.

...

.

SELASA PAGI


"Havana Ooh Nana..."

"Half of ma heart is in havana oh nana..."

"He took me back to East Atlanta..."

"All of ma heart is in havana..."

Di dapur Jaehwan dan Sanggyun nyanyi sahut-sahutan. Lagu paporit mereka berdua tuh.

Jaehwan sambil mandiin lele, Sanggyun sambil ngupas bawang.

Yang lain masih pada tidur, secara baru jam lima pagi. Ayamnya Jihoon aja belom bangun.

Jaehwan mah biasa bangun jam segini, kalo Sanggyun beda alasannya. Jones satu ini keluar kamar dan milih buat hijrah ke dapur bantuin bapak ngupas bawang karna ga tahan sama suara berisik dari kamar sebelahnya.

Taedonghan emang kebangetan. Kalo pas lagi ngilang aja ga ada kabar samsek, tapi sekalinya balik nonstop dah. Dari semalem tuh.

Sanggyun nyumpelin telinganya pake earphone semaleman sampe tidur, masa ya pagi ini lagi?

"Gyun?"

"Ya?"

"Gimana kalo bapak pasang wifi?"

"Ide bagus itu!"

"Tapi kalian bayar. Dibagi aja. Gimana?"

Sanggyun gak jadi seneng. Ada kata bayarnya sih. Duitnya kan mepet, orang cuma ngandelin kiriman emak dari kampung. Salah sendiri nggak mau cari kerja.

"Yaelah, nambah tiga puluh ribu doang. Yodah, dua puluh sembilan deh," Jaehwan ngalah seribu biar ga keliatan mahal.

"Saya tanyain emak dulu deh."

"Emak mulu." Jaehwan yang dari tadi nunduk sibuk sama lelenya noleh ke arah Sanggyun. "Kerja dong. Kerja ama bapak aja gimana?"

"Sungguh keterlaluan, bojoki sing saiki ~~~," Yongguk muncul sambil dangdutan. Tumben banget ni orang bangun pagi.

"Hoi, Guk...," sapa Sanggyun.

"Oi, Gyun, tumbenenan uda bangun." Yang jadi tujuan Yongguk adalah dispenser, haus, mau minum.

"Taedonghan..."

"Iyu, dari bawah juga kedengeran."

"Hadu, hadu... Ini kost rusuh amat ya, pusing pala bapak...," keluh Jaehwan yang telah menyelesaikan kegiatannya memandikan lele. "Nikah aja sana kalian, daripada terus-terusan berbuat maksiat."

"Maunya sih gitu, tapi belom ada modalnya, Pak...," ratap Sanggyun.

"Oiya, yang tadi saya bilang itu. Kerja sama saya mau?"

"Ngapain pak? Ngurus lele?"

Yongguk nyimak sambil masak air buat bikin teh.

"Jadi kasir di warung pecel lele saya."

"Boleh dah asal gajinya cocok."

"Siip dah, bisa diatur."

Yongguk udah mo balik ke kamarnya sambil bawa secangkir teh panas tapi dicegah sama Jaehwan, "tunggu, Guk."

"Ya, kenapa?" Yongguk berhenti, matung.

"Kamu habis diperawanin?"

Sanggyun langsung ngeh, cuma ketawa aja dia.

"Eh, Pak..."

"Iya kan?"

"Hehee..." Yongguk garuk-garuk bagian belakang kepalanya. Malu ketahuan.

"Keliatan kali dari cara jalan kamu," sambung Jaehwan.
.

.
.

.