My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy Drama

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

.

.


Chapter 7

Jongup duduk dengan perasaan khawatir. Ia sulit menghilangkan segala siluet tidak mengenakkan untuk pertemuan kedua dengan seorang gadis cantik malam itu. Ia belum punya pengalaman apapun mengajak kencan wanita secara serius, kecuali jika harus berpura-pura sekedar fanservice.

Teknik apa yang bisa ia pakai kali ini. Menebarkan kelopak bunga pada pijakannya, atau mengeluarkan sulap bunga mawar yang begitu klise sambil berucap 'Sore ini kau begitu cantik bagai bunga sakura di musim semi.' ?

"Jongup?"

Jongup berpaling dari lamunannya. Seorang gadis yang begitu cantik , tidak menyambut dengan senyum , hanya sebuah tampakan sedih dari raut wajahnya. Gadis itu selalu terlihat murung setiap kali ia temui. Apa ia baik-baik saja?

Disampingnya ada seorang pria. Setelannya sama persis seperti supir muda yang kemarin sempat berseteru dengannya. Namun kali ini lebih berumur. Ia kelihatan lebih ramah, setelah memberi salam hormat serta senyuman.

"Hai, Juyong. Kita bertemu lagi akhirnya." Jongup sedikit kaku. Suasana menjadi begitu canggung ketika dirinya mengoreksi sikap sendiri.

"Ibumu, kemana?"

Juyong merespon lemah. Matanya mengerling kemana-mana, seperti belum siap untuk berbincang jauh dengan pemuda di hadapannya. "Mungkin sedang pergi."

Mata Jongup bertemu dengan Wongjin sekedar memastikan. Pria itu mengangguk membenarkan.

Pantas saja suasana begitu sepi sedari tadi, kecuali para asisten rumah yang sedang berkeliling, pikir Jongup.

Wongjin pun ijin untuk pamit. Ia tahu bahwa tugasnya sudah cukup mengantarkan nona mudanya itu bertemu sang calon tunangan yang dibicarakan nyonya besarnya.

"Kita mau kemana?" Juyong tak suka berbasa-basi. Dengan raut datar, meminta segera kejelasan maksud Jongup. Hatinya sedang tidak merasa enak.

"Eum. Ini terlalu mendadak, bahkan aku belum siap apapun." Jongup memperhatikan penampilannya. Ia ingin menggerutu bahwa pakaiannya tidak sebaik dan semewah untuk bersanding dengan gaun cantik Juyong. "Aku bahkan tidak punya mobil limosin, dan sebuket bunga mawar."

Ppfft

Juyong tergelak.

"Kupikir kau artis , cukup banyak uang untuk punya mobil."

Jongup mengekeh, lega dengan perubahan sikap Juyong. "Ah, soal itu. Karena aku member termuda, aku belum diijinkan punya mobil."

Juyong tergelak kembali mendengarnya.

"Kenapa kau terus menertawakanku?"

"Entahlah. Mungkin karena kau lucu."

"Setelah sebelumnya kau terlihat sedih tadi."

Juyong hanya menarik kaku kedua ujung senyumnya. Seolah dirinya pun tak tahu kenapa selalu merasa sedih dengan kehadiran Jongup beserta penampilannya seperti ini. Ia dilingkupi rasa malu, tapi keberadaan Jongup benar membuatnya tak kembali merasa menyedihkan.

"Aku ingin ajak kau ke suatu tempat. Pakai taxi, tidak apa?"

Juyong lalu berangguk kepala. Taxi menurutnya tidak terlalu buruk, setelah sekian lama ia diantar jemput oleh supir sendiri.

Jongup segera menghubungi taxi untuk menjemput keduanya di rumah besar tersebut. Selagi ia sedang bercakap di handphone, Juyong hanya mengamati punggung datar Jongup dengan perhatian serius. Pikirannya mendadak teringat pada konser semalam.

"Sepertinya taxinya sudah datang." Jongup menegur Juyong yang sedang luput akan lamunannya. Ia tidak bereaksi apapun. "Juyong?"

Juyong dikejutkan pada panggilan padanya. Dilihat wajah Jongup mengkhawatirkannya. "Ah. Ba—baiklah."

Jongup ikut bersemangat dengan respon singkat itu dan segera menarik tangan Juyong untuk mengikutinya.

.

.

.

.

.

.


Drrrtt Drrrrt

Drrrttt Drrrrtt

Drrrrt Drrrrt

Drrttt—

[MWO?!]

Daehyun menjauhkan teleponnya dari telinga setelah mendengar seruan berat partner kerjanya itu. Ia jadi kesal, seharusnya dia yang membentak karena Yongguk mengangguri teleponnya selama 5 menit.

"Kau dimana sekarang?!" ucapnya dengan setengah berbisik. Ia masih saja meringkuk dibalik ruangan kecil di belakang dapur. Kedua orang yang hadir di dormnya masih sibuk bersenda gurau di ruang makan. Apalagi leking tawa Chungha yang paling mendominasi.

"Aku lapar. Sekarang di supermarket, sedang makan." Yongguk memperbaiki letak earphonenya, sambil terus menyeruput mienya dengan gaya tundukan kepala cukup dalam. Topinya harus sukses menutup wajahnya.

"Kau mau nyari mati, hah?! Seorang Bang Yongguk makan di supermarket—ah sudahlah. Cepat pulang kemari!"

Yongguk berhenti menyeruput ramennya. "Kenapa? Kau rindu padaku?"

Di seberang sana, Daehyun hampir tersedak dengan air ludahnya sendiri. Masih sempatnya Yongguk bercanda tidak jelas. "Berhentilah bercanda. Aku serius.

Ayahmu dan calon tunanganmu datang!"

Yongguk mendadak tersedak dengan kuah ramennya. "MWO?!"

"Hentikan 'MWO?!' mu itu! Sekarang angkat bokongmu kemari secepatnya!"

Yongguk tidak mungkin menemui dua malaikat bertanduk iblis secara bersamaan. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan ayahnya yang pastilah siap mengomelinya karena sikap pengusiran di malam konser. Dan calon tunangannya—

Ia memang tidak pernah tahu siapa calon tunangannya, dan tak ingin tahu sama sekali.

"Aku rasa sampai besok aku tidak akan pulang. Kau urus mereka sendiri, ya." Yongguk hendak menutup telepon. Tapi ingatannya kembali pada suatu hal. "Kau usir mereka kalau bisa."

Tut Tut Tut

"YAAAAKK! Bagaimana aku bisa mengusir seorang pemegang saham terbesar TS Agency, dan anak dari Alatic Record, Kim Chungha?! KAU BRNGSK?!" Daehyun gregetan dan seperti ingin memakan bulat-bulat handphonenya sendiri.

Daehyun mengacak rambutnya setelah mengalami pusing kepala berat. Ia jadi punya dua masalah sekaligus. Tidak bisa membawa pulang Yongguk, dan hampir kehilangan pekerjaannya karena mengusir presiden agensinya sendiri.

"Daehyun, kau kemana?"

Suara Chungha pun mengejutkan Daehyun. Ia panik mengeluarkan diri dari persembunyian.

"Ka—kalian pasti begitu bosan menunggui Yongguk, ya?" responnya reflek. Yongin tidak balas. Ia menyeruput tehnya kembali. Sudah tahu bahwa menanti Yongguk adalah hal yang sangat merepotkan.

"Aku yakin, Yongguk oppa tidak akan datang." Chungha menyandar di bangku dengan kecewa. Bibir nya mengerucut manja. "Ia tahu aku disini, dan dia tidak senang itu."

Daehyun jadi sedikit bergidik dengan Chungha, karena anak itu jadi bisa membaca pikirannya.

Suara dentingan cangkir ditaruh ke atas meja. Yongin berdiri seperti biasa dengan gerakan berwibawa. "Kulepaskan dia untuk hari ini. Tapi, lain waktu, jangan biarkan dia melarikan diri lagi, Jung Daehyun. Aku harus kasih pelajaran pada anak itu."

Daehyun berangguk cepat. Cukup gelisah setelah diancam demikian.

"Jangan begitu, Paman. Aku yakin Yongguk oppa hanya belum siap saja dengan hubungan kami." Chungha menaut lengan dengan manja pada pria yang berstatus calon mertuanya itu. 'Kucing liar'—pikir Daehyun.

"Oh ya, Daehyun." Sebelum keduanya benar-benar berlalu dari pintu keluar, teguran ayah Yongguk mengejutkan Daehyun yang hendak merapikan perkakas minuman yang disajikan tadi. "Kudengar tentang skandalmu hari ini."

Bahu Daehyun mendadak jadi tegang.

"Aku tidak mau perusahaanku bangkrut karena ulahmu, lagi." Ucapnya dengan nada agak sarkasme. Selanjutnya, beliau berlalu dan tidak mengindahkan wajah kecut Daehyun setelah mendengar tuntutan demikian.

"Maafkan aku! Maafkan aku!" Daehyun menunduk ke sekian kali sebagai permintaan maaf.

Daehyun terduduk di lantai dengan hati yang cukup deg-deg sejak melihat tatapan mengerikan Yongin. Mereka punya mata yang sama, Yongguk dan Yongin, dan kenapa hanya Yongin yang paling mengerikan untuk ditatap dalam waktu 30 detik saja?

Daehyun yang sedang meredam amarah pun segera mengeluarkan HP nya, mengetik sesuatu begitu cepat, kemudian ia melemparkannya ke atas sofa hingga hampir terplanting ke lantai.

To : Bang Yongguk

MATI SAJA KAU BANG YONGGUK! JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI KE DORM!

.

.

.

.

.

.


Himchan menyusuli Youngjae yang sedari tadi ia panggil tidak juga diresponnya. Larinya agak dipercepat, menyusul langkah Youngjae yang semakin menjauh.

"Hey, Youngjae, kau tidak mendengarkanku?" Himchan berhasil menangkap tangan Youngjae.

Youngjae dengan ekspresi kosongnya, mengalih pandang. Akhirnya ia bisa memberi respon. Pandangannya sayu. Membuat Himchan semakin khawatir padanya. Pantas saja, selama ia membantu pekerjaan Jaebum, ia selalu kepikiran sahabatnya itu.

"Kalau kau melamun sambil jalan, kau bisa tertabrak tiang nanti." Himchan merangkul bahu Youngjae. "Kau pulang malam juga? Kita pasti lelah menjadi anak kelas 3. Aku iri dengan Junhong yang sudah pintar, ia tidak perlu ambil tambahan, bukan?"

Youngjae tidak merespon. Ia masih dalam keterdiamannya, melindur sejak berada di sekolah.

Melihat keadaan pemuda manis itu semakin memprihatinkan. Ia menyandarkan tubuh pemuda itu lebih dekat padanya, dan merasakan dilema anak itu. Feeling yang ia miliki pada Youngjae tidak pernah meleset.

"Kau sudah dapat kartu ID mu dari Daehyun, kan?"

Youngjae melepas cepat rangkulan tersebut. "YAK! Jangan sebut nama itu lagi!"

"Eh, jadi benar ada masalah tentang Daehyun?"

Youngjae menutup telinganya. Membenamkan pikiran dan halusinasinya dari semua kata Daehyun. Ia memasukkan nama 'Jung Daehyun' menjadi peringkat teratas yang tidak mau ia dengar seumur hidupnya. "Gak ada Daehyun! Gak Kenal Dia!"

Himchan hanya terkekeh dan mengusap punggung pemuda itu agar membuatnya lebih tenang. "Sudahlah lupakan saja, jika urusanmu sudah selesai dengannya. Toh, kita orang biasa tidak akan bisa terlalu dekat dengan idola besar lebih lama, kan?"

"Tapi, aku ingin terus ketemu sama Yongguk!" Youngjae kali ini menyungut bibir. Mengundang tawa sahabatnya.

"Aku harus ke bar malam ini. Kau mau ikut?"

"Mereka akan mengusirku duluan karena aku masih pelajar, Hyung."

"Aku pun juga, HA HA"

Himchan dan Youngjae pun berjalan bersama hingga ke perempatan jalan yang akan memisahkan mereka.

"Jadi, kenapa mereka menerimamu?"

Himchan kembali menerka pada masa lalu. Ia ingat, ia hanya kenakan kaus sederhananya, bertemu pria tua baik yang mau menerimanya dengan alasan yang cukup aneh.

"Pemilik bar suka wajahku, dan ia mengatakan bahwa wajahku cukup menjual jika aku memang tidak bisa menjadi host di barnya. Jadi, ia memberikan posisiku sebagai pelayan bar."

"Mereka tidak memikirkan konsekuensinya?"

"Jika uang, mereka melakukan apapun, walaupun itu beresiko. Pekerjaanku cukup bagus disana. Tidak banyak wanita yang mau menyerangku, mereka senang diajak mengobrol saja."

Ekspresi Youngjae agak terkejut. Tetap saja terdengar mengerikan. "Mereka mengobrol dengan mata lapar mereka, asal kau tahu." Ia berhenti dan menahan Himchan. "Jangan pernah terima tawaran uang untuk menemani mereka semalam,ok!?"

"mereka menawarkan uang, maka aku memberikan mereka minuman. Itu saja. Haha."

Perbincangan mereka tanpa sadar menelan cukup waktu, menyelesaikan perjalanan mereka bersama. Mereka akan berpisah di belokan.

"Tidak apa, tidak kuantar sampai rumah?"

"Tidak apa, lagipula aku sudah lebih baik karena Hyung sudah sangat menyebalkan sekali padaku tadi."

Himchan membalas senyuman dan memberi pelukan hangat untuk membangun keakraban mereka sebelum berpisah di jalan yang berbeda. "Jangan terlalu lelah, Hyung. Kita sebentar lagi menempuh ujian. Kalau kau sakit, bagaimana?"

"Aku jadi tidak enak dipanggil 'Hyung' terus, Hahaha. Tidak apa. Kau tahu kan kalo aku ini anak rajin dan pandai." Himchan terkikik sedikit meledek. "Lagipula, aku ada sahabat-sahabatku, dan ada ibuku juga. Aku selalu semangat."

Youngjae memperhatikan Himchan seperti seorang malaikat. Kenapa ada pemuda tulus dan begitu baik seperti sahabatnya ini?

"Heol~ Pantas saja, Yongguk suka padamu."

"Itu hanya pertemuan kebetulan. Kurasa Yongguk pun sudah melupakanku."

"Tidak. Tidak yakin kalau Yongguk melupakanmu. Yongguk itu tipe setia. Itu berdasarkan survei dari salah satu situs terkemuka yang sahabatku beritahu."

"Aku paham." Himchan memberi tepukan di atas pucuk kepala pemuda itu layaknya seorang kakak yang baik. "Kau harus belajar keras, jangan fanboying terus, ok?!"

"Hey, walaupun aku fanboying terus, tapi aku masih masuk peringkat 5 besar di kelas unggulan! Aku bisa saja mengalahkan anak kecil (zelo) itu."

"Kau memang pintar, tapi pemalas. Itu saja masalahmu. Makanya kau sulit mengalahkan Junhong. Ha Ha. Sudahlah, cepat kau pulang. Orang tuamu khawatir nanti." Himchan mendorong tubuh Youngjae agar melanjutkan perjalanannya.

Himchan menatapi Youngjae hingga benar-benar ia tak terlihat lagi. Ia menghembuskan nafasnya begitu lega dengan keadaan sahabatnya yang membaik, dan masalah lainnya sudah terselesaikan.

"Kau tidak apa?"

Himchan tidak jadi berlalu saat melihat sepasang kekasih di jalan kepergiannya menuju bar. Sang gadis hampir terselip dengan sepatu hak rendahnya, dan laki-laki bermasker merangkulnya.

Himchan berpikir, kenapa ada perempuan masih saja tidak bisa jalan dengan hak yang sudah rendah. Kecuali kalau dia laki-laki , yang tidak terbiasa pakai sepatu perempuan.

Tapi, Himchan melihat dress yang dikenakan perempuan tadi. Membuatnya teringat dengan seseorang. Cukup familiar. Seperti pernah ia lihat dibelikan seseorang di suatu tempat.

Atau hanya halusinasinya saja?

Entahlah. Himchan malas berpikir terlalu keras setelah otaknya diasah banyak dalam pelajaran tambahan hari ini.

.

.

.

.

.

.


"Aku minta maaf sudah merepotkanmu. Aku tidak tahu kalau taxi hanya akan berhenti sampai perempatan."

"Tidak apa. Lagipula, berjalan di tengah keramaian lebih baik." Rangkulan di lengan Jongup semakin kencang agar ia tidak terselip lagi. Junhong tidak suka dengan sepatunya, sangat tidak nyaman. Sepatu wanita selalu menyebalkan. Dan ia jarang menggunakannya sampai keluar rumah.

"Kau ingin ajak aku kemana?"

Jongup mengantar hingga ke suatu tempat yang cukup ramai dikelilingi orang. Suara dentuman nada yang begitu random dari mesin audio, menggema di trotoar tersebut. Malam jadi tidak terlalu sunyi.

"Ada ramai apa itu?"

"Itu tempatnya."

Mereka bergabung pada keramaian. Junhong menatap sekitarnya, khawatir kenaannya terlepas karena sebuah tarikan tak sengaja di wig nya. Namun melihat perhatian Jongup yang sama sekali tidak cemas akan penyamarannya, ia jadi tidak khawatir juga. Mereka bisa melindugi rahasia masing-masing.

1 jam mereka menikmati aksi tarian dari 2 orang laki-laki. Mereka melakukan street dance dengan sangat baik dengan cara mereka yang berbeda. Yang satu melakukan breakdance, yang satu lebih ke freestyle.

"Mereka begitu hebat. Bukankah seharusnya mereka debut jadi idol juga?"

"Tidak semua orang berbakat di notice oleh agensi besar. Aku masih sangat beruntung saat itu."

Junhong menatap Jongup. Seperti ada cerita di kedua matanya yang masih fokus pada dua penari tersebut.

"Aku ingin menari juga, tapi penyamaranku bisa ketauan. Bagaimana kalau kutunjukkan di tempat lain?"

Junhong mengangguk. Mereka pun pergi bersama meninggalkan lokasi menuju ke tempat yang lebih sunyi.

.

.

.

.

.

.


Plok Plok Plok

"Woahhh! Kau keren!"

Jongup tersengal-sengal karena tercekat nafasnya sendiri. Namun ia bisa melepaskan dahaganya setelah ia meminum minuman yang diberikan Junhong.

"Tarian mu sangat keren."

"Aku tahu." Jongup meneguk minumannya. "Seharusnya kuundang kau ke konserku, biar kau bisa lihat penampilanku lainnya."

"Ah, aku ini masih 16 tahun, jadi tidak bisa datang ke konser pornomu itu." Junhong menyeruput santai minumannya.

"Mwo? Kau tahu konserku?"

Junhong hampir tersedak minumannya sendiri. Ia sadar habis keceplosan.

"a—aku, hanya tak sengaja tahu—"

"Haha, kupikir kau tak tertarik dengan dunia KPop. Tapi aku senang jika kau sudah mulai mengenal grup ku."

Junhong hanya bisa mengangguk sebelum ia lebih banyak melakukan kecerobohan dalam tindakannya.

"Jadi, kau sepertinya ingin bercerita tentang grup penari itu?"

"Ah, soal itu." Jongup mendudukkan diri di samping Junhong. Tatapan mereka sama mengarah pada sungai Han yang diterangi cahaya . "Ceritanya cukup panjang. Apa kau tidak akan bosan dengan kencan seperti itu?"

"Aku justru tidak suka kencan tanpa perbincangan satu sama lain. Apalagi membincangkan rahasia kita satu sama lain, aku pasti sangat menyukainya.."

Jongup mengambil nafas terdalam. Menghembuskan kepulan cukup sejuk akibat cuaca malam.

"Baiklah,

jadi ceritaku ini berawal dari—"

.

.

.

.

.

.

.

.


Himchan memasuki bar.

"Kau akhirnya datang." Pria muda melemparkan lap di bahunya ke meja. Umurnya sekitaran 30-an. "Lama sekali."

Gerutuan pria itu membuat Himchan mau tak mau menyunggingkan senyum permintaan maafnya. "Aku baru selesai belajar tambahan untuk ujian."

"Bos benar harus berpikir dua kali untuk menerima anak kecil sepertimu." Pria itu mendengus sebal.

Himchan tertawa. "Lebih baik daripada Hyung kerja sendirian, kan?"

Pria itu berdecak. "Untung saja kau kenalan adikku, aku bisa menerimamu dengan baik."

"Hyunsik hyung baik-baik saja, jika hyung sebegitu penasarannya."

"Kau berusaha membaca pikiranku, atau kau sebegitu perhatiannya pada adikku?"

"Karena Jiyeop hyung brother complex, itu saja."

Jika saja Himchan tidak langsung menghindar dari tempat duduk nya, ia pasti sudah kena serangan lap kotor dari Jiyeop. "Sana ganti pakaianmu saja. Ck."

"Iya, iya, Hyung."

Himchan baru saja akan angkat kaki menuju ruang ganti. Sampai matanya menangkap keberadaan seseorang menindurkan kepala di meja bar, duduk tidak jauh darinya sedari tadi.

Sampai ia mengamati beberapa menit punggung itu, ia langsung tersadar.

"Jongdae?"

.

.

.

.

.

.


Dongwook melemparkan sebuah majalah dan sebuah koran, tepat di atas meja , di hadapan Daehyun yang masih senang menunduk dan meratapi sesuatu.

"Aku harus menerima berbagai telepon masuk dan berbagai email penggemar selagi kau sibuk meratap dan berdiam menyesali hal-hal yang sudah terjadi. Aku benar-benar muak denganmu."

"Ahjussi, bisakah kau mengerti sedikit dengan keadaanku?"

"Aku tidak setua itu, anak keparat!"

Celetuk Dongwook cepat mengerem keluhan Daehyun. Pria di hadapannya ini tidak pernah merubah ekspresi datarnya, tapi bentakannya sudah sangat menyakitkan. Kenapa ia harus punya manajer segalak dan mengerikan seperti orang itu? Apa karena wajahnya yang cukup tampan dan cocok bersanding dengan 3 pemuda tampan lainnya, maka ia dijadikan pilihan utama dari semua jejeran manajer yang mendaftar?

Cklek

"Aku pulang. Eh? Dongwook Ahjussi?"

Dongwook bersumpah ingin menghancurkan seisi dorm jika ada satu orang lagi memanggilnya 'ahjussi'. Ia kelihatan jadi lebih badmood. "Kau darimana saja Jongup?"

"Ah, aku makan malam dengan teman orang tuaku." Jongup melihat pada Daehyun. Memperhatikannya cukup miris. "Ia kenapa?"

"Kau tidak tahu berita-berita tentang anak keparat ini?"

"Well, aku sedang tidak peduli dengan berita setelah konser kemarin." Jongup melenguh lemah sambil melepaskan jaket malamnya, "tapi bisa kutebak isi beritanya."

Dongwook mengangguk. "Ya. Orang bertingkah ini melakukannya lagi. Kali ini lebih parah. Digosipkan dengan wanita yang hampir mau menikah."

"Oh no." Jongup merespon, dengan ekspresi sengaja terkejut. Padahal itu bukan sesuatu yang sama sekali mengejutkan bagi Jongup. Wanita jenis apapun, asal dia betina, pasti digaet member paling playboy ini.

Melihat ia sedang diledek, Daehyun jadi kesal. "Brngsek kau. Tertawa saja sana."

"Habis aku juga sudah muak denganmu, Hyung. Aku sudah peringatkan kau berkali-kali." Jongup ikut duduk dan mau bergabung dalam perbincangan. "bukannya kau tidak suka perempuan, ya?"

"Hah?! Omong kosong apa itu? Jangan berbicara seolah aku ini 'gay'!"

Jongup melipat tangan, terkikik meledek. "Kau sendiri yang bilang kau tidak suka tingkah perempuan yang agak berlebihan."

"Deja vu." Daehyun menyipit, membidik Jongup dengan tatapan tidak sukanya. "aku memang tidak suka dengan sikap perempuan yang agak berlebihan, bukan berarti aku alergi dengannya. Sudah berapa kali kuberita—."

"Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita buat skandal lebih panas untuk menutup skandal ini?"

"HEI KAU DENGAR AKU TIDAK!"

Dongwook menerka ucapan Jongup. Ingin tahu maksud ucapannya. "Maksudmu?"

"Skandal baru akan menutupi skandal lama, seperti besi berkarat jika ditimpa besi baru, tidak akan terlihat karatannya, akan tampak baru. Penonton lebih cepat terpengaruh dengan berita yang lebih panas, kan?"

"Kau mau aku buat skandal baru? Itu sama saja keluar dari kandang singa, lalu jatuh ke lubang buaya!"

"Itu ide yang cukup bagus." Dongwook tiba-tiba menyalip.

"YAK! KALIAN DENGAR AKU TIDAK!?"

Dongwook beralih pada Daehyun, berusaha membujuknya. "Lagipula skandal mu ini melibatkan dua orang legenda dalam dunia entertaiment. Bahkan hampir saja menikah. Kau merugikan banyak hal. Karirmu, nama baikmu, hubungan mereka berdua, dan perseteruan antar agensi. Yongin-ssi tidak akan suka itu."

"Shim Noona, tidak mau membelaku disini?" ekspresi Daehyun cukup cemas. Tercekat oleh tekanan dua orang di hadapannya.

"Kau ini masih anak kecil, dan bisa dibilang 'baru' dalam industri hiburan. Kau pasti kalah walaupun dibela, atau membela. Apalagi skandal 'playboy' mu itu, tidak sekali dua kali. Ini sudah ke 5 kali dalam setengah tahun."

Daehyun menghela nafasnya.

ia mengaku ia benar suka bermain dengan banyak perempuan. Tapi tidak sepenuhnya kesalahannya untuk semua skandal itu. Toh, dia hanya melakukan apa yang mereka suka dari Daehyun.

Perempuan tertarik padanya, dan ia tidak bisa menolak. Mereka (perempuan) adalah mahluk yang lemah. Mereka butuh kasih sayang dari seorang Daehyun, yang begitu peduli dengannya. Daehyun juga sangat menyayangi mereka, ingin melindungi kelemahan mereka. Ia tidak mau mereka menangis karena dirinya, ia tidak mau mencampakkan mereka.

Namun saking sayangnya, ia jadi agak takut dengan ketergantungan mereka.

"Baiklah. Pertama, aku akan melakukan sesuatu untuk skandal ini. Kedua, aku janji tidak ada lagi skandal tentang hubunganku dengan perempuan2 itu. Ketiga, jangan salahkan aku jika ideku ini gila."

"Ide apa?" Dongwook dan Jongup berseru bersamaan. Gelisah sekaligus penasaran dengan tanggapan Daehyun.

Daehyun mendekat , berbicara agak berbisik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku akan mengontrak pacar."

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Yongguk membuka matanya yang sudah sangat mengantuk. Sedikit menguap, lalu memperhatikan sekitar sekedar mengawasi keadaan. Ia sudah tertidur berapa lama? Ia pun tak tahu. Alkohol sudah mengambil kesadarannya.

"Kau sudah bangun?"

Yongguk tersentak mendengar suara yang begitu familiar. Ketika melihat tepat ke depan, seorang pemuda yang dikenalnya tengah mengelap salah satu gelas wine.

"Himchan?! Ah syukurlah aku bisa bertemu denganmu."

Himchan tampak terheran sebentar. "Kau punya keperluan denganku, Jongdae-ssi?"

Yongguk segera cepat bangun dengan duduk menegap. Menunjuk diri sendiri begitu heran, memastikan bahwa Himchan salah memanggilnya. Tapi ekspresi heran Himchan tidak berubah. Seolah semuanya normal saja.

Ia tidak sekaget dirinya baru bertemu dengan seorang Bang Yongguk.

Plak

Yongguk baru ingat sampai mengeplak jidatnya sendiri. Sejak datang ke bar, ia masih menggunakan kostum Jongdaenya (kacamata hitam, coat panjang, topi). Alkohol membuat dirinya tampak begitu bodoh. Untung saja Himchan belum sadar sama sekali sosok dirinya yang sebenarnya.

"Kau kemana saja, Jongdae-ssi? Aku tidak melihatmu lagi setelah malam itu. Kau pergi begitu saja."

Yongguk membaca ekspresi Himchan yang mengerut tidak senang. Mungkin merasa kesal karena aksi kabur yang tak diketahui Himchan. Atau menurutnya melarikan diri adalah sesuatu yang tidak sopan setelah ia menumpang tidur? Yongguk bersumpah, ia sudah meninggalkan pesan dengan sebuah kertas dan no telpon jika saja Himchan menemukannya.

Yongguk tidak akan menyinggung kembali perihal itu. Ia sekarang butuh bantuan Himchan lagi jika ia mau berkenan menumpanginya kembali untuk semalam.

"Maaf sekali. Aku punya keperluan mendadak. Tapi, Himchan, aku sangat butuh bantuamu kembali."

Himchan mengamati wajah Yongguk. Ekspresiny tidak jelas terlihat, lagi-lagi karena kacamata hitam di ruangan segelap ini. Dengan nada nya yang terdengar memohon dan tidak berdaya, pasti adalagi masalah yang menimpanya hingga ia begitu putus asa.

Himchan tidak tega.

"Apa itu, Jongdae-ssi?"

"Aku butuh tempat menumpang. Hanya semalam. Kumohon!" Yongguk mengenggam sungguh-sungguh tangan Himchan dengan rajukan.

"Apa tidak ada tempat lain untuk kau menumpang?"

Yongguk menggeleng cepat. Ia mau saja menginap di hotel mewah ataupun sebuah villa mahal. Tapi ia tidak suka membuang uang untuk semalam, apalagi dengan penampilan sebagai Bang Yongguk yang sedang diikuti paparazzi akhir-akhir ini. Sangat berbahaya. Ayahnya akan langsung tahu keberadaannya dalam sekejap mata.

Satu hal lagi, sejak dari siang, ia hanya ingin bertemu dengan Himchan, kan? Kalau saja ia sedang tidak kebelet rindu pada 'cinta' nya, ia tidak akan memohon seperti ini.

"Baiklah. Malam ini saja. Setelah itu, maaf. Aku tidak bisa menerimamu lagi." Himchan berusaha melepas genggaman di tangannya. Yongguk bisa lihat wajah kekecewaan Himchan, mungkin teringat masalah malam itu dan kali ini ia dengan gampangnya meminta pertolongan lagi.

Yongguk ingin sekali memperjelas alasannya, bahkan menunjukkan siapa dirinya. Tapi, ia mengurungkan niat. Jika ia beritahu , kesempatan kedua untuk menyusup masuk ke rumah Himchan, tidak ada lagi. Ibunya Himchan pasti masih alergi dengan Bang Yongguk, tidak untuk Bang Jongdae, bukan begitu?

Barulah, jika ada kesempatan lagi, Yongguk akan kejutkan Himchan siapa Bang Jongdae sebenarnya.

"Himchan?"

Himchan mengalih perhatian dari beberapa gelas wine yang hendak ia lap saat panggilan santai memanggilnya.

Jongdae (Yongguk) sedang bersandar kepala pada pangkuan tangannya, menatap Himchan begitu nyamannya dari balik kacamata hitam. Tidak ada yang tahu seperti apa mata elang nan mesum yang tengah menjelajah di seluruh tubuh Himchan yang begitu pas mengenakan pakaian bartendernya.

"Jika aku adalah seorang artis, apa kau akan mengijinkanku masuk ke rumahmu?"

Himchan tenang beberapa menit. Cukup untuk Yongguk mengalih perhatian dulu ke tubuh bagian bawah Himchan, lalu kembali lurus mengamati wajah Himchan setelah pemuda itu hendak membalas.

"Itu aneh. Kenapa ada artis yang mau menumpang di rumah sederhanaku?" Himchan mengambil segelas wine, kembali membersihkan , tak ingin buang waktu. "sebenarnya aku tidak keberatan. Tapi ibuku tidak akan suka, mungkin."

"Kenapa?" Yongguk penasaran.

"Aku juga tak tahu. Mungkin ia tak mau rumahnya jadi makin berantakan kalau ada fans mengerubungi untuk bertemu artisnya. Itu skandal, bukan? Ha ha." Himchan menghela nafasnya. "Kami pernah didatangi wartawan, entah kenapa. Ibuku lalu mengusir mereka dengan sangat keras."

Himchan menuangkan segelas air putih. "Beliau juga tak ingin aku terlalu terjerumus dengan dunia artis, seperti temanku yang sangat addict dengan salah satu grup. Mungkin karena takut anaknya jadi tidak konsen belajar."

"Kau menaruh kata 'mungkin' terlalu banyak. Apa kau tidak tahu alasannya sama sekali?"

Himchan mengendik bahu. "Tidak tahu. Lagipula aku yakin alasannya sepele. Banyak orang tua yang tidak suka anaknya jadi terlalu ngefans, nanti bisa buang-buang uang. Aku ini miskin. Jadi aku terima alasan itu, kalau memang benar."

Himchan mengulurkan air putih tersebut pada Yongguk. "aku tidak pesan, kok." Ungkap Yongguk dengan setengah bingung.

"Biar mabukmu cepat larut."

Dengar anjuran begitu, Yongguk tidak menolak untuk meminum air putih tersebut sampai kosong.

"Syukurlah, Ibuku tidak menolak sama sekali saat kemarin aku mengantarkan sahabatku menonton grup kesayangannya." Lanjut Himchan.

"Itu ben—maksudku, sungguh?! Siapa? Kau suka salah satu membernya? Mungkin, jadi fans?" Yongguk terkekeh. Di dalam hati, ia jadi tidak sabar dengar kesan Himchan tentang penampilannya kemarin.

"Boys Absolute. Aku suka ketiganya. Mereka keren. Sahabatku terus menyinggung salah satu membernya, yaitu Bang Yongguk. Tapi—" Himchan menggeleng lemah. "aku bukan fansnya, hanya suka saja dengan kepribadiannya."

"APA KAU NAKSIR?"

Himchan mendadak terkejut dengan reaksi tak biasa Jongdae. "Eh? Kenapa jadi yang kau yang heboh?"

Yongguk tergagap. Ia terlalu bersamangat hingga tidak sempat mengoreksi tingkahnya yang benar. "A—aku hanya bertanya. Semua fangirl pasti bakal jatuh cinta dengan anak itu, sekali pandang saja." Yongguk sampai berdehem sesudah memuji diri secara menyirat.

"Aku ini laki-laki, Jongdae. Bagaimana bisa jatuh cinta?" ungkapan Himchan segera mengiris hati Yongguk sedikit, bibirnya mengerucut kecewa, tapi ia agak sembunyi-sembunyi melakukannya. "Tapi siapa yang tidak jatuh cinta dengan orang baik sepertinya. Aku yakin siapapun bisa, kecuali aku."

"Kalau begitu aku tinggal berjuang membuatmu jatuh cinta padaku." Tanpa sadar kata-kata itu keluar bebas dari mulut Yongguk dengan nada agak rendah, sekedar berbicara untuk dirinya sendiri. Ia tak tahu, kata-katanya masih agak tertangkap dengan pendengaran Himchan.

"Jatuh cinta dengamu?"

"E—eh ? maksudku, pasti ada yang berjuang membuat Yongguk jatuh cinta padanya. Tidak terkecuali kalo hanya seorang fans biasa."

"Benarkah? Apa ia orang yang seperti itu?"

"Oh ayolah. Yongguk itu kan pria yang rendah hati. Jika ada yang membuatnya jatuh cinta, Yongguk tidak akan melepasnya sama sekali." Jongdae melipat tangannya, berandai pada wajahnya sendiri dan segala kepribadian yang ia buat-buat sendiri dalam imajinasinya demi memberi impress baik-baik ke Himchan. "Yongguk adalah orang yang sangat setia."

"..Yongguk itu tipe setia. Itu berdasarkan survei dari salah satu situs terkemuka yang sahabatku beritahu."

Himchan mendadak tertawa lepas. Membuat Jongdae jadi malu sendiri. Apa ia terlalu berlebihan memuji Bang Yongguk? Ia takut, kesan Himchan ke Yongguk jadi buat dia agak ilfil.

"Kau berkomentar persis dengan sahabatku. Mungkin kalian cocok jika kuperkenalkan."

"Siapa? Youngjae?"

Himchan berhenti tertawa. "Darimana kau kenal dengannya?"

HAP

Jongdae langsung dekap mulutnya, Ia tak tahu telah banyak keteteran sejak dari tadi. Ia langsung melambai 'tidak' pada Himchan, mencoba menepis pemikirannya kembali.

"Ma—maksudku Young Jae (sejahtera)*, pasti sahabatmu kaya bisa punya banyak uang untuk dekat dengan idolanya setiap saat."

"Hmm.. bisa dibilang begitu. Tapi sahabatku tidak kaya juga. Paling dapat dari uang pemasukannya berjualan barang pernak pernik idolanya."

Jongdae melenguh nafasnya, merasa lega percakapan mereka bisa berganti topik.

"Himchan, berapa lama kau akan bekerja?"

Himchan mengecek jam tangannya. "2 jam lagi. Kau tidak keberatan menunggu?"

"Tidak apa. Aku punya waktu senggang."

Himchan pun kembali pada pekerjaannya , sementara Yongguk jadi punya tontonan asik dengan mata tajamnya.

'Jika aku tidak membuka penyamaranku. Berapa banyak informasi yang bisa kudapat tentang anak ini.'

.

.

.

.

.

.


"KAU GILA?!"

Teriakan Dongwook hampir saja memecahkan gendang telinga Daehyun. Sedangkan Jongup memang sudah siap siaga mendekap telinganya sedari tadi karena sudah tahu bagaimana reaksi manajernya itu.

Dongwook menekan batang hidungnya yang mengedut. "Tidak adakah pemikiran lebih bodoh darimu, Dae?"

"Kurasa itu ide yang bagus."

"Jangan kau juga, MOON!" Dongwook menghakimi semua orang di ruangan itu. Kenapa cuman dia yang masih pada akal lurusnya?

"Oh ayolah. Orang yang diajak kerja sama Daehyun adalah orang yang cukup baik, tidak kecentilan seperti perempuan-perempuan yang orang bodoh ini dekati." Telunjuk Jongup menunjuk-nunjuk pada Daehyun di hadapannya. Membuat pemuda itu mengendus tidak senang karena jadi sumber kesalahan terus menerus.

"Gimana tidak kecentilan? Dia itu cewek kecowok-cowok-an. Kepribadiannya aneh, dan mengerikan. Tidak sebanding dengan seorang Daehyun, yang metrosexual. Bisa jatuh gambaran Daehyun di mata orang-orang nantinya."

"Mulutmu itu tidak bisa direm sama sekali ya, Hyung? Pantas saja istrimu meninggalkanmu. Kau rupanya menjelekkan artis bawahannya tanpa manusiawi. Aku turut kasian."

"HEI! Anak itu tidak ada hubungannya dengan perceraianku bersama Clara!"

Daehyun berdecak. "Palingan Dongwook hyung jadi tidak suka dengannya setelah Clara noona menceraikannya."

"SUDAH KUBILANG ANAK ITU GAK ADA HUBUNGANNYA! Aku sedang beropini dengan baik dan benar secara professional disini."

Daehyun dan Jongup tertawa.

"Maafkan kami, Hyung. Kau jadi lebih sensitif hanya karena itu."

"Aku jadi tidak enak mencandai orang yang sudah meninggal."

Dongwook memutar bola matanya jengah. "Maka itulah kalian tidak usah membicarakannya lagi!"

"Ah, pasti karena manajer nya adalah.."

"KUBILANG KALIAN DIAM!"

Daehyun dan Jongup kembali tertawa karena berhasil menggodai manajer nya yang selalu serius itu.

"Ini hanya akan berlangsung selama 1 bulan lebih sampai skandal serius ini ditutupi. Setelah itu, kita tinggal say goodbye dengan kontrak tersebut. Aku yakin kami bisa bekerja sama dengan baik." Daehyun meneguk air ludahnya sendiri. "walaupun bujukan awal cukup butuh waktu. Karena seperti yang hyung bilang, kepribadian gadis ini memang mengerikan."

"Lebih tepatnya, dia sangat anti tentang hal seperti ini. Berpacaran kontrak? Bahkan aku jadi sedikit setuju dengan Dongwook hyung, kalau gadis ini agak 'kecowokan'. Ia tidak pernah menaruh perhatian dengan lelaki manapun.

Tapi karena dia satu-satunya perempuan yang tidak akan pernah tertarik denganmu, Dae, jadi kau akan aman saja." Lanjut Jongup sambil meneguk tehnya yang tak tersentuh.

Dongwook menghela nafas, mengusir tekanan batin yang begitu larut. "selama kalian tidak menyuruhku untuk—"

"Oh ya Dongwook hyung harus pesankan Manajer Kim untuk pertemuan ku."

Mendadak wajah santai Dongwook berubah dingin dan tegang, "HAH?!"

"Bukankah ini tugas seorang manajer?" Daehyun mengedip-ngedip nakal, sembari menekan angka di handphonenya.

"Jangan melibatkan perasaan pribadi, Hyung." Jongup menyikut pinggang pria tampan di sampingnya itu. Sementara Dongwook hanya buang muka menyamarkan rasa amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Daehyun menyerahkan HP nya pada Dongwook. Menyuruhnya untuk menghubungi no telpon yang telah diketiknya. Tak bisa menentang lagi, apalagi ini urusan pekerjaan. Benar untuk Jongup. Bahwa ia harus mengesampingkan "dendam masa lalu".

Ehem, Dongwook membersihkan kerongkongannya terlebih dahulu. Sembari menempelkan telpon, menunggu sambungan.

/Halo?/

Suara cukup dalam dan terdengar seperti miliknya terdengar pada akhirnya. Tapi, Dongwook tidak pernah suka. Ia sekolah mendapat hantaman cukup keras pada dadanya, setelah mendengar suara itu lagi. Ia berusaha menahannya, lalu hendak bicara.

"Selamat malam, Kim Ji Hak. Bisa adakan pertemuan besok bersama Diana?" mata Dongwook tidak bisa tenang. Berkali-kali berubah dari ke Jongup lalu ke Daehyun. Sembari mendengar keterdiaman bagai tak berujung di seberang sana.

/Oke. Besok sore?/

Dongwook mengambil nafas terdalamnya, lalu menghembuskannya sebagai kelegaan.

"Baik. Akan kuiinfokan lagi lewat pesan."

Dongwook akan menutup teleponnya,

/Tunggu./

Sanggahan di seberang sana mengurungkan niat Dongwook.

/Hei, apa kabar Dongwook? Sudah lama tidak mengobrol de—/

Tut Tut Tut

Mulut Dongwook tiba-tiba bergerak-gerak seperti mengurai kata-kata makian tanpa suara setelah panggilan diputuskannya.

"Kenapa ditutup, Hyung? Sepertinya Manajer Kim masih mau ngobrol?" Daehyun mengamati tingkah Dongwook yang terlihat setengah marah.

"Aku tidak mau membuang waktu untuk urusan di luar pekerjaan."

"Uhh~ sepertinya masih marah." Jongup menggodai.

"Diam kau, sialan. Ini semua juga karena kau!"Dongwook memberikan telepon Daehyun dengan hentakan.

"Tidak apa. Setelah ini kalian bisa membicarakan masa lalu, dan memperbaiki keadaan." Daehyun tertawa kecil. "Dengan segelas teh di sore hari."

"Aku benar bersabar untuk ini Jung Daehyun, jika bukan karena aku manajermu." Dongwook membereskan berkas-berkas yang dibawanya, dimasukkannya ke tas. "Aku akan pulang, dan menjemputmu untuk pertemuan besok."

"Ok." Balas Daehyun dan Jongup bersamaan sambil duduk manis, membiarkan Donwook pergi dengan sendirinya.

"Apakah kau sudah merasa lega, telah menemukan jalan keluarmu?" Jongup mengamati Daehyun yang sudah berleha di bangkunya.

"Tidak bisa dibilang lega. Aku harus menangani gadis ini dulu, jadi—"

.

.

.

.

.

.


Himchan memasuki rumahnya, diikuti Jongdae mengekor di belakangnya. Ia masih tampak ragu untuk melangkah lebih jauh ke dalam rumah tersebut, setelah ingat akan aksi pengusiran dari Ibunya yang tanpa sebab.

"Dimana ibumu?"

Himchan ikut mengamati sekitarnya.

"Jam segini. Ibuku sudah tidur. Kau ingin minum sesuatu?"

Yongguk duduk pada bangku tamu yang menjadi tempat ternyamannya sebagai ranjang tidur. "Air putih saja. Bir malam ini sangat mengacaukan sekali."

Himchan tersenyum seraya beranjak menuju dapur. Yongguk masih setia duduk manis sambil mengamati segala keadaan di rumah itu. Berbanding cukup jauh dengan rumah miliknya atau dorm yang ditempatinya. Walaupun tidak terlalu besar, masih nyaman untuk ditempati. Daripada ia harus menikmati kesendirian di dalam rumah mewahnya.

"Kau?!"

Tontonan asyiknya di gubris oleh seseorang yang baru keluar dari suatu ruangan.

Yongguk berbalas pandang pada wanita tersebut yang agak terkejut melihatnya. Wanita itu, ia kira sedang tertidur pulas sehingga dadanya bisa lebih bernafas lega.

Dari tatapan wanita itu, tampaknya tidak seramah pertama kali mereka jumpa. Sama seperti mereka bertemu siang lalu, tidak begitu hangat dan tidak begitu welcome. Apa itu berarti ibu Himchan tahu penyamaran nya?

Himchan baru saja kembali dari dapur sambil membawakan segelas air. Ia berpapasan dengan ibunya yang begitu tenang bersandar di pintu kamarnya sambil memperhatikan Jongdae dengan tatapan tak biasa.

"Eum, Ibu. Kau masih ingat dengan Jongdae?" Himchan membiarkan waktu perkenalan sederhana kembali antara Jongdae dan ibunya. "Ia pernah menginap di rumah kita untuk beberapa hari, malam lalu. Malam ini dia akan menginap kembali."

Jongdae bangun dari duduknya dan menunduk. "Maafkan aku. Malam lalu saya begitu tidak sopannya pergi tanpa berpamitan. Saya sedang ada urusan yang sangat penting, dan tidak enak menganggu tidur bibi dan Himchan." Keningnya berkerut, matanya setengah mengatup, jarinya bersilang di belakang punggung. Berdoa dengan sangat , agar sang Ibu tidak memberikan penolakan ke sekian dalam sehari.

"Tidak apa. Tidurlah cukup nyenyak untuk malam ini. Besok pagi, Ibu akan buatkan sarapan extra." Ibu Himchan tiba-tiba melemparkan senyum keramahannya, yang cukup menggetarkan. Yang cukup mendadak, melumat rasa khawatir Yongguk. Membuka harapan besar Yongguk dibalik Jongdae yang tersenyum lebar, memperlihatkan gigi gusinya.

"Te—terima kasih banyak, Bibi! Terima kasih banyak!"

Ibu Himchan membalas cantik dengan senyum lembutnya, dan kembali ke kamar. Meninggalkan histeria Jongdae dan Himchan bersamaan. Begitu melegakan.

"Ibumu sangat baik. Sama seperti puteranya." Jongdae sempat-sempatnya merayu, ketika Himchan masih senang menemaninya hingga waktu larut.

"Ibuku sangat welcome. Tenang saja."

"Jika aku bukan seorang selebritis terkenal, Ibumu tidak akan keberatan."

"Sudah kubilang. Mustahil ada seorang artis mau datang ke rumahku."

Himchan tertawa, tanpa menyadari pemikiran apa saja dibuat Jongdae yang sedang menyesap air putihnya dengan senyuman mencurigakan.

Mungkin aku tidak perlu membongkar dahulu rahasiaku untuk beberapa waktu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Tring Tring

Tringgg..

"Ya, Selamat pagi. Dengan TS Corporation & Agency, ada yang bisa saya bantu?"

"..."

"Baik, saya tanyakan terlebih dahulu. Tolong tunggu sebentar."

.

.

.

.

.

.

"Halo?"

"Maaf, Pak Presiden. Ada hubungan telepon dari teman Anda."

"Siapa?"

"Atas nama Kim Hayeon."

Yongin langsung bangkit dari bangku kerjanya. Yongin mendadak terdiam untuk beberapa menit mendengar nama tersebut. Matanya bergulir ke kanan dan ke kiri dengan khawatir.

"Hu—hubungkan dengannya, Segera!"

.

.

.

.

.

.

Sementara itu yang sedang menunggu balasan di seberang sana , dengan tatapan penuh harap menghadap pada dinding sederhana kamarnya.

Dalam hati ia mencelos, dalam nafas ia putus asa.

"Kenapa dunia ini begitu sempit?"

.

.

.

.

.

.

To Be Continue


Side Profile :

Im Jiyeop (inspirasi : Kim Jiyeop ZEA) : Kakak dari Im Hyunsik (teman sekaligus senior kerja Himchan di Cafe Holly -di chapter 1). Bekerja sebagai salah satu bartender di Bar. Umurnya berbeda 7 tahun dengan adiknya, itulah sebabnya dia sangat protective.

Im Hyunsik (inspirasi : Lim Hyunsik BTOB) : adik dari Im Jiyeop. Sudah kuliah, dan bekerja sampingan di Cafe Holly. Senior yang sabar dan baik, murah senyum.


Note :

*Young Jae = bisa diartikan sebagai "Sejahtera". Yongguk mengeles bahwa Youngjae yang disebutkannya berarti "Orang yang sejahtera" = "Kaya/punya banyak uang", agar tidak ketahuan menyebut nama Yoo Youngjae.

*Mungkin ada kekeliruan dari penyebutan nama. Disini ada 2 peran punya dua nama. Junhong = Juyong, Yongguk = Jongdae. Kalau ditemukan dalam teks menggunakan dua nama mereka secara bersamaan, maafkan Miyu :3 Miyu pun suka gak sengaja kesebut dua-duanya. Semoga masih bisa nyambung.

* Beberapa karakter tambahan ada yang OC dan ada yang diambil dari nama artis, untuk memudahkan 'penampakan' wujud para chara lainnya.


Terima kasih atas kesabarannya menunggu update ini. Bulan ini saya cukup free, tapi tidak untuk writer block yang cukup sering mendera. Syukurlah bisa diupload juga!

Mohon review nya agar meningkatkan semangat Miyu menyelesaikan cerita ini. Fav , juga Follow biar gak ketinggalan.

Terima kasih~