Tales Tell No Lies: Full Moon
tryss (c) 2018
.
Starring Park Woojin and Ahn Hyungseob
.
.
BIG THANKS TO
carissaows, Re-Panda68, byuneeparkk
Today, my forest is dark. The trees are sad and all the butterflies have broken wings.
Park Woojin mendorongnya tidak berperasaan. Ditengah lapangan, kala seluruh siswa menjadi saksi sebuah kekerasan ini. Hyungseob merasa begitu malu. Tidak terbayangkan sekalipun bahwa Woojin akan menudingnya begitu kejam.
Jalang?
Lelaki bayaran?
Pemuas nafsu?
Sejak kapan Hyungseob melakukan hal sebejat itu?
Lee Dohyun tidak tinggal diam. Pemuda itu berdiri di depan Hyungseob sebagai tedeng aling-aling, menghadapi tuduhan yang Woojin layangkan pada Hyungseob.
"APA ALASANMU MENYEBUT HYUNGSEOB SEPERTI ITU, BRENGSEK?!"
Kekehan sarkas mengawali kalimat Woojin,"AKU MELIHATNYA SENDIRI! DIA MEMBIARKAN TUBUHNYA DIJAMAH OLEH ORANG YANG SUDAH BERISTRI!"
"JANGAN BICARA OMONG KOSONG!-"
"BAGAIMANA KALAU AKU MELIHATNYA SEDANG BERCUMBU DENGAN AYAHKU?! DIRUMAHKU SENDIRI?! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN KALAU ADA DIPOSISIKU!? AKANKAH KAU TETAP BERDIRI DI DEPANNYA LAYAKNYA SEORANG PAHLAWAN?!"
Dohyun kehilangan suara ditengah orang-orang yang mulai menuduh Hyungseob tanpa tahu kebenarannya. Tak ayal, dia melangkah mundur, membiarkan Woojin menatap Hyungseob jijik tanpa tabir. Dohyun sadar, kekalahan tengah memeluknya.
Dengan matanya sendiri, Dohyun melihat ludah Woojin jatuh diatas sepatu Hyungseob yang menangis dalam diam.
Apakah hanya Dohyun yang dapat melihat sosok penuh cahaya itu hidup dalam tubuh Hyungseob?
"Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu-"
Hyungseob tersenyum kecut. Hari-hari yang pernah dimimpikannya, hari dimana Woojin akan menerima keberadaannya, sepertinya tak akan pernah datang. Matanya menangkap bekas air ludah di sepatunya sengit seakan bekas itu tengah mengejek Hyungseob yang begitu lemah.
"Terima kasih sudah melangkah sejauh ini," angin kembali berdesir lembut, menerbangkan daun kering dan menjatuhkannya ke sungai,"untukku."
"Aku tahu kau bisa melihat semuanya." Lanjut Hyungseob.
"Aku...," Dohyun kehilangan suaranya. Dia takut, apa yang selama ini ada di depannya adalah apa yang Hyungseob maksud sebagai kebohongan dan kejujuran pemuda manis itu.
Si mungil menengadahkan tangan kanannya di hadapan Dohyun, meminta pemuda yang lebih besar meraih tangannya,"Akan kuperlihatkan."
Begitu kedua tangan itu bersentuhan, hujan pun turun, melunturkan keberadaan kedua orang yang tengah menuju dunia mereka sendiri.
Mereka hilang.
Im Youngmin melihat dengan jelas bagaimana risaunya Woojin. Pekerjaannya berantakan dan pemuda tan itu terlihat uring-uringan. Belum ada satu jam sejak Woojin memulai shiftnya, tapi Youngmin sudah memanggilnya untuk berhenti dan meminta Woojin untuk datang ke ruangannya.
Dua gelas es kopi dihadapan mereka tersisa setengah. Sementara Youngmin menunggu Woojin siap untuk bercerita tentang kerisauannya, Youngmin berhasil membuka percakapan, contohnya dengan menceritakan kisah-kisah masa remajanya.
"Aku bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang sepertimu, hyung." Ujar Woojin pada akhirnya. Sekali pun dia tidak menyimak cerita Youngmin, dia harus tetap berpura-pura terkesan.
Senyum tipis menghiasi wajah Youngmin,"Sekarang giliranmu."
"Hah?"
"Giliranmu bercerita. Kupikir kau butuh itu."
Seumur-umur, tidak ada yang pernah menawarkan Woojin tempat untuk bercerita, tidak pula kedua orang tuanya. Semua rasa yang menghinggapi Woojin, akan ditelan pemuda berkulit tan itu bulat-bulat.
Namun apakah Woojin sekarang membutuhkan Youngmin untuk menampung kisahnya?
Benarkah Woojin selemah itu sampai tidak kuat memikul bebannya sendiri?
Woojin juga penasaran.
Maka dari itu, bibir Woojin mulai bergerak, menceritakan kejadian-kejadian yang menghimpit dadanya, mempersulit langkahnya, menutup mata hatinya dan menjadi bebannya.
Kim Youngmin, bos di tempat kerjanya, sekarang bukan lagi sekedar orang asing. Mereka mengenal kisah masing-masing selayaknya saudara kandung. Gambaran nyata dari dua orang yang tengah bergantung satu sama lain demi keluar dari padang pasir.
Tidak ada yang lebih buruk dari pada ini. Lee Dohyun tiba-tiba pindah sekolah setelah kejadian itu, Hyungseob pun dikucilkan terang-terangan. Setiap hari mejanya akan di penuhi sampah, coretan spidol dengan kalimat tidak senonoh secara bergantian. Kebanyakan menulis tentang hal-hal berbau seksual serta hinaan, seperti; mau sex denganku?, lubangmu sudah kotor ya?, Kukira kau polos, ternyata hanya topeng, dan sebagainya. Lokernya pun tak luput menjadi sasaran. Hyungseob hanya tak menyangka mereka akan membobol lokernya. Hari ini, seluruh isi lokernya bahkan sudah penuh air. Buku, seragam ganti dan sepatu cadangannya basah.
Aku harus menemukan tempat rahasia untuk menyimpan barangku, pikirnya kemudian.
Setidaknya walau orang lain menuduh Hyungseob sembarangan, dia masih belum habis akal. Sejatinya dia bukan manusia, kenapa harus risau meladeni mereka. Sekali menjentikkan jari saja, di bisa menyingkirkan mereka. Tapi Hyungseob tidak ingin menggunaka cara instan seperti itu. Dia ingin melihat sejauh mana tekad Woojin menjatuhkannya. Selain itu, dia akan mengajarkan kepada orang lain untuk tidak melihat sesuatu sebelah mata dari semua kejadian ini.
Niatnya turun ke Bumi ini adalah untuk merubah bagaimana buruknya cara Woojin bersikap terhadap seseorang. Jika mendekati Woojin dengan cara baik-baik gagal, maka Hyungseob akan menggunakan cara yang lebih memaksa.
Tapi tidak sekarang!
Untuk sekarang, biarkan Woojin menikmati posisinya yang berada di atas.
Ingatkan kalau roda selalu berputar?
TEBECEH
Untuk yang pengen baca lewat wattpad juga bisa ya. Silahkan dicari user "yeowonn". Judul ffnya tetep sama kok.
