Title: Nanny.
Genre: Fluff, Comedy
Main Couple: TaoRis
Supporting: OC Child: Yi Tao; EXO; multi-kpop stars
Description/Summary: Tao membutuhkan pekerjaan untuk membantu saudaranya yang berada di China. Sahabatnya, Baekhyun, memberitahunya tentang lowong pekerjaan yang diberitahu oleh Chanyeol, kekasih Baekhyun. Tetapi pekerjaan itu adalah… pengasuh.
A/N: I do not own this story. All the story-line is belong to CoffeeMilk.
- (TAORIS) - (TAORIS) - (TAORIS) -
Tao keluar dari ruang kerja itu dan menutup pintunya dengan perlahan.
'Lumayan juga.'
Tao berbalik dan berjalan menuju ruang tamu mansion Kris.
'Tunggu.. Apa itu ada di sana tadi?' Tao melihat dua patung kecil di lantai. 'Aku yakin tadi patung itu tidak ada di sini... atau...' Tao menoleh ke belakang dan menggaruk belakang kepalanya. 'Apakah aku... atau...'
Tao bingung sekarang; dia tidak bisa mengingat tadi Chanyeol dan dirinya masuk lewat sebelah kiri atau kanan.
"Baiklah, aku yakin lewat sebelah sini... bukan, tapi patung itu tidak di sana tadi...atau mungkin," Tao berbalik lalu melompat terkejut saat ia melihat Yitao berdiri di ujung lorong.
'Astaga!' Tao menaruh tangannya di dada. 'Anak itu! Ah, tunggu sebentar...! Yitao!'
"Ah, Yitao?"
Anak kecil itu hanya berdiri, sambil memegang boneka alpaca-nya.
"Um, apa kamu tahu kemana aku harus pergi? Sepertinya aku tersesat.. Hei tunggu!"
Yitao berlari; Tao mengikuti Yitao.
'Mungkin dia mau mengeluarkanku dari tempat yang membingungkan ini!'
Yitao berbelok di pojokan dan Tao berjuang agar tidak kehilangan sosoknya. Saat Tao berbelok ke kanan, Tao berhenti untuk mengumpulkan napas.
'Aku yakin... Dia seorang atlit lari.' Tao terbatuk kecil dan mencoba mengumpulkan napasnya kembali. 'Sial, aku kehilangannya.' Ia menggaruk belakang kepalanya. Tapi, setidaknya ia tidak berada di lorong yang membingungkan tadi.
Tao sekarang berada di ruang tamu lain yang dicat dengan warna yang lembut, tidak seperti di ruang tamu pertama yang tadi ia masuki, semuanya hanya berupa tembok putih dengan aksen berwarna hitam. Tao mulai berkeliling, mengagumi perabotan dan tanaman kecil di sekitarnya. Harum bunganya yang menyejukkan membuat Tao merasa hangat di dalam.
Tao mengalihkan perhatian dari bunga itu untuk melihat sebuah lukisan keluarga di atasnya.
'Wah!' Matanya melebar. 'Lukisan ini sangat.. mengagumkan!' Tao mendekati lukisan itu untuk melihatnya lebih dekat.
Lukisan itu adalah potret diri Kris dan mendiang istrinya, Tai.
"Cantik sekali." Tao berkata pada dirinya sendiri. Tai terlihat sempurna di lukisan itu. Matanya memancarkan ketulusan, ekspresi wajahnya terlihat sangat polos. "Aku tebak Yitao memikiki semua gen ibunya." Tai mempunyai rambut ikal panjang sepinggang yang berwarna hitam dan matanya seperti mata panda. "Mungkin Yitao mendapat tingginya dari Kris. Dia terlihat cukup tinggi."
Ia kembali menatap lukisan itu. "Sungguh sangat disayangkan.. ia juga masih muda." Tao berjalan pergi dan mulai mencari jalan untuk keluar.
"Rumah ini terlalu besar! Aku serius!" Tao berbisik pada dirinya sendiri. Tao kembali berjalan, sampai ia mendengar suara seseorang. "Oh! Ada orang!" Tao berjalan dengan cepat menuju sumber dari suara itu. Ia akhirnya sampai, dan berakhir di dapur. Tao mengintip ke dalam dan melihat lelaki lain yang memakai seragam yang sama dengan Chanyeol, hanya saja warnanya emas bukan merah anggur seperti milik Chanyeol. Lelaki itu berbicara dengan seorang lain berbaju putih yang sedang memasak. Tao perlahan menghampiri mereka dan terbatuk kecil untuk mendapatkan perhatian mereka. Keduanya terkejut.
"Siapa kau?" salah satu dari mereka yang berpipi bulat berkata, sambil mengacungkan pisau padanya. "Aku akan memanggil petugas keamanan!"
"T-tunggu! Aku pekerja baru di sini! A-aku pengasuh Yitao!"
"Apa?" kata lelaki satunya. "Pengasuh? Apa yang terjadi dengan pengasuh lainnya?"
"Um, ia keluar." Tao menggosok belakang lehernya. "Ia baru saja berhenti. Aku pengasuh baru Yitao."
"Oh," kedua lelaki itu bertatapan satu sama lain, lalu kembali menatap Tao. "Yah, baiklah," kata lelaki berpipi bulat. "Oh ya, namaku Xiumin. Aku koki di sini." Lalu, ia menunjuk lelaki di sampingnya. "Dan dia Chen, salah satu supir Kris."
Tao menunduk kepada keduanya. "Salam kenal. Namaku Tao."
Xiumin menunduk. "Apa kamu menginginkan sesuatu untuk di makan?" Ia berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa bahan makanan.
"Tidak usah. Um, sebenarnya Kris menyuruhku untuk menemuimu." kata Tao sambil melihat pada Chen.
"Aku?"
Tao mengangguk. "Ya. Dia ingin aku kembali ke apartemenku dan mengambil barang-barangku. Aku akan tinggal di sini mulai sekarang. Aku ingin meminta tolong temanku, er, Chanyeol, tapi Kris mengajaknya pergi."
Chen mengangguk. "Baiklah, ayo kita pergi sekarang jika kau mau."
"Ya, tolong, itu akan lebih baik."
"Baiklah, tunggu sebentar." Chen berjalan ke belakang Xiumin lalu memutar badan Xiumin.
Chen mencium bibir Xiumin singkat. "Aku akan segera kembali Baoziku yang manis!" Chen berlalu dengan tertawa, meninggalkan Xiumin yang wajahnya memerah sedang menutupi mulutnya.
"Chen! Kau.. Kau!" Xiumin mendengus dan berbalik kepada Tao. "Aku minta maaf soal ini."
Tao tertawa. "Itu sangat manis." Ia tersenyum pada Xiumin dan mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan; ia mengikuti Chen dan mereka berdua meninggalkan rumah. Tao masuk ke mobil Chen dan mereka berangkat menuju tempat Tao.
"Jadi... Tao kan?" Chen menoleh pada Tao yang mengangguk. "Kenapa melamar sebagai nanny?"
"Pekerjaan ini seharusnya menjadi pekerjaan tambahan. Aku hanya ingin menghasilkan uang lebih karena saudaraku. Mereka masuk rumah sakit dan ayahku sudah tua dan tidak bisa membayar untuk itu."
"Oh, aku turut bersedih. Aku harap tidak ada yang serius."
Tao mengangguk. "Terima kasih." Ia terbatuk kecil. "Um, aku punya pertanyaan."
"Katakanlah."
"Ah, apa...tidak aneh untuk seorang nanny tinggal di rumah majikannya?"
Chen menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak juga. Nanny sebelumnya tinggal di rumahnya. Sebagian besar nanny tinggal di mansion, sementara sebagian lain tinggal di luar, tapi kebanyakan mereka tinggal di mansion karena tempat tinggal mereka jauh."
"Oh, aku mengerti." Tao menolehkan pandangannya lurus ke jalan. "Aku hanya ingin bertanya. Hanya merasa sedikit aneh. Terima kasih telah menjelaskannya."
"Tidak masalah. Jika ada yang lain, tanyakan saja padaku atau baoziku tentang apapun." Chen mulai terkekeh. "Jadi apa ini pertama kalinya kau bekerja sebagai nanny?"
"Iya."
"Ah, tapi kau tahu caranya memasak, membersihkan rumah, dan semua pekerjaan rumah tanggakan?"
Tao menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak tahu... Tapi, aku tahu cara membersihkan, karena hal itu harus bagiku yang tinggal sendiri."
Chen terkekeh. "Itu benar sekali."
"Tapi, aku akan belajar mengerjakan semua itu. Aku rasa tidak terlalu sulit."
- (TAORIS) - (TAORIS) - (TAORIS)
Keduanya sekarang tengah berada di tempat tinggal Tao. Tao dengan cepat menempatkan barang-barangnya di koper dan dia hanya membawa barang yang memang sangat dia butuhkan. Sementara Chen menyimpan koper-kopernya, Tao berbicara dengan pemilik apartemennya. Tentu saja pemilik apartemen itu sedih Tao pergi, tapi dia mengharapkan yang terbaik untuk Tao.
"Sekarang, kita harus pergi ke tempat kerjaku jadi aku bisa mengundurkan diri."
Chen menyalakan mobilnya. "Oke. Tunjukkan jalan kesana."
Ketika telah sampai disana, Tao menyampaikan pengunduran dirinya, walaupun sebenarnya dia tidak mau. Dia sangat sedih ketika melihat bossnya memohon padanya untuk tidak pergi.
"Maaf, tapi aku harus melakukan ini."
"Oh, baiklah," Si boss menghela nafasnya. "Aku mendoakan yang terbaik untukmu." Tao mengangguk dan membungkukkan punggungnya. Tao melambaikan tangannya dan melangkah menuju mobil Chen.
"Siap?"
Tao menghela nafasnya. "Ya. Ayo pergi."
Keduanya masuk ke dalam mobil. "Kau tahu," Chen berkata ketika ia duduk di tempatnya. "Kita harus pergi ke toko seragam untuk kau kerja. Kau tidak memiliki satu pun, kan?" Tao menggelengkan kepalanya. "Bagus! Ayo pergi untuk membelinya."
"T-Tapi, apa seragam yang seperti dipakai oleh para perawat dan sebagainya?"
"Jenis yang sama. Blahblah, ya." Chen mengatakannya sambil memainkan tangannya di udara. Membuat Tao tertawa kecil karenanya.
Chen mulai menjalankan mobilnya sampai mereka akhirnya sampai di sebuah toko pakaian kecil.
"Aku akan membantumu," Chen keluar dari mobil dan berlari kecil kearah Tao. "Aku pikir kita harus membeli 5 seragam untukmu. Memakai satu dua kali sehari atau hanya sehari tergantung dengan bagaimana keadaannya." Mereka memasuki toko itu dan mulai melihat ke sekeliling.
"Oh Tao! Ambil yang ini!" Tao memutar tubuhnya lalu tertawa kecil. "Seragam dengan motif panda ini sangat manis! Ambil yang ini!"
"Oke, tentu." Tao mengambil pakaian itu dari tangan Chen.
"Oh," Chen memegang satu seragam di hadapan Tao. "Dan yang ini juga! Disini ada dinosaurus kecilnya!"
"Te-Tentu, Chen," Dia mengambil seragamnya. "Sebenarnya, kau bisa memilih pakaiannya untukku."
"Bagus! Aku akan segera kembali!" Chen dengan cepat menelusuri toko itu. Berusaha untuk mencari pakaian yang paling bagus untuk lelaki panda itu. Tanpa banyak waktu, Chen kembali dengan tiga pakaian lainnya di tangannya. "Ini akan bagus untukmu."
Tao menganggukan kepalanya dan mereka berdua berjalan menuju kasir. Tao membayar untuk seragamnya dan berterimakasih untuk wanita yang ada di kasir. Dengan itu, Chen dan Tao kembali masuk ke mobil dan berjalan kembali ke rumah Kris. Omong-omong, sekarang sudah sore dan baik Chen maupun Tao belum makan siang sama sekali.
"Sini, berikan kepadaku," Chen menunjuk kepada salah satu koper Tao; Tao memberikan salah satu kopernya kepada Chen dan mengikuti Chen ke dalam rumah. Mereka berjalan sampai pada akhirnya mereka berhenti di pintu. "Ini akan menjadi kamarmu." Chen menunjuk pintunya. Tao menghela nafas.
"Serius deh, aku akan tersesat," Tao melihat ke belakang. "Aku bahkan tidak ingat bagaimana kita bisa sampai di sini."
Chen tertawa kecil. "Jangan khawatir. Ini salah satu hal yang nantinya kau akan terbiasa juga. Ayo, kamarmu sudah siap." Chen membuka pintunya dan mata Tao melebar begitu melihat kamar yang sangat bagus di hadapannya.
"Wah!" Kamar Tao memiliki dinding putih dengan beberapa lukisan yang dilukis oleh Tai menggantung di dinding. Ini adalah kamar yang modern dan kelihatannya sangat tidak terjangkau oleh Tao. Kamarnya bahkan tidak terlihat seperti kamarnya yang dulu. Mungkin Tao tidak dapat memberikan vas yang ada di meja. "Kau yakin ini kamar untuk pengasuh? Kelihatannya ini seperti kamar untuk tamu." Tao berkata tanpa ingin masuk ke dalam kamarnya, takut mengotori lantai dengan sepatunya yang kotor.
"Kris suka dengan barang-barang yang berkelas. Walaupun itu berarti kalau kamar pengasuh harus sangat bagus juga." Chen meletakkan koper Tao di dalam. "Ayo, kau lapar, kan? Kita tidak makan siang atau sebagainya."
Tao mengikuti Chen, tentu saja setelah menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Dengan cepat ia berlari kecil untuk mengejar sang supir, dia tidak ingin tersesat. Tanpa waktu lama, mereka telah sampai di dapur. Disapa oleh masakan Xiumin.
"Yah! Baunya enak~!" Tao mencegah air liur jatuh dari bibirnya di hadapan sang koki.
Xiumin terkikik. "Aku bisa membuatkan sesuatu untukmu. Apa yang kau mau?"
Chen memeluk Xiumin dari belakang. "Hm. Aku ingin sandwich."
"Yak!" Xiumin berbalik dan menyentil dahi Chen. "Aku bertanya pada Tao bukan padamu!"
"Sebenarnya, sandwich kedengaran enak." Tao tersenyum melihat kelakuan pasangan di hadapannya ini.
"Oke," Xiumin menggoyangkan tubuhnya, berusaha untuk keluar dari genggaman Chen, dan itu hanya membuat Chen merengek. "Duduk di sana bersama Tao." Dia menunjuk dengan sendoknya.
"Ya, honey," Chen menyeret kakinya dan duduk di meja dapur. Dia menepuk tempat duduk di sebelahnya, menunjukan kalau Tao harus duduk. Ketika Xiumin sedang membuat sandwich, mereka mendengar erangan. Membuat Tao menoleh.
"A-Apa itu?"
"Hm? Apa?" Chen memutar kepalanya untuk melihat Tao.
"Su-Suara itu! Tadi seseorang mengerang!"
"Oh, mungkin saja itu -,"
"Xiumin! Aku lapar!"
"Berbicara tentang si devil…," Chen bersandar di kursinya. Tao mencari darimana suara itu berasal. Laki-laki lain datang dengan ekspresi jengkel di wajahnya.
"Xiumin," Lelaki itu mengusap matanya. "Aku lapar."
Xiumin mengangguk dan menunjuk ke tempat dimana Chen dan Tao duduk. "Duduk di sana dan aku akan membuatkan sandwich untukmu. Oh, dan perkenalkan dirimu kepada pengasuh yang baru."
Lelaki itu berjalan ke meja dan mencari sosok sang pengasuh baru, tapi yang ia lihat hanya Tao yang duduk di samping Chen. "Dimana dia?" Lelaki itu bertanya ketika ia menoleh ke Xiumin.
"Duduk tepat di sebelah Chen."
Lelaki itu memeriksa dan ia melihat Tao dengan ekspresi terkejut di wajahnya. "K-Kau, kau pengasuhnya?"
Tao mengangguk. "Ya. Pengasuh baru untuk Yitao."
"Jadi," Lelaki itu duduk. "Kau itu… wanita dengan penampilan sangat lelaki?"
"Sehun!" Xiumin memarahi Sehun. "Itu tidak sopan! Cepat minta maaf!"
Orang yang bernama Sehun mengerucutkan bibirnya dan menoleh kearah Tao. "Maaf tentang itu. Namaku Sehun, seperti yang kau tau, dan aku adalah tukang kebun rumah ini."
Tao menganggukan kepalanya. "Namaku Tao. Senang bertemu denganmu."
Xiumin berjalan menuju meja dan meletakan piring-piring dengan empat sandwich berbentuk kotak sempurna yang berada di hadapan mereka. "Makan, guys. Mau air putih, teh, limun dingin?"
"Aku hanya ingin air putih," Tao berkata sambil mengunyah sandwichnya.
"Aku juga," Dua orang lainnya berkata bersamaan. Dengan itu, Xiumin mengangguk dan mengambil empat buah gelas dan air putih.
"Jadi, Sehun," Orang yang lebih muda mengalihkan pandangannya dari sandwich untuk melihat kearah Tao. "Pasti butuh kerja keras, menjadi tukang kebun dan semacamnya. Aku melihat taman yang berada di luar dan juga tanaman yang berada di dalam rumah dan aku harus mengatakan, mereka terlihat sangat segar dan cantik."
Sehun mengusap mulutnya dengan serbet. "Terimakasih. Yah, itu memang benar. Tapi biasanya aku mengerjakan taman yang di luar. Tanaman yang ada di dalam itu palsu, yah, hampir semua palsu."
"Istri Kris yang sudah meninggal sangat suka memiliki tanaman dan bunga di dalam rumah," Xiumin berkata sambil duduk di hadapan Chen. "Kutebak Kris hanya ingin melanjutkannya. Biasanya, istrinya-lah yang akan memilih bunga dan lainnya, tapi sekarang, karena Kris sibuk dan sebagainya.. dia menyuruh Sehun untuk membeli beberapa bunga palsu dan menaruhnya di dalam rumah."
"Rumah ini berbau seperti, yah kau tau, seperti bunga," Chen berkata sambil melambai-lambaikan tangannya. "Baunya enak. Tapi sekarang, rumah ini berbau seperti, seperti rumah."
Tao tertawa kecil; ia menggigit sandwichnya. "Aku memiliki pertanyaan."
Xiumin melihat kearah Tao dan menaruh gelasnya. "Silakan."
"Aku tidak tau kalau itu hanya di tempatku atau bagaimana," Tao berdehem. "Apa yang terjadi pada Tai? Maksudku, berita-berita itu tidak pernah benar-benar mengatakannya. Aku tau ia sudah meninggal, tapi mereka tidak pernah mengatakan penyebabnya, jadi aku berfikir, kalau kalian tau mengenai ini."
Tiga pekerja itu hanya diam. Sehun menoleh kearah Xiumin, yang sedang merenungkan apakah ia seharusnya mengatakannya pada Tao atau tidak.
"Well," Sehun membetulkan duduknya. "Alasan mengapa media tidak pernah mengatakannya adalah karena Kris membayar mereka untuk tidak mengatakannya."
"Oh?" Tao memiringkan kepalanya. "Kenapa ia membayar media untuk tidak mengatakannya?"
"Dia, well, dia mencegah media untuk memberitakannya karena ia tidak ingin Yitao tau. Begini, Tai mengalami kecelakaan mengerikan di London. Dia datang dari Paris, karena dia merupakan tuan dari salah satu galeri besar di sana, dan ingin melihat Kris membuka salah satu tokonya yang baru, tapi seorang pengendara yang mabuk menabrak mereka, untuk lebih jelasnya, pengendara itu menabrak sisi Tai. Kris sangat hancur bahwa ia harus menunda perilisan tokonya. Dia tidak ingin Yitao tau karena Yitao terlalu muda dan sebagainya."
"Ya Tuhan," wajah Tao memucat. "Itu sangat mengerikan," Dia melihat ke sandwichnya yang baru ia makan setengah. "Sangat banyak rumor tentang bagaimana ia meninggal, tapi aku hanya ingin tau.. yang benar."
"Hm," Xiumin berdehem. "Untuk melanjutkannya, Kris pulang ke rumah beberapa minggu kemudian dan mengatakan kepada semua pekerjanya tentang kejadian itu dan memaksa kami untuk tidak mengatakan apapun pada Yitao." Xiumin menghela nafas. "Aku ingat ketika Kris pulang kerumah, Yitao berlari kearahnya, memeluk kakinya dan menanyakan dimana Ibunya. Dia tau kalau Tai seharusnya pulang bersama Kris, tapi bagi Kris, dia menghindari pertanyaan ini dan mengatakan padanya untuk pergi karena Kris sudah terlalu lelah. Dan beberapa hari kemudian, Yitao kembali bertanya dan Kris tetap tidak mengatakan apapun padanya. Yitao menangis, menangis terlalu kencang sampai Kris hendak meledak dan ya, dia meledak."
Mata Tao melebar.
"Kris sangat marah dan berteriak kepadanya," Xiumin melihat kearah jari-jarinya. "Itu adalah pertama kalinya bagi kami mendengarnya berteriak. Dia tidak pernah berteriak sebelumnya, bahkan ketika kami melakukan kesalahan, kecil maupun besar, ia akan berkata 'itu baik-baik saja' atau 'hati-hati'. Sesuatu seperti itu."
Sehun menganggukan kepalanya. "Hal itu benar-benar mengejutkan kami. Hal itu mungkin merupakan hal paling menakutkan dari semuanya. Tapi itu bukan hal yang paling buruk. Tanpa sengaja Kris mengatakan kalau Tai sudah meninggal. Ya Tuhan, kau harus melihat wajah Yitao saat itu. Matanya bagaikan burung hantu dan airmata mulai terbentuk di matanya. Hatiku hanya.. kau tau, terasa hancur ketika melihatnya," Sehun menghela nafasnya. "Dan sejak saat itu, Yitao tidak pernah berbicara." Dia melihat kearah Tao. "Waktu itu dia berumur 2 tahun, sekarang dia berumur 4 tahun."
"Apa?!" Tao benar-benar terkejut. 'Yitao tidak bicara selama 2 tahun? Tapi.. bagaimana...,' Tao merasa hatinya sesak. 'Malangnya Yitao.'
"Sekarang," Chen bersandar di atas meja untuk mengistirahatkan sikunya. "Seisi rumah tidak seperti dulu lagi. Aku yakin Yitao sangat rindu bermain bersama ayahnya, dan aku yakin Kris juga, tapi dia hanya merasa bersalah karena berteriak pada anaknya beberapa tahun yang lalu," Dia menggelengkan kepalanya. "Sekarang hubungan mereka sangatlah jauh. Aku ingin tahu Yitao akan tumbuh menjadi apa. Aku bahkan lupa bagaimana suaranya."
Xiumin dan Sehun menganggukan kepala; Tao duduk di sana penuh dengan kesedihan. Dia tidak dapat membayangkan apabila dirinya yang berada di posisi Yitao. Dia tidak berbicara pada ayahnya selama 2 tahun; dia mungkin akan gila. Tao memiliki hubungan yang baik dan kuat dengan keluarganya, terutama ayahnya; dia seperti sahabatnya sendiri.
Tao menghela nafasnya; suasana sunyi. Xiumin meminum minumannya sedangkan dua orang lainnya melanjutkan makannya.
"Um, tentang apa yang Chanyeol bilang, tentang Yitao tidak mendengarkan ucapan yang lain, apakah itu benar?"
Xiumin tertawa kecil. "Itu semacam, yah, benar. Kadang dia tidak mendengarkan, tapi dia masih kecil, kan?" Tao mengangguk. "Well, ada saat-saad dimana dia tidak mendengarkan."
"Dia paling sering mendengarkan Xiumin, tapi tidak pernah berbicara dengannya," kata Sehun. "Kebanyakan seperti uji coba bagi para pengasuh. Sebagian pengasuh tidak sabaran, lalu mereka memutuskan untuk pergi," Sehun menjentikkan jarinya. "Seperti itu. Tapi ada beberapa yang bersedia untuk melakukannya, tapi akhirnya mereka pergi karena mereka tidak dapat melakukan itu."
Tao mengangguk, namun ia sedikit gugup. 'Bagaimana jika Yitao mendorongku ke dinding? Aku akan gila dan mungkin akan berhenti… lalu aku tidak dapat mengirim uang untuk Luhan dan Yixing… Tidak! Ayo Tao, kau pasti bisa melakukannya!'
Ketika memantapkan hatinya, Sehun memiringkan kepalanya, melihat kearah Tao. "Kau tau," ia menaruh tangannya di bawah dagu. "Kau terlihat seperti Tai."
Xiumin dan Chen melihat kearah Tao dan memiringkan kepala mereka. Tao melihat mereka dengan ekspresi aneh. "A-Apa yang kau bicarakan?"
Sehun memberi isyarat dengan matanya. "Kau punya… seperti mata dan bibirnya," Sehun mengangkat tangannya dan membuat bingkai dengan tangannya itu. "Hanya wajahmu. Yang kau butuhkan sekarang hanyalah rambut panjang bergelombang dan, BUM! Kau adalah Tai."
Xiumin menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Chen mulai tertawa. Tao memutar bola matanya. "Sehun, aku sudah men-checknya pagi ini dan sangat positif kalau aku ini lelaki."
"Bukan, bukan. Yang aku katakan adalah kau mirip dengan Tai. Hanya dari bagian leher keatas."
"Tai adalah dewi yang anggun! Walaupun dia sudah meninggal, semoga dia beristirahat dengan tenang, aku, jika aku perempuan, tidak akan terlihat seperti dia!"
Semua mulai tertawa kecil, bahkan Tao. Tawa itu terhenti ketika Xiumin melihat Yitao berdiri di pintu masuk.
"Oh Yitao," semua berbalik pada saat yang sama. Membuat Yitao bergeser karena merasa tidak nyaman. "Kau ingin makan sesuatu?"
Yitao menganggukan kepalanya, Xiumin berdiri dan berjalan menuju kulkas. "Ah, kita punya puding. Kau mau puding?"
Yitao menggelengkan kepalanya. "Umm, bagaimana dengan jeli?" Gelengan lain terlihat. "Um, coba kulihat," Xiumin menyebutkan daftar makanan yang ada di dalam kulkas, tapi Yitao akan menggelengkan kepalanya setiap kali. "Ah, bagaimana dengan stroberi? Kau ingin stroberi?"
Kali ini Yitao menganggukan kepalanya, membuat Xiumin tersenyum. "Baiklah. Duduk di dekat meja, ya? Aku akan membawa stroberinya kepadamu ketika mereka sudah siap." Yitao mengangguk sekali lagi dan berjalan untuk duduk di dekat meja.
"Well, aku akan keluar sekarang," Sehun berdiri sambil memegang piringnya. "Sampai nanti, Tao."
"Oke, sampai nanti." Tao memberikan lambaian kecil kepada Sehun. Ketika Sehun sudah pergi meninggalkan dapur, Chen berdiri.
"Aku akan kembali."
"Um," Chen merapikan kursinya lalu ia meletakkan piringnya di bak cucian. "Ba-Baiklah." Tao menghela nafas. Sekarang hanya ada dia dan anak kecil itu.
Tao menoleh kearah Yitao dan terkejut ketika melihat Yitao sedang menatap dirinya dengan mata besarnya yang mirip panda. "Erm," Tao bergeser di duduknya. 'Berfikir, Tao! Bicarakan sesuatu dengan anak ini!'
"Ah, apa kabarmu, Yitao? Baik?" Tao mengancungkan jempolnya.
Yitao melihat kearah ibu jari Tao yang teracung dan memiringkan kepalanya seperti dia bingung dengan apa yang sedang Tao lakukan.
"Um," Tao mengusap bagian belakang kepalanya. "Aku Tao. Kalau kau tidak tau, aku akan menjadi pengasuhmu yang baru."
Yitao berkedip; dia berbalik dan kini memperhatikan Xiumin yang sudah kembali dan tengah berjalan menuju mereka.
'Ini akan menjadi sesuatu yang sulit,' Tao menghela nafasnya. 'Untuk Luhan dan Yixing!'
- (TAORIS) - (TAORIS) - (TAORIS) -
Maaf untuk keterlambatannya. Dan terimakasih untuk review-review kemarin :) Untuk pertanyaan-pertanyaan dari kalian, iya, saya udah minta izin ke CoffeeMilknya langsung untuk translate fic ini. Kalau ga percaya kalian bisa liat ke FF aslinya di AFF, di foreword-nya udah ada translate-an ini sebagai translate bentuk Indonesia-nya :)
Makasih buat sweetgyu95 sama Jonanda Taw yang udah mau bantuin saya nge-translate fic ini. Makasih yaa~ *deepbow
And also Thanks To: Huang Nana Taoris EXOST, meme, BenS2Panda, WulannS, sweetgyu95, rarega18, ayam ayam, Jijiyoyo, GaemGyu92, Guest, Dark Shine, .id, pandragonn, pinkpolar, carkipul94, Jin Ki Tao, Swag Joker, PrinceTae, URuRuBaek, , dewilolola, Brigitta Bukan Brigittiw, 12Wolf, KissKris, renachun, ajib4ff, wyda joyer, Imeelia, zhoelichy, Kazehiro Yuki, Milky Andromeda, jettaome, Jonanda Taw, , 2TieKissKyumin, Oncean FOX, Nurfadillah, Asha lightyagamikun, Uchiha Aira, chirstalice, gegeimnida. Makasih buat review kalian. Maaf ga bisa bales :' *deepbow*
