusia dan bukan ikan, kenapa kau tidak bisa akur dengannya." Ucap Sasuke.
"Aku benci cara dia berbicara denganku."
"Aku tidak peduli."
"Hey, apa kau tidka bertemu Sakura, aku sempat melihatnya bersama dokter jenggot memeriksa ruangan anak." Ucap Naruto.
"Dokter Tazuna, jangan ikut-ikutan mereka memanggil nama dokter seenaknya." Tegur Sasuke.
"Kenapa kau yang protes, aku hanya mengucapkan apa yang sering mereka panggil."
"Sudahlah, lagi pula Sakura sudah pergi bersama mahasiswa lain." Ucap Sasuke, raut wajah yang nampaknya tidak senang.
"Mahasiswa lain? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, kenapa tidak bersama Sakura." Ucap Naruto.
"Aku akan kembali ke ruangan."
"Hey, apa kau tidak mendengarku?"
"Aku tidak ada waktu untuk bicara denganmu." Ucap Sasuke dan melangkahkan kakinya.
"Sejujurnya Sakura melarangku mengatakannya padamu, tapi mungkin dia sudah berbicara padamu, Sakura ingin tinggal di kost dekat kampus, aku sedikit penasaran, apa hanya alasan apartemen yang jauh saja membuat dia ingin pindah? Aku pikir kalian sedang bertengkar, yaa... sebagai teman kalian, aku pun khawatir." Ucapan Naruto dan sukses membuat langkah Sasuke terhenti.
"Kami tidak bertengkar, hanya itu saja." Ucap Sasuke dan kembali berjalan, dia pun baru mendengar itu dari Naruto, Sakura sama sekali tidak mengatakan apa-apa padanya.
.
.
Apartemen Sasuke.
Sakura sudah lebih dulu berada di rumah, tugas dan laporannya sudah selesai, dia akan bersantai malam ini, melirik jam yang sudah menunjukkan jam 7 malam, Sasuke belum juga pulang, ingin menghubunginya namun sedikit membuat Sakura tidak enak jika saja Sasuke masih sibuk berada di kampus.
Membaringkan dirinya di sofa, pintu apartemen terbuka, Sasuke sudah pulang dan membuat wanita berambut softpink ini berdiri dari sofa dan menghampiri suaminya.
"Aku pikir kau akan pulang lebih malam lagi." Ucap Sakura dan tersenyum senang di hadapan suaminya.
Tidak ada ucapan balasan dari Sasuke, beranjak dari hadapan Sakura, menyimpan tasnya dan memilih untuk mandi sebelum istirahat.
"Apa kau sudah makan? Atau kau ingin aku membuatkan sesuatu?" Ucap Sakura.
"Tidak perlu, aku hanya ingin tidur." Ucap Sasuke, dingin.
Sakura merasa aneh dengan sikap Sasuke saat ini, dia terkesan cuek dan bahkan tidak ingin menatapnya.
Beberapa menit berlalu, Sasuke sudah berbaring di kasur dan menutup matanya.
"Aku tahu kau lelah, tapi ada hal yang ingin aku katakan." Ucap Sakura, sedikit ragu, menatap Sasuke yang hanya menutup matanya, duduk di atas ranjang tepatnya di sebelah Sasuke yang tengah berbaring.
"Katakan." Ucap Sasuke tanpa membuka matanya.
"Aku uhm...besok aku akan pergi membeli alat praktek." Ucap Sakura.
Sasuke membuka matanya dan menatap Sakura, hanya tatapan dingin yang di lihat wanita ini, Sasuke berpikiran jika Sakura akan mengatakan dia ingin menempati kost baru, namun hanya ucapan ijin yang di dengar.
"Pergilah, kau bahkan tidak perlu ijin dariku." Ucap Sasuke, tidur menyamping membelakangi Sakura.
Sesuatu memang telah terjadi dan Sakura menyadarinya, respon Sasuke tetap saja aneh, ikut berbaring dan memeluk suaminya dari belakang.
"Kau terkesan seperti sedang marah." Ucap Sakura, memeluk manja Sasuke.
"Tidurlah, aku ingin istirahat." Ucap Sasuke.
"Aku akan tidur jika kau berbalik." Ucap Sakura dan tersenyum, sekedar ingin menggoda suaminya.
Sasuke menghela napas, bukan waktunya untuk marah pada Sakura, dia sedang ingin mendapat waktu istirahatnya, memilih untuk berbalik dan memeluk istrinya, Sakura membalas pelukan suaminya, rasanya seperti kembali mendapat Sasuke yang biasanya.
.
.
.
.
.
.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, makanlah selagi hangat." Ucap Sakura, mulai sibuk memakai pakaiannya, sedikit terlambat, dia pun bangun tidak tepat waktu begitu juga Sasuke.
"Hn." Balas singkat Sasuke, dia bahkan masih tanpa busana dan bagian bawahnya tertutupi oleh selimut, semalam meskipun lelah dia ingin menghabiskan waktu bersama Sakura yang sudah sangat jarang sekali mereka lakukan.
"Aku akan pulang sekitar 2 jam lagi, apa hari ini ada kegiatan di kampus?" Ucap Sakura, selesai berpakaian dan menatap Sasuke yang masih duduk di atas ranjang.
"Tidak ada, aku hanya akan di rumah seharian." Ucap Sasuke.
"Baiklah, aku akan pergi." Ucap Sakura, melangkah ke sisi ranjang sekedar mengecup bibir Sasuke, gerakannya terhenti saat akan beranjak, Sasuke kembali menarik lengannya dan ikut membalas kecupan istrinya, rona memerah menghiasi wajah Sakura, Sasuke membuatnya malu.
Setelah Sakura pergi, Sasuke kembali berbaring, dia masih ingin tidur, mengambil ponselnya di meja dekat ranjang, wallpaper ponselnya yang menampakkan wajah putri semata wayangnya yang tersenyum bahkan belum ada gigi di sana, merindukan Sarada, bergegas untuk bersiap, mengunjungi anak sendiri jauh lebih baik dari pada di harus tertidur sepanjang hari.
.
.
"Apa semua sudah lengkap?" Ucap Sakura, memastikan tidak ada alat praktek yang mereka lupa beli.
"Sepertinya sudah selesai." Ucap Rinji.
Sakura menatap jam tangannya, kegiatan belanjanya lebih cepat selesai dari waktu yang di perkirakannya, Rinji memperhatikan gerak-gerik seniornya itu, hari masih sangat siang dan jalan-jalan bersama akan segera berakhir, memikirkan untuk mengajak Sakura ke tempat lain, dia pun ingin sekedar berjalan-jalan setelahnya.
"Apa kau sibuk?" Ucap Rinji pada Sakura.
"Sibuk? sejujurnya aku tidak sibuk hari ini, setelah ini aku hanya akan pulang." Ucap Sakura.
"Oh iya, aku tempat yang ingin ku kunjungi, apa aku bisa mengajakmu?" Ucap Rinji, wajahnya bahkan sempat merona.
"Aku tidak keberatan, karena hari kau sudah menemaniku, aku bisa menemanimu juga." Ucap Sakura, dia tidak keberatan, seakan membayar bantuan Rinji hari ini.
"Baguslah, kita akan ke sana." Ucap Rinji dan menunjuk sebuah restoran, Sakura melirik ke arah yang tunjuk Rinji. "Aku akan mentraktirmu."
"Wah, kau tidak perlu melakukannya, aku tidak keberatan membayar makananku sendiri."
"Tidak-tidak, aku mohon, ini sebagai tanda terima kasih ku juga, kau cukup banyak membantku, aku jadi merasa merepotkan senior sendiri." Ucap Rinji dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Oh hoo..~ kau begitu baik pada senior, apa tidak ada maksud tertentu?"
"Tidak ada, sungguh aku tulus melakukannya."
Sakura tertawa terbahak-bahak, dia hanya tengah menggoda juniornya itu, terkesan seperti pemuda yang polos, berjalan bersama menuju sebuah restoran, Sakura mengambil ponselnya di dalam tas dan mengirim pesan pada Sasuke jika dia akan pulang sedikit terlambat.
Sementara itu Sasuke masih dalam perjalanan dan melihat ponselnya yang bergetar, hanya sebuah pesan dari Sakura, dia pun tidak berada di rumah dan membiarkan istrinya untuk bebas melakukan apapun, seperti memberi hari liburan untuk Sakura, dengan begitu Sasuke akan bisa berlama-lama bersama Sarada.
.
.
Setelah makan siang di sebuah restoran, Sakura tidak tahu jika Rinji kembali mengajaknya ke beberapa tempat, alasannya hanya dia tidak pernah berjalan-jalan selama kuliah di Konoha, Rinji termasuk mahasiswa pendatang, melirik jam tangannya dan sudah jam 7 malam, tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat dan Sakura sangat-sangat terlambat untuk pulang.
"Sebaiknya aku harus pulang." Ucap Sakura.
"Terima kasih untuk hari yang menyenangkan ini." Ucap Rinji, di menikmati setiap waktunya bersama senior yang mulai menarik perhatiannya. "Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, aku bisa naik bus saja."
"Tolong untuk permintaan terakhir hari ini, aku sudah mengajakmu ke banyak tempat, kau pasti sangat lelah." Ucap Rinji.
"Kau sungguh keras kepala, jangan lupa untuk tugas besok." Ucap Sakura.
"Baik senpai." Ucap Rinji dan terkekeh.
Setengah jam berlalu, area tempat mereka pergi cukup jauh dan mobil Rinji sudah menepih, Sakura menatap ponselnya sejak tadi, Sasuke tidak membalas pesannya bahkan pesan untuk terlambat pulang pun tak di responnya.
"Terima kasih atas tumpangannya." Ucap Sakura, berjalan keluar dari mobil Rinji.
"Selamat malam." Ucap Rinji dan kembali melajukan mobilnya, hari ini dia cukup puas untuk sekedar berjalan-jalan, memikirkan jika yang mereka lakukan tadi seakan kencan.
Sakura sudah tiba di depan pintu apartemennya, membuka pintu dan di dalam cukup gelap, tidak ada yang menyalakan lampu, mencari Sasuke pun dia tidak ada, menghela napas, Sakura tidak tahu jika Sasuke akan keluar rumah, dia bahkan tidak mengabarinya, menaruh semua alat praktek di atas meja ruang tamu, hari ini cukup membuatnya lelah, namun Rinji sangat baik padanya, mentraktirnya dan membawanya ke tempat yang ramai di kunjungi orang-orang sebagai tempat untuk berlibur, rasanya Sakura ingin pun ingin menghabiskan waktu liburnya bersama Sasuke dan... Sakura teringat kembali akan Sarada, memikirkan bagaimana sekarang nasib anaknya, dia terlalu egois dan begitu membenci akan dirinya sendiri yang memiliki masalah aneh ini.
.
.
.
.
.
.
Terbangun di pagi hari, tubuhnya terasa pegal, Sakura menunggu Sasuke di ruang tamu dan malah tertidur di sofa, dia masih berada di sofa dan Sasuke tidak pulang, aneh, bahkan hingga pagi Sasuke masih tidak ada, melirik jam dinding, sudah jam 7 pagi dan Sakura mulai bersiap, dia harus berada di rumah sakit tepat jam 9 pagi.
Mengambil ponselnya, tidak ada pesan atau pun sebuah panggilan tak terjawab, memutuskan untuk menghubungi Sasuke, namun hanya ada suara jika ponsel Sasuke tidak aktif, mencoba menghubungi Naruto.
"Ngg...~ ada apa Sakura kau menghubungiku sepagi ini, hoaam...~" Ucap Naruto, dia terbangun setelah mendengar nada ponselnya yang cukup berisik.
"Apa kau bersama Sasuke?"
"Tidak, kami tidak bertemu dari kemarin, soalnya libur, ada apa?"
"Sasuke tidak berada di rumah, dia bahkan tidak pulang hingga sekarang." Ucap Sakura, khawatir.
"Mungkin dia pulang ke kediamannya, hoaam..~ sudah yaa, aku sangat mengantuk, hanya hari ini saja aku bisa tertidur pulas, dah."
Naruto segera menutup ponselnya, dia benar-benar butuh istirahat saat ini.
Memikirkan akan ucap Naruto, mungkin benar dia mengunjungi kediamannya, tidak ada yang perlu di khawatirkan, Sakura bisa ke kampus dengan tenang.
.
.
Kediaman Haruno.
"Apa kau sudah mengabari Sakura jika kau menginap di sini?" Ucap Mebuki.
"Sudah bu, aku sudah mengambarinya." Bohong Sasuke.
"Kapan-kapan ajaklah dia untuk menengok anaknya."
"Tidak perlu, dia hanya sibuk mengurus kampus dan tidak mengingat anaknya, aku sedikit tidak suka akan sikapnya yang egois." Ucap Sasuke, sejujurnya saat ini dia cukup marah pada Sakura.
"Sebaiknya kalian berbicaralah dulu baik-baik." Nasehat Mebuki.
"Apa ibu tahu, dia bahkan ingin menempati kost baru tanpa mengatakannya padaku." Curhat Sasuke, Sakura sama sekali tidak mengatakannya padanya dan malah mengatakan hal itu pada temannya sendiri. "Jika bukan karena Naruto, aku mungkin tidak tahu dia tiba-tiba sudah menetap di kost dan tidak pulang ke rumah.
"Kalian ini, baru saja membentuk sebuah rumah tangga dan sudah kacau seperti ini, mana tanggung jawabmu sebagai seorang suami dan mana tanggung jawab Sakura sebagai seorang istri, hubungan suami-istri itu bukan sesuatu yang mudah untuk di lakukan, tapi bagaimana kalian bisa menjalin hubungan yang berlanjut terus menerus hingga masa tua kalian."
Sasuke terdiam, dia benar-benar mendapat nasehat sekaligus teguran dari ibu mertuanya itu, menatap anaknya yang masih senantiasa di gendongnya, bayi kecil itu tertawa melihat wajah ayahnya.
"Apa aku bawa saja Sarada kembali ke rumah?" Ucap Sasuke.
"Aku tidak punya hak untuk menahan keinginanmu itu, tapi tolong lihat kondisi Sakura, aku tidak ingin cucuku terlantarkan kembali." Ucap Mebuki.
"Ibu benar, mungkin belum saatnya aku membawa kembali Sarada." Ucap Sasuke, mengurungkan niatnya itu, dia sungguh ingin bersama Sakura dan Sarada dalam satu atap lagi, dia ingin melihat Sakura menggendong dan menyayangi anaknya, tapi semua hal itu tergantung dari mana kondisi Sakura saat ini.
"Kau tidak pulang? Bukannya aku mengusirmu." Ucap Mebuki.
"Besok, aku akan pulang besok, hari ini pun aku tidak ada tugas apa-apa di rumah sakit."
"Uhm... kabari lagi Sakura jika kau masih akan menginap di sini."
"Tentu bu."
.
.
Malam hari pun tiba, apartemen terasa sunyi, Sakura tidak menemukan Sasuke di rumah sakit dan bersama teman-temannya, menghubungi kembali Naruto dan dia masih memiliki jadwal kosong hari ini, Sasuke tidak pulang lagi ke rumah, menghubunginya lagi dan nomer Sasuke sama sekali tidak bisa tersambung, seakan dia sengaja mematikan ponselnya sepanjang hari, memikirkan ibu mertuanya dan mencoba menghubungi Mikoto.
"Sasuke? Dia tidak pernah pulang ke kediaman, anak itu, padahal aku berharap dia membawamu dan Sarada ke sini." Ucap Mikoto, akhir-akhir ini Mikoto pun cukup sibuk menemani suaminya di perusahaan yang berada di luar Konoha dan sudah jarang mengunjungi menantu dan cucu yang tidak di ketahuinya jika tengah berada di Mebuki
"Ah, baiklah, terima kasih bu." Ucap Sakura, kecewa.
Berbaring di sofa, menatap layar ponselnya, Sasuke tidak berada di kediamannya dan Sakura tidak tahu harus mencarinya kemana, ponselnya pun tidak aktif, menghela napas, dia sungguh khawatir.
.
.
Sehari berlalu, Sakura seperti hidup sendirian di apartemennya, tidak mendapat kabar Sasuke dan membuatnya cemas selama di kampus, pada akhirnya, Sakura sudah mendapat sebuah kost yang jauh lebih dekat dari kampus dan hanya tinggal meminta ijin pada Sasuke, berjalan menuju rumah sakit kampus, Sakura sempat melihat Sasuke yang baru saja keluar dari perpustakaan, mempercepat langkahnya dan seseorang menahan lengan Sakura.
"Kau akan kemana? bukannya rumah sakit ke arah sana." Ucap Rinji.
"Rinji? Aku harus ke perpustakaan dulu." Ucap Sakura, dia terburu-buru, bisa saja dia tidak akan bertemu kembali dengan Sasuke yang sibuk.
"Aku akan menemanimu." Ucap Rinji, seakan tidak bisa membaca situasi saat ini.
Sakura terlihat bingung, ingin menemui Sasuke dan Rinji masih menahannya, menghela napas, mengurungkan niatnya untuk bertemu Sasuke dan memilih ke rumah sakit kampus.
"Tidak jadi ke perpustakaan?" Tanya Rinji, Sakura mengubah arah tujuannya.
"Aku lupa jika sudah meminjam buku yang akan ku cari." Bohong Sakura.
Berjalan bersama Rinji menuju rumah sakit, Sasuke yang baru saja keluar perpustakaan melihat Sakura yang tengah berbicara dengan seorang mahasiswa, lagi-lagi mahasiswa yang sama yang akan bersama Sakura, Sasuke pun lupa memberi kabar pada Sakura jika ponselnya mati dan dia harus membuat cerita bohong dari mana saja dia beberapa hari.
Memasuki area praktek, Sakura menjadi kurang bersemangat, suaminya tidak pulang-pulang dan dia harus menahan diri untuk tidak bertemu dan berbicara dengan Sasuke.
"Senpai, aku ijin ke toilet." Ucap Sakura pada Utakata.
"Hn, cepatlah." Ucap Utakata.
Sakura berjalan keluar perlahan dan bergegas mencari ruangan praktek untuk fakultas kedokteran, saat di koridor dia hanya bertemu teman-teman Sasuke, kata mereka Sasuke tengah bersama dokter memeriksa beberapa pasien, niatnya lagi-lagi tertunda ingin membicarakan rencananya yang akan pindah ke kost, memilih untuk kembali ke ruangannya sebelum Utakata mencarinya.
.
.
Kegiatan praktek untuk fakultas keperawatan berakhir, Sakura terburu-buru untuk kembali ke ruangan fakultas kedokteran untuk mencari Sasuke, namun hanya ada mahasiswa lainnya yang tidak begitu di kenal Sakura, teman-teman Sasuke pun tidak terlihat.
Mengambil ponselnya dari saku dan mencoba menghubungi Naruto yang kadang bersama Sasuke.
"Jadwal kami sudah berakhir, mungkin saja Sasuke sudah pulang, kau sebaiknya pulang saja." Ucap Naruto.
Saat ini Sakura benar-benar kesal di buatnya, Sasuke bertingkah aneh dan tidak juga memberi kabar padanya, mereka suami-istri tapi tidak saling mengetahui ada dimana satu sama lain.
"Sakura, apa kau akan pulang?" Lagi-lagi Sakura harus bertemu Rinji.
"Iya, aku harus pulang." Ucap Sakura, junior hyperaktifnya itu selalu saja menemukannya berada di mana.
"Kita bisa pulang bersama." Ucap Rinji.
"Mungkin lain waktu, aku harus ke sesuatu tempat." Tolak Sakura, saat ini dia hanya ingin pulang secepatnya dan tidak perlu melibatkan siapa-siapa saat ini.
"Aku tidak masalah untuk menemanimu." Ucap Rinji, selalu saja mendapati situasi yang tidak bisa di bacanya.
Sakura tengah berada di depan area rumah sakit kampus, yang ada di kepalanya hanya ingin bertemu Sasuke dan Rinji terus bertemu dengannya.
"Sakura." Panggil seseorang, Sakura dan Rinji pun menoleh dan melihat seorang pria dengan pakaian jas dokternya.
"Sasuke? Kau! Kau dari mana saja! Aku mencoba menghubungimu dan ponselmu tidak aktif, ada apa denganmu?" Ucap Sakura, kesal, dia sungguh kesal saat ini.
Rinji melihat reaksi Sakura, seakan tidak senang pada pria yang sepertinya dari fakultas kedokteran.
"Apa dia mengganggumu?" Ucap Rinji pada Sakura.
"Dia sungguh mengganggu dan membuatku kesal." Ucap Sakura, tidak memahami apa yang di pikirkan Rinji.
"Hey, kau, aku tahu jika kau adalah calon dokter, tolong bersikap lebih baik pada Sakura." Ucap Rinji.
Sakura hanya bengong setelah mendengar ucapan juniornya itu.
"Apa maksudmu?" Ucap Sasuke, dia tidak mengerti kenapa mahasiswa itu seakan menegur sikapnya.
"Aku memberimu peringatan, sebaiknya kau jaga sikap pada Sakura." Ucap Rinji.
"Dengar, aku tidak mengenalmu dan jangan coba-coba mengganggu istri orang." Ucap Sasuke, menatap tajam pada Rinji.
Rinji terdiam, kata terakhir Sasuke membuatnya belum mengerti akan sesuatu.
"Istri?" Ucap Rinji.
"Ah, memangnya kenapa? Dia istriku dan aku berhak atas apapun." Ucap Sasuke, bahkan tidak malu untuk merangkul bahu Sakura, wanita itu menundukkan wajah dan tidak berani menatap Rinji, dia sangat malu dengan Sasuke yang berbicara blak-blakan pada juniornya.
"Apa! Sakura? kalian? Suami-istri!" Rinji mulai menyadarinya dan ucapannya hanya di balas anggukan pasti dari Sasuke.
"Itu benar Rinji, aku wanita yang sudah berkeluarga." Ucap Sakura, meskipun malu, dia harus mengakui jika statusnya bukan seorang gadis lagi, tapi istri orang.
"Aku sungguh tidak percaya ini, maaf telah mengganggu waktu kalian berdua." Ucap Rinji dan bergegas pergi, kenyataan pahit yang baru saja di alaminya, senior yang di sukainya sudah memiliki suami.
Suasana kembali tenang, hanya ada Sasuke dan Sakura dan sudah mengambil jarak, dia butuh penjelasan Sasuke saat ini.
"Aku yakin kau tidak akan senang jika tahu akan kemana." Ucap Sasuke, ucapannya terdengar ambigu bagi Sakura, bisa saja dia selingkuh dengan wanita lain dan membuat Sakura tidak akan pernah rela.
"Apa kau menyukai wanita lain?" Ucap Sakura.
Sasuke terlihat menghela napas, ucapannya tidak di mengerti Sakura, dia tidak sedang selingkuh atau bersama wanita lain, memang benar dia bersama wanita, tapi itu adalah ibu mertuanya dan juga seorang bayi perempuan yang bukan lain adalah anaknya.
"Aku mengunjungi Sarada." Ucap Sasuke.
"Oh, baiklah." Ucap Sakura, menepis semua pikiran buruknya tapi tidak cukup senang mendengar kebenarannya. "Hari ini aku akan berkemas dan tinggal di kost, aku sudah mendapat kost yang sangat dekat kampus." Lanjut Sakura.
"Apa tinggal di kost lebih penting?"
"Tentu saja."
"Bagaimana keadaan Sarada? Apa itu tidak penting?"
"Kenapa kau masih tidak mengerti juga Sasuke!" Ucap Sakura, suasana hatinya sedang tidak dalam kondisi baik untuk membahas Sarada.
"Lakukan sesukamu." Ucap Sasuke dan beranjak dari sana, sepertinya dia tidak akan pulang lagi dan memilih mendatangi kost Suigetsu.
.
.
Kost Suigetsu.
"Kalian seperti drama-drama pertengkaran suami-istri." Ucap Suigetsu dan tertawa.
"Sakura itu wanita yang sangat pintar, aku bahkan mengakui kepintarannya, tapi dalam sebuah situasi dia sama sekali tidak bisa memilah mana yang lebih penting dan tidak penting, dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak memikirkan yang lain." Sasuke sudah jenuh akan masalah keluarganya.
"Meskipun aku belum berkeluarga, tapi aku sedikit memahami keadaanmu, kalian harus saling berbicara dalam kepala dingin, kau tipe yang temperamen Sasuke, Sakura pun seperti tidak bisa mendengar satu pihak saja, dia pun ingin di dengar." Ucap Suigetsu, hanya bisa memberikan saran terbaik untuk sahabatnya itu. "Bertemulah di sebuah kafe atau restoran, atau kalian cobalah jalan-jalan saat liburan, aku yakin kalian mulai jarang menghabiskan waktu bersama, tugas dan jadwal kampus semakin banyak saja, aku pun pusing dengan tugas-tugas itu." Tambah Suigetsu.
Sasuke terdiam, merencanakan sesuatu dan akan mencoba berbicara dengan baik pada Sakura, situasi saat pulang kampus adalah waktu yang sedikit fatal, keadaan mereka sama-sama lelah dan butuh istirahat dari pada harus berbicara serius.
.
.
Pulang dan mendapati apartemen yang kosong, secarik kertas kecil di atas meja makan, Sakura pamit untuk pindah di kost barunya, hanya menambah perasaan kesal bagi Sasuke.
.
.
TBC
.
.
halo-halo, semoga masih ada yang berniat membaca fic ini, karena kelamaan update dan lebih rajin buat oneshoot, akhirnya fic ini tidak update-update satu tahun lamanya, padahal cuma lewat beberapa bulan saja, hehehehe.
terima kasih untuk reader yang masih rajin nge-review dan menunggu kelanjutan fic ini, rencana awal fic ini akan tamat di chapter ke 13, tapi kok malah nggak tamat-tamat juga... =_= berharap fic ini segera selesai, author pun ingin membuat fic TBC yang baru dan seru lagi, sayangnya harus tahan diri, tapi tetap saja masih update fic baru, HAHHAHAHAH, emang cari masalah yaa, buat fic baru dan pada akhirnya numpuk updaten fic lagi. *bodoh emang*
akhir kata see next chapter.
