Sebelumnya...

"Damn it! Kau melarangku untuk tidur dengan wanita lain, sedangkan kau bermain seenaknya saja diam-diam tanpa mengajak-nga—oh maksudku—beralasan bohong sedang kesal dengan Sanjangnim dan menghindarinya hanya untuk bersenang-senang dengan wanita murahanmu!?"

"Cih, tak kusangka pemuda dengan predikat 'The Kindness Artist of The Year' adalah macam orang menjijikkan sepertimu."

#####

"Bukankah ini terasa seperti perjodohan anak kita, Gyun? Hahaha"

#####

"ASTAGA AKU TIDAK PERCAYA AKU BISA BERTEMU SEORANG FANBOY SEMANIS KAU!"

#####

"Sungguh cantik puteri Anda. Perkenalkan saya Wong Jun, supir pribadi Nyonya."

#####

"TIDAK! JANGAN MOBIL INI... LAGI!"

#####

"Aku rasa, masalah dengan ayahnya sudah selesai."

"Ah,kacamatanya."

"Maafkan aku, Jongdaessi."


My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

.

Maaf atas kelamaan updatenya. Beberapa bulan ini gak konsen buat ngelanjutin dulu haha. Ada alasan tertentu pastinya, belum diberesin (my real life is so complicated). Tapi, ini update nya! Terima kasih yang sudah mendukung cerita ini, sehingga Miyu jadi semangat ngelanjutin.

ENJOY!

.

.

.

.

Warning!

Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.

I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^

.

.

.

.

.


Side Profile:

1. Choi Yang Gyun (Gyun) :

Nyonya besar dari keluarga Choi, istri Choi Siwon, dan seorang ibu dari seorang anak (baginya). Lahir dari keluarga kaya raya dan beradat ketat, ia selalu percaya bahwa anak perempuan adalah anugerah dan pembawa keberuntungan bagi keturunan dalam keluarganya. (Dari 5 generasinya, banyak menurunkan anak perempuan). Sebenarnya ia sadar ia memiliki dua anak, dan salah satunya adalah laki-laki. Namun, adat dalam keluarganya membuatnya lebih menyayangi Choi Juyong, anak perempuannya. Lebih buruk lagi, setelah kematian yang merenggut sang anak pertama, membuatnya gila, temperamen, dan sentiment. Bahkan enggan mengingat bahwa ia masih memiliki anak kedua.

2. Moon Yuna (Yuna) :

Wanita materialistis yang merupakan ibu dari Moon Jongup. Karena setengah hidupnya berada dalam derita kemiskinan, ia pun memiliki obsesi besar menjadi orang kaya. Memperdaya segalanya, sekalipun sang anak. Selama ia masih melihat wanita sosialita yang lebih kaya darinya, ia tidak akan pernah puas dengan apa yang ia miliki. Ia tidak merasa tega memaksa , bahkan mengancam sang Putera untuk memenuhi hasrat duniawinya.

3. Im Jae Sung (Jaesung) :

Saudara perempuan Im Jaebum. Sudah berkepala dua dan bekerja sebagai karyawan di perusahaan Jepang. Menghabiskan waktu di Negara Tetangga dengan aktivitas SUPER sibuk , di tambah hasrat untuk bisa memiliki banyak pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sebagai 'wanita' , membuatnya mudah stress. Pulang ke Korea, ia gunakan untuk bersantai, menenangkan diri, dan fangirling sebagai hiburan. Fangirl adalah sebagian nafasnya, terutama pada B-A. Ia tidak peduli apapun lagi setelah pulang ke Korea, selain menjadi fans B-A, bahkan ia malas mempedulikan adiknya sendiri.

4. Shin Wong Jun (Wongjun) :

Supir pribadi sekaligus penjaga pribadi untuk sang Istri. Siwon mempercayakan Wongjun sebagai kaki tangannya selama ia tidak bisa mengawasi Gyun yang masih sakit parah. Wongjun adalah tipikal perfeksionist, baik hati, dan pekerja keras. Ia tidak hanya konsen menjaga Gyun, tapi ia juga ingin menjaga dan membantu Junhong, anak majikannya. Sekalipun berada di luar perintah Tuan Besarnya.


Chapter 3

Himchan mengangkat pelan-pelan kacamata itu yang terpakai oleh Yongguk…

Namun,

Ia menghentikannya. Menaruh kembali di letak semula.

"Aku tidak bisa melakukannya tanpa seijinnya. Tidak sopan." Himchan hendak beranjak. Namun ia kembali menoleh dan memperhatikan wajah pulas Yongguk. "Kenapa aku begitu penasaran apapun tentangnya? Siapa dia sebenarnya?"

Himchan tidak mau menganggu Yongguk dan bertindak seenaknya menanyakan hal itu. Ia tahu, ini hanyalah soal waktu untuk bisa lebih mengenal Yongguk. Selama pria berkacama itu tidak membahayakan, itu bukanlah masalah.

Pemuda itupun berlalu ke kamarnya.

Sementara itu, Yongguk tidaklah benar-benar pulas dengan tidurnya. Sudah lama sekali ia terjaga, dan baru bisa membuka matanya ketika Himchan pergi. Ia membangunkan dirinya dengan posisi duduk, melepas kacamata hitamnya.

"Huft. Hampir saja ketahuan." Yongguk mengacak rambutnya. "Tsk. Mau sampai kapan jadi orang aneh bisa tampil menawan dan tampan di depan Himchan. Tiap hari harus pakai kacamata dan pakai baju gak modis begini." Ia menyibak hoodie nya. Rasanya, seperti memaksakan diri menjadi seorang remaja umur 17 tahun di usianya yang menginjak 20-an. Bukan gaya Bang Yongguk sama sekali yang seringkali memakai baju bermerek dan elegan.

Yongguk pun menghela nafas. "Tidak enak juga jadi seorang artis besar."

Tak berapa lama, telepon Yongguk berdering. Saat ia mengecek, ekspresinya langsung berubah kesal.

"Yeoboseyo?" Suara Yongguk berbisik. Takut-takut orang lain mendengar percakapannya.

"…."

"Aku tidak harus selalu berada di dorm, kan?" Yongguk berdecak pelan. Tak berani menyinggung yang berada di seberang. Masih tahu diri siapa yang ia lawan di teleponnya saat ini. "Aku ini mahluk sosial. Hidupku tidak bisa terkekang oleh agensi terus. Bertemu hanya dengan orang-orang tertentu."

"…."

"Aku malas datang. Lagipula aku punya persiapan konser anniv B-A. Anda tahu itu, bukan?"

Dahi Yongguk berkerut. Ia tidak bisa mencari alasan kembali. Ia bangun dari sofa dengan sangat malas. "Baiklah. Aku akan kesana."

Yongguk pun segera menjauhkan telepon dari telinganya sebelum pria tua di seberang sana berceloteh lebih banyak. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, ingin ditumpahkan sebelum mengakhiri komunikasi. Ia mendekatkan telepon pada bibirnya. Berbicara dengan sangat serius saat hubungan belum terputus.

"Jika aku ini benar puteramu, Anda seharusnya mengerti. Putera Anda ini tidak mau dijodohkan. Titik."

Yongguk menghentak HP nya hingga berbunyi bip. Ia memijat keningnya.

"Aku benar-benar benci jadi Bang Yongguk."

Yongguk hendak pulang, walaupun ia tidak tega meninggalkan tuan rumah tanpa pamit. Namun situasi memaksanya untuk segera pergi. Tidak mungkin menganggu Himchan dari tidurnya.

Tidak ada pilihan lain selain meminta ijin lewat tulisan di kertas. Ia juga menorehkan no teleponnya (seumur hidup, baru kali ini ia berikan no telepon pribadinya pada orang asing. This is totally privacy for such a big idol.).

Ia percaya Himchan akan menyimpan nomor itu untuk dirinya sendiri. Lagipula, ia tidak tahu kapan bisa bertemu lagi dengan Himchan karena ayahnya, sudah benar-benar ketat mengawasi Yongguk.

Himchan harus menelponnya. Suara Himchan adalah yang sangat ingin ia dengar setiap harinya.

"Aku mohon telepon aku, Himchan. Aku akan sangat merindukanmu." Ia mencium kertas itu dengan penuh sayang. Siapa tahu lewat ciuman, ada mantera termanjur agar doanya dikabulkan.

Yongguk pun berpamitan 'selamat malam' dengan suara parau yang lembut, sengaja agar tidak menganggu tidur malam para penghuni rumah. Ia lalu beranjak meninggalkan rumah dengan keadaan yang tenang.

.

.

.

.

Namun ia salah, tidak semuanya telah tertidur. Ada seorang wanita paruh baya yang mengawasi Yongguk sejak dari tadi. Wanita itu menggerakkan kursi rodanya sendiri, dan mengambil kertas yang tergeletak di atas meja.

Maaf, Himchan. Aku benar-benar tidak sopan meninggalkanmu dan ibumu tanpa pamit. Tapi, aku ada urusan mendadak, dan harus segera pulang. Aku berterima kasih atas perhatianmu. Maaf merepotkanmu. Siapa tahu aku bisa bertemu denganmu lain waktu.

Ini teleponku, jika kau berkenan ingin menghubungiku. Aku tunggu..

321xxxxx -Bang Jongdae.

"Bang Jongdae?" Wanita itu sengaja mengintip ke luar jendela rumahnya. Mobil pria itu benar sudah pergi.

"Atau Bang Yongguk?"

.

.

.

.

.

.

.

.


"Kurang ajar! Sialan! Mati! MATI! ARGHH"

Daehyun seperti kesurupan. Berteriak, menghentak-hentak kaki, melompat gemas, membentak-bentak sekitarnya, mengacak rambut sebal. Intinya, membuat kekacauan tanpa alasan jelas.

"Jongup?! Kenapa kau diam saja dari tadi, huh?! Kau kira aku ini setan sampai dibengongin gitu?!"

Daehyun memang tidak sendirian di ruangan itu. Ada Jongup, yang seharusnya konsen dengan Daehyun melampiaskan amarahnya. Tapi malah dia terdiam, melamun, tak tentu arah, seperti kehilangan nyawa.

Jika mereka berdua benar-benar kesurupan, ada dua setan dengan sifat berbeda merasuki mereka. Yang satu agresif, dan yang satu lebih tenang.

"Kau kira, kau saja yang punya masalah?!" Jongup kembali berpangku dagu di atas meja makan. Menatap kosong di depannya. Daehyun berkerut kening.

"Masalah apa, huh?! Kalau organmu di ambil dan dijual tanpa kau sadari, itu baru masalah yang lebih besar dari yang kupunya sekarang, aku akan paham!" Daehyun menggertak keras, Jongup masih di posisi stay calm nya.

"Mobil yang kudapatkan dari jerih payahku sebagai member dengan fans terbanyak nomor 1, kena usil seorang Haters sialan?! INI ADALAH KRIMINAL. DIA HARUS KENA TINDAK PIDANA!" Daehyun menunjuk-nunjuk bantal sofa. Seolah bantal ini merepresentasikan seorang haters berwajah jelek dan licik, menurutnya begitu.

"Tapi, hyung. (Jongup sesekali memanggil formal dan informal pada Daehyun karena umurnya hanya beda setahun, tapi lebih banyak informal.) Itu hanya spidol, kan? Nanti juga hilang."

"Hei, Bodoh. Jika kau membiarkan gula dihinggapi satu semut, maka akan ada seribu semut mengikutinya. KAU MAU MOBILKU HANCUR OLEH SERIBU HATERS?!"

Jongup menghela nafasnya. Padahal Jongup mencoba memberikan pemikiran positif bagi Daehyun, tapi malah dibalas dengan bentakan ekstrim yang buat telinganya hampir berdengung. Lebih baik ia kembali menggalaui masalahnya sendiri. Persetan dengan PMS-nya Daehyun.

Ia teringat dengan komunikasi yang berjalan di telepon beberapa waktu lalu. Bermaksud untuk mengungkapkan kerinduan pada sang Ibu, namun ia justru mendapat tawaran tak terduga.

.

.

.

.


Flashback

"Yeo—Yeoboseyo.. Ibu?"

Bibir Jongup terbuka dan tertutup. Ragu untuk melanjutkan kalimat apa yang tidak terlalu canggung sebagai topik cerita. Sudah sangat lama sekali ia tidak menghubungi kedua orang tuanya. Terakhir kali disaat ayahnya sakit dan ia ingin tahu kabar. Itupun juga sang Ibu sepertinya hanya menjawab sepintas, dan segera menutup telepon.

"A—anu.. bagaimana kea—"

/Woah! Jongie yang kusayangi~! Kebetulan sekali Ibu ingin bicara padamu./

Jongup terkejut, sekaligus tersipu. Akhirnya sang Ibu memanggilnya dengan nama kesayangan!

"A—apa, Ibu?" Jongup tidak bisa menahan gejolak senangnya. Di seberang sana ibunya sudah bergembira, berefek juga pada dirinya. Pasti suatu kabar menyenangkan. Jongup akan bahagia sekali dengan apapun yang Ibunya ingin ungkapkan (kecuali tentang meminta uang).

/Hari ini Ibu baru saja kedapatan undangan makan malam, loh! Makan malam KELAS ATAS! Orang-orang kaya akan berkumpul dan dilayani oleh butler dan maid. Ugh! Kita harus menghadirinya!/

"K—Kita?" Jongup langsung kebingungan.

/Yah! Tentu saja! Kau tega meninggalkan orang tuamu yang sudah renta ini datang ke pesta besar berdua saja? Lagipula yang terkenal itu ya kamu! Member B-A! Kita akan jadi pusat perhatian saat kau juga hadir. Kau-Harus-Datang/

Jongup meneguk air ludah. Tiga hentakan dari ibunya, membuatnya hening. Ia tidak bisa menolak beliau.

"Memang, kapan pestanya?"

/5 hari lagi! Jam 7 malam. Kau harus pulang dahulu siangnya, biar Ibu dan Ayah bantu kau persiapkan diri. Kita akan belanja sepuasnya agar terlihat layak. Ok?/

"Tapi, Ibu sudah berbelanja banyak untuk berbagai pertemuan. Bagiku itu sudah cukup untuk pergi ke pesta. Tidak perlu menghabiskan uang. Beli baju lagi untuk pesta formal, kurasa itu terlalu berle—"

/Kamu mau bilang kalo Ibu itu 'boros' gitu?/

Jongup langsung terdiam. Ia tidak percaya habis saja membuat ibunya murka. Ia kecewa pada diri sendiri, tidak bisa diam dan melakukan saja apa yang ibu tersayangnya inginkan.

"Ti—tidak." Jongup menunduk dalam. Seakan sang Ibu berada di hadapannya.

/Baiklah! Sudah diputuskan. Ibu yang akan menjemputmu siangnya. Persiapkan dirimu, Sayang./

Pip

Jongup baru saja ingin merespon sang Ibu, tapi sepertinya ibunya tidak berminat melanjutkan obrolan karena terlalu bersemangat dengan undangan makan malam itu. Ia penasaran, undangan makan malam dari siapa yang membuat sang Ibu terlena. Ibunya tidak memiliki teman dari kalangan sosialita. Ibunya yang justru merasa paling kaya dan sosialita di antara teman-temannya.

Jongup menghela nafasnya.

"Bagaimana ini. 5 hari lagi juga gladi resik untuk konser." Jongup pun melempar diri ke sofa, dan tertidur untuk menenangkan diri. Sampai Daehyun pulang dan membawa masalah lainnya.

.

.

.

.

.

.


Unflashback

"Ada apa ini? Kok jadi berantakan?"

Jongup tersadar dari lamunannya. Mencari sumber suara yang dikenalnya. Suara berat milik Bang Yongguk yang terlihat panik dari arah pintu masuk.

Tak berapa lama, bukan hanya Yongguk yang bingung, Jongup pun juga bingung. Padahal daritadi dialah yang bersama Daehyun. Ternyata selama lamunanya, Daehyun melampiaskan amukannya pada bantal-bantal tak berdosa. Benar. Daehyun yang sedang emosi adalah suatu mimpi buruk!

"DAEHYUN!?" Wajah Yongguk memerah. Bukan tersipu (tentu saja -_-), melainkan menahan amarah luar biasa.

This is it. Sekarang Jongup pusing, lagi-lagi harus menghadapi dua mahluk ini yang akan melakukan perang dunia ke sekian. Perasaan baru tadi pagi mereka baku hantam/?

Daehyun sendiri tidak mau mengalah. Ia melipat tangan di dada dan memicing sebal, siap diamuk Yongguk (atau mempersiapkan balasan lebih ganas?).

"Kau ini! Sudah dari mobil mu jadi kotor begitu, sekarang kau mau mengotori dorm sendiri?!"

"Kau kira aku GILA mau mengotori mobilku sendi—"

"Sudah selesai ributnya?"

Mulut Daehyun dengan sangat LUAR BIASA bisa berhenti berceloteh. Ia langsung mengatup kedua bibir tebalnya, dan melangkah mundur. Berdiri sejajar dengan Jongup. Ia menjadi sangat penakut.

"A—Ayah!?" Yongguk terkejut mendapati seorang pria berjas formal dan berdiri membusung tepat di belakang ia berdiri. Pria berumur itu tidak terlalu tinggi dari Yongguk, namun tatapannya jauh lebih tegas. Jiwa kepimimpinannya kontras terlihat. Ia menyeruakkan tanda bahaya. Membuat kedua member muda di B-A bisa bergetar ketakutan.

"P—Pak Direktur! Selamat malam!" Jongup segera menunduk hormat. Daehyun segera menyusul. Pria itu tidak bisa tidak dihormati. Pria itu yang telah membuat mereka tidak mati kelaparan di jalanan.

Pria itu hanya berangguk kepala, lalu beralih pandang pada Yongguk. Tatapannya sesengit sebelumnya, bukan karena marah tidak ditunduki. Anak itu satu-satunya yang memang sulit menghormatinya. Ayahnya sendiri.

"Bukankah kita sudah membahasnya di café?! Kenapa Ayah masih mengikutiku hingga kesini?" Yongguk siap membukakan pintu. "Lebih baik Anda pulang. Ini sudah larut malam."

"Kau mengusirku, Bang Yongguk?"

Yongguk berkerut kening. Kenapa ayahnya tersinggung diperlakukan begitu? Sungguh seseorang sok berwibawa membuatnya kesal. "Tidak. Aku hanya tidak ingin Anda repot-repot membereskan kekacauan di dorm ini. Lagipula Anda harus selalu sehat dengan tidak tidur terlalu malam."

Dua pasang mata mengamati dengan seksama, ketegangan yang terjadi di hadapan mereka. Kerongkongan mereka basah oleh air ludah. Bisakah mereka melarikan diri sekarang juga?

Pria itu, yang bernama Bang Yongin, tidak menggubris ucapan puteranya. Ia malah dengan santai masuk semakin dalam ke dorm, berjalan mendekati sebuah sofa besar yang sudah teracak. Mengamati berbagai perabotan yang tidak asing. Sama sekali tidak berubah dari terakhir ia berkunjung. Sangat membosankan.

"Ayah hanya ingin melihat kemajuan puteraku terhadap karirnya." Pria itu duduk dengan angkuh. "Tapi sepertinya tidak ada kemajuan apapun selain memiliki fans liar, dan haters yang bermasalah."

"Apa maksud Anda?" Yongguk menunjukkan rasa semakin tidak suka pada Yongin.

Yongin beralih pandang pada Daehyun dan Jongup yang hanya berdiri diam dan patuh bagai anak kucing. Ditatap begitu, bulu kuduk mereka meremang ketakutan. "Apa kalian ingin menjadi idola no.1 ? Tidak hanya di Korea, melainkan di seluruh dunia? Sepantar dengan BigB* hingga ke kelas Internasional? Dalam waktu sekejap?"

Tawaran beliau cukup menguras dahaga keduanya. Membayangkan bisa satu panggung dengan idola internasional, dan bahkan disandingkan dengan sunbaenim no.1 di Korea dan telah terkenal seantero dunia. Siapa yang tidak mau? Mereka tidak perlu bekerja terlalu keras untuk mendapatkan perhatian dunia. Jika pria ini telah berbicara, biasanya keajaiban akan berlangsung. Bisa jadi, ia benar-benar mempersiapkan mereka akan jadi Global Artist di waktu yang sangat singkat.

Keduanya pun mengangguk bersamaan dengan sangat cepat. Tidak peduli bahwa mereka diperhatikan selayaknya anak-anak labil nan egois oleh Yongguk yang berdiri menjauhi mereka. Apa salahnya toh berharap?

"Lihat. Dua anggotamu sangat berharap untuk grup ini. Sebagai leader, apa kau tega membuat mereka mengubur mimpi terlalu dalam dan tak bisa dijangkau lagi? Padahal kau sendiri yang bilang, kau yang akan mengantarkan mimpi mereka tercapai. Eum?"

Brngsk. Yongguk ingin sekali mengumpat tepat di wajah pria tua itu.

"Kami bisa mencapainya dengan usaha kami sendiri. Anda tidak perlu menyogok kami, apalagi dengan menjualku. Waktu sekejap yang kau maksud, tidak akan secepat waktu B-A menjadi yang kami inginkan. Lihat saja."

"Baiklah. Jika memang kau ingin bermain dulu denganku." Yongin bangkit dari dudukannya. Sebelum berlalu, menepuk-nepuk pundak Daehyun dan Jongup sebagai ucapan perpisahan.

Namun ia berhenti ketika berpapasan dengan Yongguk. Respon mereka sungguh tragis sebagai sepasang ayah dan anak. Tidak ada suasana kedamaian yang mereka perlihatkan.

"Tapi, Ayah juga tidak akan membantu lebih banyak lagi untuk karir kalian ke depan jika kau menolak tawaran Ayah." Bisikan pria itu membuat genggaman Yongguk semakin mengeras. Namun ia tetap harus menjaga sikap. Karena kedua member lain tengah menontoni drama yang keduanya lakoni. Seharusnya mereka berdua tidak terlibat.

Pintu dorm tertutup, diikuti dengan suasana yang lebih tenang dan canggung. Yongguk menarik nafas begitu beras. Jongup dan Daehyun hanya bisa berpandangan.

"Yo—Yongguk. Maksud dari 'menjualmu' itu, apa ya?"

Yongguk mengamati tatapan penasaran dari Jongup. Daehyun juga terlihat ingin mendapatkan jawaban. Namun Yongguk malah menggeleng kepala.

"Bukan apa-apa. Aku lelah. Cepat bereskan kekacauan ini, karena besok kita full latihan." Yongguk pun meneruskan langkah ke ruangan tidurnya. Tempat yang sangat ingin ia kunjungi untuk menumpahkan emosinya. Ia butuh tempat yang tenang.

Sementara itu, keheningan yang terjadi dipakai sebaik mungkin untuk Jongup menegur Daehyun. Walaupun dengan suara yang agak direndahkan. "Tuh kan. Jangan bikin susah Yongguk."

Daehyun cuman bisa menunduk sesal. Membenarkan pernyataan Jongup, bahwa dia memang hanya semakin membuat keadaan Yongguk semakin rumit.

.

.

.

.

.

.


Beberapa hari kemudian..

Himchan merapikan berbagai peralatan sekolahnya yang bertebaran di atas meja. Harinya semakin terasa panjang karena setelah bel pulang, langsung menghabiskan waktu di perpustakaan untuk segera menuntaskan tugasnya. Tak terasa, PR dadakan terus didapatkannya. Ini pasti pengaruh akan datangnya bulan ujian. Himchan harus bersiap dengan semester akhir yang melelahkan.

Dia mengamati jam dinding. Sudah waktunya ia bersiap untuk ke café dan melakukan pekerjaan part time nya.

Di tengah perjalanan, ia terpikirkan untuk menghubungi kedua sahabatnya yang sedari tadi tak terlihat setelah bel pulang berbunyi. Hendak mengajak keduanya pulang bersama, atau bertemu sesaat jika mereka masih berada di sekolah.

"HIMCHAN!"

Tanpa terkira, yang paling trouble maker muncul duluan sebelum dihubungi.

"Kau belum pulang, Youngjae?" Himchan amati seragam Youngjae agak berantakan. Habis ngapain dia?

"Mau ikut aku tidak, hari ini?"

Bukannya menjawab, malah melempar pertanyaan lain.

"Ikut apa?"

Youngjae tadinya sibuk mengontrol nafas akibat berlari terlalu semangat, ia lalu merogoh dengan gesit sesuatu di tasnya.

"Ta da!"

Kamera besar terentang ke arah Himchan. Sampai detik ini, Himchan belum bisa mencerna maksud Youngjae pamer kamera terhadapnya.

"Untuk apa, Jae? Kau mau fotografi?"

Youngjae nyengir sembari menggosok-gosok bagian lensa. "Lebih baik dari itu, Chan. Kau harus ikut aku biar kau tahu rasanya menjadi seorang 'fotografer' professional!"

Himchan hanya bisa mengernyit heran. Sebenarnya ia dengan senang hati ingin menemani. Apalagi melihat jiwa membara sahabatnya itu membuat hatinya leluasa. Mungkin tidak salahnya mengantar sahabat melakukan 'kegiatan anehnya' sebentar saja sampai menunggu waktu shift nya dimulai.

"Ok. Tapi hanya sebentar saja, ya. Aku harus kerja habis ini."

"No Problem. Cuman sepintas aja dan mendapatkan foto-foto bagus. Yuk!" Youngjae menarik lengan Himchan. Menuntunnya dengan kegembiraan membuncah, yang sedang dipertanyakan oleh Himchan. Jika Youngjae sebahagia ini, pasti ada kaitannya sama B-A.

Himchan tersenyum pias. Ada-ada saja anak ini.

.

.

.

.

.

.

.

.


Di Mobil

Wongjun sesekali mengamati anak majikannya dari kaca spion. Seorang pemuda, yang begitu berbeda penampilannya dari kesehariannya selama di rumah. Pemuda itu, anak berumur sangat muda namun punya postur cukup tinggi, dan berwajah manis. Melamunkan sesuatu dan tidak mengajaknya bicara satu kalimat pun dari saat ia menjemputnya di sekolah. Apa ia benar-benar sediam ini ?

Wongjun belum percaya. Seakan pikirannya menjadi terbagi dua ketika berada di rumah, atau di luar rumah. Jika di dalam rumah, yang ia temukan seorang gadis manis pemurung dan tak banyak bicara. Di luar rumah (seperti saat ini), adalah seorang anak laki-laki remaja yang manis dan juga pemurung. Yang berbeda memang hanya penampilan saja. Tapi Wongjun tahu, mereka cuman satu orang.

"Eum. Tuan muda Juy—Junhong, apa kita langsung pulang ke rumah, atau ada tempat yang ingin anda kunjungi?" Wongjun berusaha mencairkan kecanggungan yang tercipta di dalam mobil ini. Pemuda di dudukan belakang tidak merespon untuk beberapa detik. Sampai dia melirik juga ke arah kaca spion dan menimbulkan pertemuan pandangan antara pria berumur itu di kursi supir.

"Bisakah Anda berhentikan saya di Café Holly?"

Mendengar sang pemuda manis itu sudah meresponnya, membuat dada Wongjun bisa berlega sesaat. Dilihatnya jam masih menunjukkan jam 3 siang. Tidak akan menjadi masalah jika mengantarkan sang anak majikan sebentar saja bersantai di sebuah café. Apalagi Wongjun sedang membuat kesan pertama yang baik, ia tidak bisa menolak.

Ditekannya GPS, dan mencari letak café tersebut berada.

.

.

.

.

.

.

.


Café Holly

Suasana refreshing yang tercipta di dalam café sungguh terasa. Pemandangan yang sudah lama tak ia rasakan. Terakhir kali berkunjung sekitar sebulan yang lalu untuk menemani Himchan melamar pekerjaan disini. Pantas hyung nya itu sangat tertarik bekerja di tempat setenang ini. Bau-bau kayu yang khas, ditambah campuran bau kopi yang menyeruak. Kombinasi yang melegakan.

"Tuan? Anda yakin mengajak saya kemari?" Wongjun melihat-lihat ke isi café. Ia agak malu-malu berada di tempat dipenuhi remaja-remaja, sedangkan dia sendiri seorang om-om berumur yang tidak pernah menginjakkan kaki di café seperti ini.

Junhong hanya tersenyum. Melihat senyuman pemuda itu, seketika membuat hati Wongjun cukup bergetar. Ini adalah respon baik dari majikan barunya.

"Tidak apa. Saya tidak mau minum-minum sendiri." Junhong memilih duduk yang dekat dengan dinding. Sofa empuk yang langsung berhadapan satu sama lain. Wongjun mengikuti dan duduk di hadapan majikannya.

"Sebentar lagi Himchan hyung akan bekerja." Ia melihat ke arah meja kasir. Tempat dimana Himchan selalu melayani dengan senyum ramahnya. Ingin sekali Junhong dilayani hyung kesayangannya itu.

"Anda ingin pesan apa, Tuan?" Wongjun ternyata sudah terlena dengan berbagai menu yang disediakan. Junhong hanya terkekeh melihat ekspresi pria itu yang terlihat penasaran dengan berbagai menu aneh di dalamnya. Sepertinya sudah tidak sabar mencicipi salah satu.

Seorang pelayan pun mengunjungi meja mereka. Wajah wanita yang cantik. Ia semakin cantik kala tersipu melihat sesuatu di meja mereka—pikir Wongjun.

Dilihatnya bahwa sang pelayan tengah mengamati Junhong yang sedang menekuni sesuatu dari buku menunya. Tanpa disadari, pesona tuan mudanya sudah menarik perhatian banyak orang. Dari sang pelayan, hingga beberapa pengunjung di meja berbeda. Ia tahu bahwa Tuan Muda nya ini memang manis, tapi terasa tidak nyaman jika jadi pusat perhatian terus padahal Junhong bukanlah orang terkenal. Apakah ini alasannya Junhong selalu ditemani penjaga? Takut-takut ada yang berusaha melukai pemuda tak berdosa ini?

"Saya pesan Lemon Fruit-tea, dan Ice Brownies Cake. Dan anda?" Teguran Junhong membuat konsen Wongjun kembali ke dunia nyata.

"Saya kopi hitam saja."

Pelayan wanita yang daritadi diam mengamati Junhong, segera menulis pesanan mereka dengan sigap. Dadanya bergemuruh. Mungkin histeris ditatapi anak muda semanis Junhong.

"Harap ditunggu~"

Hilang satu orang aneh. Wongjun kemudian melirik-lirik pada beberapa pandangan yang masih belum lepas terjaga pada sosok Junhong. Ia benar-benar tidak suka dengan sudut pandang mereka. Bagaimana jika beberapa dari mereka ada yang berpikir kotor terhadap anak majikannya yang sangat dihormatinya ini?

Hap

"Eh?"

Wongjun langsung melempar pandangan sengit kepada setiap orang. Beberapa dari mereka tidak tahan telah tertangkap basah. Picingan mata Wongjun seolah berkata, "Berhentilah memadangi anak ini! Dasar menjijikkan.". Segera semua pasang mata itu beralih pada hal lain. Sungguh mengecewakan.

"Ada apa Wongjun ssi?"

Wongjun lega setelah beberapa pasang mata berhenti melihat-lihat Junhong seperti properti cantik. Ia membalas pandangan Junhong di hadapannya.

OH! Ia baru sadar , tangannya masih saja mengenggam lengan Junhong dengan cukup kencang. Ia langsung gesit melepas tangan pemuda itu. Apa ia menyakitinya?

"Anda baik-baik saja? Saya minta maaf."

"Hahaha.. Baik-baik saja. Anda tahu. Anda bisa bikin orang salah paham." Junhong terkekeh manis.

Mata Wongjun berkedip. Beberapa menit kemudian, pipinya memerah malu. Astaga. Benar-benar bukan cara terbaik untuk melindungi Junhong. Ia malah terlihat seperti om-om pedofil.

"Tapi, terima kasih sudah begitu memperhatikanku . Kukira kesanku yang dingin terhadap Anda, membuat Anda tidak nyaman." Junhong melenguhkan nafas. "Sudah beberapa kali Ayah mengirimkan bawahannya untuk menjadi penjagaku. Tapi beberapa hari kemudian, mereka akan bersikap dingin padaku. Aku yakin, mengetahui rahasia yang ada dalam diriku ini membuat mereka jijik. Kecuali Donghae hyung."

"Donghae?"

"Pria yang kemarin menegur Anda pertama kali di sampingku. Dia sudah melayani keluargaku sejak aku kecil. Dan aku sudah menganggapnya seperti kakakku. Dia adalah pemuda yang baik."

Wongjun mengangguk. Ia ingat sekarang. Pantas saja pemuda tampan tersebut mengamatinya sangat protektif pada saat itu. Ia sudah anggap Junhong seperti adiknya sendiri.

"Tapi karena sebentar lagi ia akan diangkat menjadi bawahan pribadi ayahku, aku akan sulit bertemu dengannya lagi. Aku takut aku tidak bisa menemukan hyung lain yang bisa mengerti masalahku saat ini." Junhong tersenyum hambar. Hatinya berkedut ingin mengungkapkannya. "Yang bisa menganggapku sebagi 'laki-laki'. Bukan perempuan, ataupun waria."

Memang menerima fakta bahwa sang majikan memiliki kepribadian yang tidak biasa, adalah yang sulit diterima dalam waktu sekejap. Ada yang tidak nyaman, ada yang biasa saja. Apalagi Nyonya Besar di rumah adalah mantan pasien rumah sakit jiwa. Kendala keluarga besar ini pasti membuat orang luar saja akan pusing kepala.

Namun, toh, pemuda di hadapannya ternyata sama sekali tidak meminati apalagi hobi dengan berpenampilan layaknya wanita di rumah. Lalu kenapa? Wongjun tidak tahu alasannya. Ingin sekali bertanya, namun takut menyakiti hati Junhong.

Apapun alasannya, Wongjun memahami keadaan pemuda di hadapannya. Wongjun sudah bersumpah sejak ia menerima pekerjaan ini. Menerima apapun kenyataan yang didapatkannya dari keluarga yang memperkejakannya. Siwon sendiri sudah memperingatkan pada Wongjun pertama kali, "Keluargaku bukanlah keluarga yang kau duga. Kau tidak akan semudah itu melayani keluargaku seperti kau melayani keluarga lainnya. Ini tentang Puteraku, dan Istriku.". Ia sudah berpikir dari awal. Pasti ada yang 'aneh' dari keluarga ini.

Wongjun bukannya tidak menghiraukan peringatan tersebut. Namun justru Wongjun menelan baik perkataan Siwon, dan ia memang ingin menghadapinya. Karena ia cinta pekerjaan ini, dan ia juga harus belajar mencintai keluarga ini.

"Tuan." Nada bicara Wongjun lebih tenang. "Jika Anda berkenan, Anda bisa anggap saya sebagai hyung Anda. Bagaimana pun, Anda adalah Tuan Muda saya. Anak majikan yang saya layani, entah di luar atau di dalam rumah, hanyalah satu orang. Yaitu Choi Junhong."

Junhong melihat kesungguhan dari wajah tegas dan berwibawa pria di hadapannya. Senyum Junhong terangkat lebar. Ia merasakan hatinya bahagia sekali.

"Terima kasih!" Air mata Junhong hampir keluar. Wongjun benar-benar menemukan situasi yang sangat precious di antara mereka. Kalau begini, ia jadi pingin cepat punya anak. XD

"Kalau begitu, boleh aku panggil Anda dengan sebutan 'Ahjussi'?!"

Senyum Wongjun mendadak sirna.

"Loh? Tuan! Saya kira Anda mau panggil saya 'Hyung'!"

"Ah tidak enak karena Anda terlihat terlalu tua jika disandingkan dengan Donghae hyung. Hahaha…"

Aduh hati Wongjun terluka mendengarnya. Dia memang sudah berkepala tiga. Namun dia tahu bahwa dia masih cukup muda untuk dipanggil 'Hyung'. Bahkan ia pun belum menikah.

Namun melihat suasana menghibur dan tawa canda yang tercipta di antara keduanya, membuat Wongjun melupakan rasa sakit hatinya. Syukurlah. Dia sudah mengemban amanat sang Majikan Besar. Ia tinggal mempertahankan amanat ini , untuk selalu melindungi Junhong.

.

.

.

.

.

.

.


"Siapa pria itu?"

"Entahlah. Kenapa kayak familiar ya?"

Jongup bisa menangkap bisikan-bisikan yang mengarah padanya. Ia yakin bahwa banyak yang telah membicarakannya, karena mengenakan pakaian serba tertutup hari ini. Ia semakin merekatkan kerah jaketnya untuk menutupi setengah wajahnya.

Ia benar-benar malas melakukan hal-hal nakal. Keluar dari dorm dan berjalan-jalan sendiri, bukanlah kebiasaan yang suka dilakukan Jongup. Namun ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin mengajak Daehyun yang paling menarik perhatian di antara ketiganya. Atau mengajak Yongguk yang sedang ngambek gara-gara ulah sang Ayah beberapa hari lalu. Apalagi mengajak managernya. Bisa dipenggal dia.

"Tapi, aku akan dimutilasi jika Manager tahu aku kelayapan sendirian tanpa seijinnya." Jongup merasa tidak tenang sendiri.

Ia akhirnya berpindah tempat ke koleksi pakaian yang tidak terlalu ramai pengunjung. Saat ini ia sedang berada di toko pakaian yang menjual banyak pakaian formal.

Ia masih terbayang-bayang ucapan ibunya yang akan membelikannya tuxedo mahal untuk acara semalam. Dan ia masih penasaran dengan harga yang bisa jadi akan menguras isi dompetnya. Jika prediksinya salah, berarti ia harus meminjam uang dari Yongguk—Lagi. Ia tidak mau meminjam pada si Pelit Daehyun. Apalagi Manager (Oh berhentilah mengungkit Manager. Apa yang ia bisa bantu darimu?!)

.

.

.

.

.

.

Damn! Jongup mendadak pusing kepala. Ia kecewa karena prediksinya sangat salaaaahh. Harga yang ditawarkan untuk beberapa koleksi tuxedo mahal bisa seharga 300 ribu won*! Itupun kalau ibunya tidak meminta si Pelayan mencarikan yang lebih mahal lagi. Belum lagi untuk gaun sang Ibu, dan tuxedo ayahnya.

Hati Jongup terluka. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus meminjam lagi uang kepada Yongguk? Namun melihat kondisi Yongguk yang sedang down, sepertinya ia bukanlah jalan keluar yang baik. Apa ia harus meminta pada Daehyun? Ya, harga diri Jongup akan diinjak-injak seketika.

Baru beberapa langkah, matanya menangkap sesuatu yang begitu menarik. Tepat di hadapannya, sebuah papan nama dengan tawaran kue enak menggugah hasratnya.

"Tidak ada salahnya memikirkan jalan keluar sambil makan kue."

.

.

.

.

.


Sesampainya di dalam. Ia bisa melihat kerumunan anak muda menikmati banyak santapan dari café ini. Apalagi café yang didandani selayaknya café ala Paris tersebut, begitu cantik dan mempesona. Jongup tidak salah mengunjungi tempat.

"Aku harap tidak ada yang mengenalku disini." Jongup segera berjalan mendekat pada meja di ujung ruangan. Posisi yang pas untuk menikmati cemilan manis dengan tenang tanpa kerumunan orang-orang mencurigainya.

Ia hendak membaca menu yang tersedia.

Splash!

"ASTAGA!"

Sial. Jongup kena apes. Bukannya dilayani dengan baik oleh pelayan cantik, dia malah kena guyur minuman lemon. Jaket dan wajahnya basah seketika.

"Maafkan saya, Tuan! Maafkan saya!" pelayan wanita itu panik. Memungut pecahan beling, sembari mengeringkan meja Jongup.

Jongup menahan tangan pelayan itu menjauhi pecahan beling. "Ah. Tidak usah! Kau ambil saja sapu dan pel. Menggunakan tangan hanya akan melukai dirimu. Biar aku yang keringkan sendiri." Jongup tersenyum.

Pesona Jongup membuat wajah pelayan itu sangat malu sekali. Bagaimana bisa ia ceroboh terhadap seorang pria tampan dan baik di hadapannya? Pelayan wanita itu pun segera berlari mencari sapu dan pel.

Jongup menghela nafas. Ia sama sekali tidak terbawa emosi dengan kejadian tadi. Ini hanyalah kecelakaan yang bisa langsung diatasi. Namun, banyak tatapan mengarah padanya. Seolah ia ditelanjangi. Gawat. Kenapa ia tidak memprediksi dengan pusat perhatian ini? Ia tidak bisa membersihkan wajahnya dengan tenang.

Jongup langsung berlalu ke toilet. Mencari tempat sepi untuk membersihkan wajahnya yang sudah lengket oleh air lemon.

.

.

.

.

.

.


Untunglah keadaan toilet café itu tidaklah ramai. Jongup bisa lebih berkosentrasi untuk membersihkan wajah tampannya dari noda minuman yang terasa manis dikecap itu. Kacamata hitamnya dilepaskan. Ia segera membasahkan wajah di wastafel.

"Kenapa aku sial sekali hari ini?" Kain yang ia bawa sudah basah, bahkan bekas mengelap meja tadi. Mana mungkin ia menggunakan lap itu lagi untuk mengeringkan wajahnya.

"Kau butuh tissue?"

"Oh ya. Terima kasih." Jongup bernafas lega mendapatkan tissue dari seseorang. Ia bisa leluasa mengeringkan wajahnya yang agak basah.

Tunggu.

Ia mengamati kaca bening di hadapannya.

Bukankah ia sedang tidak memakai kacamata?

Dengan cepat ia menoleh pada orang yang telah memberikannya tissue. Pemuda yang ternyata lebih tinggi beberapa centimeter darinya, dan terlihat rapih berpakaian seragam. Wajahnya sangat manis ketika terkejut akibat bertemu pandang dengan Jongup.

"Member B-A?!"

Sht. Apakah ia harus menonjok pemuda manis di hadapannya agar ia hilang kesadaran? Tidak. Karena ia sangat tidak tega.

Hap. Ia lebih memilih mendekap mulut anak itu dengan dekapan tangan kekarnya.

.

.

.

.

.

.

.

.


Di tempat lain.

Himchan memelototi Youngjae. Pelototan yang sangat ganas, namun Youngjae tidak menghiraukan sama sekali. Masih asik memainkan kameranya.

"KAU GILA! Kau mengajakku melakukan tindakan kriminal?!"

Youngjae berdesis. "Chan. Hal yang wajar loh bagi kita-kita sebagai fanboy atau fangirl mengambil gambar idolanya. Ini namanya 'fantaken'. Aku melakukannya demi fans-fans luar yang tidak bisa bertemu langsung idolanya. Berarti kita ini orang baik, dong? Mau membantu sesama."

"Aku tahu soal 'fantaken' dan sejenisnya. Tapi fantaken itu diambil ketika konser atau di tempat-tempat umum. BUKAN DI TEMPAT PRIBADINYA!"

"Psst." Youngjae langsung menyaut. Himchan pun juga langsung tenang karena suara bentakannya bisa disadari orang lain.

"Kita ini sudah seperti sasaeng,Jae." Tegur Himchan lagi dengan nada yang lebih rendah. Ia takut-takut mengamati rumah besar di hadapannya yang dikatakan adalah dorm nya B-A. Sungguh mewah dan bernilai. Jauh berbeda dari bentuk rumahnya sendiri.

"Tidak. Sasaeng itu menunjukkan rasa cinta mereka dengan hal-hal ektrim. Mengambil gambar seperti ini terlalu rendah bagi seorang Sasaeng. Kita masih tergolong fans normal, kok."

" 'Kita'? Aku tidak pernah bilang pernah jadi fans mereka."

Youngjae hanya tertawa kecil. Sembari mengarahkan lensanya kembali pada angle yang diinginkan.

Himchan sangat pasrah. Jika memaksa Youngjae, sepertinya percuma saja. Pemuda itu jika sudah dikaitkan dengan sang idola, tidak akan bisa membedakan mana yang mustahil dan tidak mustahil. Himchan hanya perlu melindungi Youngjae jika kelakuannya sudah di luar batas.

"Ah itu dia!" Lensa kamera Youngjae timbul keluar dari semak-semak. Sedangkan tubuhnya bersembunyi di bawah semak-semak. Himchan semakin awas ketika Youngjae merespon. Hatinya sangat gundah. Takut, persembunyian mereka diketahui pria yang sedang di stalking oleh Youngjae ini.

Seorang pria keluar menuju balkon. Oh! Tubuhnya tidak tertutup apapun. Basah oleh air. Abs nya kecokelatan dan berseri-seri di bawah terik matahari sore. Ia sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan melihat-lihat pemandangan matahari orange kemerah-merahan di hadapannya.

Cklek

Cklek

"Oh dear. Perlihatkan pesonamu lagi. Aku ingin mimisan rasanya." Youngjae berceloteh sambil terus menekan tombol di kameranya.

Himchan mual melihat perlakuan menjijikkan sahabatnya itu. Bagaimana bisa ia berteman baik dengan orang gila sepertinya? Ia tidak habis pikir!

"Ayo kita cepat pergi dari sini. Aku ingin segera kerja." Himchan menarik-narik seragam Youngjae. Namun pemuda itu tidak bergeming. Masih asik menangkap gambar.

Himchan pun putus asa. Ia lebih baik meninggalkan Youngjae sendiri yang sudah dirasuki oleh kenikmatan dan imajinasinya. Ia tidak mau ikut-ikutan jadi seorang yang mesum, dan kriminal.

Lebih baik ia melarikan diri. Tubuhnya ia tuntun merangkak keluar dari semak-semak yang gatal mengenai kulitnya. Setelah itu, ia hanya perlu berlari menjauh, tanpa ada masalah apapun.

Baru saja ia merangkak keluar dari persembunyiannya.

"SIAPA ITU?!"

DEG.

Tubuh Himchan membeku. Ia tidak bergerak sama sekali setelah mendengar gertakan itu dari kejauhan. Telinganya sangat jelas menangkap, bahwa gertakan itu menuju ke arahnya.

Mati aku.

Himchan pun tidak bisa melanjutkan aksinya. Ia tidak mau disangka penjahat karena melarikan diri dari tanggung jawab.

Hatinya tidak tenang. Ia lalu menoleh, dengan berani menemui pandang kepada si Penegur.

Untuk pertama kalinya.

Ia bisa melihat jelas seperti apa wujud Bang Yongguk yang digilai oleh Youngjae. Bagaimana bentuk wajah tampan, dan tubuh kekarnya. Apa semua idola memiliki semua kesempurnaan dari Bang Yongguk?

Apa semua idola mampu menggetarkan hati Kim Himchan seperti saat ini? Atau hanya Bang Yongguk yang bisa membuatnya menjadi merasa 'aneh'?

.

.

.

.

.

.

To be continue


Perhatian! :

1. Zelo disini digambarkan di jaman-jaman "Never Give Up" atau "Crash". Waktu masih unyu-unyu gitu deh (sekarang sih masih unyu). Yongguk yang jaman-jaman I Feel Good (Damn, he is more sexy). Daehyun era Badman. Himchan apa aja yang penting ikemen/? Youngjae di SKOOLOOKS.

2. Unsur cross-dressing disini terinspirasi dari manga BL. Jadi buat kalian yang belum terbiasa dengan genre begini, mohon memaklumi :) Gak usah dipaksa membayangkan Junhong dan kecantikannya #plak.

3. Harap mengenal nama cast lain. Karena seterusnya saya hanya sebut namanya saja (bukan pake sebutan banmal). Dan akan/sudah saya lampirkan di side profile. Jadi, tak perlu ditanyakan lagi posisi mereka di cerita ini, ok?

4. Jika ada kata-kata yang hilang/typo , mohon dimaklumi karena luput dari editan saya. Berkali-kali kena auto correct.

5. Menurut kalian, apa side profile yang saya berikan kepanjangan? Memenuhi cerita? Atau buat kalian malas baca? Saya akan perpendek jika kalian menyarankan :)

*BigB = Bigbang

*300 000 won = 3 juta rupiah.

Miyu tidak bisa janji update cepat-cepat dengan suatu alasan. Yang pasti, Miyu gak akan gantungkan,dan diusahakan diselesaikan sebaik mungkin hingga tamat. :D Jadi biar gak ketinggalan episode, atau mau tetap update, click follow story nya ya! #ngarep

Would you appreciate my work with some review/like/fav/follow? Gamshaa m(_ _)m