Tales Tell No Lies: Full Moon

tryss (c) 2018

.

Starring by Park Woojin and Ahn Hyungseob

.

.


BIG THANKS TO

Re-Panda68, Delicious Choco-pie


He's gonna break you,

but you're gonna love him anyway


Mengagumkan sekali. Bahkan setelah seminggu lebih berlalu, kelas Woojin masih didatangi siswa kelas lain. Mereka bertengger rapi di jendela hanya untuk melihat sosok Ahn Hyungseob yang 'katanya' begitu mempesona.

Lee Dohyun yang sejak hari pertama sudah menetapkan diri menyukai Hyungseob, kini selalu ada di sisi pemuda manis itu kapanpun. Jelas tidak ada yang akan mendekati Hyungseob, mereka hanya akan melihat dari jauh, mengabaikan Dohyun yang kadang melayangkan tatapan sengit kala Hyungseob'nya' jadi pusat perhatian.

Namun keadaan memburuk kala Hyungseob duduk di sebelah Woojin saat istirahat makan siang. Sambil tersenyum tipis, Hyungseob menyodorkan sekotak bekal dan meminta Woojin untuk makan didepannya. Woojin jelas tidak bisa berkutik. Lee Dohyun—dan yang lainnya juga—sedang mengamati pergerakannya dari jauh. Terlukis jelas di wajah Dohyun kalau pemuda itu cemburu melihat Hyungseob malah memberikan bekal pada Woojin, bukan pada dirinya.

Mau tidak mau Woojin menerima bekal itu. Membiarkan kursi sebelah yang kosong, diduduki Hyungseob. Keadaannya terlalu hening, bahkan suara dari tutup bekal yang dibuka Woojin seolah menggema di ruang kelas.

Tidakkah kalian tahu bahwa Woojin ketakutan? Lee Dohyun tentu tidak akan melepaskan Woojin dengan mudah setelah hari ini berakhir.

Tamat sudah riwayat hidup Woojin.

Berusaha untuk bersikap normal pun tidak akan mampu karena tangan Woojin sudah terlanjur bergetar, ia mencoba untuk memegang sumpit dengan benar namun Hyungseob sudah terlebih dahulu merebut sumpit yang ada ditangannya.

Buruk. Sungguh buruk.

Seandainya Woojin dapat mengendalikan diri, Hyungseob tidak akan merebut sumpitnya dan bersiap untuk menyuapinya.

GARISI ITU.

BAHWA HYUNGSEOB BERSIAP MENYUAPINYA.

Hyungseob kebingungan kala Woojin terdiam,"Buka mulutmu...," Pinta si Manis. Suaranya seindah lullaby penghantar tidur, begitu memabukkan.

Dalam hati, Woojin malah meruntuki kemampuan Hyungseob untuk memojokkannya. Dia mungkin akan menolak mentah-mentah jika berada rumah, selama ayahnya tidak melihat, dia akan aman.

Berbeda saat di sekolah. Disini akan ada banyak saksi mata, terutama warga sekolah yang tidak pernah mengenal sikap kasar Woojin. Dia selalu berlaku baik pada teman-temannya di sekolah, jadi sekali saja dia bertindak salah, gunjingan tentang keburukannya jelas tak akan terhindar.

"Tidak," Woojin kembali menolak,"kumakan nanti saja." Elaknya.

Hyungseob menaruh sumpitnya di meja,"Kalau begitu janji padaku untuk tidak menolak makanan yang kusiapkan untukmu, baik di sekolah maupun di rumah. Bagaimana?"

Adakah orang yang akan langsung menjawab pasti saat diminta berjanji, apalagi jika diminta berjanji oleh orang yang paling dibenci?

Tentu tidak ada.

Begitu pula Woojin.


Kekukuhan Hyungseob seperti tidak ada habisnya. Beberapa kali Woojin menolak makanannya dengan bentakan (ini sering terjadi saat di rumah), namun pemuda manis itu tak gentar sama sekali.

Keadaan memburuk karena akhir-akhir ini ayah Woojin juga lebih sering menghabiskan waktu di rumah, membawa serta pekerjaan dari kantor dan mengerjakannya sambil bercengkrama dengan Hyungseob yang memijat pundak lelaki paruh baya itu. Kadang juga si manis membawakan kopi dan beberapa camilan untuk lelaki yang—masih—Woojin sebut ayah.

Sedikit banyak Woojin bersyukur bahwa dalam kurun waktu satu bulan, dia tidak mendapati rumahnya digunakan berpesta dan mabuk-mabukan. Pintu kamarnya pun tak lagi terkunci rapat. Akibatnya, Hyungseob diam-diam akan menaruh setoples camilan di meja belajar Woojin. Tentu Woojin sendiri juga tahu dari siapa camilan itu, tapi Woojin memilih acuh.

Kadang jika Woojin pulang terlalu larut dari kerja paruh waktunya, akan ada senampan makanan di depan pintu kamarnya (Woojin masih mengunci kamarnya jika dia sedang tidak dirumah).

Omong-omong soal makanan. Woojin pernah nyaris dipukul habis-habisan oleh Dohyun karena pemuda berandal itu mengira Woojin berusaha merebut Hyungseob darinya, tapi Hyungseob mendahului pukulan Dohyun dengan sebuah penjelasan singkat tentang Woojin.

Hyungseob bilang kalau Woojin ini saudara jauhnya dan mereka tidak terlalu dekat, Woojin sih hanya bagian mengiyakan. Dia sendiripun tidak yakin kenapa Hyungseob bisa masuk ke rumahnya jadi untuk apa pula dia bersusah payah membela Hyungseob.

Ya sudahlah, Woojin malas membahas Hyungseob. Selama Hyungseob tidak mengganggu saja, tidak masalah jika dia tinggal di rumah Woojin selama apapun.

Omong-omong, malam ini adalah malam terakhir shift Woojin di kedai Youngmin dalam sebulan. Setelah berbaik hati menggantikan shift beberapa temannya yang berhalangan, Woojin akhirnya mendapat libur lebih cepat. Setidaknya selama empat hari kedepan Woojin bisa santai-santai dengan uang gajinya. Mewarnai rambut sepertinya terdengar menyenangkan.

Rumahnya sudah gelap kala Woojin berhasil masuk.

Tidak seperti biasanya, batinnya.

Kali ini Hyungseob tidak menonton tv sampai larut. Seakan kembali acuh, Woojin meneruskan langkahnya ke dapur untuk mengambil minum. Namun belum juga sampai di dapur, Woojin mengurungkan niatnya. Langkahnya terhenti beberapa meter dari pintu dapur begitu menyadari ada keributan kecil dari sana. Keributan yang mungkin akan jadi alasan mengapa Woojin tidak akan pernah memaafkan Hyungseob.

.

.

.

.

.

STILL TBC


MANA NIH SUARANYA JINSEOB SHIPPER?! KOK SEPI!? Aku ga masalah kok kalo kalian ga rewiew, tapi jangan tinggalkan JINSEOB, ya? Janjii?