Junhong mengerjab-ngerjab lama sampai ia sadar bahwa pria itu mulai mengajak bicara Himchan. Pemuda di rangkulannya dengan sangat antusias menunggui kabar dari pria itu.

"Aku telah meminta dokter melakukan hal terbaik mereka untuk memulihkan ibumu. Ia butuh istirahat lama karena sakitnya."

Himchan mengusap wajah lelahnya, "Ibu sakit apa?!"

Helaan napas Yongin terdengar memilukan, "Tipus. Kau tidak segera membawanya ke rumah sakit, ia kehilangan banyak cairan."

Himchan semakin down. Ia menyembunyikan wajah menangisnya di dekapan tangan, merengek menyesali segala kebodohannya sebagai putera semata wayang. Berkali kali ibunya sakit, tidak pernah separah ini, dan tidak pernah tertangani seharusnya. Maka ketika semua ini terlanjur terjadi, ia sadar ibunya adalah mahluk terapuh yang hidup bersamanya, dan ia tidak becus menyelamatkannya.

Yongin tampak menarik napas. Dalam batinnya ia ingin marah dengan Himchan, memaki pemuda itu yang begitu teledor tidak bisa menyelamatkan wanita tercintanya. Sampai ia harus menahan guratan emosinya. "Aku telah mengurusi biaya administrasi dan segala kebutuhan rumah sakit untuk ibumu."

Himchan mengangkat kepala, wajahnya tampak suram dan terkejut. "A—apa?"

"Bukan waktunya untuk membahas kau rela atau tidak dibayari olehku. Kau sudah meminta tolong, aku akan melakukannya. Lagipula Hayeon adalah sahabatku."

Himchan hanya bisa diam. Wajah Yongin terlalu serius untuk diberi penolakan lain walaupun ini jelas terlalu berlebihan. Namun konsentrasinya semakin buyar mengingat keadaan ibunya yang tidak baik.

"Kau pasti terlalu lelah sehabis sekolah, juga memikirkan ibumu. Sebaiknya kau pulang. Biar aku yang menungguinya."

"Ta—tapi, Yongin-ssi—" Tangan Himchan mendadak dirangkul Junhong. Pemuda manis itu memberi tanda bahwa yang Yongin utarakan benar. Menunggu Ibunya dalam keadaan Himchan masih dikala shock, hanya akan semakin membuatnya down. Ia butuh istirahat dulu, sembari menenangkan pikiran. Barulah bisa bertemu ibunya lagi.

"Aku akan menemanimu pulang." Junhong tawari.

Himchan akhirnya urung dan ikut dengan masukan Junhong dan Yongin. Ia memberikan kepercayaan pada Yongin yang telah membantu lebih jauh dari dirinya. Maka ia ijinkan Yongin menemani ibunya.

"Kembalilah besok pagi jika kau tidak ada kegiatan. Aku pastikan ibumu mendapatkan perawatan terbaik."

Himchan tidak tahu harus merespon apa. Mulutnya terlalu lemas sekedar berucap terima kasih, atau terlalu ragu untuk membungkuk saja. Ia ikuti kemana Junhong membawanya mendekati pria berjas lainnya yang telah usai mengambil dokumen. Sementara Yongin menyilang tangan mengamati punggung Himchan, dengan gurat sebal tanpa disadari.

"Anak tidak berguna, ck."

Setelah kedua anak itu sudah berlalu, Yongin mendapati telepon berdering di kantungnya. Ia terlalu sungkan untuk mengangkatnya, namun deringan berkali-kali membuatnya semakin ditekan emosi. Maka ia mengangkat hubungan itu, dan mendapati suara merengek di seberang sana.

Pastilah urusan yang sama.

"Chungha?"

Chungha menghabiskan wine nya yang kedua. Ia cukup tolelir dengan alcohol, makai ia masih bisa mengobrol dengan jelas. Bahkan memahami ucapan lawan bicara. Walaupun emosinya tetap tidak terkendali.

"YONGGUK MELARIKAN DIRI SAAT AKU SEDANG FITTING GAUN!"

Yongin sampai menjauhkan HP nya.

"Anak itu. Anak ayah (Chungha mulai memanggil Yongin "ayah"), sangat menyebalkan! Ia beralasan ingin rapat, di tengah kami melakukan fitting gaun. Bahkan ia malas berkomentar tentang tuxedonya!"

Yongin memutar bola mata jengahnya. Ini adalah laporan berikut keluhan ke 10 kali beberapa hari ini. Bahkan lebih dari jumlah hari dalam satu minggu.

"Chungha, ini bukan waktunya meributkan hal yang sepele. Kalian bisa lakukan fitting besok." Ucapnya bersuara rendah dan wibawa.

"IA TERUS MENUNDAI DENGAN BERMACAM ALASAN! DIA KIRA DIA SIAPA!? DIA CALON SUAMI KIM CHUNGHA! MODEL TERNAMA. WAJAH DIA DI MAJALAH MANAPUN BERSAMAKU! TANPA AKU, DIA HANYA IDOLA ECEK."

Yongin mulai naik darah mendengar nama puteranya direndahkan. Senoda apapun puteranya, mencela langsung kepadanya adalah perbuatan memuakkan. Namun ia mencoba sabar. Ia selalu bersabar merespon Chungha yang akan menjadi menantu merepotkannya.

Demi Tuhan, bila ayahnya bukan pemilik Atalic Record, ia sudah menendang wanita itu begitu jauh dari kehidupan keluarganya.

"Ayah, dari kemarin susah ditemui. Kemana saja?" Entah kenapa Chungha mulai sedikit tenang. Mungkin wine di gelasnya sedikit mengambil tenaganya.

"Aku di rumah sakit. Menemani ibunya Himchan yang sedang sakit."

"AAAA~ Ayah sudah pernah cerita, ayah akan merebut wanita kesayangan ayah dari anak brengsek itu!?"

"Chungha!? Kau dimana? Kau tidak sedang bersama siapa siapa kan?" Yongin cemas. Ia khawatir saking mabuknya Chungha, ia akan melakukan hal teledor dengan berceloteh di depan banyak orang.

"Aku tidak sebodoh itu, Ayah. Aku sedang di apartemenku—lagi. Tanpa si bodoh Yongguk. Menikmati segelas wine dengan hati tertusuk." Yap benar, ucapan Chungha mulai mengada. Sudah sangat mabuk. "Aku harap rencana Ayah berhasil. Jadi aku bisa menikah dengan tenang bersama Yongguk."

Yongin menyeringai. Di balik delikannya kepada pintu keluar rumah sakit yang tadi terlewati dua bocah, ia menyimpan rahasia yang jahat.

"Pasti. Kita sama-sama punya 1 rencana. Menyingkirkan Himchan, kan?"

"Keliatannya, aku ga bisa ninggalin hyung sendiri." Himchan memperhatikan Junhong yang mengajaknya mengobrol selama perjalanan pulang. "Gimana kalau hyung tinggal bersamaku dulu untuk sementara? Besok kita bisa jenguk bibi Hayeon bareng. Aku punya banyak baju yang lumayan muat buat hyung."

Himchan tampak ragu mendengar tawaran Junhong. Melihat tampang yang tidak enak dari Himchan, Junhong hanya bisa memberi elusan punggung menenangkannya. "Jangan menolak bantuanku kali ini. Hyung udah lama ga main ke rumahku, kan?"

"Makasih, Junhong." Himchan memberikan senyuman yang lebih segar. Pertanda keadaan hatinya mulai baikan. "Ngomong-ngomong, kamu kenapa juga ada di rumah sakit?"

"Ah, aku menjenguk ibuku."

"Ibumu?"

"Aku belum pernah cerita kalo ibuku sudah pulang dari panti rehabilitasi? Beliau masih harus dirawat lanjut untuk kondisinya di rumah sakit itu. Tubuhnya jadi sering sakit-sakitan selama pemulihan"

"Astaga. Aku minta maaf."

"Tidak apa-apa. Ibu sudah lebih baik."

Himchan memberi ulasan senyum. "Kau sebaiknya menjaga ibumu sebaik mungkin. Kita sebagai anak tidak tahu bagaimana mereka menyimpan rasa kecewa dan sakit mereka."

Junhong menatap kedua kakinya yang sedikit bermain-main canggung. "Aku memang sering mengecewakan beliau. Tapi kali ini benar seperti yang hyung bilang, aku kali ini akan menjaganya sebaik mungkin. Aku tidak ingin mengecewakannya lagi."

Himchan memberikan tepukan di pundak Junhong membanggakan perlakuannya.

"Tapi hyung-"

"Eum?"

Junhong mengalihkan pandang dari sepatunya, ke pada dua pandang Himchan dengan serius. "Bagaimana jika aku tinggal bersama ibuku, dan meninggalkan kalian?"

"Maksudmu?"

Junhong memilih mengatup bibirnya ketika ditanya lebih lanjut. Ia bahkan tidak bisa memberitahu sahabatnya, apalagi jika Jongup tahu. Namun waktunya memang selalu tidak pas. Apalagi dengan Himchan yang sedang memikirkan ibunya. Juga, Jongup yang sedang begitu bahagia berdamai dengannya.

Rasanya campur aduk.

"A—" Junhong melegakan punggungnya kembali ke kursi. "Aku kira mungkin ibu senang aku punya teman di rumah. Aku tidak sendiri lagi. Maksudnya begitu."

Himchan mengernyit dahi. Tapi ia tidak ingin mencari tahu lebih. "Baiklah, kutemani." Himchan menyerah dengan senyuman mengulas. Junhong melompat senang.

"Yes!"

"Anggap saja rumah sendiri ya, Hyung. Aku buatkan susu." Junhong membiarkan Himchan bergelung dengan selimut sambil duduk menikmati tontonan tv. Ini kali pertama setelah sekian lama Himchan menikmati suasana penuh hiburan di depannya. Ia menikmati lingkungan rumah mewah yang ditinggali Junhong bak istana, 5 kali lipat lebih luas dari rumah miliknya.

Sementara itu, Junhong pergi ke dapur. Tanpa dibantu asisten rumah tangga, ia lebih memilih membuat susu sendiri. Saat meracik, HP nya berdering.

"Halo?"

Suara yang ceria dan begitu bersemangat segera menjawab. Siapa lagi kalau bukan Jongup.

"Aku rindu padamu!"

Junhong terkekeh. Ia menyelipkan hp nya di antara telinga dan pundak, biar dua tangannya bebas meracik susu. "Baru sehari."

"Sehari itu sangat berharga. Lagipula hari ini ujian terakhir, kan?" Jongup mendekatkan bibirnya ke HP. Berbisik. "Congrats, sayang~"

Selipan HP Junhong berhasil lolos, namun siap tertangkap. Jantungnya berdetak cepat karena was-was HP nya rusak, sekaligus malu dengan ucapan Jongup.

"A—apa yang kau—" Junhong berdehem. "Jangan panggil aku begitu."

Jongup mengerut bibir. "Kau mau aku marah lagi kayak dulu?"

Junhong mendecih kesal. Susunya sudah mau selesai. "Ck. Kau dimana? Bukannya hari ini ada rapat?"

"Yap. Aku meninggalkan ruang rapat karena ingin menelponmu."

Junhong menengok HP nya, berharap bisa langsung menatap sengit langsung ke mata Jongup. Menandakan marah. "Kau gila? Konser amal itu penting!"

"Well. Soal koreo—bagianku, sudah jelas. 2 hari kami rest up, Jumatnya kami mulai rehearsal. Sabtu kami perform. Sudah jelas, kan?"

Junhong mendesah lemas. "Itu jadwal kalian. Kenapa kau kasih tau ke aku?"

"Karena kamu fans lucky Moon Jongup."

Junhong terkekeh. Seorang asisten rumah tangga memberikan tanda untuk mengambilkan nampan. Junhong ijinkan. Sembari menunggu nampan, Junhong kembali melanjutkan obrolan.

"Aku akan menyemangatimu."

"Harus dong~ Langsung semangatiku besok, ok?"

Junhong mengangguk, meskipun anggukannya tidak akan dilihat oleh orang yang di seberang.

Junhong kemudian menaruh 2 gelas susu ke atas nampan, "Aku istirahat dulu."

"Baiklah, selamat malam! Mimpi indah." Jongup begitu antusias mengucapkannya hingga hampir terlompat-lompat. Setelah dipastikan hubungan terputus, ia mengamati HP nya tanpa henti. Melihat nama kontak Junhong yang didapatkannya setelah pertemuan kemarin, hingga lupa diri.

Rasanya manis seperti cinta bersemi kembali. Ia jujur lebih jatuh cinta dengan rupanya sebagai Junhong ketimbang jadi Juyong.

Tok Tok, suara ketukan pintu kaca membuyarkan konsentrasi. Daehyun rupanya yang melakukan ketukan dengan sengaja, sembari mendelik jenuh ke arah Jongup yang dicurigainya. "Udah selesai sayang-sayangannya?"

Jongup mendengus. Memasukkan HP nya kasar. "Ya. Aku akan ke dalam."

Himchan mengamati HP nya. Membaca pesan yang masuk. Ia mendapati beberapa pesan yang dikirimkan Yongin perihal keadaan ibunya.

"Himchannn! Ini susunya—" gelas ditaruh di hadapan Himchan. Junhong memperhatikan Himchan menggunakan sebuah HP yang jarang terlihat, membuatnya heran. "I—itu HP? Sejak kapan Himchan punya HP?"

"Ah, i—ini." Himchan tersenyum canggung. Ia tidak berani mengakui bahwa HP itu diberi dari orang lain yang baru ia kenal. "Aku menabung?" ucapnya dengan sedikit ragu. Sambil mengamati Junhong yang tampak takjub dengan HP barunya.

"Kita harus menghubungi Youngjae," Junhong merebut HP itu dari tangan empunya. Mendadak mengetikkan angka-angka di atas HP Himchan. "Dia pasti akan kaget sekali."

"E—eh?"

"Sssstt" Junhong mencegah tangan Himchan merebut HP nya kembali. Sampai hubungan telepon pun tersambung.

Di tempat lain, Youngjae baru saja kembali setelah jalan-jalan dengan Jaebum menghabiskan waktu bermain game dan sedikit berbelanja sesuatu untuk meringankan otaknya dari ujian yang telah usai. Baru saja ia hendak menaruh tas nya, HP nya berdering.

"Rumah sepi sekali," ucap Youngjae di sela-sela mengaktifkan HP nya. Ia mendapati sebuah nomor asing menghubungi. Keningnya berkerut, seingatnya ia tidak pernah memberikan nomor telepon kepada siapapun baru-baru ini.

"Halo—" Youngjae terkejut dengan wajah Junhong yang terpampang di layar monitornya. Memberikan dadahan akrab dan sumringahnya yang aneh. "Nomor baru?"

Junhong di seberang sana hanya menggeleng. "Ini punya Himchan! Himchan, katakan halo!" Junhong mempertunjukkan wajah Himchan ke layar hingga membuat Youngjae semakin kaget.

"Tidak mungkin!"

Himchan hanya tertawa kecil. "Maaf menganggumu, Youngjae."

"Ba—bagaimana kalian bisa berdua? Tumben. Dan HP mu Himchan! Akhirnya~" Youngjae melempar diri ke atas sofa. "Kapan kau dapatkan? Kau harus sering-sering kuhubungi setelah ini."

"Tidak usah, Youngjae. Aku juga tidak sering memakainya. Hari ini aku akan menginap dengan Junhong."

"Ibunya Himchan masuk rumah sakit." Junhong menyerobot percakapan hingga membuat Youngjae semakin terkesiap.

"A—apa!? Sejak kapan!?"

"Hari ini. Himchan perlu menenangkan diri dulu jadi kuajak ke rumah."

Penjelasan Junhong membuat Youngjae lebih khawatir.

"Tunggu aku! Aku akan segera kesana" Youngjae bergerak cepat, bangkit dari sofanya dan mengambil tas.

"E—eh!? Untuk apa!?"

"Aku juga akan menginap! Jangan pada tidur dulu!" Kemudian hubungan Youngjae pun terputus.

Himchan dan Junhong saling memperhatikan satu sama lain begitu heran setelah monitor HP itu berubah gelap.

"Apa Youngjae sering datang kemari, Junhong?" pertanyaan itu muncul dari Himchan yang sudah memulai minum susunya. Pemuda yang sedang banyak menyiapkan tempat bermalam teman-temannya, hanya mengendik bahu.

"Tidak. Bahkan hanya beberapa kali. Terakhir saat ada barangnya yang terbawa olehku dan dia ingin mengambilnya. Aku lebih sering ke rumahnya."

Himchan mengangguk paham seraya menyeruput susunya. Matanya terus berkeliling ke sekitar rumah besar namun sepi sekali. Ia tidak mengira anak muda seperti Junhong tahan tinggal sendiri di rumah sebesar ini. Bagaimana kalau nantinya ada hantu muncul?

"Aku berpikir, setelah kelulusan nanti, kau akan kuliah dimana, Junhong?"

Junhong mengerem gerakannya menaruh snack-snack di meja. Ia meneguk ludah berat. Pertanyaan yang tidak diharapkan didengarnya lagi. Apalagi disebut oleh sahabatnya sendiri. Ini begitu berat untuk dijawab.

"Eum, mungkin meneruskan kuliah."

"Oh, dimana?" Himchan tampak penasaran. Menunggu jawaban, meskipun si lawan bicara sudah terlihat gelisah.

"A—aku ingin pergi ke tempat yang cukup menjanjikan, tapi belum tahu dimana." Junhong cekikikan, menyembunyikan kegugupan.

"Ke luar negeri?"

Junhong tergugu. Ia tidak tahu Himchan akan langsung menebak benar. Semakin tertekan saja Junhong dikala itu. Ia bahkan tidak bisa membalas pandang Himchan.

"M—mungkin..."

"Itu bagus. Aku bisa menebak itu dengan sangat pasti," Himchan tampak semangat, tidak ada tanda cemas di dalamnya. Ia amat mendukung. "Kau pasti akan dapat pendidikan bagus di luar negeri dan menyusul kesuksesan ayahmu."

"Menurutmu tidak apa jika aku pergi jauh?"

Himchan tergelak. "Untuk apa khawatir? Ini mimpimu, bukan mimpi siapapun. Aku akan mendukungmu sejauh apapun itu."

Jawaban Himchan memberikan kelegaan sementara dengan suasana hatinya. Himchan satu-satunya sahabat yang setidaknya tahu tentang rencana lanjutan sehabis dirinya lulus. Tapi jarinya bergerak canggung. Ia masih teringat bahwa ada 1 orang yang tidak tahu reaksinya akan sama seperti Himchan atau tidak.

Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri, memberi bungkukan hormat pada Junhong sebelum menyampaikan sesuatu. Himchan tidak tahu ada orang lain selain dirinya di rumah ini.

"Ada tamu, Tuan Muda."

Junhong dan Himchan sudah tebak siapa yang baru datang.

"Hei! Aku ketinggalan sesuatu?"

Youngjae muncul dari balik pintu masuk, sambil menenteng satu tas berisi pakaian-pakaiannya. Junhong menyipit sebal, kenapa ia datang seperti ingin pindah rumah. Himchan membalas kehadiran Youngjae seperti biasa dengan senyuman ramahnya.

"Kau tidak perlu sampai ikut kemari, Youngjae." Mereka bertiga kembali ke ruang inti. Sedikit mencicip snack yang sudah disiapkan untuk dua sahabatnya. "Besok aku sudah kembali ke rumah sakit."

"Tidak apa-apa. Aku bosan di rumah. Sepupuku menginap di rumah temannya. Aku tidak mungkin tinggal sendirian." Youngjae merogoh snack stick. "Aku tidak pernah menginap di rumah mewah Junhong."

"Jangan membuat berantakan rumahku, atau akan aku akan dibunuh ayahku." Junhong mengancam, jelas anak yang duduk di sebelahnya hanya bisa mengangguk tanpa peduli panjang.

"Ibumu memangnya kenapa, Himchan?"

Himchan melenguh napas. "Tipus. Sejak aku ujian."

Youngjae terkesiap. "Astaga! Kau tidak membawanya ke rumah sakit?"

"Aku terlalu sibuk belajar, dan ibuku tidak mau ke rumah sakit karena bayarannya mahal."

Junhong pun menanggapi, "Hyung kan bisa minta tolong aku."

"Jangan, ini urusan keluargaku. Ibuku akan sedih kalau aku meminjam uang lagi."

Youngjae memutar matanya, "Seperti biasa, bidadara kita yang berhati mulia. Bahkan ketika Junhong menawarkan diri seikhlasnya kau akan menolak."

Junhong mengangguk, "Tapi kau meminta tolong paman itu, kok."

Mendengar kata 'paman' diungkit-ungkit membuat Youngjae tersentil. Ia berhenti mengunyah dan segera melempar pertanyaan. "Paman siapa?"

Himchan terkesiap. Ia tidak ingin Youngjae tahu bahwa selama ini ayahnya Yongguk punya hubungan dengan ibunya. Ini bisa menghancurkan karir Yongin, apalagi Youngjae yang paling tahu soal dunia artis. Pasti ia juga kenal dengan Yongin sekali sebut nama.

"Kenalan ibuku. Temannya." Jawab Himchan singkat. Ia memastikan Youngjae tidak mencurigainya.

Youngjae menukik alis. Sekenalnya dengan ibu Himchan, teman terdekatnya kebanyakan perempuan. Tapi ia tidak pikir panjang, mengunyah lagi snack sticknya menyantai. "Besok kau harus menemui ibumu. Takut merepotkan teman ibumu juga."

"Ya, aku maunya begitu."

Junhong mengerut bibir. "Eum.. sebenarnya aku pun tidak bisa menemani. Jadi aku belum bisa menjenguk Ibumu."

Kedua mata sahabatnya menengok bersamaan pada si pemuda jangkung. Kenapa?

"Aku sudah punya janji. I—ini permintaan ayahku." Junhong menggaruk kepalanya dengan ragu.

"Tidak apa. Lain kali saja."

Youngjae kemudian menaruh snack nya, dan matanya sudah jelalatan khawatir. Ia jadi ikutan memikirkan 'janji' serupa. Bagaimana ia bisa jelaskan pada teman-temannya?

"Besok mungkin kutemani antar. Tapi aku juga tidak bisa menjenguk ibumu, Chan."

Kali ini kedua temannya menengok ke arahnya. Kebetulan sekali.

"Tidak apa kan?"

Himchan memberikan elusan pada kedua kepala sahabatnya. Sisi keibuan yang begitu hangat. "Kalian pasti capek habis ujian. Bersenang-senang saja dulu. Akan kutitip pesan pada ibuku."

Meskipun senyumannya Himchan rada lemas karena kelelahan, ia tidak surut menyemangati temannya agar tidak lebih mencemaskannya.

Himchan baru saja kembali dari menengok ibunya di ruangan rawat. Ia bisa tersenyum lega karena keadaan ibunya baik baik saja, meskipun ibunya masih terpengaruh obat bius dan membuatnya terlelap.

"Aku akan beritahu yang lain," ungkapnya sambil membuka HP.

Baru saja ia ingin mengetik, ia didatangi seorang pria. Berjas rapih, berperawakan besar. Rupanya cukup mengancam. Mengamati Himchan tanpa bicara. Mungkin menanti Himchan menyelesaikan ketikannya. Namun itu malah membuat Himchan tidak merasa nyaman.

"Ada apa, ya?" Himchan lebih memilih mempertanyakan maksud pria itu. Ia tidak ingat mengenalnya.

"Tuan Besar bermaksud ingin menemui anda di kantin."

Himchan kebingungan. Ia kira bahwa Yongin sudah pulang setelah tidak kelihatan sejak dari pagi. Apa sedari tadi masih menunggu di tempat lain? Betapa ingin ia mengucapkan terima kasih dahulu secara langsung sebelum ia pulang.

Himchan diantar sampai ke kantin rumah sakit, saat itu masih agak pagi menuju siang dan belum ramai. Seorang pria yang lumayan terlihat mencolok, duduk meminum kopi hangatnya, dengan pemandangan taman. Ia duduk sendirian saja, seperti terbiasa dengan kesendirian. Tapi ia suka untuk tidak diganggu.

Namun pagi itu ia memerlukan orang lain duduk bersamanya, Himchan diberi bangku untuk duduk di hadapannya.

"Ah, Himchan." Yongin menaruh cangkir kopinya. "Sudah lama aku tidak minum di tempat terbuka seperti ini."

"Maksudnya, Yongin-ssi?"

"Aku terbiasa makan minum di dalam ruangan kerjaku." Kemudian tangannya bersidekap, ia bersandar di bangku dengan tatap serius. Himchan terlihat lebih nerveous meskipun selama ini sikap Yongin cukup ramah.

"Ada apa Yongin-ssi memanggil saya?"

"Sudah melihat ibumu? Bagaimana menurutmu, sudah cukup lega?"

Himchan tersenyum. "Melihatnya dalam keadaan lebih baik, sudah membuatku lega."

Yongin mengangguk memahami. Himchan mengamati keterdiaman Yongin yang hanya bisa memberikan senyuman, menyesap kopinya, lalu kembali diam seperti menanti dirinya mengangkat percakapan sendiri. Himchan bingung dengan kecanggungan ini.

"Eum, sebelumnya saya berterima kasih karena Yongin-ssi sudah semalaman menjaga ibu saya. Pasti Yongin-ssi sangat sibuk, tapi harus mengulur pekerjaan kaena ibu saya."

Yongin menggeleng, tidak setuju. "Aku melakukannya dengan senang hati meskipun harus menomorduakan tugasku."

Himchan mengangkat tundukannya, terkesima.

"Tapi ada hal lain yang membuatku sangat senang hati melakukannya terbersit dari sekedar teman lama saja." Kembali dengan tegukan kopinya yang ke sekian untuk melonggarkan suasana. Himchan penasaran.

"Aku mencintai ibumu."

Semakin jelas wajah terkejut Himchan. Air mukanya mengeruh, campur shock. Dirinya berkerut alis menanggapi pernyataan tiba-tiba demikian. Sementara yang mengajaknya bicara, bersikap seolah itu bukan hal yang luar biasa. Ia begitu tenang tanpa terganggu. Berbeda jauh dengan si Putera yang paling kesinggung apabila ibunya disukai pria lain setelah sekian tahun bersama.

"Wanita itu pernah mengisi tempat di hatiku dahulu. Bahkan setelah aku menikah."

Himchan semakin tidak jelas bersikap. Ia hanya tertunduk, menyembunyikan kebingungannya.

"Sampai sekarang pun masih. Ia masih menjadi nomor satu untukku."

Himchan tanpa sadar telah mengepal tangan. Tidak tahan akan pengakuan-pengakuan yang berlebihan dari mulut pria yang belum terlalu ia kenal. Mengaku-mengaku mencintai ibunya setelah sekian lama, setelah selama ini ia menikmati kebersamaan berdua saja dengan ibunya. Ia tidak tahan dengan segala kebetulan ini. Ia tidak bisa membayangkan ada pria lain menempati peran penjaga untuk ibunya selain dirinya sendiri.

"Apa maksud Yongin-ssi mengatakan ini semua?"

Yongin terkekeh. Benar-benar tenang sekali dirinya. "Bagus kau bertanya, Himchan. Ini maksudku mengajakmu kemari. Aku telah memikirkan semalaman bahwa ini tidak bisa didiamkan saja."

Himchan menunggu jawaban berikutnya. Bahkan sampai pergerakan apapun yang dilakukan Yongin, membuatnya semakin tidak sabaran.

"Aku bermaksud membuat seperti perjanjian sederhana yang akan sama menguntungkan untuk kita berdua." Yongin memajukan dudukannya, memperjelas ekspresi seriusnya bisa diliat oleh Himchan. "Aku akan melakukan apapun, memenuhi kebutuhan bahkan sampai harus menyembuhkan kembali kakinya."

Himchan jadi tidak bisa menunjukkan wajah ramah lagi. Ia sudah menekan alisnya semakin dalam, agak kesal.

"Kau bukan Tuhan," ucapnya dengan nada yang memojok. Ia tidak suka arogansi Yongin mulai keliatan ketika mengucapkan tawaran tawaran tadi. Sisi buruknya mulai keliatan, sama seperti pertama bertemu. Himchan mengambil napas.

"Aku tahu. Aku bukan Tuhan, aku tak bisa mengubah takdir. Tapi selalu ada jalan untuk memperbaiki sesuatu. Dan ibumu dalam keadaan yang sangat ingin kau perbaiki. Entah kaki, hati, perasaan, dan lain-lain. Aku tahu itu."

Himchan tidak bisa mengelak bahwa apa yang dikatakan Yongin tidak sepenuhnya salah. Ia selalu ingin mengubah keadaan ibunya menjadi lebih baik. Sekolah, kerja part-time, apapun ia hanya lakukan demi ibunya. Tapi ia selalu merasa kekurangan, dan sangat bersalah.

"Bahkan setelah kau sekolah ini, kau harus kuliah dan kerja. Di sisi lain, ibumu mengharapkan kau bisa mengejar cita-citamu lebih tinggi lagi. Mana yang kau pilih? Mengusaikan segalanya demi menemani ibumu, atau ketika ada aku yang bisa menjaganya dengan segala yang kumiliki, kau tidak perlu khawatir mengejar impianmu? Mendapatkan 2 keuntungan sekaligus. Ibumu yang terawat baik, impianmu yang tercapai?"

Yongin bercicit ria dengan santai seolah sudah terbiasa. Seakan mempengaruhi client-client nya dengan sikap sok bijaknya sampai mereka termakan bujuk rayu. Ini yang terjadi pada Himchan yang jadi tenggelam dengan pernyataan manis Yongin.

Sedikit lagi.

"Apa kau sanggup meninggalkan ibumu kesepian terus saat kau sibuk kuliah dan kerja, sedangkan aku disini aku rela 24 jam menemaninya, juga memiliki banyak penjaga bisa menemani ibumu. Bahkan memperhatikan kesehatannya."

"Apa maksud Yongin-ssi?" Himchan menyerobot. Sudah tidak tahan untuk bertanya maksud. "Apa yang Yongin-ssi inginkan?"

"Sebuah permintaan restu."

Himchan terlonjak.

"Jika kau mengijinkan aku menikahi ibumu, aku akan membahagiakan kalian berdua seperti seorang ayah yang kau selama ini impikan."

Ketenangan merenggut. Tidak ada jawaban yang sanggup diucapkan dari Himchan selain memikirkan semuanya berulang kali.

"Himchan"

Yongin mengenggam kepalan tangan pemuda manis di hadapannya yang terasa kaku. Mendekapnya sayang. Seperti ada sosok ayah yang mencoba menghibur dirinya. Suasana hangat yang ia keluarkan membuat Himchan mulai berempati kembali pada Yongin.

Memang Yongin sangat pintar.

"Aku hanya ingin jadi ayah yang baik, itu saja. Aku mendapatkan sosok wanita yang kucintai sepenuh hatiku, aku akan menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Bahkan menerimamu."

Ucapan pria ini begitu meyakinkan. Bahkan kata kata 'membahagiakan' dari mulutnya, begitu meyakinkan. Ibunya memang hanya ingin bahagia. Jika suatu saat Himchan tidak ada, siapa yang akan menemaninya. Pria ini menawarkan keluarga besar yang Himchan tidak pernah rasakan. Ia selama 19 tahun hanya tinggal berdua saja bersama ibunya, seorang wanita paruh baya tetangganya yang juga punya keluarga sendiri, begitu sahabat-sahabatnya yang memiliki keluarga sendiri.

Tapi tidak pernah merasa hangatnya kasih sayang ayah, saudara, atau bahkan tempat tinggal layak untuk diri dan ibunya yang sakit.

Semuanya bisa ia dapat hanya perlu menjawab 'Ya'.

"Apakah ibuku pun juga mau?"

Yongin mengusap tangan itu. Mencoba mencairkan belenggu keraguan Himchan.

"Jika kau mau, maka ibumu pasti juga. Bukankah begitu pada akhirnya?"

Yongin benar. Hayeon selalu mendengar keputusan Himchan dan mengiyakan. Asal sang Putera senang. Bersukacita. Rasanya itu membuat Hayeon juga akan bahagia. Mereka berdua sama-sama memiliki 1 tujuan. Membahagiakan satu sama lain, selagi mereka masih bisa bernapas.

"A—aku sendiri, tidak akan menolak jika ibuku senang."

"Apa itu berarti kau merestui kami?" Yongin mengulurkan sekotak cincin. Ia perlihatkan isinya kepada Himchan. "Kau restui ibumu memakai cincin pemberianku ini?"

Himchan hampir saja menangis melihat cincin berlian indah itu. Mencolok sekali. Apakah cincin itu akan menghiasi jari indah ibunya? Selama ini ibunya tidak pakai cincin apapun.

Seperti selesai membaca sebuah cerita dongeng romantis, Himchan tentu terharu. Tanpa sadar ia mengangguk. Memberi kepercayaan Yongin dapat menemani ibunya.

"Terima kasih, Himchan."

Himchan tersenyum, walaupun masih agak lemas. Ia terlalu pusing dengan perasaan bercampur aduk ini. Apakah ia harus segera menemui ibunya dan mengungkapkan kabar gembira ini? Bahwa ada pria yang begitu mencintainya akan menjadi suami sekaligus ayah untuk Himchan?

Drrtt Drrrtt

Di tengah sukacita tadi, telepon Yongin berdering. Monitor menunjukkan kontak Chungha. Seperti biasa akan mengeluh lagi perihal Yongguk.

Kepalanya tiba-tiba berkedut.

"Ada apa, Yongin-ssi?"

Yongin mengamati Himchan.

Matanya menyipit, mencari tahu.

"Himchan."

"Ya?"

"Seberapa dekat kamu dengan Yongguk?"

Himchan kembali dibuat tegang. Ia sampai lupa kalau Yongin ini ayah Yongguk juga setelah selama ini pria tersebut tidak singgung apapun perihal Yongguk seolah puteranya terlupakan atau entah kenapa.

"Ah, aku tidak bicara lagi." Mata Himchan terlempar kea rah lain. Tidak sanggup bertatap. Ia begitu takut.

Yongin ingin sumringah. Bagus sekali.

"Kau seharusnya mengajak ia mengobrol lagi."

Kontra dengan dugaannya, Himchan justru dibuat terkejut dengan permintaan Yongin. Ia kira Yongin akan melarangnya berkomunikasi lagi dengan puteranya.

"Kalian sebentar lagi akan menjadi kakak dan adik, bukan?" Yongin tersenyum hangat. Mengetuk-ngetuk kotak cincin di tangannya ke atas meja. Mengingatkan Himchan dengan sesuatu.

Jelas, jika mereka menikah, Himchan dan Yongguk akan menjadi saudara tiri. Himchan akan jadi bagian dari keluarga Bang.

Himchan memiliki rasa senang yang juga terasa mengiris. Kenyataan indah dibalut pahit. Cintanya pada Yongguk runtuh, keluarga besar diimpikannya terwujud indah.

Bagaimana ini?

"Bukankah kalian sudah tidak berkomunikasi? Kau harus menegurnya lagi sekali-kali. Beri kabar gembira ini padanya. Anak itu keras kepala jika aku yang bicara." Yongin terkekeh. "Lagipula sebentar lagi anak itu akan menikah. Ia perlu support langsung dari 'calon adiknya'."

Himchan hanya bisa tersenyum hambar. Benar. Tidak hanya pupus rasa cintanya, mereka hanya bisa terikat tidak lebih dari teman atau bahkan saudara. Itu takdir mereka berdua.

"Mungkin ia akan sangat bahagia mendengar kabar baik ini langsung darimu."

Himchan ingin berperan langsung juga dalam kebahagiaan Yongguk yang sebentar lagi dibinanya. Meskipun hanya sebagai pendukung dari belakang. Selayak fans seharusnya, bukan?

"Aku akan coba hubungi Yongguk lagi, Yongin-ssi."

"Kau harus belajar memanggilku 'ayah' habis ini. Hahahaha.." Suasana mencair, Himchan ikut tertawa.

Tapi ketahui saja bahwa kedua tawa itu sama sekali tidak tulus.

"Hahh~" Daehyun menekan pegangannya di atas kemudi. Berkeringat dingin, jika saja ia menyentuh kedua tangannya sekarang. Duduknya saja tidak nyaman, seempuk apapun kursi mobilnya saat ini.

"Kau kenapa?"

Daehyun melirik kea rah Youngjae yang memperhatikan keanehannya semenjak mereka satu mobil. Entah darimana datangnya sikap malu-malu kucing Daehyun yang sebelumnya gagah berani dan begitu percaya diri. Mengajak duluan dating Youngjae dengan alibi sebuah pembicaraan serius.

Daehyun sama sekali tidak konsen. Hadapannya adalah lelaki yang dicintainya. Mereka belum sah jadi sepasang kekasih—jika saja Youngjae berhenti mengelak—tapi pendekatan ini jauh lebih mencemaskan. Ia gemas ingin melakukan hal-hal romantic—yang berlebihan kalau bisa—biar rasa canggungnya sedikit terobati. Tapi menyentuh tangannya Youngjae saja kembali diharamkan. Bagaimana ini?

"Enaknya kita bicara dimana ya?" Daehyun mengubah pembicaraan. Youngjae tidak perlu tahu kenapa dia jadi super canggung. Yang penting perjalanan datingnya berhasil, berikut rencana lainnya. Kalau ia bisa membuat Youngjae nyaman, barangkali tembakannya yang ke sekian bisa dapat jawaban manis.

"Aku cuman kepikiran café nya Himchan," ucap Youngjae santai, memperhatikan jalanan. "Minuman disana enak-enak."

"Oh baiklah. Kita kesana!" Daehyun menanggapi antusias sembari tancap gas. Ia sangat bersemangat melayani permintaan Youngjae seharian ini tanpa cela dan keberatan. Ia tidak dengar juga protes ini itu, kebanyakan diam. Mungkin Youngjae sebenarnya menikmati, hanya tidak berekspresi.

Youngjae di tengah perjalanan tidak hanya melihat lalu lalang kendaraan. Sesekali melirik ke Daehyun yang sedang bersenandung dengan lagunya sendiri yang dimainkan. Sekalian latihan individual untuk konser beberapa hari lagi.

Hatinya hangat, terisi dengan hari-hari bersama Daehyun benar memberi kenyamanan untuknya. Perihal hangat bersama sahabat, rasanya beda bila bersama pemuda yang mengaku cinta padanya ini. Lebih menyebalkan, lebih lucu, lebih—terasa sayangnya. Tapi Youngjae tidak akan mengutarakannya langsung. Mulutnya malah terkunci, ia malu mengaku. Ia tidak ingin kehadirannya mengusik, lagi tak ingin merusak karir Daehyun. Ia masih dihantui kecelakaan waktu lalu.

Jadi biarkan hubungan mereka sejauh ini saja dahulu.

Mobil tak lama sudah terparkir di depan café. Aneh sekali keadaan sangat sepi, kursi-kursi luar masih kosong seperti tutup. Ini masih Kamis, café tidak pernah tutup di hari biasa. Tidak ada tanggal merah pula.

"Apa tutup?" Youngjae bertanya setelah keluar dari mobil. Memperhatikan sekitar. "Café selalu ramai setiap harinya. Tumben."

Daehyun memasang kacamatanya meskipun keadaan masih sangat sepi. Kita tidak pernah tahu paparazzi berkeliaran dimana saja. Tatapannya terusik pada satu mobil yang terparkir. Jelas ada orang di dalam sana.

"Biar kita tanya." Daehyun mengabaikan anjuran Youngjae untuk cari tempat lain. Ia bersikukuh bahwa tempat ini harus jadi tempat spesial untuk mereka bicara empat mata. Kalau orang lain bisa, artis tenar sepertinya juga harus dapat ijin berada di café tersebut.

Pintu café diketuk. Cahaya terang tampak menyala dari dalam. Sayangnya pintu terkunci. Pemiliknya pasti masih di dalam. Ia coba mengintip dari celah, suasana di dalam café bekerja seperti biasa. Mesin kasir terlihat menyala, ada uap keluar dari jendela dapur.

Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu. Daehyun hampir saja melompat kaget dengan kemunculannya.

Pintu dibuka, dan keluar Hyunsik. Ia masih menghalangi masuk si pelanggan tak diundang. "Maaf, Tuan. Tapi café sudah dipesan pribadi oleh salah satu pelanggan kami."

Daehyun menggertak gigi. Mana mungkin ia keduluan dari orang lain yang tidak bisa setenar dirinya. Ia tidak mau sombong, tapi ia memang tidak pernah diusir pergi dari tempat yang ingin dikunjunginya. Ia malah begitu di welcome siapapun.

"Aku punya dating penting. Ini sekali seumur hidup," ungkapnya berlebihan. "Aku akan bayar berapapun asal dapat tempat duduk."

"Maaf, Tuan. Khusus hari ini kami benar-benar tidak menyediakan tempat."

Besar kepala sekali pelayan satu ini. Bahkan tawaran uang mampu ditolaknya. Seberapa pentingnya tamu satu ini.

"Hei" Daehyun nekat membuka kacamata hitamnya. "Aku Daehyun, kenal aku kan?"

Berhasil? Hyunsik sempat shock. Ia mengerling khawatir dalam situasi ini. Melihat kegoyahan Hyunsik, Daehyun tersenyum menang. Ini sangat mudah.

"Ta—tapi," ucap nya lagi ingin mengelak, Daehyun jadi gemas. Ia mulai kelewatan emosi, maka ia pun memaksa masuk tanpa sadar bahwa Youngjae sudah berlari ingin menariknya keluar.

Cling, langkahnya mantap masuk, tangan si pelayan bisa ditepisnya. Keributan itu tidak berlangsung lama setelah ia melihat siapa pelaku kekesalannya.

Pria itu, amat ia kenal. Bersama pemuda lain. Yang jelas juga ia kenal.

"Junhong?" Youngjae berseru kaget setelah ia masuk. Mendapati sahabatnya duduk satu bangku dengan pria yang juga dikenalnya.

Tak lain tak bukan adalah Jongup.

Hyunsik memperhatikan dua idola dan dua sahabatnya dalam satu ruangan bersamanya. Ia pusing kepala. Ia harus bekerja lebih giat lagi setelah ini.

"Apa yang kau lakukan disini!?"

Daehyun sembunyi-sembunyi berbincang dengan partner di samping ia duduk. Sesekali ia mengangkat buku menu sekedar berkecengkrama (lebih tepatnya berdebat) perihal kebetulan ini.

"Aku ingin membujuk Junhong untuk mengundang Himchan."

"Bodoh. Aku saja yang melakukannya. Ngapain kau ikut-ikutan!?"

"Aku merasa punya hak untuk ikut membantu."

"Dengan pesan satu café ini untuk dirimu sendiri?! Mau membantu atau kencan privat?"

"Banyak fans nanti, ck"

Youngjae dan Junhong memperhatikan gelagat kedua artis tenar tersebut dengan menaruh rasa curiga. Entah rencana apa, mereka sangat ingin tahu. Tapi daya penasaran itu terusik dengan keberadaan satu sama lain. Yaitu, entah sejak kapan Jongup dan Junhong seakrab ini? Pertanyaan sama sejak insiden di sekolah kemarin. Sebaliknya, Junhong bertanya-tanya ada apa Youngjae bisa kembali akrab ria dengan Daehyun setelah kecelakaan lalu.

Keduanya mendesah lemah. Lebih baik tidak usah ditanyakan kenapa. Akan sangat panjang jadinya.

"Kalau kalian belum selesai berdiskusi, apa perlu aku ijin pulang?" Youngjae angkat bicara, memecah keheningan. Junhong menengok, heran. "Aku ingin menjenguk Himchan."

Jongup dan Daehyun langsung terdiam.

"Ah, iya. . Jongup. Katanya mau membicarakan sesuatu? Tapi kalau ada urusan kerja dengan Daehyun-ssi, aku juga ingin pamit."

Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Youngjae dan Junhong mengira Jongup Daehyun berdiskusi masalah kerja apalagi konser tinggal 2 hari. Meskipun, sudah lelah-lelah mengajak 2 orang tersayangnya bersama.

Habis, dinomorduakan memang sangat menyebalkan, apalagi sahabat mereka menunggu khawatir di rumah sakit sendirian.

"Ah, tunggu. Kami memang ingin membicarakan sesuatu." Mereka berdua kompak. Membuat Youngjae dan Junhong menukik alis heran. Mereka tidak jadi beranjak.

"Apa jangan-jangan ini pembahasan yang sama dari kalian?"

Sayangnya, iya. Mereka berdua mengangguk. Youngjae berdecak kesal karena rencana kencan yang diharapkan pupus demi membahas pembicaraan berencana bersam-samaa. Ia kira, ia bisa berharap lebih, Daehyu membahas sesuatu yang lebih 'serius'. Bukannya malah terlihat seperti rapat kerja begini.

Sementara Junhong, malah antusias dengan pembicaraan mereka berempat.

"Ini juga soal Himchan."

Sudah bisa ditebak, yang merasa paling dekat langsung menengok terkejut.

"Kami tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Himchan selain kalian berdua. Jadi, kami berharap kalian bisa mengajak Himchan untuk datang ke konser kami nanti. Bertemu dengan—"

"Yongguk?" Youngjae menekan kata dengan sedikit kesal. Tentu orang-orang disana cukup kaget dengan sikapnya. Seperti ada aura penolakan.

"Oh, tidak. Aku tidak ingin melakukannya." Youngjae bersidekap. Bersikap keras. "Kau harus tahu kenapa aku sampai hiatus mengikuti kegiatan BA. Seorang fanboy fanatic kalian."

"Maksudmu? Kau menghiraukanku karena Yongguk?!" Daehyun protes. Di luar topik kalau dia sudah cemburuan.

Youngjae menghela napas. "Maksudku, semenjak skandal itu, aku tidak suka lagi padanya. Aku sangat marah."

Jongup dan Daehyun saling menukar pandangan. Youngjae melegakan senderan duduknya, sementara Junhong mengelus tangannya, mencoba menenangkan.

"Apalagi Himchan yang paling dekat dengannya. Paling banyak waktunya dihabiskan berdua. Dia pasti sangat kecewa." Semua menjadi terdiam selain Youngjae sendiri yang sedang mengeluarkan seluruh unegnya. "Ketika Yongguk memberikan kesempatan untuk Himchan, memberi rasa sayang hingga membuat anak itu sangat bahagia. Semuanya berakhir dengan pengumuman brengsek itu."

Ia mengambil napas sejenak. "Aku marah bukan karena Yongguk akan menikah, tapi karena ia sempat melukai perasaan sahabatku sendiri. Aku tidak suka itu."

"Aku kira yang playboy disini Daehyun. Tapi yang lebih kurang ajar malah idolaku sendiri. Aku merasa dikhianati."

Daehyun maupun Jongup tidak bisa menentang. Rasa kecewa itu awam untuk semua yang ngefans dengan BA, terutama pada Yongguk. Pengumuman pernikahan yang tiba-tiba dan tidak disangka, meruntuhkan harapan begitu banyak orang pasalnya Yongguk dikenal tidak pernah terlibat skandal, apalagi bersih kencan dengan siapapun karena sibuk sebagai leader, produser, dan calon penerus TS.

"Jadi sebaiknya mereka tidak perlu bertemu lagi."

Tarikan napas terdengar panjang dari Daehyun. Rumit. Pikiran Youngjae memang terdengar rumit, dan memberatkan. Daehyun iba. Tapi ia tidak bisa diam saja.

"Yongguk juga tidak mengharapkan ini."

Pernyataan sederhana dari Daehyun membuat dua mata mengarah serius padanya. Penasaran.

"Kami tidak bisa bicara banyak, tapi yang kami bisa tahu, bahwa Yongguk pun terpaksa melakukannya. Ia sangat menyayangi anak itu, bahkan bisa jadi memikirkan anak itu setiap malam. Pernikahan ini tidak pernah ia niatkan sejak awal. Sedikitpun."

Jongup mengangguk. Ia sangat setuju dengan penuturan Daehyun karena ia juga saksinya. "Semenjak mengenal Himchan, Yongguk benar-benar seperti seseorang yang baru. Ia jauh bersemangat dan lebih terbuka, tidak hanya bersembunyi di ruang kerjanya, mulai banyak bicara, dan stressnya hilang sekejap. Lucu sekali kalau ia marah jika kami bosan mendengar ia bercerita perihal anak itu. Meskipun kami tak tahu hubungan mereka sebenarnya bisa sedalam ini."

"Ia tidak sebahagia bersama Himchan. Chungha bukan apa-apa. Kami saja tidak mengerti kenapa anak itu mau saja menikahi nenek sihir itu kalau bukan karena dipaksa ayahnya."

"Dipaksa?" Junhong dan Youngjae sama-sama menyaut.

"Ah, kami tak tahu pasti. Hanya masalah ini saja yang bisa kami beritahu." Kehidupan pribadi Yongguk adalah urusan lain yang sayangnya Youngjae dan Junhong tidak boleh tahu. Maka Jongup dan Daehyun memilih mengerem percakapan mereka.

"Ini bukan untuk konser, bukan untuk kami. Ini hanya untuk mereka berdua. Kami tidak bermaksud mengundang Himchan untuk menyuntik semangat Yongguk. Kami hanya ingin mereka bertemu dan kembali bicara lagi setidaknya, menyelesaikan kesalahpahaman kalau memang ada yang salah. Yongguk benar-benar kehilangan kontak Himchan seperti orang linglung."

"Ya, itu benar. Sekali saja. Kami tidak akan memaksa lagi kalau mereka memang tidak mau bertemu."

Youngjae dan Junhong saling bertatapan, ada tukar pikiran yang tersirat. Junhong memilih untuk mempertimbangkan saja, jangan ditolak. Sedangkan Youngjae masih bungkam karena bingung.

"Beri hadiah untuk Himchan." Tiba-tiba Hyunsik ikut bergabung. Lebih tepatnya menaruh pesanan tamu yang baru datang. Keempat pasang mata langsung menatap kehadirannya.

"Mau bertemu atau tidak bertemu, keputusan menikah tidak sekejap langsung berubah. Tapi pertemuan dan membicarakan salah paham tadi, jelas bisa meluweskan hati masing-masing. Mau disimpan berapa lama perasaan kecewa itu kalau tidak saling bicara?

Ah maaf menganggu kalian." Setelah itu Hyunsik melarikan diri karena ia kelewatan ikut mengobrol dengan pelanggan penting.

Youngjae menunduk dalam. Berpikir sejenak. Junhong duduk mendekat, memberi bisikan. "Aku rasa sekali ini saja."

"Hah~" Youngjae kembali menghela napas. "Baiklah, terserah."

Daehyun maupun Jongup melompat senang. Rencana mereka jelas berhasil.

"Tapi!" Kemudian rasa senang itu berganti tegang lagi. Youngjae memicing mata galaknya kepada dua orang di hadapannya. "Jika Yongguk melakukan sesuatu yang membuat Himchan sedih lagi, aku tidak akan beri kesempatan secelah apapun untuk mereka bertemu lagi. Titik."

"Iya, sayang!"

Daehyun langsung bungkam karena kelewatan terucap. Hingga membuat Jongup hampir ingin tertawa, dan Junhong mengatup bibirnya dengan shock.

Sementara Youngjae sudah memukul kepala Daehyun, dan memalingkan wajah bersemburatnya.

Himchan menutup pintu kamar. Perlahan-lahan masuk mendekati kasur ibunya.

Obat bius cukup kuat hingga mengambil kesadaran ibunya rupanya. Sampai saat ini belum terbangun juga. Himchan memperbaiki selimutnya, membersihkan tangan ibunya yang agak berkeringat, dan memotong apel siapa tahu ibunya terjaga dan merasa lapar.

Tapi kejadian siang lalu menganggunya terus sampai ia tidak konsen memotong apel. Ia memperhatikan ibunya.

"Apa Yongin-ssi bisa jadi ayah yang baik untukku? Aku belum pernah mendapat kasih sayang ayah. Ibu tidak pernah cerita padaku seperti apa ayah itu," lirih Himchan.

"Yongin-ssi sangat mencintai ibu. Bahkan mungkin lebih dariku." Himchan berembus napas berat. "Kalau ibu bahagia dengan pria seperti Yongin-ssi, aku pasti bisa belajar menerima beliau juga."

"Hah~ Semoga keputusanku tidak salah." Himchan mengelus tangan ibunya. "Biar ibu tidak sendiri lagi. Aku kasian lihat ibu kalau nanti aku sibuk kerja."

"Pokoknya, Himchan akan berjuang keras seperti yang ibu harapkan." Himchan mengecup tangan ibunya penuh sayang. Kemudian ia memperbaiki letak rambut ibunya, menunggu sejenak.

Drrt Drrrt , teleponnya berdering. Kontak dari Youngjae.

"Aku keluar sebentar ya, Bu." Himchan kemudian meninggalkan ruangan. Mencari tempat untuk bisa berkomunikasi dengan Youngjae leluasa tanpa menganggu tidur ibunya.

Ketika keadaan menjadi hening, saat itulah mata Hayeon terbuka perlahan. Ia tidak merasa pusing kepala, panik, atau harus bertanya-tanya lagi dimana dia karena ia sudah sadar sejak sore saat perawat mengganti inpusnya.

Ia mendengar jelas apa yang dikatakan puteranya barusan. Perihal Yongin. Ada nada yang risau tapi juga berusaha meyakinkan dari puteranya itu. Hayeon tidak bisa berkata-kata. Niatnya menjauhkan kedua orang ini, seperti gagal. Ia tidak berniat menyatukan Yongin, mendekati puteranya. Itu jadi sumpah untuknya. Tapi wanita lemah sepertinya tidak bisa menang dari Yongin yang memiliki segalanya. Dia terlalu keras kepala mengejar, memohon.

Ia menutup mata, membayangkan sesuatu hal buruk. Ia takut. Kejadian tidak enak terjadi pada puteranya jika ia sekali lagi menolak permintaan keras Yongin yang terlanjur 'obsesi'. Obsesinya bisa berubah celaka. Hayeon sadar ia banyak melonggarkan kesempatan untuk Yongin melakukan rencana sejauh ini. Ternyata benar, Yongin berhasil melakukannya.

Hayeon lelah. Ia tidak ingin juga membuat Himchan kecewa. Himchan tidak pernah merasa kasih sayang ayah itu adalah benar. Karena Hayeon menganggap kematian suaminya adalah mimpi buruk yang tidak mau diingatnya. Itu kenapa dia diam. juga yang membuatnya melarikan diri dari kungkungan Yongin, sampai akhirnya mereka bertemu lagi.

Himchan hanyalah anak tunggal yang polos dan penuh senyuman. 19 tahun berlangsung, tidak mungkin ia biarkan luluh lantah hanya sebuah cerita lalu yang ingin dilupakan. Ia tidak mau kejadian menjadi sangat rumit. Maka itulah ia banyak bungkam. Jika Himchan bertanya lagi, ia akan membelot ke topik lain.

Mungkin suatu saat dia tahu... dengan cara sendiri.

"Tidak ada siapa-siapa?"

Hayeon tersentak melihat seseorang berdiri di ambang pintu kamar. Ia kira Himchan, tapi suara berat itu tentu bukan miliknya. Ternyata si tamu tak diundang.

"Sebelum pulang, aku ingin menengokmu lagi."

Hayeon mendesah lemah. Ia mendadak sakit kepala melihat kehadiran Yongin dan senyum kemenangannya. Ia sudah tahu pria itu akan membahas apa.

"Kau sudah diceritakan Himchan?"

Hayeon memalingkan kepala, tidak mau bertemu mata.

"Hayeon terimalah saja. Aku berhasil membujuknya. Anak itu membutuhkanku juga, seperti dirimu."

Hayeon tidak terima. Ia merasa direndahkan. Tapi ia terlalu lemah melawan. Lagipula, berargumen sepanjang apapun, Yongin selalu berhasil menaklukkannya.

"Aku sangat mencintaimu. Aku hanya ingin menjagamu." Bibir manis Yongin masih berucap panggilan sayang. Tangannya berani mengelus tangan Hayeon. Tapi kali ini tidak tertepis. "Terima aku."

"Aku tidak menerimamu." Hayeon kini mau bertemu pandang dengan si pria. "Tapi demi Himchan. Aku akan melakukannya."

Seperti sebuah hadiah natal yang baru saja dibuka dari kotak kado, tentu ini kabar gembira. Rasanya ingin melompat. Sumringah Yongin melebar. Ia terkejut bukan main!

"Kalau kau mencintaiku, aku minta sesuatu darimu."

"Apa saja!"

Hayeon menarik tangannya. Ia tidak suka, tidak nyaman.

"Jauhkan Yongguk dan Himchan."

Yongin terkesiap dengan jawabannya. Ia tidak percaya dengan permintaan tersebut yang di luar ekspektasinya.

"Sebegitu bencinya kau dengan puteraku?"

"Bukan. Aku hanya melihat Yongguk seperti dirimu. Aku tidak ingin Himchan disakiti 2 orang yang tidak bisa kupercaya."

Yongin tertawa arogan, namun ia menjaga sikap agar Hayeon tidak tersinggung. "Aku bahkan tidak punya niat untuk mereka berteman dekat, Hayeon. Lagipula, apa artinya aku menikahkan puteraku dengan model ternama?"

"Aku sangat membencimu." Hayeon kini membalikkan letak tidurnya dengan memunggungi Yongin.

"Aku sangat mencintaimu, Hayeon." Yongin tersenyum puas, di baliknya.

"Datang ke konser?"

Himchan mengernyit dahi memandangi dua sahabatnya yang baru saja datang sekedar menjenguk sekalian bertemu untuk berbincang sebentar. Youngjae langsung menawarkan tiket bonus yang ia dapatkan (dari Diana) sebagai pemancing agar Himchan mau datang. Meskipun ia tidak yakin.

"Junhong punya tiket vip sendiri karena ia dekat dengan orang dalam. Aku jadi punya tiket menganggur dan kupikir, aku bisa mengajakmu." Wajah keduanya memelas. Membujuk rayu.

Maukah Himchan datang ke konser lagi setelah mencoba menghindari Yongguk selama ini? Youngjae bahkan paham rasanya kecewa dan ingin menghindari orang yang mengecewakannya. Junhong juga. Rasanya pasti aneh kalau bertemu pandang dengan orang yang sudah bikin hati suntuk.

Lama terdiam, Youngjae mulai hilang harapan. Biasanya Himchan langsung cekatan menjawab, paling tidak merespon dengan senyum canggung. Tapi diam terlalu lama bukan sikap yang biasa, seakan tengah memojoki keduanya. Kenapa sih harus ajak aku, kayak tidak ada orang lain aja. Mungkin terasa begitu auranya. Meskipun Himchan tidak pernah keliatan semenyebalkan itu.

Himchan mendesah napas pasrah. Mengambil tiket dari tangan Youngjae. "Aku mau."

Sumringah melebar di wajah Youngjae dan Junhong. Tidak mengejutkan.

"Jadi," Youngjae melupakan sesuatu. "Kita bisa bertemu para member di belakang panggung!"

Wajah Himchan mendatar, ia tidak senang, juga tidak mengacuhkan. Biasa saja. Ia melihat tiket VVIP berwarna gold yang sangat cantik. Bukan tiket biasa. Hanya sedikit fans yang seberuntung ini bisa mengenggamnya.

Ada tujuan lain yang lebih penting adalah alasannya kenapa ia tidak bisa menolak. Ia akan pakai kesempatan ini untuk bertemu Yongguk langsung. Memperbaiki hubungan mereka. Juga sebuah

"Kebetulan aku juga ingin bertemu salah satu member BA nya." Himchan seperti menggigau. Ucapannya menarik perhatian dua sahabat di depannya.

"Eh?"

Himchan tersenyum canggung. Menggeleng pelan. Bukan apa-apa, tidak penting juga sahabatnya untuk tahu tujuan itu.

"Kalian mau ketemu ibuku, kan? Mungkin ibuku masih tidur."

**To Be Continue**

.

.

Thanks for the patience ^-^ Maap tiap kali baca gaya bahasanya berubah-ubah, hehe.

Cerita ini cepat update di Wattpad, biasanya up2date disana ( Mir_ramen). Saya juga update Ori BL di acc lain saya ( Mir_ayam).