Moshi-moshi! Arigatou ya,sudah membaca fic amatiranku ini ^ ^. Happy reading
.
.
Disclaimer:vocaloid is never never ever forever punyaku.
.
.
Rumah sakit malam itu...
Normal POV
Cklek
Begitu dokter keluar,Miku langsung berdiri dan menanyakan keadaan ni-sannya itu.
"Luka-senpai,bagaimana keadaan nii-san saya?"
"tenanglah. Nii-sanmu itu ingin menemuimu..."
"ok,makasih senpai!" Miku langsung berlari ke arah Ruangan dimana Luka-senpai keluar.
"untuk yang terakhir kalinya.."
"hah?apa kak?" Miku membalik badannya untuk mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Luka.
"tak apa" ucap Luka lirih menahan sedih. Dokter itu memang temannya Miku dan sahabat Kaito.
Dikamar pasien (maksudnya,kamar istirahat Kaito)
"Mi-chan..." panggil Kaito dengan lemah saat melihat Miku masuk ke ruangannya.
"nii,niiii... NIIII-SAAN!" miku langsung berlari kearah kakaknya dan memeluknya.
"maaf ya,aku sudah sering menyakitimu, Miku..."
" jangan ngomong kayak nii-san mau mati dong!" Miku menampakkan muka sebalnya.
"hahahahaha.."
Kaito POV.
Apa yang harus kukatakan padanya? Kata dokter, aku takkan bertahaan lama. Tapi, apakah aku harus meninggalkan Miku? Tentu saja aku tak mau. Apakah ia sudah membaca surat yang kutaruh di saku bajuku? Ya tuhan, berikanlah aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin memberikan penjelasan padanya kalau aku menyayanginya. Kumohon...
"Kaito-nii?"
HAH!? Aku tersadar dari lamunanku.
"ya ada apa?"
"aku lapar..."
"uph, HAHAHAHAHAHAHA!"
Dasar Miku, ia masih aja seperti anak kecil.
"kenapa sih!?"
"di depan rumah sakit ada restoran mie, coba kamu ke sana. Oya, uangnya... Ng.. Nah, ini uangnya!" kuberikan ia dua lembar uang sepuluh dolar.
"nggak usah Kaito-nii, aku ada bawa kok, nih." ia memperlihatkan dompetnya yang penuh uang.
"uah ya, Kaito-nii. Aku mau makan dulu. Lapar!"
Blam!
Pintu ruanganku tertutup. Sial, aku tak membawa amplop, kertas dan pulpen. Segera kuambil kursi roda di sampingku dan mengangkat diriku ke atas kursi roda. Segera dengan tertatih-tatih, aku keluar kamar.
"sus..suster.." aku memanggil suster yang lewat di depanku. Ia hanya menoleh, melihat wajahku yang pucat lalu pergi. Suster macam apa itu!
"sus, suster..." suaraku makin melemah. Harusnya aku tak diperbolehkan suaraku mengeras. Namun, apa boleh buat.
"sus.."
"SUSTER NGESOT LO! PASIEN MANGGIL, LO MALAH PERGI TAK PEDULI!" hah!? Suara itu, itu kan Miku. Harusnya dia 'kan ada di resto. Mendengar teriakan Miku, suster tadi langsung balik badan begitu melihat Miku dia langsung mengeluarkan buku memonya dan pulpennya serta mengeluarkan aura: aku penggemar beratmu.
"a,a, anda Miku bukan! Aku penggemar berat anda!" kata suster itu dengan mata 10 juta volt. Miku langsung mengeluarkan senyum sinisnya.
"benar, aku Hatsune Miku dan pria berkursi roda ini kakakku, dan kamu mengabaikannya. Apakah aku harus membawa pengacaraku?" ucapnya sambil menunjuk-nunjuk suster itu.
"maafkan saya. Nah, anda mau apa?" ia segera menanyakan diriku dengan nada terpaksa.
"ehem!" Miku memberi isyarat berupa berdehem tanda ia tak ikhlas kakaknya di perlakukan begitu. Hihi, aku tertawa dalam hati.
"aku memerlukan sebuah amplop, sebatang pulpen dan secarik kertas."
"baiklah." ia segera berlari kecil menuju (kayaknya) ruang sekretaris yang ada di lantai bawah.
Normal POV
Saat Kaito mulai menulis surat di kamarnya (Miku sudah berlayar menuju pulau kapuk), ia mulai merasakan dirinya takkan bertahan lama lagi. Apalagi, saat Luka, dokter terbaik dirumah sakit itu berkata..
Flash back...
" uh... Luka?" tanya Kaito saat sadar. Luka sebenarnya temannya Kaito dan bisa dibilang kakak kelasnya Miku.
"kau tak apa? Para medis ambulans bilang kau harus segera dioperasi."
"mana adikku?"
"ia di luar menungguku keluar memberi tahukan keadaanmu padanya. Adikmu dari tadi sweatdrop akut."
"bolehkutanya sesuatu?"
"ya, apa?"
"jika kanker mulai kembali tumbuh, aku di vonis berapa?"
"maksudmu?"
"aku divonis berapa hari?"
"dari mana kau tahu kalau kankermu mulai bekerja kembali?"
"ini badanku dan tentu saja aku tahu seperti aku tahu sidik jariku seperti apa."
"kau di vonis tiga hari bila tak segera operasi dan di vonis setengah tahun lagi bila kau operasi."
"bila operasi akan membuatku bersamnya lebihlama, aku mau operasi." jawab Kaito mantab. Akhirnya, tanpa memberitahukan Miku yang tertidur (karena capek terlalu lama menunggu), Kaito segera dioperasi memotong sedikit bagian kanker otaknya.
"Luka, aku sudah di operasi bukan...?" tanya Kaito lirih.
"ya, tapi.."
"tapi apa?"
"dugaan kami salah. Kami pikir kankermu masih kecil. Ternyata kankermu itu sudah sebesar kepalan tanganmu. Kau di vonis sebulan.."
Ending of flash back..
