My Idol, My Boyfriend
Himkyu's Present
BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo
Genre : Romance Comedy
Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
Junhong menenggerkan kepalanya ke tumpuan lengan. Matanya melurus ke HP nya yang sejak dari tadi berkedip-kedip di atas meja. Ia malah lebih suka mendiamkannya.
Ia menghela nafas. Dirinya pun sama tersiksa tidak bisa berkomunikasi dengan Jongup selama 1 mingguan ini. Ia merindukan celotehan pemuda itu terhadap kerjaannya. Ia melaporkan semuanya kepada Junhong.
Tidak,
Juyong.
Junhong harus terbiasa dengan kenyataan bahwa hubungan antara dirinya yang sebenarnya dengan Jongup tidak pernah sedekat itu. Itulah yang menjadi alasan kenapa Junhong mengabaikan Jongup. Karena ia saat ini bukanlah Juyong yang dicari-cari lelaki itu. Meneruskan sandiwara terus membuat pikirannya semakin kacau.
Lebih baik ia menghindari saja daripada semakin menyiksa batinnya.
BRAK!
"DIMANA HIMCHAN!?"
Seisi kelas pada saat itu langsung terkejut dengan kehadiran Youngjae yang baru saja masuk setelah membolos dari 1 jam pelajaran sebelumnya. Ia terlihat kelelahan, kembang -kempis dadanya menahan adu nafasnya yang tak beraturan.
Kemana saja dia?
"Junhong!" dia langsung mendekat, Junhong terperangah sebentar melihat keadaan Youngjae yang begitu kacau. Ada belepotan di ujung bibirnya yang ia lupa bersihkan. "Ada apa?"
"Kau lihat Himchan? Ini sangat penting!"
"Penting ?" Junhong penasaran. "Apa?"
Youngjae menegak ludahnya untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang begitu kering. Ia tengok kanan-kiri, mengawasi sekitar agar tidak mendengar percakapan rahasia di antara keduanya.
"Yongguk baru saja menelponku." Bisiknya, yang membuat Junhong terlonjak. "APA!? TAK MUNGKIN!"
"ssssttt...ini serius. Aku ingat pernah meninggalkan nomor teleponku di dorm dan anak keparat Daehyun itu, jadi tidak heran.
Masalahnya, aku perlu Himchan dan membujuk orang itu."
"Apa hubungannya dengan Himchan?"
Youngjae harus cukup menarik nafas panjang untuk memperjelas segalanya dalam 1 waktu untuk keadaan yang begitu terburu-buru ini.
"Yang pasti Yongguk sudah pernah bertemu Himchan. Dan aku yakin ia suka dengan Himchan."
"Wait-wait. Ba—bagaimana? Hi—Himchan? Yongguk?" Junhong linglung, gagap mau bertanya yang mana dulu. "Kau kan fans berat Yongguk, memangnya tidak apa-apa?"
"Hei, aku cukup tahu diri kalo aku ini cuman fans. Dan tentu saja , harus menjadi fans no1! That's why aku akan melakukan segala cara untuk membuat My Honey bahagia, jikalau harus menjodohkan sahabatku sendiri."
Junhong memperdekat diri, mulutnya hampir saja bersentuhan dengan telinga Youngjae. "Kau tahu kan dia sedang pendekatan dengan laki-laki lain?"
"Halah, Himchan sudah lebih baik setelah aku membujuknya untuk melupakan pria misterius itu. Yongguk jauh lebih baik... JAUUUUHHH.. seharusnya Himchan sadar itu. Ia tidak mungkin menolak seorang Yongguk."
Banyak momentum yang rupanya telah terjadi selama 2 minggu terlewati, dari Youngjae yang tidak lagi memikirkan penciuman sengaja itu, bahkan sampai Himchan yang kembali seperti Himchan biasa (ia tidak tertarik juga membahas pria misterius itu, dan ia pikir Youngjae berhasil memanipulasi otak Himchan).
Begitu juga Junhong yang tidak ada komunikasi apapun bersama Jongup. Ia suka mengabaikan, dan beralih menjalani kehidupan siswanya yang normal, yang akan berakhir terhitung akhir bulan ini setelah ujian kelulusan.
Semuanya begitu cepat berlangsung..
"Nah, karena ada konser besok. Aku dapat tiket VVIP untuk 5 orang. Tentu saja Himchan harus ikut. Biar tidak sia-sia pemberian tiket ini..."
Junhong menarik kerah Youngjae. Matanya melotot galak. "Kau menyogok Yongguk?!"
"Well.. secara harfiah, tidak. Tapi secara teori, mungkin 'agak'. TAPI, Yongguk tidak keberatan memberikannya Cuma-Cuma. Ia memang melakukan ini untuk bertemu Himchan langsung. Cuman ini satu-satunya cara.
DAN PERANTARANYA ADALAH AKU! Fans beruntung mana lagi yang bisa mendapatkan kesempatan ini?"
"Ya, itu karena kau menyogok sahabatmu sendiri demi menonton konser."
Junhong melepas kerah Youngjae, dan membiarkan anak itu menikmati kegembiraannya lebih leluasa. "Karena itu aku mengajakmu juga."
"HAH!?" Junhong kembali shock dengan keputusan tiba-tiba sahabatnya itu.
"Oh ayolah. Kalau kau ikut, Himchan tidak akan curiga. Aku juga bingung mau mengajak siapa selain kau yang paling dekat denganku."
Junhong menegak ludah khawatir. Bagaimana nanti ia harus ketemu Jongup!?
"Lagipula kau fansnya Jo—"
"OKE! AKU AKAN DATANG." Junhong malas kalau sampai Youngjae merengek terus hingga membuatnya sakit telinga. "Tapi dengan satu syarat bahwa aku tidak akan ikut segala meeting blabla. Aku sekedar menonton dan pergi. Aku punya banyak urusan." Junhong mengeles.
"YES! BAIK BAIK! Urusan itu mudah." Yang kemudian Youngjae memberikan pelukan hangat yang membuat Junhong merasa tak nyaman.
Tidak lama dari itu,
Sosok yang jadi pelaku pencarian baru saja datang membawa 2 buku besar. Sepertinya pemuda manis itu sudah persiap armor untuk 'berperang' dengan ujian kelulusan beberapa minggu lagi.
"HIMCHAN!"
Youngjae berlari cepat , mendekat , memeluk Himchan yang masih kerepotan dengan buku-bukunya.
"Oh, Youngjae? Kenapa?" Himchan baru saja sampai di mejanya, tapi sepertinya dia harus siap ditarik keluar lagi—Junhong amati dari kejauhan. Junhong hanya berdoa semoga Himchan baik-baik saja setelah diperdaya oleh Hyungnya yang fanatic itu.
"Ada yang mau kubicarakan! Penting!" Youngjae seperti biasa akan berbuat kekanakan dengan menarik tubuh Himchan keluar kelas, sambil dipandangi oleh banyak siswa di kelas itu karena perlakuan Youngjae selalu menarik perhatian.
Sementara Junhong kembali pada kesendiriannya kembali.
Ia berhembus nafas , menelan efek dari mentalnya yang langsung drop ketika Youngjae berusaha mengingatkannya dengan Jongup lagi.
Dan sialnya ia harus menerima tawaran itu, padahal ia sedang mendeklarasikan perang dingin.
Ia hanya perlu datang sebagai Junhong, bukan Juyong.
Dan ia harus tetap menjaga jarak dari apapun yang berhubungan dengan Jongup.
.
.
.
.
.
.
"HALO SEMUANYA !"
Yongguk setelah masuk, melenggang ke ruang inti dan mengharapkan sambutan yang meriah, atau bahkan kejutan selamat datang.
Tapi hasilnya, sangat hening.
Kopernya berdiri di sampingnya, kepalanya menengok ke sekitar dorm nya yang mati dari interaksi manusia. Tidak ada siapapun, padahal seingatnya ia sudah kabarkan akan pulang tepat jam 3 sore. Pasti mereka setidaknya akan sadar leadernya ini akan mengadakan pertemuan penting jam segitu.
"Kurang ajar." Yongguk mendecak kesal. Ia langsung menghentak kasar langkahnya menuju dua kamar berbeda dimana dua orang yang menuntut dia pulang pasti bersembunyi.
Brak
"Hei, kau Daehyun—" Sunyi.
Tidak ada pergerakan apapun di dalam sana. Daehyun yang jam segini tidak akan kemana-mana selain memanjakan diri, atau bercakap ria dengan teman-temannya dengan manja di dalam kamar seperti anak remaja sekarang, malah pergi entah kemana.
Brak
"Jong—"
Sama saja, nihil. Bahkan anak kesayangannya tidak ada di tempat. Biasanya jam segini ia sedang melakukan fitness rumahan, atau sekedar bersantai menonton tv di waktu se-Free ini.
Yongguk mengerut dahinya, ia mencoba menghubungi keduanya untuk memastikan. Ia segera melakukan telepon grup melalui HP nya, dan menunggu beberapa saat dengan kakinya terketuk gelisah di atas lantai.
"Sialan, aku pasti akan menghajar mereka. Aku pulang terburu2, hanya untuk menanggapi ketidakpedulian ini!?"
Pip
Saat ia mematikan teleponnya, ia tak sengaja melihat wallpaper gambar Himchan muncul di HP nya.
Ia ingat bahwa sebelumnya, manajernya tidak bisa melakukan tugas yang baik. Himchan pasti belum tahu tentang kepergiannya ke Jerman.
Ia berniat untuk segera menemui lelaki itu.
TUK
Yongguk kaget saat tahu sesuatu mengetuk jendela kaca di dormnya, atau suara jatuhnya barang. Yang pasti arahnya dari balkon. Ia segera mengecek.
Pintu kaca menuju balkon digeretnya. Ia menengok kanan-kiri. Dari lantai dua itu, ia melihat ke lantai bawah. Suara mengasak semak-semak yang terlihat mencurigakan. Jika ia lihat lebih teliti, yang keluar malah kucing liar.
"Mungkin aku hanya sedang paranoid saja. Lagipula tidak heran Daehyun diikuti paparazzi akhir-akhir ini karena pengumuman kencannya. Huft~" kemudian ia kembali masuk ke dorm. "Sebaiknya aku tidak keluar dulu hari ini. Besok Youngjae sudah janji akan mempertemukanku dengan Himchan."
Kemudian dirinya menjalani kegiatannya seperti biasa di dalam dorm, merapihkan barang-barangnya dalam kesendirian.
Padahal ia tak tahu,
Ada kotak hitam masih tergeletak di ujung balkon, tanpa disadari Yongguk.
Kotak itu sudah terbuka karena sebuah lemparan.
Dan selipan kertas sedikit keluar dari dalam kotak.
Tertuliskan... "—O DIE"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hmm.. kapan anak itu keluar?"
Daehyun mengamati dengan sangat teliti setiap anak-anak SMA Jaehun yang baru keluar setelah bel pulang sekolah melengking. Ia ingin memastikan dirinya tidak salah menebak bahwa Youngjae bersekolah di SMA ini setelah ingat dengan seragam sekolah yang dipakainya.
Sekaligus memastikan keadaan Youngjae baik-baik saja setelah tidak terdengar kabarnya...
Daehyun terlihat sangat tertutup saat ini. Masker , kacamata hitam, topi hitam, ia rela juga berpakaian sangat sederhana, agar menghindari diikuti paparazzi dimana pun itu. Ia jadi bisa leluasa keluar dari persembunyiannya dan melihat keadaan .
Kemudian ia beranjak dari menyender di samping mobilnya. Berjalan mendekat ke arah Sekolah. Siapa tahu anaknya masih di dalam?
BRUK
Tak sengaja ia malah tertabrak dengan orang lain. Salah dia juga karena tidak sadar dan terlalu larut dengan kegiatannya. Ia sampai terjatuh ke lantai beton, kacamatanya hampir saja terlepas.
Saat melihat ke depannya, orang yang ia tabrak sedang meringis kesakitan karena bokongnya juga mencium kasar lantai beton. Sampai tak sadar kacamata gelapnya sudah terlepas.
"Jongup!?"
Daehyun kaget, orang di depannya juga kaget. Panik, ada yang mengenalnya, Jongup langsung raih kacamatanya dan berusaha melarikan diri. Tapi tangannya di cegat Daehyun sampai badannya kembali terperosok mendekatinya. "Pssttt! Ini aku Daehyun!"
"Daehyun!? Ngapain kau disini!?" Jongup tengok kanan-kiri. Kelihatannya beberapa orang mulai tertarik perhatiannya.
"Jangan disini, kita bicara di mobil saja."
"Mobil siapa!?"
"Mobil siapa yang paling jelek?"
"A—aku?"
"Nah , punyaku saja."
Kemudian Daehyun menarik Jongup menuju mobilnya. Belum sempat mendengar celetuk sebal dari Jongup.
"Apa yang kau lakukan disini!?" pertanyaan yang sama setelah Jongup melepas maskernya lebih leluasa di dalam mobil. Daehyun juga membuka penyamarannya.
"Aku ingin bertemu Youngjae."
"Masih saja mengejar anak itu!? Oh ayolah~ aku tahu kau punya hubungan serius dengannya, tapi bukankah kau terlalu berlebihan?!"
Daehyun melotot. "Siapa yang punya hubungan dengannya!? A—aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman saja.
Nah kau sendiri! Tidak punya urusan, malah kemari! Kau punya simpanan disini , ya!?"
Kali ini Jongup yang melotot. "A—aku sedang ingin bertemu adik temanku!"
"Teman siapa!? Sejak kapan kau punya teman!?"
"H—Hei! Aku ini pasti punya banyak teman, dasar orang Konyol!"
Setelah cukup berdebat, akhirnya mereka menyandarkan diri di jok duduk mereka, sambil mengamati keadaan luar. Melihat lalu lalang siswa dengan harapan yang sama. Mereka terlihat sangat putus asa.
"Jongup."
"Hmm..?"
"Apakah kita semua punya rahasia?"
"Tentu saja."
"Apa ada rahasia yang belum kau beritahu pada kami?"
Jongup menghela nafas. Ia pun masih cukup kacau untuk menjawab pertanyaan yang seperti itu.
"Kau sendiri?"
Daehyun terdiam beberapa saat. Respon yang sama seperti Jongup sebelumnya. Terlihat bingung.
"Ya. Dan karena karir kita inilah, aku terpaksa menyembunyikannya.
Menjadi artis itu, sangat sulit."
"Benar. Bahkan untuk mendapatkan cinta sejati saja, aku kesulitan."
Ungkapnya menganggap pendapat keduanya sejalan. Mereka akhirnya tenggelam dengan argument masing-masing dalam pikiran sendiri.
Tak lama kemudian,
"JADI KAU BENAR PUNYA SIMPANAN!?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya...
Waktu tak disadari sudah sampai di saat yang diharapkan. Youngjae di depan kaca rumahnya. Memastikan penampilannya tidak aneh. Isi tasnya diperiksa.
Ada lightstick, peluit , banner, poster , dan segala macam armor andalannya. Semua siap.
Cklek
"Oppa—"
Youngjae tersentak melihat sepupu perempuannya yang seatap dengannya itu, membeku di tempat melihat kesibukan Youngjae dengan para armornya. Ia belum pernah melihat oppanya tersebut dengan peralatan khas-khas fangirl seperti teman-temannya.
Laki-laki ternyata bisa 'gila' juga ya?
Namun reaksinya tidak sekira itu. Anak itu mendecih dan berlagak angkuh meledek sepupunya tersebut.
"B.A lagi, hah?" ungkap anak berumur 15 tahun tersebut.
"ya, konser malam ini. Lebih baik daripada menunggu konser artismu yang pelit diadakan." Youngjae balas tatap angkuh sepupunya dengan tanggapan culasnya. Tentu saja anak perempuan itu tidak terima. Artis kesayangannya dipojokkan? Wah ingin fanwar rupanya?
"Sudahlah, bersikap manis saja dulu sebagai rasa terima kasih aku membelikan kau goodies limited edition artis kesayanganmu kemarin. Aku sibuk."
Youngjae bawa barang-barangnya, keluar dari kamarnya dan mempersiapkan diri untuk jemputannya.
"Ada sesuatu yang kau mau, Seulgi?"
Seulgi manyun. Kebiasaan rada dingin terhadap sepupunya itu, akhirnya mencair dan ia mulai melempar tatap polosnya. "Mungkin tanda tangan Daehyun Oppa?"
"OGAH!"
Kemudian suara klakson berbunyi , menandakan jemputannya datang. Ia langsung melarikan diri dengan terburu-buru, tanpa berpamitan dengan Seulgi yang semakin jengkel.
"ITULAH KENAPA AKU MEMBENCIMU, OPPA-BO!"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Himchan..."
Himchan berhenti mengikat sepatunya. Ia memperhatikan ibunya yang baru saja memanggil.
"Iya?"
"Kau benar akan pergi belajar bersama?"
Himchan menggeser manik matanya. Ia sangat menyayangkan diri harus membohongi ibunya demi pergi ke acara yang dibuat Youngjae. Tapi ia harus melakukannya karena Ibunya akhir-akhir ini agak sensitive dengan sesuatu, ditambah Youngjae yang rada keras kepala. Lagipula Youngjae janji ini undangan terakhir, apalagi sebelum Ujian Nasional beberapa minggu lagi.
"Tentu Ibu. Tenang saja. Aku pulang tidak akan terlalu malam." Ungkapnya sambil mengecup kening Ibunya.
Suara klakson berbunyi menandakan jemputannya tiba. Wajah sedih Ibunya, berubah ramah untuk melepas puteranya. Mungkin Ibunya tidak ingin membuat Himchan cemas, jadi ia membiarkannya pergi leluasa.
Himchan kemudian masuk ke dalam mobil mewah yang dikenalnya.
"Halo semuanya~ eum...
Jaebum?"
Jaebum tepat duduk di jok paling belakang, dan mukanya berkerut kesal. Ia bahkan tidak mood untuk balas sapaan Himchan.
"Biarkan saja dia. Dia harus ikut karena dipaksa Kakaknya." Youngjae nyengir.
"Ya! Karena kau yang menawarkanku jadi tumbal ke kakakku! Aku benci dirimu Yoo Youngjae!"
Kemudian Jaebum buang muka lagi, dan menggerutu dalam hening.
Himchan tersenyum lembut, tergelitik dengan tingkah kekanakan teman-temannya. Setidaknya dirinya jadi benar-benar tidak kesepian karena diramaikan pertengkaran Jaebum dan Youngjae.
"Junhong, terima kasih tumpangannya."
Junhong yang duduk di depan di sebelah Wongjun, hanya tersenyum hambar. Kelihatannya ia tidak sesemangat perkiraannya. Padahal ia sudah tebar rahasia kalau dia fans beratnya member yang bernama Jongup itu.
Apa benar semua orang yang diundang Youngjae ini benar-benar ingin menonton konser BA?
"Jaesung Noona dimana?"
Mobil sudah melaju. Memecah keheningan selama di jalan, maka Himchan membuat percakapan yang sederhana.
"Jaesung Noona menyusul. Ia datang langsung dari Jepang." Youngjae ulurkan HP nya, memperlihatkan hasil chatnya kepada lelaki cantic di sampingnya.
"Dia benar-benar sayang sekali dengan idolanya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Oke! Semuanya READY!?"
Suara para staff sudah menggema di Lorong hingga sampai ke ruang ganti artis. Salah satunya para member BA. Mereka tengah memastikan kesiapan diri , entah mental dan penampilan.
Yongguk malah memperlama diri dengan mengamati wallpaper kesayangannya . Salah satu penyemangat dan keyakinannya. Ia berdoa semoga konser hari ini sukses. Ia bisa membuat semua fans terpesona padanya, dan Himchan—yang berhasil dibawa Youngjae—jatuh cinta pada penampilannya.
"Setelah itu, aku akan confess perasaanku padanya." Ungkap Yongguk dengan sangat yakin. Seperti apa yang telah ia pelajari di Jerman.
"Kau lama sekali!" Daehyun menongol mukanya dari balik pintu. Ia baru saja selesai memasang mic-clip di telinganya. "Yang lain sudah keluar, kau masih saja disini."
Yongguk segera memasukkan HP nya. "Ah, iya-iya , sebentar" kemudian bergegas keluar dari ruang ganti.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Wah tempat duduknya nyaman sekali." Himchan duduk di kursi pentas yang nyaman di tengah bernama dirinya. Sangat mengagumkan service sekelas VVIP. Ia memiliki kursi pribadi!
Keberadaan tempat mereka seperti petakan yang berada tepat di tengah dan terdepan. Penonton kelas lain berada di belakang mereka atau masih terbatas oleh pagar pembatas. Karena para penonton VVIP adalah eksklusif undangan dari para artisnya. Biasa dipakai untuk keluarga terdekat, atau orang-orang penting.
Mereka sejajar dengan tamu-tamu penting!
Ada sekitar 10 orang lagi yang menduduki kursi lainnya. Mungkin undangan dari sisa artis lainnya yang hadir juga di konser ini. Sebagai tamu eksklusif yang diundang BA, mereka merasa terhormat sekali. Bahkan Jaebum saja yang paling antipati, berubah 180 derajat jadi senang sendiri karena mendapat tempat duduk kehormatan.
"Tidak hanya kursinya, Himchan." Ucap Youngjae yang duduk di samping Himchan. "kau akau terkejut dengan hadiah lainnya."
Himchan terperangah..
"Ehem.."
Perbincangan mereka terhenti. Himchan mendapati salah satu staff mendekatinya. Ia tadinya berpikir ia melakukan suatu kesalahan hingga ditegur.
Namun staff tersebut malah mengulurkan sebuah mawar. Tepat untuk Himchan seorang, yang langsung diamati teman-temannya dengan tatap heran.
"Yongguk menitipkan ini untukmu." Ucap staff tersebut santun. Kemudian ia pergi lagi untuk melanjutkan kesibukannya..
Himchan menoleh kepada teman-temannya , terutama Youngjae. "Bu—bunga.." ia begitu pangling menerima mawar itu di tangannya. Dari seorang artis pula untuknya sendiri.
Youngjae cemburut, tapi ia masih bisa menahan kesal. "Sudah kuduga. Dasar romantisnya cuman buat satu orang." Youngjae masih tetap manyun memperhatikan panggung.
Himchan amati mawar miliknya. Entah alasan apa hingga ia dilayani sedemikian rupa..
Sepertinya ia tidak sabar untuk mengucapkan terima kasih.
.
.
.
.
.
.
.
.
Drrttt Drrrtttt
"Ya haloo?" Yuna melepas isapan rokoknya. Suara wanita muncul sesaat dirinya mengangkat telepon tersebut.
"COUGH...COUGH.. Gyun!?" ia terkejut ketika memastikan suara yang membalas di seberang sana berasal dari calon besannya. Ia segera mematikan rokoknya, kemudian duduk anggun di sofanya seakan dirinya berhadapan langsung dengan wanita terhormat itu.
"Ah, tidak apa-apa. Aku agak tersedak setelah makan shrimp cocktail saat ini, HAHA." Ucapnya berbohong. Ia akan terus bertingkah selayaknya wanita elit lainnya yang rada tidak suka berhadapan dengan penyakit.
"Oh ya? Malam ini? Pasti! Aku akan menyuruh puteraku segera datang ke pertemuan nanti. Tidak sabar dengan pembicaraan pertunangannya. Dia mungkin akan sedikit terlambat karena sedang mengadakan konser."
Yuna memberi anggukan, yang kemudian diakhiri dengan salam basa-basi. Setelah mematikan HP nya, ia kemudian menyalakan rokok baru. Berjalan mengitari rumahnya yang sederhana dan pastinya berharap bisa diubah menjadi sebesar istana keluarga Choi.
Tapi itu setelah menikahkan puteranya dengan puteri kebesaran keluarga mereka.
Makanya dengan semangat, ia langsung menghubungi manajer Jongup. Tidak mau tahu bahwa mereka sedang sibuk dengan konser apapun.
"Halo, Dongwook-ssi? Ini saya, Moon Yuna, ibunya Jongup.
Bisa kau sampaikan ke anak itu, jam 8 malam ada pertemuan. Suruh dia pulang secepatnya ke rumah , untuk menjemput orang tuanya."
.
.
.
.
.
.
"Hah~ aku masih belum bisa beradaptasi dengan segala hal baru dari yang Tuan Muda lakukan. Kemarin karena pakai pakaian wanita, dan sekarang pergi ke konser boyband begini." Keluh Wongjun sore itu sendirian , dikala suasana parkir di luar arena konser sangat sepi. Ia berjalan-jalan saja sekira menghabiskan waktu. Melihat apa saja yang dilakukan para pengunjung yang ramai di wilayah Utara dari tempatnya. Ia malas ikut berkerumun.
"Kenapa semua wanita itu menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia pada artis yang tidak akan menotis mereka satu persatu." Ungkapnya sambil mengamati barisan pengunjung berdesakan di barisan tiket.
Drrrtt Drrrtt
Wongjun terburu-buru meraih HP nya, dan mendapati telepon dari Nyonya nya.
"Selamat Sore, Nyonya."
Dahinya kemudian berkerut. Ia memperhatikan lekat-lekat keadaan disana. Mempertimbangkan pembicaraan Nyonya besarnya, dengan Tuan Mudanya yang sedang asik disana—
"Baik, Nyonya. Tuan Muda akan langsung saya antar ke rumah setelah bimbingan belajarnya selesai. Baik—ya.."
Kemudian percakapan selesai.
"Hah~ untung saja aku sempat kepikiran membawakan baju ganti dan rambut palsu. Sudah kuduga kejadiannya bisa tiba-tiba begini. Tapi tumben, setelah Nyonya tenang tidak membicarakan perjodohan Tuan Muda selama hampir sebulan ini, sekarang mau bertemu?"
Wongjun jadi terpikirkan nasib Tuan Mudanya itu yang sepertinya beberapa minggu banyak pikiran. Sejujurnya dia pun merasa tidak enak mempersulit majikannya tersebut dengan melihat kepelikan keluarga besarnya tersebut.
"Kasian Tuan Muda. Bukankah seharusnya ia jujur saja dengan calon tunangannya itu... Atau, haruskah kubicarakan ini padanya nanti?"
BRUK
Wongjun yang sedang terlena memikirkan sesuatu malah terkena dorongan keras dari belakang tubuhnya. Ditabrak oleh seorang wanita yang terburu-buru , hingga terlempar jatuh ke depannya. Ia meringis kesakitan di pergelangan kakinya.
Wongjun sontak langsung membantu. "Ah Nona, kau tak apa?"
"Ka—kakiku." Ucapnya kesakitan. Sepatu hak ditangan, dan sepatu sandal hampir terlepas dari kakinya tidak terpakai seharusnya. Asumsi Wongjun berkata, wanita ini sangat terburu-buru hingga mengganti sepatunya sambil berjalan cepat.
"Biar saya bantu. Saya membawa salep untuk kaki Anda di mobil saya."
"Ah, ti—tidak perlu." Namun wanita itu terlambat menolak, karena Wongjun sudah mengendongnya—
Bridal.
"Maaf tidak sopan, tapi ini satu-satunya cara biar Anda cepat sembuh kakinya. Dan Anda harus menonton konser, bukan?"
"E—eh... I—Iya."
Wongjun dengan gentle membawa wanita itu di tangannya.
Sementara wanita di rengkuhannya , tidak bisa melepas pandangan pada lelaki perkasa nan tampan berpakaian formal hitam itu.
Oh Tuhan... Sepertinya Jongup jadi nomor dua di hatiku...
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian...
"KYAA! TADI ITU KEREN BANGET!"
"BANGETTT!"
Kemudian , Youngjae mendelik tajam ke Jaebum yang barusan ikut-ikutan histeris.
"Kau ini kenapa? 2 jam lalu siapa yang cemberut karena diajak ke konser begini?"
Jaebum ikut mendelik kasar Jaebum. "Well , aku tidak puji artismu itu, aku tertarik dengan artis BlackPnk oke. Ceweknya cantik-cantik!"
"Dih"
Kemudian mereka pun melanjutkan jalan mengikuti kerubungan para staff. Mereka tentu saja bebas masuk ke backstage karena mereka tamu spesial.
"Apa benar kita bisa ketemuan sama artis-artis disini!?" Jaebum matanya sudah seperti berkelip-kelip bintang Kejora. Ia menengok kesana-kemari, tak sabar berpapasan dengan artis perempuan yang cantic. Siapa tau pertemuan pertama bisa jadi cinta. Seperti adegan-adegan drakor yang sering ditonton kakaknya.
"Itu saja yang kau pikirkan. Kau tak ingin memastikan keadaan Kakakmu itu daritadi dihubungin gak bisa-bisa?"
"Aku lebih tenang kalo gak ada Kakakku."
"Oh, aku merekamnya. Akan kupastikan kulaporkan nanti."
"Don't you dare!"
Youngjae memutar matanya jengah. Kemudian ia memperhatikan Himchan yang sedang melihat bunga mawarnya.
"Kau senang?"
Himchan yang tersadar, beralih ke Youngjae. Ia tersenyum salah tingkah. "A—aku ingin berterima kasih dengan—"
"Himchan!"
Seketika langkah 3 orang di depannya terhenti, mendapati seseorang yang mempesona berjalan mendekat kea rah mereka. Karismanya, ketampanannya, bisa saja membutakan siapapun yang baru melihatnya pertama kali secara dekat begini.
Jaebum misalkan.
"Yongguk.."
Himchan memperhatikan pria itu, dengan agak khawatir. Ia belum bisa menjaga sikap sejak terakhir kali mereka bertemu sebelumnya. Sudah sangat lama sekali. Ia ragu-ragu bertemu lagi dengannya seperti ini.
"Hei, hyung!" Youngjae lambai-lambai tangan. Yongguk harus menghentikan kehebohannya setelah mendapati bahwa Himchan tidak sendiri. Ia lupa kalau ada Youngjae dan teman lainnya yang sengaja ia suruh menemani Himchan.
"Oh hai, Youngjae."
"Konser tadi sangat kerennnn sekali!"
Youngjae ungkap pujian-pujiannya seperti biasa, sampai Yongguk cuman respon dengan senyum-senyum seperti biasa.
"I—Itu , Ba—Bang Yong—"sementara itu Jaebum terbata-bata karena lama menahan keterkejutannya melihat langsung seorang artis besar di depannya. Bang Yongguk terlihat sangat karismatik, dan tinggi jika dilihat langsung. Jaebum Tarik kata-katanya sempat menghina boyband itu.
"Oh ya" Youngjae membisikkan sesuatu ke Yongguk. "aku punya delivery spesial, hehe"
Yongguk terkekeh. Ia tahu itu. Kerja sama yang sangat bagus sekali antara fans dan idolanya ini. "Terima kasih."
"Baiklah!" Youngjae tahu ia tidak sebaiknya menganggu pasangan penuh lovey dovey ini, "aku punya urusan lain. Jaesung Noona perlu tanda tangan dari Jongup!"
"Oh, dia di ruang ganti." Yongguk mengarahkan.
"Oke! Himchan kau disini, ya. Kau kan punya misi?" Youngjae kedip-kedip genit ke Himchan. Wajah Himchan langsung memerah malu.
"KEMARI KAU NAK!" Youngjae rangkul Jaebum. "Kita punya misi lain! Ikut aku~"
"HEI! KAU—YAK!" badannya yang sudah tergeret menjauh, mau tak mau ikut Youngjae. Meninggalkan Himchan yang berdua saja dengan Yongguk.
Suasana menjadi sangat hening dan awkward. Himchan tidak tahu harus memulainya darimana.
"Ingin mengatakan sesuatu soal bunga nya?"
"A—ah.. Iya." Himchan tersenyum salting. Ia bahkan tidak bisa menatap langsung mata Yongguk yang tegas dan menawan itu. "Te—terima kasih soal bunganya."
"Tidak apa. Itu spesial untukmu."
"Tapi, kenapa cuman aku?"
Yongguk tersenyum. Ia amat merindukan ekspresi polos Himchan di depannya yang sedang bingung.
"Banyak yang ingin kubicarakan padamu. Tapi , aku tidak bisa membicarakannya disini. Jika kau tak keberatan...
Mau makan malam bersamaku?"
"Eh?"
Himchan meneleng kepala. Lagi-lagi tidak paham dengan ajakan tiba-tiba ini.
"Ya, anggap saja service vvip." Lagi-lagi beralasan sama , demi mendapatkan waktu lebih leluasa dengan Himchan.
Lagipula inilah waktu penentuan, dimana dia akan mengungkapkan semuanya. Perasaannya, Jongdae. Siapa dirinya, apa maksudnya semua ini. Ia memang butuh waktu berdua saja dengan lelaki manis itu.
Pergi ke Jerman, bukan untuk waktu honeymoon bersama model centil itu, tapi mempersiapkan mental untuk confess dengan seseorang yang selalu di pikirannya..
"Himchan. Aku sangat merindukanmu." Ucapnya lembut tak sengaja keluar begitu saja.
Yang tiba-tiba itu seketika membuat Himchan shock, dan menutup rapat mulutnya.
Bu—bukankah service ini terasa ... Berlebihan?
.
.
.
.
.
"Kenapa kau meninggalkan Himchan begitu saja?! Dan kenapa kau meninggalkan idola tercintamu itu!?"
Jaebum protes karena ia tidak bisa menghilangkan keheranannya. Segala pertanyaan jadi membekas di otaknya , dan tidak akan terhapus kalau tidak segera dijawab.
"Sebenarnya aku juga rada gak rela sih, tapi mau gimana lagi." Hati Youngjae seperti sudah retak sedikit demi sedikit diingatkan dengan kedekatan antara sahabatnya itu dan idola tercintanya. Untuk move on rasanya sulit, karena ia sangat cinta Yongguk—sebagai fans.
BRUK
"EH! Maaf!"
Speak of the devil, orang yang mereka cari tepat berada di hadapan mereka. Tak sengaja menabrak mereka
Moon Jongup.
"Youngjae?"
Youngjae tersenyum lebar. Senang bertemu dengan Jongup kembali.
Jaebum sampai harus mengerut dahi dan secara bergantian mengamati keduanya dengan heran. Kenapa rasanya pertemuan mereka ini sudah ke sekian kali, hingga siapapun artis dari BA ini bisa santai menyapa Youngjae?
"Oh ya maaf tadi menabrakmu." Jongup garuk-garuk kepala. Ia merasa ceroboh terlalu terlena mengirimkan pesan daripada memperhatikan sekitarnya yang begitu sibuk.
"Oh tidak apa."
Sementara Youngjae dan Jongup melanjutkan percakapan basa-basi tentang sesuatu yang Jaebum tidak pahami, ia tak sengaja mendapati HP Jongup tergeletak di bawah kakinya. Ia mengambilnya, dan tak sengaja melihat isi dari dalam HP tersebut.
"Eum, anu."
Jongup kemudian tersadar dengan keberadaan orang lain. Anak muda lainnya yang terlihat asing. "Ini HP mu..."
"Oh! Terima kasih!" Jongup segera mengambilnya. "Aku sedang berusaha menghubungi seseorang yang dari kmarin tidak balas-balas—"
"Choi Juyong?"
Ucapan Jaebum membuat dua pasang mata melihatnya seksama.
"Kau mengenalnya?" Jongup kali ini yang penasaran dengan perubahan sikap dan maksud seruan Jaebum tadi. "Ah, pasti karena kau salah satu teman dari anak yang bernama Junhong itu. Kau tahu kakak perempuannya? Aku tadi melihatnya, kemana dia?"
"A—ah, dia tadi punya urusan jadi pulang lebih dulu." Jawab Youngjae dengan tergesa. Kenapa suasananya jadi gak enak begini? "Jadi Jongup—ssi sedang dekat dengan kakaknya Junhong? Wah.." skandal yang menggiurkan, walaupun Youngjae belum bisa menduga sejauh itu.
"Bukan." Jaebum kembali memotong percakapan yang berusaha dicairkan tadi oleh Youngjae. "Aku mengenal Juyong-ssi. Aku tahu kakaknya Junhong, tapi—"
Jongup amati sikap Jaebum yang kelihatan berbeda.
Youngjae menyikut pinggang Jaebum untuk mengubah sikap anehnya itu. Jangan membuat Jongup ilfil gitu!—pikirnya.
"Kenapa?" Jongup berusaha membantu Jaebum dari sikap bingungnya. Jawabannya terhalang terus.
"Juyong Noona, kan...sudah meninggal."
Jongup
Youngjae
Mereka berdua membelakak mata.
Youngjae tidak pernah tahu tentang kematian kakak Junhong, karena anak itu tidak pernah bercerita jauh tentang keluarganya, selain mengatakan bahwa 'ia punya kakak'.
"HAH? Kau tau darimana!?"
"Well.. kau tak tahu ya?" Jaebum protes. Kok jadi dia yang dimarahin? "Aku sih tahu karena aku wakil OSIS , jadi data-data siswa kebanyakan aku juga sudah tahu. Dan dari Hoseok yang kakak kelasnya dulu sempat bilang padaku.
Lah, Kau ini kan sahabatnya!?"
"Tapi mana kutahu!? Aku ini bukan kakak kelasnya dari SM—"
"Kau serius?"
Jaebum dan Youngjae menghentikan pertengkaran mereka. Melihat kea rah Jongup yang lebih shock.
"Noona nya sudah meninggal!?"
"Eum.. aku tidak tahu pasti. Cuman tak sengaja mendapati infonya."
"Ck... sudah kuduga. Tidak semua dia ungkapkan rahasianya itu kemarin. Dia itu serba misterius."
Mata Jongup bergetar nanar. Ia memperhatikan HP nya kembali, dan melihat kode read yang berarti pesan-pesannya sebenarnya terbaca. Dan tak mungkin orang meninggal membaca pesannya...
Berarti, satu-satunya kemungkinan adalah...
"JONGUP! Akhirnya kau disini."
Dongwook berlari ngos-ngosan mendekati Jongup. "Sudah kuduga kau sedang melayani fans VVIP. Begini, ibumu sepertinya akan mengajakmu ke suatu pertemuan. Cepat pulang, dan temui dia."
Jongup terlihat kacau, bagaimana mungkin saat-saat seperti ini malah mengikuti kemauan ibunya untuk—
Tunggu
Kalau sudah menyuruhnya cepat pulang, berarti pertemuan ini penting. Dan tidak ada pertemuan penting selain menemui keluarga Choi.
Berarti, ini adalah kesempatannya meluruskan keadaan.
"Youngjae, dan temannya Youngjae. Terima kasih banyak." Ungkap Jongup sambil mengenggam tangan keduanya. Dua orang di hadapannya cuman angguk-angguk kepala bingung. Yang kemudian orang itu sudah melarikan diri.
"Ta—tapi tanda tangannya!?"
"Hm, sepertinya genggaman tangannya sudah cukup." Jaebum amati tangannya yang baru saja beruntung menyentuh kulit artis popular. Kakaknya pasti iri. Siapa suruh tidak datang...
"Youngjae?"
Oh, Dongwook menegur Youngjae. Sepertinya tidak hanya BA saja yang kenal Youngjae, bahkan manajernya juga.
"Kau ingin bertemu dengan Daehyun? Anak itu banyak pikiran karena kau tidak menghubunginya."
Youngjae membelakak. Daehyun ingin bertemu dengan dirinya!? Tidak. ia sedang membuat perang dingin, dan tidak akan menemuinya.
"Well... kau tak mau bertemu dengan Daehyun, sayang kalau 1 orang dianggurin." Jaebum malah memperparah suasana hati Youngjae. Ia dipojokkan dengan keinginan dua orang skealigus. Tapi hatinya tergerak untuk menolak. Ia sangat awkward untuk menemui Daehyun dalam keadaan seperti ini.
"HYUNG!"
Kemudian suara panggilan itu dikenalnya. Ia menengok kea rah yang tidak seharusnya, dan buruknya malah bertemu pandang dengan orang itu.
"Youngjae?"
"Ah, kebetulan Daehyun. Nih kau sudah bertemu dengannya kan? Apapun pembicaraan kalian, luruskan. Aku sibuk. Jam 9 kau harus pulang" perintah Dongwook seperti seorang manajer (atau seorang Ibu?). ia malas ikut bergabung, maka ia mengambil kesibukan lain.
"Woah... Daehyun?" Jaebum harus terpesona ketiga kalinya karena bisa melihat langsung artis besar yang digilai para wanita ini.
"Jaebum! Kita pulang!" Youngjae menarik tangan Jaebum. Mereka menjauhi Daehyun.
"EH!? Tanda tangannya!? Dari tadi kita ketemu artis keren-keren, kenapa gak foto-foto dulu gitu!?"
"Gak ada waktu! Kita pulang!" Youngjae tetap menggeret badan Jaebum.
"YOUNGJAE! Kenapa kau terus menghindar terus, ck"
Youngjae pada akhirnya berhasil melarikan diri dari Daehyun. Ia berdua dengan Jaebum sudah mendekap di dalam lift. Tapi perasaannya tetap saja tak nyaman.
"Kau ini kenapa? Bisa ramah dengan dua member lain, sama Daehyun tidak."
Youngjae malas menjawab. Ia lebih memilih untuk diam, dan menunggu lantai 1 dipijakinya.
"Aku sedang tidak mood."
Kemudian denting pertanda lantai 1 pun berbunyi. Ia tergesa keluar dari gedung, bersama Jaebum yang mengekorinya. Youngjae benar-benar banyak pikiran. Ia harus cepat mencari tax—
"YOUNGJAE!"
Suara itu lagi. Youngjae menoleh dan mendapati Daehyun sudah menyusulnya. Ia bergegas melangkah keluar dari gedung mendekati Youngjae yang ingin segera pergi.
"Woah, Daehyun bahkan sampai—"
Saat ia menengok , tak sangka, Jaebum ditinggali oleh Youngjae. Anak itu malah pergi begitu saja. Daehyun pun masih saja bersih keras mengejar Youngjae, tanpa sadar dirinya adalah artis besar yang jadi sorotan para fangirl.
"Kok jadi main kejar-kejaran sih..."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Wah, Yongguk-ssi. Tempat ini—"
Himchan tak hentinya terkesima dengan ornament restoran yang begitu mengagumkan. Ada akuarium besar, pemandangan indah dari lantai entah berapa. Mereka berada di gedung yang tinggi, untuk sebuah makan malam.
"Kau merasa nyaman?" Yongguk menyapa percakapan mereka begitu hangat. Ia merasa terhibur melihat Himchan yang begitu terpesona dengan private restoran yang dipesannya.
"A—aku takt ahu. Aku belum pernah makan di restoran semewah ini."
"Tidak apa, kau akan terbiasa." Sambil meminum wine pilihannya, ia menegaknya dengan santai. "Aku senang jika kau senang."
Himchan tersipu. Ia hanya bisa menunduk tak enak dengan segala kebaikan diberikan Yongguk.
"Jadi, kau bilang di mobil tadi, kalau kau kenal dengan seseorang berkacamata misterius? Aku penasaran. Menurutmu seperti apa orang itu."
Makanan siap. Seorang koki khusus, mengantarkan langsung ke meja. Sepiring sup kepiting sebagai pembuka, benar-benar menggugah selera. "Kami tidak sengaja bertemu, dan perkenalan kami terlalu singkat. Aku tak tau banyak orang itu."
Yongguk angguk-angguk kepala. Tentu saja dia paham sampai ke detailnya, karena yang dibicarakan adalah dirinya sendiri.
Sangat cerdik.
"Jadi, apa kau menyukainya?"
Himchan akhirnya mau menegapkan duduknya, dan membalas pandang Yongguk. Ia sangat terkejut dengn pertanyaan yang terlempar tersebut. "A—aku.." Himchan bingung harus jawab apa. "Aku menyukainya."
YES, penyamaranku berhasil!
tu—tunggu...
"Mungkin ini terdengar sangat aneh. Tapi," Himchan tersenyum malu-malu. Tapi ia begitu leluasa untuk mengutarakan semuanya jika hal itu adalah kepada Yongguk yang mau menyimpan rahasianya. "Mungkin lebih dari suka."
HAH!?
"Kau , jatuh cinta?"
Himchan terkekeh. Ia malu untuk menjawabnya lebih jelas lagi. Tapi , ia merasa senang untuk mengutarakan perasaannya sendiri. Jongdae menurutnya adalah sosok karismatik yang sempat mencuri hatinya. Tingkah lakunya wajar jadi seperti anak gadis yang baru jatuh cinta.
Sementara Yongguk, menjatuhkan rahang.
Ia tidak tahu harus senang, atau malah kecewa.
SANGAT KECEWA.
Bagaimana bisa ia dikalahkan oleh penyamarannya sendiri!?
"TUNGGU HIMCHAN! KAU TIDAK BISA JATUH CINTA DENGAN JONGDAE!"
Kehebohan Yongguk sontak buat Himchan terkejut. Ia menaruh sendoknya, dan meperhatikan heran Yongguk yang begitu melawan keputusannya. Tidak sesuai ekspektasinya.
"Yongguk, kukira kau..." Himchan lagi-lagi salah mengira. Ekspresinya jadi berubah sedih mendapat penolakan keras Yongguk. Padahal bukan itu maksudnya.
"BU—BUKAN! Maksudku, aishhh.."
Yongguk menyuruh salah satu penjaga pribadinya untuk mendekat. Ia meminta kacamata hitam yang dimiliki penjaganya.
"Kau jangan terkejut. Tapi sebenarnya, kita sudah saling kenal sejak lama." Kemudian Yongguk memakai kacamata hitam itu, dan membuka jaket mewahnya. Melonggarkan kerah. Mengacak rambutnya yang di pomade. Mengubah penampilannya yang semula begitu formal.
Himchan beberapa saat menjadi terdiam.
"Aku ini Jongdae."
Himchan kaget, tangannya yang bergetar, menjatuhkan sendok ke lantai.
"Dan aku juga jatuh cinta padamu." Ucap Yongguk, dengan penampilannya seperti Jongdae. Sama persis seperti yang ditemui Himchan setiap waktu bertemu.
.
.
.
.
.
.
.
.
"ASTAGA demi apapun. Untuk ukuran bocah Bengal sepertimu, larimu cepat juga!" Daehyun ngos-ngosan mengikuti Youngjae membelah jalur yang mulai ramai. Ia benar-benar jadi keras kepala, karena ia memang sudah bersumpah untuk mengajak bicara Youngjae jika ia sekali saja bertemu anak itu.
"KAU ORANG ANEH! KENAPA MENGEJARKU, BODOH!?" Youngjae masih cukup kuat untuk berlari lebih jauh lagi. Ia tidak punya waktu memanggil taxi. Ia harus mencari tumpangan lainnya.
"YA KENAPA AKU MENGEJARMU ?! INI ADALAH KEADAAN YANG TIDAK SEMESTINYA! TAPI KAU MEMBUATKU HARUS MELAKUKANNYA, BOCAH SIALAN!"
Youngjae berusaha menghindari orang-orang berlalu lalang di trotoar. Dan Daehyun masih cekatan mengikuti apa yang dilakukan Youngjae.
"WAH DAEHYUN!?" salah satu suara berteriak. Membuat Daehyun harus mendecak sebal. Ia tidak sempat menyamar dulu. Beberapa fans pasti langsung bisa mengenalnya. Ia kemudian menarik kerah jaketnya, sedikit saja bisa menutup penampilannya.
Youngjae berlari kemudian ke dalam pasar. Malam begini, tentu saja masih ramai diisi para pembeli. Ia bisa gunakan kesempatan untuk bersembunyi, dan Daehyun juga pasti tertangkap para fangirl di wilayah seramai ini. Ia tidak akan bisa bergerak kemana-mana.
"Ya, ide yang bagus."
Kemudian ia mendekat ke arah penjual sate cumi. Bersikap terlihat normal untuk membeli satu, dan berharap Daehyun tidak menyadarinya.
"Hah, mati saja kau di antara fangirl itu." Ucapnya sambil mengigit cuminya , karena ia sudah tenang tidak mendengar suara teriakan Daehyun memanggil namanya. ...
KYAAAAA!
Youngjae tersedak. Ia mendengar suara teriakan keras.
Tunggu, itu bukan histeris seorang fangirl yang bisa berpapasan dengan idolanya.
"Astaga, apa yang terjadi?" beberapa orang berlari mendekat pada kekacauan di arah lain. Youngjae tidak bisa tenang menikmati cuminya. Ia kemudian menjatuhkannya, dan berlari kea rah kerumunan beberapa jarak darinya tadi.
Ia terburu-buru, dengan kelincahannya, mampu mendesak semua hambatan di depannya.
Semakin dekat, hatinya semakin tak karuan. Perasaan tidak apa ini?
"DAEHYUN! HIKSSS"
Tangisan beberapa orang terdengar familiar. Ini seperti tangisan kesedihan para fans yang melihat artisnya—
Tiba-tiba suara ambulans berbunyi.
Perasaan semakin tidak enak.
Youngjae semakin liar mendesak ke dalam keramaian yang tiada bedanya dengan keramaian di dalam konser. "MENJAUH KAU BRENGSEK!" sampai sumpah serapahnya keluar, seperti halnya ia menyumpahi Daehyun.
Setelah perjuangan,
Ia sempat melihat
Daehyun
tergeletak di jalanan, dengan darah bercucuran di sekitar perutnya—
-bagaimana bisa...
Polisi datang , cukup banyak. Mereka menghalangi kerumunan yang semuanya kenal siapa orang yang menderita itu. Begitu susah payah menghalangi kerumunan yang begitu tergila-gila akan idolanya itu, yang kini sudah tak bergerak.
Tak terkecuali Youngjae, yang berusaha menerobos pertahanan polisi.
INI ADALAH KESALAHAN!
"DAEHYUN! BRENGSEK! KEJAR AKU LAGI SIALAN!" teriak Youngjae, tak terima para petugas medis membawa tubuh idola besar itu ke ambulan. "DAEHYUN!" ya , tidak akan ada yang membiarkan Youngjae menyusul, karena bagaimana pun semua orang menyamakannya sebagai fans kebanyakan.
TIDAK! Youngjae tegas menolak. Ia adalah fans spesial. Daehyun tidak akan mungkin menciumnya jika ia adalah 'Fans Kebanyakan'.
"APA YANG TERJADI?!" tanpa sadar, Youngjae emosi dan malah mencengkram salah satu kerah gadis yang menangis kencang di sebelahnya. Keadaan seperti ini, tak bisa membuatnya mengutamakan respect.
"I—Ia...
Ditusuk...Ha—"
"Antis..."
Youngjae langsung ambil kesimpulan. Antis. "Anti-Fans". "Haters"
Youngjae pun mencengkeram kepalanya. Ia sangat pusing. Kenapa tak terpikirkan bahwa Daehyun tidak seharusnya mengejarnya. Ia tidak seharusnya berada di luar bebas, dalam keadaan dirinya masih jadi topik hangat.
Dan topik hangat yang akan datang besoknya, kembali mengungkit nama Daehyun.
Dengan judul yang berbeda.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC?
review kalian ditunggu untuk improve di chapter selanjutnya ^^
Maaf banyak typo krn auto-correct, and im too tired to fix it. HOAHM~ *sleepy*
Kalo ada waktu , akan ku fix lagi ^^ terima kasih pengertiannya~
Wattpad : Miramiyu
