My Idol, My Boyfriend
Himkyu's Present
BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo
Genre : Romance Comedy
Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Maaf atas kelamaan updatenya. Beberapa bulan ini gak konsen buat ngelanjutin dulu haha. Ada alasan tertentu pastinya, belum diberesin (my real life is so complicated). Tapi, ini update nya! Terima kasih yang sudah mendukung cerita ini, sehingga Miyu jadi semangat ngelanjutin.
ENJOY!
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
Side Profile*:
1. Im Jaebum
Sahabat sejak SD Youngjae. Sampai sekarang pun masih satu sekolah dan satu kelas. Walaupun sudah bersahabat lama, mereka punya ketidakcocokkan yang membuat mereka sering bertengkar. Jaebum tidak suka B-A,dan mungkin mustahil untuk menyukai boyband semacam mereka. Sayang sekali ia harus berurusan dengan boyband terus-terusan karena sahabat dan kakaknya menjadi penggila mereka.
Ia cukup galak, dan bertempramental. Karena tegas dan disiplinnya, Jaebum berkali-kali dijadikan ketua di berbagai acara dan organisasi. Tapi sayangnya,karena itu ia tidak banyak teman wanita.
Walaupun galak, ia sangat penakut pada kakak perempuannya. Ia hanya patuh dan tunduk hanya kepada kakaknya. Dan yang tahu dengan sisi lainnya itu, hanyalah 3 sahabatnya, Himchan, Junhong, dan Youngjae.
Chapter 2
Langkah kaki yang sedikit pelan agar tidak banyak mengundang perhatian siapapun dari dalam dorm. Laki-laki itu seraya mengamati perabotan yang sudah ia tinggali dari sehari yang lalu. Tidak ada kesan yang ia dapatkan sehingga ia tertarik kembali ke tempat ini. Seharusnya ia tak pernah berkata akan kembali ke tempat tinggalnya, dan meninggalkan rumah lelaki yang baru sehari sudah mencuri hatinya.
"Eh?"
Yongguk terkejut. Melihat sosok pemuda yang tak asing dan terbiasa akan berkeliaran dalam dorm dengan tubuh atasnya yang terekspos dengan bangga, berjalan-jalan dengan minuman diteguknya.
"Yongguk hyung?!"
Siapa yang tidak akan senang melihat Yongguk telah kembali. Ia berlari mendekat, dan sudah merentang tangan untuk memeluk hyung gagahnya itu. Namun instruksi tangan membuat Jongup berhenti seketika.
"Ah. Ya. Aku baru saja mandi." Jongup cekikikan. Pantas saja Yongguk risih hanya melihatnya tanpa balutan pakaian. Membayangkan campuran keringat dan air bersatu menempel di kemeja Yongguk, akan membuat pria itu bergidik ketakutan.
"Kemana saja ,hyung? Kau tahu, semalaman aku dan Daehyun mencarimu."
Yongguk garuk garuk kepala mengetahui hal tersebut. Merasa bersalah telah merepotkan keduanya. Dan tentu saja ia justru akan menyalahkan ayahnya, sang BOS yang tidak akan pernah ditentang keduanya. Kenapa bapak tua itu selalu melibatkan keduanya?!
"Oh ya, Daehyun kemana?"
Yongguk bertanya. Jongup mengerutkan kening. Seakan suatu pertanyaan mustahil baru saja diutarakan olehnya.
"Tumben sekali memperhatikan anak itu."Jongup mengernyit curiga.
"Ya, tumben sekali."
Yongguk dan Jongup terkejut melihat Daehyun bertampang habis tidur tengah bersandar di dinding dan memperhatikan keduanya. Entah sejak kapan ia berdiri disana. Dan kenapa ia terlihat sangat berantakan sekali. Fans fanatiknya di luar sana harus mengetahui kebiasaan tidak rapih laki-laki yang dipuja mereka ini agar setidaknya berkurang dari muka bumi dan kembali menjadi manusia normal.
Punggung Daehyun beranjak dari tembok. Ia berjalan mendekat pada Yongguk dengan dua mata kesal membidik tepat pada dua manik hitam Yongguk yang keheranan. Pagi ini terasa mencekam setiap kali Daehyun memberikan ekpresi tak terduga seperti itu.
"Darimana saja kau, sialan?! Aku dan Jongup berkeliling Korea hanya untuk mencari kau. Teleponmu juga tidak dijawab sama sekali!"
"Hanya sedang mencari udara segar." Yongguk mengalih pandangan.
"JADI MAKSUDMU TINGGAL BERSAMA KAMI UDARANYA KOTOR GITU!?"
Jongup melempar pandangan pada keduanya. Berdiri menjauh, dan bola matanya bergantian memperhatikan Yongguk,lalu Daehyun, lalu Yongguk. Sekedar mengawasi tidak akan ada permainan fisik dan pertumpahan darah. Apalagi menghentikan cekcok mulut mereka yang tidak akan berarti, jika ia tidak mau kehilangan nyawa setelahnya.
"Berisik sekali. Kau terdengar seperti seorang istri mengomeli suaminya sehabis lembur dan mencari nafkah untuk keluarganya."
"OH TENTU SA—EHHHHHH siapa yang kau bilang istri?! Dan kau bilang, SUAMI LEMBUR!? Oh ya, lebih tepatnya, suami lembur dengan wanita lain semalaman. Lihat siapa yang pakai baju kaos manis ini!? TIDUR DIMANA KAU SEMALAMAN?!"
Yongguk menghindar dari cengkeraman Daehyun. Diperhatikan kemejanya ternyata sudah berganti pada kaus merah muda belang hitam. Oh, lebih tepatnya baru sadar ia tidak memakai kemejanya yang semalaman ia pakai. Tidak mungkin kemeja berkeringat dengan bercampur bau alkohol akan ia pakai kembali, kan? Pasti tadi pagi ia masih sangat mengantuk saat Yongguk mengenakan baju pinjaman Himchan untuknya. Pasti.
UWAA... ITS HIMCHAN'S T-SHIRT, EVERYONE.. GOD DAMN BOYFRIEND'S T-SHIRT! IT'S TOO SEXY!—Hati Yongguk seperti akan membuncah. Melupakan wajah merah kesal Daehyun yang diabaikannya.
"Damn it! Kau melarangku untuk tidur dengan wanita lain, sedangkan kau bermain seenaknya saja diam-diam tanpa mengajak-nga—oh maksudku—beralasan bohong sedang kesal dengan Sanjangnim dan menghindarinya hanya untuk bersenang-senang dengan wanita murahanmu!?" Daehyun tersenyum sengit. "Cih, tak kusangka pemuda dengan predikat 'The Kindness Artist of The Year' adalah macam orang menjijikkan sepertimu."
"MULUTMU! Siapa yang tidur dengan wanita?! Aku tidak tertarik. Lagipula tidak ada yang percaya kalau aku akan melakukan hal semacam itu. Kecuali jika tercantum namamu dalam pernyataanmu tadi, semua orang pasti akan langsung percaya." Yongguk mengalihkan perhatiannya pada Jongup yang hanya berpaku di dinding. "Benar kan, Jongup?"
Nope. Jongup tidak mau berpihak dengan siapa. Ia tidak mengangguk, atau menggeleng.
"And then, who is it, dear Angel?" Daehyun memainkan benang benang kaus Yongguk yang terjahit dengan baik. Kaus yang sederhana dan tidak mahal. Tidak spesial. Tapi bagi Yongguk, ini sangat berarti untuknya. "Kaus feminim ini milik pria yang kau tiduri?"
Blush!
Yongguk berusaha menahan rasa malunya. Ia tidak tidur satu ranjang dengan Himchan—belum. Tapi kata-kata Daehyun seolah menyatakan bahwa ia benar-benar melakukan hal tidak-tidak bersama laki-laki manis itu.
"NAH! APA ITU BENAR?!"
"DAMN IT, DAEHYUN! KAU INGIN BERKELAHI!" Yongguk mencengkeram kerah piyama Daehyun. Daehyun hanya bertolak pinggang.
"CIH! DISGUSTING MAN!"
"YOUR SHITTY PLAYER MOUTH HAS TO SHUT—"
"OH AYOLAH HENTIKAN SEKARANG JUGA KALIAN BERDUA!"
Daehyun dan Yongguk terdiam. Dalam waktu bersamaan melempar pandangan pada Jongup yang terengah-engah setelah meneriaki keduanya. Tidak ada lagi rasa takut untuk menghadapi dua serigala yang tidak akan akur jika tidak dihentikan ini.
Jongup yang tidak pernah marah. Jongup yang tidak pernah membentak pada Hyungdeulnya. Jongup, sang Magnae yang terlihat innocent dari luar dan dalamnya (kecuali badannya), kini berubah sangat dewasa hanya karena beberapa menit mampu menghentikan umpatan demi umpatan yang dihamburkan dua hyungdeulnya itu.
"Kita punya waktu hanya 5 hari untuk mempersiapkan konser Anniversary kita." Jongup mulai bersilang tangan di dada. Wajahnya cukup galak, dengan alis bertautan tidak senang. "Dan kalian menghabiskan waktu 1 jam berharga yang bisa dipakai untuk berpakaian secepatnya sebelum sampai ke ruang latihan, dengan 'gurauan' tidak jelas begini?! Kalian mau MATI!?"
Goodbye our innocent Baby. He is not a baby anymore.
"J—Jongup... Kami minta maaf." Keduanya hanya menunduk patuh dan kecewa. Mempersalahkan diri mereka sendiri, dan saling mempersalahkan satu ke lainnya dari dalam hati kecil mereka.
"Sekarang, kalian mandi dan pakai pakaian kalian. Atau aku tidak akan memberikan pengarahan untuk koreo terbaru kita."
Daehyun dan Yongguk saling berpandangan. Koreo Jongup jauh lebih penting dari apapun. Kelangsungan perform mereka sangat bergantung pada keahlian seorang professional seperti Jongup. Tidak tahu bagaimana jadinya kalau Jongup benar-benar badmood dan menghentikan pengarahan pada mereka. Mau menari apa mereka di atas panggung? Goyang itik?(?)
"Kenapa diam saja? AYO CEPAT!"
"Y—YAA!"
Yongguk dan Daehyun segera berlari menuju ke kamar masing-masing. Mengacak isi lemari untuk menemukan kaus yang pantas.
Yongguk masih sulit untuk melepas kaus Himchan dari tubuhnya, tapi apa daya. Sayang sekali jika kaus berharga itu jadi kotor akan bau keringat. Bau Himchan yang menggoda harus dipertahankan di baju itu. Harus.
Dan Daehyun. Ia tidak tahu harus pakai apa. Ia panik bukan kepalang. Mencari kaus yang pantas untuk memperlihatkan pesonanya setiap hari. Bahkan harus lebih mempesona agar menarik lebih banyak wanita. Padahal latihan mereka hanya di ruang tertutup. Tapi, tetap saja Daehyun tidak mau kalah tampan dari Yongguk.
Mana mau dia memaki Yongguk hanya karena penampilannya lebih cool darinya di pantulan kaca cermin.
Selama keduanya sibuk. Jongup hanya cekikikan di tempat yang sama. Ia lega sekaligus tidak percaya bisa begitu galaknya pada dua hyungdeul yang sangat disayanginya. Puas sekali mengerjai mereka. Hanya dengan meletakkan posisinya sebagai member terpolos di grup sebentar saja, dan membangkitkan sisi jahatnya, ternyata seru juga.
.
.
.
.
.
.
.
Di sebuah Department Store , begitu banyak orang-orang berlalu lalang memasuki dan keluar dari dalam sana. Orang Korea memang sangat ganas jika sudah berkaitan dengan belanja. Barang barang yang ditawarkan tentu saja tidak kalah ganas menarik minat siapapun. Tak peduli seberapa mahal, dompet dikuras habis-habisan hanya untuk mendapatkan barang-barang berkualitas di dalam sana.
Salah satunya yang tidak akan menolak untuk menggerogoti uang sendiri adalah seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam toko tas yang menjualkan banyak tas kulit berharga luar biasa. Tas impor, dimana-mana. Dan wanita itu akan meneteskan air liur hanya melihatnya saja dari luar etalase. Akalnya berteriak, "I have to get that one!"
"Hahaha.. Lihat apa yang kudapatkan, suamiku." Ia menelepon seorang pria dari teleponnya. Jinjingan tasnya memutar-mutar di udara untuk melihat seluruh bagian tasnya yang berkulit asli ular langka dari Afrika. "Aku mendapatkan tas ini seharga 200.000 won*. Sangat bagus sekali. Kau harus melihatnya!"
Tak berapa lama alis wanita itu berkerut. "Apa? Hahaha.. kenapa kau masih mengkhawatirkan hal itu. Apa gunanya kita punya anak itu? Aku hanya perlu meminta lagi, bukan?"
Wanita itu begitu bersenang-senang berkomunikasi dengan suaminya melalui telepon. Mengabaikan perhatiannya pada sekitarnya. Hingga ia tidak sadar, lampu penyeberangan telah berganti merah. Namun langkahnya tak juga dihentikan.
"Aku akan menghubungi Jongup untuk mengirimkanmu uang lagi kalau begitu. Tapi, jangan lupa oleh-olehku."
TINTIN TINN
"Oh tentu saja. Yang berwarna biru safir. Kau harus mendapatkannya. Jangan harap pintu terbuka untukmu jika kau tidak membawanya. Hahaha.."
TIN TINN TINNN
"Tsk.. sebentar. Suara mobilnya berisik sekali." Ia menoleh ke sumber suara. "Hei,kau henti—"
CKIIIIIIIT
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit yang lalu..
"Anda mengapa tersenyum terus, Nyonya?"
Wanita cantik itu mengalihkan perhatiannya pada kaca spion supirnya. Ia kenal pria itu. Pria yang mengabdikan diri padanya untuk menjaganya selama ia dirawat rehabilitasi. Pria itu punya senyum hormat yang berwibawa. Wanita itu tersenyum untuk membalas.
"Anak perempuanku. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Ia sangat cantik sekali. Kemarin aku bertemu dengannya, dan rambutnya semakin panjang saja. Ia semakin cantik."
Pria yang sedang sibuk mengemudi itu tersenyum paham. Betapa besar cinta wanita itu kepada puterinya. Pria itu jadi semakin penasaran, bagaimana rupa anak gadisnya yang seringkali diceritakan majikannya itu.
"Anda pasti sangat bangga padanya."
"Ya, aku sangat bangga. Dan ia adalah satu-satunya puteriku yang sangat berharga. Aku tidak akan pernah membencinya." Wanita itu mengelus-eluskan bingkai foto mini yang memperlihatkan foto buah hatinya.
Foto itu terpampang dua anak. Yang satu adalah seorang anak gadis berumur sekitar 12 tahun. Dan yang dirangkul gadis itu adalah bocah manis dengan gurat tawa menggemaskan berumur 7 tahun.
Namun wanita itu hanya tersenyum untuk satu orang.
Yaitu anak gadis itu.
Dan bocah menggemaskan itu seakan diabaikan dari dalam foto itu. Dan diabaikan dari perhatian wanita itu seutuhnya. Tawanya dan keberadaannya tidak pernah dianggapnya ada.
Tin tinnn
"Astaga apa yang dilakukan wanita itu?!"
Wanita yang duduk di belakang pria itu terkejut mendengar suara panik supirnya.
"Ada apa?"
"Wanita gila itu. Ia tidak memperhatikan jalan. Lampunya sedang hijau."
"Astaga. Hentikan secepatnya! Kau akan menabraknya."
"Saya sedang mencoba nyonya. Jaraknya terlalu dekat."
Pria itu mencoba memperingatkan kembali dengan klaksonnya. Siapa tahu masih bisa membuat wanita itu segera menghindar. Karena ia sudah mencoba mengerem, tapi jarak terlalu dekat hanya akan membuat mobil dan wanita itu tetap bertabrakan.
Beberapa meter lagi jaraknya dengan wanita itu, yang sibuk menelepon tanpa sadar ada satu mobil siap menghantamnya.
CKIIIITTTTTT
Akhirnya terpaksa pria itu membelokkan kemudinya dengan cepat. Menghindari wanita itu dan membelok ke trotoar.
Untung saja trotoar tidak dipagari besi. Hanya posisi mobilnya berada di atas trotoar saat ini, dan tidak banyak pengguna jalan yang berlalu lalang. Tidak ada korban jiwa, dan mobil mahal itu tidak menjadi korban.
Pria itu terselamatkan karena kepalanya tak terbanting ke kemudi terlalu keras. Namun bukan hanya keselamatannya yang diutamakan, ia segera berpaling ke belakang tempat duduk, menemukan majikannya hanya sedikit meringis.
"Anda baik-baik saja?"
Wanita cantik itu mengangguk. Namun sekejap ia langsung berubah panik. "Bagaimana dengan wanita itu?!"
Pria di hadapannya mencoba menenangkan, membiarkan dia saja yang mencari tahu keadaan wanita yang hampir menjadi korban itu. Namun majikannya tersebut sudah tak tenang. Wanita itu segera keluar dari mobilnya, dan tidak dipedulikannya pandangan-pandangan masyarakat padanya.
Wanita paruh baya itu tergeletak di tengah jalan raya. Syukurlah, wanita itu masih bergerak. Ia berusaha bangun dari posisi duduknya. Walaupun masih agak kesulitan. Entah apa yang terjadi sehingga wanita itu merasa kesulitan membangunkan diri.
"A—Anda baik-baik saja?" wanita cantik itu segera merangkul korbannya yang kesulitan berdiri. Beberapa saat pertemuan mata di antara mereka , membuat wanita yang menjadi korban itu terdiam sejenak. Matanya menelusuri penampilan wanita dengan penampilan terhormat itu. Ia sedikit meneguk ludah melihat siapa dan seperti apa seseorang yang hampir menabraknya itu.
Ia kaya raya.
Dari kalung mutiara, gelang emas, cincin berlian, blazer bermerek, penampilan formalitas yang selalu dipamerkan wanita wanita sosialita. Apakah suaminya pejabat negara? Presiden dari perusahaan Internasional? Entahlah ia tak tahu.
Tapi kenapa tidak ia coba untuk cari tahu?
"Argghhh... kakiku agak nyeri." Wanita itu kembali menjatuhkan diri, sekedar membuat wanita kaya itu semakin panik bukan kepalang. Padahal kakinya baik-baik saja. Tidak ada cedera apapun. Syukurlah bahwa mobil itu masih baik membelok daripada menyenggolnya sedikit saja. Ia hanya tersungkur karena terlalu kaget.
"Ka—kalau begitu, saya bawa saja Anda ke rumah sakit, nde?"
"Ti—tidak apa-apa. Hanya sakit biasa. Nanti juga lama-lama hilang sendiri. Tapi, saya sendiri masih sulit berjalan untuk sampai ke rumah." Wanita itu bersandiwara dengan air mukanya berubah sedikit menyedihkan. Tentu saja wanita kaya itu tidak akan diam saja mendapati korbannya terluka karena dirinya, walaupun wanita malang itu menyangkal apapun bahwa dia baik-baik saja.
"Kalau begitu biar saya antar anda sampai ke rumah."
Got you!
Wanita pembual itu tampaknya tertawa puas di benaknya. Rencana pertamanya selesai.
Saat ia dirangkul dan dibawa ke dalam mobil mahal wanita kaya itu, dirinya sangat bersenang-senang di balik wajah meringis yang diperlihatkannya. Sangat ironis.
Waktunya melakukan rencana kedua untuk mendapatkan uang dari wanita ini dengan cara semulus-mulusnya.
.
.
.
.
.
.
.
Di mobil..
Mobil itu melaju dengan kecepatan normal. Kejadian beberapa waktu lalu membuat sang Supir lebih waspada dalam mengemudi. Keadaan menjadi tenang dan tentram. Tidak ada lagi konsen yang buyar kemana-mana.
"Jadi, siapa dua anak ini, Nyonya?" seorang wanita mendapati sebuah bingkai foto mini di sebelah dudukannya. Foto yang sama dengan yang dilihat oleh si Wanita Kaya dalam perjalanannya sebelum insiden.
"Ah. Panggil aku saja Gyun. Bukankah umur kita sama, Yuna ssi?"
"Ah kau benar." Yuna tertawa. "Jadi siapa dua anak ini, Gyun ssi? Apa mereka anakmu?"
Gyun tersenyum. Senyumannya benar-benar menunjukkan ia adalah wanita terhormat dan terpandang. Yuna harus belajar lebih memiliki senyum berparas seperti itu.
"Ya. Aku punya anak perempuan dan dia masih bersekolah saat ini."
Yuna mengangguk paham. "Lalu puteramu?"
Gyun terdiam. Ia hanya menoleh dan melihat-lihat pada pemandangan di luar jendela mobilnya. Entahlah kenapa wanita itu tidak merespon pada pertanyaan Yuna barusan.
Tapi itu tidaklah penting. Sebenarnya dari awal juga ia hanya tertarik mencari tahu tentang anak gadis wanita kaya ini. Pasti ada yang bisa dimanfaatkan.
"Aku juga punya seorang putera, Gyun ssi."
"Benarkah?" Gyun kembali merespon setelah lama terdiam. Cukup misterius kenapa wanita ini hanya akan menyambut percakapan-percakapan tertentu.
"Ya. Apakah kau kenal dengan seorang selebritis atau penyanyi bernama Moon Jongup? Dari boyband Best Absolute? Ia adalah puteraku." Yuna begitu bangga memperkenalkan perihal putera semata wayangnya itu.
Gyun hanya terlihat heran. "Maaf. Aku sudah lama tidak menonton televisi dan mengetahui dunia entertaiment semenjak aku di rawat di rumah sakit. Jadi aku tidak terlalu kenal. Hahaha..."
"Oh begitu? Tidak apa-apa. Lagipula Jongup memang baru debut 2 tahun. Haha.." Yuna menaruh kembali bingkai foto itu di sisi dudukannya.
"Sangat disayangkan sekali. Aku seharusnya mengenal puteramu. Pasti ia sangat terkenal. Aku merasa menjadi seseorang yang sangat ketinggalan jaman."
"Orang tua selalu begitu. Mereka tidak tahu apa yang anak muda biasa lakukan dan mereka kenal, bukan?"
"Ya. Tapi mungkin puteriku mengenalnya. Aku jadi ingin sekali bertemu dengan puteramu."
Yuna melirik pada Gyun dengan lirikan antusias. Lengkung bibir kanannya sedikit terangkat. Sepertinya ia mencium suatu kemajuan dari percakapan mereka.
"Bagaimana jika aku dan anakku bisa bertemu dengan puteramu?" Gyun memperbaiki posisi duduknya agar bisa bicara lebih nyaman dengan Yuna. Ia cukup antusias. "Apakah boleh?"
"Ini sangat kebetulan sekali." Yuna berlaga gembira. "Tentu saja. Aku juga sangat ingin bertemu puterimu yang cantik."
"Bagus sekali! Kebetulan 5 hari lagi keluarga besarku akan mengadakan acara penyambutan untukku." Gyun menginteruksi supirnya. Pria yang sdari tadi terdiam itu segera meraih sesuatu dari kantung jasnya, dan mengulurkannya kepada Nyonya-nya. Tanpa mengabaikan pandangan apapun di hadapannya di tengah jalan raya kini.
"Ini kartuku, alamat rumahku. 5 hari lagi, jam 7 malam. Pesta penyambutan ini akan terasa lengkap dengan kehadiranmu dan puteramu." Gyun memberikan kartu yang didapatkannya. Yuna menerima dengan wajah berseri. Hatinya sangat bahagia. Ia sulit berkata apa-apa lagi. Ini lebih baik dari yang ia duga.
"Bukankah ini terasa seperti perjodohan anak kita, Gyun? Hahaha" Yuna berusaha mencairkan suasana. Gyun hanya tertawa anggun.
"Tidak ada salahnya mengharapkan seorang menantu selebritis hebat. Hahaha" Gyun tertawa malu-malu. Ia membayangkan dengan sangat bersemangat apabila puterinya dapat bersanding dengan Jongup, putera Yuna.
Yuna mengangguk senang dan tertawa kecil. Ia lalu memandangi bayangannya dari jendela mobil.
Janganlah berhenti berharap, Gyun. Kau bisa dapatkan anakku. Tapi kau harus bayar dengan uangmu...
.
.
.
.
.
.
.
Yongguk menghentikan mobilnya. Kali ini ia tidak datang dengan mobil yang sama. Ia bersyukur ayahnya pernah meninggalkan sebuah mobil sederhana bertahun-tahun lalu silam. Ia cukup trauma datang dalam lingkungan sederhana ini dengan mobil terlalu mencolok.
"Dimana aku bisa bertemu dengan Himchan?" ia tidak bisa diam melenggok tubuhnya untuk memeriksa setiap siswa yang bergantian keluar dari sekolah besar itu. Tak ingin terlewati sosok yang dicarinya.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi hari ini kau ke bar itu lagi?" Youngjae menghentikan main HP nya. Himchan yang berjalan di sampingnya hanya tersenyum.
"Bar? Siapa yang ke bar?" kali ini Junhong yang sangat penasaran. Pemuda manis itu tidak tahu apapun perihal kejadian keduanya kemarin.
"Ini bukan urusanmu. Ini urusan orang dewasa." Celetuk Youngjae. Sifat menyebalkannya kambuh lagi.
"Urusan orang dewasa? Memangnya kau sudah dewasa,Hyung? Tidur saja maunya ditemenin." Junhong mencibir. Memicing kesal pada Hyungnya itu.
Ia teringat sekali saat liburan musim panas, Youngjae sangat ketakutan tidur sendirian hingga menyeret Junhong tidur bersamanya di sebuah vila. Itu adalah kejadian merepotkan. Kenapa juga harus Youngjae yang minta ditemani? Tidur bersama Youngjae hanya jadi insomnia buat siapapun.
Himchan menginteruksi untuk diam. "H—Hei.. kalian.."
"Hei!" Youngjae menunjuk pada Junhong. "Itu karena aku selalu ditemani tidur oleh Yongguk, makanya aku tak terbiasa tidur sendirian."
"Psstt.." Himchan menginteruksi untuk diam, lagi.
"Yang benar saja, Hyung?!" mata Junhong berkilat. Hasrat kesalnya semakin menggebu.
"Guys.." Himchan sudah angkat tangan di dada.
"Tentu saja. Aku bahkan memeluknya."
Plak. Junhong mengeplak kepalanya. Ampun.. Sebenarnya siapa yang umurnya 16 tahun disini? Yang benar saja Hyungnya itu berandai keterlaluan pada sebuah guling 2 dimensi?!
"Tapi itu cuman guling,Hyung!" Junhong menegaskan argumennya.
"Guling yang kudapatkan dengan sepenuh jiwa tidak ada bedanya memeluk suami sendiri!"
"GUYS! CUKUP!" gertak Himchan. "Memalukan kalian ini berdebat di tengah jalan." Himchan menengahi. Ia tidak suka membentak, tapi sekalinya menggertak akan langsung membuat siapapun menurut diam. Youngjae dan Junhong pun langsung mengerucut bibir bersamaan.
"YOUNGJAE!"
Ketiganya tiba-tiba berhenti melanjutkan jalan mereka.
Youngjae berdecak setelah mendapati seseorang yang memanggilnya. "tsk... kenapa harus anak Setan itu lagi?"
"Youngjae.. Youngjae...Youngjae..." Jaebum mengayun-ngayun tangan Youngjae dengan manja. Youngjae sampai cukup shock melihat perubahan sikap sahabatnya itu yang bertolak 180 derajat dari yang kemarin. Entah apa yang sedang merasuki anak itu.
"Kau kenapa?! Sakit?!"
"Youngjae tolong aku." Mata Jaebum berseri-seri. Youngjae terasa jijik. "Kakakku. Kau tahu kan, aku tidak mau ditinggal berdua saja dengan kakakku yang ganas itu."
"Heh?! Dia sudah balik dari Jepang?"
Jaebum mengangguk.
"Temani aku hari ini saja sampai orang tuaku kembali nanti malam! PLEASEEE..."
"Tidak. Yang benar saja. Apa yang bisa kulakukan di rumah—"
"Kakakku itu fans B-A juga."
Youngjae langsung menengok cepat. Melihat kesungguhan dari perkataan Jaebum barusan. Wajahnya tak tampak sedang berbohong.
"Kau tidak bilang apa-apa tentang itu sebelumnya?!"
"Untuk apa menceritakan segala hal tentang kakakku, yang punya hobi 'gila' sepertimu?"
"Jadi, kau mau ditemani atau tidak, Jaebum?" Himchan mengingatkan keduanya kembali dengan tujuan awal. Kalau tidak segera dihentikan, bisa-bisa adu perdebatan akan dimulai lagi.
"Hmmm.." Youngjae berpikir. Menemani Jaebum bukanlah hal yang membosankan sepenuhnya. Apalagi anak itu bisa saja mengajaknya bermain games atau menghabiskan separuh kulkasnya, sudah lebih dari cukup.
Tapi, melakukan hal itu terus menerus adalah sesuatu yang tidak diharapkan Youngjae.
Jadi, pertanda baik di dalam rumah Jaebum ada yang bisa memenuhi hobinya. Ia tidak akan bosan.
Youngjae juga bisa mendapatkan teman baru dalam dunia fanboyingnya, bukan?
Youngjae pun akhirnya mengangguk.
"YEY! Sekarang, kau ikut aku."
"SEKARANG?!"
"Tenang saja kau bisa pinjam bajuku. Himchan, Junhongie, aku pinjam Youngjae dulu, ya!" Jaebum begitu antusias menyeret Youngjae yang malah memberontak. "YAK! SAKIT, BODOH!" teriakan Youngjae menggema cukup keras di lorong sekolah.
Himchan hanya cekikikan. Syukurlah dua orang itu sudah tidak meributkan hal sepele seperti kemarin.
"Junhongie? Mau pulang bersama?"
Junhong dilihatnya sangat konsen kepada telepon genggamnya. Sejak kapan Junhong bermain HP? Tapi, ia terlihat sangat tenang sekali.
Melihat ekspresi tidak bersemangat seperti itu, Himchan sadar. Pasti ada sesuatu yang menganggunya. "kenapa, Junhongie?" Himchan mengelus punggung anak muda itu.
Junhong kembali menengoki Himchan yang berjalan di sampingnya.
"Ah. Tidak apa-apa. Aku ada keperluan di rumah, Hyung." Junhong tersenyum ringan.
"Kau yakin tidak ada masalah?"
"Tidak, Hyung. Terima kasih sudah mencemaskanku." Di tengah perjalanan mereka , tiba-tiba suara klakson menyambut. Sebuah mobil mercy berhenti tepat di hadapan mereka. Mobil yang selalu sama mengantar jemput Junhong. Seorang pria yang sudah dianggap kakak tertua untuk Junhong turun, dan membukakan pintu untuk putera majikannya.
"Silahkan, Tuan Muda."
Memang tidak bisa disepelekan seorang anak direktur besar.
"Hyung, tidak ikut?"
Himchan berpikir. Sebenarnya banyak hal yang ingin dibicarakan Himchan tentang masalah yang tengah disimpan oleh Junhong. Ia yakin anak itu punya masalah yang tidak ingin diungkapkan kepada siapapun. Anak itu memang terlihat tenang setiap harinya, dan tidak ada gangguan dengan prestasi sekolahnya.
Jadi, ia tidak apa-apa?
Atau hanya karena anak seumurannya sudah bisa mengatasi masalahnya sendiri?
"Hyung?"
"Oh! Tidak usah. Aku ada urusan ke rumah sakit untuk membeli obat ibuku. Kau duluan saja."
"Baiklah. Ucapkan salamku untuk ibumu, Hyung. Semoga cepat sembuh. Aku pulang dulu." Junhong memasuki mobilnya. Dadahan tangannya sebagai sapaan sampai jumpa di antara mereka.
Beberapa saat ketenangan melingkupi. Himchan tiba-tiba dikejutkan dengan sesuatu.
Tin Tin Tinnn
Himchan terkejut mendengar suara klakson mengarah kepadanya. Mobil Nissan Juke berwarna putih yang terparkir tidak jauh dari tempatnya. Mobil siapa itu?
Mobi itu bergerak. Mendekatinya. Himchan hanya terpaku dan menunggu pengemudinya menurunkan jendela.
"Hei, ini aku."
Seorang pria yang tidak asing dengan penampilan serba tersembunyi. Hanya saja kali ini dengan hoodie biru tua, dan topi snapback biru. Hanya kacamata hitamnya yang sama.
"Jongdae ssi?"
"Mau kuantar pulang? Kau meninggalkan sesuatu."
Himchan tersenyum. Ia pun mengangguk,dan memasuki mobil itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
"JAEBUM, ITU KAU?!"
Suara teriakan dari dalam rumah, membuat Jaebum segera bersembunyi di belakang punggung sahabatnya.
Youngjae sudah terbiasa. Pasalnya Jaebum memang tidak pernah berani dengan Noona nya yang ia selalu ceritakan punya tingkat temperamental terlalu tinggi. Ditambah dengan pekerjaan yang cukup sibuk selama di Jepang,membuat waktu istirahatnya terkuras.
Itulah yang membuat wanita yang berbeda 7 tahun dari Jaebum itu, banyak membentak tiap kali pulang ke Korea. Terutama sang Adik kecil yang sering jadi pelampiasan. Perlakuannya memang tidak sekasar saudara tiri. Tapi sekali dimarahi, Jaebum tidak bisa melawan sama sekali.
"Jae—eh?"
Wanita cantik dengan rambut pendek sebahu. Tidak ada kerut apabila terlalu sering marah. Wajahnya cantik natural seperti layaknya orang korea lainnya, tidak banyak bersolek seperti pekerja kantoran. Memakai tank top yang memperlihatkan kedua bahu mulusnya, dan celana sangat pendek memamerkan kaki jenjangnya. Ia lebih cocok jadi pramugari atau model ketimbang pekerja lemburan di perusahaan.
"Siapa ini?" benar. Disambut dengan wajah ketus. Wanita itu tidak menyambut terlalu ramah. Mungkin tidak puas karena yang dibawa adik kecilnya malah seorang berondong muda. Bukan pria seumurannya yang bisa ia goda dengan tubuhnya.
"Di—dia, temanku! Namanya Yoo Youngjae. Youngjae, kenalkan ini Noona-ku."
"Jaesung. Panggil aku Jaesung." Wanita itu tetap memicing sebal. Mengawasi Youngjae dengan tatapan penasaran.
"Hei,Noona." Youngjae mungkin tidak terlalu mempedulikan betapa galaknya wanita yang disapanya. Setiap fangirl Noona memang tidak terlalu senang dengan kehidupan realitanya. Pekerjaan, kuliah, tugas sekolah, percintaan, itu semua selalu menjadi beban yang datang untuk mahluk super sensitif bernama 'wanita'.
Youngjae yakin. Orang seperti kakak Jaebum ini butuh hiburan yang bisa membuatnya lebih jinak. Terlebih, jika mereka berdua memiliki hobi yang sama.
Jaesung hanya mengerut kening pada sapaan Youngjae yang sok ramah kepadanya. Ia hanya memicing curiga, jangan-jangan teman adiknya ini naksir padanya. Sayang sekali, ia tidak tertarik dengan berondong muda yang masih labil.
"Oh ya, a—aku dan Youngjae akan belajar bersama dulu di kamar. Kami tidak akan ganggu." Jaebum mendorong punggung Youngjae untuk masuk ke dalam rumahnya walaupun pemuda itu setengah minat untuk melakukannya. Lagipula tujuan Youngjae kemari juga tidak ada sangkut pautnya untuk menemani Jaebum. Melainkan mencari teman seperjuangan dalam menggilai para banc* itu—pikir Jaebum—yaitu kakaknya yang liar.
Mereka telah sampai di dalam kamar Jaebum. Seperti biasa, disambut pemandangan yang sama seperti terakhir Youngjae berkunjung. Semuanya tidak ada yang berubah. Makanya ia malas ke tempat ini lagi.
"kamarmu memang selalu membosankan"
Youngjae mencibir. Mengabaikan tatapan sebal yang dilemparkan Jaebum padanya.
"Kau seharusnya menaruh beberapa poster idolamu di dinding." Youngjae menerawangi setiap sudut kamar luas Jaebum dengan sudut pandangnya. Dinding cokelat dekat lemari pakaian disana sangat cocok ditempeli poster Bang Yongguk sedang bermain gitar listrik, memperlihatkan sisi ganasnya. Youngjae membelinya beberapa bulan lalu saat B-A mempromosikan lagu genre rock.
Atau di sebelah cermin, dinding kosong itu bisa dihiasi beberapa foto Bang Yongguk sedang tersenyum. Seakan penampilanmu ketika bersolek di depan kaca, dipuji oleh senyuman-senyuman tampan lelaki pujaanmu.
"Stop membayangkan hal-hal mustahil di kamar in! Jangan buat kamar ini jadi sangat menjijikkan dengan pikiran kotormu." Tegur Jaebum seraya membuka pakaian seragamnya. Pakaiannya jadi sangat bau keringat setelah letih menyeret Youngjae yang badannya lebih berat beberapa kg darinya. Seandainya yang ia seret itu Junhong. Ia sama sekali tidak akan keberatan.
Sebuah gitar dibawa ke pangkuan Youngjae. Hanya benda itu yang bisa menghibur Youngjae ketika ia sedang dilanda bosan. Setidaknya ada sesuatu di kamar Jaebum yang bisa membuatnya terhibur sedikit.
"Mau apa kau?" Jaebum selalu saja berprasangka buruk pada Youngjae. Laki-laki yang ditegur sinis oleh Jaebum itu bermelet lidah.
Youngjae memetik senarnya sebentar. Mencoba mempengaruhi perasaannya agar bersatu dengan melodinya. Pesona Youngjae menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun ketika ia sedang akan memainkan gitar. Tak terkecuali Jaebum. Laki-laki itu malah jadi menunggu-nunggu kelanjutan permainan Youngjae.
"haru onjongil jakku ni saenggakman
ijeuryeo haedo geuge an doeneun girl
nae mameul kkokkkok sumgiryeo haebwado..." **
Jaebum akui,suara Youngjae lebih baik dari suara miliknya. Ia tidak heran karena suara indah itu sudah didapatkan sahabatnya itu sejak kecil. Bahkan seringkali mendapatkan juara di kompetisi menyanyi.
Kalau ia punya suara sebagus dan wajah manis begitu,kenapa tidak jadi artis saja biar ia bisa bertemu B-A setiap hari?—Jaebum menghakimi setiap tindak Youngjae dalam benaknya, seraya mengambil sesuatu dari raknya. Mendengarkan lagu sambil baca komik, tidak buruk juga.
"Kau tidak mau bernyanyi bersamaku, Jae?" Youngjae menghentikan sejenak main gitarnya.
"Lagu siapa itu? Aku tidak tahu." Jaebum masih saja mengganti halaman komiknya.
" Kau ini ketinggalan jaman sekali. Dasar kakek-kakek."
"EH! Siapa yang kau bilang kakek-kakek?!" kesal Jaebum.
"Masa lagu ini saja tidak tahu?! Lagu ini sudah masuk billboard 3 minggu berturut-turut,dan jadi no.1 pencarian Naver* !"
"Lagu dari para Banc* itu?"
"B-A! DAMN IT!"
"Aku tidak mau dengar! Jangan nyanyikan itu lagi!" Jaebum sebal. Ia membuang muka, dan kembali ingin menyibukkan diri pada komiknya. Namun Youngjae malah tidak mau mengalah.
"ijen gobaekhalge
neomaneul saranghae My girl
nae gyeote isseojwo My Love.." (Youngjae menyanyikannya dengan suara keras,dan petikan gitar yang kasar)
INI KONYOL! Jaebum sangat gondok mendengar lagu itu dimainkan lagi. Ia menutup dua telinganya dengan ketat, sampai ia tidak konsen membaca komiknya. "DIAM KAU! GITARKU BISA RUSAK!"
"yaksokhalge eonjena neoreul jikyeojulge
You're my shining—"
Jaebum berusaha merebut gitarnya. "KEMBALIKAN!"
"TIDAK MAU! Kau harus bernyanyi dulu lagu mereka,baru dikembalikan!" Youngjae menghindar lagi sambil melanjutkan lagunya. Keadaan semakin tidak waras.
"KEMBALIKAN,TIDAK!"
"NANANANANANANA—"
BRAKK
"SIAPA YANG MEMBUAT RIBUT SORE-SORE BEGINI, HUH?!"
Jaebum diam. Youngjae diam. Keadaan menjadi sangat hening seketika. Tidak ada yang bisa bernafas dengan lega setelah sepasang mata itu menatap mereka dengan sangat tajam. Ada kekuatan tidak enak seketika merasuki dua bocah tak tau malu yang sedang berpojokan di atas ranjang itu. Rencana cakar-cakaran mereka kandas di tengah jalan.
"IM JAE BUM!" Monster itu—ani!—Noona Jaebum menarik kerah kaos adeknya. Tidak ada arti kasih sayang di antara saudara. Tidak ada sama sekali. Yang ada di bayangan Youngjae, seperti adegan pembullyan di drama drama yang ditontonnya bersama ibunya.
"SIAPA YANG BILANG 'KAMI TIDAK AKAN GANGGU' ,HUH?!"
Youngjae bersumpah, ia belum pernah melihat Jaebum bergetar ketakutan seperti menahan kencing begitu. Mulut besar Jaebum yang sering dipakainya berargumen dengannya atau dengan anggota OSIS, jadi terkunci rapat di hadapan wanita ganas itu.
"Ta—tadi kita cu—cuman.." Sepertinya Jaebum sejak dari tadi memohon Youngjae melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkannya. Youngjae hanya bisa melenguh nafas. Malas sekali membela teman kurang ajarnya ini yang suka merendahkan idolanya.
"Maaf,Noona. Aku tadi keasyikan nyanyi lagu B-A,sampai ganggu Jaebum baca." Youngjae segera mengklarifikasi dengan wajah santainya. Memang itu adalah kebenaran yang hanya bisa ia lakukan untuk Jaebum.
"Eh? Kau bilang 'B-A'?" Jaesung beralih perhatian cepat kepada Youngjae. Kata-kata 'B-A',menggelitik di telinganya.
Youngjae mengangguk. Ekspresi Jaesung lama kelamaan berubah lebih jinak.
"Kau suka B-A,Youngjae?"
"Ya! Aku fanboy berat mereka."
Mulut Jaesung menganga lebar. Ia melepas cengkeramannya, dan membuat Jaebum hampir saja terpental ke bawah kasur.
"ASTAGA AKU TIDAK PERCAYA AKU BISA BERTEMU SEORANG FANBOY SEMANIS KAU!" Jaesung mencubit gemas dua pipi berisi Youngjae. ASTAGA. Benar-benar luar biasa kekuatan wanita ini. Apa di Jepang ia belajar jadi Sumo?
Youngjae cekikikan dengan terpaksa karena masih merasa sakit di dua pipinya yang memerah.
"Kalau begitu, siapa biasmu?!" Mata Jaesung berseri-seri.
Ah, Pertanyaan yang selalu sama diutarakan pada fanboy sepertinya. Sangat membosankan.
"Bang Yongguk, Noona." Youngjae bersemangat menjawabnya.
"UWAHH! Pilihanmu bagus, sayang! Aku adalah calon istri Moon Jongup." Mereka saling berjabat tangan dengan bangga. Perkenalan tidak biasa bagi dua orang yang baru mengenal.
Jaebum hanya bisa melirik keduanya dengan khawatir.
.
.
.
Tuhan. Tolong selamatkan aku.
.
.
.
.
.
.
"Jongup, kau mau kemana?"
Jongup yang baru saja akan keluar dari pintu dorm, menoleh sebentar ke arah Daehyun yang baru selesai berganti pakaian.
"Eum..aku ada telepon."
"Kenapa harus di luar dorm?Kau bisa menelpon sepuasmu di dalam."
Jongup tidak tahu harus jawab apa. Ia menggengam kuat HP nya. Ia tidak mau percakapannya didengar jelas oleh Daehyun.
"Tidak usah khawatir. Aku mau pergi lagi habis ini. Kau butuh privasi kan? Kayaknya serius. Dari pacarmu,ya?"
"Eh? Bu—bukan,kok."
"HAHA.. aku cuman bercanda." Daehyun selesai memakai sepatunya,lekas mendekati pintu dorm.
"Kau mau kemana?"
"Aku cuman kencan buta hari ini." Daehyun pamer diri, menghentakkan kerah jaketnya.
"Hati-hati. Aku tak mau nanti B-A kena skandal."
"Jangan khawatirkan pria hebat sepertiku." Daehyun menepuk-nepuk bahu kiri Jongup sambil berjalan menjauhi dorm. Bersiul-siul santai, sambil memutar kunci mobilnya di jari telunjuk. Sok keren.
"Palingan juga mau membetulkan bumper penyok itu sebelum kena timpuk Yongguk." Ungkap Jongup.
Setelah mengetahui bahwa suasana dormnya sangat sepi. Ia memusatkan diri pada HP nya kembali yang sudah dianggurkannya. Perasaannya semakin tidak tenang sebelum menekan tombol yang hendak ditujunya.
Tersambung..
"Yeo—yeoboseyo,Eomma?"
Ah suara ibunya di seberang sana. Sudah lama ia tidak menelpon lebih dahulu orang tuanya. Biasanya ayah atau ibunya duluan yang menelponnya. Bukan untuk menanyakan keadaannya,tapi sesuatu yang lewat kewajaran dari perhatian orang tua kepada anaknya.
.
.
.
.
.
.
.
Di sebuah rumah besar dan mewah. Pilar-pilar megah berdiri kuat di atas tanah. Patung-patung telanjang berharga tinggi, berhamburan di taman yang membentang. Pohon-pohon hijau terawat, menyambut di sisi kiri-kanan jalan masuk ke dalam pekarangan rumah. Rumah atau istana? Entahlah. Sang supir tidak bisa mengungkapkan apapun setelah mobil yang dikemudikannya disambut.
"Uwaah.. ini sangat besar,Nyonya."
Gyun tersenyum pias. Senang bisa membuat supirnya terhibur. Memang, tidak pernah sekalipun supirnya itu berkunjung ke rumah ini,selain diamanatkan suaminya untuk menjaganya di rumah sakit saja setelah di terima bekerja.
"Sayang sekali, wanita tadi tidak datang kemari. Haha.."
"Ya. Padahal aku masih khawatir padanya. Tapi,biarkan ini menjadi kejutan setelah ia datang ke pesta nanti." Gyun keluar dari mobilnya setelah dibukakan pintu oleh pria lain dengan setelan rapih. Beberapa pelayan menyambut hormat kedatangannya. Seperti biasa.
Tidak hanya disambut oleh banyak pelayannya, ia juga disambut oleh seorang gadis cantik berambut panjang. Wajahnya tertunduk dengan senyuman lembut. Wanita itu memeluk erat gadis itu.
"Juyong! Anakku!" ia mengelus lembut pipi mulus anaknya. Juyong hanya tersenyum terus. Tidak ada ekspresi lain yang bisa ia lakukan untuk menyenangkan ibunya
"Wong jun."
Supir yang baru keluar dari mobil itu terkejut namanya dipanggil. "Y—Ya,Nyonya?"
"Perkenalkan. Ini puteriku. Choi Juyong."
Wong Jun terkesima melihat wajah manis Juyong sedekat ini. Biasanya ia hanya mendengar pujian-pujian tentang Juyong dari mulut majikannya. Tapi, kata-kata majikannya terbukti tidak ada yang salah.
"Sungguh cantik puteri Anda. Perkenalkan saya Wong Jun, supir pribadi Nyonya." Ia mengecup lembut tangan Juyong.
"Senang berke—"Juyong segera menghentikan ucapannya. Menyadari suaranya, ia segera memegang daerah lehernya. Wong Jun juga agak terkejut mendengar suara Juyong barusan.
"Ah. Dia hanya sedikit malu. Maaf, Wong Jun." Nyonya besarnya tidak terlalu mempedulikan. Tapi, Wong Jun masih tidak bisa menghentikan tatapan anehnya pada gadis di hadapannya.
"Nyonya, makanan anda sudah disediakan." Pelayan yang sedari tadi menemani Juyong menginterupsi keadaan yang sangat canggung.
"Baiklah. Aku akan segera ke dalam. Juyong, berbincanglah sebentar pada Wong Jun. Dia akan menjadi supir pribadimu juga ya, Sayang." Gyun masuk ke dalam rumahnya.
Sementara itu, Juyong cemas tidak bisa bertemu pandang dengan Wong Jun. Tatapan pria di hadapannya penuh dengan pertanyaan yang sama seperti orang-orang baru yang masuk ke rumahnya ini. Dan juga yang tidak tahu rahasia di dalam keluarga ini.
"A—anu. Ma—maaf. Saya akan memarkir mobilnya dahulu,Nona." Wong Jun berusaha mengabaikan sangkaannya.
"Aku tidak suka dipanggil begitu."
GLUP
Mulai jelas bahwa ada yang tidak beres dengan nona mudanya ini.
Su—suaranya, bukan suara perempuan.
"Maaf, Wong Jun—ssi. Anda harus terbiasa dengan hal ini."pelayan Juyong mengambil alih percakapan yang ingin diungkapkan Juyong. "Dia adalah tuan muda kami. BUKAN nona muda."
!
Wong Jun tersentak kaget. Ia tidak percaya gadis cantik di hadapannya,adalah seorang LAKI-LAKI?!
"M-Maaf, Tuan." Wong Jun menunduk maaf.
"Tuan Junhong. Mari ke dalam."
Juyong—bukan—yang benar Junhong, menganggukkan kepalanya. Sebelum pergi, ia bertatapan dengan supirnya itu. "Tolong jangan ungkit bahwa diriku laki-laki pada Ibu. Ia tidak akan suka itu." Dan Junhong mengikuti pelayannya ke dalam rumah.
Wong Jun masih belum bangkit dari perasaan shock nya. Ia bersandar lemas di pintu mobil.
"Kalau itu Tuan Muda, lalu siapa Nona Muda yang diceritakan Nyonya?"
Ia masih menerka-nerka.
"Apa ini alasan Nyonya di rawat di rumah sakit jiwa?"
.
.
.
.
.
.
.
.
"AKU TIDAK PERCAYA INI!"
Youngjae masih saja bergelung kegembiraan dengan secarik kertas yang didapatkannya beberapa waktu lalu dari monster—dari Noona Jaebum. Wanita itu memang kasar, tapi kalau sudah dibujuk rayu oleh teman satu fandom,pasti langsung jinak. Ia bahkan tidak percaya bisa bertahan di rumah Jaebum hingga larut malam membicarakan B-A bak dunia hanya milik mereka berdua.
Bahkan sepertinya Jaebum tidak dianggap sahabat kecil lagi oleh Youngjae karena diabaikan seharian.
"TIKET EKSKLUSIF-VIP KONSER ANNIV B-A! INI HARI KEBERUNTUNGANKU!" Youngjae berseru riang. Menari-nari, berputar-putar, tidak peduli menabraki para penghuni jalan. "aku tidak perlu mecahin tabungan ayamku untuk mendapatkannya."
Tidak berapa lama, Youngjae menghentikan langkah. Ia mendapati seseorang yang dikenalnya di dalam sebuah restoran mahal.
Pria dengan jaket kulit norak, dan kacamata norak. Penampilan serba norak. Untuk mencuri banyak perhatian wanita di seluruh penjuru dunia. NORAK NORAK NORAK. Youngjae geli lihat orang itu depan matanya sendiri.
"Jung Daehyun." Youngjae memicing kesal pada pria yang sekali pandang langsung bisa dikenalnya itu. Tidak salah lagi,cuman member B-A satu ini yang suka bikin dia naik pitam. Banyak main perempuan, suka bikin nama baik B-A terancam karena skandal dengan banyak wanita.
"Aku tidak akan biarkan kau mencoreng nama baik Bang Yongguk."
Youngjae mencari cara untuk bisa membuat Daehyun menyesali diri sebagai seorang playboy dan menghindari kemungkinan membuat skandal lagi.
Kebetulan lingkungan dekat restoran ini sudah sepi,karena malam begini para pekerja pasti sudah pergi tidur. Youngjae merogoh tas sekolahnya. Mengambil spidol papan tulis merahnya.
"Sepertinya mobil ini harus didandani." Mobil yang tidak disadari pernah hampir menabraknya itu, terparkir tepat di hadapannya. Ini kesempatan bagus.
Youngjae mulai mencoret pintu mobil nya dengan tulisan.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau yakin tidak mau datang ke acara ulang tahunku, Hyunnie?"
Wanita itu bermanja di rangkulan Daehyun. Oh yang benar saja, Daehyun sudah geli dengan kedatangan wanita ini. Ia tidak menyangka, makan-makan tenang di restoran favoritnya bisa hancur setelah wanita ini kebetulan bertemu dengannya.
"Eum.. Shina. Tidak baik merangkulku seperti ini. Nanti ada paparazzi melihat bagaimana?" Daehyun berusaha melepas rangkulan manja wanita sexy di sampingnya. Tapi sangat sulit. Wanita ini pantang semangat melepas pria yang dicintainya.
"Aku banyak urusan dengan B-A,ok. Nanti kalau ada acara lain, pasti aku datang."
"Janji,ya Hyunnie?"
"Hehehe.. apa sih yang tidak untuk si Cantik?"
Shina sudah cukup puas dipuji 'Cantik' dan mau melepas rangkulannya. Syukurlah. Daehyun bisa bernafas lega. Dimana-mana wanita itu memang merepotkan—pikirnya.
"Ok. Kalau begitu, nanti kuhubungi lagi. Goodbye, Darling!"
Daehyun hanya bisa tersenyum kecut. Akhirnya ia bisa berhasil melepas diri dari hewan mamalia berjenis betina tersebut.
Alih-alih bernafas lega dari cengkeraman Shina. Ia langsung tercekat setelah membuka pintu restoran.
"OMO!?"
Daehyun terkejut bukan main melihat mobilnya begitu banyak coretan.
KAU AKAN DAPATKAN KESIALAN! BERHENTILAH BERMAIN DENGAN WANITA, BODOH!
Daehyun jatuh berlutut. Kakinya sangat lemas. Dan air matanya hampir saja ingin keluar.
.
.
.
.
.
"TIDAK! JANGAN MOBIL INI... LAGI!"
.
.
.
.
.
Sementara itu, di rumah Himchan..
Himchan mematikan keran airnya. Kegiatan mencuci piring telah selesai ia lakukan.
Ia lalu membantu ibunya yang sedang merapikan piring-piring.
"Ibu tidak istirahat saja?"
Wanita itu tersenyum seraya mengelus tangan Himchan yang memegang bahunya.
"Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga selesai." Himchan mengangguk. Ikut membantu ibunya.
"Oh ya. Apa tidak apa-apa pemuda itu tertidur di sofa? Kenapa kau tidak ajak dia ke kamarmu?"
"Aku tidak enak membangunkannya. Ia sudah cukup lelah membantu kita seharian ini."
"Dia sangat baik sekali. Ibu seperti memiliki anak kembali. Hahaha.."
Himchan tertawa juga bersama ibunya.
"Kau selimutkan dia. Biar ia tidur sampai nanti pagi."
Himchan mengangguk. Ia beranjak meninggalkan ibunya yang masih membereskan piring-piring.
Sesampainya di ruang tv, memang terlihat sekali bahwa pria itu tengah tertidur pulas di atas sofa. Entah kenapa laki-laki asing sepertinya mau membantu Himchan melakukan pekerjaan rumah. Dari membersihkan rumah, halaman, bahkan mengirimkan dagangan buatan ibunya ke rumah tetangga.
Himchan tidak pernah menawarkan pekerjaan apapun. Ia mengira kedatangannya hanya untuk mengembalikan baju pinjamannya. Tapi tindakannya justru melebihi itu. Ia melakukan segala hal agar bisa menghabiskan waktunya bersama Himchan.
"Aku rasa, masalah dengan ayahnya sudah selesai." Himchan belum mendengar cerita apapun lagi tentang ayah pria ini. Tapi,selama pria ini tidak terlihat sedih kembali seperti terakhir kali di bar, itu pertanda baik.
Himchan menyelimuti Yongguk. Membetulkan juga letak tidur pria itu agar terasa nyaman.
"Ah,kacamatanya."
Himchan berhenti setelah menyadari bahwa Yongguk pernah memperingatkan dia seputar kacamata hitamnya. Tapi, apakah terus nyaman tidur dengan kacamata dikenakan begitu?
Himchan memandang beberapa lama Yongguk,sampai akhirnya ia merasa penasaran sendiri dengan dua mata yang tidak pernah diperlihatkan pria itu. Jika tidak ada sesuatu terjadi pada matanya (mungkin ia memakai kacamata untuk menutupi matanya yang sakit), melepas kacamatanya bukanlah masalah besar.
"Maafkan aku, Jongdaessi."
Ia pun pelan-pelan mengangkat kacamata itu, agar tidak membangunkan Yongguk.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue..
* Dalam setiap chapter akan ada side profile untuk lebih mengenal pemeran lain dalam cerita ini. Tapi itu bersifat opsional, jadi tidak semua chapter memungkinkan 'ada' side profile nya.
** Song : BAP - My Girl
Untuk yang bertanya "sebenarnya ini menceritakan ketiga pair atau cuman 1 pair aja (misal:Banghim)?".
Aku menceritakan ketiganya seperti petunjuk di atas (Banghim,Daejae, Jonglo),mereka mainpairnya. Tapi ceritanya agak bertahap, sesuai alur ceritanya bagaimana. Kadangkala bisa-bisa satu chapter konsen ke 1 pair doang karena alurnya gak memungkinkan untuk pindah ke pair lain. Nyeritain 3'3 nya dalam satu chapter itu agak susah TvT Jadi maaf kalau ada pair yang kalian tunggu-tunggu malah gak ditemukan dichapter ini/berikutnya. Pasti kuceritakan ketiganya sampai tuntas kelar lar lar, kalau perlu ampe nikah(?) XD Mari menikmati pair yang ada, Ok?
Miyu juga tidak bisa janji update cepat-cepat dengan suatu alasan. Yang pasti, Miyu gak akan gantungkan,dan diusahakan diselesaikan sebaik mungkin hingga tamat. :D Jadi biar gak ketinggalan episode, atau mau tetap update, click follow story nya ya! #ngarep
Would you appreciate my work with some review/like/fav/follow? Gamshaa m(_ _)m
