My Idol, My Boyfriend
Himkyu's Present
BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo
Genre : Romance Comedy
Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
Chapter kali ini bukan lanjutan chapter sebelumnya melainkan Side Chapter tentang masa lalu para member BA : Yongguk, Daehyun, dan Jongup, sebelum masuk ke dunia Idol.
dan sebelum bertemu Himchan, Youngjae, dan Zelo.
"Hahh~"
Yongguk tidak pernah menghela seberat itu dalam waktu beberapa minggu ini.
Ia baru kali ini menampakkan keengganannya pada sebuah tumpukan kertas-kertas kuliah yang harus ia sudahi. Mengambil penjurusan Bisnis, rupanya bukan sebuah ide yang bagus karena ia bahkan tidak ada sedikitpun ketertarikan padanya.
Jika harus mundur beberapa tahun, sebelum ia masuk kuliah, ia ingin saja menentang harapan ayahnya. Lelaki berwibawa itu hanya mengucap dengan suara semu nya sambil meminum teh dalam cangkir, "Kau sudah didaftarkan kuliah diNottingham Business School."
Keinginan satu sisi, yang bahkan tidak mengijinkan Yongguk buka mulut saat itu. Ayahnya egois? Ya. Yongguk selalu ditepis ucapannya, jika mengucap 1 kata saja. Umurnya kala itu masih 17 tahun. Masih "Bocah", begitu menurut Beliau. Jadi alasan apapun, tidak meruntuhkan rencananya yang bahkan terbesit baru 1 menit.
Dia telah 'bertahan' hingga 20 tahun. Masuk lebih awal di umur yang sangat muda, membuatnya lebih mudah juga untuk lulus lebih awal dari beberapa sahabat, nan rekan kerja yang umurnya terpaut lebih tua. Ia yang termuda saat itu. Normalnya anak yang masuk di tahunnya, sudah berumur 20 tahunan. Tapi tubuh nya tidaklah mungil, tidaklah juga kecil, tidaklah juga semaput.
Bahasa Inggrisnya sangat luar biasa, untuk ukuran laki-laki Korea yang tidak pernah ke luar negeri selama 17 tahun hidupnya. Ia berbaur dengan baik, walaupun belum pernah menjejalkan masa siswa di sekolah publik, hanya Homeschooling dengan guru-guru terpilih. Dan juga bukan orang sombong, untuk seorang anak dari keluarga terpandang pemilik perusahaan rekaman terkemuka di Korea.
Kini ia duduk di kursi kerja kesayangannya, disuguhkan pemandangan luar halaman hijau di sampingnya duduk yang dengan beruntung memang dibangun tepat menghadap kamar tidurnya.
Yongguk berada di rumah yang luar biasa mewah. Tapi ia tidak menggunakannya sendiri.
"Hello, Yongguk? Do i bother you, right now?"
Yongguk melepas headsetnya. Ia sengajakan volume lagu yang ia dengar tidak lebih dari 50%, karena siapapun bisa memanggilnya. Namun ia juga harus fokus dengan tesisnya.
"Yes?" Yongguk pastikan bahwa tadi ia tangkap suara seorang laki-laki yang ia kenal.
Seseorang menyembulkan kepala dari balik daun pintu yang ia buka sedikit. Ia benar-benar begitu santun hingga tak berani menganggu penghuni di dalamnya.
Lelaki berambut pirang, dengan perawakan lelaki Inggris Raya, tidak hanya dari sebuah penampilan, juga aksennya yang sangat khas. Wajahnya terlihat berumur 17an, namun ia seumuran.
"Ah, Austin." Yongguk dengan ramah menyungging senyum. Ia putar duduk, menghadap lelaki itu yang sedang membuat senyum lebar. "Ada apa?"
"Kau sedang sibuk Tesis, Kawan?" ucapnya dalam aksen British yang lebih baik dari Yongguk punya. Lelaki yang diajak bicara, mengangguk.
"Hari ini ada acara pertemuan dengan para Senior kampus. Kau ingin minum-minum untuk melepas penat, Kawan?"
"I think, nanti saja. Aku harus menyerahkan perbaikan tesis ini ke professor pembimbing minggu ini."
"Oh, Kawan, kau sangat sibuk sekali. Aku kasihan padamu."
Yongguk tertawa. "Kau belum merasakannya, Kawan. Karena semakin cepat aku lulus, aku bisa tenang minum alkohol beberapa botol dengan kalian. Maaf."
Austin ikut membuncah tawa. Walaupun mereka seumuran, ia tentu bukan seorang anak luar biasa jenius yang akan mengambil kelulusan untuk waktu 1 tahun saja. (ia baru masuk tahun kemarin). Ia paham Yongguk adalah seniornya, yang akan siap lulus tahun ini. Namun kedekatan mereka seperti teman sepantar.
Austin pasti merasa kesepian karena Yongguk sudah seperti saudara untuknya. Si Lelaki Korea yang tahu banyak hal, dan sangat pengertian. Ia jadi ingat masa-masa awal masuk, ia adalah lelaki luar biasa pemalu. Pertemuannya dengan Yongguk, membuatnya lebih percaya diri. Apalagi diijinkan tinggal bersamanya di 1 rumah mewah dengan sewa murah yang dengan ikhlas ditawarkan Yongguk setahun lalu.
Kalau tidak ada Yongguk, Austin akan tinggal di dorm sederhana dalam kesendirian.
"Apa aku tidak usah ikut saja? Aku akan temani kau."
"Oh, Kawan. Kau berlaku seperti istriku saja."
"Hei, thats rude, haha.. anggap saja rasa terima kasih."
"Kau selalu menyebutkannya. Lagipula apa Anney, Bastian, and Conor juga ikut denganmu?"
Mereka bertiga adalah penghuni rumah mewah Yongguk pula. Bisa dibilang, seperti saudara jauh berbeda budaya untuk Yongguk. Rumah ini memang milik keluarga Bang, namun disewa oleh para penghuni sekitar daerah Nottingham, yang ber-uang.
Anney, adalah mahasiswa ekonomi dari kampus Loughborough, bersama Bastian. 9 menit dari Kampus sentral Nottingham. Bedanya, Anney berasal dari Canada, sedangkan Bastian adalah anak lokal. Keduanya juga adalah sepasang kekasih, yang dengan baik tidak akan mengumbar kemesraan di rumah orang. Keduanya cinta Alkohol, tentu saja sudah bisa ditebak Yongguk, pasti keduanya akan pergi ke pertemuan Senior yang disebutkan tadi, walaupun hanya jadi mahluk tak diundang.
Conor sendiri setengah Amerika-China. Yang paling mengerti bahasa Korea juga. Sekampus dengan Yonguk, seangkatan Austin. Walaupun paling pendiam, tapi ia sangat enak diajak ngobrol. Apalagi menyimpan rahasia.
Ketiganya menyewa rumah keluarga Bang ini sebagai tempat peristirahatan mereka yang sangat cocok dan praktis menuju kampus masing-masing. Harga sewanya lumayan tinggi, tapi ukuran anak mampu seperti ketiganya, itu bukan masalah.
Pengecualian untuk Austin, yang memang rada kesulitan, tapi setidaknya ia orang yang pekerja keras selain hanya berkuliah tekun.
Yongguk menghargainya.
"Ketiganya sih akan ikut. Ada beberapa senior Nottingham yang mereka sudah janji akan ketemuan." ia mengerucut bibir, entah darimana kebiasaan imutnya ini. "Kalau kau tidak ikut, aku tidak punya teman."
"Kau ini sampai sekarang masih saja bertingkah begitu. Kalau aku balik ke Korea, kau nanti bisa kangen setengah mati padaku." Yongguk menghela nafasnya. "Baiklah, hanya sebentar kesana. Aku harus segera pulang untuk usaikan tugas ini."
"You're the best, Yongguk! I will tell the others~"
Pintu itu pun akhirnya tertutup. Membuat Yongguk menggeleng, melihat tingkah Austin yang lebih kekanakan darinya. Selalu saja, ia luruh dengan perilakunya itu.
Yongguk pun menutup buku tebalnya, kertas-kertas berserakan ia susun, dan alat tulisnya ia taruh di tempat. Keadaan meja belajar menjadi rapih seperti tak disentuh.
.
.
.
.
.
Suara dentuman memecah. Orang-orang berserakan di dalam satu ruangan, mengikuti irama lagu "Hung Up" dari Tritonal yang seduktif dan berdendang , mampu mengundang kediaman seseorang jadi pedansa hebat di latar tari bak klub malam.
Yongguk sapa beberapa orang yang ia sudah kenal, atau bahkan gadis-gadis Asia yang sudah kenal Yongguk menggodanya dengan "Hai~" yang lembut, dan sebaliknya malah tidak dikenal Yongguk sendiri. Yang pasti , lelaki itu akan selalu menyungging senyum ramah untuk siapapun.
Yongguk langsung berangkat ke bar, diekori Austin dan Conor. Bastian dan Anney sudah larut ke sisi lain ruangan, yang katanya ada sekumpulan sahabat dekat mereka.
Si pelayan bar memberikan senyuman welcome yang cukup ramah untuk seorang yang suka berkelana dengan minum-minuman keras. Entah bisa membaca pikiran Yongguk cs dengan baik atau kebetulan saja, segelas kecil Brendi sudah tersuguh di depan ketiganya.
Mereka memang sedang tidak ingin mabuk hari ini.
"Setelah kau lulus nanti, kau benar akan kembali ke Korea, Yongguk?" Austin membuat percakapan lebih dulu dengan nada dikeraskan karena pengangnya lagu yang dimainkan. Canor diam, cukup memasang pendengaran.
"Aku rasa. Ayahku menawarkan posisi untuk kujalani di agensinya."
"Kpop, huh?"
Yongguk mengendik bahu, lalu meneguk minumannya sedikit.
"Aku baru-baru ini tertarik dengan Kpop. Kalau aku jadi anggota Boyband, kalian tertarik menontonku tidak?" Austin cekikikan. Conor malah memandang sahabatnya itu Horror, dan Yongguk membalas tawa.
"Menjadi boyband Korea tidak semudah yang kau kira, Kawan. Mereka punya syarat terlalu banyak hingga membuatku muak."
"Wajah tampan?" Conor masuk ke dalam percakapan. Wajahnya serius, memang selalu begitu.
"Salah satunya itu."
"Ugh, aku kan sudah tampan." Austin menegak minumannya. Ia percaya diri.
"Suara yang bagus, tari yang keren, atau kemampuan rap yang luar biasa. Pintar akting, juga pintar mengambil perhatian fans-perempuan lebih utama." mata Yongguk menjelajah perempuan-perempuan di hadapannya, yang menari dengan pakaian pendek mereka. Ia tidak berkedip.
"Kedengarannya kau masuk nominasi." Austin ikut-ikutan menonton dengan tatapan yang sedikit lapar ke mahluk hawa di depannya.
"Kedengarannya bagus bukan? Menjadi seorang pemilik agensi, juga seorang anggota boyband. Akhir-akhir ini sedang populernya begitu, kan?"
"Kemungkinan jadi gay, bisa tidak?"
Yongguk hampir menyembur alkoholnya dari mulut. Austin malah tiba-tiba sudah tergelak tawa duluan.
Conor kalau sudah bicara, biasa tidak punya pembatas.
"Oh ayolah. Itu hanya bualan para anti-Kpop. Belum lagi wajah laki-laki Korea itu cantik-cantik, sih. Makanya banyak yang mengira begitu. Aku saja hampir jatuh cinta dengan Joshua. Laki-laki Korea-Amerika itu. Wajahnya cantik sekali." Austin membeberkan opininya, yang kedengaran beberapa masuk akal, kedengaran juga masih agak menyindir.
"Apa kau jatuh cinta dengan Yongguk, Austin?"
"Pengecualian dengannya. Anak ini jauh lebih kekar daripadamu. Aku lebih tertarik yang badannya kecil."
"Fuck you! So you said that i have a small body?!"
"I think..."
Conor pun menjambak rambut Austin saat itu juga, membuat Yongguk menggeleng-geleng kepala dengan perlakuan mereka.
"Dasar kalian. Nanti kalau aku beneran jadi anggota Boyband, bagaimana?" Yongguk pun meleraikan kedua sahabatnya yang bertengkar ala siswi-siswi SMA di sampingnya itu.
"Aku akan bertaruh siapa yang akan jadi gay duluan. Seorang anggota Boyband Kpop, atau justru mahasiswa normal seperti Conor?"
Conor menarik kerah Austin, siap adu jotos kalau perlu untuk melanjutkan aksi jambakan tadi. "You're the one who will be the gay, you lil' Shit!"
"Ah, aksen Amerikamu keluar lagi, HAHA"
Conor dan Austin memang kedua sahabat Yongguk yang suka berantem untuk hal-hal sepele. Austin adalah tipe yang suka menggoda Conor, tapi sangat pemalu di depan orang-orang. Entah kenapa.
Yongguk jadi berasa yang kesepian disini.
"Hei, cari udara segar di halaman, yuk." Yongguk akhirnya merayu keduanya untuk mengikuti ajakannya. Halaman hijau lebih mengundangnya daripada keributan tiada guna dari dua sahabatnya atau tarian-tarian membosankan di hadapannya.
"I will show you something interesting~"
"You said it like its somekind of 'porn', man."
"And i will enjoy that!" Austin dengan polos (atau keterlaluan mesum) menunjukkan semangatnya. Conor mendecih tak senang.
"No. Something more gayest!" Yongguk mengedip mata. Dua sahabatnya langsung bertukar pandang ngeri. "Haha,, nah. Just kidding. C'mon!"
.
.
.
.
.
.
"Apa kameranya sudah terpasang benar, Eun-Ae?"
"Berisik sekali. Sebentar lagi."
Pemuda itu menggigit bibir. Tangannya gelisah mencengkeram ujung bajunya. Padahal di dalam ruangan itu hanya dirinya, gadis bernama Eun-Ae, dan sebuah kamera.
"Ok! Selesai. Wajahmu kelihatan jelek sekali di kamera ini, Daehyun."
"EUNAE!"
"Haha, bercanda."
Eunae langsung beranjak dari belakang kamera yang telah menyala tanda record. Ia langsung duduk di bangku sebelah Daehyun.
Seolah lupa dengan rencana yang telah dibuat, Daehyun diam saja. Ia masih kebawa malu-malu. Berbeda dengan Eunae yang malah kelihatan senyum-senyum gila tidak sabaran.
"Halo, namaku Eunae!"
Saatnya giliran Daehyun.
Namun apa yang ia lakukan?
Hanya desingan udara yang sejauh ini terdengar.
Eunae pun langsung mencubit pinggang Daehyun.
"A-Apa yang harus kulakukan?!" Daehyun panik. Ia gamang dengan suasana. Eunae yang gemas, memberikan instruksi dengan gerakan-gerakan isyarat yang Daehyun tidak bisa mengerti.
"A-aku Jung Daehyun." ungkapnya yang suara udara pun jauh lebih enak didengar.
"Lebih keras." perintah Eunae geregetan. Daehyun mengerut dahi, merasa tidak yakin. "Tsk. Kita ulang lagi."
Pada akhirnya, mereka melakukan banyak percobaan hingga 5 kali untuk mempersiapkan sebuah rekaman perkenalan sederhana hanya 1 menit. Kenapa begitu banyak perjuangan.
Namun kali ke-5, Daehyun sudah bisa memasang wajah tenang. Ia sudah siap dengan gitar di genggaman, dan memetik lagu pembuka sebentar.
Eunae bahkan sudah siap dengan senandungnya sebagai pelengkap alunan gitar akustik yang dimainkan. Keduanya berbaur dengan sangat indah.
Daehyun mulai bersuara, ia bernyanyi mengikuti irama. Nadanya memiliki emosi yang mendalam, dan penuh makna. Mengguncang siapapun yang mendengar. Ia mencoba tidak memecah suaranya (walaupun itu tidak akan pernah terjadi) selama bagian dirinya sedang ia mainkan.
Berikutnya setelah menyanyikan bagiannya, Eunae melakukan aksinya. Ia punya suara dalam khas wanita, cocok untuk rap yang sudah dibangun dalam lirikannya. Rapnya cepat, tepat, padat. Seperti ada tuntutan, argumen, confession dalam hanya beberapa kali tarikan nafas.
Keduanya seakan lupa mereka sedang punya tujuan awal apa. Seakan mereka melakukannya hanya untuk mereka berdua, atau untuk roh-roh tak tampak di ruangan itu. Untuk benda-benda mati yang tak punya telinga.
Setelah selesai, setelah melihat hasilnya tampak memuaskan seperti yang diharapkan..
"Kau yakin akan menguploadnya?"
"Yakin sekali. Ini adalah kunci ketenaran kita."
"Eunae, kau sangat percaya diri sekali."
"Kau yang terlalu pesimis."
Eunae pun yang lebih pintar komputer, menyelesaikan tugas sisanya. Video dibuat lebih baik, lebih sempurna, membuang bagian tak berguna. (Terutama bagian intro yang banyak cacat).
Dan tekanan keyboard Enter mengakhiri ketegangan keduanya.
"Berjanjilah jika salah satu dari kita jadi artis , atau bahkan kita berdua. Pastikan kau harus traktir aku."
"Kau ini jangan bikin aku makin takut, dasar rakus."
.
.
.
.
.
.
.
"Woah! They are so damn good!"
Conor yang lebih dulu memuji saat itu. Austin hanya angguk-angguk kepala. Ia masih terlena dengan tontonannya. (atau kepada perempuan cantik yang ikut muncul).
"Laki-laki ini, namanya Jung Daehyun. Ia adalah trainee di agensi ayahku."
"Lalu kau menunjukkannya karena apa?" tanya Austin penasaran setelah video itu selesai.
"Video ini diupload 7 tahun lalu. Aku menemukan video ini saat umurku 18 tahun. Ketika itu aku cukup aware dengan orang-orang bertalenta seperti ini. Aku langsung tertarik dengan kemampuannya, dan menawarkannya posisi menjadi trainee di agensi ayahku.
Bagaimana menurut kalian, dia sangat cocok jadi anggota Boyband, kan?"
"Aku tidak paham kenapa kau ingin bertukar pikiran dengan kita, tapi jika kau memaksa, dia memiliki vokal yang sangat baik."
"Aku setuju dengan, Austin." Conor berdehem. "Lalu perempuan itu? Dia keren juga rap nya."
"Ia sudah di kontrak agensi lain, saat aku menawarkannya."
Conor dan Austin mendesah kecewa.
"Setelah aku lulus pertengahan tahun ini, aku dipastikan langsung ditempatkan posisi oleh ayahku.
Begitu juga, training bersamanya."
Austin dan Conor langsung melempar pelototan terkejut kepada lelaki itu yang penuh dengan keteguhan sekaligus serius di wajahnya.
"Wait, are you really serious?"
"Dude, you are really going to be an idol?"
Yongguk tersenyum. "Maybe.. aku mencoba peruntungan. Training belum tentu lulus jadi artis."
"You will so busy, Man~"
Yongguk memperhatikan kedua sahabatnya, dengan pandangan yang teduh. Yang membuat siapapun akan luluh. Ia kemudian menghadap ke pemandangan sunyi jauh dari keramaian di dalam ruangan.
Entahlah, ia merasa... sangat mendukung keputusannya walaupun hanya direstui bintang dan bulan.
"To be honest, kalau aku lebih memilih antara menjadi pemilik agensi karena keinginan besar ayahku, atau mengejar hobiku yang tertunda. Aku lebih baik melakukan keduanya."
Austin dan Conor saling bersih tatap, menyiratkan pembicaraan yang keduanya seakan saling paham.
'Tidak ada yang salah. Itu bagus untuknya.'
'Dia berbakat, sekaligus pintar. Ia akan bisa melakukannya dengan baik.'
'Aku kadang kasian Yongguk terkekang oleh ayahnya, tapi ia bisa melakukannya dengan kekuatan sendiri. Kau yakin dia akan baik-baik saja?'
'Hei, dude. Aku tidak bisa ikut-ikutan mengekang potensinya seperti ayahnya, kan?'
Austin dan Conor pun memberikan tepukan ringan ke punggung Yongguk, sebagai penyalur semangat. Mereka 100% mendukung.
"Kalau kau sudah jadi artis disana, jangan lupakan kita."
"Ajak-ajak kami berkenalan dengan artis-artis perempuan cantik disana."
Ketiganya pun bersemburat tawa hingga Anney dan Bastian datang mengajak mereka berfoto.
Anggap saja foto-foto sehabis pesta, yang terakhir sebelum Yongguk pulang ke Korea.
.
.
.
.
.
.
Suara gemericik koin dijatuhkan satu persatu ke dalam sebuah topi snapback, beberapa lembar uang kertas dihitung baik di dalam genggaman tangan.
"Jadi uang yang terkumpul sekitar 22 won(=260an ribu rupiah)."
"YIPII!" Laki-laki bertubuh besar, melompat senang dari posisi jongkoknya. Snapback miliknya sampai ia lempar-lempar ke udara yang sedang dingin saat itu. "Aku bisa makan daging 2 potong tipis setidaknya hari ini!"
"Heon, tabungi. Ingat kau ini masih sekolah. Nanti susah bayar SPP." Si pemuda bertubuh agak kurus, menasihati dengan wajah serius. Heon selalu luluh kalau sudah diomel begitu oleh sang sahabat, maka ia hanya mengerucut bibir sebal, dan kembali duduk tenang ke salah satu kotak bekas di dekatnya.
"Tidak apa-apa, Taemin. Heon belum pernah merasakan daging, haha. Palingan ia tabung beberapa untuk SPP sekolah, sekaligus untuk makan daging." Laki-laki lainnya yang sedang sibuk memegang pecahan uang, kini menyerahkan beberapa nya kepada dua sahabatnya sama rata. Mereka mendapat bagian lebih banyak dari dirinya sendiri.
"Jongup, kau lagi-lagi mengambil jatah sedikit. Ingat, kau juga bagian dari kita." Taemin bersemburat kasihan. Ia selalu memasang wajah khawatir jika melihat keadaan dua sahabatnya yang selalu hidup miris. Ibunya anak-anak.
"Kalian berdua lebih memerlukan. Jooheon bentar lagi ujian, Taemin lagi menabung untuk menikah, bukan?"
Jooheon lirik Taemin. Yang dilirik hanya membuang wajah acuh malu-malu. "Kan masih lama."
"Tapi kau kan juga lagi menabung untuk masuk kuliah kedokteran, kan?"
Jongup mengendik bahu, "Aku belum tentu masuk."
"Jangan pesimis begitu!" Jooheon segera merangkul pundak temannya itu. "Kalau kau bisa jadi dokter, nanti bisa obati kita gratis. Makanya kejar terus, Moon!"
"Heon! Kalau mendukung jangan setengah-setengah."
Lagi-lagi kena omel Taemin, Heon hanya bisa menurut dengan tundukan wajah minta ampun.
"Oke begini saja. Kita perform saja lagi, belum terlalu larut begini."
"Ta-tapi, nanti ditangkap polisi." ucap Jongup tak yakin. Ia lirik kedua temannya dengan gelisah.
"Sekali-kali berbuat nakal tak apa kan?"
Tubuh Jongup ditarik, berlalu bersama keduanya menuju jalan besar, dan mencari trotoar yang cukup ramai namun sepi fasilitas umum. Tempat cocok untuk mengadu nasib sampai larut nanti.
atau mungkin sampai dikejar polisi.
.
.
.
.
.
.
"Siang, Ibu."
Ibunya saat itu entah kenapa tidak mau atau bahkan malas menyambut Jongup. Kehadiran puteranya itu selalu tidak menghiburnya. Ia hanya larut dengan TTS di tangannya, dan memecahkan teka-teki di dalamnya seperti itu adalah hidangan untuknya.
Jongup dengan tatapan sendu, akhirnya maklum mengabaikan. Ia melepas sepatu, dan masuk ke rumah. Ingin cepat menanggalkan seragam sekolahnya dan beristirahat. Sorenya ia akan kembali mencari uang bersama dua sahabatnya.
"Kapan kau akan bayar SPP?"
Sebelum naik tangga ke kamarnya, suara ibunya membuat langkah mengerem. Jongup fokus pada ibunya yang tidak mengalihkan pandangan.
"Eum, mungkin lusa."
"Ibu tidak punya uang."
Jongup hanya meluruskan bibir. Ia sebenarnya sudah tahu ibunya akan membalas begitu, kenapa masih saja mempertanyakannya. Toh, pasti Ibunya sudah tahu kalau yang bayar SPP selama ini dari uang hasil perform di jalanannya.
Tapi Ibunya sok tak mau tahu.
"Dan ada kiriman surat entah dari siapa. Coba kau check. Salah satunya untukmu." Ibunya mendesah keluh. "Kalau kau merasa semua surat tagihan juga milikmu, Ibu akan sangat bersyukur."
Jongup hanya memasang wajah datar, entah mau merespon bagaimana. Ia ikuti suruhan ibunya untuk mengecek surat-surat yang tergeletak di sebuah almari usang dekat dapur.
Beberapa yang ia temukan hanyalah surat tagihan biasa. Surat tv, surat listrik, surat air, bahkan surat telepon, yang bahkan Jongup tidak pernah diijinkan pakai.
Ada salah satu surat yang menarik perhatian. Warnanya merah mengkilap, dari bahan yang bukan kertas biasa. Jongup lihat, hanya ada tulisan "For Moon Jongup".
Surat itu membuat dadanya berdentum gelisah. Ini seperti mendapat surat kematian dirinya. Karena ia belum pernah mendapat surat untuk dirinya sendiri. Jangan-jangan ada manusia lain yang bernama Moon Jongup.
Jongup melirik sekitar, memastikan tidak ada yang mengawasinya melihat isi dalam surat misterius itu.
Sett
Satu robekan sudah menyembulkan sebuah kertas lipatan di dalamnya.
Ia tatapi isinya beberapa saat. Ada emblam TS Entertaiment terpampang di kop surat. Ia menelan ludah sendiri, rasanya jadi bikin mual.
Ia membaca ketikan ketikan itu, yang saking fokusnya, tak mau tertinggal 1 huruf saja.
Tak lama kemudian,
"ASTAGA..." Jongup langsung mendekap mulutnya agar tidak lolos dan menganggu Ibunya yang lagi konsentrasi dengan TTS nya.
Matanya tak tenang, melihat kesana kemari. Ingin lompat, ingin berteriak, ingin membenturkan kepalanya biar amnesia, ingin tenggelam saja, ingin...ingin...
emosinya campur aduk. Ia langsung berlari, menjatuhkan surat-surat tagihan hingga berserakan ke lantai, dan belum sempat ia beresi.
Ia lompati semua anak tangga, dengan hentakan kaki tak bersuara. Lalu , menutup pintu kamarnya dengan gerakan lembut. Ia masih mendekap mulut, lalu melempar tubuhnya ke atas ranjang, lalu mendekap seluruh wajahnya ke bantal.
"MMMPPHHHHHHHHHHh~~!"
Begitu histeria nya ia salurkan dalam dekapan bantal.
Kertas yang sudah lecek karena genggamannya yang keras, terbang disapu angin dan tergerai di atas lantai.
"Kau diundang menjadi salah satu trainee kami.." adalah salah satu kalimat yang bisa diintip dalam geraian kertas itu.
.
.
.
.
.
.
"Welcome back to Korea, Mr. Yongguk."
Salah satu pelayan dari 2 orang yang diikutkan, memberikan sambutan. Satu pelayan lainnya, sibuk menaruh tas-tas koper miliknya ke dalam mobil mewah di hadapannya.
"Panggil aku saja Yongguk. Dan kalian bisa bicara Korea padaku." ucapnya dengan senyum yang bersahabat. Pelayan sekaligus supir itu merasa terhormat dengan tawaran begitu, langsung membukakan pintu.
Namun Yongguk tidak sendiri rupanya di bangku belakang. Sebelum masuk, ia mengecek ke dalam mobil, dan sudah ada 1 pria berjas rapih, memberikan delikan tajamnya.
"Oh, hai, Paman Dongwook."
"Bocah sialan. Aku tidak setua itu. Masuk kau."
Yongguk terkekeh cengengesan. Ia masuk, dan mendudukkan diri di posisi ternyaman.
"Jadi bukan Tuan Besar Yongin yang menjemputku?" Yongguk sungging senyum sindiran. "Memangnya dia sudi?"
"Jangan bahas ayahmu dulu untuk saat ini." Dongwook membuka buku notesnya. Membolak-balikkan halaman dengan cekatan, seperti dahulu. Seperti sebelumnya beliau biasa melayani ayahnya sebagai sekretaris pribadi.
Sekarang apa kalau bukan menjadi sekretaris pribadi?
Ya, kini merangkap naik jabatan jadi asisten juga bapak kedua untuk Yongguk. Setelah Yongguk kembali ke Korea, ia akan mempersiapkan diri jadi boss. Berarti butuh banyak bimbingan dan penjagaan, serta omelan.
"Mood mu jadi tak bagus? Aku dengar baru-baru ini Paman, tidak akur dengan istrinya?"
Dongwook mendecih. "Berhenti memojokkanku seperti lainnya. Kalau kau tahu moodku sedang jelek, menurut saja."
Yongguk terkekeh, senang lagi-lagi membuat pria tampan di sampingnya itu tersulut api kesal.
Selama Dongwook mencari-cari jadwal yang dituliskannya (yang ia lupa tandai), Yongguk menangkap sebuah kerumunan di matanya yang sedari tadi fokus ke luar jendela.
Kerumunan itu kelihatannya asyik dengan sesuatu, hingga beberapa dari mereka mendendangkan gerakan kepala.
"Pak, coba berhenti sebentar."
Dongwook jadi tidak fokus ke Yongguk. "E-Eh?! Mau ngapain kau?"
Yongguk mengedip mata. "Psstt.. sebentar saja aku lihat kesana ya!" Seperti bocah nakal, pemuda itu main keluar dari mobil yang baru beberapa menit berhenti.
Dongwook pasti mengumpat dari dalam mobil mewah itu. Moodnya semakin buruk karena harus melayani bocah merepotkan.
.
.
.
.
.
.
.
Yongguk ikut berbaur dalam keramaian. Saking ramainya, ia jadi sangat sulit memperhatikan penampilan di depannya. Ia tidak peduli, harus mendesak maju pengunjung yang sudah lebih dulu berdiri disana.
Semakin dekat, semakin jelas penampilan apa yang mencuri perhatian semua orang.
Saat itu lagu "All i wanna do" dari Jaypark, salah satu lagu favorit Yongguk, mengalun memecah keheningan. Sudah banyak yang kenal, termasuk Yongguk, yang tidak akan sungkan menggerakkan leher mereka mengikuti irama.
Yang paling menarik dari hanya sebuah alunan lagu, seorang laki-laki muda di tengah stage, menari freestyle menyesuaikan irama yang muncul. Ia tidak mencover, tidak pula mengikuti si empu choreo, ia gunakan teknik serta gayanya sendiri, yang justru terlihat lebih sempurna.
Manik Yongguk berbinar-bisa dibilang begitu. Ia terlalu larut, hingga tidak fokus ke lagunya, melainkan gerakan anak muda itu. Umurnya berapa? Entahlah. Namanya siapa? Entahlah. Ia haus pertanyaan, ia juga haus tontonan segar disana.
"Ini yang kucari." gumamnya begitu.
Hingga konsennya pecah, setelah Dongwook menyusul menariknya keluar dari keramaian audience disana...
.
.
.
.
.
.
.
Mata Jongup tidak berkedip memperhatikan sekitarnya. Ia merasa di daerah yang bukan levelnya. Tempat yang dipijakinya seluruh lebih nyaman dari yang ia kira.
Sekelas gedung pencakar langi bagi perusahaan-perusahaan besar, dinding-dinding berkaca yang lagsung ditembus cahaya matahari hingga membuat seisi ruangan bergemerlap. Ornamen-ornamen di dalamnya di tata di tempat yang sangat aesthetic. Enak dipandang mata.
"Kau sampai di ruang favoritku."
Jongup melongok menatap ruangan di dalamnya saat itu.
Ada beberapa orang bertandang disana, beberapa adalah produser terkemuka yang sangat dikenal Jongup. Ia kenal beberapa karena sering disebutkan dalam beberapa grup Korea yang performnya berdampak dengan nama baik mereka. Sebagian besar dari mereka adalah penanggung jawab sekaligus produser grup EBS*.
Sebesar inikah pengaruh perusahaan TS , hingga bisa mengumpulkan orang-orang hebat ini?
"Kami punya kerja sama dengan mereka. Trainee kami beberapa diasuh produser-produser ini, sampai akhirnya mereka menentukan nasib untuk debut atau tidak. Beberapa hasil dari lagu , choreo dsb, juga ada kaki tangan dari pihak TS sendiri."
Jongup hanya manggut-manggut. Matanya tidak berhenti mempelajari tingkah orang-orang disana, yang tidak bisa mengabaikan perdebatan satu sama lain. Bahkan Yongguk tak mau menganggu.
"Perusahaan kami hanya menjadi tanggungan, kaki tangan, sekaligus penanggung jawab untuk beberapa agensi Idol yang sudah mendebutkan artis-artisnya. Bisa dibilang kami produser di belakang layar. Mereka adalah artisnya.
Tapi setelah aku mendapatkan tempatku sebagai penerus perusahaan ini, aku berencana mengeluarkan artis pertama dari pihak kami sendiri."
Jongup memandang Yongguk dengan tatap heran. Ia bahkan masih berpikir, trainee beruntung macam apa yang bisa debut di bawah tanggungan TS Enter?
"Ikut aku. Aku ingin kau menemui seseorang."
Yongguk dan Jongup akhirnya keluar dari ruangan dan mencari ruangan lainnya.
Jongup benar-benar menjadi seekor anak itik yang mengikuti induknya kemana pun. Ia merasa tidak berhak bertanya, walaupun ia ingin sekali.
Yongguk masuk ke dalam ruangan yang dibangun seperti ruang rapat. Namun bukan didekor selayaknya ruang rapat membosankan, ruangan ini lebih berwarna dan beberapa hiasan cantik memperlengkapnya.
Seorang pemuda duduk di salah satu kursi, konsen membaca sesuatu.
Sepertinya kukenal, pikir Jongup.
Ketika pintu kaca itu dibuka, barulah mereka saling bersih tatap. Pemuda itu mengalih pandang dari kertas yang dibacanya.
"Yongguk?!"
"Hai, Daehyun. Lama tak berjumpa."
Mata Jongup terbelakak. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya, setelah melihat seorang pemuda terkenal lainnya berada di depan matanya.
"2 tahun kita tidak bertemu, kau tetap terlihat menyebalkan dari dulu."
"Jahat sekali. Kau tidak ingin memberikanku sambutan hangat. Mungkin sekedar 'Hai' atau 'ciuman hangat'?" Yongguk memberi kedipan mata, yang membuat Daehyun langsung bergestur ingin muntah.
"K-kau.." Sementara itu , Jongup berucap dengan getaran di rongga mulutnya. Dalam keadaan dirinya yang serba hilang arah, ia hanya bisa tergagu. "K-kau, Jung daehyun?"
Daehyun mengerut kening. Tidak terlalu kenal dengan bocah dungu di hadapannya. Di depannya ia mengira hanya bocah kecil yang dipungut Yongguk untuk jadi asisten rumahannya karena pemuda di depannya itu adalah tuan besar manja.
"Oh ya, Jung Daehyun. Ini Moon Jongup. Mulai sekarang kalian akan di trainee bersama."
Dua kepala langsung mengarah pada Yongguk, dengan tatapan sulit percaya.
"Maksudmu?!"
"Ya, Jongup akan di trainee bersamamu.
Tidak, lebih tepatnya bersama kita."
"HEI, Tuan Besar Sinting! Apa-apaan kau mengundangku capek-capek datang kemari untuk mendengar bualanmu?! Apa rencanamu kali ini?! Kejutan main-main dari Inggris?!"
Jongup mengerjab mata memperhatikan emosi membuncah Daehyun yang jarang terlihat di saluran tv langganannya. Tapi yang terpenting, ia juga sulit berekspresi dengan keputusan tiba-tiba ini.
Ya, ia tahu memang akan di trainee. Tapi disanding dengan artis Youtube semacam Daehyun? Ini terdengar mustahil. Ia hanyalah anak jalanan, yang mengais uang dari perform murahan. Bahkan untuk bayar SPP butuh perjuangan di jalanan yang berdebu.
"Aku bersungguh-sungguh. Cepat atau lambat, kau akan segera didebutkan di bawah nama perusahaan TS. Jongup juga. Ia berhak mendapatkan posisi karena kemampuannya.
Mulai sekarang kalian asuhanku, tanggung jawabku. Aku berjanji akan mengharumkan nama perusahaan ini dari hasil tanganku sendiri. Kita akan menjadi grup terbaik di Korea."
Yongguk merangkul Daehyun dan Jongup. Dua orang yang telah dia cap menjadi partner kerjanya mulai sekarang. Senyum gusinya terpancar, ia begitu bersemangat.
"Kau gila?! Kau ini bukannya menurut pada ayahmu jadi direktur TS, malah main-main jadi member boyband segala. Aku tidak keberatan harus debut dengan bocah tengil ini. Tapi, denganmu? Akan merepotkan!"
"Kata siapa. Tubuhku ini aku yang tangani sendiri. Bukan urusanmu. Benar, Jongup?"
"Te-terima kasih, Yongguk-ssi. Ta-tapi, Daehyun sunbae ada benarnya. Bagaimana jika resikonya akan besar ?"
Yongguk memberi tanda Ok. Tidak ada emblam 'aku takut' yang ingin ia tempel di dahinya, tidak juga ia ingin meruntuhkan pendiriannya.
"Tidak ada hasil terbaik, tanpa suatu resiko yang dilewati. Kita bertiga akan menghadapinya bersama, karena kita satu tim. Tapi aku sendiri yang menjamin selama kita saling membantu, pasti ada jalan keluarnya. Sekarang kita lakukan yang terbaik dulu. Atau tidak sama sekali."
Daehyun yang sejak dulu sudah bermimpi ingin debut, Jongup yang mengasihani masalah keluarganya jika tidak segera debut, dan Yongguk yang sudah memiliki impian ini sejak dulu, tidak bisa menolak lagi kesempatan yang ada di depan mata.
.
.
.
.
.
.
1 tahun kemudian...
.
.
.
.
Kelap keli pancaran sinar kamera memenuhi ruangan. Orang-orang berpakaian formal atau bahkan sekadarnya, berserakan. Mereka perlu banyak gambar, dan rekaman suara bukti yang akan diumumkan ke dunia.
3 orang dengan balutan jas, kaus dalam yang melonggar hingga memperlihatkan dada sexy mereka. Tubuh-tubuh menjuntai yang tegap berdiri di tengah stage, semua hanya konsen memperhatikan 3 mahluk sempurna yang telah dilahirkan ke dunia untuk jadi hiburan mata, dan penarik birahi siapapun.
Gadis-gadis berteriak di luar gedung press conf. Mereka memang tidak melihat 3 mahluk sempurna itu. Tapi mereka merasakannya, merasakan hawa keberadaan mereka ada di dalam, seolah tepat di depan pandangan mereka. Maka teriakan mengudara.
'OPPA! KYAAA!'
'AKU JATUH CINTAAA!'
'OPPAAAA'
Mereka yang telah setia menunggu ketiganya dari yang belum jadi apa-apa. Mereka yang kenal seseorang dengan wajah tampan, vocal juara, daya tarik peningkat hormon, dan sering mereka tonton dari fasilitas Internet. Mereka yang kenal seorang penari jalanan, hidupnya sederhana dan segelintir keterpurukan lainnya, yang sulit dipercaya menjadi bisa setenar ini. Mereka yang kenal seorang pangeran tampan , anak Direktur dari Perusahaan rekaman terkemuka, hidup bergelimang kesempurnaan.
Kini ketiganya akan mengumumkan pada dunia, bahwa butiran pasir bisa menjadi sebuah mutiara bernilai harga jutaan won!
"Terima kasih telah hadir pada Press conf ini."
"Kami sangat menghormati kehadirannya.."
"Perkenalkan kami...
.
.
.
.
.
.
.
Best Absolute"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yang merasa tidak penting dengan chapter ini, maaf ya
But really, i want you know about them more about their past, so its not just inside the conv or others part.
Well, sebenarnya ini gak bener-bener past mereka. Tapi hanya pertemuan awal ketiganya.. Seiring cerita akan lebih banyak hal yang kalian ketahui dari beberapa cast ^^
Cerita tetap berlanjut, jd yang sabar yahh. Im doing my best!
Fav, Follow, Review? :)
