Bulan nampak kokoh merajai langit di malam hari. Cahaya menyinari kegelapan dengan keindahannya. Begitu pun dengan istana yang seharusnya kokoh dan nampak hidup dengan sinarnya. Namun tidak seperti itu! Istana yang megah itu seperti mati karena tidak ada sedikit pun cahaya selain sinar rembulan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang biasa penuh dengan para prajurit atau pun yang lain. Semua benar-benar sunyi dalam keheningan dan hanya gemericik air di kolam taman istana terdengar memecah kesunyian setiap malamnya. Hanya suara air, binatang malam dan angin yang berhembus pelan.

Sesosok pria dengan kimono hitam yang selalu berdiri di sisi kolam setiap malam hari hanya menatap bayang bulan yang terpantul di permukaan air. Matanya terpejam menikamti angin yang berhembus pelan menyentuh wajahnya. Perlahan, kelopak matanya terbuka dan menampilkan sorot mata penuh dengan beban atau kesedihan.

"Kembalilah... Hime."

Itulah yang selalu terucap dari bibirnya setiap malam. Berharap, ia tetap menunggu kehidupannya kembali.

My Princess

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Story by KiRei Apple

.

.

U. Sasuke x H. Sakura

.

.

Typo, Ooc, Eyd, GaJe, etc

.

.

Don't Like, Don't Read!

.

.

.

.

.

Chapter 9

.

.

-oOo-

Sinar pagi mulai masuk melalui celah jendela membuat seseorang yang sedang terlelap mengerjapkan matany hingga perlahan terbuka. Senyumannya terlihat saat iris klorofilnya melihat apa yang tersuguhkan di depannya saat ini. Sasuke yang tertidur dengannya menampilkan wajah damai seperti, Sasuke -suaminya. Hembusan nafasnya halus dengan rambut yang berantakan dan itu membuat hatinya kembali berdebar.

Sasuke menyuruhnya untuk tidur bersama dan ia berjanji hanya ingin tidur bersama, tidak lebih. Dan ternyata itu benar. Sakura yang gelisah karena baru tidur sekamar dengan Sasuke lagi. Ah, mungkin ini baru pertama dengan Sasuke di dunia ini, tapi dengan suaminya ia sering melakukan tidur seperti ini.

Tangannya terangkat, menyisir helaian hitam dan merapihkannya. Senyuman bahagianya yang tadi nampak jelas kini berubah dengan senyuman kesedihan.

"Aku tidak tau... tapi bagaimana jika suatu saat aku menghilang." ujarnya lirih dan kini mengelus wajah Sasuke.

"Lupakan lah ak -"

Perkataannya terhenti karena tangannya yang tiba-tiba di genggam Sasuke.

Sakura terpaku.

Sasuke ternyata sudah bangun, dan apakah Sasuke mendengar ucapannya?

Netra kelam Sasuke menatap dalam ke dalam iris klorofil yang memukau itu. Genggaman tangannya mengerat dan tetap menempelkan tangan Sakura di wajahnya.

"Aku sudah bilang jika aku akan membuatmu tetap tinggal di sisiku dan aku tidak mungkin melupakanmu."

"Sasuke-kun ak -"

"Tetaplah bersamaku, Sakura." pinta Sasuke lirih membuat Sakura langsung meneteskan air matanya kembali.

"Gomennasai." ucap Sakura ambigu. Entah maaf karena ucapannya atau ia takut tidak bisa mengabulkan permintaan Sasuke.

"Aku mencintaimu." Sasuke memajukan wajahnya dan mengecup kelopak mata Sakura satu persatu. "Dan tetaplah di sisiku." ucapnya lagi dan mengecup kening Sakura.

Sakura memejamkan matanya merasakan setiap sentuhan Sasuke. Ia bisa merasakan perasaan Sasuke lewat sentuhannya. Tidak ingin kehilangan dan menginginkan nya agar tetap bersamanya.

"Gomen."

...

Sasuke turun setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi. Senyum tipisnya terukir saat netra kelamnya melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat.

Terlihat Ibunya dan Sakura sedang menyiapkan makan untuk sarapan. Wajah mereka terlihat bahagia melakukan semua hal itu.

"Ohayou." sapa Sasuke setelah sampai dan menghampiri Sakura.

"Ohayou Sasuke-kun." balas Mikoto dan Sakura bersamaan.

"Hn." Sasuke berdiri di depan Sakura dengan pandangan yang tidak lepas dari kekasihnya itu, hingga membuat gadis itu kebingungan.

"Ada apa?"

Menggeleng, Sasuke hanya tersenyum dan merunduk untuk menjangkau sisi wajah Sakura dan mengecupnya sekilas.

"Arigatou." ucap Sasuke membuat Sakura kembali kebingungan. "Untuk apa?"tanyanya tidak mengerti maksud ucapan Sasuke.

Sasuke mengetuk kening Sakura. "Karena masih di sisiku."bisik Sasuke.

Dengan wajah yang merona, Sakura berdehem menahan gugup. "S-sebaiknya kau duduk dulu."

"Hn."

Mikoto yang melihat kejadian itu hanya mengerjapkan matanya berkali-kali melihat apa yang dilakukan anak bungsunya.

"Ahh manisnya~"

Deheman seseorang membuat mereka langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Fugaku yang sepertinya menahan sikapnya dan Itachi yang tertawa.

"Ohayou." sapa Itachi memecahkan kecanggungan.

"Ohayou Itachi-nii, Fugaku-san." sapa Sakura dengan badan membungkuk hormat.

"Ohayou, ayo semua kita mulai sarapan." Mikoto masih terkekeh dan menarik suaminya agar cepat duduk.

"Hn."

"Otouto kau banyak kemajuan." goda Itachi kepada Sasuke dan sukses membuat adiknya itu mendelik menatapnya tajam. "Nanti aku kasih." ujar Itachi dan Sasuke hanya memutar matanya bosan karena tau apa maksud Kakak kesayangannya itu.

"Jangan macam-macam baka aniki." desis Sasuke dan sama sekali tidak dihiraukan Itachi.

Melihat kehangatan itu, Sakura hanya menatap kedua saudara itu dengan senyuman. Ini seperti dulu. Sosok Itachi-nii yang selalu menggoda adiknya itu. Dan Itachi-nii selalu bilang...

"Kau meng -"

"Gemaskan." ucap Sakura tanpa sadar karena mengingat masa lalunya dan Itachi maupun semuanya menatap Sakura dengan pandangan terkejut.

"Kau tau kebiasanku, Sakura-chan?" tanya Itachi tidak percaya karena Sakura tau ucapan untuk menggoda adiknya itu.

"E-eto hanya kebetulan, mungkin." jawab Sakura gugup.

"Sudah lah ayo kita mulai makan." Mikoto menyudahi perdebatan anak-anaknya itu dan ia pun sendiri sebenarnya sangat menikmati ini dan bersyukur Sakura kembali menginap di sini sehingga membuat suasana terasa hangat dan ceria.

Sasuke melirik Sakura melalui ekor matanya dan tersenyum tipis sebelum semua teralih kepada makanannya masing-masing.

.

.

.

.

-oOo-

.

.

.

.

Rumah Sakit Suna Inetrnational

Gaara menghembuskan nafas panjang saat akan mendorong sebuah pintu bercat abu-abu di depannya. Perlahan, ia membuka pintu kamar VVIP hingga nampak kakaknya duduk di samping ranjang pasien dengan pisau dan apel di tangannya.

"Gaara-kun."

Suara lemah wanita paruh baya memanggilnya dengan senyuman saat melihat kedatangan putra bungsunya. Itu adalah Ibunya yang kembali masuk rumah sakit karena kondisinya yang memburuk saat ia tiba di Suna. Ibunya terlihat sangat pucat karena penyakit jantung yang di deritanya hampir satu tahun ini. Terlihat Ibunya yang duduk bersandar pada kepala ranjang dan ia yakini pasti memaksa untuk bangun.

"Hn. Bisakah Ibu berbaring dan istirahat." jawab Gaara sekaligus meminta Ibunya untuk tidak memaksakan kondisinya.

Sang Ibu hanya terkekeh dan menurutinya. "Baiklah."

Melihat Ibunya menuruti permintaannya, Gaara tersenyum tipis. "Hn."

"Aku menyuruh seperti itu tapi dihiraukan tapi kau langsung di turuti Ibu." ujar Temari dengan nada yang di buat kesal. "Oh, aku lupa. Apa kau sudah sarapan?" tanya Temari menambahkan dan menoleh pada adiknya.

Gaara mengangguk menjawabnya dan duduk di sisi ranjang Ibunya. Menoleh ia tersenyum lemah melihat kondisi Ibunya. "Bagaimana kondisi Ibu?" tanya Gaara ingin tau perkembangan Ibunya. Apa pun itu ia selalu berharap jika Ibunya selalu baik-baik saja.

"Hm, mungkin satu atau dua hari juga bisa pulang." jelas Temari membuat Gaara menghela nafas lega.

"Hn."

"Nanti akan Ibu masakan makanan kesukananmu ya."

"Tidak bu." Tolak Gaara halus dengan senyuman tipis. "Jaga kondisi kesehatan saja bu." tambahnya.

"Oh ya, bagaimana dengan gadis yang bernama Sakura itu?"

Temari terkekeh karena Ibunya yang masih penasaran ingin bertemu Sakura. Gadis misterius yang merubah sikap Gaara. Dulu adik bungsunya yang selalu dingin tapi sekarang selalu tersenyum dan tidak irit bicara lagi.

"Dia tidak bisa ikut."

"Pantas saja wajahmu seperti itu." goda Temari.

Gaara hanya bergumam dan kembali bangun, memutari ranjang pasien menuju jendela yang tidak tertutup.

Angin sore terasa sedikit menyejukan saat-saat musim panas ini. Mungkin musim panas akan berakhir sebulan lagi.

Pikirannya kembali teringat saat pertemuan pertamanya dengan Sakura. Musim semi dan sudah berbulan-bulan ia lewati dengan gadis yang mengaku adiknya itu tanpa terasa jika waktu semakin lama berlalu.

Kelopak mata yang menampilkan jade menawan itu menutup dan menghembuskan nafasnya perlahan.

Kejadian-kejadian yang telah terlewati memaksa keinginannya sekarang. Tidak ingin berpisah dan berharap jika gadis musim semi itu selalu di sisinya.

''Gaara-kun." Panggil Ibunya yang menatap bingung anaknya yang sepertinya melamun entah memikirkan apa.

Gaara membuka matanya dan menoleh. "Hn."jawabnya.

"Apa ada sesuatu?" tanya Ibunya yang sepertinya cemas akan sesuatu yang menggagu anak bungsunya.

"Tidak."

Sang Ibu tersenyum dan memilih tidak menanyakan hal yang sepertinya urusan pribadi dan tidak ingin atau belum ingin Gaara utarakan. "Baiklah, Ibu tidak akan memaksamu bercerita, tapi apa kau sudah makan?"tanyanya yang hanya di jawab Gaara dengan gelengan kecil.

"Cepat makan, di lantai dua ada caffe." decak Temari yang sedikit kesal karena adiknya yang ternyata belum makan dan ia sangat yakin adik manisnya itu hanya sarapan pagi saja untuk mengisi perutnya.

"Hn. Aku keluar dulu." pamit Gaara berbalik keluar untuk melaksanakan perintah kakaknya itu. Jika tidak ia yakin akan makan disuapinya dan itu sangat memalukan.

Temari dan Ibunya hanya melihat Gaara keluar dari ruangan ini dengan senyuman dan pikiran yang sama jika...

"Gaara-kun sudah besar."

...

Gaara menyelesaikan makanannya dengan tenang. Ia sekarang sedang berada di caffe yang terletak di lantai dua rumah sakit. Meletakan gelas yang baru saja ia tandaskan isinya, ia kembali melihat langit sore yang sangat indah. Teringat sesuatu, ia merogoh ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Sakura.

Bibirnya tertarik membuat lengkungan tipis sesaat pesan yang diketiknya terkirim.

"Sampai kapan dia begini, Dei."

Suara lelaki yang Gaara yakini sedang berbincang tepat berada di meja belakangnya terdengar frustasi. Ia yang tadinya akan pergi sepertinya enggan untuk beranjak sekarang. Menghela nafas, ia memutuskan menikmati kota kelahirannya dibalik kaca-kaca besar di sampingnya.

"Dia kembali karena ingin bersama Kakaknya, tapi kenapa kau menolaknya un?"

"A-aku hanya tidak ingin bertemu dengannya dan itu kembali mengingatkan ku pada masa lalu Dei."

"Tapi dia adikmu dan kalian sudah lama tidak bertemu."

Oke. Gaara memutuskan untuk pergi dan tidak mendengarkan urusan pribadi orang lain. Dan sepertinya mereka sedang membicarakan tentang seseorang yang sedang sakit juga. Beranjak, Gaara pergi meninggalkan caffe untuk kembali ke ruangan Ibunya,

Seorang pria dengan rambut serupa dengan Gaara menatap Gaara dengan alis mengeryit. Sedangkan teman di depannya mengikuti arah pandang temannya.

"Dia sepertimu ya." ujar pria dengan rambut pirang panjangnya.

Pria dengan rambut merah dan memiliki mata hazel itu mendengus. "Lebih keren aku, Dei."

Pria yang di panggil Dei mendecih. "Sok keren lagi."cibirnya."Apa yang akan kau lakukan, Sasori?" tanyanya lagi kepada permasalahan utama yang tadi bicarakan mereka.

Pria yang bernama Sasori menghembuskan nafasnya perlahan. "Aku berharap ia segera siuman dan aku akan mengatakan kepadanya jika..."

Sasori menggantungkan perkataannya dan memilih mengalihkan pandangannya pada langit senja yang sepertinya sebentar lagi akan berganti waktu.

"... aku sangat merindukan dirinya... adikku."lanjutnya dengan nada penuh penyesalan.

Dei atau lengkapnya Deidara tersenyum mendengar hal itu. Ia sangat tau sahabatnya ini sangat menyayangi adiknya. Namun karena masa lalu memaksa mereka berpisah untuk sekian lama dan setelah ia kembali ia berpura-pura menolak hingga menyebabkan hal mengerikan terjadi kepada adiknya itu.

"Semoga permohonanmu terkabul, Sasori."

Sasori hanya mengangguk dan lagi mengingat kejadian yang menyebabkan semua ini terjadi. Sudah berbulan-bulan adiknya tertidur -koma- dan ia sekarang bertahan dengan penuh penyesalan.

"Maafkan aku... Saki."

.

.

.

.

-oOo-

.

.

.

.

Langit senja menghiasi langit utara Konoha. Deburan ombak terdengar menjadi musik pemecah kesunyian. Matahari tinggal setengahnya dan akan kembali pada peraduannya. Dua orang yang terduduk di bibir pantai dengan kaki yang terjulur agar ujung ombak menyentuh kaki mereka. Sejam mereka habiskan berjalan-jalan di sekitar pantai dan berakhir duduk menikmati pergantian waktu.

"Sakura."

Sasuke memanggil nama yang sekarang jadi kekasihnya ini. Ia duduk tepat di sebelah Sakura hingga bahu mereka bersinggungan.

Sakura menoleh. "Ya."

"Hn."

Gumaman Sasuke membuat Sakura kebingungan. "Ada apa?"tanya.

Sasuke menggeleng. "Tidak apa, aku senang." ucapnya dan lagi, semakin membuat Sakura penasaran.

"Kadang manusia akan lebih baik menyimpan sesuatu sendiri dan sepertinya itu berlaku padamu juga."

"Kadang karena sesuatu hal yang membuat jantungnya aneh pun manusia bisa menyimpannya hingga akhir hayatnya." balas Sasuke akan perkataan Sakura.

"Hidup, mati itu semua adalah hal yang tidak bisa di hindari. Begitu pun pertemuan yang pasti -" perkataan Sakura terhenti karena Sasuke yang meletakan ibu jarinya tepat di bibirnya.

"Aku tidak ingin mendengar hal itu dan aku ingin kau selamanya di sini... bersamaku."

Iris klorofil Sakura menggenang. Lagi. Sasuke mengucapkan hal itu. "Aku..."

Sasuke mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka tinggal beberapa senti. Tangan yang tadinya menghentikan ucapan Sakura kini beralih mengelus permukaan bibir mungil itu.

"Di kehidupan dulu, sekarang aku berjanji akan menjaga dan selalu bersamamu..."

Tangan Sasuke berpindah dan mengelus sisi wajah Sakura. Netra kelamnya tak lepas sedikit pun untuk tetap menatap iris klorofil yang meneduhkan itu.

"... baik di masa lalu, sekarang atau pun masa depan aku tetap Sasuke... Sasuke Uchiha-mu." ucapnya melanjutkan dan kini berganti dengan ia mencium Sakura dengan mata terpejam.

Dengan bersamaan matahari terbenam, Sakura meneteskan setitik air matanya sebelum ikut terpejam menyambut sentuhan yang diberikan Sasuke.

Ya. Sasuke benar. Baik di masa lalu, sekarang atau pun masa depan kelak Sasuke tetap Sasuke-nya tidak berubah.

Melepaskan ciumannya, Sasuke menatap lekat wajah manis yang memerah. Mengingat sesuatu ia harus mengantar Sakura sekarang juga.

"Kita akan ke suatu tempat jadi sepertinya harus cepat." ujar Sasuke yang bangun dan mengulurkan tangannya kepada Sakura.

Mengangguk, Sakura membalas uluran tangan Sasuke dan juga ikut bangun dari duduknya. "Kemana?" tanya Sakura setelah ia berdiri dan penasaran kemana lagi Sasuke akan mengajaknya.

"Apa Gaara menghubungimu?" Sasuke balik bertanya tentang Gaara kepada Sakura.

"Dia mengirimku pesan jika ia sangat merindukanku." ujar Sakura senang dengan senyumannya namun tidak dengan Sasuke yang mengeluarkan dengusannya.

"Ayo!" ajak Sasuke yang melangkah terlebih dahulu.

Sakura melihat itu hanya terkekeh. Tidak di dunia dulu pun Sasuke selalu cemburu kepada kakaknya.

Mengangkat tangannya ke atas, ia melihat bintang-bintang yang mulai bermunculan. Tapi ada yang aneh.

"T-tanganku," ucapnya yang kebingungan karena kedua tangannya bisa menembus atau terlihat transparan beberapa saat sebelum kini kembali seperti semula. "A-apa ini?"tanya kebingungan atas kejadian barusan. Apakah...

"Sakura!"

Suara panggilan Sasuke membuatnya terlonjak dan memutuskan merahasiakannya. Berlari, ia menyusul Sasuke yang sudah berdiri di samping mobilnya.

.

.

.

.

-oOo-

.

.

.

.

Hyuga Neji duduk dengan setengah kaki-kakinya berada di dalam air. Bayangan bulan yang memantul pada genangan air terlihat cantik. Ingatannya kembali terusik pada mimpinya. Ia tidak kenal dan belum pernah bertemu dengan Sakura sebelumnya saat mimpi itu menghampirinya. Ia tadinya menghiraukannya, namun sisi lain itu seperti terlihat nyata. Apa mungkin karena ia yang menyukainya saat pertama kali bertemu. Tapi... wajah ketakutannya selalu menghantuinya.

Apa aku pernah berbuat salah?

Sepertinya tidak.

Ingatannya kembali mengingat saat festival. Rahangnya mengeras dengan tangan mengepal. Bukan hanya ia saja yang menaruh perhatian kepada gadis itu, ternyata Sasuke juga.

Menghela nafas ia berujar lirih. "Apa yang harus aku lakukan."

"Rupanya kau di sini."

Suara seseorang di belakangnya tidak membuat Neji menoleh. Ia sangat tau jika suara itu adalah, "ada apa Naruto."

Naruto menghampiri Neji dan ikut duduk di samping Neji. "Teme pergi dan aku kesepian."ucap Naruto sedih dengan bibir yang di tekuk.

Mendengus, Neji tidak menghiraukan dan memilih diam membuat Naruto semakin kesal karena di acuhkan. Bangun, Naruto menarik tangan Neji dan memaksanya. "Lebih baik kita main game ok. Temani aku." ujar Naruto memaksa.

"Sakit bodoh." desis Neji karena tangannya yang di tarik kencang. Sedangkan sang pelaku tidak menggubrisnya sama sekali,

"N-Neji-nii, Naruto-kun."

Sapaan gadis yang berpapasan dengan mereka seketika membuat Naruto tersenyum cerah.

"Hinata-chan buatkan kami minuman dan camilan ya." pinta Naruto tanpa canggung dengan tangan yang masih menarik Neji dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Hinata yang tersenyum geli.

.

.

.

.

-oOo-

.

.

.

.

Flash back on

Musim semi telah datang, bunga sakura terlihat indah menghiasi setiap sudut mata memandang.

Sore hari, setelah jam kuliahnya berakhir ia harus segera menuju tempat kerjanya. Namun langkahnya terhenti tepat di gerbang kampus. Bukan karena para perempuan seperti biasa yang selalu menghadangnya, tapi melainkan,

"Sa..."

Sosok gadis dengan rambut merah muda sebahu dengan kaos merah, celana putih dan tas ransel putih yang di pakainya.

Untuk apa dia di sini?

Itulah pikirnya saat melihat gadis itu. Mendengus kasar, ia memilih menghiraukan dan melewatinya tanpa menyapa.

"Onii-chan."

Sasori yang baru saja melewati gadis itu beberapa langkah langsung menghentikan langkahnya. Ia tidak berkata atau pun menyahutinya bahkan berbalik pun tidak ia lakukan.

"Bagaimana kabarmu Onii-chan?"

"Untuk apa kau datang ke sini?"tanya balik Sasori dengan nada sinis.

"A-aku merindukanmu."

Mendecih, Sasori kembali berucap tanpa berniat menoleh. "Aku tidak. Dan sebaiknya kau kembali ke tempatmu berada."ucapnya dan kembali melanjukan langkahnya.

Gadis itu mendengus dan mengikuti langkah Sasori. "Aku akan tinggal dengan Onii-chan dan Papi juga setuju."

"..."

"Aku sangat merindukanmu, Onii-chan."

Sasori mendengus. Ia yakini jika gadis itu mengikutinya di belakang. Menghiraukan, ia semakin mempercepat langkahnya.

"Apa Onii-chan membenciku?"

Sasori kembali menghentikan langkahnya saat gadis itu menanyakan tentang dirinya.

Benci?

"Pulanglah, aku sibuk." kata Sasori yang masih enggan membicarakan permasalahan tentang mereka. Melanjutkan langkahnya, ia sedikit berlari saat orang-orang berjalan menyeberang dan lampu hijau sepertinya akan berakhir.

"Maaf!"

Teriakan gadis itu membuat Sasori menghela nafas lega. Setidaknya ia bisa lepas dari gadis itu dan...

'BRAK'

Suara hantaman seketika membuat Sasori mematung. Orang-orang berlarian ke tempat kejadian untuk melihatnya. Ada yang berteriak histeris dan berteriak untuk segera meminta memanggil ambulans.

Dengan perlahan, atau karena kecemasan yang tiba-tiba melandanya Sasori berbalik perlahan.

Sosok yang tergeletak dengan berlumuran darah itu, ia sangat kenal apalagi baju merah yang baru beberapa saat di lihatnya.

Ia yang tadinya tidak menghiraukan seketika merobohkan pertahanannya dan langsung berlari membelah kerumunan.

Mata hazelnya terbelalak sempurna melihat apa yang terjadi. Gadis yang mengikutinya kini terbaring tidak sadarkan diri dengan darah dan luka di sekujur tubuhnya. Rambut merah mudanya berubah seperti rambutnya, merah pekat karena darah.

"Saki..." Sasori ingin menyetuh gadis itu namun di larang oleh seseorang yang mengatakan takut terjadi sesuatu guncangan pada kepalanya.

Dengan hazel yang meneteskan air matanya untuk pertama kali dalam beberapa tahun terakhir setelah kematian Ibunya membuat hatinya kembali tersayat melihat ini.

"Bangun Imotou, bangun..."

"Ayo bangunlah, gomennasai."

Flash back off

Sasori menatap lirih pada sosok yang terbaring lemah di depannya. Tangannya menggenggam tangan putih pucat yang sudah berbulan-bulan tidak sadarkan diri. Dalam kejadian yang menimpa adiknya, orang yang menabraknya bersedia bertanggung jawab walau pun kenyataannya adiknya lah yang salah karena menerobos larangan untuk menyeberang dan itu karena dirinya. Orang yang bertanggung jawab hanya membayar biaya masuk dan operasi saja karena Ayahnya yang menanggung semua ini.

Sejak kecil keluarga mereka terpaksa berpisah dan Ia yang mengikuti Ibunya sedangkan adiknya yang mengikuti Ayahnya. Lima tahun yang lalu Ibunya meninggal dan mereka datang namun kembali pergi. Ia meminta adiknya untuk bersamanya namun sang adik memilih meninggalkannya kembali. Lima tahun ia hidup dan membiayai kuliah dengan hasil kerja sendiri. Sedangkan uang yang di berikan Ayahnya masih utuh di tabungannya. Entahlah. Ia benci karena masa lalu yang memisahkan mereka dan Ayahnya yang memilih pergi dan membawa adiknya.

"Bagunlah... Saki." ucapnya lirih dengan tangan masih setia menggenggam tangan mungil sang adik.

Setiap hari ia terus di sini menginap saat pulang kerja dan akan pulang saat akan berganti pakaian dan kuliah.

Bangun, ia mendekati wajah sang adik dan menjangkau keningnya kemudian kecupan hangat penuh kerinduan ia daratkan pada sang adik. "Onii-chan merindukanmu."

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Akhirnya bisa lanjut juga~~~ Maaf lama ya? Terkena WB/ males karena liburan x ya #plak

Special to : sami haruchi | Yanti Sakura Cherry | AAALovers | zarachan | dianarndraha | Jamurlumutan462 | yuanthecutegirl | hanazono yuri | kura cakun | Luca Marvell | Firza290 | Nikechaann | Erin917 | hato | howtologin | Rainie Cherry 25 | Otouto Ryuhara | KhofitaRenaZalfran | Black Head 394 | dwifelisyaputri | Ratna Asami | Saku-chan | Sans-Chan | ichachan21 | Tara x acum Ratifa | Kocchan | Mitha453 | EU, Guest.

Sekali lagi terima kasih banyak dan saran-sarannya juga ^_^

Promosi juga fict'' colab aku dengan Chiwe. Dan bisa kalian lihat di Enuam Excalibur silahkan mampir :)

Sampai jumpa di next chapter ^_^

Ckrg

WRKT