My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy Drama

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

Maaf jika terdapat banyak typo, hilang kata-kata. Saya belum sepenuhnya mengedit, jadi tolong harap koreksinya dan berikan di dalam review ^^ segera saya coba edit cepat, dan update lebih baik lagi. terima kasih~

.

.

.

.

.


Chapter 6

Junhong berada di dalam keramaian dimana ia pun tidak punya ide sama sekali selain melihat banyak gadis muda mengelilinginya, membawa lightstick dan bando berwarna. Berbeda dengannya yang hanya sebatas pakaian casual sederhana. Ia bahkan tak tahu apa yang harus ia lakukan selain memperhatikan sekitarnya dan mengikuti apa yang fans lakukan.

Beberapa kali ia terdesak oleh beberapa penonton hingga ia terdorong mendekat ke panggung. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi, secara jalan keluar pun sudah tidak memungkinkan untuk dicapai. Tidak ada lintasan keluar baginya. Ia hanya mengambil nafas panjang untuk melepas penat yang ia rasakan.

Sampai lampu panggung menyala satu persatu. Teriakan lebih menggema beberapa saat kemudian. Membuatnya semakin pusing kepala. "Kenapa begitu brutal disini?"

.

.

.

.

.

.

.

.

Himchan dan Youngjae dituntun ke arah barisan penonton lainnya. Youngjae amat bersemangat dengan keadaan di sekelilingnya. Suaranya yang agak berat, berbaur dengan lengkingan para gadis. Tak dapat menahan gejolak tersebut, karena Ia tidak hanya sekali mengikuti konser semacam ini, tapi sensasi ini akan selalu berlebihan mendatanginya.

Berkumpul bersama para fans. Ia bahkan menyapa beberapa yang dikenalnya. Tapi ia tidak bisa jauh-jauh dari Himchan yang kelihatan bingung dan hilang arah. Laki-laki dengan kulit porselin di samping Youngjae itu sudah tampak pucat sejak di Loket. Ia tak menanyai apabila Himchan tengah idap sesuatu sakit hari ini.

Tak berapa lama berdesakan dan mendorong satu sama lain, mereka mengupayakan tempat terbaik di antara penonton yang tidak sabaran. Ketika suasana menjadi gelap karena sorotan lampu sudah tak bisa ditayangkan, Youngjae berteriak kencang kontras dengan teriakan para gadis yang sedang tergila-gila.

Pertunjukkan akan segera dilangsungkan.

.

.

.

.

.

.

.

Selama konser..

Sudah berapa lama dirinya terpaku dengan penampilan konser di hadapannya. Sudah sekitar 1 jam? 2 jam? Atau bahkan satu mala? Ia tak membawa jam sama sekali, lebih tepatnya ia tidak peduli dengan waktu. Ia hanya berharap waktu bermain begitu saja, seakan waktu tak peduli tubuhnya tenggelam dan diabaikan. Selesai sudah, tak ada masalah menjadi.

Junhong tidak menyangka bahwa pertunjukkan ini telah meresap jiwanya sedikit demi sedikit hingga ia kehilangan setengah kesadaran. Kadang melamun, kadang tertawa, kadang menangis, kadang, ya-kadang-kadang ia menjadi lebih gila. Siap untuk dikirimkan ambulance ke rumah sakit jiwa.

Dimana ada Jongup, disitulah Junhong tidak dapat menahan senandungnya mengudara bersama suara-suara random di tengah ruangan luas cukup untuk dibuat stadium tersebut. Menyenandungkan lagu mereka yang walaupun lirik nya pun tak tahu.

Matanya seakan tidak bisa berkedip. Rahangnya terjatuh saking terpesona. Ia jadi ikut dalam keramaian, berteriak dan mengeluarkan emosinya. Ia bergeming, jatuh akan penampilan di hadapannya. Sesekali melihat Jongup mengangkat pakaiannya, menunjukkan tubuh berbentuknya.

Junhong baru pertama kali melihat bahwa perut berpetak seseorang tampak indah bagai pahatan dari tangan-tangan cantik. Seorang laki-laki saja dibuatnya jatuh hati, bagaimana semua perempuan yang setiap hari bisa memandanginya.

Di sisi lainnya, mata bulat dari balik kelopak sipit Jongup tengah menangkap kehadiran Junhong di antara keramaian. Ia melihat anak muda itu melamun menatapnya, dengan dua mata cokelat yang cantik beradu pada pahatan di perut Jongup. Merasa ekspresinya begitu lucu, maka ia pun ingin membuat kesadaran anak itu jatuh ke alam imajinasi yang liar.

Ia berdiri lebih dekat ke arah penonton, pada pinggir panggung dan jarak dengan pagar hitam pembatas. Semua meneriakinya, karena seorang King of fanservice akan melakukan sesuatu yang dapat memakan korban. Perumpamaan sadis, namun itu tidak apa.

Jongup mengulurkan sesuatu. Setangkai bunga yang tersimpan di dalam jas nya. Bunga itu semakin lama terulur mendekat menuju seorang anak muda dengan ekspresi kosong, hingga pemuda itu kembali pada kesadarannya. Ia melihat bunga itu mengarah padanya, tepat di wajahnya. Tak mungkin diberikan ke arah yang salah, bahkan sampai ia tengok kanan-kiri untuk memastikan.

Tak mungkin mengada, Junhong pun mengambilnya sambil memperhatikan wajah Jongup yang sedang mengukir senyum, membuat peluh menggantung dibagian lekuk bibirnya yang terangkat.

Cupid mungkin secara tiba-tiba menembakkan panah pada kedua belah pihak, atau mungkin pada Junhong saja—saat ini. Karena kedua mata cokelat Junhong menjadi luar biasa berbinar. Ia tak percaya Jongup akan memberikan sebuah hadiah kecil yang begitu manis untuk seorang anak muda yang secara tidak sopan pernah merendahkan statusnya.

.

.

.

.

.

.

.

Himchan menyaksikan pertunjukan di hadapannya begitu meriah dan luar biasa. Kelap-kelip lampu berwarna berkali-kali menerpa pandangannya. Histeria tidak ampun-ampunnya mendengungkan telinga.

Ia mungkin dapat melupakan betapa dirinya tidak enak badan ingin muntah dengan kehebohan di sekelilingnya—sementara waktu ini. Ia tadinya tidak kuat dengan ribuan jiwa mendesak, mendorong, seolah ingin menyiksa tubuhnya perlaha-lahan. Ia jujur, tidak pernah berpengelaman ikut dalam aksi seperti ini. Mungkin bisa dibilang, ada sedikit penyesalan terlintas.

Tapi ia bisa melupakannya karena di hadapannya, 3 orang mempertontonkan talenta yang tiada duanya. Membius para penonton yang pasti sudah sangat kelelahan harus menunggu selama 3 jam. Rasa lelah berdiri, pemaksaan pada organ tubuh yang capek, otak yang dipompa mengalirkan darah ke jantung dalam arti 'pembawaan semangat', terbayarkan oleh pertunjukan yang begitu centil, keren, vulgar, sekaligus professional dari para member B-A.

Himchan tak sengaja bertatapan mata dengan Yongguk, lagi. Pemuda gagah itu sedang sibuk larut akan aksi bernyanyi cepat nya. Suara beratnya kadangkala begitu menggelitik gendang telinga. Seperti tengah membisikkan semacam dirty talk pada setiap telinga yang masih memiliki jiwa di ruangan tersebut.

Yongguk seakan hendak memperkenalkan diri kembali bahwa dirinya memiliki dua kepribadian yang mutlak harus dituliskan dalam memori masing-masing. Aku adalah seorang playboy sangar yang mampu mengguncangkan birahi di atas panggung, namun aku adalah pria dewasa tampak cocok menjadi suami ideal di keseharian.

Ya. Himchan tahu itu. Ia bisa membandingkan perubahan begitu pesat terhadap Yongguk yang baru beberapa puluh menit lalu tampak malu-malu tapi rayu kepadanya, lalu menjadi tempat pemujaan ratusan orang setelah menampakkan diri pada petakan panggung.

Kali ini Yongguk seperti senang memberikan lempar pandang pada Himchan, atau itu hanya perasaannya saja. Karena acap kali mereka bertukar pandang, saat itulah jiwa Himchan seperti direnggut, sebaliknya ia tak tahu, bahwa hati Yongguk yang sedang diandaikannya juga tengah bergemuruh.

Mereka membuat bahasa masing-masing dalam pikiran. Yang bahkan kemampuan telepati belum bisa menukarkan informasi yang cocok kepada keduanya.

"Kenapa ia keren sekali."

"Kenapa ia manis sekali."

.

.

.

.

.

.

.

Konser selesai...

Konser telah selesai. Panggung telah disapu rapih. Nada kekecewaan juga kepuasan menjadi penyatu malam. Penonton satu persatu mengosongi tempat.

Junhong melihat dirinya dan melihat bunga itu masih dengan tatapan tak percaya. Ia menghabiskan 3 jam untuk sesuatu yang menjadi pengalaman pertama berharganya. Apalagi setelah mengenal Jongup yang begitu mengagumkan di matanya. Ia tak tahu. Ia hanya bisa tersenyum sendiri sembari memeluk erat bunga yang diberikannya.

Sampai suatu ketika panggilan untuknya terdengar.

"Hei, kau!" Junhong menengok balik, memperhatikan dengan penasaran sekaligus terheran.

Sekitar 5 orang berhadapan padanya, melipat tangan, dan menaruh suatu kebencian pada pandangan mereka. Junhong merasa tidak melakukan apapun pada mereka, selain kedatangan tanpa alasan dan melihatnya dengan benci.

"Eum ya?" Junhong memperhatikan mereka satu persatu dengan khawatir.

"Untuk apa Jongup memberikan bunga bagi laki-laki sepertimu?" seorang gadis dengan pakaian lipstick yang agak menor memulai ocehannya. Ia seperti akan meludahi sepatu Junhong dengan sedikit air liurnya yang terkumpul akibat kunyahan asik permen karetnya.

"Aku tidak percaya ini. Hanya karena kau memiliki wajah cantik untuk seorang laki-laki, dan kau bisa merayu Jongup? Kau ingin membuatnya jadi gay? Kau sengaja menjelekkan nama baiknya?" wanita yang kelihatan lebih tua pun ikut bergabung dengan nadanya yang agak galak. Nada rasisme itu menampar keras Junhong. Tepat di hati dan lubang telinganya.

"Dasar banci."

Junhong yang mendengar hinaan itu, mendadak dikobarkan dengan penyangkalan besar. "AKU BUKAN BANCI!"

"Ya. Tampak sekali dari wajah cantikmu yang tersenyum sendiri mendapat bunga dari sesama laki-laki. Apa lagi kalau bukan banci!?" gadis dengan ponytail dan berlagak sok genit, menukik ujung senyumnya. Terlihat menyebalkan.

"Berikan bunga itu! Kau tidak pantas mendapatkannya!"

Dua orang maju, berusaha merebut bunga di genggaman. Junhong berusaha mempertahankannya. Ia tak akan melepas bunga yang begitu yakin diberi khusus padanya. Pengobat siksaan tubuh selama 3 jam ia menunggu. Tak mungkin ia lepaskan.

Terus-menerus melawan balik perbuatan 5 perempuan brutal, tak lama kuku-kuku ganas salah satu gadis mencakar tangan kanannya.

"HEI BRENGSEK!"

Tak lama kemudian datanglah seorang wanita muda melindungi Junhong dari serangan yang didapatkannya tersebut. Wanita muda itu entah ada keperluan apa, kembali ke dalam arena panggung begitu terburu-buru, bahkan hampir saja menyerunduk beberapa kabel. Namun tepat waktu, teriakannya membuat 5 orang sekaligus bergidik ngeri.

"Beraninya kalian melakukan ini padanya! Kalian ini fans nya Jongup, atau bukan!?" wanita muda itu maju ke hadapan mereka. 5 gadis tersebut tak bergeming, memilih diam.

"Kalian mau sampai ketua tahu perbuatan kalian? Kalian akan dicoret dari daftar pendukungnya Moon Jongup, MENGERTI?!" wanita muda itu melipat tangan , menurunkan kelopak, berkerut alis, dan menggemeratakkan gigi putihnya. Sensasi 'persetan, aku bukan wanita lagi!' dikuarkan dari seluruh tubuhnya.

Security segera berlari mendekat mengetahui keributan yang terjadi. Memerintah paksa orang-orang tak berkeperluan segera meninggalkan arena, atau mereka akan dapat kenangan malam di ruangan security.

"Te—terima kasih." Wanita muda tadi segera memperhatikan Junhong yang merespon setelah sebentar dirinya meringis menahan sakit di lengannya. Tampak khawatir, ia menanyakan kembali keadaan Junhong setelah keadaan sudah lebih kondusif. "Kau tak apa?"

Junhong mengangguk dengan senyuman kecil yang agak ciut.

"Kau beruntung mendapat bunga darinya. Jadi jangan sampai orang lain mendapatkannya." Wanita muda itu pun memberikan usapan hangat di atas kepala pemuda itu, kemudian berlalu sebelum Junhong sempat menanyakan namanya.

.

.

.

.

.

.

Junhong menahan diri pada sakitnya di tangan kanan. "Kau tak apa? Ingin dibawa ke ruang perawatan?"

Junhong menggeleng sebagai tandaan penolakan pada pria yang tubuh nya agak besar itu. Pria tersebut adalah pria yang sama yang mengantarkannya pada ruangan Jongup, sekaligus pandai berperilaku ramah layaknya Wongjun.

Junhong tak mau banyak basa-basi. Ia hanya ingin segera bertemu Jongup dan menjelaskan semua kegilaaan dari fansnya, dan mengakhiri pertemuannya secepat mungkin. Ia berjanji setelah ini, tidak ada Junhong maupun Juyong akan terlibat pada dunia Jongup lagi.

Setelah sampai pada pintu yang sebelumnya ia datangi, pintu itu diketuknya. Tak butuh waktu lama hingga pintu itu terbuka. Memperlihatkan Jongup yang sudah berpakaian semestinya. Dengan sebuah kaus hitam longgar, namun masih dengan celana panggung nya yang agak ketat, menantang bagian vitalnya yang agak menyembul. Dasar laki-laki.

"Hei! Kau datang!" Jongup seperti biasa menyambutnya dengan senang hati. Ia mengharapkan suatu ucapan terima kasih begitu besar baginya karena sudah berlaku baik memberikan bunga untuk Junhong.

Bukannya sebuah pekikan 'Kyaaa Oppa! Gomawo! Saranghaeyo~!' dan pelukan hingga kepalanya sanggup terbentur ke daun pintu, ia malah mendapat tamparan sebatang bunga di dadanya. Api kemarahan di mata cokelat Junhong membakar habis tatapan ketulusan yang baru saja ditangkap Jongup di waktu konser.

"Ada apa denganmu?" Jongup memegang bunga itu, bermaksud mengembalikannya pada Junhong, tapi anak itu menolaknya. Ia mendorong uluran Jongup, lalu tertarik, terdorong, dan begitu terus hingga membuat Junhong jengkel. Ia pun memberontak keras 'Aku tak mau!' lalu hampir angkat kaki bermaksud untuk segera pergi.

Tapi Jongup butuh penjelasan dan segera menahannya cukup kuat.

"Ada apa denganmu?" Jongup bertanya sekali lagi, kali ini sambil menuntun Junhong masuk ke ruangannya agar tidak ada siapapun yang melihat. Apalagi pria penjaga tampak asik menonton, ketimbang ikut menjinakkan bocah brutal di hadapannya.

"Gara gara kau! Kau bermakusd menghinaku dengan bunga mu? Apa yang kau lakukan hampir saja aku terbunuh oleh fans mu yang gila itu!"

"Apa fans ku?" Jongup menahan pemuda itu tak sengaja mengenai lengan kanan Junhong yang terluka. Rangsangan pun menyentil pusat rasa sakitnya. Junhong tak sengaja memekik rendah.

Mendengar ringisan bocah itu, Jongup pun ikut terkejut.

"Kau terluka?" Jongup begitu cemas. Ia tidak kuasa melihat respon Junhong yang menolak untuk diurusi, dengan sakit yang terus ia tahan.

"Bisa kau lepaskan aku, dan urusi urusanmu sendiri. Terima kasih mengundangku." Junhong berhasil memutar kenop pintu kembali, dan kembali menapak ubin di luar ruangan kecil tadi. Ia berusaha melarikan diri.

Namun, Jongup tidak rela jika ia harus kehilangan Junhong sebelum bertanggung jawab atas situasi yang sudah membahayakan pemuda itu.

Junhong yang berhasil keluar dari ruangan, tidak cukup bersiaga pada ambisi Jongup. Tak lama kemudian tangannya ditarik oleh Jongup menjauhi ruangan. Pergi entah kemana hingga membuat tubuhnya melambung cepat menyusuli arah kepergian Jongup. "YAK! APA YANG—!"

"Ikuti aku saja. Kau ini sama keras kepalanya seperti seseorang." Tubuh Jongup sudah seperti tameng, menabrak orang-orang yang menghalangi jalan. Berkali-kali pandangan Junhong bertukar pada beberapa orang yang mengamati cukup kaget akan keagresifan artis muda tersebut, apalagi sambil membawa serta anak muda asing.

Mereka tak peduli. Biarkah saja. Toh, mereka sudah lelah dengan pekerjaan mereka.

Maka itulah tak ada satupun yang paham dengan situasi Junhong dan mau menyelamatkannya dari tangkapan kuat monster di depannya. Ia pasrah, ia ikut saja apa mau Jongup kali ini.

Bertepatan saat keduanya pergi, HP nya yang ia lupakan di dalam ruangan, bergetar tanpa henti.

.

.

.

.

.

.

.

Himchan dan Youngjae berjalan di lorong, karena security bermaksud mengantarkan mereka kembali pada dua idola yang sebelumnya mereka temui. Youngjae terlihat seriang sebelumnya. Tapi tidak untuk Himchan yang merasa agak pusing kepala. Sial sekali gejala itu kembali seiring konser berakhir.

"Hello"

Daehyun muncul pertama kali mengejutkan keduanya dari belakang. Hingga Youngjae hampir saja memaki keras tepat di wajah laki-laki itu yang tertawa senang. "Aku bersyukur sekali kalian datang. Apa kau menikmatinya?"

"Jangan sok ramah padaku." Youngjae membuang muka. Namun atensi Daehyun memutar jengah.

"Siapa juga yang ramah padamu. Aku ramah pada temanmu."

Himchan menunjuk dirinya sendiri. Memastikan perhatian Daehyun tidak meleset. Mengetahui ia sedang disambut baik, ia pun membalas dengan senyuman lembut. "Kalian terlihat keren."

"Ooh pasti. Terutama aku, kan?" ungkap Daehyun sembari mengencangkan kerahnya, membuat sebuah gelitikan kasat mata pada perut Youngjae.

"Haha.. tidak tertarik dengan penampilanmu! Kami lebih menikmati pertunjukan dari Bang Yongguk, iya kan?" tangan Youngjae terangkul pada lengan Himchan. Lagi-lagi dua mata imut itu memohon agar kali ini Himchan bisa berpihak padanya.

"Kenapa kau selalu memotong pembicaraanku? Kalau kau iri denganku, bilang saja." Delik Daehyun tak suka.

"Aku tidak sudi iri padamu." Youngjae memelet lidah. "Sekarang kembalikan kartu ID ku!"

Melihat Youngjae sudah memelotot kasar pada Daehyun, membuat pose bertanda perang jika kartunya tak dikembalikan , Daehyun segera mengeluarkan sebuah kartu dari kantung celananya.

Laki-laki itu merayu sedikit, mencium kartu dengan laminating rapih tersebut begitu lembut.

"Kau ikut aku dulu. Malammu, hanya untukku." Daehyun pergi begitu saja sambil sesekali memainkan kartu di genggaman. Setiap kali Daehyun melakukan sesuatu pada kartu itu, maka manik Youngjae yang membulat murka mengikuti terus pergerakannya.

"Di—dia—!" Youngjae menahan diri, antara sakit kepala, emosi meledak, juga bingung. Rencananya tidak seperti ini. Waktu spesialnya harusnya ia habiskan bersama Yongguk. Tapi, ia juga tidak bisa merelakan kartu ID nya terus menerus ditahan di tangan Daehyun.

Ia harus bagaimana?!

"Sebaiknya kau temui dia. Biar aku yang menemui Yongguk." Himchan mencoba menenangkan Youngjae yang tengah merajuk.

"Benarkah!?" Youngjae mengenggam tangan Himchan. Ekspresinya sudah begitu memelas. Pasti mau sesuatu. "Dapatkan apapun yang kau berikan. Tanda tangannya, foto nya, bahkan tissue habis mengelapnya pun tak apa. AKU MOHON!"

Desah rendah Himchan terdengar. Ia kembali mengukir senyum lelahnya. "Tenanglah, Youngjae."

Youngjae pun meloncat gembira. Tak mengira bahwa mengambil keputusan membawa serta seorang malaikat tanpa sayap akan menyelamatkan hidupnya.

Youngjae yang tak mau ditinggal jauh oleh iblis penjilat wanita tadi, Jung Daehyun, harus segera menyusulnya. "Terima kasih banyak, Himchan! Tunggu aku! Ini tidak akan berlangsung lama. Aku akan menyelesaikan masalah pada laki-laki kurang ajar itu!"

Youngjae pun berlanjut pergi, meninggalkan Himchan yang kini dilanda kerisauan. Ia tidak tahu harus kemana lagi. Sekelilingnya hanya staff yang sedang sibuk merapikan barang-barang berceceran, menyusun kembali bagian panggung yang tak seharusnya tak disana, dan banyak hal.

Himchan mengikuti arah tertentu. Kemana saja asalkan ia bisa menemukan keberadaan Yongguk. Ia tidak enak mengikutcampurkan kesibukan para pekerja. Ia tak mungkin merepotkan seorang lelaki bertubuh gempal yang membolak balik cepat kertas di tangannya, atau lelaki langsing yang sedang membawa dua tiang lampu.

Himchan hanya bisa membuang nafas gusar nya.

Berkali-kali ia tertabrak orang-orang yang mondar mandir. Tetap tidak ada yang mempedulikan keberadaannya.

"Dimana Bang Yongguk?"

Himchan menghentikan langkah ketika di belokan mendengar suatu percakapan. Ia tangkap sekilas , hampir saja melabrak 2 orang yang sedang bicara.

"Maaf, Pak Pres. Yongguk bilang ia tidak mau menemui siapapun." Pria penjaga lain, tubuhnya lebih atletis berdiri menegap di hadapan pria dengan setelan jas rapih yang ia yakini beribu won dibelinya.

"Kau berani memerintahku?! Aku yang merencanakan konser ini." Pria rapih itu terlihat begitu marah. Hebatnya, pria penjaga masih siap dengan posisinya. Tidak runtuh untuk menjotos tulang pipi berbentuk kasar itu, atau menendang tungkai pria rapih itu agak bertekuk lutut. Himchan kira semua pria berperangai mengerikan akan melakukan hal tersebut jika tersulut emosi.

"Maafkan saya, Pak pres. Yongguk memesan, akan bertemu Pak Pres setelah kembali ke dorm."

"Beraninya dia. Tidak menemuiku setelah aku membayar begitu besar untuk konser ini." Pria rapih itu kemudian merendahkan suaranya. Merapikan setelan jasnya. Ia kini mencoba tampak berwibawa. "Bilang padanya. Pulang segera ke dorm. Besok aku harus bicara padanya."

Penjaga pintu tertunduk hormat kepada pria yang Himchan tidak kenal siapa dirinya itu dan ada hubungan apa dengan Yongguk. Tundukannya dipertahankan seiring Pria itu pun pergi.

"Hei."

Himchan terkejut. Ia tengok, seseorang baru saja menepuk bahunya tiba-tiba. Pria itu lumayan tinggi dan cukup tampan.

"Mau apa kau? Sasaeng?"

Himchan langsung menyangkal cepat dengan kibasan tangan. "Bu—bukan! Aku adalah pemilik gold tiket. Yongguk bilang aku bisa menemuinya setelah konser."

Pria itu mengamati Himchan penuh curiga. Ia tidak bisa langsung percaya.

Karena tatapan ke arahnya tidak menunjukkan keramahan, maka Himchan pun segera mencari tiket dan menunjukkan pada pria itu. "I—ini, tiketku."

Pria itu mengambil tiketnya, mengamati lama sambil ikut mengawasi penampilan Himchan.

"Baiklah. Ikut aku." Pria asing itu lalu meminta Himchan mengikutinya. Mau tak mau Himchan ikut berjalan di belakang punggung bidang lelaki itu, dengan dada berdentum kencang. Akan diapakan dia?

Tok Tok

Setelah mempersilahkan pria penjaga pergi meninggalkan Himchan, pria asing itu, dan sebuah hadapan pintu, maka ketukan berkali-kali dilangsungkan. Seperti tidak sabaran, hingga hampir kaki panjangnya mau menendang pintu alumunium tersebut.

"Hei , Bang. Buka pintunya!" Pria itu menyebut dengan sangat informal. Perlakuannya membuat Himchan agak terkejut. Tidak seramah siapapun kepada Yongguk bahkan pria rapih tadi, pria ini lebih tidak sopan. Siapa dia.

"Buka pintumu, atau aku akan menendang keluar fans beruntungmu ini."

CKLEK!

Pintu terbuka cepat bahkan sampai serbuan angin tercipta. Yongguk terengah-engah, palingan habis mengejar pintu dari posisi duduknya yang agak jauh.

"WAA JANGAN HYUNG!" Kedua mata Yongguk beradu pada pria tinggi di samping Himchan. Lalu dua mata tegas itu menampakkan kesejukan kepada Himchan sendiri.

"He-Hei Himchan!" Himchan hanya tersenyum simpul membalas panggilan lemah Yongguk. Semuanya terasa canggung. Apalagi melihat pria dengan ekspresi dingin itu, masih saja berdiri mengawasi keduanya. Tatapannya menusuk keduanya , menggetarkan hati Himchan. Ia takut.

"Kau terlihat senang sekali dengan kehadiran anak ini." Pria itu melipat tangan. "Siapa dia?"

"Bukan urusan, Hyung." Balasan Yongguk dengan nada kesal. Membuat sebuah decakan dan putaran lehernya yang agak pegal dari pria tersebut. Seolah dunia ini begitu merepotkan, dan ia ingin melampiaskan kekesalan nya pada Yongguk.

"Setelah kau membuat masalah dengan ayahmu sendiri, kau lebih merepotkan dari yang kukira." Pria itu melihat pada jam tangannya. "Aku harus menemui ayahmu sekarang."

"Ya, bilang padanya agar tidak mengganggu urusanku terus."

Pria itu menekan dua baris giginya begitu keras, hampir mau melempar tangan bulatnya. Namun pada akhirnya tertahan, karena ia tak mau menjatuhkan korban. Apalagi, tampaknya sang calon korban adalah orang penting baginya. Ia pun berlalu dengan hentakan pantopel mengudara ke sekitar lorong.

"Si—siapa dia?"

"Manager kami." Yongguk mempersilahkan Himchan memasuki ruangannya. Kedua lelaki mempesona itu mengisi ruangan kosong tersebut pada akhirnya. "Namanya Lee Dongwook."

"Kukira dia salah satu penjaga pribadimu."

"Hahaha.. kalau ia mendengarnya, aku yakin dia tidak suka." Mendengar ujaran Yongguk, Himchan langsung mendekap mulut. "Penampilannya selalu terlihat membosankan seperti itu. Bahkan ketika ada pertemuan keluarga."

"Ia terlihat kesal. Apa kau tidak terlalu berlebihan memperlakukannya?"

Yongguk membuka sekaleng bir dan sekaleng jus. Lalu mengulurkan salah satunya pada Himchan. Yang pasti bukan bir. "Aku malah senang menggodanya. Biar ia tidak bosan."

Himchan menggeleng maklum. Sungguh kekanakan.

Himchan mencari tempat duduk terbaik. Sebuah sofa empuk berhadapan dengan kursi rias menarik perhatiannya. Yongguk duduk di hadapan Himchan berada.

"Ada pria yang sebelumnya ingin bertemu denganmu. Siapa dia?" Himchan menyesap jus nya. Menunggu jawaban Yongguk yang memilih terdiam ketika medapatkan pertanyaan tersebut. "Apa dia direktur agensi—"

"Dia ayahku."

Himchan hampir saja tersedak minumannya.

"Kau pasti berpikir aku sangat tidak sopan mengusir ayahku sendiri." Lanjut Yongguk dengan endikkan bahu, sembari mengisi perut dengan bir dingin.

"Eum. Aku tidak tahu kenapa, tapi kau punya alasan tidak ingin bertemu ayahmu?"

Yongguk terseyum kecut. Manik hitamnya membaca bahan pembuatan bir di kaleng. "Aku tidak punya hubungan yang baik dengan ayahku."

Himchan terkesiap mendengarnya. Keheningan menjarah waktu mereka dalam beberapa menit, sampai akhirnya Himchan terkekeh pelan. Yongguk amati, mungkin yang mabuk malam ini bukan hanya dia.

"Tapi setidaknya kau lebih beruntung kau masih punya ayah, Yongguk."

Ungkapan santai Himchan, membuat Yongguk bertanya, "Ayahmu kenapa?"

Himchan mengendik bahu. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya hingga saat ini. Yang kutahu, ayahku pergi entah kemana saat aku masih sangat kecil. Itu kata ibuku."

Yongguk mengerut dahi. Tenggelam dengan bayangan Himchan yang begitu suci, polos, dan begitu iba, kehilangan perhatian orang tua. Ia tersenyum. Ia dan Himchan ternyata benar-benar berjodoh.

"Biarkan aku memelukmu."

"Hahaha.. apa maksudmu?"

Yongguk tidak tahu mengapa. Tapi ia hanya sedang ingin memeluk pria pujaannya. "Kita sama-sama butuh rengkuhan." Yongguk terkikik sebentar sembari merentangkan tangan mengundang Himchan.

Mendengar ujaran konyol Yongguk, membuat Himchan terkikik. Ia pun beranjak, dan merengkuh tubuh gagah itu. Rengkuhan yang seharusnya para gadis atau bahkan Youngjae bisa dapatkan. .

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku tidak ingin membuang waktuku lagi. Jadi, segera kembalikan!" Youngjae sudah mengulurkan tangan memberi tanda Daehyun untuk segera memberikan kartu di tangannya.

Daehyun tertawa mengejek.

"Tidak semudah itu, Kawan." Daehyun melipat tangannya, berdiri begitu angkuh. "kau tidak bisa meremehkan sesuatu yang didapat dari seorang artis besar."

"aku tidak peduli dengan artis sepertimu." Mata Youngjae mendelik memusuhi.

Daehyun mendadak jengkel. Hampir habis kesabaran. "Kenapa kau ini menyebalkan sekali, ya?"

Berhasil menendang temperamen Daehyun, Youngjae semakin tertarik memanasi keadaan. "Karena aku tidak suka playboy sepertimu."

Daehyun berdehem lemah. Kembali menyentil bagian kerahnya dengan percaya diri. "Aku ini Jung Daehyun! Siapapun mau jadi pacarku sekalipun laki-laki! Bahkan aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku."

Alis berkerut, Youngjae merasa sedikit mual dengan perutnya secara tiba-tiba. "Hah? Aku? Jatuh cinta padamu? Rasanya itu mustahil." Ia begitu muak telah membuang banyak waktu, langsung berusaha merebut kartu di tangan Daehyun. "Sekarang kembalikan!"

Daehyun mencoba mencegah tangan Youngjae meraih kartu tersebut. Tangannya mengangkat begitu jauh di atas kepalanya. Tinggi Youngjae benar hanya seperti bocah. Tak sanggup meraih gapaian yang hanya berbeda cm lagi. "aku mencoba bersabar, anak muda. Tapi sepertinya tidak lagi."

"Hah? Apa?" gerutu Youngjae keluar, menghembuskan nafas di bagian leher Daehyun karena jarak di antara mereka hampir tidak ada. Ada sedikit gelitikan yang terasa menganggu bagi Daehyun.

Tiba-tiba berdirinya Youngjae tidak bisa seimbang lagi. Tangan kuat yang kosong merengkuh leher Youngjae mendongak padanya. Perlakuan tak sabaran sekaligus terlalu gesit, tidak didasari dengan kewaspadaan, maka kaki Youngjae terpleset mendorong tubuh di hadapannya ke atas meja. Mereka tak sengaja saling menindih.

Dengan bibir tebal Daehyun menyentuh bibir miliknya.

Beberapa detik dengan posisi yang sama, agar didapatkan kembali kesadaran sebelumnya. Tiba-tiba tangan Youngjae sudah menekan keras dada Daehyun, berakhir bangun dan menciptakan jarak terlampau jauh dari si pelaku utama. Ia meringkuk di ujung ruangan dengan tatapan tak percaya.

Terlepas dari kejadian yang begitu mengejutkan barusan, dua pipi Youngjae langsung memerah panas. Daehyun saja tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Ia kira ia hanya ingin menjahili anak itu agar lebih aware kepadanya, namun keduanya mengalami kecelakaan kecil tadi sehingga menimbulkan momentum tidak mengenakkan di antara mereka.

"Ci—cium—"

"Ya ampun kemana Daehyun dari tadi, huh?"

Suatu suara mengalihkan kedua perhatian. Ruangan yang begitu tenang itu, akhirnya terdengar riuh. Pasalnya suara dari luar ruangan meeting yang hanya diisi mereka berdua itu, membuat keduanya segera mencari sikap normal agar tidak tertangkap basah.

Pintu terbuka.

"Ah disini rupanya kau." Seorang wanita datang. Ia terlihat rapih seperti staff lainnya. Ia terlihat terburu-buru, mungkin sudah lelah berkeliling mencari Daehyun sedari tadi. "Kau sedang apa disini? Aku kehilangan Jongup, kau bersamanya?"

Daehyun berdehem tenang. "Kau tidak lihat aku sedang sibuk menangani lucky fans ini dari tadi."

Wanita itu memperhatikan Youngjae dengan penasaran. Tidak ada yang mencurigakan dari lucky fans tersebut, selain anak muda dengan wajah mempesona dan tingkah malu-malu.

"Waktumu sudah selesai. Kau harus istirahat untuk event selanjutnya, kau harus kembali ke dorm." Ungkap wanita tersebut sesekali mendengarkan dari handsfree nya. "Dongwook-ssi berpesan padaku."

Daehyun mendecak. "Duda ganteng itu." ia pun merapikan pakaiannya dan beranjak dari posisi kakunya. "Aku akan segera pergi."

Wanita itu pun akhirnya berlalu setelah urusannya melaporkan ke Daehyun selesai.

Tapi tidak untuk urusan Daehyun dengan Youngjae yang menurut mereka belum selesai.

Daehyun pun menarik nafas panjang untuk mengatur pikirannya lebih tenang. Ia mengulurkan kartu tersebut pada akhirnya, tak ingin membuat Youngjae lebih salah paham lagi. Sebuah keplakan keras menyambut baik genggaman Daehyun, dan kartu itu akhirnya berpindah tangan pada sang pemilik seharusnya.

"Maafkan aku. Anggap saja tadi itu tidak pernah terjadi." Daehyun menggaruk tengkuknya.

Youngjae hanya terdiam. Daehyun tidak mengira bahwa laki-laki di hadapannya bisa dibuat kalem hanya dengan satu ciuman. Tapi melihat ketenangan yang dibuat Youngjae, membuat Daehyun merasa tidak enak hati. Ia sudah terbiasa dengan kehebohan yang dibuatnya.

Tak tahu harus berbuat apa lagi, Daehyun mencegah untuk banyak bicara walaupun ia ingin menjelaskan beberapa hal agar membuat Youngjae tidak salah paham. Namun ia tidak banyak waktu, dan memilih untuk meninggalkan Youngjae.

Dilihatnya pria tadi sudah pergi, tubuh Youngjae mendadak merosot ke lantai. Ia mendekap pipinya kembali, dan mengingat-ngingat kejadian beberapa waktu lalu dengan tatapan kosong ke ubin.

"Jung Daehyun! Aku semakin membencimu!" ia menggeram dalam sunyi.

.

.

.

.

.

.

.

"AW"

Junhong memukul tangan pemuda itu secara reflek akibat sentuhan tiba-tiba di lengannya yang terluka.

"Setidaknya ini bisa mencegah infeksi."

Junhong mengamati perban di lengannya yang dibuat sendiri oleh Jongup. Begitu rapih. Ia kembali memperhatikan Jongup dengan tatapan heran. "Kenapa kau membawaku kemari hanya untuk mengobatiku? Aku bisa menanganinya sendiri."

"Aku tidak suka membiarkan fans ku terluka."

Junhong berdecak. "Hah? Aku bukan fans mu. Aku hanya ikut dengan undanganmu, secara terpaksa." Ungkap anak muda itu sambil kembali melihat ke halaman parkiran. Mobil yang kini ditumpanginya hanya bisa diam di tempat yang sama. Sang pengemudi masih asik memperhatikannya.

"Kau kelihatannya senang hingga mempertahankan bunga pemberianku dari fans brutal yang kau katakan."

Junhong tersedak ludah sendiri.

"Aku minta maaf kalau fansku ada yang meresahkanmu. Aku jadi merasa malu." Ujar Jongup. "sebagai permintaan maafku, setidaknya ijinkan aku mengobatimu saja."

Junhong memandangi Jongup. Dua matanya yang tulus dan begitu sungguh-sungguh seakan berbicara padanya. Junhong tahu bahwa tatapan seperti itu sudah pernah ia pandangi. Yang begitu sejuk dan nyaman. Di waktu yang sama, di malam hari. Jongup memberikan perhatian yang sama.

Apakah itu sudah menjadi kebiasaannya?

Jongup tidak hanya perhatian pada Juyong? Junhong pun juga? Memperhatikan fans yang terluka? Jadi Jongup dasarnya memang terlalu baik. Terlalu baik yang bersanding dengan dirinya yang seorang pembohong sejati. Licik dan seorang penipu. Junhong merasa tak pantas terus menerus berdampingan dengan orang seperti ini terus.

"Kau ingin ku antar pulang?"

Junhong mendesah lemah. Putus asa. Ia menggeleng pelan, seraya menarik kenop pintu mobil. "Aku pulang sendiri."

"Tidak apa? Aku bisa antar pulang. Ini sudah terlalu malam."

Jongup tampaknya sudah mau menahan Junhong. Laki-laki muda itu tak mau berhubungan lagi dengan Jongup, tidak mau terus melihat mukanya agar tidak ada harapan lebih besar lagi nantinya.

Ia tidak bisa menyukai Jongup.

"A—aku dijemput." Ungkapnya dengan pundak bergetar. "Kau pulang saja duluan."

"Apa aku bisa bertemu denganmu lagi?"

Junhong menelan ludah. "Mungkin." Kenapa dia keras kepala sekali.

Junhong pun pergi menjauh dari mobil audi silver tersebut, dan berjalan kemana pun yang pasti menghindari Jongup sesegara mungkin. Ia sendiri di malam yang begitu gelap. Lalu mengambil nafas tenang di bawah pohon yang rimbun.

"Kenapa aku selalu bersikap aneh bersamanya?"

Rasa panik dan resah itu semakin menjadi ketika tahu malam begitu gelap dan ia tak tahu harus pulang dengan apa. Ia hanya ingat pergi dengan taxi, dan sampai tujuan. Namun malam larut seperti ini tak tahu siapa yang masih menarik tumpangan.

Tiba-tiba tepukan mengejutkan pundaknya.

.

.

.

.

.

.

.

Di dalam mobil yang dikendarai oleh Jaesung, Youngjae dan juga Himchan melamun saja. Jaesung sendiri begitu heran ketika menangkap perlakuan mereka dari balik spion mobil. Berkali-kali menegur, hanya deheman atau tanggapan singkat yang didapatkan.

"Kalian habis ngapain selama konser hingga seperti tak bernyawa begitu?" ucap Jaesung mungkin untuk dirinya sendiri, mengira akan terus diabaikan.

Namun Himchan kembali sadar, dan menanggapi duluan. "Bagaimana rasanya bisa berhadapan dengan artisnya berdua saja?"

Pertanyaan yang terlempar mengerutkan dahi Jaesung. "Sebuah mimpi?"

"Tidak. Kami tidak sedang bermimpi. Benar, kami baru saja berhadapan dengan Yongguk dan Daehyun secara langsung. Kami mendapatkan tiket gold VVIP."

CKIIT

Rem terinjak begitu kencang hingga hampir melempar tiga tubuh sekaligus ke depan. Dua penumpang yang duduk di belakang, mendadak panik. Jaesung memandang kosong kemudinya dengan rahang jatuh.

"Noona menabrak sesuatu?" Himchan menegur.

"Ka—kalian dapat , TIKET GOLD?! Ashjasajdalahkdahajsj.." Jaesung memaki dengan bahasa kerjanya, bahasa Jepang. Membuat kedua pandangan saling lempar antara Youngjae dan Himchan.

"Kalian sedang bercanda?" kini Jaesung kembali menjadi wanita korea, menuntut dengan tatapan galak.

"Kami sedang tidak bercanda, Noona. Kami juga tidak tahu begitu saja kami dapatkan." Himchan menyeru pada Youngjae, agar ikut mengakui perkataannya. "Benar, kan?"

"Ya." Balasnya dingin, tidak bersemangat seperti biasa.

"KALIAN CURANG! BENAR-BENAR CURANG!" Jaesung merengek. Tidak setara dengan umurnya yang hampir berkepala tiga.

"Ceritakan padaku sehabis pulang. Aku harus mendengar semuanya secara detail!" Jaesung menengok cepat kembali pada bangku belakang. Melempar tatapan awas dan mengancam pada keduanya. "Oke!?"

Himchan tertawa kecil, tanda menyanggupi. Namun tidak untuk Youngjae. Menatap lurus pada pemandangan malam yang membosankan.

"Kau tidak senang bisa bertemu dengan Yongguk? Heol, sudah mengambil keputusan berganti bias?" Jaesung mengawasi gerak-gerik Youngjae dari kaca spionnya. Anak itu setenang jiwa yang sudah mati.

"Aku tidak mau menceritakannya. Mood ku sedang jelek." Youngjae menghembus nafas panjang dan berakhir menutup mata untuk meniadakan pemikiran rumitnya selama semalam. Jaesung melempar pandangan pada sahabatnya, namun Himchan itu mengendik bahu tidak tahu.

.

.

.

.

.

.

Malam begitu panjang.

Masing-masing tubuh melempar diri ke atas sofa, bangku, apapun asal dapat menidurkan tubuh lelah mereka.

"Ini malam yang sangaaaat melelahkan, bukan?" Yongguk berseru dengan nada terbawa gembira. Tidak tampak dirinya lelah sama sekali. Malah sebaliknya, begitu bersemangat.

"Dimana hp ku?" Jongup masih sibuk mencari letak alat telekomunikasinya.

"Aku ke kamar dulu." Daehyun yang biasanya banyak merespon malah terlihat begitu pendiam menghindari segala keadaan. Ia pergi menutup diri dalam kamar pribadinya, menetralisir segala kepusingan yang didapatkan.

"Anak itu kenapa?" Yongguk bertanya.

Jongup pun tidak tahu, dan tidak terlalu peduli.

.

.

.

.

.

.

.

Daehyun melempar diri ke atas ranjang empuknya tanpa memusingkan diri untuk membenamkan tubuh berlama-lama dalam bath tub. Ia hanya ingin segera menidurkan diri, menidurkan jiwanya untuk hari berikutnya.

Namun, Daehyun merasa tidak nyaman selama tidurnya karena mengingat kejadian penciuman tadi. Hal itu tidak bisa dibersihkan dalam otaknya. Berkali-kali ia mencoba memikirkan hal lain, seperti dada wanita yang begitu sexy, atau paha mulus member girlband, tapi tetap saja akan dipantulkan kembali menjadi sosok Youngjae. Semuanya menjadi begitu menakutkan, dan Daehyun merasa tersiksa.

Daehyun kembali membuka mata, menatap langit kamar begitu lama. Ada apa denganku? Selalu berputar dalam otaknya.

Sudah putus asa, ia pun beralih dengan menutupkan matanya dan membiarkan bayangan Youngjae menguasai imajinasinya. Bagaimana senyum anak muda itu, bagaimana pipi memerahnya, bagaimana ekspresi marahnya. Yang tanpa sadar membuat senyum terukir di bibirnya dalam setengah tidurnya.

Bibirnya berucap sebuah kalimat. "Kalau kupikir-pikir, dia manis juga."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tuan. Anda seharusnya bilang saja jika ingin pergi ke suatu konser."

Wongjun terus menerus berceloteh akibat terlanjur menangkap basah keberadaan Junhong. Ia sudah mengendus gerak-geriknya yang sedikit aneh beberapa waktu lalu, jadi kekhawatiran tersebut menuntunnya untuk segera mengikuti kemana pun tuan muda nya pergi.

"Ternyata Anda punya ketertarikan pada hal itu juga, ya."

Kekehan yang sedikit terdengar oleh telinga Junhong membuat anak muda itu mendecih kesal. "Bukan aku. Aku tidak tertarik. Salah satu artis menyebalkan, mengundangku untuk datang."

Wongjun setengah terkejut. Tampaknya ia jadi paham posisi seorang anak konglomerat bisa dengan mudah mendapat koneksi cukup dekat dengan para artis besar. Ia mengangguk maklum.

"Apa Nyonya dan Tuan besar tahu hal ini?" maniknya yang tajam, serius, namun teduh itu membelah jalanan ibu kota yang masih tetap ramai di penghujung hari. "Saya akan beritahu mereka."

"Kenapa semua yang kulakukan harus dilapor?" Junhong melipat tangan kesal. Gerutuannya menyentil perhatian Wongjun. "Aku bukan anak kecil lagi."

Wongjun tampaknya tahu bahwa anak muda itu tengah miliki mood tak bagus hingga mulut mungilnya membalas dengan macam ambekan. Ia mengangguk paham, sambil membelokkan kemudi. "Saya tidak akan lapor jika Anda tak mau."

Bulat mata cokelat Junhong beradu pada kepala menyamping Wongjun. Pria tersebut memiliki lekuk tulang khas hampir mirip dengan Yongguk rupanya. "Benarkah?"

"Ya. Prioritas Anda adalah yang utama." Wongjun terbahak. "tapi jika itu sudah lewat aturan, saya tidak segan melapor."

"Aku bukan anak nakal. Tenang saja."

Junhong pun ingin terlelap hingga sampai ke rumah. Menutup mata dengan tenang, seraya merasakan angin malam.

.

.

.

.

.

.

.

Ting Tong

Ting Tong

TOK TOK!

Cklek

"Ya?"

Yuna membelakak kaget ketika berhadapan dengan seorang pria bertubuh gagah nan sexy. Tak menggunakan atasan, hanya celana pendek menutup paha tegas nya.

"Yo—yongguk?!"

Yongguk terheran ketika bertemu Yuna yang barusan begitu menggebu memasuki rumah besarnya. Dilihat penjaga rumah tampak begitu kaku, agak takut. "Sa—saya sudah mencoba mencegah beliau masuk." Ungkapnya putus-putus.

"Hei, aku ini ibu dari Moon Jongup, salah satu penghuni disini. Jadi aku punya hak kesini."

Ibu Moon ini tidak mau tahu dan tetap keras kepala.

"Biarkan beliau masuk." Ungkap Yongguk seraya memberi ruang untuk wanita itu lalui.

Sedikit sentakan yang agak arogan, ia memasuki ruang pribadi tersebut. Membuat pria paruh baya yang kalah berdebat itu pun, hanya menghembus nafas lelah dan berlalu pergi.

Wanita itu memandangi ke sekitarnya. Masih sama dan tetap elegan. Pantas saja puteranya begitu betah menempati rumah besar itu begitu lama. Sayang, tak ada ruang untuk dirinya dan suami. Sungguh sayang sekali.

"Mau minum sesuatu?" Yongguk mengikuti wanita tersebut dari belakang punggungnya. Mengawasi terus agar sepatu hak yang dipakainya tidak menginjak lebih dalam lagi. Bisa berbahaya privasi selebritis terbongkar terlalu banyak oleh tangan orang tua sendiri. Walaupun tidak terlalu keberatan, tapi pengecualian untuk ibu Jongup yang tampaknya belum bisa dipercaya sepenuhnya.

"Oh, tidak apa-apa , anak muda." Ujarnya basa-basi. Menggerakkan jari-jemarinya , memamerkan kuku-kuku mengkilap yang habis dipoles. "aku ingin bertemu putera ku saja. Ada?"

"Ada," Yongguk menyambut dengan keramah tamahan. "konser semalam sangat melelahkan. Jongup terlelap begitu lama."

"Konser? Owh. Aku tidak tahu."

Yongguk tergelak. Jongup tidak memberitahu?

"Konser anniversary. Kukira anda diundangnya. Tiket gold di tangannya sudah diberikan kepada seseorang. Mungkin diberikan kepada Ibunya, itu yang kupikirkan."

"Oh, tidak. Ibu juga tidak terlalu tertarik." Tawanya agak melicik. Ia mendudukkan diri pada sofa hangat dan empuk yang selalu diselimuti bulu-bulu katun yang lembut. "Ia lebih baik mengundang pacarnya saja ke konser, daripada ibu yang sudah tua ini."

"Pacar?" Yongguk meneleng kepala. Penasaran. "Ia sudah punya pacar?"

Yuna tertawa anggun. "Bahkan kubisa bilang seorang 'calon'."

Mata Yongguk membelakak. Kaget luar biasa dengan pernyataan ibunya Jongup. Ia tak mengira akan sejauh ini rekan kerjanya menyembunyikan suatu rahasia. Bukankah ini adalah permasalahan bersama? Seorang member B-A akan segera dijodohkan?

Kebetulan percakapan itu harus disanggah oleh kehadiran seorang pemuda lainnya. Mulutnya berkomat-kamit di tengah jalan, mungkin menumpahkan kesebalan. "akan kubunuh Daehyun jika ia mengambil pelembab tubuhku lagi."

Matanya berpaling tak sengaja kepada dua orang yang berada di ruang inti. Mulutnya terapit, jalannya terhenti. Dua maniknya langsung menajam lurus dengan hening berkepanjangan, menelan konsentrasinya.

"I—ibu."

"Oh! Kau rupanya!" Yuna terbangun dari dudukannya. Ia bertolak pinggang. "Kemarin kuhubungi hp mu berkali-kali. Kemana saja kau?"

"H—Hp ku hilang." Duga Jongup sejak kemarin ia mencarinya.

"Haish. Rupanya kau ini masih saja teledor." Wanita paruh baya itu mendekat dan mengapit lengan Jongup. Mencuri pandang pada Yongguk yang masih berdiri memaku sambil memperhatikan mereka. Tampaknya ingin membuat sebuah perbincangan rahasia. "Apa kau sore ini free? Nyonya Gyun meminta kau mengajak puterinya kencan hari ini."

Jongup tenggelam pada mata serius ibunya. Selalu sulit untuk dilawan.

"Gyun, bilang kau sudah mengobrol dekat dengan puterinya. Kau tak bilang-bilang, langsung kabur begitu saja. Kau harus ambil kesempatan ini."

"Ibu, aku tidak tahu apa dia menyukaiku. Aku tak mau membuat kencan yang agak dipaksakan."

"Puterinya Gyun pasti akan senang sekali. Pasti. Siapa yang tidak akan senang diajak kencan oleh artis tampans sepertimu?"

Jongup mendesah lemah. Kenapa ibunya sangat pintar berdebat pada hal semacam ini? Membuat perasaan Jongup menjadi campur aduk. Ia tidak bisa menolak, karena ia tak mau jika ibunya merengek di depan Yongguk lagi.

"Akan kucoba."

Ibunya melompat senang. Ia menepuk-nepuk bahu puteranya sebagai tanda should be proud pada anak semata wayangnya tersebut. Bangga lagi-lagi bisa membuat puteranya patuh padanya.

"Aku tidak punya banyak waktu." Wanita itu memperhatikan jam tangannya yang dikelilingi berlian. "ada arisan dengan teman-teman, Ibu. Jangan lupa kabarkan tentang Juyong lagi jika kalian sudah selesai kencan, ok."

Jongup hanya ingin ibunya cepat berlalu. Ia mengangguk, dan membiarkan beliau beranjak mendekat kembali pada Yongguk. "Terima kasih sudah mempersilahkanku masuk, anak yang baik." Ucapnya seraya mengelus pipi Yongguk lemah lembut, daripada berpamitan demikian kepada anaknya sendiri. Jadi membingungkan, siapa yang anak kandung sebenarnya?

Tidak butuh waktu berapa lama untuk mempertahankan wanita itu di dorm mereka.

Jongup terjatuh duduk di kursi bar, sambil menekan dahinya yang terasa pusing.

"Kau tidak apa? Ibumu ingin bertemu denganmu, dan kau langsung sakit begitu?"

Yongguk mendudukkan diri di sebelah Jongup. Memastikan rekan kerjanya baik saja.

"Kau pasti sudah diberitahu tentang tunanganku."

Yongguk mengangkat bahu. ia pun tak berharap kalau ibunya akan berceloteh sebanyak itu. "Kau seharusnya beritahu aku duluan. Kita tidak pernah tahu kapan rumor ini akan langsung tersebar."

"Aku juga takut itu. Tapi ibu sudah memastikan bahwa hubungan kami masih disembunyikan begitu rapat."

Yongguk angguk paham. "Daehyun dan Manajer Lee tahu?"

"Belum." Ia memangku kepalanya dengan lelah. "Rencana ibuku terlalu tiba-tiba hingga aku tak bisa berbicara banyak pada kalian."

Yongguk terkekeh. Ia merasa tersindir, karena ia seperti terlihat bercermin pada diri Jongup. Masalah keduanya hampir saja sama, dengan perbedaan bahwa Jongup tidak melawan apapun yang diinginkan orang tuanya. Ia pun juga tak tahu apa Jongup menerima pertunangan ini atau tidak. Ia tak mau bertanya sejauh itu dahulu.

"pastikan ini tidak sampai terumbar." Yongguk menepuk bahu Jongup sebelum berlalu. Ia hendak merapikan diri, dari hanya sebuah boxer dan gantungan handuk di bahunya. "aku doakan yang terbaik untuk kalian."

Jongup tersenyum. Tahu apa yang sedang dipikirkan Yongguk.

"aku doakan yang terbaik untukmu juga, Hyung."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Junhong menghela nafas setelah melihat isi kiriman dari Wongjin. Kiriman yang ia dapatkan adalah permintaan dari ibunya , yang ia tak percaya akan sangat merepotkannya. Ia berharap ia tidak akan bertemu dengan Jongup lagi, tapi situasi begitu memaksanya. Dan lagi, ia tidak bisa menolak.

Ia menaruh kepalanya di atas meja, berusaha menidurkan diri.

"Jangan tidur dulu, bebs."

"Hoseok hyung." Ia terkejut sebelum berlalu ke dunia mimpi.

"Untung saja kau tidak mati duluan." pemuda itu mendudukkan diri di bangku yang berhadapan dengan Junhong. Sembari kembali mengemut permen vanilla nya. "aku ingin tanya padamu saja."

Kelakuan sunbae, ani, sunbae se-SMP nya itu sudah seenaknya saja. Sudah ia kenal dari dahulu ia begitu pecicilan. Tak menyangka akan jadi satu angkatan di SMA.

"Apa kau seorang fanboy B-A sama seperti bocah Yoo itu?"

Junhong tergelak. "A—apa?"

Hoseok menidurkan kepalanya kali ini sambil agak mendongak ke arah Junhong, permennya sangat sulit dilepaskan. "Kakak perempuanku kemarin ditangkap salah satu security. Ia tidak berhenti mengoceh tentang seorang anak laki-laki yang ciri-cirinya sama sekali dengan kau."

Junhong mengembalikan memorinya. 5 wanita muda yang begitu kurang ajar hampir menyakitinya, salah satu adalah kakak dari Hoseok. Meskipun sunbae nya ini pecicilan, tapi tidak seberingas kakaknya. Ironis sekali.

"Mungkin hanya kebetulan saja." Junhong merapikan buku-bukunya. Bersiap menyiapkan pergantian pelajaran. "Aku tidak mau terlibat dengan dunia fanboying. Kalau tidak, aku bisa jadi satu spesies seperti anak di depan sana." Dagu Junhong menjurus mengarah ke pada seorang anak yang punggungnya menelungkup malas di atas meja barisan paling ujung. Anak itu tidak sesemangat seperti hari lainnya. Seharian kalau tidak ketiduran, melamun, ketiduran lagi.

Bukankah seharusnya ia berhisteria pada pesta semalam kemarin? Apa dia jadi datang? Pikir Junhong.

"Ngomong-ngomong anak itu jadi pendiam sekali seharian ini. Mungkin kemarin dia gak bisa datang gara-gara tidak punya tiket, ya?" ungkap Hoseok sambil ikut mengawasi mata nya pada punggung remaja pemurung itu. "Kurasa. Mustahil sekali kalau dia datang, dan malah jadi pendiam. Dia tidak ada bedanya dengan kakakku. Sama-sama gilanya."

Hoseok kembali memberi perhatian pada Junhong. Kali ini entah kenapa cemilannya sudah berganti pada sekotak susu. Ia memang sangat suka susu. Pantas tulangnya kuat dan direkrut jadi ketua klub basket. "Kau tidak ingin tanyakan pada sobatmu itu?"

"Aku sedang tidak mood." Untuk ke sekian kalinya anak muda itu menghela pasrah. "ada masalah hari ini."

"Wowoh. Kau butuh obat. Mana Himchan?" Hoseok terkekeh. Bermaksud melucu. "Dia pun seharian ini tidak menengok kelas ini. Tumben."

"Kurasa sedang bantu Jaebum lagi di ruang osis. Dia paling tidak bisa menolak tawaran Jaebum hyung."

"Yeah. As expect dari malaikat nya Seirin." Hoseok menyedot habis sekotak susunya. Ia hendak beranjak dari tempat duduk tersebut dan berlalu kembali pada kelas seharusnya. "Aku kembali, ok!"

"Baik, hyu—AWW"

Tangan Hoseok yang sengaja menepuk lengan Junhong sebagai salam keakrabannya, mendadak dikejutkan dengan respon Junhong. Anak itu meringis sembari mengusap lengan kanannya yang ditutupi lengan kemeja. Ada apa?

Berlaku panik, Hoseok pun langsung mengecek keadaan "Hei, kau baik-baik saja?!"

"Ba—baik saja." Junhong menepis sentuhan sunbae nya. Ia tak ingin pemuda itu lebih banyak tahu tentang keadaannya. "Sebentar lagi bel, hyung. Kembalilah ke kelasmu." Tawa rendahnya memecah keheningan. Mungkin akan lebih baik berlagak baik-baik saja agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Namun Hoseok tak semudah itu tertipu daya. Ketika lihat lagak hoobae kesayangannya itu bertingkah tidak biasa.

'Anak itu beran-beraninya mencuri hati Jongup. Jadi biar saja lengannya terluka kena cakaran, Noona.'

Hoseok berlalu dari kelas tersebut, sembari mengusap dagunya. Ia tengah berpikir. "Noona tampaknya begitu ganas terhadap anak itu." Gumamnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yongguk's POV

Mendadak dada berdentum lagi. Semenjak mobil ini terparkir di depan rumah sederhana tersebut, semenjak itulah ketikaruan tingkah ini muncul. Entah mengaca lewat kaca spion, mengawasi keadaan halaman depan rumah, mengaca lagi, memeriksa gigi, lalu mengawasi keadaan rumah lagi. Tak tahu sampai kapan pantat ku ini tidak mau berpindah keluar dari mobil, tapi aku sama sekali tidak berani.

Aku akan bertemu mertuaku?!

Tak lama kemudian dari jauh aku bisa melihat pintu rumah itu terbuka. Menangkap sosok seorang wanita paruh baya memutar roda kursi nya dengan dua tangan telanjangnya, namun ia tidak merasa kerepotan. Aku cukup bangga dengan keadaan wanita tersebut. Tidak tampak tua, masih cukup cantik secantik Himchan, dan selalu memaparkan senyuman penuh syukur pada apapun yang ia miliki walaupun tak sebaik apa yang kumiliki. Ia sosok ibu pujaan.

Aku bernafas panjang. Mengatur segala tenaga, sampai kesiapan mental. Semuanya akan baik-baik saja -itu yang selalu mental Yongguk sampaikan padaku.

Aku segera menarik kenop pintu mobil, dan beranjak perlahan. Takut-takut sepatu baru yang kupoles berkali-kali ini tak sengaja menginjak tai hewan hanya karena terlalu bersemangat.

"Pe—permisi." Sapaku sesopan mungkin, agak sedikit membungkuk. Wajah wanita itu yang sedang asik beradu pada tanaman pekarangannya, terlonjak. Matanya membulat, menelanjangi penampilanku dari setiap inci. Semuanya sudah diduga , karena penampilanku kali ini sebagai Bang Yongguk, bukan Bang Jongdae.

"Yo—yongguk?" ah, sudah kutahu aku akan dikenal. Berbeda kesan dengan Himchan yang tak kaget mendapat service dariku. Ibunya malah sudah kaget duluan denganku sebelum aku memperkenalkan diri. Ini kesempatan yang baik bukan? Mengambil hati sang mertua dengan pesona artis besar sepertiku?

"Maaf, Nyonya. Saya kemari tidak bermaksud menganggu. Tapi saya ingin—"

Sprutt spruttt

"ARGH!" semprotan air menerpa wajahku tiba-tiba. Aku terbelakak kaget. Untuk apa ibu Himchan menyemprotku dengan air pupuknya?! Rasanya asam! Apa salahku?!

"Maafkan aku. Tapi Himchan tidak bisa ditemui lagi. Jadi Ibu mohon pergilah dari sini."

Mendengar hentakan itu tentu saja tidak bisa kuambil tindakan yang ia inginkan begitu saja. Aku butuh penjelasan dari perlakuan beliau, dan ketidakbolehanku untuk tidak menemui puteranya. Perasaan kemarin anaknya pulang dengan baik-baik saja, kan? Jadi, apa salahku?

"Ma—maaf sekali lagi. Tapi kenapa saya tidak boleh bertemu anak anda?"

Wanita itu merapatkan mulutnya, seperti mencegah sesuatu ditumpahkan dari dalam pemikirannya. Daripada menggubris pertanyaanku, ia sudah berancang akan menyemprot lagi. Tentu saja coat mahalku tidak bisa langsung berbau kecut hanya dalam sehari!

"Ba—baik, saya akan pergi." Aku menyerah. Tampak luarku berkata demikian. Namun dalam lubuk hati, aku akan mencari cara lain untuk berkunjung dan mendapat restu dari wanita itu. Kenapa ibu Himchan begitu menolak keras dengan kunjunganku? Seperti sesuatu sudah terjadi di antara aku dan Himchan yang membuat ibu itu membenciku? Tapi, apakah ada? Sungguh, aku tidak ingat.

Aku memasuki mobil. Melihat dari balik kaca, tanpa berani kubuka. Wajahku dibalik kaca film, sudah tampak murung seperti menahan luka teramat di hati. Aku baru saja diusir oleh calon mertuaku sendiri. Sungguh malang sekali.

Wanita itu akhirnya memasuki kembali rumahnya tanpa menungguku pergi dahulu. Aku mengetuk dahi di kemudiku, dan mengutuk kesialan hari ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Author's POV

"Anda sudah siap."

Manik Junhong yang telah dipasangkan lensa berwarna agak kebiruan itu, menatap ke dalam cermin. Penampakan yang ada adalah gadis belia dengan rambut hitam serta dress berwarna agak pink. Ia benci warna merah muda. Tidak normal memang jika laki-laki tulen sepertinya suka warna feminim tersebut. Tapi ia tidak mau mengungkapkannya.

"Terima kasih. Kau bisa pergi."

Pelayan yang menyiapkan segala hal, segera berlalu. Tidak ada yang merasa keberatan untuk mendandani bocah yang sejak lahir sudah secantik kakak dan ibunya. Kelahiran yang tidak diinginkan ibunya, membuat dirinya mengikuti segala permintaan beliau, walaupun harus bertingkah wanita. Itulah kenapa itu bukan urusan yang merepotkan. Sudah cantik, sudah bertingkah feminim, tidak memberontak pula. Jadi, kegilaan ini sudah jadi pekerjaan yang layak bagi para asisten rumah tersebut.

Tok Tok

"Tu—maksud saya," mata Wongjin mungkin sudah agak berbinar menangkap seorang tampak malaikat cantik di depan meja rias. Syukurlah, dia masih sadar bahwa gadis itu adalah tuan mudanya. Kalau tidak, ia tidak apa yang akan terjadi. "—Nona. Sudah siap diantar?"

Junhong hanya mengangguk. Beranjak dengan lagak cukup anggun, karena tuntutan sepatu hak nya.

Ia akan menghabiskan waktu yang tidak ia harapkan sekali lagi.

.

.

.

.

.

.

"Sial." Daehyun melepas kacamata hitamnya dengan sedikit amukan. "Lagi-lagi Dispitch membuat rumor tidak-tidak."

Ia membuang keras koran di tangannya ke sebuah tong sampah hingga terdengar suara dentingan yang cukup keras. "Kenapa aku jadi ikut dilibatkan dengan rumor kencan Shin Noona. Aku hanya membantunya, tapi tidak sebagai selingkuhannya. Sial."

Ia mengigit telunjuknya. "Mungkin aku dikenal si Playboy, tapi aku bukan brngsek juga. Lagipula, siapa yang mau dengan perempuan yang sudah punya 1 anak. Cih."

Tak lama kemudian, ia membuka handphone nya. Kakinya tidak berhenti melaju hingga ke pekarangan dorm dengan bentuk rumah besar nan mewah berlantai 3 itu. Ia tak peduli keamanan mobilnya terancam jika hanya diparkirkan di depan pagar. Ia terlalu konsen dengan 12 misscall dari Manager Lee, dan sisanya dari beberapa wanita yang pernah ia 'kencani'. Mereka mungkin ingin minta penjelasan.

Tapi tidak. Ia sedang tidak punya mood.

Tin Tin

Laju Daehyun belum sempat sampai ke dalam dorm, sudah diinterupsi suara klakson dari arah luar pagar. Mungkin mobil Yongguk ingin masuk, karena anak itu kabur membawa mobilnya dan belum tampak pulang. Mobil Daehyun menghalangi jalan masuk parkir. Daehyun hanya terkekeh mengejek.

"Ya, ya, pangeran kesiangan. Aku akan segera bu—PRESIDEN BANG?!"

Mata Daehyun hampir keluar setelah melihat pemegang saham terbesar di TS Entertaiment itu baru keluar dari mobil Lamborgini nya. Untuk ukuran lelaki tua, boleh bergaya juga, kan? Toh, ia masih kelihatan cukup tampan.

"Oh, kau ternyata Daehyun." Ujar pria itu seperti biasa dengan suara beratnya yang menurun ke Yongguk. "Yongguk ada?"

"A—aku kira dia belum pulang. Mungkin sebentar lagi." Balas Daehyun agak gugup. Ia belum pernah berhadapan dengan presiden TS hanya berdua saja.

Namun ia harus mencoret kata 'berdua saja' itu.

Karena tak lama kemudian, pintu kedua terbuka. Muncul berawal dari kaki panjang yang mulus, baru bentuk tubuh gemulai dibalut pakaian super sexy. Daehyun memperhatikan setiap lekuk itu baik-baik.

Terbelakak dirinya, wanita super sexy itu adalah wanita yang begitu ia kenal.

"P—pres. K—kau akan menjadikannya istrimu?" ujar Daehyun seenak jidat. Malah dibahas kekehan kedua orang di hadapannya, seolah ia bertingkah idiot.

"Kau sudah kenal dengannya, kan? Anak dari sahabatku, Presiden Atalic record juga supermodel dunia, Kim Chungha.

Dia adalah calon tunangan Yongguk."

Jemari lentik gadis sexy itu melambai anggun. "Hey, its been a long time. Last time, i saw you still in a training grade. Now you're super Hot."

Daehyun yang masih berpose menjatuhkan rahangnya, hanya berujar dengan setengah kesadarannya. "Oh, hai. Lama tak berjumpa juga, Chungha." Keparat kau Yongguk bisa dapatkan cewek hot paling diidamkan seantero Asia—Daehyun memaki dalam benaknya. Toh benar, Yongguk memang beruntung disandingkan pada Chungha.

Namun tak tahu bagaimana pendapat Yongguk sendiri.

Chungha melepaskan kacamata hitamnya. Matanya yang begitu genit dengan polesan eyeliner cukup tebal, meneliti penampilan dorm calon suaminya. "Oh, jadi ini dorm tunanganku."

Bibir dengan polesan merah darah, terangkat naik membentuk seringai cantik dan cukup licik.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue


Side Profile :

Lee Dongwook : Manager dari B-A. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan agak kebulean. Disiplin, pendiam tapi cekatan, sangat patuh pada Presiden Yongin juga Yongguk. Namun hubungannya dengan Yongguk tidak sehormat Yongin karena tuntutan umur. Tidak mau memberitahu berapa umurnya, namun dia diketahui seorang duda karena istrinya meninggal. Tidak punya anak, dan terlalu konsen terhadap pekerjaannya sehingga tak punya waktu mencari istri.

Jung Hoseok : Se SMP dengan Junhong, dan dahulu adalah kapten tim basket juga. Sunbae Junhong di klub basket. Sayang pada Junhong, tapi mereka dipisahkan kelas terus karena adik didikannya ini terlalu pintar. Sering berkunjung ke kelas Junhong dan Youngjae. Cukup dekat juga dengan 2 sahabat Junhong lainnya. Orangnya friendly, pemalas, agak rakus, dan selalu ingin tahu. Punya kakak perempuan seorang fans B-A.

Kim Chungha : Seorang model sejak kecil. Menjadi supermodel worldwide akibat pengaruh perusahaan ayahnya yang sudah Go International , talentanya, dan kecantikannya. Menjadi The Hottest Woman di Korea. 80 persen darah Korea, 20 persen darah Jerman. Sudah dekat dengan member-member B-A sejak lama. Sebelumnya tinggal di Australia. Kepribadiannya : sulit ditebak.


Beberapa karakter tambahan ada yang OC dan ada yang diambil dari nama artis, untuk memudahkan 'penampakan' wujud para chara lainnya. Dongwook (aktor), Hoseok (BTS), Chungha (IOI), Donghae (Sj), Yongin Gyun Wongjin Yuna Jaesung (Oc) , Jaebum (got7) ^^ jika tidak berkenan, mohon dimaklumi.

Terima kasih atas kesabarannya menunggu update ini. Bulan ini saya cukup free, tapi tidak untuk writer block yang cukup sering mendera. Syukurlah bisa diupload juga! Lekas diupload, biar gak kehilangan ide lagi wkwk. Makanya gak semua sempat teredit.

Mohon review nya agar meningkatkan semangat Miyu menyelesaikan cerita ini. Fav , juga Follow biar gak ketinggalan.

Terima kasih~