My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

.

Update tercepat saya ada di Wattpad

Jadi saya suka lupa update disini juga,makanya terkesan lama. Padahal udah saya publish disana… maaf yaa.

.

.

.

Warning!

Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.

I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^

.

.

.

.

.


Chapter 10

Junhong hanya bisa menatap kedua mata Jongup dengan pandangan ragu-ragu. Dadanya seolah bergetir khawatir dengan tanda tanya yang seolah dilempar tersirat dari kedua pandangan Jongup saat ini.

"Kau benar-benar mengingatkanku dengan seseorang."

Apa yang Junhong musti jawab? Sisi kebenarannya bergejolak memintanya ingin berterus terang, namun di sisi lain ia hanya ingin diam. Menutup kembali semua prasangka.

Dengan berbohong, maka ia tidak akan menyia-nyiakan kebahagiaan tiada dua bersama Jongup yang sudah meracuni perasaannya dengan sebuah 'rasa' yang aneh, namun memabukkan.

Walaupun hubungan dengan segala penipuan ini akan terus menyiksanya. Ia tahu ia tidak akan selamanya bersembunyi di balik topeng seorang Juyong. Begitu juga, ia tak akan mungkin mendapatkan cinta sepenuhnya Moon Jongup.

Kebenarannya, ia adalah laki-laki, yang berbohong demi seorang Ibu yang sakit.

Namun, bisakah setidaknya ia mempertahankan topeng ini sementara sebelum melonggar? Selama masih merekat di wajahnya, ia ingin mempertahankan lebih lama agar ia bisa lebih mengenal Jongup? Mungkin saja, ada celah yang membuat Jongup mau menerima dirinya sebagai Junhong.

"Jongup," pemuda di pangkuannya mengedip pelan-pelan. Terlihat lucu, ingin sekali Junhong mengelus pucuk kepalanya jika sedang tidak malu-malu. "Apa kau menyukaiku?"

Lontaran pertanyaan itu menghentakkan tubuh Jongup, hingga ia sontak membangunkan diri.

"Tentu saja aku menyukaimu." ucapnya dalam satu tarikan nafas.

Wajah Junhong sedikit panas, dengan semburat muncul tidak kontras dari balik bedak tipisnya.

"Apa kah kau serius menyukaiku? Dalam arti 'mencintaiku'?"

Jongup sedikit menjeda. Ia menggaruk tengkuk, memudarkan rasa tidak enak karena perasaan canggung mulai muncul. Gadis di sampingnya ini kenapa langsung 'serius' ya? Hal itulah yang menggenang di kepalanya.

"A-aku belum terlalu mengenalmu," Jongup mengekeh sempurna. Senyum lebarnya cocok dipadu dengan wajah manly nya itu. "maksudku aku memang menyukaimu. Tapi mencintai itu merupakan komitmen yang cukup besar, dan menurutku semakin aku tahu dirimu, aku yakin akan mudah jatuh cinta."

Junhong tersenyum. Ucapan Jongup sungguh menarik hatinya kali ini.

"Kau berbeda dengan perempuan lain. Kau pengertian, baik hati, cantik. Gadis-gadis yang pernah kukenal seringkali mendekatiku hanya karena popularitas. Tapi kau bahkan tidak pernah menyinggung masalah pekerjaanku , apalagi gajiku, HAHAHA..."

"Benarkah? Seberapa banyak gadis yang dekat denganmu? Mereka pasti banyak. Aku iri."

Mendengar respon tersebut, Jongup langsung menepis dengan gelengan kepala.

"Tidak-tidak. Aku bukan tipe playboy macam Daehyun. Aku gini-gini orangnya setia loh. Aku hanya pernah dikenali oleh beberapa gadis oleh orang tuaku. Kudekati mereka sekedar observasi. Banyak tipe perempuan yang berbeda-beda. Namun ada hal yang sama mereka coba raih dariku.

Yaitu title Idola ku. Siapa yang tidak akan menolak berkencan dengan seorang artis? Aku tidak pernah bertahan dengan perjodohan tersebut. Beberapa hari kemudian, aku sudah memutus hubungan."

Junhong menatap serius, sekaligus kasihan. "Apa menurutmu perjodohan kita ini juga akan bertahan sebentar?"

Jongup balik memandang Junhong. Mereka kali ini bertemu tatap. "Aku belum pernah memikirkan cara untuk mengakhiri hubungan ini. Aku selalu nyaman bersamamu, Juyong-ssi. Mungkin lebih lama aku bisa bersamamu, akan lebih baik."

Tangan Jongup mulai mengenggam tangan lembut Junhong. Dengan perasaan jenuh nan nyaman, Junhong pun ikut meraih jari jemari Jongup yang tebal dan hangat itu merengkuh di telapaknya. Kulit dengan kulit pun saling bersentuh erat satu sama lain.

Mereka mulai berbicara dalam hati. Bercakap dengan sisi terdalam mereka tanpa diketahui satu sama lain. Mereka hanya sibuk bersembunyi meluapkan perasaan pada teman imajinasi mereka di dalam pikiran sendiri. Ada yang berteriak senang bahagia, ada yang menggalau ria.

"Oh Tuhan... Barusan aku bicara apa?! Memalukan sekali?! Apakah Juyong menganggapku aneh barusan? Apa ia menyukainya? Aku seperti orang dimabuk asmara saja.."

"Kak Juyong, beruntung sekali dirimu. Kata-katanya yang selembut sutera itu menyentuh sekali di ulu hatiku. Tapi bermaksud pasti bukan untukku. Jika kau masih hidup, aku yakin yang ia genggam tangannya adalah tanganmu. Dan kau akan menjadi wanita paling beruntung di dunia...

tapi kenapa musti aku yang menerima semua ini?"

.

.

.

.

.

.

"Aku tidak bisa membayangkan mereka hidup tanpa aku disini. Bahkan untuk satu orang aneh itu makan saja, sudah berapa piring di raup nya. Lihat, banyak sekali piring kotor hanya karena dia. Ugh, mana orang-orang disini pemalas."

Youngjae menggerutu sambil terus menggosok piring-piring hingga bersih. Ia sudah menghabiskan cukup waktu untuk merapihkan dapur dan membersihkan piring kotor selayaknya asisten rumah tangga. Tidak sesuai dengan perkiraan kontrak yang menyuruhnya hanya sebagai koki pribadi BA.

Namun Youngjae berusaha menepis ketidakadilan itu sebagai keuntungan baginya. Jika ia disuruh menjadi pembantu , ia mau saja asalkan ia bisa lebih lama bertahan di dorm tercinta ini, tanpa harus melakukan tindak kriminal. (dalam arti, menjadi seorang sasaeng*). Apalagi orang yang dicari belum menunjukkan batang hidung juga, sejak beberapa jam lalu mengurung diri di kamar.

Ia jadi sempat berpikir, haruskah ia mengunjungi kamar Yongguk dan memberikan semangkuk makanan cukup untuk makan malamnya?

Ide yang bagus, Jae.

Youngjae menyudahi cuci piringnya, dan melepas celemeknya seperti dilepas oleh hempasan angin. Ia menyusun racikan masakan sisa, agar dibuat rapih seperti selayaknya hidangan baru.

Buru-buru ia menyudahi penyusunan, mulailah ia melangkah ke arah yang dituju dengan mantap. Ia jadi mulai kenal beberapa sudut ruangan dengan telaten, karena hanya sekali pandang seluruh isi ruangan, ia langsung bisa menghafalnya. Bahkan ia langsung bisa tahu mana ruangan para member yang setiap orang berbeda. atau sekedar membedakan barang-barang berceceran di ruang santai adalah milik siapa.

Baru beberapa langkah,

"Mau kemana kau?"

Youngjae terpaksa mengerem langkah.

Ia tidak akan mengerem jika tidak melihat tubuh muscular dan tanpa penutup selain di bagian bawahnya itu di depan matanya.

Daehyun tepat membidiknya. Matanya menyipit menajam. Ia selalu melempar tuntutan mencurigakan bagi tiap tingkah Youngjae yang hidup terasing di dorm tersebut.

Youngjae langsung memutar tubuhnya. Memunggungi Daehyun dengan dada sudah berdegup kencang. Ia sudah beberapa kali melihat tubuh eksotis itu, tapi tidak pernah sedekat ini. Bahkan hanya dilihat dirinya sendirian , dalam balutan handuk saja. Seperti sebuah tontonan VIP.

Mata polosnya ternodai dengan begitu cepat.

"Jika kau mencoba masuk ke kamar Yongguk, aku akan mencegahmu." ucap Daehyun dingin. Youngjae jadi manyun sendiri mendengar larangan tersebut.

"Kenapa sih?! Kau tidak khawatir Yongguk dari tadi mengurung diri di kamar?!"

"Anak itu memang selalu begitu kalau lagi patah hati." Daehyun berkata sambil mengeringkan rambutnya. Ia berjalan mendekat pada tubuh mematung Youngjae. Ia tidak akan menyadari bahwa ada degup jantung memompa kencang pada tubuh lainnya seiring suara pijakan terdengar mendekat.

Rasanya Youngjae takut di grepe-grepe dari belakang karena ia mengaku terlalu manis seperti kue bolu.

"Lagipula mau kamu gedor-gedor pintunya sampai penyok pun, anak itu akan terus meringkuk seperti kura-kura di atas ranjangnya." Bukannya beralih perhatian pada Youngjae yang enggan bertemu pandang padanya, Daehyun malah lebih tertarik meneruskan langkah hingga ke meja dan menemui hp nya yang ia charge disana. Tubuh Youngjae melemas, senang perkara malu (tapi maunya) tidak digubris.

"Patah hati, maksudmu?" tangan Youngjae sudah cukup pegal memegang nampan. Ia menaruhnya kembali ke atas meja. "Yongguk punya kekasih?!"

"Mulutmu ditahan dong. Suka parah kalau fans mulutnya tukang onar. Jangan sampai nanti salah paham lagi, dua orang yang bakal kena fitnah." Daehyun meletakkan hp nya. Kali ini dengan senang hati memandangi Youngjae , membaca gerak-geriknya. "Patah hati kan bisa jadi karena banyak hal. Kalau diibaratkan Yongguk itu kayak anak kecil, kamu rela, gak?"

Daehyun kok jadi banyak minta ijin kalau sudah mengaitkan Yongguk? Seolah Youngjae ini adalah ibu yang melahirkannya yang tidak suka puteranya dijelek-jelekkan.

Tapi Youngjae hanya bisa memutar mata acuh, tanda tak tertarik.

"Ya, mungkin karena Yongguk sedang ada urusan, terus urusannya diganggu. Atau barang yang disukainya keburu direbut orang lain. Mungkin juga karena ia minta sesuatu, tapi 'ditolak' mentah-mentah." Daehyun berceloteh seperti sedang membandingkan kualitas baju di pasar sebelum membelinya. Yang hanya di balas kerutan dahi dari Youngjae.

Padahal Daehyun sendiri sedang mencoba untuk tidak 'kebablasan' parah mengungkapkan skandal cinta Yongguk. Makanya ia banyak 'mengeles'.

"Pokoknya orang yang kau anggap 'bidadara jatuh dari surga itu' tidak akan terus terlihat bahagia. Di belakang kamera, mereka juga bisa merasa tersakiti loh." Daehyun sudah berdiri di dekat Youngjae, hingga punggung pemuda manis itu sedikit melengkung menghindari jorokan wajah Daehyun yang seolah ingin menerkam wajahnya.

Jari telunjuk Daehyun malah sudah menyundul dahi Youngjae.

"-Termasuk aku."

Youngjae mengembung pipi, dan mendelik tajam pada sosok pemuda berkulit agak tan itu yang sudah ingin mengabaikannya lagi, balik ke kamarnya pasti sekedar berganti pakaian. Kata-katanya tadi seolah menyinggungnya, dan ia tidak suka itu. Memangnya salah jika selama ini Youngjae mengira dirinya adalah 'playboy menyebalkan yang cuman bisa bikin skandal'?

"Nanti aku akan antar kau pulang. Nonton tv, dan duduk yang tenang saja sampai aku selesai pakai baju."

"Gak mau. Aku maunya pulang sekarang." Youngjae terlalu tinggi hati untuk ditemani pemuda yang tidak disukainya itu.

"Oh yaudah, aku antar kau pulang pakai handuk saja."

Sebelum Daehyun dengan serius kembali padanya dan mengambil kunci mobil, Youngjae langsung menginterupsi. "Bu-bukan itu maksudku!" ucapnya sambil mendorong kembali tubuh Daehyun berbalik ke kamarnya. Kok bisa sebodoh ini ya Daehyun yang dikenalnya?

"Terserah kau saja! Dan cepat ganti pakaiannya, ugh!" Dan pintu kamar, Youngjae paksa tutup.

Bibirnya Youngjae jadi berkerut maju dengan sebal karena dipermainkan Daehyun sedari tadi. Sebal juga kenapa ia harus melayani percakapan dengan pemuda yang tidak ia anggap, setiap kali BA mengadakan konser. Ia sebal karena orang yang paling ia tidak sukai malah menyantap makanannya pertama kali.

Ia sebal , dan saking sebalnya ia ingin meninju pintu kamar Daehyun.

Sekaligus bingung, kenapa laki-laki yang tidak disukainya itu malah masih berbaik hati mengantarkannya pulang.

.

.

.

.

.

.

Di sebuah keramaian Kota yang tidak akan padam walaupun hingga malam hari, sebuah mobil silver ikut membelah jalanan bersama mobil lainnya yang berlalu lalang. Mobil silver tersebut beda dari mobil kebanyakan pengantar pelaku masyarakat biasa yang hanya bekerja di kantoran ataupun toko-toko di jalanan.

Mobil silver itu mengantarkan seorang artis populer yang terkenal hingga seantero 7 benua. Bersama salah satu fansnya yang hanya duduk termenung, mendandani jalanan dengan pandangannya yang suntuk.

"Jadi, kau bersekolah dimana?"

Daehyun pada akhirnya memecah keheningan duluan sebelum dilanda bosan 7 turunan seolah dirinya sedang mengantarkan 'angin malam' pulang. Anak yang tadinya tukang cerewet dan mengomel-ngomeli nya, menjadi sangat pendiam. Daehyun jadi kangen dihina-hina anak muda di sampingnya ini.

"SMA Jaehun"

"Itu nama SMA , apa nama artis? Hahaha.."

Bukannya dibalas tawa juga ataupun decihan tidak sudi, Youngjae malah kembali diam. Daehyun ragu ia bahkan masih bernapas di suasana setenang ini.

"Apakah kau sediam ini bersama teman-temanmu?" ungkap Daehyun dengan nada sedikit kesal.

Bukannya Youngjae tidak tertarik dengan ajakan Daehyun untuk mengobrol padanya. Hanya saja Youngjae ada di masa-masa tidak bisa mengendalikan perasaannya, berada berdua saja di dalam sebuah mobil kedap suara(bahkan suara klakson pun daritadi tidak terdengar?!), yang ditemani hanya hembusan nafas pemuda itu.

Ia sangat canggung, nerveous . Siapapun yang berada di perannya-duduk di jok depan bersama seorang Idola terkenal berdua saja, dan diajak mengobrol-pasti hidup putus asa seolah menahan sakit perut.

Itu yang Youngjae rasakan, dan ia tidak mau ketahuan gerak-geriknya oleh Daehyun.

Drrrtt

Selagi mobil sedang berhenti karena lampu merah, Daehyun segera meraih hp nya yang bergetar. Ia melihat ucapan dalam bentuk tulisan-tulisan digital itu untuk menyuruhnya menyalakan radio.

"Ada apa lagi, sih?" Daehyun pun segera menyalakan radio.

/Kehebohan sudah menghiasi dunia hiburan dengan kabar bahwa salah satu member BA, Jung Daehyun, memiliki hubungan dengan seorang artis berparas cantik, Shim Yoona. Ini bukan kali pertama vocalist bersuara malaikat tersebut dikabarkan memiliki jalinan asmara dengan wanita cantik dan berpengaruh di ranah Entertaiment. Lagi-lagi, Dispicht menangkap basah Daehyun baru saja menghabiskan waktu bersama artis berdarah setengah Austria tersebut.

Berdasarkan penelusuran Dispicht, diwartakan Naher, Daehyun dan Yoona rupanya sudah mulai berhubungan sejak Oktober 2016. Keduanya awalnya hanya menikmati kencan di dalam mobil, menikmati keindahan Sungai Han, Korea Selatan.

Padahal tidak berlangsung jauh dari kabar panasnya Daehyun bersama seorang model ternama, Shina, rupanya sudah membuat skandal terbaru lagi. Bahkan mendekati seorang artis yang baru saja dikabarkan akan melangsungkan pernikahan keduanya pada.../

Daehyun mematikan radio secepat ia melajukan mobilnya. Ia menggertak gigi. Sementara Youngjae melongok kaget dengan kabar yang didengarnya.

"Memangnya salah Shim Noona ngobrolin soal pernikahannya di Sungai Han, Goddamit!" Daehyun melampiaskan kemurkaan dengan meninju kemudi.

Melihat lelaki putus asa itu mengamuk, Youngjae semakin salah tingkah dihimpiti keadaan. Ia menjadi serba salah harus ikut ambil bagian dalam melayani emosi meledak-ledak Daehyun.

Sekalipun Youngjae juga ikut kesal karena lagi-lagi skandal baru dibuat lelaki di sebelahnya, tapi ia bahkan tidak bisa membuka suara untuk mengolok-ngolok lagi. Ia seperti merasa bahwa kali ini Daehyun tidak bersalah, melihat wajah gusar nan menyedihkan nya seperti ingin menangis.

Apa yang harus Youngjae lakukan?

"Da-Daehyun, berhenti disini saja, ya."

Tidak banyak basa-basi, Daehyun sudah memarkirkan mobil di depan sebuah gang. Sekalian saja untuk mengistirahatkan pikiran dan jiwanya yang sedang bersih tegang. Tidak ada orang di sekitar perhentian.

Youngjae mengamati Daehyun yang sedang menenangkan diri. Baguslah, ia masih bisa mendinginkan pikirannya. Youngjae juga ingin ikut berperan untuk membantunya, jika ia tidak keberatan diganggu.

Youngjae menyalakan sesuatu dari HP nya.

Lagu solo yang Daehyun mainkan, di konser yang sebelumnya diadakan.

Memecah keheningan dan perdebatan hati yang gundah, untuk malam itu.

Siapa sangka, suara lagu itu tidak mengalun sendiri, melainkan ikut dirangkai dengan suara merdu seadanya milik Youngjae. Yang dengan mengejutkan, ia hafal liriknya dari baris pertama hingga akhir.

Daehyun sampai tertegun sekaligus tercengang dengan pendengaran dan batinnya yang menganggap 'Bukankah aku selalu dianggapnya tidak ada ya di BA? Kenapa ia simpan laguku?'

Tapi ia tidak ingin menjelekkan Youngjae. Ia sedang terpana hingga senyumannya yang lembut tersungging sendiri. Perasaan nya berubah drastis menjadi sebuah simponi yang merekatkan perban untuk kekecewaannya.

"Bagus juga suaramu." puji Daehyun. Membenamkan wajah Youngjae yang sedang malu-malu tak karuan.

"A-aku hanya suka lagu itu darimu.." respon Youngjae sambil mengalih pandang. Malas dilihat-lihat terus oleh Daehyun hingga wajahnya merah padam.

"Ya, setidaknya ada 1 lagu tentang aku di hp mu." Daehyun terkekeh bermaksud menghibur. "Jadi, bisa kita lanjutkan perjalanan?"

Youngjae sudah memutar kepala kembali ke jendela, dan menikmati pandangan ke jalanan di sampingnya dengan bibir sedikit tersenyum, yang pasti Daehyun tidak sempat melihat moment tersebut.

"Ya terserahlah.."

.

.

.

.

.

.

.

.

"YOUNGJAE!" wanita paruh baya itu sampai tidak mengetuk lagi pintu untuk masuk ke kamar puteranya. Karena sejak dari tadi ia memanggil nama anaknya tersebut, tidak digubris-gubris sampai ia harus capek-capek menyusul ke kamar atas.

"Aigoo~ Baru pulang langsung tidur saja. Mandi juga belum." Wanita itu geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang barusan diantar seseorang pulang. Melihat tubuh lelahnya yang sudah bersatu dengan ranjang, tidak tega untuk dibangunkan.

"Pantas saja tidak dengar." Wanita itu menghampiri si Anak, menyadari dirinya tidur dengan headset masih terpasang.

"Apa sih ini?" ia mengamati isi yang tertera duluan di layar monitor HP nya.

Now Playing : Jung Daehyun (BA)- Shadow

"Halah, dasar. Gila sekali anak ini dengan boyband itu, sampai-sampai di bawa tidur." dan wanita itu mematikan permainan musik tersebut dengan menekan tombol yang ia tahu, dan meleraikan pemuda itu dengan alunan yang menghiasi mimpinya tersebut.

Lampu kamar pun dimatikan.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya

"Aku ingin mengungkapkan rahasia terbesarku."

Junhong maupun Himchan saling bertatapan. Kedua mata mereka membelenggu ekspresi Youngjae yang tengah dihiasi senyum kebengisan. Ingin rasanya berlaku curiga, jika saja Youngjae sanggup dianggap melakukan kejahatan.

Apakah benar ia kali ini baru saja melakukan penyerangan pada haters idolanya?

Semoga tidak lagi...

"Karena kalian sahabatku yang paling polos dan paling tutup mulut. Aku percayakan hal ini pada kalian." Alis nya naik turun. Lekukan mata dua pemuda manis lainnya, menjadi segaris karena heran. "Kalian harus panggil aku 'MASTER-SAMA' setelah ini, ok?"

"Berhentilah berceloteh, Hyung. Aku pegal harus berbungkuk untuk bersejajar tinggi badanmu."

Seketika pukulan di ceruk leher belakang Junhong kena amblas.

"Ini lihatla-"

"Tuan Muda."

Tiba-tiba seorang pria dengan setelan kemeja sangat rapih menginterupsi percakapan mereka.

"Wongjun Hyung?"

"Maaf, Tuan. Saya disuruh untuk menjemput Tuan lebih awal karena Nyonya ingin bertemu dengan Anda."

Kedua mata Junhong melesu, ia merasa tidak enak jika sudah mengangkat masalah Ibunya. Apa lagi yang Beliau ingin minta darinya?

"Maaf aku harus segera pulang." ijin Junhong, yang hanya bisa diterima dengan anggukan oleh dua sahabatnya yang tidak bisa ikut serta. Junhong itu memang suka misterius kalau masalah hal pribadi, jadi mereka mengusahakan tidak akan ikut campur jika tidak diinginkan.

"Anak itu kok suka kelihatan sedih ya kalo dijemput supirnya? Bukannya enak dilayanin seperti pangeran begitu?"

Himchan hanya diam. Matanya ikut melihat mobil itu telah melaju menjauh meninggalkan mereka. Ia sebagai sosok yang cukup dekat dengan Junhong, bahkan belum bisa mengorek masalah anak itu. Walaupun ia sangat ingin. Apalagi sebelumnya ia pernah memergoki Junhong masuk ke pakaian wanita, dan perlakuan anehnya bersama supirnya itu.

Ada beberapa teka-teki yang ingin ia ketahui.

"Sudahlah. Biarkan saja si Tuan Muda merepotkan itu dengan urusannya, dan aku belum usai memberitahu-"

Himchan menangkap siluet tubuh bersandar di sebuah mobil yang tidak asing. Pria berkacamata hitam, dan kepalanya menengak-nengok keadaan sekitar dengan sedikit gelisah.

"Mungkin, nanti saja kau beritahu, ok? Ada yang mau kutemui."

Himchan tepuk bahu Youngjae yang melongok seperti orang bodoh, ditinggali satu sahabatnya lagi, yang berlari mendekat ke sebuah mobil dengan seseorang bertubuh tinggi tegap nan sexy menyambutnya dengan sangat antusias ketika Himchan mendekat. Entah mereka berbicara apa sesingkat sekali kedipan mata, sampai keduanya masuk ke mobil yang Youngjae rasa familiar.

"Ada apa dengan semua teman-temanku ini!? Mereka dijemput dua mobil mewah, dan aku ditinggali jalan kaki sendiri?!" Youngjae sampai menendang kesal tanah yang dipijakinya dengan sepatu sekolah. Ia kesal dianggurin tiba-tiba begini. Apalagi aksi pamernya malah tidak jadi..

Namun itu tidak berlangsung lama..

TIN TIN

"WTF?!" Youngjae terkesiap. Hampir saja tubuhnya akan dihantam dari belakang oleh sebuah mobil sedan hitam.

Dengan rasa badmood yang menghampirinya, tentu tidak dipungkiri bahwa ia siap menendang kasar bumper mobil lagi. Ini sudah yang kesekian kalinya dirinya hampir ditabrak mobil oleh-

"EH JANGAN! JANGAN LAGI! ini punya orang, dasar Pemarah!"

Daehyun?! Youngjae sampai harus mendekat ke arah jendela yang terbuka dimana si pengemudi memunculkan keberadaannya. Ia tidak tuli untuk mendengar suara mendumel yang khas itu.

"Ngapain kau kemari?!" Youngjae meraung kalap. Daehyun di dalam mobilnya langsung panik menuntut diam si Youngjae yang tak bisa mengerem volumenya.

Ia menyesal karena tidak lihat situasi dalam melakukan 'candaan' kalau ternyata Youngjae mudah kena efek PMS seperti gadis belia.

Orang-orang jadi memperhatikan Youngjae yang lagi marah-marah. Dikira mereka bahwa Youngjae sedang tuntut pengemudi yang hampir menabraknya dengan besaran nominal uang.

"Aku jemput kau. Ada yang mau kubicarakan."

"Hah? Tidak mau! Jadwalku cuman untuk malam hari mulai jam 5, dan ini-"

"Ada Yongguk! Ya, ada Yongguk. Dia ingin makan sup ikan bening hari ini."

Youngjae langsung mengerem kebawelannya setelah disumpal dengan nama 'Yongguk'. Tentu bukan suatu hal yang harus disepelekannya. Ini adalah kesempatan emas! Seorang 'Yongguk', mau makan masakannya!

Persetan dengan yang mengajaknya adalah salah satu member BA yang sangat digilai para wanita. Siapapun yang melihatnya dijemput si artis muda itu, pasti akan membunuhnya dengan belati kecemburuan.

"Oke! Kita perlu belanja kalau begitu."

Youngjae pun melesat masuk ke dalam mobil-entah-punya-siapa yang tengah dikemudikan Daehyun. Pikirannya hanya melalang pada satu tujuan, yaitu membuatkan sup bening kesukaan Yongguk.

Sedangkan lelaki di sebelahnya bisa ambil nafas leluasa setelah membungkam comelan Youngjae yang sudah meningkatkan rasa malunya beberapa waktu lalu.

Tapi masalahnya belum berakhir,

karena nanti ia harus menjinaki lagi si Youngjae yang sebentar lagi akan tahu,

bahwa Yongguk tidak ada di dorm,

dan tidak pernah meminta sup bening ikan,

ia malah lagi berkencan dengan Sahabatnya sendiri,

Himchan.

.

.

.

.

.

"Ibu mengundang Jongup ke rumah saat ini?!"

Junhong mendadak tegang. Ia jadi susah berpikir jernih dan memperhatikan sekitar dengan sangat khawatir. Apa yang harus ia lakukan?!

"Maka itu saya menjemput Tuan lebih awal. Karena saya tidak ingin Tuan belum siap bertemu dengan Tuan Jongup dan Nyonya Besar."

"Ta-tapi Jongup selalu bilang kalau ia punya acara pertemuan denganku! Kenapa ia tidak bilang sama sekali?!"

"Nyonya sepertinya menghubungi secara pribadi dan juga tiba-tiba pada Tuan Jongup."

Junhong segera merogoh sesuatu di dalam tas sekolahnya. Mencari telepon genggamnya. Ingin menghubungi Jongup dan memastikan. Namun tangannya terus bergetar panik, hingga tak sanggup menekan angka.

A-aku tak mau secepat ini Jongup tahu aku hanyalah anak laki-laki... Aku tak mau Jongup melihatku seperti ini!

"Apakah kita punya waktu untuk pergi ke salon dan toko pakaian mencari beberapa gaun?"

"Ta-tapi, Tuan. Anda tidak mungkin berdandan langsung di tempat itu. Mereka akan tahu bahwa-"

"Aku tidak ingin Jongup sekalipun memergokiku dengan seragam laki-laki, dan terlihat normal. Aku harus menjadi Juyong."

Wongjun hanya bisa melihat siluet wajah sedih Junhong di belakang mobil dengan prihatin melalui kaca spion. Sebegitunya majikan nya itu ingin terlihat sempurna di depan lelaki yang tidak akan bisa ia cintai. Walaupun hinggap rasa aneh di diri Wongjun dengan pemikirannya itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mematuhi.

"Saya akan belikan beberapa gaun. Tuan tunggu di dalam mobil saja. Saya juga akan carikan salon kecantikan yang bisa diajak kerja sama merahasiakan identitas Tuan."

Junhong pun mulai mengurai senyum. Rasa optimisme nya melegakan perasaan Wongjun.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau ingin ajak aku ke tempat rekreasi?"

Jongdae mengangguk semangat. Matanya fokus sekali ke depannya, dan tangannya antusias membolak-balik pengemudi untuk menemukan jalur tercepat. Saat ini ia hanya fokus untuk mencari tempat terbaik menghabiskan waktu bersama Himchan lebih lama,

kalau perlu sampai Pagi hari.

Karena ia selalu gagal menemukan waktu terlama bersama lelaki yang dicintainya. Dan ia juga sedang mencari penangkal rindu nan sakit hati karena dikhianati ayahnya sendiri.

"Ini tiba-tiba sekali, Jongdae-ssi."

Jongdae sedikit melirik Himchan di sebelahnya yang tertunduk. Oh, betapa imut tingkahnya saat ini. Ingin sekali ia memeluknya, dan menjejalkannya ke bangku belakang untuk ia setubuhi.

Tidak, ia bisa dituduh jadi pelaku penculikan dan pemerkosaan siswa SMA yang dapat Ijazah saja belum.

"Maafkan aku, Himchan. Ini sebagai permintaan maaf ke sekian karena seringkali aku melarikan diri dari pertemuan kita yang harusnya bisa lebih lama. Kali ini kujanjikan, kau akan lebih kenal diriku luar dalam."

Himchan tersenyum. Ia anggapi saja perlakuan Jongdae yang seperti kebelet mencari wc ketika menyetir. Namun menurutnya, itu adalah hal lucu. Jongdae memang seringkali bertingkah aneh, tapi juga sangat baik padanya. Mungkin tidak apa-apa sesekali menghabiskan waktu berdua saja.

"Kau mau makan apa sampai disana? Aku traktir."

"Apa saja yang penting Jongdae-ssi, mau menemaniku."

CKIIT

Serangan rem dari kaki Jongdae hampir membuat keduanya terlempar ke depan dengan sangat keras. Jongdae untung masih sangat berkosentrasi, dengan kemacetan di depannya.

"Astaga hampir saja." Himchan menggumam syukur.

Namun tidak untuk Dada Jongdae yang terus berdenyut cepat. Kejutan rasa di dadanya bukan karena aksi mobil yang hampir ia tabrakkan, melainkan rasa tak sanggup menerima perlakuan manis tiada ampun yang barusan diterimanya seperti panah asmara barusan menancap ke jantungnya.

Ia mengamati wajah Himchan di sampingnya yang masih sedikit cemas.

Melihat tingkahnya, Jongdae selalu berimajinasi liar. Kulitnya yang mulus menjadi serupa kue bolu yang baru dikeluarkan dari oven, atau bibir merah penuhnya seperti strawberry segar yang baru dipetik.

Ingin sekali ia lahap dalam sekali 'lumatan'.

.

.

.

.

.

.

Jongup memijat jari jemarinya dengan sikap khawatir. Ia pandang sekitar, keadaan rumah yang terlalu luas ia hadiri. Memang ia tidak sendiri, untuk ukuran ruang makan yang seluas 1 supermarket. Banyak pelayan-pelayan rumah bolak-balik menyediakan menu, menuangkan minuman, merapihkan serbet-serbet. Keadaan ini sangat canggung. Jongup biasa lihat pelayanan seperti ini ketika ia menonton film dengan latar 'Kerajaan'.

Keluarga Choi benar-benar luar biasa.

"Jangan sungkan. Sambil menunggu Juyong, minumlah wine terbaik kami yang telah disediakan."

Gyun baru saja datang dan duduk di singgasananya. Kursi diseret , dituntun salah satu pelayan berpakaian seperti Butler. Jongup hanya tersenyum getir. Takut di depan tuan rumah ia malah ceroboh menjatuhkan gelas wine nya yang dibuat dari kaca eksklusif milik Swiss.

Mahal harganya. Seharga ginjal manusia.

Makanya Jongup beralih untuk tidak menyentuh apapun sejauh ini.

"Anakku masih duduk di bangku SMA kelas 3. Ia akan pulang sebentar lagi."

Jongup hanya berangguk paham. Walaupun baru kali ini ia tahu bahwa gadis yang akan dipinangnya itu masih di masa-masa sekolah nya.

Malah seharusnya ia kira anak itu masih SMP.

"I-Ibu?"

Yang ditunggu akhirnya datang.

Jongup hampir saja melompat dan menyerukan nama 'Juyong!?' jika saja Gyun tidak sedang mengawasi dengan tingkah duduknya bak Ratu.

"Lama sekali kau datang, Puteriku." Wanita itu menyelidik penampilan Juyong dari tumit kaki hingga ujung kepala. "Rambutmu terlihat berbeda."

"Ah.." Juyong tidak akan bisa mengaku jujur bahwa wig nya kali ini bukan limited edition seperti yang ia punya. Bentuknya agak kasar, jadi terlihat tidak sama. Tapi juga tidak terlalu berbeda.

Nanti juga sang Ibu lupa, jika bisa ditepis dengan alasan, "aku barusan ke salon agar rambutku terlihat berisi."

Gyun tanggapi biasa saja, tidak tertarik. Sementara Jongup akan selalu terpukau dengan penampilan si Gadis. Ke Salon demi dirinya? Sweet sekali.

Juyong duduk di bangku yang berhadapan dengan Jongup. Beberapa saat mereka bertemu pandang dan melempar senyum. Gyun merasa puas dengan pemandangan di hadapannya. Tidak perlu pemaksaan untuk membuat keduanya kasmaran.

"Bagaimana dengan sekolahmu, Sayang?" Gyun mulai melempar pertanyaan basa-basi. Agar tidak terus merasa diasingkan.

"Ah, baik. Nilaiku masih bertahan yang terbaik di kelas."

"Bagus. Anak Ibu memang selalu yang terpintar."

Jongup sampai terpesona menanggapi pernyataan Juyong barusan. Ia kembali tahu fakta lainnya bahwa si Gadis rupanya sangat pintar. Pastilah timbul rasa bangga.

"Jadi, ada alasan kenapa Ibu mengadakan pertemuan seperti ini secara mendadak."

Kedua kepala saling mengarah ke posisi yang sama. Wajah mereka berubah penasaran.

"Ibu ingin tanggal pertunangan kalian segera diputuskan."

Hening beberapa saat..

Jongup kaget bukan kepalang.

Wajah Junhong justru berubah muram.

"Kita tidak bisa melarutkan diri akan perjumpaan yang tiada kejelasannya. Kalian harus segera memutuskan tanggal pertunangan."

Jongup pun mengamati wajah lesu Juyong. Dikiranya bahwa si Gadis belum siap jika dilangsungkan terlalu cepat.

"Saya kira mungkin 2 minggu saya sudah-"

"1 bulan!"

Dua kepala langsung fokus ke wajah cantik Juyong.

"Jongup dan aku sudah mengobrol panjang sebelumnya. Dan 1 bulan adalah waktu yang pas untuk kita mengikat janji."

"Benarkah?" Mata Gyun cukup galak menghardik kekeliruan seseorang. Jongup saja hampir takut mati ditatap serius oleh calon mertuanya itu.

"I-iya. Kami perlu pengenalan lebih dekat satu sama lain. Kemistri kami akan semakin cocok jika kami melangsungkan kencan 1 bulan penuh. Biar kami juga semakin tidak ragu menentukan tanggal pernikahan"

Gyun pun menghela nafasnya. Otaknya yang penuh bimbang menjadi lebih leluasa. Ia tegak secangkir wine nya dengan anggun.

"Baiklah, jika itu sudah kemauan kalian."

Dua senyuman saling terlempar dari arah berlawanan. Jongup dan Junhong menjadi lebih percaya diri dengan keputusan bersama yang mereka jalin walaupun penuh kejutan dan tidak terencana sesuai yang mereka ungkapkan.

Jongup tenggelam dengan bayangan 1 bulan ke depan bisa mempersunting Juyong. Senyumnya tidak bisa pudar juga.

Sedangkan Junhong berlainan.

Ia tertunduk dengan perasa kelu.

Mungkinkah ia siap bahwa 1 bulan ke depan ia malah kehilangan Jongup selamanya?

.

.

.

.

.

.

Jongdae mengetik cepat-cepat balasan untuk seseorang di HP nya. Beberapa kali lidahnya melentik, dengan perasaan tak senang.

Sesudahnya, ia mengaktifkan silent untuk panggilan-panggilan tak berguna yang datang. Ia sama sekali tak ingin diganggu kencannya dengan sang Pujaan Hati.

Ia susuli Himchan yang tadinya menawarkan diri untuk membeli tiket duluan.

Di cuaca yang tidak cukup panas karena matahari sebentar lagi akan tenggelam, Himchan berdiri menunggu di bawah tiang penunjuk arah. Dari kejauhan, Jongdae tersenyum dengan rasa syukur. Ia ingin sekali berdoa dan berterima kasih pada Tuhan karena Himchan dilahirkan dan dikenalkan untuknya.

Ia berubah menjadi penganut agama yang baik , karena tak pernah berhenti berdoa.

"Sudah kau beli, Himchan?"

Himchan memanggut , dan mengulurkan 1 tiket.

Kulit mereka bersentuhan, Jongdae sengaja.

Sampai di dalam, mereka disambut banyak permainan tak terduga. Banyak orang hilir mudik, meramaikan acara. Ada sepasang kekasih, 1 keluarga, atau bahkan berkeliling sendirian. Semuanya menjadi khitmat dengan kemauan mereka.

"Aku belum pernah kemari." Himchan mondar-mandir melihat sekelilingnya. Ada banyak sekali wahana yang begitu asing.

Lihatlah! Ada kapal tanpa nahkoda yang berayun di udara.

Lihatlah! Ada roda berputar besar yang tersangkut di tiang dan membawa banyak orang.

Lihatlah! Ada kuda-kuda pendiam berjungkat jungkit dan berputar seirama dengan alunan lagu yang dimainkan.

Lihatlah! Ada orang berteriak ketakutan di dalam sebuah ruangan misterius.

Lihatlah...

"Kau ingin main yang mana?"

Menghentikan ketakjuban sang Permaisuri, Jongdae memilih merangkul Himchan di pundak agar mendekat dan tidak menjauh karena rasa penasarannya. Kalau sampai hilang, Jongdae yang repot. Bisa-bisa ia bertengkar hebat dengan Information Center karena panik tidak bisa mempertemukannya dengan kekasih Pujaan di waktu yang singkat.

"A-aku tak tahu, Jongdae-ssi. Aku belum pernah kemari, dan aku bingung mau main apa."

Lucunya, kepala Himchan masih tengak-tengok seperti bandul.

Kiri-kanan, Kiri-kanan.

Jongdae tertawa cekikikan melihat setiap perlakuan pemuda di rangkulannya itu.

"Main itu, sanggup?"

Himchan ikuti tunjukkan jari ke atas menuju sebuah wahana kereta luncur mengenaskan yang membawa banyak orang di lintasan berkelak-kelok tidak jelas. Mereka terlihat histeris. Entah merasa puas, atau malah berteriak minta tolong. Yang berbaris di bawah malah ketawa-ketawa sendiri, seperti menertawakan aksi kematian di kereta yang belum mereka rasakan.

"Jong-Jongdae-ssi.." nada Himchan jadi bergetar. "Itu apa? Kok menyeramkan, ya?"

Jongdae mau jujur kalau sebenarnya dia suka wahana menantang. Roller coaster adalah mainan idamannya, seperti ramen favoritnya (perbandingan tidak cocok).

Namun dilain alasan, ia ingin sekali Himchan menuangkan semua rasa takut dan khawatirnya hanya pada dirinya. Kalau kena peluk erat, itu bayaran setimpal dari rasa mual di atas kereta. Bukan begitu?

"Seru. Aku sering naik kereta itu."

"Ta-tapi.." Himchan mengigit bibir. Kok tampaknya meragukan?

"Haha.. aku bercanda"Jongdae menurunkan rangkulan pundak, menjadi sebuah genggaman tangan menguatkan.

Ia tidak mungkin main wahana tersebut jika tidak ingin identitasnya ketahuan. Kacamatanya nanti bisa diminta lepas.

Namun ia akan selalu berharap suatu saat ia bisa mengajak Himchan melintasi angin bersama di RollerCoaster , dengan ajakan dari 'Yongguk' sendiri.

"Kita cari permainan yang lebih mudah , dan kau pasti menyukainya."

Kedua tubuh pun berlalu mengikuti keramaian.

Sedangkan sebuah HP terus berkedap-kedip di dalam saku celana.

.

.

.

.

.

.

Tubuh Junhong berayun. Ia tengah memainkan ayunan yang dibangun di taman pribadi milik keluarganya. Taman yang menjadi lokasi paling terkenang di masa kehidupan kakaknya, Choi Juyong-yang sebenarnya.

Ia amati sungai kecil buatan yang melintas di bawah undakan menggunung di depannya, sengaja dibangun untuk menjadi kolam ikan , sekaligus airnya mengalir untuk tanaman-tanaman air yang dipuja sang Ayah.

Kalau saja sang Kakak masih hidup, bukankah dirinya yang akan duduk di ayunan ini sambil duduk mesra bersama calon suaminya, Moon Jongup? Yang sebentar lagi akan datang membawakan teh hangat yang sengaja ia ingin buatkan sendiri untuk si Calon Istri?

Lagi-lagi hati kecil Junhong berpelik. Ia merasa sakit dan bahagia dalam 1 waktu.

"Ini tehnya."

Baru sadar bahwa Jongup sudah sedari tadi di dekatnya, menyudahi teh buatan sendiri. Ia tadi memang sengaja menawarkan diri untuk membantu salah satu pelayan membuatkan teh untuk mereka berdua. Katanya sih, 'Buatan ku di dorm selalu jadi andalan para member, loh'

Dasar Moon Jongup...

Junhong menerima uluran. Ia hirup aroma teh segar di tangannya, yang menjadi pengobat luka hati. Ia jadi bisa sedikit melupakan kesadaran pahit bahwa sesungguhnya ia berada dalam permainan tak kasat mata.

"Kenapa kau langsung menepik dan menyatakan untuk menjalani hubungan ini selama 1 bulan tadi?" Jongup menyesap minumannya. Arah pandangannya ikut lurus pada si Sungai Kecil. "Padahal 2 minggu pun aku sudah bisa-"

"Jongup"

Teguran manis si Gadis, nampaknya membuat Jongup harus berhenti tenggelam dengan kekecewaan.

"Kau bilang sendiri, bukan, bahwa mencintai itu merupakan komitmen yang cukup besar. Aku bahkan belum berhasil membuatmu jatuh cinta padaku. Menurutku 2 minggu tidak cukup untuk aku merubah rasa 'suka' mu padaku menjadi sebuah cinta 'yang berkomitmen'."

Jongup hanya terdiam. Larut saja dengan tanggapan Junhong seperti gula-gula di dalam tehnya.

"Aku pun juga begitu. Tidak akan secepat itu jatuh cinta padamu."

"Sayang sekali, ya." Jongup tersenyum, ikut menyambut tenggelamnya matahari sore. "Padahal aku sudah sangat bersemangat sekali."

Semangat dalam diri Jongup, adalah irisan hati yang mengikir sekali untukJunhong. Seakan menjadi setengah potongan, setengah hati menjadi sebuah ungkapan syukur bahwa Jongup mulai mengakui adanya tumbuh 'rasa' ke Junhong.

Setengah hati lagi adalah rasa penolakan karena didorong kenyataan.

"Aku ingin sekali 1 bulan ini tidak terbuang sia-sia, Jongup." Junhong akhirnya bisa dengan leluasa menegak tehnya. Walaupun kerongkongannya masih sedikit gatal, namun ia paksakan.

Toh, 1 bulan memang adalah waktu yang sepatutnya tidak disia-siakan. Untuk membuat moment panjang berdua yang penuh kenangan.

Karena sesudahnya, Jongup dan Junhong memang tidak akan pernah bisa mengikat janji,

yang memang sudah terlarang.

.

.

.

.

.

.

"Youngjae, jangan ngambek dong"

Youngjae tidak mau juga menoleh kepala kepada si empu yang minta dikasihani.

Daehyun jadi serba salah. Ia yang kerepotan membawa plastik-plastik belanja yang begitu banyak tanpa sedikit bantuan, ditambah Youngjae yang malah diam seribu bahasa selama perjalanan setelah memiting lehernya di dalam mobil.

Tulang lehernya saja masih terasa ngilu.

Pemuda yang tadinya riang tadi, kembali dilanda moody sehabis menerima kebenaran yang terungkap. Luruh juga harapannya untuk memanjakan sang Pujaan. Luruh semua pujian-pujian halus yang diterimanya dari sang Pencuri Hati.

Yang ada, ia harus capek-capek memberi bogeman pada lelaki kurang ajar yang telah berhasil menipu daya dirinya.

Kalau tidak karena kewajiban dan sebuah kontrak, maka ia lebih baik melarikan diri. Atau dirinya yang memang salah karena tidak melayangkan catatan dalam kontraknya bahwa tugasnya hanya ia berikan pada Yongguk semata? Yang malah dijadikan pemanfaatan oleh lelaki yang justru tidak sudi dilayaninya?!

Ingin sekali ia menampar diri sendiri.

Mereka terus kejar-kejaran menuju ke dalam dorm. Daehyun yang kerepotan ingin sekali menyusuli Youngjae, Youngjae sendiri malah lebih ingin mempercepat langkah agar jaraknya dengan si Muka Mesum lebih jauh.

"Halo?"

Youngjae mengerem langkah.

Daehyun juga.

Mereka melongok bersama ke arah ruang santai, dimana seseorang duduk.

Tamu tak diundang itu -yang tadinya asyik mengemil snack-melambaikan sapaan. Ia sama sekali tidak heboh karena merasa bersalah sudah mendobrak masuk tanpa seijin pemilik dorm.

"Di-diana?!" Daehyun dan Youngjae berseru bersama.

Si gadis berambut pirang panjang dan berpakaian serba hitam ala penyanyi rocker itu, berangguk kepala untuk menanggapi keduanya bahwa seruan mereka 'benar'.

Ia memang Diana. Si Rapper mendunia yang lagi jadi bahan pembicaraan karena konser besar suksesnya di beberapa negara.

Mata Youngjae diuceknya. Ia tak bisa berhenti memastikan bahwa pandangannya tak salah.

IA BERHADAPAN DENGAN RAPPER TERKENAL?!

"OH TUHAN!" Sudah merasa kepastiannya tak salah, ia pun mendekat dengan kaki rada bergetar. Tanpa sadar ia sudah berlutut di depan Diana dengan mata berkelap-kelip. "Ini benar Diana~"

Diana sendiri meneleng kepala. Memperhatikan si pemuda asing dengan bingung. Ia tidak kenal siapa pemuda itu yang sudah berlutut seperti seekor anjing poddle. Wajahnya manis, dan lucu.

Dan masih bau sekolah.

"Siapa kau, Nak? Dan kenapa kau bisa bersama Daehyun?"

Youngjae tak sanggup berbicara sepatah kata. Masih terpukau dengan keberadaan Diana yang suka jadi bahan pembicaraan para teman laki-lakinya.

Selain sexy, cantik, suaranya yang tegas dan berani, sikapnya yang dingin dan kuat, perlakuannya yang dewasa-

Youngjae masih memenuhi banyak pujian dalam kepalanya.

"Tuhan! Kenapa kau kemari tanpa bilang-bilang?!" Si Daehyun yang sudah menaruh belanjaan di tempatnya, menarik tubuh Youngjae menjauhi Diana. Dikira, takut kalau kegalakan Diana bisa menular ke Youngjae.

Takut kalau Youngjae ketularan, bisa berubah jadi Psikopat. Karena dua mahluk di ruangannya kini, punya sifat hampir sama. Cuman beda gender.

"Kita kan sudah tanda tangan kontrak. Jadi aku harus sering berkunjung untuk meningkatkan kemis-"

"LALALALALALALALA!" Daehyun mendekap telinga Youngjae , dan menarik mundur semakin jauh-jauh-dan jauhhh tubuh Youngjae hingga ia perangkap menuju ke kamar pribadinya.

Youngjae tepis tangan Daehyun dengan kekuatan penuhnya setelah mereka sampai di lokasi, hingga si pemilik tangan mengadu kesakitan.

"Kenapa kau melarangku dekat-dekat dengan Diana!?" Youngjae tuntut balik. Tidak sudi disembunyikan seperti ini.

"Ini urusan bisnis. Kau tidak boleh menguntit, karena kalau tidak akan jadi skandal besar. Kau ini kan juga disebut 'fans'. Kami sebagai artis , tentu saja masih tahu diri harus membatasi privasi kami dari seorang 'fans'."

Youngjae menyipit. "Hei! Itu diskriminasi namanya!"

"Tidak mau tahu. Pokoknya biarkan aku berbicara dengan Diana berdua saja. Kau disini, duduk manis di ranjangku, atau dimanalah kalau kau alergi dengan selimut beludruku. Asal jangan pegang aneh-aneh. Sampai aku menjemputmu lagi, dan menyudahi tugasmu."

Daehyun tutup mesra pintu kamarnya, menghalangi Youngjae mengeluarkan diri.

Tentu saja tindakannya membuat Youngjae dongkol hati. Namun ia tidak keberatan kalau harus diperangkap di dalam ruangan pribadi milik artis besar.

Kamar Daehyun terlalu luas untuk ditiduri sendiri. Bahkan bisa dibilang hampir seperti kamar suite Hotel. Ada wardrobe sekalian ruang ganti, kamar mandi, tv, sofa menghadap jendela, ranjang Half-King Size.

Gambaran kamar seorang konglomerat.

Youngjae jadi curiga. Jangan-jangan kamar ini sering disinggahi perempuan untuk ditidurinya.

Ugh dia ingin mual.

.

.

.

.

.

.

.

"Mulutmu dikontrol dulu dong sebelum bicara. Tidak sadar kalau tadi itu orang luar yang tidak tahu rahasia kita?"

Diana mendecak lidah, malas berargumen.

"Laki-laki tadi siapa?"

"Mau tahu sekali. Dia bukan urusanmu."

Diana memperhatikan isi plastik belanja yang dibawa Daehyun barusan. Semuanya penuh dengan bahan masakan. Seingatnya, Daehyun tidak pernah membuat makanannya sendiri.

"Jadi kau habis berkencan dengan laki-laki tadi?"

Daehyun mendelik galak, tidak terima. "Aku ini normal, brengsk. Kau yang 'tidak normal'. Dia hanya juru masak disini."

Diana menyungging seringai. Mudah sekali mengusik kebohongan seseorang.

Diana kemudian duduk di samping Daehyun yang masih belum lepas memandangnya dengan kecurigaan. Gadis itu tanggapi santai. Pemuda di sampingnya itu memang tidak pernah bisa bernafas lega jika di dekatnya. Sudah ia pelajari jauh lama , bahkan sebelum keduanya debut.

"Ngomong-ngomong, kau belum bilang kenapa kau bisa masuk kemari." Daehyun melotot.

"Siapa lagi yang punya akses selain aku dan 2 temanmu yang tampan itu?" Diana mengeluarkan sebuah kunci yang dengan cantik ia gantungkan pita hitam, dan gelantungan sebuah tengkorak mungil. Ia goyangkan seakan kepala tanpa balutan kulit itu tengah bersenang-senang hingga menari.

Daehyun sampai meneguk air ludah melihatnya.

Daehyun buang muka. "Aku harus benar-benar memperingatkan Dongwook hyung."

"Bukan itu masalahnya." Diana memasukkan kembali kuncinya, sembari mengangkat kaki ke atas meja tv, dan duduk berleha. Daehyun tak habis pikir dirinya akan memiliki kencan buta bersama gadis semacam iblis neraka ini. "Aku disuruh kemari juga atas kontrak. Mulai hari ini, aku harus lebih sering mengunjungimu, mengajakmu kencan, pamer kebahagiaan bersama, dan bahkan menidurimu."

Bola mata Daehyun terbelakak ingin keluar. Ia tatap horror gadis belia di sampingnya, yang serupa orang sinting dan bicaranya rada ngawur.

Dan Daehyun bukan 'perempuan' untuk ditiduri olehnya.

"Konteks paling akhir itu agak berlebihan. Aku tidak tertarik dengan orang 'tak normal' yang mengajak kencan seorang anak sekolah berduaan di dalam dorm nya."

"KAU YANG TAK NORMAL, BNGST!" Gigi Daehyun bergemelutuk, mengambil nafasnya untuk menenangkan diri. Gadis yang tak pernah ia anggap 'gadis' itu tertawa puas mempermainkannya. Menyerukan kemenangan setelah menjatuhkan harga diri Daehyun hanya dengan kata-kata.

Jika tidak karena kontrak, Daehyun sudah ingin membenamkan kepala Diana ke kuali masak, dan meminta Youngjae memasaknya. Ia tidak akan keberatan untuk melakukannya.

"Oh ya, 1 minggu lagi akan ada press conf untuk mengumumkan hubungan kita." Diana melirik. "Apakah kau siap meninggalkan perempuan2 'sepermainanmu' itu? dan berlagak acuh pada mereka?"

Daehyun kalem. Tidak ada suara untuk merespon ucapan Diana dengan marah-marah lagi. Sepertinya ia pun merasa bingung, seperti apa rasanya hidup tanpa menjadi seorang Daehyun yang tidak 'diembeli' perempuan di sekelilingnya.

"Oh ayolah,Dae. Aku kenal betul kau." Diana berdehem. Kerongkongannya terasa kering, karena si empu rumah tidak berbaik hati menyuguhkan secangkir minuman. Tak apalah, daripada ngambek lagi.

"Sejak dulu kau tidak pernah serius dengan perempuan2 itu, bukan?"

Daehyun mendesah maklum.

"Tsk. Kau terlalu memegang ucapanmu dari dulu. Daripada kau repot-repot melayani mereka yang sok-sok dekat denganmu karena popularitas, mending kau bersamaku, dan bermain sepuasnya."

"Lebih baik aku mati daripada menyukaimu, brngsek."

Diana tertawa kembali. Menyudahi candaannya kali ini. Ia terbangun dari dudukannya. Siap untuk meninggalkan tempat.

"Kau harus lebih serius, Daehyun. Jika kau tidak bisa menemukan perempuan yang kau seriusi, laki-laki pun tak apa. Daripada kau bermain-main hanya untuk menambal lukamu yang tidak sembuh juga seperti itu. Lebih baik kau cari 'obat' nya langsung. Kau mengerti?"

"Jangan sok bijak. Itu memuakkan." Daehyun kemudian termenung lagi. Tidak sudi untuk mengantarkan Diana sekedar ke pintu keluar. Toh Diana juga tidak keberatan, karena dia bukan perempuan manja.

Diana pun meninggalkan ruangan dengan Daehyun sendirian yang tertegun lesu entah sedang menguraikan rencana apa lagi. Si Gadis pun sudah pusing memperhatikannya. Dibaiki salah, dikerasi salah. Akan selalu begitu.

"Untung saja kau kenal aku sejak taman kanak-kanak, Kawan. Sesudah Ibumu, perempuan mana lagi yang bisa serius membantumu selain aku sendiri? Dasar Kutu Sialan."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kalau sampai dia berbuat macam-macam padaku, akan kusebar skandal tentang dirinya."

Youngjae masih saja terkikik asyik sambil tangannya geritilan ke antara barang-barang pribadi milik sang Artis. Tadi sudah di lemari, yang isinya tidak jauh dari pakaian mahal, aksesoris konser, ataupun alat-alat pesolek pria.

Nah, ia mencoba peruntungan dari nakas di samping ranjang. Ia hanya butuh barang-barang memalukan untuk bisa ia beritakan pada akun anonim nya, biar tahu rasa Daehyun. Mungkin kalo ia ternyata suka baca/nonton porno, apa sih preference nya terhadap hal2 mesum itu? BDSM? Raping? Orgy? Amateur? atau bahkan Furry?

(Jangan tanya darimana Youngjae tahu hal-hal itu)

Ia tidak menemukan sesuatu yang bagus sampai ke nakas teratas.

Semuanya tampak normal. Majalah yang ia temui , kebanyakan unsur mobil. Youngjae otomatis catat hobi laki-laki itu dalam otaknya, 'ia suka hal-hal berbau Automotif'.

Di nakas atas, ia menemukan pulpen, arloji mahal, dan sebuah kalung liontin.

Kalung liontin yang setaunya tidak pernah dipakai Daehyun, ia telisik isinya.

Sebuah foto gadis yang tersenyum. Cantik sekali wajahnya, dan anggun. Youngjae sesaat terkesima melihatnya. Ia tentu bukan artis, bukan juga seorang model. Tidak pernah ia melihat gadis itu di berita manapun yang telah ia tekuni di dunia Entertaiment.

"Pasti gadis simpanannya, atau mantan pacarnya?" Youngjae berkerucut bibir. Ia larut dengan segala ekspektasinya.

TAP tap

Youngjae terloncat kaget mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia segera memasukkan kembali liontin tersebut sembarangan, yang penting sudah kembali masuk ke nakas.

Dengan sigap dirinya melempar diri ke atas ranjang Daehyun [ia tidak sadar melakukannya]. Berpura-pura memejam mata. Menunggu laki-laki itu menegurnya.

Namun sampai Daehyun dipastikan benar-benar sudah masuk ke kamar, tidak ia temui desahan nafas kesal atau decakan sebal. Youngjae malah tidak tenang jadinya.

Kenapa kau diam saja, Daehyun?!

"Laki-laki emang boleh?"

Begitu ucapan yang terdengar pertama kali. Entah berujar apa maksudnya.

Yang pasti tubuh Youngjae tidak akan pernah tenang kalau Daehyun tidak segera menendang tubuhnya keluar dari kamar. Ia menanti saat-saat itu.

Tapi kapan?

.

.

.

.

.

.

.

Himchan memeluk erat boneka kelincinya, memperbaiki letak bando kucingnya, dan menghabiskan es krim pelangi di tangannya sambil dua matanya lirik-lirik seluruh tempat dengan sepuas hati.

"Himchan?"

Cklik

Himchan mengerjab saat flash kamera hp Jongdae mengenai wajahnya. Ada apa?

"Tadi itu apa?"

"Foto. Kau terlihat bagus sekali di kamera." Jongdae perlihatkan hasil jepretannya yang sungguh professional untuk sebuah tangkapan gambar Himchan secara tiba-tiba.

Tentu saja Jongdae tidak pernah ingin melewatkan moment, bahkan harus latihan terus agar foto blury tidak pernah terjadi saat pengambilan gambar.

Himchan tertawa senang melihat wajahnya sendiri yang telihat menggemaskan dengan lelehan es krim yang baru di sadarinya menempel di sudut bibir. Karena ia tak pernah difoto, atau pun memoto (bahkan HP saja ia belum punya), ia jadi terkagum2 sendiri dengan tampilan 2D di dalam alat canggih itu.

"Apa kau menyukai jalan-jalan hari ini?"

"Ya. Aku sangat suka." Himchan tersenyum lebar. Ia merunduk kepala, menengok pijakannya dengan tidak melepas senyum bermakna itu. "Aku belum pernah datang ke tempat seperti ini sejak dulu. Karena ini pertama kali, aku merasa sangat puas."

"Kenapa? Bukankah seharusnya anak remaja sepertimu senang datang ke tempat seperti ini?"

"Mana ada waktu. Aku biasanya sepulang sekolah akan langsung bekerja. Malamnya bekerja di bar. Kalau sorenya tidak ada part time, aku akan pulang dan membantu ibuku, kemudian kembali ke bar. Begitu terus." Kekehan Himchan melelehkan hati Jongdae. Matanya menatap lesu ke sembarang arah, malu melihat betapa kuat dan hebatnya Himchan di sampingnya.

"Tanpa aku harus datang kemari, memiliki uang untuk cukup menafkahi kami pun sudah menyenangkan."

"Kau sungguh hebat , Himchan." Jongdae tak bisa menahan diri untuk memuji. "Bahkan kau selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh untuk semua masalahmu."

"Untuk apa? Mengeluh tidak akan bisa merubah nasibku. Mengeluh itu hanyalah kata-kata putus asa yang keluar untuk melumpuhkan harapanku."

Jongdae terpukau dengan setiap kata yang melesak ke dalam telinganya. Ia rekam baik-baik dalam otaknya seperti lagu pengantar tidur yang sangat ia hafal.

"Jongdae-ssi pastilah sangat beruntung." Himchan pejamkan matanya, membayang dalam-dalam kehidupan Jongdae bagaikan mimpi-mimpi indah yang tak dapat ia raih. "Hidupmu pasti berkecukupan, namun dengan baik hati berteman denganku yang serba kekurangan."

"Kau tidak tahu banyak tentang aku, Himchan."

"Eh?"

Jongdae menghela nafas. Ingin sekali ia memeluk Himchan. Meneguhkan hatinya pada si Malaikatnya. Menumpahkan rasa malu,sedih, dan takutnya.

Semuanya.

Himchan ia posisikan berada di hadapannya. Di balik dua kaca, dua obsidian cokelatJongdae bersih tatap dengan dua mutiara hitam legam nan mengkilap.

"Kau sangat terbuka padaku. Tapi, tahukah kau siapa aku sebenarnya?"

di lingkungan yang cukup sunyi karena sore sudah berakhir. Karena langit mulai gelap, dan matahari sudah tertidur. Tidak akan banyak yang tahu jika wajahnya ia umbar di malam yang sunyi dan sendu.

Dunia seakan jadi milik berdua. Biarkan orang-orang yang sedang asyik melihat persiapan kembang api, sibuk di tepi sungai yang membentang. Namun ijinkan dua pasangan mata saling mengunci kukuh di belakang komedi putar yang sepi pengunjung ini.

"Aku ini.."

Ketika bibir Jongdae-bukan-Yongguk sudah mantap ingin menyapu bibir kenyal milik Himchan.

Ketika sudah semakin mendekat, dan entah kenapa dua mata Himchan ingin terpejam.

Ketika nafas dari ucapan Yongguk yang ingin ia usaikan menjadi 1 kalimat sempurna , menderu di hidung Himchan...

DDUARRR

DDUARRRRRR!

Pekikan orang mengudara. Suara desing, kemudian pecahnya ledakan menerpa keterdiaman.

Semuanya heboh dalam sambutan meriah yang membuat malam terjaga.

Dua mata Yongguk dengan sialnya tak sengaja bersentuhan dengan delikan tajam seseorang yang melipat tangan di dada. Berdiri menunggu di jarak kontras. Membisu, namun 1 tatap dalam dan lama, sudah mengajaknya berkomunikasi. Ia berada disana, ditemani 2 orang penjaganya di sisi kiri dan kanan.

Tubuh Himchan dihempaskannya agak menjauh. Ia tahan kuat bahu lelaki tercintanya, menumahkan rasa cemas. Ia tetap jaga agar tubuh rapuh Himchan tidak ia sakiti dengan dua tangannya. Biarkan ia mengambil nafas sejenak, dan menenangkan pikiran.

Bagus juga karena ada suara ledakan , menyumbat inderanya sementara.

"Jong-Jongdae-ssi? Kau tak apa?" Himchan memastikan deru nafas tak karuan Jongdae memiliki maksud. Ia ingin tahu kenapa.

Jongdae memaki diri. Tiga kesalahan ia lakukan dalam waktu bersamaan.

Pertama, ia tak sempat menyudahi kalimatnya.

Kedua, ciuman itu...

"Ayah..."

Ketiga, ia ketahuan oleh ayahnya sendiri.

Yang masih dengan tenang menunggu sang Putera ikut bersamanya dan memperjelas maksud tontonan gratis yang tak sudi (namun tak sengaja) ia lihat barusan...

.

.

.

.

.

.

.

.

Junhong antarkan Jongup sampai pintu depan. Di beranda masuk, keduanya saling melempar senyum malu-malu. Begitu nikmat rasa kasmaran. Keduanya takut mengucap rindu, namun juga tak ingin berpisah sedikit pun.

Seandainya 1 jam saja masih terasa 1 menit.

"Terima kasih sudah menemaniku." Junhong mengembang senyum anggun.

Jongup jadi terbuai, dan semakin menunduk malu memperjelas status 'perjaka muda' nya.

"Aku sebenarnya menyayangkan waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya beberapa hari ini aku akan sangat sibuk menggarap koreo baru untuk persiapan album baru kami."

Junhong terkejut. Baru dengar dirinya tentang hal itu.

"Tapi aku berharap kita masih berkomunikasi banyak."

Junhong tergelitik. "Aku akan selalu mengaktifkan HP ku."

Kemudian keduanya langsung melempar tawa.

"Aku juga harus mempersiapkan ujian akhir." Junhong tersenyum, namun alisnya bertaut kecewa. "Aku berharap 1 bulan ini tidak terbuang sia-sia."

"Tenang saja. Mungkin perasaanku semakin besar setelah 1 bulan berakhir. Kita akan punya waktu panjang setelah kita bertunangan." Jongup melebarkan senyumnya. Dua kepingan hitamnya jadi bersembunyi. "Jangan khawatir, ya."

Mungkin yang mendengar seperti sebuah gombalan. Mungkin juga harapan. Siapa yang tidak akan bahagia hatinya mendengar pengakuan lebih awal seperti itu? Seperti telah memperjelas kondisi hubungan mereka akan ke arah mana.

Namun tidak untuk Junhong.

Senyumnya tidak selebar rasa puas.

Lebih kepada paksaan.

Jongup tidak sadar itu.

"Sampai jumpa." dan laki-laki itu berlalu, akhirnya.

Membuat hati Junhong mengeruh kecewa.

Ia elus rambut palsunya dengan kekuatan yang tersisa.

"Seandainya Choi Junhong juga perempuan."

Ia menyudahi saja doa konyolnya, dan berbalik pasrah menuju ke dalam rumahnya.

Namun, dicegat oleh sosok Ibu yang berdiri sudah tepat di hadapannya.

Hampir saja Junhong terjungkal ke belakang karena sepatu heels pendeknya.

"Junhong?"

Mata bulat Junhong tidak pernah membelakak selebar itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


*sasaeng = fans fanatik Kpop

Kalau mau sekalian update di Wattpad , akun saya: Miramiyu

Atau add FB saya juga biar bisa berteman : Mira Miyu [Fujoshi] , Miyu Mira[Kpop]

Bawelin saya biar gak lupa update ya.. hehe

Review, Fav, Follow ditunggu 😊 Untuk kemajuan cerita menjadi lebih baik hehe~