Jumpa lagi denngan Kanako!

Jengjengjengjeng! Jengjengjengjeng! (suara efek)

Minna~ kalau nggak suka nggak follow pun nggak apa kok! Karena lagi malas nulis, jadi updatenya lama! #plak! And the last, me baca! Please reviewnya ya~!

.

.

Disclaimer: Vocaloid punya Yamaha dan Crypton future media.

.

.

Miku POV

"luka-senpai? Kau masih di sana?" kekhawatiranku makin mengucur deras dari ubun-ubunku. Apakah Kaito-nii sembuh? Apakah ia sembuh?

"LUKA SENPAI!" saking khawatirnya aku sampai berteriak pelan di telepon untuk menyanakan keadaan Kaito-nii.

"Miku?"akhirnya dijawab juga. Ia segera mengelap ingusnya, aku tahu soalnya ada suara ingus keluar. Iuh.

"ia sudah sembuh! SEMBUH! Hahahahaha! Huhu, hahaha... Hiks!" sembuh? Kakiku bergetar. Handphoneku hampir jatuh. Untunglah kursi di ruang makan cukup melebar dan empuk. Jadinya handphone nggak hancur berantakan. Semua tetap melanjutkan makan tanpa mempedulikanku yang sedang termangu kecuali Rin. Melihatku menetes air mata, ia langsung mengambil handphoneku dan sapu tangan yang langsung ia berikan kepadaku.

Normal POV

"halo? Oh dr. Luka. Ada apa?" Rin langsung menyakan ke orang yang tadi ditelpon Miku. Miku saking senangnya ia sampai pingsan yang membuat orang-orang yang ada di restoran itu terkejut.

"kamu Rin ya? Nii-sannya Miku sudah sembuh. Tapi..."

"tapi kenapa?"

"kau harus merahasiakan Miku kalau Nii-sannya belum sembuh betul dan bisa jadi penyakitnya terjangkit lagi. rahasiakan darinya ya?"

"ng.. Baiklah. Kututup ya?"

Tuttututututututut...

"Miku? Kau sudah sadar?" Miku perlahan-lahan membuka matanya. Air matanya menetes saat melihat Kaito di sampingnya dengan muka segar bugar. Tidak seperti di rumah sakit malam itu, pucat pasi.

"nii-san?..." Miku berusaha memanggil kakaknya itukembali dengan sebutan nii-san, seperti dulu. Mendengar panggilan 'nii-san' yang disebutkan Miku barusan, Kaito hanya menggelengkan kepalanya. Miku bingung kenapa Kaito menggelengkan kepalanya.

"ke, kenapa? Apakah aku salah memanggilmu nii-san seperti dulu?" tanya Miku cemas-cemas.

"jangan memanggilku nii-san lagi!" bantakan Kaito membuat Miku terkejut. Beruntung saat itu Miku tersadar di kamarnya di rumahnya berdua saja dengan Kaito. Rin saat itu tertidur di depan kamar Miku bersama managernya dan teman-temannya yang lain. Miku mulai meneteskan air mata. Kenapa nii-san seperti itu? Apa salahku? Gumamnya.

"maaf. Maafkan aku baru memberi tahukanmu sekarang kalau aku bukan kakakmu yang sesungguhnya. Kakakmu sesungguhnya adalah.." sebelum Kaito menyebutkan nama kakak Miku sebenarnya, Miku memotongnya dengan senyumang di ujung bibirnya.

"maafkan aku juga. Aku sudah tahu kok hal itu." kini giliran Kaito yang bingung.

"aku mengungping pembicaraanmu dan Rinto.."

"dasar kau mantan adikku yang mucil!" Kaito langsung mencubit pelan pipi Miku.

"ng.. Miku.." tiba-tiba Kaito berubah menjadi mode serius.

"aw.. Kenapa?"

"bolehkah aku menganggapmu bukian adikku lagi?"

"tentu saja. Kita 'kan bukan sedarah."

"kalau gitu..." tiba-tiba Kaito menampakkan muka memerahnya. Kaito langsung menengadahkan keplanya ke atas sedikit agar Miku dapat melihat wajahnya. Kaito saat itu duduk di kursi yang agak lebih pendek dari ranjang Miku. Kaito dengan suara siap, menyatakan perasaanya.

"aku mencintaimu..."

"a, apa?!" Miku langsung ikut-ikutan memerah, seperti Kaito.

"kau bercanda ya? Kau pasti mencintaiku seprti adik bukan?" Miku langsung berpura-pura bercanda, padahal sebenarnya perasaannya saat itu sama seperti Kaito.

"TIDAK! Aku serius! Maukah kau menjadi pacar pertamaku? Kumohon... "

Keduanya berdiam... Akhirnya, dengan mantap Miku mengangguk kecil.

Dan kini, bukan hanya cerita tentang adik kakak lagi, tapi juga cerita sepasang sejoli yang akan memulai hidupnya sebai kekasih.

Bersambung...

Maaf ya kependekan. Lagi buntu ide nih! Gara-gara penyakit malas, jadi buntu ide sama kelamaan update deh.. X"0. Sekali lagi maag ya... Kutunggu reviewnya! Oya, doain aku supaya dapat ide. Soalnya nanti aku pinginnya kutampilkan semua yang Kaito tulis ke Miku (surat). Semoga kalian suka! REVIEW PLEASEEEEE!