My Idol, My Boyfriend
Himkyu's Present
BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo
Genre : Romance Comedy
Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
Chapter 11
Peluh bening mengucur di dahi dan leher Yongguk ketika melihat ayahnya mematung serta mendelik tajam ke 1 arah. Yaitu Yongguk sendiri. Yongguk bisa merasakan degup jantungnya menjadi terlonjak-lonjak. Bagaimana ini?!
Himchan di hadapannya justru meneleng kepala, menerka segala ekspresi yang dibuat oleh pemuda tampan di hadapannya. Mata Yongguk beberapa kali mengambil pandang sesuatu di belakang punggung Himchan, lalu kembali. Ekspresi tegangnya sulit ditangkap maksudnya.
"Ada apa?" sekali lagi Himchan bertanya. Ia mencoba menoleh mencari sasaran, namun pundaknya langsung ditahan. Tubuhnya dikonsen harus tetap menghadap ke arah Yongguk.
"Kita pulang, okey?"
Yongguk tahu bukanlah saatnya berbasa-basi dengan menyapa ayahnya dan memperkenalkan Himchan seperti calon istrinya.
Inilah saatnya Yongguk membawa lari lelaki pujaannya demi tidak kehilangan kesempatan kedua. Yongguk tahu ayahnya bukan macam orang tolelir yang akan langsung menerima keputusan puteranya. Selalu terjadi perdebatan.
Yongguk raih lengan kiri Himchan. Dengan cepat menarik tubuh itu seperti melayang begitu cepat, menghindari massa, dan melarikan diri sejauh mungkin sampai tak disusul. Mengabaikan es krim dalam genggaman pemuda imut itu jatuh ke tanah tak bersisa kembali.
"Hei!" penjaga pribadi mulai berteriak lantang, hendak berlari mengejar. Namun tangan pemimpin nya menahan laju. Sampai pria penjaga itu tersentak kaget. "B-boss?" Dia bingung.
"Biarkan dia. Aku tak mau pembicaraan kami diinterupsi oleh orang lain. Aku akan bertemu dengannya lagi , hanya kami berdua."
Baru beberapa saat menyudahi ucapannya, ia mendapatkan segera telepon masuk dari seseorang. Bukan seorang rekan bisnis, apalagi ucapan sayang dari sang mantan istri (itu mustahil).
"Halo?"
Suara menggerutu seseorang saja sudah terasa. Ia merasa kecewa, merengek, membuat jengah pendengaran Yongin saat itu juga.
"Akan Om pastikan keinginanmu terkabulkan, Chungha."
Dan telepon pun berakhir dengan suara decakan pria gagah itu.
.
.
.
.
.
.
"Aku akan terbunuh." Yongguk mencelos.
Himchan tak sengaja dengar, dan ekspresinya langsung ikutan panik. Ia pasti berpikir perkataan itu mengambil kutipan yang berbeda dari Yongguk pikirkan.
"Terbunuh siapa, Jongdae-ssi?!"
Yongguk tatapi Himchan dengan ledakan tawa setelahnya. Ia menganggap tingkah pemuda itu jadi semakin lucu.
"Tidak apa-apa." Yongguk mengasak rambut Himchan. "Kau tak perlu khawatir."
Himchan tersenyum lega.
Perjalanan mereka hanya dilalui dengan keheningan.
Yongguk lebih suka diam, begitu juga Himchan yang takut-takut memulai percakapan. Setiap kali ia tengok wajah pemuda di sampingnya, maka ia selalu melihat ekspresi tegang. Entah apa yang dipikirkannya sejak meninggalkan taman rekreasi tadi.
Yongguk diam. Ya. Ia sedang menduga-duga. Bagaimana respon ayahnya setelah pulang nanti? Tapi ia positif bahwa ayahnya belum mengenal siapa Himchan. Lalu alasanapa apa yang harus dilemparkannya kala menolak semua panggilan Beliau dalam sehari? (rasanya ia ingin membuang HP nya ke Sungai Han saja, agar tidak dilacak lagi).
Jika ia sedang berpikir positif, maka akan ditutup dengan pertanyaan mencemaskan lainnya. Ia mengalami bimbang.
"Jongdae-ssi? Bisa turun disini?"
Perjalanan harus diakhiri. Yongguk menghentikan mobil di dekat sebuah halte. Sebenarnya, rumah Himchan tinggal beberapa blok lagi. Entah kenapa pemuda itu memintanya untuk turun lebih awal.
"Kau tidak ingin di antar sampai depan rumah?"
Himchan terpaku ke hadapannya. Tidak bisa menjawab.
"Aku harus langsung ke bar."alasan yang bagus, Himchan bisa menepik dari alasan sebenarnya.
"Oh ya kau harus bekerja lagi?" Yongguk membukakan pintu untuk Himchan. Pemuda itu membungkukkan badannya sebagai rasa terima kasih.
"Ini adalah waktu yang sangat menyenangkan, Jongdae-ssi. Aku sangat bersyukur."
Yongguk membalas dengan senyuman. Ia pun ikut bersyukur bila hari-harinya yang singkat ini bisa begitu berharga untuk Himchan. Ia berharap sekali waktu-waktu ini akan semakin sering dilewatinya.
Himchan akan berlalu, namun dicegat. Rupanya Yongguk masih menyisakan beberapa perkataan sebelum ditinggalkan.
"Himchan, kau mau jalan-jalan lagi besok?" seruan Yongguk, buat Himchan kembali menghadapnya. Menghentikan langkah.
"Eh?"
Yongguk berharap-harap cemas.
Dengan tidak kuasa melihat ekspresi lelaki itu , mau tidak mau Himchan hanya bisa membalas dengan persetujuan ramahnya seperti biasa.
"Eum, ok?"
"YES" Yongguk mendeklarasikan rasa senangnya. "Aku akan mengajakmu ke tempat yang indah, Percayalah.."
"Kau akan jemput lagi aku di sekolah besok?"
"Tentu saja. Tunggu aku. Kau tidak kecewa dengan perjalanan besok."
Himchan mengangguk paham. "Baiklah, besok aku akan menunggumu." Genggamannya menguat pada boneka pilihannya. "Aku sangat menantinya, Jongdae-ssi."
Keduanya pun melepas senyum sampai jumpa.
Ya, sampai bertemu kembali.
Walaupun mereka pun tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika terlalu banyak berharap.
.
.
.
.
.
.
"Eum..."
Youngjae menggeliat di atas ranjang.
Matanya perlahan terbuka.
Beberapa menit mengondisikan matanya yang rada berkunang-kunang, ia langsung membelakak sempurna, dan menegapkan dari posisi tidurannya.
Dengan bergerak panik matanya berkeliling ke seluruh arah.
Sudah berapa lama ia tertidur?!
Ia melihat pada tubuhnya untuk memastikan.
Ia tersentak gemetar melihat seragamnya sudah ditanggalkan berganti dengan baju kaus.
"Hei, Bocah."
Youngjae segera melempar pandang pada Daehyun yang baru saja selesai berganti pakaian di wardrobe nya yang luas itu. Pakaiannya jadi lebih santai. Untung saja tidak lagi dengan handuk di pinggang, atau setengah telanjang lagi.
Namun hal itu tidak menepis kecurigaan pada yang dianggap sang Pelaku.
"Apa yang kau lakukan?!"Youngjae menyeret diri ke pojok ranjang, membawa serta selimut membungkus tubuhnya yang terasa telah dinodai.
Youngjae berhenti berucap dahulu, dan segera paham langsung ketika ingat bahwa ia ketiduran. Alih-alih menipu si Daehyun, malah terbawa ke dunia mimpi karena terlalu lama dibiarkan tergeletak di atas ranjang yang empuknya bukan main. Bagaikan obat bius, langsung melelapkan dirinya begitu saja.
"Apa yang kau lakukan padaku?!" Ia kembali menuntut tanya. Ingin segera dijelaskan.
Daehyun mendelik. Tidak suka dengan tatapan judging itu menerjangnya tanpa dasar yang kuat.
"Aku hanya mengganti pakaianmu."
"APA?! Ke-kenapa kau lakukan?! Dan kenapa kau tidak membangunkanku?!"
"Berapa kali lagi harus kubangunkan? Mana aku tidak tega menendangnmu jatuh dari kasur. Kau terus menggigau aneh-aneh, dan menikmati diriku membukakan baju untukmu." Daehyun memasang kancing-kancing piyamanya . "Ya, dengan sebutan 'Oh Yongguk, Ah Yongguk'."
WHAT? Youngjae terbelakak lebar. Ia merasa malu luar biasa, dan ingin dihisap tubuhnya ke dalam selimut dengan cepat. Mungkin rasanya tidur di ranjang Daehyun, seperti memeluk guling dakimakura* bergambar Yongguk yang berpose ingin menyetubuhi./?
Umurnya benar-benar rentan rangsangan dan imajinasi liar.
"Aku tidak suka saja kasurku bau keringatmu, jadi kubantu berganti pakaian. Sudah jelas? Apa perlu kujelaskan apa saja igauanmu tadi?"
"AH STOP STOP!" Youngjae membekap telinga. Ia tidak ingin ada suara-suara manapun memecah konsennya. Ia tidak ingin dibayangi terus oleh kebodohannya.
"Ini sudah jam berapa?" Youngjae mulai mencari topik lain untuk menenangkan sedikit jiwa raganya.
"Jam 11."
Semalam itu kah?!
Rupanya Tuhan memang sedang tidak bisa memberikan ketenangan apapun padanya.
Bagaimana dengan ibunya yang akan mencari-carinya begitu khawatir?!
"Tenang saja. Aku baru membalas pesan dari ibumu tadi."
Youngjae berkerut kening. "Kau... membuka HP ku?!"
"Aku tidak bisa menahannya. Daripada ibumu menangis cemas." Daehyun menyisir rambutnya. "Lagipula passwordmu itu terlalu mudah. Ck. Pakai tanggal ultah Yongguk segala."
Youngjae meraih HP nya segera yang ternyata diletakkan ke atas nakas di samping ranjang. HP itu sudah mati entah dari kapan. Mungkin karena baterainya sudah habis.
"Tenang saja. Besok juga ibumu akan kembali memelukmu dengan sayang."
Youngjae mengerjab-ngerjab. Pikirannya tidak konsen, bisa dibilang bercampur rasa kesal juga.
Kenapa Daehyun begitu perhatian? Melakukan banyak hal untuknya? Bukankah merepotkan? Kenapa tidak mengusirnya saja biar ia bisa menjalani malam-malamnya dengan tenang? Alasannya yang bilang 'tidak tega' apa bisa diterima Youngjae?
Entahlah, sepertinya ada maksud terselubung. Ia tidak pernah suka laki-laki itu.
Tanpa sadar, tahu-tahu Daehyun melempar tubuh di samping Youngjae, hingga ranjang itu memantul. Youngjae panik bukan kepalang melihat perlakuan Daehyun yang tiba-tiba menerjang ranjang di sebelahnya, dan otomatis ia bangkit dan menghindar.
"Apa-apaan kau?!"
Daehyun tetap merenggangkan tubuhnya yang rada pegal dan menyantaikan posisinya di atas ranjang kesayangannya. "Ini kan tempat tidurku. Dan aku ingin tidur."
Youngjae tidak bisa bergulat dengan argumen lagi dengan pria tak tahu diri itu. Mau tak mau ia hanya bisa diam dan tak menganggu kemauan pemuda itu.
"Oh ya, kau berhutang makan malam untuk yang lain."
"Eh?" Youngjae rasanya ingin menampar diri sendiri karena keteledorannya.
"Tapi sebagai gantinya. Besok sarapan, kau sudah harus siap."
"Aku harus pulang! Besok aku sekolah!"
"Tidak. Malam ini kau tinggal disini saja. Lagipula terlalu larut begini, anak kecil gak boleh pulang larut malam." Daehyun menguap sebentar. "Besok kuantarkan sekolah. Bajumu palingan sudah kering besok, tinggal di setrika pakai setrikaan limited edition milik dorm kami."
"Siapa yang kau panggil 'anak kecil' ?! Dan kau mencuci bajuku seenaknya?!"
Daehyun mengorek telinga. Tidak tahan dengan volume keras Youngjae ketika berteriak.
Tidak dapati jawaban lain, Youngjae hanya menyudut dengan rasa kesalnya. Ia hanya berdiri di pojok ruangan, mengetuk-ngetuk kakinya, mencari cara lain bagaimana keluar dari situasi canggung ini.
"Yongguk sudah pulang berarti?!" Ingatannya dengan sang Pujaan, sedikit membuat hatinya sembuh dari kekecewaan. Ia hendak melompat ke arah pintu untuk menemui sang Kekasih yang diimpikan.
"Yongguk tidak pulang hari ini" ucap Daehyun mencegat kepergian Youngjae. "Dia sedang di rumah ayahnya." Dan dengan santai Daehyun membuat posisi terbaik untuk tidur.
Wajah Youngjae berubah melusuh seperti kucekan baju. Ia sampai mengurungkan tarikan kenopnya. Ia menjadi sangat kecewa dan menyedihkan. Ia merasa kesialannya datang bertubi-tubi sejak ia bertemu dengan Daehyun hari ini.
"Tidur saja. Besok mungkin Yongguk sudah pulang."
"Jangan main-main kau. Jangan memberi harapan palsu."
Youngjae akhirnya memilih bangku di dekat jendela sebagai tempat istirahatnya. Ia melenguh pasrah karena ia tidak punya pilihan lain selain menunggu hingga waktu pagi tiba.
"Mau duduk begitu sampai 7 jam ke depan?Nanti pegal, loh."
Entah Daehyun sedang menggodainya, atau merasa tidak senang dengan segala tingkah Youngjae, tapi ia tidak pernah berhenti mencerca Youngjae. Selalu saja membuat hati Youngjae gondok.
"Maunya apa sih kau ini?!" Youngjae berkerucut bibir. Matanya melongok sebal ke arah pemandangan luar. Ia tidak menyangka desain kamar Daehyun sangat strategis menghadap ke pemandangan seindah ini. Langit penuh bintang terbentang di mata siapapun yang duduk di sofa yang sama dengan Youngjae.
"Aku maunya kau tidur bersamaku."
"Hah?!Tidak mau! Tidak muat." Youngjae mulai memejam mata, berpura tidak peduli.
"Kasurku lumayan kok buat dua orang. Walaupun tidak king size seperti milik Yongguk."
Dua mata Youngjae membelo. "Kasur Yongguk king size?"
"Memangnya apa? Kasur anak-anak?"
"Maksudku, untuk satu orang saja, untuk apa punya kasur King Size?"
Daehyun menarik licik segaris bibirnya. "Mau tau buat apa?"
Youngjae meneguk ludah. Hatinya galau. Ia ingin tahu banyak hal tentang Yongguk. Bahkan untuk hal sekecil apapun. Sekaligus hal-hal mencurigakan , seperti teman kencan, atau pacar simpanan?
"Tidur bersamaku di kasur ini. Aku akan membantumu menceritakan banyak hal tentang kami."
"Sungguh!?"
"Aku ini orang baik. Kau nya saja yang galak."
Demi harga diri seorang fans BA No.1, Youngjae menaruh dahulu rasa gengsinya. Ia pun bersedia tidur bersebelahan dengan Daehyun.
Walaupun pada awalnya terasa tak nyaman, dan Daehyun jujur mengatakan bahwa ranjangnya bukan King Size (hampir saja sikut tangan mereka berdua bersentuhan), namun Youngjae menikmati ranjang itu dengan sepenuh hatinya. Empuknya bukan main. Berkali-kali lebih enak dari ranjangnya yang kecil dan keras (suka bikin pegal punggung).
Mereka berdua menatapi langit-langit ruangan dengan khitmat.
"Tahu tidak, kalau tidak ada Yongguk, BA tidak akan pernah terbentuk. Laki-laki itu telah mengubah kami hidup menjadi lebih baik."
Youngjae mengangguk. Ia dengar cerita itu dari beberapa fans BA kenalannya. Walaupun masa lalu para member tidak terbuka sangat luas, hanya beberapa hal penting saja.
"Aku dulu bermodal talenta cover lagu ku, dan ketampanan wajahku di layar HA HA."
Youngjae berputar mata jengah. Percaya diri sekali orang di sebelahnya ini.
"Orang-orang yang datang ke Youtube hanya beberapa ratus saja. Tapi aku sangat senang mereka menerima keahlianku. Walaupun tidak sedikit mereka membenciku."
"Karena?" Youngjae otomatis merespon. Daehyun jadi merasa lebih semangat menceritakannya.
"Mereka berkomentar bahwa suaraku buatan, lipsync, dan penjiplak. Begitulah." Daehyun memejam mata. Mulai bernostalgia. "Aku tidak pernah melakukannya. Lagipula dulu aku miskin sekali, loh. Dan tidak paham manipulasi suara dengan aplikasi-aplikasi segala nya, selain bermodal kamera dan mic bekas serta gitar milik Ibuku."
Dasar pembuat onar. Tidak tahu diri. Mereka menilai orang seenaknya saja apa dari dengkul mereka?! Mereka nyanyi saja tidak bisa, sudah memojoki orang lain. Urusi dulu tuh keahlian kalian sendiri.
Youngjae mengomel dari lubuk hati. Membayangi posisi Daehyun yang berlika liku dahulu. Memang dunia ini penuh dengan orang-orang 'pencari muka' seperti itu.
"Tiba-tiba Yongguk mengirimi ku pesan dan memintaku bergabung dengannya." Daehyun tersenyum. "Aku tidak kenal dengannya. Kukira ia bercanda. Aku juga sangat hopeless kala itu karena suatu masalah."
Youngjae menengok, ingin membaca ekspresi Daehyun yang bertelentang. Melihat jauh ke masa lalunya. Ada rasa yang begitu ramah dan hangat, tidak menyebalkan seperti yang Youngjae pikirkan.
"Tapi setelah mengenalnya lebih jauh, kami menjadi teman baik. Kami sering berlatih bersama. Ikut merekrut Jongup yang hanya seorang penari-" Daehyun terbatuk. Hampir keceplosan. Youngjae hanya terlihat bingung dan semakin penasaran dengan kelanjutannya. "-penari professional."
"Ceritamu kedengaran menyedihkan daripada yang diketahui kami."
"Oh, lebih menyedihkan dari yang kau kira HA HA." Daehyun menertawakan dirinya. "aku tidak dilahirkan dengan uang banyak, atau diagungkan dengan banyak pelayan. Wajah cakepku ini dan suaraku lah hal berguna yang membawaku bisa punya kamar mewah ini."
Youngjae berdecak. Tidak senang dengan kePDan lain yang dikeluarkan orang ini lagi.
Namun dengan sepenuh hati Daehyun sanggup mengeluarkan uneg-unegnya yang dikatakan 'menyedihkan', membuat Youngjae menerima kepercayaan dirinya. Mungkin sebagai pendukung, semangat, dan ucapan terima kasih pada seorang Daehyun dengan karakter ini yang membuat dirinya semakin maju.
"Orang tuamu pasti bangga sekali padamu. Mereka selalu datang ke setiap konsermu, dan mendukungmu."
Daehyun mengubah raut wajahnya. "Ya... aku senang mereka bangga. Tapi aku belum merasa puas."
"Apa? Kau belum puas karena belum bisa melampaui Yongguk?"
"Itu salah satunya." Daehyun menguap. Ia sudah mulai mengantuk. "Tapi, hal lain adalah aku belum bisa membuat bangga seseorang."
Youngjae memandang aneh raut Daehyun yang serba membingungkan.
Apakah gadis yang ada di kalung liontin itu yang dimaksud?
"Kau ternyata sangat mencintai gadis itu, ya. Apakah dia cinta per-"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Youngjae sudah mendapati Daehyun tertidur dengan sangat nyaman. Wajahnya kala tertidur, mengurungkan niat Youngjae semakin berceloteh banyak.
"Ck, kau bahkan belum sama sekali menceritakan tentang Yongguk!" Youngjae mencubit sedikit pipi Daehyun saking gemasnya.
Tak lama kemudian, ia pun ikut larut dengan kenyamanan di ranjang itu, sudah mengundangnya untuk segera tertidur lelap.
Besok ia harus bangun pagi sekali...
.
.
.
.
.
.
"Junhong?"
Junhong seketika mematung. Wajahnya mendingin melihat ibunya sudah tertegun ke arahnya. Membaca segala ekspresi yang dimilikinya, mungkin mencari tahu. Apa yang tengah disembunyikan Junhong darinya?
"Sayang, kamu masa lupa sama namamu sendiri?" Ibunya merangkul pundak si Anak. "Cepat kamu istirahat, dan besok harus sekolah, oke."
Junhong hanya bisa mengikuti arahan ibunya dengan perasaan shock.
Sudah lupakah Ibu dengan nama asliku?
Selama dituntun itulah, Junhong amati wajah ibunya. Wajah beliau terlihat sendu, dan banyak tersenyum. Tidak terpuruk, tidak ada siksaan.
Bibir Junhong ingin berucap sesuatu, lalu mengatup kembali.
Ia hanya bisa menunduk selama perjalanannya ke ranjang tidur.
"Sudah lupakah Ibu tentang aku?"
.
.
.
.
.
.
.
Youngjae merasa bahwa tubuhnya agak berat.
Dirinya mencoba melepas sesuatu yang mengekangnya. Namun kekangan itu akan membebani tubuhnya lagi. Ia menggerutu kelelahan, dan sedikit menggigau.
Beberapa menit kemudian, ia langsung sepenuhnya sadar.
"OH TIDAK!" Youngjae melompat bangun.
Tangan Daehyun yang asyik memeluknya seperti guling sampai terpental , dan membawa jatuh tubuhnya mencium ke lantai. Youngjae tidak peduli ada suara gebrakan yang menyakitkan. Yang terpenting, ia harus segera menyiapkan seragam sekolahnya.
"Mana setrikaan 'limited edition' mu itu?!"Youngjae bicara buru-buru, malah Daehyun sedang mencoba mengembalikan kesadarannya. Belum paham apa yang diinginkan pemuda itu.
"Mungkin di ruang laundry?" Mata Daehyun kedap-kedip.
"Heol, bahkan dorm ini punya ruang laundry sendiri?"
Youngjae langsung berlalu keluar kamar. Mengabaikan Daehyun yang kembali terlelap sambil duduk di atas lantai dingin.
.
.
.
.
.
.
Youngjae berjalan secepatnya mencapai ruangan yang diincarnya. Walaupun ia belum tahu pasti dimana ruangan laudry yang dimaksud.
"Setelah menyetrika, aku harus segera mandi. Yang pasti jangan kamar mandi orang itu." Youngjae bertampang jijik membayangkan tubuh kekar Daehyun terbayang kembali di pikirannya.
Tiba-tiba ia menemukan suatu ruangan yang belum ia capai. Ia merasa itu ruangan laundry yang dimaksud. Ia asal mengambil kenop pintu, dan langsung membuka cepat.
"AAAAAAAAAA!"
.
.
.
.
.
.
.
*Beberapa jam sebelumnya*
Suasana di meja makan itu sangat hening.
Yongguk sudah lama tidak menyentuh ruangan makan ini, hampir sekiranya 1 bulanan. Konser-konser, dan keengganan Yongguk sendiri untuk muncul di rumah pribadinya, menjadi alasan ia merasa asing.
Tapi apapun harus ia lakukan asalkan ayahnya tidak mencoba menelisik lebih dalam kehidupan pribadinya, terutama tentang Himchan. Jikalau pun nyawanya sendiri dipertaruhkan.
"Kau mulai besok berangkat ke Jerman mengantarkan Chungha."
Yongguk menjatuhkan garpunya yang siap menyuapinya daging Wagyu* ke mulut. Ia terlalu terkejut untuk meneruskan santapannya.
"Apa?!"
"Kalian berdua sudah kubayari untuk melakukan perjalanan ke Jerman selama seminggu. Kau juga sekalian bertemu orang tuanya. Sampaikan salamku pada mereka." Yongin menyuapi suapan terakhir. Pelayan di sampingnya yang sedari tadi menunggu, mulai menuangkan anggur di gelasnya.
Brakk
"Apa-apaan ini?! Lagi-lagi Anda melakukan keputusan sepihak tanpa memberitahuku?!" Yongguk mulai tersulut. Mangkuk berisi Miso hampir saja tumpah karena gebrakan meja buatannya.
"Aku sudah memberitahumu melalui HP. Kau tidak membalasnya. Maka aku berhak segera mengambil persetujuan." Yongin meneruskan tegukannya."Kau tidak bisa menggagalkannya karena tiket telah dipesan. Pesawat pribadi sudah menunggu jam 10 pagi. Kau harus kembali seminggu kemudian untuk mempersiapkan album terbaru."
Pendirian Yongguk terguncang. Ia mulai membayangkan banyak hal yang tidak disukainya terjadi. Dan ia selalu menahan kesabaran.
"Jika tidak secepatnya kau pergi, maka albummu akan diundur."
Yongguk mencengkeram pisau logam dengan kencang. Ingin sekali ia menggaruk meja itu untuk menumpahkan rasa murka.
"Jika kau berusaha melakukan hal macam-macam, terutama melakukan skandal sebelum pengumuman pertunangan kalian disetujui, ini akan jadi akhir dari karir mu. Dan BA akan hancur."
Yongguk memandangi mata Yongin yang tidak sekalipun memperhatikannya. Ia konsen pada ombakan cairan ungu pekat di tangannya, seolah anggurnya lebih penting dari perasaan Puteranya sendiri.
"Kalau kau benar ingin bertanggung jawab atas BA dan teman-temanmu, maka kau harus berkorban untuk mereka."
Yongguk ingin sekali menangis. Ingin sekali. Ia ingin berlari dan memeluk Himchan, dan menumpahkan air matanya. Ia ingin mendapatkan kasih sayang, sekalipun Himchan tidak tahu perasaannya. Ia ingin menjadi Jongdae selamanya, jika ia bisa memiliki Himchan.
Kenapa ada Yongguk? Kenapa selalu Yongguk? Kenapa selalu Yongguk yang terbelenggu?
Kenapa Jongdae yang harus tersembunyi dalam diri Yongguk?
"Tuan. Anggur?" Pelayan sepertinya tidak bisa membaca situasi, malah menawarkan anggur untuk Yongguk yang telah hancur hatinya. Namun lelaki itu masih memiliki hati yang murni, sesuai julukannya. Ia dengan sabar, menolak tawaran.
"Aku tidak mood makan." Yongguk pun pergi tanpa sama sekali menyentuh makanannya. Ia pergi ke lantai teratas, dan ingin bersembunyi dari kenyataan di bunga mimpinya sendiri.
Walaupun sepertinya nanti malam ia tidak akan bisa tidur.
Sementara itu, Yongin dengan santai menyudahi minumannya. Merapikan segalanya.
Ia mengambil nafas, dan menghembuskannya dengan perlahan. Mengontrol emosinya.
"Akan kulakukan segala cara untuk membuat Yongguk menghindar dari anak itu.
Sesuai kemauanmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
"HAH KENAPA?!"
Daehyun sudah keluar dengan semangat sambil membawa sebuah batang sapu. Ia panik ketika suara teriakan membangunkan ketidaksadarannya. Dengan perlahan-lahan ia ikuti sumber suara yang dikenalnya itu yang sudah mulai tenang.
Tak lama kemudian, ia sudah mendapati Jongup berjalan berleha sambil meminum susunya. Penampilannya totally naked bagian atas. Kebiasaan anak itu yang paling suka setengah telanjang di sekitar dorm.
"Tumben kau bangun lebih awal. Bersemangat sekali sudah ingin menyapu lantai." ucap Jongup sambil membersihkan bekas susu di sudut bibirnya.
Yang ditegur tentu saja jadi kesal, karena keadaan di luar ekspektasinya. "Siapa yang mau nyapu, Bodoh?! Tadi aku dengar teriakan, dan tentu saja ini buat pertahanan."
"Oh, itu.. Pacar laki-laki mu tak sengaja injak kecoa di ruang laundry." Jongup menunjuk-nunjuk ke arah ruang Laundry. "Aku kebetulan lagi cari susu, dan dia tidak sadar lagi melewatiku. Kutemui saja, dan tau-tau dia sudah menangis di dalam ruangan."
"Aishh bikin jantungku hampir berhenti saja." Daehyun merendahkan posisi sapunya. "Dan dia bukan pacarku , Brngsk!"
"Jadi, dia akan tinggal disini sampai kau pelihara seharian?"
Daehyun menggeleng cepat. Ia melempar diri ke atas sofa. "Kemarin dia ketiduran di kamarku, dan akhirnya kusaranin dia tinggal saja disini. Dia berhutang sarapan padaku pula. Nanti dia pulang lagi."
"Kurasa ia sudah tidak bisa disebut sekedar fans lagi. Ia benar-benar sudah jadi pacarmu."
"Hah?!"
"Iya kan? Kau memperlakukannya terlalu spesial. Belum pernah ada sejarahnya seorang fans diijinkan tidur di ranjang idolanya, tinggal seatap, diijinkan menggunakan ruang pribadinya, ruang laudrynya-terkhusus karena banyak pakaian dalam kita disana, memasak makanan untuk kita-bagaimana kalau dijampi-jampi?, bahkan melihat kita telanjang dengan sebebasnya. Dan kau membiarkannya seolah dia anjing kecil yang kau suka pelihara, berkeliaran di dorm ini. Memangnya kau kira ini cerita fanfict ?" Jongup bersandar pada dinding. Memicing mata pada Daehyun seolah sang Pelaku.
"Terlebih dia adalah anti-fans mu. Berarti kau suka padanya."
Daehyun membelakak. Ucapan Jongup menjadi pukulan untuk batinnya.
"A-aku tidak suka padanya! Tapi ini kan tuntutan kontrak. Dia melakukannya demi Yongguk! Ya sudah, daripada dia menuntut macam-macam dariku, kubiarkan saja. Daripada dia jadi sasaeng?!"
Jongup menelisik gerak-gerik Daehyun dengan sangat teliti. Jelas sekali, tubuh partner kerja itu berekspresi hal lain. Kalau sudah menipu daya orang, Daehyun suka sekali melakukannya. Maka itu Jongup sudah cukup dewasa untuk membaca tipuan dari Hyung nya satu ini.
"Huft, akhirnya selesai juga." Youngjae baru saja kembali dari kegiatan mempersiapkan seragamnya.
Ia tak sengaja melihat perbincangan di antara dua member. Jongup dan Daehyun.
Ia lebih tercengang melihat keduanya berpenampilan tidak serapih dan semenarik di atas panggung. Yang satu pakai piyama tidur, yang satu bertelanjang dada dan boxer.
Youngjae tertawa. Benar-benar penampilan di luar ekspektasi para fans. Teori bahwa kehidupan mewah dan bergelimang di depan kamera tidak sebanding di keseharian dalam rumah, menjadi fakta yang tak bisa di ditentang lagi.
Daehyun melihat itu. Tawa pemuda itu yang selalu terlihat unik dan mengesankan. Bukan lagi ingin merasa heran dan sebal dengan perilaku main-main Youngjae. Tapi ia lebih terpukau, jadi ingin tersenyum.
Jongup pun pandangi kedua belah pihak. Dan ia memutar mata.
Tidak salah lagi.
.
.
.
.
.
.
.
"Woah liat itu!"
Beberapa siswa berhamburan. Mereka saling berbisik , sambil mengamati sebuah mobil mewah singgah di pekarangan depan SMA Jaehun. Terkaan demi terkaan mereka lontarkan, bermaksud menebak siapakah gerangan yang memilikinya.
Apakah seorang siswa baru?
Apakah seorang siswa yang berubah kaya dalam semalam?
"SIALAN!"
Di sisi lain dari dalam mobil yang telah disekat dan berkaca film, Youngjae memaki kesal lelaki yang mengemudi di sebelahnya. Syukurlah, orang-orang di luar tidak akan pernah tahu.
"Kenapa kau antar aku pakai mobil begini, sih?! Lihat! Jadi perhatian, kan!"
Daehyun mendengus. "Aku tidak bisa pinjam lagi mobil yang kemarin. Dan aku tidak mungkin pakai mobilku sendiri-bisa ketauan oleh fansku. Dan, ini satu-satunya mobil yang paling jarang dipakai Yongguk!"
Kalau boleh jujur, Youngjae merasa bersyukur karena diantar oleh 1 mobil yang sama dengan yang Yongguk pernah gunakan. Bahkan bau-bau maco nya khas sekali tercium di satu ruangan. Rasanya ia ingin menjilat jok mobilnya juga.
Tapi bukan itu lagi yang menjadi perhatian. Melainkan bagaimana ia bisa keluar dari mobil mewah ini tanpa dicurigai. Tanpa teman-teman satu sekolahnya yang sangat kepo on the way sadar bahwa ia diantar seorang Artis. Goddamn a famous singer!
"Kalau begitu tidak usah nganter kalo jadi merepotkan begini!" Youngjae melihat sekelilingnya dan mencari sesuatu yang bisa memberinya rencana.
Tak lama kemudian , ia teringat dengan Junhong.
"Aku tunggu disini sampai temanku datang."
"APA?! Kau ingin mengumbar rahasia pada temanmu? Jangan coba-coba ya!"
"Kok jadi kamu sih yang protes?!"
Selagi mereka cekcok mulut, jari Youngjae sudah menyusun berbagai kalimat di HP nya untuk dikirimkan pada Junhong. Mungkin lelaki muda itu bisa membantunya.
Tidak butuh waktu lama hingga sosok pemuda itu mengetuk-ngetuk jendela mobil, dan Youngjae berseru riang. Tidak untuk Daehyun yang langsung memelorot tubuhnya di tempat duduk, dan berusaha menyembunyikan wajahnya dengan coat nya.
"Dengan begini semua orang maklum kalau Junhong yang menyambut." Youngjae buka pintu. Disambut Junhong yang masih bingung dengan situasi kenapa ia disuruh menjemput Youngjae dari sebuah mobil mewah. "Toh dia kan orang kaya satu sekolah, pasti orang-orang jadi maklum mengira aku diantar salah satu supirnya."
"Kau bicara apa sih, Hyung? Kok ngomong sendiri." ucap Junhong setelah mendapati Youngjae telah keluar dari mobil.
"Oh gapapa kok. Kau ternyata patuh juga ya sama Hyung mu ini." Youngjae mengasak puncak kepala pemuda itu seperti adik tersayang. Junhong malah ingin menghindar.
Sementara itu, Daehyun melihat bahwa orang disebelahnya telah keluar tanpa berucap apapun. Bahkan 'bye' atau hinaan lainnya. Ia melihat dari balik kaca, lelaki itu sudah pergi bersama dengan seseorang yang dari belakang terlihat lebih tinggi, dan tentu bukan orang yang sama yang diidamkan Yongguk.
Daehyun jadi rindu masa-masa sekolahnya.
"Ah ya sudahlah. Aku harus selalu sabar meladeni anak tak tahu berterima kasih itu."
Mobilnya pun melaju pergi.
Diikuti sebuah mobil yang mengikut di belakangnya.
.
.
.
.
.
Suara dentuman lagu, dan sensasi melodi yang bergairah.
Jongup menggerakkan seluruh tubuhnya sinkron dengan alunan lagunya. Sesuai dengan irama. Walaupun freestyle, entah kenapa gerakannya cocok dengan yang diinginkan lagu.
Sang Raja Tari terlalu menikmati suasana pekarangan rumahnya jadi ruang latihan sesaat, menikmati masa sendirinya. Berlatih sekeras mungkin agar mendapatkan hasil tarian yang sempurna selagi tidak diganggu.
Beberapa saat kemudian, dia sudah tergeletak jatuh ke lantai dengan peluh membuyar di wajahnya, bahkan sampai ke seluruh tubuhnya yang bertelanjang dada.
Ia mengambil nafasnya sejenak. Rasa lelahnya paling terasa di masa-masa seperti ini.
"Sepertinya ada yang merasa kesepian."
Jongup membuka mata. Tiba-tiba saat ia melihat ke atas, ia bertemu pandang dengan sosok wanita yang berdiri menyeringai padanya. Kakinya amat jenjang sekali. Tapi ia tidak pernah tergoda dengan postur gadis itu, karena buka tipenya sama sekali.
"Diana?" Jongup beranjak, menjadi posisi duduk. "Sejak kapan kau datang?"
Diana mengendik bahu. "Sejak setengah jam lalu, dan kau tidak menyambutku."
"Maaf, aku sedang latihan."
"Kau latihan di dorm? Tekun sekali."
Diana berjalan pergi ke dapur. Ia sudah seperti menganggap dorm menjadi seperti rumahnya sendiri. Ia mengitari ruangan begitu santainya.
Cardigan biru tuanya panjang hampir menyentuh lantai melengkapi kemeja putih, tergerai disapu angin setiap kali ia berpindah tempat. Dipadu dengan scarf panjang berbulu warna abu-abu yang menghias leher jenjangnya. Gadis itu memang selalu ahli mengenakan pakaian yang berbeda dan unik.
"Ngomong-ngomong kau tidak apa repot-repot membuat kontrak pacaran dengan Daehyun?"
Diana melemparkan salah satu kaleng minuman ion yang didapatkan dari kulkas kepada Jongup.
"Kau tahu kan sejak kecil anak itu selalu bergantung padaku? Oh ya, Kau tidak keberatan aku membuat kopi?" Diana sudah siap-siap dengan mesin pembuat kopi yang terlihat utuh di dalam kotak. Masa bodo dengan siapa yang memilikinya. Jongup hanya mempersilahkan.
"Dia tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya tanpa aku."
"Wow. Kau perempuan yang berani juga. Sudah seperti pawangnya." Jongup mulai menegak minumannya. Sementara Diana tertawa merasa terhibur dengan tanggapan Jongup.
Tidak heran jika keduanya memang cukup dekat. Jongup sendiri sudah terbiasa dengan perlakuan Diana walaupun keduanya jarang bertemu. Dia kenal Diana hanya dengan mengamatinya. Gadis itu berbeda dengan gadis lain kebanyakan, bahkan artis perempuan lainnya.
Jongup kenal Diana setelah beberapa minggu ia debut bersama BA. Gadis itu debut terlebih dahulu di naungan agensinya, dan berkarir cukup melejit. Bisa dibilang hampir meninggalkan Daehyun sendiri. Itulah kenapa hubungannya dengan Daehyun tidaklah akrab, meskipun mereka teman sejak kecil.
Tapi Jongup merasa nyaman dengan Diana selain dia adalah partner yang kompatibel dalam urusan menari, memberikan arahan tentang performa mengagumkan, dia juga tidak serepot Chungha yang kelewat manja.
"Kau ingin aku menghubungi Daehyun?"
"Tentu saja, Terima kasih." Diana pun meminum kopinya dengan suka hati.
.
.
.
.
.
.
.
Daehyun menguap.
Tidurnya rasanya belum cukup karena pada pagi buta ia sudah dibangunkan oleh teriakan Youngjae. Ia ingin sekali cepat pulang dan berselonjoran santai di sofa empuknya, kemudian latihan vocal untuk lagu di album terbaru sebelum masa rekaman.
Waktu tak sadar sudah mengejarnya. Beberapa minggu lagi pula, ia harus rekaman untuk album selanjutnya dan beberapa pertemuan. Terlebih lagi hal buruk menimpanya, ketika seminggu lagi pengumuman hubungan dia dan Diana akan disebarluaskan.
Ia benar-benar lelah.
Drrtt
Suara telepon menghentaknya. Ia menyalakan panggilan melalui device speaker yang terpasang di mobil mewah Yongguk.
"Halo?"
"Daehyun? Kau dimana?"
Suara Jongup membuat Daehyun ingin menguap lagi.
"Aku berada di perjalanan kembali ke dorm."
"Oh bagus, karena Diana menunggumu."
Daehyun tersentak. "Ngapain mahluk itu datang kemari?!"
"Bukankah untuk menjumpai kekasihnya? Mau apa lagi?"
"Dia bukan kekasihku, damn it." Daehyun berdecak. Ia tengah membanting kemudinya menuju belokan yang dituju dengan cekatan.
Walaupun ia tidak suka dengan kehadiran Diana di dorm nya, ia masih bersyukur karena bukan tipikal teman-teman wanita nya yang lain yang suka tebar pesona dan menggodainya yang singgah. Wanita-wanita yang selalu mendekatinya kebanyakan sangat merepotkan. Tidak seperti Diana yang lebih tahu diri, walaupun tukang bully.
"Yang penting, jangan ijinkan dia menyentuh mesin kopiku yang baru kubeli. Atau kupatahkan headphone kesayanganmu" Daehyun segera mematikan speaker.
Sementara orang yang di sisi lain jadi tersedak minuman ion nya sendiri.
.
.
.
.
.
.
Youngjae memasang wajah penasaran. Ia amati wajah seseorang dengan sangat teliti dari tempat duduknya berada. Ia merasa melihat sahabatnya telah menjadi orang tidak waras.
"Hei!" Jaebum menghentikan konsentrasinya. Menggebrak buku ke atas meja hingga tumpuan kepala Youngjae hampir terjatuh. "Pergunakan waktumu yang sia-sia itu untuk menghabiskan makananmu"
"Halo Jaebum." Himchan yang duduk persis di depan Youngjae mulai menyapa. Belum sadar sepasang mata mengamatinya dengan tekun.
"Hai juga, Himchan. Apa ada yang salah dengan sahabatmu ini, si Youngjae? Ia melihatmu sangat serius, seperti ingin melubangi kepalamu." Jaebum duduk di samping Youngjae.
"Kau merasa aneh tidak?" Akhirnya Youngjae menyerah setelah makan 1 sendok supnya. "Himchan dari tadi senyum-senyum sendiri."
Jaebum dan Himchan mengernyit dahi.
"Himchan memang sering tersenyum. Itulah kenapa ia sering dijuluki 'Angel of Smile'." Jaebum membela. Himchan hanya tersenyum keki mendengarnya.
"Senyumannya kali ini aneh. Ia seperti menggigau mimpi yang tidak-tidak. Senyuman seseorang ketika berfantasi kotor, akan membuat senyum yang sama seperti itu." Youngjae mulai berargumen.
"Oh ya? Lalu darimana kau tahu tentang teori itu?"
"Karena aku sering lihat Jaebum ketiduran sambil senyum-senyum aneh."
Tak lama kemudian, Jaebum sudah menjambak rambut Youngjae dengan kesal.
Himchan lagi-lagi harus repot melerai keduanya.
"Kau sedang memikirkan sesuatu, himchan?" Jaebum mulai bertanya. Ia malah juga ikut penasaran apabila pernyataan Youngjae tidaklah salah.
Lelaki cantik yang selalu tersenyum mempesona itu hanya mengangguk. Tampaknya ia bersemangat menjawab. Membuat dua belah pihak di hadapannya membelakak cepat , dan menjorok tubuh mereka mendekat pada Himchan, tak sabar mendengar cerita bagus.
"A-aku baru-baru ini mengenal seseorang yang baik." Himchan sedikit malu-malu. Pipinya mudah sekali merah, jadi semburatnya kelihatan sedikit bermunculan. Membuatnya seperti gadis perawan yang jatuh cinta.
Jaebum bersemangat. Ia senang dengar curhatan sesama lelaki seperti ini. Soal wanita, pastilah dirinya ahli.
Tapi Youngjae, malah bertampak jijik. Seolah ia tidak suka sahabatnya didekati orang tidak benar. Bagaimana kalau wanita 'penggoda dari bar tempat kerjanya? Bagaimana kalau seorang tante-tante dengan banyak uang?! Bagaimana kalau mereka berakting baik demi mencuri keperjakaan sahabatnya?!
"Dia seorang laki-laki."
Rahang Jaebum terbuka lebar. Jika ia memiliki tulang yang lentur, mungkin sudah terjatuh mengenai meja kayu.
Sementara Youngjae terperangah sesaat. Lalu mulai menyungging senyum ceria.
Bukankah itu kabar yang bagus?
"Tunggu! Jadi kau senyum-senyum memikirkan seorang 'laki-laki'?!" Jaebum garuk tengkuk. Feelingnya menjadi terasa tidak nyaman. "Apakah kau punya ketertarikan dengan sesama, Himchan?"
"Hei! Itu tidaklah salah." Youngjae menyikut pinggang Jaebum. "Cinta itu tidak bisa memandang gender."
"Aku tidak butuh komentar seseorang yang memuja boyband!"
dan keduanya pun siap melakukan adu mulut lagi.
"Sudahlah, kawan-kawan. Aku hanya berteman dengannya. Dia orang yang baik dan sudah banyak membantuku. Aku hanya merasa bersyukur mengenalnya." Himchan menengahi kembali suasana yang hampir tegang. Jaebum dan Youngjae saling membuang muka menghindari kekesalan yang dibuat. "Hari ini aku akan diajak jalan-jalan dengannya."
"Kau yakin dia orang baik?! Bagaimana rupanya?! Apa kepalanya botak?!" Youngjae yang terlebih dahulu menerjang Himchan dengan kecurigaan.
"Apa dia berduit?! Apa dia memiliki gigi emas?! Umurnya berapa?!" Jaebum juga tidak mau kalah mengkhawatirkan sahabatnya yang masih(atau harus?) suci itu.
"Apa dia sudah beristri?!"
Himchan terkekeh. Ia hanya bisa menyuruh sahabatnya mengendalikan emosi mereka. "Aku tidak tahu umurnya, tapi dia masih terlihat muda. Percayalah padaku. Ia juga sudah bertemu Ibuku."
Mendengar kalimat terakhir itu membuat keduanya bisa sedikit berhembus nafas lega. Sosok Ibu memang selalu menjadi pengaman bagi anak-anaknya.
"Kau harus berhati-hati selalu, Himchan. Aku tidak mungkin membiarkan malaikat nya sekolah ini hancur oleh 1 tangan tidak bertanggung jawab."
"Ya, aku setuju dengan Jaebum."
Himchan melebarkan senyumnya. Sebuah tanda terima kasih tersirat diungkapkan darinya untuk kedua sahabatnya yang begitu tulus.
"Youngjae."
Baru saja menyelesaikan obrolan , Junhong tak lama ikut juga pada perbincangan. Rupanya ia baru kembali dari memesan makanan.
"Apakah kau punya beberapa list lagu BA? Aku boleh minta?"
Detik itu juga kedua pasang mata terkesiap kaget. Mata mereka membeliak, menekuni, membaca ekspresi pengadaan yang mungkin dilakukan pemuda berumur 16 tahun itu. Tidak mungkin seorang pemuda berwajah sendu, mungil, dan begitu sejuk ini menanyakan hal yang tidak biasa ia hebohkan.
Anak sepertinya seharusnya terbiasa hanya tekun membaca buku, mendengar arahan guru, pulang dijemput, tidur di rumah, dan besoknya berangkat sekolah lagi.
"Junhong, kau minta apa tadi?" Youngjae memastikan. Mungkin pendengarannya tadi rada tuli karena kena getokan kepala dari Jaebum beberapa waktu lalu.
"Lagu BA. Jika kau punya album nya, boleh aku pinjam?"
Youngjae dan Jaebum saling berpandangan. Beberapa untaian kalimat tak terlihat saling transfer. Mereka sudah tebak tengah saling menyalahkan.
Brengsek kau. Tadi Himchan , sekarang Malaikat polos seperti Junhong malah kau sendiri yang menodai. -Jaebum
Sialan, Mana aku tahu! -Youngjae
.
.
.
.
.
.
.
Daehyun memasuki ruangan dengan tergesa. Setiap kali kabar Diana akan datang ke dorm, maka hatinya tidak akan pernah tenang. Ia sampai berkali-kali membanting setir untuk cepat sampai ke tempat tujuannya.
Ia lari ketakutan seperti dorm nya akan dibakar habis oleh gadis yang menurutnya 'gila' itu.
"Hei."
Daehyun tangkap sapaan familiar itu dari arah ruang santai. Diana tengah duduk tak tenang (bergerak seperti cacing kepanasan) di atas sofa, bersama seseorang di sampingnya. Jongup. Ia lagi-lagi hanya berpenampilan seperti seorang gelandangan, dengan kaus longgar berbau keringat sampai ke indera penciuman Daehyun yang jaraknya kontras.
Suara desingan dan rongrongan klakson memenuhi ruangan. Mereka berdua asik menggerakkan konsol kesana kemari. Sudah mengabaikan kedatangan tuan rumah spesial.
Apa artinya kau menelponku tadi?!
"Diana harus sering-sering kesini. Dia hebat sekali bermain PS." celetuk Jongup. Matanya lurus dan fokus pada layar tv, susah diabaikan.
"Hah? Game apa yang tidak kubisa." Termasuk Diana, yang terus menyeringai cerdik mencari rencana untuk mengalahkan Jongup.
Daehyun memijat kening. Tak menyangka pemandangan di hadapannya membuat moodnya menjadi sangat jatuh. Gadis yang akan dipacarinya, adalah seorang yang tidak punya etika tata krama layak wanita yang diidamkan. Dan partner kerjanya adalah orang yang tidak berguna dan jarang memihak padanya-bahkan jarang memanggilnya dengan banmal.
"Aku akan mandi sebentar." Daehyun yang sudah tidak kuat melihat keadaan yang memusingkan akhirnya pergi menyerah.
"Ya! Akan kubuatkan kau susu hangat jika kau mau." seru Diana sambil melawan karakter game milik Jongup yang mencoba melalui kecepatan mobilnya.
"Tidak perlu, Orang Sinting!" dan Daehyun balas dengan emosi membaranya.
.
.
.
.
.
.
Yongguk melihat kekosongan dari kaca jendela pesawat. Gurat menyedihkannya tidak juga pudar. Ia bahkan tidak bisa mengeluh kesah hatinya yang geram kepada seisi pesawat, dikarenakan dirinya jadi pusat pengawasan beberapa penjaga yang dikirim Yongin untuknya.
Yongguk harus bersedia tetap tenang, dan menghabiskan 1 minggu dengan ketahanan sabar di ujung batas.
"Yongguk!"
Chungha baru datang. Gadis berperangai norak dan selalu berlebihan melompat kegirangan ke bangku di samping Yongguk. Gadis itu nyaman memegangi tangan lelakinya, mencium aroma semerbak parfum calon suaminya.
Yongguk berpikir, seharusnya ia duduk di kursi untuk 1 orang.
"Kau terlihat sangat tampan."
Pujian itu tidak lagi enak di dengar jika diucapkan oleh gadis yang tidak dianggapnya. Masih untung jika Himchan yang menuturkannya, Yongguk mungkin langsung mencium kasar bibir kenyal pemuda itu saking gemas.
"Kenapa kau menyuruh ayahku untuk menemanimu ke Jerman?" Yongguk mulai membuat protes. Ditangkapnya bibir mungil Chungha mengerucut kesal.
"Memangnya tidak boleh, calon suamiku menemaniku?" Chungha melipat kaki, memamerkan paha mulus , meneteskan liur dari para penjaga yang sibuk melirik. "Lagipula wajar orang tuaku ingin bertemu menantunya."
"Tapi tidak dengan cara tiba-tiba seperti ini. Dan aku bahkan belum menyetujuinya. Bagaimana jika aku punya pertemuan dengan perusahaan rekaman? Bagaimana jika aku punya jadwal show?"
"Tenang saja. Aku selalu tahu jadwal kesibukanmu. Lagipula beberapa minggu ini kau hanya konsen dengan garapan album baru, jadi ada beberapa waktu santai, bukan?"
"Kenapa kau jadi sangat egois, Chungha?"
Chungha mendelik. Tidak terima. "Aku tidak mungkin egois jika kau langsung menerima cintaku!"
Yongguk mengusap wajah. Ia membenamkan seluruh emosinya hanya dengan tarikan nafas.
Yongguk tidak tahu harus bersikap, bahkan tidak tega untuk membentak. Gadis di sampingnya ia tatapi dengan pandangan miris. Kenyataan bahwa Chungha menjadi sangat keras kepala apakah karena kisah nya di masa lalu?
Yongguk coba memejam mata, dan mengistirahatkan pikirannya sejenak serta pergi ke saat-saat itu. Saat dimana mereka berdua dipertemukan, mereka berlatih bersama di ruang trainee yang sama.
Agensi ayahnya masihlah baru, dan belum mengeluarkan artis-artis andalannya. Hanya Yongguk, Daehyun, Jongup, dan 1 gadis. Ayahnya mungkin berpikir mendebutkan 3 member boyband beserta seorang artis solo adalah pilihan terbaik.
Namun kenyataannya malah pahit.
.
.
.
.
Flashback
Gadis mungil itu menyerahkan sebuah batang cokelat dari brand yang cukup terkenal. Ia dengan suka hati menyerahkan nya pada Yongguk yang kala itu sedang duduk santai di ruangan rekamannya, menyelesaikan lagu buatannya untuk persiapan album debut.
"Oppa, butuh penyemangat? Aku punya cokelat. Ini."
Yongguk sempat ragu untuk menerima. Namun tidak bisa menolak. Gadis itu terlalu bersemangat untuk memberikannya sebatang cokelat. Cokelat yang ditaruh di atas meja, ia raih, dan memakannya sedikit demi sedikit.
Betapa bahagia gadis itu melihat cokelatnya tergigit habis oleh kunyahan lelaki yang disukainya.
"Apa Oppa menyukainya?"
Yongguk tidak suka rasa cokelat dari brand tersebut. Rasanya lebih pahit dari cokelat Korea sederhana yang sering ia temui di market-market jalanan. Tapi ia lagi-lagi mengalah demi menyenangkan hati gadis itu.
"Ya, terima kasih."
Chunga, nama gadis itu, tersenyum bangga. 1 tugas menjadi sosok calon pengantin pria itu, usai sudah.
Namun rasanya ia belum puas apabila ia belum menyampaikan isi hati yang selama ini tersimpan. Ia sejak kemarin sudah bercetak bulat akan menyampaikan sesuatu dengan berani tanpa halangan berarti. Lagipula, masa trainee nya Yongguk dkk akan selesai, dan akan meninggalkan Chungha.
Ia harus melakukannya sekarang, atau tidak sama sekali.
"Oppa."
"Hmm?"
Chungha merasakan ludahnya jadi terasa masam. Susah sekali diteguk. Perutnya jadi berkontrasksi tidak enak. Tatapan tegas Yongguk yang juga teduh, membuat jantungnya susah dikontrol.
"Aku cinta Oppa!"
Mata Yongguk menajam, menyipit heran. Memandangi gadis itu dengan pandangan yang seolah bingung-ingin diperjelas maksudnya.
"Aku suka oppa! Oppa mau jadi pacarku?"
Sebagai seorang laki-laki yang berjarak jauh dengan Chungha cukup jauh. Terlebih ia kenal bahwa gadis itu sangat manja. Ia tidak kaget, tidak pula merasa terpukau. Ia hanya mendapati ucapan itu sebagai pujian dan pengakuan yang lucu. Mana mungkin juga hubungan pacaran terjadi dalam 1agensi? Mungkin Chungha belum jelas dengan aturannya.
"Terima kasih" Yongguk mengasak puncak kepala Chungha. "Tapi aku tidak bisa."
Mata Chungha melebar. Ia terkejut dan tidak percaya. "Tapi kenapa?!" serunya tak terima.
"Aku sebentar lagi akan debut. Kita harus konsen dengan karir kita. Dan hubungan dalam 1 agensi itu sangat akan jadi skandal." Yongguk tersenyum , berusaha membuat hati Chungha melunak.
Namun hati Chungha yang telah dipateni begitu keras, bukan melunak, malah hancur berkeping. Rasa kecewa itu terbentuk sudah.
"Ini tidak adil!" Chungha menangis kencang , melarikan diri dari sakit hati. Ia malu berhadapan dengan lelaki yang dicintainya pertama kali, sekaligus yang menolaknya pertama kali.
Cinta pertama yang dilukai, akan sangat membekas.
.
.
.
.
Dan sejak saat itulah , Chungha diberitahu telah berpindah agensi dan memutuskan kontrak dengan agensi ayah Yongguk. Menjadi model, memupuskan impian yang dielu-elukan oleh gadis itu setiap kali mereka berdua berbincang.
Apa cita-citamu?
Menjadi penyanyi, dan berkolaborasi dengan Yongguk!
-Sudah tidak lagi terdengar oleh bibir riang Chungha. Gadis itu kini terlihat bukan seperti gadis mungil yang bermanja dan bersuka ria serta terbawa semangat untuk mengejar impiannya, ia yang kini duduk angkuh mendengarkan sesuatu dari headset nya, serta lebih mengabaikan perhatian. Menolak kesadaran dan ingatannya.
Menjadi orang lain.
Yongguk hanya bisa melemaskan pandangan ke luar jendela. Pesawat yang ditumpanginya mulai bergetar sedikit. Pertanda mesin telah dinyalakan. Kemungkinan mengeluarkan diri tidak bisa tersampaikan, dan ia jadi ingin merasa terlelap dalam tidur saja.
Ia mengoreksi kembali. Hanya sebuah kata penolakan, gadis ini mengubah atensi dan menjadi orang lain yang tak dikenalnya.
Bagaimana Himchan yang ia hancurkan ekspektasinya dengan pengingkaran janji pada hari ini?
Yongguk selalu sedih karena sering kacau mengambil keputusan.
.
.
.
.
.
.
.
"Yongguk pergi ke Jerman?"
Jongup mengangguk kepalanya. Perbincangan keduanya menjadi lebih serius setelah permainan yang mereka mainkan telah berakhir. Diana kini bersandar pada jendela, sambil meminum jus nya (karena Jongup tak mau ketauan mesin kopi Daehyun dipakai, ia tidak boleh meminum kopi lagi).
"Gadis bernama Chungha itu sudah seperti penculik saja." Diana berlenggang mengucapnya. "Sangat mengerikan."
"Ya, sangat mengerikan sepertimu."
"Setidaknya aku tidak mengajakmu ke Italia setelah aku menyelesaikan minuman ini."
Daehyun mendesis jijik seperti melihat kecoa dari kejauhan.
"Aku merasa grup kalian ini benar-benar sudah diambang batas." ucap gadis itu sambil melihat keluar kaca. "Dua member nya melakukan hubungan rahasia dengan artis dan model terkenal. Bukankah ini sangat mengagumkan?"
"Hubungan kalian berdua pun hanya terpaksa." lanjut Jongup. Seperti tahu betul cara membaca hati seseorang.
Mata Diana melirik. "Jangan berbicara begitu Jongup. Nanti kau ikut-ikutan."
Kening Jongup berkerut, mengontak mata dengan si Gadis dan mempertanyakan maksudnya. Diana tersenyum, sepertinya mendapatkan gerak-gerik mencurigakan.
Sementara Daehyun melegakan nafas, ia berusaha mengusir stres yang muncul. "Intinya, jangan sampai memperbanyak skandal sejauh ini, selagi bisa disembunyikan."
"Apa kau yakin bisa berlangsung lama disimpan terus?"
Ucapan diana yang tampak meyakinkan itu mengundang kedua atensi langsung mengarah padanya. Mata gadis itu seperti sedang fokus dengan sesuatu di luar jendela.
Sambil sesekali mencicipi jusnya hingga tetesan terakhir, ia berucap "Sepertinya mobilmu diikuti sesuatu, Daehyun."
"Hah?" Daehyun penasaran, tidak langsung menangkap maksud.
Diana mantap membalas tatapan bingung Daehyun. Kenapa santai sekali wajah Diana setiap waktu seperti tidak ada ancaman berarti?
"Mobilmu pastinya bukan mobil berwarna cokelat kampungan itu , kan?"
Daehyun segera beranjak panik, melihat segera pada apa yang dilihat Diana di luar sana. Ia geser gorden kasar, dan tak salah lagi tangkapan seseorang di matanya dari kejauhan.
Seseorang berlari mendekat pada mobil cokelat tua yang terparkir di belakang sebuah mobil.
Seperti akan melarikan diri.
"Ups.. sepertinya ia melihat mobilku terparkir di depan halaman."
"BRNGSEK!"
Daehyun berlari cepat menuju sesuatu, mengabaikan beberapa barang ditendang jauh bahkan hampir terjatuh. Jongup menonton situasi tegang di hadapannya dengan perasaan gundah pula, dan berdoa yang terbaik. Sementara Diana?
Ia hanya senang melihat tindak lanjut Daehyun yang begitu tergesa-gesa.
Daehyun secepat kilat menekan tombol-tombol di telepon nya , dan mendapatkan hubungan begitu cepat dengan seseorang.
Setelah terhubung..
"HYUNG! KAU DIMANA?! Bisakah kau kejar mobil cokelat tua milik paparazzi waktu itu!
YA , orang yang sama! Sepertinya ke jalanan yang biasa! Aku serahkan pada, Hyung..!"
Hubungan telepon dihentikan saat itu juga.
Dengan kepala berkedut, Daehyun mengambil gesit kunci mobilnya. Ia akan mencoba untuk mengejar orang itu. Jika tertangkap pun, lebih baik.
"Aku saja yang menyetir." Diana merebut kunci. "Aku ahli untuk hal seperti ini."
Jongup mulai menggertak gigi. Mulai memperlihatkan rasa khawatir yang besar untuk rencana demikian. "Daehyun, kau harus hati-hati." ucapnya memperingatkan.
Bukan sebuah peringatan untuk Daehyun akan pelaku pengejarannya, justru pada orang yang mengemudi mobilnya nanti.
Pemuda yang diperingatkan pun hanya terlihat linglung, dan tak peduli. Apapun ia lakukan asal paparazzi licik itu kali ini bisa tertangkap, menurutnya.
Walaupun ia sendiri tidak yakin dengan banyak hal,
apakah ia berhasil menangkap laki-laki itu dalam keadaan selamat?
dan apakah gadis ini bisa menyetir dengan benar?
.
.
.
.
.
"Kau tak apa ditinggal sendiri?"
Himchan tersenyum. Ia mengangguk dan mempersilahkan dua sahabatnya untuk pergi lebih dahulu.
"Memangnya Hyung mau ngapain?" tanya Junhong yang tidak tahu dengan situasi karena percakapan tadi siang tidak sempat didengar anak itu, selain membincang perihal grup BA dengan suka cita pada akhirnya.
"Urusan orang dewasa." Youngjae rangkul paksa tubuh Junhong agar menunduk. "Ayuk cepat ke rumahku, dan melihat-lihat yang kau mau!"
"Ih, aku udah mau 17 tahun!"
Junhong diseret paksa oleh Youngjae seperti dua teman seakrab, setelah sebelumnya memberi dadahan istimewa sebagai ucapan sampai jumpa pada Himchan.
Himchan melega akhirnya berdiri di pintu masuk sekolah. Memperhatikan beberapa siswa telah meninggalkan tempat, pergi tunggang langgang. Mereka terlihat terburu-buru, mungkin juga karena hari sudah mendung.
Himchan tidak bisa menghentikan senyum haru nya membayangkan moment yang menyenangkan bersama Jongdae. Akan pergi kemana dirinya? Ia tidak tahu. Bayangannya yang ia impikan adalah perjalanan di sebuah taman indah, dan ia ingin melihat banyak serangga-serangga kecil berkerumun. Seperti kebun di rumahnya yang dirawat baik, pemandangan seperti itu sangat diidamkannya.
Ia akan menunggu dan menunggu, memberi harapan.
Hingga hujan pun turun dengan derasnya, siang itu.
.
.
.
.
.
"Ada apa dengan semua anak bawahanku , hah?!"
Dongwook emosi, hingga membanting kasar kemudinya, mengejar ketertinggalannya pada mobil yang masih sempat ditemukannya..
"Yongguk minta aku menjemput anak SMA tidak jelas, dan sekarang Daehyun minta aku mengejar laki-laki busuk itu lagi!"
Mobil mereka pun kini sudah kejar-kejaran., di antara derasnya air yang mencurah waktu itu. Tiada ampun lagi Dongwook untuk melepas laki-laki yang dianggapnya tersangka.
TIN TINNN
.
.
.
.
.
Entah keberuntungan apa yang sedang diterima Dongwook saat itu.
Mobil yang dikemudikan paparzzi itu rupanya harus mengerem cepat akibat sebuah pembatas di depannya yang baru ia sadari, dan membuat mobilnya oleng. Ia tidak bisa berputar atau menemukan arah lain untuk melarikan diri karena jalanan yang cukup sempit.
"Kena kau!" Dongwook berhasil mencegat keluar lelaki itu dari mobilnya. Lelaki itu terlihat putus asa, ia terus memeluk kameranya, dan agak memberontak. Sepertinya benda yang dipeluknya terlalu penting, sampai tak sudi direbut siapapun.
"Berikan kamera itu, Sialan!"
Dongwook dan laki-laki itu jadi main rebut-rebutan di jalanan sempit itu, yang kebetulan masih sepi pengguna jalan. Mereka berdua saja saling ribut.
Telepon genggam Dongwook berbunyi. Dengan tangan yang masih bebas, ia berusaha meraih HP nya tanpa melepas mangsanya.
"Halo? Ya.. aku berada di jalanan Gingseng, seperti gang , beberapa meter dari Hongdae dekat pos Polisi.
Jangan, jangan bawa polisi. Kau mau polisi-polisi itu sebar aib mu?Sudahlah, aku beres menghandle orang ini! Cepatlah kemari."
Dongwook berhasil menyelesaikan telepon tanpa kelepasan mangsanya.
"Kalau kau buat berita macam-macam lagi, akan kutuntut habis kau. Kalau mau berita bagus, tunggu artis bawahanku yang konfirm sendiri."
.
.
.
.
.
.
" Dongwook-ssi , dimana pelakunya?"
Diana yang terlihat lebih dulu muncul. Dongwook yang sedari tadi hanya merokok menyandar di sebuah mobil, membukakan pintu.
Diperlihatkannya laki-laki yang ditangkapnya telah terikat dan mulutnya diplester di belakang kemudinya sendiri. Seperti menjadi korban sanderaan.
Diana malah tertawa melihatnya.
"Sepertinya kita sehati, Paman."
Dongwook hanya menaik alis, dan menyetujui ucapan Diana. Bahwa dirinya bisa sangat sadistuntuk adegan pemaksaan.
"Dimana Daehyun?"
Diana yang mengoreksi wajah laki-laki itu seperti meneliti mata, bentuk wajah, seperti interogasi tersangka di ruang gelap, hanya unjuk ke ujung lorong dengan endikan kepala. Ia masih terlalu asyik menjatuhkan mental laki-laki itu.
Dongwook melihat ke arah yang diberitahu, dan menangkap kedatangan Daehyun yang limbung. Wajahnya pucat sekali, seperti kena mabuk darat.
"Aku bersumpah tidak akan pernah ikut perempuan itu lagi." ucap Daehyun, yang semakin lemas setelah mendekat kepada yang lainnya. Semakin mual saja perutnya.
"Tenang saja, Dae. Biar aku wakilkan kemarahanmu." ucap Diana , sembari melepas plester di mulut laki-laki itu dengan perlahan.
Laki-laki itu ingin sekali berteriak minta tolong selagi punya waktunya. Namun tubuhnya dipojokkan dengan penahanan dari Diana, yang mata bengisnya tajam sekali menjurus ke pandangannya yang semakin takut. Inikah pesona si Rapper mendunia?
"Bagaimana jika kau membuat berita bahwa 'aku dan Daehyun telah berkencan selama 1 bulan?'
bukankah judul yang bagus? Bukan lagi sebuah isu dan rumor lainnya?"
Mulut Dongwook dan Daehyun jatuh melebar.
"Isu Shim Noona tidak pernah benar. Bagaimana mungkin seorang Daehyun berselingkuh dari perempuan sepertiku? Tarik bualanmu yang Bodoh itu, Paman. Terima kasih."
Maka Diana melonggarkan tangannya yang menahan di sisi kepala laki-laki itu.
"Jika kau masih membuat berita palsu," Diana menggoyangkan kamera di tangannya yang sempat ia raih dari dalam mobil. "ucapkan selamat tinggal pada kamera ini."
"A-AKU BERJANJI! AKU BERJANJI AKAN MEMBERITAKAN KEBENARANNYA!"
Laki-laki itu putus asa karena semakin terpojok, apalagi kamera sumber penghasilannya berada di tangan yang salah. Tidak tega ia kehilangan sumber hartanya.
Diana tersenyum bangga, sambil menyerahkan kameranya kembali.
Diana memberikan intruksi pada Dongwook agar membukakan tali yang dibuatnya untuk mengikat laki-laki itu. Dengan tampang masih setengah shock, ia mengikuti arahannya begitu saja.
"Aku tunggu beritanya."
Laki-laki itu pandang takut-takut sumringah di wajah gadis itu, yang masih memburuk di dalam ingatannya. Ia langsung melarikan diri membawa mobilnya pergi sejauh mungkin.
Diana memperhatikan Daehyun dan Dongwook yang masih terheran-heran. Mereka tidak juga mengatakan rasa protes mereka. Mata mereka terpasang menjurus ke Diana bersamaan menuntut dalam siratan pandangan.
Apa yang kau lakukan?!
"Kalian berhutang terima kasih padaku." ungkap gadis itu, dengan sumringah tidak usai juga.
Dongwook akhirnya akui Daehyun,
gadis itu memang benar-benar 'Gila'.
.
.
.
..
.
.
TBC
*Wagyu : Daging sapi khas Jepang yang harganya sangat mahal (daging mewahnya dari Jepang)
*Dakimakura : Guling bergambar seseorang atau karakter dengan wujud 1 tubuh
Review? Fav ? :)
