My Idol, My Boyfriend

Himkyu's Present

BAP Fiction_Banghim x Daejae x JongLo

Genre : Romance Comedy

Disclaimer : BAP cast are owned by TS Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

.

Warning!

Typo(s), Yaoi, Ruined Plot, POV changing, Cross-dressing, Alcohol, seduce(gk?), Crack-Pair(little), Dirty/Harsh word, Impolite attitude, etc.

I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^

.

.

.

.

.


"Apa sudah selesai persiapannya?"

"Tidak ada barang tertinggal, bukan?"

Daehyun mengangguk. Bawaannya langsung diambil alih oleh sang Ayah yang kala itu juga penuh dengan beberapa pegangan. Ia tidak tampang kelelahan atau mengeluh encok di punggung ketika membawa serta 2 tas punggung, 1 tas selempang , serta 2 plastik berisi hadiah-hadiah para Fans.

Daehyun melempar ekspresi keberatan melihat ayahnya melakukan semua serba sendiri. Hingga alis ayahnya terangkat heran , "Kau mau bawa sesuatu? Bawa saja 1 keranjang milik ibumu," yang berisi toples makanan buatan asli milik beliau yang telah kosong.

Daehyun diperbolehkan keluar dari rumah sakit keesokan harinya setelah dipastikan luka di perutnya telah sedikit pulih, dan kalaupun perlu perawatan, ia memilih untuk dirawat di dorm. Banyak hal yang ia perlu cari tahu soal keadaan member selain dirinya yang begitu disusahkan dengan permasalahan kemarin.

Hari telah berganti sore. Daehyun dituntun pelan-pelan oleh Manajer, beserta kedua orang tuanya mengikut di belakang. Mereka memilih jalur belakang, dimana para fans tidak ketahui. Mobil van dengan family-size, telah dipersiapkan. Ayah Ibunya juga mengikut ke dorm, sampai 2 hari ke depan untuk mengawasi kondisi sang Anak sebelum mereka kembali bertugas di Busan.

Selama perjalanan, HP nya ia perhatikan baik-baik. Pesan yang dikirimkan Daehyun kepada Yongguk tidak juga dibalas sejak sehari lalu. Ia mencemaskan keadaan leadernya yang paling cakap mengurusi social media. Apakah mungkin pengumuman pernikahan kemarin, membuat kondisi pria gagah itu melebur? Bisa-bisa ia bertemu tampang lebih lemas daripada Daehyun yang hampir sakaratul maut.

Ting

Kejutan , ia tidak mengira mengharapkan suatu balasan, membuat pesan yang dipikirkannya benar-benar direspon. Ia langsung cekatan membuka HP, dan ia mendapatkan kejutan kedua yang tidak disangka. Bukan sebuah pesan dari yang diharapkan 2 hari ini.

Pesan baru, dengan nama Yoo Youngjae.

Daehyun tidak ingin heboh sendirian, dan melonjakkan dua orang tuanya yang sedang mengobrol ria bersama Manajernya. Dengan yakin, dan persiapan mental serta hati yang mantap, ia membuka kotak pesan, dan membaca isinya.

"Apa kau baik-baik saja?"

Daehyun menyungging senyum lebar kala itu. Ia lupa situasi khawatir apa yang menggelutinya beberapa waktu lalu perihal Yongguk, jika bisa disembuhkan dengan sosok lelaki paling membencinya, yang kini mengirimkan rasa perhatian. Kadangkala , sebuah hikmah indah bisa saja terjadi pada suatu kecelakaan yang tak diharapkan.

Lelaki itu bingung harus jawab apa. Ia tak ingin balasannya berlebihan, jika tak ingin mendapati nomornya di blok dari kontak HP nya. Tapi juga tidak ingin terlihat datar, jika tak ingin diperhatikan sebagai orang asing.

Maka Daehyun pun membalas secukupnya , tapi juga sama perhatian kepada pemuda manis itu. Ia mengharapkan dirinya akan terpukau dan terus membalas pesannya seperti saat ini.

"Aku sudah keluar dari rumah sakit. Kapan aku bisa bertemu denganmu lagi?"

Ia terkekeh seperti orang sinting. Ayahnya sedikit melirik walaupun ia tidak jadi peduli. Palingan merespon fansnya yang suka genit-genit pada Puteranya. Sebaliknya, puteranya juga sok-sok perhatian pada mereka.

Tak lama, Daehyun mendapat balasan yang tidak ragu untuk segera dibukanya sampai tidak memperhatikan nama kontak. Disitulah ia tersentak dengan isi pesan tersebut yang tak ia sangka-sangka.

Bang Yongguk :

"Kudengar kau keluar dari rumah sakit hari ini? Syukurlah. Badanku yang kali ini tidak sehat.

Daehyun, Jongup. Kuharap aku bisa bertemu kalian untuk membicarakan sesuatu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"TIDAK AKAN!" Youngjae lekas menaruh kasar HP nya ke atas meja, dan kembali meneruskan potongan wortelnya dengan cekatan. Himchan menoleh cepat menanggapi sentakan Youngjae entah kenapa. Ia sampai khawatir dengan sikap gegabah sahabatnya itu.

"Awas , Youngjae. Nanti jarimu terpotong," Himchan melihat Youngjae masih dengan ekspresi sebalnya, "Memangnya ada apa?"

"Tidak apa, aku hanya sedang suntuk dengan seseorang," Youngjae mendengus, sambil menyisihkan potongan rapihnya ke piring. Tidak sangka, Youngjae cukup pro dalam menggunakan pisau. 1 kekhawatiran pun disudahi.

"Ouch!"

Namun yang justru tidak heboh terkena imbas. Suara itu berasal dari Jaebum yang kala itu sedang memotong bawang merah. Ia berdiri sejajar bersama Hyunsik yang membantu memotong kentang.

Himchan dan Youngjae hendak membantu, namun terhenti ketika melihat Hyunsik lebih sigap. Ia cukup cemas sambil meniupkan jari Jaebum yang terluka, "Biar dicuci dulu pakai air" Hyunsik mengarahkan jari Jaebum yang teriris ke air dingin, dan mengurangi ringisan Jaebum sesudahnya.

"Kau baik – baik saja?" Hyunsik terlihat sangat ramah kepada Jaebum. Ada rasa gentle, yang membuat nyaman. Himchan dan Youngjae sebagai penonton, merasakan itu.

"Baik-baik saja, Hyung. Terima kasih!" Jaebum tersenyum lebar, hampir terlupakan wujud aslinya sebagai seorang wakil ketua OSIS galak di SMA, dan sering menyiksa Youngjae yang pemalas.

Kemistri, oh kemistri. Himchan dan Youngjae tidak tahan. Mereka kemudian mengabaikan pendekatan di depan mata mereka, dengan kembali pada obrolan sebelumnya.

"Memangnya habis menghubungi siapa hingga kau suntuk begitu, Youngjae?" Himchan bertanya cukup tenang. Lelaki dengan paras ramah itu tetap tersenyum meskipun memotong daging yang lengket dan sedikit bau. "Apakah Daehyun?"

"Hi—Himchan!" Youngjae buang muka, ia menyembunyikan sisi memalukannya karena dibuat pangling ketika mendengar nama Daehyun disebut. "Aku hanya menanyakan apa ia baik-baik saja. Tidak lain,"

"Apakah ia baik-baik saja?"

"Ia sudah keluar dari rumah sakit," Youngjae menghela nafas kemudian menjatuhkan hasil potongannya ke dalam panci besar. Hari itu mereka bersama akan menyiapkan Sop daging untuk makan siang. "Aku hanya tidak ingin semakin menyusahkannya. Dan berkomitmen untuk menghilang darinya. Tapi, ia ingin bertemu denganku lagi.

Kenapa ia tidak membenciku dari semua perbuatanku selama ini? Apa dia semacam masochist?"

Himchan terkikik mendengar celotehan Youngjae. Sahabatnya itu tidak pernah lelah menutupi kenyataan bahwa ada rasa ketertarikan dari Idola Hebat tersebut, dan sebaliknya tentang perasaan dia sendiri yang sudah sangat cocok. Youngjae adalah Youngjae. Himchan tidak akan sampai menggodai Youngjae dahulu untuk saat ini kalau tidak mau rasa masakan mereka nanti jadi berubah. Masakan seseorang mengikuti mood yang membuatnya, bukan?

"Aku harap semuanya baik-baik saja."

Youngjae kemudian memperhatikan wajah Himchan. Ekspresi yang terlihat damai, dan tidak terlihat bermasalah. Seolah semuanya benar-benar baik saja. Bagaimana jadinya apabila Youngjae memberitahukan masalah pernikahan Yongguk? Apa wajah damai dan ceria itu meluruh?

"Youngjae?"

Ia yang terlalu lama melamun, tidak menyadari Himchan sudah memperhatikannya kembali dengan bingung. "HP mu bergetar begitu"

Youngjae langsung sigap meraih HP nya yang menyala mati , dikarenakan settingan yang belum sempat dimatikan. Sebuah aplikasi terkhusus penggemar BA , ia menyalakan sebuah notifikasi khusus jika ada berita terbaru tentang BA.

Pernikahan telah di rencanakan oleh kedua belah pihak! Apakah Yongguk dan Chungha akan segera menikah akhir bulan ini?

"Youngjae, aku sudah potong semua dagingnya. Bisa bantu aku?" Himchan menyungging senyum lebar, sembari mengulurkan satu mangkuk berisi potongan kecil-kecil daging.

"Ah, ya! Tentu," Youngjae terkekeh dengan rasa setengah hati. Memasukkan HP nya ke kantung, setelah menghapus aplikasi BA dari list app di HP nya.

"Hei teman-teman!" Yang tidak membantu kala itu adalah Junhong beserta Hoseok yang entah darimana mereka, muncul di ambang pintu dapur. "Nanti malam ke pantai, yuk!"

Youngjae mengerut dahi, ia kesal karena Hoseok seenaknya saja meminta sesuatu dikala yang lain merepotkan makan siang. Dan ia lebih kesal dengan wajah senangnya yang berseri-seri. "Ngapain?"

"Kudengar malam ini ada pertunjukan bintang jatuh, dan para penduduk beramai-ramai kesana. Masa kita melewatkannya?" Hoseok melompat girang, "Ayuk-ayuk-ayuk!"

"Hyung, jaga perilakumu. Yang lain sedang repot menyiapkan makan siang," Junhong mencubit pinggang seniornya tersebut yang bertingkah lebih kekanakan dari umurnya yang asli. "Kami hanya menawarkan karena besok kita sudah pulang, bukan?"

Jaebum mengendik bahu yang jarinya masih sibuk diperban oleh Hyunsik. "Aku sih tidak keberatan. Aku belum pernah lihat bintang jatuh dari dekat,"

"Ya! Pasti menyenangkan," eye-smile Himchan sekali lagi muncul. Menurutnya sebuah ide bagus untuk mencairkan suasana liburan mereka yang begitu singkat. "Aku akan menyiapkan perlengkapan piknik kalau perlu,"

Youngjae celingak-celinguk, ia tidak paham kenapa semua temannya lebih setuju daripada dirinya sendiri yang punya rasa keberatan, "Eh ta—tapi," ia pikir keluar malam di pantai bukanlah keahliannya, ia tidak suka suasana dingin nan gelap.

"YIPIII!" Hoseok berseru riang hingga tubuhnya yang menopang di atas punggung Junhong dipukul-pukul, hampir membuat pemuda di bawahnya mengeluh kesakitan.

"Make a wish for our final exam guys~" lanjut Hoseok sembari berlalu setelahnya. Junhong memaki seniornya dari kejauhan.

Himchan tersenyum, ia membayangkan sebuah bintang jatuh dengan halusnya membawa doanya yang ia telah persiapkan setiap hari.

Youngjae sebenarnya hanya berkerucut ragu bibirnya, karena ia tak pernah percaya dengan sebuah 'mimpi jadi nyata' bila berharap dengan bintang jatuh.

Junhong tenang tapi dalam hatinya ia memiliki sebuah harapan besar.

Mungkin bintang jatuh bisa menghibur mereka sebelum hari esok yang entah seperti apa jadinya.

.

.

.

.

.

.

.

Malam bergelimang bintang. Himchan beserta teman-temannya baru saja sampai setelah menempuh perjalanan dengan mobil yang disupiri Wongjun, memakan waktu setengah jam saja. Hoseok , Jaebum yang paling bersemangat. Mereka berlari menuju bibir pantai, melupakan teman lainnya yang sedang hati-hati dengan bawaan.

Himchan dengan satu keranjang makanan, Youngjae (yang berteriak 'Bodoh' ke dua temannya yang tak pedulian itu) membawa box minuman, Junhong dibantu Wongjun membawa 1 tikar, dan Hyunsik bertugas melakukan dokumentasi.

Pantai Hyeopjae terkenal dengan pasir putihnya. Malam begini, pasirnya menjadi berkemilau dengan terang cahaya bulan ditambah penerangan lampu buatan dari sisi pantai. Apalagi dengan keramaian pengunjung yang mengharapkan sebuah pemandangan bintang jatuh seakan tenggelam di ujung laut. Mereka ada yang sudah memenuhi dengan berdiri saja menunggu langit mengeluarkan rupa 'hadiah' nya. Ada juga yang menggunakan kursi santai, tikar piknik seperti yang Himchan dan lainnya, atau sudah menyewa pondok-pondok kecil.

Sementara membiarkan Jaebum dan Hoseok main-main air pantai yang begitu dingin, Hyunsik yang mengikut karena ingin mendokumentasikan kehebohan keduanya, yang tersisa menyiapkan tempat piknik mereka.

"Ini semua buatan Nak Himchan?" Wongjun terkesima melihat betapa banyaknya sajian lezat yang ditata. Ada Jajangmyeon , Jeokbal (bistik babi), Nasi goreng teri , dan Sandwich. Ia tak menyangka posisinya yang hanya mengantar Tuan Mudanya, berakhir ikut bergabung dengan sekumpulan anak muda. Piknik di pantai, sambil makan makanan seenak ini? Ia berasa 10 tahun lebih muda.

"Dibantu yang lain juga, sih. Jangan sungkan Wongjun-ssi. Kami membuat nya dari kelebihan makan siang sebelumnya, sekalian membuat lebih untuk Wongjun-ssi. Makan malam , biasanya anak-anak lebih lahap," ungkap Himchan dengan ramah yang kebetulan duduk di samping Wongjun.

Pria di samping Himchan merasa terpukau dengan perilaku sahabat Tuan Muda nya yang tidak lama ia kenali itu. Jiwa nya keibuan, ramah, baik, dan sangat dewasa. Ia terlihat mencolok daripada teman-teman lainnya yang seumuran, pikir Wongjun sambil mengangguk-anggukkan kepala memahami jalan pikirnya.

"Berapa lama kira-kira bintang itu akan muncul?" Youngjae membuka kaleng sodanya. Busa-busa bermunculan tiba-tiba, untung ia sigap menjauhkan dari sweater kuningnya. "Aku tak mau pulang-pulang demam karena kedinginan."

"Banyak ngeluhnya," dengus Junhong yang sedang mengocok Jjangmyeon bersatu dengan saus kacang merah. "Ngapain ikut kalau gak mau. Biar di villa ada yang jaga."

"Gak mau. Villamu terlalu luas, nanti ada hantunya."

"Hantu mana!?" Junhong hampir saja melayangkan sumpit berbau saus kacang merahnya karena ia sensitive dengan hal-hal mistis di telinganya. "Jangan berpikiran aneh-aneh,"

"Sudah Youngjae. Moodmu dari tadi jelek terus. Awas nanti harapanmu kena karma loh," Himchan menggodai. Ia terkekeh, membuat Youngjae merasa tidak nyaman sambil berkerucut bibir.

"Memangnya apa yang anak ini inginkan?" Junhong mempertanyakannya pada Himchan, padahal bermaksud menyepelekan keberadaan Youngjae yang duduk persis di sampingnya. Rasanya Youngjae hampir naik pitam dan ingin menjejalkan satu sandwich penuh ke mulutnya.

"Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan…eum.. Daehyun?"

"HIMCHAN! Jangan ikut-ikutan!" Youngjae menggertak gigi, hingga dua temannya tertawa. Bahkan Wongjun yang tak tahu menahu ikutan tersenyum lucu. Rasanya memalukan. "Aku akan berdoa agar dia jauh-jauh dariku ! Itu saja!"

"Ya, ya.. terserahlah." Junhong pun sudah cukup berdebat dengan Youngjae, dan setelah menyelesaikan adukannya. Ia pergi menyusul 3 temannya yang sedang asik bermain pasir.

"Ah, aku lupa bawa kimchi nya."

Youngjae memperhatikan Himchan, "Lupa? Tertinggal di Villa?"

"Tidak ada di van, aku sempat mengeluarkannya karena tidak muat di dalam keranjang. Aku akan ke van dulu mengambilnya."

Wongjun mencegat, "Biar saya saja yang ambil."

"Ah tidak perlu. Saya yang tahu naruhnya dimana. Kuncinya , Wongjun-ssi?"

Wongjun tidak bisa mengelak jika Himchan sudah lebih duluan siap pergi. Ia mengulurkan kunci mobil dan membiarkan lelaki itu mengambil sesuatu hanya untuk sebentar saja.

Himchan berlari cepat menuju parkiran mobil. Parkiran sudah terisi penuh saja dibandingkan saat mereka baru tiba. Namun ia tidak perlu waktu lama untuk tahu lokasi van , dengan mengandalkan alarm mobil pada saat itu.

"Ah, dapat!" ia berseru senang setelah mendapati perbekalan kimchinya terjatuh ke bawah lantai van. Untung saja pengerat nya ketat, tidak menumpahkan isi.

Baru saja ia akan kembali,

"CHUNGHA!"

Himchan mengerem langkah, mendapati suara berat yang terdengar tidak asing. Ia menoleh dan memeriksa keadaan di belakang ia berdiri di antara suasana sepi. Teriakan tersebut benar-benar tidak jauh.

Himchan mungkin merasa lancang untuk mencari tahu sumber suara, meskipun itu dikarenakan rasa penasaran saja. Ia mendekati sebuah mobil mercy perak yang cukup mewah jika bersanding dengan beberapa mobil di sebelahnya. Berjalan hati-hati, bulu kuduknya meremang sesaat akibat desiran angin malam, dan kekhawatiran karena ikut campur masalah orang. Tapi kalau ada pertengkaran atau penganiayaan, ia juga harus segera meminta tolong , bukan?

Namun bukan suara akibat pertengkaran atau penganiayaan yang ia pikirkan. Ia melihat hal lain yang tak ia duga. Pemandangan di depannya yang ia tak sengaja lihat membuat ia terlonjak.

Kimchi di tangannya jatuh ke tanah.

.

.

.

.

.

.

.

"Kenapa Himchan tidak balik juga , ya?" Youngjae memperhatikan langit malam dengan mata bertajuk khawatir. Bintang jatuh belum juga muncul sejak 10 menit ditinggalkan Himchan. Teman-teman yang lain sudah kembali ke ruang piknik mereka , dan memakan beberapa makanan yang disajikan. Main-main sudah membuat perut mereka menjerit kelaparan.

"Apa perlu saya susuli Himchan?" Wongjun khawatir juga. Ia siap menyusuli jika diijinkan, semuanya tergantung dari keinginan Tuan Muda atau teman-temannya yang bersangkutan.

"Bintang jatuhnya bentar lagi! Jangan dulu! Mungkin Himchan sedang melihat di arah lain," Hoseok menyeruput Jjangmyeonnya lahap. "Orang-orang sudah heboh begitu," karena melihat beberapa orang kasak-kusuk melihat tanda-tanda keberadaan bintang jatuh di atas langit sana meskipun dari kelima dari mereka tidak paham tanda-tanda yang seperti apa yang dimaksud.

Langit lebih terang?

Youngjae memutar mata jengah dengan opini sahabatnya, dan memilih untuk mengikut saran saja. Ia juga ikut dengan lainnya, terlanjur makan sandwich dan badannya terlalu nyaman dimanjakan sensasi deburan ombak dan angin sejuk.

Tepat sasaran, orang-orang seketika lebih heboh melihat langit lebih terang dengan kejauhan dilihat sebuah bintang berekor melesat semakin dekat ke bumi.

"BINTANG JATUH!" Jaebum berteriak. Memberi tanda kepada yang lainnya sampai teman-temannya berhenti melahap makanan. Berpasangan mata terpukau dengan 2-3 kali bintang-bintang itu jatuh bergantian. Saat itulah semuanya memejamkan mata selagi masih ada kesempatan melakukan permohonan.

"Kumohon semoga ujianku lulus dan dapat kerja bagus." Harap hoseok tanpa sembunyi-sembunyi ,sampai Jaebum yang duduk di sampingnya mencubit paha temannya itu. Memohon dipamer-pamerin, pikirnya.

Youngjae menghela nafas, dan bagi dirinya yang tidak mempercayai bintang jatuh pun, masih menggunakan peruntungannya untuk memohon. Ia pejamkan mata, dan berharap dalam hati.

"Semoga aku dan semua teman-temanku lulus. Keluargaku sehat dan baik." Tidak muluk-muluk harapannya. Namun ia tidak puas jika menambah suatu harapan tetek-bengeknya sedikit, karena ia benar-benar tidak bisa menduga Bintang Jatuh mau mengabulkannya.

"Semoga Daehyun dan BA selalu bahagia."

Entah apa yang ada di dalam pikirannya hingga menyebut nama Daehyun dan BA dalam doanya meskipun ia belum terlalu 'berdamai' dengan idolanya itu, tapi hatinya jauh lebih tenang setelah mengungkapkannya.

"Kau minta apa , hei!"

Hoseok menagih kepada teman-temannya. Tingkah hiperaktifnya tidak bisa dikontrol.

"Yang pasti aku tidak mau kasih tau. Karena mengungkapkan harapan yang rahasia itu bisa tidak dikabulkan," ujar Jaebum seperti mengajari seseorang, dan dibalas anggukan yang lainnya. Hoseok tampang polos, dan menyesal. Ia panik doanya tidak terkabul hingga menimbulkan tawa dari yang lain.

Tertawaan mereka yang berlangsung beberapa saat, harus terhenti ketika melihat Himchan kembali. Wajahnya suram, berbeda dengan segala umpamaan ekspresi yang baru saja melihat bintang jatuh indah.

"Himchan! Kau melewatkan bintang jatuhnya!" Jaebum berseru menyambut kembalinya Himchan. Bukannya kekehan jenaka dari Himchan seperti biasa, melainkan hening kesedihan yang diperlihatkan. Jaebum jadi harus gigit bibir, tidak jadi menghibur.

"Himchan, kau baik-baik saja?" Youngjae sampai menegur untuk memastikan keadaan Himchan yang setengah sadar. Lelaki yang kehilangan semangat tersebut tersentak dengan teguran, dan memperhatikan semua temannya yang terlihat khawatir. Apa yang dilakukannya terlanjur membuat teman-temannya ikut merasa lara hati yang ia simpan. Ia tak mau sampai teman-temannya tahu lebih jauh apa yang membuatnya begitu terpukul.

Maka ia dengan terpaksa kembali menyungging senyum pias. "Aku sempat melihat bintang jatuh. Sangat indah,"

Tidak timbul curiga, teman-temannya kembali bersuka cita, "Benarkan!? Tidak buruk kita kemari!" Hoseok pun mengangkat kaleng sodanya, "Tos untuk kelulusan kita!"

Yang lain, tak terkecuali Himchan pun melakukan pengetosan yang dibimbing Hoseok. Busa soda bertumpah ruah, dan yang lain tertawa karena mendapati sodanya hampir menumpahi pakaian masing-masing. Kejenakaan remaja yang tiada berakhir malam itu.

Namun kejenakaan itu begitu dibuat-buat oleh Himchan, dan Youngjae paling tahu itu. Ia paling lama menjadi teman Himchan, daripada Jaebum, Junhong, Hoseok, Hyunsik. Ia merasakan kekecewaan terdalam karena terlanjur melihat wajah sedih itu meskipun dengan segala cara ia lakukan termasuk menyembunyikan masalah Yongguk. Tapi, kenapa masih juga Himchan terlihat sedih begitu, ia pun tak tahu.

Semoga bukan karena si Yongguk keparat yang berulah.

.

.

.

.

.

Tok Tok Tok

"Akan kubuka! Akan kubuka—"

Hoseok tampak menghentikan suka rianya di pagi hari karena tercengang mendapati gadis bertubuh sexy (berbalut tank top merah muda yang tampak lekuk langsingnya, dan celana panjang longgar) berada di hadapannya. Meskipun gadis itu cukup misterius menyembunyikan wajahnya di balik kacamata yang lebar. Ada apa?

"Siapa ya?"

Dipertanyakan begitu, kemudian gadis itu melepaskan kacamatanya. Terkejutlah Hoseok yang baru sadar ada keganjilan di balik kesempurnaan gadis itu karena mendapati luka panjang di wajahnya, memperhatikan dirinya dengan tatapan menusuk serupa pisau.

Kalau diliat lebih teliti, Hoseok merasa kenal.

"Tidak usah aku harus memperkenalkan diri." Hoseok masih tergugu walaupun gadis itu melesat masuk begitu saja ke dalam ruangan, memperhatikan sekitar menilai segala sudut. Untung saja villa yang terpakai adalah milik keluarga Choi yang termasyur, gadis dengan segala kemewahan yang dimilikinya tidak bisa mengkritik untuk gaya villa ini. Hanya heran kenapa digunakan oleh anak-anak muda dungu.

Tidak bisa dicegat Hoseok, gadis itu semakin masuk ke dalam. Jika tidak ada yang menghalangi, ia pasti sudah sampai di ruangan yang dipenuhi seluruh penghuni. Mereka memang sedang asik bercengkerama pagi sambil main video game.

Untung saja—dan kebetulan—seseorang yang tidak akan pernah mengerti perkumpulan anak-anak gamers menghalangi langkah gadis itu. Gadis itu mengerem langkah , karena tak sengaja bertemu pemuda yang ingin ditemuinya.

"Himchan?"—yang saat itu baru keluar dapur membawa semangkuk popcorn. Himchan terperanjat dengan kehadiran gadis yang menegurnya.

"Himchan! Orang ini, entah kenapa masuk tiba-tiba," Hoseok sampai ngos-ngosan akibat kelelahan mencegat gadis yang keras kepala dan lancang masuk itu. Namun kehadirannya terlihat tidak berguna melihat intensnya kedua orang di depan pandangannya. Tidak ada percakapan yang bisa masuk jika Hoseok tetap berdiri bersama keduanya.

"Hoseok, bisakah kau bergabung dengan yang lain. Dan tolong jangan beritahu tentang kami," Himchan mengulurkan semangkuk popcorn pada Hoseok. "Jangan sampai mereka ke dapur,ya."

"O—oke," Muka Hoseok terpasang ragu. Tapi ia hanya cukup menyanggupi. "Aku permisi dulu." Maka Hoseok tak ragu menemukan celah untuk melarikan diri. Ia tak peduli lagi ada urusan apa antara si gadis cantik dengan Himchan.

"Chungha-ssi?" ekspresi Himchan tegang. Namun ia mencoba tenang dengan menunjukkan keramahtamahannya. Chungha justru semakin mengintimidasi. Ia tidak suka keramahtamahan pemuda yang membuat hatinya terpatah dua sejak kemarin. "Silahkan masuk, saya buatkan teh."

Kebetulan urutan ruangan di dalam villa itu dipisahkan dengan pintu masuk, kemudian ruangan dapur terlebih dahulu sampai ke ruangan inti. Melihat ketegangan keduanya , akan menjadi pengusik orang-orang yang berkumpul di ruang inti. Maka mencegah terjadinya perdebatan yang menganggu, Himchan akan mengijinkan obrolan serius apapun dilakukan di dapur , berdua saja.

Chungha menghela nafas untuk sedikit menenangkan diri. Ia mengangguk saja dan mengikuti tawaran tersebut.

Di dapur yang dikelilingi suasana tradisional dengan peralatan masak yang cukup antik. Bau-bau kopi nan mentega mengudara. Bisa ditebak, hasil dari masak popcorn Himchan dan segelas kopi entah untuk siapa (yang sebenarnya untuk Wongjun).

Punggung pemuda cantik itu diperhatikan lekat-lekat oleh sepasang mata berlensa kontak biru yang terduduk di bangku makan. Cara Himchan yang apik membuatkan teh , tidak seperti pria kebanyakan. Ia terlihat anggun, tapi tidak gemulai bak perempuan. Tidak terlalu feminim, tapi ia punya sisi perempuan yang bahkan mungkin Chungha tak punya. Cara ia tersenyum ketika menawarkan teh, adalah yang paling membuat iri. Chungha duga, inilah yang membuat calon suaminya jatuh hati.

"Kau pasti tahu siasatku kemari," Chungha menyeruput teh hijaunya. Rasanya tidak buruk, baginya. "Setelah kejadian kemarin,"

Himchan menghela nafas. "Seharusnya Chungha-ssi tidak perlu meninggalkan calon suamimu,"

Chungha mendecih, ia benar-benar keabisan akal dengan sifat tenang Himchan meskipun dipojokkan sekalipun. "Aku tidak mau menghabiskan waktuku. Aku hanya ingin meminta penjelasan karena Yongguk Oppa pun tak mau menjelaskannya padaku,"

"Bukankah sudah saya bilang, saya dan Yongguk-ssi tidak punya hubungan serius apapun,"

Chungha menggeleng, "Terserah kau sebut teman atau bukan apa-apa. Tapi kau berhasil membuat Yongguk tertarik padamu." Gadis itu menunjuk dengan jemari lentiknya, menyepelekan Himchan. "Yongguk adalah artis besar. Karirnya adalah taruhan. Ia memiliki 2 anggota hasil jerih payahnya."

Gadis itu berkali-kali meneleng kepala seperti memamerkan keangkuhan, "Bayangkan jika Yongguk hancur berkeping hanya karena laki-laki lugu yang bahkan tidak bisa serius dengan hubungan di antara kalian berdua?"

Himchan masih lurus memandangi gadis itu tanpa ada ketakutan. Ia tidak terlihat runtuh, tidak terkecoh. Ia masih tetap dalam pendirian.

"Kemarin dia hampir saja kehilangan karirnya karena telah melukai wajahku. Sekarang aku berhasil memilikinya, dan karirnya berada di tanganku." Chungha menaruh gelasnya, menautkan 5-5 jari jemarinya bersama. "Aku bisa saja menghancurkan karirnya dengan petuah mudah dari bibirku ini, apalagi setelah disakiti melihat ada lelaki lain yang dipikirkannya."

"Bagaimana Chungha-ssi tahu saya dipikirkan Yongguk-ssi?"

"Ceritanya cukup panjang sebenarnya kalau harus menelisik kejadian kemarin. Yang pasti aku tidak pernah suka dengan cara dia memperlakukanmu seperti kekasihnya."

Himchan terdiam. Ekspresinya mengendur agak marah. Chungha malah puas berhasil meruntuhkan sikap acuh Himchan yang berubah menjadi dingin perlahan-lahan.

"Jadi, kuminta dirimu untuk menjauhi Yongguk, dan tidak menganggu pernikahan kami yang tinggal menghitung minggu. Bisa?" Chungha kemudian mengulurkan sesuatu yang telah diambilnya dari tas. "Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Tinggal telepon saja," adalah sebuah kertas berisi nomor telepon yang telah ditulis sebelumnya.

Himchan tidak menolak, ia mengambil uluran kertas itu.

"Doakan yang terbaik untuk pernikahan kami, ok? Semoga kau lulus dengan nilai memuaskan,"

Himchan tersenyum dan mengangguk paham, "Saya sempat berdoa atas kebahagiaan kalian saat bintang jatuh kemarin malam,"

"Ah, pasti dikabulkan." Chungha kemudian barulah menanamkan keramahtamahan kepada Himchan sambil pamit pulang. Ia tersenyum sangat cerah kala itu , entah karena puas meruntuhkan pendirian Himchan atau karena Himchan telah berkompromi dengannya.

Setelah kepergian Chungha serta memastikan punggung gadis itu menghilang, Himchan menutup pintu. Belum ada tanda-tanda temannya berhambur menemuinya, maka tak ada yang tahu bahwa Himchan tengah menahan air matanya.

Kertas di tangannya, lecak oleh genggaman.

.

.

.

.

.

.

.

"Kenapa anak itu tidak balas-balas pesanku dari kemarin, huh!?"

Jongup melirik ke Daehyun yang sedang merebah terbalik, dengan kepala di bawah kaki sofa, dan kaki di atas kepala sofa. Rambutnya menjuntai di udara, sambil matanya memperhatikan HP nya sejak 1 jam lalu.

Jongup habis sibuk work out, dan harus terganggu karena sakit mata dengan perilaku Daehyun yang sama sekali tidak mencerminkan seorang Idol sama sekali. Habis bangun tidur bukannya olahraga seperti dirinya, malah duduk leha dengan posisi tidak enak begitu.

"Siapa? Yongguk hyung?" Jongup mempertanyakan.

"Hah? Aku tidak peduli kalau Yongguk lagi honeymoon dengan nenek sihir itu,"

Kemudian bantal pun mendarat persis ke mukanya, dan dia pun merosot jatuh tertubruk persis ke ubin yang tidak dapat bagian alas karpet. Ia mengeluh kesakitan.

"Baru kemarin kau panik mencari-cari Yongguk karena pesan balasan yang kau terima lusa kemarin"

Daehyun mendengus, "Terima kasih dengan berita infotaiment yang langsung memberitahukan keberadaan Yongguk setelah itu. Kukira dia mau bunuh diri,"

"Kalau kau biarkan , tentu saja dia akan bunuh diri, brngsek." Jongup tidak keberatan memaki hyungnya satu ini yang terlihat lebih idiot dari orang seumurannya. "Lalu dari tadi sibuk menunggu pesan siapa, sih?"

Daehyun mengembalikan letak tubuhnya ke posisi duduk yang sempurna.

"Hanya seorang anak menyebalkan yang tidak tahu berterima kasih,"

Jongup mendecih, sudah bisa menebak siapa. "Kau terlalu berharap banyak pada Youngjae. Dia pasti alergi padamu. Tenang saja , nanti juga akan kembali."

"Hei, aku celaka begini dan dia bahkan tak mau menengokku. Bagaimana bisa aku tenang?"

"Siapa bilang dia tidak menengokmu? Youngjae menjerit-jerit memanggil namamu karena tusukan itu,"

Yang tadi berbicara bukanlah Jongup , melainkan seorang gadis yang tidak asing dan tidak akan perlu ditebak siapa lagi yang berani lancang masuk ke dorm begitu saja.

Daehyun menghela nafas, "Jongup, kau belum juga mengambil alih kunci dorm kita dari orang ini?"

Jongup mengendik bahu, si korban yang dibicarakan menggertak gigi kesal karena disambut tidak hormat. "Aku dengar kau baru keluar kemarin, makanya aku segera kemari hari ini. Lihat apa yang kubawa,"

Diana memamerkan sekantung kresek berisi sup kepiting dan jajangmyeon yang wanginya sudah kemana-mana. Jongup histeris, peduli dengan work out nya untuk membentuk otot. Ia kalau sudah lapar, lupa dengan bentuk tubuh sekalipun.

Daehyun yang tidak mudah tergoda. Ia masih terpaku dengan HP nya, dan kembali mengirimkan pesan yang sama agar membuat Youngjae merasa kesal dan mau membalas pesannya.

"Ayah ibu Daehyun kemana? Aku mau cengkrama dengan mereka. Baru pertama kali aku bertemu dengan orang tua angkatnya," tanya Diana kepada Jongup yang sibuk menelan Jajangmyeonnya.

"Ayah ibu Daehyun lagi ke apotik bentar," Jongup melirik sinis Daehyun, "Puteranya malah enak-enakan mengeluhkan 'pacarnya' yang tidak balas-balas pesannya sejak dari tadi,"

"Ironis," Diana berdecak lidah.

Tak lama kemudian , entah kenapa Diana duduk di hadapan Jongup yang sedang asyik memakan makanannya. Matanya melurus teliti, sehingga membuat Jongup balik membalas dengan tatap heran. Sampai ia tak jadi menyuapi suapan mie nya.

"Ada apa?"

"Yongguk sedang ada masalah percintaan dengan seorang nenek sihir super model sok manja itu, Daehyun yang masih ditolak mentah-mentah oleh anak muda yang tak berdosa,

Bagaimana dengan kau? Bagaimana dengan masalah percintaanmu, Jongup-ssi?"

Jongup sampai terbatuk-batuk.

"Oh ayolah. Inilah yang kusuka berteman dengan kalian. Skandal kalian dimana-mana adalah hiburanku."

Jongup membersihkan mulutnya setelah meminum segelas air, "Jangan mempermainkan suatu skandal, Diana. Aku juga tak mau ikut terlibat,"

"Oh, begitu? Ternyata aku salah," Diana bersiul enteng. "Kalau ada masalah, jangan selesaikan sendiri, ok? Kau harus cepat menyelesaikannya sekaligus meminta bantuan orang lain untuk menyudahinya."

Jongup tidak paham kenapa Diana tiba-tiba mengungkap demikian. Tapi itu cukup menyinggung dirinya. "Kau ini aneh, Diana."

Kemudian Diana berlanjut pergi meninggalkan Jongup menikmati makanannya, untuk menganggu Daehyun lagi. Jongup yang kali ini tidak bisa menikmati makanannya, ia tetap diam setelah ditegur begitu.

Apa yang membuat Diana tahu bahwa ia 'pernah' memiliki masalah percintaan? Atau bisa dibilang, ia 'masih' memikirkannya sampai saat ini?

Ekspresi Jongup kembali berubah menyedihkan. Memikirkan Junhong lagi adalah masalah terberatnya.

Diana berhasil menangkap ekspresi itu dari kejauhan. Dan dia tahu 'rahasia' itu, akibat Jongup sebagai pelakunya.

Wajah sedih seseorang yang mengaku tidak bermasalah, adalah jawaban dari segala rahasia yang dipendam seorang diri.

.

.

.

.

.

"Barang-barangnya sudah ditaruh? Tidak ada yang tertinggal, kan?"

Ditegur Hyunsik, semuanya menggeleng menandakan semua barang tidak ada yang tertinggal.

Rupanya hari begitu cepat berlangsung sampai ke tengah hari. Seperti yang dijanjikan, waktunya mereka untuk kembali. Mereka semua yang sudah lelah menggotong barang, merenggang punggung dahulu sebelum masuk ke dalam van.

"Himchan tadi ke dalam lagi, sepertinya ada yang tertinggal. Aku susuli dulu," Hoseok kemudian berlari memasuki villa untuk memastikan Himchan.

Bruk

Terdengar suara jatuh, yang ternyata adalah Himchan terpeleset, dan hampir terantuk lantai villa. Hoseok segera membantu.

"Himchan kau baik-baik saja,"

Himchan terkekeh. "Maaf, terburu-buru. Aku takut ditinggalkan kalian,"

"Kenapa memangnya? Ada yang tertinggal?"

Hoseok menepuk-nepuk kaki Himchan. Untung saja tidak ada yang terluka. "Hanya boneka,"

Hoseok memperhatikan boneka kelinci merah yang berada di pelukan Himchan. Entah apa yang membuat boneka itu begitu spesial sampai Himchan tak rela meninggalkannya.

"Oh, baiklah. Kukira apa." Hoseok kemudian membantu menuntun Himchan keluar dari Villa.

"Hmm… Himchan. Aku tidak nyaman sejak dari pagi. Apa kau baik-baik saja dengan gadis menyeramkan itu?"

Himchan menatap Hoseok dan kembali mengulas senyum yang terlihat tidak mencurigakan. Apabila ia menyimpan sakit hati, cukup pintar juga Himchan memanipulasi senyuman itu menjadi sangat tulus.

"Tidak, baik-baik saja. Kau tidak kenal dengan gadis itu? Seharusnya kau meminta tanda tangannya."

"Hah?" Hoseok cengok. Ia bahkan tidak mengerti , 'terkenal' darimana gadis yang punya luka seperti yakuza begitu?

"Himchan! Hoseok! Cepat, sudah terlalu siang," Hyunsik sudah seperti pemandu perjalanan memerintah keduanya mempercepat langkah mereka sebelum terik semakin melanda.

Himchan dan yang lainnya menempati bangku terbaik. Namun kali ini bangku mereka saling berpindah. 3 orang paling berisik memilih paling belakang (Jaebum, Youngjae, Hoseok). Sementara Hyunsik duduk di samping Himchan, dan Junhong yang suka menyantai tenang sekaligus menemani supirnya di bangku paling depan.

Perjalanan mereka untuk pulang ke Seoul tidaklah buruk. Hanya suara-suara pertengkaran dari 3 orang yang duduk di belakang yang mungkin menganggu. Hyunsik yang paling bisa tahan dengan suara berisik, ia terlelap sepanjang perjalanan. Mungkin terbiasa tidur terlalu lelap sehabis bekerja di café.

Himchan memperhatikan deburan ombak dari pantai Hyeopjae yang dilintasi dan kembali menjadi tontonannya. Kali ini terlihat lebih indah dengan penerangan alami.

Lelaki itu yang duduk tenang sembari menyandar kepala di kaca, dalam hatinya bergemuruh seperti deburan ombak itu. Banyak pertimbangan dalam pikirannya, banyak keberatan atas percakapan di antara dia dan Chungha bicarakan kemarin.

"Jadi, kuminta dirimu untuk menjauhi Yongguk, dan tidak menganggu pernikahan kami"

Sisi terdalam dan paling tulus Himchan, menolak begitu keras. Ketidakrelaan hatinya, membuat tangannya mencabik dengan kukunya, boneka kelinci di tangan yang dibelikan Yongguk saat rekreasi di taman bermain. Bisa dibilang, kenangan yang tidak pernah terlupakan.

Tapi sanggupkah kenangan itu semuanya dihapus lebur hanya karena ancaman seorang wanita? Oh, biar dirinya koreksi.

Seorang wanita yang pantas mendampingi Yongguk.

"Sudah lama tidak menyalakan HP , aku dapat kabar berita yang bagus sekali.

Hei, Youngjae! Kau pasti akan pensiun jadi Fanboy setelah ini,"

Youngjae yang sedang ngambek habis bertengkar dengan Jaebum karena hal sepele, tidak peduli.

"Memangnya berita apa?" tanya Hoseok yang penasaran.

"Oh sebentar biar kubaca," Jaebum sibuk mengotak-ngatik HP nya. "Yongguk dan Chungha tertangkap basah melakukan pra-wedding di Pulau Jeju, Wow! Bareng kita? Kebetulan sekali."

Ia menyenggol pinggang Youngjae di sebelahnya, "Aku bahkan baru tahu pacarmu itu bisa nikah juga," Jaebum berceletuk bermaksud becanda.

Mengharap Youngjae jadi jengkel, sepertinya sia-sia. Karena yang ada, Youngjae langsung membeliak mata, dan wajahnya menegang sempurna. Serupa ekspresi ketakutan sehabis menonton film horror. Itulah yang terlihat.

Yang kemudian mata Youngjae akan melirik ke bangku depan, dimana Himchan berada.

"Sungguh?" Junhong yang mendengar berita itu, ikut terkejut dengan berita demikian. Ia memperhatikan bangku belakang, mengamati sahabatnya yang mengumumkan isi berita.

"Ya! Lihat saja beritanya. Jadi Headline News begini,"

Hoseok mengecek isi berita oleh dirinya sendiri dengan menyambar HP milik Jaebum tersebut. "Tunggu, sepertinya aku kenal dengan calon istri Yongguk. Chung—Chungha?"

"Himchan?" Youngjae masih sibuk mencemaskan Himchan. Ia menegur lelaki cantik itu yang tampaknya tak bergerak saat ditegur.

"Jangan ganggu. Himchan lagi tidur," Jaebum memukul tangan Youngjae yang terus menganggu pundak Himchan.

Entah kenapa mendengar ingatan Jaebum soal Himchan yang sedang tertidur, setidaknya membuat Youngjae bisa menghela nafas sebentar. Semoga saja memang Himchan tidak sempat mendengar perihal berita itu.

Namun, itu tidak terlalu benar.

Himchan tidak akan bisa tidur , jika hatinya terus tertusuk oleh kenyataan yang masih belum bisa diterimanya.

Ia diam, seperti seorang mayat hidup, yang meminta pertolongan untuk dikembalikan ke dunia nyata.

.

.

.

.

.

.

/Flashback/

atau /Omake?/

"Kenapa harus jauh-jauh ke Jeju untuk cari gaun nikah? Apalagi yang kau sogok pada ayahku hingga beliau memaksaku menemanimu?"

"Oh ayolah. Teman designerku sekaligus yang paling termasyur membuat gaun pernikahan, sudah berjanji akan menyiapkan gaun pernikahan spesial untukku. Ia kebetulan bertugas di Jeju. Jadi aku tidak keberatan kemari, sekaligus kencan kita berdua."

Mobil mercy perak mereka melaju lancar membelah jalan. Padahal Yongguk tidak bisa konsen karena lingkaran tangan Chungha yang tak mau lepas dari lengan kanannya yang sering memegang kopling.

"Oh juga, sebelum ke distro nya, bagaimana kalau malam ini kita ke Pantai Hyeopjae ? Ada bintang jatuh paling terlihat disana. Aku mau make a wish biar pernikahan kita lancar."

"Membuang waktu. Tidak usah. Kita langsung ke distro, dan pulang."

Chungha bersungut bibir. Ia tidak terima. "Mau ke pantai dulu!"

"Kenapa kau keras kepala sekali. Kau tidak lihat siapa yang menyetir?"

Chungha tidak bisa berhenti bersungut, dan semakin keras kepala saja kalau sudah dilawan oleh Yongguk. "Kan cuman sebentar! Aku janji, kita tidak perlu keluar mobil untuk melihat bintang jatuh. Hanya menikmati kencan saja di dalam mobil, dan melihatnya. Siapa tahu jadi inspirasi wedding beach kita?"

Yongguk bertampang geli. Ia sejujurnya tidak mau membayangkan pernikahannya dengan Chungha di pinggir pantai, dan dilihat orang-orang berbikini.

Namun dengan segala hentakan Chungha, mau tak mau Yongguk menyerah, dan melajukan mobil ke arah pantai. Lagipula, ia ingin istirahat dulu setelah perjalanan yang cukup panjang dari Seoul menuju Jeju. (Ia masih bingung kenapa Chungha memilih naik mobil yang melelahkan daripada naik kereta, atau sekalian saja naik helipkoter pribadinya sendiri).

Di parkiran tersebut, Yongguk bersyukur mendapatkan lokasi paling strategis untuk menonton bintang jatuh di langit. Biasanya memang parkiran pun menjadi posisi terbaik yang ingin menikmati tontonan bintang jatuh dari dalam mobil mereka.

Yongguk merenggang punggung, letih rasanya menghabiskan waktu menyetir ditemani gadis cerewet serupa Chungha.

"Bangunkan aku jika bintang jatuhnya sudah ada," Yongguk pun memilih melelapkan diri daripada diajak mengobrol lagi oleh gadis di sampingnya.

Chungha tidak terima, ia terus menusukkan jarinya ke pipi Yongguk, mencoba menganggu tidur lelakinya itu agar mau menemaninya. Ia ekspektasikan sebuah kencan romantis di dalam mobil memandangi langit malam bertabur bintang, tapi ia malah ditinggalkan sendiri.

Rupanya Yongguk tidak juga merespon. Yang hebatnya, malah semakin mendengkur menganggu pendengaran Chungha—entah sengaja atau tidak.

Chungha kesal, dan ia hanya bisa melempar punggung di bangkunya kembali dengan rasa kecewa.

Drrrttt Drrrttt

Getaran HP yang ditaruh di dalam dashboard, menarik perhatian Chungha. Ia ingat bahwa Yongguk menaruh HP nya disana.

Chungha yang mudah curiga, tidak bisa menahan diri untuk melihat siapa yang menghubungi Yongguk malam-malam begini. Mengawasi Yongguk yang masih tertidur lelap, ia pun meraih HP yang berderit-derit itu.

Rupanya hanya pesan yang dikirimkan oleh salah satu partner kerjanya, Jung Daehyun.

Memang tidak spesial , dan Chungha tidak perlu mencemaskan hal itu.

Namun, bukan pesan Daehyun yang menjadi sebab Chungha mengerut dahi kecewa.

"Chungha?"

Yongguk yang terbangun, terkejut melihat Chungha memperhatikan HP miliknya. Ia begitu terpaku dengan tatapan serius. Yongguk langsung mencoba menyambar HP nya kembali.

"Apa yang kau lakukan? Menggunakan foto Oppa bersama dengan laki-laki itu sebagai lockscreen ?! OPPA GILA!?"

"Berikan padaku!"

Chungha menahan, ia berhasil menjauhkan HP itu tidak bisa diraih Yongguk.

"Aku tidak pernah curiga dengan laki-laki itu semenjak kau berada di rumahnya. Tapi ternyata, kalian punya hubungan spesial?!"

"Ini bukan urusanmu, Chungha!"

"Ini urusanku! Kau calon suamiku! Artis naungan TS Entertaiment, dan akan jadi menantu dari anak pemilik Athalic Record! Jika media tahu soal foto ini, dan perilakumu yang mengacuhkanku, semua orang akan menghancurkan kita!"

"Maka itulah kau diam saja , Chungha!"

Yongguk yang memiliki tangan cukup panjang, berhasil meraih HP miliknya. Ia memperhatikan foto dirinya bersama Himchan dengan perasaan luwes, seakan rupa di gambar itu memberikan begitu banyak kekuatan untuknya.

Chungha tidak terima melihat cara Yongguk menatap sosok di gambar itu lebih tulus dibanding cara dirinya melihat sosok Chungha di depan mata.

"OPPA KAU JAHAT!" Chungha memukul Yongguk cukup brutal. Ia berkali-kali memukul, menggoyangkan badan lelaki itu hingga berbentur pada pintu mobil.

"CHUNGHA!" Yongguk berusaha menahan dengan menangkap kedua tangan gadis yang sudah berhambur air mata. Ia terlihat menyedihkan sampai make up nya hampir luntur. Di saat seperti inilah Yongguk menjadi tidak tega padanya. Tangisan ini memberikan pandangan berbeda, bahwa Chungha seperti gadis kebanyakan. Perlu dilindungi, dibalik sikap angkuh dan egois nya yang sering muncul.

"Cium aku,"

Yongguk seketika kaget mendengar ucapan tersebut di antara sesenggukannya yang tak mereda. "Apa?"

"Cium aku, agar aku memaafkanmu."

Yongguk berpikir keras untuk hal ini. Ia tidak bisa menelan maksud Chungha meminta demikian dalam keributan mereka.

"Aku tidak akan bisa tenang jika kau tidak bisa menghargai perasaanku," Chungha menangis semakin tersedu-sedu. Yongguk kalap , tak tega sekaligus tak berani menyakiti Chungha terus menerus. Lagipula , ia tak mau kecelakaan kedua terjadi yang menimbulkan banyak salah paham.

Dengan begitu berat hati, Yongguk mau tak mau melakukan apa yang gadis itu mau walaupun hanya untuk sesaat. Ia dekap lembut wajah gadis itu, menyalurkan ketenangan. Mendekatkan bibirnya kepada bibir Chungha dengan mendarat nyaman dan seolah tak terpaksa agar membuat gadis di rengkuhannya puas. Meskipun detik bibir mereka menyatu, seolah ada suatu pandangan menusuk dan tak rela yang mengedar di sekelilingnya. Tapi Yongguk mencoba menepis itu.

Setelah itu, ia lepaskan ciuman tersebut begitu hati-hati. Ia perhatikan wajah Chungha kembali dengan senyuman senangnya yang merekah. Padahal hanya ciuman sederhana, tapi Chungha terlihat puas setengah mati.

"Kau benar-benar licik mempergunakan cara ini," Yongguk ingin sekali mengusap bibirnya dengan lengan kemeja, tissue, atau apapun yang bisa menghapus rasa pelembab bibir yang menempel. Namun ia tak mau Chungha kembali menangis karena merasa tersinggung.

"Oh ya, Oppa. Bisa tunggu sebentar disini? Aku mau keluar. Aku baru melihat 'pemandangan' yang bagus," Chungha memunculkan senyum yang bergidik dan tak disukai Yongguk. Gadis itu seakan melupakan ciuman tadi, dan melompat keluar dari mobil begitu saja entah kenapa.

Walaupun sempat terheran, namun Yongguk tak mau berpikir banyak perihal gadis itu, selain sibuk mencari sekaan untuk bibirnya yang wangi vanilla.

Padahal ia tak tahu, calon istri yang tak dicintainya itu,

Sedang mengejar lelaki yang begitu Yongguk cintai.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue..


2 update yey!