Musim semi, musim yang sangat di nanti semua penduduk Sunagakure. Karena pohon sakura hanya tumbuh di halaman istana kerajaan dan setiap musim tiba. Istana akan di buka untuk kedatangan para rakyat yang tentu saja sangat bergembira dan antusias. Namun tidak sedikit juga musuh yang menggunakan kesempatan ini untuk berbuat kejahatan karena pengawalan istana yang lengah saat bunga sakura bermekaran.
"Ne, Onii-sama," sosok gadis kecil dengan pakaian kimono merah bercorak bunga sakura terlihat cantik dengan rambut pendek yang juga serupa dengan bunga sakura yang sedang bermekaran. Gadis yang berusia delapan tahun itu terlihat antusias melihat kerumunan orang di seberang sana. Ia dan anak lelaki yang usianya lebih tua darinya berdiri di seberang danau.
"Hm." anak lelaki itu hanya bergumam dan menoleh dengan senyuman tipisnya.
"Ne ne, apa kita boleh menghampiri mereka?" gadis itu bertanya akan keinginannya dengan mata berbinar dan penuh harap.
Anak lelaki itu hanya diam dan mengelus pucuk gadis yang berdiri di sampingnya. "Tou-sama melarangnya." ujarnya lembut.
Gadis itu merengut tidak terima. "Kenapa?" padahal ia ingin sekali berbaur dan mencari teman-teman seusianya. "Onii-sama."
Anak lelaki atau kakak gadis itu tersenyum dan mengelus pipi adiknya lembut. "Di sana berbahaya. Dan sebaiknya kita segera masuk," ujarnya kemudian berbalik pergi menuju istana.
Namun, belum lima langkah kakinya terhenti dan terasa lemas saat mendengar panggilan adiknya yang membuatnya kebas...
"O-Onii..."
... seperti kehilangan kekuatan.
'BRUK.'
"... Samahhh."
"S-saku..." dengan gerakan cepat ia menoleh ke belakang dan iris jadenya terbelalak lebar melihat apa yang terjadi.
"Hime." anak lelaki itu berbalik, menghampiri adiknya yang kini... tergeletak dengan panah yang menancap di punggungnya kecil itu. Badannya bergetar hebat saat mencabut anak panah itu.
"Saku..." iris jadenya meneteskan air mata dengan badannya yang bergetar hebat. Menepuk pipi adiknya perlahan ia terus berguman di barengi tangisan kecang.
"Sakura-hime!"
Ia menjerit. Menjerit ketakutan akan kehilangan.
"Sakura-hime Beratanlah, SAKURA-HIME!"
"SAKURA-HIME!"
...
"Hah hah."
Pemuda yang sedang tertidur sontak membelalakan matanya dan bangun dengan keringat yang membanjiri wajahnya.
Mimpi mengerikan yang tetjadi saat ia kecil dengan gadis berambut merah muda yang ia teriaki... Sakura.
"Sakura~" desah pemuda itu mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangannya.
Mimpi itu...
... apa...
Masa laluku?
My Princess
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by KiRei Apple
U. Sasuke x H. Sakura
Au, typo(s), misstypo, ooc, eyd etc.
.
.
.
.
Don't Like, Don't Read!
.
.
.
.
Chapter 7
.
.
.
-oOo-
Sinar pagi mulai masuk melalui celah-celah tirai yang sedikit terangkat karena tiupan angin pagi. Suara lengkuhan pelan terdengar dari kasur berselimut putih yang kini menyembulkan kepala merah muda dari balik selimut tebal itu.
Perlahan, kelopak matanya terbuka hingga dan menampilkan iris klorofil yang terlihat lebih segar. Dengan gerakan pelan, gadis itu mulai beranjak duduk dan berusaha mengingat apa yang terjadi. Matanya bergulir memandang sekeliling dengan alis yang saling bertaut. Ini bukan kamar yang ia tinggali saat di rumah Sasuke melainkan kamar yang tinggali dengan Onii -Gaara.
Tapi, bukan kah Gaara masih beberapa hari untuknya kembali ke Konoha?
Sakura mengingat kejadian sebelumnya yang membuatnya seketika merona. Kejadian dimana ia melepaskan pakaian basahnya di depan Sasuke, dan selimut yang membungkus tubuhnya. Setelah itu ia tidak ingat apa pun. Tapi. Kenapa ia bisa kembali ke sini?
Suara ketukan pintu seketika membuat lamunan Sakura buyar. Dengan segera ia turu dan melangkah untuk membuka pintu.
"Oha..." ucapannya terhenti melihat siapa yang berada di depannya. "Onii-sama!" Sakura langsung memeluk pemuda merah yang nampaknya tidak keberatan akan panggilan Sakura sekarang.
Gaara menghela nafas pelan dan mengelus surai merah muda panjang gadis itu. Entahlah. Karena mimpi aneh itu, ia semakin ingin melindungi gadis ini.
"Hm. Cepat bersiap kita sarapan."
Sakura melepaskan pelukannya dan memandang Gaara. Pemuda itu sudah berpakaian rapih dengan seragam sekolahnya.
"Akhirnya kita ke sekolah~" Sakura memekik senang dan langsung pergi ke kamarnya dengan langkah yang melompat-lompat kecil.
Gaara menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis. Melihat senyuman gadis itu membuat hatinya terasa senang dan menghangat.
.
.
.
.
Sakura duduk di depan Gaara yang terlihat anteng dengan acara menyantap sarapan paginya. Matanya terus berbinar saat hidangan yang di sediakan Gaara pagi ini.
"Ne, Onii-sa..."
"Sakura." Gaara memotong ucapan Sakura. Gadis itu mengangguk mengerti jika Gaara tidak ingin di panggil seperti itu. "A-aku mengerti G-Gaa..."
"Hm. Tak apa. Panggil saja sesukamu."
Mendengar penuturan Gaara sontak membuat Sakura sangat senang. Karena baginya Gaara tetap sosok Onii-sama yang sangat ia sayangi.
"Aku menyayangimu Onii-sama~"
Pipi Gaara memerah walau pun samar karena perkataan Sakura. Mungkin masa lalu mereka memang saudara yang sangat erat. Apalagi mengingat mimpinya yang entah kenapa membuatnya masih bisa merasakan tubuhnya yang gemetar... ketakutan.
"Sakura."
Sakura mengalihkan pandangannya dari sup miso dan beralih menatap Gaara dengan senyuman tipisnya. "Ya."
Menghembuskan nafasnya perlahan, Gaara memberanikan diri untuk bertanya mengenai, "apa kau pernah tertembak panah?" kejadian di mimipnya.
Sakura mengangguk. "Saat itu kita sedang melihat bunga sakura dan ada seseorang dari balik pohon mengarahkan padamu jadi... aku menghalanginya." Sakura berkata dengan tawa kecilnya dan menggaruk pipinya yang tidak gatal itu.
Gaara menegang.
Benarkah?
Benarkah kejadian itu?
Jadi itu bukan mimpi?
"Kau melindungi... Onii-sama?"
Sakura mengangguk. "Aku tidak mau kehilangan Onii-sama-ku."
Perkataan Sakura tadi entah kenapa membuat sesuatu terasa hangat menjalar di hatinya. Tapi, ia tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi lagi.
"Ne, Onii-sama."
Gaara mendongak memandang Sakura dengan wajah yang masih terlihat tegang. "Ya."
"Semalam," Sakura berkata dengan berbisik saat mengingat kejadian kemarin yang membuatnya gugup. "Apa Onii-sama yang membawaku dari rumah Sasuke-kun?"
"Ya." jawabnya.
Sakura mengangguk mengerti tapi ada hal yang masih menjanggal mengenai... "y-yang menggantikan..."
"Oh, itu Mikoto-san yang menggantikannya."
Gaara tau apa yang ingin di tanyakan Sakura tentang dirinya yang bisa memakai pakaian. Jika tidak ada Mikoto-san mungkin ia sudah menghadiahi pukulan karena melihat kondisi Sakura yang seperti itu. Tapi, saat mendengar penjelasan dari Sasuke dengan setengah hati ia menerima alasan itu. Dan Sakura mungkin tidak sadar karena badannya yang panas karena demam.
"Ayo kita berangkat ne, Oni... Gaara-kun."
"Onii-sama," kata Gaara pelan dan Sakura memandangnya dengan keheranan. "Lebih baik seperti itu." entahlah. Ia merasa hangat dan bahagia saat Sakura memanggilnya Onii-sama seperti pertemuan pertama di hutan itu.
Sakura mengangguk dengan senyum lebar sehingga matanya menyipit. "Hm, Onii-sama."
"Aa." Gaara bangun dan mengambil peralatan makan yang kotor di meja dan menaruhnya di tempat pencucian piring di bantu oleh Sakura.
Walau pun ia seorang permaisuri, tapi ia bisa melakukan hal ini berkat belajarnya karena Mikoto ba-san.
"Aku akan mencucinya, Onii-sama duduk dan menunggu saja."
Gaara menurutinya dan berbalik ke kamarnya untuk mengambil sesuatu, sedangkan Sakura mencuci peralatan makan.
.
.
"Sakura."
Sakura menoleh dan membalikan badan. Mencuci piring sudah selesai dan ia siap berangkat ke sekolah. Namun dahinya mengerut saat Gaara menghampirinya dengan benda di tangannya.
"Onii-sama."
Gaara menunjukan benda persegi berwarna putih itu pada Sakura. "Ini, kau bisa menggunakannya."
Sakura melihat benda persegi itu dengan tatapan berbinar. Benda ini adalah benda yang ia tahu untuk berbicara dengan sesorang yang jauh. "Itu ponsel." ujarnya dengan berbinar.
"Hm. Supaya menghubungimu tidak sulit."
"NANI... UNTUKKU?!" Sakura berteriak kencang tidak percaya jika Gaara memberikan benda ini untuknya.
"Hn."
"T-tapi aku tidak bisa menggunakannya, Onii-sama."
"Nanti aku ajarkan." Gaara menyerahkan benda itu pada Sakura.
"A-arigatou Onii-sama." Sakura mengambil benda itu dengan senyuam cerah.
Melihat senyuman yang terus Sakura berikan membuat Gaara tersenyum tipis. "Ayo kita berangkat. Nanti akan aku ajarkan saat di mobil." ajak Gaara untuk segera berangkat sekolah.
Sakura mengangguk dan berjalan mengikuti Gaara dengan ponsel di genggamannya dan bibir yang terus menampilkan senyuman kebahagiaannya.
-oOo-
Sasuke duduk dengan tangan kiri menopang dagunya, sedangkan tangan kanannya memegang bolpoin yang terlihat bergoyang-goyang karena ia sama sekali tidak berminat untuk menyalin pelajaran yang ia sudah hafal.
Iris kelam sejak tadi tidak luput dari sosok yang terlihat sangat serius di depannya. Rambut panjang yang di gerai dan wajahnya yang kadang-kadang merengut dengan alis yang bersinggungan dan tentu saja itu seperti pemandangan tersendiri untuknya.
Pikirannya terus berkelana memikirkan hal aneh yang selalu mengantui pikirannya. Sejak semalam, saat di mana Gaara membawa kembali Sakura pulang dan entah mengapa hatinya bergejok seperti menolak.
Mendengus, Sasuke menoleh keluar jendela untuk menghilangkan hal yang menggangunya akhir-akhir ini.
"Di masa mendatang, selamanya aku akan bersama dan melindungimu."
Mimpi itu seperti bisikan dirinya yang lain. Tapi ia sendiri belum yakin jika hal itu benar atau hanya mimpi belaka.
"Sasuke-kun." Sakura memiringkan kepalanya saat melihat wajah Sasuke. "Apa kau sakit?"
Sasuke menoleh memandang Sakura dalam diam, "tidak."
"Lihat!" Sakura mengangkat ponsel miliknya dan menunjukannya pada Sasuke.
Satu alis Sasuke terangkat melihat benda persegi itu. Jadi, Sakura mempunyai ponsel?
"Hn."
"Aku belum mengerti," Sakura berujar dengan bibir mengerucut. "Kata Gaara-kun aku hanya tinggal menekan angka satu saja dan langsung menghubunginya."
"Hn."
Sakura berdecak kesal. "Kenapa cuma itu jawabanmu Sasuke-kun."
Sasuke menghela nafas pelan, kemudian mengambil posel milik Sakura. Tangannya bergerak menuliskan sesuatu dan mengembalikan lagi pada Sakura. "Kau juga bisa menghubungiku." tuturnya.
Sakura menekan nomer pemberian Sasuke dan terhubung pada ponsel Sasuke yang kini bergetar tanda panggilan masuk. "Jawab Sasuke-kun!" kesal Sakira menunjuk Sasuke yang hanya menatap layar ponselnya itu dengan dagunya.
"Untuk apa? Aku ada di depanmu, Sakura."
Sakura tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya. "Boleh nanti aku menelfonmu?"
"Hn."
"Arigatou Sasuke-kun~"
"Hn."
Sasuke memandang punggung kecil di depannya. Sakura sudah membalikkan badannya karena guru selanjutnya sudah datang. Melihat senyuman yang ada pada gadis itu... entah kenapa membuatnya hangat dan senang.
Melihat layar ponselnya, Sasuke mengetikan sesuatu untuk menamai nomer Sakura.
"Hn."
Senyum Sasuke seketika terlihat kala melihat apa yang di ketiknya.
.
.
My Princess
...
Bell istirahat berbunyi di seluruh penjuru sekolah. Sakura tersenyum saat Gaara sudah ada di ambang pintu kelas dengan satu lengannya yang di masukan saku celananya. Dengan gerakan cepat Sakura memasukan barang-barang ke dalam tas dan kemudian menghampiri Gaara yang nampak memberikan senyuman tipis dan membuat gadis-gadis melihatnya di penuhi rasa iri.
"Onii-sama."
"Ayo makan siang!" ajak Gaara dengan mengulurkan tangan kanannya.
Sakura mengangguk dan hendak menyambut uluran tangan itu namun terhenti karena sesuatu yang tiba-tiba di letakan di tangan Gaara.
"Hn."
Sasuke meletakan bento berukuran sedang ke telapak tangan Gaara. Alisnya mengeryit saat kedua mata senada namun sedikit berbeda dengan Sakura itu memandanginya.
"Apa?"
Gaara mendengus dan bersikap biasanya. "Apa maksudmu, Sasuke?"
"Itu dari Kaa-san untuk kalian."
Sakura senang bukan main saat Sasuke mengatakan jika itu adalah pemberian Mikoto ba-san untuknya dan Gaara. Jujur saja, baru sehari saja ia sudah merindukan sosok kaa-san keduanya itu.
"Benarkah Sasuke-kun~" Sakura berujar dengan mata berbinar.
Sasuke mengangguk. "Hn."
"Onii-sama bolehkah kita makan bersama?"
Gaara menghela dan mengangguk pelan dengan bento di tangannya. Tatapannya beralih kepada pemuda di depannya. "Bagaimana Sasuke?"
"Hn." gumam Sasuke dengan tangan kiri yang mengangkat bento miliknya.
"Yahh ayo kita ketempat yang bagus~" ujar Sakura senang dengan menarik lengan Gaara dan Sasuke yang kini mengikuti langkahnya di kedua sisinya.
Gaara menoleh dan tepat apa yang dilakukan Sasuke juga sama sepertinya. Jade dan onyx saling berpandangan sesaat sebelum mereka tersenyum melihat gadis di depan yang menarik tangan mereka. Rambut merah muda yang bergoyang lembut seperti tidak lah asing bagi kehidupan mereka.
Senang.
Hangat.
"Aku akan melindungimu, Sakura-hime."
"Inikah kehidupan untuk melakukan janjiku kembali?"
...
"Wah, banyak sekali."
Sakura menatap takjub saat membuka tutup bento yang kini memperlihatkan makanan enak buatan Mikoto ba-san.
Sasuke tersenyum tipis melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah gadis itu. Membuka bento miliknya, ia mendongak memandang langit cerah di atas sana. Ya. Mereka memutuskan menikmati makan siang di tempat yang tenang dari kebisingan, dan atap adalah tempat yang tepat.
Gaara menyumpit tempura yang ada di bento pemberian Mikoto-san untuk ia dan Sakura. Mengangkatnya, dan mengarahkan-nya pada Sakura. "Makan lah!"
Sakura mengangguk dan membuka mulutnya hingga tempura yang Gaara sodorkan memasuki mulutnya. "Enaknya." ujarnya di sela kunyahannya.
Melihat pemandangan di depannya Sasuke mendengus dan menyumpitkan sesuatu dan mengarahkannya pada Sakura.
"Hm." Sakura menelan makanan di dalam mulutnya dan menatap Sasuke dengan senyuman lebar melihat apa yang di sodorkan Sasuke. "Kesukaanmu, Sasuke-kun." kata Sakura dan memajukan wajahnya untuk melahap potongan tomat itu.
Sasuke terkejut saat tau jika Sakura mengetahui buah kesukaannya. Namun rasa senang kembali menggelitiknya saat tatapan jade di depannya menatapnya datar.
"Apa?" tanya Sasuke kepada pemuda merah di depannya dengan alis terangkat.
Gaara mendengus dan memilih melanjutkan makan siangnya. "Hn."
"Kalian selalu seperti ini jika bertemu Sasuke-kun, Onii-sama."
Perkataan Sakura membuat Sasuke dan Gaara memandang gadis itu. Sakura tersenyum hingga kedua matanya menyipit.
'Benarkah... benarkah mereka seperti itu di masa lalu?'
Suara pintu sontak membuat mereka menoleh.
Naruto menyembul dari balik pintu dengan cengiran rubahnya. "Yo." sapanya dan mendorong pintu sehingga kini menampakan Neji dan Hinata yang menundukan wajahnya dengan bento berukuran besar di tangannya.
"Sasuke, Gaara..." sapaan Neji tiba-tiba terhenti dengan raut keterkejutannya. Tapi mengingat gadis itu ada hubungan dengan Gaara seperti yang Sasuke katakan, Neji hanya mengangguk dan berjalan pelan menghampiri mereka di ikuti Naruto dan Hinata.
Sasuke, Gaara hanya mendengus menjawabnya. "Hn." sedangkan Sakura mengangguk dan merundukan wajahnya melihat sosok pria berambut panjang dan juga gadis itu.
Naruto mendudukan diri di samping Sasuke. Matanya berbinar melihat masakan yang ada pada bento Sasuke dan Gaara. "Enak sekali."
"Bilang saja kau masih lapar Naruto."
"Kau sangat perhatian teme, aku hanya makan satu mangkuk ramen di kantin."
"Ini." Sasuke menyodorkan bento miliknya dan dengan hati Naruto menerimanya dan langsung melahap setengah sisa dari bento Sasuke.
Hinata membuka bento miliknya. "Jika N-naruto-kun mau punyaku masih banyak." ujarnya menawarkan bento miliknya dengan wajah yang memerah.
Naruto menggeleng. "Ini sudah cukup, terima kasih." tolak Naruto.
Sasuke mendengus melihat Hinata yang tiba-tiba murung. "Baka." dengusnya melihat ketidak pekaan Naruto kepada Hinata yang terlihat jelas menyukainya. Tapi...
Kenapa ia merasa tidak masalah?
Bukan kah ia menyukai gadis itu?
Melirik gadis yang terlihat mengunyah makanannya dengan sangat lama, Sasuke menaikan sebelah alisnya. "Ada apa, Sakura?"
Sakura mendongak dan menggeleng. Hal itulah yang membuat Sasuke tidak suka. Tidak suka karena Sakura yang tidak memperlihatkan senyumannya, melainkan wajah sendu gadis itu.
Neji yang sejak tadi diam-diam mencuri pandang kepada gadis merah muda yang pernah ia temui di sekolahan dan saat kemarin di Taman bermain.
'Gomennasai.'
'Andai saja aku menerimamu mungkin Sasuke-kun tidak akan mati.'
'Gomen ne.'
Kata-kata gadis itu kemarin membuatnya selalu terpikirkan. Entahlah. Suara dan kata-kata itu seperti tidak asing baginya dan tubuhnya mendapatkan respon dengan tubuh yang bergetar hebat.
'Aku mencintaimu.'
Hey. Mimpi itu selalu menghantuinya. Apa maksud dari semua ini? Ia yang memimpikan gadis merah muda itu dan itu hanya mimpi yang jelas bukan zaman mereka berada saat ini. Tapi, rasa penasaran terus mengganggunya akan sosok gadis yang tiba-tiba menarik semua pikirannya.
Gaara melirik Neji saat meminum airnya. Pemuda Hyuga sejak tadi melirik Sakura dalam diam. Ada apa dengannya? "Ada apa, Neji?"
Neji menoleh. "Gaara," Neji kembali melirik Sakura yang sepertinya sedang melamunkan sesuatu sehingga sejak tadi hanya berdiam diri. "Apa dia saudaramu?"
Pertanyaan Neji juga menarik perhatian adiknya, Hinata. Entah kenapa Kakaknya itu terlihat serius saat ini.
Gaara mengangguk. "Hn. Dia Sakura... Haruno Sakura."
Jengah. Entah kenapa onyx itu tidak suka saat netra mutiara itu terus menatap Sakura. Ia tidak suka.
'Aku mencintainya.'
Sial!
Entah dari mana suara yang sepertinya tidak asing baginya itu mengiang begitu saja di telinganya.
"Jadi, Sakura-san adalah saudara Gaara-san?"
Pertanyaan dari seseorang bersuara lembut membuat Sakura mendongak dan memandang lurus gadis di depannya yang kini tersenyum kepadanya.
"Ya, Hinata-chan." jawab Sakura sontak membuat gadis itu terkejut. Pun dengan Neji dan Naruto yang sangat meyakini jika Sakura belum pernah bertemu Hinata.
"Kau tau namaku?" tanya Hinata dengan raut terkejut dan penasaran.
Sakura mengangguk."Ya."
"Aku yang menceritakannya." jelas Sasuke.
Lagi. Perkataan Sasuke membuat semua terkejut sesaat namun kemudian mengangguk mengerti karena Sakura anak baru dan Neji adalah teman mereka.
Naruto menyeringai. "Kau cerita kepada Sakura-chan, eehwww Sakit teme!" Kesal Naruto dengan tangan memegangi kepalanya yang merasa berdenyut nyeri karena jitakan Sasuke.
"Baka."
"Kenapa sih kau ini, bukannya kau menyukai Hinata-chan!"
Sasuke menghela napas. Percuma berbicara dengan sahabat bodohnya ini.
Hinata terkejut bukan main mendengar penuturan Naruto. Seharusnya ia senang, tapi ia sedih karena perkataan Naruto. Apa selama ini perasaannya yang sangat jelas ini tidak bisa Naruto rasakan?
"E-eto..."
"Berhentilah mengoceh Naruto." dengus Neji melihat wajah adiknya murung gara-gara ketidak peka dan kebodohan teman pirangnya ini.
"Apa maksudmu, Neji?" kesal Naruto
Neji mengangkat bahunya acuh. "Hn."
Gaara yang sejak tadi hanya diam melihat kelakuan temannya, memilih mengacuhkan dan sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Iris jade-nya teralih pada wajah sendu gadis merah muda, dan hanya itu lah yang membuatnya terusik.
Apa yang membuatnya murung?
"Kita ke kelas!" ajak Gaara pada Sakura dengan memegang tangan gadis itu yang masih memegang sumpit di tangannya.
Sakura menoleh dan mengangguk melihat Gaara yang mengangguk kecil seolah memberikan isyarat. Membereskan kotak bento di bantu Gaara, Sakura memandang sekeliling dan mengangguk kecil. "Kami ke kelas."
Naruto mengangguk. "Baiklah. Nanti aku akan mengajakmu ke rumah karena Ibuku ingin bertemu denganmu, Sakura-chan."
"Aa... Salam untuk Kushina ba-san."
Naruto mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke udara. "Tentu, dattebayo."
Gaara mengambil kotak bento dan berdiri di ikuti Sakura yang menggenggam tanggannya. "Kami duluan. Ayo, Sakura." pamit Gaara dan menarik Sakura pergi dari atap meninggalkan mereka yang terdiam dengan beribu pertanyaan di pikirannya.
"Sakura."
-oOo-
Sasuke menjatuhkan tubuhnya ke kasur besarnya saat memasuki kamarnya dengan kaki yang masih menggangtung di pinggiran kasur.
Pikirannya terus bergelut karena perasaan ini terus mengganggunya. Sejak meninggalkan atap, Sakura terlihat lebih banyak diam dengan wajah sendu yang membuat hatinya terasa ngilu. Sorot mata sehijau hutan itu terlihat kecewa.
Ada apa?
Seakan ingat sesuatu, Sasuke segera mencari sesuatu dari dalam tasnya.
Ponsel.
Bangun dan duduk di pinggiran ranjang, ia memandang layar yang tertera nama yang ia namai...
My Princess.
Hatinya serasa tergelitik namun rasa senang membanjiri perasaannya mengingat hal yang terasa aneh bagi Sakura. Tentang apapun seperti menarik bagi Sakura. Apalagi keluarganya sepertinya sangat menyukai Sakura.
Jarinya tertahan. Ragu, akan keyakinan dirinya untuk sesuatu yang sebaiknya ia lakukan atau tidak. Mendengus, akhirnya jarinya menyentuh layar ponsel miliknya, mendekatkan ke telinga dan menghubunginya...
"Moshi-moshi."
... Sakura.
Sasuke terdiam dan berdehem saat suara lembut itu mengalun si indra pendengarannya.
"Sakura."
Helaan nafas terdengar jelas di seberang sana. "Ya, Sasuke-kun."
Suara itu terdengar menyakitkan bagi Sasuke. Terdengar biasa namun terselip nada kesedihan.
"Kau baik-baik saja?"
"Hm, aku baik-baik saja."
Tidak.
Suara itu Sasuke sangat yakin tidak baik-baik saja.
'Aishiteru Hime.'
Lagi.
Suara yang sangat mirip dengannya terngiang di telinganya. Ini seperti mimpinya saat itu. Mereka yang berciuman menyampaikan perasaannya di bawah langit malam.
"Hn. Sebaiknya kau istirahat dan sampai bertemu di sekolah."
"Ya. Sampai ketemu lagi, Sasuke-kun."
Sasuke menutup sambungan telfonnya dan melemparkan asal ponsel ke kasurnya.
Sekarang ia yakin bukan hanya perasaannya di masa lalu yang membuatnya seolah-olah terikat. Tapi, kenyatanya pun sekarang masih sama jika hatinya kini di isi oleh gadis merah muda, permaisurinya di masa lalu.
"Ikatan dan janji inilah yang tidak akan pernah berubah."
Sasuke menghembuskan nafasnya perlahan dan kemudian tersenyum lembut.
"Itulah janji dan takdir kita, Sakura."
-oOo-
Gaara bersender di pintu yang menghubungkan balkon dan kamarnya. Tangan yang di silangkan dengan pandangan yang terus menatap langit malam. Cuaca cerah namun terasa dingin karena malam yang sudah larut. Pikirannya terus bergelut dengan hatinya. Tentang kenyataan yang kini di alaminya dan kebenaran di masa lalu karena kedatangan Sakura.
Menghela nafas pelan, kini pandangannya berbalik menuju kotak panjang di samping kasurnya. Ada perasaan lega bisa menemukan benda yang memungkinkan akan mengembalikan Sakura ke masanya. Namun, hatinya seakan berat dan menolak untuk melakukan itu. Apalagi mengetahui jika di masa itu, Sakura sedang melawan maut. Tapi, ia pun tidak tau keinginan Sakura.
Memejamkan matanya sejenak, ia berjan ke balkon kamarnya. Jade miliknya menerawang ke langit luas di sana. Bias-bias cahaya kemilau bintang dan rembulan saling melengkapi keindahan malam hingga membuatnya sesaat merasa tenang.
Tapi tidak.
Tidak saat melihat kesedihan yang tergambar jelas di iris zamrud sehijau hutan itu.
"Apa bersamaku di sini kau bahagia?"
Tangan yang memegang pagar bakon mengerat menahan gejolak emosi yang ada pada dirinya. Tubuhnya kini kembali bergetar mengingat mimpinya...
Tangan kecilnya saat itu memegang panah yang berlumuran darah.
"Atau masa lalumu yang kau inginkan?"
...
Gadis berhelaian merah muda yang kini memejamkan matanya terlihat tidak tenang dalam tidurnya. Bulir keringat nampak di wajahnya dengan bola mata di balik kelopak mata yang tertutup itu bergulir gelisah.
"Sakura-hime."
"Siapa?"
Sosok itu berdiri di kegelapan pekat. Tangannya terulur dan terus memanggil namanya.
"Sakura-hime."
"Sia..."
"Kembalilah, Sakura-hime."
"Siapa kau!"
Kelopak mata yang tertutup kini nampak dengan sempurna. Keringat dingin jelas membanjiri wajah cantiknya. Kedua tangannya mencengkram dadanya. Rasa sesak menghinggapinya.
Mimpi itu...
... Seseorang yang sangat terluka, memanggilnya...
"Sasuke-kun."
... kembali.
"Sasuke-kun."
Rasa sesal dan rindu kini menguasai dirinya kembali. Ia yang sangat merindukan suaminya dan bersalah karena membuat suaminya berkorban untuknya.
"Aku... merindukanmu dan ingin..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Special to :
Sami haruchi 2
lightflower22
otimzcaku
Hikaru sora 14
Toruperri
Guest
kura cakun
saskey saki
Suket alang alang
Yukiyamada
Awip
Dera Maori
berry uchiha
hanazono yuri
Luca Marvell
dianarndraha
1
Si nabil
Ichachan 21
cerryana24
Guest
Sankyuu :)
Kenapa ada Gaara lagi? Karena benang merah ceritanya :)
Sampai chp brp? Gk tau. Sm sprti LMM dn lainnya saya tidak memprediksikan #tuuingg
Oke terimakasih semuanya :)
=WRKT=
