My Idol, My Boyfriend
Himkyu's Present
BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo
Genre : Romance Comedy
Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
Daehyun mencoba menunggu beberapa waktu lagi. Berkali-kali ditolak, maka berkali-kali ia menghubungi. Ia sengaja melakukannya untuk menganggu pendirian Youngjae yang semakin keras kepala.
"Percuma kau menghubunginya. Dia pasti sudah muak denganmu." Diana berceletuk, dengan terlihat santai meminum susu cokelatnya di antara situasi segawat ini. Mungkin berpikir bahwa bukan pintu kamarnya yang kena balon cat, jadi ia tidak terlalu peduli.
"Aku tidak berpikir, anak semanis dia bisa senekat itu." Diana garuk kepala terheran. "Pertama kali bertemu, kukira dia bisa kuperdaya jadi adik angkatku."
"Berhentilah mengoceh tentang dia jika kau tak tahu apapun." Daehyun kesal, ia meluapkan kejenuhannya dengan menekan tombol yang sama terus menerus untuk menghubungi orang itu. Tapi sampai sekarang, tidak dijawab.
"Oke , cukup." Mau tak mau Dongwook menengahi. Ia Tarik HP daehyun hingga membuat pemuda itu sedikit memberontak. "Berhentilah menggalau diri, dan segera persiapkan saja tugasmu sebagai seorang artis."
Daehyun menggerutu, ia lebih memilih membenamkan diri ke empuknya sofa. Sampai berkali-kali ditegur Dongwook karena perlakuannya terlalu kekanakan.
Diana kemudian melempar bantal sofanya, dan menimpal di atas kepala lelaki tersebut. "Kau tahu dimana anak itu sekolah? Temui dia langsung. Kau yang bawa dia ke situasi serunyam ini. Kau nekat menerimanya,hatersmu, ke dalam dorm ini makanya dia tahu apa yang harus ia lakukan pada member yang dia tak suka. Untung saja dia tidak sampai meluberkan rahasia dirimu yang lainnya."
"Dia bukan hatersku!" Daehyun masih mengambang dalam pikirannya. Hatinya separuh bertahan pada keputusan bahwa Youngjae bukanlah hatersnya sekalipun ia tidak melayani Daehyun cukup baik. "Di—dia hanya belum terbiasa denganku."
"Ohoho.. aku sering dengar tipe omongan itu dari seorang pria." Diana kemudian melirik Dongwook. Ia menebarkan rasa curiga kepada orang-orang sekitarnya.
"Hah?" Tanpa Dongwook sadari maksud tatapan mencurigakan itu dari gadis tersebut.
Setelah memberi waktu sekian untuk dirinya menimbang cara sejenak, "Baiklah, aku akan menemuinya.." Daehyun kemudian mengambil segala perlengkapan yang ia butuhkan. Kunci mobil di tangan. Jaket, kacamata hitam, topi, untuk penyamaran.
"Oy! Kau baru saja mengumumkan hubunganmu dengan Diana, dan kau mencoba pergi!? Wartawan pasti sedang mengincarmu di luar sana." Dongwook tidak terima. Ia tahan pergelangan tangan anak asuhannya itu sehingga tidak pergi lebih jauh lagi. "Kita bisa melaporkan ini ke polisi kan?"
"Tidak. Aku tidak mau. Untuk apa polisi untuk hal sepele ini. Ia hanya salah paham."
"Tunggu. Jangan bilang kau akan jujur pada anak itu!? Kalau semua ini rekayasa!?
Daehyun! Press conf ini adalah hidup matimu! Demi anak itu, kau mau menghancurkan semua rencana!? Ada apa denganmu!?"
Daehyun akhirnya berhasil melepas cegatan hyung nya tersebut. Ia segera melangkah besar-besar meninggalkan tempat. Sebelum keluar, "Aku pun tidak tahu , hyung!" adalah kalimat yang terakhir diutarakannya.
Dongwook shock, ia langsung melempar duduk di atas sofa sambil memijat kening. Ada apa dengan semua anak asuhannya?
"Kurasa Daehyun menyukai Youngjae." Diana duduk dengan kaki jenjangnya terlipat di atas kursi telur merah , favoritnya. Ia yang jadi pelaku juga disini, malah kelihatan biasa. "Sangattt menyukainya."
"Benar kata Daehyun. Kau ini aneh. Kau selalu bicara yang bukan-bukan, bahkan pada sahabat kecilmu sendiri. Jangan bicara seolah Daehyun itu gay." Dongwook malas untuk membela Daehyun lagi sebenarnya.
Tapi Diana malah memperparah mood dengan tertawaan gilanya. Dongwook jadi ngeri sendiri.
"Justru krn aku sahabat kecilnya, aku tahu tabiat Daehyun." Diana kemudian bangkit dari kursi, dan meraih tas nya. "Dia mungkin magnet wanita, tapi dia tidak pernah tertarik dengan wanita manapun.
Kecuali almarhum ibunya.
Jadi aku tidak kaget, kalau suatu saat dia jatuh ke tangan anak itu."
Mata Dongwook langsung membelakak lebar. Matanya lurus pandangi gadis cantic itu menelangsa santai tanpa memikirkan lebih jauh arah pembicaraanya menjadi kurang nyaman untuk 1 pihak. Berapa banyak yang gadis itu ketahui dan dirinya sendiri tidak tahu?
"Aku menginap di kamar Yongguk, yo! Anak itu kan belum pulang sampai seminggu ke depan."
"Terserah kau saja." Dongwook bangun, dan akan pergi ke halaman belakang untuk sekedar menghirup udara sore hari sekedar meringankan otaknya yang panas.
.
.
.
.
.
.
"LAGI!"
Kemudian anak itu sudah meronta meminta minumannya lagi seperti tidak punya harapan. Gelas yang sama ia taruh di depan seorang pelayan penjaga, dan berharap segera ditaruh cairan cokelat pudar dituangkan disana. Ia ingin melepas stress. Ia pusing kepala.
"Jangan bertingkah seperti orang mabuk , anak muda. Umurmu bahkan masih bocah. Jauh dari Himchan. Ck."
Hyunsik (partner Himchan di café , tempat kerja part time lainnya) akhirnya menuangkan air teh ke dalam gelas tersebut. Ini sudah tuangan ketiga, dan anak di depannya tidak berhenti meminta hal yang sama karena—katanya—dia sedang ingin melepas stress.
Dengan teh?
"Aku ini cuman beda setahun, Hyung! Bahkan aku tidak mau panggil dia dengan banmal."
"Yay a ya... untung saja kau ini sahabatnya—dan manis(ia mengucapkannya dengan nada yang terlalu rendah), aku mau saja meladenimu."
"KEMANA SIH HIMCHAN!? Masa ketika aku butuh dia , malah ngilang. Padahal kemarin dia curhat aku dengerin."
Hyunsik pun menghela nafasnya. Sepertinya Youngjae malas mendengar ucapannya, dan lebih suka meladeni emosinya yang masih susah terkendali "Himchan sedang sakit. Bukankah kau sahabatnya lebih tahu hal ini?"
"Eh?" Kemudian Youngjae berpikir lama. Mungkinkah karena hujan kemarin? Ia kemudian menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Mengerang kesal.
"AH SEMUA SAKIT! AKU JUGA SAKIT!
Hyung, hibur aku!" ia menarik-narik manja tangan Hyunsik seperti keduanya sudah sangat dekat. Padahal kenalan saja baru hari ini.
"Aku tidak punya urusan denganmu, Bocah. Ngobrol saja. Aku masih punya shift panjang untuk menutupi kekosongan Himchan juga."
"Nghh.. kenapa sih semua bantuin Himchan. Tapi gak ada yang mau bantuin aku." Youngjae mulai kerucut bibir. Hyungsik, sebagai seseorang yang mudah luluh dengan tampang kasihan seperti itu, hanya bisa jatuh pendirian.
"Memangnya kau kesal karena apa?" Hyungsik akan coba membuka percakapan. Agar Youngjae mau terang-terangan padanya, dan tidak membuat percakapan ambigu lain yang tidak jelas.
"Aku benci dengan salah satu anggota BA. Dia membuat skandal terus-menerus, mempersulit BA. Dan sekarang ia membuat pengumuman kencan dengan seorang artis besar, merepotkan BA. AKU KESAL!"
Hyungsik shock. Kenapa jadi ngomongin boyband?
"BA –Boys Absolute? Jadi permasalahanmu dari tadi, karena boyband ?"
"MEMANGNYA SALAH AKU MENGHARAPKAN BA TENANG TANPA ORANG ITU MENGANGGU!? Dan kenapa cuman aku yang beranggapan bahwa orang itu tikus di grup?! Kenapa cuman aku!? Kenapa semuanya masih saja mendukung dia!?"
Oke, Hyungsik mulai bingung harus respon apa. Mungkin dia diam saja sambil mencuci gelas, dan membiarkan anak itu berceloteh seperti radio yang menemani aktivitasnya.
"Aku sama sekali tidak bisa menerima pengumuman kencannya. Dia selama ini sok-sok baik cuman untuk mencuri perhatianku, membuatku juga menyukainya. Huh!? Yang benar saja. Sikap baiknya malah membuatku semakin tidak suka. Apalagi setelah ia memamerkan hubungannya dengan Diana tanpa berdosa."
Hyunsik mengendik bahu. Respon sederhana untuk memastikan Youngjae bahwa ia masih focus juga dengan curhatannya sekalipun ia masih sibuk dengan hal lain.
"Aku tidak rela ia bahagia terus, senang-senang terus. Bermesraan terus. Bahkan Yongguk dan Jongup saja tidak berkencan dengan siapapun. Dia malah menyalahi aturan. Enak saja! Dasar!"
"Baiklah, apa kau sudah selesai ceritanya?"
Youngjae yang sedang emosi, langsung menegak tehnya dalam sekali minum. Ia sudah lelah.
"Apa kau tidak berpikir, kau ini terlalu berlebihan?"
Mata Youngjae mendelik tajam. Ia sedikit tidak terima.
"Kalau kau tidak menyukainya, jangan diurusi. Tapi kau membicarakannya terus-terusan tanpa putus asa. Masih ada member lain kan yang bisa kau urusi? Apa kau tidak ingin membicarakan member kesayanganmu sendiri?"
Youngjae terdiam.. eumm.. rasanya ia ingin membela diri, tapi apa yang ditimpali oleh Hyungsik membuatnya mengatup mulut.
"Kalau kau mempersulit diri seperti itu terus, tidak ada gunanya. Belum tentu orang itu akan mengikuti kemauanmu.. Apalagi peranmu disini berbanding sama dengan fans biasa. Biarkan dia jalani apa yang dia mau. BA toh masih terkenal sampai sekarang. Kurasa itu tidak berpengaruh terlalu besar. Dan, fenomena kencan cukup banyak di kancah peridolaan. Bagus kalau orang itu tidak sembunyi-sembunyi lagi soal kencannya. Ia tak membuat skandal lainnya. Bukankah kau harusnya berterima kasih?"
Youngjae berkerut dahi. Kenapa ia harus berterima kasih?
"Dengarlah beberapa perempuan yang duduk di ujung sana. Jika kau dengar baik-baik, omongan mereka tidak jauh dengan percakapan kita ini."
Youngjae kemudian melihat kea rah lain, dari tempat duduknya. Di pojokan café, 3 perempuan duduk bersama sambil serius membicarakan banyak hal. Mereka terlihat santai, tidak seemosi Youngjae.
'Aku sebenarnya tidak rela juga kalau Daehyun berkencan dengan Diana.'
'Tapi mereka terlihat cocok.. Itu tidak buruk. Daripada rumor nya dengan Shim Eonnie yang terdengar menjijikkan'
'Ya, Daehyun tidak seperti itu. Artis-artis perempuan itu saja yang kegatelan. Kurasa Diana lebih cocok ketimbang mereka. Ia tomboy, keren, baik, dan menarik. Bersanding dengan Daehyun, mereka terlihat sempurna. Dan kurasa Diana tipikal perempuan yang independent dan tak suka manja-manja. Daehyun jadi lebih banyak memanjakan kita , kan? Hahaha!'
'Ya, aku bisa berpikir positif setelah kalian berpikir begitu. Sebagai fans Daehyun, mau tak mau aku menerimanya.'
"Bahkan seorang fans Daehyun saja bisa cukup terbuka. Kau yang bukan, malah mempermasalahkannya sendiri."
Youngjae kembali memperhatikan Hyunsik.
"Atau ada hal lain yang membuatmu terus terganggu dengan segala keputusan yang Daehyun ambil?" Hyunsik tersenyum. "Kau pasti sangat menyukainya."
Youngjae terbelakak hebat. Ia menggebrak meja. "HAH?! Jangan aneh-aneh, deh. Aku tidak mungkin menyukainya. Kan sudah jelas aku ini benci padanya!"
"Kata benci itu tidak sepenuhnya punya arti yang negative, loh." Hyunsik pun tertawa senang setelah berhasil menggodai Youngjae. Pemuda di hadapannya tidak habis berpikir bisa mengobrol dengan orang yang salah. ia memutuskan untuk pulang, karena merasa mood nya malah semakin dikacaukan.
"Pesanku adalah.." sebelum Youngjae beranjak pergi, ia diperingatkan Hyunsik. "Coba buka hati dan pikiranmu, sebelum kau lelah sendiri. Tidak buruk untuk mencintai seseorang yang kau benci."
"Hyung kau aneh! Aku ini bukan homo!" kemudian Youngjae keluar dari café tersebut, dan enyah dari pandangan Hyunsik. Langkahnya besar-besar dan ekspresi mukanya lumayan galak. Pintu café saja terbanting tak enak rasa.
Hyunsik pun lekas tertawa, dan menggeleng. Ia benar-benar menemukan seseorang yang unik barusan. Ia tidak bermaksud membuat Youngjae semakin hancur moodnya, tapi justru berusaha menghibur Youngjae agar lebih berpikir positif.
Mungkin ia butuh waktu untuk menyadarinya.
Tak lama, ia melihat sesuatu di depan matanya. Sebuah kantung hitam entah milik siapa.
Saat ia melihat ke dalamnya, rupanya adalah HP seseorang.
"Pasti punya Youngjae." Ucapnya ketika melihat keadaan HP itu. Sampai penasaran dirinya, dia sedikit lancang melihat ke layar utama handphone tersebut. Mungkin ada kontak yang bisa dihubungi untuk mengingatkan Youngjae bahwa HP nya tertinggal.
TING
Tiba-tiba ada telepon masuk. Tanpa ada suara atau getaran. Rupanya dari tadi seseorang menelponnya , tapi tidak sadar karena nadanya dinonaktifkan. Aneh-aneh saja. Siapa yang seharian ini ia coba anggurkan?
"Halo?"
Suara laki-laki terdengar amat terkejut. Pasti mengira 'sesuatu' karena yang menjawab bukan nada lembut Youngjae.
"A—aku teman dari temannya Youngjae. Barusan dia ke café tempatku bekerja." Hyunsik ladeni saja apa yang dimaui orang di seberang sana. Kenapa rasanya suara orang ini pernah ia dengar?
"Eum, alamat rumah?" apa ia harus memberikannya? Ia bahkan tidak tahu dimana Youngjae tinggal.
Tapi kelihatannya orang di seberang ini sangat terburu-buru dan ingin bertemu Youngjae. Ia terdengar panik. Hyungsik tidak enak hati jadinya.
"Datang saja ke cafeku. Mungkin dia akan kembali sebentar lagi mengambil HP nya. Maaf, aku benar-benar tidak tahu alamat rumahnya. Ya, café molly. Baiklah."
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa aku bisa sangat kacau hingga teledor meninggalkan HP!? Ini semua karena Daehyun sialan yang tidak capek menelpon aku terus."
Youngjae menghentak kaki berkali-kali di atas trotoar panjang tersebut untuk membawanya kembali ke café setelah sadar di kantung jaketnya tidak ada HP nya.
Ia sampai menghela nafas kembali, karena perasaannya belum bisa lega mengingat pembicaraan Hyunsik. Mau sampai kapan rasa menyedihkan ini menghantuinya.
Apakah benar ia ini terlalu banyak ikut campur urusan Daehyun yangs sekiranya bukan orang yang ia suka?
"Tidak. Aku ini tidak cemburu padanya. Aku tidak—"
Tring
"KYAAAAA!"
Youngjae langsung sesak nafas setelah masuk ke dalam café. Pikirannya yang masih belum focus , malah makin diperkacau dengan keberadaan banyak orang di dalam café—yang baru beberapa menit ditinggali. Ada apa gerangan!?
"DAEHYUN!"
Sontak Youngjae langsung terkejut, dengar beberapa gadis teriak-teriak bersamaan dengan nama yang sangat tidak ingin ia pikirkan.
Perasaan tidak enak muncul, mungkin ia harus pergi. Persetan dengan HP nya.
"Hey!"
Oh ya , suara itu. Ia harus benar-benar pergi.
Sambil mempertinggi kerah jaketnya, sekedar menghalangi rupa wajahnya dari orang banyak, ia keluar café. Semakin garang dengan orang-orang penasaran yang tiba-tiba menyambutnya di pintu masuk. Ia mencoba menghindari keramaian, bersikap seadanya, bersikap tidak peduli.
"HEYY!"
Suaranya malah semakin dekat, maka Youngjae harus lari. Menjauh-menjauh. Harus menemukan kendaraan paling dekat yang akan membawanya pergi. Ia tidak mau mengurusi Daehyun dan fans-fans kelaparannya.
Sebuah taxi terparkir di depan sana. Ia tidak peduli taxi itu sedang menunggu siapa. Ia masuk saja ke dalamnya, segera menaruh uang yang ada di kantungnya, entah lebih atau kurang. Sang supir agak terbengong lihat anak muda terburu-buru masuk ke dalam kendaraannya.
"Pak, pergi sekarang juga ke alamat JL. Hyeondo 12..."
"Oh.. i—iya."
Cklek
Duak
"Oke Pak, kita pergi."
"THE HELL!?"
Daehyun langsung cengengesan lihat Youngjae kaget bukan kepalang dengan kemunculannya. Mobil sudah terlanjur berangkat, dan Youngjae tidak bisa melarikan diri kemana-mana lagi. Tampaknya hasil penyamaran Daehyun cukup ampuh melepaskan dia dari para fans kelaparan.
"MAUMU ITU APA SIH?!"
Daehyun menjentik jari. Pertanyaan bagus, pikirnya. Ia lalu merogoh sesuatu di jaketnya.
"Pertama, aku ingin mengembalikan HP mu yang tertinggal."
Daehyun mengulurkan hp dalam kantung hitam. Youngjae segan, mengambilnya dengan kasar..
"Kedua, aku butuh penjelasan. Kenapa kau mengecat pintu kamarku, padahal aku belum bilang? Well, setidaknya kau tahu kalau aku suka warna-warna cerah."
Youngjae berdecak, ia juga menggertak gigi. Ternyata usahanya tidak bisa buat Daehyun jera juga. Ia malah terlihat bersenang-senang dengan aksi protesnya beberapa waktu lalu yang ia lampiaskan kepada pintu kamar milik Daehyun.
"Apa kau tidak suka dengan berita hari ini?"
Youngjae malas jawab. Kenapa ia harus ladeni pembicaraan dengan orang aneh di sebelahnya ini.
"Kau cemburu ya? Denganku
Atau...cemburu pada Diana?"
Youngjae menatap dengan nyalang galak ke Daehyun. Tindakan tak setuju secara tiba-tiba. "Kau ini kenapa sih?! Bisa tidak urusi pacarmu saja ! Jangan ganggu-ganggu aku lagi!"
Daehyun mengerutkan dahi. "Hah? Loh, aku cuman mau kau jelasin padaku, dan kembali bekerja padaku."
Youngjae yang tampaknya semakin jatuh moodnya, mengerang kesal. "Aku mengundurkan diri, ok!? Yongguk bahkan tidak pernah makan masakanku. Aku tidak peduli lagi! Untuk apa memasak untukmu!? Janji kita batal! Kau tidak berguna."
"Tidak ada yang bisa masak di dorm, kau tahu itu kan?"
"Ya?! Lalu!? Masih ada Diana, pacarmu."
"Diana tidak bisa masak. Kau berharap dapurku hancur di tangannya?"
"Belajar masak saja dengannya! Dia pacarmu, kau harus perhatiin dia sedikit!"
"Dia bukan pacarku, Youngjae."
"Sekarang kau melampiaskannya pada pacarmu sendiri!? Laki-laki macam apa kau!"
"Aku tidak mungkin jadi pacarnya, damnit Youngjae!"
"KAU KENAPA SELALU MEMPERMAINKAN HATI WANITA , HAH!?"
"Eum, anu.."
Youngjae perhatikan ke supir di depannya. Ia baru sadar perjalanan mereka sudah berakhir. Supir taxi tersebut kelihatan ketakutan untuk menganggu perdebatan antara anak muda dan pria asing dengan setelan serba tertutup di sebelahnya.
Kemudian Youngjae melenggang keluar. Daehyun tidak terima ia ditinggalkan dengan kesalahpahaman terus. Maka juga ia akan keluar dari taxi. Namun sebelumnya, ia meninggalkan tip lebih banyak dari ongkos sebenarnya ke supir taxi.
"Anggap saja percakapan tadi tidak pernah ada, paham, Pak?"
Pak supir itu angguk-angguk kepala saja. Sambil memandang heran melihat sepasang laki-laki itu saling kejar-kejaran seperti pertengkaran sepasang kekasih.
Apa jangan-jangan mereka pasangan gay?
Sementara itu, Youngjae sudah berjalan lebih jauh. Ia tidak berharap diikuti, tapi rada malas juga kalau berharap banyak. Daehyun ternyata lebih keras kepala dari yang ia bayangkan. Langkah sepatu mahalnya sudah semakin dekat padanya. Jalanan sepi seperti ini, ia tidak bisa minta tolong mengenyahkan mahluk di belakangnya.
Kalaupun ia minta tolong, yang ia dapatkan justru teriakan histeris fangirl mengerubungi mereka berdua.
"Hei! Youngjae! Dengar aku dulu, astaga!"
Tepat di depan suatu rumah, Youngjae tergesa-gesa akan masuk.
Baru saja pagar rumah dibukanya, Daehyun berhasil menahan.
Tangan Youngjae dipegangnya. Kemudian tubuh Youngjae ditarik menjauh dari pagar rumahnya sendiri.
"Lepaskan aku! Atau aku teriak sampai fans-fans gila mu itu keluar semua!"
"Teriak saja, dan setelah itu rekayasa ini bisa menguap bersama dengan rumor sialan itu. Dan rumor lainnya antara kita berdua muncul ke permukaan."
"Maksudmu?"
Daehyun menghela nafas. Ia gemas melihat kepolosan Youngjae yang belum peka juga dengan segala pertingkahan dibawanya selama ini. Mata pemuda itu mengerjab heran. Semakin polos aja pemandangan di depannya. Ia begitu manis.
Dengan tiba-tiba, Daehyun melepas maskernya.
Ia menarik kepala Youngjae, menarik tengkuknya. Sampai tak ada jarak di antara keduanya.
Sampai bibir mereka menyatu lekat dalam kisaran beberapa menit. Ciuman terbentuk begitu saja di luar kesadaran Youngjae, hingga lelaki itu membelakak mata di antara lumatan daging yang tak berjarak tersebut.
TSAKK
Suara bungkusan karton terjatuh. Membuat keduanya terinterupsi segera, dan melepas pagutan masing-masing. Keduanya langsung adu tatap ke orang yang berdiri tak jauh dari mereka dengan ekspresi terlanjur shock.
"Ja—Jaebum?"
Jaebum disana. Ekspresinya shock tidak lekas juga.
"Hyung! Tanganmu lepas dong!"
Dan dua tangan Jaebum mendekap dua mata Junhong yang berdiri di sebelahnya.
Tidak ingin pemandangan di depan mereka jadi tontonan tak terlupakan bagi bocah belum matang seperti Choi Junhong yang sekedar punya 1 niat baik, menjenguk Youngjae.
.
.
.
.
.
.
.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu."
Pria berwibawa di sebelahnya tertawa. Ia mengangguk setuju.
"Kurang lebih 5 tahun, setelah aku pergi berbisnis ke luar negeri. Tapi kau masih terlihat sama."
"Hahaha.. sama saja. Kau juga tetap popular meskipun sudah punya istri."
Kedua pria tampan itu saling membalas tawa jenaka serupa persahabatan yang telah lama terlewati. Mereka memang sahabat , sejak dipertemukan semasa SMP. Tidak dipungkiri betapa dekat keduanya sebagai teman lama, dan teman bisnis.
"Berapa lama kau akan tinggal di Korea?" pria dengan setelan cokelat muda itu sangat penasaran. Duduknya tidak formalitas lagi, agak santai seperti menjamukan teman akrab di sofa ruang tv.
"Selama mungkin. Banyak hal yang terjadi. Aku harus mengurusinya." Pria dengan setelan hitam pekat di sampingnya, mendesah lemah. Wajahnya tampan tidak sesantai beberapa menit lalu..Ia mungkin larut dengan rasa lelah, dan khawatir setelah memikirkannya.
"Ada masalah apa, Siwon?"
Pria di sampingnya hanya tersenyum pesimis. Ia tidak yakin akan mengumbar fakta yang diinginkan teman lamanya itu.
"Hey, Yongin. Daripada membahas masalahku, bagaimana jika aku mempertanyakan dirimu? Kapan kau akan menikah lagi? Aku tidak pernah mengenalmu sebagai seorang laki-laki yang setia."
Donghae, asisten sekaligus supir mobil Siwon kala itu sampai melirik dari kaca spion. Pembahasan dua pria sudah beristri memang sangat random.
"Aku tidak tahu." Yongin hanya membuang pandang. "Aku merasa bersalah untuk menikahi wanita lain. Setelah aku banyak mengecewakannya semasa hidup."
Siwon menaruh dagunya, dibantalkan oleh lengannya yang terpagut di kenop pintu. Ia perhatikan Yongin. Pria yang lebih tua darinya itu, juga masih terlihat awet muda untuk pria berumur 50an, sangat mapan, tampan, puteranya mandiri dan artis popular. Kenapa masih saja larut dengan kegalauan yang sama sejak berpuluh tahun silam?
Siwon baru ingat betapa mirisnya Yongin ketika sedang jatuh cinta...
"Kau pasti sudah bertemu dengannya lagi?"
Yongin melirik Siwon. Lelaki gagah itu tertawa kecil untuk memberi sedikit hiburan ke percakapan mereka. Yongin jadi salah tingkah untuk tidak bisa berbohong.
"Hah..." Siwon menghela nafasnya. "Kau tidak menyerah mengejar perempuan itu. Ya memang untuk levelnya, dia memang dikatakan gadis pujaan. Tapi itu dulu. Sebelum ia membencimu dan menikahi pria lain."
Yongin hanya terdiam karena merasa terpojok. Oh ayolah, kenapa yang itu lagi?
"Jika Yongguk tahu kau masih punya rasa dengan wanita lain meskipun kau sudah menikahi ibunya, aku yakin dia tidak akan memaafkanmu."
"Kurasa peringatanmu sudah terlambat , Siwon."
Siwon tak kaget. Ia malah berdecak kesal. Sudah ia duga konflik antara anak bapak ini berawal karena hal itu.
"Tapi aku akan mencoba membuatnya paham."
"Maksudmu?"
Tak lama kemudian, mobil yang mereka gunakan berhenti di depan sebuah toko swalayan. Donghae yang konsen mengemudi, kemudian menengok pada jok belakang , memohon ijin sesuatu.
"Maaf, Tuan. Saya akan belikan rokok seperti yang anda mau."
"Oh ya, terima kasih, Hae."
Donghae kemudian pergi. Tak ingin menginterupsi lagi percakapan di antara keduanya yang terdengar rahasia. Lagipula , sejak pertama kali ia bertemu Yongin—ia seperti memiliki firasat tidak enak. Sama seperti ia menganggap Jongup mendekati tuan mudanya, Junhong.
Ia memasuki swalayan tersebut. Tidak begitu ramai, tidak begitu kosong. Beberapa masih asik memilih barang.
Donghae lekas pergi ke stal yang berisi berbagai merek rokok (di Korea, penjualan rokok sangat bebas sehingga ditaruh di stal-stal pada umumnya seperti menjual produk biasa). Bosnya itu lebih suka rokok mentol yang agak mahal. Walaupun jarang terlihat merokok, tapi Siwon tidak pernah lupa membawa untuk berjaga-jaga jika ia membutuhkannya.
Apalagi akhir-akhir ini ia stress karena pekerjaan dan keluarganya.
"Hmm.. obatnya seperti.."
Donghae yang mendengar suara yang familiar, kemudian teralihkan konsennya kepada wanita berkursi roda yang sedang berbincang dengan penjaga toko.
"Puteraku jarang sakit, jadi aku tidak terbiasa membelikan obat—"
"Bibi Hayeon?"
Wanita di kursi roda itu terkesiap. Ia tersentak melihat lelaki tampan dengan setelan rapih seperti pegawai eksekutif menegurnya dikala ia linglung.
"Donghae?"
Donghae yang jarang tersenyum, malah terlihat bahagia dengan mengumbar senyum lebarnya pada Hayeon. Wanita muda itu segera memberikan tepukan 'sudah lama tak bertemu' ke lengannya. Ia terlihat lebih tampan—pikirnya.
"Tumben sekali sampai berpapasan begini. Bagaimana kabarmu, Hae?"
"Baik sekali, Bibi. Bibi juga terlihat bersemangat sekali sampai jalan sendiri kemari. Himchan kemana?"
Tidak heran memang keduanya sudah begitu dekat. Selain Donghae cukup ingat siapa sahabat dekat tuan mudanya, Donghae juga pernah berkunjung ke rumah Himchan demi keinginan Junhong yang dahulu cukup manja. Lagipula ibu Himchan sangat baik, dan penyayang. Sosok keibuannya terlalu membekas untuk Donghae sendiri.
"Ia sedang sakit. Makanya Bibi bingung mencarikan obat untuknya. Ia jarang sakit. Terakhir kali ketika umurnya masih 15 tahunan. Itupun juga ia cepat sembuh."
Hayeon kembali menerka-nerka pada setumpuk produk obat demam di hadapannya. Ia takut salah memilih. Jangan sampai puteranya kenapa-napa karena perbuatannya sendiri. Puteranya sangat berharga untuknya.
"Biar kupilihkan, Bibi. Ayahku adalah pharmacist. Aku tahu obat seperti apa yang bagus untuk orang demam." Donghae kemudian menginteruksi si penjaga toko untuk mengambilkan apa ia inginkan. Produk-produk lain ditengahi, yang sesuai harapan. Tapi Donghae masih cukup teliti untuk melihat petunjuk lain di produk tersebut. Ia sangat konsentrasi.
"Ini obat bagus. Zat kimianya tidak banyak. Harganya juga tidak terlalu mahal."
"Benarkah? Ini yang kuinginkan." Hayeon menanyakan harga, yang kemudian transaksi di antara penjaga dan pelanggan berlangsung cukup cepat. Ia tidak tahu, pekerjannya bisa cepat usai begini jika bertemu Donghae.
"Terima kasih banyak, Nak. Kau sangat membantu sekali. Lalu bagaimana denganmu? Kau kemari untuk apa?"
"Majikanku ingin membeli rokok."
"Kau benar-benar sangat rajin, dan bertanggung jawab ya, Donghae. Makanya aku selalu mengira kau ini adalah jelmaan Puteraku, haha.." Hayeon menepuk-nepuk pundak Donghae yang kala itu sedang berdiri di belakang kursinya, ia hendak mengantarkan Hayeon ke pintu keluar.
"Himchan lebih ramah dariku, Bibi." Donghae tersenyum sangat rupawan. Bahkan gadis-gadis pembeli lainnya, sampai terbengong-bengong saking terpukaunya. "Aku rasa Bibi terlihat makin sehat saja dari hari ke hari."
"Aku memang selalu sehat, demi masa depan Himchan. Haha.."
Donghae pun mengangguk, ia sangat terkesima dengan pendirian Bibi di depannya yang tidak pernah terlihat putus asa untuk seorang wanita yang lumpuh. Tidak pernah putus asa, tidak terlihat menyerah.
"Hayeon?"
Tak lama, percakapan merekalah yang terinterupsi. Ketika mereka keluar dari swalayan tersebut, seorang pria keluar dari mobil begitu tergesar-gesa tak lama kemudian. Mereka berdua saling mengalih pandang pada orang yang menegur si Bibi, dengan tampang sulit percaya. Hayeon bahkan menanggapinya dengan kaget. Seperti keduanya tidak menyangka akan bertemu lagi.
"Yongin?"
Sesaat kemudian, Yongin menyunggingkan senyuman yang sangat tulus. Untuk ukuran pria pekerja keras, dan bahkan baru saja bercerita hal menyedihkan di atas mobil tadi, pria itu berubah kontras menjadi sangat ramah.
Dan Donghae pun terheran. Kenapa tatapan Yongin melemah pada sosok Bibi Hayeon? Kelihatannya mereka punya pertemuan tak terduga di waktu-waktu sebelumnya.
Dan di belakang punggung pria itu, Siwon mengintip dari dalam mobil. "Hayeon? Hey, sudah lama tak bertemu!"
Dua pria elit itu memberi sapaan hangat pada si wanita tak berdaya. Entah ekspresi apa yang diberikan Hayeon kepada dua pria itu yang menegurnya karena reunian kebetulan ini. Donghae hanya menebak, Hayeon masih kaget karena sudah lama tak berjumpa dengan dua pria itu.
Ini sulit dipercaya..
.
.
.
.
.
.
"DAEHYUN!? JUNG DAEHYUN DARI BA?!"
Jaebum tentu akan kaget. Sudah ke sekian kali ia berteriak sendiri karena terkejut banyak terhadap kenyataan sangat mencengangkan setelah diceritakan Youngjae. Kepalanya sangat sakit menerka banyak hal tak terduga.
"Jika Noona tahu, aku akan dibunuh olehnya."
Youngjae masih saja tenggelam ke dalam bantalnya. Mendekap wajahnya, menenangkan diri sekaligus mencoba memberi waktunya untuk kembali pada kesadarannya. Ia masih rada shock.
"Bagaimana kalian bisa sedekat itu?! Maksudku.. kalian tidak sedang menyimpan skandal kan?
Wait, bukannya baru tadi pagi dia mengumumkan.."
"OH DIAM KAU JAEBUM! AKU SEDANG STRESSSS!"
Jaebum langsung tutup mulut setelah Youngjae mengamuk karena muak mendengar nama Daehyun Daehyun Daehyun terus-terusan.
Tidak bisakah ia lebih tenang seperti Junhong yang belum paham betul situasi mendesak ini? Ia dari tadi hanya duduk diam saja.
"Orang itu berusaha mempermainkanku! Aku tidak akan memaafkannya!" Youngjae meninju-ninju boneka matoki merah favoritnya berkali-kali (walaupun ia tidak niat menyakiti boneka kesayangannya itu) untuk melampiaskan kemurkaannya.
"Ya, kau sudah memperlihatkannya setelah kau menamparnya tadi.
Ugh.. untung saja hanya kita berdua yang melihatmu. Sampai ada fans Daehyun, aku dan Junhong akan memberikan berita duka duluan ke sekolah besok."
Youngjae kerucut bibir kesal. Dia sudah malas memikirkannya. Ia pun berhak membela diri karena ia dilecehkan beberapa waktu lalu. Tidak salah jika tangannya otomatis mengenai wajah tampan pujaan seluruh umat wanita di luar sana.
"Bagaimana bisa Hyung dan Daehyun sampai disini dan bahkan kalian..." Junhong akhirnya angkat bicara setelah beberapa waktu dibuat bingung dalam keadaan. "Sudah sedekat itu kah?"
Youngjae menghela nafas. "Aku lupa memberitahumu.
Tapi aku bekerja part time di dorm mereka untuk beberapa saat."
"WHAT THE!?"
Jaebum dan Junhong shock berat. Seorang Youngjae—si pemburu BA paling ganas , bisa sampai bekerja di dorm mereka!?
Apakah mereka kebetulan memungut anak ini? Atau mereka belum sadar Youngjae itu sangat menakutkan kalau sudah melibatkan BA!?
"Jangan melihatku begitu. Aku sudah mengundurkan diri. Dan tidak terjadi hal jelek apapun."
Jaebum pun menghela nafasnya. Berita bagus sejauh ini.
"Bukan masalah itu. Tapi yang sekarang jadi masalah, apa sebabnya Daehyun tiba-tiba menciummu ? Kau pasti bukan pekerja spesial atau bahkan manajer mereka—apalagi jadi penghilang libido tingginya, tp dia sampai mengikutimu hingga ke rumah!?"
"MANA KU TAHU! Aku tidak peduli." Youngjae menidurkan diri. Ia malas menanggapi penghakiman siapapun.
"Hyung, tidak mau bicara dengannya, untuk memperjelas semua ini?"
Dari belakang kepalanya, ia menggeleng, tertanda "tak mau"
"Aku akan rehat, tentang BA. Mood ku buruk dan semakin buruk jika memikirkan mereka."
"KAU AKAN BERTOBAT DARI FANBOYING!?" Jaebum terlihat menyungging senyum bahagianya. Youngjae tidak terima, ia lempar salah satu bantalnya sampai Jaebum terjerembab ke karpet kamar.
"Ku bilang rehat, bodoh!"
Jaebum pun mengendik bahunya. "Bisakah kau berhenti menyiksa dirimu sendiri. Kau sampai enggan masuk cuman karena kau cemburu dengan berita yang menimpa Daehyun. Aku jamin itu."
"HAH?! Siapa yang bilang begitu?"
"Memangnya aku tidak tahu. Sebelum kami ke rumahmu, kami menelpon HP mu, dan yang mengangkat partner kerja Himchan. Dia bilang kamu lagi sakit hati karena salah satu member BA. Aku bisa langsung ambil kesimpulan.
Lagipula Jaesung noona juga suka berlebihan kalau idolanya kenapa-napa. Sama persis."
"Aku pasti akan melaporkan ini pada Noona mu."
"JANGAN BERANI-BERANI KAU, SIALAN"
Tak lama kemudian, Junhong bangun dari posisi duduknya. Jaebum memperhatikannya, "Mau kemana, Junhong?"
"Sebaiknya kita pulang. Kita masih harus jenguk Himchan juga kan?" Junhong kemudian berjalan keluar dari kamar Youngjae. Ia terlihat tidak bersemangat. Tidak seperti biasa dengan keadaan Junhong yang senantiasa bersemangat meladeni ketidakwarasan salah satu sahabatnya ini.
"Anak itu kenapa sih?" Jaebum yang terlihat khawatir dengan keadaan Junhong yang sedari tadi tidak banyak menanggapi.
"Pulang saja kau Jaebum. Aku sedang ingin waktu luang dulu."
"Err.. aku menyesal menjengukmu kalo kau keliatan masa bodo begini."
Jaebum mengambil tasnya. "Jangan tidak masuk lagi. Aku malas mengabsenimu terus." Kemudian ia keluar dari kamar Youngjae, meninggalkan anak itu yang masih larut dengan kegalauannya. Ia hanya meringkuk di atas ranjang, memeluk gulingnya, menerka banyak kemungkinan.
Youngjae menyentuh bibirnya yang tercium. Masih terasa kehangatan bibir Daehyun. Hal yang sama seperti saat ciuman pertama mereka.
Kalau kata orang, ciuman yang cuman main-main tidak akan pernah terjadi dua kali.
Dan sepertinya Youngjae, sudah diluar batas pernyataan orang-orang itu.
.
.
.
.
.
.
Jaebum mengamati punggung anak muda di hadapannya. Jalannya cepat, ragu, dan tidak ada semangat. Semua terbaca dari sudut pandangnya yang begitu serius.
"Kau kenapa Junhong? Kok rasanya ada yang aneh."
Junhong terjengit, kemudian menengok , mengamati sahabatnya itu yang menatapnya begitu heran.
"Ti—tidak apa-apa."
"aku tidak percaya kalau kau berbohong. Tapi, aku mencium sesuatu yang aneh saja darimu."
Kemudian Jaebum berjalan menjauh, mendahului Junhong.
Junhong sendiri hanya bisa diam saja, masih keliru pula dengan sikapnya yang begitu aneh.
Mungkin saja karena ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa sahabatnya, Youngjae, punya hubungan yang terlanjur dekat dengan salah satu member BA—sama hal dirinya. Yang bahkan lebih beruntung, bahwa kedekatan mereka tidak diselingi dengan penipuan. Ia jadi kepikiran Jongup terus, ia jadi agak...
Cemburu?
"Aku hanya masih shock dengan youngjae."
Jaebum menengok ke Junhong. Tadi ia dengar apa?
"Youngjae dan Daehyun sangat beruntung bisa sangat akrab."
"Ya. Fans manapun akan bilang begitu. Tak terkecuali aku.
Tapi mencium itu, sudah kelewat batas. Apalagi mereka sama-sama laki-laki.
Bukankah kau mencium sesuatu yang aneh di antara mereka?"
Junhong hanya terdiam. Ia melangkah mendekat ke samping Jaebum. "Apa seorang artis berkencan itu aneh, Hyung?"
Jaebum hanya mengendik bahu. "Tidak juga."
"Sekalipun mereka sama gendernya?"
Jaebum membalas pandang Junhong. Kenapa arah pembicaraannya jadi membelok begini?
"Junhong, kau lagi demam juga ya? Kok jadi ngawur sih ngomongnya?"
Junhong menghela nafas. Sepertinya Jaebum pun tidak bisa memberi jawaban cukup memuaskan untuk kekeliruannya.
"Ngomong-ngomong, perasaanku aja, atau dari tadi kita lagi diikutin , ya?"
Junhong pun ikut mengeremi langkah serupa Jaebum yang serius mengamati sesuatu yang berseberangan dengan keberadaan mereka. Junhong ikut melihat trotoar seberang, dimana sebuah mobil bercat metalik terparkir disana. Apa yang aneh dari mobil itu?
Kemudian mobil metalik itu bergerak, memutar arah. Menyebrangi jalanan, dan mendekati mereka. Mereka berdua sudah siap – siap untuk lari kalau sampai pengendara di dalamnya mau menculik mereka.
Jendela kaca turun. Seorang pemuda bertopi dan berkacamata cokelat, menyembulkan kepala.
"Hai, nak! Masih kenal denganku?"
Jaebum hanya menarik alis.
Junhong sudah menjatuhkan rahang.
Siapa yang tidak mengenal artis terkenal dan mobil yang pernah ia masuki
Sekedar mengobati lukanya akibat keributan saat konser malam itu...
.
.
.
.
.
.
.
Dua pria saling berhadapan, dan 1 wanita duduk di tengah mereka.
Donghae merasa awkward sendiri, sekedar duduk di kursi lainnya yang rada berjauhan. Tapi telinganya cukup segar mendengar informasi dari kejauhan.
"Makanlah hidangan sederhana ini Hayeon, kami menjamumu sangat spesial hari ini." Siwon yang berkata begitu dengan nada cerianya. Mungkin ia salah satu yang ikut bahagia bisa bertemu teman wanitanya yang sempat akrab waktu lalu.
Sementara itu Hayeon mendesah kasar. Ia sejujurnya keberatan menerima tawaran dari dua pria berjas rapih, sedangkan dirinya pakai hanya kaus sederhana yang tidak mahal. Pada makan sore itu, perbedaan strata di antara keduanya terlihat begitu kontras.
"Jangan terlalu menyombongkan diri, Hayeon. Kita sudah belasan tahun loh tidak bertemu. Ya , terkecuali Yongin. Pasti sering bertemu denganmu."
Siwon tertawa cekikikan. Mungkin sikap lamanya yang senang menggoda itu tidak lekang oleh waktu. Yongin menggeleng kepala.
"Sudahlah, Siwon. Hayeon sepertinya kurang nyaman dengan jamuan ini."
Hayeon melirik ke Yongin. Senyuman pria itu, membuatnya tidak enak hati. Ia kemudian buang pandang lagi.
"Maaf, aku tahu ini pertemuan yang cukup kebetulan. Tapi aku harus pulang untuk bertemu puteraku."
"Oh ya!? Aku sampai lupa kalau kau punya 1 anak. Kau masih cantik seperti dulu, jadi kukira umurmu masih 15 tahun." Ia kemudian memberikan instruksi kepada salah satu pelayan di restoran privat itu, ia memberikan suruhan untuk membungkusi makanan-makanan yang tak disentuh Hayeon.
Sementara Siwon sibuk mengurusi Kokinya, Yongin lama memperhatikan Hayeon yang terlihat menghela nafas berkali-kali karena merasa tidak nyaman. Sudut pandang Yongin tampak telaten dan serius. Ia tidak lepas memperlihatkan rupa kekagumannya pada wanita muda itu.
Siwon menatap kepada dua orang di depannya. Sepertinya ia jadi seekor nyamuk disini.
"Oh ya, aku harus ke kamar mandi dulu." Siwon sebaiknya pergi dahulu, biar keduanya bisa bicara 4 mata. Mungkin kebimbangan Yongin bisa tersembuhkan jika mengobrol sebentar dengan Hayeon. "Hayeon, tunggulah sampai bungkusan makanan nya. Aku sudah membelikannya khusus untukmu."
Sepertinya penahanan Hayeon sia-sia, pria itu malah pergi begitu saja, meninggalkan suasana canggung lain di antara Hayeon dan Yongin.
"Hayeon." Yongin akhirnya berbciara. Ia tahu apa yang harus ia lakukan setelah ditinggalkan Siwon. "Apa kau masih memikirkan penawaranku kemarin?"
Mata Hayeon bertemu dengan Yongin. Ia menatap yongin dengan perasaan setengah hati.
"Yongin. Aku masih mencintai suamiku."
Yongin berkerut dahi. Tanggapan yang masih belum bisa ia terima. "Tidak bisakah kau mempertimbangkan, betapa aku sangat mencintaimu seperti dahulu?"
"Yongin, aku tak pernah bisa membalas cintamu. Kapanpun." Hayeon setidaknya mau meminum teh melati yang disediakan untuknya, sekedar membasahi kerongkongannya. "Aku sudah berkali-kali bilang, aku akan memaafkanmu asalkan kau tidak melibatkan keluargaku lagi."
"Itu masa lalu, hayeon. Istriku, suamimu.. Mereka berdua telah tiada.
Aku tahu aku menerima tawaranmu kala itu. Bukan berarti aku harus menghapus rasa ini.
Lagipula, aku tidak melibatkan anakmu. Aku hanya melibatkan dirimu untuk menjadi pendampingku. Kalau kau tak ingin puteramu tahu rahasia kita, aku akan lakukan apapun untuk membuatnya tidak tahu apapun."
Hayeon menggeleng. Respon yang seharusnya cukup jelas untuk menjawab tindak keras kepala pria di dekatnya itu. "Inciden lalu sudah cukup jelas, bahwa aku sangat membencimu.
Bagaimana aku bisa menerimamu jadi pengganti Jinwoo?"
Koki datang membawakan bungkusan makanan yang diminta oleh Siwon. Hayeon memberikan tanda terima kasih. Ia kemudian meminta bantuan Donghae yang pura-pura sibuk dengan makanannya, untuk mengantarkannya keluar restoran.
"Hayeon." Yongin bangun. Sentakannya membuat dua orang yang hendak pergi itu menoleh kepala padanya. Memberi perhatian sebentar.
"17 tahun kau melarikan diri, apa belum cukup untuk melupakan semuanya?"
Hayeon menatap sengit Yongin dari kejauhan. "Tidak. Jika anakmu masih saja mendekati anakku. Ia mengingatkanku padamu, yang berusaha mencuri kepercayaanku dan kemudian meruntuhkannya begitu saja."
Donghae kemudian meneruskan dorongan kursi roda Hayeon, dengan cepat, sebelum perdebatan panjang terjadi kemudian.
Suasananya cukup menegangkan.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau yakin tak mau mengajak sahabatmu itu?"
Junhong menggeleng kepala. Ia masih larut memandangi pemandangan di luar sana. Ia berusaha menyembunyikan luapan senangnya bisa bertemu kembali dengan Jongup.
Ingat, ia bukan Juyong disini.
"Kenapa kau mengikutiku? Kukira pertemuan malam konser itu adalah yang terakhir kali."
"Ya, aku juga sempat mengira begitu."
Kemudi dibelokkan. Entah kenapa Jongup mengajaknya secara random dan Junhong tidak mau tahu ia akan dibawa kemana. Yang pasti, ia hanya ingin meluangkan waktu selama mungkin dengan Jongup.
"Aku melihatmu dan tertarik mengikutimu. Kau tadi habis kemana?"
Junhong melirik Jongup dengan sengit. Ia tidak bermaksud terlihat galak, tapi ia harus melakukannya.
"Rumah teman."—apa ia tahu juga Youngjae dekat dengan partner kerjanya yang bernama Daehyun?
"Hey, jangan dingin begitu. Kau berbeda dari ekspektasiku."
"Ekspektasi apa?" Junhong terheran. Ia melihat Jongup sudah menertawakannya.
"Kau sepertinya sedang menyimpan rahasia dariku, bukan?"
"Hey, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu." Junhong lihat kea rah jalanan. Kok arah jalannya familiar ya? "Bisakah kau turunkan aku disini? Aku tidak punya waktu menanggapimu."
"Seharusnya jangan sombong begitu. Sebentar lagi kan kita akan jadi sangat 'dekat'" Jongup terlihat menikmati kepanikan Junhong . Anak di sampingnya was-was karena jalan pikirnya sudah peka ke arah seharusnya.
"Aku tadi melihatmu turun dari mobil, sepulang sekolah. Rumahmu dekat sini, kan?"
Junhong membelakak mata.
"Jangan berbohong padaku kali ini."
Jongup tersenyum. Junhong sudah menegak ludah sendiri.
"Kau mengikutiku?"
"Aku tak sengaja melihatmu dijemput di sekolah." Tahu-tahu jalan mobil sudah mulai melambat.
"A—apakah kau sudah.."
"Ya, munkin saja."
Kemudian mobil nya pun sudah berhenti. Tepat di depan rumah mewah. Tempat yang selalu jadi perjalanan terakhir Junhong.
"Jongup." Junhong mengamati Jongup, dengan tatapan menyesal.
"Aku benar-benar minta maaf kalau aku..."
"Aku tidak percaya kau ternyata adiknya Juyong, ya?"
DEG
"PANTAS, kau senang hati mendatangi konserku waktu itu. HAHA!"
Jongup mengerut dahi, ia heran sekaligus terkejut dengan jawaban yang diberikan Jongup.
Merasa ada yang salah paham saat ini. Ia kesal, kemudian keluar dari mobil dengan bantingan pintu cukup keras, dan tak menanggapi panggilan-panggilan Jongup apapun dari dalam mobilnya.
.
.
.
.
.
.
"Aku mencintaimu.."
Tidak, tidak dengan begitu, terlalu sederhana.
Pria itu kemudian mengambil nafas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan.
"Kau sangat baik, menawan, menarik, kau membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan itu membuatku larut dengan rasa yang selalu meluap-luap..
ARGH!"
Yongguk menampar marmer abu-abu wastafel dengan cukup keras oleh kedua tangannya. Ia tertunduk lemah. Ia merasa kehilangan kepercayaan diri.
"Kenapa hatiku tidak siap begini.." ucapnya. Matanya melirik sebentar pada sebuah kotak cincin yang ia beli dari sebuah toko perhiasan di jalanan Wedenburg. Kotak cincin itu memperlihatkan keindahan merahnya, dipadu dalamnya sebuah benda melingkar perak yang cukup bernilai ratusan ribu won. Khusus dibelikannya untuk seseorang yang begitu ia rindukan setelah 2 minggu tak berjumpa.
Ia memperhatikan bayangannya sendiri yang dipantul oleh cermin. Wajahnya yang tampan itu terlihat putus asa, terlihat kelelahan, seperti seorang pria yang kehilangan seluruh tenaganya. Padahal kemarin dan hari ini adalah hari kosongnya dari segala perjumpaan formal yang membuang waktu dengan keluarga Chungha.
"Besok aku pulang. Aku harus mengungkapkan perasaanku. Harus." Yongguk mengambil kotak merah itu, mengenggamnya dalam dekapan serupa sedang berdoa. "Semoga ia menerimaku, sebagai Yongguk setelah itu. Ia harus tahu siapa Jongdae sebenarnya."
Tok Tok
Suara ketukan pintu dari luar, membuatnya tersentak. Ia langsung menyembunyikan kotak beludrunya.
"Yongguk sayang~"
Ugh, ia lupa kalau ia sedang menginap di rumahnya Chungha.
"Ada telepon dari Daehyun."
Yongguk menghela nafas. Daehyun benar-benar merusak moodnya.
Ia langsung keluar dari kamar mandi, mengambil telepon dari tangan Chungha dengan terburu-buru. Ia berharap gadis itu tidak lama di kamarnya, dan segera pergi daripada memperhatikannya berbisnis dengan Daehyun.
"Ada apa , Dae?"
"CEPAT KAU KEMBALI, BRNGSEK! KITA HARUS MANGGUNG BESOK, SIALAN! JANGAN BUAT AKU SEMAKIN KESAL!"
Yongguk langsung menjauhkan teleponnya. Telinganya sakit dengan suara melengking vocalistnya itu. Kenapa Daehyun jadi jelek begini moodnya? Baru kali ini ia sampai teriak-teriak begitu menyuruhnya latihan dan rehearsal sebelum konser. Biasanya Yongguk sendiri yang musti ribut memaksa Daehyun yang kurang pedulian.
"Kau ini kenapa? Aku gak tuli juga kali."
"Bodo amat! Pulang kau sekarang juga. Angkat pantatmu dari Jerman!"
"Kau ini lagi moody sekali? Apa karena press conf kemarin? Oh ya selamat atas ..."
BEEP BEEP BEEP
Yongguk memperhatikan telepon dengan kerutan dahi. Kenapa tiba-tiba ditutup dari seberang sana?
"Ada apa?"
Ah sayang sekali hama yang tidak diharapkan rupanya masih menungguinya.
"Aku harus pulang. Besok ada konser."
Yongguk datang ke lemarinya, mempersiapkan segala perlengkapannya. Dalam hati ia berbicara riang 'Yes, akhirnya aku punya alasan untuk melarikan diri dari Chungha dan keluarganya yang terlalu over-posesif itu seperti anaknya.'
"Kalau begitu aku juga!"
"TIDAK! kau bilang besok ada acara ulang tahun temanmu, si Gracia siapapun itu."
"Grace. Ya, tapi aku maunya pergi bersamamu. Aku ingin memperkenalkanmu dengan me—"
Resleting koper menggema cukup keras. Ia sudah siap dengan semua perlengkapannya. Ia melihat ke jam. Wah, sudah sesiang ini?
"Hargai juga pekerjaanku ini, sebagai seorang idol. Aku punya waktu juga dengan karirku, dan fansku. Seperti menghargai karirmu sebagai model."
Chungha mengerucut bibir. Ia jadi mempertimbangkan lagi masalahnya mengambil karir sebagai model daripada sebagai penyanyi agar menyamai calon suaminya itu.
"Aku pergi dulu. Titip salam dengan keluargamu. Aku minta maaf." Ungkapnya. Kemudian pergi begitu saja. Bahkan permintaan Chungha untuk dicium keningnya, tidak dilaksanakan. Mood Chungha jadi jelek sendiri. Setelah 2 minggu menghabiskan waktu bersama, masih saja Yongguk tidak menghiraukannya.
Kamar Yongguk sudah tak berpenghuni, Chungha jadi hilang semangat. Ia menduduki Kasur Yongguk, dan merasakan kehangatan pria itu melalui perantara ranjang lelaki itu yang sering ditidurinya. Sebentar lagi ia pasti akan 1 ranjang dengan lelaki yang dipujanya itu.
Namun sejenak ia menyadari bahwa ia menemukan sebuah kotak merah beludru yang terjatuh di bawah ranjang.
Diambilnya kotak itu, saat terbuka, ia menemukan sepasang cincin perak yang cantik.
Chungha tercengang, ia terpekik lantang. Didengar hampir semua pelayan yang tersisa di rumah itu.
"AKU PASTI AKAN MENIKAHIMU, YONGGUK! PASTI AKU AKAN MEMILIKIMU SELAMANYA!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Daehyun melemparkan teleponnya ke atas sofa. Ia kemudian terduduk lagi dengan sikap angkuh, dan dua mata galak yang bahkan Dongwook rada malas menegurnya.
"Kau tahu kenapa akhir-akhir ini Daehyun moodnya jelek?"
Dongwook melihat ke samping, dan kemudian sadar bahwa Jongup juga moodnya sedang tidak bagus. Alisnya terus berkerut heran dan rada was-was sambil memencet HP nya berkali-kali. Seolah seseorang tidak menghiraukan pesan-pesan yang dikirimnya sejak jaman dahulu kala. Sama sekali tidak konsen dengan segala pembicaraan yang dibawanya tadi.
"Kalian ini kenapa, sih?"
Dongwook memperhatikan keduanya. Ia begitu mengkhawatirkan anak asuhannya itu yang terlihat tidak bagus sama sekali moodnya, padahal besok akan ada konser.
Ia berharap Yongguk cepat-cepat pulang dan memperbaiki keadaan.
TOK TOK!
"HALO SEMUANYA!"
Tiba-tiba seorang pria dengan setelan rapih masuk tiba-tiba ke dalam dorm tanpa permisi sama sekali. Ia serupa dengan anak asuhannya yang melakukan sesuatu serba seenaknya.
"Jihak!?" Dongwook shock lihat rivalnya menampakkan muka tepat disaat yang tak seharusnya. Apa maunya!?
"Halo Dongwook! Aku datang mewakili Diana. Ia tidak bisa datang hari ini. Tapi sebagai 'pacar' yang perhatian, ia ingin mengantarkan mie kepiting favorit kekasihnya. Kudengar ia sedang patah hati?" Jihak mengangkat 1 bungkusan besar. Memamerkan hasil beliannya dengan bangga.
Dua pasang mata mendeliknya tajam, memojokkan Jihak dari keadaan yang diekspektasinya akan menjadi bagus kalau ia membawakan makanan yang lezat.
"TIDAK USAHH!"
.
.
.
.
.
TBC
maaf atas typo2nya :) semoga masih bisa dinikmati ceritanya~
Sebagai janji, review kalian yang menyamangatiku membuatku mempercepat updatenya :'D Thank youuu~
Wattpad : miramiyu
