Title: Nanny.
Genre: Fluff, Comedy
Main Couple: TaoRis
Supporting: OC Child: Yi Tao; EXO; multi-kpop stars
Description/Summary: Tao membutuhkan pekerjaan untuk membantu saudaranya yang berada di China. Sahabatnya, Baekhyun, memberitahunya tentang lowong pekerjaan yang diberitahu oleh Chanyeol, kekasih Baekhyun. Tetapi pekerjaan itu adalah… pengasuh.
A/N: I do not own this story. All the story-line is belong to CoffeeMilk.
- (TAORIS) - (TAORIS) - (TAORIS) -
Tao bergeser dalam tidurnya dan mengambil alarmnya. Dia memencet tombol off lalu berbalik sehingga kini ia berbaring lagi. Tao mengusap matanya dan perlahan bangun dari tempat tidurnya.
Dia menguap. 'Dan sekarang semuanya akan di mulai.'
Tao bangun pada jam 6:30 pagi, karena jam tujuh dia sudah harus menyiapkan sarapan untuk Yitao. Dia membereskan tempat tidurnya dan memakai shower pribadi yang ada di kamarnya.
'Sekarang, seragam yang mana? Panda atau dinasourus?' Tao akhirnya memutuskan untuk memakai koin untuk menentukan seragam mana yang akan ia pakai.
'Panda,'
Dengan cepat, Tao memakai pakaiannya dan lari ke dapur untuk menyiapkan panda kecil itu sarapan.
'Astaga!'
Tao memukul dahinya ketika teringat bahwa ia tidak tau caranya memasak.
'Apa yang akan aku lakukan sekarang?' Tao mengerang sambil menyisir rambutnya dengan jari tangannya. 'Aku harus menanyakan pada Xiumin apakah dia bisa membantuku.' Dia menghela nafasnya.
'Oh tunggu!'
Tao teringat akan apa yang biasa Luhan lakukan untuk dia dan Yixing setiap pagi.
"Ini dia!" Luhan meletakkan dua mangkok kecil di hadapan kedua adiknya. "Makanlah!"
Kemampuan memasak Luhan memang tidak terlalu bagus, tapi dia bisa memasak. Dia menggunakan plain yogurt dan meletakkan stroberi dengan pisang untuk membuat wajah senang yang sedang tersenyum di atas yogurt.
"Dan ini roti bakar kalian!" Luhan meletakkan piring kecil di antara dua adiknya. Roti bakarnya lumayan simple dan roti itu selalu membuat Tao tersenyum ketika melihatnya. Roti itu menggunakan selai kacang dan juga potongan pisang untuk membuat wajah tersenyum.
"Aku dapat membuatnya! Masakan itu sangat simpel!" Tao berlari menuju kulkas dan berharap semoga di sana ada yogurt.
"Yess!" Tao meraih yogurt dari dalam kulkas dan menaruhnya di meja. "Sekarang tinggal mangkuknya, buahnya dan... rotinya." Dia meraih semua barang penting dan mulai membuat sarapan yang sama yang dibuat oleh Luhan untuknya dan Yixing.
"Oh Tao," Tao berbalik dan melihat Xiumin yang berjalan memasuki dapur. "Kau membuatkan sarapan untuk Yitao?"
Tao menganggukan kepalanya. "Iya, tapi hanya sesuatu yang sederhana," Dia melihat kearah sarapan yang ia siapkan. "Kakakku membuat sarapan seperti ini untukku. Yah, ini memang sederhana. Tapi ini lebih baik daripada tidak ada apa-apa."
Xiumin mengangguk. "Itu benar. Dan, itu terlihat bagus," Dia tersenyum kearah sarapan itu. "Sangat lucu!"
Tao tertawa kecil. "Terimakasih," Dia meletakkan piring dan mangkoknya diatas nampan. "Jadi, aku yang membawa Yitao turun atau…?"
"Oh, kau bawakan sarapan itu untuknya. Ia makan di dalam kamarnya."
"Dia makan di dalam… kamarnya?" Xiumin mengangguk.
"Ya, di dalam kamarnya."
Tao mengerutkan alisnya. Secara pribadi, Tao tidak menyukai hal itu; dia selalu berfikir kalau sebuah keluarga harus selalu makan bersama, tidak peduli seberapa sibuk-pun mereka, keluarga adalah nomor satu.
"Oh.. baiklah," Tao mengangkat nampannya dan berjalan menuju kamar Yitao. Tapi, tanpa selang waktu yang lama, dia kembali ke dapur.
"Um, Xiumin?" Xiumin berbalik dan memiringkan kepalanya.
"Ya?"
"Dimana kamar Yitao?"
Xiumin tertawa kecil dan mengatakan bagaimana untuk sampai ke kamar Yitao.
"Makasih Xiumin!" Tao berlari menuju kamar Yitao, sedikit hati-hati karena ia sedang memegang nampan berisi sarapan untuk Yitao. Ketika ia sampai di depan kamar panda kecil itu, dia mengetuk pintunya.
"Yitao? Um, i-ini aku, Tao. Pengasuhmu."
Jelas saja, Yitao tidak memberi respon maupun membukakan pintunya untuk Tao.
'Hm.' Tao menyesuaikan nampan yang ada di tangannya dengan satu tangannya yang bebas, lalu ia meraih gagang pintu dan membukanya. Kamar Yitao bukan seperti kamar yang Tao pikirkan untuk anak berumur 4 tahun. Kamarnya sangat bersih dan tidak seperti anak berumur 4 tahun lainnya, Yitao tidak memiliki mainan yang berserakan. Diatas meja kecil yang ada di kamarnya, ada setumpuk kertas yang tersusun rapi, dan juga krayon yang diletakkan dengan rapi di sebelahnya. Bahkan boneka-bonekanya berjejer dengan rapi.
'Wow, anak ini suka ke-teraturan,'
Matanya menelusuri Yitao, yang punggungnya berhadapan dengannya.
"Um, Yitao," Yitao melihat melalui pundaknya, namun memalingkan kepalanya lagi dari pengasuh yang ada di depannya.
'Well,' Tao mengerucutkan bibirnya dan meletakan nampannya di meja.
"Ayo, Yitao!" Tao mengatakan dengan nada ceria. "Sarapannya benar-benar enak. Aku membuatnya sendiri." Tao berbalik untuk melihat apakah Yitao bergerak dari tempat tidurnya, namun ternyata ia tidak bergerak sedikitpun. Tao menghela nafasnya; Tao berjalan kearah jendela dan membuka tirai, untuk membiarkan sinar matahari masuk. "Oh, lihat Yitao! Hari ini cerah!" Tao melihat melalui pundaknya dan tersenyum kearah si panda kecil. "Hei, kenapa kita tidak pergi keluar hari ini? Kita bisa bermain di taman!"
Yitao bergerak dan kini ia menghadap kearah Tao. Dia perlahan bangun dan mengusap mata kirinya dengan tangannya.
"Aku tau kau akan bangun!" Tao berjalan kearah anak lelaki itu dan membungkuk. "Sekarang, kenapa kau tidak mandi dan bersiap-siap? Lalu kita bisa keluar dan bermain! Erm, kau tau cara mandi, kan?"
Anak lelaki itu menatap kearah Tao; dia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Oke..," Tao berdiri. "Aku akan menyiapkan pakaianmu!" Dia berjalan kearah lemari untuk memilih pakaian bermain untuk Yitao.
'Hanya ini? Hanya pakaian dari perancang?' Tao melihat ke dalam laci dan di sana tidak ada apa-apa untuk bermain. 'Aston Martin… Dior, apakah itu.. apa? Gucci?!' Tao meraih selendang Gucci coklat Yitao yang terbuat dari sutra. 'Ya Tuhan, anak ini…,' Dia meletakan itu di tempatnya semula dan kembali mencari pakaian.
"Ini bisa di pakai," Tao meraih kardigan Aston Martin yang terbuat dari wol halus berwarna biru tua serta baju lengan panjang yang terbuat dari katun berwarna putih dari Aston Martin. "Dan, celana ini," Dia tampak melihat bolak-balik kearah pakaian yang ia pilih, memastikan kalau pakaian yang ia pilih terlihat cocok. "Yah, ini bisa di pakai, kupikir." Tao berjalan dengan jins denim berwarna biru tua dan meletakannya di tempat tidur Yitao. Sudah puas, ia kini mengetuk pintu kamar mandi.
"Yitao, kau sudah hampir selesai?"
Seperti mendengar aba-aba, Yitao keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi putihnya.
"Ah, kau sudah selesai," Tao melihat kearah pakaian yang ia pilih. "Aku sudah memilih pakaian untukmu. Kuharap, umm, well, kau tau.. terlihat bagus. Oh!" Tao berjalan menuju laci-laci dan membuka salah satu diantaranya. "Ah, aku melupakan pakaian dalam-mu. Ini," Tao menyerahkan pakaian dalam Yitao kepada pemiliknya dan berbalik. "Aku akan memberimu privasi."
Dia menunggu beberapa saat sebelum ia berbalik lagi. Dia membantu Yitao memakai pakaiannya, dan yang mengejutkan adalah, hal ini tidak se-susah yang ia pikirkan.
"Nah!" Tao merapikan pakaian Yitao. "Sempurna, ya?"
Yitao menatap Tao dan mengambil langkah mundur. Dia mengangkat kaki kanannya menunjukkan pada Tao kalau ia memerlukan sepatu.
"Oh! Benar! Kita tidak bisa berlari kalau kau tidak memakai sepatu," Tao berjalan kembali ke lemari untuk melihat sepatu-sepatu yang diletakkan di rak sepatu. 'Jeez, bahkan anak ini memiliki sepatu Gucci.' Tao mengangkat sepasang sepatu dan menunjukannya kepada Yitao.
"Bagaimana dengan ini?" Tao menunjukkan kepada sang panda kecil sepatu Ralph Lauren berwarna putih yang terbuat dari kulit. "Ini akan cocok, kan?" Tao tersenyum, namun si panda kecil menggelengkan kepalanya.
"Erm, oke," Tao meletakkan sepatu itu kembali dan mulai mencari lagi. "Bagaimana dengan ini?" Sekali lagi, Yitao menggelengkan kepalanya.
Butuh waktu bagi Tao untuk memilih sepatu yang benar untuk Yitao, tapi ketika hal itu sudah selesai, Tao berjalan kearah nampan yang ia tinggalkan di meja. Yitao memiringkan kepalanya, seolah bertanya-tanya akan hal yang Tao lakukan.
"Hari ini, kau akan makan di dapur, oke?"
Tao berjalan kearah pintu dan membukanya. Dia memberi isyarat pada Yitao untuk mengikutinya, tapi Yitao tetap berdiri di sana. Sang pengasuh menghela nafasnya.
"Please Yitao, kau harus memakan sarapanmu. Plus, itu akan lebih baik daripada makan di kamarmu. Xiumin ada di sana. Apakah kau tidak ingin mengatakan selamat pagi kepada Xiumin hyung?"
Yitao merenung, tapi ia menganggukan kepalanya; ia mengikuti Tao turun ke dapur. Ketika mereka telah sampai di dapur, tercium aroma lezat di sana.
"Kami kembali!" Tao mengatakannya dengan senyum ceria. Dia meletakkan nampannya di meja dapur dan menepuk sebuah kursi untuk mengatakan pada Yitao bahwa ia harus duduk.
"Oh, Yitao. Selamat pagi," Xiumin tersenyum kepada anak lelaki itu yang hanya menganggukan kepalanya.
"Tao, bagaimana cara kau melakukannya? Yitao tidak pernah keluar dari kamarnya saat waktu sarapan." Xiumin membisiki Tao.
"Aku hanya, kau tau, mengatakan bahwa ini akan lebih baik daripada makan di dalam kamarnya. Plus, aku mengatakan 'apakah kau tidak ingin mengucapkan selamat pagi kepada Xiumin hyung?'"
"Oh.. Ini adalah pertama kalinya ia ke bawah untuk makan. Sangat mengejutkan."
Tao menganggukan kepalanya dan berjalan kembali ke tempat Yitao duduk. Dia mengerutkan alisnya; Yitao tidak memakan sarapan yang telah ia buat.
"Kau tidak ingin memakannya Yitao? Ini enak!" Tao meraih sendok dan menyendok yogurt dengan potongan stroberi. "Ini, satu gigitan?" Dia membawa sendoknya mendekat kearah mulut Yitao, tapi hanya mendapat Yitao yang menjauhi sendok itu dan bersandar ke kursi.
Yitao menggelengkan kepalanya; dia mendorong mangkuknya menjauh darinya, mendorong ke tepi meja. Mangkuk itu jatuh, tapi dengan refleks Tao yang cepat, dia berhasil menangkapnya.
"Wah! Yitao, hati-hati!" Tao menaruh mangkuk itu di meja lagi dan meraih serbet untuk menghilangkan yogurt yang ada di meja. Sedangkan Yitao, ia terkejut dengan refleks cepat yang dimiliki Tao.
"Oke," Tao kembali membawa sendoknya kearah Yitao. "Buka mulutmu. Kau butuh sarapan, Yitao. Sarapan adalah bagian terpenting." Tao berkata dengan nada seperti menyanyi, tapi Yitao menggelengkan kepalanya dan bersandar kembali ke kursinya.
Tao menghela nafasnya. 'Ayolah Tao. Berfikir. Anak ini butuh sarapan.'
"Satu gigitan saja, Yitao. Ayahmu menginginkanmu menjadi anak yang sehat dan kuat."
Yitao mengaibaikannya dan menyilangkan lengannya. Tao meletakkan sendoknya di mangkok dan mengerutkan keningnya.
'Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?' Tao berfikir sambil melihat kearah makanan itu.
Xiumin memperhatikan dari balik konter dengan segelas jus apel di tangannya. Dia sangat merasa kasihan dengan Tao. 'Dia mulai frustasi.' Dia meneguk jus apelnya. 'Ayo Tao. Berfikirlah.'
Sang pengasuh meraih sendoknya sekali lagi dan kembali meletakannya di depan Yitao. "Ayolah Yitao, hanya satu suapan. Ini sangat enak, aku berjanji."
Panda kecil itu melihat kearah Tao, lalu melihat kearah sendoknya.
"Kau akan menyukainya, janji! Aku juga memakannya dulu. Dulu kakakku membuatkannya untukku dan saudaraku. Um, ini membawa kebahagiaan untuk orang yang memakannya," Dia menunjuk kearah makanan. "Kau lihat, mereka semua memiliki wajah yang tersenyum. Kalau kau memakannya, maka kau akan dipenuhi dengan kebahagiaan."
Yitao melihat kearah Tao dengan mata melebar; lalu dia melihat kearah sendok dan kembali melihat kearah pengasuhnya. Dengan perlahan dia mendekat dan membuka mulutnya. Menandakan pada Tao untuk menyuapinya. Tao tersenyum dan mulai menyuapi si panda kecil.
"Sangat bagus, Yitao!" Tao memuji membuat panda kecil itu sedikit merona. Xiumin tertawa kecil dan berdiri tegak.
'Wow, dia berhasil.'
Tao melanjutkan kegiatannya menyuapi Yitao dengan senyum yang tercetak di wajahnya. Dia merasa bangga akan dirinya karena berhasil menyuapi Yitao sarapan, terutama karena ini adalah buatannya. Tao melirik kearah Xiumin, yang tengah membuat cafe au lait untuk tuannya, dan tersenyum kearahnya karena keberhasilannya. Xiumin menganggukan kepalanya dan mengancungkan jempolnya.
"Xiumin," kedua pekerja itu melihat kearah pintu dapur untuk melihat Kris mendekat, ia memakai salah satu pakaian yang ia rancang, dua-duanya hitam dengan kancing berwarna merah gelap dan dasi hitam, disertai dengan pin naga di sebelahnya. "Kopiku sudah siap?" Dia meletakkan tas kerjanya di konter dan membukanya untuk meletakkan beberapa kertas dan foldernya.
"Ya sir, ini," Xiumin menyerahkan kopinya. "Ah sir, lihat," Dia menunjuk ke meja dapur tempat dimana Tao dan Yitao sedang duduk. "Tao bisa membawa Yitao kebawah dan memakan sarapannya."
Kris melirik kearah meja dapur dan melihat Yitao yang tengah disuapi oleh Tao.
"Yitao," Tao dengan lembut berkata. "Ayahmu ada di sini. Apakah kau tak ingin mengatakan selamat pagi?"
Yitao berbalik di kursinya untuk melihat kearah Ayahnya, tapi melihat kearah bawah dan secara perlahan kembali melihat kearah Tao, membiarkan si pengasuh menyuapinya lagi. Tao dapat merasakan kerutan yang akan di buat.
Kris menghela nafasnya dan meletakkan gelas berisi kopi di konter. "Xiumin, ada tamu yang akan datang malam ini untuk membicarakan bisnis. Jadi aku membutuhkanmu untuk memasakan apapun yang terbaik. Aku mempercayaimu."
Xiumin mengangguk. "Ya, sir."
Kris meraih tas kerjanya dan melirik kearah anaknya; dia berjalan kearahnya dan menepuk kepala Yitao.
"Aku berangkat. Jadilah anak yang baik," kata Kris. Dia beralih melihat kearah Tao. "Dan, berhentilah menyuapinya. Dia bisa melakukannya sendiri, dia itu sudah 4 tahun bukan 1, atau 2." Setelah mengatakan itu, Kris meninggalkan dapur.
Tao menghela nafasnya dan melihat kearah si panda kecil, dan tersenyum kearahnya. "Tidak masalah untukku menyuapimu, Yitao," Panda kecil itu melihat kearah pengasuhnya. Tao mengancungkan jari kelingkingnya. "Ini akan menjadi rahasia kecil kita, oke?"
Yitao duduk di sana dan kembali bersandar di kursinya dengan ekspresi datar.
"Ah, oke," Tao menarik kembali kelingkingnya dan menyendokkan sesendok penuh yogurt ke mulut Yitao. "Ini, ayo makan lebih banyak."
Butuh waktu bagi Yitao untuk kembali makan, namun dia bisa menghabiskan sarapan yang disiapkan Tao untuknya.
"Yah, Yitao! Kau menghabiskan semuanya! Aku sangat bangga padamu~!" Tao memegang pipi Yitao. "Makanannya enak, kan?"
Mata Yitao melebar; ia menggoyangkan badannya dan melepaskan diri dari genggaman Tao, ia cepat-cepat keluar dari dapur, meninggalkan Tao yang sangat bingung. Xiumin tertawa kecil melihat aksi Yitao.
"Dia mungkin hanya terkejut dengan ulahmu, Tao. Tidak ada pengasuh lain yang seperti itu."
Tao mengangguk. "Oke. Yang penting ia tidak membenciku atau sebagainya." Dia berdiri dan membereskan piring bekas makan Yitao ketika Xiumin berbicara.
"Tinggalkan saja, aku akan membersihkannya." Xiumin mengatakannya dengan senyum di wajahnya.
"Terimakasih. Aku akan pergi keatas untuk mengeceknya," Tao meninggalkan dapur. 'Mungkin dia ada di kamarnya?' Tao pergi ke kamar Yitao dan mengetuk pintunya. "Yitao?"
Tidak ada respon, tapi Tao mengulangi aksinya. "Yitao, aku masuk, ya."
Tao membuka pintu dan melihat Yitao yang sedang bermain dengan bonekanya di lantai. Si panda kecil melihat melalui bahunya dan memegang boneka alpaca di tangannya.
"Oh, kau sedang bermain? Bisakah aku ikut bermain juga?" Tao menunjuk dirinya sendiri.
Yitao mengalihkan pandangannya dan mulai bermain kembali dengan bonekanya. Tao mengerutkan kepalanya, tapi memutuskan untuk mencoba kembali. Ia berjalan mendekati Yitao dan duduk di depannya. "Bisakah aku ikut bermain?"
Yitao melihat kearah Tao; dia meraih boneka panda dan naganya dan menyerahkannya pada Tao. Sang pengasuh dengan lega menerima boneka itu.
"Terimakasih untuk membiarkan aku bermain, Yitao!" Tao mengatakannya dengan suaranya yang paling childish, sambil memegang boneka panda, membuat seolah-olah boneka panda-lah yang berterimakasih pada Yitao.
Sang pengasuh dan si panda kecil mulai bermain. Setelah beberapa saat, si panda kecil menjatuhkan boneka alpaca-nya ke lantai.
"Oh, Yitao. Kau bosan sekarang?" Yitao mengangguk sambil mengusap mata kanannya. Tao tertawa kecil karena gerakan si panda kecil. "Well," Tao berdiri. "Kenapa kita tidak pergi keluar? Di luar cuaca-nya cerah, kita bisa bermain di taman. Mungkin saja Sehun hyung ada di sana. Kau ingin melihat Sehun hyung?"
Yitao berdiri, melihat kearah Tao. Kemudian dia menggelengkan kepalanya, menolak usulan Tao. Setelah itu ia berjalan meninggalkan kamarnya sambil membawa buku gambar kecil dan kotak krayon-nya, meninggalkan Tao yang sedang berdiri.
"Well," Tao menghela nafasnya; Dia melihat lemari Yitao lagi dan memeriksa baju-bajunya. "Seriusan deh, anak ini butuh beberapa baju main," Dia memeriksa semua pakaian yang digantung. "Jaket blazer abu-abunya Young Versace, mantel abu-abu kasmir dari Dolce & Gabbana, jeans denim warna biru pudar dari Galliano. Dimana pakaian mainnya?!"
Tao mengusap rambutnya dengan tangannya. Dia meninggalkan kamar Yitao untuk menemukan si panda kecil itu. Dia berakhir mendengar nama Yitao di dapur, mengejutkannya, Yitao duduk di sana, sedang menggambar. Tao berjalan menuju Xiumin yang sedang masak untuk para pekerja di rumah.
"Um, apakah, ini mungkin terdengar aneh, tapi apakah Yitao punya pakaian bermain?"
Xiumin mengalihkan pandangan dari masakannya. "Hah?"
"Kau tau, pakaian bermain. Um, semua yang ia punya adalah pakaian dari para perancang, jadi aku hanya berfikir apakah ia punya, umm, pakaian bermain."
Xiumin tertawa kecil. "Tao, Ayahnya adalah perancang busana. Bukankah itu akan, umm, well, pasti kalau anaknya pun harus berpakaian bagus setiap saat? 24 / 7? Ayahnya adalah raja mode, anaknya pun akan berpakaian sama juga." Tao mengangguk; well, itu memang masuk akal, ayahnya berpakaian bagus, maka anaknya juga. Tapi untuk Tao, ia merasa kalau anak berumur 4 tahun harus mempunyai beberapa baju main. Mungkin kalau ia memiliki pakaian main ia bisa pergi keluar dan bermain, bukannya terus berada di dalam rumah.
"Tapi itu masalahnya!" Tao berkata. "Semua yang dia punya adalah barang-barang dari para perancang ternama dan tidak ada pakaian bermain. Jadi, dia selalu berada di dalam rumah?"
Xiumin menggelengkan kepalanya. "Well, dia tidak selalu berada di dalam rumah," Dia melirik kearah anak lelaki yang duduk di meja. "Dia selalu pergi keluar rumah, dengan orangtuanya dan bermain, tapi itu berubah sejak.. yah, kau tau. Dan sejak itu dia tidak pernah bermain keluar lagi."
Tao mengerutkan kening; lagi-lagi ia merasa kasihan terhadap anak lelaki itu dan ayahnya. Dia teringat akan bagaimana setiap pagi di rumah ini; Yitao hanya melirik kearah Ayahnya, dia bahkan tidak berlari kearah sang Ayah dan memberikannya pelukan. Dia menghela nafas, dia ingin membantu mereka. Dia ingin membantu Kris dan Yitao menjadi Ayah dan anak yang seharusnya.
Tao menganggukan kepalanya. 'Itu dia! Aku akan membuat mereka dekat kembali!' Dia tersenyum. 'Hal ini akan susah, tapi demi Luhan, Yixing, dan untuk Kris serta Yitao! Tao, fighting!'
Xiumin memperhatikan Tao karena dia tersenyum tanpa alasan. "Erm, Tao, apa kau baik-baik saja?"
"Hah?" Tao melihat kearah sang koki. Memiringkan kepalanya karena tidak mengerti.
"Kau membuat wajah aneh. Apakah kau baik-baik saja?"
"Oh, ya! Aku hanya.. kau tau, gembira." Dia tersenyum kearah sang koki, dan Xiumin hanya mengangguk.
"Gembira? Oh, oke."
Tao mengangguk. 'Jangan khawatir Yitao, Kris. Kalian berdua akan kembali menjadi Ayah dan anak seperti sebelumnya!'
-0-
Hai. Maaf lama banget ya update-nya? Saya sibuk soalnya maaf /slapped. Semoga translate-an chapter ini mudah dimengerti ya, saya nge-translatenya rada-rada soalnya. Maaf u.u Saya janji chapter 4 bakal lebih baik *mudah-mudahan*
Makasih untuk yang review kemarin, maaf gabisa bales dan gabisa nyebutin siapa aja yang ripyu, saya buru-buru huks.
So, mind to review?
