My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

.

Warning!

Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.

I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^

.

.

.

.

.

"Ini adalah album pertama saat BA baru debut." Youngjae mengeluarkan sebuah album tebal berbentuk seperti buku kamus. Dikeluarkan dari sebuah kotak pribadi yang jadi aset berharganya, disimpan di samping lemari pakaian.

"Ini album summer mereka yang spesial, dan ini kudapat versi limited editionnya.."

Youngjae terus berceloteh memamerkan semua barang-barang berharganya dengan segala pengetahuan yang sangat ia pahami. Padahal yang ingin diberitahu pun tidak fokus pada ucapannya.

Junhong kini berkelana dengan dunianya sendiri. Ia masih melihat gambar-gambar dari sebuah album foto, berisi tempelan gambar wajah para member. Ia membuka setiap halaman dan hanya ingin melihat 1 orang yang sama.

Moon jongup, dengan senyum yang tidak bisa sirna juga. Dengan pesonanya yang mengagumkan, cukup membuat pemuda belia itu getar-getir di usianya yang hampir matang.

"Dan ini adalah album-Hei! Kau dengar aku, tidak?!"

Junhong tersentak hingga hampir menjatuhkan album foto di tangannya. Ia menoleh cepat, dan mendapati Youngjae berseteru pandang kesal padanya.

"Kau daritadi melihat album foto itu, tapi tadi bilang mau pinjam album. Maunya yang mana sih?" Youngjae beranjak dan mendekati Junhong. Ia ingin cari tahu apa yang lebih menarik perhatian Junhong daripada album cd yang ia kumpulkan selama ini. "Siapa yang kau suka? Setiap fans pasti punya 'bias' nya sendiri."

Jari Junhong tidak ragu-ragu lagi menunjuk pada 1 foto bergambar lelaki yang disukainya. Moon Jongup. Yang kala itu tampak tampan hanya dengan pose memoles keringatnya, juga kaus kutang putih yang membalut tubuh kekarnya.

"Wah, pilihan yang bagus. Kau punya selera."

Junhong tersenyum puas. Ia memang menyukai lelaki yang benar-benar terbaik.

"Youngjae, setauku BA itu ada 3 member, ya? Kok isinya cuman foto 2 member aja?"

Youngjae melirik jengah. Kenapa juga topik demikian harus dibawa-bawa?

Ia menghela, lalu mendudukkan diri di ujung ranjang. "Aku suka BA, tapi ada 1 member yang paling tidak kusukai. Jadi untuk apa mempunyai gambar wajah orang yang tidak kusuka."

"Hmm. Kenapa kau tidak suka? Kukira seorang fans itu akan menerima 1 grup sekaligus."

"Ya aku tidak membencinya. Ia hanya menyebalkan di mataku, hingga aku tak sempat tertarik padanya." Youngjae menggerutu. Ia membayangkan wajah Daehyun saja, sudah kesal setengah mati.

"Apa ada yang salah?"

Youngjae mengendik bahu. Sejujurnya, ia memang sudah bermasalah dengan 1 member ini sejak pertama kali kenal BA. Lelaki ini penuh pro kontra, suka buat kontroversi, dan membawa-bawa BA dalam skandal. Tapi selamat setiap ada kesempatan.

Ia yakin BA itu sesungguhnya diisi orang-orang innocent yang hidupnya akan tenang. Tapi sebagai pecinta Yongguk, dan membayangkan Daehyun selalu merepotkan lelaki yang dicintainya itu, membuatnya semakin jengah. Hingga ia tidak bisa respect sampai sekarang.

"Sialnya, aku malah keseringan bertemu dengannya." ceplos Youngjae di tengah pemikirannya yang semrawut. Membuat Junhong mengerut dahi melihat keambangan sahabatnya itu.

"Hei ngomong-ngomong kau kenapa tiba-tiba suka BA? Ada hantu apa yang merasukimu? Bahkan aku yang fans berat mereka tidak bisa membujukmu."

Junhong merunduk malu-malu seperti gadis perawan ditanyakan tentang pacar lelakinya untuk pertama kali. Ia tidak bisa menahan rasa suka cita untuk membeberkan tabiat Jongup, yang telah menambat hatinya. Membuat dirinya gila untuk tahu lebih banyak pada apa yang Jongup tekuni.

Namun, ia tidak bisa seenaknya bicara jika melibatkan Youngjae.

Youngjae adalah fans dari BA, juga punya teman satu fandom yang bertumpah ruah. Rahasia keduanya tidak boleh sampai terdengar telinga siapapun, apalagi sahabatnya ini yang berkait erat dengan para fans-fans Jongup di luar sana.

Bisa mati keduanya sebelum waktunya.

"A-aku pernah," Junhong ragu. ia belum cukup pandai juga untuk berbohong pada siapapun kecuali jika mengenai dirinya yang suka akting jadi cewek. "aku pernah nonton konser mereka."

"Apa?! Kau serius?!"

Junhong mengangguk. Ia hanya bisa diam saja kalau nanti Youngjae bereaksi semakin curiga padanya.

"Konser apa?! Kapan?! Kok gak pernah bilang!?"

"Eehh-i-itu." Junhong menambat jari-jemarinya. Tidak apakah ia membeberkan informasi yang ini? "Konser terakhir mereka."

"APA?!" Youngjae sergap dua pundak sahabatnya itu. Matanya bulat, ganas, sangat menakutkan untuk ukuran seorang fans yang sedang membludak heboh. "Kau kan belum cukup umur! Dan bagaimana bisa kau datang kesana?!"

Junhong saja tak tahu kenapa ia menjawab itu, dan tidak heran Youngjae akan lansung keheranan. Ia hanya ikut kata hati, "Seseorang yang baik hati memberikan tiket gratisnya untukku."

Tangan Youngjae berhenti mengerakkan tubuh Junhong.

"Seseorang?"

"Di-dia ingin aku menonton konser itu. Berdua, bersama.." Junhong membuang pandangannya. Yang terpenting tidak langsung mengamati dua manik yang penuh tuntutan di hadapannya.

"Junhong..."

Youngjae tiba-tiba memeluk tubuh anak itu. Menghanturnya dengan segala pujian. Ia rasanya sangat senang. Membuat Junhong jadi salah tingkah. "Kau benar-benar terbaik!"

"A-apa?"

"Kau membuatku panik. Ternyata kau beruntung sedang pendekatan dengan fans BA!"

Junhong terdiam mendengar pernyataan Youngjae. Matanya yang indah itu mengerjab-ngerjab tak paham, tapi sedari tadi hanya angguk-angguk kepala mengiyakan apapun yang Youngjae anggap benar semaunya.

Jika ia mencela, Youngjae akan memperbanyak pertanyaan serupa. Namun jika tidak, mungkinkah Youngjae akan menggerogotinya dengan kesalahpahaman?

Junhong berharap ia lupa saja.

.

.

.

.

.

.

Masalah semakin pelik saja, pikir Daehyun kala itu sedang telentang di atas sofa dormnya. Diamati oleh 3 orang yang juga masih berada di dunia mereka masing-masing.

Keempat manusia yang menjadi begitu lelah akibat baru mengejar seorang Paparazzi berandal, akhirnya mulai didatangi sebuah keputusan rumit hingga mereka memikirkannya berjam-jam.

"Ini juga karena kau yang menawarkan berita itu seenaknya saja seperti memberi parsel gratisan. Padahal sudah kita rencanakan pemberitaan hubungan kita ini ya minggu depan." Daehyun yang panik duluan, mengganti posisi tidurnya menjadi membelakangi semua orang. Jangan ganggu dia, yang sedang sangat suntuk.

"Jadi press conf nya dipercepat? Besok?"

Dongwook mengangguk merespon pertanyaan Jongup. "Besok pasti sudah muncul beritanya besar-besar. Jika kita bersembunyi, yang ada kalian semua tidak akan bisa bebas berhari-hari. Harus segera diberi kejelasan." Ia menghela nafas. "Lagipula kalian harus konsen latihan untuk persiapan album bulan depan. Jangan sampai segerombol wartawan mengawasi kalian terus-terusan."

"Aku berpikir itu bagus."

Daehyun yang tadinya sudah tidak peduli, langsung balik tubuh dan mendelik tajam pada si pengucap tadi, seolah ia tak ingin dirinya berucap apapun lagi. Apapun yang dikatakan malah akan membuat sial. 'Pulang saja sana, dasar pengacau!' pikirnya kalau ia cukup berani.

"Maksudku, semakin cepat semakin baik. Berita ini akan langsung menenggelamkan skandal Daehyun dengan Eonnie, dan beberapa waktu kemudian.. akan semakin cepat pula kontrak kita selesai, bukan? Aku tak mau menunggu 1 minggu lagi."

Daehyun merasa gerah dengan ucapan Diana yang semakin melantur seolah hal ini bisa digampangi. Ia bangun dari tidurannya, dan beranjak mendekat ke Diana. Kepala mereka saling berdekatan. Daehyun ingin menyudutkan Diana.

"Kau tidak khawatir dengan fans mu? Atau perasaanmu?"

Diana mengekeh menyepelekan. Ia menepuk-nepuk pundak Daehyun. "Santai saja, Dae. Aku kenal kau. Kau kenal aku sejak dulu. Demi sukses, kita akan melupakan perasaan apapun itu. Lagipula sebelum maupun setelah press conf, kita tetap hanyalah teman, bukan?"

Daehyun pun akhirnya menyerah setelah Diana berkata demikian. Ia menjauh. Dia sekedar ingin menetralkan pikirannya karena membayangkan banyak hal. Ia cukup trauma dengan beberapa skandal yang harus ia lewati.

Kalau memang dengan cara begini semuanya cepat berakhir, maka ia terima. Semoga tidak ada masalah buruk lainnya terjadi lagi.

"Kau kenapa frustasi begitu, Dae? Ini resiko karena kau dekat-dekat seenaknya dengan artis-artis perempuan random. Lalu sok baik pada mereka." Dongwook berceletuk. Tidak memperbaiki perasaan Daehyun. Ia justru semakin merasa dipojokkan.

Maka untuk menetralkan diri, ia pun pergi. Masuk ke kamarnya. Mengabaikan 3 orang lainnya yang juga bingung dengan masalahnya.

"Dongwook-ssi. Itu bukan atas kemauan Daehyun."

Dongwook memperhatikan Diana yang membalas ucapannya. Wanita itu ingin memperjelas nasib Daehyun selama ini agar Dongwook tidak salah paham. Apalagi situasi ini jadi semakin tegang saja.

"Daehyun tidak playboy. Dia hanya terlihat begitu karena karirnya. Ia semakin terkenal karena ia populer di antara fans perempuan. Ia memperbesar koneksi dengan banyak artis perempuan. Dongwook-ssi, aku kenal dia. Dia sahabatku, kami tumbuh bersama hingga sekarang. Hidup kami dulu susah.

Dia tak pernah tertarik menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Tapi dia peduli dengan mereka.

Itulah kenapa meskipun aku punya rasa padanya, Daehyun tidak akan menerimaku. Bukan karena ia tak suka, tapi karena ia peduli. Ia bukan laki-laki yang merasa pantas."

Dongwook maupun Jongup cukup shock dengan pernyataan itu. Mereka tak pernah mengusik sejauh itu sosok Daehyun yang hidup di antara mereka. Mereka baru tahu dari seorang gadis idola dunia, yang mereka jarang temui, dan juga sering bertengkar dengan Daehyun sendiri.

Itulah kenapa Daehyun cuman tidak respect dengan Diana, dan sering membencinya. Itu karena Diana terlalu banyak tahu tentang diri Daehyun , sampai ia menjauh dan tak ingin siapapun tahu dirinya yang sebenarnya melalui gadis ini.

"Oke cukup tegangnya." Diana pun beranjak, ia memperbaiki sepatu heelsnya yang sengaja ia lepas sedari tadi karena lelah berlari seolah habis menangkap pencuri. "Aku harus pulang. Sekalian bilang pada manajer ku untuk press conf besok."

Dongwook menghela gusar. "Baiklah, aku pun juga akan bilang pada Pak Pres soal press conf kalian besok."

"Aku akan latihan lagi." Jongup memanyun bibir karena ia merasa tidak punya posisi masalah yang sama. "Aku harap masalah ini cepat selesai."

Drrrtt Drrrrttt

Dengan keheningan yang baru saja tercipta barusan, HP Jongup tiba-tiba berdering nyaring membuat kedua pasang mata langsung menengok padanya. Panik, Jongup segera melihat isi kiriman pesan kepadanya.

Hai Jongup? Sedang apa? Aku sedang berada di rumah temanku yang juga seorang fans BA. Aku sedang melihat album-albummu. Foto-fotomu sangat keren.

Astaga. Hati Jongup bergejolak. Ia ingin melompat dari sofa dan mengumandangkan suka rianya dengan kiriman pesan pertama di hari itu, senantiasa dengan sebuah pujian untuk photoshoot nya, dari seorang gadis cantik yang menarik hatinya.

Hari suntuknya menjadi berbunga-bunga.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"

Lupa bahwa dirinya di ruangan itu tidak sendiri, sontak kaget ketika masih ada 2 mahluk menginterupsi suka citanya. Ia segera melesak masuk HP nya, dan beralih pada topik lain tanpa merasa berdosa.

"Hanya teman. Kau tak apa pulang sendiri, Diana?" begitu si pemuda tampan mulai melaksanakan aksinya dalam mengalih topik. Dongwook tak bisa curiga karena dalam otaknya hanya terisi satu nama, Daehyun. Sedangkan si gadis memang tidak pedulian kalau Jongup maupun Yongguk punya skandal lain. Bukan urusannya, urusannya hanya si sahabat bodohnya itu yang sedang mengumpat di kamar.

"Bisa. Tidak apa, aku bisa hajar penguntit yang mengikutiku dengan tendangan Taekwondo."

Jongup menyesal mempertanyakan hal tersebut.

"Baiklah kuantar kau sampai ke depan. Dan Jongup, bisakah kau hubungi Yongguk dan bilang aku tak bisa menjemput adik temannya itu yang masih SMA?"

"Hah? SMA? Sejak kapan Yongguk punya teman yang adiknya masih SMA?"

"Aku tak peduli. Yang pasti, dia menyuruhku sudah seperti meninggalkan wasiat kematian." Kemudian Dongwook sudah pergi bersama Diana mengantarkannya ke pintu depan. Pastilah sehabis itu Dongwook akan langsung pulang juga tanpa kembali ke dalam dorm.

Di beri petuah demikian, maka Jongup hanya bisa mematuhi saja, jika bukanlah masalah besar. Ia pun mencoba menghubungi Yongguk yang masih di luar negeri bersama calon tunangannya yang sangat brutal itu.

Namun, teleponnya tidak bisa dihubungi.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi tak apa jika aku pinjam album fotonya?"

Youngjae membukakan pagar rumahnya untuk Junhong. "Tentu saja. Daripada kau sampai tidak sadar diri di rumahku, mending kau bawa saja ke rumahmu. Aku tak mau tanggung jawab kalau kau kenapa-napa."

Junhong yang dengan manisnya tertawa sambil mengapit album foto itu dengan sepenuh hati. Betapa senangnya dia bisa membawa serta foto-foto calon suaminya itu ditangannya dengan mudah.

Namun ketika baru sampai Junhong akan pergi, tiba-tiba

"Youngjae, Junhong?"

Dua pemuda manis itu terkesiap bertemu serta seorang pemuda yang merupakan teman mereka sendiri, basah kuyup habis diterjang hujan lebat beberapa waktu lalu. Penampilannya sangat miris, ia kelihatan tidak nyaman dengan seragamnya yang basah.

"Astaga! Himchan!?"

.

.

.

.

.

.

.

"Hangatkan dirimu."

Youngjae mengulurkan sebuah minuman hangat berusah susu panas. Junhong masih menemani , mengusap kering rambut Himchan yang sangat basah.

"Kenapa kamu jadi main hujan-hujanan sih?" Youngjae heran. Himchan hanya bisa tersenyum lesu dengan sangat menyesal. "Kukira kau punya keperluan dengan seseorang hingga tak bisa pulang bersama kami."

"Maaf, aku tak mengira ia tak menjemputku hingga saat ini."

"Dan kau masih menunggunya?"

Lemparan tanya Junhong, membuat Himchan hening beberapa waktu.

"A—aku menunggunya."

Junhong maupun Youngjae saling bertatapan seolah melempar tanya, ada apa gerangan yang membuat Himchan tampak begitu sedih ketika mengatakannya seolah seseorang itu sungguh penting untuk kehidupannya.

"Jadi, siapa memang yang kau tunggu?" Youngjae yang paling tidak awas dengan perasaan orang lain, lebih suka to the point. Himchan mulai ragu-ragu jawab, tapi cercaan pandang Youngjae memojokkannya. Sementara Junhong hanya terdiam mengamati persengitan yang terjadi. Ia juga sama berharap Himchan mau terbuka pada keduanya.

"Aku rasa aku sedang menyukai seseorang."

"HAH!?"

Himchan terperanjat mendengar sentakan kaget kedua sahabatnya itu bersamaan. Wajah mereka pucat pasi seakan mendengar berita bencana datang ke rumah mereka.

"Tunggu dulu, rasanya ini dejavu." Youngjae berpikir keras. "Sejak kemarin kau bilang 'kau suka dia'...SIAPA DIA!? BIAR KUINTEROGASI!" Youngjae paling kalang kabut, sudah menyingsing legan seragamnya. Junhong minta Youngjae untuk tenang sebelum aksi brutalnya menjadi-jadi.

"SIAPA SURUH DIA BUAT HIMCHAN YANG POLOS INI JADI TERNODAI?!"

"Apaan sih, Youngjae? Itu normal bukan jika aku menyukai seseorang." Ungkap Himchan membuat Youngjae bisa sedikit tenang. Walaupun hatinya masih tak terima.

"Ta—tapi, kau jatuh cinta?! Seorang Himchan, dewinya SMA Jaehun? siapa yang membuat jalan pikiranmu yang penuh dengan kepedulian kepada khalayak banyak itu mampu jatuh cinta pada seseorang?!"

Junhong angguk kepala. Ia pun terpaksa harus mengakui pernyataan salah satu sahabatnya itu.

"Siapa gadis beruntung itu, Hyung?"

"Di—dia, bukan perempuan."

Sontak tangan Junhong mendekap pundak Himchan dengan keras dan menggoyang-goyangkan tubuhnya yang semakin kualahan. "KATAKAN PADAKU, SIAPA DIA, HYUNG!?"

Himchan panik lihat reaksi sahabat polosnya itu. Youngjae putar mata dengan kesal melihat tingkah Junhong yang berlebihan.

"A—aku tak tahu kalian akan mengenalnya." Himchan pun kemudian merogoh sesuatu dari tasnya, mengeluarkan sebuah dompet. Dua sahabatnya sama sekali tidak punya clue dengan apa yang ingin dilakukan Himchan.

Tak lama , sebuah foto mungil dikeluarkannya. Entah sejak kapan di dompetnya memiliki foto kecil itu, karena setau Youngjae dan Junhong sekalipun, anak itu tidak pernah simpan foto polaroid atau photobox di dompetnya.

Benar-benar orang penting!?

Foto itu memperlihatkan seorang lelaki dengan kacamata gelapnya, bertubuh gagah. Ia kelihatan tidak asing untuk seukuran laki-laki yang belum pernah dilihat keduanya , bahkan untuk seorang kenalan Himchan. Lelaki itu merangkul Himchan , yang kelihatan bahagia dengan sebuah bando kucing.

Jadinya Youngjae dan Junhong bingung ingin fokus menilai pria asing itu atau malah memuji keimutan Himchan di foto tersebut.

"Tinggi sekali orang itu. Berapa umurnya? Kelihatan lebih tua." Telisik Youngjae cukup matang.

"Ia kelihatan tampan. Cuaca kelihatan bersahabat, tapi ia kenapa pakai kacamata hitam?" Junhong malah ikutan penasaran.

"Aku rasa pernah melihat orang ini."—jika Youngjae tidak salah menebak.

"Namanya Bang Jongdae. Dan—eum—dia adalah salah satu pelangganku di bar."

"HAH!?"—itu hanyalah teriakan dari seorang Youngjae. Junhong hanya mengerjab-ngerjab mata, tidak menyadari 1 fakta yang barusan diungkapkan sahabatnya itu. "Kenapa? Pelanggan bar apa?" tanyanya polos, tak paham.

"Dia bukan om-om nakal, kan!? Tapi kau bilang sebelumnya 'bukan'. TAPI, kalau pelanggan bar berarti...

Sudah kubilang Himchan, jangan berurusan dengan pria-pria hidung belang. Mereka lebih bejat jika melihat yang cantic-cantik di depan mata, termasuk kau!"

Himchan garang, memelototi Youngjae dan menyuruhnya diam. Sudah pasti Youngjae langsung menurut , mengatup bibirnya yang serampangan.

"Aku tak pernah tahu umurnya, yang pasti ia tak setua itu. Aku juga tak tahu banyak tentang dirinya yang mungkin agak misterius. Tapi, Jongdae-ssi...

Dia sudah baik padaku dan ibuku." Himchan mengamati foto tersebut serupa bongkahan emas yang berharga. Ia selalu ingin tersenyum melihat foto mereka bersama di taman bermain sebelumnya.

"Bagaimana bisa dia ba—" Youngjae kemudian mengatup mulut. Mulai menyadari sesuatu.

"Apakah sebelumnya dia yang menjemputmu dengan sebuah mobil ?"

Himchan mengangguk. Semakin liar saja teka-teki yang disusun Youngjae jadinya. Ia masih ingat nomor mobil waktu itu. Siapa tahu dengan begitu ia tahu sosok seperti apa lelaki yang tega mencuri perhatian Himchan.

"Hyung tak apa suka laki-laki?"

Himchan maupun Youngjae jadi serba serius ketika mendengar tanggapan Junhong. Keduanya seharusnya sadar telah melibatkan seorang anak yang belum ganjil 17 tahun, sudah melalang buana ke topik sensitive ini.

Namun, ia begitu bersemangat, wajahnya berseri-seri minta penjelasan. Terlalu menyilaukan.

"A—aku tak merasa suka laki-laki, terkecuali Jongdae-ssi."

Youngjae kemudian merangkul akrab lelaki di sebelahnya. "HAHAHA... selamat datang Himchan. Ini yang namanya fanboying. Rasanya seperti mengidolakan seseorang walaupun dalam 1 gender. Tapi kau suka bukan karena cinta, kan?"

Hening beberapa waktu, menunggu jawaban dari si empu. Yang rupanya, membelit hati lelaki cantic itu, membuat dua sahabatnya yang lain seketika shock bukan main.

JADI INI SERIUS?!

"k—KAU, Himchan?!" Youngjae tatap baik-baik kedua mata Himchan. "Kau jatuh cinta !? C-I-N-T-A?! CINTA!? Dengan seorang laki-laki!?"

"Bukannya memang begitu yang dari tadi dibicarakan.." Junhong sudah langsung menggerutu karena Youngjae sangat tidak peka.

"Ta—tapi, aduh." Youngjae kemudian putus asa. Ia langsung merebah tubuh ke atas ranjang, sambil menekan-nekan pelipisnya yang berdenyut. "Ini sangat complicated."

Beralih dari belum ridhonya Youngjae terhadap Himchan melepaskan status single nya, Junhong mengajak bicara hyungnya itu jauh lebih serius.

"Jadi, bagaimana? Hyung sudah mengungkapkan perasaanmu?"

Himchan memelintir ujung kausnya. "A—aku.. belum. Bagaimana jika Jongdae-ssi jijik padaku? Lagipula, hari ini saja ia tak menjemputku. Mungkin, dirinya, eum."

"Tenang, Hyung. Jangan terlalu takut."

Himchan menghela nafas. "Maksudku. Bahkan ia menciumku, jadi kupikir.."

"HAH!?"

Kemudian Junhong sudah melempar bantal tepat ke wajah Youngjae hingga ia terpental kembali ke ranjang.

"Wah, Hyung! Itu berarti ia sama menyukaimu!"

"Tapi-Junhong? Di—dia kan laki-laki, dan akupun juga. Kami berdua tidak bisa."

"Tidak ada yang melarang orang untuk jatuh cinta. Sekalipun sama gender. Meskipun aku juga suka 1 gender pula, itu tidak masalah."

"WOWOWO, apa-apaan ini?! Kok jadi bahas topik '1 gender' segala?! Kalian beneran jadi homo!?"

Youngjae kemudian dapat lemparan pandang mematikan yang membuat dirinya menciut kembali tak mau menebar garam.

"Bahkan untuk seorang fans boyband fanatic, dan memuja laki-laki berperut kotak-kotak saja, masih merasa heran dengan hal ini? Yang benar saja." Junhong sampai membuang pandang kesal nan jengah. Tentu yang diperlakukan demikian malah tidak terima.

"Hei! Fanboying itu beda urusan!" Youngjae pun dengan memberi waktu sebentar untuk menghela nafas, menenangkan lahir batinnya, sekaligus bermain emosi pada dua sahabatnya. Ini adalah perihal serius yang mengungkit dirinya dalam 1 waktu.

"Oke, aku tidak peduli kalian suka dengan siapa. Aku bukan tipe anti-LGBT, hanya sekedar shock dan belum siap saja.

Yang terpenting, kita bertiga saling jujur, mau terbuka, agar kita saling bantu. Bagaimana? Kita harus saling melindungi satu sama lain, bukan? seperti janji kita terdahulu?"

"Tentu saja, Hyung yang bodoh." Kemudian Youngjae langsung memiting kepala Junhong dengan ketiaknya.

Adu balas sumo keduanya, disambut senyum hangat Himchan yang kemudian dengan rasa hangat nan bahagia, memeluk keduanya seperti dua saudara tersayang.

"Terima kasih, kawan-kawan. Kalian sangat peduli padaku."

Tiga sekawan itu menjadi sangat dekat dan saling bergantung ketika memeluk mesra satu sama lain. Rintik-rintik di luar kamar mereka, malah menambah suasana sejuk yang mengesankan. Sulit menjauhkan ketiganya.

"Oke, sekarang kita saling terbuka saja. Rahasia apa yang kalian sedang simpan. Ungkapkan. Aku tak mau ada curiga-curigaan."

Himchan mengangguk dengan semangat. Sementara Junhong masih ragu-ragu. Ia menunduk agak takut.

"Junhong, aku rasa ada yang ingin kau tunjukkan pada kami?" Himchan, yang sejak lama sudah mencium ketidakberesan Junhong menunggu respon anak itu untuk membuka dirinya. Di antara ketiganya, anak lugu itu cukup tertutup dan misterius.

Dengan tatapan teguh yang begitu serius dari dua hyungnya, Junhong yang rada takut nan khawatir akhirnya bisa mengurai nafas sejenak. Mungkin ini waktunya dua sahabatnya tahu bahwa...

.

.

.

.

.

.

.

.

Daehyun terbangun dari tidurnya yang hanya menghabiskan sekitar 3 jam. Tidak ada pertanda siapapun yang akan membangunkannya. Mungkin mereka pun lelah memperkarakan hal ini terus menerus sampai hari esok yang sebentar lagi berkunjung.

Daehyun merasa kepalanya begitu pusing jika ia tertidur terus. Waktu sudah malam sekitar jam 9. Ia lapar, haus, dan malas bangun.

Dalam keadaan perut lapar, ia mengutuk diri kenapa tidak mengijinkan Youngjae datang saja ke dorm sekedar memasakkan makanan seperti biasa. Ia rindu anak itu dan apron cantiknya.

Plak

Daehyun tersentak segera menampar kedua pipinya. Kenapa bayangan lelaki muda itu menjadi jelas, mendebarkan hatinya beberapa waktu lalu? Apa yang ia pikirkan?!

"Apa ia sudah tahu soal beritaku tentang Diana?" Daehyun kini melihat ke HP nya. Ia mengecek kontak dan menuliskan nama seseorang. Kontak yang ingin sekali ia hubungi. Ia sangat beruntung bisa mendapatkannya dengan mudah tanpa harus berkelahi dengan cercaan anak itu. Ketika ia tidur kemarin, ketika wajahnya yang imut itu tidak sadarkan diri dan ia bebas mengotak-ngatik isi HP nya.

Ia menampar kembali pipinya.

Hei, malam. Apa kau sudah tidur?

Aku kelaparan karena kau tidak datang.

Send.

Daehyun membelakak mata setelahnya. Ia langsung terbangun dari ranjangnya dengan keadaan super panik. Kenapa jari-jemarinya begitu nakal dan iseng dengan ketidaksadarannya, malah mengirimkan pesan menjijikkan itu pada si empu nomor kontak.

Mati dia.

Ting.

Jantung Daehyun mungkin sudah melompat keluar jika tidak ada pelindung di dadanya berupa sekat otot dan tulang belulang. Suara denting HP nya, memperkirakan sebuah balasan dari orang yang dikirimkan pesan. Dengan ragu-ragu, ia segera mengecek.

Nafasnya mungkin rada tertahan lama.

Dasar penganggu. Aku hampir saja tidur. Dan siapa suruh menyuruhku tidak datang?

Jangan lupa makan malam. Nanti kau sakit. Pesan saja.

Entah gejolak apa yang dirasakan Daehyun saat ini. Bahagia? Terkejut? Kesal? Senang?

Bukan...bukan...Ia merasa LUAR BIASA bahagia.

Bibirnya sudah mengukir senyum sendiri. Ia jadi senang mengetik malam itu. Menghiraukan notif-notif lain dari para fans atau teman-teman perempuannya yang kecentilan.

Aku rindu masakanmu...

Ia menggeleng kepala. Menolak keras. Tidak seperti ini harusnya ia membalas. Membuat keadaan menjadi sangat ambigu.

Kemudian Daehyun malah menghapusnya.

Besok, datang lagi, kan?

.

.

.

.

.

.

.

"Ck, dasar otoriter sekali." Youngjae yang jadi jatuh moodnya mulai mengetik cepat dengan mengumpat-ngumpat kesal. Padahal Sudah dibalas sok perhatian –dengan tak sudi, tapi malah menyuruhnya bekerja.

"Biar saja biar kau kesal juga." Kemudian ia mengirimkan pesannya. Ia melempar HP nya dengan gondok, dan kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Merasakan kehangatan selimut di malam yang hening. Ia harus tidur lebih cepat karena besok akan ujian, dan seharian ini ia tidak belajar, tapi malah curhat dengan sahabat-sahabatnya

Curhat serius.

Ting.

Dengan semangat—entah kenapa—ia pun meraih HP nya dan melihat pesan yang dibalaskan dengan harapan ada perdebatan lama kemudian. Ia senang jika harus membalas kekesalan Daehyun dan menyebabkan pertengkaran kecil di antara keduanya.

Tapi, ia malah tersenyum.

Aku tak bisa masak. Jongup apalagi. Jangan harap Yongguk, dia benci masak sendiri.

Kau tahu kan, kau yang terbaik. Youngjaeeii~

Aku mengantuk lagi. Kau juga masih belum tinggi, cepat tidur.

Selamat malam.

"Aku heran. Berapa kali pun aku mengungkapkan rasa tak suka ku padanya, ia masih saja sok-sok akrab padaku."

Youngjae jadi tidak bisa tidur. Ia masih saja terpengaruh dengan obrolan singkat di kotak pesannya, yang terasa mustahil dan tidak bisa dipercaya.

Ia chatting dengan artis terkenal, bahkan idola yang tidak disenangi. Tanpa siapapun yang tahu.

Senyumannya semakin merekah, menggambarkan bahwa dirinya cukup dihibur. Ia merasa bahwa Daehyun tidaklah seburuk itu, mengesampingkan kebenciannya.

"Aku rasa besok aku harus membuatkan makanan kesukaannya."

.

.

.

.

.

.

.

Drrrttt

Drrrtttt

DRRRTTTT

"Ha—halo" Youngjae rasanya tak kuat sekedar berbicara saja. Ini baru jam 4 pagi, dan dia masih mengantuk. Kenapa ada orang yang menelpon di waktu selarut ini?

"Youngjae! Kau harus lihat artikel! Kau sudah baca?!"

"Kak Jaesung?" Youngjae baru sadar kembali setelah ia mengecek HP nya lagi dan menatap layar yang menunjukkan kontak wanita itu. Mereka memang sudah bertukar nomor sejak lama sejak pertama kali bertemu.

"Artikel apa? Ini masih terlalu pagi Kak untuk fangirlingan. Hoahhmm." Youngjae menyamankan kepala di bantalnya lagi.

"Aku juga pasti sadar diri kalo ini tidak penting. Tapi ini sekedar dari fangirlingan. Ini serius! Artikelnya baru keluar 1 jam lalu, dan aku langsung dikabarkan teman baikku. Aku tidak bisa tidur hingga sekarang!"

Youngjae yang merasakan kekonsenan Jaesung akhirnya menyerah untuk melanjutkan tidur paginya. Ia mulai duduk menegap, ikut larut dalam keseriusan. Ada apa?

"Memangnya artikel apa, Kak?"

"Sepertinya Daehyun berulah lagi."

Mata Youngjae yang lumayan lelah, langsung membelakak besar dengan terkejut.

"APA?! Skandal lagi!?"

"Bukan. Ini bukan skandal. Ini konfirmasi!

Daehyun akan mengadakan press conf, mengumumkan sesuatu yang bahkan tidak diprediksi sama sekali."

Rasanya dada Youngjae meletup-letup. Ia sangat ketakutan.

"Daehyun akan mengumumkan hubungan kencannya dengan Diana!"

Tersentak juga Youngjae hingga ia sadar berkali-kali lipat. Tidak ada niatan tidur. Dadanya begitu berat seakan ditempa hebat. Begitu sakit rasanya melebihi menerima aksi skandal yang suka dilakukan pemuda itu , dan membuat otaknya mengepul.

Ini hal lain. Ia marah, sekaligus kecewa. Hatinya juga ikut bermain, ia sakit hati. Sangat patah hati. Ia membayangkan wajah Diana yang tersenyum cantik—dan agak arogan, ciri khasnya—sambil bersanding dengan Daehyun. Mereka memang terlihat cocok.

Mengesampingkan pemandangan yang kemarin sempat ia lihat di antara keduanya, yang tidak terlihat akur. Tapi ia tahu, pasti pertemuannya saat itu, adalah membicarakan seputar hubungan mereka yang serius. Yang bahkan Youngjae tidak diijinkan mengetahuinya. Mereka pasti berakting tak akur agar membuat Youngjae tidak curiga.

Siapa Youngjae? Ya, dia hanya seorang fans. Bahkan yang menyatakan diri membenci Daehyun.

Pantaskah ia berharap 'Hubungan mereka bukan apa-apa'. Kenapa ia merasa pantas mengurusi percintaan laki-laki sialan itu?! Yang sering ia amuk-amuki. Yang fotonya tidak pernah ia koleksi, yang tidak pernah ia respek.

"Youngjae!? Kau masih disana?! Kenapa kau diam saja!? Aku tahu ini sangat mengecewakan, lagi. Aku tidak percaya ini. Aku ingin sekali datang ke press conf itu dan bersamamu, mengungkapkan kekesalanku pada perbuatannya. Tapi, aku masih di Jepang. Jadi aku tak bisa menyusul."

Tangan Youngjae yang tidak disadari Jaesung, bergetar hebat. HP nya jatuh, ke dalam selimut.

Baru pertama kali ini, ia merasa tak rela melepas Daehyun.

Selama HP nya masih terhubung oleh wanita cantic disana, Youngjae malah mengabaikannya dengan mendekap wajahnya di antara kedua lutut, dan banyak berbicara pada diri sendiri.

Apa yang terjadi denganku...

.

.

.

.

.

.

.

"Himchan.."

Pintu kamar usang itu terbuka. Suara kursi roda terdengar , membangunkan seseorang dari tidurnya. Walaupun tubuhnya masih lemas untuk bangun.

Wanita paruh baya itu menaruh punggung tangannya di atas kening pemuda itu. "Astaga, tubuhmu panas nak."

Himchan mengerjab mata. Ia keliru bahwa dirinya sakit. Ia masih cukup semangat untuk berangkat sekolah hari ini.

Namun ketika ia mencoba bangun, Ibunya mencegah puteranya. Ia membiarkan Himchan kembali merebahkan tubuh. "Tidak usah masuk hari ini. Nanti Ibu ijin ke sekolahmu ya. Sekarang ini kau sakit , habis kehujanan kemarin. Kau harus istirahat banyak."

"Tapi, Bu. Hari ini ujian..."

"Masih ada ujian susulan kan? Gurumu pasti tidak keberatan." Ibunya kemudian menggerakan kursi rodanya sendiri, beranjak pergi dari kamar puteranya. "Ibu akan buatkan kamu bubur. Setelah itu pergi ke sekolahmu untuk minta ijin."

"Ibu, tidak perlu..." Himchan terbatuk-batuk. Melihat puteranya semakin keras kepala, ibunya jadi agak memaksa soal urusan ini.

"Tidak usah bekerja juga. Kau terlalu keras kepala kalau sedang sakit. Tidurlah."

Ibunya kemudian menutup pintu dan pergi. Himchan sendirian di dalam kamar itu, dengan keadaan sangat miris dan lemah.

Melihat keadaannya, Himchan tidak bisa memaksa lebih banyak agar tubuhnya bugar dan menjalani aktivitasnya seperti biasa. Ia merasa tumben sekali terkena sakit , padahal ia tidak pernah seteledor ini merepotkan siapapun.

MUngkinkah karena dari kemarin ia banyak memikirkan Jongdae?

"Bagaimana keadaannya?"

Baru beberapa hari saja tak bertemu, ia rindu lagi.

Dan rindunya semakin parah sejak kejadian ciuman itu di taman rekreasi.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya

3 jam sebelum Press Conf

"YANG BENAR SAJA JAS NYA BELUM ADA?!"

Daehyun rasanya ingin menyumpal mulut manajernya itu yang sedari tadi terus berceloteh, kalau tidak ya teriak-teriak kepada para bawahan. Ia hilang konsentrasi pada sebuah script yang tidak penting sebenarnya, agar jadi bahan bicaranya di venue yang telah diisi banyak paparazzi. Jaga-jaga aktingnya tidak berantakan dan sesuai rencana sebelumnya.

Diana tidak datang ke ruangan ganti, ia lebih memilih ruangan privasi lain bersama manajernya. Tentu saja itu kebijakan bagus daripada membuat Dongwook semakin jatuh moodnya jika bertemu manajer Diana nanti. Mereka belum bersahabat hingga sekarang.

Menghilangkan rasa bosan, Daehyun memilih untuk membuka HP nya. Ia sudah melabel HP nya agar tidak dibuka sebelum press conf selesai, namun ia begitu penasaran dengan respon para fans yang telah mendapatkan beritanya dan Diana yang sengaja disebarluaskan.

Ia siap jika harus dikutuk, diumpat, bahkan diancam dibunuh oleh fansnya yang liar. Ia sudah biasa.

Masalahnya adalah, teman-teman perempuannya yang centil-centil itu. Sumber popularitasnya, sumber cari mukanya. Mereka semua mengantri di kotak email dan sosmednya meminta penjelasan. Daehyun bahkan tidak ingat pernah mengencani mereka, selain memaksanya minum bersama atau jadi teman dansa di sebuah klub.

Mereka maklum shock, karena baru kali ini Daehyun secara official menyatakan sedang "berkencan" ke sumber media. Yang sedekat apapun hubungan mereka, belum pernah dianggap sampai dibawa ke press conf selain ketauan jadi skandal. Mungkin mereka tak terima. Apalagi jika pasangannya Diana. Gadis tiada dua , yang sulit disaingi. Rapper dunia yang mengesankan.

"Youngjae kenapa tidak balas pesanku? Itu anak harusnya kerja , kan?"

Rupanya Daehyun tidak hanya sedang konsen dengan para fansnya, melainkan Younjae. Yang sejak kemarin memang tidak bekerja di tempatnya sesuai janji. Memang kemarin Daehyun sendiri yang tidak bisa melibatkan Youngjae dengan masalah kemarin. Tapi pemuda itu menjadi ada rasa yang hilang saja jika tidak bertemu dengan anak itu.

Ia menaruh HP nya, dan bertekad bulat akan menghubungi Youngjae melalui telepon. Perasaannya yang sedikit curiga tampaknya rada menghantui, ia akan coba selesaikan setelah press conf ini usai.

Dongwook kembali setelah sibuk berdebat dengan asisten kerjanya. Mukanya masih rada kesal karena masalah jas tadi.

"Ini jasmu. Oh ya, kau sudah baca scriptnya?"

Daehyun mendengus. "Oh ayolah , Hyung. Ke press conf nanti, tidak perlu terlalu serius. Aku tahu apa yang kulakukan."

"Ya, karena kau sudah biasa berhadapan dengan paparazzi untuk membahas skandal-skandalmu."

"Ih, kemarin-kemarin itukan karena salah paham."

Daehyun kemudian bangkit dari sofa dan meraih jasnya. Ia terlihat siap untuk berhadapan dengan kamera.

"Temui Diana, kalian harus membicarakan sesuatu." Perintah Donwook, yang dibalas dengan anggukan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cklek

"Woah."

Jongup yang baru saja keluar dari dorm nya terkejut karena mendapati Youngjae sudah berdiri di depan pagar. Penampilan pemuda itu tampak horror seperti habis bergulat dengan sesuatu. Ia juga tidak terlihat pakai seragam lengkap seperti biasa.

"Eum, Youngjae? Kau disuruh datang ya buat masak?"

Youngjae tidak merespon.

"Oh ya, Daehyun sih tidak ada. Dia ada urusan. Haha, kau pasti sudah tahu kan urusannya apa? Seperti biasa dari seorang fans yang up to date."

Sepertinya ucapan ramah Jongup masih tidak digubris juga. Entah kenapa Youngjae jadi pendiam sekali. Jongup jadi khawatir.

Tapi karena ia cukup kenal pemuda ini yang sepertinya tidak terlalu nakal seperti fans pada umumnya setelah perkenalan singkat di hari lain sebelumnya, Jongup tidak kenapa membiarkan Youngjae sekali-sekali menyinggahi dorm.

"Kau masuk saja. Aku mau pergi sebentar, ada yang ingin kubeli." Jongup menepuk-nepuk pundah lelaki belia itu serasa bocah. Ia kemudian pergi, memberikan kepercayaan penuh pada Youngjae untuk menjaga dorm yang sering kesepian penghuni.

Setelah Jongup pergi, dan keadaan begitu sunyi.

Youngjae hanya mendelik tajam ke arah pintu dorm.

Ia masuk ke dalam. Berleha saja. Tidak ada yang menghalangi. Separuh kepercayaan sudah didudukinya dari boyband tercintanya.

Tapi bukan waktunya untuk memuji diri karena merasa beruntung.

Ia punya tugas lain.

Dari dalam tas ranselnya, ia mengeluarkan 5 balon cat yang sudah dibuatnya sejak dari tadi pagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mobil yang dikendarai Jongup dengan mulus melintasi jalan. Kepalanya terantuk-antuk karena mendengar lagu kesukannya dari stereo.

Drrrttt Drrrrttt

Suara deringan telepon membuatnya cepat mengabaikan keasyikannya. Ia perhatikan hp nya selagi mengendarai mobil. Betapa terkejut dirinya melihat kontak yang diharapkannya sedang menghubunginya.

"Halo?" secepat kilat dirinya membalas. Ia minggirkan mobilnya di trotoar yang bersampingan dengan gedung SMA.

[Kau sedang apa , Jongup?]

Ah suara yang anggun dan lucu. Jongup rindu suaranya yang begitu jernih itu secara langsung didengar ke indera pendengarannya.

"Aku sedang mengemudi mobil. Membeli sesuatu, Haha.."

[A—apakah aku menganggumu?]

"Oh, tidak-tidak. Tidak sama sekali. Aku sudah tidak mengemudi sekarang."

Jongup menggaruk-garuk kepalanya, ia sedang salah tingkah.

[Hati-hati, Jongup. Aku takut kau kecelakaan.]

Ah, Jongup sekali lagi ingin berteriak bahagia. Ingin sekali ia melompat dan memeluk tubuh jangkung gadis cantic itu sekarang juga sebagai ungkapan terima kasihnya. Betapa beruntung sang tunangan adalah gadis semacam Juyong yang begitu perhatian.

Di sela-sela suka rianya, tak lama Ia melihat seorang anak yang begitu familiar. Orang itu berjalan ke mobil dengan sibuk berbicara di HP nya. Kebetulan sekali ya, sedang sama-sama menelpon.

"Loh, itu kan. Anak itu.."

Ia ingat sekali .. Junhong kalau dia ingat namanya. Anak muda yang pernah ia bantu setelah konser. Yang agak arogan, dan susah dijinaki.

Ia melihat ke gapura nama sekolah, dan ada tulisan "SMA Jaehun".

Jadi ia bersekolah disini?

[Oh ya hari ini aku baru saja pulang sekolah.]

"Eh, benarkah?"—Anak itu juga baru pulang sekolah. "Kau sebenarnya sekolah dimana, Juyong? Aku tidak pernah tahu."

[Eum.. tidak bisa kukasih tau. Itu sekolah private, dan hanya orang-orang terpilih saja yang masuk.]

"Ah, seperti yang kuduga. Seorang tuan puteri memang harus masuk sekolah sangat elit, haha.."

Anak laki-laki itu masuk ke dalam mobil tersebut. Mobil itu sudah berangkat dan akan meninggalkan Jongup.

Entah rasa penasaran apa yang sampai mengendalikannya, Jongup pun kembali mengegas mobilnya tanpa ragu. Mengejar ketertinggalannya.

[Dua sahabatku hari ini tidak masuk. Yang satu sakit, dan yang satu lagi kembali bolos. Hmm.. aku sangat kesepian]

"Hei, kau pasti punya teman banyak, kan?" tangan kanan Jongup telaten sekali membolak-balikkan kemudinya mengikuti arahan mobil hitam di depannya.

[Ya, tapi aku tidak sedekat itu dibanding dua sahabatku.]

"Tenang saja, aku bisa saja lebih dekat denganmu. Aku bisa saja menemanimu setiap waktu."

[Itu tidak mungkin! Hahaha.. oh ya bagaimana dengan persiapan albummu?]

"Payah. Hanya aku yang sibuk mengurusi koreo baru. 2 partnerku, punya masalah. Cih."

Jongup membanting kemudi, hampir saja menabrak sebuah motor yang berjalan lambat. Rasa kesalnya diungkapkan dari 'Cih' di kata terakhirnya.

[Aku harap semuanya cepat beres. Aku tidak sabar membeli album pertamaku.]

"Oh tentu saja kau harus. Bahkan aku akan membubuhkan namamu di Thanks to."

Tak lama mobil sedan hitam itu berhenti di suatu tempat. Buru-buru Jongup memarkirkan mobilnya beberapa jarak agak jauh dari pengamatan mereka.

Tunggu.

Bukankah tempat ini...

[Oh ya, aku sebaiknya segera menutup telepon. Aku ada urusan. Hati-hati di jalan, Jongup.]

Aku hampir saja tertabrak tadi.. ucapnya dalam hati, namun Jongup hanya bisa tersenyum lega.

"Ya, kau juga. Akan kuhubungi lagi."

Tuttutut.

Jongup akhirnya bisa kembali konsentrasi pada pemandangan di depannya. Sebuah mobil terparkir di depan pintu rumah besar yang tak asing. Hanya sopir yang keluar. Ia tak mengenal wajahnya.

Walaupun pada akhirnya, ia harus kehilangan jejak mobil itu karena sudah masuk ke dalam rumah besar tersebut.

Maka dari itulah, pikiran-pikiran semu muncul dari otaknya. Ia bersandar ke kemudi, dan mulai memprediksi banyak hal.

"Apa jangan-jangan

Perkiraanku selama ini benar?"

.

.

.

.

.

.

.

"Hari ini sangat melelahkan sekali."

Daehyun turun dari mobilnya. Dongwook juga.

Diana menyusul dari kursi belakang.

"Hanya press conf biasa, kenapa harus merasa lelah." Diana tidak pernah selesai untuk menginterupsi mood Daehyun yang jatuh. Tentu saja Daehyun rada malas berdebat dengan gadis itu.

"Aku tentu merasa tertekan harus merespon semua orang yang membidik pertanyaan aneh-aneh tentang kita berdua.

Apa lagi saat ada yang bertanya 'Apa aku sudah tidur denganmu' ? HAH?! Melihat tampangmu saja aku sudah muak, apalagi menyentuh tubuhmu."

"Kau belum saja melihat tubuh telanjangnku yang lebih baik dari model manapun."

"Sudah-sudah. Kalian ini. Bisakah tidak berbuat terlalu kekanakan, dan normal saja. Kalian ini baru saja diributkan sebagai 'sepasang kekasih', bukan lagi musuh dalam selimut." Dongwook menggeleng kepala merasa puyeng menghadapi 2 anak yang tidak bisa akur ini.

Tak peduli mereka akan meneruskan keributan lagi, maka Dongwook langsung masuk ke dalam.

Namun bau-bau cat mengudara langsung ditangkap indera penciumannya.

"Jongup kemana? Kenapa pintu terbuka begini? Dan kenapa ada bau cat? Dia habis ngecat apa?"

Curiga dengan berbagai kondisi, maka Dongwook segera riuh masuk ke dalam dorm.

"Kenapa sih, kok Dongwook hyung jadi pa—"

Entah kenapa Daehyun langsung terdiam setelah ia menyusul masuk ke dalam pula.

Diana yang menyusul di belakangnya pun tidak kalah tercekat melihat kondisi di hadapannya.

"Daehyun, sepertinya ini perbuatan haters..." Dongwook hanya bisa mematung memperhatikan lurus keadaan di depannya yang sangat miris.

"Ah, haters mulai berulah pada hubungan kita, Daehyun." Diana memperparah keadaan dengan memanasi hati Daehyun.

Daehyun yang sedari tadi terdiam karena terlalu terkejut, akhirnya mendecak lidah. Ia kesal, marah, sekaligus kecewa. Tapi, yang ia lakukan malah meraih HP nya.

Dongwook dan Diana melihat perlakuan Daehyun yang begitu garang dan tidak sabaran memperlakukan HP nya. Ada apa dengannya?

"Kau ingin telpon siapa? Polisi?"

Daehyun yang sedang menunggu hubungan, matanya mendelik kasar ke Dongwook. Manajernya itu tahu, dengan tatapan seperti itu terbaca bahwa Daehyun sedang mengamuk dan tak ingin diganggu. Ia terlihat galak, sekaligus menakutkan. Yang jarang terlihat selama ini.

"Bukan.

Aku ingin menghubungi 'anak' sialan itu."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Wattpad : miramiyu