My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy Drama

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

.

Warning!

Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.

I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^

.

.

.

.

.


Side profile:

1. Bang Yongin

Ayah dari Bang Yongguk. Petinggi perusahaan rekaman TS, yang membina B-A. Duda, namun memiliki banyak rumor akan menikahi wanita lain. Memiliki kepribadian yang tegas dan disiplin, segala hal harus berhasil di tangannya. Ia mengalami kesulitan membuat anaknya patuh pada dirinya. Hubungan bapak-anak dengan Yongguk dibumbui dengan beberapa konflik, sehingga mereka tidak terlalu dekat.

2. Lee Donghae

Sebelumnya adalah asisten pribadi yang diperintahkan menjagai Junhong selama ayahnya berada di luar negeri. Kepribadiannya dingin dan serius. Tapi sangat perhatian. Figur kakak bagi Junhong. Sekarang sudah menjadi asisten pribadi Siwon, ayahnya Junhong. Umurnya masih muda untuk diangkat menjadi asisten pribadi Siwon. Sehingga pertemuannya dengan Junhong, agak berkurang.


Chapter 4

"Hi-Him—" Mata Yongguk terbelakak lebar. Tidak mungkin untuk saat-saat seperti ini, matanya sedang berhalusinasi dengan keberadaan Himchan di depan kediamannya. Memang, ia sering berhalusinasi tidak-tidak tentang orang yang dicintainya itu, tapi tidak secara nyata seperti ini.

Melihat kesempatan dalam suatu keluasan, lagipula ia sedang dibuat jatuh rindu oleh Himchan setelah sehari saja tidak bertemu bahkan ia tidak dihubungi sama sekali sejak ditinggalkan nomor telepon berharganya. Ia berlari tunggang langgang masuk kembali ke apartemennya.

Hampir terserempet karpet berbulunya. Hampir menjatuhkan handuk di pinggangnya. Hampir tertabrak tembok. Hampir terpental pada pintu kamarnya.

Mendengar suara kekacauan yang memekak sedari tadi, Daehyun langsung keluar dari kamarnya. Ia kebetulan sedang melakukan perawatan pada wajah tampannya. Ia ingin protes jika leader sialannya itu berbuat ulah lagi.

Sungguh terkejut melihat dorm berharganya berantakan seperti gempa menghampiri mereka tanpa disadari. Semuanya terjadi karena ulah leadernya, pasti. Jongup sedang kabur dari dorm, jadi hanya ada mereka berdua sekarang. Tidak mungkin hantu mengacak dorm mereka. Atau sasaeng masuk ke dorm ini hanya untuk mengacaukan semuanya tanpa mengambil apapun.

BRAK

Pintu kamar yang terbuat dari stainless itu terantuk keras, terbuka menampakkan sosok tinggi-tegap dan mempesona setiap harinya. Daehyun masih speechless sejenak. Menelan kenyataan bahwa dorm sedang acak-acakan, dan melihat penampilan Yongguk yang sekarang luar biasa kerennya.

Seolah tidak melihat kehadirannya, Yongguk main berlalu ke luar dorm. Sesekali berpamer ria pada cermin-cermin yang melekat di beberapa sudut dorm.

Cklek. Pintu tertutup. Sang empu sudah pergi. Daehyun pun kembali kepada kesadarannya.

"WOY BANG! BRENGS*K!" emosi Daehyun, mengorbankan bantal sofa terlempar ke pintu utama.

.

.

.

.

.

.

"IA MELIHATKU!" Himchan berusaha menarik Youngjae keluar dari persembunyiannya. Namun pemuda manis itu terlalu asik melihat gambar hasil jepretannya. "Ayo, Youngjae! Sebentar lagi ia menangkap kita!"

"Itu akan lebih baik, Himchan!" Youngjae tersenyum lebar. "Yongguk menotice kita! Kita akan langsung bertemu dengannya 4 mata. Bukankah ini kesempatan luar biasa?!"

"DIA AKAN MEMBAWAMU KE PENJARA, BODOH! Ini kriminal! Kita sudah membuntuti seorang idola besar!"

Himchan terus menarik tangan Youngjae. Namun pemuda itu bersih keras tidak mau meninggalkan tempatnya sampai ia bertemu secara langsung pria pujaannya itu. Bahkan sempat-sempatnya ia merengek.

"Hei kalian yang disana!"

Mampus. Himchan jadi sangat panik. Keringat dinginnya berjatuhan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk melarikan diri meninggalkan Youngjae. Tubuhnya mendadak beku ketakutan. Oh, Tuhan. Himchan yang tidak berdosa, melakukan kesalahan fatal untuk pertama kalinya. Himchan terus berdoa agar mereka berdua diselamatkan dari kejadian sial ini.

Lain halnya di pihak Yongguk.

Yongguk sebenarnya sangat nervous jika harus bertemu langsung dengan Himchan dengan penampilan di luar penampilannya selama ia bersama Himchan, sebagai Bang Jongdae. Pemuda cantik itu berkali-kali mendapatinya dengan pakaian sederhana dan murahan. Tidak dengan serba stylish begini.

Tapi, Yongguk bersih keras harus menemui Himchan. Pujaan hatinya menemuinya, mengetahui tempat tinggalnya, (mungkin) juga telah mengetahui identitasnya. Ini adalah kesempatan besar untuk bisa mendekati Himchan dengan wujud aslinya. Sebagai Bang Yongguk.

Ya, ia sangat percaya diri.

Himchan bangkit dari posisinya. Youngjae berdiri dengan semangat. Langsung berhamburan tepat di hadapan Yongguk dengan pandangan luar biasa terpesona. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, Youngjae bisa bertemu sang idola sedekat ini. Belum ada yang bisa. BELUM ADA!

Bagaimana jika Jaesung mengetahui perihal kejadian luar biasa ini? Ia pasti akan langsung merekrut Youngjae jadi adik angkatnya.

Yongguk terkejut ketika ia dapati bukan Himchan berada di hadapannya. Bukan Himchan yang tampak sesemangat anak di hadapannya ini, untuk menemuinya. Himchan berdiri ketakutan di belakang punggung anak muda manis itu. Terlihat dari bahunya yang bergetar.

Tunggu. Ini tidak sesuai dengan yang diperkirakan Yongguk.

"BANG YONGGUK! AKU FANS BERATMU! OH ASTAGA! KAU TERLIHAT TAMPAN SEDEKAT INI—"

Himchan. Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak mau menatap mataku seperti kau melihatku dengan mata indahmu sebelumnya?

"Aku sudah mengoleksi semua album B-A! Memasang foto-fotomu di beberapa sudut kamar—"

Apa kau tidak suka dengan penampilanku seperti ini? Apa aku terlihat menyombongkan diri? Aku bisa saja terlihat seperti Bang Jondae lagi, jika kau mau. Aku hanya ingin seperti yang kau harapkan.

"Yongguk—ssi?"

Youngjae merasa dilupakan dan tidak dianggap selama berkoar tentang kegiatan fanboying tercintanya. Manik Yongguk tertuju pada hal lain. Ketika Youngjae mengikuti jejak tatapan itu, Gotcha! Yongguk terus menatap Himchan dengan tatapan tidak seperti seorang idola mengasihani fansnya.

HEI! BAHKAN HIMCHAN TIDAK NGEFANS DENGAN B-A SAMA SEKALI!—pikir Youngjae yang merasa tersinggung. Betapa beruntungnya anak itu mendapatkan perhatian dari Yongguk, idola yang digilainya. Ini sungguh tidak adil.

Namun, bukan Youngjae jika ia tidak menggunakan kesempatan ini. Ia tidak peduli jika bukan dirinya yang menjadi perhatian Yongguk, yang penting ia mendapat tempat sebagai fans paling spesial untuk Yongguk. Yang akan membuat fangirl di luar sana bersungut iri padanya. Itu yang sedang Youngjae rencanakan.

"Yongguk—ssi!" Youngjae menarik tubuh Himchan mendekat. Tidak bersembunyi terus di belakangnya. "Perkenalkan ini Kim Himchan, sahabatku!"

Himchan kalang kabut. Ia masih terus menenggelamkan kepalanya dalam tundukan. Ia tidak berani bertemu pandang kepada pemuda tampan di hadapannya. Ia sangat malu. Sangat-sangat malu dengan tindakannya.

"Hi—Himchan?"

Mendengar suara husky yang ditangkapnya, Himchan seperti dipanggil oleh seseorang yang familiar. Dengan cepat ia membangkitkan tundukannya, berani menubruk manik laki-laki tampan itu. Benar kata Youngjae, pria ini memang lebih tampan jika dilihat semakin dekat.

Oh Tuhan. Berikan ku kekuatan karena ia begitu cantik dilihat sedekat ini, pipi Yongguk sudah ingin memerah. Namun ia masih bersikap cool seperti Yongguk di TV. Ia tidak mau imagenya jatuh tenggelam karena pesona Himchan.

"Ma—maafkan kami. Kami sudah lancang mengikut urusan pribadi Anda, Yongguk—ssi~"

Eh?

EHHHH?!

Yongguk sekarang sedang memproses banyak hal. Bagaimana Himchan begitu saja berbicara formal padanya, bagaimana menganggapnya seperti orang asing, bagaimana ia tidak mengenal Yongguk, SAMA SEKALI?!

Himchan tidak kenal dengannya...

Mendadak hati Yongguk terluka.

"Oh, kami hanya sekedar lewat dan mengambil kesempatan sedikit saja untuk memoto dorm mu ini, Yongguk-ssi. Tak tahu jika kau juga sedang ada di dorm, bahkan sampai bertemu di balkon. Kami hanya sedang beruntung, hahaha"

Himchan memelototi tawa tanpa dosa pemuda cantik di sampingnya. Bukannya meminta maaf, malah membuat bualan tidak jelas.

"Hahaha... aku tidak keberatan. Jika kalian tidak mengumbar foto itu ke media." Yongguk terkekeh bijak. Himchan sepersekian terkesima dengan pesona dan kebaikan hati Yongguk. Well, sebenarnya Yongguk sudah terbiasa berlaku itu karena he is The Most Generous Artist of the year. Jadi, tidak heran laki-laki, perempuan, orang tua, kakek-nenek, akan jatuh pada pesona dan kebaikannya.

Walaupun itu hanya image di luar.

"Oh tentu saja tidak." Youngjae terkekeh picik. Tidak semudah itu sebenarnya ia bisa memegang janji. Tapi, ia tahu bahwa idolanya itu terlalu baik, jadi ia tidak akan tahu banyak soal rencana-rencana liciknya lain waktu.

Demi meyakinkan pria di hadapannya ini, Youngjae bahkan memberikan sesuatu kepada Yongguk. "Ini kartu identitasku. Sebagai pegangan jika kau tidak mempercayai kami."

Yongguk menerima dengan baik kartu identitas dari tangan Youngjae. Mengawasi setiap kata di dalamnya sambil mengamati Youngjae dan Himchan. Umur keduanya masih 18 tahun? Yongguk merasa sedikit bersalah menyukai anak semuda Himchan.

"Bagaimana jika kalian masuk dan kita bicarakan lebih banyak hal di dalam?"

Himchan dan Youngjae sejenak menelan tawaran tersebut dalam otak mereka. Menunggu beberapa menit , untuk mencerna apa yang sedang diharapkan Yongguk pada mereka. Sang idola , mengundang mereka untuk masuk ke dorm berharga mereka?!

"TENTU SAJA!"

"TI—TIDAK!"

Youngjae dan Himchan saling bertatapan. Mereka menukar pemikiran yang berlainan, membuat debat kasat mata. Youngjae ingin sekali masuk, tidak untuk Himchan. Himchan seperti ditinju banyak penyesalan, sementara Youngjae menganggap sedang ditinju banyak kesempatan.

Jadi, apa yang harus dilakukan Yongguk? Ia ingin sekali berbicara lebih banyak dengan Himchan. Ia tidak peduli jika Himchan belum sadar dengan siapa dirinya.

"Hanya beberapa waktu saja. Aku ingin lebih dekat dengan para fans ku. Jika kalian tidak keberatan."

Youngjae menyikut pinggang Himchan. Seraya membisikkan sesuatu. "Daripada kita berbuat seolah melarikan diri, lebih baik ikuti saja maunya dan bersikap normal."

Himchan meneguk ludah. Benar juga yang dikatakan Youngjae. Bagaimana jika Yongguk sebenarnya masih mencurigainya. Ia tidak mungkin main melarikan diri.

"Eum.. Ba—baiklah."

Di balik wajah ramah yang ditunjukkan Yongguk.

Ada bunga-bunga menebar di sekitarnya, dan hatinya meledakkan kebahagiaan.

YES!

.

.

.

.

.

"Ma—maafkan aku! Apa aku menyakitimu?"

Junhong melemparkan sipitan kesalnya. Mulutnya ditekan terlalu keras dengan dekapan kekar pemuda di hadapannya. Tadinya ia merasa kesakitan, tapi sekarang sudah lebih baik.

Tetap saja itu masih menjengkelkan.

Mereka masih berada di tempat yang sama. Di kamar mandi yang belum ada siapapun yang datang. Jongup sudah menggunakan kacamatanya lagi, dan melekatkan jaket nya yang sedikit basah. Setidaknya sudah usai menutupi kembali identitas aslinya.

Namun tidak dengan keberadaan Junhong yang sudah tahu siapa dirinya.

"Aku hanya takut jika kau berteriak begitu, akan banyak yang datang kemari dan melihatku."

"Kenapa kau harus bersembunyi? Bukankah lebih baik jika orang-orang melihatmu? Kau ini orang terkenal."

Jongup menepuk jidatnya. Kenapa anak muda yang manis ini begitu polos. Benar-benar tergambar dari wajahnya yang terlihat seperti anak SMP.

"Tidak semua artis suka jadi pusat perhatian. Mereka juga butuh ruang privasi, ok?"

Junhong tidak peduli. Ia bangkit dari posisi duduknya, dan merapikan baju seragamnya yang sedikit berantakan.

"Terserah saja. Aku tidak peduli dengan siapa kau."

Junhong sendiri mendadak dingin kepada Jongup, yang membuat kesan pertamanya jatuh seketika. Anak muda yang begitu polos dan tak berdosa, nampak membencinya. Jongup tersentil dengan tanggapan pemuda itu. Baru kali ini ada yang tidak tertarik pada artis besar sepertinya.

Sungguh menarik.

"Siapa namamu, Bocah?"

Junhong yang hampir berlalu, menghentikan langkahnya. Siapa yang dipanggil 'Bocah' ?

"Aku sudah kelas 3 SMA dan umurku 16 tahun. Umurku sudah cukup, kau tahu itu."

Jongup tersentak. Wow.. 3 SMA di umur 16 tahun?! Jongup jadi merasa bodoh selama ia SMA dulu.

"Bagiku belum, sih. Kau masih bocah. Kecuali jika kau sudah bisa minum-minum bersamaku, aku akan menarik pernyataanku tadi."

"A—apa?!" Junhong tersulut. "A—aku sebentar lagi bisa minum-minum! Lihat saja!"

Jongup mulai tertarik dengan sikap kekanakan namun imut di hadapannya. Pemandangan yang melepas penatnya untuk hari ini.

Lama-lama, anak entah siapa namanya ini, membuat Jongup jatuh hati. Ia ingin lebih lama bersamanya jika bisa. Tapi, bagaimana caranya? Apalagi, Junhong tidak tertarik sedikit pun padanya.

"Hmm..Bagaimana jika aku tidak akan memanggilmu 'bocah' lagi jika kau datang ke konserku.." Jongup mengambil sesuatu dari kantung celananya. Sebuah tiket VIP bermain-main dalam genggamannya. Tiket VIP yang diberikan manajer untuk masing-masing member , untuk mengundang orang terdekat mereka.

Jongup tertarik mengikut sertakan Junhong, demi keasyikannya menggodai anak itu. Siapa lagi juga yang akan ia ajak?

"Kenapa aku harus?"

"Ya, kau tahu bahwa konser kali ini didominasi penonton dewasa. Kau lihat tulisan ini?" Jongup menunjuk pada tulisan R-18, terpampang di sudut tiket. "Konser ini memiliki penampilan yang terlalu luar biasa. Bagi orang dewasa." Jongup bersiul menggoda. "Sayang sekali kalau kau bocah, masih belum cukup menggunakan tiket ini."

Sial. Junhong merasa hampir kalah. Ia sangat sebal dengan sikap artis sok percaya diri di hadapannya ini. Ia tidak tahu banyak dengan dunia peridolaan kecuali sahabatnya Youngjae, makanya ia tidak peduli. Tapi sekarang ia peduli, karena ada artis menyebalkan yang menantangnya.

Huft, bagaimana ini? Bagaimana bisa Youngjae datang ke konser rated porno itu terus?

Eh, Youngjae memang sudah 18 tahun.

Sial!

Junhong mulai berpikir positif. Tenang saja..Ini hanya konser. Bukan pertunjukan film porno.

Junhong sendiri juga tidak mengerti apa isi dari konser dengan rated segitu.

Junhong menyambar tiket yang berada di genggaman Jongup. "Kau akan lihat aku di barisan terdepan. Lihat saja! Aku sudah cukup dewasa untuk hal-hal tidak berguna seperti ini." Junhong berlalu dengan hentakan kaki yang keras. Ia sangat kesal.

Jongup pun tersenyum cerdik.

"Ya, semoga kau tidak horny mendadak dengan penampilan spesial kami."

.

.

.

.

.

.

Youngjae dan Himchan terperangah pada setiap sudut yang diperlihatkan di hadapan mereka. Kaki mereka berhasil menginjak lantai dorm yang sangat anti dimasuki orang tingkat bawah seperti mereka. Entah kejatuhan apa, hingga keberuntungan itu datang hari ini juga.

"Anggap saja seperti rumah sendiri." Yongguk dengan hangat menuntun mereka seakan keduanya adalah tamu berharga.

"Mimpi apa aku semalam?" Youngjae melayang-layang pada buih keterpesonaan. Ia hampir menampar pipi kirinya. Air liur Youngjae hampir menetes. Baru pertama kali ia melihat kediaman idolanya sebegitu megah dan cantiknya, langsung dari dalam. Kekuatan keluarga Bang, benar-benar luar biasa.

"Dimana yang lainnya, Yongguk-ssi?!" Youngjae melonjak paling heboh. Seolah dirinya adalah teman terdekat Yongguk, dan dia sudah terbiasa. Baguslah Yongguk tidak protes dengan fans liarnya satu ini. Ia ingin jaga image depan Himchan. Berlagak cool, padahal di sisi terdalam, ia melepuh sampai ke tulang melihat wajah innocent Himchan mengamati keadaan tempat tinggalnya.

Baru saja mencapai ruang inti, seseorang dari dalam mendobrak sesuatu. Hentakan kaki yang bersuara sampai ke telinga ketiganya.

Sampai akhirnya seseorang dengan penampilan tak terduga, membuat dua tamu terperanjat. Melihat pemuda lainnya dengan masker hijau dan kepala dililit handuk. Serasa dirinya habis selesai di salon.

"Hei, Leader keparat! Mau kau apakan apartemen i—"

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

"KAUUU"

"KAUUUU"

Youngjae dan Daehyun saling menunjuk. Seolah mereka melakukan pertemuan yang sudah lama tidak terjadi, sehingga dikejutkan satu sama lain. Pertemuan yang tidak terduga, bagi Daehyun lebih tepatnya. Youngjae sudah sangat memaklumi jika ia harus berpapasan dengan member paling tidak ia sukai ini.

"Kau itu kan yang membuat bumper mobil favoritku penyok!" Daehyun menuduh.

Youngjae hanya memicing dengan tatapan tajamnya, seraya menyilang tangan. Tingkahnya angkuh, enggan memberikan ketertarikan pada member lainnya di grup favoritnya itu. Sungguh, jangan salahkan Youngjae jika ia tidak respect dengan salah satunya. Ia punya alasan untuk itu.

"Hah?! Aku tidak ingat membuat bumpermu penyok. Yang kulakukan hanya mencoret saja." Mulut Youngjae tidak dapat menahan satu kebohongan yang harus ia simpan. Ia terlalu konsen melawan cercaan Daehyun, yang malah mengungkapkan tindakan jahatnya.

Daehyun sendiri juga tidak sadar hampir mengungkapkan jati diri yang hampir menabrak Youngjae beberapa waktu silam.

Kesembronoan dari omongan mereka berdua, menciptakan suasana yang semakin merah pekat. Bagai api-api membakari tubuh mereka, mereka sudah tertutup akan emosi dan marah.

"KAU YANG MENCORET MOBILKU!"

"KAU YANG MAU MENABRAKKU WAKTU ITU!"

"Wo wo .. apa-apaan ini?!"

Yongguk langsung menengahi ketika dua pemuda dengan status yang sungguh berkaitan, malah melakukan keributan. Bayangkan, seorang fans bisa bertengkar dengan idola no.1? Bukankah Youngjae barusan bersikap seperti fanboy B-A, sekarang berubah menjadi seorang haters Daehyun? Dan Daehyun sendiri bukannya menjaga image sebagai seorang artis besar, malah menjatuhkan diri sendiri. Yongguk sama sekali tidak mengerti.

"Daehyun, pakai pakaianmu. Cuci mukamu itu. Kau harusnya malu sedang berhadapan dengan fans mu dengan penampilanmu seperti itu."

"Hah?! Fans? Orang kayak gini dibilangin fans?! DIA HATERS, BANG! HATERS! Kau jangan percaya dengan muka liciknya. Dia pasti sasaeng, yang mencuri perhatianmu. Kau ini sok baik depan fans, makanya mudah diperdaya." Daehyun sibuk menggurui. Membuat yang disinggung pun memelotot berang, kata-kata 'tak akan kumaafkan!' Sudah mengepul-ngepul di kepalanya.

"HEI KALAU AKU HATERS, MEMANGNYA KENAPA?! Aku ini adalah HATERS NO 1 JUNG DAEHYUN, asal kau tahu. Hany N!" Youngjae merangkul lengan Yongguk tiba-tiba. "Aku lebih mencintai Bang Yongguk dan respect dengan Moon Jongup. Thats all! Kau siapa, huh?!"

Dianggap tidak ada, dan direndahkan terus-terusan, Daehyun mulai melangkah maju hendak memberi pelajaran pada pemuda manis itu. "K—kau?!"

"OKE,STOP!"

Yongguk membentak cukup kencang. Suara beratnya tidak seramah saat ia menyapa dua tamunya. Youngjae segera melepas rangkulan, berdiri di belakang punggung Himchan saking ketakutannya. Ia tidak percaya, pangeran yang paling dikaguminya bisa semarah itu.

Melihat keadaan yang cukup tegang barusan, Himchan jadi merasa tidak enak. Ia segera membungkuk, bermaksud ijin pulang. "Ma—maaf, ini bukan waktu yang tepat untuk berbincang. Terima kasih atas kesempatan berharga ini." Himchan segera menuntun tubuh Youngjae mengikutinya ke pintu keluar. Bergegas, seperti melarikan diri. Tidak bisa lagi ia menunggu ijin sang Tuan Rumah.

Akhirnya keduanya pun sudah pergi meninggalkan Yongguk dan Daehyun. Suasana mendadak jadi hening.

"Kau ini kenapa sih? Kau sendiri yang bilang 'jaga image-jaga image' depan fans mu. Sekarang title generous person sudah hilang dari pikiraan dua bocah tadi." Ungkap Daehyun. Ia memang tidak pernah takut dengan bentakan Yongguk sebelumnya. Apalagi impress.

Wajah Yongguk yang agak marah, tiba-tiba berubah lesu.

"Yongguk?" Daehyun yang melihat perubahan ekspresi secara kontras di hadapannya, mendadak khawatir.

Grep

"BERAPA LAMA LAGI YANG KUBUTUHKAN UNTUK BISA MEMBUAT LAKI-LAKI ITU KENAL DENGANKU!?"

Yongguk kalang kabut. Cengkeraman di jubah mandi Daehyun semakin menguat, ditambah dengan ekspresi putus asa di wajah tampannya. Daehyun jadi takut. Ia mengambil kesimpulan, Yongguk mendadak gila gara-gara keributan tadi. Heol~

"Yongguk, apa yang—"

"LAKI-LAKI ITU TIDAK MENGENALKU SEBAGAI BANG YONGGUK, DAN CINTAKU PERGI BEGITU SAJA MELALUI PINTU KELUAR ITU, HANYA KARENA KAU! YA, KAUU!"

"Yongguk! YAK! KAU GILA!"

Dan pada akhirnya, Daehyun sendiri yang harus bersusah payah menangani ketidakwarasan Yongguk akibat kepergian dua fans tadi. Dia kira keributan tadi tidak akan membawa dampak besar, untuk sebuah pertemuan antara idola dengan fans biasa.

Namun sekarang Daehyun paham.

Fans tadi bukanlah fans biasa.

Yongguk sepertinya, jatuh cinta dengan pemuda brngsek tadi (Yoo Youngjae).

Walaupun Daehyun dengan pemikirannya saat ini, sangat...

Bodoh.

.

.

.

.

.

.

Jongup berjalan cukup limbung.

Pasalnya, dirinya pada hari ini meminum begitu banyak botol alkohol. Menghabiskan waktu sejenak sebelum acara malam Ibunya yang akan diadakan malam ini. Malam ini, ia harus berdandan rapih bak pangeran untuk dipertonton orang tuanya bagi para kolega elit dan ber uang. Hal yang biasa. Orang tuanya begitu bangga dengannya, hanya jika karirnya cukup 'menjual'.

Suasana hatinya memang sedang tidak senang. Jika boleh jujur, ia sangat tidak suka dengan semua perlakuan tidak adil yang ia hadapi. Ia bahkan tidak suka dengan karirnya saat ini, karena ini bukan impiannya. Ini hanyalah tuntutan.

Dan Jongup ingin berteriak.

Namun, lebih kepada ingin muntah karena perutnya sudah bergelinjang tidak ampun.

"Lihatlah laki-laki itu. Sangat menjijikkan"

"Sepertinya ia ingin muntah."

Jongup mendengar semua perkataan itu. Sungguh, ia justru senang. Senang jika omongan 'jijik', 'jorok', atau kata-kata jahat lainnya ia didapatkan. Ia seperti hidup bagaikan manusia. Bukan sebagai manekin dengan setelan baru setiap harinya. Untuk dipajang, dan dipuji. Ia sudah lelah menghadapi orang-orang bermulut ular itu.

"Anda baik-baik saja, Anak Muda?"

Jongup yang berusaha menahan perutnya , mendongak. Mengamati sepasang mata hitam legam yang tegas nan lembut, dan wajah bak dipoles berkali-kali. Tampan, dan bijak. Itu kesan yang didapatkannya.

"Anda perlu air putih? Atau obat?" Pria gagah itu menginteruksi dengan jemari di balik sarung tangan kulitnya. Seorang pemuda dengan jas , berdasi, rapih, berlari mendekati keduanya sembari menenteng sebuah kotak.

Kembali dengan sebuah interuksi, sebotol air putih, dan beberapa tablet sudah ada di tangan.

"Minumlah, agar perutmu membaik. Sepertinya anda habis mabuk."

Jongup terkesima. Dengan penampilannya saat ini seperti gelandangan (ia sengaja), masih ada orang yang tidak tahu dirinya artis besar dan berpengaruh, namun memperlakukannya seperti manusia biasa, dengan perlakuan lebih bijak.

Ini sangat jarang.

Seusai menegak beberapa butir tablet dan air putih, Jongup sudah enakan bangkit dari posisi menunduknya. Dari balik kacamatanya, ia sukses mengamati keseluruhan wajah dua malaikat di hadapannya.

Pria yang sangat tinggi dan tampan. Mungkin umurnya sekitar 40an? Di sampingnya, berdiam pemuda berwatak dingin, mungkin asisten pria gagah itu. Umurnya mungkin 20an?

"Anda malam begini mau kemana? Anda butuh tumpangan?"

Jongup menggeleng.

"Tidak usah sungkan. Kebetulan saya baru kembali dari Perancis, dan sudah lama tidak berbincang dengan masyarakat di sekitar sini. Mungkin kita bisa sekalian mengobrol-ngobrol."

Ah, pantas saja pria gagah itu agak kesulitan dengan bahasa Korea. Padahal wajahnya sangat Asia sekali.

Beberapa saat Jongup berdiam, ia baru tahu bahwa wajah pria itu mengingatkannya dengan seseorang. Siapa?

Menghilangkan suasana yang semakin canggung, mau tak mau Jongup hanya bisa mengangguk.

Pria yang sudah lama tinggal di luar ini juga pasti tidak akan langsung tahu siapa yang diajaknya bicara—pikir Jongup. Jadi, itu tidak buruk.

.

.

.

.

.

.

Tok Tok

Cklek

"HELLO DEAR~"

Himchan tidak menyambut dengan ramah seperti biasa. Sipitannya seperti agak kesal. Youngjae yang melihat perubahan sikap itu, hanya cengengesan tidak enak. Pasti ini karena kejadian siang tadi.

"Oke, aku mengaku salah. Tidak seharusnya aku mengacauhkan dating kalian tadi siang."

"Dating maksudmu?"

"Eum.. Kukira Yongguk suka padamu."

Himchan memutar jengah bola matanya. Seolah perkataan Youngjae begitu omong kosong.

"Ha Ha.. kau lucu sekali. Itu tidak mungkin." Himchan masuk ke dalam rumahnya. Sementara Youngjae mengekori Himchan ke dalam rumahnya.

"Kau tahu kenapa aku merasa begitu? Karena tatapannya."

Himchan menduduki kursi tamunya. Diikuti Youngjae. "Pernyataan omong kosong apa lagi ini? Kau terlalu banyak berimajinasi tentang idolamu itu."

"Tidak! Aku sedang sangat serius. Karena aku terlalu menyukai Yongguk, aku tahu sekali bagaimana ia menatap. Aku mempelajari seluruh ekspresinya. Aku seperti sudah bisa membaca mimik wajahnya. Jelas sekali, tatapannya kepadamu menyiratkan bahwa dia menyukaimu."

"Youngjae, apa ini niatmu datang kemari? Untuk membicarakan semua omong kosong ini?"

Youngjae semakin kesal dengan sikap Himchan yang mulai menggampanginya. Biasanya Himchan sangat sabar , dan mengiyakan saja apa yang ia nyatakan. Tapi kali ini Himchan terlihat menentang setiap ucapannya , seolah ia salah terus. Mungkin efek tidak moodnya.

"Oke, memang aku ini kalau diajak bicara selalu ngawur. Apalagi kalau sudah melibatkan dunia fanboyingku, yang diluar batas kewajaran, atau aneh?" Youngjae cemberut.

Himchan tidak tega jika sudah memperlakukan hal-hal keras pada sahabatnya. Mungkin ia baru sadar bahwa sikapnya sudah sangat keterlaluan memperlakukan Youngjae. Ia tadinya hanya ingin memberi pelajaran pada Youngjae. Namun, sepertinya tidak berhasil. Himchan terlalu baik untuk membuat Youngjae menyesali perbuatannya.

"Huft. Lalu kau mau apa, Youngjae?"

Youngjae masih melihat ketidakpastian Himchan. Youngjae bersih keras ingin membuat Himchan menyadari setiap pergerakan yang Yongguk berikan untuknya. Youngjae ingin buat Yongguk bahagia, jika ia harus memberikan sahabatnya sendiri. Jika ia harus mengorbankan cintanya sendiri.

Lagipula, jika sahabatnya pacaran dengan idola tercintanya, bukankah akan lebih menguntungkan?

Youngjae merogoh sesuatu dari kantung jaketnya. Sebuah kertas kecil keluar dari kantung tersebut.

"Temani aku ke konser B-A, yuk!"

Himchan shock dengan ajakan tiba-tiba Youngjae.

"A—apa?!"

"Oh ayolah. Lumayan loh kau mendapat tiket VIP! Saudara Jaebum yang memberikannya. Ia disini tidak punya banyak teman sepermainan sehabis balik dari Jepang. Jadi ia mengajakku. Dan menyuruhku mengajak yang lain."

"Ta—tapi, kau butuh teman yang satu hobi denganmu!"

"Ya, kau sudah masuk dalam satu keluarga Fans B-A, ok?"

Youngjae memaksakan tiket itu berada di genggaman Himchan sampai pemuda cantik itu sudah tidak bisa menolak.

"YEY! Jangan lupa, ok! Kita akan bersenang-senang!" Youngjae menepuk-nepuk paha Himchan sebagai ungkapan kepergiannya. Ia pun melompat kegirangan bagai anak-anak , seraya pamit dan berlalu pergi.

Himchan mengamati cukup lama untuk tiket yang berada di genggamannya.

Apakah benar Yongguk menyukaiku? Seorang artis kaya seperti dia dengan siswa miskin sepertiku?

.

.

.

.

.

.

Jongup merasa agak canggung dengan keadaan yang melibatkannya saat ini. Pria di sampingnya masih sibuk dengan telepon genggamnya, menjawab pertanyaan para mitra kerjanya. Jongup hanya ditemani angin malam , serta sesekali tatapan memanah dari balik spion depan. Begitu awas sekali asisten pria ini.

"Maaf bila saya tidak sopan. Tadi adalah teman kerja saya di Paris. Sepulang ke Korea, saya jadi ditegur banyak teman disana yang sudah saya tinggalkan..hahaha"

Jongup hanya tersenyum, tidak mau tahu hal tak penting itu. Yang ia perlu tahu kali ini adalah Siapa pria ini, dan juga Siapa asisten nya yang terlihat galak tiap kali bertemu pandang. Mereka terlalu baik mau menemaninya, seorang pemabuk yang putus asa.

"Kalau boleh tahu, siapa namamu, Anak muda?"

Oh no. Jongup sudah panik sejak awal. Pastilah pertanyaan itu terlempar kepadanya. Bagaimana ia harus menjawabnya? Ia tidak terlalu yakin pria ini tidak terlalu mengenalnya. Apalagi dengan kehadiran pria muda di belakang kemudi, tampaknya terus mencurigainya.

"M—Moon Jongup." Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali jujur. Lenguh nafasnya terdengar berat dan putus asa. Ia pasrah.

"Ugh nama yang bagus." Pria di sampingnya tersenyum bijak. Seakan pria ini adalah yang paling bahagia. Tidak ada kerut lelah setelah berpergian cukup jauh dari tanah air.

"Perkenalkan namaku adalah Choi Siwon." Pria itu mengulurkan jabatan tangannya, dibalas baik oleh Jongup. "Oh ya, dan yang di depan adalah Lee Donghae. My assistant."

Mata Jongup melirik sekali lagi pada kaca spion di depannya. Tampaknya pemuda itu tidak merespon apapun. Apa ia juga tidak mengenal dirinya? Ada apa dengan dunia ini..

"Kau akan pulang kemana , Anak muda?"

Jongup pun terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa, secara tempat tinggalnya saat ini adalah kediaman yang cukup dirahasiakan. Ia lebih baik segera menyudahi basa-basi dengan pria baik ini.

"Turunkan saya saja di halte selanjutnya. Saya akan gunakan angkutan umum untuk pulang."

"Saya tidak keberatan untuk mengantar sebenarnya. Tapi kau terlihat tidak nyaman berbicara dengan orang asing sepertiku." Ungkap Siwon, "Akan kuberhentikan kau di halte selanjutnya seperti yang kau inginkan. Tapi, tidakkah kau mau bercerita sedikit tentang dirimu untuk mencairkan suasana saat ini?"

Jongup sedikit bimbang untuk menjawab pertanyaan satu ini. Terlalu banyak hal pribadi yang tidak bisa ia ungkapkan , secara ia sendiri sedang bersembunyi sebagai Moon Jongup, seorang member B-A.

"Kau kelihatan tidak senang aku bertanya begitu. Apa aku sedikit lancang?" tanya Siwon, sehangat sebelumnya. Ia terlihat sangat menghormati lawan bicaranya itu.

Jongup yang sedikit limbung pun hanya bisa merespon dengan ekspresi tidak bersemangat. "Bagaimana dengan Anda sendiri? Anda pulang ke Korea karena suatu sebab? Rindu dengan keluarga?"

Siwon tertawa. Mungkin lucu dengan perubahan topik yang Jongup lakukan.

"Tentu saja. Sudah hampir 10 tahun aku tidak berkunjung kemari dan menemui keluargaku. Aku terlalu sibuk menyudahi pekerjaanku di Paris. Hubungan kami seringkali hanya lewat internet, dan itu malah membuatku semakin merindukan mereka." Siwon bercengkerama dengan luwesnya. Ia berpikir, waktunya sangat luang untuk menceritakan semua kisahnya pada anak muda yang begitu penasaran itu di sampingnya.

"Tapi ada satu hal yang menjadi faktor utama aku datang kemari."

Mata Jongup semakin menyipit. "Apa itu ?"

"Keadaan puteraku."

Siwon menghela nafasnya. Kelihatannya, suatu beban.

"Aku tidak tahu lagi bagaimana keadaannya setelah istriku pulang dari rumah sakit. Besok adalah hari penyambutannya. Aku khawatir dengan puteraku."

Tanda tanya besar muncul di benak Jongup. Ia ingin bertanya lebih banyak maksud ucapan Siwon barusan. Namun mobil mewah yang mengangkutnya berhenti pada sebuah halte sepi pengunjung. Seperti yang dijanjikan, Jongup sudah harus menyudahi perbincangan ini dan kembali ke dorm nya sebelum di beri tuntutan lagi oleh sang Leader.

"Sayang sekali, banyak hal yang masih ingin kuceritakan padamu. " Ekspresi Siwon mulai kecewa. Bahkan Jongup. Keduanya seakan teman ngobrol yang akrab, dan rasanya belum selesai dengan cerita mereka, sudah diinterupsi keadaan.

"Mungkin lain kali kita bertemu kembali , Siwon-ssi." Jongup tersenyum pada akhirnya. Siwon merasa lega setidaknya anak muda itu masih bisa beramah tamah padanya.

"Jika memang takdir mempertemukan kita lagi, akan kulanjutkan ceritaku...hahaha"

"Pasti."

"Tapi, kau juga harus menceritakan tentang dirimu Jongup-ssi."

Jongup hanya bisa mengangguk sebelum kaca jendela mobil Siwon tertutup.

Keduanya pun terpisah di jalur yang berbeda.

Namun keduanya, entah Siwon maupun Jongup, sama-sama masih diliputi kebimbangan tentang masalah mereka yang tak sempat mereka saling berbagi.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian

"Terima kasih sudah membantu pekerjaan ini, Himchan."

Himchan hanya tersenyum seraya menaruh kembali kertas-kertas yang diurusinya ke tempat seharusnya. Sementara Jaebum tampaknya sudah terlalu lelah, hingga jatuh bersandar pada kursi kerjanya. Berperan sebagai wakil ketua , tak sesantai yang banyak orang bayangkan.

"Seharusnya aku mempromosikanmu jadi anggota OSIS biar kau direkrut. Bahkan ketua OSIS itu saja tidak berguna."

Himchan tertawa. Bisa dimaklumi karena Jaebum yang paling sering memegang tugas dari suruhan ketua OSIS karena anak itu sendiri sering ada urusan di luar sekolah. Maklum, Ketua OSIS mereka adalah anggota elit untuk mewakili rapat-rapat antar sekolah. Jadi urusan internal, dijatuhkan pada Jaebum.

"Tenang saja. Jika hanya untuk urusan ini, dan anggota lainnya tidak keberatan, aku siap membantumu kapanpun."

"Ah, Himchan. Bagaiamana bisa ada malaikat di sekolah ini?!"

Mendadak Himchan teringat sesuatu.

"Jaebum. Apakah kakakmu akan datang ke suatu konser malam ini?"

Jaebum yang masih asyik menenggelamkan kesadarannya, mendadak terusik dengan panggilan 'kakak'.

"Hmm? Aku tidak tahu."

"Apa kakakmu seorang fans , eum, B-A?"

Jaebum terperanjat. "HAH? Bagaimana kau tahu?!"

"Kurasa Youngjae mendapatkan tiket VIP ini dari kakakmu. Aku akan pergi bersama mereka."

Wajah Jaebum tampak khawatir. Ia mendekati Himchan , mencengkeram kerah seragam pemuda cantik itu beserta tatapan tajam seakan tak rela.

"Kau harus berhati-hati dengan kakakku, dia monster."

Manik Himchan mengedip. Tak mengerti kenapa Jaebum begitu awas terhadap kakaknya sendiri.

"Tapi aku lebih khawatir denganmu bersama dua orang monster sekaligus."

"Dua?"

"Ya. Youngjae salah satunya.."

.

.

.

.

Himchan berlalu dari sekolahnya dan hendak pulang ke rumah. Mempersiapkan diri untuk melakukan pekerjaannya di bar seperti sebelumnya. Tubuhnya terasa pegal, ia berkali-kali memijat bagian pundak dan punggungnya setelah seharian membantu tugas OSIS dan melakukan piket.

Di perjalanannya melewati beberapa toko-toko di daerah Myeondong, melalui beberapa taman dan orang-orang meramaikan jalanan ibu kota. Hari-harinya dipenuhi orang-orang dengan urusan yang berbeda-beda.

Langkahnya berhenti. Tepat di depannya , sebuah mobil hitam yang dikenalnya terparkir di depan sebuah toko pakaian wanita. Pria yang bersandar di depan pintu mobil, seraya konsen kepada lingkungan sekitarnya dengan tatapan mengawasi. Pria itu terlihat asing, tidak pernah ia temui sebelumnya. Jikalau mobil itu sesuai dugaannya, pria itu pasti supir Junhong lainnya.

Namun, apa yang dilakukan Junhong ke toko pakaian wanita?

"Hyung!"

Junhong mendadak keluar dari dalam toko dengan tergesa. Ia menemui pria itu, yang merespon dengan sangat ramah dan sopan. Berbeda dengan pria yang biasa menjemputnya , dengan wajah dingin dan tidak bersahabat.

"Bisakah kau membantuku, Hyung?"

Pria itu mengangguk. Lalu keduanya pun masuk ke dalam toko.

Himchan masih terlena akan rasa penasarannya. Mendekati toko dan memberikan ruang untuk mengintip keadaan di dalamnya.

Dilihatnya Junhong memilih beberapa pakaian. Junhong cukup teliti dalam memilih pakaian seolah beberapa pasang sangat berarti untuknya. Mungkin untuk hadiah? Kepada wanita?Himchan tersenyum-senyum membayangkan betapa dewasanya Junhong jika sudah memiliki kekasih.

Junhong memilih pakaian berwarna putih, biru muda, berbagai warna yang lembut. Lalu pakaian itu dicocokkan pada tubuhnya, diperlihatkan pada pria di hadapannya.

Tunggu. Ini aneh. Kenapa Junhong mencocokkan pakaian di tubuhnya dan ditunjukkan pada pria itu? Kalau dipikir-pikir, apakah sebaiknya Junhong mengajak wanita untuk pakaian itu bersama nya?

Himchan menyimpan petunjuk-petunjuk itu dalam benaknya. Mungkin bisa ia pertanyakan jika ia bisa bertemu kembali dengan Junhong secara langsung.

"Aku bisa telat kerja"

.

.

.

.

.

"Berapa semuanya?" Junhong mengulurkan beberapa pakaian yang dibelinya kepada si penjaga kasir.

"Semuanya 40.000 won*."

Junhong sibuk merogoh dompetnya.

Wanita itu terlihat tertarik dengan Junhong, yang berwajah datar dan keterdiamannya membelikan beberapa pasang pakaian. Apakah Junhong sedang serius mencarikan pakaian untuk kekasihnya?

"Apa pakaian ini ingin dikadokan? Toko ini menyediakannya. Pacar anda pasti akan lebih menyukainya"

Junhong terdiam. Matanya melirik pada Wongjun yang juga melirik junhong. Keduanya tidak tahu harus merespon apa ketika pemikiran gadis itu begitu salah.

"Eum.. terima kasih. Ini bukan hadiah." Junhong menaruh uangnya dan segera mengambil belanjaannya. Seperti ekspresi sebelumnya, ia terlihat tidak tertarik menunjukkan keramahan. Tidak seperti memperlihatkan diri yang hendak menghadiahi seseorang.

Gadis di depan kasir itu nampak masih penasaran dengan situasi Junhong. Melihat itu, Wongjun harus segera meluruskannya.

"Eum.." Wonjung menginterupsi. "Anak muda itu sedang ada masalah dengan kekasihnya, dan beberapa pakaian mungkin bisa menjadi hadiah kecil untuk gadis itu." Wongjun tersenyum. "Tidak semua gadis menyukai kado."

Wongjun pergi meninggalkan gadis kasir itu yang sudah cukup puas dengan jawabannya.

.

.

.

.

.

Junghong hanya bisa terdiam dalam duduknya. Wongjun yang melihat keterdiaman sang Tuan Muda ingin sekali mencairkan suasana yang begitu canggung ini. Mereka mungkin hanyalah supir dan tuannya. Namun, tidak untuk Junghong yang bahkan sudah memanggilnya 'hyung'. Ia ingin menjadi sosok pendamping yang pengertian, seperti seorang kakak sesungguhnya.

"Jadi Anda akan memakainya untuk pesta malam ini?"

Mata Junghong mengerling mendengar pertanyaan tersebut. Sepertinya tidak tertarik untuk memberi jawaban.

Wongjun tahu pertanyaannya agak sensitif. Perihal kebiasaan Junhong, yang bahkan ia tidak sukai, hanya terpaksa. Semuanya ia lakukan terpaksa, dan ia tidak pernah mau membahasnya. Yang penting ia lakukan saja agar semuanya tenang.

Walaupun masih cukup merasa aneh, namun ia harus terbiasa dengan kebiasaan Junhong yang akan sering mengajaknya ke toko pakaian wanita hanya untuk dipakaikan pemuda malang di sampingnya.

"Besok aku ingin pergi ke suatu tempat." Jawabnya dengan malas. Matanya lurus kepada pemandangan di luar jendela. Yah setidaknya anak ini mau merespon.

"Kemana, Tuan Muda?"

Junhong awalnya begitu ragu untuk menjawab karena ia takut mengatakan bahwa konser yang akan ia datangi tidak cocok untuk umurnya. Bahkan untuk seorang Wongjun, supirnya sendiri pun akan melarangnya. Bagaimana jika ayahnya juga tahu?

"Hanya ke rumah teman untuk suatu tugas." Ucapnya berbohong.

"Baiklah. Saya antar Tuan besok?"

"Tidak perlu. Aku akan kembali dari kon—rumah temanku setelah itu."

Wongjun cukup cerdik untuk bisa membaca tingkah laku Junghong yang agak mencurigakan.

"Baiklah." Wongjun pun melanjutkan konsentrasinya pada perjalanannya. Ia akan simpan kecurigaannya dan tidak dulu banyak memikirkannya.

Malam ini akan jadi malam panjang untuknya.

Sebuah pesta penyambutan akan dihadirkan malam ini.

.

.

.

.

.

Jongup

"UWAHH... kenapa rehearsal ini terlalu melelahkan?!" Daehyun collapse lagi di lantai ruangan setelah lebih dari 2 jam kami berlatih.

"Ini baru 2 jam. Konser kita besok lebih dari itu." Yongguk menengahi. Leaderku ini benar-benar tidak suka jika salah satu kami terlalu banyak mengeluh, dan berlagak bijak setelahnya. Yah, memang beberapa hari ini latihan kami dipenuhi keluhan sang Pangeran Daehyun.

"Yeah..yeah.. Seseorang yang baru-baru ini putus asa ditinggalkan kekasihnya."

Yongguk tiba-tiba melempar tatapan sadisnya kepada Daehyun. Lagi-lagi keadaan menjadi rumit jika keduanya bersih tegang.

Suara HP ku mendadak terdengar. Aku yakin itu pasti dari Ibuku. Aku harus segera pergi karena waktu ku tinggal beberapa jam lagi sebelum acara yang ingin ibuku datangi, dimulai.

"Eum, semuanya. Aku harus pergi."

"Secepat ini? Kau baru selesai latihan." Yongguk menanyai keadaanku. Ia bahkan lebih perhatian dari ayahku sendiri.

"Tidak apa, Hyung. Ada urusan yang sangat penting dengan orang tuaku." Aku segera merapikan kenaan sepatuku. Menyudahi percakapan kami dengan pamit , dan begitu saja pergi bahkan sebelum mereka berdua mempersilahkanku.

Aku akhir-akhir ini harus melarikan diri. Perasaanku tidak enak, bahwa ibu dan ayahku akan membuat keputusan yang sangat tidak kuinginkan. Yang akan membuatku terus menghilang tanpa berpamit pada mereka dan fans ku. Aku tidak mau membuat kehancuran pada B-A.

Dan aku harap dugaanku salah.

.

.

.

.

.

Normal's POV

"Hmm.. lagi-lagi orang tuanya. Kenapa akhir-akhir ini orang tuanya begitu perhatian pada Jongup?" Yongguk berspekulasi. Dirinya mengembalikan handuk dengan basahan keringatnya kembali tergantung di atas kursi.

Daehyun tidak berpikir demikian. Jongup seolah menyembunyikan perihal orang tuanya. Beberapa hari ini Jongup mendapat telepon dari orang tuanya, dan ia selalu bersembunyi. Tidak seperti Yongguk. Bahkan punya masalah dengan ayahnya, ia tidak sungkan untuk membuka diri atas perkembangan hubungan mereka.

Tidak untuk Jongup, Daehyun berpikir begitu. Ia tidak tahu banyak soal orang tua Jongup. Yang ia tahu, orang tua Jongup sering muncul jika ada maunya. Itupun tentang uang. Tapi Jongup tidak memberitahu masalah apa yang membuat orang tuanya begitu. Tidak tahu juga kenapa Jongup seolah tidak mau menunjukkan keberadaan orang tua padanya dan Yongguk. Ada yang salah kah?

"Hei , Bang. Apa orang tua Jongup meminta uang darimu lagi?"

Yongguk langsung melempar tatapan bingungnya pada Daehyun. "Kenapa bertanya begitu?"

"Aneh. Orang tua Jongup jadi sering menghubungi Jongup, tapi mereka tidak meminta apapun darimu. Apa itu berarti ada urusan lain?"

"Maksudmu? Orang tua Jongup mempedulikan anak mereka sendiri hanya jika mereka perlu uang dariku? Kau jahat sekali berpikir begitu."

"Tapi memang begitu setelah aku amati. Bahkan kau tidak merasakannya kalau orang tua Jongup amat bergantung padamu? Kau tidak kesal dengan perbuatan mereka?"

Yongguk melenguh sebentar. "Aku tahu. Aku mengerti dengan keperluan mereka. Karena aku tahu kehidupan Jongup sebelumnya, begitu menderita. Jadi tidak ada salahnya membantu mereka."

"Well. Ok. Aku tidak bisa membantah kebaikanmu, malaikat. Tapi, tidakkah gaji Jongup lebih dari cukup? Bahkan anak itu jadi lebih kecil badannya setelah keabisan uang buat orang tuanya."

Yongguk tidak kuasa menahan pemikiran negatif Daehyun. Mata buasnya melurus pada Daehyun, menyuruhnya untuk diam. "Bisakah kau berhenti beranggapan negatif pada sahabatmu sendiri?"

Daehyun mau tidak mau menghentikan ocehannya. Ia mengalih padangannya, membuang perasaan jengahnya lebih lama atas kekeras kepalaan Bang Yongguk tidak ikut pada pendapatnya.

Yongguk pada akhirnya pergi dari dalam ruangan setelah waktu perdebatan mereka memakan cukup banyak waktu istirahatnya. Daehyun mendesis lemah.

"Aku tidak berpikir negatif karena aku tidak peduli. Aku justru berharap anak itu tidak apa-apa. Terlalu banyak hal misterius. Itu kesan pertamaku sejak aku mengenalnya pertama kali."

.

.

.

.

.

.

.

"Kau terlihat sangat tampan sekali hari ini, Nak." Yuna menepuk-nepuk tuxedo hitam Jongup berkali-kali. Pemuda di samping wanita dengan segala keglamoran yang ia pakai, mendesis tidak semangat.

"Sudah berapa kali Ibu memujiku."

"Hahaha.. Ibu terlalu terpesona dengan tuxedo barumu. Terlihat sangat cocok untukmu. Kau akan jadi pusat perhatian semua orang." Wanita separuh baya itu tersenyum senyum sendiri dengan begitu bahagianya. Berbeda 180 derajat dari si Anak Kandung. "Aku begitu bangga mempunyai putera dengan wajah setampan dirimu."

"Siapa dulu ayahnya bukan?"

Ayah Jongup, Moon Jonghun, bersahut dari kursi depan. "Wajah mahalmu itu menurun dari ayah tampanmu. Kau harus ingat itu."

"Hahaha.. Jonghun. Perjalanan panjangmu sudah memakan setengah otamu, ya?"

"Ah, sayang. Kau tidak senang aku pulang lebih cepat?"

"Oh, tentu saja aku senang. Kau bahkan membawakan hadiah permata itu. Bagaimana aku tidak senang? Hahaha.."

Kedua orang tua tersebut tertawa dengan begitu suka ria. Tidak tahu ada orang lain yang tidak merespon, hanya sebuah wajah menekuk dan bosan. Jongup kontras memiliki kepribadian yang berbeda dengan kedua orang tuanya. Ia pun heran sendiri. Kenapa Tuhan menciptakan Jongup tidak sama serakah dan materialistis seperti orang tuanya agar hidupnya begitu tenang?

"Kenapa kalian harus membuang uang begitu banyak? Hanya untuk acara makan malam? Tuxedo , baju pesta baru, bahkan untuk limusin? Bahkan kalian menyewa seorang supir? Apa ini semua tidak terlalu berlebihan?" Jongup mengeluarkan seluruh pertanyaannya yang sudah memberatkan akal pikirannya.

"Oh puteraku. Kami tidak membuang uang, kami menghabiskan. Kami menghabiskan uang yang seharusnya kami habiskan. Agar tidak menumpuk untuk persediaan uang selanjutnya, bukan begitu Sayang?"

Pastilah sang Ayah mengikuti pendapat istrinya dengan anggukan.

"A—apa? Maksud kalian a—aku akan.."

"AH itu dia rumahnya! Besar bukan , Sayang!? Kau percaya denganku kalau rumah orang kaya itu seperti kastil di cerita dongeng!?"

"Wah! Ini benar-benar besar!"

Keduanya tidak mempedulikan Jongup. Terlalu terpaku dengan kemewahan bangunan di sekitar mereka. Jongup akui juga sebenarnya, bahwa tempat yang mereka datangi sangat mewah. Tak ayal bahwa semuanya harus disusun sedemikian glamoris agar sebanding dengan para pendatang yang kebanyakan hadir dengan kenaan super mahal dan kendaraan mewah.

Jongup meneguk ludahnya. Ia tidak merespon apapun lagi. Perutnya terasa mual.

Ia mungkin artis, sudah sering bertemu dengan orang orang berpenampilan tidak biasa dan bermerek. Tapi hadir di pesta mewah dan begitu formal, seperti pertama kali berada di pesta dansa. Ia tidak suka ini.

Mobil berhenti. Pintu dibuka oleh supir. Ketiganya disambut begitu hormat oleh para penjaga. Diantar melalui sebuah jalan bagai karpet merah. Semuanya ditata begitu indah dan mewah. Walaupun tampaknya tidak sebanyak acara perhelatan akbar , atau acara pemberian penghargaan dengan ratusan tamu. Mungkin hanya beberapa tamu penting yang diundang.

"Ooh! Tamu yang sangat ditunggu-tunggu."

Gyun, wanita yang begitu anggun dengan gaun berwarna biru tua panjang. Jongup dan ayah Jongup sampai tidak hati untuk berkedip. Jongup terlalu terkesan dengan penampilan wanita itu yang hampir menyamai ibunya. Apa ibunya begitu terobsesi dengan wanita ini hingga ingin mengikuti penampilan mewahnya?

"Gyun! Kau begitu cantik seperti biasa."

"AH, kau juga Yuna. Kau datang bersama anak dan suamimu? Syukurlah."

Gyun tiba-tiba mengawasi penampilan Jongup dari kaki hingga ujung rambutnya. Senyum anggunnya terus melekat puas. Berpikir bahwa wanita itu begitu terkesan dengan Jongup. Benar-benar sesuai dengan yang diungkapkan Yuna sebelumnya.

"Puteramu sangat tampan. Dia sangat cocok bersanding dengan puteriku. Pasti."

Puteri?

"Ah, Gyun. Kau tidak sabaran sekali. Hahaha.."

Jongup masih harus berputar otak atas percakapan antar wanita ini.

"Masuklah. Nikmatilah pesta pembukanya dahulu, selagi aku menemui puteriku."

Gyun pergi , memberi kami waktu untuk menikmati pesta ini.

"Ah! Bagaimana jika kita menikmati malam bagai di negeri dongeng ini , sayang?" Yuna bermanja di lengan Jonghun. Mereka begitu bersemangat. Menelusuri segala penjuru ruangan dengan mata berkilat penasaran, mendekati orang-orang kaya dan merayu mereka. Itu yang dipikirkan Jongup.

Jongup yang ditinggal sendirian, mau tidak mau berkeliling sendirian. Ia ingin sekali meninggalkan tempat ini. Berlama-lama, hanya akan membuat perutnya semakin mual.

"Apa benar wanita itu sakit jiwa?"

Jongup berhenti ketika menangkap percakapan seseorang.

"Ia bahkan tidak bisa menerima keberadaan puteranya sama sekali. Kasian sekali anak itu."

"Tapi mau bagaimana lagi. Kita sudah diamanatkan untuk diam tentang masalah ini."

"Aku heran. Media belum membuat rumor tentang keluarga Choi."

"Tidak heran jika uang menguasai , keluarga ini akan baik-baik saja."

"Ya. Suaminya begitu peduli dengan nama baik,dan keluarganya. Such a wise man."

Jongup merekam semua percakapan dua wanita di meja minuman tersebut. Tapi ia tidak bisa menerka apa maksudnya.

"Aku mencium keanehan dalam rumah ini." Jongup melanjutkan jalannya menjauhi keramaian. Ia masih tidak mau menunda tujuan awalnya.

"Apa ibu dan ayah bermaksud untuk menjodohkanku?" Jongup sibuk memikirkan pertanyaan pertamanya. "Kenapa semua orang tua harus main jodoh soal urusan anaknya? Aku , Bang Yongguk. Kenapa tidak dengan Daehyun yang bisa bercinta dengan wanita manapun tanpa khawatir dengan orang tuanya?"

Kepala Jongup berat. Dirinya mengambil secangkir wine yang ditawarkan untuknya. Meneguknya dalam sekali minum.

Bagus. Kepalanya semakin pusing.

Jalannya limbung, dan dia hampir tidak tahu kakinya membawa dirinya kemana. Pantas saja Yongguk tidak mengijinkannya minum-minum, karena ketahanan terhadap alkoholnya begitu lemah.

Sampai akhirnya ia sedikit tersadar. Keadaan sekitarnya gelap. Pijakannya berumput. Ia berada di taman luas?

Ada seseorang di kejauhan yang masih jelas ia lihat. Duduk sendirian. Rambutnya hitam panjang. Dengan kenaan biru muda.

Seorang wanita? Kenapa duduk sendirian dan tidak ikut pesta?

Jongup menghampiri. Ia berusaha segentle mungkin bergerak, agar tidak menakuti gadis itu. Tapi, kekuatannya semakin melemah.

Bruk.

Jongup jatuh. Otot-ototnya tidak bisa membantunya bangun.

"A—aku butuh air."

Tiba-tiba suara pijakan sepatu mendekat.

"Anda tidak apa-apa?"

Suara yang agak berat, tapi lembut. Lengan sehalus kapas merangkulnya, membantu Jongup bangun.

"Te—terima kasih. A—aku hanya butuh air."

Jongup membalas pandangan orang baik di hadapannya.

Tiba-tiba..

"ASTAGA!"

Bruk

"AW" Tubuh Jongup dilempar jatuh kembali ke tanah. "Hei, Nona! Apa Anda mau membantu saya atau tidak?" Jongup menuntut karena dibuat kesal sudah dijatuhi kembali mencium tanah.

Masih tidak ada respon, ia melihat ada yang tidak beres dengan ekspresi gadis itu terlempar kepadanya. Bingung, kaget, takut. Campur aduk. Tatapan yang begitu familiar itu masih membidiknya dengan sangat tajam. Seolah pernah mengenal Jongup sebelumnya.

Oh ya. Mungkin terkejut karena Jongup adalah seorang artis?

"Ah! Juyong, disini kau rupanya!" Gyun tiba-tiba datang. Mendekati keduanya. "Oh tidak. Ada apa denganmu, Jongup?"

"Hanya pusing karena alkohol."

Gyun membantu Jongup untuk berdiri. "Sebaiknya kau membantu, Juyong."

Juyong yang sedari tadi diam dan terkejut, harus mengikuti perintah ibunya. Ia membantu menuntun Jongup kembali bangun. Tangan gadis muda itu cukup bergetar di pinggang Jongup. Jongup bisa merasakannya. Setakut itukah gadis itu padanya?

"Ah, syukurlah. Kalian sudah bertemu." Gyun melepas rangkulannya. Membiarkan Jongup berada di rengkuhan Juyong sendirian.

"Kalian?" Jongup bertanya.

"Ya. Kalian sudah bertemu. Jongup, Tante sedari tadi bermaksud ingin memperkenalkanmu dengan puteri Tante. Choi Juyong, gadis ini."

"I—Ibu! Ti—tidak mungkin!"

Jongup menatap gadis di sampingngnya begitu dekat. Wajahnya terlihat putus asa. Tapi kecantikannya merengkuh hatinya sedikit. Jadi gadis ini yang ingin dijodohkan untuknya?

"Juyong. Kita sudah sepakat, bukan?"

Juyong terdiam. Ia tidak mungkin melawan ibunya.

"Maaf mengganggu pertemuan pertama kalian. Apalagi kau begitu mabuk, Jongup. Kubiarkan Juyong membantumu. Aku akan ambilkan segelas air. Juyong, temani Jongup di kursi taman. Habiskan waktu kalian selama mungkin."

Gyun bersemangat sekali meninggalkan Jongup apapun kepada puterinya. Jongup jadi merasa tidak enak sudah merepotkan Juyong.

Juyong mendesis. Ia mendudukkan Jongup ke kursi taman.

"Terima kasih." Jongup dan Juyong pun akhirnya tenggelam pada suasana canggung karena tidak ada lagi yang melanjutkan percakapan. Jongup pikir, Juyong sedang marah padanya.

"Oh, Hai? Namaku Jongup." Jongup mencoba mencairkan suasana dengan perkenalan pertama. Ia sangat menanti kedekatannya dengan gadis ini. Ide yang tidak buruk. Hatinya sudah cukup terpincut.

Tiba-tiba lirikan sinis mengarah padanya. Lirikan yang menyuruhnya untuk menjauh. Lagi-lagi tatapan yang dikenalnya.

"Enyahlah kau."

.

.

.

.

Jongup terdiam.

Suasana mendadak begitu hening dan terasa dingin.

Sedingin respon gadis itu.

Sekacau perasaan Jongup.

Ini seperti deja vu?

.

.

.

.

.

.


To Be Continue


Sebentar lagi liburan panjang, kesibukan sudah agak menyurut:') Maaf lagi-lagi lama updatenya.

Aku gak mau drop ini cerita, jadi harus tetep semangat untuk melanjutkan.. MIMB masih lama untuk berakhir :') Dan semoga readernim tidak keberatan untuk bersabar~

Update ku tidak teratur. Follow this story kalau gak mau ketinggalan update, Like kalau kalian suka dan ingin lanjut dengan ceritanya , Review kritik dan dukungannya untuk kemajuan penulisan ^^ semakin banyak yang mendukung, semakin cepat updatenya (aamiin)

.

.

.


Selanjutnya..

"Sialan! Penjaga sialan itu tidak akan ijinkan aku masuk jika aku tidak bawa kartu identitasku!"

.

"Kau butuh? Kau harus mematuhiku."

.

"Serahkan saja pada Daehyun. Dia yang paling ahli memilih lucky fans."

.

"Terlalu banyak kamera. Aku tidak nyaman disini."

.

"Kau datang!"

.

"Jongup orang yang baik, ternyata. Ia hanya baik dengan Juyong. Tidak dengan Junhong."

.

"Bang Yongguk.. Maafkan aku. Tapi ini mustahil."

.

"Daehyun, kau tidak mungkin jatuh cinta dengan... dengan..."

^_^v