Yang tidur di kost cuma dua orang, Yongguk ama Kenta, itupun Yongguknya lagi sibuk benerin laptopnya, error kenapa gitu gabisa nyala tapi kipasnya muter, yaudah biarin aja si koko sibuk dulu.

Kenta?

Dia di kamarnya lagi mondar-mandir, bingung laper tapi nggak ada makanan. Mau beli juga jam segini mana ada yang buka. Ada sih minimarket 24 jam, salah satunya Ponyo Mart, minimarket dekat kost milik Jung Sewoon mantannya bapak kost, tapi dingin, mager kan jadinya mau keluar.

Nggak tahan sama lapernya, Kenta akhirnya pake jaket terus keluar kamar, tapi nggak ke minimarket, mau guris makanan di dapur aja.

Sesampainya di dapur, Kenta langsung ke meja makan, buka tudung saji.

Kosong.

"Ih kosong ae pake ditutupin," gerutunya sembari menutup tudung saji seperti semula.

Tak berhasil mendapatkan makanan di meja makan, Kenta beralih ke lemari es, siapa tau ada es campur atau apa gitu kan lumayan.

Tapi nyatanya cuma ada sosis sapi dua biji ama tomat empuk hampir busuk sebutir.

"Mau apa, Ken?"

Saking kagetnya Kenta sampe lompat, relfelks juga dia nutup kenceng pintu lemari es. Nggak denger suara langkah kaki tau-tau ada orang.

"Eh, Bu, ngagetin aja, hehehe..."

"Laper ya?" tebak Bu Sungwoon yang masi pake daster batik favoritnya.

"Iya, Bu, laper juga nggak?"

Sungwoon ngangguk. "Hooh, mabar yuk.."

"Lah kok malah mabar kan laper?" Bingungnya.

"Masak bareng makan bareng gitu loh..."

"Oh gitu..."

Sungwoon mendahului Kenta menuju ke lemari tempat penyimpanan makanan. "Tadi di kulkas ada apa aja?"

"Ada sosis ama tomat busuk."

"Yauda saya bikin nasi goreng," ujar Sungwoon. Ia mengeluarkan sebuah toples kaca dengan tutup plastik warna biru dari dalam lemari makanan.

Kenta buka magic jar yang uda nggak dicolokin, masi ada nasi. Cukup lah buat makan nasi goreng berdua.

"Kupasin bawang merah ama putih dong," perintah Sungwoon, sekarang dia mau goreng telornya dulu, biar cepat.

Kenta nurut aja, gercep juga dia ngupas bawang, biar bisa cepet makan.

.


Hanya butuh waktu lima belas menit dan dua piring nasi goreng spesial pake telor ceplok sudah tersaji di atas meja makan. Tadinya mau makan di ruang TV sambil nonton TV, tapi nggak jadi karena Kenta mau curhat, jadi biar lebih fokus curhat dan makannya, di ruang makan aja.

"Oh ya, minumannya!" seru Sungwoon, untung inget.

"Air putih aja dah."

Sungwoon mengambil dua buah gelas kaca dari lemari dan satu botol air mineral ukuran besar.

"Nah, selamat makan!"

"Selamat makan! Terima kasih buat makanannya!"

Setelah masing-masing habis setengah piring, barulah Kenta mulai sesi curhatnya, ngisi perut dulu emang tadi, karena curhat butuh tenaga juga.

"Bu Sung..."

"Heum?" Sungwoon masih sibuk ngunyah makanan. Kelaparan jadi makannya agak gimana gitu.

"Saya kok lelah ya."

"Lelah apa? Lelah kuliah? Lelah ngajar?"

"Lelah hidup sendiri."

"Kan disini bareng bareng Ken, nggak sendiri. Ada bapak sama saya juga..."

"Bukan itu, saya lelah jadi bujangan. Yongguk bentar lagi mau nikah, pindah dari sini."

Yaelah, ternyata Keken galau mau ditiinggal koko.

"Kamu sama Taehyun, Ken. Mas Tae tu orang baik, saya yakin Mas Tae bisa jadi kepala rumah tangga yang baik buat kamu dan anak-anak kalian."

"Tapi Mas Tae sukanya sama Bu Sungwoon..."

"Saya udah nikah, sekarang kamu aja pepet Mas Tae, gas terus."

"Ih, Bu, engga ah."

Sungwoon meletakkan sendok dan garpunya dalam keadaan telungkup menyilang diatas piring. Selesai duluan dia.

"Gapapa, nanti saya bantu. Oiya, jangan panggil saya 'Bu', berasa ibu-ibu."

"Hahaa... Saya kan ngikut yang laen aja. Oya, kepo dong bu." Kenta juga telah menyelesaikan makannya.

"Bole, bole." Sungwoon mengisi gelasnya dengan air mineral dan meminumnya beberapa teguk, biar nggak batuk. "Mau kepo apa? Warna kolor bapak? Gradasi biru putih."

Kenta memasang wajah -_-, nggak kepo dia tu kalo ama kolor bapak, jangankan warna kolornya, ama isinya aja nggak doyan.

"Bukan, bukan."

"Lalu? Nanya aja mumpung saya lagi baek mau jawab."

"Kenapa Bu Sung milih Pak Jae?"

Sungwoon menyamankan posisi duduknya, kemudian ia memandang jauh ke langit gelap yang terlihat dari ruang makan.

"Jadi, waktu itu...," mulai Sungwoon.

Kenta nyimak.

"Saya uda jalan tiga tahun sama Mas Tae, lagi jenuh-jenuhnya, lagi bosen pake banget. Mas Tae lagi sibuk-sibuknya ngedance, saya sibuk karena penyesuaian jadi mahasiswa baru. Makin jarang ada waktu satu sama lain karena kesibukan, ditambah jenuhnya, akhirnya makin renggang. Tapi masih sayang, jadi nggak putus."

Kenta masi nyimak sambil sesekali meneguk air mineral dari botolnya langsung.

"Itu bertahan hampir setahun lamanya, sampai ada festival di kampus dan saya ikut lomba nyanyi, disitulah saya ketemu dan kenal sama Pak Jae. Awalnya kami rival berat, dia juara satu saya juara tiga. Lalu kami saling penasaran satu sama lain dan kebetulan kembali bertemu di lomba dance and vocal group, saya membawakan lagu bergenre nu disco dan Pak Jaehwan deep house. Lagi-lagi saya kalah telak dari dia."

"Kayanya saya juga ikut deh sama Yongguk bawain lagu bergenre future edm, saya pemenangnya versi dewan juri."

"Wah, iya ya? Saya kok nggak ngeh ya?"

"Lanjut aja, Bu." Kenta masi kepo ama kelanjutan kisah cinta Bu Sungwoon..

"Nah dari situ saya dan Jaehwan mulai saling dekat, nah ternyata kami punya kesamaan dalam hal kebobrokan. Waktu itu Jaehwan juga uda punya Sewoon, jadi kami adalah pasangan selingkuh awalnya."

Kenta masih nyimak sambil ngupil.

"Sampai akhirnya Pak Jae ketikung Daniel, lalu nggak lama kemudian kami ketangkep basah Mas Tae lagi selingkuh. Akhirnya Mas Tae minta putus dan jadilah saya sama bapak. Nggak pake pacaran langsung diajak nikah."

Kenta tepuk tangan.

Emangnya bagian mana yang perlu ditepuk tanganin?

"Lalu setelahnya?"

"Jadilah rumah kost ini, dan karena Mas Tae pas dapat kerjaan disini, saya tawarin nge kost disini sebagai penghuni kost yang pertama."

"Oh begitu..."

"Ya begitulah..."

Suara ayam jantan tetangga yang berkokok dengan nyaringnya menginterupsi duo cabe di ruang makan.

Disusul dengan munculnya seorang laki-laki bermata beler dengan rambut acak-acakan.

"Cieee calon pengantin baru, rajin amat jam enam uda bangun."

"Apaan sih, Bu, masi lama kok," sahut koko sambil menuju ke lemari es.

Kenta diem aja, dia cuma ngeliatin si koko jongkok sambil ngeluarin tas plastik item dari freezer. Es krim rupanya.

"Mau?" Koko nawarin dong, masa makan sendiri.

"Mau deh," sahut Sungwoon cepat. Walaupun perutnya udah kenyang tapi kalau ditawarin es krim nggak mungkin nolak.

"Yang vanila apa kopi?"

"Kopi deh, kamu, Ken?"

"Apa aja," sahut Kenta asal, aslinya sih mau es krim tapi lagi males ama yang punya es krim.

Yongguk ikut duduk bersama Sungwoon dan Kenta, tepatnya di hadapan Kenta. Sambil buka bungkus es krim warna ungu biru nya, dia ngomong ke Kenta, "tenang aja, abis nikahpun aku tetep disini kok, setahun lah paling nggak, sampe rumahku ama Shihyun jadi."

"Terus hubungannya sama aku?"

"Ya kita masi bisa anu anu."

"Anu anu, jadi inget Sanggyun," ujar Bu Sungwoon.

"Ogah! Kenta uda tobat, makasih."

"Sok sok an tobat," cibir Yongguk.

Sungwoon menggigit kecil es krim vanila lapis cokelat kacangnya. Kecil-kecil aja biar awet.

"Beneran uda tobat. Makasih es krimnya, aku balik ke kamar dulu, mau mandi terus siap-siap ke kantor."

"Anterin nggak?"

"Nggak makasih, mau bareng dek Tzuyu aja," sahut Kenta setengah berteriak, pasalnya ia sudah berada di luar dapur, hampir sampai di koridor kamarnya.

"Dia kenapa?" tanya Koko setelah cabe Jepangnya menghilang di balik pintu.

"Ngambek, ditinggal nikah kamu."


Kenta beneran langsung mandi terus siap-siap ke kantor setelah menghabiskan satu stick es krimnya. Nggak pake lama, jam setengah tujuh dia uda rapi wangi siap jalan. Sendiri tapi, nggak sama Tzuyu. Iyalah, Tzuyu kan muridnya.

Jarak antara kost sama kantor lumayan jauh, 9km lah, jadi nggak mungkin jalan kaki. Aslinya banyak yang nawarin Kenta kost atau kontrakan yang lebih deket, tapi namanya uda nyaman, dia nggak mau pindah.

Itu dulu.

Sekarang, setelah Yongguknya uda mau nikah, Kenta jadi pengen pindah kost, biar acara move on nya berjalan dengan lancar jaya.

Sambil jalan ke halte sambil mikir. Menimbang-nimbang, enanya pindah apa nggak.

"Kenta," panggil seseorang saat Kenta hendak melangkahkan kaki masuk ke bus nya.

Kenta nengok bentar terus lanjut masuk dulu, keburu bus nya jalan jatoh ntar dia, toh yang manggil di belakangnya ikut naik juga.

Kenta duduk di bangku paling belakang pojok kanan dan Dongho di sampingnya, iya, yang manggil tadi Dongho.

"Ken, tumben sendirian."

"Emang sendiri."

"Biasanya dianter kan kalo nggak ama tiang, ama yang pendek, ya bareng koko beler."

"Nggak, mulai sekarang sendirian aja."

"Ooh..."

"Kamu sendiri?"

"Ya beginilah..."

Nggak ada lagi obrolan diantara mereka hingga bus berhenti di halte sebrang kantor.

Dongho turun duluan, Kenta ngekor di belakangnya. Ya, mereka sekantor.

Pas mau nyebrang jalan, nggak biasanya banget, Dongho gandeng Kenta, jalan sepi dahal, mau berhenti di tengah-tengah ngedance Nayana dulu juga gak bakal ketabrak mobil.

Kenta mau mesem tapi inget kalau pintu depan kantornya kan kaca, malu dong ketauan Dongho kesenengan digandeng doang.


Panjang ya?

Hehehehe

Mian kemarin kepencet publish