Tales Tell No Lies: Full Moon

tryss (c) 2018

.

Starring by Park Woojin and Ahn Hyungseob

.

.


BIG THANKS TO

Re-Panda68, Illan, Delicious Choco-pie


Please tell me why people can't change?

Did those beautiful days i've heard of really exist?


Ketika langit berubah mendung, Woojin sudah berdiri di depan lobbi sekolahnya. Sibuk memeriksa tasnya; mencari payung. Begitu benda yang diinginkannya ditemukan, kakinya kembali melangkah keluar sekolah. Sesekali kepalanya mendongak, memperhatikan awan gelap yang bergulung cepat diterpa angin. Beberapa saat lalu, Woojin sempat memeriksa perkiraan cuaca lewat ponselnya yang menyatakan akan adanya hujan lebat hari ini. Tidak sia-sia dia selalu menyiapkan payung di dalam tasnya.

Belum separuh perjalanan menuju tempat kerja sambilannya, hujan rintik-rintik mulai membasahi pundaknya. Woojin buru-buru membuka payung sambil melangkah lebih cepat sedangkan kerumunan manusia di sekitarnya sibuk mencari tempat berteduh atau ikut mengeluarkan payung. Pada menit-menit berikutnya, Woojin sudah berjalan sendirian menembus derasnya hujan. Kebanyakan orang lebih memilih mampir ke cafe di pinggir jalan, menikmati minuman hangat sedangkan Woojin harus segera sampai di kedai tempatnya bekerja karena sudah dipastikan akan adanya pembeludakan pelanggan.

Benar saja yang ditebak Woojin.

Keadaan kedai sudah penuh sesak, bahkan lantai dua yang biasanya jarang dipakai kini terisi penuh. Tidak baik jika dia membiarkan teman-temannya bekerja sendirian. Dengan buru-buru, Woojin mengganti bajunya dengan kaos dan memakai apron dengan logo besar kedainya di tengah-tengah.

Pekerjaan hari ini jauh lebih berat daripada hari-hari sebelumnya. Seorang pelanggan tiba-tiba saja marah dan memaki semua pelayan, mengatakan bahwa pelayanan mereka sangat buruk. Daehwi yang berdiri paling dekat dengan si pelanggan tentu menjadi sasaran empuk, apalagi postur tubuhnya kecil dan terlihat tidak bertenaga. Tidak tanggung-tanggung, Daehwi tersungkur di lantai akibat tamparan keras si pelanggan. Para pelayan kebingungan untuk menghadapi amukan si pelanggan sampai akhirnya Kim Youngmin—pemilik kedai—datang.

Dan masalah berakhir begitu saja.

Pukul delapan malam, kedai sudah tertutup rapat.

Akibat insiden tadi, Youngmin memutuskan segera menutup kedainya lebih cepat.

Para pelayan berkumpul di salah satu meja, siap mendengar amukan Youngmin jikalau mereka yang benar-benar bersalah. Namun, alih-alih menyalahkan pekerjanya, pemuda cantik itu tersenyum bangga. Jelas tujuh orang lainnya saling menatap heran.

Youngmin duduk di sebuah kursi kosong yang sengaja diberikan untuknya, menatap pekerjanya satu persatu sebelum bicara,"Aku ingin minta maaf atas kejadian tadi sore," Senyumnya berangsur-angsur luntur. Sorot matanya menjadi sedih serta kosong,"terutama pada Daehwi."

Daehwi segera memotong,"Aku baik-baik saja, hyung. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku."

"Tapi sepertinya Samuel terlihat sangat khawatir."

Dua orang yang bersangkutan sontak menundukkan wajah merah mereka. Bukan rahasia kalau keduanya sedang saling suka, apalagi keduanya terlihat menggemaskan saat saling memperhatikan diam-diam.

Woojin yang duduk di belakang kedua orang itu juga ikut gemas sendiri. Sudah jelas saling suka, kenapa masih belum ada kemajuan?

"Disini aku ingin mengakui sesuatu," Youngmin kembali melanjutkan,"bahwa orang yang sempat merusuh tadi adalah mantan kekasihku."

Woojin tidak ingin dengar. Youngmin menjelaskan kejadian rinci tentang mantan kekasihnya itu, namun Woojin tidak ingin repot-repot menghafal alurnya. Baginya, ada yang lebih buruk daripada seorang mantan kekasih yang merusuh toko, yaitu kehancuran keluarga Woojin.

Sejatinya, Woojin adalah remaja. Kehilangan orang tua tentu bukan keinginannya sekalipun Woojin 'benci' mereka. Jauh dilubuk hatinya, masih tersisa baranya, wujud dari kasih sayang kepada orang tua. Woojin hanya ingin kedua orang yang telah membesarkannya dari lahir itu malah melakukan suatu hal yang bisa berakibat buruk. Pesta dan minum minuman keras tentu sudah termasuk. Tidak lagi ketika ada seseorang yang datang dan berpotensi merusak keluarganya.

Disinilah ketakutan Woojin sebagai remaja diuji.


Pukul sembilan malam, Woojin sudah sampai di rumahnya.

Tidak seperti kemarin. Kali ini Woojin tidak mendapati siapapun di ruang tamu rumahnya. Sambil melepas sepatu Woojin bisa mendengar suara minyak panas dan harum masakan. Perutnya tentu tidak bisa bohong. Woojin tidak akan menolak makanan selezat ini.

Tapi siapa yang memasak?

Apakah ibunya?

Apakah segalanya kini berangsur membaik?

Langkah tidak sabaran menuntun Woojin ke ambang pintu dapur, namun yang didapatinya adalah angan yang hancur. Dua orang itu saling menatap, yang satunya terkejut dan yang satunya lagi berusaha menekan amarahnya.

"S-selamat datang...," Hyungseob kebingungan, tidak menyangka akan melihat Woojin berdiri di ambang pintu dapur ketika dia berbalik untuk mengangkat makanan yang sudah matang,"kau sudah makan—"

"Apa yang kau lakukan disini?"

Hyungseob dilanda ketakutan ketika mendengar suara dingin pemuda dihadapannya. Sejak sampai di rumah ini, Woojin tidak pernah menganggap keberadaannya. Sekalinya dilihat, malah seperti ini.

"Aku memasak untuk makan malam, kau belum makan, kan?"

Woojin tidak butuh waktu lama untuk memutuskan, pemuda tan itu berbalik arah ke kamarnya dan kembali membanting pintu dengan kuat.

Hyungseob masih berada di tempatnya, membeku sesaat sebelum meletakkan makanan yang sudah dibuatnya ke dalam mangkuk dan meletakkan mangkuknya bersama berbagai macam makanan lain di sebuah nampan.

Ini akan jadi kali kedua Hyungseob mencoba membujuk Woojin untuk mengenalinya, tapi kali ini tanpa harus saling bertatap wajah.

Setelah mencopot apron dari tubuhnya, Hyungseob mengangkut nampan berisi makanan ke depan pintu kamar Woojin. Ditinggalkannya makanan itu di depan pintu lengkap dengan sticky note bertuliskan;

'Selamat makan, Woojin-ah. Aku Ahn Hyungseob, dan kita seumuran.'


Menurut Hyungseob, pagi datang dengan cepat, tapi bagi orang lain ini masih terlalu pagi untuk bangun. Begitu Hyungseob mengingat perihal makanan semalam, tanpa peduli penampilan acak-acakannya, Hyungseob melangkah cepat keluar kamar.

Tahu apa yang terjadi?

Nampan semalam sudah tidak ada disana lagi.

Dengan senyum yang terlampau ceria, Hyungseob memutar langkah ke dapur, namun matanya menangkap sesuatu yang menyakitkan.

Nampannya ternyata berpindah ke meja makan, dengan makanan yang isinya tidak berkurang sedikitpun. Jangan lupakan kertas pink yang sudah diremas hingga tak berbentuk; sticky note Hyungseob.

Untuk kedua kalinya, Hyungseob ditolak.


Maaf telat updatenya:"(