My Idol, My Boyfriend
Himkyu's Present
BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo
Genre : Romance Comedy
Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
Maaf sebelumnya ada salah publish merujuk ke isi cerita yang sama
sekarang udah diperbaiki ^^ Makasih sudah mengingatkan~
.
.
.
.
.
.
.
.
Junhong menghela nafas.
Rambutnya yang hitam panjang dari wig yang ia kenakan disisir rapih. Bayangannya di cermin, terlihat tidak sebaik seperti biasanya. Senyum yang ia ukir karena akan bertemu Jongup, terlihat tidak muncul.
Tok Tok
"Tuan Muda, maaf menganggu."
Wongjun rupanya yang muncul dari balik pintu kamar.
"Saya kemari untuk menjemput Tu—Ah, maksudnya Nona Muda"
"Panggil aku 'Tuan Muda' saja , Hyung." Ucap Junhong. Terasa lembut tapi ada rasa keberatan seakan dirinya sedang banyak pikiran. Wongjun hanya amati lelaki yg menjelma seperti tuan putri itu , dengan sangat khawatir.
"Aku akan segera turun" ungkapnya kemudian, setelah selesai menyisir rambut. Ia menghembus nafas dalam, dan kemudian bangkit keluar dari kamar.
.
.
.
.
.
.
.
"Ah senang sekali kalian sudah datang."
Gyun memberikan sapaan hangat, memberikan ciuman kiri-kanan kepada teman wanitanya. Mereka diberi sambutan sangat baik, dan diminta duduk di singgasana yang telah di sediakan cukup menu. Pastinya kalau dijual bisa seharga berpuluhan won. Yuna dan suaminya pasti tak sengaja menegak ludah kasar. Perut mereka ditahan untuk tidak berbunyi tak sopan.
Jongup duduk di bangku terujung dimana ia mendapati kursi lainnya kosong di hadapannya. Wajahnya muram, tidak semangat. Tapi tak ada yang menegurnya kenapa. Mungkin dikira hanya nerveous saja.
"Juyong sedang ada di kamarnya. Mempersiapkan diri secantik mungkin untuk bisa bertemu calon suaminya." Gyun tersenyum. Ia melirik ke putera Yuna, memberi isyarat penting. Jongup hanya tersenyum kecut.
"Tidak perlu dandan pun, Juyong pasti sudah cantik." Ucap Yuna yang kala itu ingin ikut mencairkan suasana. Sementara para koki sedang menyuguhkan makanan pembuka di mangkuk masing-masing.
Jongup mengalami kekosongan. Ia sama sekali tak tertarik dengan sup labu yang masih panas tersaji di depannya. Dalam otaknya , tergiang banyak pertanyaan, yang belum terungkap jawabannya. Itu yang membuatnya tak bisa berpikir kemana-mana lagi.
Tak lama, sebuah langkah masuk ikut di antara percakapan basa-basi mereka. Jongup seketika langsung melihat ke arah sumber suara. Keraguannya sedikit demi sedikit diobati dengan keberadaan seseorang yang baru masuk ke suasana makan sunyi ini.
Didapatinya 'gadis' muda masuk diantar seorang lelaki yang dikenalnya. Laki-laki itu—siapa lagi kalau bukan supir yang pernah mengantar Junhong kala itu ketika tak sengaja ditemui.
Junhong duduk tepat di depan Jongup. Taka da keberanian bagi Junhong mengangkat kepalanya dan melihat kea rah lelaki di depannya. Di sisi lain, Jongup justru menuntut lebih Juyong mau melihat kepadanya.
"Kalian selama sebulan ini pasti banyak melakukan pendekatan yang sangat romantic. Benar?" tanya Gyun sambil menyuap sup nya.
Jongup maupun Juyong terdiam. Suasana awkward yang tidak biasa ditemui oleh pertemuan makan malam biasanya. Jongup saja sampai disikut pinggannya oleh sang Ibu untuk segera menjawab. Tidak baik mengacuhkan pertanyaan orang lain.
"Tak apa mungkin mereka malu-malu. Haha.." Gyun tidak memberikan masalah.
"Ya memang. Remaja sekarang sulit terbuka dengan kisah kencan mereka." Yuna memberikan respon. Di dalam hati dirinya sudah kesal karena anaknya tidak bisa berlaku santun terhadap keluaarga besar dan terhormat , keluarga Choi.
"Jadi begini saja, setelah mempertimbangkan banyak hal, pertemuan ini akan menjadi sangat penting karena membicarakan sesuatu yang pertama sudah direncanakan." To the point, Gyun tak ingin membuang waktu. Nada bicaranya berubah serius, dan jelas membuat dua anak muda itu mendengarnya tak enak.
"Aku telah merencanakan untuk mengadakan pesta pertunangan kalian awal bulan depan."
DEG
Semua langsung melempar pandang penuh kejutan pada si pembicara. Wajah pucat nan kaget terhias di wajah Juyong. Yuna dan suaminya terlihat bahagia. Heboh sendiri seperti mendapat hadiah ultah yang mahal.
"I—Ibu..." sikap Juyong jelas yang paling kontras. Jongup perhatikan, jawaban yang paling terlihat dari sikap Juyong itu sedikit membuatnya kecewa.
Kenapa Juyong selalu terlihat menolak jika diajak bertunangan...
"Bu—bukankah kita bisa menunggu.."
"Tidak perlu Juyong, minggu depan pun setelah ujian akhirmu, kau cukup longgar untuk mengurusi pertunangan ini kan?" Gyun membersihkan bibirnya dengan serbet bersih. "aku tahu waktu yang pas."
Juyong menutup mulutnya rapat. Ia ingin sekali membantah sekaligus menolak keputusan ibunya yang selalu merespon keadaan begitu tenang tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Tapi, ia selalu tak bisa. Selalu berakhir dengan diam, dan menelan pahit semuanya. Asalkan ibunya tidak marah, sedih, dan membuangnya kembali.
Kau tahu jika menahan emosi ini sendiri begitu lama, akan berbuah air mata? Juyong kali ini sedang menahan air matanya...
"Juyong, kau—" Jongup segera bangun, merespon cepat melihat kelopak mata calon tunangannya sudah basah. Ia ingin memberikan rengkuhan, atau sekedar usapan air mata. Ia lemah melihatnya akan menangis seperti itu.
Namun Juyong memberi respon sebaliknya. Ia menepis uluran tangan Jongup, dilihat oleh semua orang di ruangan itu seperti sebuah perkara yang luar biasa mengejutkan. "A—aku.." Juyong melakukan kesalahan terbesar. Yang membuatnya dipojokkan oleh semua tatapan dari segala penjuru.
Tak terbendung rasa malu nya, Juyong pun segera berlari keluar dari suasana makan itu yang berubah jadi tegang.
"Juyong!" Gyun jelas tak terima dengan sikap puterinya yang meninggalkan tempat makan begitu saja dengan tamu yang masih disambutnya. Tak pernah ia lihat putrinya bersikap sebangkang itu.
"Wongjun! Bawa anak it—"
"Maaf, Tante. Ijinkan saya bicara dengan Juyong." Jongup sudah berdiri di hadapannya. Mungkin menghalangi Gyun memberikan suruhan tidak berperasaannya. Gyun yang moodnya sedang tidak baik, pada akhirnya membiarkan. "temui dia Jongup! Buat dia jadi anak yang tidak keras kepala."
Jongup mengangguk. Kemudian ia menyusul Juyong yang berlari ke kamarnya. Tidak di antar Wongjun, hanya dirinya sendiri.
Ini urusan pribadi antara kedua pihak.
.
.
.
.
.
.
.
Junhong melepas wig nya kemudian ia lempar jauh-jauh. Ia mencoba menahan rasa sedih ini hanya dengan tenggelam di dalam pelukan lututnya. Ia terisak-isak cukup susah, karena ia tidak ingin merengek seperti anak bayi.
Sudah lama ia tidak menangis sesusah payah ini. Mungkin cukup lama sejak kakaknya, Juyong—yang asli, meninggal karena sakit.
"Aku hanya ingin kakak bahagia.
Tapi, kapan aku bahagia?"
Ungkapnya untuk dirinya sendiri. Siapa lagi yang bisa memahaminya? Ibunya yang tidak menerimanya, ayahnya yang mengorbankannya, kakaknya yang tiada,
Jongup yang dibohonginya.
Tidak ada kebahagiaan tercipta dari semua itu. Akankah ia menerima semuanya begitu saja seperti makanan sehari-harinya? Akankah ia kuat menjalaninya?
Di pikirannya, ia ingin mengakhiri. Ia ingin berterus terang pada ibunya, tapi sama saja dirinya menghancurkan segala kebahagiaan (sandiwara) yang di depan matanya saat ini.
Tok Tok
Junhong terperanjat. Ia menjauh dari sandaran pintu.
"Juyong, ini aku Jongup."
Semakin jelas Junhong panik dengan keberadaan Jongup di sisi lain pintunya. Kenapa ia menyusul kemari? Ucapnya dalam hati. Ia segera mengambil wignya, bersusah payah ingin memakainya, tapi—
"kita memang tidak bisa ditunangkan, bukan?"
Junhong berhenti sibuk dengan wignya.
"Aku selalu berharap semua ini berakhir dengan diriku memakaikan cincin di jari manismu. Itu doaku."
Junhong melepaskan wignya. Matanya nanar melihat lurus ke pintu.
"Tapi dengan cara seperti ini, aku tidak mungkin memaafkannya.
Aku tidak mau kau terus membohongiku.
Begitu juga, aku tak mau kau membohongi dirimu sendiri."
Jongup menarik nafas , kemudian dengan berat menghembusnya. "Tenang saja, kau tak perlu merespon. Biarkan aku menyudahi ini semuanya dengan tenang dan cepat. Aku tak mau kau semakin lelah mimikirkan masalah ini.
Karena aku begitu menyayangimu."
Ia merogoh sesuatu di kantungnya.
"Sekarang harapanku adalah aku bisa memakaikan cincin ini kepada orang yang tepat." Ia kemudian menaruh kotak cincin tepat di depan pintu. "Mungkin ini akhir kita berdua , Juyong."
Junhong langsung mendekap mulutnya. Suara isakan tangisnya tak ingin sampai bersemburat keluar sampai ke pendengaran Jongup yang masih berada di depan pintunya. Ia ingin sekali menangis histeris karena tak ingin kata 'akhir' diucapkan Jongup.
Itu adalah mimpi terburuknya...
Tapi dia juga yang memang pantas mendapatkannya. Ia telah terlanjur mempermalukan dirinya, dan Jongup. Ia tak mau Jongup semakin larut meladeni masalahnya. Ia sayang Jongup, ia akui itu.
Ia mencintainya. Ia tak mungkin semakin mengorbankan Jongup yang tak berdosa.
"Selamat tinggal."
Kemudian Jongup pergi. Suaranya tak terdengar lagi, bahkan secarik desahan nafasnya. Sesaat itulah Junhong bisa leluasa menangis. Menumpahkan air matanya, dan isakannya yang bernada tak karuan karena patah hati.
.
.
.
.
.
.
"Kau sudah bicara dengan Juyong?"
Begitu ucapan Gyun setiba Jongup kembali dari kamar Juyong. Bukannya direspon dengan anggukan, Jongup lebih memberi pengakuan. "Aku tidak bisa bertunangan dengan Juyong."
Orang tua Jongup tersentak kaget. Gyun apalagi yang melompat bangun dari bangkunya. "Apa maksudmu!?"
"Ya, Jongup! Jangan memutuskan perkara sepihak begi—"
"Tidak. Aku dan dia sudah saling mengerti. Kami tidak mungkin bersama.
Tidak dengan dirinya sebagai Juyong."
Gyun belum bisa memahami maksud Jongup yang terasa ambigu. "Sungguh aku tak mengerti. Kenapa kalian berdua bersikap begitu aneh hari ini!? Kemarin-kemarin kalian seperti pasangan romantic yang sudah saling mencintai.."
"Maaf, Tante. Itu dahulu, sebelum saya tahu kebenarannya.
Juyong itu adalah putera anda, Junhong,
dan saya tidak mencintai Junhong."
Mata Gyun seketika membelakak lebar. Yuna dan suaminya apalagi yang begitu shock mendengarnya.
"Tidak mungkin..." keadaan Gyun mulai tidak stabil. Wongjun seketika memegang tubuh Gyun agar tidak terjatuh. Kepala majikannya sudah terasa berat , seperti ada beban yang tumbuh kembali setelah sekian lama. Perasaannya juga, terasa di sentil kembali terasa sakit di dadanya...
Ada suatu rasa kehilangan kembali muncul..
"APA-APAAN INI!? JADI ANAK PEREMPUANMU ITU, ADALAH LAKI-LAKI!?"
Yuna yang tidak bisa menguasai kondisi, malah mengamuk. Ia tidak terima puteranya dilecehkan dengan penipuan yang terjadi.
"Aku tidak terima ini! Puteraku mau kau jodohkan dengan anakmu yang berdandan seperti perempuan!? Menjijikkan!" Yuna marah-marah tidak terkendali, padahal Gyun sendiri masih belum pulih mentalnya yang sedang drop parah.
"Akan kutuntut keluarga ini! Kalian sudah mempermalukan nama keluarga kami!" ucapnya kalang kabut, sampai harus ditenangkan suaminya. "Jongup! Kita pulang!"
Jongup ditarik paksa oleh ibunya untuk pergi, walaupun puteranya belum selesai memperjelas semuanya. Ia menepis tarikan ibunya untuk sementara, dan kembali pada Gyun. Tangan wanita yang sedang tak berdaya itu, yang menangis karena merasa kehilangan, ia pegang dengan lembut. Ia coba meyakinkan wanita itu dari rasa sedihnya.
"Tante, saya tahu anda merasa kehilangan dengan anak perempuan anda. Tapi, anda lebih beruntung anda dijaga oleh seorang anak laki-laki kuat dan tidak putus asa untuk membahagiakan ibunya, sekalipun melakukan hal sejauh ini.
Tante harus ikhlas... karena jika tante membenci Junhong, sama saja anda menyakiti Juyong. Mereka kakak dan adik. Dilahirkan dari darah yang sama. Kesedihan dan kebahagiaan mereka adalah satu padu. Anda sebagai ibunya pasti paham itu."
Mata Gyun yang mengerjab basah, hanya bisa menatap lurus dengan nanar ke pandangan lembut Jongup. Ia lihat manik anak muda itu seolah berbicara kesungguhan. Dan sudah pasti tulus diucapkannya, untuk membuatnya sadar dengan sesuatu yang tidak sempat ia ketahui, semasa ia di rehab, ataupun semenjak pengumuman kematian puterinya diumumkan.
Ia tidak sendiri... ia masih punya anak laki-laki yang menyayanginya...
"CEPAT PULANG JONGUP! Jangan ladeni keluarga sinting ini!" tangan Jongup kembali ditarik, menjauh dari hingar-bingar dalam rumah mewah tersebut. Mereka pulang dalam keadaan sangat kacau dan emosi.
Sebaliknya Gyun, masih sangat terpukul. Ia ditenangkan Wongjun yang setia menjaga nyonya besarnya seperti yang ditugaskan Tuan Besar.
"Wongjun.." Nyonyanya mengajaknya bicara. "Apakah Juyong, masih di kamarnya?"
Wongjun tersenyum. Ia membantu menuangkan teh hangat yang baru saja dibuat koki, untuk bisa lebih menenangkan Gyun.
"Namanya bukan Juyong , Nyonya.
Tapi Junhong.." jawab Wongjun mengoreksi.
"Ya...
Aku ingin bicara dengan Junhong."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Himchan..Himchan.."
Lambaian tangan Yongguk sontak membuat Himchan kembali pada kesadarannya. Ia melamun sampai 5 menit setelah diperjelaskan pria di depannya, menggunakan kacamata hitam sehingga tampilan mereka terlihat mirip.
Entah ini kebetulan semata, atau Yongguk memiliki saudara kembar...
Rasanya sangat mustahil seorang idol selama ini bermain ke rumahnya, makan masakannya, menjemputnya di sekolah, di tengah kesibukannya sebagai artis.
Rasanya tidak mungkin..
"Aku tahu ini terdengar aneh." Yongguk melepas kacamata hitamnya. Ia kembali terlihat Yongguk seperti biasanya, dengan sudut pandang yang berbeda bagi Himchan.
Ini Yongguk...bukan! Ini Jongdae?! Bu—bukan..
"Banyak hal yang terjadi sehingga aku tak bisa memberitahumu identitasku sebelumnya.." Yongguk mulai tampang lesu. Ia takut jika Himchan terlanjur kecewa dan akan mencampakkannya. Mengadu bahwa dirinya seorang 'penghianat'.
"Aku paham, Yongguk-ssi."
Sambutan lembut itu sontak buat tundukan Yongguk terangkat cepat. Terkejut melihat reaksi yang diluar dugaannya. Himchan tersenyum! Ia ramah seperti biasanya.
BENAR-BENAR MALAIKAT!
"kau... tidak kecewa padaku?" Yongguk kembali memastikan. Siapa tahu tadi saking takutnya, halusinasi baik nya memudarkan kenyataan.
"Kau ini artis, fansmu dimana-mana. Orang sekerenmu berada di lingkungan sederhanaku, datang ke bar dan mengobrol dengan bartendernya, atau bahkan capek-capek menyelamatkan kebunku, bukanlah sesuatu yang umum untuk artis mendunia sepertimu, Yongguk-ssi."
Yongguk angguk-angguk semangat. 100 sekali untuk Himchan yang bisa menjawab semuanya begitu benar.
"Tapi..."
Yongguk berhenti mengangguk, memperhatikan Himchan kali ini dengan perasaan was-was lagi. Ekspresi Himchan berubah tidak enak, rada sedih. Ada apa?
"Tapi kenapa Yongguk mau sampai melakukan itu semua dengan status yang begitu berbeda denganku?"
Keraguan Himchan menjadi buah penyesalan bagi Yongguk. Ia tidak suka melihat Himchan terlihat sedih, kecewa dengannya. Yongguk merasa kecewa pada dirinya yang memang berbohong, tapi ia tidak bermaksud.
Ia memegang tangan Himchan yang berada di atas meja, mengenggamnya erat. Himchan tidak bisa mengalih pandangan manapun selain memperhatikan Yongguk di depannya. Ia tak biasa melihat pria berkarisma ini , apalagi bisa jatuh cinta padanya. Jika Jongdae, mungkin ia bisa menerimanya. Bukan berarti kurang karismanya, tapi sosok Jongdae adalah yang sering ia temui, bukan Yongguk.
"Kalau menjadi Yongguk aku tidak bisa menemuimu dan sulit dekat denganmu, maka aku harus jadi Jongdae untuk bisa mengenalmu.
Aku tidak ingin apapun menghambatku untuk bisa mendapatkanmu, Himchan."
Hati Himchan terenyuh. Pipinya putih pucat, agak memerah sedikit. Ia malu untuk bisa menatap mata Yongguk terlalu lama. Jantungnya tidak akan bisa terkontrol.
Ucapan dari seorang entertainer memang sungguh hebat, seperti di drama-drama Korea... Ini bukan karena dia lagi latihan untuk scenario drama kan?
Sebaliknya, bagian lain dari Yongguk—pikirannya—sudah banyak mengeluarkan kata-kata kasar. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Protes, kenapa Yongguk begitu menjijikkan mengeluarkan kata-kata jelek itu. Tidak sesuai yang di latihannya selama seminggu di Jerman. Kenapa jadi di luar konsep? Kenapa sangat garing sekali... Kenapa sangat gombal... Pasti Himchan mual mendengarnya.
Perbedaan tanggapan keduanya dalam diri meraka masing-masing, malah membuat sebuah reaksi yang sangat bertentangan.
"MAAF!" Yongguk tiba-tiba menyaut.
"TERIMAKASIH!" di saat bersamaan Himchan juga menghambur.
Tentu saja reaksi bersamaan ini membuat keduanya seketika terdiam. Malu, lucu...
Mereka pun tertawa.
"Hahaha.. apa ini? Kenapa kita jadi berbeda respon begini?"
"Aku rasa kita terlalu awkward sedari tadi." Himchan menenangkan diri setelah tertawa cukup puas.
Tak lama mengusaikan hiburan mereka, pada akhirnya mereka ditenangkan dalam suasana yang begitu sendu—indah dan ada aura yang begitu berbeda. Aura saling mencintai? Ini berlebihan, tapi mereka berdua seperti tidak berhenti menguarkan aura ala orang berpacaran. Senyum-senyum malu, sampai membuat semua bodyguard Yongguk yang berjaga dan mengawasi jadi kena lemparan-lemparan cinta tak terlihat.
"Jadi, apakah..." Yongguk mencoba mengangkat topik intinya. "Kau mau jadi..."
"Yongguk-ssi..."
Celaan Himchan buat Yongguk langsung mengerem kalimatnya.
"Kurasa aku paham. Tidak perlu diucapkan. Banyak yang melihat."
Dan Yongguk melihat sekelilingnya. Ah ya, dia tidak hanya berdua saja. Para Bodyguard sebanyak 5 orang, dan bahkan tak sengaja koki dan pelayan kelihatan kabur setelah mereka mengintip.
Ganggu saja.
"Lagipula apa kau tidak khawatir mereka akan mengumbar rumor , Yongguk-ssi?" ucap Himchan berbisik dengan mata mengawasi sekelilingnya.
"Tenang saja. Mereka orang terpercaya."—aku sudah mendaftarkan nama mereka dalam catatanku, jika mereka berani, aku bisa langsung tahu identitas nya dan langsung memberikan mereka pelajaran.
"Lagipula inilah kenapa aku membawamu kemari." Yongguk tersenyum polos seolah tak berdosa.
Himchan pahami, walaupun sedikit tidak yakin. Ia tak mungkin absen khawatir dengan sosok Yongguk yang begitu dipuja fans ini bisa lepas dari rumor berbahaya, apalagi meniti hubungan dengannya.
Laki-laki, sederhana...apa yang bagus darinya?
Drrrtt Drrttt
HP Yongguk bergetar menggila. "Ada apa sih menganggu saat-saat seperti ini?!" ia segera meraih, dan menanggapi telepon yang didapat. Suara kelelahan di seberang sana memberikan jawaban tidak enak.
"Halo"
Himchan menunggu Yongguk melayani telepon pentingnya. Tidak heran , pria ini memiliki banyak koneksi. Dibanding dirinya yang memiliki HP saja tidak. Ia banyak meragukan diri, banyak pertimbangan selama adu percakapan mereka tidak ada. Ia gunakan waktu kosong di antara mereka, untuknya berpikir lama tentang hubungan lebih jauh yang diharapkan keduanya...
"APA!?"
Himchan berhenti tenggelam dengan pikiran amburadulnya. Memperhatikan Yongguk dengan sikap was-was. Wajahnya tidak terlihat tenang.
"Aku akan segera ke sana!" PIP
"A—ada apa, Yongguk-ssi?" Himcha khawatir. Yongguk sudah beberesan dengan buru-buru, seperti sesuatu ingin dikejarnya.
"Daehyun kecelakaan!"
Himchan tersentak. Ia shock.
"Kau ingin ikut denganku ke rumah sakit?"
"Tentu saja! Teman-temanku juga seharusnya bersamanya..." Himchan ikut beberesan. Tidak mempedulikan makanannya yang belum habis.
Mereka berdua berjalan keluar cepat dari gedung. Para bodyguard sudah memberikan perlindungan pada majikan dan pasangannya.
Yongguk merangkul pundak Himchan , berjalan mendampinginya agar tenang daripada terburu-buru.
Himchan sudah seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan keadaan anaknya...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mobil melaju membelah jalan begitu cepat , memakan waktu tak lama untuk sampai ke rumah sakit yang ditujukan.
Sepanjang perjalanan, Yongguk hanya bisa geregetan menggigit bibirnya, mengamati pemandangan di luar mobil dengan gundah.
Himchan yang menyaksikan lelaki yang terlihat menawan itu menjadi sangat ketakutan dengan sesuatu. Ia kemudian memegang tangan Yongguk, mengenggamnya seperti apa yang dilakukan Yongguk pula di restoran.
"Aku yakin Daehyun baik-baik saja." Himchan mencoba tersenyum, walaupun perasaannya tidak enak pula. Yongguk yang tidak bisa histeris dalam keadaan seperti ini melihat tangannya dipegangi Himchan, akhirnya hanya mengulas senyum lesu. Perasaannya bisa sedikit disembuhkan.
"Eh, bukankah itu Youngjae?"
Himchan dan Yongguk tak sengaja memperhatikan seorang anak muda berdiri mematung di bawah pohon , ketika mobil mereka baru masuk pekarangan rumah sakit. Pemuda yang mereka kenal itu tengah menangis sendirian.
"Berhenti." Yongguk menyuruh supirnya menghentikan mobil. Tidak lama, mobil tepat berhenti di samping anak muda itu, yang masih menangis tersedu-sedu.
Himchan yang paling pertama melompat keluar dari mobil, dan menghampirinya. Youngjae seketika tersentak melihat Himchan menghampirinya.
"Astaga, kau kenapa Youngjae? Kau tidak terluka, kan?" Himchan sangat khawatir, ia perhatikan sekujur tubuh anak itu. Tidak ada yang terluka sejauh ini.
"Hiks... HYUNG!" Youngjae memeluk Himchan, sangat erat. "Daehyun! Daehyun!"
"Tenanglah! Kita masuk dulu ke mobil."
Himchan menuntun Youngjae untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam sana Yongguk sudah menunggu, sekaligus juga khawatir dengan keadaan Youngjae. "Youngjae, ada apa dengan Daehyun? Apa kau bersamanya tadi?!"
Youngjae sesenggukan. Ia bahkan tidak sadar bahwa pria lain yang mengajaknya bicara adalah idola tercintanya. Dalam pikirannya hanya ada Daehyun dan Daehyun...
"Daehyun! Dia—hiks—dia terluka karena aku!" Youngjae menangis kembali, lebih banyak derasan air matanya. Himchan memeluk Youngjae, mendekapnya sekaligus menenangkannya. Ia menginteruksi Yongguk untuk melakukan sesuatu terhadap keadaan Youngjae. Yongguk malah gelagapan mau melakukan apa.
"Eum.. begini. Aku bantu kau temui Daehyun, ok."
"BENARKAH!?" Youngjae langsung menghambur ke Yongguk. Matanya yang basah sudah terbaca 'permohonan' pada Yongguk, yang ditanggapi dengan senyuman canggung. Mungkin anak ini bisa tenang kalau bisa bertemu Daehyun.
"Tentu saja. Aku akan mengalihkan para wartawan, kalian masuk lewat pintu lain. Oke? Supirku akan membawa kalian ke ruangan Daehyun."
Youngjae mengangguk paham. Ia akan melakukan apapun asalkan bisa bertatap muka dengan Daehyun. Ia kembali merangkul Himchan, karena pelukan Himchan terlalu nyaman untuk keadaannya yang sangat menyedihkan.
"Terima kasih." Himchan tersenyum untk Yongguk dengan ungkapan yang hanya bisa dibaca dari gerakan mulut tanpa suara keluar.
Yongguk senang membantu. Ia akan melakukan apapun , termasuk membantu orang-orang tersayang dari lelaki yang dicintainya.
.
.
.
.
.
.
.
Suara tapak kaki terdengar jelas di Lorong tersebut ketika Jongup sibuk berdoa untuk keselamatan Daehyun. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada 3 orang yang ia sangat kenal.
"Yongguk."
"Jongup, bagaimana dengan Daehyun?" ucap sang Leader begitu gegabah. Ekspresi Jongup memperlihatkan raut yang kurang positif, membuat yang lain semakin cemas.
"Dokter, belum keluar dari ruangan. Yang baru kutahu, ia kehilangan cukup banyak darah." Ucap Jongup getir. Youngjae yang mendengar hal itu langsung mendekap mulutnya, mengunci histerisnya. Ia memeluk Himchan semakin erat. Ia ingin menumpahkan rasa takutnya.
"Tapi dokter berkata, ia pasti akan baik saja. Yang dibutuhkan sekarang hanya doa."
Yongguk mengangguk paham. Ia tak mengerti separah apa kejadian yang dialami Daehyun sampai ia menderita begini. Ia benar-benar harus berserah diri pada Tuhan dan dokter yang berusaha menyelamatkan Daehyun.
Tak Tak Tak
Suara langkah sepatu hak tinggi mengisi keheningan yang begitu canggung. Keempat orang beralih pandang, dan memperhatikan ke satu arah.
Diana baru saja datang.
"Diana, bukannya kau—"
PLAK
Sapaan Yongguk dibalas tidak ramah oleh Diana dengan tamparan. Yang membuat 3 orang lainnya shock parah.
"Kau sebagai leader, tidak bisa menjaga membernya dengan baik!? Kemana saja kau!? Kenapa kau pergi disaat Daehyun membutuhkanmu!? Kau tahu kan anak itu keras kepala, dan seharusnya kau bisa mencegah anak itu berbuat seenaknya!?"
Yongguk hanya terdiam. Ia tidak bisa membantah Diana, gadis yang diumumkan jadi pacar Daehyun ini. Tidak heran ia jadi pihak yang disalahkan, karena kekasihnya yang menjadi korban. Dan benar, ia sebagai leader seharusnya bisa bertanggung jawab lebih untuk menjaga para membernya.
Tapi ia justru asyik memperhatikan pendekatannya dengan Himchan...
"I—ini semua salahku!"
Tak lama, Youngjae justru ikut dalam ketegangan. Ia masih sekacau sebelumnya, tapi ia juga tak mau hanya terdiam saja melihat situasi yang serba salah ini.
"A—aku yang membuat Daehyun melarikan diri." Youngjae menangis semakin kencang. Ia jadi terpaksa mengingat daftar penyalahannya. Yang membuat kekecewaan berlebih.
Diana terdiam. Ia tidak tega untuk meneruskan kemarahannya pada Yongguk, juga melihat keadaan sosok Youngjae yang dikenalnya seorang anak manis tak berdosa ini , menangis semakin kencang.
Ia menarik nafas, mencoba menenangkan dirinya.
Cklek
Dokter yang ditunggu-tunggu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Semua orang disana sudah berkerumun seperti lalat begitu dokter mendekat.
"Bagaimana keadaan Daehyun, Dokter?" Diana yang mempertanyakannya duluan.
Dokter memperhatikan satu-satu semua orang yang mengamatinya. Benar-benar luar biasa saat ini ia dikelilingi artis-artis terkenal...
Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya.
"Lukanya sudah kami tutup, dan pendarahan sudah kami atasi. Ia sudah melewati masa kritisnya."
Nafas lega dari semua orang disitu pun beradu.
"Tapi pasien sedang istirahat. Ia memiliki sedikit trauma, yang membuatnya rada shock. Jadi ia tidak akan sadarkan diri untuk beberapa waktu. Apa ada keluarga pasien disini?" tanya dokter.
Jongup langsung menjawab. "Manajer kami sudah menghubungi ortu dari Daehyun. Mereka punya masalah soal transport dari Busan kemari. Jadi mungkin baru bisa datang besok sore."
"Ah baiklah. Saya akan meninggalkan pasien pada Anda. Tapi karena keadaannya, maka yang mengawasi saya harap hanya beberapa saja.
Kalau begitu saya permisi." Dokter pun kemudian meninggalkan tempat.
Yang lain saling melempar pandang. Membaca tingkah laku, dan menerka siapa yang paling cocok menemani Daehyun yang tengah memiliki kondisi sekarat.
Terlalu lama hening, tiba-tiba Dongwook muncul dari arah lain , ikut dalam kerumunan. Ia datang cukup terburu-buru.
"Aku berusaha menghentikan para wartawan di luar sana. Tapi mereka tidak ingin pergi jika tidak ada penjelasan dari pihak kita. Mereka ingin kita membahas kecelakaan Daehyun, walaupun hanya satu kalimat saja." Ucapnya khawatir.
Yongguk memutar mata. Sepertinya dengan terpaksa ia harus melakukan sesuatu, lagi. "Aku akan menemui para wartawan kalau begitu." Dengan yakin ia pun mengikuti Manajernya.
Himchan mengamati punggung Yongguk, dan mulai melempar rasa cemas.
"Kalau begitu aku juga. Para wartawan itu tidak akan berhenti berceloteh sebelum aku ikut campur." Ucap Diana. Jongup pun mengangguk, dan akan ikut bergabung. "Aku juga."
Himchan dan Youngjae pandangi kedua artis rupawan itu dengan tampang bingung. Tinggal mereka berdua yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu keputusan.
"Youngjae, dan temannya Youngjae.." Diana kemudian memperhatikan dua pemuda itu dengan begitu akrab, seakan mereka sudah cukup dekat dari perkenalan singkat. "Bisakah kalian menunggu Daehyun sebentar sampai kami kembali.."
Youngjae masih cukup sedih untuk bisa membalas, nyawanya kurang terkumpul karena masih agak shock. Himchan pun cuman merespon dengan senyum dan anggukan.
Tak berapa lama, Youngjae dan Himchan yang berdua saja di Lorong rumah sakit setelah semuanya sibuk dengan press conf dadakan akibat ulah wartawan yang tak sabaran. Youngjae yang masih agak sesenggukan di dalam rengkuhan Himchan, menjadi pusat perhatian para perawat yang lewat.
Himchan pun harus melakukan sesuatu agar mereka tidak menjadi penganggu..
"Youngjae, kita masuk ke dalam sebentar, ok? Kau ingin bertemu dengan Daehyun, kan?" Himchan dengan sabar memberikan tawaran. Ia elus kepala Youngjae seperti mengelus seorang adik laki-laki. Kenyamanan yang disalurkannya, membuat Youngjae bisa membuka rasa leganya untuk beberapa saat.
Ia mau tak mau mengangguk, walaupun hatinya masih cukup pilu. Apakah pantas seorang yang membuat celaka Daehyun, bisa bertemu dengannya?
.
.
.
.
.
.
.
.
Cklek
Youngjae memasuki ruangan tersebut bersamaan dengan Himchan yang menyusul di belakangnya. Bau rumah sakit yang tidak disukainya ia coba perangi, untuk bisa berhadapan dengan si pasien walau sebentar saja.
Lelaki yang diidolakan khalayak fans wanita itu, kini berbujur lemah. Wajahnya yang tampan terlihat tidak sesemangat , dan semenyebalkan biasanya. Rupanya datar, tenang.
Youngjae jadi rindu dengan sikap keras kepala Daehyun.
Himchan cukup mengamati dari jauh. Youngjae dilihatnya mendekat ke ranjang, sambil ragu-ragu mencoba menyentuh tangan dingin Daehyun. Ia menangis lagi, suara sesenggukannya mengudara di ruangan. Tapi Himchan membiarkan sahabatnya itu berkomunikasi satu arah dengan pemuda tak sadar itu. Selagi bisa...
Semoga saja Youngjae tidak lupa bahwa dokter telah mengatakan bahwa Daehyun tidak mati...
"Kenapa kau selalu membuatku repot.." nada Youngjae pilu terdengar. Ia menyedot ingusnya, sekaligus berbicara. Ia tidak bisa menahan tangisannya yang tidak bisa berhenti padahal ia sedang konsen mengobrol dengan Daehyun.
"Aku ini seharusnya sekedar fans biasa yang mencintai BA. Hanya bisa memandang kalian dari kejauhan. Meneriaki nama kalian dengan tidak putus asa. Tidak berharap banyak untuk diingat, dikenal, bahkan dimiliki.
Jika saja aku tidak memaksamu, aku tidak pernah melewati batas itu. Aku akan tetap menjadi seorang fans biasa."
Himchan terdiam , ia menunduk menanggapi pergolakan batin akibat ucapan Youngjae. Ia menekan suatu opini di dalam pemikirannya..
Hubungan antara fans dengan idola itu terdengar mustahil. Hubungan lebih dari itu mereka dianggap mimpi belaka. Jika sampai melewati batas itu, pasti ada kesalahan yang terjadi.
Sedihnya, hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Himchan, Youngjae. Mereka terlibat dalam hubungan mustahil itu? Himchan menggeleng... mengenyahkan rasa tidak enak itu.
Ia merasa hubungannya dengan Yongguk bukanlah kesalahan... ia berharap.
"Tapi setelah melihat perlakuanmu, sikapmu, tanggapanmu, dan bahkan sampai mengejarku..
Aku merasa, aku sudah membuat kau melewati batas itu. Dan inilah kenapa, aku merasa bersalah. Seharusnya aku dan Daehyun tidak pernah saling kenal. Tidak pernah bertengkar secara langsung, atau menghina secara terbuka satu sama lain, seperti kita sudah sangat dekat. Aku tidak pernah berharap kau bahkan kenal namaku...
Seharusnya aku masih membencimu."
Youngjae kemudian mengusap air matanya. Ia mencoba tersenyum, seperti dirinya tidak pernah menangis.
"Aku juga seharusnya tidak menangismu seperti ini. Atau bisa mengunjungimu di ruanganmu. Aku ini seharusnya merasa beruntung kau kena impas atas perbuatan konyolmu. Aku seharusnya tertawa, mendengar beritamu.."
Youngjae membungkuk , ia mencium dahi Daehyun. Entah kenapa ia melakukan itu setelah mengatakan hal yang jahat kepada idola yang sedang sekarat barusan.
"Tapi aku tak bisa lagi. Perasaanku berubah setelah semua yang terjadi. Setelah kau memperhatikanku lebih dari sekedar fans.
Atau aku yang berharap lebih..."
Himchan tersenyum. Sepertinya ia lega melihat Youngjae bisa lebih jujur dengan perasaannya...
"Kau harus terus sukses , Daehyun. Kau harus jadi penyanyi hebat. Tanpa kau, BA tidak pernah ada. Aku menghormati keberadaanmu di BA. Suaramu sangat indah. Kau juga sangat tampan dan baik.
Aku akan mendukungmu."
Kemudian Youngjae melepas pagutannya dari Daehyun. Ia berlalu meninggalkan pemuda itu yang tak bisa mendengar satu kalimat pun dari mulut Youngjae. Jika ia tahu apa yang Youngjae katakan, Daehyun pastilah akan senang.
"Kau tak ingin meninggalkan sesuatu untuk Daehyun.. bentuk dukunganmu?" Himchan menanyakan setelah Youngjae kembali mendekat padanya.
"Aku ini cuman fans. Aku cuman bisa mendukungnya dari kejauhan." Kemudian Youngjae tersenyum lebar.
Cklek
"Ah, kalian."
Diana yang rupanya baru masuk. "Wartawan sudah bubar. Dan kalian bisa pulang lebih leluasa. Maaf tadi agak heboh."
"Ti—tidak apa-apa, Diana-ssi. Kami juga sudah selesai menemani Daehyun" jawab Himchan dengan ramah.
"Kalian yakin tidak ingin menemani Daehyun lebih lama?" Diana memperhatikan Youngjae. Ia melihat anak muda itu sudah tidak menangis lagi. "Youngjae besok mau jenguk lagi Daehyun? Kami terbuka menyambutmu."
Youngjae cukup kaget sebenarnya dengan tawaran tersebut. Ia merasa tidak terlalu pantas, diberikan kesempatan sebesar itu. Ia pun hanya bisa menggeleng.
"Tidak usah, Diana-ssi. Cukup hari ini saja. Aku doakan Daehyun cepat sembuh. Diana-ssi, jaga Daehyun baik-baik ya! Aku dan fans lain sangat mempercayakan Diana-ssi." Ucapnya sudah seperti para fangirl di luar sana.
"Aku sih mau saja. Daehyun yang ogah-ogahan. Lagipula, keberadaanku tidak akan membuat Daehyun senyaman keberadaanmu di sampingnya."
"Eh?"
Diana hanya bisa terkekeh. "Pulanglah. Ini sudah larut. Temui manajer BA, ia bisa mengantar kalian pulang. Aku akan titip salam kalian pada Daehyun. Ia pasti langsung cepat sembuh setelah tahu kalian menjenguknya."
"Terima kasih, Diana-ssi." Kemudian Himchan dan Youngjae membungkuk. Dengan begitu berat hati, meninggalkan ruangan itu, yang tidak akan mereka singgahi lagi.
Sebelum mereka pergi, tiba-tiba Diana mencegat tangan Youngjae.
"Jangan meragukan Daehyun, ya. Dia orang yang sangat baik."
Ucapan Diana, memberikan kelapangan hati untuk Youngjae. Ia disambut dengan anggukan optimis.
.
.
.
.
.
.
"Himchan.."
Yongguk tiba-tiba muncul ketika Himchan ikut Youngjae untuk pulang.
"Kau akan pulang?"
Himchan mengangguk. Wajah Yongguk berubah kecewa.
"Aku ingin kau lebih lama disini. Aku tidak bisa pulang, tidak ada yang menemani Daehyun."
Himchan kemudian mengelus puncak kepala Yongguk. "Nanti kita bisa bertemu lagi, Yongguk-ssi. Jaga Daehyun dulu. Dia membutuhkan leadernya."
"Aku harap malam kita bersama bukanlah mimpi, dan bukanlah akhir. Aku ingin kita bertemu lagi, dan lebih banyak mengobrol. Banyak hal yang kau tak tau tentang aku, dan juga tentangmu. Aku juga tak ingin pernyataan cintaku jadi sia-sia.. aku juga tak ingin..."
Cup
Ucapan-ucapan Yongguk direm dengan kecupan mesra di pipinya dari Himchan. Ia memperhatikan Himchan dengan mata tak sanggup berkedip saking terkejutnya.
"Aku tak akan lupa, tenang saja. Ini adalah malam terindah, Yongguk-ssi. Terima kasih." Ungkap Himchan, yang membuat hati Yongguk bisa saja melompat keluar. Ia ingin sekali memeluk erat Himchan sebelum ia pergi, dan selagi mereka hanya berdua saja di Lorong rumah sakit itu yang begitu sepi.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama...
"Yongguk..."
Yongguk dan Himchan tiba-tiba diinterupsi seseorang. Pria dengan setelan gagah , berdiri di ujung Lorong dengan tatap curiga dan heran. Sayangnya, pria itulah yang terlanjur melihat Yongguk dan Himchan masih dalam posisi ambigu, dengan merangkul sesama.
Sontak mereka melepas satu sama lain, dan mencoba berakting biasa , walaupun sudah terlambat.
"Apa yang kau lakukan disini?" pria itu masih seperti biasa bersikap dingin ketika ia mendekat cepat kea rah keduanya.. Yongguk mengontrol emosi dengan cukup sabar, karena masih ada Himchan di sampingnya. "Daehyun ada di ruangan 205."
"Bukan itu yang kutanyakan.
Tapi, kenapa kau ada disini, dengan laki-laki ini." Pria dingin itu tiba-tiba melempar tatap sinis pada Himchan. Pemuda itu langsung runtuh dengan rasa takut.
Yongguk yang tak membiarkan ayah terhormatnya menjudge Himchan lebih lama, langsung menuntun pria itu menjauh. "Aku akan antar Anda...Silahkan." Yongguk memberikan instruksi pada Himchan untuk pergi. Yang dibalas anggukan olehnya.. sepertinya mereka memang tidak bisa melanjutkan moment romantis mereka lagi.
Yongin pun hanya bisa mengamati puteranya dengan rasa curiga yang tak kunjung luntur , dalam perjalanannya untuk bertemu Daehyun.
.
.
.
.
.
.
"Hah~~"
Mendengar desah resah itu, Dongwook langsung mengamati Jongup yang sedang sibuk menuangkan air minum. Sepertinya ada yang salah dari sikap anak asuhannya itu hari ini.
"Kau kenapa? Sedang tidak mood?" Dongwook yang sedang memperbaiki bantal Daehyun, jadi merasa terganggu dengan sikap tidak semangatnya Jongup.
"Tidak apa, Hyung. Aku hanya sedang kecapekan."
"Capek? Memangnya habis darimana kau setelah konser selesai? Orang tuamu tiba-tiba menelpon dan memintamu bertemu." Dongwook selesai dengan pekerjaannya. Ia berdehem. "Akhir-akhir ini orang tuamu tidak membuatmu repot lagi, kan?"
"Tidak, Hyung. Mereka tidak apa-apa." Jongup meminum airnya dengan berat hati. Ia tidak nyaman terus diperhatikan Dongwook.
"Jongup, jika kau punya masalah, beritahu kami. Aku tidak ingin masalah pribadimu, menganggu karir, dan juga kehidupan sosialmu. Ingat, kau ini artis. Banyak orang berpengaruh yang kau kenal, bisa membantumu.
Aku kenal kalian bertiga, tapi kalian suka sekali menyembunyikan sesuatu. Tau-tau Daehyun celaka dan kena skandal, jangan sampai kalian berdua ikut-ikutan.
Kalau ada yang menganggu , cepat selesaikan, atau lupakan. Cuman itu pilihanmu." Dongwook kemudian , memberikan tepukan pada bahu Jongup. "Bekerja giat saja. Kau pasti bisa melupakan masalahmu."
Jongup mengangguk. Ia memahami bujukan Dongwook.
Sepertinya manajernya itu benar. Ia harus lebih giat bekerja...
Pasti ia bisa melupakan Juyong.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya..
"Mmm~"
Mata pemuda tak sadar itu lama-lama terbuka. Ia merasakan sentuhan hangat mengenai tangannya. Yang kemudian saat matanya terbuka lebar, ia mendapati seseorang mengusap lengannya.
"Oh kau sudah bangun?"
"HUWAAA!" Daehyun reflek terbangun, tapi sakit di daerah perutnya membuat dirinya tersungkur kembali ke ranjangnya dengan sedikit rintihan. "Di—diana!? Kenapa kau disini!?"
"Jelas saja aku disini. Memangnya kau mau siapa yang menemanimu?" Diana melempar kain lap kembali ke baskom. Untuk seseorang fashionista sepertinya, masih ia menyempatkan waktu memandikan Daehyun. Padahal tangannya terawat, dan penampilannya khas wanita-wanita sosialita. Kukunya saja masih masih polesan baru manicure.
"Aku konser larut sekali, dan pagi-paginya harus menjagamu disini seperti Baby sitter mu karena Yongguk dan Jongup ada kesibukan lain jadi tidak bisa terus-terusan mengawasimu. Kau tidak lihat kantung mataku menghitam begini." Diana menunjukkan lekukan di bawah kelopaknya, yang tidak harus dipertontonkan. Daehyun malas menanggapi.
"Pihak kepolisian sudah menyelidiki kasus ini. Sejauh ini yang mereka dapati adalah seorang wanita penggemarmu melakukan kejahatan dengan menusuk idolanya sendiri. Sungguh mengenaskan." Diana mengulurkan segelas air putih. Bibir Daehyun begitu kering, sudah pasti kekurangan cairan.
"Aku yakin karena pengumuman kencan kita, makanya dia stress." Daehyun meneguk minumannya.
"Siapa suruh yang buat rencana gila ini?
Well, setidaknya dengan kecelakaan ini. Rumormu tertutup dalam-dalam. Namamu jadi pencarian nomor satu di Naher."
Daehyun menghela nafas. "Jadi kau berpikir kecelakaanku ini adalah berita baik begitu?"
Diana hanya tertawa. Ya, setidaknya suasana menyedihkan bisa berubah tidak terlalu tegang.
"Oh ya, semalam Youngjae menjengukmu."
"Apa?!"
Sentak Daehyun membuat Diana memutar mata. "Sudah kuduga , kau jadi semangat lagi setelah mendengar namanya.
Sepertinya anak itu spesial sekali untukmu." Ucap Diana yang membuat Daehyun terdiam. Ia pun bingung harus menjawab apa.
"Mungkin karena kecerobohanmu, anak itu tidak mau bertemu denganmu lagi."
"Maksudmu?"
Diana melenguh sesaat. "Kau menganggap Youngjae seperti apa? Youngjae itu bukan siapa-siapa selain fansmu saja kan? Maka ia tidak seharusnya berada di lingkaran kita. Apa jadinya jika keberadaan Youngjae di antara kita, diketahui fans lain? Kau mau ia terlibat masalah? Siapa tahu yang ditusuk selanjutnya bukan kau, tapi dia."
"Diana! Jangan bicara seperti itu!"
Diana menggeleng. "Maka itulah kau harus memperjelas urusanmu dengannya. Posisi kita saat ini jelas banyak sorotan. Youngjae cuman anak sekolahan biasa yang menyoraki kita dari kejauhan. Ia hanya berteman dengan teman-teman sepantarnya.
Jangan buat aku menyuruh Youngjae yang menjauh darimu agar mencegahnya terkena impas yang tidak seharusnya."
Daehyun kalah. Ia memejam mata erat, mencoba cari jawaban yang dia tutup-tutupi dalam otaknya.
"Biar kubantu,
Kau pasti suka anak itu? Suka seperti 'cinta'?"
Daehyun balas tatap Diana.
"Masih saja kau pusing dengan masalah seperti ini. Kalau bilang suka, ya bilang suka. Be Straightforward. Jangan sok-sok cari alasan." Diana menyilang tangan. "Gara-gara kau kebanyakan acting, banyak yang salah paham. Banyak yang termakan jampi-jampi manismu itu. Lihat, kau jadi kena skandal. Kau menciptakan lebih banyak antis. Maunya apa sih?"
"Aku tidak sebaik Yongguk, atau sefrontal kau, Diana."
Diana menghela nafas lagi. Ia seperti sedang berdebat dengan sisi lain Daehyun daripada orang di hadapannya ini.
"Ini bukan masalah baik atau frontalnya.
Tsk, inilah kenapa tante Jung selalu memarahimu." Diana merogoh sesuatu dari kantungnya. Ia mengulurkan barang di tangannya pada Daehyun.
"Ini liontinmu. Berikan ini pada Youngjae jika kau benar menyukainya."
"Eh?" Daehyun lihat kalung liontin di genggamannya.
"Jangan bilang kau amnesia? Kau masih ingat kan pesan Tante Jung sebelum beliau meninggal?
'Kalau kau menemukan seseorang yang bisa mengganti peran beliau untukmu, berikan kalung ini. Anggap saja sebagai restunya untuk kalian'."
Daehyun tak henti mengamati kalung itu. "Eum... soal itu." Ia lalu balas pandang Diana. "Darimana kau dapatkan ini?"
"Dorm mu, adalah dormku juga untuk sementara , Pacarku sayang~" Diana kemudian beranjak. Ia sepertinya sudah selesai dengan kewajibannya. "Sebentar lagi manajer Dongwook datang, orang tuamu juga akan datang dari Busan. Titipkan salamku pada mereka. Aku harus kejar press conf siang ini."
Daehyun melihat Diana yang akan pergi. Tapi, seperti ada sesuatu yang ingin ia tahan dari wanita itu.
"Tunggu."
Dicegah , Diana sontak mengurungkan perginya dahulu.
"Apakah Youngjae berbicara sesuatu sebelum ia pergi kemarin?"
Diana tersenyum.
"Ia bilang, ia ingin lihat comeback terbaru BA nanti harus berjalan sukses. Baru dia mau bertemu denganmu.
Makanya cepatlah sehat."
Daehyun tidak bisa menahan diri untuk tersenyum dengan pernyataan itu. Walaupun ia tidak tahu pernyataan itu benar atau tidak diucapkan Youngjae sendiri. Namun setidaknya bisa membuat Daehyun merasa lebih baik, sudah cukup.
"Hei," Diana menegur sebelum ia berlalu. "Kau pasti menyukai Youngjae, karena anak itu mirip dengan Tante Jung." Diana tersenyum simpul, kemudian Diana sudah meninggalkan ruangan sebelum Daehyun sempat membalas ucapannya.
"Ya, kurasa begitu.
Mereka sama-sama keras kepala." Ia mengenggam erat kalung liontin peninggalan ibunya, yang sudah lama ia simpan.
.
.
.
.
.
.
.
"Terima kasih. Datang kembali, ya~"
Senyum Himchan sontak meluluhkan pelanggan wanita yang baru dilayaninya. Bisikan-bisikan bahagia mereka langsungkan sambil berjalan menuju bangku mereka dengan membicarakan sikap manis Himchan.
"Aih.. senangnya punya muka tampan sepertimu."
Hyunsik, senior sekaligus partner kerja di Café tempat kerja Himchan tampaknya cuman bisa berdiri lemas dengan gagang pel menopang dagunya.
"Tidak banyak gadis-gadis membisikkanku."
"Bukankah itu bagus jika tidak jadi pembicaraan orang, Hyung?"
"Apanya yang bagus? Kalau dibicarakan 'ih tampan sekali', 'ih manis sekali', 'ih baik sekali', juga siapa yang gak mau?"
Himchan cuman tertawa. Ia bisa memaklumi bahwa Hyunsik punya minat tersendiri untuk mencari jodoh karena sudah single cukup lama di usianya yang menginjak 25an. Sama saja seperti kakaknya yang juga partner kerja Himchan di bar , tapi masih single di usia 30an.
"Kalau kau sudah lulus nanti, kau sudah ada rencana masa depanmu? Mau kuliah, atau kerja tetap?"
Himchan cuman menghela nafas.
"Aku sebenarnya masih ingin meneruskan ke jenjang kuliah. Tapi aku juga perlu kerja untuk membiayai kebutuhan sehari-hari." Ucap nya dengan ekspresi yang agak sedih. "Aku berharap yang terbaik saja."
"Kau tak mau kerja jadi artis saja? Artis kan juga masih punya waktu untuk kuliah, setauku malah bisa dibiayai. Lumayan loh, untuk wajah manis sepertimu jadi bintang iklan pun juga laku."
"Hahaha... Ibuku mungkin tidak suka itu."
"Eh?" Hyunsik pun menebar tatap bingung.
"Ibuku menolak keras kalau aku terjun ke dunia entertainment. Makanya di rumah, TV ataupun HP saja tidak punya. Mungkin aku juga ketinggalan jaman, tidak tahu artis-artis saat ini."
"Wah, bertolak belakang sekali ya berarti dengan sahabatmu yang penggila boyband itu, siapa namanya.. Sampai bisa ketemu idolanya disini."
"Hah...siapa?" Himchan sekarang yang bingung. Ia tahu siapa yang dimaksud, tapi ia tidak tahu soal insiden hebohnya Daehyun ketika datang ke café untuk bertemu Youngjae secara empat mata. Waktu itu Himchan sakit, dan sedang tidak bekerja.
Sebelum Hyunsik sempat untuk membahasnya, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam café itu. Mereka pun siap dengan posisi masing-masing seperti sebelumnya.
"Selamat si—eh?"
Seorang pria masuk dengan setelan santainya,
Dan seperti biasa... dengan kacamata gelapnya.
"Yong—Jongdae-ssi?"
Hyunsik amati curiga dua orang di hadapannya. Himchan sejak kapan kenal pria mencurigakan ini? Penampilannya serba tertutup. Tapi tinggi, dan cukup gagah. Seperti artis-artis Kpop.
"Aku datang pas waktu istirahatmu. Iya kan?"
"Eh?" Himchan menatap Hyunsik dengan ragu-ragu. Apakah Hyunsik tidak berpikir lain tentang kedekatakn di antara keduanya, kan?
"Oh... benar Himchan. Ini sudah jam istirahat." Hyunsik sok tak peduli. Ia lebih suka untuk tidak ikut campur dulu , karena keberadaan pria itu malam semakin memojokkannya.
"Eum.. baiklah. Aku jalan-jalan keluar sebentar ya, Hyung." Kemudian Himchan melepas celemeknya, dan mengikuti Jongdae keluar café.
Hyunsik yang dari tadi cuman sibuk berdiam diri , akhirnya menyerah dengan melanjutkan kegiatannya. Daripada suntuk sendirian dengan bosan, "Kenapa semua orang cepat punya pasangan, sedangkan aku belum." Ucapnya miris, sambil lanjut menggesek lantai dengan pelnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku minta maaf sudah menganggu pekerjaanmu."
Himchan hanya menggeleng. Ia memaklumi. "Tidak apa, Yongguk-ssi. Aku justru berterima kasih karena Yongguk-ssi yang sibuk masih sempat waktu mengunjungi tempat kerjaku."
"Ya, aku senang kau memberitahukan tempat kerjamu yang lain selain di bar. Kau bekerja sangat keras." Yongguk kemudian meraih tangan Himchan, mengenggamnya erat. Himchan sontak kaget.
"Tenang saja, tak ada siapapun." Ucap Yongguk menenangkan pemuda manis di sampingnya. Perjalanan mereka memang hanya diisi berdua saja, menelusuri taman terdekat , hanya beberapa saat dari café. Waktu mereka memang disayangkan hanya bisa dihabiskan dengan berjalan-jalan singkat seperti ini.
Tapi berarti begitu besar untuk mereka.
"Bagaimana keadaan Daehyun-ssi?" Himchan memindahkan percakapan sehingga suasana tidak begitu awkward.
"Baik. Aku mendapatkan hubungan tadi, kalau Daehyun sudah sadar."
"Baguslah. Youngjae pasti lega."
"Bagaimana dengan Youngjae? Apa dia sudah lebih baik dari kemarin?"
Himchan mengangguk. "Youngjae baik-baik saja. Kemarin ia sempat drop, tapi setelah bertemu Daehyun langsung ia sudah lebih lega. Hari ini ia ikut bimbingan belajar untuk persiapan ujian akhir minggu depan. Anak-anak sekolah sekarang sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir."
"Bagaimana dengan kau? Kau tidak ikut bimbingan belajar?"
Himchan hanya tersenyum kecil. "Aku tidak punya uang untuk ikut bimbingan belajar. Tapi aku belajar di rumah itu sudah cukup." Ia memandangi wajah Yongguk sambil tersenyum lebar. "Doakan aku semoga sukses ujiannya ya, Yongguk-ssi!"
Yongguk yang gemas dengan ekspresi imut Himchan, langsung mendekap wajahnya. Mendekatkan kedua wajah mereka hingga hampir menempel. Untung saja pendekatan intens itu , tidak dilihat siapa-siapa.
"Pasti. Aku akan kasih hadiah, kalau kau lulus dengan hasil memuaskan." Ucap Yongguk sambil mencium kening Himchan.
Himchan hanya tertawa dengan senang karena dimanjakan oleh Yongguk. Yang kemudian keduanya harus menyudahi perjalanan mereka, dan meninggalkan taman itu.
Walaupun hanya 30 menit saja, Yongguk dan Himchan sudah bahagia bisa menghabiskan waktu. Semoga waktu mereka semakin lama semakin longgar untuk bersama...
Mungkin, untuk suatu hari nanti...
.
.
.
.
.
.
.
.
Tok Tok Tok
"Masuk"
Seseorang masuk ke dalam ruangan kerja tersebut. Ia dengan tidak takut (tidak seperti yang lainnya) menghadapi seorang pria dengan wajah kusut di tempat duduk kebesarannya. Wajahnya santai, tapi agak dingin.
"Kau memintaku untuk ini kan?" ucapnya to the point di depan pria itu. Lalu melempar beberapa lembar kertas foto ke atas meja pria itu tanpa bermaksud angkuh.
Hanya kesal saja.
Pria itu cepat melihat satu-satu foto tersebut. 3 foto dengan 1 pemuda manis di dalamnya, dan sisanya kebersamannya dengan orang lain yang penampilannya mirip seseorang.
"Aku rasa puteramu sendiri sudah membuat karma terbesar untukmu." Ucap pemuda itu yang penampilannya bak wartawan infotaiment. "Bagaimana menurutmu.."
"Brengsek." Pria berwibawa itu menjatuhkan kewibawaannya dengan melempar kasar foto itu ke lantai, menyepelekan kerja keras pemuda yang diundangnya datang. "Ternyata firasatku benar.."
Pemuda itu menghela nafas, sambil memungut foto-foto yang berhasil dipotretnya. "Sekarang kau mau apa? Mundur saja mengekang puteramu? Kau lihat, puteramu bahagia dengan pemuda manis ini."
"TENTU SAJA TIDAK! Dia artis! Mana mungkin menjalin hubungan terlarang dengan anak itu!
Terlebih lagi, DIA ANAK KANDUNG HAYEON!"
Yongin langsung menegak cepat wine nya. Mengusir stress di kepalanya.
"Lalu kau mau apa? Mencelakakan anaknya?" Pemuda itu berdecak. Ia cukup sabar dengan sikap keras kepala Yongin. Ia yakin, Yongin sekarang sudah menyerah, daripada memilih berbuat nekat.
"Ya. Aku akan mencelakakan anaknya..."
"HAH!?" Pemuda itu sampai menghentikan aksi memungutnya. Ia memandang Yongin dengan tatap horror. Ia tak percaya ucapannya ditanggap serius. "YONGIN! KAU GILA!?"
"Siapapun yang menghalangiku mendekati Hayeon, akan merasakan hal yang sama seperti Jinwoo."
Manik pemuda itu bergetar ketakutan. Seperti dirinya berhadapan langsung dengan psikopat mematikan yang tidak bisa ia hentikan sekalipun ia cegah hingga mulutnya berbusa.
"Yongin. Kumohon, bisakah kau hentikan kegilaanmu ini?"
"Lee Junki. Sudah berapa lama kupercayakan kau terlibat dalam hal ini? Tapi kau masih bekerja sama denganku hingga sekarang. Kau mau semuanya dihentikan begitu saja, dan kau dijebloskan ke penjara?"
Junki mengatup mulutnya. Terdiam. Jika sudah diancam begitu, ia tidak sanggup melawan.
"Lagipula, gara-gara anak itu, Hayeon meninggalkanku selama 17 tahun." Ia mengigit kukunya, tanda-tanda biasa jika ia sedang was-was. "Bahkan aku dicampakkan selama 2 tahun karena si brengsek Jinwoo. Ayah dan anak sama saja, maka harus kukacaukan mereka."
Junki menegak air ludahnya. Ia hanya bisa menunduk sesal.
"Yongin, obsesimu itu sudah kelewat batas.
Pantas saja istrimu tewas, dan anakmu tidak bisa menganggap lagi kau seperti ayahnya sendiri..."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
maaf atas typo2nya :) semoga masih bisa dinikmati ceritanya~
Sebagai janji, comment kalian yang menyamangatiku membuatku mempercepat updatenya :'D Thank youuu~
Bonus :
(gambaran Hayeon, Himchan(bayi), Jinwoo) ada di wattpadku : MiramenMiramen, sekali2 main main kesana :D
Kim Jinwoo (inspirasi : Park Ju Young) : suami dari Kim Hayeon. Meninggal karena kecelakaan setahun setelah Himchan dilahirkan. Dahulu dia adalah seorang model di perusahaan Yongin sebelum berubah menjadi agensi idol.
Kim Hayeon (inspirasi : Kim Hee Sun) : Ibu kandung Kim Himchan. Parasnya tetap cantik di usianya yang sudah berkepala empat. Hayeon kehilangan kemampuan berjalannya sejak ia masih muda karena kecelakaan. Setelah melahirkan Himchan, kakinya dinyatakan lumpuh total. Ia adalah istri dari Kim Jinwoo. Juga, mantan kekasih Bang Yongin.
