My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy Drama

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

.

Warning!

Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.

I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^

.

.

.

.

.


Chapter 5


"Enyahlah kau"

Jongup tersentak. Bermaksud berkenalan secara baik-baik, tertolak begitu saja hingga tangannya harus tertarik kembali.

"Ke—kenapa?" ungkap Jongup mencoba meminta penjelasan. Kalau-kalau ada perbuatannya yang salah, yang mungkin membuat hati gadis muda ini tersinggung. Karena mata hitam dari Junhong tidak mau menunjukkan perubahan, masih tidak seramah sebelumnya.

Jongup hanya bisa mematung dan menunggu

Rumit jadinya untuk memberikan penjelasan panjang kepada Jongup. Dilihat Jongup, ia terlihat menanti-nanti Junhong mau merespon dari keterdiamannya. Junhong sendiri berbuat demikian dengan disengaja.

Sungguh, Junhong begitu lelah.

Bagaimana kejadian dalam selang sehari saja, harus mempertemukan dirinya dengan Jongup lagi? Pemuda yang membuatnya sakit kepala. Ia jadi sulit memperjelaskan masalahnya. Demi harga diri, dan demi masa depannya.

Kesan apa yang akan diberikan Jongup pada anak muda yang sudah terlanjur menggampangi status Jongup setelah tahu rahasia terbesarnya? Akan ditaruh kemana muka Junhong saat datang ke konser yang artis sombong itu paksa mengundangnya?

Tidak. Mungkin belum saatnya. Setelah ini ia akan berusaha mencari cara, tidak mempertemukan kembali Juyong dengan Jongup lagi.

"Maaf. Aku hanya sedang agak badmood." Junhong merunduk malu-malu. Benar-benar memperlihatkan paras bagai putri seorang konglomerat. Walaupun dalam hati kecilnya, ia mau mati saja. Mengingat dirinya tetap 'laki-laki' tulen, yang melakukan semua sikap ini dengan penuh paksaan.

Di sisi lain, Jongup bernafas lega. Ia tak habis pikir baru saja dibentak oleh seorang putri cantik. Ia kembali pada kesan pertamanya, gadis itu benar-benar lembut dan baik. Hanya saja, seperti yang ia katakan, mungkin sedang agak badmood. Sedang dalam periode nya?

Saat ini,

Junhong dan Jongup sedang duduk di bangku taman yang sama. Sambil memperhatikan rimbunan pohon dan langit malam yang begitu sepi dengan bintang. Mereka tak lagi berbicara. Hanya diam dalam kecanggungan. Junhong malas bicara karena ia tak suka berperilaku lemah-lembut terus. Sedangkan Jongup, tak berani memulai percakapan , takut-takut membuat kesalahan lagi.

"Aku tahu kau sedang tidak ingin diganggu." Jongup tidak bisa bertahan pada keterdiamannya. Terlanjur berbicara, sampai membuat Junhong kembali memberikan perhatian. "Tapi, aku hanya tidak suka lihat perempuan duduk sendirian di pesta semewah ini."

Jongup memijat jemarinya berusaha melupakan rasa malu.

Junhong tak mengira Jongup masih belum menyadari bahwa dirinya seorang laki-laki. Mendengar pernyataan Jongup dengan suara lembut dan gentle, sangat berbeda dengan kesan laki-laki menyebalkan di kamar mandi kemarin.

Jujur, Junhong senang dengan sikap nya begitu.

"Kau tidak ingin bergabung dengan pesta malam ini? Bukankah ini pesta penyambutan ibumu?"

Junhong mengangguk. Senyumnya sedikit terukir. "Aku tahu. Tapi, aku tak suka bersosialisasi dengan para undangan."

"Eum? Kenapa?"

Junhong sedikit bingung bagaimana menjelaskannya. Ia ingin saja mengatakan bahwa menampakkan diri di antara para undangan yang tahu rumor tentang dirinya, hanya akan semakin memalukan.

"Aku hanya tidak percaya diri dengan para undangan. Apa yang akan dipikirkan mereka jika bertemu denganku?"desah lemah Junhong terdengar putus asa. Jongup perhatikan, gadis di sampingnya terlihat sama sekali tidak menikmati acara malam ini. Sungguh, Jongup berpikiran sama.

"Kenapa ? Kau terlihat istimewa dan cantik. Semua orang akan memujimu."

Junhong tegas tidak sependapat. Jongup tidak tahu situasi Junhong saat ini. Keberatan dengan penampilannya yang begitu menjijikkan. Sikap sengaja di anggun-anggunkan. Sekedar dijadikan pengobat bagi ibu yang ia sayang. Ia dipergunakan saja bagai boneka.

Tanpa sadar, memikirkan betapa buruk kisahnya ini jika dirangkum kembali, membuat tetesan air mata Junhong berjatuhan. Emosionalnya terusik kembali.

Jongup terkejut bukan main. Melihat perawakan Junhong yang langsung menangis akibat pernyataannya.

"Eh, K—kau kenapa menangis?!" Jongup mendekap wajah Junhong, dan memperhatikan lebih lama wajah gadis itu, yang jika dilihat lebih dekat, begitu cantik dan semakin familiar di matanya. Apa ia pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya?

Dengan setegah sesengukan, Junhong mencoba angkat bicara kembali. "Apa kau pernah tidak menjadi dirimu sendiri, Jongup?" Mendengar sedikit respon dari Junhong, Jongup dapat sedikit berlega hati , yang berarti gadis tersebut sudah tidak menangis lagi.

"Eum. Ya?" nada Jongup terdengar memastikan. "Kadangkala aku berakting menjadi tidak diriku sendiri demi keadaan fans."

"Heh.. dunia artis?" tawa pendek Junhong terdengar menyindir. Jemarinya yang kurus itu berusaha mengusap air matanya. "Itu wajar."

"Bukan." Jongup kira ia bisa bersabar dengan tingkah menyebalkan gadis ini. Kalau saja laki-laki, mungkin sudah ia beri pukulan sedikit. "aku ini sebenarnya juga tidak mau jadi artis, dan mempunyai fans begitu banyak."

Junhong terkesima mendengar pernyataan Jongup. Tanda ekskspresinya bertanya 'kenapa?'

"Asal kau tahu. Cita-citaku tidak menjadi artis ataupun penyanyi. Memang menari dan menyanyi adalah hobiku. Tapi, tidak seperti ini." Ucap Jongup dengan nadanya yang terlihat sedih.

"Orang tuaku. Mereka sangat senang aku bisa menjadi seorang selebritis. Tapi pada akhirnya, mereka lebih suka dengan uangku dan melupakanku setelahnya."

Angin malam itu semakin dingin saja. Seperti ikut menyatu dengan cerita menyedihkan Jongup. Junhong baru tahu bahwa pemuda menyebalkan yang baru 2 hari ini ia temui, punya masalahnya sendiri. Ia kira, kesan pertama Junhong pada Jongup benar sekali bahwa ia begitu norak dan sombong akibat statusnya.

Tapi, tidak. Jongup sama sekali tidak seperti itu.

"Itu, cukup mengejutkan." Junhong menunduk. Mengingat atas perlakuannya pada Jongup , membuat hati kecilnya timbul penyesalan.

"Haha. Tidak apa-apa. Asalkan mereka masih menganggapku sebagai anak mereka." Jongup tiba-tiba mengenggam tangan Junhong. "Kau lebih beruntung saat ini. Orang tuamu begitu menyayangimu."

Junhong menggeleng ragu. "Kau salah. Kau tidak tahu tentang aku. Seandainya kau tahu, kau pasti akan benci padaku." Junhong terdengar sangat frustasi. Dirinya tidak sebahagia yang dianggap Junhong.

"benci? Apa yang harus kubenci darimu?"

Jongup berusaha mencari jawabannya dari tatapan Junhong yang kembali dibasahi air mata. Gadis itu terlihat pilu dan butuh kasih sayang. Apa ada yang salah dari opininya? Ia berpikir bahwa Junhong baik-baik saja. Gadis itu punya orang tua yang perhatian, kaya.

Apa lagi yang kurang? Terlihat Junhong sama sekali tidak seterbuka dirinya. Itu tidak masalah. Ia sama sekali tidak ingin memaksa Junhong. Tapi setidaknya, sebagai orang yang baru dikenal pun, ia masih ingin membantu Junhong.

"Aku takut kau juga menertawakanku. Atau mungkin kau berakting sama seperti mereka." Junhong seperti kehilangan kendali. Kepribadiannya berubah begitu cepat, setiap kali ia bercerita. Pantas saja gadis ini hanya mau berdiam di taman, karena ia tidak mau tiba-tiba cengeng di depan orang banyak.

"Juyong, lihat aku." Jongup mencoba menenangkan Junhong. "Kau adalah gadis yang baik. Tidak akan ada yang membencimu."

"Kenapa kau terus menyebutku 'gadis'?! aku benci disebut itu!" Junhong merengek lagi dalam rengkuhan Jongup yang begitu tenang, entah kenapa. Jongup sebenarnya bingung , tapi ia tidak tega terus menerus melihat gadis itu begitu sedih. Apa yang harus ia lakukan?

"Tenanglah, Juyong! Aku tidak akan pernah membencimu"

Junhong menghentikan tangisannya. Menatap pemuda itu, mencari kesungguhan dari penyataannya barusan.

"Kau tidak benci padaku jika aku ini la—"

"Nona!"

Sebuah dorongan yang begitu kuat menerjang Jongup hingga ia terpental jatuh dari atas bangku taman. Tubuh Junhong pun tiba-tiba ditarik menjauh dari pelukan Jongup.

"Beraninya anda menyentuh Nona Juyong."

"Donghae hyung?" Junhong perhatikan ekspresi tidak senang dan terlanjur marah yang Donghae tengah tunjukkan kepada Jongup. Ia tahu, pasti Donghae mencurigai Jongup. Dirinya memang suka over protectif.

Jongup yang sampai terdorong kuat dari dorongan Donghae , sedikit bingung dengan situasi yang baru saja terjadi. Siapa pria ini yang begitu saja mendorongnya dan menjauhkannya dari Junhong? Pria itu terlihat familiar.

Eh?

Supir itu?

"Anda?" Donghae sendiri ikut terkejut dengan kehadiran seorang pemuda yang ia pernah menumpang pada mobil yang disupirinya. Penampilan Jongup begitu berubah, hingga ia tidak menyadari dengan cepat.

"Kalian sudah saling kenal?" Junhong menatap keduanya bergantian. Bingung dengan sapaan keduanya satu sama lain.

"Nona kenapa bersama dengan pria ini? Dan Anda?"

Jongup yang terus ditanyai oleh dua orang yang baru dikenalnya, segera beranjak bangun dari posisi duduknya. Berdiri hormat, sekedar memberi salam, sebagai bentuk kehormatannya kepada seorang pemuda yang umurnya beberapa tahun lebih tua itu.

"Saya Moon Jongup. Member dari boyband B-A." Begitu perkenalannya, hingga Donghae menjatuhkan rahang. Ia baru tahu orang dengan penampilan acak-acakan dan bau minuman keras kemarin,adalah seorang selebritis.

"Tenang, Hyung. Dia dikenalkan ibu untukku." Ucap Junhong berusaha memperjelas jawaban yang diberikan Jongup. Membuat Donghae mengangguk paham, dan melonggarkan rengkuhannya dari Junhong akibat tindak sergapnya yang begitu mendadak.

"Hyung?"

Jongup tak paham dengan panggilan formal Junhong kepada Donghae. Hyung adalah sebutan yang tidak sebenarnya dilakukan oleh seorang perempuan kepada laki-laki lebih tua. Ia mempertanyakan hal itu.

"Oh. Maaf Jongup, aku ini la—"

"Nona muda sudah terbiasa memanggil saya Hyung karena dirinya dahulu adalah anak yang agak tomboy." Donghae mencela. Mengejutkan Junhong yang belum selesai dengan penjelasannya.

Jongup akhirnya mendapat jawaban memuaskan setelah Donghae menjawab. "Ah, aku mengerti. Pantas saja Nona muda tidak terlalu percaya diri bergabung ke dalam pesta ini."

Donghae mengangguk benar. Junhong masih hening dengan keterdiamannya.

"Mungkin anda bisa memberi waktu pada Nona muda. Nona sedang tidak enak badan pula."

"Baiklah." Jongup hendak beranjak. "Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi, Nona Juyong."

Junhong yang dilanda bingung dan canggung hanya bisa mengangguk. Membiarkan Jongup yang sangat ingin ia ungkapkan kebenarannya itu berlalu pergi.

"Ke—kenapa ? Kenapa kau membohongi Jongup?" tanya Junhong dengan perasaan tak rela. Nadanya sedikit marah pada Donghae. Seolah ia tak rela, bahwa Jongup menjadi korban kebohongan lainnya.

"Tuan, saya minta maaf. Saya terpaksa melakukannya. Suatu saat nanti, Nona akan mengerti." Ujar Donghae dengan ekspresi datar dan juga nada yang tegas. Ketidakpuasan Junhong pada jawaban Donghae membuat air mata anak muda itu hampir mengalir.

"Saya akan segera temui Wongjun-ssi, dan menyuruhnya segera menemani anda. Permisi." Ijin Donghae sebelum berlalu pergi. Meninggalkan Junhong kembali menyendiri dan merenungi kesedihannya.

"Donghae hyung jahat. Kukira aku bisa menemukan harapan dari Jongup."

.

.

.

.

.

.

Dorm

Daehyun baru selesai dengan olahraga malamnya. Melakukan treadmill saat malam hari tidak menjadi masalah untuknya, karena itu membuatnya bisa tertidur lebih nyenyak. Apalagi besok ia tidak akan punya waktu untuk olahraga karena persiapan konser dan lainnya.

Keluar dari ruang gym pribadi, ia melihat seseorang duduk termenung di atas sofa tv. Daehyun lihat lebih dekat, dan ternyata tidak salah lagi, dia adalah Bang Yongguk. Daehyun tidak pernah melihat Yongguk membuang waktu pada hal sia-sia. Yongguk saat ini hanya melihat-lihat ke isi handphonenya. Seperti menunggui seseorang menghubunginya.

"Well, Well, well.. Seorang pangeran belum tidur di singgasananya?"

Yongguk hanya mengerling sebal pada sosok Daehyun yang muncul mengganggu malam tenangnya. Pemuda itu terlihat hanya menggunakan kaus kutang putih yang sudah agak basah dengan keringat. Tipikal Daehyun. Tidak suka berolahraga pagi keluar dorm karena paling tidak suka dikejar fangirlnya.

"Aku sedang tidak ingin tidur. Lagipula sampai saat ini, Jongup belum muncul juga."

"Mengkhawatirkan anak itu rupanya? Kau benar-benar harus menikah. Kau akan jadi ayah yang ideal, Bang."

Yongguk hanya menggeleng. Sudah diduganya, Yongguk memang agak menentang soal pernikahan. Mungkin teringat dengan perjodohan yang dilakukan ayahnya baru-baru ini.

"Oke, well. Aku tidak ingin membuatmu semakin bosan denganku. Jadi, ini."

Daehyun tiba-tiba melemparkan sebuah kartu ke pangkuan Yongguk.

"Kau begitu mencintainya hingga kartu itu kau simpan di kantung celanamu."

Yongguk perhatikan kartu itu dengan hati-hati. Ia terkejut dengan apa yang ia baru saja dapatkan. Kartu identitas bertanda nama Yoo Youngjae, yang lupa ia kembalikan.

"Kau sama aneh dengan orang gila itu, sampai-sampai kau menyimpan kartunya erat-erat denganmu, eum?"

Daehyun suka sekali menggodai orang. Membuat Yongguk mudah sekali jengkel.

"Aku lupa mengembalikannya. Karena perbuatanmu saat itu."

"Hey, kau yang membuat mereka takut, ok? Mereka melarikan diri duluan setelah kau membentak mereka."

"Lebih tepatnya aku memperingatkan perbuatan konyolmu."

Daehyun pun kali ini lebih memilih untuk tutup mulut sebelum iblis yang tersembunyi di dalam jiwa Bang Yongguk muncul lagi. Yongguk jika sudah marah, agak merepotkannya.

"Ok. Aku minta maaf soal kejadian waktu itu." Daehyun angkat tangan, menunjukkan tanda mengalah.

Melihat Daehyun yang sudah tidak berulah padanya, hanya bisa melenguh nafas sesaat. "Aku harus segera mengembalikannya."

"Eits." Daehyun merebut kembali kartu itu dari tangan Yongguk. "Kau tahu. Aku berubah pikiran. Kartu ini harus kutahan sebagai bayaran atas tindakannya merusak mobilku."

"Lalu mau kau apakan kartu itu?"

Daehyun pun ikut menerka. Mungkin sesuatu hal lucu bisa ia lakukan jika kartu sang pemilik masih di tangannya. "Who knows. Aku hanya perlu meminjamnya sebentar. Jika ia memohon, aku akan mengembalikannya."

"Aku tidak mau kau kelewat becanda, Daehyun." Ujar Yongguk memperingatkan.

"Oh yaya. Tidak akan. Lagipula aku tidak mau membuatmu marah."

"Apa? Kau masih berpikir omong kosong lagi kalau aku ini mencintai Youngjae? Kau cemburu?"

Daehyun tidak lagi bisa tersenyum becanda. Ukiran senyumnya, menjadi sebuah lekukan yang begitu lusuh.

"Daehyun, kau tidak mungkin jatuh cinta dengan... dengan..." Yongguk berpose seolah ketakutan. Mencoba menggodai Daehyun hingga emosinya terpicu.

"Aku lebih baik diculik fangirl gila , daripada mencintai orang itu!"

Yongguk pun hanya tertawa dengan timpalan Daehyun. "Siapa tahu, kan? Aku tidak menjamin kalau kalian berdua ada kecocokan."

"Ah diamlah kau. Kau bisa saja tidak serius dengan hal apapun, tapi tolong tidak mengungkit anak itu."

"Maafkan aku. Lagipula aku tidak akan suka dia, selain sahabatnya." Yongguk dengan santai memainkan hp nya kembali. Tak tahu Daehyun kini sudah menjatuhkan rahang akibat keterkejutannya.

"K—kau ... benar.. suka ... laki-laki... itu.." Daehyun sulit percaya. Sungguh sulit percaya. Selama ini ia kira semuanya menjadi sebuah candaan yang menyenangkan.

Tapi, kali ini ia tidak bisa becanda lagi. Ini sama sekali tidak lucu.

"Oh, Tuhan. Bang Yongguk?! Aku tidak tahu kau benar-benar orang seperti itu. Apa kata orang nanti? Bagaimana jika rumormu beredar?" ucap Daehyun mencoba meyakinkan lagi.

"Itu tidak masalah asalkan kita tutup mulut." Yongguk menatap layar teleponnya. Terdengar kecewa. Ia berharap seseorang yang ia tunggu-tunggu segera menghubunginya. Sudah berapa hari ia meninggalkan nomor teleponnya kepada Himchan, masih juga belum dihubungi.

"Ini benar-benar memusingkan. Pantas saja Presiden gagal terus membujukmu cepat menikah."

"Sudahlah, Dae. Lupakan saja. Ini bukan urusanmu. Bahkan kau berhasil membuatnya melarikan diri kemarin. Jadi aku tak mau marah karena mengingatnya."

Daehyun kembali tutup mulut kalau sudah merasa terancam.

Cklek

Tak lama kemudian, Jongup muncul dari balik pintu masuk.

"Ck ck ck. Lihat siapa pangeran yang baru kembali dari pesta dansa."

Jongup tidak mengira bahwa dua hyung nya masih menungguinya. "Hyungdeul? Belum tidur?"

"Tanyakan pada laki-laki yang sedang kasmaran ini. Hingga aku jadi tidak mood tidur." Daehyun menunjuk pada Yongguk dengan dagunya.

Yongguk tidak menggubrisnya. "Kau darimana saja?" ucapannya terdengar tegas kali ini terlempar ke Jongup.

Jongup bingung harus menjawab apa. Karena saat ini situasinya sangat tidak ingin ia beberkan ke siapapun.

"Hanya pesta bersama orang tuaku."

"Kau seharusnya simpan keahlian menarimu itu untuk besok, kau tahu itu." Daehyun lagi-lagi memotong pembicaraan dengan tidak serius. Membuat Yongguk memutar bola matanya jengah.

"Setidaknya kau bilang dulu pada kami. Jika terjadi skandal, kita tidak akan tahu apapun, kan?" ucap Yongguk kali ini dengan nada menasihati yang cukup bijak.

"Ya, kau tak tahu, betapa sulitnya pengadilan tanpa kesaksian dari kami." Tambah Daehyun.

"Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Jongup yang tampak begitu lelah, akhirnya berlalu dari ruang inti menuju kamarnya. Meninggalkan kedua hyung nya yang masih dipenuhi tanda tanya yang belum semua terjawab.

"Haish.. lagi-lagi ia pergi tanpa jawaban yang memuaskan. Dia itu misterius." Daehyun menatap kepada Yongguk. "Seharusnya kau lebih tegas pada anak itu. Bagaimana jika dia bunuh diri karena menyimpan terlalu banyak stress?"

"Daehyun! Bisakah kau tutup mulutmu, dan kembali ke kamar."

Bentakan Yongguk berhasil membuat Daehyun tidak berani melanjutkan timpalannya. Bibirnya bersungut kesal, dan akhirnya pergi sebelum ia terkena masalah lebih panjang.

Yongguk hanya berhembus nafas dengan lelah.

"Kalau begini terus, aku tidak tahu bagaimana nasib B-A nantinya."

.

.

.

.

.

Esok harinya

"Lalala~ Hmhm~"

Youngjae terlena dengan sisirnya dimainkan di rambutnya. Wajahnya membuat berbagai ekspresi di depan cermin. Dirinya sedang digeluti rasa senang. Ia sudah siap dengan semua kenaan andalanya untuk sebuah konser yang akan diadakan sore ini.

"Sebaiknya aku segera menghubungi Himchan untuk siap-siap." Youngjae menyerbu hp nya di samping wastafel. "Kita tidak boleh telat walau sejam saja. Penonton gila sudah menumpuk bahkan dari pagi." Ungkapnya sambil tetap menahan senyum ria.

.

.

.

.

.

.

"Baiklah aku akan segera bersiap-siap. Kutunggu."

Himchan menutup hubungan teleponnya dengan Youngjae. Ia bisa dengar betapa gembira Youngjae memintanya untuk mempersiapkan diri. Sungguh, Himchan sendiri pun belum terlalu siap untuk datang ke suatu konser yang belum pernah ia alami. Ia lebih suka berdiam diri di rumah dan menemani ibunya.

Tapi apa daya, ketika anak itu sudah memohon, Himchan tak tega menolak. Ditambah, pertemuan kemarin sempat membuat hati Youngjae agak kecewa. Mungkin dengan konser ini bisa menghiburnya.

Sebuah kursi roda terdengar bergerak keluar dari arah dapur.

"Himchan?"

Ibu Himchan memperhatikan penampilan puteranya dari sudut kepala hingga kaki. Semuanya terlihat rapih, tak biasa untuk sosok sederhananya.

"Kau mau pergi kemana?"

Himchan membantu ibunya dengan kursi rodanya mendekat ke ruang tamu. Rumah mereka begitu kecil hingga setiap perjalanan begitu singkat dari dapur ke ruang tamu.

"Aku akan pergi ke konser yang ingin sekali Youngjae datangi. Ibu tahu kan. Aku tidak bisa menolak permintaannya jika dia sudah agak merengek."

Ibunya tertawa kecil. "Kau akan datang ke konser siapa? Ibu tidak tahu banyak soal idol idol negara kita ini."

"Aku juga, Bu." Himchan pun teringat sesuatu. "Tapi ibu harus tahu. Kemarin aku bertemu dengan idol terkenal. Konser mereka yang akan kudatangi hari ini."

"Oh, benarkah?! Mereka pasti keren sekali." Ibunya terlihat antusias mendengarkan. "Apa mereka tampan?"

"Sangat tampan. Seperti anakmu ini." Himchan tertawa pias. "Mereka dari boyband 'Best Absolute'. Terdiri dari 3 member."

"Siapa saja mereka?"

Himchan menerka-nerka. "Eum. Kalau tidak salah Youngjae prnah perkenalkan yang satu Moon Jongup, Jung Daehyun. Dan leadernya, Bang Yongguk."

Senyum ibu Himchan mendadak sirna.

"Bang Yongguk?"

"Oh ya. Yang paling keren menurutku. Dia sangat digilai Youngjae."

Mendadak dalam pikiran ibunya teringat akan sesuatu. Sepasang nama yang pernah ia lihat pada sebuah kertas. Begitu familiar.

Tin Tin

"Oh! Sepertinya itu Youngjae. Aku harus segera berangkat. Ibu, tidak apa kutinggali sendiri? Mungkin aku pulang agak larut."

Ibu Himchan hanya tersenyum ramah, agar puteranya tak menjadi khawatir padanya. "Ibu akan pergi ke rumah bibi Jin. Ia punya resep kue yang enak. Ibu akan belajar masak padanya."

Mendengar pernyataan Ibunya, membuat Himchan bisa bernafas lega. Bibi Jin adalah tetangga yang begitu baik yang sudah banyak merawat keluarganya sejak dulu. Ia bisa dipercaya menjagai ibunya.

"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, Ibu." Himchan menciumm kening sang Ibu sebagai tanda pamitan. Keduanya berlalu bersama dari halaman depan. Disanalah ibunya mendapat sapaan dari Youngjae. Anak itu benar-benar bersemangat acap kali bertemu.

Himchan berlari masuk ke dalam sebuah mobil. Duduk di samping Youngjae pada kursi bagian belakang. "Ibumu tidak apakan membiarkanmu pergi?"

"Tida apa." Himchan mengamati spion depan. Seorang wanita dengan rambut sebahu sedang menyiapkan sesuatu di kemudi depan. "Siapa yang menyupir?"

"Aku?" Wanita itu merasa terpanggil. Wajahnya cukup dewasa dan tidak banyak polesan. Ia tersenyum seramah mungkin pada pemuda yang begitu penasaran memperhatikan penampilannya. "Wow. Kau tidak buruk juga. Kau bahkan lebih manis daripada adikku sendiri." Ia memberi senyum lebar. "Namaku Jaesung."

Jaesung tidak menunggu respon dari Himchan dan beralih mengemudikan mobilnya lebih cepat agar tidak membuang lebih banyak waktu berharga.

"Dia Jaesung noona, kakaknya Jaebum." Bisik Youngjae. "Dia yang memberikan tiketnya untuk kita."

"Ahh~" Himchan paham sekarang. Ia ingin sekali mengenal lebih dekat kakak Jaebum sebagai tanda perkenalan, namun kelihatannya wanita itu terlalu konsen. Ditambah jika ia ingat bahwa Jaebum sempat ketakutan pada kakaknya sendiri. Mungkin wanita ini tidak seramah yang terlihat.

Tapi, Himchan tahu ia lebih mengkhawatirkan keadaannya di konser nanti.

.

.

.

.

.

.

4 jam sebelum konser..

Daehyun mengamati handphonenya.

"Aish.. aish.. itulah kenapa aku benci perempuan."

Daehyun benar-benar sedang sangat konsen pada video kameranya yang menampakkan cctv di luar area konser. Dahinya berkerut melihat banyaknya pendatang yang didominasi perempuan , berteriak ampun-ampunan dan tanpa lelah mengangkat papan nama dengan nama para member. Kebanyakan namanya dan Yongguk.

Daehyun jujur begitu muak diberikan apresiasi berlebihan seperti itu. Apalagi tindakan mereka lambat laun menjadi mengerikan, yang membuat Daehyun agak takut. Sudah lama sekali ia mendambakan sosok perempuan yang begitu serius di kehidupannya untuk dijadikan pendamping. Ia memang suka didambakan begitu banyak wanita, tapi itu dahulu.

Kalau saja incident sasaeng itu bisa ia lupakan.

"Itulah kenapa aku agak pemilih untuk dekat-dekat dengan satu spesies mereka"

"Kalau fans mu dengar, aku yakin separuh jiwa di luar sana akan tergeletak mati." Jongup masuk ke dalam ruangan Daehyun sambil menyeruput segelas jus nya. Membuat perhatian Daehyun berhasil teralihkan. Ia yang mendapati Jongup mendengar curhatannya, langsung mendelik kesal.

"Apa itu yang dimaksud 'alergi terhadap wanita'? Kau gay?"

Daehyun memelototi Jongup dengan tajam. "Apa?! Hei! Aku tidak alergi siapapun. Dan aku bukan GAY!"

"Kalau kau benci perempuan, berarti kau tidak mau dekat-dekat dengan mereka. Kalau tidak mau dekat-dekat dengan mereka, berarti kau alergi. Kalau kau alergi, berarti kau hanya bisa jatuh cinta pada laki-laki." Jongup sengaja memberi jarak pada Daehyun. "Aku sekarang takut padamu."

"Mulutmu itu harus kusumpel dengan hp ku rupanya. Seharusnya yang kau jelaskan itu semua ke Yongguk. Dia trauma dengan perempuan karena sering dijodohkan dengan perempuan gila harta."

"Kalian membicarakanku?"

Daehyun dan Jongup yang baru saja melakukan pertengkaran kecil akibat topik yang tidak bermutu pun, membuat Yongguk yang baru masuk ruangan menjadi terpacu untuk bergabung pada percakapan.

Merasa obrolan mereka akan mengundang bencana besar dari sang Leader, keduanya hanya bisa tutup mulut.

"Ckck.. kalian itu tidak bisa konsen sekali dengan konser kita. Kita rehearsal terakhir setelah ini. Persiapkan diri kalian." Yongguk memberi perintah, seraya beranjak kembali dari ruangan karena merasa kehadirannya tidak diperlukan.

Setelah kepergian Yongguk, Jongup melempar penghakiman secara jelas dari mata sipitnya kepada Daehyun. "Kau baru saja membuat kita hampir terbunuh."

"Siapa juga yang mulai duluan." Daehyun memelet lidah.

"Tsk. Lihat saja nanti, kau pasti akan berterima kasih setelah aku memperjelas orientasimu itu."

Daehyun pun bersuara karena tak mau mengalah. "Perhatikan orientasimu sendiri, anak muda. Penjelasanmu itu lebih pantas untukmu yang bahkan tidak tertarik melirik fans ceweknya sama sekali."

Pada akhirnya mereka membuang muka satu sama lain untuk 4 jam berikutnya.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu..

"Kenapa kita harus berpisah dari Jaesung Noona?"

Himchan memperhatikan sekitarnya. Panas yang membara, dahaga yang luar biasa, bayang-bayang yang semrawut di depan mata , dan sesak akibat banjir fans dimana-mana, membuatnya tidak konsen sama sekali.

"Himchan? Kau baik-baik saja? Kau sudah bertanya itu sekitar 4x loh." Youngjae yang sudah terbiasa akan siksaan batin sebelum konser, jadi khawatir dengan Himchan. Pemuda di sampingnya itu sudah seperti kehilangan separuh kesadarannya.

"Lagipula Jaesung noona mendapat tiket vvip yang sudah ia pesan dengan temannya. Noona membohongiku. Dia pasti sudah dapat ijin masuk lebih dahulu dan bisa melihat mereka rehearsal. Ini tidak adil."

"Yah, setidaknya kau tidak perlu buang uang kan untuk dua tiket bersama temanmu ini."

Youngjae mengangguk dalam diam karena pasrah. Lagipula, mendapat tiket VIP saja sudah beruntung untuknya. Mengamati wajah Bang Yongguk hanya beberapa meter saja, sudah memuaskan nafsunya.

Barisan perlahan semakin maju. 1 jam lagi pintu tiket untuk kelas VIP akan segera dibuka. Youngjae berkeluh kesah pada waktu, sementara Himchan masih berkelana pada pikirannya akibat pusing kepala.

Merasa jantung Youngjae sedang begitu gundah, dia ingin semua persiapannya tidak ada yang ketinggalan. Ia mengamati penampilannya dari monitor hp nya sekali lagi, lalu melihat isi dompetnya memastikan tak ada yang dicuri, tiketnya yang berharga masih di kantung, dan kartu identitasnya sebagai bukti umurnya 18 tahun...

Tunggu.

Youngjae tidak melihat kartu identitasnya berada di dompetnya.

"OMO!"

Himchan pun sampai terkejut dengan lagak Youngjae yang serba panik. "Ke—kenapa, Jae?"

"Kartu identitasku! Tidak ada di dompet!"

"Huh? Kau kan selalu membawanya."

"Harus! Aku harus membawanya. Tapi di dompetku tidak ada!"

Himchan mencoba menenangkan pemuda itu. "Tenanglah, pasti kau ingat dimana kau menaruhnya."

Youngjae mencoba mengosongkan pikirannya, dan meninggalkan satu tempat untuk ingatan dimana ia menaruh kartu identitasnya. Ingatan yang begitu keras, berhasil membuat Youngjae tersadar dimana ia meletakkannya.

"Yongguk!"

Himchan mendekap mulut Youngjae. "Tenanglah Youngjae. Kau tidak mau sampai orang lain dengar, kan?"

Youngjae patuhi apa yang diinteruksi Himchan. "Aku sempat memberikannya pada Yongguk, dan ia pasti masih menyimpannya." Bisik Youngjae.

"Sudah kutahu. Kau gegabah di hadapannya, hingga tidak bisa berpikir jernih."

Youngjae mendecak lidah. "Apa yang harus kulakukan!? Aku tidak bisa masuk konser tanpa kartu id ku! Aku harus bertemu dengannya dulu!"

Selama mereka bercakap untuk mencari solusi, barisan semakin maju. Mereka berdua terdorong mendekat ke loket tiket.

.

.

.

.

.

.

1 jam sebelum konser

Daehyun masuk ke ruangan make up Yongguk untuk memastikan leadernya sudah siap dengan pertunjukan.

Namun saat mengintip ke dalam ruangan, yang ia dapati hanyalah Yongguk yang terdiam mengamati handphone dan tiket emas di tangannya. Daehyun jadi sedikit jengkel dengan sikap Yongguk akhir-akhir ini.

"Berapa lama kau akan terus mengamati tiket dan handphone mu? Kau kira konser akan cepat kelar setelah kau melakukannya?"

Yongguk hanya tergeletak di kursinya dengan pasrah. "Kau mau apa , Daehyun?"

"Hanya menyelamatkanmu dari imajinasi yang tak tersampaikan." Daehyun merebut tiket emas itu. Tiket emas yang diberikan manajer untuk masing-masing member agar dapat mengundang orang terdekat mereka. "Kau pasti kecewa karena tiket emas ini tidak sampai di tangan laki-laki pujaanmu."

"Kau ternyata punya kemampuan membaca pikiranku ternyata."

Gotcha. Daehyun merasa percaya diri punya pemikiran yang tepat. "Daripada kebawa mimpi, kuambil saja tiket ini untuk lucky fans di luar sana, bagaimana? Daripada dibuang dan ditemukan calo."

Yongguk hanya mengangguk. Jarinya berinteruksi 'terserah kau saja, dan cepat keluar'.

Daehyun pun terkekeh, dan lanjut meninggalkan Yongguk untuk tugas selanjutnya. Anak itu sepertinya belum puas, kalau belum menemukan 'mangsa'. Yongguk sudah terbiasa dengan 'buruan' anak itu, ia tidak perlu khawatir.

"Yongguk, soal lucky fans yang kita bicarakan sebelumnya." Salah satu staff masuk dan sibuk membawa list berisi nama. Membuat perhatian Yongguk pada handphonenya kembali terabaikan.

Ia tersenyum. "Serahkan saja pada Daehyun. Dia yang paling ahli memilih lucky fans."

.

.

.

.

.

.

Penjaga loket sudah jengkel dengan keberadaan Youngjae dan Himchan di hadapannya yang tidak mau pergi juga walaupun sudah diusir.

"Kumohon. Pertemukan aku dengan Yongguk, karena dia yang memegang kartu ID ku."

Penjaga loket itu memberikan tatapan galak sekaligus tidak percaya. Dirinya kesal dengan ujaran Youngjae yang menurutnya begitu omong kosong.

"Youngjae, sebaiknya kita pulang saja." Bujuk Himchan untuk ke sekian kalinya. Namun Youngjae enggan beranjak. Hingga membuat penjaga loket itu sudah habis kesabaran dan menginteruksi penjaga pintu untuk segera membawa keduanya pergi.

.

.

.

.

.

.

Daehyun terkejut ketika ia melihat disisi loket , terdapat dua orang yang begitu familiar. Ia hanya mengintip dari sisi pagar lain yang tersembunyi tapi bisa melihat penjuru barisan fans, sampai ke depan loket VIP. Tak salah lagi dari hasil pengamatannya yang begitu lama, wajah yang sama seperti pertama kali mereka bertemu di dorm.

Itu Himchan dan si fans gila Yongguk.

"Jadi mereka benar datang ke konser ini? Apa ia mau membunuhku?" ucap Daehyun yang lebih membicarakan Youngjae ketimbang temannya. "Apa yang terjadi dengannya?"

Daehyun memperhatikan pada dua buah tiket emas yang ia miliki. Satu miliknya, dan satu milik Yongguk. "Sayang sekali dianggurkan."

Ia kembali melemparkan pandangan dari sudut ternyaman untuk melihat apa yang terjadi lebih jelas. Sepertinya ada sedikit perselisihan antara si fans yang memang berlaku gila dari awal, dengan sang penjaga loket. Ia baru ingat, mereka mungkin tidak bisa masuk karena kartu id anak gila itu masih di tangannya. Ia pun hanya cengir-cengir menyindir.

"Kasian sekali kau."

Tak lama kemudian, Daehyun meminta pada seseorang mengantarkan dua tiket itu , dengan beberapa amanat untuk dipesankan kepada penjaga loket tersebut.

"Yongguk pasti jadi senang"

.

.

.

.

.

.

"Aku benar-benar berumur 18 tahun! Kau harus lihat kartu id temanku. Kami ini sekelas!"

Penjaga loket tersebut menggeleng tak setuju. "Sudah berapa banyak yang menggunakan alasan tersebut. Menggunakan temannya yang lebih tua, dan menggunakan kartu id mereka."

"OH TUHAN! Bisakah anda percaya sekali saja! Kumohon!"

Penjaga pintu sudah siap menarik paksa mereka, karena selama 15 menit mereka sudah menahan barisan yang membludak. Youngjae hampir saja menangis, dan Himchan berusaha sebisanya menenangkan pemuda itu.

Tak lama kemudian, datanglah asisten penjaga loket menginterupsi aksi pengusiran. Orang itu berbisik sambil mengulurkan sesuatu di tangannya yang membuat penjaga loket setengah terkejut. Kedua matanya membidik kedua pemuda itu sekaligus memeriksa keadaan.

"Maaf ada kesalahpahaman. Saya kira tiket anda sudah cukup sah sebagai tanda anda diperbolehkan masuk." Penjaga loket memberikan kesempatan keduanya untuk melihat sesuatu di tangannya. Dua buah tiket emas, yang membuat Youngjae hampir berteriak histeris. Bagaimana bisa tiket vip nya berubah jadi tiket 'Gold VVIP'?

"Jadi kami bisa langsung masuk?"

Penjaga loket menginteruksi si penjaga pintu untuk menuntun mereka ke arah posisi duduk mereka. Setelah diperlakukan layaknya upik abu, kini mereka mendapatkan pelayanan vvip selayaknya tamu istimewa. Bahkan para fans terheran-heran karena mereka berdua diberikan sambutan ramah tamah oleh penjaga pintu yang terlihat galak beberapa menit yang lalu.

Himchan yang tidak mengerti situasinya, bertanya-tanya pada Youngjae.

"Ada apa ini? Kukira kita akan diusir."

Youngjae pun juga tidak tahu kenapa. Tapi ia tidak terlalu mementingkannya. "Tenang saja. Aku rasa hari ini hari keberuntungan kita."

.

.

.

.

.

.

.

Junhong mengamati ke sekitarnya. Ia tidak tahu akan dibawa kemana. Yang pasti ini bukanlah jalan menuju tempat duduk penonton. Melainkan sebuah lorong dengan banyak petugas-petugas berlalu lalang membawa barang-barang. Mereka terlihat sibuk dan terburu-buru.

Yang ia ingat, Junhong hanya menunjukkan tiket gold nya pada petugas. Ia bahkan tidak tahu dimana ia berbaris, dan mengikuti saja laju fans pergi kemana. Tak tahu kenapa, petugas loket menyuruh orang bertubuh gempal di sampingnya kini, untuk membawanya ke suatu tempat. Junhong jadi khawatir ini semua hanya jebakan dari artis arogan bernama Moon Jongup kemarin.

Tak lama kemudian, ia dibuat berhenti di depan pintu ruangan. Pintu itu diberi tanda nama seseorang yang ia kenal salah satunya. Ada nama Moon Jongup terpampang, dan dua nama lainnya. Yang satu Daehyun, dan lainnya Yongguk. Kalau Yongguk, Junhong sudah kenal sekali dari Youngjae.

"Kau tunggu dulu disini. Kau ingin bertemu dengan siapa?"

Junhong terbata. Matanya hanya berkedip lucu, dengan begitu bingung. Apa ia bebas memilih siapa yang akan ia temui? Woah.. tiket ini luar biasa.

"Eum. Moon Jongup?" ucapnya ragu-ragu. Karena hanya nama itu yang ia paling kental di pikirannya.

Petugas itu mengangguk paham, sambil mengetuk pintu. Ia masuk sekilas ke dalam ruangan, entah sedang memanggil siapa. Tak lama kemudian, keluar lagi dari ruangan.

"Sebentar lagi kau bertemu dengannya." Pria itu lalu hanya bersandar sambil mengawasi Junhong.

Tak butuh waktu berapa lama, hingga seseorang keluar dari pintu tersebut.

"Oh! Kau ternyata datang juga."

Mata Junhong membulat mengamati penampilan Jongup dari atas ke bawah. Laki-laki itu hanya menggunakan jas, tanpa dalaman, hingga bagian dada hingga perut sixpack nya terbuka tanpa alas. Pipi Junhong pastilah memerah panas.

"Kenapa? Kau ingin berterima kasih karena dapat tontonan secara langsung sebelum konser dimulai?"

Junhong segera menutupi kedua matanya. Ia malu. "Mesum! Apa yang harus ku terima kasih kan dari penampilan porno mu, hah?!"

"Bahkan kau belum melihat penampilanku, sudah bilang 'porno'. Kalau kau belum siap, aku tidak memaksa , kok. Kau bisa tunggu di ruangan ini, dan menungguku hingga aku selesai konser."

Junhong masih dalam keadaan mendekap kedua matanya, lalu menggeleng kuat. "Aku masih siap nonton! Ha—hanya aneh saja kalau kau pamer badan pada laki-laki lain."

"Lebih aneh lagi jika kau malu melihat tubuh sesama laki-laki." Jongup terkikik menyindir. Membuat Junhong menggertak gigi karena kesal. Kenapa dia sangat menyebalkan sekali?

"Kau akan dapat posisi terbaik. Tunggu aku~" Jongup mendekatkan wajahnya pada wajah Junhong. Jarak mereka terpaut tebal tangan Junhong yang mendekap matanya. "Chagiya~"

Jongup pun akhirnya berlalu, meninggalkan Junhong yang sudah hampir lunglai tungkainya. Sementara si petugas yang mengawasinya, mempertahankan tubuh Junhong agar tidak jatuh pingsan. "Sudah diduga dari seorang 'King of fanservice'." Ucap nya memuji Jongup.

Junhong hanya menarik nafas dengan kuat, karena ia diliputi rasa gelisah acap kali di hadapannya. Berbeda ketika berhadapan dengan sosok Jongup malam itu.

"Jongup orang baik, hanya kepada Juyong. Dia begitu menyebalkan jika bersama Junhong." Bisik untuk dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

Himchan mengamati keadaan di sekitarnya. Tempat yang begitu asing, dan diramaikan banyak orang berlalu lalang. Tak seperti dirinya, mata Youngjae lebih berbinar kali ini dengan segala suasana yang ia temui. Senyum lebarnya tidak juga berubah.

"Kita mau diapakan?" Himchan berbisik pada Youngjae.

"Lebih tepatnya, kita mau dipertemukan." Ucap Youngjae begitu yakin. Melihat keadan di sekitarnya, ia sudah bisa menebak situasi bahwa ia akan jadi orang paling beruntung hari ini.

Himchan tidak bisa mempercayai ucapan Youngjae walaupun dibalasnya seriang mungkin. Ia masih menerka setiap kemungkinan. Ditambah ia tidak senang dengan banyaknya perabotan panggung mengitarinya.

Lensa kamera yang begitu besar hampir saja mengganggu konsennya. Perasaan khawatir macam apa ini yang tengah melingkupi Himchan.

"Terlalu banyak kamera, aku tidak nyaman disini."

Genggaman Himchan semakin menguat pada lengan Youngjae. Youngjae pun hanya bisa memberikan usapan menenangkan padanya. Ia tahu bahwa Himchan tidak terbiasa dengan hal semacam ini.

"Ah itu mereka."

Penjaga yang mengantarkan keduanya menunjuk pada dua orang yang baru keluar dari ruangan yang sama.

"YONGGUK!"

Pria dengan setelan serba hitam agak ketat, dan cocok dengan tubuhnya yang tinggi berbentuk, segera berbalik menemui sumber suara. Tak kira sebuah pelukan mengarah padanya secara tiba-tiba, hampir membuatnya hilang keseimbangan.

"Youngjae?"

"Hyung! Aku pasti benar bisa menemuimu! Kau bahkan ingat namaku!"

Yongguk hanya tersenyum merespon hyperactif nya Youngjae seperti biasa. Namun tidak untuk seorang laki-laki yang hanya berdiri mematung dengan jarak yang agak berjauhan.

Himchan?

Ya. Itu himchan!

"Kau datang!"

Seperti melihat sebuah permata mahal terindah, Yongguk sampai tak bisa meneruskan kata-katanya lagi untuk menyapa Himchan yang kali ini tengah malu-malu memberikan lambaian tangan padanya.

Youngjae melihat itu. Melihat ketepukauan Yongguk yang tak bisa lepas dari sahabatnya.

"Ah, aku juga membawa sahabatku! Terima kasih sudah mengijinkan kami masuk! Apa kami lucky fans malam ini?"

Yongguk yang tidak merasa, cukup bingung dengan pernyataan Youngjae. "Lucky fans?"

Yongguk memutar badannya, kali ini mengarah pada Daehyun, dan menelisiknya dengan curiga. Pemuda itu hanya bersiul santai seolah tak melakukan dosa.

"Apa yang kau lakukan kali ini, Dae?"

Daehyun hanya mengendik bahu. "Aku ini paling ahli memilih lucky fans." Daehyun tersenyum lebar. Beberapa saat kemudian, melempar senyuman lebar itu pada Youngjae yang memelototinya. Alih alih memberikan godaan manis sebelum berangkat ke atas panggung.

Youngjae tidak peduli. Ia hanya membuang muka sebelum ia menjadi darah tinggi melihat pemuda itu.

"Yongguk, Daehyun. 15 menit lagi kalian sudah siap di panggung, Ok?" staff yang baru saja datang memberikan arahan. Keduanya merespon cepat dengan sebutan 'ya'.

"Oke, Youngjae. Aku minta maaf kita tidak bisa lama bertemu. Tapi karena kau dapat tiket gold itu, kita akan bertemu lagi setelah konser."

"JINJAYO?!" Youngjae memekik.

"Ya. Tapi jangan bilang siapa-siapa, ok? Ini rahasia kita."

Youngjae membalas dengan pose hormat.

Setelah itu, Yongguk dengan gegabah menemui Himchan. Hatinya menggebu , sekaligus tak enak hati melihat lebih dekat Himchan yang terlihat manis di matanya.

Di sisi lain, Youngjae hanya bisa bersungut cemburu melihat keseriusan Yongguk pada Himchan. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas. Apakah Yongguk benar suka pada Himchan? Skandal yang tidak bisa ia percayai. Pantas saja ia tidak berani membeberkannya pada teman sefandom nya untuk hal ini.

"Kau seharusnya berterima kasih pada sahabatmu itu. Karena dia, kau bisa menonton kami. Daripada harus menangis karena tidak ada yang percaya kau berumur 18 tahun."

Youngjae mendelik pada Daehyun. Kenapa anak itu tidak pergi saja dari tadi?!

"Jadi kau yang meminta penjaga loket itu mengijinkan kami masuk?!"

"Ya. Aku tidak suka lihat anak kecil menangis."

Youngjae semakin dibuat tekanan jiwa dengan setiap hinaan yang diterimanya.

"Jangan berharap aku akan berterima kasih padamu." Youngjae memelet lidah.

Daehyun memutar bola matanya jengah. Anak muda menyebalkan ini sangat sulit ia jinakkan. Ia sedikit kesal kenapa ia hanya patuh pada Yongguk, yang bahkan tidak membantunya sama sekali. Merasa tak ingin derajatnya dijatuhan oleh seorang siswa SMA, ia pun mengeluarkan jurus ampuhnya. Kartu id Youngjae ia pamerkan di pegangannya. Membuat Youngjae memelotot kaget.

"Kau butuh? Kau harus mematuhiku. Bye~" Daehyun menaruh kembali kartu id Youngjae di saku jasnya, dan hendak pergi. "Cepat Yongguk! Kita bisa telat!" tanpa kembali bertatap muka dengan Youngjae yang kehilangan konsennya.

"Ka—ka—KARTU ID KU!"

Youngjae hendak menyusul Daehyun dengan amukan yang menguasainya, namun ditahan oleh beberapa staff.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu disisi lainnya beberapa menit lalu..

Yongguk sedikit salah tingkah dengan keberadaan Himchan. Anak itu terlihat lucu dengan penampilan seadanya, dan tidak seheboh fans lainnya.

"Eum. Hai! Apa kabar?"

Himchan hanya tersenyum. "Baik-baik saja. Kau terlihat keren."

Dipuji demikian, membuat degup jantung Yongguk tidak dapat diperlambat.

"Terima kasih. Aku senang kau datang."

"Ya. Youngjae harus kutemani, karena dia mengundangku."

"Kukira kau juga salah satu fans kami."

Himchan mengekeh. "Aku tidak terlalu mengikuti dunia entertaiment. Tapi aku akan sangat menikmati konser ini." ucapnya dengan nada lembut, membuat Yongguk terpukau gembira.

"Eum. Kau tahu. Aku minta maaf soal kejadian kemarin. Aku tahu aku terlihat membentak, dan seharusnya itu tidak kulakukan."

"Tidak apa. Aku rasa kau orang yang disiplin, Bang Yongguk."

Percakapan sederhana mereka begitu hangat dan mengundang perasaan malu-malu di antara mereka. Mereka tak hentinya saling melempar senyum.

"Cepat Yongguk! Kita bisa telat!"

Suara teriakan dari Daehyun mengejutkan keduanya. Menganggu pendekatan keduanya yang begitu nyaman.

"Eum. Aku harus segera perform. Sebenarnya aku mau sekali mengajakmu ke atas panggung. Kau tahu kita selalu mengundang fans beruntung ke atas panggung untuk bernyanyi bersama. Aku ingin sekali memilihmu. Kau mau?" entah kenapa Yongguk sudah tak bisa menahan harapannya sejak dari tadi. Membayangkan bisa tampil bersama orang terkasih di bawah cahaya lampu panggung, adalah impiannya. Jika hari ini memang adalah kesempatannya.

"Bang Yongguk, maafkan aku. Tapi ini mustahil. Lagipula, aku ini demam panggung. Dan aku ini laki-laki. Bagaimana jika fans di luar sana menganggap kau aneh karena memilih laki-laki sebagai lucky fans nya. Aku yakin ada perempuan yang lebih suka dengan tawaranmu."

Mendengar jawaban Himchan, agak membuat hati Yongguk kecewa.

"Terima kasih tawarannya. Kau ternyata orang yang sangat baik. Tapi kita bisa bertemu lagi setelah panggung, kan?"

Dengan pernyataan lanjutan dari Himchan membuat Yongguk bisa menemukan kembali semangatnya. Senyumnya merekah bahagia. Ia senang Himchan kali ini bisa merespon positif, lepas dari penampilannya sebagai Bang Jongdae.

"Pasti! Dan, ada yang aku ingin kusampaikan juga!" ucap Yongguk begitu yakin. Mungkin di pertemuan nanti, ia sudah bulat bertekad untuk membeberkan identitasnya.

Setelah memberikan lambaian akrab selayaknya teman, ia pun berlari tunggang langgang dengan perasaan membucah ke arah panggung. Pastilah penampilannya kali ini akan lebih sempurna, dengan adanya kehadiran obat penyemangatnya, yaitu Himchan.

Himchan hanya bisa tersenyum. Ia merasakan nyaman dengan kelembutan dan kegentlean seorang Bang Yongguk. Tapi ia jadi ikut teringat pada sosok Bang Jongdae yang belum juga jatuh dari pemikirannya.

"Daehyun itu ingin kubunuh." Youngjae kembali pada Himchan dengan gertakan kesal.

"Ssst.. jangan bilang begitu, Jae. Nanti kalau didengar bagaimana?"

"Biarin!" ucap Youngjae dengan nada kesalnya. "Kau beruntung sekali bisa membuat seorang Bang Yongguk jatuh cinta padamu. Ini tidak adil!"

Himchan hanya menggeleng. "Tidak. Dia memang orang baik seperti yang kau katakan. Itu saja. Dia teman yang baik. "

"Ckck.. hatimu itu terlalu suci, sampai kau tidak bisa membedakan mana orang yang sedang jatuh cinta, mana orang yang cuman mau berteman. Aku benar-benar tak mengerti."

Dan keduanya pun berlalu, mengikuti si penjaga menuntun mereka pada tempat duduk penonton yang dipilihkan khusus untuk mereka.

.

.

.

.

To Be Continue


Ada beberapa catatan dikit dari Miyu , sekaligus ngejawab pembaca yang nanya ^^ :

1. aku elf? Yup! wkwk.. fandomku ada 3 , dan include babys, elf.. hayo satunya lagi apa? :p Aku sangat respect sj, walaupun sekarang gak terlalu ngikutin. Aku kangen mereka loh, jadi pasti ada member sj kumasukin kesini. Jangan heran ya kalo cerita2nya include member2 dari boyband fav ku lainnya ^^

2. Chapter sebelumnya kacau balau! (Ada beberapa perbaikan : Konser diadakan sehari setelah pesta Junhong. Bukan dilakukan dalam semalam. Juga, Youngjae sempat memberikan kartu id nya ke Yongguk sebagai jaminan. ). Chapter sebelumnya sepertinya susah diperbaiki karena error, jadi kuberi petunjuk disini saja. Kalau ada kesalahan lain, tolong segera lapor di review biar langsung ku perbaiki ya TT

3. Sekali lagi Cerita ini mengandung crossdressing yang mungkin akan sulit dibayangkan bagi kalian. Yup. Jangan bayangkan betapa cantiknya Junhong nge crossdressing, bayangkan saja betapa cantiknya Miyu #hueeek

4. Update Miyu tidak teratur. Bisa cepat, bisa lambat. Biar tidak ketinggalan, jangan lupa follow this story dan Fav ya.

5. Sebenci bencinya kalian dengan karakter antagonis, mohon comment dengan bahasa yang baik ya ^^

Terima kasih banyak atas review yang begitu membangun dari kalian semua. Setiap kata yang kalian sampaikan, pemberi semangat buat Miyu! Jika mau bertanya, silahkan saja ya.. asalkan tidak menjurus spoiler :)


.

.

.

"Kalau kupikir-pikir, dia manis juga."

"Aku ini Jung Daehyun! Siapapun mau jadi pacarku sekalipun laki-laki!"

"Ibu, minta maaf. Tapi, Himchan tidak bisa bertemu denganmu lagi."

"Kau mengingatkanku dengan seorang anak bernama Junhong. Kau kenal dengannya?"

"Aku harus tahan. Aku tidak bisa jatuh cinta dengan Jongup."

"Oh, jadi ini dorm tunanganku."

.

.

.

See you!