**cerita ini sudah up2date di wp
**saya update disini semua sampai chap terbaru di wp saya
**maaf kalau banyak notif
.
.
.
.
.
.
.
Kamera berdiri di segala arah, menyorot keramaian di dalam studio. Ada riuh penonton, menyebut 3 nama berbeda saling berebutan. Ketika diminta tenang, mereka tenang. Ketika diminta bertepuk tangan, mereka tak ragu. Mereka menunjukkan cinta terdalam kepada 3 selebritis rupawan yang sedang diajak bercakap bersama si pembawa acara.
Inilah salah satu dari berbagai kegiatan mereka sebagai artis. Mengisi waktu dalam sebuah talkshow yang ditayangkan dalam berpuluh stasiun televisi.
"Jadi bagaimana dengan rencana pernikahanmu yang tinggal menghitung minggu, Yongguk?" MC mulai bergerak memecah kecanggungan dengan berbagai pertanyaan. Yongguk menjadi salah satu korban. Senyumnya yang professional dimainkan.
Meskipun hatinya merunduk sesal, wajahnya bertanda sebaliknya. Ia memejamkan mata, menghembus nafas sebentar. Membiarkan sisi Yongguk lain mengambil posisinya, seorang entertain yang dikagumi, bukan Yongguk yang melankolis dan masih berpacu dengan konflik perasaan.
"Chungha sangat bersemangat menyiapkannya lebih dari diriku. Bukannya aku tidak tertarik, tapi gadis itu paling ahli dalam bidang ini. Aku hanya mencelos membiarkannya melakukan yang terbaik untuk pernikahan ini,"
Daehyun yang duduk di sampingnya roll-eyes mendengar penjelasan Yongguk yang tidak bisa ia akui benar. Jika MC bertanya tentang kesungguhan pernyataan tersebut padanya, Daehyun akan gatal menjawab 'tentu saja tidak'.
Tapi, ia tak berhak. Ini adalah kasus lain dari seorang Bang Yongguk, bukan miliknya. Ia punya masalah sendiri yang ia sibukkan.
"Bagaimana dengan Daehyun? Baru-baru ini kabar putusmu dengan Diana menghebohkan netizen beberapa hari lalu. Padahal kalian baru saja berhubungan sebulan lamanya."
Daehyun terkesiap. Ia tidak sadar secepat ini momentum tanya jawab pada leadernya dan sudah beralih saja kepadanya. Ia meneguk ludah. Belum terlalu siap ingin menjawab apa. Meskipun ini sudah bagian dari rencana, bahwa ia sudah harus mempersiapkan jawaban paling logis dalam akhir scenario bersama Diana.
Ya, skenario berpacaran bersama Diana memang sudah berakhir. Tujuan awal mereka sukses mengibaskan skandal lama. Waktu begitu saja berjalan tanpa ia sadari. Semua hal berlangsung cepat dan tak dikira. Ia melenguh nafasnya seperti hal Yongguk yang resah dengan pertanyaan mendadak.
"Kami memang tidak sejalan seperti yang kami kira," ungkapnya dengan senyuman yang sengaja diredup. Ibaratkan Yongguk sebagai protagonist dengan happy ending tadi, maka Daehyun dengan bad-ending nya, yang membuat para penonton terharu. "Tapi ini keputusan terbaik."
"Sayang sekali. Kalian terlihat sangat cocok. Apalagi saat kejadian penusukanmu, Diana sangat memperhatikanmu. Sering mengunjungi dan mengecek keadaanmu, bukan?"
Daehyun ingin tertawa, tapi ia cukup menyiratkan dalam benak. Diana bahkan tidak memberikan ucapan 'Cepatlah sehat' barang sedikitpun ketika keadaannya terpuruk di rumah sakit. Di dorm saja, malah kena sindiran. Gadis itu tidak ada sedikitpun menunjukkan sisi romantis sama sekali.
"Sepertinya Jongup yang murni tidak memiliki masalahnya." Presenter mulai bergurau menyebutkan nama Jongup hingga pemuda itu mengalih pandang dari para penggemarnya. Ia mengembangkan senyum terbaiknya siang itu, "Jongup jarang sekali terlibat skandal atau menyusul memiliki seorang kekasih seperti 2 member lainnya."
Jongup tertawa mereceh, sengaja membuat situasi benar terhibur.
"Saya sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Tidak pandai dalam menjalin komitmen kepada wanita. Saya sedang mengutamakan karirku saat ini."
Para penggemar yang didominasi wanita akan berteriak luluh. Mereka pastilah takjub dengan pernyataan seorang gentleman macam Jongup, yang membuat cibiran kecil dari 2 partnernya yang lain.
"Kalau begitu, adakah harapan seorang wanita ideal untuk dirimu suatu saat nanti?"
Diberi pertanyaan demikian, Jongup sejenak berdiam diri. Mengatur kalimat pantas yang berbuah kenyataan. Dalam keterdiamannya, ada pemikiran yang melayang ke satu orang.
"Saya ragu dengan preference-saya sendiri. Namun sejujurnya, saya suka dengan seseorang yang mau jujur. Saya akan menerima apa adanya kekurangan dan kelebihan orang itu. Yang penting kami saling mencintai."
Presenter terkesiap. Takjub. "Benarkah?"
"Ya. Oh tambahan, saya suka seseorang berambut pendek dan bertubuh agak tinggi."
Histeria semakin mengudara. Presenter tertawa malu-malu mendengar kalimat itu sendiri yang begitu indah dan romantis diucapkan sosok Jongup. Ia mengundang semuanya bertepuk tangan atas ketakjuban mereka.
"Bersiaplah kalian gadis berambut pendek dan bertubuh tinggi. Jongup mengincar kali—"
BEEP
Setting suasana menjadi Junhong yang puas telah menggantikan channel acara dari sebuah talkshow kepada acara bola. Ia tidak peduli bahwa para penggemar BA yang duduk di belakang kursinya, atau di sekitar manapun akan berkeluh kesal dengan penggantian channel di saat yang tak seharusnya.
Toh, ini kewenangannya. Ia yang mengendalikan remote tv café sedari tadi karena Hyungsik yang mengijinkan.
Setelah itu, ia menyeruput milkshake nya dan memperhatikan 3 sahabatnya yang berdampingan duduk bersama dalam satu meja café—melakukan kegiatan masing-masing. Youngjae yang duduk di sampingnya beserta Jaebum di hadapannya, saling bertukar argument atau malah kompak menyamakan jawaban yang mereka dapati dari soal ujian Bahasa Inggris yang tadi siang baru diselesaikan mereka.
"No 23, Junhong pilih A. Aku B. Kamu apa?" Youngjae resah ketika mendapati jawabannya tidak kompak dengan kunci jawaban Junhong. Ia mengigit bibir, semoga Jaebum seakrab dirinya. "Aku juga B, sih."
"YES! Berarti Junhong yang salah."
Junhong sendiri akan memutar jengah matanya. Untuk seorang anak akselerasi yang paling jago di bidang Bahasa Inggris, bahkan ia masih ingat soal no.23 itu apa, begitu yakin jawabannya adalah A. Tapi ia tak ingin sahabat-sahabatnya sehabis pulang merengek memiliki banyak pertanyaan salah, jadi ia diam membiarkan argument mereka.
Matanya kini melurus kepada Himchan yang hanya berkutat dengan buku kimia untuk ujian besok. Ia tenang, tidak terganggu dengan kehebohan Youngjae atau cacap cuap Jaebum yang masih panik. Junhong tidak yakin pemuda itu akan mengalami kesulitan untuk ujiannya nanti karena Himchan cukup pintar dalam mata pelajaran tersebut.
Ya, setidaknya ia begitu asyik bergumam nama-nama senyawa, ion, molekul, dan sebagainya.
Sudah seminggu sejak perjalanan jauh mereka, para siswa SMA kini sedang melangsungkan ujian akhir serentak. Ini adalah hidup dan mati mereka, lulus atau tidaknya. Jika mereka tak lulus, selamat datang semester yang sama atau keluar sekalian mengais hidup di pekerjaan seadanya.
Junhong mungkin paling santai di antara lainnya. (Semua siswa akan berpikir demikian). Untuk anak menjelang 17 tahun yang akan lulus, ia tidak pernah ragu dengan segala perjalanan akhir seorang siswa. Bahkan tidak lulus pun, ayahnya sudah mempersiapkan rencana terbaik untuk putera semata wayang. Meskipun terbilang mustahil untuk ukuran yang punya IQ cemerlang seperti Junhong.
Junhong mendesah kecil. Milkshake nya sudah habis, tinggal buih-buihnya di dasar gelas.
Ia tercenung beberapa lama, membayangkan ayahnya, percakapan penting beberapa hari lalu yang sempat menganggunya.
"Kamu yakin mau pergi kesana?"
Junhong memejam mata ketika kalimat itu melompat di otaknya. Tidak lagi. Ia tidak mau mengingat percakapan serius itu. Ia tak mau kalau semakin dipikirkan, akan semakin berat hatinya dan memicu perubahan keputusan.
"Oh ya,"
Teguran Himchan sontak membuat Junhong membuka mata, dan kembali fokus dengan kegiatan yang ada.
"Aku harus segera pulang. Ibuku menungguku di swalayan," Himchan tergesa-gesa membereskan buku-bukunya. "Aku duluan, ya."
"Oh, oke! Salam ke ibumu."
Selepas Youngjae, Jaebum, bahkan Junhong mengucapkan salam perpisahan mereka, Himchan beranjak pergi. Punggung pemuda itu masih saja diperhatikan 3 sahabatnya, sampai menghilang di belokan pintu keluar.
"Kerasa tidak , sih? Himchan akhir-akhir ini pendiam sekali." Jaebum berujar, menopang kepalanya di tangan ketika tengah berpikir serius.
"Loh, memang Himchan itu sudah terlahir gitu, kan?" tukas Youngjae menghabiskan choco-cream cake nya. Mengamati Jaebum heran seakan pemuda itu tidak kenal betul sahabatnya sendiri.
"Bukan gitu. Maksudku tidak banyak merespon. Himchan tidak sependiam begitu, seperti biasanya."
"Aku rasa karena ia terlalu konsen dengan ujiannya." Junhong menimpali. Lelaki termuda itu selalu berhasil melindungi hyung kesayangannya jika diperkarakan.
"Mungkin saja," Youngjae melambaikan garpunya. "Itu wajar untuk seorang anak penerima beasiswa."
Tak lama kemudian sebuah suara dari hape berdering milik Junhong, mengusik topik pembicaraan ketiganya. Ia amati nama kontak yang bertuliskan Dad, sontak membuatnya terperanjat dan lekas mengangkat. Sampai dua temannya yang sibuk makan terpaku melihat si teman termuda.
"Ayah? Pulang nanti?"
Pemuda itu tersenyum lebar. Rasanya tidak ada yang lebih istimewa dibanding mendapati ayahnya pulang sehabis bekerja setelah janji ke luar kota yang menghabiskan waktu berminggu.
"Aku sebentar lagi sampai rumah."
Jaebum mendengus. "Lihat Junhong, berperilaku seperti hendak menemui pacar yang baru pulang sehabis long distance relationship." Maniknya mengekor pada gerak-gerik Junhong. Untung saja yang disinggung tidak sampai sadar.
"Kau cemburu, Bum." Youngjae menyeruput cappuccino hangatnya santai. "Kau juga ditelpon Jaesung noona kalau tak lama bertemu."
"Hii~" Jaebum bergidik. "Aku lebih baik tidak punya telepon sama sekali."
"Oh iya. Sebaiknya aku segera pulang."
Jaebum dan Youngjae baru menyadari Junhong sudah menyelesaikan hubungan teleponnya setelah ia beranjak merapikan barang-barangnya. Bahkan menyerobot catatan jawaban yang terjebak di bawah buku Bahasa Inggris Youngjae. Ia amat terburu-buru.
"Yang benar saja aku disuruh berkencan berdua dengan Jaebum disini?" Youngjae tidak terima sampai menunjuk jari ke depan hidung Jaebum. Tersinggung, Jaebum menepis kasar jari telunjuknya.
"Pulang saja. Ini sudah lumayan sore."
"Aku malas ke rumah. Sepupu perempuanku sedang mencuri jatah tv hari ini." Youngjae mengerucut bibir.
"Aku sedang tidak mau pulang karena rumah gak ada siapa-siapa."
Junhong menghela nafas ketika menyelempang tasnya. Ia sebenarnya tidak tega membiarkan dua sahabatnya yang sering berselisih hanya ditinggali berdua saja.
Maka dari itu Junhong dengan terpaksa meminta Hyunsik yang sedang mengepel lantai café, duduk menemani keduanya. Mengajak bicara, apapun. Hyunsik pasti jauh lebih asyik dan cerewet dibanding dirinya yang memang kalem. Lagipula satu unsur orang dewasa, akan menjadi penengah mujarab bagi 2 bocah yang sering berselisih paham.
"Aku tinggal dulu, ya." Junhong tidak menunggu teman-temannya membalas. Ia sudah lantang pergi, sambil diikuti supir kebanggaannya yang hanya menunggu dan mengawasi dari meja kecil lain.
Hyunsik tersenyum lebar. Ia duduk di samping Youngjae dan berhadapan dengan Jaebum. Dilihatnya buku-buku terserak di atas meja. Tahulah dia bahwa dua orang yang sudah mulai ia kenal semenjak liburan ini, sedang menempuh ujian sulit.
"Bagaimana ujian kalian? Baik?" Hyunsik mengajak bicara untuk mencairkan suasana canggung. Toh dia sendiri tidak merasa awkward sebenarnya, karena ia orang yang cukup ekstrovert dan pintar mengendalikan suasana. "Kalian tidak usah khawatir. Nilai bagus itu tidak selamanya menentukan masa depan kalian. Aku dulu tidak terlalu bagus di beberapa mata pelajaran."
"Sungguh?" Jaebum entah kenapa cukup larut dengan perkataan Hyunsik. Seakan terkesima, seakan takjub. Entah kenapa mereka menjalin hubungan lebih dekat (dan cepat) setelah liburan kemarin. Hanya Youngjae yang disitu merasa tidak asik sendiri.
Sementara Hyunsik membeberkan masa lalunya yang hanya menarik perhatian Jaebum, Youngjae mengecek notifikasi LINE dari suatu grup yang sudah lama ia nonaktifkan. Ia terpaksa melakukannya setelah kemarin ia mendapat mention dari Jaesung noona tentang sebuah acara konser yang BA sedang adakan.
Ingatkan Youngjae bahwa ia sedang tidak mengikuti berita apapun tentang BA—alias 'Hiatus'. Ia tidak ingin keberadaan BA membuat hatinya berkecamuk kembali, mengingat Daehyun dan luka lamanya. Atau Yongguk yang telah mengecewakan Himchan. Apalagi di tengah ujian saat ini.
Namun, sebagai fanboy garis keras, ia tidak kuat lama-lama meninggalkan 'kodratnya'. Berbagai penggemar dari fansite yang ia usung sendiri, mulai mempertanyakan keberadaannya yang 'menghilang'. Tidak ada kabar andalan tentang Yongguk yang ia share lagi. Yang sempat membuat ia sendiri kecewa.
Meskipun ia tidak kembali sharing tentang BA, bisakah ia dipersilahkan mengikuti berita mereka sedikit saja kembali? Apalagi setelah lulus, belum tentu punya waktu memiliki cinta pada BA lagi. Bukankah itu fenomena yang sering terjadi? (kecuali Jaesung noona, yang walaupun sudah bekerja, tapi masih mencintai BA, dan membuatnya single sampai sekarang)
"Oh ya, aku harus pulang." Youngjae terpaksa undur diri. Bukan karena ia tidak tahan dengan percakapan minus dirinya dalam 1 meja tersebut, tapi ia tidak nyaman melakukan kegiatan fanboying nya di antara orang lain yang tidak paham.
"Loh, kok jadi kamu pulang juga?"
"Sepupuku lagi main keluar. TV di rumah bisa aku pake." Youngjae beralasan. Padahal sepupunya itu jarang jalan-jalan dengan teman se-SMP nya. Ia beranjak permisi, dipersilahkan Hyunsik.
"Kau disini saja, kan? Sama Hyunsik hyung? Awas ganggu. Orangnya lagi sibuk."
Hyunsik menggeleng cepat. "Oh tidak, shift ku sudah selesai tadi sehabis mengepel lantai."
Youngjae menaikkan alis. Ia tidak tahu kalau shift Hyunsik berakhir secepat itu disaat mengambil dua pekerjaan sekaligus, pekerjaannya dan pekerjaan Himchan. Bukannya malah lebih larut, ya?
Tapi Youngjae tidak terlalu memikirkannya. Yang pasti Jaebum tidak akan menggerutu bosan, dan memaksa diri pulang ke rumah Youngjae. Kalau sudah menumpang, pasti maunya menginap. Sepupu perempuannya bisa kegatelan mendekati Jaebum (dan dia tak mau punya adik sepupu ipar seorang Jaebum.)
"Baiklah, aku pulang dulu." Ucapnya santun agar mendapat ijin pulang dari Hyunsik yang paling dewasa. Ia tidak peduli dengan ekspresi Jaebum, yang hanya senang mengusirnya.
Setelah keluar dari café, Youngjae tidak juga beranjak dari HP nya. Ia scrolling di suatu fansite di LINE yang ia senangi. Ada beberapa informasi menarik, dari talkshow yang tidak ia tonton tadi siang, tentang Diana dan Daehyun yang sudah putus (Youngjae tidak kaget, karena kenyataannya dia sudah tahu hubungan mereka memang bukan pacaran sungguhan, kan?), soal Yongguk yang akan menikah (dan dia scroll lebih cepat—tidak peduli), serta konser amal setiap tahun yang akan diisi ketiganya.
Youngjae menghentikan langkah ketika ia hampir saja menabrak seorang ibu-ibu yang baru keluar dari sebuah toko elektronik. Ia menunduk maaf karena keseleborannya memainkan HP hingga tak melihat situasi.
Kemudian matanya tertuju pada sebuah display TV yang mempertontonkan iklan konser amal yang dibacanya tadi. Persis kebiasaannya sedari dulu yang suka heboh sendiri ketika sedikit saja melihat iklan idolanya di display tv orang lain (seperti saat di chapter 1) , ia kini sedang tersenyum sangat lebar.
Namun kali ini bukan kepada Yongguk yang mencuri pengamatannya.
Ia tersenyum lebar karena sosok Daehyun...
"Kayaknya lagi asik melihatku disana.."
Youngjae jatuh dengan pantat mencium lantai semen. Ia terperanjat hingga tak bisa menyeimbangkan tubuh. Lagipula seorang wanita entah berantah dengan pakaian serba tertutup, berdiri terlalu dekat padanya , serta berbicara sok akrab. Jelas ia kaget.
"Ma—af.." ia takut menyinggung hati wanita itu karena sempat membuatnya terkejut ngeri. Kemudian ia bangun sendiri. Matanya melirik heran dengan sosok wanita di hadapannya. Kenapa begitu familiar ya pose berdirinya yang menantang begitu?
"Hei, ini aku." Wanita itu sedikit melonggarkan syalnya yang menutup sampai hidung. Bibirnya bergincu merah darah, cantik sekali. Tak lupa sunglass cokelat tebalnya, ia turunkan sedikit.
Barulah terlihat wajah rupawan Diana yang tampak. Youngjae sampai mendekap mulut agar tidak histeris keterlaluan.
"Aku tidak sangka bertemu denganmu disini."
Youngjae tergugu. "A—aku juga. Ba—bagaimana..."
"Oh, aku sedang melihat ke pet shop di seberang sana. Aku tertarik membeli kucing untuk kubawa ke Paris. Aku akan tinggal disana selama 1 tahun. Kemudian kau disini, menonton serius ke layar tv. Siapapun akan tertarik melihat kefokusanmu."
Gadis itu memperbaiki letak syal dan kacamatanya. Ia kembali menjadi wanita asing.
"Kau masih mengikuti BA?"
"Tentu saja tidak!" Youngjae berdalih cepat.
"Daehyun menanyakan dirimu setiap hari sampai aku bosan."
Youngjae melihat ke arah Diana dengan tatap sesal. "Ma—maaf.."
"Loh? Kok jadi minta maaf? Maksudku, Daehyun seperti putus asa ingin tahu kabarmu. Kau sama sekali tidak mengabarkannya?"
Youngjae menghela napas. Ia lupa kalau Daehyun orang yang keras kepala hingga dianggurkan sedikit saja, akan mengadu ke orang lain—terutama Diana. Ia malas mengetahui Daehyun masih saja memikirkannya.
"Aku hanya memberi dia waktu sendiri."
"Dan berniat melupakanmu?"
Youngjae terdiam. Ia tak tahu berkomentar apapun karena ia masih ambigu dengan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Apakah dia sendiri sudi dilupakan, atau ia tidak sudi diingat karena takut ia jadi terlalu berharap?
Ia hanyalah seorang fans biasa. Ada Batasan yang sebaiknya Youngjae dan Daehyun tidak saling lewati, itu saja.
"Hah~ Baiklah kau tidak usah jawab. Aku tahu kalian masih belum terlalu selesai dengan masalah kalian. Yang penting aku sudah melakukan terbaik untuk memaksa orang itu cepat sembuh kalau tidak ingin pujaan hatinya kecewa." Diana berbicara begitu saja, hingga membuat Youngjae terbelakak.
"Maksudnya?"
Diana terkekeh iseng, sembari mengulurkan 2 kertas berwarna keemasan pada Youngjae. "Aku memberikan tiket VIP ini untukmu. Ajak temanmu juga, ya."
"Eh?" Tangan Youngjae bekerja sendiri, mengambil 2 tiket tersebut. Matanya membeliak, mulutnya mengap-mengap. Pasti mau meloncat gembira dapat tiket gratis ke sekian.
"Ini kuberi sebagai penontonnya Diana, bukan BA, loh." Diana tertawa jenaka, membuat Youngjae tersenyum tidak enak. Ia menunduk berterima kasih.
"Tapi setidaknya kau bisa bertemu BA lagi di panggung. Maksudku, hadiah setelah masa ujian sekolahmu selesai. Ini hadiahku untuk kelulusanmu, karena aku sudah ke Paris lebih dulu. Jadi kamu harus melakukan yang terbaik."
"Ini hadiah penyemangat, begitu?" mata Youngjae berkerlip senang.
"Bisa dibilang begitu." Diana tertawa mengakrab. Ia memberikan tepukan dua kali di pundak Youngjae sebelum ia lekas beranjak pergi. Supir sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Kau sebentar lagi sudah jadi orang dewasa, Youngjae. Jadi, masalah apapun harus kamu tuntaskan dengan sebijak-bijaknya. Jangan melarikan diri." Youngjae tidak sadar ada kedipan mata dari Diana di balik kacamatanya. Namun begitu, Youngjae tersenyum, dan memahami dari kalimatnya. Ia kembali membungkuk sebagai rasa hormat dan terima kasih.
Beberapa saat kemudian, Diana sudah pergi dengan mobilnya sebelum penyamarannya diketahui. Youngjae tidak mampu bergerak, karena masih terpaku melihat tiket di tangan. Pikirannya membuyar bukan kepada konsernya nanti, tapi bagaimana jika ia menemui Daehyun lagi.
Pipinya memerah panas. Pesan-pesan yang sering masuk ke inbox HP nya selama ini (dan tak pernah ia balas), ia jadi ingat dan membuatnya malu bukan kepalang.
Kursi roda Hayeon bergerak mengitari Lorong swalayan yang mempertontonkan produk-produk beragam. Ia cukup tertarik menambahkan isi tas belanjanya dengan sampo bermerek, atau sabun cuci piring berharum lime yang baru dipasarkan. Sayang saja kalau dilewatkan.
Tapi ia tidak bisa menggapai karena badannya sulit bergerak di atas kursi roda, dan itu adalah kesempatan yang bagus. Memang bahaya godaan swalayan apalagi untuk seorang ibu rumah tangga sepertinya. Uang simpanan untuk seminggu bisa raib. Syukurlah sahabat sekaligus tetangga baik, mendorong kursinya mendekat pada kasir tidak peduli ketertarikan Hayeon. Tujuan mereka memang hanya memenuhi apa yang mereka telah list.
Setelah menyelesaikan transaksi, barulah wanita itu dibawa keluar dari swalayan, masih setia dituntun oleh sahabatnya. Angin dari AC berdesir cukup kencang ditambah suhu udara di luar ruangan yang mulai merendah karena cuaca mendung. Hayeon mengatup tubuh lebih erat dengan jaketnya.
"Saneul, kamu tidak kedinginan, kah?" tanya Hayeon pada sahabatnya. Tangan wanita paruh baya yang mengenggam pegangan kursinya, ia raih dan usap. Dirinya khawatir.
"Kamu seperti tidak tahu saja aku. Angin puting beliung saja tidak bisa menantangku," ucapnya dengan kejenakaan yang tidak pernah larut. Hayeon tertawa selama ia dibawa menuju pintu keluar. Barangkali puteranya telah menunggu di trotoar seperti janjinya untuk bertemu.
Namun, tidak ia sangka bahwa lelaki lain yang ia temui begitu pintu otomatis terbuka. Muka Hayeon langsung berubah cemberut.
Bagaimana ia tahu keberadaanku? Apa dia stalker?
"Selamat sore, Hayeon."
Kursi roda mengerem sendiri seperti ditahan. Saneul rupanya tidak bisa melanjutkan jalan kalau ditahan oleh seorang pria gagah nan tampan menyapa mereka berdua. Tubuhnya teramat tinggi bak model, sudah dewasa—tapi wajahnya tidak terlalu berkerut, pakaiannya pasti mahal—coat tebal panjang yang begitu menantang. Ia umpama seorang raja di dunia nyata yang siap memimpin dunia. Matanya terlalu tajam untuk dianggap ramah, tapi senyumnya membuat adem.
"Kamu ngapain kemari?" Hayeon mungkin yang tidak bisa terkesima. Ia hanya melempar pandang risih ketika jalan pria itu semakin mendekat. Berdoa pria itu menyapa orang yang salah, sudah pasti mustahil. Yang pasti kemungkinan apapun yang membuat pria itu berpaling darinya.
Tapi juga mustahil. Yongin sudah berdiri di hadapannya, bahkan berjongkok menyamai tinggi Hayeon yang hanya mampu terduduk di kursi rodanya.
"Aku datang kemari mau jemput kamu pulang. Aku tahu dari seseorang yang cukup dekat denganmu, bahwa kau sering berbelanja disini setiap Rabu dan Jumat siang menjelang sore. Maka sedari tadi aku menunggumu."
Alis kanan Hayeon pastilah sudah menukik naik. Ia tidak ingat ada orang dekat Yongin yang juga kenalan Hayeon serta mengetahui jadwal konsistennya selama ini. Palingan puteranya sendiri, Saneul (yang bahkan masih terpesona tidak karuan pada Yongin—mana mungkin kenal), dan Donghae yang mulai sering ia temui berbelanja.
Oh, Donghae? Seingatnya, ia adalah supir dari Siwon. Siwon adalah sahabat dekat Yongin.
Sial.
Kenapa bukan Donghae saja yang ia papasi?
"Heol, siapakah pria rupawan yang mengajakmu pergi, Hayeon-ah?"
Hayeon mengangkat kepala, berusaha mencapai pandangan kearah sahabatnya yang masih menunggu di belakang kursi roda. Ia sudah senyum-senyum menyinggung. Pastilah berpikir macam tentang hubungan Hayeon dengan Yongin.
Bagi Hayeon sendiri. Sulit rasanya menerima kebaikan Yongin yang semakin intens. Lelaki itu benar menunjukkan ketertarikannya semakin menjadi setelah pertemuan terakhir yang dimana Hayeon meminta pria itu menjauh. Tapi hasilnya malah sebaliknya, yang bahkan Hayeon bingung kenapa bisa terjadi. Ia tidak merasa karakter Yongin sebegitu posesif padanya dahulu, maka itulah ia masih bisa menikahi istrinya.
Tapi sepeninggal istrinya, kenapa ekspektasi itu berubah? Ia pun tak paham.
Yang pasti, ia tidak ingin menambah mimpi buruknya sepeninggal suami tercinta dengan melayani seorang pria lain yang mendekatinya. Ia tak hanya ingin menambah mimpi buruk diri sendiri, ia juga tidak mau membuat Himchan tersiksa.
Rahasia demi rahasia ayahnya ada juga di tangan Yongin. Semakin mendekat pria itu di keluarganya, semakin terpuruk kebahagiaan puteranya di depan mata.
Ia tak mau insiden suaminya, menimpa Himchan pula.
"Maaf, Tuan Yongin"—Hayeon terpaksa menyebut begitu agar tidak dianggap terlalu akrab—"Tapi saya memiliki keperluan lain. Saya disini akan pulang bersama putera dan teman saya. Jadi, mohon maaf. Mungkin lain waktu."
Pria itu berkerut bibir, merasa kecewa. Penolakan ini pastilah sudah kesekian kali, jadi ia terbiasa. Ia bangun dari posisi jongkoknya, mengembangkan senyum yang kelihatan tulus, kelihatan tidak. Bagi Hayeon, pria di hadapannya tidak bisa tersenyum dengan tulus. Semuanya kebohongan, hanya untuk formalitas. Sekalipun bisa. Hanya padanya, ketika ia akan menerima ajakan Yongin pergi tadi.
"Sayang sekali. Memang sebaiknya lain waktu. Tapi kau berjanji akan menemuiku lagi saat aku mengajakmu, ok?" Yongin menyungging cengiran yang membuat Hayeon mendengus. Ia meminta Yongin cepat pergi dengan sebuah anggukan kecil seperti merespon pertanyaannya.
Ia mengambil nafas dalam, ketika Yongin telah pergi dari depan mata. Saneul yang terlalu sibuk terkesima, kembali pada kesadaran. Ia melanjutkan jalan kursi roda menyusuri trotoar, kemudian duduk sejenak. Menunggu Himchan datang.
"Sungguh. Kau belum menjawab pertanyaanku!"
Saneul mulai berkacak pinggang, menuntut Hayeon mengungkap segala hal. Terutama tentang pria tampan yang tadi datang kepada mereka seperti keluar dari sebuah mimpi indah. Mulus, menarik, menawan, terlalu 'bersinar'.
"Dia bukan siapa-siapa." Hayeon berbohong. Mana mungkin ia tidak kenal teman satu sekolahnya yang pernah ia kencani selama beberapa bulan sampai akhirnya memilih berpisah ketika pria itu melarikan diri. Hayeon memutar mata jengah. Memori itu memuakkannya. "Kami hanya sempat bertemu saja. Tidak banyak. Kami bertemu lagi baru hari ini."
"Wah, sepertinya ini pertanda." Saneul mengusap dagu. Atensi seorang detektif. "Tidakkah kamu sudah segar lagi untuk dipinang pria lain, Hayeon? Dia terlihat mapan dan tampan. Bahkan begitu memperhatikanmu. Kekuranganmu. Bukankah ia sangat cocok untuk jadi ayah buat Himchan?"
Saneul sejenak bersin. Ia sepertinya benar bergurau soal angin puting beliung, padahal dia sensitif cuaca dingin. "Lagipula kamu cantik. Aku tidak heran apabila pria itu tertarik padamu."
"Aku tidak ingin menikah lagi, Saneul." Hayeon mengembus nafas. Ia lelah menjelaskan hal berulang. "Bukankah sudah kubilang bahwa aku selamanya akan seperti ini, dan keluarga kami akan tetap bahagia. Aku tidak perlu pria mapan menghidupiku."
"Sayang sekali, Hayeon. Aku bukan pembaca ekspresi yang baik. Tapi yang bilang bahagia hanyalah dirimu. Kadangkala, Himchan masih terlihat sedih karena bahkan ia tidak tahu siapa nama ayah kandungnya."
"Benarkah?"
Saneul hendak melanjutkan kalimatnya, barangkali menjawab kebingungan Hayeon. Namun sayangnya, pemuda yang ditunggu sudah datang. Melambaikan tangan dari kejauhan. Sosok anak itu terlihat ceria ketika berlari mendekat.
Mana mungkin ia sanggup melihat pemuda itu sedih?
"Maaf. Himchan lama, ya?" ucap lelaki itu seraya mengatur nafasnya sedikit-sedikit. Punggungnya di tepuk Saneul, membantunya bernafas lega sejenak. "Terima kasih Bi, sudah menemani Ibu."
Saneul mengumbar senyumnya. "Sudah berapa lama aku menemani kalian seperti keluarga sendiri. Ayo, pulang."
Himchan mengganti tugas Saneul, membantu mendorong kursi roda wanita berartinya mengarungi trotoar yang sarat penduduk. Lelaki itu membincangkan banyak hal, dari sebuah percakapan perihal ujian, gerutuan Youngjae Jaebum, rencana jalan-jalan, atau hal-hal lucu lainnya.
Tidak sedikit pun Hayeon menyinggung tentang kehadiran Yongin, begitu juga Saneul yang mulai melepas ketertarikannya.
Untuk sementara biarkan terus menjadi rahasia.
Junhong telah sampai di rumahnya. Melepaskan seragamnya, meletakkan di sisi sofa santai. Ia sejenak melempar diri ke atasnya di bantalan empuk, menenangkan pikirannya.
Padahal bukan suatu moment bermasalah atau melelahkan untuk berkumpul bersama teman serta sehabis mengerjakan ujian akhir. Kegiatan pada hari ini santai saja.
Namun entah kenapa, banyak hal terpikirkan selepas ia melihat talkshow siang tadi. Wajah Jongup kembali terlihat di depan matanya setelah sekian waktu mereka tidak bertemu. Seakan tali silatuhrahmi mereka sudah tidak erat, atau mungkin terputus. Padahal Junhong tidak pernah menyetujui perpisahan.
Adakah kesempatan untuk mereka bertemu kembali setelah kesalahpahaman ini selesai?
Lagipula setelah kasus saat itu. Ia kembali menjadi seorang lelaki sempurna. Tidak ada pakaian perempuan perlu dikenakan. Tidak perlu menipu. Ibunya lebih sering di rumah sakit untuk melakukan rehab yang total. Setidaknya, ia di rehab dalam keadaan beliau sadar, ada puteranya yang selalu mendukung. Orang tua Jongup juga tidak menuntut apapun lagi. Semuanya tenang...
Tidak untuk perasaannya. Ia ingin kembali bertemu Jongup jika ada kesempatan. Setidaknya mengulang pendekatan sebagai teman, sudah lebih dari cukup.
"Sudah pulang, Junhong?"
Junhong membuka pejaman matanya. Ia melompat dari sofa, segera memeluk ayahnya seperti lama tak bertemu. Anak itu memang sangat manja terutama pada ayahnya. Semua kesempurnaan Junhong, menurun banyak dari Siwon. Bahkan tingginya saja mereka sama.
"Ayah kemari hanya mau mengambis berkas tertinggal, kemudian mau pergi lagi."
Harapan Junhong seakan dihempaskan jatuh mendapati ayahnya tidak menemaninya sesuai ekspektasi awal. Ia mengerucut bibir sedih. Ia tidak suka menyendiri terus di rumahnya yang super luas. Keberadaan para asisten rumah tangga tak ada yang bisa menghiburnya.
"Kamu mau ikut, Ayah?" Siwon mengacak rambut puteranya. Binaran pemuda itu kembali berkilat semangat.
"Sekalian Ayah pertemukan kamu dengan seseorang. Sahabat lama Ayah. Kamu gak lelah, kan?"
Coba ingatkan Junhong, berapa banyak ia bisa menghabiskan waktu bersama Siwon setelah kepulangan kerja bisnisnya di luar negeri? Tidak lebih dari ke sepuluh jarinya. Siwon super sibuk, bolak-balik ke tempat berbeda. Sampai Junhong mati kebosanan di dalam rumahnya sendiri.
Rasa lelah tentu saja langsung hilang kalau ia membayangkan perjalanan panjang dan percakapan sebagai ayah-anak di tengah jalan nanti.
"Enggak, kok. Sebentar." Junhong berlari kencang menuju kamarnya di lantai kedua. Siwon menggeleng maklum sembari melenggang menuju tempat kerja, lekas mencari keperluannya.
Tidak lebih dari 30 menit ia menemukan apa yang ia perlukan, begitu juga ia bersitemu dengan puteranya yang sudah menunggu di ambang pintu dengan senyum lebar. Kaus biru muda dipakainya lucu, meskipun tanpa menanggalkan celana SMA nya.
"Nanti kita obrolin soal ujian akhirmu, ya." Keduanya beriringan mendekati mobil yang sudah dipersiapkan. Wongjun membukakan pintu, Donghae menunggu di depan kemudinya.
"Ah gak asik. Terlalu gampang."
Siwon tertawa. Keluhan puteranya ini kental sekali seperti dirinya yang suka menyepelekan soal ujian sewaktu masa sekolah. Sungguh mengalir darahnya pada pemuda manis itu.
Perjalanan mereka rupanya tidak lama juga. Hanya 45 menitan. Junhong sampai mendesah kecewa harus menunda percakapan asiknya dengan sang Ayah, dan memilih menatapi rupa gedung yang tegak berdiri dari balik kaca mobilnya.
Sejenak ia menelan ludah.
"I—Ini..."
Siwon tersenyum. "Gedung TS Agency."
Pria gagah itu keluar dari mobilnya, tanpa diikuti puteranya yang masih enggan. Kaca mobil bergerak turun. Siwon tanggapi bagaimana ekspresi puteranya malah mengeruh diajak ke tempat tersebut. Sepertinya ia tahu alasannya.
"Ini agensi calon tunanganmu."
Junhong membeliak mata. Ia memukul singkat lengan ayahnya yang suka tergelak tawa. "Jangan menggodaku!"
"Oh, ayolah. Bukankah ini kesempatan bagus? Kau punya alasan Cuma-Cuma menenemui anak itu dan memperbaiki hubungan kalian."
Junhong menyembunyikan diri. Ia semakin ragu untuk keluar mobil dan mengikuti arahan ayahnya. Mungkinkah Jongup mengharapkan kehadirannya? Atau bahkan tidak sama sekali dan meludahi wajahnya yang telah berlaku menjijikkan kepada pemuda itu.
Oke, Jongup sepertinya tidak akan setega itu.
"Kalau mau pulang , juga tidak apa-apa. Donghae, bawa balik Junhong ke rumah, ya."
Sontak Junhong melompat keluar dari mobil, tidak ingin kembali menjumpai rumah untuk saat ini. Meskipun wajahnya jadi lebih murung, namun Siwon akan melayani puteranya dengan rangkulan akrab. Diiringinya memasuki gedung.
"Tidak apa. Aku tak mau dirimu merajuk lama memikirkan anak itu. Namanya rasa bersalah, harus diarahkan menjadi benar kembali."
"Siapa yang memikirkannya?" Junhong membuang pandang. Ia mengerucut bibir, tidak senang dipojokkan Siwon.
"Kenapa aku tidak berjumpa dengan teman Ayah saja?!" Junhong menuntut. Siwon hanya menggeleng kepala. Menolak lembut.
"Urusan bisnis, kau tidak akan mengerti. Nanti kalau sudah, Ayah perkenalkan padamu."
Kebetulan saat melewati Hall gedung, seorang pria dengan setelan rapih dan sangat familiar di mata Siwon berjalan di depan mereka.
"Dongwook!"
Pria itu menoleh cepat pada sebuah sumber suara. Lantas wajah seriusnya berubah meramah. Ia memberikan tundukan hormat pada Siwon.
"Hari ini aku ada janji bertemu dengan Yongin. Apa dia sibuk?"
Dongwook terlihat professional dengan sikapnya. "Sama sekali tidak. Bahkan mungkin sedang menunggu kedatangan Siwon-ssi."
"Ah, bagus. Oh, ya sekalian," Siwon menyodorkan tubuh Junhong seperti menawar barang barteran. "Tolong bawa anak ini berjumpa dengan pemuda bernama Moon Jongup."
Dongwook meneleng kepala. Memperhatikan rupa Junhong dari ujung kepala hingga kaki. Ia merasa ada yang tidak asing dengan putera yang sering dielukan teman presiden TS ini. Dimana ia pernah bertemu? Hubungan apa dengan Jongup?
"Ia sangat fans dengan Jongup."
"AYAH!"
Dijelaskan demikian, membuat Dongwook memetik jari. Ia bisa maklumi jika Siwon menyuruhnya begitu karena putera beliau hanyalah seorang fans. Anak dan ayah sama saja, tertarik menipu orang lain dengan rahasia yang tidak bisa diungkap.
"Biar ikut dengan saya. Jongup sedang latihan koreo dengan yang lainnya."
Junhong tampak ragu. Tapi ia terus di dorong melaju oleh ayahnya. Sebesar apa sih dukungan Siwon kepada puteranya untuk mendekati kembali pria yang pernah hampir terjerat tipuan mereka?
Di belakang punggung Dongwook, Junhong susah memandang lurus ke depan. Ia sibuk menerka setiap langkah di bawah kakinya. Ia juga memperhatikan tangannya yang saling bermain jari jemari. Nerveous sekali. Maunya mati saja, atau melarikan diri.
Tanpa ia sadari, langkahnya seketika terhenti. Dongwook mempertunjukkan sebuah pintu tertutup rapat dengan papan tertulis 'Jangan diganggu' dan 'Practice Room'.
"Jongup sedang latihan sebentar. Kau bisa tunggu disini?"
Junhong mau saja menolak. Atau setidaknya ditemani saja. Malu dia untuk berjumpa sendirian.
"I—iya.. terima kasih," rupanya yang keluar malah berbeda. Lagipula ia tak mau merepotkan orang lain, dan Dongwook tidak harus mengawasi perjumpaan mereka yang ke sekian kali dengan Jongup. Itu hanya akan menimbulkan kecurigaan yang berlebih.
"Okee! Selesai~"
Semua menarik nafas jengah dan tak beraturan. Kelelahan menghabiskan 2 jam lebih melatih koreo mereka. Mereka langsung menjatuhkan diri ke lantai. Hanya Jongup yang masih mampu berdiri tegap sembari menegak airnya.
"Gila! Kita benar-benar diperas, ya? Maksudku. Konser amal, kita langsung tampil 5 lagu?! Seumur kita debut, belum pernah tampil sampai 5 lagu langsung." Daehyun mendesah kelelahan. Ia yang paling desperate dengan pelatihan kali ini.
"Cerewet," Jongup mendecih. Yongguk sampai tergelak. Daehyun pun memelotot.
"Aku yang nyanyi terus, DEMI TUHAN!"
"Sudahlah, lebih baik kita cari makan, deh. Aku lapar." Yongguk akhirnya beranjak setelah tenaganya sudah terkumpul kembali. "Makan di restoran langganan saja."
"Aku mau ayam!" Daehyun pun menyerah. Ia lebih baik segera membangunkan diri dan mencari sesuatu untuk mengisi perutnya. Perut kosong hanya akan membuatnya semakin emosian.
Jongup menghela nafas. Ia juga memerlukan bahan bakar setelah banyak terkuras meskipun ia sudah biasa merasa kelelahan. Ia pun beranjak lebih dahulu mendekati pintu.
Ketika pintunya ia buka,
Matanya membeliak mendapati sosok Junhong berdiri mematung tepat di depannya. Ia tersenyum malu-malu. "H—Hai," ucapnya sangat canggung.
"Ayam! Ayam!"
BUK
Badan Daehyun terpental mundur.
Pintu di cegat. Malah hendak ditutup dari luar, mencegah kedua member keluar.
"YAKK! JONGUP! BUKAA!" Gebukan Daehyun meronta-ronta dari pintu alumunium. Ia menuntut penjelasan kenapa Jongup malah menahan mereka berdua di dalam ruangan.
"Aku nanti pesan lewat telpon! Makan delivery saja!" Jongup masih enggan melepas pertahanan. Kenop pintu sudah dipaksa-paksa dari dalam ruangan. Terjadi persengitan Daehyun serta Jongup untuk saling membuka atau menahan pintu.
Sementara Junhong dan Yongguk saling memandang keributan di depan mereka dengan heran.
Mengalah, kekuatan Jongup terlalu kuat. Anak itu saja tidak mudah kelelahan, melawan Daehyun yang langsung terkulai mati rasa. Mana sanggup dia melawan tenaganya. Kalau lewat argument, mungkin Daehyun lebih juara.
"OKE! Kami disini! Cepat pesan! Jangan membuat lama. Aku sudah lapar, anak keparat!"
Tidak ada lagi dorongan memaksa dari dalam ruangan yang mengharuskan Jongup mempertahankan diri. Ia sudah bisa santai melepas kenop pintu.
Kemudian perhatiannya kembali terpuaskan pada sosok Junhong yang menyapanya lembut. Tidak ada tatap acuh yang sempat mengecewakannya. Junhong benar-benar memperhatikannya dengan tulus, penuh kerinduan (atau hanya perasaan Jongup saja).
"Sepertinya aku menganggu?"
Jongup langsung menggeleng cepat. "Sa—sama sekali tidak!" Mana mungkin ia tidak mengelak. Segala macam penganggu adalah siapapun yang menghalangi pertemuan Jongup dengan Junhong. Itu saja.
Keduanya kemudian beberapa saat hening. Mereka mengatur nada hati yang berdetak tidak karuan. Jongup jauh lebih sulit mengatur jantung kala bertemu Junhong daripada ketika ia kelelahan sehabis berlatih.
"Eum, apa kita bisa mengobrol di tempat lain?" Jongup berjengit, takut jika ucapannya salah atau terdengar aneh.
Rupanya di luar ekspektasi, pemuda manis itu mengangguk mau. Jongup rasanya mau melompat bahagia. Serupa mengajak seorang gadis untuk berkencan, juga dirasa ketika mengajak Junhong berbincang di tempat lain seperti saat ini. Hal sederhana sudah bisa membucahkan perasaan, ya?
Jongup sudah melangkah lebih dahulu. Ia sangat bersemangat. Sampai lupa dengan tujuan lain.
"Jongup?"
Jongup segera menoleh ke Junhong dengan riang. "Ya?"
"Eum, kau tidak menelpon delivery-nya?"
Kalau saja tidak diingatkan, Jongup rela melupakan 2 partnernya demi menghabiskan waktu bersama Junhong berdua saja.
.
.
.
.
.
.
.
Junhong dan Jongup kala itu mencari tempat duduk paling sepi di kantin agensi. Kebetulan saja memang tidak ada yang akan tertarik perhatiannya ke mereka. Palingan 3 petugas keamanan yang sempat di sapa, tapi paling tidak mau tahu maksud Jongup membawa Junhong ke kantin spesial para penghuni TS. Mereka sibuk mengisi perut sambil bergurau.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Jongup langsung melempar pertanyaan bahkan sebelum mendudukkan pantatnya. Junhong menggaruk tengkuk canggung untuk menjawab pertanyaan satu itu.
"Ayahku. Kenal dengan presiden agensi TS."
Jongup membeliak mata. Kenyataan yang mengejutkan bahwa ayah Junhong pun mengenal Yongin ketika mereka masih menjalin kemudian mengusap dagu memikirkan suatu kebetulan ini. Andai kata Siwon lebih tahu, bisa saja ia mengadu pada Yongin soal hubungan keduanya dan berbuah skandal luar biasa ke media.
Namun hal itu tidak pernah terjadi. Jadi Jongup hanya hening dan melupakannya.
"Kalau begitu, ada apa kau mau menemuiku?"
Junhong menunduk kepala. "Tidak bolehkah?"
Siapa yang akan menolak? Jongup merasa bersalah telah menumbuhkan keraguan. Ia langsung menggeleng kepala cepat, mengelak. "Bu—bukan begitu! Aku senang. Aku juga ingin bertemu denganmu!"
Mungkin terasa bablas, Jongup sampai mendekap mulutnya erat. Ia malu meracau perasaan rindunya terlalu kentara. Takut membuat Junhong menjauh ilfil.
Tidak. Ia malah terkekeh lucu. Ia terhibur dengan kekikukan Jongup di hadapannya, setelah mereka dipisahkan beberapa minggu tanpa ada pendekatan berarti kembali. Yang membuat hatinya terasa sepi. Melihat Jongup dengan segala kesalahtingkahannya, seperti mengulang pertemuan pertama mereka.
"Aku juga."
Ijinkan Jongup untuk terbang—jika bisa—saat melihat pipi Jongup memuram merah setelah mengatakan 2 kata. Pemuda itu—ya, di hadapannya adalah seorang pemuda manis, lepas dari rambut palsu dan gaun bunga-bunga. Ia jauh lebih manis nan segar dipandang dengan wujud semestinya.
Mungkin Jongup justru lebih jatuh hati pada wujud lelakinya yang begitu sempurna dibanding sebagai wanita muda?
"Eum, hari ini adalah hari pertamaku ujian." Junhong menggunting kecanggungan dengan sekedar basa-basi. Jongup kembali keikut arus percakapan, meskipun masih tergugu.
"Oh ya? Minggu ujian? Bagaimana?"
"Mudah. Aku lancar menjawabnya."
Jongup manyun. "Dasar anak pintar."
Mungkin hari itu adalah hari bersejarah bagi Jongup membuat Junhong (bukan Juyong) tertawa. Jongup tersenyum. Senyuman Junhong yang dirindukannya tanpa hiasan lipstick memoles bibir atau bulu mata palsunya yang terkatup bersama matanya yang terpejam, menimbulkan rasa yang baru. Jongup seakan bertemu batu berlian cantik yang mulus seadanya setelah kehilangan permata yang terlalu banyak dipoles.
"Junhong."
Pemuda itu berhenti tertawa, dan mengamati Jongup dengan terheran.
"Maukah kau berteman denganku lagi?"
Pastilah kedipan mata Junhong naik turun cepat. Tidak menduga sebuah ajakan polos Jongup membuat getaran tak senada itu kembali. Entah getaran mengartikan rasa bahagia atau kekhawatiran. Bagaimana rasanya berteman kembali dengan seorang penipu?
Melihat kelesuan wajah Junhong, Jongup tebak anak itu masih membayangkan kenangan-kenangan bodoh yang memang punya banyak kepalsuan. Walaupun Jongup tidak keberatan mengingat masa-masa itu, tapi ia tidak mau kenangan tersebut ditanam jadi sosok parasit dalam perdamaian mereka.
"Biarkan hal lalu menjadi masa lalu. Kita buat apa yang sekarang jadi penentu masa kita ke depannya." Jongup sengaja menaruh tangannya di atas tangan Junhong. Rengkuh, elus lembut, mendekapnya dengan sepenuh hati seperti sebelumnya mereka mematri diri jadi kekasih. "Buat aku jatuh cinta lagi."
Junhong mendelik. Pandangannya tajam, tidak percaya. "Kau sudah jijik padaku, kan?"
"Aku tidak pernah bilang 'aku jijik' dengan rupamu yang terpaksa. Apalagi jijik dengan perasaan kita berdua." Jongup mendesah lemah. "Aku bahkan tidak sudi berkata 'Kita putus'."
"Tapi kau berkata 'Selamat tinggal' !"
Pekikan Junhong sempat menarik perhatian penghuni kantin. Mereka menatap dua insan yang sudah melepas tangan mereka yang bertaut satu sama lain agar tidak diketahui kedekatan intensnya. Junhong pun merunduk kaku kepalanya, ia merasa dirinya begitu menyedihkan.
"Aku berkata selama tinggal pada Juyong. Bukan padamu, Junhong." Nada Jongup lembut saat berbisik. Junhong menangkapnya, dengan sebuah tatapan kejutan. Berharap makna kalimat yang ditangkapnya, serupa dengan makna pemikiran Jongup.
"Maukah kau berteman denganku, Junhong?" Jongup ulurkan jabatan tangan seperti sebuah perkenalan biasa terhadap orang yang baru dikenal. Sejenak pemuda bermata agak biru itu menatap lama jabatan tangan tersebut, seakan nyawa belum kembali dari kejutan Jongup yang tidak terduga.
Inikah awal untuk sebuah cerita yang lebih indah?
Bergerak lamban, tangan Junhong terjabat juga dengan tangan Jongup. Mereka bersalam lama, sengaja biar menyamankan dekapan tangan mereka kembali seperti sebelumnya.
Dua orang ini, ingin merubah bad ending menjadi sebuah happy ending dari kesempatan kedua.
.
.
.
.
.
.
.
Siwon mengamati sepenuh ruangan yang ditata begitu rapih. Ruangan elit minimalis dengan dominasi hitam putih. Kaca bening lebar yang mencuat langsung pemandangan kota besar, menjadi sumber cahaya yang langsung masuk menerpa.
Memang baru pertama kali Siwon bisa menjejakkan kaki ke dalam ruangan orang nomor satu di TS. Setelah pertemuan sejak begitu lama dari SMA bersama sahabatnya, sampai ia membangun gedungnya sendiri.
Bolehkah ia berdecak kagum? 2 persahabatn konyol mereka, menciptakan dua pengusaha termahsyur di Korea?
Yongin tidak juga berbalik punggung ketika Siwon sudah mendudukkan diri di kursi panas berhadapan dengan meja kebesarannya Cuma-Cuma tanpa disuruh. Ia berdiam menatap alam, membuat Siwon terpaku melihat sisi melankolis sahabat lamanya itu.
Seorang asisten tiba-tiba masuk. Entah siapa, yang pasti keberadaannya muncul tiba-tiba tanpa disuruh. Membawakan secangkir kopi untuk Siwon, dan segelas teh hangat untuk Yongin. Siwon mencibir, Yongin masih ingat dengan kesukaannya mengonsumsi kopi hitam.
"Apa yang tengah kau pikirkan? Bukankah kau sedang merindukanku saat ini?" tanya Siwon sembari menyesap kopi hitam kepunyaan agensi besar ini. Siapa tahu di luar ekpektasi indera pengecapnya.
"Aku bertemu Hayeon kembali siang ini."
Glek, Siwon tersedak dengan kopinya. Ia terburu-buru mencari sapu tangan di kantung jasnya, mengusap noda kopi yang hampir menetes dari sudut bibir. Kasian jasnya nanti kotor.
"Demi Tuhan. Kukira pertemuan di restoran mewah kala kita bertiga bersama itu, adalah pertemuan terakhir kalian. Bukankah ia bilang sendiri, menginginkanmu menjauhinya?"
"Aku tidak sanggup, Siwon. Itu tidak mungkin." Yongin akhirnya mau bertatap muka dengan Siwon. Keresahan hati, membuatnya tak sanggup menatap cahaya yang semakin meredup di ufuk barat. "Aku terlalu mencintainya."
"Pantas saja puteramu benci. Kau cinta mati terhadap wanita selain ibu kandungnya," Siwon mendecak entah kagum atau miris. "Kenapa kau mengincar Hayeon yang bahkan terlanjur jatuh cinta dengan model bawahanmu yang kau senangi itu?"
Siwon memutar matanya jengah. "Siapa namanya? Pemuda tampan yang kau rekrut itu."
Ekspresi Yongin tidak suka. Ia membuang muka dengan tidak senang. Malas memberikan jawaban. "Aku tidak pernah menginginkan modelku mengencani wanita yang kuincar"
"Kau yang membuat kesalahan sendiri, Yongin. Kau juga tidak bisa menghendaki semua hal berada dalam aturanmu. Kau ini bukan Tuhan, dan cinta itu tidak bisa kita tebak akan mendarat ke siapa."
Yongin meminum kopinya perlahan, merasakan kerongkongannya semakin kering akibat berjibaku kembali dengan sahabatnya. Berdebat dengan lelaki terhormat Choi, akan berakhir cukup panjang.
"Jika pendaratan hatinya telah hilang, apakah bisa ia mengalir ke pendaratan lain yang baru dibangun? Karena dirinya akan menjadi pendaratan kedua itu."
Ucapan Yongin disambut tawa oleh Siwon. Ia paling paham dengan kalimat tersirat begitu. Tidak ia sangka betapa naif sahabatnya menindaki perasaan orang lain, selaku memerintah bawahannya membangun sebuah agensi.
"Aku tidak tahu jika aliran itu sudi mendarat. Tapi jika kau membangunnya terus , aliran itu tidak akan pergi kemana pun, selain terpaksa melewati tanah bangunanmu." Siwon mengedip mata jenaka pada sahabatnya, disambut senyum lebar.
Yongin tersenyum. Melakukan perjanjian dengan obrolan pembuka yang terdengar konyol ini, membuat cukup ilham untuknya. Ia mengulurkan jabatan tangannya , kembali ke bentuk pertemuan formalitas di antara dua orang ini. Tidak memandang sebagai sahabat lagi, tapi rival sekaligus partner bekerja.
"Itulah kenapa ku mempercayaimu menjadi pemegang saham agensi ini, Choi Siwon."
"Senang bekerja sama denganmu," Siwon menyungging senyum tampannya begitu puas.
"BWAH! KENYANG!" Daehyun melempar diri ke atas sofa dorm nya. Perut berbuncit ia tepuk-tepuk. Ia sungguh merasa nikmat sekaligus kepenuhan.
"Siapa suruh kau memakan jatah Jongup juga, dasar Rakus." Yongguk mulai menggerutu.
"Anak itu memesan punya dirinya sendiri, tapi ia pun menghilang entah kemana. Aku tak mau membuang makanan." Daehyun menegapkan duduk. "Pasti ia sedang berkencan dengan kekasih gelapnya."
"Kau ini tidak pernah berhenti berpikiran buruk tentangnya, ya." Yongguk mengekeh setelah ia menyeduhkan segelas teh untuk dirinya sendiri. Sampai ia terusik dengan suara HP dalam celana jeansnya.
Dahinya langsung berkerut, menunjukkan ia tak senang. Pesan dari Chungha yang bertubi-tubi sanggup membuatnya kehilangan mood setelah makan ayam goreng.
"Chungha lagi, Yongguk?" Daehyun seakan terbiasa dengan air muka leadernya yang langsung mengeruh kalau sedang mengecek HP. Benar saja, tanggapan berupa helaan nafas membuktikan Yongguk begitu lelah dengan perlakuan gadis itu. Ia selalu mengekorinya, menuntutnya, apalagi jadwal pernikahan mereka yang semakin mendekat.
"Kau mau saja menikah dengan nenek sihir itu," cibir Daehyun sama sekali tidak bisa memberi hiburan.
"Aku hanya melonggarkan saja keinginannya. Lagipula melarikan diri pun, aku tak bisa."
Daehyun berdecak, sembari memainkan handphone. Ia sedang memberikan waktu senggangnya mengecek beberapa update para fans di dumay. "Bagaimana dengan anak itu? Kau sudah mendapat kabar tentangnya?"
"Aku seperti dirimu. Tidak ada kabar." Yongguk menaruh HP nya. Menegak teh hangatnya sedikit. Setidaknya harum chamomile membuat otaknya tidak terlalu mumet. "Himchan memang sulit dicari tahu karena dia tidak punya HP. Youngjae malah tidak bisa dihubungi karena nomorku di blokirnya."
"dan aku tak mau membantumu mengirimkan permintaan ke Youngjae jadi perantara hubungan kalian. Sedangkan pesan-pesanku saja untuknya tidak ada yang dibalas satupun."
Mereka berdua mendesah lemah. Kompak, mereka saling berbagi keresahan yang seolah sejoli. Padahal mereka tidak pernah 'berjodoh' dalam segi apapun hingga melonggarkan pendekatan mereka kecuali hubungan professional.
Tak disangka, berupa perasaan cinta kepada dua pemuda belia yang juga sahabat sejati, mampu menyatukan mereka.
Sayangnya sampai saat ini, keduanya belum dapat jalan keluar untuk bisa meraih perasaan pemuda-pemuda itu.
"Aku hanya berharap ada keajaiban, dimana pernikahanku dengan Chungha gagal dan bisa menyatakan perasaanku pada Himchan."
Daehyun memicing, ia mulai asyik ke alur percakapan. Ditekannya bantal yang terpeluk sambil badannya menggeser dekat ke Yongguk antusias. "Kau serius sampai saat ini belum menyatakan perasaanmu ke anak itu?"
"Sama sepertimu."
Daehyun mendecih, "Aku sudah! Tapi ia tidak pernah balas. Argh~" ia kemudian melempar diri, berebahan ke atas sofa biar tidak tambah stress. "Aku harus pakai cara pemaksaan berarti."
"Kau mau ditusuk berapa kali, Dae?"
Yongguk pun menggeleng kepala, dan lekas terperanjat ketika mendapati pesan selanjutnya dari Chungha. Kali ini dengan unsur memaksa, ingin Yongguk segera menjemputnya dari salon kecantikan. Ia rasanya ingin melempar HP sendiri.
"Kalau anak itu tidak segera menyerahkan diri, aku rela ditusuk berapa kali pun." HP Daehyun berdenting ketika ia mengeluh. Ia sesaat mengabaikan. Palingan pesan dari Dongwook. "Kau mau kemana?"
Yongguk rupanya kembali bersiap dengan setelan rapihnya, dan terburu meraih kunci mobil. Disenyuminya Daehyun sebagai respon. "Chungha terancam bunuh diri kalau aku tidak menjemputnya."
"Bukankah itu lebih baik?"
Yongguk mengekeh miris. Ia memang tidak becanda soal bunuh diri, itu yang terketik sungguhan di HP nya.
Yongguk yang kemudian berlalu, meninggalkan Daehyun seorang diri. Ia terus mendesah berat nafasnya akibat putus asa. Gara-gara percakapan tadi, rasa menyerahnya jadi hilang, ia malah semakin terpacu untuk mencari tahu soal Youngjae secepatnya. Takut kalau terlambat, sudah ada yang punya.
HPnya berdenting lagi. Daehyun menggeram kesal dengan notifikasi penganggu. Ia meraih HP nya acuh tak acuh. Semoga LINE dari Diana—mantan kekasihnya—tidak membuatnya semakin down.
D'~ 18:34
Aku tadi bertemu dengan Youngjae. Kelihatannya dia kangen sama kamu.
D'~ 18:34
Oh ya, aku mengundangnya ke konser amal. Dia akan datang.
D'~ 18:37
Beri aku hadiah sebelum aku pergi ke Paris, sebagai tanda terima kasih.
D'~ 18:38
/Emot kissu/
D'~ 18:45
Ngomong-ngomong kamu tahu dia lagi ujian, kan?
Daehyun terjungkal dari sofa akibat pesan mendadak dari Diana. Matanya terbelakak, sekali lagi memperhatikan layar HP nya dengan pandangan tidak percaya.
Sekolah Jaewon sudah mulai ramai dengan banyak siswa berlalu lalang. Siang ini tidak terlalu cukup terik, dan tampaknya berita bagus untuk mereka yang baru 'kepanasan' menjalani ujian.
Seorang pemuda mengendap, mengintip dari balik pohon. Ia terlihat mencurigakan, berapa kali beberapa gadis yang melihat kelakuannya urung mendekat dan melarikan diri. Takut pemuda itu adalah seorang penculik.
Daehyun memang tidak tahu malu ketika mengendap di balik pohon, dan mengamati beberapa siswa keluar dari dalam sekolah begitu antusiasnya.
Ia semakin mengeratkan jaket dan maskernya. Di balik kacamata hitam, tatapannya menembus tajam ke setiap orang. Matanya menyalang ke mana-mana, memilah satu persatu siswa yang keluar. Siapa tahu yang dicari pun dapat ia temui.
"Itu Moon Jongup!?"
"KYAAAA!"
Kefokusan Daehyun harus berakhir setelah mendapati berpuluh siswa berkerumun. Berlarian mendekati seseorang yang baru keluar dari mobilnya.
Daehyun sampai menjatuhkan rahang melihat sosok seorang pemuda yang lebih berani dengan tampakan segar tanpa penghalang jaket , kacamata, masker, segala persembunyian tepat di ujung pandangannya.
Daehyun sampai membandingkan sisi dirinya dan Jongup. Kenapa ia repot repot menyamar, sedangkan Jongup bisa melenggang dengan penampilan fashionistanya?
Yang bodoh siapa? Daehyun atau Jongup? Atau jongup berusaha menarik perhatian mereka agar Daehyun bisa bebas bergerak?
Banyak orang disana berkerumun dan menyerobot meminta tanda tangan atau foto. Jongup dengan senyum ramah melayani satu-satu. Mereka sama sekali tidak mempertanyakan maksud lelaki itu datang ke SMA Jaewon tiba-tiba. Daehyun justru yang mempertanyakannya dengan penuh curiga. Tapi ia tidak akan tertarik memunculkan jati dirinya, karena tidak sesuai rencana.
Jaebum, Himchan, juga Junhong baru saja keluar membahas ujian yang mereka baru saja lewati dengan begitu banyak perdebatan. Sampai tak sadar dengan hiruk pikuk di depan mereka. Berjalan berkerumun bertiga keluar dari sekolah sampai sesuatu mencengangkan terjadi.
Jongup memberikan lambaian tangan ke arah Junhong.
"Jongup?"
Junhong terperangah, dua temannya menjatuhkan rahang penuh kejutan. Seluruh fans akan menyudutkan sosok Junhong yang palin dinotis.
"Sudah selesai ujiannya?" Jongup kelihatan setinggi Junhong. Pasti sudah siap dengan sepatu bersol biar terlihat menarik di depan pemuda manis itu yang tengah melongok tidak konsen pada keberadaan idola pujaan di hadapannya. Sama sekali mengabaikan seluruh atensi orang-orang yang tengah mengelilinginya.
"I—iya.."
"Syukurlah, karena aku mau ngajak kamu jalan-jalan abis ini,"
Jaebum dan Himchan melongok kaget kini terlempar kepada Junhong. Semua orang langsung menatap nanar, murka, atau ingin menangis.
Kenapa ajakan itu tidak terlempar ke mereka, tapi ke pemuda yang terlihat polos dan pendiam ini? Bahkan mereka ragu Junhong adalah pengikut Jongup yang begitu setia..
"A—aku tidak yakin," Junhong melihat sekitar. Kenapa semua orang semakin memojokkannya.
"Aku begitu lapar dan kau pasti juga. Tidak ada salahnya kita makan-makan dulu di luar, ayuk." Tanpa ada sergahan , penolakan, apalagi perdebatan panjang lebar, tangan Junhong diraihnya dan dibawa pergi. Mendekati mobil, menghiraukan teriakan penuh cinta para penggemar.
Mungkin Junhong masih tidak sepenuh sadar dengan apa yang terjadi, tau-tau mobil melaju pergi membawanya. Jaebum dan Himchan ditinggalkan dalam keadaan mematung di tempat. Padahal kertas ujian Junhong masih ada di tangan mereka.
Daehyun melihat semua kejadian itu juga dengan longokan tak percaya. Rekan kerjanya melakukan hal lebih gila dari yang ia duga. Sampai ia tidak konsen dengan tujuan awalnya.
Namun setidaknya ia tahu kebenaran, siapa kekasih gelap yang selama ini Jongup simpan.
Melihat hiruk pikuk tidak berakhir dari para penggemar Jongup yang tak jauh dari mobilnya terparkir, Daehyun mencoba mengendap masuk ke mobilnya sendiri dan ikut melarikan diri. Ia tidak jadi membuntuti Youngjae, karena ia lebih takut ketahuan para fans nantinya.
Namun,
"Ngapain kau kemari?"
Daehyun terperanjat melihat satu tangan terentang menghalangi jalan masuknya ke mobil. Ia kira seorang fans ,
ternyata lebih dari itu.
*TBC*
Ciee mbak chungha baru comeback :p
Maaf lama updatenya ya :)
Berikan support kalian untuk updatean lebih baik :)
Cerita ini paling cepat update di Wattpad, biasanya up2date disana ( Mir_ramen). Saya juga update Ori BL di acc lain saya ( Mir_ayam).
