Tales Tell No Lies: Full Moon
tryss (c) 2018
.
Starring by Park Woojin and Ahn Hyungseob.
.
.
BIG THANKS TO
nyangbinsausage, vee55, illan, Delicious choco-pie
Deep in my heart, in that dark place
You suddenly entered
Awakening my world
"Berhenti mengajakku kencan buta, aku tidak akan ikut."
Fix, itu adalah jawaban Woojin yang terakhir. Dia tidak akan mau mendenger teman-teman kerjanya menawarinya ikut kencan buta dan gadis cantik. Toh, dia sebenarnya juga tidak terlalu tertarik dengan gadis, apalagi hubungan romantis. Prinsipnya adalah hidup dengan baik dan mati dengan mulia.
Dalam pandangan Woojin, hidup bersama orang lain akan sangat melelahkan. Lihat saja keadaan Woojin saat di rumah; penuh tekanan, lebih baik dia hidup sendiri saja, kan?
"Serius tidak ingin punya kekasih?" Daehwi selalu menggodanya seperti itu. Bahkan orang pertama yang mengusulkan Woojin untuk ikut kencan buta adalah Daehwi sendiri.
Tangan Woojin masih sibuk memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam tas. Shift kerja hari Minggunya jadi lebih menyebalkan—atau memang selalu begitu? Tenth alasannya karena hanya pada hari Minggu, dia dan Daehwi punya shift kerja yang sama. Setidaknya Woojin sangat bersyukur Daehwi tidak meminta tambahan jam kerja, atau pemuda kerempeng itu akan memberondonginya dengan pertanyaan seputar 'kencan buta dan gadis' setiap hari.
"Aku pulang."
Daehwi terlihat ingin menahan pemuda tan itu, tapi putus asa melihat wajah kaku pemuda yang setahun lebih tua darinya itu.
Woojin kira malam ini dia harus menghidupkan lampu rumah saat pulang, tapi ternyata tidak. Begitu selesai menutup pintu dan melepas sepatu, Woojin bisa melihat sebuah kepala menyembul dari balik punggung sofa. TV yang menyala menampilkan acara musik sore hari.
Bersikap seolah tidak melihat apa-apa, Woojin melangkahkan kaki menuju kamarnya. Namun,
.
.
.
.
"Woojin...," Hyungseob berdiri di belakangnya. Tangan pemuda mungil itu menggenggam segelas susu hangat dan tangan lainnya membawa setoples kue coklat. Woojin tentu tidak menoleh. Sial sekali, pintu kamarnya sulit dibuka,"aku membuatkanmu susu hangat."
Woojin akhirnya mendorong pintu kamarnya setelah kuncinya berhasil terbuka. Pemuda tan itu sempat menoleh, melayangkan terang-terangan tatapan sengitnya pada Hyungseob. Tentu saja pemuda mungil itu menundukkan kepalanya; merasa takut dan sungkan.
"Pergi sana!"
Untuk kedua kalinya Hyungseob kembali mendengar pintu kamar Woojin terbanting keras. Kali ini dia juga melihat bagaimana pintu itu sempat bergetar kuat di depan matanya.
Hyungseob mengerti, Woojin memang tidak akan semudah itu menerima keberadaannya. Dia orang asing yang tiba-tiba saja tinggal di rumah ini, tentu kemungkinan besar penghuni aslinya akan mendiskriminasi Hyungseob secara terang-terangan.
Lagian dia ini siapa?
Kelas akan sangat ramai mendekati pukul delapan pagi. Biasanya akan banyak anak-anak yang berkumpul di meja tertentu, menceritakan hari Minggu masing-masing dengan antusias. Beberapa yang barusan datang, akan menyapa dengan keras di depan pintu. Dan pagi ini tidak akan berbeda jauh dari pagi-pagi yang lainnya.
Mark terlihat antusias diatas mejanya, bibirnya maju kedepan, terlihat bersemangat menceritakan informasi baru,"Dengar, akan ada siswa baru di kelas ini."
Doyeon membalasnya dengan dengusan geli,"Memang sudah langganan, kan?"
Tidak ada yang kaget mengenai berita dari Mark. Pemuda berambut light brown berwajah campuran ini memang punya telinga gajah. Dia bisa mendengar berita terbaru dalam waktu satu menit setelah kejadian berlangsung. Teman-teman sekelas Mark bahkan heran kenapa pemuda ini lebih memilih mendaftar sekolah daripada melamar pekerjaan sebagai presenter acara gosip.
"Ck, satu sekolah pasti bisa menggila hanya karena siswa ini."
"Memang apa bagusnya?" Doyeon kembali menimpali,"Urus saja rambut keritingmu itu." Jelas sekali gadis tinggi ini lelah mendengar ocehan Mark.
Nyatanya jawaban dari pertanyaan barusan harus ditahan, bukan oleh Mark, melainkan karena sekarang sudah pukul delapan tepat dan bel masuk sudah berbunyi. Dilain posisi, Woojin sudah menebak kalau siswa yang dibicarakan Mark adalah Hyungseob, orang asing yang tiba-tiba tinggal di rumahnya.
Ayahnya, Park Chanyeol, tidak akan semudah itu melupakan janji. Dia memang sibuk mabuk dan berpesta, tapi nyatanya berkas sekolah Hyungseob terurus baik. Ayahnya mungkin memiliki pekerjaan yang cukup meyakinkan, tapi tidak mungkin menyewa orang lain untuk melaksanakan beberapa tugasnya, termasuk untuk mengurus kebutuhan sekolah Hyungseob.
Ini sudah pasti. Woojin yakin sekali kalau siswa baru yang Mark sebut, tak lain adalah Hyungseob.
Benar saja, tidak lama setelah wali kelasnya masuk, sosok Hyungseob akhirnya berdiri didepan kelas. Seragam yang digunakannya terlihat kebesaran sehingga pemuda itu nampak mungil dan rapuh.
Suara riuh teriakan siswa kelas menyapa indra pendengaran Woojin. Banyak dari mereka yang memuji Hyungseob. Entah karena pemuda itu terlihat menggemaskan dan tampan, bahkan Woojin juga bisa mendengar seseorang meneriaki Hyungseob cantik.
Woojin sempat menoleh ke pojok kelas, dimana segerombol berandalan tengah menggila karena paras Hyungseob. Yang jelas pimpinan mereka—Lee Dohyun—juga terlihat tertarik pada Hyungseob dalam diamnya.
Woojin tersenyum kecut dimejanya, masih tidak habis pikir bahwa sosok seperti Hyungseob yang (mungkin) akan menghancurkan keluarganya suatu saat nanti. Apakah bisa?
Menunggu waktu yang bergulir lama, Woojin mengamati Hyungseob yang berdiri didepan lebih seksama sebelum tergelak mengejek Hyungseob untuk sesaat.
Mau tahu apa yang Woojin pikirkan?
Sederhana saja.
Park Chanyeol—ayahnya yang terhormat itu—tidak mungkin membawa remaja berusia delapan belas tahun dari panti asuhan. Cih, terlihat terlalu mulia untuk seorang Park Chanyeol lakukan. Mana ada cerita seperti itu jaman sekarang. Lihat saja visual Hyungseob. Pemuda itu cenderung takut berada di tempat umum, terlihat dari gerak gerik pupil matanya yang selalu waspada. Dia juga objek yang mudah dihancurkan dan penuh kekhawatiran. Tidakkah pemuda itu lebih cocok dibawa ayahnya dari pelelangan manusia?
