"Ada apa?"
Sakura yang sejak tadi sibuk dengan lamunannya terlonjak karena Sasuke menepuk kepalanya pelan. Mendongak, ia bisa lihat wajah kekasihnya yang kini merunduk untuk menatapnya juga. Menarik napas pelan kemudian di hembuskan, Sakura berucap, "tidak ada apa-apa." sangkal Sakura yang tentu saja tidak di percayai Sasuke.
Mengacak rambut kekasihnya dengan gerakan lambat Sasuke berkata, "kau tidak bisa berbohong dariku Sakura."
Sakura menghela napas entah untuk kesekian kalinya hari ini. Duduk dengan pikiran berkelana dan karena lelah yang dirasakannya membuatnya kini memejamkan kedua matanya sejenak. Beberapa hari terakhir semenjak pertemuannya dengan sosok asing itu ia selalu terpikirkan apa maksud dari kata-katanya. Benaknya terus bertanya apa ini hanya mimpinya atau bukan. Dunia asing ini nyata dan Sasuke, Gaara-nii semua nyata apa yang salah dari ini semua? Apa ini hanya sementara?
Entahlah.
"Sasuke-kun!" seru Sakura yang kembali di kejutkan akan tindakan Sasuke sekarang. Memakaikan syal hitam miliknya kepadanya.
"Kau melamun lagi dan udara dingin." ingatkan Sasuke yang semakin cemas karena keanehan Sakura beberapa hari terakhir ini.
Melihat raut cemas Sasuke yang di tunjukan saat ini membuat Sakura merasa bersalah karena sikapnya. Mungkin karena sesuatu hal yang beberapa hari terakhir terus menggangu membuatnya tidak memperhatikan jika di sekelilingnya pasti mencemaskan nya.
"Maaf." ucap Sakura pelan dan menyesal akan tindakannya.
Sasuke memarik kursi dan meletakan nya tepat di samping Sakura berada. Duduk, ia sandarkan kepalanya pada pundak sang kekasih. Murid lain sedang pergi beristirahat sedangkan mereka memilih diam di kelas. Walaupun ada beberapa anak yang tinggal di dalam, Sasuke sama sekali tidak memperdulikan hal itu.
"Apa yang mengganggu mu akhir-akhir ini hm?" tanya Sasuke kemudian mengkaitkan jemari tangannya dengan Sakura. Dirinya sangat berbeda saat ini apalagi jika menyangkut Sakura. Sejak kedatangan dan kini menjadi kekasihnya pun bisa merasakan jika dirinya berbeda jika menyangkut dengan Sakura. Hatinya terus berdebar-debar dan apapun itu, Sasuke tidak bisa menjelaskannya secara gamblang betapa besar perasaannya kepada Sakura hingga saat ini.
Aku takut
Ingin sekali Sakura berkata seperti itu saat ini tapi entah kenapa bibirnya terasa kelu untuk berbicara membahas hal itu. Harusnya ia baik-baik saja kan selama Sasuke di sisinya? Iya, seharusnya. Tapi...
"Kenapa Sasuke-kun bisa mengatakan itu? Aku baik-baik saja." Aku tidak baik-baik saja dan tidak bisa mengatakan hal sesungguhnya untuk saat ini, maaf.
Mendengus pelan, Sasuke semakin menguatkan gengamannya dan memejamkan mata, menikmati suasana yang nyaman namun gelisah entah karena apa.
Angin di musim gugur berhembus perlahan menerbangkan daun momiji ke kelas yang jendelanya sengaja di buka. Sakura menangkapnya dengan perasaan yang juga sama gelisah nya saat ini.
"Jika ini mimpi, mau kah kau menungguku Sasuke-kun?"Sakura berkata begitu saja saat tatapannya tertuju pada daun yang ada di tangannya. Entah kenapa perasaannya yakin jika ini hanya mimpi baginya.
Sasuke masih memejamkan matanya dan tidak membuka walaupun ucapan Sakura tadi membuatnya takut. Dengan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Sakura ia menjawab ucapan sang kekasih. Kenapa dirinya gelisah seperti ini hanya karena ucapan itu? Mimpi. Jika apa yang dikatakan Sakura itu benar pun ia pasti akan menunggunya.
'Biarkan seperti ini, jangan pergi!'
.
.
.
Jubah putih bercorak emas di setiap tepian sudut membuatnya terlihat menakjubkan saat menyapu air yang menggenang di rerumputan. Hujan turun membasahi rambut merah panjang dan tubuhnya dengan perlahan. Raut wajahnya sendu saat tangannya di rentangkan dengan wajah menegadah ke langit yang sedang menangis. Netra hijau gelapnya terlihat redup dengan tetesan air mata bersamaan hujan yang membasahi wajahnya yang rupawan.
Hujan, dimana mengingatkannya kepada sosok yang terpentingnya penting dalam hidupnya.
"Kembalilah... aku mohon Hime."
Beribu permohonan yang terus di jeritkan dalam hatinya untuk seseorang yang masih belum kembali. Hidupnya, alasan satu-satunya sejak dulu ia bertahan untuknya. Tragedi itu, dimana membuatnya harus menyesal untuk kesekian kalinya dan kali ini lebih besar karena akan keterlambatannya.
"Maafkan Onii-sama."
"Yang Mulia, Sakura-hime sudah... "
Sang kepercayaannya berlutut dengan napas terengah. Raut wajahnya tidak jelas karena menunduk saat mengatakan hal itu.
"Sakura? Ada apa?"
Dengan wajah yang kini menegadah menatap sang Raja, Kankurou (sang penasihat kerajaan) memerikan raut kelegaan dan senyuman membuat Sang Raja tanpa berbicara lagi langsung berlari untuk memastikannya.
'Kau harus kembali.'
Hatinya terus ketakutan selama ini, tapi sekarang perasaan bahagia di rasakan nya. Harapan dan kegelisahan yang terus di rasakan nya apakah kini berganti sesuatu kebahagiaan karena sang kehidupannya kembali?
'Bisakah kau dengarkan permohonan Onii-sama, Sakura?'
.
.
.
Sakura duduk dengan tenang sesekali tertawa melihat televisi yang kini menyiarkan acara komedi. Setelah makan malam tadi Kakaknya (Gaara) masuk ke kamar dan tidak biasanya meninggalkan Sakura menonton tv sendirian. Dulu saat pertama kali menonton hampir saja tv rusak karena Sakura akan melemparkan gelas pada layar tak berdosa itu. Sakura marah karena seorang Ayah yang sedang menyiksa anaknya demi keinginan ya dan itu membuat Sakura hampir melemparkan gelas jus itu jika saja tidak ada Gaara yang menahannya.
Ah, tidak terasa kini waktu sudah berlalu cepat dan sebentar lagi musim dimana akan ada pemandangan putih yang indah menghiasi akan tiba.
"Apa itu?"
Sakura langsung menanyakan barang yang di bawa Gaara saat ini. Kotak kayu besar panjang dan sepertinya benda penting.
"Hn."
Gaara meletakan kotak kayu itu di meja dan duduk di samping Sakura. Sejak tadi sebenarnya ia ragu akan menanyakan hal ini kepada Sakura tapi karena desakan Shikamaru dan dirinya juga ia harus bertanya kepada Sakura tentang benda ini. Menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, Gaara mulai membuka kotak kayu itu.
Awalnya Sakura mengira itu benda milik Gaara namun saat dibukanya kotak itu membuatnya tidak percaya jika benda itu...
"S-Sasuke-kun."
Ya. Katana megah yang di bawa Gaara itu adalah milik sang suami yang di pegangnya saat tragedi itu. Tapi bagaimana bisa katana ini berada di Gaara?
Melihat reaksi Sakura membuat dugaan Gaara maupun Shikamaru benar adanya. Menoleh kan pandangannya kepada Sakura, Gaara bertanya. "kau tahu benda ini?"
Mengangguk, tangan Sakura terulur dan mengelus katana itu dengan perasaan campur aduk. Sedih dan tidak percaya jika benda ini bisa berada di sini dengannya.
"Ini, katana milik Sasuke-kun."
Gaara mengamati perlakuan Sakura kepada benada itu. Raut wajah Sakura kembali sendu dan nyaris menangis jika saja Gaara tidak menariknya kedalam pelukan.
"Semua akan baik-baik saja, percaya kepadaku."
Sakura menangis dalam diam dalam dekapan Gaara. Sesuatu salam dirinya yang merasakan kecemasan semakin takut akan hal yang bisa saja terjadi kepadanya.
"Aku takut Onii-sama."
Gaara mengelus surai merah muda Sakura dengan pelan dan memejamkan mata saat rasa gelisah pun kini semakin di rasakan nya.
"Sttt, tenanglah."
"Bagaimana, bagaimana jika semua ini hanya mimpi?"
Gaara melepaskan pelukannya dan menatap Sakura dan menghapus air mata yang keluar di mata seindah zamrud itu. Tersenyum, Gaara kembalj berkata untuk menenangkan dan meyakinkan Sakura jika, "aku akan terus menunggumu dan meskipun ini hanya mimpi, aku bahagia bisa bertemu denganmu jadi kemanapun kau pergi, di sini, " Gaara menunjukan dadanya dan kembali berucapa. "tempatmu berada dan akan kembali."
"Onii-sama." Sakura menjatuhkan kepalanya pada pundak Gaara dan kembali menangis tanpa suara. Kenapa hatinya merasa se sedih ini?
Kami-sama, apa semua ini nyata?
.
.
.
"Dimana Sasuke?"
Sakura terkejut saat suara yang sangat di kenal nya terdengar di barengi semilir angin yang berhembus. Ia berada di atap sekarang seorang diri dan tidak menyangka jika Neji pun akan ke sini.
"Ah, dia sedang sakit jadi tidak masuk sekolah." Sakura berujar dengan tenang walaupun sejujurnya hatinya terus berdetak kencang. Bukan karena perasaannya seperti kepada Sasuke melainkan sesuatu yang gugup jika mengingat siapa sosok Neji-Sama.
Neji yang sejak tadi melihat Sakura berjalan sendirian menuju atap dan entah kenapa walaupun ia sudah menyerah, tindakannya kali ini tidak mengatakan hal demikian.
Sakura merapatkan jaket dan syal milik Sasuke yang di kenakanya karena dingin yang di rasakan semakin menusuk. Rasa takut masih ada sesungguhnya dan karena itu kini tubuhnya terasa tegang berada berdua saja dengan Neji.
Jelas sekali raut Sakura yang sepertinya masih segan kepadanya dan entah kenapa Neji sedih melihatnya. Tersenyum, Neji ingin menunjukan jika ia tidak akan melakukan hal yang sudah di janji kan nya kepada Sakura.
"Gaara?"
"Gaara-kun sedang ada rapat jadi aku memutuskan ke sini."
"Hn."
Mereka terdiam dalam keheningan tanpa kata yang terucap membuat semua terasa canggung.
Neji mengamati Sakura dan nyatanya perasaan ya masih sama hingga kini. Untuk pertama kalinya ia jatuh cinta dan harus menyerah demi senyuman Sakura. Berdehem, Neji maju dan berdiri bersandar pada dinding sebelah Sakura.
"Sakura."
Sakura menoleh dan menatap Neji. "Hm?"
"Bisakah aku meminta satu dan untuk terakhir kalinya kepadamu?"
"Apa itu?"
"Bisakah?"
Sakura ragu jika yang di minta Neji akan sesuatu yang mustahil. Bukankah dia sudah berjanji?
Melihat raut wajah Sakura dapat Neji pahami jika Sakura pasti berpikir hal yang menyangkut perasaannya.
"Bukan itu, aku hanya meminta waktumu hari ini untuk terakhir kalinya."
"Maksud Neji-san?" Sakura tidak mengerti apa yang di minta Neji saat ini. Jika bukan perasaannya lantas apa?
"Aku ingin membuat kenangan bersamamu walaupun satu hari, bisa kah?"
"Tapi-"
"Jangan takut akan perasaanku, karena aku sudah berjanji bukan?"
Menimbang, Sakura akhirnya menyetujuinya saat melihat kesungguhan yang Neji tunjukan.
'Tidak apa kan? Aku pun pernah kabur untuk menyelamatkan Neji-sama yang di kejar para penjahat.'
"Baiklah."
.
.
Mata perak Neji tidak hentinya melihat sesuatu yang membuat hatinya terus di rasakan kebahagiaan. Gerakan jarinya yang menggerakkan pensil pada kertas putih membuat goresan-goresan yang membentuk sesuatu yang sangat indah. Senyuamannya mengembang saat melihat raut bahagia Sakura yang sedang merasakan hujan daun momiji. Rambut merah muda berterbangan dengan gerakan lembut karena gerakan memutar yang di lakukan Sakura. Tawa gadis itu membuat sesuatu alunan kebahagian bagi Neji saat ini. Tidak pernah di rasakan nya jika ia bisa jatuh cinta kepada sang gadis musim semi yang begitu saja datang tiba-tiba.
"Neji-san!"
Sakura melambaikan tangannya dan berseru agar Neji ke tempatnya.
Ikut tersenyum tipis, Neji melangkah menuju dimana Sakura berada.
Untuk pertama dan terakhir kalinya, kakinya melangkah untuk seseorang yang di cintainya dengan perasaan bahagia. Jika waktu bisa di hentikan, bisakah ia berharap saat ini yang terhenti? Benak Neji berharap.
"Sakura," Neji berdiri tepat di depan Sakura. Buku sketsa yang tadi di gunakannya sudah di simpan kembali ke dalam tas.
"Hm?" Sakura mengumpulkan beberapa daun momiji dan menyerahkan nya kepada Neji.
"Ini sangat cantik... begitu pun hidupmu yang pastinya akan banyak di sukai banyak orang."
Neji menatap daun yang bertumpuk di tangannya. Apa yang di katakan Sakura sangat bisa di mengerti tapi ia tidak mungkin bisa. Di buang nya sebagian dan di sisakannya hanya satu, tatapan Neji kembali teralih kepada Sakura.
"Kau tau artinya?"
Sakura menaikan alisnya dan menggeleng.
Mengangkat daun yang di pegang nya, Neji berucap, "tapi bagiku, hanya satu yang aku inginkan, maaf."
"Ma-"
Perkataan Sakura terhenti dibarengi raut wajah yang terkejutannya saat ini akan tindakan Neji.
Neji menempelkan daun momiji di bibir Sakura dan menciumnya di balik daun. Walaupun tidak secara langsung tetap saja itu tidak benar baginya. Di tatap nya Neji yang juga kini menatapnya dengan wajah sendu yang pernah di lihatnya dulu.
"Aku hanya mencintai satu orang saat ini dan terima kasih karena memberiku kenangan yang sangat berarti untukku. Terimakasih sudah menjadi orang yang aku cintai untuk pertama kalinya."
Dan satu hal yang Sakura tidak tahu jika sekuat apapun Neji mengatakan menyerah akan tetapi perasaannya tetap tidak tergoyahkan. Tapi bagi Neji saat ini adalah kebahagiaan Sakura yang penting dan hal itu akan membuatnya ikut berbahagia walaupun harus merelakan Sakura dengan orang lain.
.
.
"Jangan mendekat Sakura."
Sasuke menutup sebagian tubuh hingga sebatas hidungnya saat ini. Sudah dua hari ia izin sekolah dan hari ini Sakura datang dengan di antarkan Gaara. Karena Gaara masih ada tugas yang membuatnya harus segera pulang dan berjanji akan menjemput Sakura malam nanti. Sasuke merutuk dirinya yang kini dalam keadaan tubuh yang memang tidak enak di rasakannya dua hari terakhir ini. Melirik Sakura yang duduk di depannya dengan tatapan itu membuat Sasuke menghela napas pasrah pada akhirnya.
"Kau bisa sakit jika dekat-dekat denganku saat ini Sakura."
Sakura mendengus dengan tatapan yang bagi Sasuke sangat imut dan ingin sekali di cubit nya. Mengembungkan kedua pipinya, Sakura berucap. "Aku kesepian dan kau sama sekali tidak ingin bertemu denganku." kesal Sakura yang tentu saja hanya di buat-buat.
Sasuke tertawa pelan dan menurunkan selimut hingga tidak lagi menghalangi wajahnya. "Aku hanya tidak ingin kau tertular."
"Kau sakit akupun akan sakit."
Menyilangkan kedua lengannya di dada, Sasuke menaikan alis saat mendengar perkataan Sakura barusan."jadi, maksudmu kau pun harus merasakan kesakitan jika aku sakit, begitu?"
Sakura mengangguk dan Sasuke kembali menghela napas lelah.
"Sakura."
"Hm?"
"Tidak mungkin aku membiarkan mu merasakan kesakitan. Aku mencintaimu dan ingin kau merasakan semua kebahagian bukan kesakitan. Apapun itu bentuknya, aku tidak ingin melihatmu menangis."
Sasuke mengulurkan tangannya, menyentil dahi Sakura hingga kekasihnya itu mengaduh dan menatapnya garang membuat Sasuke tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Aku mencintaimu."
Sakura menunduk malu dengan wajah merona mendengar ungkapan perasaan Sasuke. Dengan rasa gugup yang tiada kira, Sakura mendongak dan netra emeraldnya membulat saat ciuman lembut menghampirinya.
Napas mereka saling beradu dengan kening saling menyatu. Seulas senyum Sasuke berikan saat ini. Memejamkan mata, meresapi betapa jantungnya berdetak kencang dan perasaannya semakin dalam membuatnya merasakan kebahagiaan tak terhingga.
"Meskipun pun ini hanya mimpi, aku akan terus menunggu menjadi kenyataan."
"Sasuke-kun."
.
.
.
"Bagaimana keadaannya?"
Sasori mengambil alih bunga yang di bawa sahabat pirang nya. Ia memang memesan bunga mawar pink untuk adiknya yang masih berada di kamar rawat. Sejak kejadian beberapa hari lalu membuatnya semakin senang dan yakin jika keajaiban akan datang sebentar lagi untuknya, untuk adiknya.
"Ada kemajuan." ya. Sasori tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya yang sangat kentara beberapa hari terakhir ini.
Deidara mengikuti Sasori dan berjalan beriringan. Sejak kemajuan beberapa hari lalu tentang keadaan adik Sasori membuat sahabat merahnya lebih bersemangat masuk dan mengerjakan tugas. Pulang dengan cepat dan tentu saja mengerjakan tugas di rumah sakit sambil menjaga adiknya itu. Melihat itu semua membuat Deidara tersenyum lega karena Sasori lebih ceria setelah adiknya itu kembali. Sasori yang berpura-pura membenci namun kenyataannya sangat merindukan adik kecil yang meninggalkannya dulu.
"Syukurlah."
Sasori membuka pintu yang sudah berbulan-bulan di tempati adik dan juga dirinya (yang berjaga). Berjalan ke ranjang dimana sang adik masih tertidur lelap, Sasori merapihkan rambut favorite nya sejak dulu dengan gerakan lembut. Di tatap ya wajah damai itu, Sasori berucap;
"Aku bawakan bunga kesukaan mu."
Bunga yang di bawanya kemudian di letakan di vas setelah membuang bunga sebelumnya yang sudah sedikit layu.
Deidara melihat pemandangan itu hanya tersenyum. Tatapannya kini beralih ke laptop dan beberapa buku yang sudah tertata rapih. Jika seperti ini pasti,
"Kau sudah menyelesaikan tugas itu?" yang Deidara tahu itu tugas di kumpulkan minggu depan.
"Hn. Sekarang aku ingin cepat menyelesaikan semua dan fokus dengan Saki."
Mendengar itu, Deidara hanya menghela napas pelan. "Hn. Kau pun harus jaga kesehatanmu un."
.
.
.
Rambut merah muda yang tergerai indah di atas bantal tidak menyurutkan wajahnya yang cantik. Selimut yang membungkus tubuhnya agar tetap hangat sudah berganti entah sudah ke sekian kalinya.
"Hei, memangnya kau memimpikan apa hingga tidak ingin bangun?"
Puluhan lilin menghiasi ruangan dengan aroma terapi kesukaan orang yang sedang terlelap. Bulan, hari sudah berganti untuk kesekian kalinya, akan tetapi yang di ajaknya bicara masih tidak membuka mata dan memberikan pergerakan berarti selain tadi saat sang tabib memeriksanya hanya gerakan jarinya yang semua detik lah yang membuat harapannya semakin kuat untuk menjadi kenyataan.
Seseorang duduk di samping ranjang besar dan merapihkan anak rambut yang membingkai wajah cantik itu. Di tatap ya dengan raut sendu, tangannya terhenti di sudut mata yang masih tertutup.
"Apa yang membuatmu begini?" lirihnya nyaris berbisik.
Menundukan tubuhnya untuk menggapai kepala merah muda, ia berikan kecupan lembut di sana dan kembali berkata lirih.
"Onii-sama menunggumu, Sakura-hime."
.
.
Sasuke memandangi kotak persegi berwarna putih yang ada di tangannya. Seulas senyum menghiasi wajahnya membayangkan jika benda ini ia beri dan di pakaikan kepada Sakura.
Tidak jauh dari tempat Sasuke duduk, Itachi berdiri dengan mata mencari tau apa yang di pegang Sasuke. Memastikannya, ia pun mendekat dan senyuman lebar tercipta tiba-tiba setelah merampas kotak dan melihat isinya.
"Wah adik kecilku sudah besar." goda Itachi yang tentu saja membuat sang adik kesayangannya merengutkan wajah bosan atas kelakuan Kakaknya.
Melihat Itachi yang sepertinya suka akan benda itu, Sasuke akhirnya menanyakan sesuatu yang sejak tadi terus memenuhi pikirannya pada sang Kakak.
"Nii-san."
Itachi menaikan sebelah alisnya mendengar panggilan Sasuke yang berbeda. Jika sudah memanggilnya dengan seperti itu, berarti ada hal serius yang ingin di bicarakan nya.
"Hn?"
"Apa Sakura akan menyukainya?"
Itachi melihat Sasuke kemudian benda yang ada di tangannya. Wah. kenapa adiknya terlihat imut hanya karena ingin memberikan sesuatu kepada orang yang di sayang. Untuk pertama kalinya pun ia melihat kesungguhan Sasuke akan perasaannya yang kemungkinan memang benar-benar serius.
"Kau mencintainya?"
Sasuke mengangguk lalu membuang muka ke arah lain karena rasa panas menjalari wajahnya yang sudah pasti menimbulkan guratan kemerahan.
"Yakinlah akan cintamu karena ketulusan lebih penting Otouto." Itachi memberikan kembali kotak itu kepada sang adik dan menyentil dahinya dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Aku hanya gugup, itu saja."
Tawa Itachi menggelegar tiba-tiba saat suara sang Ibu mulai mendekat dan ia pun sengaja mengeraskan suaranya membuat Sasuke menatapnya dengan tatapan mematikan.
"KAA-SAN! SASUKE AKAN MELAMAR SAKURA AWWW!"
Setelah melemparkan bantal yang ada di sofa kepada sang Kakak, Sasuke beranjak guna menghindari pertanyaan yang lebih melelahkan pastinya jika sang Ibu sudah di sini dan oleh karena itu dengan segera ia harus pergi.
.
.
.
"Tetaplah di sisiku."
Sakura tersenyum saat rasa hangat di rasakan nya dari genggaman tangan Sasuke pada tangannya. Hari ini Sasuke mengajaknya untuk ke suatu tempat dengan menaiki kereta cepat. Sejak di dalam Sasuke hanya berbicara sedikit dan memilih menyandarkan kepalanya pada pundak sakura. Sejak menjemputnya, tangannya tidak sekalipun terlepas dari genggaman itu dan jika pun terlepas sesaat Sasuke akan menyatukan nya lagi setelahnya.
"Indahnya."
Sakura merasa takjub pada pemandangan ini. Sama seperti saat dengan Neji akan tetapi kali ini lebih indah. Berputar, Sakura merentangkan kedua tangannya merasakan guguran daun momiji menghujaninya saat ini. Di suna tidak ada seperti ini, tapi pernah sekali ke kerajaan Uchiha saat masih kecil namun ia tidak begitu ingat bagaimana cantiknya saat musim gugur.
Sasuke tersenyum melihat senyuman terus terpancar dari bibir Sakura. Kedua tangannya di masukan pada saku mantel yang di pakainya. Memakai pakaian tebal, begitupun Sakura yang terlihat berstyle morri namun tertutup dengan mantel krem pada luarannya. Syal putih kali ini di pakai Sakura membuatnya semakin terlihat cantik walaupun seluruh badannya nyaris tak terlihat.
Sasuke mengajak Sakura ke Kyoto saat ini. Sebenarnya ia bingung kenapa harus meminta izin kepada Gaara yang tentu saja sangat menyebalkan karena susahnya mendapat Izin dari panda merah itu. Tapi dengan suara memohon Sakura tentu saja membuat temannya itu akhirnya luluh juga.
Menghampiri Sakura. sasuke mengulurkan tangannya dan tentu saja Sakura menyambut dan balas menggengamnya.
"Kita akan kemana?"
"Kastil Nijo."
Sakura mengangguk dan mengikuti langkah Sasuke dan berjalan beriringan. Rasa bahagia namun gelisah di rasakan nya saat ini. Melihat bagaimana genggaman Sasuke pada tangannya membuatnya merasa sedih.
"Ada apa?" tanya Sasuke yang kini menghentikan langkahnya dan menatap Sakura.
"Tidak. Aku masih tidak percaya jika ini nyata." Sakura memperlihatkan cengirannya hingga Sasuke mendengus pelan dan kini menarik kembali Sakura untuk berjalan.
"Aku pun seperti itu." Sasuke mengajak Sakura memasuki kastil yang cantik di tambah daun momiji yang berguguran membuatnya semakin terlihat cantik. Tanpa menghentikan langkah pelannya, Sasuke kembali berucap; "Jika ini mimpi aku berharap kau akan datang kepadaku saat aku terbangun nanti."
Wajah Sasuke terlihat sedih saat mengatakan itu dan Sakura meradakan sesak karenanya.
"Sasuke-kun."
"Ayo!"
Langkah kaki mereka beriringan dengan seirama. Angin yang berhembus, air mancur yang terdengar, gesekan dedauan membuat semua terasa nyaman. Dalam genggamannya, Sasuke terus berpikir tentang suasana istana ini dan kisah yang baginya tidak begitu di ingatnya.
Apa istana nya cantik? Apa Sakura terus berkeliling taman dan ia melihatnya dengan perasaan bahagia?
"Apa istana itu seperti ini juga?" Sasuke pada akhirnya menanyakan karena rasa penasarannya yang teramat besar akan kisah Sakura dan juga Raja Sasuke.
"Ya."
Mereka berhenti di jembatan kecil istana. Kolam yang tenang dengan ikan yang menghuninya membuat riakan pada permukaan hingga menggerakkan dedaunan yang mengambang.
Netra klorofil Sakura menatap riakan air dengan perasaan gundah. Suasana ini memang mengingatkannya kepada istana dan apa mungkin ia merindukan mereka yang berada di sana?
"Kau merindukan nya?"
Pertanyaan Sasuke terdengar seperti seseorang yang kesakitan dan meminta untuk berhenti. Tapi, walaupun memang merindukan dunia dimana asalnya tinggal, ia tidak bisa kembali karena tidak tahu bagaimana jalan untuk kembali kan? Lagi pula saat ke sini pun ia tidak mengerti karena tiba-tiba saja ia berada di bawah pohon Sakura yang bermekaran.
"Itu tidak berpengaruh kan?"
"Ya, tapi berpengaruh bagiku."
Sakura memutar tubuhnya dan menghadap Sasuke yang kini melihatnya dengan tatapan sangat menyakitkan.
"Maafkan aku." Sakura merasa bersalah membuat Sasuke seperti ini, tapi karena pikirannya yang terus mengingat kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya terus gelisah.
"Apa kau akan meninggalkan ku?"
Sakura maju untuk memeluk tubuh Sasuke. "Aku mencintaimu. Di sana maupun di sini hatiku hanya ada satu nama, hanya Uchiha Sasuke."
Dengan senyuman kecil karena perasaan lega yang di rasakannya kini Sasuke membalas pelukan Sakura dengan erat.
"Begitupun denganku."
Sakura melepaskan pelukan nya karena merasakan ada sesuatu menyentuh kulitnya. Merunduk, ia raih benda yang terkalung di lehernya dan kembali menatap Sasuke dengan raut tidak percaya.
"I-ini."
Seulas senyum Sasuke berikan melihat benda itu akhirnya ada pada Sakura. Mengangkat tangan dan mengelus sisi wajah Sakura,l l, Sasuke berucap, "Kemanapun kau pergi, aku akan tetap menunggu karena kau kehidupanku."
Jadi, kapan dan dimana pun ia berada pada akhirnya ia dan Sasuke akan bersama? Di setiap kehidupan walaupun keadaan berbeda, pada akhirnya kita akan bersama?
Kaki Sakura berjinjit dengan kedua tangan meraih wajah Sasuke. Di tatapnya mata sehitam malam yang selalu membuatnya hanyut dalam cintanya dengan penuh kasih.
"Jika begitu aku tenang karena kemana pun aku pergi pada akhirnya tempat tinggal dimana hidupku berada, aku akan menemui mu kembali." ujar Sakura yang mencium Sasuke kemudian dengan perasaan lega.
Ini kah jawabannya?
Hatiku tidak akan cemas karena kau akan menungguku, aku mencintaimu Sasuke-kun... Suamiku.
Kau hadir karena ingin memastikan nya bukan? Jika ini hanya mimpi maka datanglah saat aku terbangun, Sakura.
.
.
.
t
.
.
Bohong ding (ikutan ngetroll)
***TBC***
X
X
X
X
X
Hehehe maaf kalo lama. ya sy emng bgtu. Susah itu moodnya aplg kalo udh kegoda sm para ikemen 😁 ah g kerasa MP mendekati Chapter2 akhir kyknya. Maaf baru post di sini kelamaan susah masuk ffn dn bs di baca lewat wattpad jga ya.
Udh segitu dulu ya. ... Terimakasih buat semua yg udh nunggu dan baca ,(。・ω・。)
Wyd Rei Gilg Kuran Tanaka
Ckrg
