Tales Tell No Lies: Full Moon
tryss (c) 2018
.
Starring by Park Woojin and Ahn Hyungseob.
.
.
No words are needed for this moment
For our eyes already notice
Don't say a word, it's better to stay silent
Rumahnya sedang gelap kala itu. Langkahnya pelan, mendekati saklar lampu di sebelah pintu masuk dan menekannya asal-asalan. Matanya menyipit karena cahaya lampu yang tiba-tiba menyala sedikit menyilaukannya. Jam yang menggantung di atas televisi sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Memang terlalu malam untuk seorang remaja yang masih sekolah tapi dia sudah biasa.
Namanya Park Woojin, umurnya delapanbelas tahun, menduduki tingkat dua di sekolah menengah dekat rumah.
Park Woojin tentu tidak hidup sendiri. Orang tuanya masih hidup, yah, walau kadang Woojin sampai muak melihat mereka masih tidak tahu malu menampakkan wajah mereka di hadapannya. Dua orang yang harusnya dia sayangi dan menyayanginya itu nyatanya hanya dua manusia bejat. Mabuk-mabukan, berjudi, dan banyak lagi, Woojin tidak ingin menyebutkan seluruh kebejatan mereka. Woojin berharap dia bisa punya pekerjaan yang gajinya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri dan berniat tidak akan pernah pulang.
Rumahnya kali ini masih terlihat seburuk sebelumnya. Botol soju dimana-mana, sampah bungkus makan, bahkan ada makanan yang sudah membusuk. Woojin tidak pernah ada niatan untuk membersikan, satu-satunya yang akan diurusnya adalah isi kamarnya. Lagian kalau sudah dibersihkan, pasti akan kotor kembali. Selama dua orang itu tidak mengusik Woojin, ia akan berusaha bertahan selama mungkin. Beruntung kamarnya punya kamar mandi dalam, jadi Woojin tidak perlu repot-repot berbagi kamar mandi.
Keluarga Woojin, sebenarnya keluarga orang yang berkecukupan. Ayahnya seorang manager pemasaran di perusahaan meuble sedangkan ibunya punya satu toko donat dekat stasiun. Rumahnya pun bukan rumah reyot seperti yang kalian bayangkan. Satu-satunya yang menyebabkan Woojin tidak betah hidup disana adalah kebiasaan orang tuanya untuk mengundang orang asing dan berpesta.
Lalu kalau orang tuanya berkecukupan, kenapa tidak mencuri dari orang tuanya saja?
Heol, Woojin tidak sudi memakai uang orang tuanya.
Selama sisa lima tahun hidupnya—dimulai dari kelas satu SMP sampai sekarang—uang saku dari orang tuanya hanya menumpuk di laci meja belajarnya. Bahkan Woojin bersusah payah membuat rekening di bank karena lacinya hampir penuh. Serius, uang itu hanya menumpuk tak terpakai. Ia bahkan sudah mulai bekerja sendiri untuk membayar sekolahnya. Untuk urusan makan, sekolah Woojin menyediakan catering dan saat bekerja pun Woojin akan makan di tempat kerjanya gratis.
Tubuhnya lelah sekali. Terlalu banyak pelanggan yang datang ke kedai tempatnya bekerja. Mereka datang dengan rombongan, dan itu menyulitkan para pelayan karena mereka meminta dijadikan satu meja.
Setelah membuka kunci pintu kamarnya, Woojin akan segera menguncinya kembali dan pura-pura tidak dengar jika orang tuanya datang. Tidak banyak yang akan Woojin lakukan sekarang, besok hari libur jadi ia akan bersantai sejenak; berselancar di dunia maya sambil menikmati alunan lagu lewat aerphonenya.
Ketukan konstan dari pintu kamarnya tidak mengalihkan atensinya dari ponsel. Biar saja 'seseorang' yang mengetuk pintu kamarnya lelah sendiri dan segera pergi. Setidaknya jika mereka mengira Woojin sudah tidur, maka tidak ada serentetan ketukan di pintu kamarnya untuk yang kedua kalinya. Begitu saja malah lebih baik.
Nyatanya perkiraan Woojin tidak sepenuhnya salah. Ketukan pada pintu kamarnya menghilang. Woojin akhirnya disambut lagi dengan keheningan kamarnya.
Saat sadar, jam di ponselnya hampir menunjukkan pukul duabelas malam, Woojin memutuskan untuk segera ganti baju dan tidur. Namun, belum ada lima menit setelah Woojin kembali merebahkan diri di kasur, pintu kamarnya kembali mendapat ketukan. Kali ini ketukannya terdengar lebih kasar, diiringi dengan suara laki-laki yang menyerukan namanya kesal.
"PARK WOOJIN, SANGAT TIDAK SOPAN JIKA MEMBIARKAN AYAHMU MENUNGGU!"
Setengah hati, Woojin membuka pintu kamarnya. Penampilannya sengaja dibuat sengantuk dan seberantakan mungkin sehingga ayahnya tidak akan tahu kalau dia sebenarnya belum tidur.
Hal pertama yang Woojin lihat adalah wajah murka ayahnya. Pria empat puluh sembilan tahun itu sedang berkacak pinggang di depan pintu kamarnya dengan setelan jas yang masih lengkap. Jelas sekali kalau ayahnya baru pulang. Woojin cukup menyadari ada orang lain yang berdiri di balik tubuh tinggi ayahnya, tapi dia tidak punya niatan untuk sekedar menanyakan namanya.
Tuan Park Chanyeol menggeser tubuhnya ke kiri sedikit, membiarkan pandangan Woojin bebas menatap pada pemuda mungil berkulit putih yang berdiri tertunduk,"Mulai hari ini, dia akan tinggal disini."
Woojin menatap ayahnya sengit, masih tidak percaya jika ayahnya membawa orang asing tinggal di rumah tanpa ada kabar-kabar. Ya, sebenarnya juga tidak harus mengabari Woojin sih, tapi siapa yang tidak kaget kalau tiba-tiba ada orang asing yang tinggal serumah denganmu padahal orang tuanya saja tidak becus mengurus Woojin seorang.
"Mulai besok dia juga akan bersekolah di SMAmu." Lanjut ayahnya.
Sepeninggalan ayahnya, kedua insan seumuran itu masih diam di tempatnya masing-masing. Yang satunya merasa sungkan dan yang satunya kelihatan kesal. Namun tidak lama keduanya mau untuk saling menatap walau hanya dalam diam saja. Tidak ada emosi yang terlukis di wajah Woojin, pemuda itu benar-benar tidak menyukai sosok baru yang akan tinggal di rumahnya mulai malam ini.
"Salam kenal," si pemuda mungil akhirnya berujar, terlihat ingin segera mengakhiri pertemuan pertama mereka,"aku Ahn Hyungseob. Umurku delapanbelas tahun."
Pemuda yang mengaku bernama Ahn Hyungseob itu segera melengos pergi, terlihat tidak butuh jawaban Woojin. Toh, Hyungseob sendiri sadar kalau Woojin tidak akan menerima kehadirannya semudah itu. Woojin sendiri juga tidak peduli dengan perkenalan dari Hyungseob, pemuda itu hanya akan jadi parasit dalam rumah ini.
Bantingan pintu dari arah kamar Woojin sudah jadi jawaban atas segala pertanyaan. Hari-hari yang akan mereka lalui setelah ini tidak mungkin mudah. Likunya mungkin tidak banyak, namun jalan yang penuh duri juga bukan jalan yang mudah dilewati.
.
.
.
.
TBC
