My Idol, My Boyfriend
Himkyu's Present
BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo
Genre : Romance Comedy
Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Welcome back~~
Oh! Akhirnya setelah 2 bulan hiatus. I comeback to pay my promises :p
Bagaimana ujiannya? Sudah pada puas? Masih belum puas? Saya sepertinya belum puas dan masih harus berjuang lagi #ehem
Hari ini saya publish dulu untuk pembukaannya (pembukaan kok kepanjangan gini) -_- Belum spesial banget dan mungkin seterusnya begitu, kita lihat saja responnya^^v
Untuk prolog bisa dicheck lagi agar lebih mendalami profile para karakter. Mungkin untuk profil karakter lain selain BAP, juga akan dibuat di beberapa chapter. Semoga tidak terlupakan.
Happy reading!
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
Chapter 1
Suara suara itu berdentum cukup keras. Segala penjuru rasanya sudah dipenuhi dengan alunan instrumental, mendominasi di antara teriakan teriakan bergantian di bawah panggung. 3 nama di teriakkan bergantian. 3 sosok yang entah kapan menjadi bagian dari jiwa manusia-manusia tak berdosa itu. Mereka sudah gila—tidak. sudah menghabiskan banyak waktu,nafas, keringat—dan uang—demi menemui 3 pangeran ikon terbaik dari Korea yang paling dibanggakan. Ibaratkan batu kristal berjuta nilai harganya, sangat sulit untuk dilupakan dan dilepaskan. Terlalu berharga.
Tiba-tiba suara selang-seling dari dentuman bass dan explosive sound untuk memberikan efek sangar sebagai opening ,berhenti.
"ARE YOU READY?!"
Entah darimana suara teriakan itu berasal. Sanggup membuat histeria meledak-ledak dalam wahana. Ini baru suaranya saja, sudah bikin sesak nafas setiap orang. Bagaimana kalau orangnya muncul? Rumah sakit akan penuh dalam sekejap. Memang Hiperbola, tapi kiasan itu tidak juga harus disalahkan.
Dan melodi lagunya mulai dimainkan. Ini waktunya masuk ke bagian terbaik. Para penonton memusatkan perhatian pada pertengahan panggung. Muncul sebagian tubuh mereka dari sebuah panggung otomatis dari arah bawah. Kepalanya dahulu. 3 pasang mata berbeda warna—dan bentuk. Senyum dengan kecirikhasannya masing-masing. Rambut bercat yang tidak berlebihan. Beranjak ke dua pundak bidang yang sangat gagah dan tegap. Lalu badan mereka dibalut kostum santai namun memberikan sisi keren dan maco.
Lampu panggung mulai berhamburan hanya kepada 3 mahluk tampan itu. Hanya mereka. Peran utama dalam pestanya. Kini mulai beraksi...
BOOM
.
.
.
.
.
.
"KYAAAAAAAA!"
Seluruh pasang mata langsung mengarah padanya. Seorang laki-laki yang entah berantah dan anak siapa ,sendirian histeris di tengah kerumunan banyak orang di sebuah trotoar jalan. Atau memang pemuda dengan jaket hijau dengan tudungnya menutupi separuh kepalanya itu tak sadar bahwa ia sedang jadi buah tontonan.
"Astaga, Bang! You're so cute" laki-laki itu berlagak gemas. Ingin sekali menghantam kaca etalase itu dan memeluk erat televisi yang sedang memamerkan tontonan segar , sebuah pertunjukan tidak live dari boyband papan atas yang dikenalnya.
Matanya tidak juga beranjak. Sampai-sampai penduduk ke sekian telah bergantian memandang punggung pemuda itu. Yang masih dalam posisi sama, tanpa ada pergerakan lain selain mendekap tangan, dan memohon agar visual di tv tersebut mau menariknya ikut ke dalam pertunjukan tersebut. Sungguh mustahil.
"YOO YOUNGJAE?! ITU KAU?!"
Barulah Youngjae mengalihkan perhatiannya. Syukurlah. Seorang pemuda tampan dengan ekspresi shock terbaiknya, telah menyadarkan Youngjae dari mimpi sorenya itu. Ia mengenakan seragam yang sangat dikenal Youngjae. Kemeja putih, jaket sekolah hijau, dan lambang tersemat di kedua kerahnya. Sebuah lambang bulan sabit dan garis abstrak menyilang di tengahnya.
"Oh, itu ternyata kau Jaebum." Dan Youngjae kembali menonton tv tersebut tanpa tertarik melanjutkan sapaannya. Bumi ini seakan lebih pantas ditempatkan hanya untuknya dan sang idola. Orang lain hanyalah tamu asing.
"Sialan kau! Kau bolos sekolah hanya untuk menonton para Banc* ini?!"
"Hei! B-A! Mereka itu punya nama! Best Absolute!" Youngjae bertolak pinggang kesal. Seandainya Jaebum bukan sahabatnya, maka ia akan dengan senang hati melemparkan bogeman. Lagipula,Youngjae tidak sekali disulut kesal dengan bicara tajam dari mulut Jaebum. Jadi , ia sudah punya tameng sendiri di dalam hatinya menghadapi setan tampan ini.
"Terserahlah. Aku tidak peduli. Yang pasti, aku ingin bertanya. Kenapa kau tidak masuk sekolah lagi, hari ini?!" Jaebum melotot. Ia sudah lelah menghabiskan waktu di sekolah , sorenya ia harus berhadapan dengan teman menyebalkannya. Apa tidak bisa ia mendapatkan istirahat sekali saja?
"Malas." Youngjae membuang muka. Ia mengalihkan perhatiannya kepada keramaian, yang penting, selain tatapan tidak senang Jaebum yang membuatnya cukup dongkol. "Hari ini aku harus berhadapan dengan 'Bapak Tua' itu. Aku tidak mau bertemu dengannya."
"Kau hanya kesal pada satu orang, sampai-sampai meninggalkan pelajaran seharian?!" Jaebum mengepal tangan. Sangat-sangat gemas ingin sekali menjitaki kepala pemuda imut di hadapannya. "Kau tidak bohong padaku, kan?! Bukan karena ingin membuntuti banc* itu di apartemennya lagi?!"
Youngjae terkikik kecil. "Sepertinya aku ketahuan."
Jaebum kehabisan kesabaran. Ia menyergap jaket Youngjae dan menariknya keras hingga pemuda itu hampir terjungkal ke samping. Untung saja kakinya langsung menahan seimbang.
"YAK! YAK! APA YANG KAU LAKUKAN!? AKU BELUM SELESAI DENGAN 'OE CONCERT*' NYA B-A!" tangan Youngjae berusaha mengais-ngais udara, mengharapkan tontonannya tidak hilang dari pandangannya. Namun sayang. Jiwa liar Jaebum sudah di ambang batas. Youngjae bisa saja dicabik laki-laki tampan itu kalau sudah marah, jika memang ia adalah siluman.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Semoga harimu menyenangkan. Kembali lagi lain waktu."
Satu pelanggan itu melambaikan tangan dengan ramah sebelum meninggalkan tempat. Seorang pemuda cantik berdiri di belakang meja kasir menghela nafasnya penuh lega. Senang sekali pelanggan hari ini cukup banyak dilayaninya. Rasa lelahnya setelah pulang sekolah pulih dengan seketika.
Memang luar biasa. Senyuman dan pujian yang kau dapatkan dari hasil kerja kerasmu, akan menjadi obat terbaik untuk semua perngorbanan yang melelahkan ini.
Tringg
Suara lonceng berbunyi. Pertanda pelanggan lain memasuki cafe nya. Pemuda cantik itu telah siap dengan jurus andalannya. Senyum mempesona yang dipuja banyak orang.
"Selamat so—eh Jaebum?!"
"Nde. Selamat sore, Himchan."
Himchan terkejut dengan pemandangan di depannya. Bukan hanya satu orang dengan ekspresi ganas, tapi juga seseorang yang meringis minta tolong seakan baru diculik , di belakang Jaebum.
"Dan, Youngjae?" Himchan memandang Youngjae, lalu kembali pada Jaebum dengan pandangan heran. Ia sangat ingin penjelasan.
"Anak ini butuh nasihat ternyata."
"Hei! Himchan bukan ibuku! Kenapa kau paksa aku datang kemari, Bodoh!?"
"Kau yang bodoh, brngs*k"
Himchan berusaha menenangkan kedua pihak. Ia memberi intruksi keduanya untuk menenangkan diri karena mereka berada di tempat umum.
"Tenanglah. Kita bisa bicarakan ini di gudang. Ikut aku." Himchan menuntun keduanya. Namun tentu saja berdiri menengahi mereka agar tidak terjadi perang dunia kedua. Saat-saat seperti ini, Himchan terlihat semakin dewasa. Seakan seorang ibu yang sabar menghadapi kedua puteranya.
Himchan memang selalu begitu. Dan dengan senang hati dianggap begitu jika harus menghadapi dua sahabatnya ini yang tak bisa jadi sepasang kucing manis yang penurut.
.
.
.
.
.
.
.
Youngjae mengerucut bibir. Dua pasang mata cukup tegas terlempar ke arahnya. Ia dalam situasi cukup tegang. Seperti sedang diinterogasi. Hanya saja dengan 2 pihak yang berbeda sifat. Yang satu layaknya detektif wanita yang tenang, yang satu detektif penuntut yang siap menggertak.
"Aku juga mencarimu sebenarnya." Himchan menghela nafas. "Aku tidak bisa bilang apapun ketika ditanya guru tentang keberadaanmu."
"Lihat apa yang kau lakukan. Bahkan Himchan sendiri sudah lelah denganmu." Himchan dapat tepukan di bahunya oleh Jaebum. "Seseorang yang begitu sabar ini bisa sangat terluka. Apa kau tidak tega dengannya?"
"Hei, Jaebum. Aku tidak sepolos yang kau kira." Begitulah respon Himchan. Karena dirinya yang terlalu baik, setiap orang akan sangat menghargainya. 'Terlalu menghargainya' layaknya seorang dewi yang dipuja. Sehingga, tidak ada satupun yang tega membuat dewi ini merasa sedih atau kecewa sekalipun.
Kecuali satu orang. Laki-laki yang tidak peduli ia punya teman sebaik apapun, se-caring apapun, sefamous apapun. Ia hanya akan mengikuti jalurnya.
Untuk selalu mencintai B-A.
Hingga ia seringkali menyusahkan Himchan, dan itu membuat teman-teman lainnya yang begitu memuja pemuda cantik itu jadi kesal sendiri. 'Kenapa seorang Himchan mau bersahabat baik dengan fanboy fanatik gak jelas dan tukang bikin repot seperti dia?'
"Maafkan aku karena Youngjae, kau jadi repot sendiri sepulang sekolah. Seharusnya kau istirahat di rumah saja. Biar saja dia lakukan apa yang dia mau. Tapi nanti dia pasti akan kembali ke sekolah. Aku akan membujuknya."
"Astaga, Himchan. Kenapa jadi kau yang minta maaf?" Jaebum garuk garuk kepala. Ia jadi merasa tidak enak dengan tingkah super sopan (-tingkat dewa) yang ditunjukkan oleh seorang Himchan. Ia sudah seringkali diperlakukan begini. Terlalu sering, bahkan teman lainnya akan menyatakan hal yang sama. Sehingga rasa tidak enak hati akan semakin tumbuh pada hati mereka. Dan rasa ingin membalas budi juga tumbuh.
"Hei,Youngjae! Kau harus sering-sering berterima kasih pada Himchan. Dia itu sangat perhatian padamu. Seperti seorang kakak. Bahkan kakakku tidak bisa sesempurna dia" Jaebum melempar tas yang ia rampas dari Youngjae sebelumnya. Ia sudah sangat penasaran dengan isi di dalamnya. Ternyata banyak hal menjijikkan. Ia sangat muak dan ingin mengembalikan saja. "Dan berhentilah bermain-main. Kembalilah ke sekolah secepatnya. Tsk."
"Ck.. ya! Dasar! Mentang-mentang kau ini wakil ketua osis, jadi sok pengatur sekali."
"Apa?! Kau anggap aku main-main dengan jabatanku?!" Jaebum gemas ingin sekali menjambak rambut Youngjae sekali lagi sebagai ucapan sampai jumpa yang sadis. Tapi, tidak enak juga. Di sampingnya, Himchan bisa menceramahinya lagi.
.
.
.
.
.
.
Tringg
Pelanggan terakhir untuk Himchan setelah mencapai jam kerjanya selesai, telah pulang. Jam sudah menunjukkan angka jam 8 malam. Setiap jam segini, Himchan akan siap untuk pulang. Melepas apronnya dahulu, merapikan beberapa kekacauan yang dibuatnya di belakang meja kasir, sambil menunggu Hyun Sik—pekerja lain yang menggantikan pekerjaan malamnya—siap menerima tugasnya.
"Sepertinya kau tidak pulang sendiri." Hyunsik menyapa di depan meja kasir Himchan. "Ada anak manis seumuranmu di meja no 3. Siapa dia? Temanmu?"
Himchan tersenyum. "Sahabatku. Teman sekelas juga. Hyung ingin berkenalan dengannya?"
"Tidak usah. Nanti aku bisa naksir." Hyunsik tertawa, begitu juga Himchan.
"Tumben kau bawa teman malam-malam begini. Mau ngapain? Mengerjakan pr bersama?" Hyunsik tahu sekali kebiasaan anak muda seperti Himchan,terutama untuk anak tingkat 3 yang akan segera berjumpa dengan ujian. Pr membludak bisa kapanpun didapatkan.
"Tidak juga. Lagipula, ia tidak akan tertarik." Himchan beranjak dari meja kasir. Singgasananya harus digantikan sunbaenya itu. "Ada yang ingin kubicarakan saja. Aku pulang dulu ya, hyung. Jangan banyak begadang."
"Ya. Kau bisa peringatkan aku begitu jika pekerjaan ini tidak menuntutku." Hyunsik pun melambaikan tangan sebagai ucapan selamat malam yang hangat.
.
.
.
.
.
.
.
Youngjae mengalihkan perhatiannya dari handphone nya ketika suara denting lonceng pintu cafe itu berbunyi. Ia mendapati Himchan tanpa apron membosankannya, telah berganti dengan seragam paginya. Pelanggan yang melihatnya pasti tidak akan percaya bahwa pelayan dengan sikap ramahnya itu, hanyalah siswa berumur 18 tahun.
"Kau ingin terus disini, atau kuantar sampai rumah?"
Youngjae melepas salah satu earphone nya. Tidak enak berlagak dingin pada Himchan karena kejadian sepele tadi sore. "Ya. Aku ingin pulang bersamamu."
Suasana memang tenang untuk sementara waktu saat mereka berjalan bersama menyusuri jalanan ramai Seoul. Hari kerja, dan waktu pulang. Kombinasi yang sangat bagus untuk memperlihatkan betapa sibuknya negara Korea ini.
"Memang seharian ini kenapa kau tidak ingin masuk?" Himchan bertanya pada inti pembicaraan. Youngjae melirik malas, lalu mengerucut bibir. Gara-gara si Tukang Atur itu,aku jadi kena ceramah lagi.
"Malas saja."
"Apa kau tidak punya alasan lain , Jae? Kalau alasanmu sama,kau tidak akan pernah sekolah sejak dulu. Hahaha.." Entahlah. Himchan sedang marah, menyindir, atau keduanya. Dengan tawa Himchan yang begitu ringan, Youngjae tidak pernah bisa membaca sifat emosional dari diri pemuda itu. Kesannya, Ia selalu bahagia setiap waktu. Bahkan aku berani taruhan, ia tidak pernah marah seumur hidupnya.
"Baiklah." Youngjae menyerah. Ia tidak mau berdebat dengan seseorang seperti Himchan. Pesona dan ketulusan pemuda itu, akan melelehkan hati siapapun. "Hari ini aku diundang fans noona B-A untuk membahas anniversary stage mereka minggu depan."
"Hanya itu?" Himchan yang tidak menahu banyak tentang berbagai hal seputar idol dan fans gila mereka, hanya bisa bertanya dan bertanya.
"'Hanya itu'?! Himchannn! Kau harus tahu betapa pentingnya anniv mereka tahun ini! Ini tahun keempat! Bayangkan! Aku 4 tahun bersama mereka?! Dan ini pertama kalinya mereka mengadakan special stage untuk merayakan anniv. Bersama fans nya! Ini adalah hadiah terbaik sepanjang masa dan tak akan pernah terlewatkan. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Jadi hanya fans noona yang bisa mendaftar segala persiapan untuk menyambut anniv mereka. Coba kuingat apa saja. Ada lightstick dengan stye terbaru—kau harus tahu bahwa itu bisa menyala warna warni dan itu sangat imut sekali, lalu Headband.Oh! juga ada Silver whistle limited edition dengan tanda tangan mereka, juga—" Youngjae menghitung dengan jemarinya.
Himchan tidak akan pernah menyangka bahwa banyak hal tidak terduga didapati dari seorang teman yang merupakan penggemar idola. Bahkan tidak menyangka akan kenyataan bahwa sahabatnya kini tidak terlihat mengambek lagi seperti beberapa waktu yang lalu.
Himchan akhirnya menghentikan celotehan pemuda di sampingnya itu. "Apa kau ingin sekali bertemu dengan mereka?"
Youngjae terkejut setelah mendapati dirinya baru mengeluarkan uneg dengan siapa. Bodoh sekali. Ia suka kelepasan kalau sudah membicarakan hobinya. "Ya, sebenarnya, aku juga sering bertemu dengannya."
"Hahaha.. jadi kau benar-benar menguntit mereka?"
"Ya! Tapi tidak seganas sasaeng! Ingat itu."
Himchan hanya berkerut kening. Apalagi itu 'sasaeng'?
"Kalau begitu, bagaimana jika kau bisa bertatap muka dengan mereka? Tampaknya hatimu tidak akan puas dan akan terus mengejar mereka kalau belum bisa secara langsung bertemu dengan mereka."
"Ya kau benar. Fans mana sih yang tidak bermimpi ingin bertemu langsung idola mereka?! Dan kami yang yang sulit menjadi cinta idaman mereka, atau menikah dengan mereka, akan terus terpenjara dengan kebiasaan ini. Hanya mampu mengidolakan. Seharusnya mereka semua yang meremehkanku, mengerti arti sulitnya meraih mimpi itu." Youngjae mendadak depresi. Memijat wajahnya dengan gemas. Himchan tertawa kecil.
"Mimpi itu memang tidak semua terwujud. Tapi tidak baik untuk berhenti bermimpi. Asal tidak berlebihan, pasti ada waktunya kau bisa mendapatkannya dengan sendirinya. Aku yakin itu. Karena Tuhan tidak pernah tidur."
"Jadi aku bisa menikah dengan Bang Yongguk?"
Himchan mendadak melempar tatapan ngeri. Kenapa Youngjae jadi sangat freak disaat-saat serius seperti ini.
"Ya. Entahlah. Kalau kau tidak berlebihan, mungkin dia—siapapun itu, mau memperhatikanmu. Jika kau terus begini, Yongguk justru akan menjauh darimu. Ya, aku yakin adakalanya seorang idola ingin diperlakukan seperti manusia biasa yang tidak suka privasinya diganggu. Jadi just a normal fans , ok?"
Perjalanan mereka berhenti. Namun sesuatu yang sedikit menganggu Youngjae. Karena mereka berhenti bukan di depan rumah Youngjae, melainkan di tempat lain dengan suasana yang cukup unfamiliar untuk kalangan anak di bawah umur seperti mereka—Coret. Sebentar lagi hanya Youngjae yang masih di bawah umur di antara mereka berdua.
"Maaf aku hanya bisa mengantar sampai disini. Aku masih punya pekerjaan lain."
Tunggu. Ini bar,kan?! Kenapa Himchan bisa bergabung pada tempat semacam ini?!
"Hi—Himchan. Kau kerja jadi Host*?!" Youngjae meraih dua pundak sahabatnya itu. Menggoyangkan dengan brutal, dengan sangat panik. "Aku tahu kau kau bukan orang berada. Aku tahu kau sedang kesulitan pemasukan dan bayar uang sekolah. Tapi, kau tidak harus melakukan hal semacam ini,kan?!"
"Youngjae. Aku hanya bekerja sebagai pelayan bar. Bukan host. Umurku belum cukup sampai disitu."
Youngjae menghembuskan nafas lega. Ya, setidaknya bukan host. Karena membayangkan seorang Kim Himchan menggoda banyak perempuan (bahkan pria),benar benar menjatuhkan mental Yoo Youngjae dengan sangat cepat. Walaupun wajah tampan Himchan bisa menarik puluhan pelanggan dan membuatnya kaya sekejap, tapi tetap saja tidak akan pernah ia relakan.
"Gaji nya cukup menjanjikan. Dan pemilik bar ini juga memastikan bahwa aku dilindungi dari kemungkinan tidak baik bekerja disini. Aku hanya perlu menyiapkan minuman. Dan pekerjaanku hanya sampai tengah malam, hehe.."
"Kau ini terlalu bekerja keras. Padahal kalau kau jualan online bersamaku menawarkan banyak merchadise B-A, kau bisa kaya."
"Hahaha.. terima kasih atas tawarannya." Himchan hendak akan memasuki bar tersebut. Namun sebelumnya, ia masih teringat atas pembicaraannya dengan Youngjae sebelumnya.
"Pikirkan sekali lagi, ok? Jangan terus membolos. Lagipula,apa pernah idolamu itu meminta fans nya membolos sekolah dan bermalas-malasan hanya untuk mereka?"
Youngjae mengangguk lemas. Benar juga yang dikatakan Himchan. Apalagi salah satu yang sangat diidolakannya selalu berkata bijak. Bagaimana seorang fans bodoh sepertinya mengesampingkan bujukan baik idola tercintanya itu. Idolanya saja cinta padanya, tidak ingin melihatnya jadi anak bodoh dan pembolos. Kenapa ia malah melakukan hal sebaliknya? Ini sama saja penghianatan.
"Ya. Besok aku akan kembali ke sekolah."
Dan Himchan pun tersenyum puas,sampai akhirnya punggungnya menghilang dari balik pintu masuk bar.
"Huft. Padahal besok aku ketemu 'Bapak Tua' itu lagi." Youngjae pun beranjak dengan lemas menuju rumahnya yang tinggal beberapa persimpangan lagi akan sampai.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil mewah terparkir di depan bar dan seseorang yang mengemudikannya keluar dari dalamnya. Pria itu tampak tidak senang, sampai-sampai membanting pintu mobilnya tanpa kasihan.
Pria itu mengenakan long coat yang cukup tertutup berwarna hitam, kacamata hitam, dan topi baseball berwarna biru tua yang agak turun menutupi sebagian wajahnya.
"Pria gila! Terus saja paksa aku menikah. Aku tidak pernah tertarik."
.
.
.
.
.
.
.
Di lain tempat..
"Tuan muda."
Pemuda tinggi itu terkejut setelah menutup pintu kulkasnya. Ia tidak sadar pelayan rumahnya sudah berdiri di dekat kulkas dengan wajah wibawanya.
"Oh, Hyung. Ada apa?" pemuda itu menaruh sepiring berisi beberapa buah stroberi dan sekotak susu ke meja dapur. Ia tengah mempersiapkan jus milky strawberry favoritnya.
"ada telepon dari Pak Direktur tadi. Ia berpesan pada saya untuk menyampaikan hal ini pada anda."
Pemuda berkulit salju itu hanya mengangguk mengerti tanpa bertemu pandang pada pelayannya. Ia sudah sering mendapati pelayannya menjadi perantara atas pembicaraan dari ayahnya sendiri. Aneh memang. Ayahnya seperti enggan berbicara langsung dengannya, walaupun melalui telepon sekalipun.
" 'Apa ada yang Anda perlukan untuk kepulangan Nyonya Besar dari rumah sakit?' itu yang dipertanyakan Tuan Besar untuk Anda."
Junhong, nama pemuda itu, lekas menghentikan kegiatannya. Ia terdiam sejenak. Jadi Ibunya akan pulang hari ini?
"Jika ada yang diperlukan, saya akan segera menyediakannya."
Junhong tersenyum pias. Pelayannya itu tahu bahwa itu bukanlah senyum kelegaan. Lebih tepatnya senyum yang begitu menyedihkan. Menunjukkan seberapa tersiksanya ia selama ini. Namun ia masih sanggup menghadapinya. Sayang sekali, Pelayannya ini ingin sekali memeluk dan menenangkan situasi Junhong, jika saja statusnya bisa lebih sejajar pada sang Tuan Muda.
"Aku harus terlihat cantik degan wig baru. Rambut hitam panjang, pasti ibu menyukainya." Junhong memotong beberapa buah strawberry nya dengan begitu lamban. Mungkin tangannya sedang malas hari ini. "Saat Noona seumuran denganku, ia punya rambut panjang yang cantik dan suka dipuji Ibu."
Pelayannya itu hanya mengangguk mengerti. Lekas berpamitan, dan hendak mencarikan apa yang diinginkan 'setengah hati' oleh Tuan Muda nya itu.
Junhong sendirian lagi.
Dan airmatanya jatuh kembali.
.
.
..
.
.
.
.
Di Bar..
Suara musik jazz yang sedikit memabukkan, semabuknya orang-orang di dalam bar tersebut yang dilayani dengan berbagai minuman keras dan Host tampan dan cantik yang begitu menggoda.
Tapi sang pria berjubah tidak tertarik bergabung pada sekumpulan pria hidung belang atau wanita material.
Ia segera mendudukkan diri pada satu bangku tepat berhadapan dengan bar. Ia melirik pada punggung pemuda berpakaian ala pelayan bar yang masih sibuk menyusun botol wine. Pria berjubah itu malas menegur duluan, jadi ia hanya membuang pandangan kemana pun untuk mengulur waktu.
Ternyata bar sederhana seperti ini tidak buruk juga untuknya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Pria berjubah itu segera mengalihkan perhatiannya pada sepasang hazel cantik milik pemuda manis di hadapannya. Glup. Air liurnya terteguk otomatis. Ada juga seorang pelayan bar begitu mempesona sepertinya. Tapi, ia harus menjaga sikap.
Pertama, ia tidak mau ketahuan akan jati dirinya.
Kedua, ia bukan gay—belum, gay.
Ketiga, ia hanya mau minum-minum untuk melepas emosinya, bukan menggoda pelayan laki-laki.
Pria berjubah itu membidik satu botol dengan satu nama besar terpampang tercap di badan botolnya. Terlihat menarik. Berjejer pula dengan beberapa wine mahal lainnya. Tidak buruk mencobanya.
"2008 Quivira Vineyards, satu."
Himchan segera menoleh, mengikuti pergerakan kepala pria di hadapannya itu sedang terarah kemana (pria itu memakai kacamata hitam, instruksi mata nya tidak akan terlihat kentara). Dan ketika ia sadar bahwa pesanan pria itu berjajar dengan wine wine mahal yang harganya luar biasa, Himchan kembali melempar pandang pada si pelanggan. Ia yakin?
"Apa aku akan jadi orang terakhir yang kau layani hanya karena memesan wine mahal? Hahaha.. bukan masalah selama aku bisa dilayani kau."
Himchan hanya tersenyum. Pria di hadapannya ini sudah menarik gas duluan untuk merayunya. Ini baru hari pertama, jadi Himchan harus bersikap sebaik mungkin. Dengan sabar dan tenang, Himchan pun mengambilkan apa yang diinginkan pria itu.
"Sudah berapa lama kau bekerja disini?" Pria berjubah itu menopang kepalanya dengan malas. Dibalik kacamata hitamanya, ia tidak bisa lepas menatap Himchan meracik wine nya.
"Ini hari pertama, Tuan."
"Wow. Aku tidak sadar. Karena sikapmu seperti sudah jadi pelayan bertahun-tahun."
"Ya, saya juga bekerja part time sorenya sebagai pelayan cafe."
Pria berjubah itu mengangguk. Dari pekerjaan di tempat anak muda, dan malamnya bekerja di tempat dewasa. Ia benar-benar pekerja keras.
"Ini minuman anda. Selamat menikmati." Himchan hendak meninggalkan pria berjubah itu. Namun si pria justru kelepasan menegur Himchan. "Tunggu!" ia tidak sanggup melepas pemuda cantik itu meninggalkannya.
"Kumohon sekali ini saja. Temani aku minum. Maksudku, kita bisa jadi teman untuk malam ini saja kan? Mood ku sedang tidak bagus hari ini. Aku ingin seseorang mendengar ceritaku."
Himchan tampak kasihan dengan sikap pria itu yang tiba-tiba menunduk malu-malu. Walaupun tak terlihat jelas ekspresi wajah pelanggan pertamanya itu, ia selalu tidak tega pada orang lain yang meminta tolong padanya.
"Baiklah. Tunggu saya 30menit lagi, itu waktu jam istirahat saya. Saya akan menemani anda."
Pria itu terkejut dan mengangguk bersemangat.
Setidaknya perasaan gusar dan marahnya, terobati sedikit oleh keberadaan Himchan di sampingnya. Walaupun ia tak tahu banyak siapa pemuda itu.
Mungkin ini kesempatannya untuk mencari tahu.
.
.
.
.
.
.
.
"Sialan!"
Daehyun sekali lagi meneriaki handphone nya. Ia hampir tak sadar bahwa ia sedang mengemudi. Tangannya yang memegang kemudi hampir saja lengah, sehingga mobil hampir bergerak oleng. Dan seorang pemuda lain yang sedari tadi hanya tenang mengamati jalan raya, jadi terkejut.
"Daehyun! Aku tidak melarangmu main hp. Tapi, Bisakah kau lebih konsen pada jalanan di depanmu dulu?"
Daehyun berdecak dan melempar handphone nya pada pemuda di sampingnya. Lekas ditangkap hp mahal itu oleh kedua tangannya. Benar-benar teledor dan kekanakan sekali.
"Aku sudah mencoba menelpon anak itu berkali-kali, tidak juga diangkat. Apa ia berusaha bermain-main dengan kita?! Seharusnya ia bukan leader,tsk."
Jongup, pemuda yang duduk di jok samping Daehyun, hanya menggeleng geleng maklum. Ia kenal betul betapa tidak akur keduanya. Yang satu egois, yang satu self confidence terlalu tinggi. Jadi ketika salah satu membuat masalah, satunya lagi pasti akan kerepotan dan meledak-ledak. Memaki-maki, dan akhirnya bertengkar.
Ya, setelah itu mereka akan kembali berbaikan dan tampil professional di depan kamera. Siklus ini terus terjadi. Jongup jadi tidak perlu khawatir melihat kemarahan partnernya yang satu ini. nanti juga jadi jinak.
"Sikap Yongguk hyung memang sangat aneh setiap kali terlibat dengan Sanjangnim." Jongup menopang kepalanya dan mengamati pemandangan di luar jendela lagi.
"Ya! dan yang tidak kupercaya. Ia bersikap kelewatan dengan melarikan diri." Daehyun mengepal kesal dan memukul kemudinya. "Padahal sanjangnim itu AYAHnya. Sudah enak punya ayah seorang pemimpin agensi, konglomerat dan terpandang, ia malah tidak hormat pada beliau."
Daehyun beralih pandang pada Jongup. Ia ingin terlihat tegas dengan omongannya. "Kita bukan anak kandung beliau, tapi kenapa jadi kita yang lebih menghormatinya?! Menggelikan sekali! Tidak tahu di—"
"AWAS DAEHYUNNN!"
CKIIIIITTTTT
"Sh*t" Daehyun dan Jongup hampir terjungkal ke depan dan menyahut bersama. Mobil yang mereka kendarai hampir saja menabrak seseorang. Jika saja Daehyun tidak segera menginjak rem, nyawa pemuda itu tidak akan bisa selamat.
Pemuda yang hampir ditabrak itu shock bukan main. Ia menyipit hendak melihat bayangan pelaku penabraknya dari kaca mobil itu. Namun sayang, kaca mobil nya menggunakan kaca film* sehingga tidak terlihat sama sekali siapa yang baru menabraknya.
"Habis kita." Jongup hampir saja kehilangan nyawanya karena terlalu panik. Bagaimana jika karirnya jadi taruhan karena ia digugat hampir membunuh seorang remaja?!
"Tenang saja." Daehyun berusaha tenang. Walaupun ia sedang melotot ketakutan. "Ia tidak akan bisa melihat kita."
BUGG
"BRENGS*K KAU!"
Daehyun dan Jongup lebih shock lagi ketika mendapati remaja di depannya itu sudah mengumpat marah. Bahkan tidak peduli siapapun pengemudinya, pemuda itu menendang keras mobil itu hingga timbul suara yang cukup keras. Speechless? Ofc. Ternyata bukan main-main kekuatan anak itu.
"Aku tidak menuntut kau karena ini sudah malam, dan aku tidak mau buang-buang waktu. Tapi," BUKK. Pemuda itu sekali lagi memberi tendangan keras. Sepertinya lebih keras, dan cukup bisa membuat sebuah penyokan kecil di bagian bumper* nya. Lalu pemuda itu menunjuk lurus ke arah kaca. Tentu saja ia tidak sadar bahwa ia sedang menunjuk pada seorang Daehyun.
"aku sangat badmood hari ini, jadi aku tetap meninggalkan balasanku pada mobilmu! Lihat pakai matamu lain kali!"
Pemuda manis itu membuang muka, dan kembali menyebrang. Menghiraukan beberapa pasang mata masyarakat memperhatikannya, atau bahkan dua pasang mata dari balik kaca mobil itu yang sedang melongok tak percaya.
"Ia barusan me—membentakku?" Daehyun menunjuk dirinya sendiri. Ia tidak percaya seorang laki-laki biasa seperti anak tadi, berani membentak artis besar sepertinya.
Jongup kembali beralih mengamati sahabatnya itu dengan senyum meremehkan.
"Anak itu manis. Kau tidak ingin merayunya untuk membayar penyokan di bumper mobilmu, Tuan Playboy?"
"Akan kubunuh kau, Moon Jongup. Tentu saja setelah kubunuh Bang Yongguk."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke bar..
"Hik."
Himchan tak tega mengamati pria itu masih bertahan di meja bar sampai waktu pulangnya. Pria itu sudah mabuk berat. Bahkan mengangkat kepalanya saja sudah sangat sulit untuknya. Seharusnya Himchan berhenti setelah pria itu meminta gelas ketiga. Wine yang dipesannya memiliki alkohol yang cukup kuat. Tentu saja pria itu akan jatuh pingsan dalam sekejap jika terlalu banyak meminumnya.
Entahlah Himchan terlalu asyik mendengarkan celotehan pria itu sebelumnya. Marah, sedih, kesal, semuanya ditumpahkan pada seorang Himchan yang bukan siapa siapa pria itu. Himchan baru tahu fakta bahwa pria yang mengaku namanya adalah Bang Jongdae* ini, sedang dilanda kelabilan mengambil keputusan yang agak dipaksakan oleh pihak ayahnya. Dan fakta lain yang lebih menyedihkan, tentang percintaannya yang selalu gagal dengan banyak wanita—terutama wanita materialistis-sehingga menimbulkan traumatis tersendiri untuknya.
Himchan belum sempat merespon dan membuka pendapat, pria itu sudah tertidur pulas di meja bar. Ia tidak melakukan apa-apa selain membiarkannya sampai jam pulangnya. Apalagi mengusirnya—terlebih, pria itu tidak miskin dan sederhana pula. Pria itu benar-benar membayar full semua pesanannya. Mana mungkin mengusir pelanggan yang menguntungkan tempat bekerjanya?
"Maaf, Jongdae ssi. Ini sudah malam. Anda tidak ingin pulang?"
Jongdae membuka matanya sedikit. "Aku tidak ingin pulang."
Himchan menghela nafasnya. Sangat sulit berkomunikasi dengan pria pemabuk. Tapi ia harus segera pulang. Kasihan ibunya menunggu. Apa ia tinggalkan saja pria ini? Tapi sangat kelewatan sekali, membiarkan pria yang sudah mempercayakan ceritanya padamu, malah kau abaikan begitu saja.
Jongdae tiba-tiba mengenggam lengan Himchan. "Kumohon. Aku masih ingin ditemani olehmu. Hik."
Himchan masih belum tega meninggalkan pria yang sedang putus asa di hadapannya ini.
"Baiklah. Apakah anda ingin ke rumah saya? Rumah saya juga tidak terlalu jauh dari sini."
"A—aku ikut denganmu. Tapi, bisakah kau membawa mobilku?" Jongdae merogoh lemas longcoat nya. Mengulurkan kuncinya di tangan Himchan.
Himchan tidak punya mobil. Tapi sudah bisa menyetir mobil, sudah legal pula dan memiliki SIM hanya agar ia bisa bekerja paruh waktu sebagai kurir beberapa bulan yang lalu. Jadi, ia pikir tidak akan menjadi masalah menggunakan mobil pria itu.
"Tentu." Himchan mengulurkan lengan Jongdae ke bahunya. Sungguh berat. Seberapa berat semua otot yang dimiliki pria di rangkulannya ini?
"Oh ya satu hal lagi." Himchan agak menjauhi kepalanya dari bau nafas pria di sampingnya. Bau alkoholnya sangat menyengat sekali. "Tolong jangan buka kacamata hitamku."
Himchan tersenyum. "Anda memang terlihat lebih baik dengan kacamata hitam."
Ya. Karena aku tidak tega melihat wajahmu setelah menangis beberapa waktu lalu.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya..
Yongguk membuka matanya setelah beberapa kali mendengar suara cuitan burung-burung menganggu tidurnya. Tapi kenapa masih gelap saja?
"Oh astaga." Yongguk segera bangun. Menyadari bahwa dirinya masih memakai kacamata hitam. Dilepasnya kacamata itu. Ia tidak percaya, ia menggunakan kacamata saat tidur.
Yongguk mengamati seluruh bagian ruangan yang ditempatinya saat ini. Ruangan sederhana yang tertata rapih. Apa ia tidur di kamar seorang wanita?
"Jongdaessi? Kau sudah bangun?"
Setelah sesaat mendengar teguran itu dari balik pintu, Yongguk segera menggunakan kacamata hitamnya lagi. Bagaimana mungkin ia harus teledor membuka jati dirinya pada pelayan bar yang baru dikenalnya.
"Ah. Kau sudah bangun, Jongdaessi."
Yongguk tidak bisa berbicara apapun. Ini adalah pagi yang berbeda.
Ia dibangunkan oleh seorang laki-laki pemilik senyum indah. Selayaknya malaikat yang sedang membangunkannya. Bukan lagi si Setan—Jung Daehyun yang dengan sadis menyiramnya jika ia terlambat bangun.
"Aku sudah membuatkan sarapan. Jongdae ssi pasti ingin mandi dulu. Aku sudah menaruh handuk di kamar mandi." Himchan menunjuk pada pintu lain di dalam kamarnya. "Oh, ya. Aku juga sudah memarkir mobilnya di tempat aman. Aku sampai kebingungan ingin memarkir dimana, karena mobil itu terlalu mewah dan menarik perhatian di lingkungan ini. Hahaha.."
Yongguk mengamati penampilan Himchan yang rapih dengan seragamnya. Jadi ia masih anak sekolahan?! "K—kau masih sekolah? Kau bisa menyetir juga? Apa ada banyak hal yang tidak kau beritahu padaku, Himchanssi?"
"Tenang saja. Aku sudah legal menyetir. Aku juga pernah menyetir sebelumnya. Ya, aku sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi aku akan berangkat ke sekolah. Kalau begitu aku permisi dulu" Himchan baru akan meninggalkan ruangan. Tapi Yongguk lagi-lagi menahannya.
"Bo—boleh aku ikut denganmu ke sekolah? Maksudku. Mengantarkanmu? Aku berhutang budi sekali padamu."
Himchan hanya mengangguk. "Kutunggu di luar, nde?"
Pintu tertutup. Dan Yongguk bersandar lemas di kepala ranjang. Mengamati ruangan sekelilingnya sekali lagi dengan tatapan terpesonanya.
"Sepertinya aku jatuh cinta padanya." Yongguk memeluk guling Himchan dengan sangat gemas. Membayangkan senyum Himchan yang terus menghantuinya. Ugh.. ia sungguh tidak tahan.
"Dia sangat imuuuut sekali. Bahkan baunya sangat menggodaku." Yongguk mengendus seperti orang aneh di guling yang bukan miliknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yongguk berhenti sejenak dari langkahnya ketika ia mendapati seorang wanita di atas kursi roda sedang diberi makan oleh Himchan. Ia amati begitu lama kegiatan keduanya.
"Oh, sudah selesai Jongdaessi?"
Wanita yang berada di kursi roda itu menoleh dan tersenyum hangat. Kini, Yongguk tahu darimana senyuman cantik itu dimiliki Himchan. Ia segera menunduk hormat pada wanita cantik tersebut.
"Maafkan kami. Hanya bisa memberikan tempat tinggal sederhana saja."
Yongguk segera menepis. "Ti—tidak. Seharusnya saya yang minta maaf. Saya yang sudah merepotkan anda dan putera Anda."
"Kami tidak keberatan. Lagipula, jarang sekali putera saya membawa temannya ke rumah karena ia terlalu sibuk bekerja hingga larut malam. Jadi saya sangat senang ia masih ada teman yang mau menemaninya kemarin sampai ia pulang bekerja."
Yongguk hanya terdiam. Ia tidak tahu apa-apa tentang sebutan 'teman' atau semacamnya.
"Aku berangkat dulu, ya." Himchan memeluk ibunya. "Hari ini aku pulang lebih cepat. Mau kubawakan sesuatu?"
"Cukup sampai di rumah dengan selamat, Nak."
Himchan mengangguk. Ia menginteruksi Yongguk untuk segera ikut dengannya keluar rumah. Yongguk tidak mengabaikan interuksi tersebut. Ia meninggalkan tempatnya setelah berpamitan pada ibu Himchan.
"Maafkan aku. Aku mengatakan bahwa kau adalah teman lamaku dari tempat kerjaku di cafe. Karena ibuku akan shock jika tahu aku membawa orang yang baru dikenal ke rumah. Apalagi awal pertemuan kita di bar. Ibuku pasti khawatir. Jantungnya sangat lemah."
Yongguk hanya tersenyum tidak enakan. "Hehehe.. kau benar. memang sangat aneh seorang pria pemabuk yang baru dikenal tiba-tiba masuk ke rumahmu."
Yongguk merasa kasihan. Ia tidak tahu bahwa pemuda yang banyak tersenyum ramah untuknya ini, bisa memiliki kehidupan merana bersama ibunya yang sakit. Membandingkan dirinya yang hidup serba kemewahan, dan melarikan diri dari keluarganya. Sangat ironis.
"Aku berharap suatu saat nanti aku bisa menolongmu, Himchan."
"Eh? Kau bilang apa?"
Yongguk sadar bahwa kelepasan mengungkapkan isi hatinya. Ia menggeleng cepat,menepis sangkaan aneh-aneh Himchan. "Ti—tidak apa-apa. Kita harus berangkat agar kau tidak terlambat!"
Himchan pun hanya bisa tersenyum. Senyuman yang sekali lagi membuat jantung Yongguk berdegup cukup kencang.
.
.
.
.
.
.
.
Pintu mobil dari sebuah mobil mewah bermerek Audi R8* itu ditutup Himchan. Jendela turun, memperlihatkan sosok Bang Yongguk (yang belum disadari Himchan) sekedar untuk menyapa sampai jumpa sebelum meninggalkan pemuda cantik itu.
"Terima kasih atas tumpangannya, Jongdaessi. Sepertinya semua orang sangat menyukai mobilmu."
Yongguk akui. Masyarakat sekitar sekolah ini memang mengamati mobilnya cukup lama. Ia jadi tidak merasa nyaman. Apa mereka menyadari siapa yang mengemudikannya?
"Kalau begitu aku harus segera pergi. Mungkin kita bisa bertemu lagi?" Yongguk harus melarikan diri dari perhatian orang-orang. Walaupun tidak mau melepas pergi pemuda cantik itu.
"Tentu saja. Dan semoga hubungan dengan ayahmu, menjadi lebih baik."
"Aku berharap begitu."
Tak berapa lama. Mobil mewah itu telah melesat meninggalkan Himchan. Bersamaan dengan keberadaan Youngjae yang tiba-tiba muncul di belakang punggung Himchan.
"WOW. Cepat sekali! Bahkan aku belum sempat melihat plat nomornya. Mobilnya mirip sekali dengan punya Bang Yongguk." Youngjae menyipit dan berupaya untuk menangkap siluet plat nomor mobil itu jika ia bisa.
"Ia Bang Jongdae. Salah satu pelangganku. Kemarin ia ketiduran di rumahku."
Youngjae terkejut. Ia lagi lagi bertindak berlebihan dengan menggoyang-goyangkan bahu Himchan. Seperti Deja Vu.
"Astaga, KIM HIMCHAN! Aku sudah bilang berapa kali padamu! Kau tidak perlu menjadi host dan menggoda pria kaya hanya untuk membiayai sekolahmu! Apa kau terluka?! Apa semalaman ia menggunakanmu?! Tunggu? Apa ibumu mengijinkan kalian melakukannya di rumah?! BERAPA YANG IA BAYAR?!"
Himchan menepis dua tangan Youngjae. "Astaga. Aku sudah bilang aku hanya jadi pelayan bar. Ia hanya salah satu pelangganku yang memesan minuman. Ia tidak mau pulang karena ia punya masalah dengan keluarganya, jadi mau tidak mau aku mengantarkannya ke rumahku. Aku tidak mungkin menelantarkan pria mabuk. Ia tidak melakukan apapun."
Youngjae menghela nafasnya, lebih lega daripada kemarin. Syukurlah. Firasat buruk itu lagi bisa terhapuskan dalam sekejap. Kalau tidak? Mungkin ia sudah hidup tidak tenang setelah ini. Mendapati sahabatmu tidak perjaka lagi? Tidak akan ia biarkan siapapun menyentuhnya!
"Kenapa kau ini selalu berpikir dangkal, sih? Tsk."
"Yeah. Mau gimana lagi. Kau punya wajah good looking, dan juga perilaku baik mu itu selalu mengkhawatirkanku. Siapapun bisa saja menerkammu. Bahkan aku tidak pernah percaya dengan semua siswa sekolah kita ini. Mereka haus perhatianmu, seperti anjing liar."
Youngjae melirik pada dua bocah laki-laki yang sedari tadi memang mengamati mereka berdua dengan keterpesonaan. Entah apa yang menjadi perhatiannya. "Bahkan padamu Bocah-Bocah sialan! Pergilah!" Youngjae hanya bisa mengusir. Malas jadi pusat tontonan.
"Oh ayolah. Mereka teman-teman kita. Kau ini."
"HYUNDEUL!"
Youngjae dan Himchan terkejut melihat seseorang menyapa pagi mereka. Tidak lain tidak bukan. Seorang pemuda cantik dan manis dan cute. Ahh.. semuanya menjadi kombinasi menyegarkan di setiap pagi keduanya.
"JUNGHONG-KUU!" Youngjae memeluk erat Junhong dengan gemas. "Aku sudah lama tidak bertemu dengan sweet rabbit ku ini!"
"Tapi, Hyung hanya bolos dua hari, kan?"
"Hei. Kalau aku tidak bertemu denganmu dua hari, itu sama saja 2 juta hari." Youngjae mencubit gemas hidung mulus Junhong. "Dan berhentilah memanggilku dengan banmal 'hyung'. Aku tidak setua itu!"
"Tapi aku lebih muda dari hyungdeul." Jawab Junhong polos.
"Ya aku tahu! Tapi kita ini teman sekelas! Bocah aksel dan jenius ternyata emang rese-rese, ya."
Himchan tertawa melihat tingkah pola kedua sahabatnya itu. Ia segera menginteruksi keduanya untuk segera memasuki sekolah. Terlebih, jam masuk tinggal beberapa menit lagi. "Kalian bisa ribut lagi di dalam. Ayo."
"YOSH!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue..
*OE Concert = Parodi nya 'LOE Concert'= On Earth Concert
*Host = Semacam pekerjaan dengan pekerja tampan/cantik dan akan memberikan pelayanan khusus, hanya untuk menemani pelanggannya—bukan pekerjaan sexual.
*Kaca film= Kaca yang menggunakan pelapis hitam untuk menahan panas/silau cahaya matahari. Kaca film memiliki beberapa jenis dari segi tembus pandangnya. Biasanya mobil idol menggunakan kaca film dengan tingkat tembus pandang hampir 80%/sangat gelap,yang itu berarti hanya bisa terlihat dari satu arah.
*Bumper = bagian mulut depan mobil
*Bang Jongdae= Nama samaran yang dipakai Yongguk sebagai perkenalannya dengan Himchan. Diambil dari kombinasi marganya sendiri, nama Jongup dan Daehyun.
*Audi R8 = Mobil yang sama dipakai sama Siwon ^^
Yes! The Perfect dan Best Absolute sudah muncul ke permukaaan.
Terima kasih atas dukungannya dan mau ikut menunggu cerita ini berlanjut. Makasihhh banyak T_T Karena kukira cerita ini akan terlupakan..hiks
Cerita lain yang TBC masih berlanjut. Insya Allah. Tapi tidak menahu kapan lanjutnya. So, follow the story kalau gak mau ketinggalan chapternya^^v
.
.
.
.
Would you appreciate my work with some review/like/fav/follow? Gamshaa m(_ _)m
