3 Februari
Sekelompok mahasiswi Universitas Chomdong berhasil meraih penghargaan atas prestasinya di dalam kompetisi Robotic International.
15 April
Terjadi aksi bullying yang memakan korban di Universitas Chomdong
17 April
Keluarga korban bullying menuntut pihak yang bersangkutan
1 September
Kasus bullying oleh mahasiswi Chomdong akhirnya selesai. Keluarga korban mencabut gugatan dengan alasan yang tidak ingin diketahui publik
2 Tahun Berikutnya
9 November
Byun Shani, gadis asal Korea Selatan ini berhasil mengharumkan nama negaranya karena banyak menuai prestasi dalam bidang tehnik dan berhasil menciptakan sebuah robot berbentuk manusia.
27 Februari
Shani bersama dengan robot ciptaannya menjalani tur keliling dunia
11 Agustus
Shani mengungkapkan jika ia tak ingin menampakkan wajah robotnya dikarenakan beberapa alasan yang tak pasti.
30 Agustus
Lagi-lagi, Shani sang gadis jenius membangun perusahaan robotic miliknya sendiri.
4 Desember
Tak heran jika Shani yang hampir setahun ini meraih prestasi rupanya berasal dari Universitas Chomdong yang terkenal oleh pro-kontranya dalam melahirkan berbagai pemuda jenius.
Day 1
Nuansa remang kembali memenuhi ruangan berperasa intens tersebut. Tidak hanya sekali. Bahkan desahan-desahan erotis kian mewarnai pergulatan panas kedua insan yang tengah terbaring lemas di atas ranjang merah darah.
Mereka telah selesai melepaskan semua hasratnya. Keduanya hanya terdiam sambil mengatur nafas masing-masing.
"Luhan?" sapa lembut Sulli setelah sepersekian menit berlalu. Dia menoleh ke samping, menatap orang yang ia panggil dengan penuh kekaguman.
Gerakan elusan tangan dari sang wanita membuat pria yang bernama Luhan itu membuka matanya. Sebenarnya ia tidak tidur, melainkan hanya memikirkan sesuatu diluar sana. Seorang gadis lain yang beberapa minggu ini membuatnya selalu teringat.
Pria itu tak menjawab. Dia hanya menoleh ke asal suara dengan malas. Senyum palsu kembali melengkung di bibir manisnya.
"Kamu memikirkan apa sayang?"
"Ehh, aku hanya ..."
Sulli mengalihkan tatapannya ke arah pemandangan yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit, dia beranjak dari ranjang kemudian berjalan menuju jendela. Kerlipan benda langit kini menjadi peralihan seorang Sulli yang meredakan emosinya. Ingin sekali ia marah. Tapi tidak mungkin untuk pria seperti Luhan. Pria yang sangat ia cintai.
"Kau pasti bingung dengan hubungan kita 'kan?"
Sulli memandang sendu langit malam yang mengerlip indah. Dan sayangnya tak seindah perasaannya saat ini. Bingung dan bimbang memang menganggunya.
Luhan mengembangkan smirk di bibirnya, setelah berdehem dengan hati yang tiba-tiba menjadi senang, dia menghampiri Sulli yang masih tampak menunduk.
"Percayalah, kita pasti akan bersatu."
Ucap Luhan selembut mungkin, tangannya perlahan mengelus rambut indah yang tergerai melewati punggungnya.
Nice shoot.
Inilah yang menjadi alasan Sulli tak dapat lepas dari seorang pria asing bernama Luhan. Aneh bukan? Meskipun Sulli tak pernah mengetahui asal-usul pria itu yang menurutnya tidak penting. Dia tetap saja mencintai Luhan. Ralat. Sangat mencintai.
Bahkan, ia rela membagi setengah sahamnya kepada Luhan. Hanya semata-mata demi pembuktian cintanya. Sulli, seorang wanita yang sangat terkenal dalam bidang bisnis dan banyak memegang perusahaan-perusahaan besar, kini hanya bisa tertunduk menurut pada seorang Luhan. Raja bagi hidupnya.
"Shani, aku berhasil."
Ucap Luhan dalam hati yang berdesir gembira. Ingin sekali ia cepat-cepat menemui Shani. Namun ia tetap harus bersandiwara disini. Memeluk sensual Sulli dan membuat wanita itu semakin jatuh ke dalam jurang cinta yang ia ciptakan sendiri.
"Engh..."
Tak salah lagi. Sulli kini berubah menjadi wanita jalang menurut Luhan. Hanya dengan sedikit sentuhan tangan kekar pria itu, Sulli akan menjadi haus gairah. Sepersekian detik, tubuhnya kembali tersengat hawa panas yang membuatnya menginginkan hal-hal erotis lagi dan lagi.
Kini bibir kecil nan lembut milik Luhan tengah membuai Sulli hingga wanita itu mengerang nikmat. Cakaran-cakaran kecil mengenai dada Luhan bersamaan dengan gigitan gemas yang ia lakukan.
Bukan Luhan, jika tidak dapat menaklukan hati seorang wanita. Wanita manapun pasti akan bertekuk lutut padanya. Apalagi berhubungan dengan hal kepuasan seksual. Itu adalah tugas utama seorang Luhan diciptakan.
"Lu... Hmmpht... Ahhh..."
Sulli tak hentinya mengerang akibat serangan Luhan yang sepertinya sangat memahami titik kelemahannya. Cairan beningpun menetes
Day 2
Sudah hampir 1 jam Luhan berada di kafe bertuliskan 'Flower' tersebut. Pejalan kaki yang lalu lalang menjadi pemandangan membosankan baginya yang ia lihat di kaca kafe.
Tangan Luhan bergerak gelisah. Matanya selalu menelisik jam di tangannya. Ahh, sudah waktunya ia pergi dari sini.
Saat bokongnya hendak naik, wanita yang sedari tadi ia tunggu akhirnya menimbulkan wajahnya. Dengan kacamata hitam dan barang-barang branded, Krystal melangkah gusar ke arah Luhan.
"Maafkan aku, Lu!"
"Kau selalu begini terus. Kalau jika seperti ini aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, Krystal."
"Percayalah, sayang. Aku akan mengatasi segalanya. Aku akan segera menceraikan dia. Please, percaya!"
Krystal tampak susah menelan ludahnya, sebelum Luhan berkata, "Baiklah, aku percaya. Ingat, aku tidak ingin berlama-lama jauh darimu, Krys!"
Luhan mengangkat tangannya, mengelus pipi mulus Krystal yang dilapisi berbagai kosmetik berharga puluhan juta. Pria itu kembali meluncurkan aksi dramanya, lama-lama jika tugasnya telah selesai, dia akan mencomungkin,adi aktor nanti.
"Kau membuatku khawatir, Lu. Aku takut kehilanganmu."
"Lu?" Krystal mulai bergerak gelisah. Luhan hanya memancarkan smirk di wajahnya yang sebelumnya polos. Dia mengerti apa maksud Krystal. Dengan tanggap, dia mengikuti Krystal yang menggiring tangannya menuju toilet.
Day 3
Suasana kian bergairah bagi wanita yang tengah memakai gaun satin itu. Tangan mulusnya mencengkram erat lengan Luhan, berusaha menahan desahan yang akan keluar. Bagaimana tidak?
Kini, Luhan tengah mengungkunginya hingga tubuh wanita itu terasa kian bergairah. Dentuman keras musik tak mempengaruhi kegiatan mereka. Alunan nada yang diputar DJ dan hentakan sekumpulan orang yang menari malah menjadi sebuah irama khusus.
"Hmmph, Lu-hann!"
Erang Jessica saat mencapai pelepasan pertamanya. Wanita itu tersenyum lemah, tubuhnya bersandar pada dada Luhan. Jika saja, lengan pria itu tidak menahannya, maka Jessica bisa saja jatuh tersungkur di lantai club tersebut.
"Best for me," ucapnya disela-sela elusan jari-jemarinya di dada Luhan.
"Kau tidak bisa bersabar, Jes! Bisa saja kita melakukannya di kamar bukan?"
"Ahh, aku tidak peduli. Bahkan jika managerku memerintahkan hal sama, aku akan mengabaikannya. Aku hanya ingin kamu, sayang!" Jawab Jessica dengan penekanan 'sayang' yang begitu manja. Dia sempat berbisik menggoda Luhan.
"Benar-benar murah." Gumam Luhan membatin. Tak ada sedikit keraguan pada Luhan untuk membalaskan dendam. Melihat bagaimana jalangnya wanita di pangkuannya ini, makin membuat Luhan jijik tanpa simpati sedikitpun.
"Have I get your mobile phone, babe?"
"My pleasure."
Luhan tersenyum licik, akhirnya target terakhir ia dapatkan. Selanjutnya, tidak aulit untuk menggait hati wanita ini. Melemparkan tubuhnya saja, dengan senang hati Jessica lakukan. Apalagi masalah hati, serahkan hal itu pada Luhan.
To Be Continued
