My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy Drama

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

ENJOY!

.

.

.

.

.

Chapter 8

Kedua mata Yongguk mengedip cepat, berusaha menguasai cahaya mentari yang lolos dari jendela kamar. Ia memandang ke seluruh ruangan, seperti sebelumnya ketika ia menghuni kamar ini.

Harumnya Himchan persis sama seperti yang Yongguk rasakan ketika pertama berkunjung kemari. Pagi hari yang begitu segar bagi kesehatan lahir dan batin Bang Yongguk. Ia tidak lagi merasa keluh kesah dengan berbagai mimpi aneh atau hari sebelumnya yang membuat emosinya cukup terpacu. Semua terlupakan setelah mendapati sang pujaan hati berada di dekatnya, dan dapat dilihatnya kembali.

Sampai akhirnya aksi menikmati suasana pagi ala Bang Yongguk harus dihentikan ketika pintu kamar diketuk.

"Jongdae-ssi? Kau sudah bangun?"

Seruan Himchan berhasil membuat Yongguk hampir terlempar dari atas kasur. Tubuhnya bergerak panik kesana-kemari, mengitari kamar tersebut 2 kali, sampai ia ingat dimana ia taruh kacamatanya.

Kacamatanya dengan sangat pintar ia taruh tepat di samping ia tidur tanpa ia sadari sedari tadi. Rasa panik lolos memutar otaknya beberapa saat.

Pintu dibukanya dengan hati-hati, mengintip keadaan Himchan tepat di hadapannya yang masih santai dengan kaus cokelat imutnya.

Jadi ingat kalau baju pinjaman ke Jongdae masih menginap manis di dalam lemari nya yang kokoh dan mewah di antara baju mahalnya. Mungkin kalau Himchan lupa, bisa dijadikan koleksi sendiri.

"Kau akan sekolah?"

Senyum manis Himchan menyembul kembali, cukup memanjakan jiwa raga Yongguk yang baru saja bangun.

"Ini hari Sabtu. Sekolahku libur," Himchan mengangkat nampan yang sedari ia pegang, yang dengan lelah menggantung di tangannya selagi berbicara di depan Yongguk. "ada roti dan teh jika kau mau."

Yongguk memperhatikan isi nampan tersebut dengan heran. Persediaan kali ini terlihat biasa untuk Yongguk setiap menyambut sarapan di dorm. Tapi, untuk apa Himchan melakukannya? Bukankah roti bukan makanan yang biasa bagi warga tradisional Korea?

"Kau tidak tertarik?" wajah Himchan mendadak kecewa. "Kukira untuk orang sepertimu suka menu-menu seperti ini."

Yongguk ber'Ahh' ria karena merasa paham.

"Kau tidak berpikir aku adalah orang kaya, seorang bangsawan semacam itu, kan?"

Himchan menunduk kecil, ia mengerut alis, takut menjawab salah, "Kurasa."

Yongguk mengekeh singkat dengan perlakuan Himchan yang menurutnya menggemaskan. Menelisik dari segala perilaku dari yang santun, lemah lembut, pengertian, hingga takut salah.

"Kau sering ke bar dan membeli bir-bir mahal. Aku rasa kau anak yang cukup kacau dengan keluargamu yang serba pu-" Himchan segera membungkam bibir dan kembali melanjutkan kalimatnya, "ma-maafkan aku telah lancang."

Yongguk senang jika sangat dimengerti oleh Himchan. Hampir semuanya benar, sayang tidak bisa diungkapkan seluruhnya.

"Kalau kau berpikir demikian, simpan baik-baik sampai kau tahu siapa aku sebenarnya." Yongguk ucapkan dengan nada agak merayu yang hanya bisa mendiamkan Himchan yang masih agak malu-malu berbicara jauh tentang Jongdae.

Sementara Yongguk dan Himchan bercakap di depan kamar, ibu Himchan keluar dari kamarnya. Kamar ibu dan kamar pribadi himchan (yang secara kebetulan) sedang dipakai oleh Yongguk, hanya berjarak 7 ubin saja.

Wajahnya tidak tampak lelah untuk pagi yang lembut dan menenangkan ini yang beberapa kali menyita kesadaran Yongguk. Beberapa kali Yongguk seperti akan menguap dan mau menempel kembali pada ranjangnya jika ia tidak ingat sedang menumpang di tempat siapa.

"Ah! Pagi, Bibi." sapa Yongguk dengan nada ramahnya seperti biasa.

Beliau menundukkan kepalanya sebagai balasan dengan senyum yang kelihatannya agak dipaksakan. Yongguk tidak sadar itu, namun sadar pun ia tidak peduli selama ia diterima keberadaannya.

"Ibu akan pergi?"

Himchan baru sadar bahwa pakaian yang dikenakan wanita itu lebih rapih dan tidak biasa dikenakannya sepagi ini.

"Ibu punya janji dengan seseorang. Sahabat lama."

"Mau kuantarkan?" Himchan tawarkan diri. Ia cemas dalam keadaam Ibunya yang sedang berada di atas kursi dorong , sendirian menjelajahi ganasnya Kota sendirian. Walaupun hal ini tidak sekali dua kali beliau lakukan, dikarenakan Himchan tidak setiap saat di rumah, dan tak mau kesannya terkurung rumah sendiri.

"Eum. Aku bisa antar pakai mobil." Yongguk menawar dengan tawaran yang lebih berselera. Berharap sang calon mertua, tidak menolak.

"Tidak usah," wanita itu kembali tersenyum lebih ramah. Menyamarkan sesuatu yang ia sedang niatkan khusus hari ini. "Ibu lebih baik pergi sendiri. Karena ini urusan tua sama tua. Anak muda lebih baik punya acaranya sendiri."

Ibu Himchan yang semakin keras kepala ini, akhirnya makin menjauh dari dua insan tersebut, mendorong roda putar di kursinya dengan tangan yang masih sangat kuat. Tidak tampak lelah karena kursi itu disetel semudah dan senyaman mungkin untuk sang Pengguna.

Kursi itu tiba-tiba berhenti, karena Himchan menahan di bagian lengan pendorong. "Biar kuantarkan sampai Ibu naik bis"

Ibunya mendongak, menatapi wajah ratap Himchan yang ia tahu betul, sangat cemas. Tidak bisa semakin membuat sang Putera dihantui rasa takut, Ibunya kabulkan.

Yongguk lihat momentum tersebut, dan tak bisa berbuat banyak. Dikarenakan sang Ibu memang hanya ingin putera semata wayangnya yang bergerak membantu. Berarti Yongguk secara tak langsung, diperintah menjaga rumah sampai Himchan kembali.

"Tidak apa," Yongguk tersenyum ketika Himchan dan ibunya sudah siap berangkat. Himchan tidak henti menunjukkan ekspresi 'mianhae' karena sadar malah merepotkan Jongdae. Dan Yongguk sendiri ingin memastikan Himchan bahwa pekerjaan menjaga rumah bukan sesuatu yang memberatkan.

Selama, ia hanya tinggal menunggu 30 menit untuk bisa berdua saja dengan sang Pujaan hati.

.

.

.

.

.

.

.

.
Himchan mengawasi jalanan sampai bisa ditemukan keberadaan bis. Ibunya suntuk dalam kursinya, tapi pikirannya masih kemana-mana. Sesekali ia mendongak melihat keadaan anaknya yang tampak serius memperhatikan jalanan dengan perasaan (yang ia yakin) gundah. Selalu begitu setiap kali melepas ibunya pergi sendirian. Tapi itu tidak mengejutkan. 12 tahun mengalami disabilitas, 12 tahun itu pula Himchan tidak pernah mau jauh-jauh dari ibunya mencegah hal buruk terjadi.

Bagaimana jika ia tahu tentang ayahnya? Mungkin ia akan lebih protektif.

Bis hijau mulai tampak. Himchan bersyukur mereka tidak perlu berlama di bawah terik matahari.

"Himchan"

Sebelum bis mendekat ke halte, ibu Himchan sempat akan mengajak bicara Himchan. Ada sepatah kata dua kata yang ia ingin pertanyakan, terutama perihal Jongdae. Jujur. Keberadaan Jongdae di rumah, bukanlah keputusan yang tepat, dan Ibu Himchan khawatir.

"Ya?" Himchan antusias menjawab apapun pertanyaan ibunya yang akan dilontarkan. Namun yang ia harapkan justru berganti kepada sebuah bungkaman hingga bis sudah tepat berhenti di depan halte.

"Nanti saja pas Ibu pulang. Jaga dirimu baik baik, ok?"

"Jongdae-ssi, orang yang baik. Tenang saja, Bu." bis sudah tepat berhenti di depan mereka. Lajur untuk kursi roda turun otomatis dari dalam Bus, hingga Himchan bisa menuntun kursi roda sang Ibu sampai ke dalam tanpa kesulitan.

Himchan memperhatikan kepergian bis hingga tampakannya sudah tak terlihat.

Sementara di sisi lain, ibu Himchan menghela nafasnya dari dalam bis, memperhatikan isi hp nya yang sudah berderet pesan dari orang yang ia kenal. Ia mungkin sudah terlanjur lelah dengan deretan kalimat yang sudah ia susun untuk obrolan siang ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara menunggu Himchan kembali, Yongguk sudah mempersiapkan diri dengan harum-haruman di tubuhnya, pakaian yang disiapkan Himchan yang lagi-lagi dipinjamkan, serta sisir rapih yang selalu siap di kantung coatnya. Ia telah siap dengan penampilan khas kencan sepasang muda-mudi, dan yongguk tak sabar untuk menikmati 1 hari berharga bersama Himchan sebelum ia kembali pada rutinitas memusingkan sebagai selebritis.

Tiba-tiba ada ketukan di pintu, yang membuat Yongguk terburu-buru mengenakan kacamatanya. Ia berlari ke arah pintu, dan sedikit mengecek kekurangan di penampilannya.

Cklek

"OPPA!"

Yongguk akan menyesal telah membuka pintu saat itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongup terlihat sibuk dengan handphone nya. Melayani pesan dari seseorang yang sedari tadi memenuhi kotak pesannya. Sementara itu, Daehyun mengawasi dari pintu kamar Jongup. Matanya menyipit curiga, memperhatikan setiap detail mencurigakan yang dilakukan member termuda itu.

Daehyun catat baik-baik apa-apa saja yang dilakukan Jongup sudah dimasukkan sebagai kategori virgin yang baru dapat pacar. Jongup tidak pernah tersenyum sendiri pada handphonenya sekalipun mendapati pesan dari fans yang agak sedikit jayus. Ataupun tenggelam dengan tawa.

Daehyun jadi sedikit sebal kalau memang perkiraan itu benar. Bagaimana bisa seorang non-penakluk wanita bisa mendapat pacar lebih dahulu dari dirinya sendiri.

"Hei, katakan padaku, siapa perempuan itu?"

Jongup baru sadar ia sedang tidak sedniri di kamar pribadinya. Daehyun tidak serta mengetuk dahulu, atau Jongup tidak menyadari karena terlalu sibuk pada kegiatannya.

"Wanita apa?"

"Jangan berbohong padaku. Kau sedang dekat dengan 'perempuan simpanan' mu kan?" Daehyun mendecih. "Sementara kau sendiri yang mengamuk padaku jika aku buat skandal."

"Ini urusannya beda." Jongup mengelak. "Aku tidak main-main sepertimu."

Bola mata Daehyun pasti sukses membulat kaget dengan pernyataan demikian.

"Kau sedang serius?! Siapa dia?! Siapa yang berhasil membuat adik polosku ini menjadi seperti ini?!" Daehyun bangkit dan menarik tubuh Jongup ke pelukannya. "Aku tidak menyangka kau akan cepat mencari seorang istri."

"Aishh!" Jongup menepis pelukan tersebut, hingga tubuh Daehyun hampir terpental. "Itu bukan urusanmu. Dan dia bukan calon istriku."

Belum. Tambah Jongup sendiri ragu di benaknya.

"Tetap saja kau harus berbagi dengan siapa kau sedang dekat. Jangan disembuyikan jika kau tidak mau rugi." Daehyun iseng akan merebut hp yang dipegang kuat oleh Jongup. Sementara si pemilik masih bersih keras menahan privasinya.

Tidak dapat berlama bertumpu, keduanya sampai jatuh ke arah ranjang. Tepat pada saat itulah, Dongwook masuk setelah mendapati seluruh ruangan kosong.

"Hei kalian su-"

Dongwook terdiam sejenak mendapati dua artisnya bertindih dalam 1 ranjang.

"Aku tidak menyangka kalian melakukan ini untuk menutupi skandal Daehyun."

Daehyun dan Jongup memandang satu sama lain, dan tidak butuh waktu lama hingga mereka saling mendorong diri untuk menjauh dengan raut sama sama jijik.

" sudah persiapkan diri untuk bertemu Diana?" Dongwook kali ini kembali serius ke topik awal. Daehyun tanggapi dengan sedikit malas, dan mengantuk. Ia kira masalah ini selesai disapu mimpi tadi malam. Ia tidak punya mood untuk membuat sebuah rencana lain selain membuat dirinya malas hari ini.

"Harus sekali ya aku ikut? Kenapa tidak hyung saja?"

"Kau yang sengaja melibatkanku dalam masalah ini, dan sekarang kau sengaja melarikan diri. Kau mau kuhajar?" Dongwook sudah ancang dengan tangan membulatnya. Tindak dongwook yang sedikit sadis, membuat Daehyun kalang kabut dan mengampun. Jongup di sisi lain, hanya memijat kening yang berkedut melihat tingkah keduanya.

"Yongguk blm kembali juga?"

Daehyun mengangkat bahu tidak tahu. Sama halnya dengan Jongup yang biasa paling penasaran dengan keberadaan sang Leader.

"Aku benar benar tidak mengerti kalian. Yang satu tukang bikin skandal, satunya lagi suka melarikan diri dari masalah. Semoga kau tidak ikut-ikutan, Jongup."

Teguran Dongwook lantas membuat Jongup sedikit berkeringat dingin. Apalagi ketika lirikan nakal Daehyun sudah mantap ingin mengakali kenakalan Jongup biar ketahuan.

"Bagaimana kalau dia jg buat skandal?" Dan akhirnya suara daehyun keluar seperti yang sangat tidak diharapkan Jongup. Doanya belum beruntung bisa dikabulkan Tuhan. Ingin saja Jongup melompat dan memberikan smack down total ke atas tubuh Daehyun jika ia mengeluarkan lebih banyak kata kata.

"Setidaknya lebih baik daripada kau yang sudah berkali kali." Dongwook mendecih, dan segera bangkit untuk pergi kembali. Dirinya suntuk menghadapi ketingkahan Daehyun, karena waktu istirahatnya dikuras hanya karena urusan tidak berguna.

Daehyun malah menjadi rada badmood, dan tidak jadi menjatuhkan sahabatnya. Ia terlalu sebal karena dipersalahkan terus. Jongup tertawa menang.

"Aku akan akhiri secepatnya masalah ini. Kalau pun harus menjual diriku pada perempuan itu. Agar dongwook hyung bisa menghormatiku sedikit," daehyun melempar cukup keras bantal pada Jongup agar ia terpental, merasakan kesakitan hatinya -secara fisik. "Kau harus beritahu siapa perempuan itu cepat atau lambat."

Jongup lempar balik bantal tersebut, menggambarkan pengusiran lebih paksa, agar daehyun angkat kaki dari ruang pribadinya.

Tring tring

Dering HP di genggamannya, hampir membuat lolos alat elektronik itu terhempas ke bawah ranjang. Ia segera mengangkat, terlalu terburu-buru untuk sebuah komunikasi yang tidak formal. Tapi penting untuknya.

"Yeah, Juyong?"

Dan Jongup hanya bisa tersenyum malu malu , karena pada akhirnya ia bisa mendengar suara berat agak lembut itu di sisi lain tanpa diganggu oleh siapapun.

.

.

.

.

.

.

.

.
.

"Apa yang kau lakukan disini?!" Bentakan Yongguk merendah setelah tubuh Chungha diseretnya masuk ke dalam rumah.

Ia perhatikan tubuh mungil Chungha yang mulai menggeliat genit, berjalan bak pragawati di atas catwalk, kepada suatu hunian yang belum ia kenal. "Aku menunggu Oppa sejak kemarin" matanya mulai menerka setiap sudut "ternyata Oppa disini"

"Bagaimana kau bisa sampai kemari?" Serbu Yongguk dengan tidak sabaran. Gadis itu akhirnya bisa bertemu pandang pada si lawan bicara. Menggemericikkan ganci dari hp mahalnya, memperagakan sesuatu. "Itu mudah. Kulacak dari hp daehyun ketika kalian diam diam saling menelpon."

Yongguk berjanji akan membakar semua buku porno daehyun atas kelalaiannya yang berulang kali.

"Lalu apa maumu sampai kau melakukan hal semengerikan itu?"

Chungha malah melompat ke atas tubuh Yongguk, dan merangkul tubuh kekar itu. Cukup mengejutkan Yongguk atas tindakan brutal nya. Gadis itu senang bermesraan pada dada dan perut yang terasa menembus dari baju kaus usang yang dipakainya. Sangat rindu.

"Sudah 4 tahun kita tidak berjumpa, Oppa! Terakhir kali, kita masih sangat kecil dan labil. Kau sekarang sudah besar dan lebih tampan! Aku jadi jatuh cintaa"

"A-apa maksudmu?!" Yongguk bertunduk dengan kilas ngeri dari kedua matanya pada gadis di rangkulannya. Ia ingat gadis itu dulu tidak sekecil ini. Tinggi mereka hampir sama. Mungkin yongguk saja yang terlalu bongsor, bahkan dari semua member BA. Atau gadis ini yang tidak tumbuh sejak dulu.

"Appa tidak bilang -ani! Belum bilang padamu?" Chungha mendesah kecil. "Kita akan jadi tunangan!"

Yongguk dengan sigap mendorong jauh gadis itu sebelum ia mengrepe lebih jauh ke arah yang tidak seharusnya. "HAH?! Kau ?!"

"Ya! Wartawan memang belum tahu tentang hal ini. Kita perlu pendekatan secara diam diam, baru kita kejutkan orang orang di luar sana."

"WOwowo! Tunggu!" Yongguk coba interupsi karena celoteh Chungha belum ngeh di otaknya. "Jadi perempuan yang selama ini dikoor oleh ayahku, adalah kau?!"

Chungha tersenyum lebar begitu manis, hingga timbul mata bulan cantik nya.

"Aku senang bisa membuat kejutan untuk Oppa"

Yongguk menggeleng cepat. Ia menginteruksi penolakan keras. "Ini sangat tiba-tiba. Dan bukankah kita tidak pernah punya hubungan seserius itu?!"

"Memang belum. Dan aku menerima tawaran ayahmu untuk menjodohkan kita."

Yongguk pangling. Kehadiran Chungha buru-buru menguras rasa khawatir akan masa depan nya. Chungha baginya adalah gadis yang manis dan namanya sudah famous kemana mana. Baik sekali untuk mendongkrak nama Bang Yongguk, dan perusahaan ayahnya, apalagi jika bekerja sama di bawah naungan Atalic Record.

Tapi tidak seperti ini.

Gadis ini terlihat polos di luar, namun dia pastilah boros, jelalatan pada laki laki lain, merepotkan, manja, dan segudang sifat angkuh yang tidak muat diurai begitu saja. Semuanya sudah ia catat sejak menjadi trainee bersama Chungha 4 tahun lalu.

Dan gadis ini belum berubah. Bahkan untuk tinggi badannya.

"Himchan.." yongguk baru tersadar, dan mulai mengabaikan intuisinya.

"Oppa , ini rumah siapa? Kenapa kau mau tinggal di tempat semacam ini?!"

Happ

"Kau sebaiknya pulang." Yongguk mendorong punggung Chungha semakin mendekat kepada pintu masuk.

"Hei. Aku baru saja datang!"

"Pemilik rumah ini akan segera kembali. Kehadiranmu hanya menyusahkan."

Chungha berusaha menahan diri dengan ujung kaki serta tangannya yang menahan di antara tembok. Ia menggeleng gegabah, tak mau. "Aku gak mau pulang kalau tidak dengan Oppa!"

"Kenapa kau keras kepala sekali" gigi yongguk bahkan sudah bergemelutuk sebal melihat tingkah merepotkan Chungha.

"Pokoknya aku gak mau! Atau aku teriak sekarang jugaa"

Dengar ancaman begitu, sukses buat Yongguk mendekap mulut gadis itu agar suara yang bising hingga ke telinga masyarakat tidak lekas keluar. Bisa bahaya. Jangankan dirinya ketauan dianggap artis yang numpang rumah orang, tapi akan ada skandal pada dua selebritis berdua saja di dalam rumah kosong. Apalagi jika artis itu sekelas Yongguk dan Chungha.

"Baiklahh! Aku akan pulang denganmu! Sekarang kau tunggu di mobil, aku akan menunggu sampai pemilik rumah ini pulang." Yongguk sudah habis kesabaran. Rambutnya berulang kali diacaknya dengan kasar.

"Kenapa kau tidak mengijinkanku bertemu dengannya dulu? Aku ingin-"

Yongguk segera melemparkan kunci mobilnya yang dengan sigap ditangkap chungha. "Tunggu saja disana sampai aku kembali. Jangan bawa kabur mobilku."

Chungha tersenyum lebar. "Baiklah" ia menurut seperti anjing kecil. Melompat girang seperti bocah , dengan penampilan high class menuju mobil yang terparkir agak jauh. Yongguk mengawasi tingkah gadis itu yang semakin mendekat dengan gaya jalan agak angkuh seperti kalangan gadis glamor pada umumnya.

Yongguk memukul gemas tembok di sampingnya. "Aku kehilangan kesempatan lagi," karena waktu berdua bersama Himchan yang ia tunggu-tunggu di renggut lagi kali ini oleh pihak yang tak diundang.

.

.

.

.

.

.

.

Chungha bersolek pada cermin spion mobil Yongguk. Lipstik berkali-kali dipoles, pipi berkali-kali ditekan untuk meratakan bedak, pujian-pujian tiada henti menggambarkan bayangan dalam spion.

Chungha sangat beruntung dilahirkan begitu sempurna.

Akan lebih disempurnakan dengan kehadiran Yongguk menjadi pasangan hidupnya. Ia berteriak girang di dalam hati seperti seorang fans , dirinya begitu beruntung ditandai sebagai 'calon istri' Bang Yongguk. Pemuda yang sudah mencuri perhatiannya sejak dahulu.

Aksinya disela oleh seorang pemuda yang baru saja melintas dari depan mobilnya. Pemuda itu berjalan hingga sampai ke depan rumah-entah-siapa-punya itu, yang masih disinggahi Yongguk di dalam. Chunga keburu panik, mengira pemuda itu sudah tahu Yongguk tengah bersembunyi. Ini tidak baik untuk nama besar Bang dan profesinya.

Ia salah. Gadis itu berangsur kembali duduk tenang di kursi. Kacamatanya ia lepas, agar lebih jelas dirinya memperhatikan sisi pemuda itu yang sedang mengobrol dengan Yongguk, begitu akrab. Dahi gadis itu berkerut.

Siapa pemuda itu, dan bagaimana Yongguk bisa seramah itu padanya?

.

.

.

.

.

.

"Kalau memang kau sibuk, aku juga tidak bisa menahanmu." ucap Himchan menanggapi ungkapan Yongguk barusan. Laki-laki di hadapannya menguncup tidak enak.

"Aku pasti akan sering berkunjung ke bar, dan menemuimu, ok?"

Himchan hanya tersenyum. "Itu terserahmu, Jongdae-ssi."

Merasa suasana menjadi awkward karena keduanya tidak membuka suara, Yongguk pun beralih memegangi tangan Himchan. Yang cukup membuat shock pemuda itu. "A-ada apa?" Himchan sampai terbata merespon.

"Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi, dan aku janji. Hanya kita berdua, kau mau kan menghabiskan waktu bersamaku?"

Bagai sebuah confession mendadak, Himchan menjadi terdiam. Pesona Jongdae jadi mengingatkan dia dengan seseorang. Tangannya yang gentle merengkuh dua tangannya, suara berat itu...

"Y-Ya. Tentu saja." Himchan tersenyum lagi

Sementara itu Yongguk melepas genggamannya. Lega dengan sikap welcome yang diterimanya melalui senyum manis itu. Betapa ia akan rindu senyuman itu pada kesehariannya.

.

.

.

.

.

.

Daehyun dan Dongwook akhirnya sampai pada sebuah cafe hotel yang telah dijanjikan. Disanalah mereka akan melakukan pertemuan dengan Diana dan managernya. Kebetulan sepeninggal Diana menyelesaikan konser solonya di Poland, gadis itu kini menyinggahi hotel kelas atas ini. Bahkan cafe mahal pun mereka sewa untuk pribadi pada siang ini.

"Seperti yang diduga, dari seorang penyanyi rapper ternama. Gadis mengerikan itu punya selera tinggi juga."

Dongwook mengangguk setuju, seiring mereka di tunjukkan kursi paling tengah dan dekat panggung jazz. Meskipun tidak ada penyanyi jazz disana.

"Kau selalu memanggilnya begitu. Bukankah kalian dekat?"

Daehyun mendecih. Seorang pelayan sambil menuangkan segelas wine. "Dulu anak itu semanis gula, dan semanja anjing kecil. Aku merasa seperti kakak untuknya," Daehyun menunduk sebagai tanda terima kasih pada sang pelayan. Ia perhatikan dasar gelas dengan sikap elit. "Sampai ia tumbuh dewasa, dan hidup acak-acakan , juga tiada manisnya."

"Itu hanya karena kemampuannya sebagai rapper underground membuatmu tercengang."

"Yongguk juga rapper underground, di balik mukanya yang sok baik. Apa semua rapper underground punya personality yang mendadak baik, mendadak mengerikan?"

"Mereka harus sangar di atas panggung agar 'terjual'. Itu misi mereka selain memperlihatkan talenta." Dongwook santai menegak winenya. Suasana tenang di cafe itu sedikit menggidik. Ia hanya berdua saja di dalam cafe itu dengan suasana mood buruk menguar dari Daehyun di hadapannya.

"Aku tahu yang paling menjual dari Yongguk adalah wajah tampan, sok baik, dan sok sexy nya. Bagaimana dengan Diana? Kenapa ia bisa lebih terkenal dari kami? Aku iri padanya."

"Itu sebabnya kau berselisih dengan gadis itu? Konflik hati dan bisnis?"

"Ti-tidak!" Daehyun membludak tegas. "Maksudku, personality Diana tiada bagusnya sebagai seorang gadis berumur 18 tahun. Ia agak angkuh, dan menyebalkan. . Aku seorang laki-laki pujaan, dengan vokal juara. Sempurna, dan segalanya. Baik dan murah hati. Tapi fans nya lebih banyak dariku. Dan sekarang aku harus memohon padanya, itu semakin meninggikan gengsiku."

'Itulah sebabnya kau kekurangan fans. Yang tinggi hati sebenarnya siapa'Dongwook sampai buang muka untuk menguraikan kalimat ini dalam benaknya.

"Aku ingat sekali anak manis itu memohon padaku untuk diajari nyanyi. Betapa manja dirinya selalu menempel padaku dan terkesima melihatkan menyanyi. Aku mengira mungkin gadis belia ini akan jatuh cinta padaku, dan menjadi fans nomor satuku. Sampai akhirnya ia menghianati kepercayaanku." tiba-tiba tubuh Daehyun agak lunglai. "Itu yang menyebalkan."

Dongwook sadar, artis asuhannya tersebut sudah mulai mabuk. "Berhentilah mengoceh. Kau sudah mabuk."

"Tapi hanya karena gadis itu yang bisa kuandalkan, sebagai hutang-hutangnya padaku dulu, pasti ia mau mendengar tawaran gilaku ini."

"Daehyun."

"Dia tidak akan pernah jadi wanita incaran yang-"

BRUSHHH

Suasana menjadi hening mendadak.

Dongwook shock , hampir saja menumpahkan setengah wine dari mulutnya.

Daehyun justru terdiam seribu bahasa,
menggigil dengan lelehan air putih membasahi pakaian formalnya yang sangat mahal.

Diana, atau yang biasa disebuat Queen Di sebagai nama panggungnya, benar-benar tidak ambil hati untuk menyadarkan setengah kesadaran Daehyun akibat wine. Wajahnya datar, sambil beralih duduk di singgasananya, tanpa berbicara apapun lagi, bahkan sekedar mintaa maaf. Managernya, Ji Hak, malah tertawa, menepuk-nepuk punggung Dongwook yang masih dilanda shock.

"Maafkan Diana. Tidak hanya Daehyun disini yang sedang tidak mood." Ji Hak kemudian memanggil pelayan. "Kalian mau pesan apa?"

Diana melihat-lihat ke dalam menunya dengan santai. "Bouillabaisse dan Gaufres"

Pelayan yang telah berdiri mendekat, menuliskan pesanan. Sesekali matanya melirik Daehyun yang masih terdiam, atau Dongwook yang terdiam kebingungan. Suasana di meja itu cukup kacau.

"Bagaimana kalian berdua?"

"E-eum." Dongwook akhirnya sedikit merespon. "Cafe Au Lait."

"Kalian sudah cukup mabuk. Baiklah, Gaufresjuga untuk mereka berdua." pinta Ji Hak.

Setelah memesan, pelayan kabur ke dapur. Sekali- kali berbisik pada partner kerjanya dengan situasi yang baru ia lihat.

Kembali kepada keadaan 4 orang di meja.

Daehyun menggertak giginya. Ia sudah kembali pada kesadaran penuhnya, hingga bulatan tangannya menggebuk meja. Suara gelas-gelas bersuara nyaring. Mata mengamuknya membidik Diana yang masih santai melayani fans-fans di telepon genggamnya.

"Apa-apaan kau?! Tiba-tiba menumpahkan air ke bajuku ?!"

"Akhirnya kau sadar, kan." Diana tidak mengalih pandang. Sikap nya semakin membuat Daehyun emosi.

"Aku hanya ingin menyadarkanmu dari mabuk , karena ini pembicaraan serius. Aku tidak mau buang-buang waktu mendengarkan omongan dari orang yang setengah sadar."

Daehyun menahan diri untuk tidak melampiaskan emosinya. Jika saja Diana bukan seorang wanita, ia sudah akan menghiasi babak belur wajahnya.

Dongwook menghela nafas, keadaan yang belum kondusif berusaha ia kembalikan.

"Sudah sudah. Biarkan saja. Kau bisa ganti baju nanti, Dae."

"HAH?! Tingkah perempuan ini kau biarkan saja?! Bisa menjadi nanti!" Suara tinggi Dae mendominasi ruangan. Gadis yang menjadi tersangka amukan Daehyun memutar bola mata dengan jengah.

"Kita akan membahas apa kali ini?" Seolah menutup telinga rapat. Gadis itu masih duduk tenang, dengan melipat tangan. Lurus menatap dua manajer di depannya, sedangkan Daehyun hanya memangap ria direspon tidak peduli seperti itu.

Angkuh, sombong, tidak sopan, adalah segala umpatan yang mendarat di benak Daehyun.

"Ini soal kontrak." Dongwook to the point. Daehyun bergerumbul umpatan pada mulut rapatnya. Enggan ikut suasana serius. "Baru baru ini Daehyun mendapat skandal perselingkuhan. Dia dibilang jadi artis simpanan seorang senior."

Diana mengusap dagu. "Aku dengar itu"

"Kami memohon kesediaan Diana melakukan kontrak sebagai kekasih Daehyun."

Tiba-tiba Daehyun mendobrak meja, lagi. Hampir mengejutkan seorang pelayan yang berniat mengantarkan menu pesanan. Semua mata jadi ikut singgah kembali pada Daehyun yang masih kesal.

"Aku berubah pikiran. Kita tidak jadi buat kontrak dengan anak ini"

Mata dongwook bulat garang. Kaget dengan pernyataan artis asuhannya itu yang menurutnya plin plan. "Apa apaan ini?! Capek-capek datang kemari, kau mau mengagalkan?!" Dongwook dibuat gondok sekarang.

Lihat keributan tak diundang oleh dua tamunya, alhasil Ji Hak pun membuka suara. "Kami setuju."

Dongwook dan Daehyun beradu tatap pada pria berumur sebaya Dongwook tersebut dengan cepat. Menghentikan bersih tegang di antara mereka.

"Diana akan menjadi kekasih kontra Daehyun. Berapa bulan kalian butuh?"

Mata dongwook berkedip. Tak percaya. "Cepat sekali ambil keputusan. Kalian tidak memikirkan dua kali lagi?"

"Apa yang harus kami pikirkan? Keputusan tercepat kami biasanya sa(ngat manjur. Ya kan, Diana?"

Diana menyuap pie empuk Gaufress itu dengan anggukan santai.

"Tunggu." Daehyun menyipit curiga, lebih kepada Diana sendiri. "Kau tidak berusaha memperdaya masalahku ini kan? Kau iblis mungil?!"

Mata lentik Diana melirik pada Dae. "Anggap saja bayaran untuk 10 tahun lalu."

"Eh?"

"Aku masih baik hati padamu, Kak Daehyun" tatapan Diana pada Daehyun seolah sama seperti Diana kecil beberapa tahun lalu yang begitu akrab dan teduh, juga penuh canda tawa.

Hfft...

Daehyun jatuh terduduk pada kursinya. Menghela nafas pasrah seadanya, menginteruksi dengan tangannya untuk yang lain meneruskan percakapan. Biarkan dia bergumul dengan dilema nya dengan tenang.

"Eum. Kami berharap sekitar 3 bulan. Bagaimana?" Dongwook menujukan perhatian kembali pada topik awal.

"Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dari pihak diana maupun daehyun."

"Itu bisa kita bahas lanjut."

Dan jihak maupun Dongwook bersalaman deal. Tak terkecuali kepada Diana.

Diana memberi uluran tangan pada Daehyun sebagai tanda deal di antara dua pihak terwajib. Daehyun yang sedari tadi hanya terdiam karena terlalu banyak pertimbangan, pada akhirnya ikut menjabat, dan meniadakan diri ke kamar mandi setelahnya untuk mengeringkan tuxedo nya yang agak basah.

Diana tersenyum, tanpa Daehyun sadari.

"Kau kelihatan senang, Diana." Jihak menyadari tingkah artis asuhannya itu berubah menjadi dari yang begitu sangar dan menakutkan, menjadi gadis belia yang manis dan lucu. Perubahan yang membuat manajer satu lainnya malah kebingungan.

"Diana, kenapa kau membantu Daehyun, di satu sisi hubungan kalian tidak akrab akhir-akhir ini?" Dongwook beranikan diri bertanya. Sedari tadi ia benar-benar tersentil dengan hubungan terpisah keduanya yang begitu aneh. Hanya saja karena suasana tadi panas dan dingin-berubah-ubah- maka tak sempat tersampaikan.

"Sebenarnya aku sudah tau Daehyun akan memintaku melakukan kontrak ini." Diana menaruh garpu nya, beradu pandang dengan santun pada lawan bicaranya. "Sejak dulu, anak itu selalu minta bantuan padaku memecahkan masalah percintaannya. Bahkan untuk menjadikanku pacar bohongannya. Itu permainannya yang menyenangkan. Aku senang melihat gadis-gadis yang pernah menyakiti Daehyun, terlihat cemburu pada kami."

"Hah?!" Dongwook sampai hampir kehilangan nafsu makan. Matanya seakan bergetar ngeri menanggapi pernyataan barusan.

Jihan tepuk bahu sahabatnya itu, "Setelah selesai, ada yang ingin kubicarakan. Bisakah ikut aku ke balkon untuk merokok sebentar?"

Permintaan Jihak tampaknya berhasil mengalihkan Dongwook pada keanehan Diana. Matanya menyipit tak suka. Sejak pertama menghubungi pria sebayanya itu, ia memang tidak menunjukkan raut senang, selain formalitas atas profesi keduanya sebagai manajer artis besar.

"Aku tidak merokok." balasnya singkat. Raut dingin pria itu, mengerucutkan bibir Jihak.

"Oh ayolah. Setidaknya temani aku sebagai teman dekatmu."

"Aku bukan teman dekatmu."

Jihak geregetan. Dongwook tidak bisa merespon lebih baik daripada sebuah cercaan dan penolakan. Apa salahnya bercakap ria dengan seorang penting untuknya yang sudah lama tak dijumpai?

"Jika Dongwook-ssi tidak ikut Jihak ahjussi , dia akan merengek padaku. Sebaiknya layani saja orang itu sebentar saja." pinta Diana sembari membetulkan riasan bibirnya, dan sedikit menepuk dengan sapu tangan yang tersedia.

Jihak terkekeh. "Kau bahkan tiada sopannya pada manajer mu ini yang masih muda belia." Jihak kembali beralih pada Dongwook, yang hampir putus asa. "Oh ayolah, Dongwoo-ssi~"

Dongwook menghela nafas. Tanda bendera putih sudah berkibar di benaknya. "Baiklah. Hanya 30 menit."

"YES!"

Jihak angkat diri dari bangku makannya, menunggu sebentar Dongwook juga untuk ikut bersamanya. Setelah ijin sebentar pada Diana, keduanya berlalu ke pintu balkon yang tak jauh. Bahkan dari balik pintu balkon saja, masih kelihatan dua tubuh mereka bersandar di pembatas balkon, sambil salah satunya memetik api untuk rokok. Semua kegiatannya mereka timbul dari balik kaca bening.

Namun Diana tidak peduli, apa yang sedang dibicarakan mereka. Yang ia tahu, keduanya memang punya koneksi yang cukup dekat.

Tak berapa lama, pemuda lain sudah kelihatan lagi wujudnya. Dari kamar mandi, pemuda itu tak mengenakan jaketnya. Hanya kaus random, yang entah darimana ia bawa.

"Kau kelihatan lebih keren dengan kaus biasa." Diana memperhatikan Daehyun yang ekspresinya tidak jauh dari kejenuhan. Ia tidak punya mood untuk membalas pujian atau sedikit ejekan di dalamnya, dari ucapan tadi.

"Dimana para manajer?"

Dagu Diana terdorong-dorong mengarah pada arah balkon yang dihuni dua pria. Interuksi itu lekas membuat Daehyun beralih. Akhirnya, mereka ngobrol juga, pikir Daehyun selanjutnya.

Daehyun kembali pada gadis di hadapannya. "Oke. Diana. Aku minta penjelasan darimu."

Diana yang sejak awal hanya bersemburat datar pada Daehyun, sudah mempersiapkan diri dengan menyandar duduk dan melipat tangan. Menunggu Daehyun melanjutkan ucapannya.

"5 tahun lalu kenapa kau pergi dan tidak mengabarkanku?"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Siapa laki-laki itu, Oppa?"

pertanyaan tiba-tiba Chungha lantas membuat Yongguk beralih sebentar dari jalanan. Matanya sedari tadi mungkin sudah pegal hanya berpusat pada jalanan abu-abu di luar sana, tanpa tertarik mendengar cuap gadis itu dengan pamer popularitas atau pamer kecantikan.

"Kelihatannya dia akrab sekali dengan Oppa."

"Teman." Yongguk terbatuk sebentar. Agak sakit rasanya hanya menganggap orang yang disuka sekedar 'teman'. "Teman baru."

Ekspresi Chungha saja sudah beraut tidak senang dan agak heran, sedikit jijik. Kenapa? "Kau berteman dengan orang yang punya rumah kecil begitu?"

Dahi Yongguk berkerut. Sekarang kata tanya 'KENAPA?" memenuhi otaknya.

"Maksudku, jangan tersinggung ya Oppa. Kau tidak pernah seakrab itu dengan siapapun bahkan kalangan elit sekalipun, tapi kau sangat akrab dengan orang itu yang notabene kau bilang 'teman baru'. Memangnya apa yang spesial darinya?"

Jika Yongguk harus menjawab, maka ada berpuluh alasan kenapa ia memilih Himchan sebagai teman terdekatnya, bahkan dikatakan paling Spesial.

Hanya saja posisinya kali ini agak sempit dengan keadaan yang tidak seharusnya. Yang tidak mengharuskannya menjawab pertanyaan itu. Ia hanya terdiam, mengabaikan apapun yang diminati Chungha tentang Himchan. Berusaha membuat Chungha lebih baik tak kenal apapun dari pemuda tak berdosa itu.

Di sisi lain Chungha malah semakin mencurigai keterdiaman Yongguk. Ia menoleh dan mendapati Yongguk mengabaikannya, seolah sedang menutup-nutupi. Chungha tidak suka itu.

"Apa dia lebih spesial dariku?"

Tentu saja.

"Dimana kalian kenal?"

Di suatu bar sederhana.

"Berapa umurnya?"

Dia lebih muda darimu. Tapi tingkahnya lebih dewasa.

"Kenapa kau diam saja, Oppa?!"

Yongguk tiba-tiba mengerem mobil. Tak siap tubuh Chungha dengan aksi mobil yang tiba-tiba, tubuh gadis itu hampir terjerembab ke bumper.

"Oppa!"

"Maaf, Chungha. Aku agak sedikit mengantuk." Yongguk berbohong. Ia hanya ingin mencari pengalihan agar Chungha berhenti mengumbar rasa penasarannya. "Aku antar kau sampai sini saja."

"Hah? Aku mau ke dorm! Kita harus bicarakan lebih lanjut tentang pertunangan kita!" Chungha semakin keras kepala. Semakin membuat Yongguk tidak bisa menahan diri. Ia berusaha sesabar mungkin menghadapi gadis ini. Sesabar menghadapi keras kepalanya sang Ayah.

"Lain kali saja. Aku sangat capek." Yongguk membukakan kunci otomatis. Tanda bahwa Chungha sudah bisa mengeluarkan diri dari mobilnya, segera.

Chungha mengerucut manja bibirnya. Bertingkah ngambek. Dirinya tidak kuasa dengan ketidakpedulian Yongguk padanya. Mungkin memang dia capek, karena seharian ia pergi entah kemana sampai menumpang ke rumah entah berantah itu.

Chungha keluar dari mobil, sedikit membanting pintu dengan kesal. Beberapa menit menunggu dari depan pintu mobil, menanti pembukaan jendela dari Yongguk dan sebuah ucapan perpisahan, malah ditinggali begitu saja.

"OPPA!" sontak Chungha menggertak gigi, dan menepuk pada tanah begitu keras dengan high heels nya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wongjun baru saja kembali dari ruang pelayan. Mengantarkan serbet-serbet yang berantakan dari dalam ruangan makan, sekedar membantu.

Tak berapa lama , ia tak sengaja berpapasan dengan Donghae. Ya, pemuda yang lebih muda tapi senior dari pekerjaan pelayanan rumah Choi ini. Wajahnya tetap saja dingin padanya, tidak berubah dari pertemuan pertama mereka. Mungkin memang sudah kebiasaannya.

"Oh, selamat sore, Donghae-ssi" sapa Wongjun mencairkan suasana yang agak canggung. Donghae menunduk sopan, ternyata bisa juga hormat pada yang lebih tua.

"Habis darimana?" Wongjun bertanya basa-basi.

"Dari ruang tv." Donghae menjawab seadanya, menimbulkan senyum lebar yang akrab dari Wongjun. Beginilah jika dua orang dengan sifat bertolak belakang berjumpa.

Wongjun melihat sebuah wig di pangkuan Donghae. Pria itu jadi teringat dengan seseorang.

"Aku sedang mencari tuan muda. Apa kau melihatnya?"

"Dia di ruang tv." Donghae mengusap wig di tangannya. "Sedang asyik dengan teman di hp nya."

"Teman? Tuan muda apa populer di sekolahnya?"

"Tuan muda cukup dikenal. Tapi tak terlalu punya teman akrab." Donghae sedikit demi sedikit membeberkan jati diri tuan mudanya itu pada sang partner kerja. "Palingan hanya beberapa yang saya kenal. Tapi saya yakin, kali ini bukan dari sahabat-sahabatnya."

"Maksudmu?"

"Tuan muda kelihatan aneh."

Wongjun jadi semakin penasaran. "Aneh?"

"Tuan muda tidak pernah melakukan hubungan telepon selama itu, dengan wajah yang sangat ceria. Bahkan setelahnya, meminta saya membersihkan wig ini dengan baik, karena akan dipakainya. Tuan muda tidak pernah sebegitu semangatnya pada wig ini."

"Hei, kau tidak senang lihat anak itu punya teman yang bisa diajak becanda?" Wongjun terkekeh. Tapi Donghae tidak. Ia masih seserius sebelumnya.

"Perubahan tuan muda, apa Wongjun-ssi tahu?"

Wongjun mengakhiri canda tawanya dengan raut yang ikut serius.

"Apa karena Jongup-ssi?" Ekspresi Donghae jadi agak menakutkan. Rautnya dan kebingungannya, seakan menunjukkan ketidaksudian.

"Eum. Donghaessi. Biar aku bertemu dengan tuan muda dahulu." Wongjun pamit pergi, sebelum ia terpengaruh dengan aura aneh dari dalam Donghae. Entah siapa saja lagi yang terasa aneh di keluarga besar ini.

Wongjun jadi semakin pusing kepala.

.

.

.

.

.

.

.

Tring~

Lonceng cafe berbunyi. Sapaan selamat datang bergema dari dalam cafe, oleh seorang pelayan.

Pria dengan coat panjang , serta penampilan agar tertutup, menghampiri salah satu meja.

Kakinya tadi berhenti sebentar. Beberapa menit saja ia butuh untuk mengatur nafas saat melihat sosok wanita tersebut di dekatnya. Lalu kembali melangkah, mendudukkan diri, berhadapan dengan berani pada wanita yang santai sedang menegak tehnya.

"Hyeri?"

.

.

.

.

.

.

.

"Iya, Bawel! Nanti kubelikan!" Youngjae segera menutup telepon. Ia mendecih sebal karena dibuat unmood oleh saudara sepupunya sendiri yang merupakan penggemar boyband seperti drinya. Hanya saja, untuk apa memaksanya membeli sebuah goodies yang tidak ada sangkut pautnya dengan boyband favoritnya? Inilah kesulitannya. Yang saudara dekat justru tidak punya kecocokan, teman yang baru dikenal malah punya hobi yang cocok.

"Kenapa tidak jadi fans B-A saja, biar dia gampang beli goodies dariku. Dasar."

Selama kepergiannya yang sangat membuang-buang waktu, akhirnya ia sampai juga pada sebuah toko barang-barang keartisan yang dipuja para fangirl dan fanboy. Youngjae terlalu sering kemari.

Youngjae melihat-lihat sebentar beberapa goodies khusus B-A. Beberapa kaset B-A, apapun tentang B-A. Semuanya begitu berharga, sayang bukan keluaran baru. Ia sudah punya semuanya.

Sampai akhirnya, ia mendengar teriakan keras dari dalam toko. Mengejutkan dia yang sedang konsen-konsennya membanggakan boyband favoritnya itu.

"DAEHYUN OPPA!"

Dengar teriakan itu, lekas membuat perhatian Youngjae cepat teralihkan. Anak itu lari keluar dari toko, mendapati kerumunan wanita muda mengelilingi sebuah pintu masuk hotel.

Pikir Youngjae, kenapa selalu bertemu Daehyun secara kebetulan begini? Di tempat tempat umum, yang kemunculannya diperhitungkan. Tidak bisakah Daehyun muncul di tempat tempat yang tidak ada Youngjaenya?

Memandang sebal dengan perhatian semua gadis, dan tindak tanduk Daehyun di kejauhan yang lagi-lagi memuakkan, memberikan kiss bye dan flying wink pada setiap orang, buat Youngjae mual.

Tak lama Youngjae jadi teringat sesuatu.

Youngjae melangkah lebih dekat pada mobil yang akan melaju tersebut.

Mobil itu siap berangkat dari tempat parkirnya.

Namun , berhasil di rem cepat, hingga tak jadi melarikan diri dari kerumunan.

Daehyun pandangi beberapa saat pemuda yang bertolak pinggang tepat di depan mobilnya. Menunjukkan raut murka dan suntuk.

Dahi Daehyun berkerut.

Deja Vu?

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

Lee Diana (inspirasi : Sonamoo): Gadis dengan ekspresi dingin dan agak angkuh. Memang sudah jadi kebiasannya. Dia seorang rapper underground sejak muda, namun punya suara yang sama bagusnya seperti penyanyi pada umumnya. Rapper wanita yang muda dan cukup kaya. Dikenal hingga mancanegara. Nama panggungnya "Queen Di". Teman kecil Daehyun. Dianggap artis yang agak aneh, karena dirumorkan punya karakter ganda.

Kim Ji Hak (inspirasi : Kang Dong Won) : Manajer Diana. Mantan suami dari mendiang istri Dongwook (mantan istri). Umur sama seperti Dongwook. Baik , ramah, dan paling mengerti keanehan Diana. Friendly. Hal yang paling tidak disuka : diabaikan, dan kekalahan.

Terima kasih atas kesabarannya menunggu update ini. Update memang sangat lama dan mengulur, mohon dimaklumi karena Miyu juga lagi sibuk dengan kuliah Semoga bisa lebih up to date lagi! Makasih~

TELAH HADIR di WATTPAD : (id) miramiyu

Disana bisa jadi lebih cepat, karena saya edit-edit disana :)

Review nya agar meningkatkan semangat Miyu menyelesaikan cerita ini! Fav , juga Follow biar gak ketinggalan.

Terima kasih~