My Idol, My Boyfriend
Himkyu's Present
BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo
Genre : Romance Comedy
Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
Ketukan kapur di atas papan tulis , tak mampu membuat konsentrasi Youngjae berpusat ke materi yang berlangsung. Kepalanya mumet , banyak memikirkan perihal keadaan laki-laki idola banyak orang yang tersungkur di atas ranjang rumah sakit sejak beberapa hari lalu. Beberapa hari ini dirinya menjauhi berita-berita yang mengabarkan laki-laki itu. Bahkan Youngjae pantang sebut namanya, dan grup nya. Ia mencoba melewati masa-masa denial yang menjadi harapan terakhirnya menyembuhkan rasa kecewa itu.
"Hei, Younjae."
Gebrakan bersuara rendah dari lipatan buku Jaebum, berhasil membuyarkan lamunannya. Ia ingat lagi bahwa ia sedang tidak sendiri memenuhi kewajiban bimbingan belajar yang diikutinya. Jaebum mendampinginya setiap waktu untuk bimbel sebelum ujian terakhir, karena mereka berdua sama-sama hopeless jika menghadapinya tanpa persiapan.
Walaupun Jaebum sempat kesal, karena Youngjae bukan tipe 'bodoh' seperti dirinya...Kenapa harus belajar lagi?
"Dari kemarin kau melamun terus. Sakit aja enggak, merhatiin belajar aja enggak. Kau mau pamer tanpa belajar bisa dapat nilai 100 di ujian akhir nanti?"
Youngjae mendesah, ia menegapkan kembali duduknya. Ia akan memperhatikan lebih baik lagi. "Kau bahkan lebih galak dari kakak yang mengajar itu"
"Ssstt, nanti kedengeran! Dasar." Jaebum kemudian memperhatikan kembali pada ajaran selanjutnya saat kakak pembimbing memberitahukan tentang perhitungan logaritma, kelemahannya.
"Setelah konser, aku tidak dapat kabar apapun tentangmu. Tahu-tahu, kabar Daehyun yang ditusuk pun keluar," Jaebum rupanya tidak bisa menahan diri untuk mengusik pelajaran kembali. Ia tidak melirik, hanya mengajak bicara dengan pandangan menempel pada papan tulis.
"Kenapa? Kau mencemaskanku kena tusuk juga?"
"Tidak. Aku khawatir , kau yang menusuknya," Jaebum terdengar meledek, "Kau ini kan fans yang super duper gila dan menakutkan."
"Hei, aku tidak sejahat itu!"
"JAEBUM, YOUNGJAE!"
Kakak pembimbing yang memergoki keduanya, menghunus pandang cukup sebal pada keduanya. Mereka kelabakan dan menunduk takut.
"Jika kalian masih ingin berbicara selain pelajaran, silahkan obrolkan di luar!"
Jaebum dan Youngjae tak berani menantang, dan hanya menggeleng kepala ketakutan. Meskipun kakak pembimbing mereka masih muda , tapi gadis berumur sekitar 20-an di hadapan mereka punya aura membunuh seperti Kakak Jaebum.
Ya, Jaebum seringkali mengeluh demikian.
"Ia semakin mirip dengan Jaesung noona," lagi-lagi Jaebum mengeluh hal yang sama. Setiap waktu, setiap bertemu beliau.
"Bukankah beberapa hari ini kau bilang Jaesung noona sedang melunak? Kau tahu alasannya?" Youngjae mengubah topik. Jaebum ikut bermain dalam percakapan yang membuatnya turun mood seketika.
"Aku tidak peduli! Mau marah, mau baik, Jaesung noona akan selalu seram di mataku.
Jangan ajak bicara , aku sedang konsen!"
Youngjae hanya tergelak senang setelah menggodai Jaebum yang berpura-pura menggores tinta di kertas yang kosong.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kling Klang
"Selamat Siang-eh? Youngjae?"
Sudah hampir 1 minggu lamanya Youngjae tidak berkunjung ke café menemui Himchan. Ia rindu dengan harum-harum kopi dan tanaman matahari yang sengaja menghiasi pot setiap ujung café, biar suasana musim panas semakin terasa. Konsep café ini selalu berbeda setiap musimnya.
"Mau milkshake, chan." Youngjae duduk di bangku putar, tepat di hadapan Himchan bekerja membuat minumannya. Saat ini , Hyunsik hyung yang menjaga kasir, sementara Himchan yang melayani tamu-tamunya dengan senyuman dan ekspresi yang cerah.
Tapi lebih cerah daripada sebelumnya...
Youngjae menopang dagu, matanya menjilat sekujur ekspresi yang terbaca. Senyumnya, kekehannya, semburat merahnya yang cantik... Himchan terlihat seperti orang lain, atau 1 minggu ini Youngjae melewatkan sesuatu?
"Himchan, kau kenapa terlihat senang begitu?"
"Eh?" Himchan mendekap wajahnya untuk memastikan. Ia merasa dirinya baik-baik saja.
"Aku merasa bahwa kau seolah dapat hadiah istimewa dari seseorang, yang membuatmu sebahagia ini," mata Youngjae menyipit, "Kau sudah jadian dengan Yongguk?"
"A-ah! Ti-tidak!" Himchan menggeleng cepat, padahal semburat merahnya semakin kentara. "Kami hanya berteman, itu saja."
Youngjae cukup beruntung menggodai Himchan, dan membuat dirinya langsung bekerja 2x lebih cepat. Tahu-tahu minumannya tersedia tanpa hitungan 5 menit.
Pasti salah tingkah...
Youngjae mengutuk diri karena mempertanyakan hal demikian, pasalnya dirinya pun sedang dibuat kecewa dengan sosok Daehyun dan kebodohannya. Ia masih dihantui rasa-rasa itu cukup lama hingga seminggu, dan masih belum sembuh juga. Sedangkan di hadapannya, sahabatnya menyembur benih-benih cinta yang terlalu indah dan memuakkan.
Youngjae menyeruput milkshake nya terlalu cepat hingga setengah gelas sudah kosong.
Kling Klang
Sepertinya Youngjae tidak akan sendiri menghadiahi hari-hari nya dengan suasana suntuk..
Dilihatnya seorang anak muda (dengan 1 pria yang berpakaian jas rapih) berjalan menghampiri counter yang sama dengan suasana wajah yang kurang senang. Youngjae melongok, karena kehadiran pemuda itu tidak lebih dari 10 kali ke café tempat Himchan bekerja. Atau merekanya saja yang jarang berpapasan bertemu.
Junhong menduduki bangku di sebelah Youngjae (yang masih melongok), lelaki berjas rapih itu memilih mengambil bangku lain yang jaraknya agak jauh, dan Himchan di hadapan mereka dengan tatapan bingung. Kenapa dua sahabatnya kelihatan menyedihkan begini?
"Junhong, mau hyung buatkan teh?"
Junhong ngangguk, bibirnya manyun sendiri. Jadi kelihatan imut, "Matcha kalau ada, Hyung."
Himchan terkekeh lihat wajah ngambek Junhong yang terlihat menggemaskan. Ia kemudian mengambil alih dapurnya lagi tanpa gangguan.
"Kok sedih gitu mukanya? Aku tidak dengar kabarmu semenjak konser, tahu-tahu ngilang."
"Hyung juga. Jaebum tanya aku lewat telepon rumah karena khawatir dengan ekspresi sedihnya, Hyung. Kenapa?"
Youngjae bersumpah akan menusuk balpoin ke pantat Jaebum kalau sampai ia umbar masalah 'kegalauannya' ke semua orang..
"Bukan apa-apa."
"Ya udah, bukan apa-apa juga dariku."
Kemudian seruputan sebal Youngjae semakin mengudara, yang kemudian diinterupsi dengan kehadiran Himchan dan matcha tehnya ke hadapan Junhong.
"Kalian ini kenapa sih, kok mukanya cemberut aja dari tadi. Kalau ada masalah, ya saling bicarakan," Himchan melipat tangan. Wajahnya berubah masam seperti ibu yang memarahi putera-puteranya. Dan hal ini jarang dilakukan Himchan, yang membuat kedua anak muda itu merutuk. "Kalian tidak ingat sebelumnya berjanji tidak akan menyembunyikan rahasia apapun lagi?!"
Youngjae dan Junhong masih saja terdiam. Sepertinya ingatan mereka disumbat , atau masalah ini terlalu serius untuk diumbar. Himchan hanya bisa menghela nafas.
"Kalian tegang sekali. Aura kalian sampai kerasa dari radius tempatku berdiri barusan," Hyunsik akhirnya bergabung. Ia memperhatikan 3 orang yang berteman dekat itu dengan tatapan sama menelisiknya.
"Aku tidak tahu, Hyung. Menghadapi mereka membuatku rada kecapekan,"
Hyunsik hanya tertawa. Ia memberikan tepukan di punggung Himchan sebagai penyalur semangat. "Kalian hanya terlalu stress dengan persiapan ujian akhir, kan? Sudahlah, kalian ambil waktu liburan saja. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang."
Youngjae mulai meloncat, ia berurat lega. Wajahnya semakin cerah, "Aku setuju! Ayo kita ke Jeju!"
Youngjae memang tidak bisa melepas kesuka citaannya jika sudah diingatkan dengan liburan. Apalagi semenjak masa-masa sekolah dan waktu untuk fanboyingnya dikuras, waktu berliburnya jadi disia-siakan. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Lagipula, ia ingin cari jalan alternative lain untuk melupakan patah hatinya.
"Eum, aku sih oke saja." Himchan mengangguk, walau agak ragu. Ia memperhatikan Hyunsik untuk memastikan, bahwa keputusannya tidak salah.
"Jeju?" Junhong langsung melotot ke Youngjae, "Apa-apaan ini? Pasti sengaja kan ambil destinasi sendiri karena aku punya villa disana?!"
Youngjae , Himchan , bahkan Hyunsik sampai terbelakak kaget. Respon di luar ekspektasi Junhong.
"Aku gak tahu kamu punya Villa," dan beberapa saat kemudian Junhong menyesali ucapannya, "Tapi karena kau punya, ya sewakan untuk 2 hari 1 malam, lah!"
"Kau baru saja buat suasanaku semakin kacau, ugh!" Junhong menepis rangkulan Youngjae. Tapi ia tidak bisa melarikan diri lagi, karena ia mendapati wajah Himchan yang terlihat memohon (walaupun tidak ada niat itu sama sekali, wajahnya Himchan saja yang memang selalu begitu).
"Baiklah..."
"YEY! Aku jadi lebih semangat, kan!" Youngjae melompat kegirangan, sampai jadi pusat perhatian orang-orang. Ia terlalu rindu dengan kesejukan Jeju , dan minum milkshake di musim panas yang sejuk disana. "Aku akan ajak Jaebum. Gak enak kalau cuman bertiga." Ia mengeluarkan HP nya untuk memberi informasi bagus ini.
"A-aku akan ajak Hoseok Hyung!" tidak mau kalah, Junhong merasa harus mengajak senior akrabnya itu ikut serta. "Himchan hyung juga harus ajak 1 temannya!"
"A-aku tak tahu, eummm.." Himchan melirik pada Hyunsik. Tentu saja yang dilirik sadar ia sedang diperhatikan, "kurasa seseorang yang memberikan ide pun berhak diajak."
"Eh, aku?"
Himchan mengangguk.
"Eum, ya tak apa. Jadinya orang dewasa ada yang menjagai kita," Youngjae memojokkan Hyunsik, tanpa mengalih pandang dari line nya bersama Jaebum.
"Aku tidak setua itu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pekarangan rumah mewah berbentuk kastil tua itu, jadi tempat yang sangat pas untuk pemotretan album BA selanjutnya. Ya, dengan suasana ramah penghijauan, taman yang masih dirawat indah , dan kursi-kursi berukir cantik yang dipasang di geraian karpet hijau dedaunan , bahkan kenaan jas putih oleh masing-masing member. Menjadikan suasana fairy tailbegitu terasa.
Yongguk dan Jongup berpose seakan pangeran yang memiliki kastil itu , menyambut putri manapun menghampiri mereka.
"Oke semuanya! Boleh istirahat!" Fotografer yang begitu sibuk, memberikan perintah. Yongguk langsung melempar diri di bangku istirahat yang dipersiapkan para asisten. Tidak lupa meneguk minuman energi yang sudah disuguhkan di meja sampingnya. Pemotretan musim panas, membuatnya cukup gerah.
Yongguk seketika meraih HP, mengusap monitor untuk memperlihatkannya obat istirahat yang mujarab. Foto selfie bersama Himchan yang ia jadikan wallpaper selalu berhasil membuatnya tersenyum pias. Himchan cantik bukan kepalang di matanya. Ia sangat merindukan senyum dan lekuk pipinya yang berisi namun menggemaskan. Ia rindu semuanya.
Ia ingin mengecupnya, menggerai ciuman banyak di setiap centi wajah itu hingga ke leher. Jangan salahkan dirinya apabila rasa rindu ini membuat dirinya mengalah dengan fantasi nakal terhadap seorang anak muda yang masih berada di bangku SMA.
Sayang sekali, ia terpaksa memotong pertemuannya dikarenakan jadwal sibuk yang tiba-tiba datang. Ia kira saat rehatnya Daehyun, masa istirahatnya juga diperpanjang. Tapi ayahnya jauh lebih sadis dari kebanyakan CEO yang ia kira.
'Masalah Daehyun, tidak bisa merusak rencana persiapan kalian ini!'
"UWA, panass!" Jongup melempar diri di bangku samping Yongguk tanpa peringatan. Yongguk hampir saja menjatuhkan HP nya saking terkejut. "Aku tidak tahu pemotretannya sampai tengah hari begini"
"Keluhkan itu pada ayahku yang membuat rencana segila ini," Yongguk kembali meneguk minumannya. Jongup menggeleng.
"Kau tahu sendiri, betapa menyeramkan tuan besar Bang alias ayahmu itu. Aku tidak mau kena sembur marah beliau. Anaknya saja tidak berani melawan,"
"Heh? Apa katamu!?"
Jongup langsung mengekeh karena tidak ingin perkataannya malah jadi bumerang. Yongguk mudah sensitive jika disinggung soal ayahnya yang begitu buas.
Tap Tap
"YONGGUKKIE 3"
Yongguk hampir saja tersedak dengan air nya, bahkan Jongup. Mereka berdua kaget melihat seorang gadis tiba-tiba merangkul leher Yongguk begitu saja.
"Oppa! Aku pulang!"
Yongguk bergegas menoleh, dan kaget bukan kepalang mendapati seorang gadis yang ketidakhadirannya dapat membuatnya tenang itu, muncul di depan mata. Ia sama sekali terlihat bahagia dan riang.
"Chung-Chungha!?" ia langsung melirik kanan-kiri, dan semua orang di lokasi pemotretan itu tidak bisa melepas perhatian. Mereka tertarik, bahkan beberapa mengambil gambar. Ini tidak sesuai dengan janji bahwa mereka harus 'menyimpan hubungan mereka baik-baik'.
"Aku pulang dari Jerman. Orang tuaku marah karena kau pulang tanpa pamitan pada mereka. Aku butuh beberapa minggu untuk membuat mereka tidak marah padamu, Oppa. Bagaimana pun aku tidak ingin pernikahan kita batal."
Ucapannya tidak dengan nada yang berbisik, membuat orang-orang dari jarak sedikit saja langsung bisa dengar. Entah disengaja atau tidak, Yongguk tak mampu menolelir. Ia menarik tangan Chungha, membawa gadis itu ke tempat yang tersembunyi.
Berhentilah mereka di belakang mobil pembawa barang yang terparkir.
"Apa yang kau lakukan!? Kenapa datang ke lokasi ini!? Banyak orang disini!"
"Ya, aku tahu. Makanya aku langsung mampir," Chungha kelihatan senang dan tidak memperlakukan omongan Yongguk sebagai sesuatu yang sangat serius.
"Bukan itu maksudku. Hubungan kita ini kan masih rahasia, kenapa begitu saja mengumbar begitu?!"
"Aku tentu ingin mengumbar kalau kita sudah bertunangan. Janji kita kan , semua orang akan tahu jika kita sudah bertunangan. Dan itu sudah terjadi, maka aku tidak salah memberitahukan semua pihak,"
"Apa sih maksudmu!?" ucap Yongguk tertekan.
"Maksudku adalah," Chungha dengan lagak congkaknya, mengumbar pakaian cincin di jari manisnya. Cincin bulat perak melingkar di jari itu, membuat mata Yongguk beberapa saat tercuri perhatiannya. "Bukankah kau meninggalkan cincin cantik ini sebagai hadiah pertunangan kita?"
Yongguk menerka. Ia tidak merasa membelikan apapun untuk gadis ini, bahkan tiada sudi. Ia mau saja mengeluarkan uang jika gadis itu menginginkan pakaian mahal, tas cantik berjuta-juta, jika memang seorang gadis materialistis sepertinya memaksa. Tapi untuk sebuah cincin yang memiliki nilai sakral, ia tidak akan sudi membelikannya.
Tunggu
"Cincin ini bukan milikmu, kan!?" tangan Chungha diambil paksa. Yongguk ingin lihat lebih dekat corak cincin itu yang baru saja ia ingat. "Ini bukan milikmu!"
"Apa-apaan sih!? Jelas-jelas kau taruh di kasur untuk diberikan padaku!" Chungha memaksa ingin menarik kembali tangannya yang dipegang erat Yongguk. Tapi Yongguk tidak mau melepasnya.
"Tidak, ini bukan milikmu! Kembalikan!" suara Yongguk meninggi. Ia seperti mengamuk, dengan memaksa mencopotkan cincin itu dari jari manis Chungha, sekalipun agak kesulitan. Sepertinya sedikit menyangkut di jarinya, dan Yongguk malah tidak peduli jika harus menggoreskan luka di jari manis gadis itu.
Cincin itu hanya milik Himchan!
"Aaa! Sakit Yongguk Oppa! Aku tidak mau melepasnya!" sama-sama memberontak, membuat Yongguk semakin kalap. Dengan tidak sengaja, tangannya melayang kuat menjadi sebuah tamparan di pipi Chungha hingga gadis itu terjatuh ke tanah.
Yongguk menghentikan perlakuannya. Badannya membatu, tidak menyangka ia berbuat sangat kasar pada gadis itu.
Sialnya, 2 orang pengangkut tiang kamera, melihat kejadian tersebut.
"Astaga!" Mereka tidak konsen untuk melanjutkan kegiatan, dan memilih menyelamatkan Chungha yang meringis kesakitan. Tangan gadis itu terlepas dari membekap pipinya yang terluka. Pipi kanannya terdapat luka panjang berdarah. Merusak atensi kecantikannya sebagai asset utama seorang model.
"Da-darah!?" Chungha dan 2 orang penyelamatnya memandang noda merah di tangan gadis itu dengan tatap terkejut. "HEI! YONGGUK MELUKAI CHUNGHA!" dan salah satunya tersulut emosi untuk membawa massa.
Kejadian itu berubah jadi tontonan yang tak terabaikan. Orang-orang tak diundang jadi berkumpul. Semua tatap marah menunjuk pada Yongguk. Pria itu terpojok, ia akhirnya ketakutan.
"Yongguk!" Jongup dan Manajer Dongwook datang di saat yang tepat sebelum massa siap-siap menghabisi Yongguk. Manajer meminta Jongup menuntun Yongguk ke dalam mobil.
"Maafkan kami! Maafkan Yongguk!" sementara Dongwook harus melakukan tugasnya, menenangkan massa yang siap-siap menghakimi anak asuhannya.
"Yongguk itu kasar sekali pada perempuan!"
"Tidak punya hati!"
"Ia merasa idola paling dicintai , hingga berbuat seenaknya saja!"
Semua sorakan , penghinaan, tiada habisnya. Manajer Dongwook berulang kali meminta maaf. Ia harus segera membawa Yongguk pergi sebelum mereka berubah pikiran untuk mengamuk lebih parah lagi.
Perjalanan pun dilangsungkan. Manajer Dongwook yang membawa mobil tidak bisa berhenti berceloteh dan marah-marah setelah mendapati anak asuhannya yang satu lagi membuat masalah.
"Kau tahu kan berapa banyak orang yang harus kuhadapi untuk kasus Daehyun kemarin! Sekarang aku dipersulit dengan kelakuanmu yang sembarangan, Bang Yongguk!"
Jongup yang duduk di samping Yongguk, hanya bisa menatap malang lelaki itu. Ia tidak percaya leader nya yang terlihat lebih kuat di antara mereka, terlanjur terpuruk.
"Besok pasti beritamu akan bermunculan! Aku harus melayani telepon-telepon wartawan yang meminta penjelasan darimu!"
"Hyung sudahlah. Beri waktu Yongguk untuk tenang dulu." Jongup menawar. Tapi Dongwook terlalu sulit untuk berlaku lebih ramah lagi.
"Aku tidak akan memaafkan kali ini. Aku hanya ingin kalian melakukan yang terbaik, bukan untuk terlibat lebih banyak masalah."
Yongguk yang tidak bisa konsentrasi , ia tidak bisa menelan semuanya dalam ketenangan. Pikirannya buyar dengan rasa-rasa terancam karena perbuatannya yang begitu bodoh. Ia membayangkan begitu banyak penuntutan.
Dengan HP di genggamannya, ia erat pegang.
Bayangan wallpaper di HP nya, jadi obat penenang saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Deretan penjaja makanan sudah menawarkan dagangan mereka. Seorang pemuda dengan wanita menawan di kursi roda, berkali-kali terusik dengan banyaknya selasaran dagangan yang menggugah selera. Niat awalnya mereka ingin membeli daging bersama , tapi rupanya pegangan tangan mereka bertambah dengan buku-buku, dan kebutuhan seperti kemoceng juga cairan pel sebagai pasokan.
"Eum, Ibu." Himchan menghentikan dorongannya setelah matanya tertarik melirik suatu resto cepat saji. Sedang tidak ramai karena baru saja dibuka. "Mau makan di resto itu, gak? Himchan yang traktir,"
Semula wanita itu cukup terhenyak dengan tawaran puteranya. Ia kurang yakin , karena mereka mengeluarkan cukup banyak biaya untuk belanja pagi yang tak biasa hari ini. Namun Himchan yang begitu antusias dan merasa tidak keberatan, membuatnya mengurung untuk menolak.
"Aku udah lama gak kencan sama Ibu," senyum merekah puteranya, mengingatkannya pada mendiang suami. Wanita itu menahan air mata, yang kemudian di tepis dengan anggukan setuju.
Mereka duduk lebih suka dekat kaca. Matahari belum panas saat ini, justru terlihat cerah dan indah menggambarkan keramaian pagi. Himchan berkali-kali membuat ibunya tertawa dengan pembicaraan sederhana. Soal sekolah, teman-teman, bahkan partner kerja se-Café dan di barnya yang merupakan saudara kandung.
"Ibu merasa menyesal karena kau harus mempergunakan uang gajimu untuk makan-makan disini," senyum Ibunya mengerut. Himchan tergelak sedikit.
"Gajiku tentu sebagian ditabung, dan untuk Ibu. Jadi menurutku itu kewajibanku untuk membuat Ibu senang juga,"
Ibunya kemudian terkekeh, mengelap pipi cantik Puteranya yang merekah tidak seperti biasa. Anaknya terlihat lebih senang dan bahagia seolah sesuatu yang menyenangkan baru saja didapatkannya. Namun , beliau tak mau bertanya lebih banyak.
"Seandainya kau sudah punya istri, rasa keberatan ini setidaknya bisa sedikit berkurang. Ibu tak mau terus merepotkanmu,"
Himchan tercenung. Ia tidak bisa berkata apapun dengan topik yang dibicarakan Ibunya barusan. Seorang istri, yang berarti memberi kode Himchan membuat komitmen dengan orang lain yang belum ditakdirkan bersamanya. Sedangkan seorang lelaki terlanjur mencuri hatinya, dan sekarang tinggal berharap takdir di antara mereka tidak dipatahkan oleh hal semu apapun.
Himchan meneguk ludah tak nyaman. Kemudian menyungging senyum lagi.
"Ibu, besok aku boleh ke Jeju bareng Youngjae , Junhong, dan teman-teman SMA ku yang lain?" Himchan pun mengganti topik secepatnya. Hayeon mendesah kecil dengan cukup resah.
Sebenarnya, melepas Himchan pergi-pergi jauh adalah keputusan yang cukup berat. Ia hidup sendiri, dan terus merasa kesepian. Tapi rasa itu berusaha ditepisnya. Bagaimana pun puteranya tumbuh dewasa untuk menjadi mandiri. Ia harus terbiasa dengan hal itu.
"Tentu saja boleh. Berapa lama?"
"2 hari, 1 malam. Lusa sore aku sudah pulang. Aku gak tega ninggalin Ibu lama-lama juga."
Ibunya Himchan tertawa. Ia menepuk-nepuk pundak puteranya. "Tidak apa. Kalian pasti gak mau stress gara-gara teringat ujian akhir? Tenangkan diri kalian lebih lama biar ujian nya lancar."
"Ibu yang terbaik!" Himchan mencium tangan ibunya seperti seorang kekasih tercinta. Itu hal yang biasa dilakukannya untuk menyalurkan rasa cinta pada sang Ibu. "Aku akan melakukan terbaik untuk membuat Ibu bangga."
Ibunya tersenyum. Melanjutkan candaan-candaan tertunda karena percakapan tadi.
Yang tak disadari, TV resto tersebut tengah menayangkan berita kecelakaan Chungha karena seorang idola ternama, Bang Yongguk.
.
.
.
.
.
.
.
"AAAAA! OPPA!"
Youngjae menjulur lidah untuk meledek sepupu perempuannya yang sedang asyik menonton tayangan favoritnya. Ia bahkan merebut snack yang dikonsumsi. Ia menguasai semuanya.
"Jam segini belum berangkat sekolah, gimana sih? Malah makan dan nonton,"
"Ih! Aku kan masuknya siangan, lagi ujian!"
"Ya udah belajar, dong." Youngjae menggodai dengan melahap banyak kripik kentang ke mulutnya. "2 jam itu berharga."
"Gak perlu suruh aku. Aku udah belajar semalaman! Stress , capek. Jangan ganggu aku!" gadis itu ingin mengambil snack nya. Namun tangan panjang Youngjae menjauhkan snack dan gadis itu untuk bertemu.
"Aku jarang di rumah, sekarang mau nonton sekali-kali. Gak baik perempuan keseringan nonton. Harusnya kamu belajar masak, bersih-bersih rumah. Biar nanti jadi calon istri idaman."
"IH UMURKU MASIH 15 TAHUN!" gadis itu gondok, yang membuat dirinya mendengus dan mengalah. Ia kesal kalau harus menghabiskan tenaga untuk melawan sepupu menyebalkannya itu. Ia pun menghentak pergi ke tempat lain, dimana dirinya tidak perlu suntuk menghabiskan waktu dengan kakak sepupunya yang sering meledeknya.
"Gitu dong. Kan, enak." Youngjae duduk menyantai di sofa dengan mengangkat kaki , dan merebah lurus. Jarinya menekan tombol ganti remote tv berkali-kali untuk sampai ke channel kesukaannya. Ia malas meneruskan tontonan serupa kartun pagi khas anak-anak.
"Ah, enaknya kalau liburan terus."
Jejakan tombol remotenya tiba-tiba berhenti ketika sebuah tayangan infotaiment menayangkan rupa foto Yongguk berdampingan dengan sebuah foto gadis cantik , seorang model. Youngjae sampai melompat dari masa rebahannya. Mata nya tertuju seakan menghantam layar tv.
Berita itu cukup jelas menceritakan kronologis hubungan di antara sang Idola dengan gadis itu. Hubungan yang tertangkap basah. Yang membuat urat ubun Youngjae menegang.
Gambaran wajah Himchan yang cerah kemarin, menjadi alasan Youngjae memarahi sosok di depannya yang tak bisa digapai langsung. Ia mengatur nafas. Ia tak bisa langsung emosi, meskipun ia benar marah.
"Oppa! HP nya getar terus, tuh!" Sepupunya yang melapor , sekaligus melemparkan HP Youngjae ke pemiliknya. Ia mendapati hubungan telepon dari seorang wanita, tak lain tak bukan seorang fans yang sangat up to date meskipun di negara orang.
Tumben, menelpon. Ia sudah lama tak dapat kabar wanita itu sejak konser seminggu lalu.
Tebakannya benar tentang isi balasan yang begitu mendadak di pagi itu.
"Astaga Tuhan. Bang Yongguk!? Dia selama ini berkencan dengan seorang model!"
Youngjae mengepal tangan.
"Youngjae, kau tidak apa-apa , kan?"
Rasa kesetiannya terhadap Yongguk mungkin sudah agak runtuh semenjak berita itu muncul. Namun Youngjae sadar sudah melupakan Yongguk semenjak kejadian Daehyun.
Ia kemudian mengetik cepat untuk membalas. Tak enak jika dianggurkan. Sekalian biar jadi pelampiasan emosinya yang coba ia tahan.
"Biarkan saja, Kak. Aku tidak peduli lagi."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau sudah mempersiapkan semuanya?"
Himchan sibuk merapatkan resleting tas pakaiannya. Ia tidak membawa banyak barang, dan sudah memastikan bawaannya lengkap sejak kemarin. Jadi ia tidak terlalu khawatir.
"Aku akan bawa oleh-oleh buat Ibu." Pemuda itu menggenggam tangan ibunya dengan sayang. Mata mereka bertemu dengan tulus. "Ibu jaga diri baik-baik , ya. Aku sudah titip pesan ke Bibi Yan untuk sering mengunjungi Ibu."
"Tidak usah repot-repot. Ibu baik-baik saja," maka wanita itu memberikan kecupan di kedua pipi dan kening puteranya. Serupa melepas pergi suaminya setiap kali akan pergi kerja.
Himchan membawa tasnya keluar rumah, dan dilihatnya sebuah mobil telah terparkir. Mobil yang berbeda dan lebih besar. Pasti milik keluarga Junhong.
Tangan Jaebum sudah dadah-dadah menyapa Himchan dan ibunya.
"Aku pergi dulu," kini Himchan yang berganti mencium kening ibunya.
"Hati-hati," wanita itu pun melepas puteranya, sekaligus membalas dadahan Jaebum yang ia tahu sahabat dekat puteranya.
"Wah mobilnya luas , ya." Himchan masuk. Menduduki kursi tengah bersama Hyunsik.
Ia memperhatikan sekitarnya, dan tak sengaja bertemu pandang dengan Youngjae. Entah kenapa , cuman dia yang kelihatan tidak bersemangat. Padahal kemarin, dia sangat riang mengajak mereka.
"Kenapa, Youngjae?"
Mata Youngjae yang mengunci tatapan Himchan seolah mengkhawatirkan pemuda itu , kemudian terlepas. Ia hampir saja membuat Himchan menyadari kecemasannya.
"Tidak apa," ia tersenyum tidak enak.
Ia tidak enak melihat Himchan belum tahu soal berita Yongguk hingga saat ini.
Atau memang hanya dia yang tahu.
.
.
.
.
.
.
.
.
BRAK
"Apa-apaan ini!?"
Suara gebrakan itu berasal dari lemparan tabloid kea rah meja. Yongin murka kelewatan kepada puteranya yang masih menunduk menyesali perbuatan. Hatinya sama resah , tapi siapapun tidak mampu menyembuhkan keresahan itu.
"Ini yang kau lakukan mentang-mentang kamu di luar jangkauan pengawasanku!?"
Mata Yongguk tidak mau juga bertemu dengan Yongin. Pemuda itu saat ini tak mau menentang, karena kecerobohannya berhak di marahkan.
"Ini pasti karena hubunganmu dengan anak itu sampai kau jadi berbuat semaunya begini!"
Anak itu, menjadi tohokan keras bagi Yongguk. Lelaki itu menegapkan duduk, dan mau berpandangan dengan tatap menyalak Yongin padanya. Apa maksud dari 'anak itu'? Terdengar seperti menyinggung seseorang...
"Apa? Kau kaget dengan arah bicaraku saat ini?" Yongin tidak ragu mempertunjukkan sesuatu yang begitu mengejutkan di depan mata Yongguk.
Berbagai foto sembarang yang diisi dua orang bersama sedang memadu kasih, berserakan di meja. Yongguk meneliti satu-satu. Foto itu dikenalnya. Ia ingat pernah pakai pakaian itu, lelaki lainnya dengan pakaian kerjanya yang khas. Pelukan, bahkan ciuman. Yang mereka yakini berada di daerah yang tidak diisi siapapun, selain untuk mereka berdua.
Rupanya, dibantah pernyataan itu dengan bukti foto yang sudah ada di tangan.
"A-anda .."
"Ya. Aku berhak juga mengawasi puteraku sendiri yang sedang bermain-main dengan lelaki lain, selain dengan tunangannya."
Yongguk mencengkeram foto-foto itu. "APA MAU ANDA MELAKUKAN INI SEMUA!?"
"seharusnya aku yang bertanya begitu, Bang Yongguk. Kau telah membuat kesalahan fatal dalam hidupmu. Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk membuatmu sadar, hal yang kau lakukan adalah kesalahan." Yongin mengangkat dagu. Ia congkak ingin menantang sang Anak.
"Jika kau tak mau anak itu terlibat dengan skandal, maka kau harus menjauhinya."
"A-aku tidak mungkin-" Yongguk semakin resah. Melepas Himchan adalah kelemahan untuknya. Ia baru saja akan menyatukan cinta mereka lebih kuat, namun cobaan ini begitu saja menghempaskan harapan itu.
"Kenapa? Kau ingin kejadian Daehyun terjadi pada anak itu?"
"TIDAK!" Yongguk melompat dari bangkunya. Ia terlonjak karena ketakutan serupa dikejutkan tontonan horror. Kehilangan Himchan adalah mimpi terburuknya. Ia tak ingin kehilangan laki-laki itu. Kalaupun harus melepasnya sementara...
"Bagus. Berarti kau cukup bijak memilih yang mana terbaik." Yongin berjalan mengitari mejanya, menjauh dari puteranya. Punggung anak itu dilihatnya, yang tegap menegang karena masih shock. Ia tersenyum menang.
"Temui Chungha. Nikahi dia. Urusanmu beres,"
"A-apa?" Yongguk menengok kembali pada ayahnya.
"Ya. Kalian harus cepat mengumumkan pernikahan kalian. Agar berita ini tidak terus merusak atensimu. Chungha akan memaafkan perbuatanmu karena itu,"
"Kenapa secepat ini?!"
"Kau lebih memilih masuk penjara ?"
Yongguk mengigit bibirnya. Ia terdiam.
"Chungha tidak tuntut kau , jika kau mengabulkan permintaannya. Temui dia di rumah sakit, sekarang juga." Yongin menghubungi seseorang dari teleponnya. Setelah singkat memerintah seseorang pada teleponnya, ia kembali meneruskan pembicaraan bersama puteranya.
"Press conf sudah dipersiapkan sore ini untuk pemberitaan pernikahan kalian,"
Yongguk untuk pertama kalinya, tidak bisa menjawab apapun lontaran kata dari ayahnya. Selain meneruskan perjalan ke rumah sakit, untuk membicarakan soal pernikahannya dengan Chungha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi, bagaimana pembagian kamarnya?"
Semua orang yang baru saja datang tidak bisa menjawab karena sibuk melongokan besarnya villa di hadapan mereka. Tidak, bukan Villa. Ini seperti rumah kaisar Jepang. Suasana tradisional dengan tanah yang begitu luas. Ditambah kolam ikan besar yang ikan-ikannya masih segar-segar bermain di dalam air. Tanah lapang untuk main bola, dengan 1 pondok kecil untuk beristirahat.
Villa sebesar ini jauh lebih nyaman , dari villa kebanyakan.
Junhong mendesah lemah. Teman-temannya memang tidak heran akan kaget dengan penginapan yang dibangun keluarganya terkhusus untuk warga bisnis ayahnya liburan di Jeju. Memang Jeju menjadi destinasi andalan ayahnya membawa jalan-jalan rekan kerja agar tidak terus suntuk. Ketika kosong, maka penginapan ini tidak dihuni siapapun.
"Bagaimana pembagian kamarnya?" Junhong mengulang.
Kelima temannya tersadar beberapa saat kemudian.
"Eum, aku bareng Himchan hyung deh!" Youngjae langsung merangkul lengan Himchan yang sudah berdiri di sampingnya. Lelaki itu terperanjat. Ia ragu karena ia membawa Hyunsik yang tidak terlalu kenal teman-temannya ini.
"Eum, aku bareng Junhong berarti!" Hoseok langsung melompat memeluki adik tersayangnya. Mau tak mau Junhong menerima. Toh, kakak kelasnya itu memang rada clingy padanya. Nanti merengek jika pisah ranjang.
"Ah, bagaimana dengan Hyunsik hyung, dan Jaebum?" Youngjae memperhatikan keduanya.
"Jahat sekali kau Youngjae! Kau yang ngajak aku, kau cari orang lain."
Youngjae menyipit mata. Kesal. "Aku tahu kebiasaan tidurmu. Ogah aku tidur bersamamu lagi. Masih untung kuajak," Youngjae menjulur lidah bermaksud meledek.
"Arghh! KAU!" Jaebum ingin melempar bogeman ke Youngjae, namun ditahan oleh Hyunsik. Lelaki di sebelahnya , lelaki tinggi dan cukup tampan dari Jaebum, yang ia ketahui adalah partner kerja Himchan, tiba-tiba merangkul pundaknya sok mengakrab. "Tak apa. Aku ingin lebih kenal dengan teman-teman Himchan pula."
"Nah, Hyunsik hyung tidak keberatan. Ayo! Rapih-rapih dulu," Youngjae pun menarik Himchan yang masih tak yakin dengan keputusannya.
"Eum, Youngjae. Aku tak yakin Hyunsik hyung dengan Jaebum-"
Youngjae dan himchan berjejak pada tiap derit lantai kayu yang sangat nyaman. Suasana di dalam lebih menyegarkan dari yang di luar, "kenapa?"
"Hyunsik hyung, eum-"
"Ah, tak apa. Toh Hyunsik hyung bukan predator pemakan manusia, kan? Eh itu kamar kita, kan?" Youngjae pun seenaknya masuk ke kamar kosong yang ia labeli sebagai kamar milik mereka.
Himchan yang menyusul, hanya berdehem tak yakin di belakang punggung Youngjae.
"Eum, 'predator' ...
mungkin saja."
.
.
.
.
.
.
.
"Kamu makan yang banyak, biar cepet sembuh,"
Seorang wanita memberikan sesuap bubur kepada pemuda yang masih lemas berbaring di ranjangnya. Lelaki itu cukup lahap, dan hanya mengembangkan senyum ketika wanita itu bercengkrama.
"Makasih, Bu. Bubur Ibu memang yang terbaik daripada bubur rumah sakit,"
"Ya, pasti. Ibu juga gak mau kamu tiba-tiba kurang gizi cuman karena nolak makan makanan sini. Nanti kayak ayah kamu , dibilangin keras kepala sampai dia collapsemenjelang keluar rumah sakit. Ya, kan , Ayah?"
Pria yang sedari tadi membaca koran, mendengus kesal. Ia kembali memusatkan diri pada kata-kata yang tercetak daripada semakin suntuk disinggung oleh istrinya. Sang anak tertawa, geleng-geleng lihat sikap lucu orang tua angkatnya itu.
"Ibu, bisa tolong hidupkan tv nya? Beberapa hari ini aku bosan dilarang nonton sama manajer-ku," Daehyun memberikan petunjuk kea rah TV yang layarnya gelap sejak lama. Ia ingin beberapa warna segmen film ditampilkan, biar suasana jadi lebih berisi daripada selalu tenang.
"Oh ya? Dasar. Biar nanti Ibu tegur manajermu itu. Seenaknya nyuruh-nyuruh anakku gak boleh nonton tv," omelan ibu-ibu mengudara sampai tv nya dihidupkan. Ibu Daehyun memang sangat memanjakan anaknya , walaupun mereka tidak sedarah. Tapi karena itu pulalah , beliau suka memanjakan anak satu-satunya tersebut.
"Maaf, ya Bu, aku jadi ngerepotin Ibu sama Ayah jauh-jauh datang dari Busan untuk nengokin aku. Padahal Ibu sama Ayah pasti lagi sibuk,"
"Jangan gitu. Bagaimana pun, kamu itu nomor satu buat kami. Justru Ibu sama Ayah yang minta maaf gak bisa ngawasin kamu terus-terusan.
Ayah kamu saja sampai mau nangis denger kabarmu dan ronta-ronta mau mutusin kontrak aja sama agensimu kalo kamu nya kenapa-napa,"
Mendengar itu, sang Ayah melonjak, "Apa sih, Bu!? Bukan begitu, kok!"
"Tuh, kan. Kebiasaan ayah kamu suka ngelak gitu."
Daehyun tertawa melihat suasana menyenangkan dari kedua orang tuanya yang dirindukan. Kadangkala, pertemuan seadanya ini menjadikannya ingat masa-masa bersama sang wanita tercinta yang tidak bisa ia lupakan. Yang mengisi hari sedih dan bahagianya, yang mulai tertanam benih-benih baru bersama keluarga barunya.
Betapa beruntung Daehyun..
Baru saja tercipta suka cita di ruang rawat itu, Daehyun harus mengesampingkan kembali tertawaannya. Wajahnya langsung mengeruh , melihat isi berita yang terpampang di layar tv.
"Bukankah itu Yongguk?" Ibunya berceletuk ketika menuangkan air putih untuk sang Suami. Ia tak terlalu kaget ketika menyaksikan studio penuh wartawan dengan seorang Yongguk berdiri di hadapan mereka. Judul berita kelihatannya salah, tapi pengumuman leadernya pastilah benar.
Maka ia mendengar baik-baik ucapan apa yang dilontarkan partner nya itu.
"Ya, Kim Chungha adalah tunangan saya. Kami akan segera menikah." nada bicara Yongguk bergetar, tidak lancar. Daehyun merasa kelu di ulu hatinya. Yongguk seperti tidak tulus mengucapkannya, ia yakin.
Kemudian mic berpindah kepada manajer Chungha yang berdiri bersanding dengan Yongguk. Ia jauh lebih menantang , tidak ragu-ragu. "Kecelakaan ini adalah ketidaksengajaan. Chungha mengatakan bahwa ada unsur kesalahpahaman. Yongguk berusaha membantunya, bukan menyakitinya."
Riuh wartawan sampai terdengar. Pastilah mereka meributkan pemberitaan yang begitu mengejutkan pada hari ini. Mereka rebutan untuk banyak bertanya, namun tidak banyak yang direspon. Semuanya lebih mengarah pada pernikahan yang dijanjikan Yongguk. Bukan soal kecelakaan lagi. Mungkin sudah cukup jelas bahwa Chungha sendiri yang mengatakan bahwa itu 'kesalahpahaman'.
Namun tidak untuk Daehyun. Lelaki itu masih mempermasalahkannya. Ada keraguan besar kepada sebentuk kabar yang didengarnya barusan. Yongguk tidak pernah mencintai Chungha, dan tidak secepat itu mematahkan komitmennya.
Pasti ada sesuatu yang tak beres...
"Astaga, temanmu itu akan segera menikah." Ibunya sudah selesai mengupas apel, "Kamu harus beri selamat padanya,"
"Tidak, itu bukan selamat."
Ibu Daehyun meneleng kepala. Ada apa? Wajah puteranya tampak tercenung dengan sesuatu.
"Err.. tidak apa-apa," Daehyun hanya memupuskan rasa khawatir ibunya. Ia tidak bisa memperlihatkan keraguan leadernya tersebut ke lebih banyak orang jika dirinya memang sedang berencana menyembunyikan. Sebagai seorang calon aktor, Daehyun pintar membaca ekspresi seseorang ketika sedang bergurau, dan berakting.
Tak lama kemudian, ia mencoba menghubungi Jongup. Partnernya satu lagi yang mungkin tahu tentang masalah ini , semenjak dirinya hiatus di dalam rumah sakit saja.
Ia menekan send ketika pesannya diam-diam sudah terkirim. Sementara obrolan ayah ibunya ia perhatikan tanpa dipikirkan masak-masak omongan mereka dalam pikiran. Ia sedang konsen dengan hal lain.
Ting
Suara denting notifikasinya berbunyi, ia langsung membuka pesan yang terbalas cukup cepat.
Ia prediksi, di sana Jongup pun sama shock nya seperti dirinya.
Soal kecelakaan itu adalah benar. Tapi soal pernikahan,
Astaga.. kukira mereka bertunangan saja belum. Setan apa yang merasukinya?!
.
.
.
.
.
.
.
TBC
2 UPDATE SEKALIGUS YEY!
