"Siapa kau?"
Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya, dan kemudian melepaskannya. Onyx dan emerald saling bertubrukan menatap satu sama lain.
Kenapa? Siapa? Batin Sasuke. Kenapa seperti... Ia menggelengkan kepalanya karena pikiran anehnya.
"Aku Sakura... Is...,"
"Sakura!"
My Princess
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by Kirei Apple
Pairing : Uchiha Sasuke X Haruno Sakura
Typo (s), Ooc, Eyd ancur, gaje
Don't Like, Don't Read!
Enjoy it!
Chapter 2
-oOo-
Gaara yang baru saja menyelesaikn urusannya dengan kepala sekolah harus menahan kesal karena Sakura yang tidak ada di tempat yang ia bilang harus menunggunya. Namun keributan yang terjadi di koridor membuatnya penasaran, dan benar saja gadis itu di sana dan memeluk temannya... Uchiha Sasuke.
"Sakura!" panggilnya setelah berhasil membelah kerumunan yang menjerit-jerit kencang itu.
Gadis itu -Sakura- menoleh, dan tersenyum saat orang yang tadi di tunggunya sudah selesai.
"Gaara-kun!" pekik Sakura senang.
Gaara menghela dan menghampirinya. "Aku sudah selesai," jelas Gaara mengangkat tas yang berisi baju seragam sekolah. "Aku izin hari ini. Ayo pulang!" Gaara menarik lengan Sakura dengan tangan kanannya. Tak ayal perbuatannya kini menimbulkan keributan para gadis yang baru pertama kali melihat pemuda yang juga populer itu menggandeng seorang gadis.
Sakura tidak bergerak membuat Gaara menghentikan langkahnya dan berbalik lagi. Ia mengerti apa yang di pikirkan gadis itu karena pandangannya tidak lepas dari sosok pemuda yang masih diam tanpa berkata apa pun.
"Dia bukan dia, Sakura."
Perkataan Gaara membuat Sakura tersenyum sendu. Ia mengangguk melangkah mendekati Gaara yang mengeratkan genggamannya. Ia mengerti! Sasuke... Suaminya telah meninggal, dan pemuda ini yang memang sama tidak berbeda sedikitpun itu bukan Suaminya.
Gaara menarik Sakura meninggalkan kerumunan siswa yang masih memenuhi koridor. Namun langkahnya terhenti saat Sasuke mengeluarkan suaranya.
"Gaara!"
Gaara berbalik. "Aku akan mengirimmu pesan." kemudian berbalik meninggalkan Sasuke yang masih menatap punggung dua orang berbeda gender dalam diam.
.
.
.
...
.
.
.
Gaara mengajak Sakura menaiki bus untuk mengunjungi suatu tempat. Ia terpaksa izin karena harus mengurus Sakura. Ia juga heran kenapa ia melakukan ini semua. Kenapa tidak menyerahkannya kepada Polisi mungkin? Entahlah. Mungkin ia iba apalagi gadis ini benar-benar seperti terlihat aneh dengan dunia ini.
"Sugoii."
Perkataan Sakura saat melihat jejeran bunga Sakura yang mereka lintasi di pinggiran jalan.
"Kau tidak tau bunga itu?" tanyanya kepada gadis yang duduk di sampingnya.
Sakura menoleh. "Sakura."
"Hn."
"Apa sekarang namanya berubah?"
Gaara menggeleng. "Sakura tetap sakura, sama sepertimu."
Sakura memiringkan kepalanya. "Ya. Aku tetap Sakura."
Gaara diam memandang wajah gadis yang terlihat cantik. Apa benar dirinya adalah Kakak gadis ini di masa lalu? Menggeleng ia mendengus karena bisa-bisanya ia mempercayai hal konyol yang masih belum ia percayai sepenuhnya itu. Merogoh sakunya, ia mengeluarkan ponselnya guna menelpon seseorang.
"Hn."
"Nanti sore aku ingin bertemu denganmu di caffe Cherrys."
"..."
"Hn."
Gaara menutup sambungannya. Ia menghela pelan. Ia harus menjelaskan kepada temannya yang pastinya akan bertanya tentang kejadian tadi.
"Sakura ka...," Gaara menghentikan perkataannya saat menengok ke sampingnya.
"Ada apa?" tanyanya saat Sakura ternyata menjauh darinya dan menatapnya takut.
"Gaara-kun g-gila."
"Hah! Apa maksudmu?!"
"T-tadi kau berbicara sendiri."
Bibir Gaara berkedut menahan tawanya. Ia sekarang faham kenapa Sakura menganggapnya seperti itu. Ia mengangkat ponselnya dan menunjukannya kepada Sakura.
"Ini ponsel. Kau bisa berbicara kepada orang yang jauh."
Sakura mengangguk mengerti dan senyum yang mengembang karena sepertinya ia mendapatkan mukjizat karena benda persegi itu. "Apa aku bisa menghubungi Kakashi-san?"
Alis pemuda itu mengeryit mendengar perkataan Sakura. "Kau kenal Kakashi sensei?"
"Sensei? Dia adalah Perdana Mentri kerajaan Gaara-kun."
Sekali lagi Gaara harus mendesah lelah karena perkataan Sakura. Masa lalu... dan kenapa orang-orang di masa lalu Sakura hampir semua ada di sini dan ia kenal. Apa gadis ini benar-benar jujur?
"Dengar. Ini adalah masa depan yang kau kunjungi. Jadi tidak ada hal-hal seperti itu."
Sakura menundukan wajahnya. "Ya. Aku datang ke masa depan. Tapi, Sasuke-kun... apa itu berarti terlahir kembali?"
Gaara mengedelikan bahu. "Mungkin saja, dan ingatkah kau bahkan menganggapku Kakakmu?"
"Hm... ya."
Pemuda itu berdiri karena halte pemberhentian selanjutnya sebentar lagi sampai. Gaara menepuk kepala gadis itu pelan. "Kau akan terbiasa. Ayo. Sebentar lagi sampai!"
Sakura mengikuti Gaara berdiri dan berpegangan kepada tiang kecil. Ya. Ia akan berusaha terbiasa dengan dunia ini. Walau ia sedih karena merindukan negrinya yang di tinggalkannya, dan Suaminya yang telah meninggal.
.
.
.
...
.
.
.
Gaara dan Sakura sudah berada di depan bangunan berlantai dua yang terlihat cantik walau hanya terlihat dari luarnya. Bangunan yang berjejer rapih dan terdapat deretan-deretan toko dan lainnya.
"Ayo masuk!" Gaara mengajak Sakura memasuki bangunan bercat putih itu.
Sakura terpaku saat memasuki bangunan itu. Deretan baju tertata rapi seperti kamar khusus di istana.
"Gaara?!" panggilan seseorang mengalihkan Sakura dari deretan baju-baju itu. Di sana! Sosok perempuan dengan helaian pirangnya sedang menuruni tangga dan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Kau tidak sekolah?" perempuan cantik itu kembali bertanya.
"Aku butuh kau memilihkan baju untuk Sakura, Nee-san."
Perempuan yang di panggil Nee-san mengalihkan pandangannya kepada gadis yang berdiri di samping adiknya.
"Sakura? Kekasihmu?"
"Cepat pilihkan Nee-san!" tekan Gaara yang sepertinya enggan mengatakan apapun.
Perempuan pirang itu mendengus kasar karena sikap dingin sang adik. Untung ia sudah kebal. Menyeringai ia mendekati gadis itu.
"Aku Temari, Kakak pemuda menyebalkan ini." Temari mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri kepada gadis itu.
"Sakura. U-Haruno Sakura." Sakura tersenyum membalas uluran perempuan cantik di depannya. "Haruno Sakura."
Temari tersenyum dan memeluk gadis itu. "Semoga kau tahan dengan adikku ne."
"Dia bukan kekasihku Nee-san!"
"Ara... aku kira kau kekasihnya, jadi?"
"Nanti akan aku ceritakan. Sekarang kau carikan baju untuknya!"
Temari mengangguk. "Aku kira kau kekasihnya Saku-chan," desahnya, dan menarik Sakura mendekati deretan baju-baju yang di pajang di tokonya. "Aku akan memilihkan yang terbaik untukmu."
"A-ano apa ini semua milik Temari-san?" tanya Sakura.
"Ya. Tapi ini di jual."
"Jual?"
"Ya. Aku hanya mengembangkan hobby-ku. " Temari memilihkan beberapa baju yang menurutnya pas dengan Sakura. Sesaat pandangannya terhenti saat menyadari baju yang di pakai Sakura adalah miliknya. Mungkin sebaiknya ia yang akan menanyakan sendiri kepada Gaara.
"Sebaiknya kita ke lantai atas untuk mencobanya!" ajaknya kepada Sakura. "Kau juga Gaara, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
Menghela Gaara mengangguk mengikuti langkah Kakaknya dan Sakura.
.
Temari, Sakura dan Gaara sudah berada di lantai atas tempat Temari bekerja mendesain rancangannya.
Temari meletakan baju di sofa hitam yang berada di sana dan berjalan duduk di sofa hitamnya. Gaara duduk di ikuti Sakura yang duduk di sampingnya.
"Kau coba semua itu Sakura, di sana tempat mencobanya!" Temari menunjuk pintu di sudut ruangan.
Sakura mengangguk dan mengambil semua baju yang di pilihkan Temari. Ia sebenarnya heran dengan pakaian itu. Kenapa sangat minim di tubuhnya. Berdiri ia berjalan ke ruangan yang di tunjuk itu. Ya! Ia harus mulai membiasakan diri bukan?
.
"Gaara."
"Hn."
"Kau tau apa yang ada di pikiranku adik."
"Hn."
Gaara tau ia tidak bisa membohongi sang Kakak. Namun ia juga percaya jika sang Kakak tidak mungkin mengatakan kepada siapa pun. Ia mulai bercerita tentang ia menemukan Sakura saat di hutan milik Kekasih Kakaknya dan Sakura yang akhirnya tinggal bersamanya.
"Jadi... sekarang ia tinggal denganmu?" tanya Temari setelah mendengarkan cerita sang adik.
"Hm."
"Apa kau yakin itu tidak apa-apa?" kembali ia bertanya kepada adiknya itu.
Gaara mengangguk. "Aku takut jika ia dalam bahaya Nee-san. Apalagi ia sepertinya asing dengan dunia ini."
"Kau menyukainya?"
"Iy... Tidak Nee-san! Aku hanya... Entahlah. Saat dia memanggilku Onii-sama sepertinya hatiku sesak."
"Mungkin itu terdengar konyol. Tapi melihat keadaannya membuatku juga percaya. Nanti akan aku tanyakan kepada Shika-kun coba."
"Nee-san!"
"Tenanglah. Shika-kun bisa jaga rahasia." ujar Temari meyakinkan Gaara.
"Hm."
Temari berdiri berjalan menghampiri mejanya. Ia mengambil tas dan beberapa bukunya. "Aku harus ke kampus. Jika ada sesuatu, ada Matsuri yang menjaga toko ini."
Gaara tidak menjawabnya. Ia hanya diam memandang pemandangan luar dari jendela besar di ruangan ini.
Mengendelikan bahu, Temari berjalan menuju tangga. "Selamat bersenang-senang." godanya tenpa menghentikan langkahnya.
"Nee-san!" seru Gaara karena ucapan Kakaknya. Namun jelas rona tipis menjalar di pipinya.
'CKLEK'
Pintu terbuka. Menampilkan Sakura yang sudah memakai dress baby pink selutut, dan di tangannya membawa setumpuk baju yang ia cobanya.
"Bagaimana?" tanya Gaara mengenai baju-baju yang di coba Sakura.
"Aku suka. Tapi apa tidak ada kimono?" Sakura balik bertanya kepada pemuda itu. Ia berjalan ke sofa dan duduk kembali.
"Hm. Nanti hanabi kau bisa memakainya."
"Benarkah?"
"Hm." Gaara tersenyum saat melihat Sakura yang sepertinya senang. Mungkin ia bisa membelikan kimono atau memesan kepada Kakaknya.
"A-arigatou."
"Aa."
Getaran di ponselnya membuat Gaara teralih dan mengambil benda persegi itu di atas meja. Membukanya, ia menghela. Rupanya seseorang yang di janjikannya mempercepat janjinya.
Melirik jam di tangannya ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Sakura. "Kita pergi dari sini!" ia berdiri mengambil baju-baju yang di coba Sakura lalu membawanya. Ia berjalan terlebih dahulu di ikuti Sakura yang berjalan pelan di belakangnya.
.
"Ini!" Gaara menyerahkan ice cream kepada Sakura. Mereka berjalan melintasi pertokoan di distrik Konoha. Gaara sengaja ingin mengajak Sakura agar gadis itu terbiasa dengan keadaan ini. Lagi pula waktu janjian mereka masih setengah jam lagi.
"Ini apa?" tanya Sakura yang bingung melihat benda berwarna seperti rambutnya yang di pegang Gaara.
"Ice cream."
"Ice... cream?"
"Hm. Cobalah!"
Sakura mendekat. "Apa ini di makan?" tanyanya dan mendapat anggukan dari Gaara. Ia mendekat dan membuka mulutnya perlahan dan...
"KYAA!" Sakura berteriak saat benda yang menurut Gaara adalah makanan.
Gaara mengeryit alis heran atas reaksi Sakura. Jangan bilang... "Kau tidak tau ini?"
"Aku tau," ujar Sakura dengan mata berbinar. "Ini salju namun terasa sangat manis."
Hah! Yang benar saja. Salju? Sungguh. Kenapa kelakuan Sakura malah membuatnya ingin sekali tertawa.
"Ini es. Memang sama seperti salju tapi ini buatan manusia."
Iris klorofil Sakura berbinar. Sungguh hebat. Ia kembali merunduk dan memakan ice itu perlahan. Enak!
Gaara terbelalak saat melihat apa yang di lakukan Sakura. Memakan ice cream di tangannya dan entah kenapa itu membuatnya gugup.
"Ini peganglah!" Gaara menyerahkan ice cream itu kepada Sakura.
Sakura mengambil ice itu lalu memakannya. "Ini enak. Andai dulu makanan ini ada." ujarnya dengan raut senang.
Gaara melirik Sakura melalu ekor matanya. Sungguh entah kenapa ia suka saat melihat ekspresi senang Sakura terhadap hal-hal yang baru di kenalnya. Apa benar gadis ini dari masa lalu? Jika begitu apa umurnya sama seperti saat ini. Dan, apa benar Sasuke adalah Suaminya? Kenapa ia merasa tidak suka? Menghela ia memutuskan diam dan berjalan ke tempat tujuan mereka.
"Ne... Gaara-kun itu apa?" Sakura bertanya dengan menunjuk jalan yang berlalu lalang di lintasi kendaraan. Tepat saat ini mobil sport mewah hitam yang sangat ia kenali melintas jalanan.
"Itu mobil, gunanya sama dengan yang tadi kita naiki."
"Tapi itu kecil sekali ya."
"Kau ingin menaikinya?" tanya Gaara dan di jawab anggukan Sakura.
"Aku ingin naik itu. Serasa di dalam kereta tapi itu sangat cepat." ujar Sakura yang sangat antusias.
"Besok aku akan membawanya."
"Benarkah?" Tanya Sakura dengan mata berbinar dan mulut penuh dengan noda ice yang tertinggal di sudut bibirnya.
"Hn. Ayo! Ada yang sedang menunggu kita."
Sakura berhasil menghabiskan suapan ice cream terakhirnya. "Enaknya."
Melihat itu, Gaara hanya mendengus. Ia merogoh sesuatu di sakunya -sapu tangan- dan menyerahkan kepada Sakura. "Ini, pakailah."
Iris klorofil itu mengerjap saat Gaara menyodorkan kain kecil kepadanya. Itu seperti yang ia punya dulu. Kain kecil putih dengan corak kanji Ai di sudutnya.
"Onii-sama." ujarnya lirih mengambil kain itu.
Gaara menghela. Mengambil kembali sapu tangan yang di genggaman Sakura, ia mendekatkan benda itu ke sudut bibir Sakura. Sesaat tangannya berhenti dan terpaku saat melihat bibir kecil itu.
"Jika benar, pasti dulu aku sangat menyayangimu." ujar Gaara tanpa sadar.
Sakura mendongak. Iris klorofil dan jade bertemu. Ia sangat rindu sosok Kakaknya, apa ia tau jika kerajaan Uchiha di serang?
"O-Onii-sama."
"Ayo. Sebaiknya kita cepat!" alih Gaara berjalan terlebih dahulu guna menghindari dari perasaannya yang terasa aneh baginya.
Sakura yang tadinya terpaku, akhirnya menyusul langkah Gaara dengan sedikit berlari.
.
.
.
...
.
.
.
Caffe Cherrys
Seorang pemuda dengan wajah tampan duduk di sudut ruangan caffe itu. Ia kembali mengecek ponselnya. Sebenarnya apa yang ingin di bicarakan Gaara? Apa tentang gadis aneh yang tiba-tiba memeluknya? Pikirannya masih normal. Mungkin itu salah satu permpuan yang menamai mereka sebagai fangirls. Tapi, kata-kata menggantung gadis itu membuatnya mau tidak mau selalu terpikirkan.
"Aku sakura... Is..."
Hah. Kenapa ia harus memikirkan hal konyol itu, dengusnya dalam hati. Dan kenapa Gaara lama sekali.
Seorang pelayan menghampirinya dan bertanya pesanan.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan muda?" tanya pelayan yang memang sangat mengenali sosok pemuda yang ia hampiri ini.
"Hn. Seperti biasa saja."
Sang pelayan mengangguk mengerti. Ia sudah hafal apa yang selalu pemuda ini pesan jika sedang berkunjung ke sini.
"Baiklah. Ada yang lain?"
Sasuke menggeleng. "Itu saja dulu."
"Hm. Mohon di tunggu sebentar."
"Hn."
"Sasuke!"
Seruan seseorang dari arah pintu membuatnya menoleh. Gaara akhirnya datang dan membawa gadis itu. Gadis yang ternyata sudah berganti pakaiannya, yang kini menggunakan dress baby pink yang terlihat manis.
Tunggu dulu!
Kenapa ia malah menilai penampilan sosok asing itu. Mencoba bersikap biasa, Sasuke menyangga dagunya dengan tangannya.
"Gaara."
"Maaf terlambat." Ujar Gaara yang baru sampai. Ia menarik Sakura dan mempersilahkannya duduk di kursi sampingnya.
Iris Onyxnya sejak tadi menatap gadis aneh itu dalam diam. Sebenarnya ada apa ini? Ini pertama kalinya Gaara bersikap tidak biasanya.
"Sasuke."
Panggilan Gaara membuat Sasuke teralih dari pikirannya. "Hn."
"Soal tadi, maaf atas sikap sepupuku." Gaara meminta maaf atas perlakuan Sakura yang pastinya membuat Sasuke kebingungan.
"Hn. Sepupu?" tanya Sasuke dengan alis terangkat.
"Aa. Sebaiknya kalian berkenalan dulu," Gaara berujar dan menyuruh Sasuke berkenalan dengan gadis di sampingnya. "Ini Sakura."
"Uchiha Sasuke." Sasuke memperkenalkan dirinya dan ia menukikan alisnya saat melihat gadis itu hanya diam mematung memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Gaara mengikuti arah pandang Sasuke. Terlihat Sakura yang kini berkaca-kaca melihat Sasuke. Kenapa?
"Aku akan menceritakan kepadamu asal kau janji akan merahasiakannya."
Sasuke berbalik memandang Gaara. Rahasia? Hal apa yang membuat sang Rei Gaara memintanya menjaga rahasia? Apa gadis ini?
"Hn."
"Dia adalah Haruno Sakura sekarang. Lebih tepatnya ia adalah Uchiha Sakura."
Perkataan Gaara sukses membuat Sasuke membelalakan matanya. "Uchiha?"
"Ya. Dia..."
"Maaf menunggu Tuan. Ini pesanannya." kedatangan sang pelayan membuat Gaara menghentikan perkataannya.
"Apa ada yang mau di pesan lagi Tuan?" sang pelayan kembali bertanya kepada Gaara.
"Aku jus jeruk dan jus stobery saja."
Pelayan iu mengangguk dan mencatat pesanannya. "Baiklah. Silahkan menunggu, jika ada sesuatu silahkan pangil kami kembali." ujarnya dan berbalik pergi.
"Hm."
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Gaara."
"Dia adalah gadis yang aku temui saat liburanku. Dia mengaku jika dia dari masa lalu, dan dia adalah Uchiha Sakura... Istrimu."
Hah!
Apa pendengarnya bermasalah? Istri? Yang benar saja.
"Konyol!"
"Aku juga beranggapan seperti itu. Tapi saat melihat kebenaran yang ada sepertinya itu memang terjadi."
Sasuke mengalihkan pandangannya kepada sosok gadis yang masih diam tanpa mengatakan apapun.
"Kau... Istriku?"
Sakura mengangguk lemah. "Aku istrimu. Kita menikah saat usia lima belas tahun, lebih tepatnya setahun lalu."
"Lima belas?" tanya Sasuke memastikan. Yang benar saja. Itu usia ia masih satu SMA. Dan lagi, apa mungkin ia sudah melakukan 'itu' karena statusnya yang sudah menikah.
"Kita menikah tidak lama setelah kematian keluargamu. Walau seperti itu, kita masih tidur terpisah." kata Sakura dengan rona tipis yang menjalar di pipinya mengingat ia dan Sasuke yang tidak di perbolehkan melakukan hal sakral itu karena umur mereka harus berusia delapan belas tahun.
Gaara yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya berbicara. "Tapi, ia mengatakan kejadian terakhir yang ia ingat sebelum ia sadar dan berada di dunia berbeda adalah... Kematianmu."
Sasuke kembali menukikan alisnya heran. "Kematian?"
"Ya." lirih Sakura.
"Dengar. Itu hal konyol yang aku tau, dan keluargaku masih utuh. Aku belum menikah." tekan Sasuke setelah mendengar cerita yang memang terdengar konyol itu.
Melihat itu Gaara hanya menghela. Ia pun sama bersikap seperti itu saat pertama kali bertemu Sakura. Tapi, ia yakin jika gadis ini tidak berbohong.
"Sebaiknya kau minum dulu Sasuke." kata Gaara yang ingin membuat semua tenang kembali.
"Ini tuan pesanan anda." pelayan tadi membawakan dua gelas minuman pesannya tadi.
"Hn."
"Apa ada yang lain?" tanyanya kembali. Gaara menggeleng, "tidak. Terimakasih."
"Baiklah. Silahkan menikmati." kata pelayan itu dan berbalik pergi menghampiri meja lain.
.
"Ini minum lah!" Gaara menyodorkan minuman jus strobery itu kepada Sakura yang sepertinya sedih mendengar perkataan Sasuke tadi.
Sakura mengangguk. Ia mengambil gelas itu dan meminumnya.
"Hey. Pakai ini untuk meminumnya!" Gaara menunjukan sedotan yang berada di gelasnya.
Sakura mengerjapkan matanya, dan mengambil benda yang di tunjuk Gaara. "Ini?"
"Ya. Kau coba menyedot minuman pakai itu."
Sakura melakukan apa yang di katakan Gaara. Benar saja, air yang terasa segar dan manis itu menyentuh tenggorokannya. Ia terus menyedot dengan kencang hingga ia tersedak karena ulahnya.
"Uhuk... Uhuk..."
"Pelan-pelan Sakura."
Sakura terengah dan menepuk-nepuk dadanya pelan. "Hm. Gomen ne."
Sasuke yang sejak tadi diam memperhatikan kelakuan Gaara dan gadis aneh itu mendengus kasar.
"Jadi initinya, aku harus apa Gaara?!"
"Aku ingin kau juga menjaganya dan merahasiakannya sebelum kita menemukan cara mengembalikannya ke zamannya."
Onyxnya melirik gadis dengan helaian soft pink itu melalui ekor matanya. Entah kenapa ia sepertinya tidak asing tapi mana mungkin, sedangkan ia baru pertama kali bertemu.
"Apa itu penting?"
"Ya."
Menghela nafas, Sasuke mengendelikan bahu. "Baiklah." ya mau bagaimana lagi? "Asal dia tidak menyusahkanku."
"Hm."
Sesaat Sasuke terpaku saat iris onyxnya bertabrakan dengan iris klorofil gadis itu. Kenapa ia seperti melihat kerinduan di matanya? Oh... Jangan bilang karena ia adalah suaminya di masa lalu? Konyol.
"S-sasuke-kun."
.
.
.
.
.
.
Tbc
A/N
Lama ya :) maaf ya karena kadang semanget tapi pas mau ngetik Blank :( mungkinninteraksi SasuSaku lebih intens d chp slnjutnya. :) aku akan bikin Gaara sibuk denganku hoho #plak
Trmksh yg sudah Rnr/Foll/Fav
Special to :
caesarpuspita | Luca Marvell | yunitaayu917 | Nur520 | | irieahara27 | sami haruchi 2 | suket alang alang | hanazono yuri | Floral White | megan091 | ikalutfi97 | Guest |Haruka Smile | imahkakoeni | dianarndraha
WRS *
